Anda di halaman 1dari 4

CORPUS ALINEUM

Pengertian
Corpus alineum atau benda asing adalah benda yang berasal dari luar atau dalam tubuh yang
dalam keadaan normal tidak ada pada tubuh.
Benda asing pada saluran napas dapat terjadi pada semua umur terutama anak-anak karena anak-
anak sering memasukkan benda ke dalam mulutnya bahkan sering bermain atau menangis pada
waktu makan. Sekitar 70% kejadian masuknya benda asing terjadi pada anak  berumur kurang
dari 3 tahun. Hal ini terjadi karena anak seumur itu sering tidak terawasi,lebih aktif, dan
cenderung memasukkan benda apapun ke dalam mulutnya
Benda asing yang sudah lama di dalam kavum nasi yang tidak diketahui sebelumnya akan
dilapisi oleh kalsium, magnesium, fosfat, atau karbonat dan menjadi rinolit. Rinolit menyerupai
batu, bersifat radioopak dan sering ditemukan pada lantai kavum nasi.
Etiologi
Benda asing dapat diklasifikasikan menjadi benda asing anorganik dan organik. Benda asing
anorganik dapat berupa plastik atau metal seperti manik-manik dan bagian dari mainan. Benda
asing ini sering tanpa gejala dan dapat ditemukan secara kebetulan. Benda asing organik seperti
makanan, karet, kayu, busa bersifat lebih iritatif terhadap mukosa hidung sehingga menimbulkan
gejala yang lebih dini.
Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis dapat berupa hidung tersumbat, rinore unilateral dengan cairan kental dan
berbau, nyeri, demam, epistaksis, dan bersin. Gejala sering tidak ada sehingga luput dari
perhatian orang tua dan bertahan untuk waktu yang lama. Dapat timbul rinolith disekitar benda
asing. Tak jarang pula akibat benda asing yang tidak segera dikeluarkan, akan menimbulkan
infeksi sekunder.
Komplikasi
Benda asing mati (inanimate foreign body) pada hidung dapat menyebabkan edema dan
inflamasi mukosa hidung sehingga dapat terjadi ulserasi, epistaksis, jaringan granulasi, dan dapat
berlanjut menjadi sinusitis. Sedangkan benda asing hidup (animate foreign bodies) dapat
menyebabkan reaksi inflamasi dengan derajat yang bervariasi, dari infeksi lokal sampai destruksi
massif tulang rawan dan tulang hidung dengan membentuk daerah supurasi yang dalam dan bau.
Diagnosis
a. Anamnesis
Diagnosis klinis benda asing di saluran napas ditegakkan berdasarkan anamnesis adanya
riwayat tersedak sesuatu, tiba-tiba muncul choking (rasa tercekik), gejala, dan tanda lainnya.
Anamnesis yang cermat perlu ditegakkan karena kasus aspirasi benda asing sering tidak
segera dibawa ke dokter saat kejadian. Perlu diketahui macam benda atau bahan yang
teraspirasi dan telah berapa lama tersedak benda asing itu.
b. Pemeriksaan fisis
Pada pemeriksaan fisis hidung, dapat digunakan rhinoskopi anterior. Namun, kadang-kadang
edema dan granulasi mukosa menutupi benda asing tersebut. Pada beberapa kasus,
diperlukan penyemprotan agen vasokonstriktor untuk memperkecil mukosa pada saat
pemeriksaan. Seringkali, tindakan ini memperjelas penampakan badan asing tersebut. Pada
anak-anak kecil dan kurang kooperatif, kadang diberikan anestesi umum untuk
mempermudah dalam menemukan benda asing. Pemeriksaan fisis di rongga hidung dapat
ditemukan destruksi luas pada mukosa membran, tulang, dan kartilago. Mukosa hidung
menjadi lunak dan mudah berdarah. Selain itu, pada pemeriksaan tampak pula edema dengan
inflamasi mukosa hidung unilateral dan dapat terjadi ulserasi. Benda asing biasanya tertutupi
oleh mukopus, sehingga disangka sinusitis. Dalam hal demikian, bila akan menghisap
mukopus haruslah hati-hati supaya benda asing tersebut tidak terdorong ke arah nasofaring
yang kemudian dapat masuk ke laring, trakea, dan bronkus. Pada kasus rhinolith,
pemeriksaan fisis kadang ditemukan pada kavum nasi massa berwarna keabu-abuan yang
irregular, di sepanjang dasar rongga hidung yang bertulang, keras, dan terasa berpasir pada
pemeriksaan.
c. Pemeriksaan Penunjang
Pada kasus benda asing di saluran napas dapat dilakukan pemeriksaan radiologik untuk
membantu menegakkan diagnosis. Benda asing yang bersifat radiopak dapat dibuat foto
radiologik segera setelah kejadian, sedangkan benda asing radiolusen (seperti kacang-
kacangan) dibuatkan foto radiologik setelah 24 jam kejadian karena sebelum 24 jam kejadian
belum menunjukkan gambaran radiologis berarti. Video fluoroskopi merupakan cara terbaik
untuk melihat saluran napas secara keseluruhan, dapat mengevaluasi saat pada saat inspirasi
dan ekspirasi dan adanya obstruksi parsial. Emfisema obstruktif merupakan bukti radiologic
pada benda asing di saluran napas setelah 24 jam benda teraspirasi. Selain dengan radiologi,
dapat pula digunakan endoskopi. Diagnosis pasti benda asing di saluran napas ditegakkan
setelah dilakukan tindakan endoskopi, yaitu endoskopi nasal dengan sudut 0o atau 30o.
Endoskopi nasal ini juga ideal dalam penegakan diagnosis untuk anak-anak, namun sebelum
pemeriksaan umumnya didahului dengan pemberian anestesi umum. Selain untuk diagnosis,
penggunaan endoskopi nasal ini juga berguna dalam ekstraksi atau pengeluaran benda asing
hidung.
Terapi
Terapi farmakologi dapat diberikan apabila benda asing telah berlangsung lebih dari 12 jam serta
apabila disertai gejala lain seperti demam, batuk, atau keluarnya cairan yang merupakan suatu
reaksi inflamasi. Analgetik dapat diberikan apabila rasa nyeri yang menetap walaupun benda
asing telah berhasil dikeluarkan.
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan benda asing dalam hidung adalah dengan mengeluarkannya. Beberapa langkah
harus dilakukan agar benda asing dapat dikeluarkan dengan menimbulkan komplikasi yang
minimal.
a. Perencanaan (pre treatment)
Perencanaan yang baik dapat mengurangi tindakan yang dilakukan secara berulang, karena
tindakan secara berulang lebih berisiko menimbulkan komplikasi dibandingkan tindakan
yang dilakukan sekali saja. Berdasarkan hal tersebut perlu dilakukan perencanaan agar
pengeluaran benda asing dapat dilakukan pada kesempatan pertama.Alat-alat yang
dibutuhkan perlu diletakkan di meja dokter yang mudah terjangkau, sebaiknya perlu juga
menyiapkan alat pernafasan darurat untuk menjaga kemungkinan terjadinya aspirasi benda
asing ke saluran nafas bawah. Obat-obat vasokonstriktor (dekongestan) topikal dapat
memfasilitasi baik pemeriksaan maupun pengeluaran benda asing. Vasokonstriktor topikal
dan anestesi topikal dapat diberikan secara bersamaan, misalnya lidokain 1% ditambah
fenilefrin 0,5%. Pada pasien anak-anak, fiksasi pasien sangat penting untuk dilakukan, hal ini
bertujuan untuk mengurangi gerakan yang tiba-tiba yang dapat menimbulkan risiko
perdarahan. Pasien diposisikan duduk tegak dengan kepala sedikit mendongak agar dasar
rongga hidung bisa terlihat dengan jelas. Bila pada pasien yang gelisah dan sulit untuk
difiksasi sebaiknya dilakukan bius total.
b. Instrumen langsung
Pengeluaran secara mekanis dengan forsep (aligator atau bayonet) dapat dilakukan untuk
mengeluarkan benda asing yang permukaannya dapat digenggam dan terletak di bagian
anterior rongga hidung. Untuk benda asing yang bulat dan licin dapat digunakan alat pengait
bulat yang tidak tajam untuk mengurangi taruma pada jaringan hidung. Alat pengait ini dapat
dimodifikasi dari berbagai bahan bila tidak tersedia dalam bentuk jadi. Alat pengait
dimasukkan menelusuri permukaan atas benda asing sampai melewati bagian paling
belakang benda asing, lalu alat pengait tersebut dibelokkan ke arah dasar hidung sambil
menggerakkannnya secara perlahan ke bagian anterior sampai benda asingnya keluar.
c. Tekanan udara positif
Pada orang dewasa atau pasien yang lebih kooperatif, usaha awal pada pengeluaran benda
asing dapat dilakukan dengan menutup rongga hidung yang tidak ada benda asingnya, lalu
dengan muluttertutup pasien menghembuskan nafas dengan kencang. Hal ini dapat
membantu pengeluaran benda asing. Pada pasien yang lebih muda atau anak-anak yang tidak
kooperatif, metode “parent kiss” dapat diterapkan. Anak di pegang pada posisi senyaman
mungkin sehingga berhadapan dengan orang tua, lalu meletakkan mulut anak persis di depan
mulut penolong. Penolong meniupkan udara dengan kencang sambil menutup hidung yang
tidak berisi benda asing sehingga akan terjadi tekanan positif yang kembali ke daerah hidung.
Hal ini juga dapat membantu pengeluaran benda asing terutama seperti sekret yang
mengental. Purohit dkk (2008) dalam penelitiannya menemukan angka keberhasilan
dengan teknik ini sebesar 64,3% dari 30 pasien yang ikut dalam penelitian tersebut.
d. Alat penghisap (suction pump)
Benda asing yang lembut dan susah digenggam dengan forsep dapat diekstraksi dengan
penggunaan kanula penghisap. Ujung kanul penghisap harus diletakkan dengan hati-hati
pada permukaan benda asing lalu ditarik perlahan-lahan. Bila ditarik terlalu cepat biasanya
benda asing akaurologi seperti foley kateter dapat digunakan untuk mengeluarkan benda
asing.Prosedur yang dilakukan diawali dengan melumasi kateter dengan jelly, lalu masukkan
ke dalam hidung samapi melewati tepi posterior benda asing, pasien di posisikan tidur
supinasi. Setelah itu, balon dikembangkan dengan udara atau 3-5 ml air dan ditarik secara
perlahan-lahan bersamaan dengan keluarnya benda asing dari dalam hidung.
e. Lem perekat Metode ini ideal untuk benda asing yang bulat, lembut dan sulit dipegang
dengan forsep.Permukaan benda asing harus kering untuk memudahkan menempelnya lem
perekat.Tindakan ini lebih sering berhasil pada benda asing ditelinga dibandingkan benda
asing di hidung. Tekniknya adalah dengan menempelkan lem perekat cyanoacrilic pada
sebuah aplikator kayu atau plastik kemudian ditekankan pada asing

Anda mungkin juga menyukai