Anda di halaman 1dari 7

Pengertian Belajar Suatu teori yang mengedepankan bagaimana

Menurut Teori memanusiakan manusia serta peserta didik


Humanistik mampu mengembangkan potensi dirinya

Carl R. Rogers; Belajar yang sebenarnya tidak dapat


berlangsung bila tidak ada keterlibatan intelektual
maupun emosional peserta didik

Arthur Combs; Meaning (makna atau arti) adalah


konsep dasar yang sering digunakan dan belajar terjadi
Teori Belajar bila mempunyai arti bagi individu.
Menurut Para Ahli
Humanistik Abraham Maslow; Individu berperilaku dalam upaya
untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis

Teori Belajar Jurgen Habernas; Belajar baru akan terjadi jika ada
interaksi antara individu dengan lingkungannya
Humanistik
1.Manusia memiliki keinginan alamiah belajar
2.Belajar akan cepat dan bermakna jika relevan
3.Belajar dapat ditingkatkan dengan mengurangi
ancaman dari luar
Prinsip-Prinsip Teori 4.Belajar secara partisipatif jauh lebih efektif
Belajar Humanistik 5.Belajar atas prakarsa sendiri akan lebih baik dan
tahan lama
6.Kebebasan, kreatifitas, dan kepercayaan diri dapat
ditingkatkan dengan evaluasi diri

Aplikasi Teori
Proses pembelajaran harus menggunakan pedekatan
Belajar Humanistik student centered, yaitu pendekatan yang menjadikan
dalam Kegiatan siswa sebagai pusat pembelajaran
Pembelajaran

Konsep Belajar Siswa akan dapat menginterpretasikan informasi ke


dalam pikirannya, hanya pada konteks pengalaman dan
Menurut
pengetahuan mereka sendiri, pada kebutuhan, latar
TEORI BELAJAR Konstruktivistik belakang dan minatnya.
HUMANISTIK,
KONSTRUKTIVISTIK Proses Pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah ditentukan,
melainkan sesuatu yang dihasilkan dari proses
Mengkonstruksi
, DAN TEORI Pengetahuan pembentukan.
Teori Belajar
BELAJAR SOSIAL Konstruktivistik Belajar merupakan suatu proses pembentukan
SERTA pengetahuan dan harus dilakukan oleh si pembelajar
PENERAPANNYA (siswa)

DALAM KEGIATAN Proses Belajar


Menurut Teori Guru atau pendidik berperan membantu agar proses
PEMBELAJARAN Konstruktivistik
pengkonstruksian belajar oleh siswa berjalan lancar

Segala sesuatu seperti bahan, media, peralatan,


lingkungan, dan fasilitas lainnya disediakan untuk
Konsep Belajar Menurut membantu pembentukan tersebut
Teori Belajar Sosial
Perkembangan seseorang melewati dua tataran, sosial
Pembelajaran pada hakikatnya (interpsikologis dan intermental) dan psikologis
Teori Belajar berlangsung melalui proses Konstruksi
peniruan (imitation) atau Setiap anak dalam suatu domain mempunyai ‘level
Sosial pemodelan (modeling)
Pengetahuan
perkembangan aktual’ yang dapat dinilai dengan
Menurut Lev
menguji secara individual dan potensi terdekat
Vygotsky
Aplikasi Teori Belajar Sosial
Terhadap Kegiatan Mediasi merupakan tanda-tanda atau lambang-lambang
Pembelajaran yang digunakan seseorang untuk memahami sesuatu di
luar pemahamannya
1.Mencontohkan perilaku yang
baik 1.Menggunakan pendekatan student centered
2.Memperhatikan karakteristik Aplikasi Teori 2.Berorientasi pada pemahaman siswa
model Belajar 3.Kebebasan memakai pengalaman & pemahaman
3.Observasi sebagai kegiatan Konstruktivistik 4.Collaborative
utama dalam Kegiatan 5.Menghidari adanya tekanan dari guru
4.Lebih penting mengamati Pembelajaran 6.Internalisasi dan transformasi informasi baru
perilaku orang lain 7.Sumber berlajar tidak terbatas
5.Memperkuat penagamatan
terhadap model
TEORI BELAJAR HUMANISTIK, KONSTRUKTIVISTIK, DAN TEORI BELAJAR
SOSIAL SERTA PENERAPANNYA DALAM KEGIATAN PEMBELAJARAN

A. Teori Belajar Humanistik


1. Pengertian Belajar Menurut Teori Humanistik
Teori belajar humanistik adalah suatu teori dalam pembelajaran yang
mengedepankan bagaimana memanusiakan manusia serta peserta didik mampu
mengembangkan potensi dirinya.
2. Teori Belajar Menurut Para Ahli Humanistik
a. Carl R. Rogers
Carl R. Rogers berpendapat bahwa belajar yang sebenarnya tidak dapat
berlangsung bila tidak ada keterlibatan intelektual maupun emosional peserta didik.
b. Arthur Combs
Menurut Arthur Combs, meaning (makna atau arti) adalah konsep dasar yang
sering digunakan dan belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu.
c. Abraham Maslow
Abraham Maslow menyatakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk
memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis.
d. Jurgen Habermas
Jurgen Habermas mengemukakan bahwa belajar baru akan terjadi jika ada
interaksi antara individu dengan lingkungannya.
3. Prinsip-Prinsip Teori Belajar Humanistik
Sebagai ahli dari teori belajar humanisme, Roger mengemukakan beberapa prinsip
belajar yang penting yaitu:
b. Manusia itu memiliki keinginan alamiah untuk belajar, memiliki rasa ingin tahu
alamiah terhadap dunianya, dan keinginan yang mendalam untuk mengeksplorasi
dan asimilasi pengalaman baru;
b. Belajar akan cepat dan lebih bermakna bila bahan yang dipelajari relevan dengan
kebutuhan peserta didik;
c. Belajar dapat di tingkatkan dengan mengurangi ancaman dari luar;
d. Belajar secara partisipasif jauh lebih efektif dari pada belajar secara pasif dan orang
belajar lebih banyak bila belajar atas pengarahan diri sendiri;
e.. Belajar atas prakarsa sendiri yang melibatkan keseluruhan pribadi, pikiran maupun
perasaan akan lebih baik dan tahan lama; dan
f.. Kebebasan, kreatifitas, dan kepercayaan diri dalam belajar dapat ditingkatkan dengan
evaluasi diri orang lain tidak begitu penting.
4. Aplikasi Teori Belajar Humanistik dalam Kegiatan Pembelajaran
Proses pembelajaran harus menggunakan pedekatan student centered, yaitu
pendekatan yang menjadikan siswa sebagai pusat pembelajaran, artinya siswa sebagai
objek dan sekaligus subjek dalam pembelajaran. Guru berfungsi sebagai fasilitator dan
motivator agar siswa mau belajar.
Strategi yang mesti dilakukan oleh guru dalam menerapkan pembelajaran
humanistik, sebagaimana dihimpun oleh R. Agung SP dan Latifatul Choir adalah:
a. Merumuskan tujuan belajar yang jelas;
b. Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas,
jujur, dan positif;
c. Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas
inisiatif sendiri;
d. Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara
mandiri;
e. Siswa diberi keleluasaan mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri,
melakukan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dari perilaku yang
ditunjukkan;
f. Guru menerima keadaan masing-masing siswa apa adanya; dengan tidak memihak,
memahami karakter pemikiran siswa, dan tidak menilai siswa secara normatif belaka
melainkan dengan cara memberikan 2 pandangan dua sisi dalam hal moral dan etika
berkomunikasi; dan
g. Menawarkan kesempatan kepada siswa untuk maju (tampil).

B. Teori Belajar Konstruktivistik


1. Konsep Belajar Menurut Konstruktivistik
Menurut teori konstruktivistik, siswa akan dapat menginterpretasikan informasi ke
dalam pikirannya, hanya pada konteks pengalaman dan pengetahuan mereka sendiri,
pada kebutuhan, latar belakang dan minatnya. Guru dapat membantu siswa
mengkonstruksi pemahaman representasi fungsi konseptual dunia eksternal.
2. Proses Mengkonstruksi Pengetahuan
Pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah ditentukan, melainkan sesuatu yang
dihasilkan dari proses pembentukan. Semakin banyak seseorang berinteraksi dengan
obyek dan lingkungannya, maka pengetahuan dan pemahamannya akan obyek dan
lingkungan tersebut akan meningkat dan lebih rinci.
Faktor-faktor yang juga mempengaruhi proses mengkonstruksi pengetahuan adalah
konstruksi pengetahuan seseorang yang telah ada, domain pengalaman, dan jaringan
struktur kognitif yang dimilikinya. Proses dan hasil konstruksi pengetahuan yang telah
dimiliki seseorang akan menjadi pembatas konstruksi pengetahuan yang akan datang.
Pengalaman akan fenomena yang baru menjadi unsur penting dalam membentuk dan
mengembangkan pengetahuan. Keterbatasan pengalaman seseorang pada suatu hal juga
akan membatasi pengetahuannya akan hal tersebut. Pengetahuan yang telah dimiliki
orang tersebut akan membentuk suatu jaringan struktur kognitif dalam dirinya.
3. Proses Belajar Menurut Teori Konstruktivistik
Secara konseptual, proses belajar jika dipandang dari pendekatan konstruktivistis,
bukan sebagai perolehan informasi yang berlangsung satu arah dari luar ke dalam diri
siswa, melainkan sebagai pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui
proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada pemutahkiran struktur kognitifnya.
a. Peranan Siswa (Si Pembelajar)
Menurut pandangan konstruktivistik, belajar merupakan suatu proses
pembentukan pengetahuan dan harus dilakukan oleh si pembelajar (siswa). Dia harus
aktif melakukan kegiatan, aktif berpikir, menyusun konsep dan memberi makna tentang
hal-hal yang sedang dipelajari.
b. Peranan Guru
Dalam belajar konstruktivistik, guru atau pendidik berperan membantu agar
proses pengkonstruksian belajar oleh siswa berjalan lancar. Guru tidak
mentransferkan pengetahuan yang telah dimilikinya, melainkan membantu siswa
untuk membentuk pengetahuannya sendiri.
c. Sarana Belajar
Pendekatan konstruktivistik menekankan bahwa peranan utama dalam kegiatan
belajar adalah aktifitas siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Segala
sesuatu seperti bahan, media, peralatan, lingkungan, dan fasilitas lainnya disediakan
untuk membantu pembentukan tersebut.
4. Konstruksi Pengetahuan Menurut Lev Vygotsky (1896-1934)
a. Hukum Genetik tentang Perkembangan
Perkembangan menurut Vygotsky tidak bisa hanya dilihat dari fakta-fakta atau
keterampilan-keterampilan, namun lebih dari itu, perkembangan seseorang melewati
dua tataran. Tataran sosial (interpsikologis dan intermental) dan tataran psikologis
(intrapsikologis).
b. Zona Perkembangan Proksimal
Vygotsky berpendapat bahwa setiap anak dalam suatu domain mempunyai ‘level
perkembangan aktual’ yang dapat dinilai dengan menguji secara individual dan
potensi terdekat bagi perkembangan domain dalam tersebut.
c. Mediasi
Mediasi merupakan tanda-tanda atau lambang-lambang yang digunakan
seseorang untuk memahami sesuatu di luar pemahamannya
5. Aplikasi Teori Belajar Konstruktivistik dalam Kegiatan Pembelajaran
Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh para tokoh konstruktivisme di atas, maka
implikasi dari dari penerapan teori belajar konstruktivistik ini dalam kegiatan
pembelajaran adalah:
a. Proses pembelajaran harus menggunakan pendekatan student centered, dimana fungsi
guru hanya sebagai fasilitator yang bisa mendorong siswa untuk menemukan sendiri
potensi yang dimilikinya;
b. Proses pembelajaran tidak terlalu berorientasi kepada hasil, tetapi lebih diorientasikan
kepada proses bagaimana siswa memperoleh pemahaman;
c. Guru harus memberikan kebebasan kepada siswa untuk menggunakan pengalaman
dan pemahamannya untuk berpikir, sehingga menumbuhkan kemandirian pada siswa
dalam mengambil keputusan dan tindakan;
d. Guru harus mengembangkan pembelajaran yang collabotarive, sehingga siswa bisa
mendapatkan pemahaman dan pengalaman melalui interaksi sosial dengan teman-
temannya.
e. Guru harus menghindari pola pembelajaran yang memberikan tekanan kepada siswa
untuk bertindak sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh guru;
f. Guru harus membantu siswa menginternalisasi dan mentransformasi informasi baru,
sehingga menghasilkan pengetahuan baru yang selanjutnya akan membentuk struktur
kognitif baru bagi siswa; dan
g. Guru harus memfasilitasi siswa agar dia bisa belajar dengan sumber yang tidak
terbatas pada apa yang diberikan oleh guru, oleh karenanya guru harus membantu
siswa agar bisa memanfaatkan media internet untuk memperoleh pengetahuan dan
pemahaman.
C. Teori Belajar Sosial
1. Konsep Belajar Menurut Teori Belajar Sosial
Teori belajar sosial merupakan perluasan dari teori belajar perilaku yang tradisional
(behavioristik) yang dikembangkan oleh Albert Bandura (1986).
Asumsi awal yang memberi isi sudut pandang teoretis Bandura dalam teori
pembelajaran sosial adalah:
a. Pembelajaran pada hakikatnya berlangsung melalui proses peniruan (imitation) atau
pemodelan (modeling);
b. Dalam proses imitation atau modeling tersebut, individu dipahami sebagai pihak yang
memainkan peran aktif dalam menentukan perilaku mana yang hendak ditiru dan
bagaimana frekuensi serta intensitas peniruan yang hendak dijalankannya;
c. Imitation atau modeling adalah jenis pembelajaran perilaku tertentu yang dilakukan
tanpa harus melalui pengalaman langsung;
d. Dalam Imitation atau modeling terjadi penguatan tidak langsung pada perilaku
tertentu yang sama efektifnya dengan penguatan langsung untuk memfasilitasi dan
menghasilkan peniruan. Individu dalam penguatan tidak langsung perlu
menyumbangkan komponen kognitif tertentu (seperti kemampuan mengingat dan
mengulang) pada pelaksanaan proses peniruan; dan
e. Mediasi internal sangat penting dalam pembelajaran, karena saat terjadi adanya
masukan inderawi yang menjadi dasar pembelajaran dan perilaku dihasilkan,
terdapat operasi internal yang mempengaruhi hasil akhirnya.
2. Aplikasi Teori Belajar Sosial Terhadap Kegiatan Pembelajaran
Ada beberapa implikasi yang harus diperhatikan dalam kegiatan pembelajaran,
yaitu:
a. Guru harus menampilkan contoh perilaku yang baik dan yang buruk dari tokohtokoh
yang dikenal oleh siswa, misalnya dengan menampilkan para sahabat nabi atau
orang-orang terkenal yang memiliki pengalaman untuk ditiru dalam hidupnya;
b. Dalam menentukan model, karakteristik model perlu diperhatikan karena akan
mempengaruhi efektif tidaknya modeling itu untuk siswa. Pilih model yang memiliki
kelebihan atau kekuatan di atas yang lain, sehingga siswa dapat menentukan apakah
perbuatan atau pengalamannya perlu ditiru atau tidak;
c. Observasi adalah kegiatan pembelajaran yang paling utama dilakukan oleh siswa,
sehingga penggunaan media pembelajaran yang bisa merangsang inderawi siswa
untuk mengamati secara maksimal menjadi penting untuk diperhatikan;
d. Mengamati perilaku orang lain lebih penting, dibandingkan dengan mengalami
sendiri, karena siswa akan lebih mudah mempelajari konsekuansi-konsekuansi dari
pengalaman orang dibandingkan dengan konsekuensi-konsekuensi yang dialami
sendiri; dan
e. Reinforcement bukanlah syarat yang utama untuk terjadinya proses pembelajaran,
karena yang paling penting adalah mengamati model-model yang harus terus
menerus diperkuat.