Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN BALITA SEHAT DENGAN IMUNISASI


PADA BY. E UMUR 1 BULAN DENGAN IMUNISASI BCG DAN POLIO 1
DI PUSKESMAS GANTIWARNO KLATEN
TANGGAL 3 FEBRUARI 2021

Dosen Pembimbing

Dwi Retna P, S.Si.T, M.Si, M.Med

Disusun Oleh :
Alfitamara Muafatika
P27224019062
DIV Reguler Sarjana Terapan dan Profesi Semester III

KEMENTRIAN KESEHATAN REPRUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN SURAKARTA

JURUSAN KEBIDANAN

TAHUN 2021
HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN BALITA SEHAT DENGAN IMUNISASI


PADA BY. E UMUR 1 BULAN DENGAN IMUNISASI BCG DAN POLIO 1
DI PUSKESMAS GANTIWARNO KLATEN
TANGGAL 3 FEBRUARI 2021

Disusun Oleh :

Nama : Alfitamara Muafatika


NIM : P27224019062
Kelas : Sarjana Terapan dan Profesi Bidan Semester IV

Disetujui :

Pembimbing Lapangan
Tanggal : Rabu, 14 April 2021
Di : Klaten

(Nurwidhi Jasmaraningsih, S. Tr. Keb)


NIP. 19710307 1993 2 001

Dosen Pembimbing
Tanggal : Rabu, 14 April 2021
Di : Klaten

(Dwi Retno P, S.Si.T.,M.Si.Med)


NIP. 19810307 200604 2 002
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan penulis kemudahan


sehingga dapat menyelesaikan “Laporan Kasus Asuhan Kebidanan Kehamilan”.
Tanpa pertolongan-Nya mungkin penulis tidak akan sanggup menyelesaikannya
dengan baik.

Laporan ini disusun agar dapat memperluas ilmu tentang bagaimana


memberikan asuhan pada kehamilan. Laporan ini bukan hanya memuat tataran
konseptual atau teoritis dari eksistensi sebuah pendampingan asuhan, tetapi juga
sebagai pedoman dalam mengimplementasikan praktik pendampingan pelayanan
kehamilan dalam meningkatkan kesejahteraan ibu dan mengurangi risiko-risiko
yang mungkin terjadi didalam masa kehamilan. Penulis berharap laporan ini dapat
memberi kontribusi dan manfaat bagi kalangan akademis maupun praktisi dalam
mengimplementasikan pendampingan pelayanan kehamilan.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Almamater Poltekkes


Kemenkes Surakarta Jurusan Sarjana Terapan dan Profesi Kebidanan, dosen
pembimbing yaitu Dwi Retna P, S.Si.T,M.Si, Med. serta teman-teman yang telah
mendukung penuh dalam proses penyusunan laporan ini dan awal sampai akhir
penyelesaian.

Klaten , Maret 2021

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
I. Latar Belakang
Program imunisasi di Indonesia dalam lima tahun terakhir tidak
mengalami perubahan yang signifikan. Hasil Riset Kesehatan Dasar 2018
Kementerian Kesehatan RI menunjukkan cakupan status imunisasi dasar
lengkap (IDL) pada anak usia (12-23 bulan) menurun dari 59,2% (2013)
menjadi 57,9% (2018). Artinya, dari sekitar 6 juta anak berusia 12-23
bulan hanya sekitar 2,5 juta anak saja yang lengkap diimunisasi. Jumlah
anak yang belum di imunisasi lengkap itu hampir setara dengan separuh
jumlah penduduk singapura.

Sebaliknya anak yang diimunisasi tapi tidak lengkap meningkat


dari 32,1% menjadi 32,9% pada periode yang sama. Angka imunisasi
dasar lengkap anak di pedesaan lebih rendah ( 53,8%) dibandingkan anak-
anak di perkotaan (61,5 %). Dua kondisi tersebut cukup mengkhawatirkan
untuk masa depan anak-anak.

II. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa jurusan kebidanan Poltekkes Surakarta mampu
menerapkan manajemen kasus dengan menggunakan pendekatan
manajemen kebidanan yang didasari konsep, sikap, dan ketrampilan.
2. Tujuan Khusus
a. Melakukan asuhan kebidanan pada neonatus dan anak.
b. Mengetahui dan memahami tentang konsep dasar BBL.
c. Pemantauan tumbuh kembang anak.
d. Asuhan kebidanan pada bayi yang mengalami kelainan.
e. Asuhan pada bayi dengan masalah yang lazim timbul.
f. Asuhan kebidanan pada bayi dengan resiko tinggi dan
kegawatdaruratannya.
g. Asuhan kebidanan pada anak yang mengalami gangguan/penyakit
yang lazim timbul.
h. Tindakan pada bayi dan anak yang mengalami kelukaan
kecelakaan.
III. Manfaat
1. Bagi Penulis
Dapat menerapkan ilmu yang telah diperoleh serta mendapatkan
pengalaman dalam melaksanakan asuhan kebidanan secara langsung
pada neonates, balita, dan anak pra sekolah sehingga dapat digunakan
sebagai berkas penulis didalam melaksanakan tugas sebagai bidan.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai tambahan sumber kepustakaan dan perbandingan asuhan
kebidanan pada neonates, balita, dan anak pra sekolah.
3. Bagi Klien dan Keluarga
Agar klien mengetahui dan memahami perubahan pada neonates,
balita, dan anak pra sekolah secara fisiologis maupun psikologis serta
masalahnya sehingga timbul kesadaran bagi klien untuk
memperhatikan masa nifas.
4. Bagi lahan Praktek
Hasil penulisan dapat memberikan masukan terhadap tenaga
kesehatan untuk lebih meningkatkan pelayanan kesehatan bagi
masyarakat dan selalu menjaga mutu pelayanan.
5. Bagi Masyarakat
Merupakan informasi kepada masyarakat tentang perubahan fisiologi
yang terjadi pada bayi, balita, dan anak pra sekolah baik secara
biologis dan psikologis.
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Dan Batasan Neonatus, Bayi, Balita Dan Anak Pra


Sekolah
1. Neonatus adalah bayi berumur 0 ( baru lahir ) sampai dengan usia 1
bulan sesudah lahir. Neonatus dini adalah bayi berusia 0-7 hari.
Neonatus lanjut adalah bayi dengan usia 7-28 hari. Masa neonatal
adalah masa sejak lahir sampai dengan 4 minggu (28 hari) sesudah
kelahiran (Wafi Nur Muslihatun, 2010)
2. Menurut Dep Kes Ri (2007), bayi baru lahir normal adalah bayi yang
lahir dengan umur kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan berat
badan 2500 gram sampai 4000 gram yang berusia
3. Anak balita adalah anak yag telah menginjak usia di atas satu tahun
lebih poluler dengan pengertian usia anak di bawah lima tahun
(Muaris.H, 2006)
Balita adalah istilah umum bagi anak usia 1-3 tahun(balita) dan anak
prasekolah 3-5 tahun ( Sutomo. B dan Anggraeni. DY, 2010)
4. Anak pra sekolah yaitu anak yang berusia antara 3-6 tahun ( Biechler
dan snowman, 1993)
B. Bayi Baru Lahir
1. Ciri- ciri bayi baru lahir normal
a. berat badan lahir 2500-4000
b. umur kehamilan 37-40 minggu
c. bayi segera menangis
d. bergerak aktif
e. kulit kemerahan
f. menghisap ASI dengan baik dan tidak ada cacat bawakaan(
Kementrian Kesehatan RI, 2010)
g. panjang badan 48-52 cm
h. lingkar dada 30-38 cm
i. lingkar kepala 33-35 cm
j. lingkar lengan 11-12 cm
k. frekuensi denyut jantung 120-160 x/ menit
l. pernafasan 40-60x/menit
m. kuku agak panjang dan lembut
n. nilai APGAR > 7
o. reflek rooting (mencari puting susu dengan rangasangan taktil pada
pipi dan daerah mulut ) sudah terbentuk dengan baik
p. reflek sucking ( isap dan menelan) sudah terbentuk dengan baik
q. reflek morro ( gerakkan memeluk jika dikagetkan) sudah terbentuk
dengan baik
r. reflek graping ( menggengam) sudah baik
s. genetalia, pada laki-laki kematangan diandai dengan testis yang
berada pada sekrotum dan penis yang berulang. Pada perempuan
kematangan ditandai dengan vagina dan uretra yang berluang, serta
ada labiya mayora dan minora.
t. eliminasi yang baik ditandai dengan keluarnya mekonium dalam
24 jam pertama dan berwarna hitam kecoklatan
2. Masa adaptasi bayi baru lahir
Bayi baru lahir (neonatus) adalah bayi usia 0-28 hari, selam
periode ini bayi harus menyesuaikan diri dengan lingkungan ekstra
uteri, yang terbagi dalam dua masa antara lain :
1) Masa Portunate
Masa portunate pada bayi berlangsung antara 15-390 menit pertama
sejak bayi lahir sampai tali pusatnya dipotong .
2) Masa Neonate
Masa neonate berlansung dari pemotongan dan pengkatan tali pusat
sampai akhir minggu kedua dari kehidupan pascamatur.

Ada empat penyesuain utama yang harus dilakukan sebelum anak


dapat memperoleh kemajuan perkembangan tingkah laku, yaitu :
1) perubahan suhu dalam rahim ibu dengan suhu lingkungan
2) perubahan pernafasan, sebelum lahir bayi bernafas dengan plasenta
dan setelah lahir bernafas dengan paru-paru
3) dan menelan sebagai cara untuk memperoleh makanan yang
semula dari plasenta melalui tali pusat
4) cara pembuangan melalui organ-organ sekresi yang mana sebelum
lahir melalui plasenta dan tali pusat
3. Perubahan fisiologis bayi baru lahir
a. sistem pernafasan
1) Perkembangan paru
Paru berasal dari titik tumbuh(jaringan endoderm) yang
muncul dari faring yang kemudian bercabang kembali
membentuk struktur percabangan bronkus. Prosen ini terus
berlanjut setelah kelahiran hingga sekitar usia 8 tahun, sampai
jumlah bronkiolus dan alveolus sepenuhnya berkembang,
walaupun janin memperlihatkan gerakan nafas sepanjang
trimester ke-II dan III. Ketidakmatangan paru mengurangi
peluang kelangsungan hidup bayi baru lahir sebelum usia 24
minggu, yang disebabkan oleh keterbatasan permukaan
alveolus, ketidakmatangan sistem kapiler paru, dan tidak
mencukupinya jumlah surfaktan.
2) Proses awal bernafas
Empat faktor yang berperan pada rangsangan nafas pertama
bayi :
- penurunan PaO2 dan kenaikan PaCO2 merangsang
kemoreseptor yang terletak di sinus karotis
- tekanan terhadap rongga dada(toraks) sewaktu melewati
jalan lahir
- rangsagan dingin di daerah muka dapat merangsang
gerakan pernafasan
- refleks deflasi hering breur

Pernapasan pertama pada bayi baru lahir terjadi dengan


normal dalam waktu 30 detik setelah kelahiran. Tekanan pada
rongga dada bayi saat bayi melalui jalan lahir per vaginam
mengakibatkan cairan paru yang jumlahnya 80-100 ml,
berkurang sepertiganya sehingga volume yang hilang ini
diganti dengan udara. Paru mengembang sehingga rongga dada
kembali ke bentuk semula. Pernapasan pada neonatus terutama
pernapasan diafragmatik dan abdominal. Biasanya,frekuensi
dan kedalaman pernafasan masih belum teratur.

Kompresi dan dekompresi kepala bayi selama proses


kelahiran diyakini merangsang pusat pernapasan di dalam otak
yang menimbulkan upaya bernapas. Dalam hal ini, rangsangan
taktil dianggap tidak terlalu bermakna. Akan tetapi,rasa sakit
yang disebabkan oleh ekstensi tungkai yang masih fleksi,
sendi-sendi dan tulang punggung dapat dianggap menjadi
penyebab timbulnya respons awal bayi terhadap kehidupan di
luar uterus.

b. Sistem Kardiovaskular
Setelah lahir, darah bayi baru lahir harus melewati paru
untuk mengambil oksigen dan bersirkulasi ke seluruh tubuh guna
menghantarkan oksigen ke jaringan. Agar terbentuk sirkulasi yang
baik guna mendukung kehidupan luar rahim, terjadi dua perubahan
besar, yaitu :
1) penutupan foramen ovale pada atrium paru dan aorta
2) penutupan duktus arteriosus antara arteri paru dan aorta

Perubahan sirkulasi ini terjadi akibat perubahan tekanan


pada seluruh sistem pembuluh darah tubuh. Jadi, perubahan
tekanan tersebut langsung berpengaruh pada aliran darah. Oksigen
menyebabkan sistem pembuluh mengubah tekanan dengan cara
mengurangi atau meningkatkan resistensinya sehingga mengubah
aliran darah.

Dua peristiwa yang mengubah tekanan dalam pembuluh darah :

1. Pada saat tali pusat dipotong, resistensi pembuluh darah


sitemik meningkat dan tekanan atrium kanan menurun. Aliran
darah menuju atrium kanan berkurang sehingga menyebabkan
penurunan volume dan tekanan pada atrium tersebut. Kedua
kejadian ini membantu darah yang miskin oksigen megalir ke
paru untuk menjalani proses oksigenasi ulang.
2. Pernafasan pertama menurunkan resistensi pembuluh darah
paru dan menigkatkan tekanan atrium kanan. Oksigen pada
pernapasan pertama ini menimbulkan relaksasi sistem
pembuluh darah paru. Peningkatan sirkulasi ke paru
mengakibatkan penigkatan pembuluh darah dan tekanan pada
atrium kanan. Dengan peningkatan tekanan atrium kanan dan
penurunan tekanan atrium kiri, foramen ovale secara fungsional
akan menutup.
Dengan pernapasan, kadar oksigen dalam darah meningkat.
Akibatnya duktus arteriosus mengalami konstriksi dan menutup
dalam waktu 8-10 jam setelah bayi lahir. Vena umbilikus, duktus
venosus, dan arteri hipogastrika pada tali pusat menutup secara
fungsional dalam beberapa menit setelah bayi lahir dan setelah tali
pusat di klem. Penutupan anatomi jaringan fibrosa berlangsung
selama 2-3 bulan.

c. Termoregulasi
Bayi baru lahir belum mampu mengatur suhu tubuh mereka
sehingga mereka dapat mengalami stres akibat perubahan
lingkungan. Pada saat bayi meninggalkan lingkungan rahim ibu
yang hangat, bayi tersebut kemudian masuk ke dalam lingkungan
ruang bersalin yang jauh lebih dingin. Bayi baru lahir dapat
menghasilkan panas dengan tiga cara , yaitu menggigil, aktivitas
volunter otot, dan termogenesis yang bukan melalui mekanisme
menggigil.
Mekanisme menggigil saja tidak efesien dan bayi cukup
bulan tidak mempu menghasilkan panas dengan cara ini. Aktivitas
otot dapat menghasilkan panas, tetapi menfaatnya terbatas, bahkan
untuk bayi cukup bulan dengan kekuataan otot cukup kuat untuk
tetap berada dalam posisi fleksi.

Beberapa mekanisme kehilangan panas tubuh pada BBL , menurut


wahyuni(2012) :
1) Evaporasi yaitu kehilangan panas terjadi karena menguapnya
cairan tubuh bayi
2) Konduksi adalah kehilangan panas melalui kontak langsung
antara tubuh bayi dan benda atau permukaan yang temperatur
lebih rendah
3) Konveksi adalah kehilangan panas yang terjadi pada saat tubuh
bayi terpapar udara atau lingkungan yang bertemperatur dingin
4) Radiasi adalah kehilangan panas badan bayi melalui
pancaran/radiasi dari tubuh bayi kelingkungan sekitar bayi
yang lebih dingin.
d. Metabolisme Glukosa
Agar berfungsi dengan baik, otak memerlukan glukosa
dalam jumlah tertentu. Pada saat kelahiran, begitu tali pusat di
klem, seorang bayi harus mulai mempertahankan kadar glukosa
darahnya sendiri. Pada setiap bayi baru lahir, kadar glukosa darah
akan turun dalam waktu cepat (1-2 jam ).
Koreksi penurunan kadar gula dapat dilakukan dengan 3 cara :
1) Melalui pemberian air susu ibu ( bayi baru lahir yang sehat
harus didorong untuk menyusui ASI secepat mungkin setelah
lahir)
2) Melalui penggunaan cadangan glikogen (glikogenesis)

3) Melalui pembentukan glukosa dari sumber lain, terutama


lemak( glukoneogenesis)

Bayi baru lahir yang tidak dapat mencerna makanan dalam jumlah
yang cukup akan membuat glukosa dari glikogen. Hal ini hanya
terjadi jika bayi mempunyai persediaan glikogen yang cukup.
Seorang bayi yang sehat akan menyimpan glukosa sebagi glikogen,
terutama dalam hati, selama bulan-bulan akhir, yang kemudian
mengakibatkan hipoksia, akan menggunakan persediaan glikogen
dalam satu jam pertama kelahiran.

e. Sistem ginjal
Walapun ginjal sangat penting dalam kehidupan janin,
muatannya terbilang kecil hingga setelah kelahiran. Urine bayi
encer, berwarna kekuning-kuningan, dan tidak berbau. Warna
coklat dapat disebabkan oleh lendir bebas membrane mukosa dan
udara asam dan akan hilang setelah bayi banyak minum.
Keseimbangan air dan fungsi ginjal penting. Fungsi ginjal belum
sempurna karena :
1) Jumlah nefron masih belum sebanyak orang dewasa
2) Ketidak seimbangan luas permukaan glomerulus dan volume
tubulus proksimal
3) Renal blood flow relatif kurang bila dibanding dengan orang
dewasa ( Indrayani& Moudy, 2013)
f. Sistem Gastrointestinal
Secara fungsional, saluran gastrointestinal bayi belum
matur dibandingkan orang dewasa. Membran mukosa pada mulut
berwarna merah jambu basah. Gigi tertanam di dalam gusi dan
sekresi ptyalin sedikit. Sebelum lahir, janin cukup bulan akan
mulai menghisap dan menelan reflek muntah dan batukyang cukup
matur sudah terbentuk dengan baik pada saat lahir kemampuan
bayi untuk menelan dan mencerna makanan ( selain susu) masih
terbatas hubungan antara esofagus bawah dan lambung masih
belum sempurna sehingga mengakibatkan gumoh pada bayi baru
lahir dan neonatus. Kapasitas lambung sangat terbatas, kurang dari
30 ml (15-30 ml) untuk bayi baru lahir cukup bulan. Kapasitas
lambung ini akan bertambah secara perlahan-lahan , seiring dengan
pertumbuhan bayi. Pengaturan makan yang sering oleh bayi sendiri
sangat penting , contohnya memberi ASI sesuai keinginan bayi
(ASI on demand).
g. Sistem imun
Sistem imun bayi baru lahir masih belum matur sehingga
neonatus rentan menggalami infeksi dan akregi. Sistem imun yang
matur akan memberi kekebalan alami maupun kekebalan dapatan.
Kekebalan alami terdiri dari struktur pertahanan tubuh yang
menvegah atau meminimalkan infeksi. Beberapa contoh kekebalan
alami meliputi :
1) Perlindungan oleh membran mukosa
2) Fungsi jaringan saluran nafas
3) Pembentukan koloni mikroba oleh kulit dan usus
4) Perlindungan kimia oleh lingkungan asam lambung

Kekebalan dapatan akan muncul kemudian. Bayi baru lahir


yang lahir dengan kekebalan pasif mendapatkan antibody dari
tubuh ibunya. Reaksi antibody keseluruhan terhadap antigen asing
masih belum muncul sampai awal kehidupann anak. Salah satu
tugas utama selama masa bayi dan balita adalah pembentukan
system kekebalan tubuh.

h. Sistem Muskuloskeletal
Otot bayi berkembang dengan sempurna karena hipertropi,
bukan hiperplasi. Tulang panjang tidak mengeras dengan sempurna
untuk memudahkan pertumbuhan pada epifise. Tulang tengkorak
kekurangan esensi osifikasi untuk pertumbuhan otak dan
memudahkan proses pembentukan selama persalinan. Proses ini
selesai dalam waktu beberapa hari setelah lahir. Fontanel posterior
tertutup dalam waktu 6-8 minggu. Fontanel anterior tetap terbuka
hingga usia 18 bulan dan digunakan unutk memperkirakan tekanan
hidrasi dan intra cranium yang dilakukan dengan memalpasi
tegangan fontanel.
i. Sistem neorologi
Sistem saraf bayi masih sangat baik secara anatomi maupun
fisiologi ini menyebabkan kegiatan reflek spina dan batang otak
dengan control minimal oleh lapisan luar serebrum pada beberapa
bulan pertama kehidupan, walapun intraksi sosial terjadi lebih
awal.
Bayi baru lahir memperlihatkan sejumlah aktivitas reflek
pada usia yang berbeda-beda, yang menunjukan normalitas dan
perpaduan antara sistem neurologi dan muskuluskletal.
4. Pemeriksaan pada bayi baru lahir
Pengkajian setelah lahir terjadi dalam tiga tahapan( Suwanti ; 2007)
a. Tahap I
Segera selama menit-menit pertama kelahiran menggunakan sistem
scoring APGAR untuk fisik dan skrining GRAY utuk intraksi bayi
dengan orang tua.
Klasifikasi klinik :
 Nilai 7-10 : bayi normal
 Nilai 4-6 : bayi asfiksia ringan-sedang
 Nilai 0-3 : bayi asfiksia berat

Tanda Skor
0 1 2
A= Apperance biru pucat badan merah, seluruh tubuh
colon ( warna ekstermitas biru kemerahan
kulit )
P = Pulse ( tidak ada < 100 >100
frekunsi
jantung)

G = Grimage ( tidak ada sedikit gerakan, menangis,


rangsangan ) minim batuk, bersin
A = Acitivity lumpuh ekstermitas gerakan aktif
(aktivitas tonus dalam sedikit
otot ) fleksi
R = Respiration tidak ada lemah, tidak mengis kuat
(pernafasan ) teratur

b. Tahap II
Transisional selama aktifitas yaitu pengkajian selama 24 jam pertama
juga penting
c. Tahap III
Periodic, pengkajian, setelah 24 jam pertama masing-masing sistem
tubuh diperiksa
5. Pemantauan tanda-tanda vital
Suhu tubuh, nadi, pernapasan bayi baru lahir bervariasi dalam berspon
terhadap lingkungan
a. Suhu bayi dalam keadaan normal berkisar anatra 36,5-37,5 C
b. Denyut nadi bayi baru lahir normal 120-140 x/menit
c. Pernafasan 30-60 kali/ menit
d. Tekanan darah bayi baru lahir rendah dan sulit untuk diukur secara
cepat dan akurat. Rata-rata tekanan darah pada waktu lahir adalah
80/64 mmHg.
6. Penatalaksanan awal dan suhan bayi baru lahir
a. Membersihkan jalan nafas
- Letakkan bayi pada posisi telentang di temapt yang keras dan
hangat
- Posisi kepala diatur sedikit tengadah ke belakang
- Bersihkan hidung, rogga mulut dan tenggorokan bayi dengan jari
tangan yang dibungkus kassa steril
- Tepuk kedua telapak kaki bayi sebanyak 2-3 kali atau gosok kulit
bayi dengan kain keirng dan kasar agar bayi segera menangis
b. Memotong dan merawat tali pusat
Setelah bayi lahir, tali pusat di potong 5 cm dari dinding perut bayi
dengan gunting steril khusus untuk menggunting tali pusat dan diklem
dengan klem tali pusat. Luka tali pusat dibersihkan dan dirawat dengan
perawatan terbuka tanpa dibubuhi apapun. Dilakukan perawatan luka
kering.
c. Pemberian vitamin K
Kejadian perdarahan karena defiensi vitamin K pada bayi baru
lahir dilaporkan cukup tinggi, sekitar 0,25-0,5 %. Untuk mencegah
terjadinya perdarahan tersebut, semua bayi baru lahir normal dan
cukup bulan perlu diberi vitamnin K peroral 1 mg/hari selama 3 hari,
sedangkan bayi resiko tinggi diberi vitamin K dengan dosis 0,5-1 mg
IM.
d. Mepmpertahankan suhu tubuh bayi
Cegah terjadinya panas dengan mengeringkan tubuh bayi dengan
handuk atau kain bersih kemudian selimuti bayi dengan selimut atau
kain yang hangat, kering dan bersih. Tutupi bagian kepala bayi dengan
topi dan anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya sera
jangan segera menimbna atau memandikan bayi baru lahir karena bayi
mudah kehilangan panas tubuhnya.
e. Upaya profilaksis terhadap gangguan mata
Pemberian obat tetes mata eritromisisn 0,5% atau tetrasiklin 1%
dianjurkan untuk mecegah penyakit mata karena klamidia (penyakit
menular seksual ). (Abdul Bari Saifuddin, 2009). Tetes mata / salep
antibiotik harus diberikan dalam waktu 1 jam pertama setelah
kelahiran.
C. Bayi, Balita Dan Anak Prasekolah
1. Kebutuhan Imunisasi
a. Pengertian imunisasi
Imunisasi adalah suatu usaha untuk meningkatkan
kekebalan aktif seseorang terhadap suatu penyakit dengan
memasukkan vaksin ke dalam tubuh bayi atau anak. Imunisai dasar
adalah pemberian imunisai untuk mencapai kadar kekebalan diatas
ambang perlindugan (Depkes, 2005). Yang dimaksud dengan
imunisasi dasar lengkap menurut Ranuh dkk 2001 adalah
pemberian imunisasi BCG 1x, hepatitis B 3x, DPT 3X, polio 4x,
dan campak 1x sebelum bayi berusia 1 tahun.
b. Macam-macam imunisasi dasar menururt Theophilus 2007
1) Imunisasi BCG
Vaksinasi BCG memberikan kekebalan aktif terhadap
penyakit tuberkulosis (TBC). BCG diberikan 1 kali sebelum
anak berumur 2 bulan. BCG ulangan tidak dianjurkan karena
keberhasilannya diragukan. Vaksin disuntikkan secara
intrakutan pada lengan atas, untuk bayi berumur kurang dari 1
tahun diberikan sebanyak 0,05 mL dan untuk anak berumur
lebih dari 1 tahun diberikan sebanyak 0,1 mL. Vaksin ini
mengandung bakteri Bacillus Calmette-Guerrin hidup yang
dilemahkan, sebanyak 50.000-1.000.000
partikel/dosis.Kontraindikasi untuk vaksinasi BCG adalah
penderita gangguan sistem kekebalan (misalnya penderita
leukemia, penderita yang menjalani pengobatan steroid jangka
panjang, penderita infeksi HIV).
2) Imunisasi polio
Memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit
poliomielitis. Polio bisa menyebabkan nyeri otot dan
kelumpuhan pada salah satu maupun kedua lengan/tungkai.
Polio juga bisa menyebabkan kelumpuhan pada otot-otot
pernafasan dan otot untuk menelan. Polio bisa menyebabkan
kematian. Terdapat 2 macam vaksin polio: IPV (Inactivated
Polio Vaccine, Vaksin Salk), mengandung virus polio yang
telah dimatikan dan diberikan melalui suntikan OPV (Oral
Polio Vaccine, Vaksin Sabin), mengandung vaksin hidup yang
telah dilemahkan dan diberikan dalam bentuk pil atau cairan.
Bentuk trivalen (TOPV) efektif melawan semua bentuk polio,
bentuk monovalen (MOPV)efektif melawan 1 jenis polio.
Imunisasi dasar polio diberikan 4 kali (polio I,II, III, dan
IV) dengan interval tidak kurang dari 4 minggu.Imunisasi
polio ulangan diberikan 1 tahun setelah imunisasi polio IV,
kemudian pada saat masuk SD (5-6 tahun) dan pada saat
meninggalkan SD (12 tahun). Di Indonesia umumnya
diberikan vaksin Sabin. Vaksin ini diberikan sebanyak 2 tetes
(0,1 mL) langsung ke mulut anak atau dengan menggunakan
sendok yang berisi air gula.
3) Imunisasi campak
Memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit campak
(tampek). Imunisasi campak diberikan sebanyak 1 dosis pada
saat anak berumur 9 bulan atau lebih. Pada kejadian luar biasa
dapat diberikan pada umur 6 bulan dan diulangi 6 bulan
kemudian. Vaksin disuntikkan secara subkutan dalam
sebanyak 0,5 mL.
4) Imunisasi MMR
memberi perlindungan terhadap campak, gondongan dan
campak Jerman dan disuntikkan sebanyak 2 kali. Vaksin
MMR adalah vaksin 3-in-1 yang melindungi anak terhadap
campak, gondongan dan campak Jerman. Suntikan pertama
diberikan pada saat anak berumur 12-15 bulan. Suntikan
pertama mungkin tidak memberikan kekebalan seumur hidup
yang adekuat, karena itu diberikan suntikan kedua pada saat
anak berumur 4-6 tahun (sebelum masuk SD) atau pada saat
anak berumur 11-13 tahun (sebelum masuk SMP).
Pada 90-98% orang yang menerimanya, suntikan MMR
akan memberikan perlindungan seumur hidup terhadap
campak, campak Jerman dan gondongan. Suntikan kedua
diberikan untuk memberikan perlindungan adekuat yang tidak
dapat dipenuhi oleh suntikan pertama.
5) Imunisasi Hib
membantu mencegah infeksi oleh Haemophilus influenza
tipe b. Organisme ini bisa menyebabkan meningitis,
pneumonia dan infeksi tenggorokan berat yang bisa
menyebabkan anak tersedak. Vaksin Hib diberikan sebanyak 3
kali suntikan, biasanya pada saat anak berumur 2, 4 dan 6
bulan.
6) Imunisasi varisella
Memberikan perlindungan terhadap cacar air. Cacar air
ditandai dengan ruam kulit yang membentuk lepuhan,
kemudian secara perlahan mengering dan membentuk
keropeng yang akan mengelupas. Setiap anak yang berumur
12-18 bulan dan belum pernah menderita cacar air dianjurkan
untuk menjalani imunisasi varisella. Anak-anak yang
mendapatkan suntikan varisella sebelum berumur 13 tahun
hanya memerlukan 1 dosis vaksin. Kepada anak-anak yang
berumur 13 tahun atau lebih, yang belum pernah mendapatkan
vaksinasi varisella dan belum pernah menderita cacar air,
sebaiknya diberikan 2 dosis vaksin dengan selang waktu 4-8
minggu. Cacar air disebabkan oleh virus varicella-zoster dan
sangat menular.
7) Imunisasi HBV memberikan kekebalan terhadap hepatitis B.
Dosis pertama diberikan segera setelah bayi lahir atau jika
ibunya memiliki HBsAg negatif, bisa diberikan pada saat bayi
berumur 2 bulan. Imunisasi dasar diberikan sebanyak 3 kali
dengan selang waktu 1 bulan antara suntikan HBV I dengan
HBV II, serta selang waktu 5 bulan antara suntikan HBV II
dengan HBV III. Imunisasi ulangan diberikan 5 tahun setelah
suntikan HBV III. Sebelum memberikan imunisasi ulangan
dianjurkan untuk memeriksa kadar HBsAg. Vaksin
disuntikkan pada otot lengan atau paha.
Kepada bayi yang lahir dari ibu dengan HBsAg positif,
diberikan vaksin HBV pada lengan kiri dan 0,5 mL HBIG
(hepatitis B immune globulin) pada lengan kanan, dalam
waktu 12 jam setelah lahir. Dosis kedua diberikan pada saat
anak berumur 1-2 bulan, dosis ketiga diberikan pada saat anak
berumur 6 bulan. Kepada bayi yang lahir dari ibu yang status
HBsAgnya tidak diketahui, diberikan HBV I dalam waktu 12
jam setelah lahir. Pada saat persalinan, contoh darah ibu
diambil untuk menentukan status HBsAgnya; jika positif,
maka segera diberikan HBIG (sebelum bayi berumur lebih dari
1 minggu).
a. Jadwal Imunisasi

Gambar 1. Jadwal Imunisasi

b. Dosis dan Cara Pemberian


Tabel 3 dosis dan cara pemberian vaksin
Vaksin Dosis Rute Pemberian &
Lokasi

BCG 0,05 cc IC

Pentavalen 0,5 cc IM antero lateral paha


a. Difteri atas pada bayi
b. Tetanus Lengan kanan pada
c. Hepatitis anak 1,5 tahun
d. Meningitis
e. Batuk Rejan

Polio 2 tetes Ditetes di Mulut

Campak 0,5 cc SC lengan kiri atas

c. Jadwal pemberian imunisasi

Umur Jenis

0 bulan hepatitis B0
1 bulan BCG, Polio 1

2 bulan DPT-HB-Hib 1, polio 2

3 bulan DPT-HB-Hib 2, polio 3

4 bulan DPT-HB-Hib 3, polio 4

9 bulan Campak

 imunisai lanjutan pada anak <3 tahun (imunisasi booster)

Umur Jenis

18 bulan DPT-HB-Hib

24 bulan Campak


 imuniunisasi lanjutan pada anak usia sekolah dasar

Sasaran Imunisai waktu pelaksanaan


kelas 1 SD campak ,DT agustus, november

kelas 2 SD Td November
kelas 3 SD Td November

D. MANAJEMEN KEBIDANAN
Menurut Hallen Varney ada 7 langkah dalam manajemen kebidanan yaitu:
1. Langkah I :Pengkajian(Pengumpulan Data Dasar)
Pengumpulan data dasar adalah mengumpulkan semua data yang
dibutuhkan untuk mengevaluasi keadaan pasien. Meliputi :
 Data Subjektif
Yaitu informasi yang dicatat mencakup identitas, keluhan yang
diperoleh dari hasil wawancara langsung kepada pasien atau klien (
anamnesis) atau dari keluarga (Hidayat,2008)
a. Biodata Pasien :
- nama bayi
- umur
- tanggal/jam lahir
- jenis kelamin
- nama ibu/ayah
- umur ibu/ayah
- pekerjaan
- agama
- suku bangsa
- pendidikan
- alamat
b. Data ibu
Data ibu meliputi : Riwayat obstetri, frekuensi ANC, imunisasi
TT, obat/jamu yang dikonsumsi, kenaikan BB, riwayat
penyakit penderita, komplikasi selama hamil, serta riwayat
persalinan terakhir.
c. Keadaan BBL
 Data Objektif
Pencatatan dilakukan dari hasil pemeriksaan fisisk, pemeriksaan
khusus kebidanan, data penunjang.
a. Pemeriksaan umum
1) keadaan umum
2) kesadaran
3) tanda-tanda vital, meliputi ; nadi, pernafasan BBL, suhu
b. Pemeriksaan khusus
Dilakukan dengan pemeriksaan apgar score pada menit
pertama, kelima, dan kesepuluh untuk mengetahui gejala sisa,
meliputi :appearance(warna kulit), pulses rate (frekuensi nadi),
grimace (rangsang), aktivity (tonus otot),
respiration(pernafasan). (Kosim,2005)
c. Pemeriksaan Fisik

a. Rambut : hitam, bersih

b. Mata : simetris, bersih, konjugtiva berwarna merah muda

dan sklera putih

c. Hidung : bersih dan tidak ditemukan adanya pengeluaran

secret berlebihan

d. Telinga : simetris anatra telinga kanan dan kiri, tidak ada


pembengkakan di bagian telinga

e. Mulut : bersih tidak ada bibir sumbing

f. Leher : tidak ditemukan adanya pembesaran pada

kelenjar limfe dan tiroid

g. Dada : simetris, tidak ada tarikan dinding dada saat

bernafas

h. Abdomen : berbentuk bulat, tidak ada kelainan

i. Genetalia : tidak ada kelainan, terdapat uretra

j. Tungkai dan kaki : tidak ada kelainan, gerakan aktif

k. Punggung : tidak ada pembengkakan

l. Kulit : bersih, tidak ada tanda iritasi

d. Pemeriksaan reflek
- reflek morro
- reflek rooting
- reflek grasping
- reflek sucking
- reflek tonic neck
e. Pemeriksaan antropometri
1) Lingkar kepala
Pengukuran ini dilakukan dengan meletakkan pita
melingkar pada lingkar oksipito-frontal. Pengukuran yang
dicatat adalah rata-rata dari tiga kali pengukuran,
normalnya pada bayi 32-37 cm (Chapman, 2006)
2) Lingkar dada
Deteksi dini bayi berat lahir rendah, normalnya adalah 30-
38 cm (Putra, 2012)
3) Berat badan
Menimbang berat badan tujuanya untuk mengetahui
pertumbuhan bayi sehingga diketahui normal atau tidaknya
pertumbuhannya. Berat badan normal bayi adalah 2500-
4000 gram.(Putra,2012)
2. Langkah II : Interpretasi Data
Pada langkah ini melakukan identifikasi yang benar terhadap
diagnosis, masalah, dan kebutuhan bayi berdasarkan data-data yang
telah dikumpulkan. (Sudarti,2013)
 Diagnose kebidanan
Menurut Hani dkk(2010), diagnose kebidanan adalah diagnose
yang tegakkan bidan dalam lingkup prakik kebidanan dan
memenuhi standart nomenklatur diagnosis kebidanan.
 Masalah
Adalah hal-halyang berkaitan dengan pengalaman klien yang
ditemukan dari hasil pengkajian atau yang menyertai diagnosis.
(Hani dkk, 2010)
 Kebutuhan
Kebutuhan adalah hal-hal yang dibutuhkan oleh klien dan belum
teridentifikasi dalam diagnosis dan masalah yang didapatkan
dengan melakukan analisis data (Hani dkk,2010)
3. Langkah III : Diagnosa Potensial
Pada langkah ini mengidentifikasi masalah atau diagnosa potensial lain
berdasarkan rangkaian masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah ini
membutuhkan antisipasi memungkinkan dilakukan pencegahan dan
kolaborasi dengan dokter dapat dilakukan, menunggu sambil
menunggu pasien, bidan bersiap-siap bila masalah potensial ini benar-
benar terjadi( Varney,2007)
4. Langkah IV :Tindakan segera
Langkah-langkah ini ditemukan oleh langkah-langkah sebelumnya
yang merupakan lanjutan dari masalah atau diagnosa yang telah
teridentifikasi atau diantisipasi. Rencana asuhan yang menyeluruh
tidak hanya meliputi apa yang sudah dilihat dari kondisi pasien atau
dari setiap masalah yang berkaitan, tetapi juga berkaitan dengan
kerangka pedoman antisipasi bagi pasien tersebut yaitu apa yang akan
terjadi berikutnya (Ambarwati, 2010)
5. Langkah VI : Implementasi
Pada langkah ini, rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah
diuraikan dilaksanakan secara efisien dan aman (Sulistyawati,2009)
6. Langkah VII : Evaluasi
Merupakan tahap akhir dalam manajemen kebidanan, yakni dengan
melakukan evaluasi dari perencanaan maupun pelaksanaan yang
dilakukan bidan. Evaluasi sebagai bagian dari proses yang dilakukan
secara terus-menerus untuk meningkatkan pelayanan secara
komprehensif dan selalu berubah sesuai dengan kondisi atau
kebutuhan klien (Hidayat, 2008).
E. MODEL DOKUMENTASI SOAP
1. Catatan Pengertian SOAP
SOAP adalah catatan yang tertulis secara singkat, lengkap dan
bermanfaat bagi bidan atau pemberian asuhan yang lain mulai dari data
subjektif, data objektif, analisa dan penatalaksanaan.
2. Tujuan catatan SOAP
 Menciptakan catatan permanen tentang asuhan yang diberikan
 Memungkinkan berbagai informasi antara pemberian asuhan
 Memfasilitasi asuhan yang berkesinambungan
 Mengevaluasi asuhan yang diberikan
 Memberikan data untuk riset,catatan nasional dan
statistic,mortalitas dan morbiditas
3. Manfaat catatan SOAP
 Sebagai kemajuan informasi yang sistematis dan mengorganisir
pertemuan data kesimpulan mbidan menjadi rencana asuhan.
 Penyaringan intisari dari proses pelaksanaan untuk penyediaan
dokumentasi asuhan.

4. Tahap-tahap SOAP

S : Subyektif data
Adalah data yang diperoleh dari keluhan-keluhan yang
disampaikan klien kepada bidan (ekspresi verbal dari pasien ).
O : Obyektif data
Adalah data yang diperoleh dari observasi dan pemeriksaan (
pengamatan pada pasien meliputi tingkah laku dan hasil dari
pemeriksaan fisik dan penunjang ).
A : Analisa
Mengatakan masalah atau diagnosa dan kebutuhan yang terjadi
atas dasar subyektif dan obyektif (kesimpulan yang di dapat dari
kondisi pasien meliputi data dasar obyektif dan subyektif yang
selanjutnya ditulis dalam format diagnosa kebidanan)
P : Penatalaksanaan
Penatalaksanaan sesuai dengan masalah dan diagnosa (mengacu
kepada permasalahanya) dan evaluasi sesuai hasil yang telah
dilakukan
BAB III

TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN BALITA SEHAT DENGAN IMUNISASI


PADA BY. E UMUR 1 BULAN DENGAN IMUNISASI BCG DAN POLIO1
DI PUSKESMAS GANTIWARNO KLATEN
TANGGAL 3 FEBRUARI 2021
Tempat : Puskesmas Gantiwarno Klaten
Hari, tanggal : Rabu, 03 Februari 2021
Jam : 09.00 WIB
Pengkaji : Alfitamara Muafatika

I. PENGKAJIAN DATA
a. Data Subjektif

1. Identitas

Bayi
Nama : By. E
Umur : 1 bulan
Jenis kelamin : Laki-laki
Orang tua

Nama Ibu : Ny. A Nama Suami : Tn. M


Umur : 28 tahun Umur : 29 tahun
Suku/bangsa : Jawa/Indonesia Suku/bangsa : Jawa/Indonesia
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Pekerjaan : Karyawan Swasta
Alamat : Tangkisan 02/01 Towangsang

2. Alasan Datang

Ibu mengatakan ingin mengimunisasi anaknya yang berumur 1 bulan

3. Riwayat Kelahiran

a. Tanggal Lahir : 31 Desember 2020


b. Jenis Persalinan : Normal
c. Penolong : Bidan
d. BBL : 3000 gram
e. PB : 49 cm
f. LK : 32 cm
g. Komplikasi : Tidak Ada
h. Laktasi : ASI Lancar
4. Riwayat Kesehatan

a. Riwayat Kesehatan Sekarang

Ibu mengatakan bahwa By. E sehat, tidak sedang terserang penyakit


apapun

b. Riwayat Kesehatan Yang Lalu

Ibu mengatakan bayinya tidak sedang menderita penyakit apapun

c. Riwayat Kesehatan Keluarga

Ibu mengatakan bahwa keluarga dalam keadaan sehat, tidak sedang


sakit

d. Riwayat Penyakit Menular, Kronis, Genetis

Ibu mengatakan tidak mempunyai riwayat penyakit menurun seperti


diabetes, darah tinggi, juga tidak mempunyai riwayat penyakit kronis
seperti jantung.

5. Riwayat Imunisasi

jenis imunisasi pemberian ke/ tanggal pemberian


I II III IV
Hb-0 01-01-2021
BCG 01-02-2021
Polio
Pentabio
Campak

6. Pola Kebutuhan Sehari-Hari


a. Nutrisi
Ibu mengatakan By. E mendapatkan nutrisi yang baik, By. E masih
diberikan ASI esklusif sampai 6 bulan tanpa makanan pendamping
b. Eliminasi

Ibu mengatakan By. E dapat BAK lancar, BAB lancar, dan tidak ada
tanda-tanda penyulit

c. Istirahat

Ibu mengatakan By. E istirahat cukup,tidur siang 4-5 jam, tidur malam
10-11 jam.

d. Hygiene

Ibu mengatakan bahwa By. E mandi 2 kali sehari

7. Data Sosial Budaya

a. Pandangan Keluarga Terhadap Kesehatan

Ibu mengatakan bahwa keluarga cukup peduli terhadap kesehatan,


misalnya keluarga sebelum makan dan sesudah makan mencuci
tangan dengan sabun, membuang samapah pada tempatnya, mencuci
bersih alat makan dan alat masak, bila terdapat anggota keluarga yang
sakit maka segera dibawa kefasilitas kesehatan atau tenaga kesehatan
terdekat

b. Keadaan Lingkungan

Ibu mengatakan bahwa lingkungan dalam keadaan baik, bersih dan


bebas polusi. Tidak dalam lingkungan yang ramai kendaraan, tidak
dilingkungan pabrik atau pembuangan limbah.

c. Pengasuh Anak

Ibu mengatakan anak diasuh oleh ibu sendiri dan dibantu suami

8. Data Perkembangan

By. E sudah mulai bisa menggeleng-gelengkan kepala dalam posisi


telungkup, mulai mampu menunjukkan ekspresinya dengan tertawa,
mengeluarkan suara-suara,sudah bisa menggengam benda di letakkan di
tanggannya

B. Data Objektif

1. pemeriksaan umum
a. keadaan umum : baik

b. suhu : 360C

c. berat badan : 5600 gram

2. Pemeriksaan Fisik

a. Rambut : hitam, bersih


b. Mata : simetris, bersih, konjugtiva berwarna merah muda
dan sklera putih
c. Hidung bersih dan tidak ditemukan adanya pengeluaran secret
berlebihan
d. Telinga : simetris anatra telinga kanan dan kiri, tidak ada
pembengkakan di bagian telinga
e. Mulut : bersih tidak ada bibir sumbing
f. Leher : tidak ditemukan adanya pembesaran pada kelenjar
limfe dan tiroid
g. Dada : simetris, tidak ada tarikan dinding dada saat
bernafas
h. Abdomen : berbentuk bulat, tidak ada kelainan
i. Genetalia : tidak ada kelainan
j. Tungkai dan kaki : tidak ada kelainan, gerakan aktif
k. Punggung : tdak ada pembengkakan
l. Kulit : bersih, tidak ada tanda iritasi

II. INTERPRETASI DATA

A. Diagnosa

By. E umur 1 bulan berat badan 5600 gram dengan imunisasi BCG dan
polio 1

B. Masalah

Tidak ada

C. Kebutuhan

Tidak ada

III. DIAGNOSA POTENSIAL

Tidak Ada

IV. TINDAKAN SEGERA


1. Memberitahu ibu tentang keadaan anaknya dan memberikan inform
consent
2. Menyiapkan alat utuk imunisasi BCG
3. Menyuntikkan vaksin BCG (0,05 ml) pada By. E secara inctracutan pada
lengan kanan atas
4. Meneteskan vaksin polio 2 tetes ke mulut bayi
5. Memberitahukan kepada ibu tentang efek samping dari pemberian
imunisasi BCG dan polio

V. PERENCANAAN

1. Mengingatkan ibu untuk selalu mengikuti posyandu


2. Mengingatkan ibu untuk tetap memberikan ASI secara on demand
3. Memberitahu ibu untuk imunisai bulan berikutnya sesuai jadwal yang
telah ditulis dibuku

VI. IMPLEMENTASI

1. Hasil : bayi telah diberikan vaksin polio


2. Hasil : Ibu telah mengetahui tentang keadaan anaknya dan ibu telah tanda
tangan infom consent
3. Hasil : Telah dilakukan penyuntikkan vaksin BCG pada By. E secara
inctracutan pada lengan kanan atas
4. Hasil : Ibu sudah paham dan mengerti tentang efek samping dari
pemberian imunisasi BCG dan polio
5. Hasil : Ibu bersedia untuk tetap memberikan ASI secara on demand
6. Hasil : Ibu sudah memahami untuk imunisai bulan berikutnya sesuai
jadwal

VII. EVALUASI

Tanggal 03 Februari 2021 Jam 09.00 WIB

A. DATA SUBYEKTIF
Ny A datang ke puskesmas Gantiwarno mengatakan ingin
mengimunisasikan anakanya An. E
B. DATA OBYEKTIF
a. Keadaan umum : Baik
b. Kesadaran : Composmenthis
c. Suhu : 36 ℃
d. Beeat badan : 4.100 gram
e. Tinggi badan : 51 cm
f. Denyut jantung : 120 x/m
g. Respirasi : 50 x/m
C. ANALISIS DATA
By Ny A (An. E) usia 18 hari dengan imunisasi BCG dan Polio 1 di
Puskesmas Gantiwarno
D. PENATALAKSANAAN
1. Ibu telah diberikan konseling mengenai imunisasi yang telah
diberikan.
2. Ibu telah diberikan konseling mengenai tanda-tanda infeksi
setelah imunisasi.
3. Ibu telah diberikan konseling mengenai efek samping imunisasi
yang telah diberikan.
BAB IV

PEMBAHASAN

Imunisasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan


seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga apabila suatu saat
terpajan dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami penyakit
ringan.

Dalam asuhan kebidanan pada By. E usia 1 bulan dengan imunisasi BCG
dan Polio I. Dari data subyektif dan data obyektif ditemukan bahwa anak dalam
keadaan sehat,BB anak saat ini 5600 gram. Menurut teori dalam pemberian
imunisasi anak harus dalam keadaan sehat. (Pedoman teknis imunisasi tingkat
puskesmas Depkes 2005).Dalam hal ini tidak ada kesenjangan antara teori dan
praktik.

By. H saat ini berusia 1 bulan dan ibunya mengatakan bahwa pada hari
tersebut adalah jadwal pemberian imunisasi anaknya. Menurut teori dari
Theophilus 2007 bahwa macam-macam imunisasi dasar adalah salah satunya
vaksin BCG yang diberikan kepada bayi usia 1 bulan dengan dosis 0,05 ml.
Dalam hal ini tidak ada kesenjangan antara praktik dan teori karena ibu An. H
telah datang ke Puskesmas Gantiwarno untuk mengimunisasikan By. H vaksin
BCG dan Polio 1.

Dalam intervensi dan implementasi langkah pemberian vaksin BCG tidak


terdapat kesenjangan antara teori dan praktek. Dalam teori disebutkan pemberian
vaksin BCG dengan dosis 0,05 ml secara IC pada lengan kanan atas dan langkah
ini dilakukan dalam praktik.(Buku Anjar Imunisasi 2010)

Saat penyuntikan petugas kesehatan tidak mencuci tangan sebelum


melakukan tindakan memberian imunisasi. Saat selesai memberikan imunisasi
baru petugas mencuci tangan. Di dalam teori menjelaskan mencuci tangan
sebelum melakukan tindakan dan selesai tindakan dengan 6 langkah cuci tangan,
dengan menggunakan sabun dan air yang mengalir.
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Setelah dilakukan asuhan kebidanan pada bayi sehat dengan imunisasi BCG
dalam pengkajian dan analisa data ditemukan diagnosa yaitu bayi sehat akan di
imunisasi BCG.

Dalam asuhan kebidanan ini peran serta kerjasama yang baik antara ibu pasien
dengan bidan sangat diperlukan supaya tujuan Asuhan Kebidanan dapat tercapai
dengan baik.

B. Saran

1. Bagi Bidan

Sebaiknya petugas kesehatan mencuci tangan dahulu sebelum melakukan


tindakan pemberian imunisasi

2. Bagi Mahasiswa

Lebih menggali ilmu semaksimal mungkin untuk menambah pengetahuan


dan keterampilan tentang masalah-masalah dan cara imunisasi pada bayi
yang benar.
DAFTAR PUSTAKA

1. Depkes,RI.2009.Pedoman Asuhan Bayi Baru Lahir


Terpadu.Jakarta:Depkes RI.
2. Prawirohardjo,Sarwono.2002.Buku Acuan Nasional pelayanan
Kesehatan Maternal dan Neonatal.Jakarta : Yayasan bina pustaka.
3. Universitas Padjadjaran.2000.Asuhan Bayi Baru
Lahir.Bandung.Universitas Padjadjaran.
4. Chris Tanto, dkk.2014. Kapita Selekta Kedokteran.Jakarta:Media
Aesculapius
5. Nuha Medika Uliyah,Musrifatul.2006.Ketrampilan Dasar Praktik
Kebidanan.Jakarta: Salemba Medika
6. Varney,H.Et,All.2007.Buku Ajar Kebidanan,Edisi 2. Jakarta:EGC

Anda mungkin juga menyukai