Anda di halaman 1dari 5

PUDAR

Pagi tak pernah benar-benar pagi bagiku atau malam tak


pernah benar-benar malam

Bahkan saat anak senja menggila karena bahagia saat matahari


terbenam

Katamu banyak keindahan dan kenangan, aku tak mampu lagi


menikmatinya

Karena aku sendiri lupa rasa pagi saat kopi hadir bersama
senyuman atau malam terlelap dengan sentuhan dan belaian.

Aku bahkan lupa rasa gincu milik perempuanku apalagi rasa


menatap senja berdua bersamamu

Yang aku ingat makian dan omelan menyakitkan saat aku


pulang hanya membawa recehan

Kau menidurkanku menjadi lelaki dengan hipotalamus yang


makin mengecil

Hingga aku kadang berpikir tak mau melindungimu dan anak-


anakmu

Aku tak mau menyelesaikan masalah diantara kita

Bahkan aku kadang berpikir ingin berhenti menjadi suami dan


ayah anak-anakmu

Tapi aku tak cukup bekal dan nyali untuk bertemu Sang Rabbi
Apakah aku yang sudah tak cinta lagi padamu? Atau kau yang
tak lagi memimpikanku sebagai lelakimu?

Apa sebenarnya yang terjadi padaku dan dirimu?

Kemana tatapan tulus dan kata syukur yang menenangkan saat


aku mengeluh soal pekerjaan

Kemana ungkapan cinta dan kata-kata lembut saat kau berbagi


cerita denganku

Apakah menguap bersama sungai yang mengering saat musim


kemarau atau aus dimakan waktu kebersamaan kita yang
menghambar karena terbiasa

Boleh sekiranya aku merindu waktu sepuluh tahun silam

Hanya itu yang membuatku bertahan ingin tetap menjadi


pelindung mu sampai nanti saat Sang Rabbi benar-benar
memanggilku

Hanya Doa yang tiap waktu ku panjatkan untuk ku, kamu dan
anak-anakmu

CINTA WAKTU ITU

Janji hanya bisa dikenang tak bisa ku ulang atau kuhadirkan meski
hanya sebuah ingatan
Masih terlalu belia usiaku waktu itu bahkan aku belum bisa
membeda mana putih, abu atau hitam

Saat masih berseragam putih biru aku mulai kenal rasa merah jambu,
orang bilang cinta monyet

Tapi aku lupa bagaimana rasa dan aromanya mungkin anosmia


menjangkitiku sudah sejak lama

Orang bilang aku gadis paling bahagia diusiaku bisa memilih dengan
siapa berkencan dan menambatkan perasaan pada sang pemuda
pujaan. Aku berkelana menjajal cinta hingga aku lupa apa rasa manis
atau pahitnya, aku juga lalai cinta itu ada batasnya karena semua
adalah milik-Nya

Aku dan kamu hanya berhak mencicipi

Entah bagaimana saat aku mengenalmu seketika itu aku memilihmu


menjadi jodohku

Aku mulai mengarungi kapal berdua bersamamu, menatap indahnya


senja, menghadirkan senyum saat pagi dan belaian dimalam hari

Tapi akupun tak tahu apakah itu cinta atau keadaan yang
mengharuskanku melakukannya

Dan entah mulai kapan aku mulai jarang tersenyum, mulai enggan
berbagi ceritaku denganmu
Aku mulai memaki menyudutkanmu saat aku tak mampu meredam
gemuruh didada, saat aku mulai merasa jengah dengan kondisiku.
Berkali bersimpuh mohon ampunan Rabbi tapi sisi lain aku berkata
aku butuh bertemu rasa bahagia

Aku mulai melakukan apapun sesukaku, ku alihkan kisahku pada


kawan-kawan yang dulu pernah tertawa bersama saat berseragam
putih abu-abu

Terkadang aku lupa bahwa aku istri dan ibu anak-anakmu, akupun
terkadang berpikir ingin melepaskan ikatan suci ini, ingin aku pergi
berlari mengesampingkan kamu dan buah hati.

Tapi aku tak cukup punya nyali, aku hanya perempuan picik yang tak
lagi berharap lebih dengan rasa kata bahagia. Aku masih akan
bertahan mendampingimu demi anak-anak kita

Merekalah harapanku sejauh ini hingga Sang Rabbi memisahkan kita

Langit menggelap aroma hujan menguar setelah satu pekan tak


dibasahi

Aku masih tertegun dalam gelisah panjang hingga saat dering gawai
mengajak aku melompat melarikan lamunan sore itu, saat kamu
berkabar kamu sakit dari ujung angin
Belum juga aku sudahi panggilanmu, seorang lelaki muncul dari
balik pintu mengabarkan kau telah pergi menemui Sang Rabbi.

Seketika aku mematung tak percaya dengan yang aku dengar,


berkecamuk, sedih, marah dan kehilangan kenapa kau
meninggalkanku terlalu cepat???

Aku mennagis sejadi-jadinya inikah jawaban Sang Rabbi atas


keinginan kecil yang terbersit dibenak

Inikah wujud cinta Mu untuk melindungi lelakiku dari sakit


berkepanjangan

Astaghfirullah…kini aku hanya bisa mengenang cinta waktu itu