Anda di halaman 1dari 226

IR – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

SKRIPSI

GAMBARAN KESIAPAN TENAGA KESEHATAN DALAM


MANAJEMEN BENCANA DI PUSKESMAS WILAYAH
RAWAN BENCANA DI KABUPATEN SUMBAWA BARAT

CROSS-SECTIONAL STUDY

Oleh:

ARSI SUSILAWATI
NIM. 131711123049

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2018

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


ii
IR – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

SKRIPSI

GAMBARAN KESIAPAN TENAGA KESEHATAN DALAM


MANAJEMEN BENCANA DI PUSKESMAS WILAYAH
RAWAN BENCANA DI KABUPATEN SUMBAWA BARAT

CROSS-SECTIONAL STUDY

Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep) Pada


Program Studi Keperawatan Fakultas Keperawatan
Universitas Airlangga

Oleh:

ARSI SUSILAWATI
NIM. 131711123049

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2018

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


SURAT PERNYATAAN

Saya bersumpah bahwa skripsi ini adalah hasil karya sendiri dan belum pernah

dikumpulkan oleh orang lain untuk memperoleh gelar dari berbagai jenjang

pendidikan di Perguruan Tinggi manapun

Surabaya,
Yang menyatakan

Arsi Susilawati
NIM.
131711123049
HALAMAN PERNYATAAN

PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR


UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai civitas akademik Universitas Airlangga, saya yang bertanda tangan di


bawah ini :
Nama : Arsi Susilawati
NIM 131711123049
Program studi : Pendidikan Ners
Fakultas : Keperawatan
Jenis Karya : Skripsi
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada
Universitas Airlangga Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive
Royalty- Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul :
Gambaran Kesiapan Tenaga Kesehatan Dalam Manajemen Bencana Di
Puskesmas Wilayah Rawan Bencana Di Kabupaten Sumbawa Barat beserta
perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalty Non-ekslusif
ini Universitas Airlangga berhak menyimpan, alih media/format, mengelola
dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan mempublikasikan tugas
akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan
sebagai pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Surabaya, Januari
2019 Yang
menyatakan

Arsi Susilawati
NIM.
131511123049
SKRIPSI

GAMBARAN KESIAPAN TENAGA KESEHATAN DALAM


MANAJEMEN BENCANA DI PUSKESMAS WILAYAH
RAWAN BENCANA DI KABUPATEN SUMBAWA BARAT

Oleh:
ARSI SUSILAWATI
13171123049

SKRIPSI INI TELAH DISETUJUI


TANGGAL 28 JANUARI 2019

Oleh

Pembimbing Ketua

Ferry Efendi, S.Kep.Ns., M.Sc.,Ph.D


NIP: 198202182008121005

Pembimbing

Setho Hadisuyatmana, S.Kep.Ns.,M.NS (CommHlth&PC)


NIP: 198505252016113101

Mengetahui
a.n Dekan Fakultas Keperawatan
Universitas Airlangga
Wakil Dekan I

Dr.Kusnanto,S.Kp.,M.Kes
NIP:
196808291989031002
SKRIPSI

GAMBARAN KESIAPAN TENAGA KESEHATAN DALAM


MANAJEMEN BENCANA DI PUSKESMAS WILAYAH
RAWAN BENCANA DI KABUPATEN SUMBAWA BARAT

Oleh :

Arsi

Susilawati
NIM. 131711123049

TELAH DIUJI,
Pada tanggal, 30 Januari 2019

PANITIA PENGUJI

Ketua : Erna DwiWahyuni, S.Kep. Ns., M.Kep ...................


NIP. 198402012014042001

Anggota : 1. Ferry Efendi, S.Kep. Ns., M.Sc., Ph.D .....................


NIP. 198202182008121005

2. Setho H., S.Kep.Ns., M.NS (CommHlth&PC) ......................


NIP. 198505252016113101

Mengetahui
a.n Dekan
Wakil Dekan I

Dr. Kusnanto, S.Kp,. M.Kes


NIP. 196808291989031002
MOTTO

“Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zaarah pun, niscaya dia akan


melihat (balasan)nya.”
(QS. Az-Zalzalah: 7)

“Jadilah seperti pohon yang tumbuh dan berbuah lebat. Dilempar dengan
batu, tapi membalasnya dengan buah”
(Abu Bakar R.A)
UCAPAN TERIMAKASIH

Puja dan puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat,
hidayat dan petunjuk-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul
“Gambaran Kesiapan Tenaga Kesehatan Dalam Manajemen Bencana Di
Puskesmas Wilayah Rawan Bencana Di Kabupaten Sumbawa Barat “.
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana
keperawatan (S.Kep) pada Program Studi Keperawatan Fakultas Keperawatan
Universitas Airlangga.

Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya dan penghargaan yang


setinggi- tingginya kepada Ferry Efendi, S.Kep. Ns., M.Sc., Ph.D selaku
pembimbing 1 dan kepada Setho Hadisuyatmana, S.Kep. Ns., M.NS
(CommHlth&PC) selaku pembimbing 2 yang telah meluangkan waktu untuk
memeberikan bimbingan, masukan, arahan serta motivasi dalam penulisan skripsi
ini.

Penyusunan skripsi ini tak lepas dari bantuan berbagai pihak, oleh karena
itu bersama ini perkenankanlah saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-
besarnya dengan hati yang penuh ketulusan kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Nursalam, M.Nurs (Hons) selaku Dekan Fakultas


Keperawatan Universitas Airlangga Surabaya yang telah memberikan
kesempatan dan fasilitas bagi penulis untuk mengikuti dan menyelesaikan
pendidikan akademik di Fakultas Keperawatan.
2. Bapak Dr. Kusnanto, S.Kp., M.Kes selaku Wakil Dekan I Fakultas
Keperawatan Universitas Airlangga yang telah memberikan kesempatan dan
dorongan kepada penulis untuk menyelesaikan pendidikan akademik di
Fakultas Keperawatan.
3. Bu Tiyas Kusumaningrum, S.Kep., Ns., M.Kep selaku Kepala Program Studi
Keperawatan yang telah memberikan motivasi, membimbing, mengarahkan,
dan memberikan dukungan bagi penulis untuk mengikuti dan menyelesaikan
pendidikan akademik di Fakultas Keperawatan.
4. Ni Ketut Alit Armini, S.Kp., M.Kes selaku pembimbing akademik yang telah
menyediakan waktu untuk membimbing, mengarahkan, memberikan
masukan dan saran demi kesempurnaan skripsi ini.
5. Erna Dwi Wahyuni, S.Kep.,Ns., M.Kep selaku ketua penguji yang telah
memberikan masukan, arahan dan waktu demi kesempurnaan skripsi ini.
6. Harmayetty, S.Kp., M.Kes selaku penguji proposal yang telah memberikan
saran dan masukan demi kesempurnaan skripsi ini.
7. Suhadi, SP. M.Si selaku a.n Kepala BAPPEDA LITBANG Kabupaten
Sumbawa Barat yang telah memberikan ijin kepada peneliti dalam
melaksanakan pengambilan data penelitian.
8. H. Tuwuh, SAP. selaku Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat
yang telah memberikan ijin kepada peneliti dalam melaksanakan
pengambilan data penelitian.
9. Kepala Puskesmas se-Kabupaten Sumbawa Barat yang telah memberikan ijin
kepada peneliti dalam melaksanakan pengambilan data awal dan
pengambilan data penelitian.
10. Teman-teman sejawat yang telah menjadi pendamping penelitian atas
kesediaan dan waktunya dalam memberikan bantuan kepada penulis dalam
proses pengambilan data penelitian.
11. Orangtua tersayang, bapak, mama dan ummi atas doa yang selalu menyertai
setiap langkah penulis dalam melanjutkan pendidikan. Terspesial untuk
bapak tercinta atas segala kasih sayang, motivasi dan dukungan yang selalu
diberikan.
12. Dua buah hati tercinta, mbak Vira dan abang Revan atas cinta, doa dan
kesabarannya selama ini yang telah memotivasi penulis dalam menyelesaikan
skripsi ini.
13. Seseorang terkasih atas kepercayaan, dukungan, semangat, doa, waktu,
tenaga, pikiran, perhatian dan kasih sayang kepada penulis sehingga dapat
memotivasi dalam menyelesaikan skripsi ini.
14. Kakak dan mbak tersayang atas segala semangat, dukungan, doa, dan
perhatiannya selama ini yang telah memotivasi penulis dalam menyelesaikan
skripsi ini.
15. Oy, Cape, Nina, Arya, dan Mono, adik-adik tersayang, terima kasih atas
dukungan dan doanya yang telah memotivasi penulis dalam menyelesaikan
skripsi ini.
16. Segenap keluarga yang telah memberikan doa dan dukungannya dalam
proses penulis menyelesaikan skripsi ini.
17. Jupe, Ijahh, Reko, Princess, Richa, Nope, dan kak Edda terimakasih buat
waktu, pikiran, dukungan, pembelajaran dan perjuangan bersama yang telah
memotivasi penulis untuk semangat dan yakin dalam menyelesaikan skripsi
ini.
18. Aca Ike, Yemi, Herlin, Diahe, Desi, Celly, Dewi, Nung, dan Nurfi
terimakasih buat dukungan dan doanya.
19. Angkatan Ksatria Airlangga B20 dan teman-teman seperjuangan AJ1 B20
khususnya kelompok 6 dan Fakultas Keperawatan serta semua pihak yang
membantu penyelesaian skripsi ini.
Semoga Tuhan membalas budi baik semua pihak yang telah memberi
kesempatan, dukungan dan bantuan dalam menyelesaikan skripsi ini. Penulis
sadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna, tetapi penulis berharap skripsi ini
bermanfaat bagi pembaca dan bagi keperawatan.

Surabaya, Januari 2019

Penulis
ABSTRAK

GAMBARAN KESIAPAN TENAGA KESEHATAN DALAM


MANAJEMEN BENCANA DI PUSKESMAS WILAYAH
RAWAN BENCANA DI KABUPATEN SUMBAWA BARAT

Penelitian Cross Sectional

Oleh : Arsi Susilawati

Pendahuluan : Manajemen bencana merupakan faktor yang sangat penting untuk


mengurangi dampak dari kejadian bencana. Sejauh ini, kesiapan tenaga kesehatan
dalam manajemen bencana di puskesmas rawan bencana di kabupaten Sumbawa
Barat belum pernah dievaluasi. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi faktor
sosiodemografi, pengetahuan, sikap, dan praktik dalam manajemen bencana.
Metode : Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Populasi penelitian
ini adalah tenaga kesehatan yaitu dokter, perawat, dan bidan di puskesmas di
Kabupaten Sumbawa Barat. Besar sampel adalah 211 sampel (dokter, perawat,
bidan) yang dipilih random di 9 puskesmas, dengan cara mengambil kertas yang
berisi nomor urut sesuai dengan daftar nama tenaga kesehatan di setiap
puskesmas. Variabel dependen adalah pengetahuan, sikap, dan praktik dalam
manajemen bencana, sedangkan variabel independen adalah faktor
sosiodemografi. Data dikumpulkan menggunakan kuisioner elektronik. Data
kemudian dianalisis menggunakan uji statistik Chi-Square. Hasil : Sebagian
besar tenaga kesehatan memiliki pengetahuan yang baik, praktik yang cukup
memadai, dan gambaran sikap yang negatif terhadap manajemen bencana.
Diantara faktor sosiodemografi yang dipelajari, tingkat pendidikan, dan tempat
bekerja secara signifikan berhubungan dengan pengetahuan, sikap, dan praktik
dalam manajemen bencana. Simpulan: Dengan keragaman latar belakang,
responden menunjukkan pengetahuan yang baik dan praktik yang cukup
memadai. Peningkatan pendidikan terkait manajemen bencana dan peningkatan
kapasitas tempat bekerja perlu ditingkatkaan untuk memperbaiki pengetahuan,
sikap, dan praktik tenaga kesehatan di puskesmas.

Kata kunci : manajemen bencana, tenaga kesehatan, kesiapan


ABSTRACT

DESCRIPTION PREPAREDNESS OF HEALTH WORKERS IN DISSASTER


MANAGEMENT IN PUBLIC HEALTH CENTER (PHC) DISASTER
VULNERABLE AREA IN WEST SUMBAWA DISTRICT

Cross Sectional Study

By : Arsi Susilawati

Introduction : Disaster management is a very important factor to reduce the


impact of a disaster. So far, the readiness of health workers in disaster
management in disaster-prone health centers in West Sumbawa district has never
been evaluated. This study aims to explore sociodemographic factors, knowledge,
attitudes, and practices in disaster management. Methods: This study used a
cross sectional design. The population of this study is health workers, namely
doctors, nurses, and midwives in health centers in West Sumbawa Regency. The
sample size was 211 samples (doctors, nurses, midwives) who were randomly
selected in 9 health centers, by taking paper containing the serial number
according to the list of names of health workers in each PHC. The dependent
variable is knowledge, attitudes, and practices in disaster management, while the
independent variable is a sociodemographic factor. Data was collected using an
electronic questionnaire. Data was then analyzed using Chi-Square statistical
tests. Results: Most health workers have good knowledge, sufficient practices,
and a negative attitude towards disaster management. Among the
sociodemographic factors studied, level of education, and place of work
significantly related to knowledge, attitudes, and practices in disaster
management. Conclusion: With the diversity of backgrounds, respondents
showed good knowledge and sufficient practice. Improving education related to
disaster management and increasing the capacity of workplaces need to be
improved to improve the knowledge, attitudes, and practices of health workers in
health centers.

Key words : disaster management, health worker, preparedness


DAFTAR ISI

Halaman
Halaman Judul........................................................................................................ i
Halaman Judul & Prasyarat Gelar......................................................................ii
Surat Pernyataan.................................................................................................. iii
Lembar Pernyataan.............................................................................................. iv
Lembar Persetujuan..............................................................................................v
Lembar Penetapan Panitia Penguji....................................................................vi
Motto..................................................................................................................... vii
Ucapan Terima Kasih.........................................................................................viii
Abstrak................................................................................................................... xi
Abstract.................................................................................................................. xii
Daftar Isi............................................................................................................ xiivi
Daftar Tabel....................................................................................................... xvii
Daftar Gambar.................................................................................................. xviii
Daftar Lampiran................................................................................................. xix
Daftar Singkatan............................................................................................... xxviii
BAB 1 PENDAHULUAN......................................................................................1
1.1 Latar Belakang................................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................... 5
1.3 Tujuan Penelitian............................................................................................5
1.3.1 Tujuan Umum........................................................................................5
1.3.2 Tujuan Khusus.......................................................................................5
1.4 Manfaat Penelitian.......................................................................................... 5
1.4.1 Manfaat Teoritis....................................................................................5
1.4.2 Manfaat Praktis...................................................................................... 6
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA.............................................................................7
2.1 Konsep Bencana............................................................................................7
2.1.1 Definisi Bencana.................................................................................7
2.1.2 Klasifikasi Bencana Alam...................................................................8
2.1.3 Macam-Macam Bencana Alam di Sekitar Kita..................................9
2.1.4 Potensi dan Ancaman Bencana.........................................................13
2.1.5 Dampak Bencana...............................................................................15
2.2 Analisis Risiko Bencana..............................................................................16
2.2.1 Pengantar Analisis Risiko Bencana...................................................16
2.2.2 Langkah-Langkah Analisis Risiko....................................................17
2.3 Manajemen Penanggulangan Bencana........................................................21
2.3.1 Pengertian Manajemen Bencana.......................................................21
2.3.2 Tujuan Manajemen Bencana.............................................................22
2.3.3 Faktor atau Pilar Dalam Manajemen Bencana..................................22
2.3.4 Mekanisme Manajemen Bencana......................................................23
2.3.5 Siklus/Tahapan dan Upaya-Upaya Penanggulangan Bencana..........25
2.3.6 Kebijakan Manajemen Bencana Nasional.........................................34
2.3.7 Sistem Penanggulangan Bencana di Indonesia.................................36
2.4 Rapid Health Assessment (RHA) dan Perencanaan Penanggulangan
Bencana....................................................................................................... 37
2.4.1 Pengertian Rapid Health Assessment (RHA)....................................37
2.4.2 Manfaat dan Tujuan Rapid Health Assessment (RHA).....................38
2.4.3 Klasifikasi Rapid Health Assessment (RHA)....................................38
2.4.4 Tim Rapid Health Assessment (RHA)..............................................39
2.4.5 Metode Pelaksanaan Rapid Health Assessment (RHA)....................39
2.4.6 Jenis-Jenis Perencanaan Dalam Penanggulangan Bencana..............42
2.4.7 Perencanaan Kontijensi.....................................................................43
2.5 Manajemen Penanggulangan Masalah Kesehatan (PMK)..........................44
2.5.1 Konsep Koordinasi............................................................................44
2.5.2 Manajemen PMK..............................................................................44
2.5.3 Sistem Koordinasi PMK....................................................................48
2.6 Arah Kebijakan dan Strategis BNPB Tahun 2015-2019............................50
2.6.1 Arah Kebijakan Umum PB BNPB....................................................52
2.6.2 Strategi PB BNPB Tahun 2015-2019...............................................52
2.6.3 Upaya Peningkatan Kapasitas Sumber Daya....................................57
2.6.4 Upaya Penyelenggaraan PB..............................................................58
2.7 Indikator Penilaian Kesiapan Tenaga Kesehatan Dalam Manajemen
Bencana....................................................................................................... 59
2.7.1 Pengetahuan....................................................................................... 59
2.7.2 Sikap.................................................................................................. 62
2.7.3 Praktik atau Pengalaman Sebelumnya..............................................65
2.7.4 Sosiodemografi..................................................................................66
2.8 Keaslian Penelitian.......................................................................................70
BAB 3 KERANGKA KONSEPTUAL & HIPOTESIS PENELITIAN..........78
3.1 Kerangka Konseptual...................................................................................78
3.2 Hipotesis....................................................................................................... 79
BAB 4 METODE PENELITIAN........................................................................81
4.1 Desain Penelitian..........................................................................................81
4.2 Populasi, Sampel, dan Teknik Sampling......................................................81
4.2.1 Populasi................................................................................................ 81
4.2.2 Sampel dan Besar Sampel...................................................................81
4.2.3 Kriteria Sampel Penelitian...................................................................82
4.2.4 Teknik Sampling..................................................................................82
4.3 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional..............................................83
4.3.1 Variabel Independen (variabel terikat)................................................83
4.3.2 Variabel Dependen (variabel bebas)...................................................83
4.3.3 Definisi Operasional............................................................................83
4.4 Teknik Pengumpulan Data...........................................................................87
4.4.1 Instrumen Penelitian............................................................................87
4.4.2 Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian............................88
4.5 Lokasi dan Waktu Penelitian......................................................................89
4.5.1 Lokasi Penelitian.................................................................................89
4.5.2 Waktu Pengambilan Data....................................................................90
4.6 Prosedur dan Pengumpulan Data................................................................90
4.7 Analisis Data............................................................................................... 92
4.7.1 Penerapan Analisis Data......................................................................93
4.8 Kerangka Kerja (Frame Work)..................................................................94
4.9 Etika Penelitan.............................................................................................. 94
4.9.1 Lembar Persetujuan Responden..........................................................95
4.9.2 Kerahariaan Nama (Anonimity)..........................................................95
4.9.3 Kerahasiaan Informasi (Confidentiality).............................................95
4.9.4 Berbuat Baik (Beneficience)...............................................................95
4.10 Keterbatasan Penelitan...............................................................................96
BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN......................................97
5.1 Hasil Penelitian............................................................................................. 97
5.1.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian...................................................97
5.1.2 Data Umum.......................................................................................... 98
5.1.3 Data Khusus.......................................................................................102
5.2 Pembahasan................................................................................................ 112
5.2.1 Hubungan Faktor Sosiodemografi Dengan Pengetahuan Tenaga
Kesehatan Tentang Manajemen Bencana.........................................112
5.2.2 Hubungan Faktor Sosiodemografi Dengan Sikap Tenaga Kesehatan
Terhadap Manajemen Bencana.........................................................116
5.2.3 Hubungan Faktor Sosiodemografi Dengan Praktik/Pengalaman
Sebelumnya Dalam Manajemen Bencana.........................................119
BAB 6 SIMPULAN DAN SARAN....................................................................123
6.1 Simpulan..................................................................................................... 123
6.2 Saran........................................................................................................... 124
Daftar Pustaka.................................................................................................... 126
Lampiran............................................................................................................. 129
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Keaslian Penelitian Gambaran Kesiapan Tenaga Kesehatan Dalam


Manajemen Bencana di Puskesmas Wilayah Rawan Bencana di Kabupaten
Sumbawa Barat...................................................................................................... 70
Tabel 4.1 Definisi Operasional Gambaran Kesiapan Tenaga Kesehatan Dalam
Manajemen Bencana di Puskesmas Wilayah Rawan Bencana di Kabupaten
Sumbawa Barat...................................................................................................... 84
Tabel 5.1 Data Sosiodemografi Tenaga Kesehatan di Puskesmas Wilayah Rawan
Bencana di Kabupaten Sumbawa Barat.................................................................99
Tabel 5.2 Data Spesifik Jenis Bencana dan Saat Terjadinya Bencana yang Pernah
Melibatkan Tenaga Kesehatan di Puskesmas Wilayah Rawan Bencana Dalam
Kegiatan Tanggap Darurat Bencana di Kabupaten Sumbawa Barat...................101
Tabel 5.3 Data Spesifik Jenis Pelatihan Manajemen Bencana yang Diikuti Tenaga
Kesehatan di Puskesmas Wilayah Rawan Bencana di Kabupaten Sumbawa
Barat..................................................................................................................... 101
Tabel 5.4 Distribusi Variabel Dependen Pengethauna, Sikap, dan
Praktik/Pengalaman Sebelumnya Tenaga Kesehatan Dalam Manajemen Bencana
di Puskesmas Wilayah Rawan Bencana di Kabupaten Sumbawa Barat.............102
Tabel 5.5 Hubungan Data Sosiodemografi Dengan Pengetahuan Tenaga
Kesehatan Tentang Manajemen Bencana di Puskesmas Wilayah Rawan Bencana
di Kabupaten Sumbawa Barat..............................................................................103
Tabel 5.6 Hubungan Data Sosiodemografi Dengan Sikap Tenaga Kesehatan
Terhadap Manajemen Bencana di Puskesmas Wilayah Rawan Bencana di
Kabupaten Sumbawa Barat..................................................................................106
Tabel 5.7 Hubungan Data Sosiodemografi Dengan Praktik/Pengalaman
Sebelumnya Tenaga Kesehatan Dalam Manajemen Bencana di Puskesmas
Wilayah Rawan Bencana di Kabupaten Sumbawa Barat....................................109
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Siklus Manajemen Risiko Bencana/Disaster Risk Management


Cycle (DRMC)....................................................................................25
Gambar 2.2 Skema Komponen Kepemimpinan Situasi Krisis..............................45
Gambar 2.4 Skema Pengorganisasian PMK di Tingkat Kabupaten/Kota.............48
Gambar 2.4 Struktur Organisasi Manajemen Bencana di Indonesia.....................51
Gambar 3.1 Kerangka Konseptual.........................................................................78
Gambar 4.1 Kerangka Kerja..................................................................................94
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Permohonan Fasilitas Survey Pengambilan Data Awal.........129


Lampiran 2 Surat Keterangan Lulus Kaji Etik....................................................130
Lampiran 3 Surat Permohonan Fasilitas Pengambilan Data Penelitian..............131
Lampiran 4 Surat Izin Kegiatan Penelitian BAPPEDA LITBANG KSB...........132
Lampiran 5 Lembar Penjelasan Penelitian..........................................................133
Lampiran 6 Print Out Email Konfirmasi Penggunaan Kuisioner Instrumen
Penelitian.............................................................................................................. 135
Lampiran 7 Lembar Kesediaan Menjadi Responden...........................................136
Lampiran 8 Lembar Kuisioner Data Sosiodemografi..........................................137
Lampiran 9 Lembar Kuisioner Pengetahuan.......................................................138
Lampiran 10 Lembar Kuisioner Sikap.................................................................141
Lampiran 11 Lembar Kuisioner Praktik/Pengalaman Sebelumnya.....................143
Lampiran 12 Print Out Hasil Uji Statistik...........................................................146
DAFTAR SINGKATAN

BNPB : Badan Nasional Penanggulangan Bencana


NTB : Nusa Tenggara Barat
IRBI : Indeks Risiko Bencana Indonesia
Puskesmas : Pusat Kesehatan Masyarakat
UNISDR : United Nations International Strategy for Disaster Reduction
PBB : Perserikatan Bangsa-Bangsa
ADRC : Asian Disaster Reduction Center
KIA : Kesehatan Ibu dan Anak
PMK : Penanggulangan Masalah
Kesehatan ORNOP : Organisasi Non
Pemerintah
LSM : Lembaga Swadaya Masyarakat
SATLAK PBP : Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Pengungsian
Satgas PBP : Satuan Petugas Penanggulangan Bencana Dan Pengungsian
Denkesyah : Detasemen Kesehatan Wilayah
KLB : Kejadian Luar Biasa
SDM : Sumber Daya Manusia
SARA : Suku, Agama dan Ras
BPBD : Badan Penanggulangan Bencana Daerah
Planas : Platform Nasional
RHA : Rapid Health Assessment
BAKORNAS PB: Bada Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana
SATKORLAK PB : Satuan Koordinator Pelaksana Penanggulangan Bencana
SATLAK PB : Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana
Puldalops PB : Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana
IABI : Ikatan Ahli Bencana Indonesia
Kemenkominfo : Kementerian Komunikasi dan Informatika
IR – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pelayanan kesehatan pada saat bencana merupakan faktor yang sangat

penting untuk mencegah terjadinya kematian, kecacatan dan kejadian penyakit,

serta mengurangi dampak yang ditimbulkan akibat bencana yang merupakan

suatu kejadian yang tidak diinginkan dan biasanya terjadi secara mendadak serta

menimbulkan korban jiwa (Menteri Kesehatan RI, 2006). Salah satu kendala yang

sering dijumpai dalam penanggulangan krisis di daerah bencana adalah

kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan yang dapat difungsikan baik

dari segi jumlah dan jenis serta kompetensinya (Menteri Kesehatan RI, 2006).

Menurut Kepmenkes Nomor 066/MENKES/SK/II/2006 tentang Pedoman

Manajemen SDM Kesehatan Dalam Penanggulangan Bencana, perencanaan

penempatan SDM kesehatan untuk pelayanan kesehatan pada kejadian bencana

sangat perlu untuk memperhatikan kompetensi manajemen bencana yang dimiliki

SDM kesehatan setempat khususnya yang bertugas di Pusat Kesehatan

Masyarakat (Puskesmas), terutama di daerah rawan bencana. Berdasarkan data

Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) Tahun 2013, Kabupaten Sumbawa Barat

yaitu salah satu kabupaten yang terdampak kejadian bencana tersebut merupakan

wilayah dengan resiko tinggi terhadap bencana gempa bumi (BNPB, 2015b).

Untuk dapat meminimalisir kerugian akibat bencana yang terjadi, peran tenaga

kesehatan yang tanggap dan siap sangat diperlukan (Tatuil, Mandagi and

Engkeng, 2015). Namun

1
2
IR – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

sejauh ini, tingkat kesiapan dan kompetensi manajemen bencana tenaga

kesehatan yang bekerja di puskesmas di Kabupaten Sumbawa Barat belum

pernah dievaluasi.

Indonesia merupakan salah satu negara paling rawan bencana di dunia,

seringkali dan tidak terduga, yaitu di antaranya gempa bumi, tsunami, tanah

longsor, letusan gunung berapi, banjir, dan kekeringan (CFE-DM, 2018).

Indonesia berada di atas sabuk vulkanik (volcanic arc) yang memanjang dari

Pulau Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara dan Sulawesi, yang didominasi

pegunungan vulkanik aktif, dan menyebabkan 87% wilayah Indonesia rawan

bencana alam (Putra et al., 2015). Badan Nasional Penanggulangan Bencana

(BNPB) mencatat pada 2017 terjadi 2.862 kejadian bencana alam, diantaranya

banjir (34,2%), puting beliung (31%), tanah longsor (29,6%), kebakaran hutan

dan lahan (3,4%), gempa bumi (0,7%), kekeringan (0,6%), gelombang

pasang/abrasi (0,4%), dan letusan gunung api (0,1%) (BNPB, 2018).

Nusa Tenggara Barat (NTB), merupakan salah satu provinsi yang sering

mengalami ancaman bencana alam. BNPB mencatat pada 2017, provinsi ini

mengalami sebanyak 71 kejadian bencana alam, diantaranya banjir (41), puting

beliung (14), kekeringan (9), tanah longsor (6), dan kebakaran hutan dan lahan (1)

(BNPB, 2018b). Dampaknya, tercatat 10 orang korban meninggal dunia, 8 orang

korban luka-luka dan 903.277 orang mengungsi (BNPB, 2018b). Secara materiil,

kejadian tersebut mengakibatkan 92 rumah rusak berat, 167 rumah rusak sedang,

948 rumah rusak ringan, 8.599 rumah terendam banjir dan 31 fasilitas umum dan

sosial mengalami kerusakan (BNPB, 2018b). Setahun berikutnya, 29 Juli 2018,

terjadi gempa bumi di NTB, yang disusul oleh rangkaian gempa susulan di

sepanjang bulan Agustus 2018, mengakibatkan korban jiwa dan materiil. Hingga

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


tanggal 21 Agustus 2018, BNPB (2018) mencatat 515 orang meninggal dunia dan

7.145 orang korban luka-luka dan 431.416 orang mengungsi. Secara materiil,

bencana tersebut mengakibatkan 73.843 rumah dan 798 fasilitas umum dan sosial

rusak.

United Nations International Strategy for Disaster Reduction (UNISDR)

berfungsi sebagai titik pusat koordinasi mitigasi bencana dan koordinator sinergi

di antara kegiatan sistem penanggulangan bencana di dunia (CFE-DM, 2018).

UNISDR menekankan bahwa rumah sakit dan fasilitas perawatan kesehatan

lainnya merupakan aset penting bagi masyarakat dalam upaya reduksi dampak

bencana (Osman and Ahayalimuddin, 2016). Kompleksitas dari permasalahan

bencana memerlukan suatu penataan atau perencanaan yang matang dalam

penanggulangannya, sehingga dapat dilaksanakan secara terarah dan terpadu

(Osman and Ahayalimuddin, 2016).

Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) memiliki peran aktif dalam

meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam upaya penanggulangan bencana

sebagai unit pelayanan kesehatan terdekat di masyarakat (BNPB, 2015b).

Puskesmas bertugas untuk memberikan pelayanan kesehatan saat krisis bencana

dengan melakukan berbagai kegiatan seperti: pelayanan gawat darurat 24 jam,

pendirian pos kesehatan 24 jam di sekitar lokasi bencana, upaya gizi, Kesehatan

Ibu dan Anak (KIA) dan sanitasi pengungsian, upaya kesehatan jiwa serta upaya

kesehatan rujukan sesaat setelah terjadinya bencana (DEPKES, 2007). Karenanya

tenaga kesehatan di puskesmas memiliki peran untuk mempersiapkan kelompok

rentan pada fase akut bencana (Tatuil, Mandagi and Engkeng, 2015). Mereka

perlu untuk membekali diri dengan skill manajemen bencana yang baik (Tatuil,

Mandagi,
& Engkeng, 2015). Hasil studi pendahuluan mengindikasikan bahwa tenaga

kesehatan yang bekerja di Puskesmas Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat

belum pernah mendapatkan pelatihan dan manajemen tanggap bencana. Beberapa

di antara mereka menyatakan belum mengetahui tentang manajemen bencana

ataupun terlibat langsung dalam penanganan bencana. Hal ini menunjukkan

bahwa kesiapan tenaga kesehatan dalam menghadapi potensi bencana di

Kabupaten Sumbawa Barat masih diragukan.

Manajemen penanggulangan bencana didefinisikan sebagai upaya dinamis

dalam melaksanakan fungsi-fungsi manajemen di seluruh tahapan

penanggulangan bencana (termasuk di dalamnya pencegahan, mitigasi, tanggap

darurat, serta rehabilitasi dan rekonstruksi) dengan menggunakan seluruh potensi

yang tersedia guna melindungi sebesar-besarnya masyarakat, dan berusaha

menekan sekecil kecilnya korban akibat bencana alam, serta meningkatkan

kemampuan masyarakat untuk mengatasi ancaman yang menimpanya (BNPB,

2015b). Upaya ini dapat diupayakan melalui pendidikan penanggulangan

bencana, pelatihan tanggap darurat bencana, perencanaan dan pemeliharaan

fasilitas dan infrastruktur dan pembangunan jalur jejaring bantuan (Husna, 2011).

Namun, upaya tersebut belum dapat dijelaskan. Penelitian sebelumnya

menjelaskan bahwa lemahnya kompetensi profesional telah menyebabkan tenaga

kesehatan gagal untuk berperan saat bencana (Tatuil, Mandagi and Engkeng,

2015). Penelitian ini bermaksud mengidentifikasi sosiodemografi tenaga

kesehatan tingkat puskesmas di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten

Sumbawa Barat, dan menjelaskan pengetahuan, sikap dan praktik/pengalaman

sebelumnya tenaga kesehatan dalam manajemen bencana.


1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam studi ini adalah “Apakah ada hubungan antara latar

belakang sosiodemografi dengan kesiapan (pengetahuan, sikap, dan

praktik/pengalaman sebelumnya) tenaga kesehatan dalam manajemen bencana di

Puskesmas wilayah rawan bencana di Kabupaten Sumbawa Barat?”

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Menjelaskan gambaran kesiapan tenaga kesehatan dalam manajemen bencana di

puskesmas wilayah rawan bencana di Kabupaten Sumbawa Barat.

1.3.2 Tujuan Khusus

1 Menjelaskan hubungan antara latar belakang sosiodemografi dengan

pengetahuan tenaga kesehatan tentang manajemen bencana di

puskesmas wilayah rawan bencana di Kabupaten Sumbawa Barat.

2 Menjelaskan hubungan antara latar belakang sosiodemografi dengan sikap

tenaga kesehatan terhadap manajemen bencana di puskesmas wilayah

rawan bencana di Kabupaten Sumbawa Barat.

3 Menjelaskan hubungan antara latar belakang sosiodemografi dengan

praktik/pengalaman sebelumnya tenaga kesehatan dalam manajemen bencana

di puskesmas wilayah rawan bencana di Kabupaten Sumbawa Barat.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini memberikan manfaat terhadap pengembangan keilmuan

manajemen bencana di puskesmas dan dapat menjadi masukan teoritis bagi


Dinas kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat terkait manajemen bencana yang

dapat diintegrasikan kepada tenaga kesehatan tingkat puskesmas.

1.4.2 Manfaat Praktis

1 Bagi responden

Responden dalam penelitian ini (diantaranya adalah dokter, perawat dan

bidan) dapat menggunakan penelitian ini sebagai barometer untuk mengukur

pengetahuan, pemahaman dan kesiapan mereka dalam menghadapi potensi

bencana.

2 Bagi Puskesmas Lokasi Penelitian dan Dinas Kesehatan

Hasil penelitian ini disampaikan kepada Puskesmas lokasi penelitian dan

Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat berupa laporan akhir yang dapat

menjadi dasar dalam pertimbangan peningkatan kompetensi manajemen

bencana bagi tenaga kesehatan di puskesmas.

3 Bagi Penelitian Selanjutnya

Penelitian ini menjadi acuan dan dasar pengembangan penelitian selanjutnya.


IR – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Bencana

2.1.1 Definisi Bencana

Menurut Asian Disaster Reduction Center (ADRC), bencana merupakan

suatu gangguan serius terhadap masyarakat yang dapat menimbulkan kerugian

secara meluas dan dirasakan oleh masyarakat, berbagai material dan lingkungan

(alam) dimana dampak yang ditimbulkan melebihi kemampuan manusia untuk

mengatasinya dengan sumber daya yang ada (Khambali, 2017). Bencana alam

merupakan konsekuensi dari kombinasi aktivitas alami, baik peristiwa fisik,

seperti letusan gunung, gempa bumi, tanah longsor, dan aktivitas manusia

(Khambali, 2017).

Berdasarkan Pengetahuan Kebencanaan BNPB menjelaskan bencana adalah

peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan

dan penghidupan masyarakat yang disebabkan oleh faktor alam dan/atau faktor

non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa

manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis

(UU RI No.24, 2007). Definisi tersebut menyebutkan bahwa bencana disebabkan

oleh faktor alam, non alam, dan manusia. Oleh karena itu, Undang-Undang

Nomor 24 Tahun 2007 tersebut juga mendefinisikan mengenai bencana alam,

bencana non alam, dan bencana sosial. Bencana alam adalah bencana yang

diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam

antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan,

angin topan, dan tanah

7
8
IR – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

longsor. Bencana non alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau

rangkaian peristiwa non alam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal

modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit. Bencana sosial adalah bencana yang

diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh

manusia yang meliputi konflik sosial antar kelompok atau antar komunitas

masyarakat, dan teror. Kejadian bencana merupakan peristiwa bencana yang

terjadi dan dicatat berdasarkan tanggal kejadian, lokasi, jenis bencana, korban

dan/ataupun kerusakan. Jika terjadi bencana pada tanggal yang sama dan melanda

lebih dari satu wilayah, maka dihitung sebagai satu kejadian. (UU RI No.24,

2007).

2.1.2 Klasifikasi Bencana Alam

Klasifikasi bencana alam berdasarkan penyebabnya dibedakan menjadi

tiga jenis, yaitu :

1) Bencana alam geologis

Bencana alam ini diakibatkan oleh gaya-gaya yang berasal dari dalam bumi

(gaya endogen). Contoh bencana alam geologis adalah gempa bumi, letusan

gunung berapi, dan tsunami.

2) Bencana alam klimatologis

Bencana alam klimatologis adalah bencana alam yang diakibatkan oleh

faktor angin dan hujan. Termasuk dalam bencana alam klimatologis adalah

banjir, badai, banjir bandang, angin puting beliung, kekeringan, dan

kebakaran alami hutan (bukan oleh manusia).

3) Bencana alam ekstra-terestrial

Bencana alam ekstra-terestrial merupakan bencana alam yang terjadi di luar

angkasa, sebagai contoh hantaman/ impact meteor yang jika mengenai

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


permukaan bumi maka akan menyebabkan bencana alam yang dahsyat bagi

penduduk bumi (Khambali, 2017).

2.1.3 Macam-macam Bencana Alam di Sekitar Kita

1) Banjir

Banjir yaitu peristiwa atau keadaan dimana terendamnya suatu daerah atau

daratan karena volume air yang meningkat.

2) Banjir bandang

Banjir bandang yaitu banjir yang datang secara tiba-tiba dengan debit air

yang besar yang disebabkan terbendungnya aliran sungai pada alur sungai.

3) Kebakaran hutan dan lahan

Kebakaran hutan dan lahan merupakan suatu keadaan di mana hutan dan

lahan dilanda api, sehingga mengakibatkan kerusakan hutan dan lahan yang

menimbulkan kerugian ekonomis dan atau nilai lingkungan. Kebakaran hutan

dan lahan seringkali menyebabkan bencana asap yang dapat mengganggu

aktivitas dan kesehatan masyarakat sekitar. Hutan yang terbakar juga bisa

sampai ke daerah pemukiman penduduk sehingga dapat membakar habis

bangunan-bangunan yang ada.

4) Gempa bumi

Gempa bumi merupakan getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan

bumi akibat dari tumbukan antar lempeng bumi, patahan aktif, aktivitas

gunung api atau runtuhan batuan. Gempa dengan skala tinggi dapat membuat

luluh lantak apa yang ada di permukaan bumi. Kebanyakan gempa bumi

disebabkan dari pelepasan energi yang dihasilkan oleh tekanan yang

lempengan yang bergerak. Semakin lama tekanan itu semakin membesar dan

akhirnya mencapai
pada keadaan di mana tekanan itu tidak dapat ditahan lagi oleh pinggiran

lempengan dan saat itulah gempa terjadi.

5) Tsunami

Tsunami berasal dari bahasa Jepang yang berarti gelombang ombak lautan

("tsu" berarti lautan, "nami" berarti gelombang ombak). Tsunami adalah

serangkaian gelombang ombak laut raksasa yang timbul karena adanya

pergeseran di dasar laut akibat gempa bumi yang menyapu daratan akibat

adanya gempa bumi di laut, tumbukan benda besar/cepat di laut, angin ribut,

dan lain sebagainya yang dapat menyapu bersih permukiman penduduk dan

menyeret segala isinya ke laut lepas yang dalam sehingga dampaknya bisa

membunuh banyak manusia dan makhluk hidup. Tsunami dapat terjadi akibat

gangguan yang menyebabkan perpindahan sejumlah besar air, seperti letusan

gunung berapi, gempa bumi, longsor maupun meteor yang jatuh ke bumi.

Gempa yang menyebabkan tsunami :

(1) Gempa bumi yang berpusat di tengah laut dan dangkal (0-30 KM)

(2) Gempa bumi dengan kekuatan sekurang-kurangnya 6,5 skala richter

(3) Gempa bumi dengan pola sesar naik atau sesar turun.

6) Letusan gunung api

Letusan gunung api adalah bagian dari aktivitas vulkanik yang dikenal

dengan istilah "erupsi". Bahaya letusan gunung api dapat berupa awan panas,

lontaran material (pijar), hujan abu lebat, lava, gas racun, tsunami dan banjir

lahar.

7) Angin puting beliung

Angin puting beliung adalah angin kencang yang datang secara tiba-tiba,

mempunyai pusat, bergerak melingkar menyerupai spiral dengan kecepatan

40-
50 km/jam hingga menyentuh permukaan bumi dan akan hilang dalam waktu

singkat (3-5 menit), bisa menerbangkan benda-benda serta merobohkan

bangunan yang ada sehingga sangat berbahaya untuk manusia.

8) Tanah longsor

Tanah longsor adalah salah satu jenis gerakan massa tanah atau batuan,

ataupun percampuran keduanya, menuruni atau keluar lereng akibat

terganggunya kestabilan tanah atau batuan penyusun lereng. Batu, pohon,

pasir dan bahan alam lainnya bisa ikut longsor menghancurkan apa saja yang

ada di bawahnya sehingga jika ada orang atau permukiman penduduk di atas

tanah longsor tersebut atau dibawah tanah yang jatuh itu akan sangat

berbahaya. Longsor atau biasa disebut gerakan tanah merupakan suatu

peristiwa geologi yang terjadi akibat pergerakan batuan atau tanah berbagai

tipe dan jenis, misalnya jatuhnya bebatuan atau gumpalan besar tanah.

9) Gelombang pasang atau badai

Gelombang pasang atau badai merupakan gelombang tinggi yang

ditimbulkan karena efek terjadinya siklon tropis di sekitar wilayah Indonesia

dan berpotensi kuat menimbulkan bencana alam. Indonesia bukan daerah

lintasan siklon tropis tetapi keberadaan siklon tropis akan memberikan

pengaruh kuat terjadinya angin kencang, gelombang tinggi disertai hujan

deras.

10) Abrasi

Abrasi merupakan proses pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut dan

arus laut yang bersifat merusak. Abrasi biasanya disebut juga erosi pantai.

Kerusakan garis pantai akibat abrasi ini dipicu oleh terganggunya

keseimbangan alam daerah pantai tersebut. Walaupun abrasi dapat

disebabkan
oleh gejala alami, namun manusia sering disebut sebagai penyebab utama

abrasi.

11) Pemanasan global atau global warming

Pemanasan global yaitu adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer,

laut, dan daratan bumi. Meningkatnya suhu global diperkirakan akan

menyebabkan berbagai perubahan lain, seperti naiknya permukaan air laut,

bertambahnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim, perubahan jumlah

dan pola presipitasi, hilangnya gletser, juga mempengaruhi hasil pertanian

dan punahnya berbagai jenis hewan.

12) Kekeringan

Kekeringan adalah terjadinya kesenjangan antara air yang tersedia dengan air

yang diperlukan, berbeda dengan kondisi kering yang diartikan sebagai

kondisi jumlah curah hujan yang sedikit. Kekeringan dapat timbul karena

gejala alam yang terjadi, seperti pergantian musim yang merupakan dampak

dari iklim. Pada musim kemarau, sungai akan mengalami kekeringan

sehingga sungai dan waduk tidak berfungsi dengan baik. Akibatnya, sawah-

sawah yang menggunakan sistem pengairan dari air hujan juga akan

mengalami kekeringan dan tidak dapat menghasilkan panen serta pasokan air

bersih juga berkurang. Kekeringan pada suatu wilayah merupakan suatu

keadaan yang umumnya mengganggu keseimbangan makhluk hidup (UU RI

No.24, 2007)

2.1.4 Potensi dan Ancaman Bencana

Bencana dapat disebabkan oleh kejadian alam (natural disaster) maupun

oleh ulah manusia (man-made disaster). Faktor-faktor yang dapat menyebabkan

bencana yaitu bahaya alam (natural hazards) dan bahaya karena ulah manusia
(man-made hazards) yang menurut United Nations International Strategy for

Disaster Reduction (UNISDR) dapat dikelompokkan menjadi :

1) Bahaya geologi (geological hazards)

Secara geografis Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada

pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Asia, Benua

Australia, lempeng Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Pada bagian

selatan dan timur Indonesia terdapat sabuk vulkanik (volcanic arc) yang

memanjang dari Pulau Sumatera, Jawa sampai Nusa Tenggara dan Sulawesi,

yang sisinya berupa pegunungan vulkanik tua dan dataran rendah yang

sebagian didominasi oleh rawa-rawa. Kondisi tersebut sangat berpotensi

sekaligus rawan bencana seperti letusan gunung berapi, gempa bumi,

tsunami, banjir dan tanah longsor.

2) Bahaya hidrometeorologi (hydrometeorological hazards)

Wilayah Indonesia terletak di daerah iklim tropis dengan dua musim yaitu

panas dan hujan dengan ciri-ciri adanya perubahan cuaca, suhu dan arah

angin yang cukup ekstrim. Kondisi iklim seperti ini digabungkan dengan

kondisi topografi permukaan dan batuan yang relatif beragam, baik secara

fisik maupun kimiawi, menghasilkan kondisi tanah yang subur. Sebaliknya,

kondisi itu dapat menimbulkan beberapa akibat buruk bagi manusia seperti

terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, kebakaran

hutan dan kekeringan. Seiring dengan berkembangnya waktu dan

meningkatnya aktivitas manusia, kerusakan lingkungan hidup cenderung

semakin parah dan memicu meningkatnya jumlah kejadian dan intensitas

bencana hidrometeorologi
(banjir, tanah longsor dan kekeringan) yang terjadi secara silih berganti di

banyak daerah di Indonesia.

3) Bahaya biologi (biological hazards)

Dari tahun ke tahun sumber daya hutan di Indonesia semakin berkurang,

sementara itu pengusahaan sumber daya mineral juga mengakibatkan

kerusakan ekosistem yang secara fisik sering menyebabkan peningkatan

risiko bencana.

4) Bahaya teknologi (technological hazards)

Pada sisi lain laju pembangunan mengakibatkan peningkatan akses

masyarakat terhadap ilmu dan teknologi. Namun, karena kurang tepatnya

kebijakan penerapan teknologi, sering terjadi kegagalan teknologi yang

berakibat fatal seperti kecelakaan transportasi, industri dan terjadinya wabah

penyakit akibat mobilisasi manusia yang semakin tinggi.

5) Penurunan kualitas lingkungan (environmental degradation)

Meskipun pembangunan di Indonesia telah dirancang dan didesain

sedemikian rupa dengan dampak lingkungan yang minimal, proses

pembangunan tetap menimbulkan dampak kerusakan lingkungan dan

ekosistem. Pembangunan yang selama ini bertumpu pada eksploitasi sumber

daya alam (terutama dalam skala besar) menyebabkan hilangnya daya

dukung sumber daya ini terhadap kehidupan masyarakat.

6) Kerentanan (vulnerability) yang tinggi dari masyarakat, infrastruktur serta

elemen-elemen di dalam kota/ kawasan yang berisiko bencana

7) Kapasitas yang rendah dari berbagai komponen di dalam masyarakat


Potensi bencana lain yang tidak kalah seriusnya adalah faktor keragaman

demografi di Indonesia. Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2004

mencapai 220 juta jiwa yang terdiri dari beragam etnis, kelompok, agama dan

adat-istiadat. Keragaman tersebut merupakan kekayaan bangsa Indonesia

yang tidak dimiliki bangsa lain. Namun karena pertumbuhan penduduk yang

tinggi tidak diimbangi dengan kebijakan dan pembangunan ekonomi, sosial

dan infrastruktur yang merata dan memadai, terjadi kesenjangan pada

beberapa aspek dan terkadang muncul kecemburuan sosial. Kondisi ini

potensial menyebabkan terjadinya konflik dalam masyarakat yang dapat

berkembang menjadi bencana nasional.

(BNPB, 2017)

2.1.5 Dampak Bencana

Menurut (Carter, 2008) umumnya dampak dari bencana adalah sebagai berikut:

1. Hilangnya jiwa

2. Cidera

3. Kerusakan properti

4. Kerusakan subsistensi dan hasil bumi

5. Gangguan produksi

6. Gaya hidup yang terganggu

7. Kehilangan mata pencaharian

8. Gangguan terhadap layanan penting

9. Kerusakan infrastruktur nasional dan gangguan terhadap sistem

pemerintahan

10. Kerugian ekonomi nasional


11. Dampak psikologis dan

sosiologis (Carter, 2008)

2.2 Analisis Risiko Bencana

2.2.1 Pengantar Analisis Risiko Bencana

Disaster Recovery Journal menyampaikan 2 (dua) definisi yang berbeda

untuk menjelaskan analisis risiko, yaitu:

1. Analisis risiko (risk analysis) yaitu proses yang meliputi pengidentifikasian

ancaman yang paling mungkin terjadi terhadap objek studi serta

penganalisisan kerentanan terkait dengan ancaman bencana tersebut.

2. Penilaian risiko (risk assessment) merupakan suatu proses yang meliputi

pengevaluasian kondisi fisik dan lingkungan serta penilaian kapasitas relatif

terhadap ancaman bencana potensial.

International Strategy for Disaster Reduction (ISDR) yang memberikan

pengertian analisis risiko bencana sebagai metodologi dalam menentukan risiko

melalui suatu tindakan analisis ancaman bencana dan suatu evaluasi terhadap

kondisi eksisting. Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk

melakukan suatu analisis risiko bencana, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Analisis Manfaat Biaya (Cost Benefit Analysis)

Analisis manfaat biaya merupakan suatu metode yang digunakan untuk

memilih opsi dengan cara memberi keseimbangan antara biaya setiap pilihan

dengan keuntungan atau kelebihannya.

2. Analisis Dampak dan Model Kegagalan (Failure Modes and Effects Analysis)

Analisis dampak dan model kegagalan adalah teknik analisis yang

mendeskripsikan dampak dari kegagalan yang terjadi pada suatu sistem


3. Analisis Kuantitatif (Quantitative Analysis)

Analisis kuantitatif yaitu analisis yang pembobotannya menggunakan angka,

baik untuk dampak (consequences), maupun untuk kekerapannya (likelihood).

4. Pemetaan Risiko (Risk Mapping)

Peta risiko merupakan gambaran suatu masyarakat atau wilayah geografis

yang mengidentifikasikan tempat dan bangunan yang mungkin terkena

dampak bencana.

5. Pemetaan Ancaman Bencana (Hazard Mapping)

Pemetaan ancaman bencana merupakan proses untuk memetakan bencana

pada suatu wilayah dengan menggunakan berbagai skala peta, penutupan

lahan, dan detail lainnya.

(Khambali, 2017)

2.2.2 Langkah-Langkah Analisis Risiko

Lingkup kegiatan analisis risiko yaitu diantaranya pengumpulan,

pengolahan, analisis data, penetapan variabel penilaian risiko, dan

penatalaksanaan penilaian risiko.

Faktor penentu risiko bencana antara lain sebagai berikut:

1. Ancaman

Ancaman suatu kejadian yang berpotensi mengganggu kehidupan dan

penghidupan masyarakat sehingga menimbulkan korban jiwa, kerusakan harta

benda, kehilangan rasa aman, kelumpuhan ekonomi, dan kerusakan lingkungan

serta dampak psikologis.

Peningkatan ancaman bencana didasarkan pada beberapa faktor berikut:

1) Fenomena geologi yang semakin dinamis


2) Perubahan iklim yang semakin ekstrim

3) Degradasi lingkungan yang semakin meningkat

4) Bonus demografi yang tidak terkelola

2. Kerentanan

Kerentanan merupakan suatu kondisi yang ditentukan oleh berbagai faktor

fisik, sosial, ekonomi, geografi yang menyebabkan menurunnya kemampuan

masyarakat dalam menghadapi bencana.

3. Kapasitas

Kapasitas adalah suatu kemampuan sumber daya yang dimiliki tiap orang atau

tiap kelompok di suatu wilayah yang dapat digunakan dan ditingkatkan dengan

tujuan untuk mengurangi risiko bencana.

(BNPB, 2014)

Langkah-langkah yang dilakukan dalam tahapan analisis risiko yaitu

mengenali ancaman, mengidentifikasi kerentanan, dan kemudian kapasitas di

daerah masing-masing.

1. Berapa luas bencana yang melanda.

2. Berapa luas ancaman terhadap masyarakat dan lingkungan.

3. Identifikasi bahaya untuk mengenali sifat, lokasi, intensitas dari ancaman.

4. Analisis kerentanan untuk menentukan keberadaan dan tingkat kerentanan

paparan ancaman.

5. Analisis kapasitas untuk mengidentifikasi kapasitas dan sumber daya yang ada

untuk mengurangi tingkat resiko atau dampak dari bencana.

6. Analisis risiko untuk menentukan tingkat risiko.


7. Evaluasi risiko untuk membuat keputusan terkait risiko yang membutuhkan

penanggulangan dan prioritas.

Oleh karena itu, untuk mengurangi risiko bencana maka diperlukan upaya-

upaya untuk mengurangi ancaman serta kerentanan dan meningkatkan kapasitas.

1. Pembuatan peta rawan

1) Melengkapi peta topografi kota, sungai, danau, gunung berapi, ancaman

penambangan, pabrik, industri dan lain sebagainya.

2) Inventarisasi ancaman banjir, gunung meletus, longsor, kebocoran pipa,

kecelakaan transportasi, dan lain sebagainya.

3) Melengkapi peta rawan ancaman dengan kerentanan masyarakat:

(1) Data demografi (jumlah bayi, balita, dan lain-lain).

(2) Sarana dan prasarana kesehatan (rumah sakit, puskesmas, dan lain-lain).

(3) Ketenagaan kesehatan (dokter, perawat, bidan, dan lain-lain).

(4) Data cakupan pelayanan kesehatan (imunisasi, KIA, gizi, dan lain-lain).

2. Penetapan jenis bahaya dan variabel

Menentukan kelompok jenis bahaya, diantaranya yaitu tsunami,

gempa bumi, letusan gunung berapi, angin puyuh, banjir, tanah longsor,

kebakaran hutan, kekeringan, Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular,

kecelakaan transportasi/ industri, atau konflik dengan kekerasan.

3. Karakteristik bahaya

1) Frekuensi

Seberapa sering terjadinya intensitas suatu bencana/ ancaman yang dapat

diukur dari kekuatan dan kecepatan secara kuantitatif/ kualitatif.

2) Dampak
Pengukuran seberapa besar akibat terhadap kehidupan sehari-hari.

3) Keluasan

Luasnya daerah yang terkena.

4) Komponen uluran waktu

Rentang waktu peringatan gejala awal hingga terjadinya dan lamanya proses

bencana berlangsung.

4. Kerentanan fisik

1) Kekuatan struktur bangunan fisik (lokasi, bentuk, material, konstruksi,

pemeliharaannya).

2) Sistem transportasi dan telekomunikasi (akses jalan, sarana angkutan,

jaringan komunikasi, dan lain-lain).

3) Sosial; meliputi unsur demografi (proporsi keluarga rentan, status

kesehatan, budaya, status sosial ekonomi, dan lain-lain).

4) Ekonomi; meliputi dampak primer (kerugian langsung) dan sekunder (tidak

langsung).

5. Manajemen kebijakan

1) Telah ada/tidaknya kebijakan, peraturan perundangan, Perda, Protap, dan

lain-lain tentang penanggulangan bencana.

2) Telah ada/tidaknya sistem peringatan dini, rencana tindak lanjut, termasuk

pembiayaan.

3) Peran serta masyarakat; meliputi kesadaran dan kepedulian masyarakat

akan bencana.

4) Keluaran
Ancaman/bencana (event) dengan nilai tertinggi merupakan keluaran yang

harus diprioritaskan

(BNPB, 2015)

2.3 Manajemen Penanggulangan Bencana

2.3.1 Pengertian Manajemen Bencana

Manajemen bencana adalah suatu proses yang dinamis, berlanjut dan

terpadu untuk meningkatkan kualitas langkah-langkah yang berhubungan dengan

observasi dan analisis bencana serta pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan,

peringatan dini, penanganan darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi bencana (UU

RI No.24, 2007).

Manajemen bencana menurut University of Wisconsin merupakan

serangkaian kegiatan yang didesain dalam mengendalikan situasi bencana darurat

dan mempersiapkan kerangka untuk membantu orang yang rentan bencana dalam

menghindari atau mengatasi dampak bencana tersebut.

Manajemen bencana menurut Universitas British Columbia adalah suatu

proses pembentukan atau penetapan tujuan bersama dan nilai bersama (common

value) untuk mendorong pihak-pihak yang terlibat (partisipan) untuk menyusun

rencana dan menghadapi bencana, baik bencana potensial maupun aktual.

(Khambali, 2017).

2.3.2 Tujuan Manajemen Bencana

Secara umum, manajemen bencana bertujuan untuk:

1. Mencegah dan membatasi jumlah korban manusia serta kerusakan harta benda

dan lingkungan hidup.


2. Menghilangkan kesengsaraan dan kesulitan dalam kehidupan dan penghidupan

korban.

3. Mengembalikan korban bencana dari daerah penampungan/pengungsian ke

daerah asal bila memungkinkan atau merelokasi ke daerah baru yang layak

huni dan aman.

4. Mengembalikan fungsi fasilitas umum utama, seperti komunikasi/transportasi,

air minum, listrik, dan telepon, termasuk mengembalikan kehidupan ekonomi

dan sosial daerah yang terkena bencana.

5. Mengurangi kerusakan dan kerugian lebih lanjut.

6. Meletakkan dasar-dasar yang diperlukan guna pelaksanaan kegiatan

rehabilitasi dan rekonstruksi dalam konteks pembangunan.

(BNPB, 2015a)

2.3.3 Faktor atau Pilar Dalam Manajemen Bencana

Faktor-faktor atau pilar-pilar utama tertentu dalam penentuan kebijakan

manajemen bencana nasional untuk sebagian besar negara yang dijelakan oleh

(Carter, 2008), sebagai berikut :

1. Mendefinisikan secara akurat ancaman bencana

2. Mengidentifikasi dampak yang mungkin disebabkan oleh ancaman

3. Menilai sumber daya yang tersedia untuk menghadapi ancaman

4. Pengaturan organisasi yang diperlukan untuk mempersiapkan menanggapi, dan

pulih dari peristiwa bencana

5. Mendefinisikan bagaimana kebijakan penanggulangan bencana nasional saling

terkait dengan aspek lain dari kebijakan nasional, terutama yang berkaitan

dengan pembangunan nasional dan perlindungan lingkungan


6. Faktor-faktor nasional spesifik lainnya yang mungkin

berlaku. (Carter, 2008)

2.3.4 Mekanisme Manajemen Bencana

Mekanisme manajemen bencana terdiri dari:

1. Mekanisme internal atau informal, yaitu unsur-unsur masyarakat di lokasi

bencana yang secara umum melaksanakan fungsi pertama dan utama dalam

manajemen bencana dan sering disebut mekanisme manajemen bencana

alamiah, terdiri dari keluarga, organisasi sosial informal (pengajian, pelayanan

kematian, kegiatan kegotong royongan, arisan, dan lain-lain), serta masyarakat

lokal.

2. Mekanisme eksternal atau formal, adalah organisasi yang sengaja dibentuk

dengan tujuan untuk manajemen bencana, contohnya di Indonesia yaitu

BAKORNAS PB, SATKORLAK PB, dan SATLAK PB.

Secara umum manajemen bencana dan keadaan darurat adalah tahapan pra

bencana, saat bencana, dan pasca bencana, Untuk daerah-daerah yang kerap

tertimpa bencana, entah itu yang dibuat manusia (banjir, longsor, luapan lumpur,

dan lain-lain) ataupun yang tak terduga secara awam (gempa tektonik, vulkanik,

angin puting beliung, dan lain-lain), dan menerapkan tahapan-tahapan kerja yang

lebih mendetail. Setiap tahapan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Riset (pelajari fenomena alam yang akan terjadi secara umum atau khusus di

satu daerah).

2. Analisis kerawanan dan kajian risiko (vulnerabilities analysis and risk

assessment).

3. Sosialisasi dan kesiapan masyarakat.


4. Mitigasi atau persiapan mendekati terjadinya bencana atau keadaan darurat.

5. Warning atau peringatan bencana.

6. Tindakan penyelamatan.

7. Komunikasi.

8. Penanganan darurat.

9. Keberlangsungan penanganan.

10. Upaya perbaikan.

11. Pelatihan dan pendidikan. Untuk mendapatkan hasil terbaik untuk

mengantisipasi hingga mengupayakan perbaikan pasca bencana, setiap

daerah harus memiliki petugas-petugas yang cakap dan berpengetahuan.

Untuk itu diperlukan pendidikan dan pelatihan yang selalu sejalan dengan

penemuan teknologi penanganan bencana termutakhir.

12. Simulasi. Setelah memiliki petugas yang cakap dan berpengetahuan, setiap

daerah harus melaksanakan simulasi penanganan bencana ataupun keadaan

darurat agar setiap anggota masyarakat bisa mengantisipasi hingga

menyelamatkan diri dan anggota keluarganya sehingga beban daerah ataupun

kerugian pribadi dapat diminimalisasi.

(BNPB, 2015a)
2.3.5 Siklus/Tahapan Penanggulangan Bencana

Gambar 2.1 Siklus Manajemen Risiko Bencana/Disaster Risk


Management Cycle (DRMC) (Khan, Vasilescu and Khan, 2008)

Menurut Himayatullah Khan, Laura Giurca Vasilescu, dan Asmatullah

Khan (2008), ada tiga tahapan kunci dari kegiatan yang diupayakan dalam

manajemen risiko bencana adalah sebagai berikut :

1. Sebelum bencana (pra-bencana)

Kegiatan pra bencana di upayakan untuk mengurangi korban dan kerugian harta

benda yang disebabkan oleh potensi bahaya. Misalnya, melaksanakan kesadaran

kampanye, memperkuat struktur yang masih lemah, persiapan rencana

penanggulangan bencana di tingkat rumah tangga dan masyarakat, dll. Langkah-

langkah pengurangan risiko pada tahap ini disebut sebagai kegiatan mitigasi dan

kesiapsiagaan.
2. Saat bencana (kejadian bencana)

Ini termasuk upaya yang dilakukan untuk memastikan bahwa kebutuhan dan

penentuan korban terpenuhi dan dampak penderitaan diminimalkan. Kegiatan

yang dilakukan pada tahap ini disebut kegiatan tanggap darurat.

3. Setelah bencana (pasca bencana)

Upaya yang diambil sebagai tanggapan bencana dengan tujuan untuk pemulihan

dan rehabilitasi dini komunitas yang terkena dampak, segera setelah terjadinya

bencana. Ini disebut sebagai respon dan kegiatan pemulihan.

Siklus manajemen bencana menggambarkan proses rencana kerjasama yang

melibatkan pemerintah, swasta, dan masyarakat sipil untuk mengurangi dampak

bencana, bereaksi selama dan segera setelah bencana, dan mengambil langkah-

langkah untuk pulih setelah bencana terjadi. Tindakan yang tepat merupakan hal

penting dalam siklus guna mendukung kesiapan yang lebih baik, peringatan yang

segera, berkurangnya kerentanan atau pencegahan bencana menjadi langkah

berikutnya dari siklus. Siklus manajemen bencana termasuk membentuk kebijakan

dan rencana publik yang baik untuk memodifikasi penyebab bencana atau

mengurangi dampaknya pada manusia, harta benda, dan infrastruktur. Mitigasi dan

kesiapsiagaan merupakan perbaikan manajemen bencana yang dilakukan sebagai

antisipasi dari suatu peristiwa bencana. Perencanaan pembangunan memainkan

peran kunci dalam berkontribusi pada mitigasi dan persiapan komunitas efektif

untuk menghadapi bencana. Saat bencana terjadi, para pelaksana yang berperan

dalam manajemen bencana, khususnya organisasi kemanusiaan terlibat dalam

tanggap darurat hingga fase pemulihan untuk jangka panjangnya (Khan, Vasilescu

and Khan, 2008).


Menurut Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007, siklus penanggulangan

bencana dibagi menjadi 3 periode, yaitu :

1. Pra bencana: pencegahan lebih difokuskan, kesiapsiagaan level medium. Upaya-

upaya penanggulangan bencana yang dilakukan pada tahap ini adalah sebagai

berikut:

1) Pencegahan (Prevention)

Pencegahan adalah upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya

bencana (jika mungkin dengan meniadakan bencana), Contohnya:

(1) Melarang pembakaran hutan dalam perladangan.

(2) Melarang penambangan batu di daerah-daerah curam.

(3) Melarang pembuangan sampah yang sembarangan.

(4) Membuat/mendirikan pos peringatan bencana

(5) Membiasakan hidup tertib dan disiplin

(6) Memberikan pendidikan tentang lingkungan hidup

2) Mitigasi Bencana (Mitigation)

Mitigasi bencana merupakan serangkaian upaya untuk mengurangi risiko

terjadinya bencana, baik dengan pembangunan fisik maupun penyadaran

serta peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana (UU 24/2007)

atau upaya yang dilakukan dengan tujuan untuk meminimalkan dampak

yang ditimbulkan oleh bencana. Mitigasi bisa juga diartikan sebagai

penjinak bencana alam, dan pada prinsipnya mitigasi merupakan usaha-

usaha, baik itu yang bersifat persiapan fisik (berupa penataan ruang

kawasan dan kode bangunan) maupun nonfisik (dapat berupa pendidikan

tentang bencana alam) dalam mempersiapkan diri menghadapi bencana

alam, Contohnya:
(1) Menempatkan korban di suatu tempat yang aman.

(2) Membentuk tim penanggulangan bencana.

(3) Memberikan penyuluhan-penyuluhan.

(4) Merelokasi korban secara bertahap.

Bentuk mitigasi:

(1) Mitigasi struktural (contohnya: check dam, bendungan, tanggul sungai,

rumah tahan gempa, dan lain sebagainya).

(2) Mitigasi non struktural (misalnya: peraturan perundang-undangan,

pelatihan, dan lain-lain).

3) Kesiapsiagaan (Preparedness)

Kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan

tujuan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian dan langkah

yang tepat guna dan berdaya guna (UU 24/2007). Sedangkan kesiapsiagaan

menurut Carter (1991) adalah berbagai tindakan yang memungkinkan

pemerintahan, organisasi, masyarakat, komunitas, dan individu untuk

mampu menanggapi suatu situasi bencana secara cepat dan tepat guna.

Contohnya:

(1) Penyiapan sarana komunikasi

(2) Pos komando

(3) Penyiapan lokasi evakuasi

(4) Rencana kontinjensi

(5) Sosialisasi peraturan/pedoman penanggulangan bencana

Salah satu kecepatan penyelenggaraan operasi penanggulangan

bencana (respons time), yaitu menyelenggarakan siaga penanggulangan


bencana yang meliputi kesiagaan pada 5 (lima) komponen utama

penanggulangan bencana, antara lain:

(1) Kesiapan manajemen operasi penanggulangan bencana.

(2) Kesiapan fasilitas penanggulangan bencana.

(3) Kesiapan komunikasi penanggulangan bencana.

(4) Kesiapan pertolongan darurat penanggulangan bencana.

(5) Dokumentasi.

Termasuk ke dalam tindakan kesiapsiagaan adalah penyusunan

rencana penanggulangan bencana, pemeliharaan, dan pelatihan personel.

Kesiapsiagaan merupakan bagian tak terpisahkan dari manajemen bencana

secara terpadu (Khambali, 2017).

Tugas sistem kesiapsiagaan, antara lain sebagai berikut:

(1) Mengevaluasi risiko yang ada pada suatu negara/daerah tertentu

terhadap bencana.

(2) Menjalankan standar dan peraturan.

(3) Mengatur sistem komunikasi, informasi, dan peringatan.

(4) Menjamin mekanisme koordinasi dan tanggapan.

(5) Menjalankan langkah-langkah untuk memastikan bahwa sumber daya

keuangan dan sumber daya lain yang tersedia untuk meningkatkan

kesiapan dan dapat dimobilisasikan saat situasi bencana.

(6) Mengembangkan program pendidikan masyarakat.

(7) Mengoordinasi penyampaian informasi pada media massa.

(8) Mengoordinasi latihan simulasi bencana yang dapat menguji

mekanisme respons/tanggapan.
(Khambali, 2017)

Kegiatan- kegiatan yang dilakukan pada tahap pra bencana adalah sebagai berikut:

1) Penyusunan peta rawan bencana.

2) Penyusunan peraturan dan pedoman dalam penanggulangan krisis akibat

bencana yang salah satunya terkait dengan penempatan dan mobilisasi SDM

kesehatan.

3) Pemberdayaan tenaga kesehatan di sarana kesehatan khususnya di

puskesmas dan RS, terutama di daerah rawan bencana.

4) Penyusunan standar ketenagaan, sarana dan pembiayaan.

5) Penempatan tenaga kesehatan disesuaikan dengan situasi wilayah setempat

(kerawanan terhadap bencana).

6) Pembentukan Tim Reaksi Cepat (Brigade Siaga Bencana/BSB).

7) Sosialisasi SDM kesehatan tentang penanggulangan krisis akibat bencana.

8) Pelatihan-pelatihan dan gladi.

9) Pembentukan Pusat Pelayanan Kesehatan Terpadu di

Kabupaten/Kota. (Menteri Kesehatan RI, 2006)

2. Bencana: pada saat kejadian/krisis, tanggap darurat menjadi kegiatan terpenting.

Upaya-upaya penanggulangan bencana yang dilakukan pada tahap ini adalah

sebagai berikut:

1) Peringatan Dini (Early Warning)

Peringatan dini merupakan serangkaian kegiatan pemberian peringatan

sesegera mungkin kepada seluruh masyarakat tentang kemungkinan

terjadinya bencana pada suatu daerah oleh lembaga yang berwenang (UU

24/2007 dalam
Khambali, 2017) atau serangkaian upaya untuk memberikan tanda peringatan

bahwa bencana kemungkinan akan segera terjadi.

Pemberian peringatan dini harus: Menjangkau masyarakat (accessible);

Segera (immediate); Tegas tidak membingungkan (coherent); Bersifat resmi

(official).

2) Tanggap Darurat (Response)

Tanggap darurat merupakan upaya yang dilakukan segera pada saat kejadian

bencana dengan tujuan untuk menanggulangi dampak yang ditimbulkan,

terutama berupa upaya penyelamatan korban dan harta benda, evakuasi, dan

pengungsian. Pada tanggap darurat bencana, terdapat hal-hal berikut:

(1) Korban massal

Korban relatif banyak akibat penyebab yang sama dan perlu pertolongan

segera dengan kebutuhan sarana, fasilitas, dan tenaga yang lebih dari

yang tersedia. Tanpa kerusakan infrastruktur.

(2) Bencana

Mendadak/tidak terencana atau perlahan tapi berlanjut, berdampak pada

pola kehidupan normal atau ekosistem hingga diperlukan tindakan

darurat dan luar biasa untuk menolong dan menyelamatkan korban dan

lingkungannya. Korban banyak, dengan kerusakan infrastruktur.

(3) Bencana kompleks

Bencana disertai permusuhan yang luas dan ancaman keamanan, serta

arus pengungsian luas. Korban banyak, kerusakan infrastruktur, disertai

ancaman keamanan.
Masalah yang dihadapi saat terjadi bencana:

(1) Keterbatasan SDM. Tenaga yang ada umumnya mempunyai tugas rutin

lain.

(2) Keterbatasan peralatan/sarana. Pusat pelayanan tidak disiapkan untuk

jumlah korban yang besar.

(3) Sistem kesehatan. Belum disiapkan secara khusus untuk menghadapi

bencana.

Dalam menghadapi bencana diperlukan suatu sistem tanggap bencana yang

berfungsi sebagai panduan tindakan dalam menghadapi bencana. Sistem

tersebut hendaknya efektif, efisien, terukur, dan tepat sasaran.

(1) Efisien: sistem tanggap bencana harus ampuh dalam menanggulangi

bencana di setiap tahapan, disesuaikan dengan jenis dan tingkat bahaya

yang ditimbulkan.

(2) Efektif: sistem tanggap bencana harus tepat guna dan sesuai dengan

kebutuhan.

(3) Terukur: semua tahapan dan tindakan harus terukur, yakni disesuaikan

dengan kapasitas dan sumber daya yang dimiliki.

(4) Tepat sasaran: sistem tanggap bencana harus sesuai dengan tujuan dan

hasil akhir yang diharapkan, artinya sistem tanggap bencana harus

memuat kerangka tujuan yang jelas sehingga memiliki nilai fungsional

yang positif dan dapat digunakan secara berkelanjutan.

3) Bantuan Darurat (Relief)


Bantuan darurat adalah upaya yang dilakukan untuk memberikan bantuan

yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar berupa pangan, sandang,

tempat tinggal sementara, pelayanan kesehatan, sanitasi, dan air bersih.

3. Pasca bencana: pemulihan dan rekonstruksi menjadi proses terpenting setelah

bencana. Upaya-upaya penanggulangan bencana yang dilakukan pada tahap ini

adalah sebagai berikut:

1) Pemulihan (Recovery)

Pemulihan merupakan suatu proses pemulihan darurat kondisi masyarakat

yang terkena bencana dengan memfungsikan kembali sarana dan prasarana

yang ada pada keadaan yang semula. Upaya yang dilakukan, yaitu:

memperbaiki prasarana dan pelayanan dasar (jalan, listrik, air bersih, pasar,

puskesmas, dan lain sebagainya).

2) Rehabilitasi (Rehabilitation)

Rehabilitasi merupakan langkah upaya yang diambil setelah terjadinya

bencana untuk membantu masyarakat memperbaiki tempat tinggalnya,

fasilitas umum, dan fasilitas sosial yang penting, dan menghidupkan kembali

roda perekonomian.

3) Rekonstruksi (Reconstruction)

Rekonstruksi adalah program jangka menengah serat jangka panjang dalam

rangka perbaikan fisik, sosial, dan ekonomi guna mengembalikan kehidupan

masyarakat pada kondisi yang sama atau bahkan lebih baik dari sebelumnya.

Hal terpenting dari manajemen bencana yaitu adanya suatu langkah

konkrit dalam upaya pengendalian bencana sehingga korban nyawa dan

kerugian harta benda yang tidak kita harapkan dapat terselamatkan secara

cepat
dan tepat serta upaya pemulihan pasca bencana dapat dilakukan segera.

Pengendalian itu dimulai dengan membangun kesadaran kritis masyarakat

dan pemerintah terkait masalah bencana alam, menciptakan proses perbaikan

total pengelolaan bencana, penegasan lahirnya kebijakan lokal yang

bertumpu pada kearifan lokal berupa peraturan negara dan peraturan daerah

tentang manajemen bencana. Hal yang tak kalah pentingnya dalam

manajemen bencana ini yaitu sosialisasi kehati-hatian, terutama pada daerah

yang rawan bencana.

(CFE-DM, 2018)

2.3.6 Kebijakan Manajemen Bencana Nasional

Ini dipahami dengan baik dan diakui bahwa pemerintahan di sebagian besar

negara, berkaitan dengan berbagai macam bidang kebijakan utama. Hal ini

biasanya termasuk pembangunan ekonomi dan

sosial, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. Bidang

kebijakan utama semacam itu, tentu saja, harus diprioritaskan dari sudut pandang

pemerintah. Oleh karena itu, tidak realistis untuk mengharapkan bahwa kebijakan

manajemen bencana akan diprioritaskan, misalnya, dalam mengalokasikan dana

dan sumber daya yang tidak dapat dibenarkan secara positif. Mereka yang

bertanggung jawab untuk menyusun dan merumuskan kebijakan bencana

nasional harus memiliki tujuan untuk mencapai keseimbangan dan keterkaitan

yang sesuai dengan kebijakan nasional lainnya. Ini jelas melibatkan serta

mempertimbangkan dengan hati-hati kebijakan-kebijakan lain, terutama tujuan

untuk memastikan sejauh mungkin kompatibilitas kepentingan. Memang, dalam

beberapa kasus, mungkin kebijakan manajemen bencana yang baik dapat


menawarkan keuntungan bagi kebijakan nasional lainnya. Dimana, dukungan

timbal balik dan keuntungan yang dibawa ini kemungkinan akan datang.

Dua bidang kebijakan pemerintah cenderung memiliki kepentingan bersama

dengan manajemen bencana :

1. Pembangunan nasional - Bencana dan pembangunan nasional, pada

kenyataannya, terkait erat. Ini terutama berlaku jika ancaman bencana

signifikan. Misalnya, perencanaan pembangunan nasional perlu

mempertimbangkan kemungkinan dampak yang mungkin dapat ditimbulkan

bencana terhadap berbagai program dan proyek yang terlibat. Namun, pada

gilirannya, program dan proyek seperti itu dapat memengaruhi kemampuan

negara untuk mengatasi bencana karena sementara beberapa dari mereka dapat

mengurangi risiko dan kerentanan. Selain itu, peristiwa bencana sering

membuka kemungkinan berikutnya untuk meningkatkan berbagai aspek

kemajuan dan pembangunan.

2. Perlindungan lingkungan - kekhawatiran internasional yang tersebar luas telah

mendorong sebagian besar pemerintah nasional untuk mengarahkan perhatian

khusus terhadap perlindungan lingkungan. Karena banyak kegiatan

penanggulangan bencana berkaitan dengan aspek lingkungan (misalnya, banjir,

kekeringan, siklon), adalah masuk akal untuk mempertahankan kerjasama erat

antara manajemen bencana dan kebijakan lingkungan.

Disarankan bahwa kedua bidang kebijakan ini menggambarkan kebutuhan dan

manfaat dari kebijakan manajemen bencana yang terkait secara tepat dengan

kebijakan lain. Para pejabat manajemen bencana, khususnya di tingkat


pemerintah pusat, akan sangat disarankan untuk menganggap konsep ini

sebagai kunci penting ketika kebijakan bencana sedang dirumuskan atau

ditinjau.

(CFE-DM, 2018)

2.3.7 Sistem Penanggulangan Bencana di Indonesia

Kebencanaan merupakan pembahasan yang sangat komprehensif dan multi

dimensi. Menyikapi kebencanaan yang frekuensinya terus meningkat setiap

tahun, pemikiran terhadap penanggulangan bencana harus dipahami dan

diimplementasikan oleh semua pihak. Bencana adalah urusan semua pihak.

Secara periodik, Indonesia membangun sistem nasional penanggulangan bencana.

Sistem nasional ini mencakup beberapa aspek antara lain:

1. Legislasi

Dari sisi legislasi, Pemerintah Indonesia telah mengesahkan Undang-Undang

Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana. Produk hukum di

bawahnya antara lain Peraturan Pemerintah , Peraturan Presiden, Peraturan

Kepala Kepala Badan, serta peraturan daerah.

2. Kelembagaan

Kelembagaan dapat ditinjau dari sisi formal dan non formal. Secara formal,

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merupakan focal point

lembaga pemerintah di tingkat pusat. Sementara itu, focal point

penanggulangan bencana di tingkat provinsi dan ]kabupaten/kota adalah Badan

Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Dari sisi non formal, forum-forum

baik di tingkat nasional dan lokal dibentuk untuk memperkuat penyelenggaran

penanggulangan bencana di Indonesia. Di tingkat nasional, terbentuk Platform


Nasional (Planas)
yang terdiri unsur masyarakat sipil, dunia usaha, perguruan tinggi, media dan

lembaga internasional.

3. Pendanaan

Saat ini kebencanaan bukan hanya isu lokal atau nasional, tetapi melibatkan

internasional. Komunitas internasional mendukung Pemerintah Indonesia

dalam membangun manajemen penanggulangan bencana menjadi lebih baik.

Di sisi lain, kepedulian dan keseriusan Pemerintah Indonesia terhadap masalah

bencana sangat tinggi dengan dibuktikan dengan penganggaran yang

signifikan khususnya untuk pengarusutamaan pengurangan risiko bencana

dalam pembangunan. Berikut beberapa pendanaan yang terkait dengan

penanggulangan bencana di Indonesia:

1) Dana Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA)

2) Dana Kontijensi

3) Dana On-call

4) Dana Bantuan Sosial Berpola Hibah

5) Dana yang bersumber dari masyarakat

6) Dana dukungan komunitas

internasional (BNPB, 2017)

2.4 Rapid Health Assessment (RHA) Dan Perencanaan Penanggulangan Bencana

2.4.1 Pengertian Rapid Health Assessment (RHA)

Rapid Health Assessment (RHA) merupakan kegiatan pengumpulan data dan

informasi dengan tujuan untuk menilai kerusakan dan untuk mengidentifikasi


kebutuhan dasar yang diperlukan segera sebagai respons dalam kejadian bencana

(Khambali, 2017).

Menurut WHO, pengertian Rapid Health Assessment (RHA) adalah suatu

kegiatan pengumpulan data dan informasi yang dilakukan dengan tujuan untuk

menilai kerusakan dan mengidentifikasi kebutuhan dasar yang dibutuhkan segera

sebagai respons dalam suatu kejadian bencana.

2.4.2 Manfaat dan Tujuan Rapid Health Assessment


(RHA)

Manfaat Rapid Health Assessment (RHA) adalah sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi fakta-fakta yang ada di lokasi bencana.

2. Mengidentifikasikan kebutuhan yang harus segera dipenuhi.

Sedangkan tujuan Rapid Health Assessment (RHA) adalah sebagai berikut:

1. Menilai dampak bencana dan potensi ancaman dalam bidang kesehatan.

2. Membuktikan adanya kedaruratan.

3. Menilai kapasitas tanggap darurat yang ada.

4. Menetapkan jenis kebutuhan yang diperlukan segera.

5. Membuat rekomendasi tindakan prioritas dalam pelaksanaan

ketanggapdaruratan. (Khambali, 2017)

2.4.3 Klasifikasi Rapid Health Assessment (RHA)

Rapid Health Assessment (RHA) dibagi menjadi dua, diantaranya yaitu:

1. Initial Health Assessment (penilaian masalah kesehatan awal) yang dalam hal ini

dilakukan oleh petugas kesehatan tingkat kecamatan di bawah tanggung jawab

kepala puskesmas setempat. Hal ini dilakukan untuk menentukan jenis bantuan

awal yang dibutuhkan segera.


2. Integrated Rapid Health Assessment (penilaian masalah kesehatan terpadu)

menindaklanjuti assessment awal dan mendata kebutuhan para korban di shelter

pengungsian. Adanya assessment terpadu ini membuat kita dapat melakukan

penanggulangan gizi, memberikan imunisasi, melakukan surveilans

epidemiologi terhadap penyakit potensial sehingga kejadian penyakit di lokasi

bencana dapat dikontrol.

(Khambali, 2017)

2.4.4 Tim Rapid Health Assessment (RHA)

Tim RHA beranggotakan personil yang mewakili bidang sesuai dengan

kebutuhan pengkajian yang akan dilakukan, minimal terdiri dari:

1. Unsur medis: untuk menilai dampak dan kebutuhan pelayanan medis bagi

korban.

2. Unsur epidemiologi (surveilans): untuk menilai dampak dan kebutuhan

pengendalian masalah kesehatan masyarakat korban bencana, terutama

pengungsi.

3. Unsur sanitarian: untuk menilai dampak dan kebutuhan terhadap komponen-

komponen yang mempengaruhi kesehatan manusia.

2.4.5 Metode dan Pelaksanaan Rapid Health Assessment (RHA)

1. Mempersiapkan RHA

1) Informasi awal yang ada (kejadian).

2) Penetapan tim.

3) Informasi yang ada akan di-checklist.

4) Komunikasi dan koordinasi dengan daerah kejadian dan tim lain (akses ke

daerah, bantuan awal diperlukan, dan lain-lain).


2. Tim RHA

1) Petugas medis

2) Epidemiologi.

3) Kesehatan lingkungan.

4) Sosial.

Diharapkan tim memiliki kemampuan analisis yang baik dalam bidangnya,

dapat bekerja sama dan dapat diterima, memiliki kapasitas untuk mengambil

keputusan.

3. Informasi awal

1) Bencana/kejadian dan waktu terjadinya.

2) Masalah yang berkaitan dengan kesehatan sebagai dampaknya:

(1) Korban meninggal dan luka.

(2) Jumlah pengungsi.

(3) Kerusakan sarana kesehatan dan yang masih dapat dimanfaatkan

(puskesmas, pustu, rumah sakit).

(4) Tersedianya obat-obatan dan vaksin.

(5) Kemungkinan kemudahan untuk menjangkau daerah yang terkena

masalah.

3) Upaya kesehatan yang telah dilakukan.

4) Bantuan awal yang diperlukan.

4. Pengumpulan data/informasi

1) Geografis dan lingkungan daerah yang terkena bencana.

2) Informasi korban meninggal dan terluka.

3) Memperkirakan jumlah pengungsi.


4) Data potensi Sumber Daya Manusia (SDM) di puskesmas dan dinas

kesehatan dan rumah sakit setempat yang masih dapat dimanfaatkan (jumlah,

tempat, dan fasilitas puskesmas dan rumah sakit; fungsi dari masing-masing

fasilitas; perlengkapan; dan obat-obatan).

5) Data dan potensi kesehatan yang ada di sekitar wilayah administrasi daerah

bencana/kejadian.

6) Menilai dampak segera terhadap kesehatan seperti risiko kemungkinan

terjadinya KLB penyakit menular.

7) Data endemisitas penyakit menular potensial wabah yang selama ini ada.

8) Kerusakan sarana lain yang berpotensi menimbulkan masalah kesehatan (air

bersih, listrik, jalan, sarana komunikasi).

9) Mengidentifikasi ketersediaan air bersih yang ada dan potensi yang masih

dapat dimanfaatkan.

5. Hasil lapangan kemudian dianalisis, diarahkan secara spesifik pada:

1) Kebutuhan pelayanan medis korban bencana.

2) Epidemiologi penyakit potensi wabah.

3) Masalah dan potensi sarana kesehatan lingkungan.

6. Rekomendasi

1) Bantuan obat-obatan, bahan, dan alat.

2) Bantuan tenaga medis/paramedik, surveilans, dan kesehatan lingkungan.

3) Penyakit menular yang perlu diwaspadai.

4) Sarana kesehatan lingkungan yang memerlukan pengawasan dan perbaikan,

serta yang perlu dibuat.

5) Penyediaan makanan.
6) Bantuan lain yang diperlukan,baik dari tingkat di atasnya maupun dari

sumber lain.

2.4.6 Jenis-Jenis Perencanaan dalam Penanggulangan Bencana

1. Rencana Manajemen Bencana

1) Dilakukan pada tahap sebelum bencana.

2) Berisi tentang berbagai ancaman, kerentanan, sumber daya yang dimiliki,

pengorganisasian, dan peran fungsi masing-masing unit kerja.

3) Dapat berfungsi sebagai panduan atau arahan bagi penyusunan rencana

sektoral.

2. Rencana Kontijensi

1) Dibuat segera setelah diidentifikasi adanya ancaman (hazard) tertentu suatu

wilayah.

2) Disusun berdasarkan suatu skenario bencana yang diperkirakan akan terjadi

3) Dibuat asumsi dan perhitungan kebutuhan.

4) Disusun jadwal berdasarkan skenario yang disepakati.

5) Harus selalu diperbaharui atau dimutakhirkan

3. Rencana Operasi

1) Merupakan penerapan dari rencana kontijensi yang diberlakukan pada saat

terjadi kedaruratan.

2) Rencana operasi tidak selalu sesuai dengan keadaan nyata di lapangan

sehingga rencana kontijensi perlu disesuaikan secara berkala.

4. Rencana Pemulihan
1) Pemulihan merupakan awal upaya pembangunan kembali dan menjadi

bagian dari pembangunan pada umumnya. Oleh karena itu, perencanaannya

merupakan bagian dari perencanaan pembangunan.

2) Penyusunan rencana ini harus terintegrasi dalam perencanaan pembangunan

sektor.

3) Penyusunan rencana berdasarkan skala

prioritas. (Khambali, 2017)

2.4.5 Perencanaan Kontijensi

Perencanaan kontijensi dapat diartikan sebagai proses perencanaan ke

depan, dalam keadaan tidak menentu, diman skenario dan tujuan disetujui,

tindakan manajerial dan teknis ditentukan, dan sistem untuk menanggapi kejadian

disusun agar dapat mencegah, atau mengatasi secara lebih baik keadaan atau

situasi darurat yang dihadapi.

Rencana kontijensi harus dibuat berdasarkan:

1. Proses penyusunan bersama

2. Merupakan rencana penanggulangan bencana untuk jenis ancaman tunggal

(single hazard).

3. Rencana kontijensi mempunyai skenario.

4. Kenario dan tujuan yang disetujui bersama.

5. Dilakukan secara terbuka (tidak ada yang ditutupi).

6. Menetapkan peran dan tugas setiap sektor.

7. Menyepakati konsensus yang telah dibuat bersama.

8. Dibuat untuk menghadapi keadaan

darurat. (Khambali, 2017)


2.5 Manajemen Penanggulangan Masalah Kesehatan (PMK)

2.5.1 Konsep Koordinasi

Koordinasi memerlukan :

1. Manajemen penanggulangan masalah kesehatan yang baik.

2. Adanya tujuan, peran dan tanggung jawab yang jelas dari organisasi.

3. Sumber daya dan waktu yang akan membuat koordinasi berjalan.

4. Jalannya koordinasi berdasarkan adanya informasi dari berbagai

tingkatan sumber informasi yang berbeda.

Untuk memperoleh efektifitas dan optimalisasi sumber daya PMK diperlukan

persyaratan tertentu antara lain:

1. Komunikasi berbagai arah dari berbagai pihak yang dikoordinasikan.

2. Kepemimpinan dan motivasi yang kuat disaat krisis.

3. Kerjasama dan kemitraaan antara berbagai pihak.

4. Koordinasi yang harmonis.

Keempat syarat tersebut di atas dipadukan untuk menyusun :

1. Perencanaan

2. Pengorganisasian

3. Pengendalian

4. Evaluasi Penanggulangan Masalah

Kesehatan. (DEPKES RI, 2002)

2.5.2 Manajemen Penanggulangan Masalah Kesehatan

Inti dari manajemen penanggulangan masalah kesehatan yaitu adanya

organisasi penanggulangan yang efektif dan efisien dilandasi dengan adanya


kepemimpinan yang proaktif, mempunyai sense of crisis dan tidak melupakan

birokrasi yang ada serta didasari adanya hubungan antar manusia yang baik.

1. Kepemimpinan Situasi Krisis

Kedaruratan/Bencana: Infrastruktur:
1. Pengalaman Komunikasi
Penanggulangan (Frekwensi) Informasi
2. Intensitas Sebelumnya Transportasi
3. Jenis

Sumber Daya: Keputusan/ Motivasi


Kepemimpinan
1. Tenaga Kesehatan
2. Obat dan Alkes
3. Pedoman

Gambar 2.2 Skema Komponen Kepemimpinan Situasi Krisis (DEPKES RI,

2002) Dari skema diatas komponen kepemimpinan sangat berpengaruh dan

mendasari dari pengambilan keputusan dan motivasi. Hal-hal lain yang

mempengaruhi kepemimpinan adalah:

1) Sumber daya yang ada: antara lain ketersediaan tenaga kesehatan, obat dan

alat kesehatan serta finansial

2) Kedaruratan Bencana timbulnya pengalaman penanggulangan bencana

sebelumnya, intensitas bencana, dan jenis bencana

3) Infrastruktur ketersediaan sarana komunitas, distribusi informasi dan sarana

transportasi.

2. Manajemen Penanggulangan Masalah Kesehatan

Kemampuan memanajemen penanggulangan masalah kesehatan akibat bencana

di lapangan memerlukan pokok-pokok kegiatan antara lain sebagai berikut:

1) Perencanaan (Planning)

(1) Perencanaan adalah proses kegiatan pemikiran, dugaan dan penentuan

prioritas yang harus dilakukan secara rasional sebelum melaksanakan


tindakan yang sebenarnya dalam rangka mencapai tujuan yang sudah

ditetapkan.

(2) Perencanaan juga merupakan kegiatan-kegiatan rohaniah sebelum

melakukan tindakan jasmaniah. Kepemimpinan Keputusan/ Motivasi.

(3) Perencanaan itu amat diperlukan dalam rangka mengarahkan tujuan dan

sasaran organisasi maupun tujuan suatu program pembangunan, sebab

daripadanya dipaparkan pula tentang kebutuhan penggunaan tenaga kerja,

biaya, waktu, peralatan dan sumber-sumber (resources) lainnya.

2) Pengorganisasian (Organizing)

(1) Pengorganisasian merupakan proses penyusunan pembagian kerja ke

dalam unit-unit kerja dan fungsi-fungsinya beserta penetapannya dengan

cara-cara yang tepat mengenai orang-orangnya (staffing) yang harus

menduduki fungsi-fungsi itu berikut penentuannya dengan tepat tentang

hubungan wewenang dan tanggung jawabnya.

(2) Pengorganisasian itu dilakukan demi pelaksanaan kerja dan pelaksanaan

dari perencanaan, yang penting demi adanya pembagian kerja yang

setepat- tepatnya.

(3) Dalam pengorganisasian sangat penting untuk diperhatikan bahwa

penetapan mengenai orang-orangnya haruslah dilakukan secara obyektif

dan setelah terlebih dahulu ditentukan unit-unit kerja dan fungsi-

fungsinya.

3) Pendorongan (Motivating)

(1) Pendorongan merupakan proses kegiatan yang harus dilakukan untuk

membina dan mendorong semangat kerja dan kerelaan kerja para

pegawai (anggota organisasi) demi tercapainya tujuan organisasi.


(2) Pendorongan itu penting sekali mengingat arti pentingnya faktor manusia

dalam organisasi dan dalam proses produksi.

(3) Rangkaian kegiatan pendorongan ini mencakup segi-segi dorongan atau

perangsang yang bersifat kerohanian (seperti pemberian kenaikan

pangkat, pemberian pendidikan dan pengembangan karir, penambahan

pengalaman, penyelenggaraan human relations dengan tepat, pemberian

cuti dan sebagainya), maupun segi-segi dorongan kejasmanian (seperti

adanya sistem upah dan gaji yang menggairahkan, pemberian tunjangan-

tunjangan serta distribusi sandang dan pangan, penyediaan perumahan,

kendaraan, jaminan-jaminan pemeliharaan kesehatan dan lain-lainnya).

4) Pengendalian atau kontrol (Controlling)

(1) Pengendalian atau kontrol adalah rangkaian kegiatan yang harus

dilakukan untuk mengadakan pengawasan, penyempurnaan dan penilaian

(evaluation) untuk menjamin bahwa tujuan dapat tercapai sebagaimana

yang telah ditetapkan dalam perencanaan. Pengendalian atau kontrol itu

perlu untuk mengetahui sampai dimana pekerjaan sudah dilaksanakan,

sumber-sumber yang telah dimanfaatkan, hambatan-hambatan, dan

sebagainya.

(2) Dari hasil itu dapatlah diadakan penyempurnaan, evaluasi dan penentuan

tentang perlunya tindakan-tindakan korektif ataupun tindak lanjut yang

harus dilakukan sehingga pemborosan-pemborosan dapat dihindarkan

dan pengembangan-pengembangan selanjutnya dapat ditingkatkan

pelaksanaannya.

(DEPKES RI, 2002)


2.5.3 Sistem Koordinasi Penanggulangan Masalah Kesehatan

1. Komponen

1) Badan atau media untuk berkoordinasi

2) Unit atau pihak yang dikoordinasikan

3) Pertemuan reguler

4) Tugas pokok dan tanggung jawab yang jelas

5) Informasi dan laporan

6) Kerjasama pelayanan dan sarana

7) Aturan (Code of conduct) organisasi yang jelas

2. Pengorganisasian PMK di tingkat Kabupaten/Kota

Rumah Sakit Umum (RSU) Kab/Kota


Satuan
Koordinasi PMK Dinkes Pelaksana
Kab/Kota Penanggulangan Bencana dan Pengungsian (SATLAK PBP)
LKB

Satuan Petugas Penanggulangan Bencana Dan Pengungsian (Satgas PBP) Kecamatan


Puskesmas Wilayah Lain Puskesmas di Lokasi Bencana

LOKASI BENCANA
nisasi Non Pemerintah (ORNOP)/Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Disdokes/Denkesyah (Detasemen Kesehatan Wilayah)

Keterangan : Alur Informasi


Alur Rujukan
Gambar 2.3 Skema Pengorganisasian PMK di tingkat Kabupaten/Kota (DEPKES
RI, 2002)

3. Manajemen Penanggulangan bencana di lapangan ( Tingkat Kabupaten/ Kota )

Penanggulangan korban bencana di lapangan pada prinsipnya harus tetap

memperhatikan factor safety/ keselamatan bagi penolongnya, setelah itu baru

prosedur dilapangan yang memerlukan kecepatan dan ketepatan penanganan,


secara umum pada tahap tanggap darurat dikelompokkan menjadi kegiatan

sebagai berikut : pencarian korban (Search), penyelamatan korban (Rescue),

pertolongan pertama (Live saving), stabilisasi korban, evakuasi dan rujukan.

Upaya ini ditujukan untuk menyelamatkan korban semaksimal mungkin

guna menekan angka morbiditas dan mortalitas. Hal dipengaruhi oleh jumlah

korban, keadaan korban, geografi, lokasi, fasilitas yang tersedia di lokasi dan

sumberdaya yang ada. Faktor lain yang juga mempengaruhi adalah : organisasi

di lapangan, komunikasi, dokumen dan tata kerja.

Koordinasi dan pengendalian merupakan hal yang sangat diperlukan

dalam penanggulangan di lapangan, karena dengan koordinasi yang baik

diharapkan menghasilkan output/ keluaran yang maksimal sesuai sumber daya

yang ada meminimalkan kesenjangan dan kekurangan dalam pelayanan, adanya

kesesuaian pembagian tanggung jawab demi keseragaman langkah dan

tercapainya standar penanggulangan bencana di lapangan yang diharapkan.

Koordinasi yang baik akan menghasilkan keselarasan dan kerjasama yang

efektif dari organisasi- organisasi yang terlibat penanggulangan bencana di

lapangan. Dalam hal ini perlu diperhatikan penempatan struktur organisasi yang

tepat sesuai dengan tingkat penanggulangan bencana yang berbeda, serta adanya

kejelasan tugas, tanggung jawab dan otoritas dari masing-masing komponen/

organisasi yang terus menerus dilakukan secara lintas program dan lintas sektor

mulai saat persiapan, saat terjadinya bencana dan pasca bencana.

Kegiatan pemantauan dan mobilisasi sumber daya dalam penanggulangan

bencana di lapangan pada prinsipnya adalah :


1) Melaksanakan penilaian kebutuhan dan dampak keselamatan secara cepat

(Rapid Health Assesment) sebagai dasar untuk pemantauan dan penyusunan

program mobilisasi bantuan.

2) Melaksanakan skalasi pelayanan dan mobilisasi organisasi yang terkait dalam

penanggulangan masalah akibat bencana di lapangan, mempersiapkan sarana

pendukung guna memaksimalkan pelayanan.

3) Melakukan mobilisasi tim pelayanan ke lokasi bencana (On site) serta tim

surveilans yang terus mengamati keadaan lingkungan dan kecenderungan

perubahan-perubahan yang terjadi.

(DEPKES RI, 2002)

2.6 Arah Kebijakan dan Strategi BNPB Tahun 2015-2019

Di Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) adalah

badan pemerintah utama yang bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan

kesiapan, respons, pencegahan dan mitigasi, serta rehabilitasi dan pemulihan

dalam manajemen penanggulangan bencana. BNPB memimpin badan koordinasi

dalam tanggap bencana, bertanggung jawab untuk mempersiapkan, mengarahkan

dan mengelola semua aspek upaya penanggulangan bencana. BNPB juga

bertanggung jawab atas mobilisasi dan penyaluran peralatan dalam respons

bencana yang mungkin disediakan oleh bantuan internasional. Kepala BNPB

melapor langsung kepada Presiden (CFE-DM, 2018). Semua 34 provinsi di

Indonesia telah membentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)

Tingkat Provinsi dan telah menyiapkan Rencana Penanggulangan Bencana

(RPB), dan BNPB terus membangun kapasitas teknis BPBD ini (APCC, 2017).
BNPB memberikan peraturan tentang manajemen bencana dan tanggap

darurat juga memimpin dalam kesiapan dan respons. BNPB dijalankan oleh Kepala

BNPB dan memiliki empat wakil; Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan,

Deputi Tanggap Darurat, Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi, dan Deputi

Bidang Logistik dan Peralatan. BNPB terdiri dari komite pengarah manajemen

bencana dan komite eksekutif manajemen bencana. Komite eksekutif manajemen

bencana terdiri dari Kepala Sekretariat; deputi untuk pencegahan dan

kesiapsiagaan, tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi, serta logistik dan

peralatan; inspektorat kepala; dan unit pelaksana teknis. Komite Pengarah

Penanggulangan Bencana ditunjuk oleh parlemen, dan terdiri dari 18 anggota

termasuk pejabat (CFE- DM, 2018).

Kepala BNPB :
Sekretaris Pertahanan Nasional

BPBD Provinsi
Perwakilan dari sembilan Departemen
Pemerintah :
BPBD Lokal  Kementerian Koordinator untuk
Pembangunan dan Budaya Manusia
 Departemen Dalam Negeri
Inspektorat Sekretariat  Departemen Pekerjaan Umum
 Departemen Kesehatan
 Departemen Keuangan
 Departemen Transportasi
Pusat Data, Informasi dan  Departemen Energi dan Sumber Daya
Pusat Pendidikan
Hubungan Masyarakat Mineral
dan Pelatihan  POLRI/TNI
 Angkatan Bersenjata Republik

Pencegahan dan Kesiapsiagaan Tanggap Rehabilitasi dan


Mitigasi Bencana Bencana Bencana Pemulihan Bencana

Unit Teknis

Gambar 2.4 Struktur Organisasi Manajemen Bencana di Indonesia (CFE-


DM, 2018)
2.6.1 Arah Kebijakan Umum Penanggulangan Bencana BNPB

Berdasarkan agenda pembangunan (Nawa Cita), arah kebijakan umum, dan

strategi pembangunan nasional pengelolaan bencana 2015-2019, maka arah

kebijakan umum penyelenggaraan penanggulangan bencana sesuai dengan peran

BNPB dalam koordinasi, komando dan pelaksanaan penyelenggaraan

penanggulangan bencana adalah sebagai berikut:

1. Penanggulangan bencana diarahkan pada pengurangan risiko bencana yang

terintegrasi dalam setiap dimensi pembangunan

2. Penanggulangan bencana harus mengutamakan penyelamatan sebanyak

mungkin nyawa;

3. Penanggulangan bencana harus diikuti dengan pemulihan kembali masyarakat

menjadi lebih baik dan lebih aman dibanding sebelum bencana;

4. Penyiapan sumberdaya yang memadai dalam rangka kesiapsiagaan untuk

menghadapi bencana;

5. Pembinaan dalam rangka membangun kemandirian penanggulangan bencana

daerah sesuai dengan semangat otonomi daerah dan penerapan prinsipprinsip

perbaikan tata kelola pemerintahan, serta mendukung reformasi birokrasi dan

mewujudkan good governance.

(BNPB, 2015)

2.6.2 Strategi Penanggulangan Bencana BNPB Tahun 2015-2019

Strategi yang akan dilaksanakan dalam rangka melaksanakan arah

kebijakan dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan adalah:

1. Strategi pemantapan koordinasi, komando, dan penyelenggaraan

penanggulangan bencana
1) Strategi pemantapan koordinasi bidang pencegahan dan kesiapsiagaan

diarahkan untuk membangun sistem pengurangan risiko bencana dan

kesiapsiagaan terpadu mulai dengan mengidentifikasi, membangun database

dan kerangka pemanfaatan seluruh sumberdaya yang ada meliputi

perencanaan pengurangan risiko bencana, perencanaan kontinjensi,

penyediaan sarana dan prasarana peringatan dini yang terintegrasi satu sama

lain, pembangunan infrastruktur mitigasi bencana, pengalokasian

sumberdaya kesiapsiagaan, serta peningkatan dan pengembangan kapasitas

penanggulangan bencana.

2) Strategi pemantapan koordinasi bidang penanganan darurat diarahkan untuk

membangun sistem komando dan mobilisasi sumberdaya penanggulangan

bencana yang cepat dan andal, yang dialokasikan mulai tahapan siaga

darurat, tahapan operasi tanggap darurat, sampai dengan transisi darurat ke

pemulihan melalui identifikasi, peningkatan dan pengembangan sumberdaya

penanganandarurat secara terpadu, dukungan dan pengalokasian dana siap

pakai (On Call) untuk bantuan darurat dan pelayanan pengungsi, operasi

tanggap darurat dan perbaikan sarana dan prasarana vital.

3) Strategi pemantapan koordinasi bidang rehabilitasi dan rekonstruksi

pascabencana diarahkan untuk membangun kerangka pelaksanaan

penanganan pengungsi sejak penanganan darurat, serta pemulihan

pascabencana nasional yang terencana, terkoordinasi, terkendali dan terpadu

dengan memanfaatkan seluruh sumberdaya nasional dan daerah.

4) Strategi pemantapan koordinasi bidang logistik dan peralatan kebencanaan

diarahkan untuk membangun sistem penyediaan, distribusi, serta tata kelola


logistik dan peralatan kebencanaan sesuai dengan standar minimal dan

kebutuhan, yang didorong mendekati daerah rawan bencana.

2. Strategi Peningkatan Pengaturan, Pembinaan, dan Pengawasan

1) Terkait dengan tugas pengaturan, BNPB diharuskan menyusun pedoman dan

norma sebagai standar bagi seluruh pemangku kepentingan dalam

menyelenggarakan penanggulangan bencana, selain itu perlu dilakukan

identifikasi berbagai peraturan perundangan yang memiliki keterkaitan

dengan pelaksanaan fungsi kebencanaan yang selanjutnya disinkronisasi dan

diharmonisasikan baik terhadap peraturan dan perundangan penanggulangan

bencana yang ada maupun disesuaikan dengan kebutuhan penanggulangan

bencana agar terbangun keandalan penanggulangan bencana nasional.

2) Terkait dengan tugas pembinaan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana

berkewajiban meningkatkan kapasitas pemerintah daerah dalam rangka

mewujudkan kemandirian pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana

daerah yang bertanggung jawab.

3) Terkait dengan tugas pengawasan dan pengendalian, bahwa penyelenggaraan

penanggulangan bencana dituntut untuk dilaksanakan secara terencana,

terkoordinasi, terpadu sekaligus berkualitas, maka pengawasan dan

pengendalian harus dilaksanakan untuk memastikan bahwa penyelenggaraan

penanggulangan bencana harus dapat diwujudkan sesuai dengan apa yang

diharapkan, termasuk mendokumentasikan seluruh pencapaian kinerja yang

dilaksanakan sebagai bentuk pelaporan pertanggungjawaban dan

akuntabilitas penggunaan anggaran.

3. Strategi Perencanaan, Pelaksanaan, Pemantauan dan Evaluasi


4. Strategi Pembiayaan

Sesuai dengan Undang – Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang

Penanggulangan Bencana bahwa penyelenggaraan penanggulangan bencana

merupakan tanggung jawab bersama Pemerintah, pemerintah daerah dan

masyarakat, selanjutnya pada Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2008

tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana disebutkan bahwa

pendanaan penyelenggaraan penanggulangan bencana bersumber dari dana

APBN, APBD dan/atau masyarakat, serta pada Peraturan Pemerintah Nomor 23

Tahun 2008 tentang Peran Serta Lembaga Internasional dan Lembaga Asing

Non Pemerintah dalam Penanggulangan Bencana memberikan kesempatan

kepada dunia Internasional untuk mendukung penyelenggaraan penanggulangan

bencana.

5. Strategi Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis

lainnya

1) Perencanaan program dan kegiatan

Peningkatan kualitas perencanaan program dan kegiatan dilaksanakan dalam

rangka peningkatan kinerja penanggulangan bencana secara konsisten dan

terkendali dimulai dengan penyusunan rencana strategis dari masing –

masing unit kerja di lingkungan BNPB, dan diimpelentasikan secara

konsisten, serta dilaporkan secara teratur, sehingga apa yang direncanakan,

dilaksanakan dan dicapai dapat terdokumentasi dengan baik, sekaligus

memberikan dasar bagi proses perencanaan selanjutnya, serta penatausahaan

pelaksanaan anggaran yang efisien, efektif, transparan dan akuntabel guna

menghindari potensi ketidaksesuaian pertanggung jawaban melalui sistem

pengendalian internal secara elektronik.


2) Peningkatan kualitas regulasi

Peraturan – peraturan yang telah ditetapkan perlu diidentifikasi peraturan

perundangan – undangan yang perlu dijabarkan kedalam peraturan,

pedoman, norma standar operasional sebagai landasan yang kuat bagi

penyelenggaraan penanggulangan bencana dan di review kembali terhadap

kesesuaian kaidah penyusunan peraturan perundang – undangan, kesesuaian

dengan kondisi lingkungan strategis kebencanaan untuk dilakukan

penyempurnaan sesuai dengan kebutuhan. Peningkatan kualitas regulasi juga

disertai dengan sosialisasi secara berkesinambungan baik ditingkat pusat

maupun daerah agar menjadi pedoman dalam pelaksanaan tugas dan fungsi

masing – masing kelembagaan dan pemangku kepentingan dalam

penyelenggaraan penanggulangan bencana.

3) Peningkatan kapasitas SDM

Peningkatan kualitas SDM penanggulangan bencana dilaksanakan untuk

memperoleh sumberdaya manusia yang berintegritas, produktif, kompeten,

profesional, disiplin, berkinerja tinggi, dan sejahtera agar dapat mendukung

pencapaian visi, misi dan tujuan penanggulangan bencana nasional,

sekaligus mampu beradaptasi pada perubahan lingkungan strategis

penanggulangan bencana. Upaya peningkatan kapasitas SDM dilaksanakan

melalui rekruitmen pegawai yang berkualitas, layanan dan pembinaan

jabatan struktural dan fungsional secara berkesinambungan, pendidikan dan

pelatihan sumberdaya manusia berbasis keahlian dan kompetensi, serta

kegiatan-kegiatan pengembangan SDM lainnya yang mendukung

pengembangan dan pola karir pegawai di lingkungan BNPB. Kegiatan

pengingkatan kapasitas sumberdaya


manusia juga dilaksanakan untuk BPBD dan kelembagaan lainnya untuk

membangun sinergi kapasitas sumberdaya manusia penyelenggaraan

penanggulangan bencana yang terkoordinasi, terpadu dan andal.

4) Pemenuhan dan peningkatan sarana dan prasarana

Untuk mendukung penyelenggaraan tugas dan fungsi BNPB diperlukan

adanya sarana dan prasarana yang memadai dan terpelihara dengan baik,

untuk itu penyediaan sarana dan prasarana pendukung secara bertahap

menjadi sangat penting seperti penyediaan gedung dan kantor, ruang kerja

yang nyaman dan memadai, sarana dan prasarana pendukung kinerja lainnya

yang dikelola serta dipelihara secara baik dan bekesinambungan.

(BNPB, 2015b)

2.6.3 Upaya Peningkatan Kapasitas Sumber


Daya

1. Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia

1) Pelaksanaan Pelatihan Peningkatan Kapasitas SDM

2) Pembentukan Satuan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (SRC-PB)

2. Peningkatan Kapasitas Sarana Prasarana

1) Pembangunan Pusdalops (Pusat Pengendalian Operasi) PB

2) Dukungan Logistik dan Peralatan Penanggulangan Bencana

3) Penyediaan Fasilitas Pelatihan Penanggulangan Bencana

4) Pembangunan Kantor BNPB

3. Peningkatan Kapasitas Sistem Penyelenggaraan

1) Penyusunan Standarisasi Nasional Indonesia untuk PB

2) Penyusunan Peta Sumber Daya Logistik dan Peralatan

3) Pembangunan Aplikasi PB secara Daring


4) Penyusunan Standar Kompetensi Kerja Nasional

PB (BNPB, 2015a)

2.6.4 Upaya Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana

1. Tahap Pra bencana

1) Pelaksanaan Program Desa Tangguh Bencana

2) Penyusunan Kajian Akademik Rencana Induk Penanggulangan Bencana

3) Penyusunan Indeks Rawan Bencana Indonesia

4) Penyelenggaraan Program Sekolah Aman dan Materi Ajar Pendidikan Bencana

5) Penyediaan Peta Risiko Bencana di 33 Provinsi

6) Pelaksanaan Masterplan Pengurangan Risiko Bencana Tsunami

7) Penyusunan Rencana Kontijensi PB

8) Laporan Kajian Nasional tentang Pengurangan Risiko Bencana

9) Pelaksanaan Berbagai Forum Internasional Penanggulangan Bencana

10) Partisipasi Aktif dalam Global Platform for DRR

11) Pembentukan Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI)

2. Tahap Saat Tanggap Darurat

1) Peningkatan Kapasitas TRC Daerah

2) Penyaluran Bantuan Bencana

3) Pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca untuk PB

4) Membantu Negara Lain

5) Penyelenggaraan Kegiatan Pendampingan Pengungsi

3. Tahap Pasca bencana

1) Penyediaan Perangkat Pelaksanaan Rehabilitasi dan Rekonstruksi

2) Penyusunan Perencanaan Pemulihan Pasca bencana


3) Penyaluran Bantuan Pasca bencana

4) Penyusunan Indeks Pemulihan Bencana Indonesia

5) Pemulihan Sosial Ekonomi Pasca

bencana (BNPB, 2015b)

2.7 Indikator Penilaian Kesiapan Tenaga Kesehatan Dalam Manajemen Bencana

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Azka Fathiyatir Rizqillaha, Jessica

Suna (2018), yang melibatkan 120 perawat bagian gawat darurat di 4 Rumah Sakit

di daerah Jawa ini menunjukkan bahwa perawat gawat darurat memiliki tingkat

kesiapsiagaan bencana yang baik. Pengalaman bencana sebelumnya dan pelatihan

atau pendidikan bencana secara positif terkait dengan kesiapsiagaan bencana.

Lamanya pengalaman keperawatan tidak berkorelasi dengan kesiapsiagaan bencana

(Rizqillah and Suna, 2018). Sedangkan menurut penelitian yang dilakukan oleh

Moh. Syafar Sangkala, Marie Frances Gerdtz (2017) yang melibatkan 254

koordinator CHN (Perkesmas) di 24 kota / kabupaten di Sulawesi Selatan Provinsi

Sulawesi, sekitar sepertiga dari responden menganggap pelatihan bencana sebagai

metode terbaik untuk mencapai kesiapsiagaan bencana yang efektif (Syafar and

Frances, 2018).

2.7.1 Pengetahaun

1. Definisi

Menurut Notoatmodjo (2005) pengetahuan adalah hasil dari “Tahu” dan

ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.

Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yaitu : indera penglihatan,

pendengaran, penciuman, rasa dan raba.


Pengetahuan atau kognitif yang merupakan domain yang sangat penting

untuk terbentuknya tindakan seseorang. Pengetahuan diperlukan sebagai

dorongan fisik dalam menumbuhkan rasa percaya diri maupun dengan dorongan

sikap perilaku setiap orang sehingga dapat dikatakan bahwa pengetahuan

merupakan stimulasi terhadap tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2007).

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan

Menurut Notoatmojo (2003) faktor-faktor yang mempengaruhi

pengetahuan adalah :

1) Umur

Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang.

Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan

pola pikirnya sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik

(Erfandi, 2009).

2) Jenis Kelamin

Fuadbahsin (2009) mengatakan, beberapa orang terdahulu beranggapan

bahwa pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh jenis kelaminnya. Namun hal

itu dijaman sekarang ini sudah terbantahkan karena apapun jenis kelamin

seseorang, bila dia masih produktif, berpendidikan, atau berpengalaman

maka ia akan cenderung memiliki pengetahuan yang tinggi.

3) Pendidikan

Kegiatan pendidikan formal maupun informal berfokus pada proses

mengajar, dengan tujuan agar terjadi perubahan perilaku yaitu dari yang tidak

tahu menjadi tahu, dari yang tidak mengerti menjadi mengerti. Pendidikan

mempengaruhi proses belajar, maka semakin tinggi pendidikan seseorang

semakin mudah orang tersebut untuk menerima informasi. Pengetahuan

sangat
erat hubungannya dengan pendidikan dimana diharapkan seseorang dengan

pendidikan tinggi maka orang tersebut semakin luas pengetahuannya.

Semakin banyak aspek positif dari objek yang diketahui akan menumbuhkan

sikap yang semakin positif terhadap objek tersebut (Erfandi, 2009).

4) Pekerjaan

Pekerjaan merupakan suatu kegiatan atau aktivitas seseorang untuk

memperoleh penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Pekerjaan merupakan faktor yang mempengaruhi pengetahuan. Ditinjau dari

jenis pekerjaan yang sering berinteraksi dengan orang lain lebih banyak

pengetahuannya bila dibandingkan dengan orang tanpa ada interaksi dengan

orang lain. Pengalaman belajar dalam bekerja yang dikembangkan

memberikan pengetahuan dan keterampilan profesional serta pengalaman

belajar dalam bekerja akan dapat mengembangkan kemampuan dalam

mengambil keputusan yang merupakan keterpaduan menalar dalam secara

ilmiah dan etik (Rama, 2009).

5) Sumber Informasi

Sumber informasi adalah data yang diproses ke dalam suatu bentuk yang

mempunyai arti sebagai si penerima dan mempunyai nilai nyata dan mersa

bagi keputusan saat itu keputusan mendatang. Media yang digunakan sebagai

sumber informasi adalah sebagai berikut :

(1) Media cetak

(2) Media Elektronik

(3) Petugas kesehatan


Majunya teknologi akan tersedia bermacam-macam media massa

yang dapat mempengaruhi pengetahuan masyarakat tentang inovasi baru.

Sehingga sarana komunikasi sebagai bentuk media massa seperti radio,

televisi, surat kabar, majalah yang mempunyai pengaruh besar terhadap

pembentukan opini dan kepercayaan semua orang. Adanya informasi baru

mengenai suatu hal memberikan landasan kognitif baru terbentuknya

pengetahuan terhadap hal tersebut (Erfandi, 2009).

2.7.2 Sikap

1. Definisi

Sikap, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, diartikan sebagai

kesiapan untuk bertindak. Sedangkan menurut Ramdhani (2008) sikap

merupakan cara menempatkan atau membawa diri, merasakan, jalan pikiran dan

perilaku.

Menurut Azwar (2009) definisi dari sikap digolongkan menjadi tiga

kerangka pemikiran. Pertama, sikap merupakan bentuk reaksi atau evaluasi

perasaan. Dalam hal ini, sikap seseorang terhadap suatu objek tertentu adalah

memihak atau tidak memihak. Kedua, sikap merupakan kesiapan bereaksi

terhadap suatu objek tertentu. Ketiga, sikap merupakan konstelasi komponen

kognitif, afektif dan konatif yang saling berinteraksi satu sama lain (Wawan and

M, 2010).

2. Komponen Sikap

Menurut Sarwono, dkk (2009) terdapat tiga komponen sikap yang saling

menunjang satu sama lain, yaitu:

1) Komponen kognisi, berisi pikiran, ide-ide maupun pendapat yang berkenaan

dengan objek sikap. Pemikiran tersebut meliputi hal-hal yang diketahui


individu mengenai objek sikap, dapat berupa keyakinan atau tanggapan,

kesan. atribusi dan penilaian terhadap objek sikap.

2) Komponen afeksi, berhubungan dengan perasaan atau emosi individu yang

berupa senang atau tidak senang terhadap objek sikap.

3) Komponen konasi, yang merujuk kepada kecenderungan tindakan atau

respon individu terhadap objek sikap yang berasal dari masa lalu. Respon

yang dimaksud dapat berupa tindakan yang dapat diamati dan dapat berupa

niat atau intensi untuk melakukan perbuatan tertentu sehubungan dengan

objek sikap.

(Wawan and M, 2010).

3. Tingkatan Sikap

Menurut Notoatmodjo (2003), sikap dibagi menjadi beberapa tingkatan,

yaitu :

1) Menerima (Receiving) yaitu individu ingin dan memperhatikan stimulus yang

diberikan

2) Merespon (Responding), individu dapat memberikan jawaban apabila

ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan

3) Menghargai (Valuting), dengan mengajak orang lain untuk mengerjakan atau

mendiskusikan suatu masalah

4) Bertanggung jawab (Responsible) yaitu individu akan bertanggung jawab dan

siap menanggung segala resiko atas segala sesuatu yang telah dipilihnya

(Notoatmodjo, 2003)

4. Faktor yang Mempengaruhi Sikap

Menurut Azwar (2011), ada beberapa faktor yang mempengaruhi sikap,

antara lain yaitu :


1) Pengalaman pribadi, secara alami membentuk dan mempengaruhi

penghayatan kita terhadap stimulasi. Untuk dapat mempunyai tanggapan dan

penghayatan, seseorang harus mempunyai pengalaman yang berkaitan

dengan objek psikologi.

2) Pengaruh orang lain yang dianggap penting, cenderung memiliki sikap yang

kompromis atau searah dengan sikap orang yang dianggap penting.

3) Kebudayaan, mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap

seseorang.

4) Media massa, sebagai sarana komunikasi berupa media massa seperti televisi,

radio, surat kabar, majalah dan lain-lain mempunyai pengaruh besar terhadap

pembentukan opini dan kepercayaan seseorang.

5) Faktor emosional, bentuk sikap yang didasari oleh emosi yang berfungsi

sebagai semacam penyalur frustasi atau bentuk pengalihan bentuk

mekanisme pertahanan ego.

6) Lembaga pendidikan atau lembaga agama, sebagai suatu sistem yang

mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap dikarenakan keduanya

meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu.

7) Tingkat pendidikan, mempengaruhi tingkat pengetahuan pada individu yang

nantinya juga kan mempengaruhi pembentukan sikap pada individu karena

pengetahuan merupakan domain yang penting untuk pembentukan sikap.

5. Fungsi Sikap

Attkinson dkk., dikutip oleh Sunaryo (2004) dalam Maulana (2009)

menjelaskan bahwa sikap memiliki lima fungsi, yakni sebagai berikut:


1) Fungsi instrumental, sikap yang dikaitkan dengan alasan praktis atau manfaat

dan menggambarkan keadaan keinginannya atau tujuan.

2) Fungsi pertahanan ego, sikap yang diambil untuk melindungi diri dari

kecemasan atau ancaman harga dirinya.

3) Fungsi nilai ekspresi, sikap yang menunjukkan nilai yang ada pada dirinya.

Sistem nilai individu dapat dilihat dari sikap yang diambil individu

bersangkutan.

4) Fungsi pengetahuan, setiap individu memiliki motif untuk ingin tahu,

mengerti, ingin banyak mendapat pengalaman dan pengetahuan, yang

diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

5) Fungsi penyesuaian sosial, sikap yang diambil sebagai bentuk adaptasi

dengan lingkungannya.

(Maulana, 2009)

2.7.3 Praktik atau Pengalaman Sebelumnya

Setelah seseorang mengetahui stimulus atau objek kesehatan kemudian

memberikan penilaian atau pendapat terhadap apa yang diketahui, proses

selanjutnya individu tersebut akan melaksanakan atau mempraktikkan apa yang

diketahui atau disikapinya (Notoatmodjo, 2007). Praktik yang akan diteliti disini

adalah pengalaman individu sebagai tenaga kesehatan dalam segala upaya yang

berkaitan dengan penanggulangan bencana yang pernah dilakukan sebelumnya.

Pengalaman adalah pengamatan yang merupakan kombinasi pengelihatan,

penciuman, pendengaran serta pengalaman masa lalu (Notoatmodjo, 2010).

Pengalaman diartikan sebagai pengetahuan yang muncul dari kegiatan pribadi,

pengalaman sebelumnya dari keterampilan praktis (Notoatmodjo, 2007).


2.7.4 Sosiodemografi

Faktor sosiodemografi sebagai variabel yang dalam hal ini adalah data

suatu lingkup masyarakat mencakup demografi dan wilayah suatu masyarakat

berupa statistik. Komponen yang akan diteliti dari sosiodemografi disini adalah :

1. Umur

Secara fisiologi, pertumbuhan dan perkembangan seseorang dapat

digambarkan dengan penambahan usia. Umur adalah rentang kehidupan/lamanya

hidup yang diukur dengan tahun yang dihitung sejak dilahirkan. Ajzen (2005)

menyampaikan bahwa pekerja usia 20-30 tahun mempunyai motivasi kerja relatif

lebih rendah dibanding pekerja yang usianya lebih tua, karena pekerja yang lebih

muda belum berdasar pada landasan realitas, sehingga pekerja muda lebih sering

mengalami kekecewaan dalam bekerja. Hal ini dapat menyebabkan rendahnya

kinerja dan kepuasan kerja, semakin lanjut usia seseorang maka semakin

meningkat pula kedewasaan teknisnya serta kedewasaan psikologisnya yang akan

menunjukkan kematangan jiwanya. Usia semakin lanjut akan meningkatkan pula

kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan, mengendalikan emosi,

berpikir rasional, dan toleransi terhadap pandangan orang lain sehingga

berpengaruh juga terhadap peningkatan motivasinya (Nursalam, 2017).

2. Jenis kelamin

Pengertian jenis kelamin merupakan penyifatan atau pembagian dua jenis

kelamin manusia yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jenis

kelamin tertentu. Misalnya, bahwa manusia jenis kelamin laki-laki adalah

manusia yang memiliki penis, jakun, dan memproduksi sperma. Sementara

perempuan memiliki
alat reproduksi seperti rahim dan saluran untuk melahirkan, memproduksi sel

telur, memiliki vagina, dan mempunyai alat menyusui (Nursalam, 2017).

3. Tingkat pendidikan

Ajzen (2006) menyebutkan bahwa latar belakang pendidikan seseorang

akan mempengaruhi kemampuan pemenuhan kebutuhannya sesuai dengan tingkat

pemenuhan kebutuhan yang berbeda-beda yang pada akhirnya mempengaruhi

motivasi kerja seseorang. Dengan kata lain bahwa pekerja yang mempunyai latar

belakang pendidikan yang tinggi akan mewujudkan motivasi kerja yang berbeda

dengan pekerja berlatar belakang pendidikan rendah. Pekerja yang berpendidikan

tinggi memiliki motivasi yang lebih baik karena telah memiliki pengetahuan dan

wawasan yang lebih luas dibandingkan dengan pekerja yang memiliki pendidikan

yang lebih rendah (Nursalam, 2017). Menurut Notoatmodjo (2007) Pendidikan

adalah proses seseorang mengembangkan kemampuan, sikap, dan bentuk-bentuk

tingkah laku lainnya dalam masyarakat tempat ia hidup, proses sosial yakni orang

dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol, sehingga dia

dapat memperoleh atau mengalami perkembangan kemampuan sosial dan

kemampuan individu yang optimal (Notoatmodjo, 2007).

4. Pengalaman kerja tenaga kesehatan

Menurut Trijoko (1980), pengalaman kerja adalah pengetahuan atau

keterampilan yang telah diketahui dan dikuasai seseorang yang akibat dari

perbuatan atau pekerjaan yang telah dilakukan selama beberapa waktu tertentu.

Dengan pengalaman yang didapat seseorang akan lebih cakap dan terampil serta

mampu melaksanakan tugas pekerjaannya. Latihan berulang-ulang akan

memperkuat dan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan seseorang.


Ranupandojo (2002) mengemukakan pengalaman kerja adalah ukuran tentang

lama waktu atau masa kerja yang telah ditempuh seseorang untuk dapat

memahami tugas-tugas suatu pekerjaan dan telah dilaksanakan dengan baik.

Menurut Djauzak Ahmad (2004), faktor-faktor yang dapat mempengaruhi

pengalaman kerja seseorang adalah waktu (lama bertugas), frekuensi, jenis tugas,

penerapan dan hasil. (Malayu, 2007)

5. Pengalaman keterlibatan tenaga kesehatan dalam tanggap bencana

Pengalaman adalah pengamatan yang merupakan kombinasi penglihatan,

penciuman, pendengaran serta pengalaman masa lalu (Notoatmodjo, 2010).

Pengalaman diartikan sebagai pengetahuan yang muncul dari kegiatan pribadi,

praktik dari keterampilan praktis. Pengalaman merupakan peristiwa yang

tertangkap oleh panca indera dan tersimpan dalam memori. Pengalaman dapat

diperoleh ataupun dirasakan saat peristiwa baru saja terjadi maupun sudah lama

berlangsung. Pengalaman yang terjadi dapat diberikan kepada siapa saja untuk

digunakan dan menjadi pedoman serta pembelajaran manusia (Notoatmodjo,

2010). Pengalaman yang akan diteliti disini adalah pengalaman keterlibatan

individu sebagai tenaga kesehatan dalam segala upaya penanggulangan bencana

yang pernah terjadi sebelumnya.

6. Pelatihan manajemen bencana yang pernah diikuti oleh tenaga kesehatan

Pelatihan adalah proses pendidikan jangka pendek yang menggunakan

prosedur yang sistematis dan terorganisir. Selanjutnya, Udai menyatakan

Pelatihan dan pengembangan didefinisikan sebagai praktik pembelajaran yang

fokus adalah mengidentifikasi, menilai dan melalui pembelajaran yang

direncanakan membantu pengembangan kompetensi kunci yang memungkinkan

orang untuk melakukan


pekerjaan saat ini atau di masa depan. Definisi tersebut menggambarkan bahwa

pelatihan merupakan kegiatan yang dirancang untuk mengembangkan sumber

daya manusia melalui rangkaian kegiatan identifikasi, pengkajian serta proses

belajar yang terencana. Hal ini dilakukan melalui upaya untuk membantu

mengembangkan kemampuan yang diperlukan agar dapat melaksanakan tugas,

baik sekarang maupun di masa yang akan datang. Ini berarti bahwa pelatihan

dapat dijadikan sebagai sarana yang berfungsi untuk memperbaiki masalah

kinerja organisasi, seperti efektivitas, efisiensi dan produktivitas. Pelatihan juga

merupakan upaya pembelajaran yang diselenggarakan oleh organisasi baik

pemerintah, maupun lembaga swadaya masyarakat ataupun perusahaan dengan

tujuan untuk memenuhi kebutuhan organisasi dan mencapai tujuan organisasi

(Malayu, 2003). Pelatihan sebagai bagian dari pendidikan yang mengandung

proses belajar untuk memperoleh dan meningkatkan keterampilan, waktu yang

relatif singkat dan metode yang lebih mengutamakan praktek daripada teori. Hal

yang diteliti disini hanya keikutsertaan individu sebagai tenaga kesehatan dalam

suatu pelatihan tentang manajemen bencana atau penanggulangan bencana, tidak

termasuk pelatihan pembelajaran terkait tema kesehatan yang lainnya.

(Malayu, 2007)

7. Tenaga kesehatan bertugas dalam Tim Gerak Cepat (TGC)

Pada saat terjadinya bencana perlu adanya mobilisasi SDM kesehatan yang

tergabung dalam suatu Tim Penanggulangan Krisis di puskesmas yaitu Tim

Gerak Cepat (TGC). Tim Gerak Cepat merupakan tim yang diharapkan dapat

segera bergerak dalam waktu 0-24 jam setelah ada informasi kejadian bencana

ataupun KLB (Menteri Kesehatan RI, 2006). Tim ini terdiri dari tenaga medis

dan tenaga
70
IR – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

kesehatan lainnya. Hal yang di teliti adalah keterlibatan tenaga kesehatan yang

menjadi responden dalam tim ini.

2.8 Keaslian Penelitian

Tabel 2.1 Keaslian Penelitian Gambaran Kesiapan Tenaga Kesehatan Dalam


Manajemen Bencana di Puskesmas Wilayah Rawan Bencana di Kabupaten
Sumbawa Barat
NO JUDUL METODE
PENELITIAN HASIL PENELITIAN
1. Analysis of Desain : Hasil menunjukkan
Emergency Health Cross bahwa defisit serius ada
Care Workforce and Sectional dalam pengetahuan,
Service Readiness for Sampel : keterampilan, dan
a Mass Casualty Penelitian ini persepsi diri HCP
Event in the Republic melibatkan 385 kemampuan untuk
of Ireland (Analisis responden, berpartisipasi dalam
Tenaga Kerja perawat terdaftar MCE skala besar. Hasil
Perawatan Kesehatan (43,4%), juga menunjukkan basis
Darurat dan Kesiapan paramedis pengetahuan yang buruk
Layanan untuk Acara (37,9%), dokter dari jurusan yang ada
Massal Casualty di (10,1%), dan rencana tanggap darurat.
Republik Irlandia). administrator / Gap : Penelitian ini
Veenema, T.G., manajer (8,6%) dilakukan dalam jangka
Boland, F., Patton, Variabel independen waktu dan
D., : Tingkat Populasi tertentu
, Moore, Z.,Schneider pengetahuan tentang sehingga kemungkinan
Firestone, S. (2018) MCE dan tidak umum bagi
Keywords: health pengetahuan tentang responden darurat
care providers, major kegiatan respon lainnya di luar Republik
emergency, klinis dan penilaian Irlandia.
prehospital care, klinis kompetensi diri
preparedness, Variabel dependen :
workforce Kesiapan layanan
development tenaga kesehatan
(Scopus) perawatan darurat
Instrumen :
Qualtrics® Research
Suite
Analisis :
Chi-square test,
Fisher exact test, dan
Kruskal-Wallis test

2. Disaster Education In e Acute Care Setting: A


And Preparedness Th Cross Sectional Survey Of

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


71
IR – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Desain : H pengalaman bencana
Cross Sectional a sebelumnya (19,9%).
Sampel : s
i
l

m
e
n
u
n
j
u
k
k
a
n

b
a
h
w
a

h
a
n
y
a

s
e
d
i
k
i
t

y
a
n
g

m
e
m
i
l
i
k
i

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


71
IR – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

NO JUDUL METODE HASIL PENELITIAN


PENELITIAN O ducati e
p on r
e (Pendi tr
r dikan a
a dan i
t Kesiap n
i an i
n Benca n
g na g
Dalam ,
T Pengat D
h uran is
e Peraw a
a atan st
t Akut: e
r Survei r
e Cross p
Sectio r
N nal e
u Terhad p
r ap
a
s Kondis
r
e i
e
' Peraw
s d
at
D n
Bedah
i e
Penget
s s
ahuan
a dan s,
s Pendid O
t ikan). p
e Sonne e
r born, r
K O., a
n Miller, ti
o C., n
w Head, g
l L., t
e Cross, h
d R. e
g (2018) a
e Keywo tr
rds e
A Disast n
n er u
d educat r
ion, s
E Disast e

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


72
IR – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

s, Penelitian dan parametric test Ma p end


Emer ini (t-test) yor o ah
gency melibatkan itas t dan
nurse 53 perawat res e sur
s di ruang pon n vei
(Scop operasi den s ber
us) Variabel sad i sifa
independen ar t
: aka b suk
Pengetahua n i arel
n dan ben a a.
Pendidikan can s Ta
perawat a ngg
bedah den s apa
Variabel gan a n
dependen : keb m sur
Pendidikan ijak p vei
dan an l han
kesiapsiaga ma i ya
an bencana naj n mel
pada em g apo
perawatan en rka
akut (ke m n
Instrumen : bija e bag
K kan n aim
u Ko g ana
i de i niat
s Bro n per
i wn) g aw
o (94 a at
n ,1 t unt
e %), uk
r dari t me
gari i nan
A s n gga
n pel g pi
a apo k dan
l ran, a buk
i dan t an
s tep bag
i at r aim
s tria e ana
se s me
(80 p rek
:
,4 o a
non-
%). n tela
parametric
Gap s h
test (Chi-
: ben
square test)
Ada r ar-

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


73
IR – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

benar i adian Pen a ben


menanggap kej bencana. eliti n can
an a a.
3. Indon ) Desain : ini Lamanya
esian K Penelitian ini men s pengalaman
emer ey menggunakan unju e ke
gency w deskriptif, non- kka c per
nurse or interventional, n a aw
s’ d dengan pendekatan bah r ata
prepa E Cross Sectional wa a n
redne m Sampel : pera tid
ss to er Penelitian ini wat p ak
respo ge melibatkan 120 gaw o ber
nd to nc perawat bagian at s ko
disast y gawat darurat di 4 daru i rel
er: A nu Rumah Sakit di rat t asi
descri rs daerah Jawa me i de
ptive in Tengah mili f ng
surve g ki an
Variabel
y (S ting t ke
independen : Latar
(Kesi ci kat e sia
belakang demografi
apsiag en kesi r psi
Variabel
aan ce apsi k ag
dependen :
peraw Di agaa a aa
Kesiapsiagaan
at re n i n
darura ct) perawat gawat benc t be
t darurat
ana nc
Indon an
yan d
esia a.
g e
untuk Ga
baik n
mena p:
. g
nggap me
Pen a
i tod
gala n
benca e
na: man
benc k ya
Sebua
ana e ng
h
sebe s dig
survei
lum i un
deskri
nya a ak
ptif).
dan p an
Azka
pela s me
Fathi
tiha i mu
yatir
n a ng
Rizqi
llaha, atau g kin
Jessic pen a ka
a didi a n
Suna kan n per
(2018 benc aw

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


74
IR – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

at darurat k ampuan HASIL n


untuk e mereka PENELITIAN ke
menilai m sia
JUDUL pel tanpa
independen t- pa
PENELITIAN test,pengamatan
uji korelasi, n
dala oneway
obyektif oleh un
m Analisis
orangANOVA
lain. tu
men danPenyelidikan k
ang frekuensi, be
gapi konten, dan nc
benc jumlah an
ana pelatihan a
Instr bencana di
ume yang ka
n: dilakukan la
Kuis responden ng
ione masih an
r kurang pe
(inst sehingga ra
rum hasilnya wa
en tidak benar- t
diter benar dapat ga
jem digunakan wa
ahka sebagai t
n dasar untuk da
ke mengemban ru
Bah gkan rat
asa program .
Indo pendidikan
nesi yang
a bertujuan
men untuk
ggu meningkatka
naka 4. Disa g (
n ster needs K
tekn prep among e
ik ared comm si
bac ness
unity a
k- a health p
tran n nurse si
slati d coordi a
on nators g
Bris l
in a
lin e
South a
Ana a
Sulaw n
lisis r
esi b
: n
Indone e
Sam i
sia n
n

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


75
IR – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

cana in Desain : Ada sekitar a be


dan at Penelitian ini 6,5% r nc
kebut or menggunakan res an
uhan , deskriptif dengan po s a
belaja Le pendekatan Cross nd e se
r di ar Sectional en p ba
antara ni Sampel : me e ga
koord ng Penelitian ini ng r i
inator ne melibatkan 254 an t m
peraw ed koordinator gg i et
at s CHN ap g od
keseh (S (Perkesmas) di kes a e
atan ci 24 kota / iap ter
masya en kabupaten di an d ba
rakat be a ik
ce Sulawesi
di nc r un
Di Selatan Provinsi
Sulaw an i tu
re Sulawesi
esi a k
ct) Variabel
Selata independen : me r m
n Pengetahuan, rek e en
Indon keterampilan, a s ca
esia). saa p pa
kebutuhan
Moh. t o i
belajar/PDM
Syafa ini n ke
Variabel
r le d sia
dependen :
Sangk ma e ps
Kesiapsiagaan
ala, h; n ia
dalam menanggapi
Marie 84, ga
bencana Instrumen
Franc 6% m an
: sed
es e be
Kuision an
Gerdt n nc
er g;
z g an
Analisi da
(2017 a a
s: n
) n ya
statistik deskriptif 8,9
Keyw g ng
seperti frekuensi, %
ords: g ef
persentase dan me
Disas a ek
ukuran tendensi nil
ter p tif
sentral. ai
prepa .
kes p G
redne
iap e ap
ss,
an l :
Com me a Pe
munit rek t ne
y a i liti
healt ku h an
h at. a ini
nurse Se n m
coord kit en

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


76
IR – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

ggunakan
metode
pengambil
an sampel
berurutan
untuk
pengumpu
lan data
yang
dilakukan
selama
seminar
internasio
nal dan
lokakarya
kesehatan
masyaraka
t
keperawat
an yang
diselengga
rakan oleh
Program
Studi
Keperawa
tan
UNHAS,
Dikes
Provinsi
Sulawesi
Selatan
dan
Universita
s
Indonesia
Hyogo
Jepang
pada 13-
14
September

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


73
IR – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

NO JUDUL METODE HASIL PENELITIAN


PENELITIAN
Median dan 2011, sehingga mungkin
pengukuran Inter- pesertanya bukan hanya
Quartile Range (IQR) koordinator CHN,tetapi
lebih tepat karena juga perwakilannya
data tidak terdistribusi sehingga kemungkinan
secara normal terjadi bias pada kriteria
respondennya.
5. Ka n m
jia g an
n K a
Pe ot En
ran a gk
Te M en
na a g
ga n (2
Ke a 01
se d 7)
hat o. K
an St at
Da e a
la vi ku
m y nc
Ke a i:
sia nt Ke
psi i sia
ag T psi
aa at ag
n ui aa
Be l, n,
nc C Te
an hr na
a ei ga
Ba s ke
nji y se
r e ha
di K ta
Wi . n,
lay F. Be
ah M nc
Ke a an
rja n a
Pu d ba
sk a nji
es gi r
ma , K
s S ey
Tu ul w
mi a or
nti e ds

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


74
IR – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

: Desain : n data, tahap reduksi


H a g
Prepar Metode data, tahap as p a
edness, penelitian penyajian dan tahap
il n
Health ini kualitatif penarikan y d di
manpo deskriptif kesimpulan a a b
wer, dengan in n l e
Flood depth g a k
disaste interview di m al
r Sampel : d i
( kepala a k p
I puskesmas, p e el
P dokter at s at
I pelayanan k i ih
) poliklinik a a a
umum, n p n
perawat , te s b
dan n i er
sanitarian a a h
Variabel g g u
independen : a a b
Ketersediaa k a u
n es n n
peralatan,pen e g
gembang an h p a
SDM,koordi at e n
nasi dengan a n d
pihak n a e
terkait,keter di n n
sediaan dana P g g
Variabel us a a
dependen : k n n
Peran tenaga es a p
kesehatan m n e
dalam as n
kesiapsiagaa T b a
n banjir u e n
Instrumen : m n g
Peneliti in c g
sendiri ti a ul
dengan n n a
instrumen g a n
tambahan su g
berupa d b a
daftar a a n
pertanyaan h n b
dan alat le j e
perekam bi i n
suara h r c
Analisis : ta a
Tahap n d n
pengumpula g e a
g n w
SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI
75
IR – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

alaupun tan gan


dengan da- kompetensi
peralatan tan nya.
yang da Gap:
seadanya. aka Penelitian
Kesimpulan n ini hanya
dari terj bertujuan
penelitian adi mengkaji
ini adalah nya peran
tenaga ban tenaga
kesehatan jir, kesehatan
di dan dalam
Puskesmas me kesiapsiag
Tuminting mb aan
sudah erik bencana
cukup siap an tanpa
dalam pel mengukur
penanggula aya sejauh
ngan nan mana
bencana kes pengetahua
banjir eha n, sikap
karena telah tan dan
dibekali terh keterampil
dengan ada an tenaga
pelatihan p kesehatan
kebencanaa kor dalam
n sehingga ban penanggul
cepat ses angan
tanggap uai bencana.
menyikapi den

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


74
IR – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

NO JUDUL METODE HASIL PENELITIAN


PENELITIAN 6. Fact Hye-
Desain :
ors Young
Metode
Influ Park,
penelitian
enci Ji-Soo
korelasional
ng Kimdengan
Disa (2017)
pendekatan
ster Keywo
Cross
Nur rdsSectional
sing Emerg
Sampel :
Cor ency
Penelitian
e nurses
dilakukan
Com , pada 231
pete Disast
perawat
ncie er,darurat yang
s Of Nursin
bekerja di
g core
12 rumah
Eme
compe
sakit di
rgen
tencies
Korea
cy
(Scopu
Selatan
Nur
s) Variabel
ses
independen :
(Fak
Pengalaman,
tor-
sikap,
Fakt
bencana,
or
pengetahuan
Yan , dan
g kompetensi
Me inti
mpe keperawatan
ngar bencana
uhi Variabel
Kom dependen :
pete Kompetensi
nsi utama
Uta perawat
ma darurat
Pera dalam
wat keperawatan
Daru bencana
rat Instrumen :
Dala Kuision
m er
Kep Analisi
eraw s:
atan Analisi
Ben s
cana regresi
). bergan

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


75
IR – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

da P kompete itu a dak


e nsi inti me s me
n keperawa nin i mu
g tan gka ng
al bencana, tka s kin
a diikuti n a kan
m oleh kes a unt
a pengetah iap t uk
n uan sia me
te tentang gaa i nen
rk bencana. n n tuk
ai Kekuat ben i an
t an can pen
b penjelas a s yeb
e dari me a ab
n faktor- rek j dan
faktor a. a da
c
ini Ga mp
a
adalah p: s ak
n
25,6%, Pen e dar
a
yang eliti h i
m
secara an i fak
er
statistik ini n tor-
u
signifik han g fak
p
an (F = ya g tor
a
12,189, men a yan
k
p gga g
a
<0,001) mba t diu
n
. Hal rkan i ji.
fa
ini situ
kt
or menunju
kkan 7. Disa d (
p
bahwa ster g M
al
kompete Man e a
in
nsi inti age , n
g
keperawa men Attitud aj
b
tan t: e And e
er Eme
bencana Practi m
p rgen
perawat ces e
e cy
darurat The n
n Nur
dapat East B
g sing
ditingkat Coast e
ar And
kan Regio n
u Med
melalui n c
h ical
program Hospit a
p Pers
pendidik als Of n
a onne
an dan Malay a:
d l’skn
pelatihan sia P
a owle

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


76
IR – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

engeta Desain : Sebagian A ergen l


huan, Metode besar ., cy i
Sikap, penelitian personel O nursin d
dan analitik memiliki s g, a
Prakti dengan pengetahu m Emer t
k pendekatan an dan a gency i
Peraw Cross praktik n medic o
at Sectional yang , al n
Darur Sampel : N perso
memadai,
at dan 194 perawat . nnel, O
dan
Tenag darurat dan N Knowl f
digambar
a tenaga . edge,
kan sikap A
Medis medis (staf S Attitu
perawat, yang . de
Ruma positif
dokter dan ( and Q
h terhadap
asisten 2 practi u
petugas manajeme 0 ces e
medis) n 1 (Scop s
Variabel bencana. 6 us) t
independen Diantara ) i
: Latar faktor K o
sosiodem e n
sosiodemog ografi y n
rafi yang w a
Variabel dipelajari, o i
dependen : jenis r r
d e
kelamin
dan s
: T
tingkat
D o
pendidika
i
n secara M
s
signifikan e
a 8. D
terkait a
s e
dengan t s
v
peningkat e e u
an r l r
penilaian m o e
pengetahu a p
an n m I
JUDUL HASIL a e r
PENELITIAN PENELITIAN g n a
Saki st sia) e t n
t D . m A i
Wil i Aha e n a
aya M yali n d n
h al mu t, N
East a din, E V u
Coa y N. m a r

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


77
IR – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

ses’ T Pengetahuan, dependen : d am


Kno a sikap dan Pengemban a res
wled v praktik dalam gan dan n po
ge, a validasi
manajemen ns
n, kuisioner
Attitu bencana p be
H Instrumen :
de Instrumen : r nc
.,
And Kuisioner K a an
M
Pract Analisis : u a
e k
ice uji Chi-square i da
n t
Rega dan Fisher untuk s
at i n
rding inferensial i
i, k pel
Disa (bivariat) o
. ati
ster digunakan untuk n
e ha
Prep memeriksa
r P n
ared asosiasi antara
e be
ness variabel dan
A n nc
(Peng untuk
membandingkan n g an
emba
pengetahuan, a a a
ngan
sikap dan praktik l l ya
Dan
responden i a ng
Valid
s m dii
asi
i a ku
Kuisi
s n ti
oner
Untu me
: k mi
k
Meng e lik
ukur r i
Peng j hu
etahu a bu
an, , ng
Sikap Desain : an
Cross Sectional k ya
dan
Prakt Sampel : e ng
112 perawat di sig
ek t
tiga pusat nif
Pera e
pendidikan publik
wat- r ika
yang berafiliasi
Pera l n
dengan
wat i de
Universitas Ilmu
di b ng
Kedokteran Ilam,
Iran a an
Iran.
Meng t nil
Variabel
enai a ai
independen :
Kesia n pr
Pengetahuan,
psiag akt
sikap dan praktik
aan d ik
dalam
Benc a ya
kesiapsiagaan
ana). l ng
bencana Variabel

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


78
IR – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

lebih ya menunju d a n
tinggi. ng kkan JUDUL HASIL
Tak satu di internal PENELI
pun dari uji yang METODE TIAN
faktor . dapat PENELITIA
sosiodem K diterima N
ografi ue konsiste W ords: rses
yang si nsi. . Disast for
dipelajari on Koefisie , er dis
memiliki er n A manag aste
z ement, r
efek pada se korelasi
a Emerg res
hasil ca intraclas
d ency pon
penilaian ra s
i prepar ses
sikap. ke menggun , edness in
Gap: se akan A , Tai
Sehubung lu Testretes ., Factor wa
an ru t metode S analys n:
dengan ha adalah a is, A
desain n 0,82. y Iran, cro
penelitian m Total e Scale ss-
yang en varians h develo sect
menggun gg adalah m pment ion
akan un 67,57% i (Scopu al
crosssecti ak . r s) stu
onal yang an Instrum i dy
membata ko en , (Ke
si hasil, ns memili K siap
9. R
karena ist ki . an
e
hanya en reliabili , pera
a
menggam si tas S wat
d
a rum
barkan in yang i
h ah
situasi te memua n
e saki
saat ini rn skan e
b t
saja al dan s
i unt
sehingga Al indeks s
, uk
tidak ph validita o
A resp
memungk a s dan f
. ons
inkan Cr dapat h
( ben
untuk on diguna o
2 can
menentuk ba kan s
0 a di
p
an ch untuk 1 Tai
i
penyebab ad mengu 6 wan
t
dan al kur ) :
a
dampak ah pengeta K stud
l
dari 0, huan e i
n
faktor- 78 perawat y cros
u
faktor 5, , sikap w s-

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


79
IR – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

sectio nget uji Chi- indepe pr


nal). ahua square test, ndent, ak
Wen- 10. Pe n Comparative genera tik
Chii rc Tent Fit Index lisasi te
Tzeng ept ang (CFI) dan model
io nt
, Man Root Mean linier an
Hsin- ns ajem (GLM)
Square Error g
Pei Of en , Uji
of ke
Feng, Kn chi-
Approximatio sia
Wei- ow square
n (RMSEA) psi
Tung led dan
Chen ge Wald ag
g, Of chi- aa
Chia- Di square n
Huei sa be
Lin, ste nc
Li- r Desain an
Chi M : a.
Chian an Desain : Metod G
g, Lu ag Cross e ap
Pai, em Sectional peneli :
Chun- ent Sampel : tian a
Lan A 311 perawat deskri m
Lee mo di rumah ptif bi
(2016 ng sakit militer kuanti gu
) Mi di Taiwan. tatif,
lit ita
Variabel non-
ar s
Keyw independen : eksper
y Persiapan m
ords: imen
An individu, Samp en
Conti
d perlindungan el : ge
nuing
Ci diri, tanggap Penelit na
educa
vil darurat dan ian i
tion,
ia manajemen dilaku pe
disast
n klinis kan ra
er,
Nu Variabel pada n
nurse
rse dependen : 384 pe
s,
s Kesiapan peraw ra
nursi
In perawat RS at wa
ng
Sa dalam yang t
educa ud tanggap bekerj Ira
tion i bencana a di 6 n
and Ar Instrume da
readi ab n: la
ness ia Kuisione m
(Scien (Pe r
ceDir rse m
Analisis
ect) psi an
:
Pe aje
Uji t-tes
m

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


80
IR – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

en pe ngan
bencana ra mengguna
dan w kan
kurangnya at convenien
kompetens , ce
i mereka pe sampling,
untuk n penelitian
memberik ga ini
an la dibatasi
perawatan m untuk
dalam an merekrut
situasi da peserta di
bencana la satu
mungkin m rumah
mempenga ta sakit, yang
ruhi n menimbul
tanggapan g kan bias
mereka ga dan tidak
terhadap p berlaku
item be umum
kuesioner. nc untuk
Hasil an semua
penelitian a perawat di
menunjuk da Taiwan.
kan n Perawat
Mayoritas pe di Arab
perawat n Saudi
rumah ga memiliki
sakit la pengetah
menunjuk m uan
kan an moderat
kesiapan pe tentang
yang ra kesiapsia
buruk w gaan
untuk at bencana.
respons an Namun,
bencana. da perawat
Skor ru di rumah
empat ra sakit
militer
domain t/
memiliki
yang in
lebih
paling te
banyak
terkait ns
pengetah
dengan if.
uan
pelatihan Ga
daripada
terkait p:
bencana De

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


77
IR – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

NO JUDUL METODE HASIL PENELITIAN


PENELITIAN B bdulell
rumah sakit
e ah Al
militer dan
n Thobai
pemerintah
c ty, di Saudi
a Virgini
Arabia.
n a Variabel
a Plumm
independen
d er, :
i Kelli
Pengetahua
K Innes,
n, dan
a Beverl
keterampila
l ey n dalam
a Copnel
manajemen
n l bencana
g (2014)
Variabel
a Keywo
dependen :
n rds Persepsi
P Disast
perawat
e er; militer dan
r Nursin
sipil tentang
a g, manajemen
w Manabencana
a gemen
Instrum
t t; en :
M Saudi
Kuision
il Arabia
er
it , Analisis
e Milita
:
r ry, SPSS versi
d Knowl
20, Likert
a edgescale
n (Scien
S ceDire
i ct)
p
il
D
i
A
r
a
b
S
a
u
d
i)
.
A

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


78
IR – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

mereka k akit yang


yang a berpartisi
bekerja di r pasi
rumah e dalam
sakit n penelitian
pemerinta a . Jadi,
han. h persepsi
Mayorita a pegawai,
s perawat n pendidik
mempero y keperawa
leh a tan dan
pengetah te masyarak
uan dan r at tidak
keterampi k dieksplor
lan ai asi dalam
mereka t penelitian
dari p ini dan
latihan a persepsi
bencana. d mereka
Gap: a tentang
hasilnya r tingkat
tidak u pengetah
dapat m uan para
dilihat a peserta
secara h mungkin
umum, s

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


IR – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

BAB 3

KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN

3.1 Kerangka konsep penelitian

MANAJEMEN BENCANA
( Tahap Pra bencana)

Mitigasi Bencana (Mitigation)

Analisis kapasitas Sumber daya tenaga kesehatan Data sosiodemografi tenaga


untuk kesehatan:
mengidentifikasi
Tenaga kesehatan di Puskesmas: 1. Umur
kapasitas dan
sumber daya yang 1. Pengetahuan (pengetahuan umum 2. Jenis kelamin
ada untuk tentang bencana dan manajemen 3. Tingkat pendidikan
mengurangi tingkat bencana) 4. Pengalaman kerja
risiko atau dampak 2. Sikap (pola pikir, pendapat, 5. Pengalaman
dari bencana kepercayaan, perasaan dan kesediaan keterlibatan dalam
dalam kesiapsiagaan bencana) tanggap bencana
3. Praktik atau pengalaman sebelumnya 6. Pelatihan manajemen
Kesiapan (Pengalaman keterlibatan individu bencana yang pernah
manajemen dalam tanggap bencana sebelumnya, diikuti
operasi perencanaan manajemen bencana
penanggulangan 7. Bertugas dalam Tim Gerak
yang ada di institusi atau di luar
bencana institusi berdasarkan apa yang
diketahui selama ini, persiapan
individu untuk terlibat dalam
tanggap bencana, pilihan tempat
bertugas saat bencana, pelatihan
manajemen bencana yang teratur
dilaksanakan oleh institusi. dan
kerjasama dengan pihak luar institusi
dalam pelaksanaannya)

Ket : = Diteliti = Tidak diteliti


,

Gambar 3.1 Kerangka konseptual gambaran kesiapan tenaga kesehatan dalam


manajemen bencana di puskesmas wilayah rawan bencana di
Kabupaten Sumbawa Barat.

78
79
IR – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Dari gambar di atas dapat dijelaskan bahwa kegiatan-kegiatan dari

manajemen bencana diantaranya yaitu Pencegahan (Prevention), Mitigasi

Bencana (Mitigation), Kesiapsiagaan (Preparedness), Peringatan Dini (Early

Warning), Tanggap Darurat (Response), Bantuan Darurat (Relief), Pemulihan

(Recovery), Rehabilitasi (Rehabilitation), Rekonstruksi (Reconstruction).

Bagian dari mitigasi sendiri adalah pencegahan dan pengurangan dampak,

dimana bisa dimulai dengan tahap analisis resiko yaitu dengan mengidentifikasi

kapasitas dan sumber daya yang ada untuk mengurangi tingkat risiko atau

dampak dari bencana. Sumber daya di bidang kesehatan merupakan salah satu

yang sangat penting untuk dianalisis, khususnya tentang sumber daya manusia

yakni tenaga kesehatan. Puskesmas sebagai pusat layanan kesehatan pada

tingkat dasar dalam upaya pengurangan resiko bencana harus disiapkan dengan

disaster plan yang didukung dengan peran serta tenaga kesehatan dalam

manajemen bencana terutama pada daerah yang memang diketahui sebagai

daerah rawan bencana. Hal-hal yang harus dianalisis adalah tingkat

pengetahuan, sikap, dan praktik tenaga kesehatan di Puskesmas dalam

manajemen bencana, sehingga hasil dari analisis tersebut dapat digunakan

sebagai dasar perencanaan bagi Puskesmas dan Pemerintah untuk meningkatkan

kompetensi dari tenaga kesehatan yang ada.

3.2 Hipotesis Penelitian

H1 :

1. Ada hubungan latar belakang sosiodemografi dengan pengetahuan tenaga

kesehatan tentang manajemen bencana di puskesmas wilayah rawan

bencana di Kabupaten Sumbawa Barat.

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


2. Ada hubungan latar belakang sosiodemografi dengan sikap tenaga

kesehatan terhadap manajemen bencana di puskesmas wilayah rawan

bencana di Kabupaten Sumbawa Barat.

3. Ada hubungan latar belakang sosiodemografi dengan praktik atau

pengalaman sebelumnya tenaga kesehatan dalam manajemen bencana di

puskesmas wilayah rawan bencana di Kabupaten Sumbawa Barat.


BAB 4
METODE PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional yang menekankan

waktu pengukuran atau observasi data variabel independen dan dependen hanya

satu kali dalam satu waktu (Nursalam, 2017). Setiap objek penelitian hanya

diobservasi satu kali dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau

variabel subjek pada saat pemeriksaan dan tidak ada tindak lanjut.

4.2 Populasi, Sampel dan Teknik Sampel

4.2.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah tenaga kesehatan yang bertugas di 9

Puskesmas di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten sumbawa Barat. Data

sekunder Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat menunjukkan jumlah

tenaga kesehatan yang bertugas di Puskesmas setempat sebanyak 408 orang, di

antaranya 23 orang dokter, 200 orang perawat, 185 orang bidan.

4.2.2 Sampel dan Besar Sampel

Penentuan sampel penelitian ini menggunakan bantuan Raosoft-Sample

Calculator (http://www.raosoft.com/samplesize.html) dengan kriteria penjelasan

sebagai berikut:

1. Margin of error (α) 5%,

2. Confidence Interval (CI) 95%,

3. Population size (N) 408

81
82

4. Sample size (n) 199.

Didapatkan hasil estimasi besar sampel dalam penelitian ini adalah 199

tenaga kesehatan dari total populasi 408 tenaga kesehatan yang bekerja di

Puskesmas Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat. Dalam

pelaksanaan pengambilan data, jumlah sampel menjadi 211 responden atas

permintaan dari responden sendiri. Penelitian ini mengeksklusikan tenaga

kesehatan yang non fungsional dan/atau struktural.

4.2.3 Teknik Sampling

Penelitian ini menggunakan Cluster Sampling, mengelompokkan sampel

berdasarkan wilayah atau lokasi populasi (Nursalam, 2017), sebagai berikut:

1. Puskesmas Poto Tano


n1 = (199/408) x (Populasi total di Puskesmas Poto Tano)
n1 = (199/408) x (45)
n1 = 22
2. Puskesmas Seteluk
n2 = (199/408) x (Populasi total di Puskesmas Seteluk)
n2 = (199/408) x (67)
n2 = 33
3. Puskesmas Taliwang
n3 = (199/408) x (Populasi total di Puskesmas Taliwang)
n3 = (199/408) x (80)
n3 = 39
4. Puskesmas Brang Ene
n4 = (199/408) x (Populasi total di Puskesmas Brang Ene)
n4 = (199/408) x (30)
n4 = 15
5. Puskesmas Brang Rea
n5 = (199/408) x (Populasi total di Puskesmas Brang Rea)
n5 = (199/408) x (53)
n5 = 26
6. Puskesmas Jereweh
n6 = (199/408) x (Populasi total di Puskesmas Jereweh)
n6 = (199/408) x (40)

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


n6 = 19
7. Puskesmas Maluk
n7 = (199/408) x (Populasi total di Puskesmas Maluk)
n7 = (199/408) x (39)
n7 = 19
8. Puskesmas Sekongkang
n8 = (199/408) x (Populasi total di Puskesmas Sekongkang)
n8 = (199/408) x (29)
n8 = 14
9. Puskesmas Tongo
n9 = (199/408) x (Populasi total di Puskesmas Tongo)
n9 = (199/408) x (25)
n9 = 12

∑n = 199 (estimasi) + 12 responden (permintaan sendiri) = 211

4.3 Variabel Penelitian dan Definisi operasional

Penelitian ini melibatkan variabel independen dan variabel dependen

sebagai berikut :

4.3.1 Variabel Independen (variabel bebas)

Variabel independen dalam penelitian ini adalah latar belakang

sosiodemografi tenaga kesehatan.

4.3.2 Variabel Dependen (variabel terikat)

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah pengetahuan, sikap, dan

praktik/pengalaman sebelumnya dalam manajemen bencana.

4.3.3 Definisi Operasional

Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik yang diamati

dari sesuatu yang didefinisikan tersebut (Nursalam, 2017).


84

Tabel 4.1 Definisi Operasional Gambaran Kesiapan Tenaga Kesehatan Dalam Manajemen Bencana di Puskesmas Wilayah Rawan Bencana
di Kabupaten Sumbawa Barat
Variabel Definisi Operasional Parameter Alat Ukur Skala Skor
Variabel
independen
Latar belakang
sosiodemografi :
1. Umur Rentang kehidupan/lamanya hidup Usia responden Kuisioner Ordinal Remaja Akhir : 17-25
yang diukur dengan tahun yang tahun; Dewasa Awal :
dihitung sejak dilahirkan. 26-35 tahun; Dewasa
Akhir : 36-45 tahun;
Lansia awal 46-55
tahun
2. Jenis Pembagian dua jenis kelamin Jenis kelamin responden Kuisioner Nominal Laki-laki/perempuan
kelamin manusia yang ditentukan secara
biologis yang melekat pada jenis
kelamin tertentu.
3. Tingkat Proses seseorang mengembangkan Jenjang pendidikan terakhir Kuisioner Ordinal SPK/Diploma/Sarjana/
pendidikan kemampuan, sikap, dan bentuk- responden Magister : pendidikan
bentuk tingkah laku lainnya akan memberikan
sehingga dia dapat memperoleh pengetahuan sehingga
atau mengalami perkembangan terjadi peningkatan
kemampuan sosial dan kemampuan perubahan perilaku
individu yang optimal. yang positif
4. Pengalaman Keterampilan yang telah diketahui Pengalaman yang didapat Kuisioner Nominal Tempat bertugas dan
kerja dan dikuasai seseorang yang akibat seseorang akan lebih cakap lama bertugas
dari perbuatan atau pekerjaan yang dan terampil serta mampu

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


85

Variabel Definisi Operasional Parameter Alat Ukur Skala Skor


telah dilakukan selama beberapa melaksanakan tugas
waktu tertentu. pekerjaannya
5. Pengalaman Pengamatan yang merupakan Pernah atau tidak pernah Kuisioner Nominal Ya/Tidak
keterlibatan kombinasi penglihatan, penciuman, terlibat, jenis bencana dan
dalam pendengaran serta pengalaman tahun kejadian bencana
tanggap masa lalu untuk digunakan dan
bencana menjadi pedoman serta
pembelajaran manusia.
6. Pelatihan Proses pendidikan jangka pendek Pernah atau tidak pernah Kuisioner Nominal Ya/Tidak
manajemen yang menggunakan prosedur yang mendapatkan pelatihan
bencana sistematis dan terorganisir manajemen bencana, jenis
yang pernah yang direncanakan membantu dan metode pelatihan yang
diikuti pengembangan kompetensi kunci pernah di dapatkan (Latihan
yang memungkinkan orang untuk Table Top/Simulasi
melakukan pekerjaan saat ini atau lapangan/Latihan
di masa depan fungsional/Latihan Drill
Bencana)
7. Bertugas Keterlibatan dan peran aktif dalam Menjadi bagian atau tidak Kuisioner Nominal Ya/Tidak
dalam Tim Tim Gerak Cepat (TGC) yang dalam Tim Gerak Cepat
Gerak Cepat bertugas dan berfungsi dalam (TGC) di institusi tempat
(TGC) penanggulangan bencana dan KLB bekerja
Variabel
dependen
1. Pengetahuan Suatu proses dari responden yang Definisi, klasifikasi, fase Kuisioner Ordinal Dikategorikan menjadi
didapatkan dari sekedar tahu, dan kegiatannya terhadap Baik : 76% - 100%
kemudian memahami dan dampak bencana Cukup : 51% - 75%
Kurang : 50%

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


Variabel Definisi Operasional Parameter Alat Ukur Skala Skor
menerjemahkannya menurut
kemampuan individu
2. Sikap Cara menempatkan atau membawa Sikap responden pada Kuisioner Nominal Dikategorikan menjadi
diri, merasakan, jalan pikiran dan keterlibatan, fase dan :
perilaku tenaga kesehatan dalam kegiatannya pada tanggap Positif 51% - 100%
penanggulangan bencana bencana. Negatif 0% - 50%
Pernyataan Positif
SS : 5, S : 5, TP : 3, TS
: 2, STS : 1
Pernyataan Negatif
SS : 1, S : 2, TP : 3, TS
: 4, STS : 5
3. Praktik atau Praktik yang diteliti merupakan Pengalaman keterlibatan Kuisioner Ordinal Dikategorikan menjadi
pengalaman pengalaman atau pendapat atau individu dalam tanggap Baik : 76% - 100%
sebelumnya pemahaman atas pelaksanaan dari bencana sebelumnya, Cukup : 51% - 75%
dalam manajemen bencana yang ada serta perencanaan manajemen Kurang : 50%
penanggulan kesiapan individu sebagai petugas bencana yang ada di
gan bencana kesehatan dalam tanggap bencana. institusi atau di luar institusi
berdasarkan apa yang
diketahui selama ini,
persiapan individu untuk
terlibat dalam tanggap
bencana, pilihan tempat
bertugas saat bencana,
pelatihan manajemen
bencana yang teratur
dilaksanakan oleh institusi.
87

4.4 Teknik Pengumpulan Data

4.4.1 Instrumen Penelitian

Untuk penelitian ini, instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data studi

adalah KAP DM Questionnaire yaitu kuisioner yang dikembangkan oleh

Nurul’Ain Ahayalimudin (2012) pada penelitiannya yang berjudul “Disaster

Management: A Study on Knowledge, Attitude and Practices of Emergency

Nurses and Community Health Nurses in Selangor”. Kuisioner tersebut

digunakan untuk mengeksplorasi pengetahuan, sikap, dan praktik pada staf

perawat, dokter dan asisten petugas medis dalam penanggulangan bencana.

Penggunaan instrumen penelitian ini telah mendapatkan izin dari Nurul’Ain

Ahayalimudin sebagai peneliti sebelumnya (lihat lampiran 6). Kuesioner ini

memiliki empat domain: data sosiodemografi, pengetahuan, sikap, dan praktik.

Distribusi kuesioner melibatkan 7-item data sosiodemografi, 17-item

pengetahuan, 11-item sikap dan 14-item praktik. Kuesioner bagian data

sosiodemografi dengan pilihan jawaban diisi sesuai data dasar dari responden

mencakup aspek umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pengalaman kerja,

pengalaman keterlibatan dalam tanggap bencana, pelatihan manajemen bencana

yang pernah diikuti, dan keterlibatan dalam Tim Gerak Cepat (TGC). Untuk

kuisioner bagian pengetahuan dengan pilihan jawaban ya-tidak-pasti mencakup

aspek mulai dari definisi, klasifikasi, fase dan kegiatannya terhadap dampak

bencana. Sebuah Skala 5-Likert (setuju-tidak setuju-tidak pasti) digunakan untuk

menentukan sikap mereka pada keterlibatan, fase dan kegiatannya pada tanggap

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


bencana. Item untuk bagian latihan terdiri jawaban ya-tidak-pasti. Skor semua

domain adalah set ke 60% cut-off point untuk membedakan yang memadai,

tidak memadai untuk pengetahuan dan latihan, dan positif, negatif untuk sikap.

4.4.2 Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian

1. Uji Validitas

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkatan-tingkatan

kevaliditan atau kesahihan suatu instrumen yang valid akan mempunyai

validitas tinggi, sehingga sebuah instrumen dikatakan valid apa yang

diinginkan. Pengujian validitas dapat menggunakan rumus Product Moment

(Arikunto, 2010).

Kuesioner yang dikembangkan oleh Ahayalimudin ini telah menjalani

pengujian validitas dan reliabilitas dan diteliti oleh para ahli dari kedokteran

bencana, kedokteran kesehatan masyarakat dan keperawatan. Validitas telah

diuji melalui studi percontohan dari populasi perawat yang sama. Pengujian

validitas dilakukan pada 20 orang dilakukan pada teman-teman mahasiswa

Alih Jenis Angkatan B20 Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga yang

bukan merupakan populasi penelitian, dengan menggunakan SPSS dengan

besar r tabel ditentukan sesuai jumlah responden dan diuji dengan tingkat

signifikan 5% (0,05). Item instrumen dianggap valid atau relevan jika r hitung

> r tabel yang telah ditentukan. Data yang diolah dengan menggunakan uji

analisis statistik Chi-Square.


2. Uji Reliabilitas

Reliabilitas menunjukan bahwa suatu instrumen cukup dapat digunakan

sebagai alat pengumpulan data karena instumen tersebut sudah baik. Apabila

datanya benar dan sesuai dengan kenyataan maka beberapa kali pun diambil

akan tetap sama (Arikunto, 2010). Alat pengukur dianggap reliabel jika

digunakan 2 kali atau lebih untuk mengukur gejala yang sama dan hasilnya

relatif konsisten. Uji reliabilitas dilakukan dengan metode Cronbach’alpha 0-

1, jika skala ini dikelompokan dalam empat kelas dengan rank yang sama,

maka ukuran kemantapan alpha dapat diinterprestasikan sebagai berikut :

1. Nilai Cronbach’alpha > 0,09 maka reliabilitas sempurna


2. Nilai Cronbach’alpha 0,70 – 0,90 maka reliabilitas tinggi
3. Nilai Cronbach’alpha 0,50 – 0,70 maka reliabilitas moderat
4. Nilai Cronbach’alpha < 0,50 maka relabilitas rendah
Uji reliabilitas pada kuisioner ini dilakukan setelah melakukan uji validitas.

Untuk hasil uji reliabilitas dari Ahayalimudin, kuesioner ini dinilai dengan

menggunakan konsistensi internal setelah studi percontohan dilakukan. Alfa

Cronbach pada pengetahuan dan praktik muncul di atas 0,7, dan 0,660 untuk

sikap. Semua pertanyaan pada kuisioner ini telah dinyatakan valid dan reliabel

sehingga kuisioner tersebut dapat dipakai dalam penelitian yang dilakukan.


4.5 Lokasi dan Waktu Penelitian

4.5.1 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan di semua Puskesmas (9) yang ada di wilayah

kerja Dinas Kesehatan Kab. Sumbawa Barat dengan pertimbangan Puskesmas sebagai

pusat layanan kesehatan pada tingkat dasar dalam upaya pengurangan resiko bencana

harus disiapkan dengan disaster plan yang didukung dengan peran serta tenaga

kesehatan dalam manajemen bencana mengingat wilayah Kabupaten Sumbawa

termasuk daerah rawan bencana.

4.5.2 Waktu Pengambilan Data

Pelaksanaan pengambilan data dilaksanakan selama 30 hari di bulan Desember 2018.

4.6 Prosedur dan Pengumpulan Data

1. Mengurus surat izin permohonan pengambilan data penelitian ke bagian Akademik

Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga, kemudian menyerahkan surat

permohonan tersebut ke Badan Pembangunan Daerah Kabupaten Sumbawa Barat

untuk mendapatkan izin penelitian di wilayah tersebut. Surat kemudian diteruskan

ke Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat. Setelah mendapat izin dari Dinas

Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat, kemudian menyerahkan surat tembusan izin

penelitian kepada semua Kepala Puskesmas yang berada di wilayah kerja Dinas

Kesehatan Kab. Sumbawa Barat. Peneliti menjelaskan langkah dan tujuan

penelitian kepada Kepala Puskesmas.


2. Pihak puskesmas memberikan izin dan selanjutnya peneliti berkoordinasi dengan

Penanggung Jawab yang di usulkan oleh Kepala Puskesmas yang kemudian

bersedia menjadi pendamping penelitian. Peneliti kemudian meminta data daftar

tenaga kesehatan yang bertugas di puskesmas tersebut (dokter, perawat, dan bidan).

Peneliti kemudian menjelaskan langkah dan tujuan penelitian serta cara pengisian

kuisioner dalam bentuk Google Form kepada pendamping penelitian.

3. Estimasi jumlah sampel berdasarkan penghitungan dengan menggunakan bantuan

Raosoft-Sample Calculator yaitu sebanyak 199 responden, dengan rincian 22 orang

di Puskesmas Poto Tano, 33 orang di Puskesmas Seteluk, 39 orang di Puskesmas

Taliwang, 15 orang di Puskesmas Brang Ene, 26 orang di Puskesmas Brang Rea, 19

orang di Puskesmas Jereweh, 19 orang di Puskesmas Maluk, 14 orang di

Puskesmas Sekongkang, dan 12 orang di Puskesmas Tongo.

4. Berdasarkan hasil cluster sampling yang telah ditentukan kemudian responden

dipilih random, sehingga tiap tenaga kesehatan di puskesmas lokasi penelitian

memiliki kemungkinan dan kesempatan yang sama untuk terpilih menjadi

responden. Pemilihan responden di setiap puskesmas dilakukan dengan cara

mengambil kertas yang tertulis nomor urut nama tenaga kesehatan (sesuai dengan

list yang diberikan sebelumnya oleh pendamping penelitian) yang diletakkan dalam

suatu wadah. Jumlah pengambilan kertas sesuai hasil cluster sampling. Akan tetapi,

di beberapa Puskesmas terdapat penambahan jumlah responden karena beberapa

tenaga kesehatan yang awalnya tidak terpilih mengajukan diri sebagai responden

untuk berpartisipasi dalam penelitian ini, dengan rincian penambahan responden

sebagai berikut Puskesmas Poto Tano 5 responden, Puskesmas Seteluk 3 responden,

Puskesmas Taliwang 3
responden, dan Puskesmas Brang Rea 1 responden. Sehingga total sampel yang

awalnya diperkirakan 199 responden yang akan terlibat dalam penelitian ini

menjadi 211 responden.

5. Setelah peneliti mendapat persetujuan dari 211 responden yang terpilih, peneliti

memberikan kuisioner dalam bentuk tautan yang merujuk pada halaman google

form yang berisi penjelasan penelitian, informed consent, dan formulir kuisioner

yang berisi pertanyaan/soal.

6. Responden diminta untuk membaca lembar penjelasan penelitian yang sudah

tercantum di section 1 google form, serta mengisi lembar pernyataan persetujuan

ikut penelitian untuk melanjutkan ke section berikutnya. Apabila responden

bersedia untuk ikut penelitian maka responden dapat memilih option “bersedia”

pada lembar persetujuan responden dan bisa melanjutkan ke section berikutnya

untuk menjawab pertanyaan kuisioner. Kuisioner diisi sesuai dengan kondisi yang

dialami responden saat itu. Tanggapan secara otomatis akan diterima peneliti secara

Online.

7. Tanggapan yang masuk kemudian akan direkapitulasi sesuai dengan puskesmas asal

masing-masing responden, jika jumlah tanggapan yang masuk masih kurang dari

jumlah responden seharusnya dari masing-masing puskesmas, maka dilakukan

rekapitulasi sesuai alamat email responden untuk bisa dikomunikasikan dan

dikoordinasikan kembali kepada pendamping penelitian.


4.7 Analisis Data

Secara garis besar analisis data meliputi langkah persiapan dan tabulasi data.

Proses yang dilakukan setelah pengumpulan data adalah pengolahan dan analisis data

dengan tahapan sebagai berikut coding, editing, entry, dan tabulating (Arikunto,

2010).

1. Coding, suatu usaha untuk memberikan kode terhadap jawaban yang ada pada

kuisioner bertujuan untuk mempermudah dalam menganalisa data dan dapat

mempercepat proses memasukan data.

2. Editing, pemeriksaan kelengkapan isi kuisioner atau dengan kata lain memastikan

semua pertanyaan telah dijawab oleh responden. Editing dilakukan di lapangan

sebelum proses pemasukan data, agar data yang salah atau meragukan masih dapat

ditelusur kepada responden/ informan yang bersangkutan.

3. Entry, proses pemasukan data yakni berupa jawaban dari masing-masing responden

dalam bentuk kode ke dalam program atau software komputer. Setelah dilakukan

editing data tersebut dimasukkan kedalam program yang digunakan untuk

mengolah data menggunakan komputer dan perangkat lunak yang sesuai, data yang

sudah dimasukan kemudian dicek kebenarannya.

4. Tabulating, merupakan penyusunan data atau pengelompokan data dengan tujuan

supaya mudah dalam dilakukan penjumlahan, disusun dan ditata agar dapat

disajikan dan dianalisis.

4.7.1 Penerapan Analisis Data

Analisis data merupakan bagian yang sangat penting untuk mencapai tujuan

pokok penelitian, yaitu menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian yang


mengungkap
fenomena. Data mentah yang didapat, tidak dapat menggambarkan informasi yang

diinginkan untuk menjawab masalah penelitian (Nursalam, 2017). Data yang telah

dikumpulkan kemudian dikelompokan dan diolah dengan menggunakan uji analisis

statistik Chi-Square untuk melihat asosiasi. Uji normalitas ini digunakan untuk

mengetahui adanya korelasi atau hubungan, dikatakan berdistribusi normal jika hasil

penelitian didapatkan nilai α ≤ 0.05, yang artinya ada hubungan antara latar belakang

demografi dengan pengetahuan, sikap dan praktik tenaga kesehatan dalam

manajemen bencana.

4.8 Kerangka Kerja (Frame Work)

Penelitian korelasional mengkaji hubungan antar variabel. Kerangka kerja

menurut Nursalam (2016), merupakan hubungan antara variabel yang diamati

dan diukur melalui penelitian yang dilakukan.

Populasi : Tenaga kesehatan di Puskesmas wilayah kerja Dinas Kesehatan Kab.


Sumbawa Barat sebanyak 408 orang
Probabilty sampling jenis
Cluster sampling

puskesmas. Berdasarkan penghitungan sampel Raosoft-Sample Calculator didapatkan estimasi jumlah responden sebanyak 199 oran

Pengumpulan data dengan menggunakan KAP DM Questionnaire pada 211 responden

Variabel Independen: Latar belakang


Variabel sosiodemografi
Dependen: Tingkat pengetahuan, sikap dan praktik tenaga kesehatan dalam menaj

Analisis data menggunakan uji analisis statistik Chi-Square

Penyajian data dan hasil penelitian


Gambar 4.1 Kerangka kerja penelitian gambaran kesiapan tenaga kesehatan dalam
manajemen bencana di puskesmas wilayah rawan bencana di
Kabupaten Sumbawa Barat.

4.9 Etika Penelitian

Sebelum melakukan penelitian, peneliti perlu mendapat persetujuan dari tempat

penelitian. Karena itu sebelumnya peneliti mengajukan permohonan untuk mendapatkan

rekomendasi dari Dekan Program Studi Keperawatan Universitas Airlangga. Peneliti

juga melakukan uji etik terlebih dahulu ke bagian Komite Etik Fakultas Keperawatan

Universitas Airlangga, dan kemudian dinyatakan telah lulus uji etik dengan nomor

sertifikat etik No. 1228-KEPK (lihat lampiran 2). Setelah persetujuan diperoleh,

penelitian segera dilakukan dengan menekankan masalah etik, meliputi :

4.9.1 Lembar persetujuan responden

Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dengan

responden penelitian (Hidayat, 2007). Informed consent diberikan sebelum peneliti

memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden yang telah memenuhi

kriteria dan akan diteliti, bila subyek menolak maka peneliti tidak dapat memaksa

dan menghormati hak – haknya.

4.9.2 Kerahasian Nama (Anonimity)

Merupakan masalah etika dalam penelitian keperawatan dengan cara tidak

memberikan nama responden pada lembar alat ukur, hanya menuliskan kode lembar

pengumpulan data.
4.9.3 Kerahasian informasi (confidentiality)

Merupakan masalah etika dengan menjamin kerahasian dari hasil penelitian,

baik informasi maupun masalah – masalah lainnya. Semua informasi yang telah

dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti.

4.9.4 Berbuat baik (beneficience)

Dalam azas berbuat baik (beneficience), penelitian ini memiliki manfaat

dalam nilai sosial dan nilai ilmiah.

1. Nilai sosial

Penelitian ini dapat memberikan informasi sebagai dasar rekomendasi

perencanaan peningkatan kompetensi dari tenaga kesehatan, dimana Puskesmas

sebagai pusat layanan kesehatan pada tingkat dasar dalam upaya pengurangan

resiko bencana harus disiapkan dengan disaster plan yang didukung dengan peran

serta tenaga kesehatan dalam manajemen bencana mengingat wilayah Kabupaten

Sumbawa Barat termasuk wilayah rawan bencana.

2. Nilai ilmiah

Penelitian ini mengukur tingkat pengetahuan, sikap, dan praktik/pengalaman

sebelumnya tenaga kesehatan dalam manajemen bencana di puskesmas sehingga

tingkat kesiapan tenaga kesehatan dapat dievaluasi.


4.9.5 Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan adalah kelemahan atau hambatan dalam penelitian yang

dilakukan. Pada penelitian ini, keterbatasan yang dihadapi oleh peneliti :

1. Penelitian ini tidak melibatkan proporsi jenis kelamin (laki-laki dan perempuan)

yang berimbang. Hal ini mengakibatkan besarnya resiko bias terhadap interpretasi

uji dan validitas kesimpulan statistik yang diambil.

2. Keterbatasan pemanfaatan data yang dikumpulkan melalui kuisioner tertutup

merekomendasikan penelitian selanjutnya untuk menggunakan pendekatan yang

lebih komprehensif dalam menggali pengetahuan responden tentang manajemen

bencana.
BAB 5

HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

Bab ini menjabarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang gambaran

kesiapan tenaga kesehatan dalam manajemen bencana di Puskesmas wilayah rawan

bencana di Kabupaten Sumbawa Barat yang dilaksanakan mulai tanggal 28

November 2018 sampai dengan 28 Desember 2018 di 9 (sembilan) Puskesmas

wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat.

Data yang telah diperoleh disajikan dalam bentuk tabel dan narasi, terdiri dari

gambaran umum lokasi penelitian, data umum dan data khusus. Data umum tentang

sosiodemografi meliputi data usia, jenis kelamin, tingkat pengetahuan, tempat

bekerja, lama bertugas, pernah terlibat dalam kegiatan tanggap darurat bencana,

pernah pelatihan tentang manajemen bencana, dan termasuk dalam tim Gerak Cepat

(TGC) di Puskesmas atau tidak. Data khusus menggambarkan variabel yang diukur

menggunakan kuisioner yang disebarkan dalam bentuk tautan yang merujuk pada

halaman Google Form sebagai media utama pengumpulan data penelitian.

5.1 Hasil Penelitian

Hasil penelitian akan menjelaskan tentang gambaran umum lokasi penelitian,

data umum dan data khusus penelitian.

5.1.1 Gambaran umum lokasi penelitian

Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa

98
99

Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI)

menunjukkan bahwa Kabupaten Sumbawa Barat merupakan wilayah dengan resiko

tinggi terhadap bencana gempa bumi. Tidak ditemukan adanya bukti ilmiah yang

menunjukkan bahwa tingkat kesiapan dan kompetensi manajemen bencana tenaga

kesehatan yang bekerja di puskesmas di Kabupaten Sumbawa Barat pernah dievaluasi.

Kabupaten Sumbawa Barat adalah satu dari 5 kabupaten yang ada di pulau

terluas di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Di sisi barat dan utara kabupaten berbatasan

langsung dengan Samudra Indonesia. Kabupaten Sumbawa Barat berbatasan dengan

Kabupaten Sumbawa di sebelah timur. Luas Kabupaten Sumbawa Barat sebesar

1.849,02 km yang terbagi 9 kecamatan dengan luas wilayah yang bervariasi.

Penelitian ini melibatkan 9 puskesmas Wilayah Kerja Dinas Kesehatan yang

berada di 9 kecamatan di Kabupaten Sumbawa Barat. Responden penelitian ini di

antaranya dokter, perawat dan bidan yang bertugas di puskesmas sebanyak 211 orang

yang telah menyetujui informed consent sebelum pengumpulan data.

5.1.2 DATA UMUM

Data umum menggambarkan tentang sosiodemografi meliputi data usia, jenis

kelamin, tingkat pengetahuan, tempat bekerja, lama bertugas, pernah terlibat dalam

kegiatan tanggap darurat bencana, pernah pelatihan tentang manajemen bencana, dan

termasuk dalam tim Gerak Cepat (TGC) di Puskesmas atau tidak. Distribusi data

umum responden dapat dilihat pada tabel 5.1.

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


Tabel 5.1 Data Sosiodemografi Tenaga Kesehatan di Puskesmas Wilayah Rawan
Bencana di Kabupaten Sumbawa Barat

No. Karakteristik n (%)


Sosiodemografi
1. Umur
<25 Thn 41 (19,4)
26-35 Thn 134 (63,5)
36-45 Thn 32 (15,2)
46-55 Thn 3 (1,4)
56-65 Thn 1 (0,5)
Total 211 (100)
2. Jenis kelamin
Laki-laki 48 (22,7)
Perempuan 163 (77,3)
Total 211 (100)
3. Tingkat Pendidikan
SPK 4 (1,9)
Diploma 132 (62,6)
Sarjana 75 (35,5)
Total 211 (100)
4. Tempat Bekerja
Puskesmas Poto Tano 27 (12,8)
Puskesmas Seteluk 36 (17,1)
Puskesmas Taliwang 42 (19,9)
Puskesmas Brang Ene 15 (7,1)
Puskesmas Brang Rea 27 (12,8)
Puskesmas Jereweh 19 (9)
Puskesmas Maluk 19 (9)
Puskesmas Sekongkang 14 (6,6)
Puskesmas Tongo 12 (5,7)
Total 100 (100)
5. Lama Bertugas
<1 Thn 27 (12,8)
1-5 Thn 88 (41,7)
6-10 Thn 64 (30,3)
>10 Thn 32 (15,2)
Total 211 (100)
6. Pernah Terlibat Dalam
Kegiatan Tanggap Darurat
Bencana
Ya 122 (57,8)
Tidak 89 (42,2)
Total 211(100)
No. Karakteristik n (%)
Sosiodemografi
7. Pernah Pelatihan Tentang
Manajemen Bencana
Ya 48 (22,7)
Tidak 163 (77,3)
Total 211(100)
8. Termasuk Dalam Tim
Gerak Cepat (TGC)
di Puskesmas
Ya 56 (26,5)
Tidak 155 (73,5)
Total 211 (100)

Secara umum, sebagian besar responden penelitian ini berusia 26-35 tahun

(63,5%) dengan tendensi jenis kelamin perempuan yang lebih banyak (77,3%)

dibandingkan responden laki-laki, tingkat pendidikan tertinggi responden Diploma 3

(62,6%), masa kerja kurang dari lima tahun (54,5%), pernah terlibat dalam kegiatan

tanggap darurat bencana (57,8%), tidak pernah berpartisipasi sebagai peserta

pelatihan manajemen bencana (77,3%), dan tidak termasuk dalam Tim Gerak Cepat

bencana di institusi kerjanya (73,5%).

Secara spesifik, sebagian besar responden (n=122) pernah terlibat dalam

kegiatan tanggap darurat bencana sebelumnya, termasuk di antaranya pada pasca

bencana gempa bumi, banjir, dan vulkanik.. Keterlibatan mereka bervariasi, sebagian

besar di antaranya pada kejadian kurang dari satu tahun sebelum pengumpulan data

(83,6%), dan sisanya pada bencana yang terjadi pada 5 hingga 10 tahun sebelumnya

(tabel 5.2).
Tabel 5.2 Data Spesifik Jenis Bencana dan Saat Terjadinya Bencana yang Pernah
Melibatkan Tenaga Kesehatan di Puskesmas Wilayah Rawan Bencana
Dalam Kegiatan Tanggap Darurat Bencana di Kabupaten Sumbawa Barat
No. Karakteristik Bencana N %
1 Jenis Bencana
Banjir 24 19,7
Gempa Bumi 97 79,5
Letusan Gunung Api 1 0,8
Bencana Alam Lainnya 0 0
Total 122 100
2 Saat Terjadinya Bencana
< 1 Tahun 102 83,6
1-2 Tahun Yang Lalu 5 4,1
2-5 T1a0hun Yang Lalu 10 8,2
5-10 Tahun Yang Lalu 4 3,3
>10 Tahun Yang Lalu 1 0,8
Total 122 100

Berdasarkan jenis pelatihan yang diikuti, sebagian besar responden pernah

berpartisipasi pada jenis simulasi lapangan (77,1%) dan sebagian kecil lainnya

mengikuti pelatihan fungsional, drill bencana, dan Table Top (tabel 5.3).

Sedangkan pada data riwayat responden yang pernah mengikuti pelatihan

tentang manajemen bencana, dijabarkan juga jenis pelatihan manajemen bencana

yang pernah diikuti. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel 5.3.

Tabel 5.3 Data Jenis Pelatihan Manajemen Bencana Yang Diikuti Tenaga Kesehatan
di Puskesmas Wilayah Rawan Bencana di Kabupaten Sumbawa Barat

No. Karakteristik Pelatihan Manajemen N %


Bencana
1 Jenis Pelatihan Manajemen Bencana
Yang Pernah Diikuti
Latihan Table Top 3 6,3
Simulasi Lapangan 37 77,1
Latihan Fungsional 4 8,3
Latihan Drill Bencana 4 8,3
Total 48 100
5.1.3 Data khusus

Data khusus akan disajikan data yang berkaitan dengan variabel yang diteliti

yaitu pengetahuan, sikap, dan praktik/pengalaman sebelumnya serta hubungan dari

data sosiodemografi dengan ketiga variabel dependen tersebut.

1. Variabel Dependen Pengetahuan, Sikap, dan Praktik/Pengalaman Sebelumnya

Tabel 5.4 Distribusi Variabel Dependen Pengetahuan, Sikap, dan


Praktik/Pengalaman Sebelumnya Tenaga Kesehatan Dalam Manajemen
Bencana di Puskesmas Wilayah Rawan Bencana di Kabupaten Sumbawa
Barat
No Karakteristik N %
1. Pengetahuan
Baik 141 66,8
Cukup 59 28
Kurang 11 5,2
Total 211 100
2. Sikap
Positif 96 45,5
Negatif 115 54,5
211 100
3. Praktik/Pengalaman
Sebelumnya
Baik 7 3,3
Cukup 120 56,9
Kurang 84 39,8
Total 211 100

Responden penelitian ini sebagian besar memiliki pengetahuan yang baik

tentang manajemen bencana. Hanya sebagian kecil di antaranya yang memiliki

kekurangan dalam pemahaman manajemen tersebut. Lebih dari setengah total

reponden memiliki sikap yang negatif terhadap upaya manajemen bencana. Hal ini

bermakna bahwa tenaga kesehatan yang ada di Kabupaten Sumbawa Barat masih

belum memahami pentingnya peran serta tenaga kesehatan dalam upaya manajemen

penanggulangan
bencana untuk mengurangi dampak dari kejadian bencana di wilayah rawan bencana.

Sedangkan pada variabel praktik/pengalaman sebelumnya, sebagian besar responden

memiliki pemahaman yang cukup baik. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian

besar tenaga kesehatan di puskesmas Kabupaten Sumbawa Barat telah memiliki

pengalaman sebelumnya yang memadai dalam berbagai kegiatan yang terkait dengan

manajemen bencana.

2. Hubungan Data Sosiodemografi dengan Pengetahuan, Sikap, dan

Praktik/Pengalaman Sebelumnya

1) Hubungan data sosiodemografi dengan pengetahuan

Tabel 5.5 Hubungan Data Sosiodemografi Dengan Pengetahuan Tenaga Kesehatan


Tentang Manajemen Bencana di Puskesmas Wilayah Rawan Bencana di
Kabupaten Sumbawa Barat

PENGETAHUAN
No Karakteristik Responden n Persentase
BAIK CUKUP KURANG (%)
n % N % N %
1 Umur <25 Tahun 25 17,7 15 25,4 1 9,1 41 19,4
26-35 Tahun 86 61 41 69,5 7 63,6 134 63,5
36-45 Tahun 26 18,5 3 5,1 3 27,3 32 15,2
46-55 Tahun 3 2,1 0 0 0 0 3 1,4
56-65 Tahun 1 0,7 0 0 0 0 1 0,5
Total 141 100 59 100 11 100 211 100
X² value 10,378a
p value 0,240
2 Jenis kelamin Laki-laki 38 27 10 17 0 0 48 22,7
Perempuan 103 73 49 83 11 100 163 77,3
Total 141 100 59 100 11 100 211 100
X² value 5,785a
p value 0,055
3 Tingkat SPK 4 2,8 0 0 0 0 4 1,9
Pendidikan DIPLOMA 79 56,1 43 72,9 10 90,9 132 62,6
SARJANA 58 41,1 16 27,1 1 9,1 75 35,5
Total 141 100 59 100 11 100 211 100
X² value 9,949a
p value 0,041
105

PENGETAHUAN
No Karakteristik Responden n Persentase
BAIK CUKUP KURANG (%)
n % n % N %
4 Tempat Puskesmas Poto Tano 15 10,6 12 20,3 0 0 27 12,8
Bekerja Puskesmas Seteluk 24 17,0 11 18,6 1 9,1 36 17,1
Puskesmas Taliwang 33 23,4 7 11,9 2 18,2 42 19,9
Puskesmas Brang Ene 10 7,1 5 8,5 0 0 15 7,1
Puskesmas Brang Rea 18 12,8 8 13,5 1 9,1 27 12,8
Puskesmas Jereweh 14 9,9 4 6,8 1 9,1 19 9,0
Puskesmas Maluk 17 12,1 2 3,4 0 0 19 9,0
Puskesmas Sekongkang 8 5,7 6 10,2 0 0 14 6,6
Puskesmas Tongo 2 1,4 4 6,8 6 54,5 12 5,7
Total 141 100 59 100 11 100 211 100
X² value 66,745a
p value 0,000
5 Lama <1 Tahun 18 12,8 8 13,5 1 9,1 27 12,8
Bertugas 1-5 Tahun 54 38,3 28 47,5 6 54,5 88 41,7
6-10 Tahun 45 31,9 17 28,8 2 18,2 64 30,3
11-15 Tahun 18 12,8 5 8,5 1 9,1 24 11,4
16-20 Tahun 3 2,1 1 1,7 0 0 4 2
21-25 Tahun 1 0,7 0 0 1 9,1 2 0,9
> 25 Tahun 2 1,4 0 0 0 0 2 0,9
Total 141 100 59 100 11 100 211 100
X² value 12,457a
p value 0,410
6 Pernah Terlibat Ya 88 62,4 31 52,5 3 27,3 122 57,8
Kegiatan
Tanggap Darurat
Bencana
Tidak 53 37,6 28 47,5 8 72,7 89 42,2
Total 141 100 59 100 11 100 211 100
X² value 6,101a
p value 0,047
7 Pernah Ya 37 26,2 11 18,6 0 0 48 22,7
Pelatihan
Manajemen
Bencana
Tidak 104 73,8 48 81,4 11 100 163 77,3

Total 141 100 59 100 11 100 211 100

X² value 4,783a
p value 0,091

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


PENGETAHUAN
No Karakteristik Responden n Persentase
BAIK CUKUP KURANG (%)
n % n % N %
8 Termasuk Dalam Ya 43 30,5 12 20,3 1 9,1 56 26,5
Tim Gerak Cepat
(TGC) di
Puskesmas
Tidak 98 69,5 47 79,7 10 90,9 155 73,5
Total 141 100 59 100 11 100 211 100
X² value 4,014a
p value 0,134
*nilai signifikan p<0,05, tidak signifikan p>0,05

Hasil uji statistik Chi-Square dengan nilai signifikan p> 0,05 menjelaskan

bahwa umur dan pengetahuan responden tidak memiliki hubungan yang signifikan.

Dominasi responden berjenis kelamin perempuan menjelaskan mengapa mayoritas

responden perempuan memiliki pengatahuan yang lebih baik jika dibandingkan pada

responden laki-laki. Namun, uji statistik pada penelitian ini menunjukkan tidak

adanya hubungan antara jenis kelamin dengan pengetahuan responden (Tabel 5.5).

Berdasarkan karakteristik jenjang pendidikan terakhir, responden berlatar

SPK memiliki pengetahuan yang baik, dan responden berlatar Diploma dan Sarjana

sebagian besar memiliki pengetahuan baik. Pada subvariabel tempat bekerja dan

pengetahuan tenaga kesehatan, penelitian menunjukkan bahwa tenaga kerja yang

bekerja di lokasi akses informasi, sarana prasarana, dan fasilitas penunjang kerja

yang baik memiliki pengetahuan yang memadai tentang manajemen bencana.

Hubungan ini dikuatkan dengan nilai p<0,05 yang menjelaskan bahwa tempat

bekerja dan pengetahuan responden memiliki hubungan yang signifikan.


107

Pada subvariabel lama bekerja, kepesertaan responden dalam pelatihan

sebelumnya, dan keterlibatan responden dalam Tim Gerak Cepat (TGC) tidak

menunjukkan adanya hubungan dengan pengetahuannya. Asumsi peneliti, hal

tersebut dimungkinkan karena tenaga kesehatan yang termasuk dalam TGC di

puskesmas di kabupaten Sumbawa Barat tidak dibekali dengan pengetahuan yang

memadai dan di pilih tidak berdasarkan kompetensi yang dimilikinya. Hal tersebut

juga karena upaya peningkatan kompetensi untuk tenaga kesehatan di puskesmas

dalam menghadapi situasi bencana belum optimal.

2) Hubungan data sosiodemografi dengan sikap

Tabel 5.6 Hubungan Data Sosiodemografi Dengan Sikap Tenaga Kesehatan


Terhadap Manajemen Bencana di Puskesmas Wilayah Rawan Bencana di
Kabupaten Sumbawa Barat

SIKAP
No Karakteristik Responden N Persentase
POSITIF NEGATIF (%)
N % N %
1 Umur <25 Tahun 22 22,9 19 16,5 41 19,4
26-35 Tahun 59 61,5 75 65,2 134 63,5
36-45 Tahun 14 14,6 18 15,7 32 15,2
46-55 Tahun 1 1,0 2 1,7 3 1,4
56-65 Tahun 0 0 1 0,9 1 0,5
Total 96 100 115 100 211 100
X² value 2,271a
p value 0,686
2 Jenis kelamin Laki-laki 26 27,1 22 19,1 48 22,7
Perempuan 70 72,9 93 80,9 163 77,3
Total 96 100 115 100 211 100
X² value 1,883a
p value 0,170
3 Tingkat SPK 2 2,1 2 1,7 4 1,9
Pendidikan DIPLOMA 50 52,1 82 71,3 132 62,6
SARJANA 44 45,8 31 27,0 75 35,5
Total 96 100 115 100 211 100
X² value 8,368a
p value 0,015

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


108

SIKAP
No Karakteristik Responden N Persentase
POSITIF NEGATIF (%)
N % N %
4 Tempat Puskesmas Poto Tano 13 13,5 14 12,2 27 12,8
Bekerja Puskesmas Seteluk 24 25,0 12 10,4 36 17,1
Puskesmas Taliwang 18 18,8 24 20,8 42 19,9
Puskesmas Brang Ene 5 5,2 10 8,7 15 7,1
Puskesmas Brang Rea 9 9,4 18 15,7 27 12,8
Puskesmas Jereweh 13 13,5 6 5,2 19 9,0
Puskesmas Maluk 9 9,4 10 8,7 19 9,0
Puskesmas Sekongkang 4 4,2 10 8,7 14 6,6
Puskesmas Tongo 1 1,0 11 9,6 12 5,7
Total 96 100 115 100 211 100
X² value 25,561a
p value 0,006
5 Lama <1 Tahun 17 17,7 10 8,7 27 12,8
Bertugas 1-5 Tahun 37 38,5 51 44,3 88 41,7
6-10 Tahun 28 29,2 36 31,3 64 30,3
11-15 Tahun 9 9,4 15 13,0 24 11,4
16-20 Tahun 4 4,2 0 0 4 1,9
21-25 Tahun 1 1,0 1 0,9 2 0,9
> 25 Tahun 0 0 2 1,7 2 0,9
Total 96 100 115 100 211 100
X² value 10,920a
p value 0,091
6 Pernah Ya 53 55,2 69 60,0 122 57,8
Terlibat
Kegiatan
Tanggap
Darurat
Bencana
Tidak 43 44,8 46 40,0 89 42,2
Total 96 100 115 100 211 100
X² value 0,493a
p value 0,483
7 Pernah Ya 25 26,0 23 20,0 48 22,7
Pelatihan
Manajemen
Bencana
Tidak 71 74,0 92 80,0 163 77,3
Total 96 100 115 100 211 100
X² value 1,087a
p value 0,297

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


SIKAP
No Karakteristik Responden N Persentase
POSITIF NEGATIF (%)
N % N %
8 Termasuk Ya 26 27,1 30 26,1 56 26,5
Dalam Tim
Gerak Cepat
(TGC) di
Puskesmas
Tidak 70 72,9 85 73,9 155 73,5
Total 96 100 115 100 211 100
X² value 0,027a
p value 0,870
*signifikan p<0,05, tidak signifikan p>0,05

Identifikasi penelitian ini menunjukkan proporsi tenaga kesehatan yang

memiliki sikap negatif terhadap aamanjemen bencana lebih besar dibandingkan

dengan responden yang memiliki sikap positif (tabel 5.6). Uji Chi-Square pada

penelitian ini menjelaskan ketiadaan hubungan antara umur dan jenis kelamin dengan

sikap responden. Dominasi responden perempuan yang bersikap positif lebih banyak

jika dibandingkan dengan mereka yang memiliki sikap negatif. Hal tersebut

dimungkinkan karena proporsi jenis kelamin yang tidak berimbang antara perempuan

dan laki-laki.

Hasil analisis pada tingkat pendidikan terakhir menunjukkan bahwa semakin

tinggi latar pendidikan responden semakin variatif sikapnya terhadap manajemen

bencana (tabel 5.6). Demikian pula, lokasi bekerja juga tidak menentukan sikap

responden terhadap manajemen bencana. Keterlibatan responden pada pelatihan

manajemen bencana sebelumnya juga tidak menjadi jaminan sikap terhadap

manajemen bencana (tabel 5.6). Begitupun juga dalam hal keterlibatan mereka dalam

TGC di puskesmas. Kedua variabel ini tidak berhubungan dengan sikap terhadap

manajemen bencana (p>0,05).


110

3) Hubungan data sosiodemografi dengan praktik/pengalaman sebelumnya

Tabel 5.7 Hubungan Data Sosiodemografi Dengan Praktik/Pengalaman Sebelumnya


Tenaga Kesehatan Dalam Manajemen Bencana di Puskesmas Wilayah
Rawan Bencana di Kabupaten Sumbawa Barat

PRAKTIK/ PENGALAMAN SEBELUMNYA


No Karakteristik Responden n Persentase
BAIK CUKUP KURANG (%)
n % N % n %
1 Umur <25 Tahun 3 42,8 20 16,7 18 21,4 41 19,4
26-35 Tahun 2 28,6 76 63,3 56 66,7 134 63,5
36-45 Tahun 2 28,6 20 16,7 10 11,9 32 15,2
46-55 Tahun 0 0 3 2,5 0 0 3 1,4
56-65 Tahun 0 0 1 0,8 0 0 1 0,5
Total 7 100 120 100 84 100 211 100
X² value 8,729a
p value 0,366
2 Jenis kelamin Laki-laki 2 28,6 31 25,8 15 17,9 48 22,7
Perempuan 5 71,4 89 74,2 69 82,1 163 77,3
Total 7 100 120 100 84 100 211 100
X² value 1,928a
p value 0,381
3 Tingkat SPK 1 14,3 3 2,5 0 0 4 1,9
Pendidikan DIPLOMA 6 85,7 69 57,5 57 67,9 132 62,6
SARJANA 0 0 48 40,0 27 32,1 75 35,5
Total 7 100 120 100 84 100 211 100
X² value 12,391a
p value 0,015
4 Tempat Puskesmas Poto Tano 3 42,8 10 8,3 14 16,7 27 12,8
Bekerja Puskesmas Seteluk 2 28,6 23 19,2 11 13,1 36 17,1
Puskesmas Taliwang 2 28,6 34 28,3 6 7,1 42 19,9
Puskesmas Brang Ene 0 0 3 2,5 12 14,3 15 7,1
Puskesmas Brang Rea 0 0 17 14,2 10 11,8 27 12,8
Puskesmas Jereweh 0 0 7 5,8 12 14,3 19 9,0
Puskesmas Maluk 0 0 15 12,5 4 4,8 19 9,0
Puskesmas Sekongkang 0 0 11 9,2 3 3,6 14 6,6
Puskesmas Tongo 0 0 0 0 12 14,3 12 5,7
Total 7 100 120 100 84 100 211 100
X² value 61,602a
p value 0,000
5 Lama <1 Tahun 1 14,3 15 12,5 11 13,1 27 12,8
Bertugas 1-5 Tahun 2 28,6 45 37,5 41 48,8 88 41,7
6-10 Tahun 3 42,8 36 30,0 25 29,8 64 30,3

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


111

PRAKTIK/ PENGALAMAN SEBELUMNYA


No Karakteristik Responden n Persentase
BAIK CUKUP KURANG (%)
n % N % n %
11-15 Tahun 1 14,3 17 14,2 6 7,1 24 11,4
16-20 Tahun 0 0 4 3,3 0 0 4 2
21-25 Tahun 0 0 1 0,8 1 1,2 2 0,9
> 25 Tahun 0 0 2 1,7 0 0 2 0,9
Total 7 100 120 100 84 100 211 100
X² value 9,099a
p value 0,694
6 Pernah Ya 4 57,1 72 60,0 46 54,8 122 57,8
Terlibat
Kegiatan
Tanggap
Darurat
Bencana
Tidak 3 42,9 48 40,0 38 45,2 89 42,2
Total 7 100 120 100 84 100 211 100
X² value 0,557a
p value 0,757
7 Pernah Ya 0 0 34 28,3 14 16,7 48 22,7
Pelatihan
Manajemen
Bencana
Tidak 7 100 86 71,7 70 83,3 163 77,3
Total 7 100 120 100 84 100 211 100
X² value 5,959a
p value 0,051
8 Termasuk Ya 1 14,3 34 28,3 21 25,0 56 26,5
Dalam Tim
Gerak Cepat
(TGC) di
Puskesmas
Tidak 6 85,7 86 71,7 63 75,0 155 73,5
Total 7 100 120 100 84 100 211 100
X² value 0,839a
p value 0,657
*nilai signifikan p<0,05, tidak signifikan p>0,05

Secara statistik, mayoritas responden tidak memiliki pengalaman praktik

(tentang manajemen bencana) sebelumnya (tabel 5.7). Hanya sebagian kecil di

antaranya yang memiliki pengalaman yang baik. Hasil uji Chi-Square (p>0,05)

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


menjelaskan tidak adanya hubungan yang bermakna di antara variabel umur

responden dengan praktik/pengalaman sebelumnya. Dominasi perempuan pada

responden juga menjelaskan ketiadaan hubungan yang bermakna antar jenis kelamin

dengan praktik/pengalaman sebelumnya (tabel 5.7).

Berdasarkan karakteristik jenjang pendidikan terakhir, responden berlatar

SPK memiliki pengalaman praktik tentang bencana yang baik, dan responden

berlatar Diploma dan Sarjana sebagian besar memiliki pengalaman praktik tentang

bencana yang cukup memadai. Pada subvariabel tempat bekerja dan pengetahuan

tenaga kesehatan, penelitian menunjukkan bahwa tenaga kerja yang bekerja di lokasi

yang sering terjadi bencana alam dan denga tenaga kerja yang didominasi oleh

tenaga kesehatan senior memiliki pengalaman praktik tentang bencana yang cukup

memadai tentang manajemen bencana. Hubungan ini dikuatkan dengan nilai p<0,05

yang menjelaskan bahwa tempat bekerja responden dan pengalaman praktik tentang

bencana memiliki hubungan yang signifikan.

Untuk subvariabel lama bekerja, kepesertaan responden dalam pelatihan

sebelumnya, dan keterlibatan responden dalam Tim Gerak Cepat (TGC) tidak

menunjukkan adanya hubungan dengan pengalaman praktik tentang bencana. Ketiga

subvariabel ini tidak berhubungan dengan praktik/pengalaman sebelumnya dalam

manajemen bencana (p>0,05). Asumsi peneliti, hal tersebut dimungkinkan karena

tenaga kesehatan yang termasuk dalam TGC di puskesmas di kabupaten Sumbawa

Barat sebagian besar tidak memiliki pengalaman yang baik dalam kegiatan terkait

penanggulangan bencana dan di pilih tidak berdasarkan kriteria pengalaman yang


dimiliki tentang kebencanaan. Hal tersebut juga karena upaya peningkatan

kompetensi untuk tenaga kesehatan di puskesmas dalam menghadapi situasi bencana

belum optimal.

5.2 Pembahasan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelatihan manajemen bencana yang

pernah diikuti responden tidak berhubungan dengan pengetahuan, sikap, dan

praktik/pengalaman sebelumnya. Hal tersebut bertentangan dengan hasil dari

penelitian Osman (2016) yang menunjukkan bahwa pelatihan kebencanaan signifikan

dan bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan praktik para perawat.

Penulis studi tersebut menunjukkan bahwa pelatihan penting untuk memastikan

kesiapan dalam menghadapi situasi bencana, karena pemahaman terhadap materi

pelatihan memberikan kontribusi positif terhadap kemampuan penanggulangan

bencana. Tenaga medis dan perawat gawat darurat yang mengikuti pelatihan bencana

dan terlibat dalam penanggulangan bencana lebih percaya diri dan tanggap dalam

tindakan sehingga dapat meningkatkan kesadaran pentingnya belajar tentang

manajemen bencana.

5.2.1 Hubungan Faktor Sosiodemografi Dengan Pengetahuan Tenaga

Kesehatan Tentang Manajemen Bencana

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar tenaga kesehatan

(dokter, perawat, dan bidan) memiliki pengetahuan yang baik tentang manajemen

bencana, khususnya terkait pengertiannya, dan upaya-upaya yang dilakukan di setiap

fasenya, walaupun sebagian besarnya masih salah dalam membedakan klasifikasi

bencana alam,
non alam daan bencana sosial. Di beberapa penelitian sejenisnya yang dilakukan

pada tenaga kesehatan yaitu perawat menunjukkan bahwa hasil ini tidak sejalan

dengan penelitian Hermawati (2010), yang menunjukkan bahwa perawat memiliki

tingkat pengetahuan tentang bencana yang lebih rendah. Demikian pula, hasil studi

Hammad et al (2011) yang menyimpulkan bahwa perawat memiliki pengetahuan

kebencanan yang kurang. Menurut asumsi peneliti, peningkatan teknologi informasi

melalui internet mempengaruhi pengetahuan umum responden terkait manajemen

bencana, sehingga walaupun sebagian besar responden tidak pernah mengikuti

pelatihan tentang manajemen bencana, responden sudah mengetahui tentang dasar-

dasar pengetahuan yang harus diketahui tenaga kesehatan dalam manajemen

bencana. Salah satu contohnya adalah ketersediaan informasi dari Kementerian

Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) RI tentang berbagai informasi terbaru

terkait penanganan bencana yang terjadi di Indonesia yang dapat diakses dengan

mudah melalui situs internet. Hal ini merupakan bentuk perkembangan kondisi

telekomunikasi untuk penanganan bencana di Indonesia yang tentunya sangat

bermanfaat terutama dalam menghadapi situasi krisis saat bencana terjadi.

1. Hubungan antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan

Penelitian ini membuktikan adanya hubungan antara tingkat pendidikan

responden dengan pengetahuan yang dimiliki. Sebagaimana pendapat Osman

(2016) yang menyatakan adanya hubungan signifikan antara tingkat pendidikan

responden dengan pengetahuannya tentang manajemen bencana. Hasil ini

menjelaskan bahwa semakin tinggi pendidikan responden maka semakin baik

pula pengetahuan tentang manajemen bencana. Pengetahuan yang baik akan


menentukan keberhasilan dalam manajemen bencana. Sumber daya kesehatan

sangat berpengaruh pada kesiapsiagaan bencana karena ketiadaan pakar

kesehatan akan menjadi faaktor penghalang dalam menangani situasi darurat

(Depkes RI, 2007). Dalam peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, hasil

penelitian ini menjadi dasar rekomendasi bagi pemerintah daerah setempat untuk

mengupayakan dukungan dan membuka kesempatan seluas-luasnya bagi tenaga

kesehatan untuk mendapatkan pelatihan-pelatihan terkait manajemen bencana

melalui pendidikan formal dan non formal. Penelitian ini juga

merekomendasikan kebutuhan manajemen bencana ke dalam kurikulum

pendidikan formal bagi tenaga kesehatan. Pembahasan ini dapat dimasukkan ke

dalam kurikulum pendidikan keperawatan atau pendidikan profesi kesehatan

lainnya sebagai kompetensi tenaga kesehatan di Indonesia, khususnya bagi

mereka yang akan bekerja di daerah rawan bencana.

2. Hubungan antara tempat bekerja dengan pengetahuan

Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang bermakna

antara tempat bekerja responden dengan pengetahuan yang dimiliki. Hal ini

tidak sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan Ahayalimuddin

(2012) yang menyatakan tidak adanya hubungan signifikan antara tempat

bekerja dengan pengetahuan yang dimiliki responden tentang manajemen

bencana. Menurut pendapat peneliti, hal ini berkenaan dengan ketersediaan

fasilitas kesehatan, sarana dan prasarana pendukung, akses informasi, dan

kompetensi sumber daya kesehatan. Opini ini didukung oleh data penelitian yng

menunjukkan bahwa lokasi penelitian yang memiliki skor terbaik pada

komponen pengetahuan dan praktik


tenaga kesehatan berada di kawasan perkotaan. Seperti contohnya Puskesmas

Maluk dan Puskesmas Taliwang yang berada di daerah industri berkembang dan

pusat pemerintahan Kabupaten. Puskesmas Maluk secara rutin mendapatkan

bantuan dana kompensasi pengembangan industri pertambangan, CSR industri

swasta dan pendapatan daerah yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan

sarana dan prasarana pendukung pelayanan kesehatan, termasuk dalam upaya

peningkatan kompetensi tenaga kesehatan yang bertugas di daerah setempat.

3. Hubungan antara pernah terlibat kegiatan tanggap darurat bencana dengan

pengetahuan

Hasil penelitian ini mengindikasikan adanya pengalaman keterlibatan

responden dalam kegiatan tanggap bencana sebelumnya memberikan kontribusi

terhadap pengetahuan tenaga kesehatan tentang manajemen bencana. Hal ini

sejalan dengan pendapat Osman (2016) yang menyatakan adanya hubungan

signifikan antara keterlibatan responden dalam penanggulangan bencana

sebelumnya dengan pengetahuannya tentang bencana. Hasil ini menjelaskan

bahwa pengalaman individu terkait keterlibatan dalam penanggulangan bencana

akan seiring dengan pengetahuan tentang manajemen bencana. Dapat

disimpulkan bahwa pengalaman yang dilakukan dapat digunakan dan menjadi

pedoman serta pembelajaran bagi tenaga kesehatan untuk meningkatkan

pengetahuan. Dengan pengalaman yang didapat seseorang akan lebih cakap dan

terampil serta mampu melaksanakan tugas pekerjaannya. Latihan berulang-ulang

akan memperkuat dan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan seseorang.

Pengalaman menjadi proses pembelajaran yang paling baik bagi seseorang

untuk mempelajari segala


hal secara langsung, dimana pemahamannya akan situasi kondisi yang pernah

dialami, dijalani dan dilakukan pasti akan lebih baik daripada jika dipelajari

secaara teori, hal tersebut tentunya akan menjadi gambaran yang lebih riil bagi

yang bersangkutan guna meningkatkan pengetahuannya. Menjadi hal yang wajar

jika keterlibatan seorang tenaga kesehatan dalam penanggulangan bencana dapat

mempengaruhi pengetahuannya tentang manajemen bencana yang tentunya

menjadi lebih tahu. Sumber daya kesehatan yang kompeten, tanggap, cakap, dan

terampil dibutuhkan dalam menghadapi situasi krisis, menangani kesiapsiagaan

bencana, untuk mewujudkan sumber daya manusia yang terlatih maka

diperlukan adanya pelatihan kegawatdaruratan dan kebencanaan bagi setiap

individu.

5.2.2 Hubungan Faktor Sosiodemografi Dengan Sikap Tenaga Kesehatan

Terhadap Manajemen Bencana

Hasil dari penelitian ini menunjukkan sikap negatif dari responden lebih

dominan dari sikap positif, dimana jawaban responden menunjukkan masih ada

tenaga kesehatan yang merasa khawatir terhadap dampak bencana bagi dirinya

jika menjadi relawan saat terjadinya bencana, serta ada sebagian responden yang

merasa bahwa memenuhi kebutuhan dasar korban bencana bukanlah tanggung

jawab tenaga kesehatan. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Mohammed Diab

dan Mabrouk (2015) yang melaporkan bahwa hanya sebagian kecil dari responden

dalam penelitian pada perawat di rumah sakit di Malaysia memiliki sikap positif

terhadap manajemen bencana. Sikap positif responden dalam penelitian ini tidak

sejalan dengan penelitian sebelumnya oleh Ahayalimuddin (2012) yang

menemukan
sebagian besar perawat memiliki sikap positif terhadap manajemen bencana. Juga,

studi lain Moabi (2008) menunjukkan bahwa sikap para peserta terhadap

kesiapsiagaan bencana baik dan responden percaya pada kebutuhan untuk

memiliki wawasan tentang manajemen bencana. Menurut asumsi peneliti, sikap

negatif ini lebih dipengaruhi karena masih kurangnya sosialisasi terkait

manajemen bencana, sehingga responden tidak menyadari betapa perlunya bagi

tenaga kesehatan untuk memahami tentang manajemen bencana dan peran tenaga

kesehatan dalam kegiatan-kegiatan penanggulangan bencana, mengingat wilayah

tempat tinggal dan tempatnya bekerja merupakan wilayah rawan bencana.

1. Hubungan antara tingkat pendidikan dengan sikap

Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang bermakna

antara tingkat pendidikan responden dengan sikapnya terhadap manajemen

bencana. Sikap positif pada responden dengan jenjang pendidikan terakhir

Sarjana lebih tinggi daripada persentase sikap positif pada responden dengan

pendidikan terakhir Diploma. Dapat disimpulkan bahwa tingginya tingkat

pendidikan mempengaruhi sikap responden terhadap manajemen bencana. Hal

ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Osman (2016) yang

menyatakan adanya hubungan signifikan antara pendidikan responden dengan

sikap tentang manajemen bencana. Hasil analisis ini menjelaskan bahwa semakin

tinggi pendidikan responden maka semakin positif pula sikap responden tentang

manajemen bencana. Terbentuknya sikap yang baik sangat dipengaruhi oleh

pengetahuan, seperti halnya tujuan pentingnya pendidikan kebencanaan adalah


untuk menanamkan sikap tanggap dan responsif terhadap bencana sehingga

risiko yang fatal bisa dihindari dan mereka tidak hanya sekedar mengetahui dan

memahami tentang bencana, tetapi yang lebih penting dan utama adalah

bagaimana mereka bisa menghadapi risiko bencana dengan sikap siaga dan

responsif sehingga mampu meminimalkan dampak yang lebih parah. Tenaga

kesehatan harus mengetahui pentingnya sikap terhadap resiko bencana yaitu

tenaga kesehatan harus bisa menyampaikan informasi kesiapsiagaan yang jelas

dan akurat saat bencana datang. Karena sikap yang positif akan menghasilkan

kemampuan yang baik serta menguasai apa yang dilakukan dan terampil di

bidangnya. Untuk menghadapi situasi krisis saat bencana tidak hanya diperlukan

kesiapan dalam tindakan tapi juga membutuhkan kesiapan mental yang bisa

dimulai dengan sikap yang positif, karena tanpa hal itu pengetahuan dan

keterampilan akan menjadi sia-sia. Proses pendidikan akan membentuk pola

pikir dan tingkat pemahaman dalam mempelajari sesuatu hingga akhirnya bisa

mengetahui dan memahami, semakin tinggi jenjang pendidikannya akan semakin

matang pula seseorang dalam keilmuan dan kepribadian sehingga sikap yang

dimiliki akan terlatih lebih positif dan terbuka dalam setiap hal.

2. Hubungan antara tempat bekerja dengan sikap

Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang bermakna

antara tempat bekerja responden dengan pengetahuan yng dimiliki. Hasil ini

tidak sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan Mohammed

Diab dan Mabrouk (2015) yang tidak menemukan adanya hubungan tempat

bekerja dengan sikap responden terhadap manajemen bencana. Dari hasil analisis

persentase
kategori sikap positif berdasarkan distribusi jumlah responden di masing-masing

puskesmas menunjukkan bahwa 2 puskesmas lokasi penelitian dengan hasil

persentase sikap positif lebih tinggi dari sikap negatif yaitu Puskesmas Seteluk

dan Puskesmas Jereweh. Dilihat dari tahun berdirinya, 2 puskesmas tersebut

merupakan puskesmas yang sudah lama beroperasi, bahkan sebelum Kabupaten

Sumbawa Barat terbentuk. Staf puskesmas yang bertugas di sana lebih banyak

yang sudah senior. Puskesmas Jereweh berada di daerah yang sering terjadi

banjir dan tanah longsor, sehingga tiap tahunnya tenaga kesehatan yang bertugas

di sana sudah sering dihadapkan dengan kondisi krisis bencana sehingga

mempengaruhi sikap responden terhadap manajemen bencana. Begitupun halnya

dengan Puskesmas Seteluk yang berada di daerah rawan banjir dan pernah

terjadinya kecelakaan massal, sehingga pernah terlibatnya responden dalam

penanggulangan bencana mempengaruhi sikapnya terhadap manajemen bencana.

5.2.3 Hubungan Faktor Sosiodemografi Dengan Praktik/Pengalaman

Sebelumnya Dalam Manajemen Bencana

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar tenaga kesehatan

(dokter, perawat, dan bidan) memiliki pengalaman praktik sebelumnya yang

cukup memadai dalam penanggulangan bencana, dimana jawaban dari responden

menjelaskan bahwa responden siap untuk terlibat dalam tanggap darurat saat

terjadinya bencana serta bersedia dilibatkan sebagai peserta dalam pelatihan

manajemen bencana. Hasil tersebut sejalan dengan penelitian Osman (2016) yang

menunjukkan bahwa responden yang diteliti memilik praktik yang memadai,


dengan persentase rata-rata 65,3%. Namun, hasil ini tidak sejalan dengan studi

Moabi (2008), yang menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki

praktik yang tidak memadai. Praktik merupakan salah satunya komponen penting

dalam domain apa pun untuk mempelajari satu rutinitas. Dalam penilaian, praktik

lebih mengacu pada penggunaan ide dan keyakinan daripada kinerja terhadap

manajemen bencana. Hal ini lebih disebabkan karena hanya sebagian kecil dari

tenaga kesehatan yang siap terlibat dalam penanggulangan bencana sehingga akan

berpengaruh pada pengalaman yang dimiliki terkait manajemen bencana.

1. Hubungan antara tingkat pendidikan dengan praktik/pengalaman

sebelumnya Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang bermakna

antara tingkat pendidikan responden dengan pengalaman praktik responden

dalam manajemen bencana. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang

dilakukan Moabi (2008) yang menyatakan adanya hubungan signifikan antara

pendidikan responden dengan praktik/pengalaman sebelumnya dalam

manajemen bencana. Skor pengalaman yang baik dalam manajemen bencana

sebagian besarnya pad responden dengan jenjang pendidikan terakhir Sarjana.

Hasil ini menjelaskan bahwa semakin tinggi pendidikan responden maka

semakin baik/memadai pula praktik/pengalaman sebelumnya yang dimiliki

responden tentang manajemen bencana. Dengan kata lain jenjang pendidikan

yang tinggi akan mempengaruhi pola pikir tenaga kesehatan untuk lebih terbuka

dalam melakukan setiap tindakan yang pastinya akan lebih menambah wawasan

dan pengalamannya. Menurut Nasution (2005) rencana untuk keadaan darurat

bencana ini menjadi bagian yang penting dalam kesiapsiagaan terutama

berkaitan dengan evakuasi, pertolongan


pertama dan penyelamatan agar korban bencana dapat diminimalkan. Upaya ini

sangat penting terutama pada saat terjadinya bencana dan hari-hari pertama

setelah bencana sebelum datangnya bantuan dari pihak luar. Proses pendidikan

tentunya akan meningkatkan keahlian seseorang dalam praktik dan

pengalamannya. Apapun yang telah dipelajari secara teori, dalam proses

pendidikan akan terbuka kesempatan untuk belajar mengaplikasikan secara

nyata, keinginan untuk belajar dan memahami sesuatu akan memotivasi

seseorang untuk berani mencoba agar menjadi lebih cakap di bidangnya,

sehingga menjadi hal yang wajar jika tingkat pendidikan seseorang dapat

mempengaruhi praktik atau menambah pengalamannya, khususnya di bidang

pendidikannya.

2. Hubungan antara tempat bekerja dengan praktik/pengalaman sebelumnya

Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang bermakna

antara

tempat bekerja responden dengan praktik/pengalaman sebelumnya dalam

manajemen bencana. Hasil ini tidak sejalan dengan hasil penelitian yang

dilakukan Ahayalimuddin (2012) yang tidak menemukan adanya hubungan

tempat bekerja dengan praktik/pengalaman sebelumnya manajemen bencana.

Dari penelitian didapatkan hasil bahwa puskesmas yang penilaian

praktik/pengalaman sebelumnya lebih memadai yaitu diantaranya Puskesmas

Seteluk, Puskesmas Taliwang, Puskesmas Brang Rea dan Puskesmas Maluk,

memiliki staf yang lebih senior, sedangkan puskesmas yang hasil nilainya rendah

lebih di dominasi oleh tenaga kesehatan dengan masa kerja kurang dari 5 tahun.

Riwayat pernah atau sering terjadinya bencana di wilayah kerja puskesmas


tersebut juga kemungkinan dapat mempengaruhi praktik/pengalaman

sebelumnya tenaga kesehatan karena


dengan seringnya menghadapi situasi krisis bencana dan terlibat dalam upaya

penanggulangannya akan menambah pengalaman dan keterampilannya serta

terlatih untuk tanggap dalam situasi tersebut karena dari 4 Puskesmas yang

disebutkan diatas berada di wilayah yang sering terjadinya bencana.


BAB 6

SIMPULAN DAN SARAN

Bab ini akan menjelaskan mengenai kesimpulan penelitian dan saran yang

dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya agar lebih baik.

6.1 Simpulan

Berdasarkan tujuan penelitian maka disimpulkan sebagai berikut:

1) Gambaran pengetahuan tenaga kesehatan tentang manajemen bencana di

puskesmas wilayah rawan bencana di Kabupaten Sumbawa Barat sebagian besar

termasuk pada kategori baik. Tingkat pendidikan, tempat bekerja, dan pernah

terlibat dalam kegiatan tanggap darurat bencana secara signifikan berhubungan

dengan pengetahuan tenaga kesehatan di puskesmas tentang manajemen

bencana.

2) Gambaran sikap tenaga kesehatan dalam manajemen bencana di puskesmas

wilayah rawan bencana di Kabupaten Sumbawa Barat menunjukkan sikap

negatif terhadap manajemen bencana. Tingkat pendidikan dan tempat bekerja

secara signifikan berhubungan dengan sikap tenaga kesehatan di puskesmas

terhadap manajemen bencana.

3) Gambaran praktik/pengalaman sebelumnya tenaga kesehatan dalam manajemen

bencana di puskesmas wilayah rawan bencana di Kabupaten Sumbawa Barat

menunjukkan bahwa tenaga kesehatan di puskesmas memiliki

praktik/pengalaman sebelumnya cukup memadai. Tingkat pendidikan dan

tempat bekerja secara signifikan berhubungan dengan praktik/pengalaman

sebelumnya tenaga kesehatan dalam manajemen bencana di puskesmas.


124
125

6.2 Saran

1. Bagi Responden

Responden dapat meningkatkan pengetahuannya terkait manajemen bencana dan

dapat bersikap lebih positif untuk mempersiapkan diri terlibat dalam manajemen

bencana dengan menjalankan peran dan tugasnya sebagai tenaga kesehatan yang

sigap, tanggap, dan terampil dalam tindakan dan membuka kesempatan bagi

dirinya untuk lebih meningkatkan pengalaman dan peran sertanya dalam upaya-

upaya manajemen bencana. Peneliti memberikan rekomendasi kepada tenaga

kesehatan, khususnya yang bertugas di puskesmas agar lebih meningkatkan

pengetahuan dan ketrampilan tentang kesiapsiagaan bencana dengan mengikuti

pelatihan kebencanaan dan kegawatdaruratan secara kontinue dalam rangka

menunjang kesiapan dalam memberikan pelayanan kesehatan yaang cepat,

tanggap dan tepat saat menghadapi situasi krisis bencana.

2. Bagi Puskesmas Lokasi Penelitian dan Dinas Kesehatan

Hasil penelitian ini disampaikan kepada Puskesmas lokasi penelitian dan Dinas

Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat berupa laporan akhir yang dapat menjadi

dasar dalam pertimbangan peningkatan kompetensi manajemen bencana bagi

tenaga kesehatan di puskesmas. Manajemen bencana perlu diintegrasikan kepada

tenaga kesehatan di puskesmas selaku ujung tombak pelayanan kesehatan

pemerintah guna menunjang kesiapan tenaga kesehatan tersebut dalam

menghadapi situasi bencana. Pemantauan kesiapan tenaga kesehatan dalam

manajemen bencana dapat dilakukan secara berkala, dimana hasilnya mungkin

akan ditemukan kendala yang berbeda-beda di setiap puskesmas. Hasil tersebut

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


dapat menjadi rekomendasi untuk peningkatan kompetensi tenaga kesehatan

yang ada, peningkatan sarana dan prasarana serta akses informasi yang kemudian

akan menjadi usulan dalam perencanaan pembangunan daerah di bidang

kesehatan dan penanggulangan bencana. Kompetensi tersebut meliputi

pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang harus ditingkatkan atau

dikembangkan dan dipelihara sehingga menjamin tenaga kesehatan dapat

melaksanakan peran dan fungsinya secara profesional. Diperlukan adanya tim

yang terlatih untuk menangani kesiapsiagaan bencana, untuk mewujudkan

sumber daya manusia yang terlatih maka diperlukan adanya pelatihan

kegawatdaruratan dan kebencanaan bagi setiap individu terutama tenaga

kesehatan di puskesmas.

3. Bagi Penelitian Selanjutnya

Bagi peneliti yang berminat untuk membuat penelitian lebih lanjut, dapat

mengembangkannya dalam bentuk metode penelitian atau desain penelitian

lainnya dengan jumlah sampel yang lebih banyak sehingga hasilnya dapat

dijadikan bahan referensi untuk penelitian lanjutan menyangkut faktor-faktor

yang mempengaruhi kesiapsiagan bencana. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai

acuan dan wawasan informasi untuk mengembangkan penelitian selanjutnya

mengenai manajemen bencana khususnya pada tenaga kesehatan.


DAFTAR PUSTAKA

Ahayalimuddin, N. (2012) ‘Disaster Management: A Study on Knowledge, Attitude


and Practice of Emergency Nurse and Community Health Nurse in Selangor’,
Unpublished Master Dissertation, Universiti Kebangsaan Malaysia.
APCC (2017) Disaster Management Research Roadmap for the ASEAN Region:
ASEAN Science-Based Disaster Management Platform (ASDMP) Project.
Busan, Republic of Korea, 138 pp.
Arikunto, S. (2010) Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Citra.
BNPB (2014) Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2015-2019. Jakarta:
www.bnpb.go.id.
BNPB (2015a) Kebijakan Strategis BNPB 2015-2019. Jakarta: www.bnpb.go.id.
BNPB (2015b) Rencana Strategis BNPB Tahun 2015-2019. Jakarta: www.bnpb.go.id.
BNPB (2017) ‘Pengetahuan Kebencanaan’, in BNPB. Jakarta: www.bnpb.go.id.
BNPB (2018a) Tren Kejadian Bencana 10 tahun terakhir di Indonesia. Jakarta:
www.bnpb.go.id.
BNPB (2018b) Tren Kejadian Bencana 10 Tahun Terakhir di Provinsi Nusa
Tenggara Barat. Jakarta: www.bnpb.go.id.
Carter, W. N. (2008) Disaster Management Hand Book. Mandaluyong City, Phil.:
Asian Development Bank.
CFE-DM (2018) Indonesia Disaster Management Reference Handbook. Center for
Excellence in Disaster Management & Humanitarian Assistance. Available at:
http://reliefweb.int/map/chile/chilelocation-map-2013.
DEPKES RI (2002) ‘Pedoman Koordinasi Penanggulangan Bencana di Lapangan’.
DEPKES RI (2007) Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat
Bencana.
Diab, M. and Mabrouk, S. (2015) ‘The Effects of Guidance Booklet on Knowledge
and Attitudes of Nurse Regarding Disaster Preparedness at Hospitals’, J Nurs
Educ Pract.
Erfandi (2009) Pengetahuan dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi.
Fatoni, Z. (2013) ‘Permasalahan Kesehatan Dalam Kondisi Bencana : Peran Petugas
Kesehatan dan Partispasi Masyarakat’, Jurnal Kependudukan Indonesia, 8(1).
Hammad, K., Arbon, P. and Gebbie, K. (2011) ‘Emergency Nurses and Disaster
Response: An Exploration of South Australian Emergency Nurses’ Knowledge
and Perception of Their Roles in Disaster Response’, Australasian Emergency
Nursing Journal.
Hermawati, D., Hatthakit, U. and Chowalit, A. (2010) ‘Nurse’s Preparedness of
Knowledge and Skills in Caring for Patients Attacked by Tsunami and Its
Relating Factors’.
Husna, C. (2012) ‘Influencing Factors on Disaster Preparedness in RSUDZA Banda
Aceh Cut Husna’, Idea Nursing Journal, 3(2).
Khambali, I. (2017) Manajemen Penanggulangan Bencana. 1st edn. Yogyakarta:
CV. ANDI OFFSET.
Khan, H., Vasilescu, G. and Khan, A. (2008) ‘Disaster Management Cycle – A
Theoretical Approach’.
Malayu, S. . H. (2003) Organisasi dan Motivasi Dasar Peningkatan Produktivitas.
Jakarta: Bumi Aksara.
Malayu, S. . H. (2007) Manajemen Sumber Daya Manusia. Cetakan 9. Jakarta: PT.
Bumi Aksara.
Maulana, H. D. . (2009) Promosi Kesehatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Menteri Kesehatan RI (2006) ‘Keputusan Menteri Kesehatan RI
No.066/MENKES/SK/II/2006 Tentang Pedoman Manajemen Sumber Daya
Manusia (SDM) Kesehatan Dalam Penanggulangan Bencana’.
Moabi, R. M. (2008) ‘Knowledge, Attitudes and Practices of Health Care Workers
Regarding Disaster Preparedness at Johannesburg Hospital In Gauteng
Province, South Africa’.
Notoatmodjo, S. (2003) Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S. (2007) Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S. (2010) Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Nursalam (2017) Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pendekatan Praktis Edisi
4. 4th edn. Jakarta: Salemba Medika.
Osman, N. N. S. and Ahayalimuddin, N. (2016) ‘Disaster management: Emergency
nursing and medical personnel’s knowledge, attitude and practices of the East
Coast region hospitals of Malaysia’, Australasian Emergency Nursing Journal.
College of Emergency Nursing Australasia, pp. 1–7. doi:
10.1016/j.aenj.2016.08.001.
Putra, A. et al. (2015) ‘Nurses ’ Role and Leadership in disaster management at the
emergency response’, Idea Nursing Journal, 6(1), pp. 25–31.
Rizqillah, A. F. and Suna, J. (2018) ‘Indonesian emergency nurses’ preparedness to
respond to disaster: A descriptive survey’, Australasian Emergency Care.
College of Emergency Nursing Australasia, pp. 1–5. doi:
10.1016/j.auec.2018.04.001.
Syafar, M. and Frances, M. (2018) ‘Disaster preparedness and learning needs among
community health nurse coordinators in South Sulawesi Indonesia’,
Australasian Emergency Care. College of Emergency Nursing Australasia. doi:
10.1016/j.auec.2017.11.002.
Tatuil, S., Mandagi, C. K. F. and Engkeng, S. (2015) ‘Kajian Peran Tenaga
Kesehatan Dalam Kesiapsiagaan Bencana Banjir di Wilayah Kerja Puskesmas
Tuminting Kota Manado’, Idea Nursing Journal, pp. 1–8.
UU RI No.24 (2007) Undang-Undang RI Nomor 24 Tahun 2007 Tantang
Penanggulangan Bencana.
Wawan, A. and M, D. (2010) Teori & Pengukuhan Pengetahuan, Sikap dan Perilaku
Manusia. Yogyakarta: Nuha Medika.
Lampiran 1

Surat Permohonan Fasilitas Survey Pengambilan Data Awal


131

Lampiran 2

Surat Keterangan Lulus Kaji Etik

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


132

Lampiran 3

Surat Permohonan Fasilitas Pengambilan Data Penelitian

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


Lampiran 4

Surat Izin Kegiatan Penelitian BAPPEDA LITBANG Kabupaten Sumbawa Barat


Lampiran 5

Lembar Penjelasan Penelitian

PROGRAM KEPERAWATAN FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA


SURABAYA

PENJELASAN PENELITIAN
JUDUL PENELITIAN : Gambaran Kesiapan Tenaga Kesehatan Dalam
Manajemen Bencana Di Puskesmas Wilayah Rawan
Bencana Di Kabupaten Sumbawa Barat
PENELITI : Arsi Susilawati

NIM 131711123049

Peneliti adalah Mahasiswa Program Studi Keperawatan Fakultas Keperawatan


Universitas Airlangga.

Bapak/Ibu/Saudara telah diminta untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Partisipan


ini sesungguhnya bersifat sukarela. Bapak/Ibu/Saudara berhak memilih untuk
berpartisipasi atau tidak berpartisipasi atau mengajukan keberatan atas penelitian ini.
Tidak ada konsekuensi atau dampak negatif jika Bapak/Ibu/Saudara membatalkan
untuk ikut berpartisipasi. Sebelum Bapak/Ibu/Sadura memutuskan untuk
berpartisipasi, maka saya akan menjelaskan beberapa hal sebagai berikut:
1. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan gambaran pengetahuan, sikap dan
praktik tenaga kesehatan dalam manajemen bencana di tingkat puskesmas di
wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat.
2. Penelitian ini bermanfaat bagi tenaga kesehatan untuk menambah
pengetahuan, khususnya dalam ilmu keperawatan bencana dalam manajemen
bencana.
3. Jika para Bapak/Ibu/Saudara menyetujui untuk ikut dalam penelitian ini,
peneliti akan memberikan kuesioner dalam bentuk link google form.
4. Bapak/Ibu/ Saudara diminta untuk mengisi kuesioner tentang data demografi
dan menjawab kuesioner tentang pengetahuan, sikap dan praktik dalam
manajemen bencana.
5. Penelitian ini tidak akan merugikan dan menimbulkan resiko bagi
Bapak/Ibu/Saudara. Apabila Bapak/Ibu/Saudara merasa tidak nyaman selama
penelitian, maka Bapak/Ibu/Saudara boleh mengakhiri serta mengundurkan
diri dari penelitian.
6. Semua data dan catatan yang dikumpulkan selama penelitian ini akan dijamin
kerahasiaannya, dimana hasil penelitian hanya akan dipublikasikan kepada
pihak institusi pendidikan dalam hal ini adalah Fakultas Keperawatan,
Universitas Airlangga serta pihak terkait lainnya dengan tetap menjamin
kerahasiaan identitas.
7. Jika ada yang belum jelas silahkan Bapak/Ibu/ Saudara tanyakan pada peneliti
8. Jika Bapak/Ibu/Saudara memahami dan bersedia ikut berpartisipasi dalam
penelitian ini, silahkan menandatangani lembar persetujuan untuk menjadi
partisipan pada lembar yang telah disepakati.

Taliwang, Desember 2018

Peneliti
.

Arsi Susilawati
NIM. 131711123049

Lampiran 6
Print Out Email Konfirmasi Penggunaan Kuisioner Instrumen Penelitian

Lampiran 7
Lembar Kesediaan Menjadi Responden
Kode Partisipan

PROGRAM KEPERAWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
LEMBAR PERSETUJUAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama :
Umur :
Jenis Kelamin :
Pekerjaan :
Alamat :
Telah mendapat keterangan secara terinci dan jelas mengenai:
1. Penelitian yang berjudul “Gambaran Kesiapan Tenaga Kesehatan Dalam
Manajemen Bencana Di Puskesmas Wilayah Rawan Bencana Di Kabupaten
Sumbawa Barat”
2. Manfaat bersedia sebagai partisipan penelitian
3. Prosedur penelitian
Berdasarkan penjelasan yang telah saya terima dari peneliti, maka dengan ini
saya menyatakan bersedia/tidak bersedia*) secara sukarela untuk menjadi partisipan
dalam penelitian dengan penuh kesadaran serta tanpa keterpaksaan.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya tanpa ada paksaan dari
pihak manapun.
Taliwang, Desember 2018
Peneliti Partisipan

Arsi Susilawati …………………….


*) Coret salah satu
Saksi

.....................................

Lampiran 8
Lembar Kuisioner Data Sosiodemografi

LEMBAR KUISIONER
BAGIAN A (DATA
SOSIODEMOGRAFI)

Instruksi : Tandai yang menurut anda benar √

1. Umur: _______ _ _ _ _ _

2. Jenis Kelamin:
Laki-laki Perempuan

3. Tingkat Pendidikan
SPK Diploma

Sarjana Magister

4. Isilah tabel berikut berdasarkan tempat dan rentang waktu bertugas

No Tempat bertugas Rentang Waktu Bertugas


1.
2.
3.
4.
5.

5. Apakah Anda pernah terlibat dalam kegiatan tanggap darurat bencana?

Ya Tidak
Jika YA, isilah tabel berikut di bawah ini:

No Jenis bencana Tahun


1.
2.
3.
4.
5.

6. Apakah anda pernah mendapatkan pelatihan tentang manajemen


bencana sejak Anda mulai bekerja?
Ya Tidak

Jika jawaban Anda YA, pilihlah pernyataan dibawah ini:

Latihan Table Top

Simulasi lapangan

Latihan fungsional

Latihan drill bencana

7. Apakah Anda termasuk dalam Tim Gerak Cepat (TGC) di institusi tempat
anda bekerja?

Ya Tidak
Lampiran 9
Lembar Kuisioner Pengetahuan

BAGIAN B (PENGETAHUAN)

Petunjuk
0 = Tidak yakin, 1 = Tidak/Salah, 2 = Ya/Benar

Instruksi : Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan tanda √

NO PERTANYAAN 0 1 2
Apakah Anda pernah mendengar tentang manajemen bencana
sebelumnya? Jika YA, tolong sebutkan sumber informasinya:
1.
___ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

Bencana merupakan suatu situasi yang dapat mengganggu sistem


2. pelayanan kesehatan ketika itu terjadi.

Manajemen bencana merupakan suatu komponen upaya yang


3. dilakukan untuk meminimalkan dampak kerusakan yang terjadi
akibat bencana.
Banjir dapat diklasifikasikan sebagai bencana alam.
4.

5. Kekeringan adalah salah satu jenis bencana non alam.

6. Kecelakaan industri adalah salah satu jenis bencana sosial.

7. Di Indonesia, manajemen bencana dibagi menjadi lima (5) tahap.

Upaya mitigasi dilakukan pada fase pra bencana.


8.
Pemantauan ketinggian air termasuk kegiatan yang dilakukan
9. dalam
upaya mitigasi.
Upaya kesiapsiagaan (preparedness) dilakukan pada fase saat
10.
terjadinya bencana.
Simulasi lapangan tentang perencanaan manajemen bencana
11. merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan pada upaya
kesiapsiagaan bencana.
NO PERTANYAAN 0 1 2
Tanggap darurat merupakan kegiatan perencanaan kesiapsiagaan
12. yang dilakukan pada fase saat terjadinya bencana.
Respon tanggap bencana harus melibatkan Kementerian
13. Kesehatan Indonesia tanpa melibatkan sistem pelayanan
kesehatan swasta yang lain.
Upaya pemulihan (recovery) dilakukan pada fase saat terjadinya
14.
bencana.
Upaya pemulihan (recovery) adalah upaya yang dilakukan untuk
15. mengembalikan situasi kembali normal atau bahkan lebih baik.
Ketersediaan air dan sanitasi akibat dari kejadian bencana dapat
16. memberikan dampak bagi kesehatan.
Kejadian bencana tidak akan menimbulkan risiko meningkatnya
17. perkembangan dan penyebaran penyakit menular.

Keterangan :

Soal Nomor 2 dan 3 tentang Definisi

Soal Nomor 4 s/d 6 tentang jenis bencana

Soal Nomor 7 s/d 17 tentang kegiatan dan upaya penanggulangan bencana pada
tiap-tiaf fase/tahapan
Lampiran 10

Lembar Kuisioner Sikap

BAGIAN C (SIKAP)

Petunjuk
1 = Sangat tidak setuju 2 = Tidak setuju 3 = Tidak yakin4 = setuju 5 = Sangat setuju

Instruksi : Jawablah pertanyaan berikut dengan tanda √

NO PERKARA / ITEM 1 2 3 4 5
Menurut saya, dalam tahap mitigasi, tenaga medis / kesehatan harus dilibatkan
1. dalam melakukan penilaian risiko sesuai keahliannya masing-masing.
Menurut saya, sebaiknya petugas kesehatan diberikan pemahaman tentang efek
2. jangka panjang dari bencana alam, seperti masalah kesehatan mental.

Penting bagi saya untuk mengetahui dan memahami perencanaan manajemen


3. bencana yang ada di institusi saya.
Saya percaya bahwa kolaborasi antara tenaga medis dan tenaga kesehatan
4. diperlukan dalam meminimalisir korban bencana.
Saya merasa sulit untuk berkolaborasi dengan lembaga lain (selain dari bidang
kesehatan) dalam pengelolaan korban bencana.
Saya bersedia menjadi relawan dalam setiap kegiatan tanggap darurat bencana.
6.

Saya khawatir terhadap dampak negatif bencana (seperti cedera, stress akibat
7. bencana) yang akan terjadi pada saya jika menjadi relawan saat terjadinya
bencana.
Saya merasa bahwa tenaga medis ataupun tenaga kesehatan tidak harus terlibat
8. dalam fase pemulihan bencana.
Menjadi tanggung jawab saya untuk menangani korban bencana.
9.

Menurut saya, bukanlah tanggung jawab saya untuk memenuhi kebutuhan


10.
dasar korban bencana (tempat tinggal, air bersih, pakaian, dll).
Menurut saya manajemen keperawatan bencana harus dimasukkan dalam
kurikulum pendidikan kesehatan.
Jika jawaban Anda SETUJU, jenjang pendidikan mana yang seharusnya
memiliki manajemen bencana:

11.

SPK Sarjana Muda

Diploma Magister

Mohon dibiarkan
kosong
Lampiran 11
Lembar Kuisioner Praktik/Pengalaman Sebelumnya

BAGIAN D (PRAKTIK)

Petunjuk
0 = Tidak yakin , 1 = Tidak , 2 = Ya

Instruksi: Jawablah pertanyaan berikut dengan tanda √

NO. PERTANYAAN 0 1 2
Apakah anda tahu lokasi titik kumpul evakuasi dalam perencanaan
kesiapsiagaan penanggulangan bencana?
1.
Jika YA, tolong tuliskan lokasinya: ___ __________________________

Apakah lokasi titik kumpul evakuasi di institusi tempat Anda bekerja mudah
2. di akses?

Apakah anda pernah membaca tentang perencanaan manajemen bencana di


institusi anda bekerja?
Jika YA, pilihlah salah satu jawaban dibawah ini:

3.
Kurang dari setahun yang lalu Mohon
dibiarkan
Lebih dari setahun yang lalu
kososng

Pernahkah anda membaca penanggulangan bencana selain diinstitusi anda


4. bekerja?

5. Pernahkan anda mencari informasi terkait manajemen bencana di Internet?


Apakah anda siap untuk terlibat dalam tanggap darurat saat terjadinya
6. bencana?
Apakah anda bersedia terlibat dalam pelatihan manajemen bencana?
7.
Apakah anda pernah mengetahui tentang triase lapangan yang dilakukan saat
tanggap darurat bencana?

8.
NO. ITEM

Apakah anda lebih suka berada di Puskesmas dan menunggu korban bencana
di bawa ke tempat anda bertugas?
9.

Di bawah ini, dimana lokasi bekerja yang anda pilih saat terjadinya bencana:

10. Di Puskesmas
Di lokasi bencana
Apakah pelatihan penanggulangan bencana yang pernah dilaksanakan telah
11. melibatkan tenaga medis dan tenaga kesehatan?
Apakah pelatihan tanggap bencana di institusi anda bekerja melibatkan
12. lembaga yang lain (misalnya, Pemadam Kebakaran, TNI, Dinas
Pemerintahan setempat)?
Apakah ada rencana pelatihan tanggap bencana yang lebih spesifikasi di
institusi anda bekerja (misalnya, banjir, kebakaran, penyakit menular)? Jika
YA, Sebutkan:
a.__ _________________________________________
13.
b._____ ______________________________________
c._____ ______________________________________

Adakah rencana pelaksanaan pelatihan penanggulangan bencana secara


14. berkesinambungan di institusi anda bekerja? Jika YA, identifikasi jenis dan
frekuensi pelatihan yang dilakukan:
a. Penyampaian materi mengenai penanggulangan bencana oleh dokter atau
petugas terlatih

Lebih dua (2) kali setahun Dua (2) kali setahun


0 1 2

Sil a kosongkan
ruangan
Kindl y leave it
blank

Sila kosongkan
ruangan
Kindly leave it
blank
146

Setahun sekali Tidak pernah


b. Bencana Drill (misalnya, simulasi kebakaran)

Lebih dua (2) kali setahun Dua (2) kali setahun

Setahun sekali Tidak pernah


c. Latihan Table Top (misalnya, komunikasi saat terjadinya bencana)

Lebih dua (2) kali setahun Dua (2) kali setahun

Setahun sekali Tidak pernah


d. Latihan Fungsional (misalnya, latihan fisik tanpa korban bencana)

Lebih dua (2) kali setahun Dua (2) kali setahun

Setahun sekali Tidak pernah

e. Simulasi di Lapangan (misalnya, pelatihan yang melibatkan beberapa


lembaga di tempat kejadian)

Lebih dua (2) kali setahun Dua (2) kali setahun

Setahun sekali Tidak pernah

Terima kasih atas tanggapan dan kerjasama anda


Lampiran 12

Print Out Hasil Uji Statistik

Case Processing Summary


Cases

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


147

Valid Missing Total


N Percent N Percent N Percent
umur * TAHU 211 100,0% 0 0,0% 211 100,0%
jenis kelamin * TAHU 211 100,0% 0 0,0% 211 100,0%
tingkat pendidikan * TAHU 211 100,0% 0 0,0% 211 100,0%
tempat bekerja * TAHU 211 100,0% 0 0,0% 211 100,0%
lama tugas * TAHU 211 100,0% 0 0,0% 211 100,0%
pernah terlibat kegiatan tangap 211 100,0% 0 0,0% 211 100,0%
bencana * TAHU
PERNAH PELATIHAN 211 100,0% 0 0,0% 211 100,0%
TENTANG MANAJEMEN
BENCANA * TAHU
TERMASUK DALAM TIM 211 100,0% 0 0,0% 211 100,0%
GERAK CEPAT (TGC) DI
PUSKESMAS * TAHU

Crosstabs
UMUR * TAHU
Crosstabulation
Count
TAHU
BAIK CUKUP KURANG Total
umur 15-25 25 15 1 41
26-35 86 41 7 134
36-45 26 3 3 32
46-55 3 0 0 3
56-65 1 0 0 1
Total 141 59 11 211

Chi-Square Tests
Asymptotic
Significance (2-
Value df sided)
a
Pearson Chi-Square 10,378 8 ,240
Likelihood Ratio 12,783 8 ,120

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


Linear-by-Linear Association 1,988 1 ,159
N of Valid Cases 211
a. 8 cells (53,3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is ,05.

JENIS KELAMIN * TAHU


Crosstab
Count
TAHU
BAIK CUKUP KURANG Total
jenis kelamin laki-laki 38 10 0 48
Perempuan 103 49 11 163
Total 141 59 11 211

Chi-Square Tests
Asymptotic
Significance (2-
Value df sided)
a
Pearson Chi-Square 5,785 2 ,055
Likelihood Ratio 8,247 2 ,016
Linear-by-Linear Association 5,593 1 ,018
N of Valid Cases 211
a. 1 cells (16,7%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2,50.

TINGKAT PENDIDIKAN * TAHU


Crosstab
Count
TAHU
BAIK CUKUP KURANG Total
tingkat pendidikan SPK 4 0 0 4
DIPLOMA 79 43 10 132
SARJANA 58 16 1 75
Total 141 59 11 211
Chi-Square Tests
Asymptotic
Significance (2-
Value df sided)
a
Pearson Chi-Square 9,949 4 ,041
Likelihood Ratio 11,970 4 ,018
Linear-by-Linear Association 4,540 1 ,033
N of Valid Cases 211
a. 4 cells (44,4%) have expected count less than 5. The minimum expected count is ,21.

TEMPAT BEKERJA * TAHU


Crosstab
Count
TAHU
Total
BAIK CUKUP KURANG
tempat bekerja PKM POTO TANO 15 12 0 27
PKM SETELUK 24 11 1 36
PKM TALIWANG 33 7 2 42
PKM BRANG ENE 10 5 0 15
PKM BRANG REA 18 8 1 27
PKM JEREWEH 14 4 1 19
PKM MALUK 17 2 0 19
PKM SEKONGKANG 8 6 0 14
PKM TONGO 2 4 6 12
Total 141 59 11 211
Chi-Square Tests
Asymptotic
Significance (2-
Value df sided)
a
Pearson Chi-Square 66,745 16 ,000
Likelihood Ratio 43,209 16 ,000
Linear-by-Linear Association 4,329 1 ,037
N of Valid Cases 211
a. 12 cells (44,4%) have expected count less than 5. The minimum expected count is ,63.
LAMA TUGAS * TAHU

Crosstab
Count
TAHU
Total
BAIK CUKUP KURANG
lama tugas 0-1 TH 18 8 1 27
2-5 TH 54 28 6 88
6-10 45 17 2 64
11-15 18 5 1 24
16-20 3 1 0 4
21-25 1 0 1 2
26-40 2 0 0 2
Total 141 59 11 211
Chi-Square Tests
Asymptotic
Significance (2-
Value df sided)
a
Pearson Chi-Square 12,457 12 ,410
Likelihood Ratio 8,978 12 ,705
Linear-by-Linear Association ,800 1 ,371
N of Valid Cases 211
a. 13 cells (61,9%) have expected count less than 5. The minimum expected count is ,10.

PERNAH TERLIBAT KEGIATAN TANGGAP BENCANA * TAHU


Crosstab
Count
TAHU
BAIK CUKUP KURANG Total
pernah terlibat kegiatan tangap YA 88 31 3 122
bencana TIDAK 53 28 8 89
Total 141 59 11 211

Chi-Square Tests
Asymptotic
Significance (2-
Value df sided)
Pearson Chi-Square 6,101a 2 ,047
Likelihood Ratio 6,108 2 ,047
Linear-by-Linear Association 5,489 1 ,019
N of Valid Cases 211
a. 1 cells (16,7%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 4,64.

PERNAH PELATIHAN TENTANG MANAJEMEN BENCANA * TAHU


Crosstab
Count
TAHU
BAIK CUKUP KURANG Total
PERNAH PELATIHAN YA 37 11 0 48
TENTANG MANAJEMEN TIDAK 104 48 11 163
BENCANA
Total 141 59 11 211
Chi-Square Tests
Asymptotic
Significance (2-
Value df sided)
a
Pearson Chi-Square 4,783 2 ,091
Likelihood Ratio 7,217 2 ,027
Linear-by-Linear Association 4,344 1 ,037
N of Valid Cases 211
a. 1 cells (16,7%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2,50.

TERMASUK DALAM TIM GERAK CEPAT (TGC) DI PUSKESMAS *


TAHU

Crosstab
Count
TAHU
BAIK CUKUP KURANG Total
TERMASUK DALAM TIM YA 43 12 1 56
GERAK CEPAT (TGC) DI TIDAK 98 47 10 155
PUSKESMAS
Total 141 59 11 211
Chi-Square Tests
Asymptotic
Significance (2-
Value df sided)
Pearson Chi-Square 4,014a 2 ,134
Likelihood Ratio 4,450 2 ,108
Linear-by-Linear Association 3,991 1 ,046
N of Valid Cases 211
a. 1 cells (16,7%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2,92.
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Umur 211 1 5 2,00 ,669
Valid N (listwise) 211

DESCRIPTIVES VARIABLES=SIKAP
/STATISTICS=MEAN STDDEV MIN MAX.

Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
SIKAP 211 15 54 38,89 4,427
Valid N (listwise) 211

RECODE SIKAP (Lowest thru 39=1) (40 thru 100=2) INTO sikap1.
EXECUTE.
CROSSTABS
/TABLES=jenis_kelamin umur Tingkat_pendidikan Tempat_bekerja Lama_tugas Pernah_terlibat
Pernah_pelatihan Termasuk_timgercep BY sikap1
/FORMAT=AVALUE TABLES
/STATISTICS=CHISQ
/CELLS=COUNT
/COUNT ROUND CELL.

Case Processing Summary


Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
jenis kelamin * SIKAP 211 100,0% 0 0,0% 211 100,0%
umur * SIKAP 211 100,0% 0 0,0% 211 100,0%
tingkat pendidikan * SIKAP 211 100,0% 0 0,0% 211 100,0%
tempat bekerja * SIKAP 211 100,0% 0 0,0% 211 100,0%
lama tugas * SIKAP 211 100,0% 0 0,0% 211 100,0%
pernah terlibat kegiatan tangap 211 100,0% 0 0,0% 211 100,0%
bencana * SIKAP
PERNAH PELATIHAN 211 100,0% 0 0,0% 211 100,0%
TENTANG MANAJEMEN
BENCANA * SIKAP
TERMASUK DALAM TIM 211 100,0% 0 0,0% 211 100,0%
GERAK CEPAT (TGC) DI
PUSKESMAS * SIKAP

JENIS KELAMIN * SIKAP


Crosstab
Count
SIKAP
negatif positif Total
jenis kelamin laki-laki 22 26 48
Perempuan 93 70 163
Total 115 96 211

Chi-Square Tests
Asymptotic
Significance (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-
Value Df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 1,883 1 ,170
b
Continuity Correction 1,458 1 ,227
Likelihood Ratio 1,877 1 ,171
Fisher's Exact Test ,189 ,114
Linear-by-Linear Association 1,874 1 ,171
N of Valid Cases 211
a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 21,84.
b. Computed only for a 2x2 table

UMUR * SIKAP
Crosstab
Count
SIKAP
negatif Positif Total
umur <25 19 22 41
26-35 75 59 134
36-45 18 14 32
46-55 2 1 3
56-65 1 0 1
Total 115 96 211
Chi-Square Tests
Asymptotic
Significance (2-
Value Df sided)
Pearson Chi-Square 2,271a 4 ,686
Likelihood Ratio 2,649 4 ,618
Linear-by-Linear Association 1,537 1 ,215
N of Valid Cases 211
a. 4 cells (40,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count
is ,45.

TINGKAT PENDIDIKAN * SIKAP


Crosstab
Count
SIKAP
negatif positif Total
tingkat pendidikan SPK 2 2 4
DIPLOMA 82 50 132
SARJANA 31 44 75
Total 115 96 211

Chi-Square Tests
Asymptotic
Significance (2-
Value df sided)
a
Pearson Chi-Square 8,368 2 ,015
Likelihood Ratio 8,387 2 ,015
Linear-by-Linear Association 6,848 1 ,009
N of Valid Cases 211
a. 2 cells (33,3%) have expected count less than 5. The minimum expected count
is 1,82.

TEMPAT BEKERJA * SIKAP


Crosstab
Count
SIKAP
negatif positif Total
tempat bekerja PKM POTO TANO 14 13 27
PKM SETELOK 12 24 36
PKM TALIWANG 24 18 42
PKM BRANG ENE 10 5 15
PKM BRANG REA 18 9 27
PKM JEREWEH 6 13 19
PKM MALUK 10 9 19
PKM SEKONGKANG 10 4 14
PKM TONGO 11 1 12
Total 115 96 211

Chi-Square Tests
Asymptotic
Significance (2-
Value df sided)
Pearson Chi-Square 21,561a 8 ,006
Likelihood Ratio 23,120 8 ,003
Linear-by-Linear Association 5,692 1 ,017
N of Valid Cases 211
a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is
5,46.
LAMA TUGAS * SIKAP
Crosstab
Count
SIKAP
Negatif positif Total
lama tugas 0-1 TH 10 17 27
2-5 TH 51 37 88
6-10 36 28 64
11-15 15 9 24
16-20 0 4 4
21-25 1 1 2
26-40 2 0 2
Total 115 96 211
Chi-Square Tests
Asymptotic
Significance (2-
Value df sided)
a
Pearson Chi-Square 10,920 6 ,091
Likelihood Ratio 13,196 6 ,040
Linear-by-Linear Association ,888 1 ,346
N of Valid Cases 211
a. 6 cells (42,9%) have expected count less than 5. The minimum expected count
is ,91.

PERNAH TERLIBAT KEGIATAN TANGAP BENCANA * SIKAP


Crosstab
Count
SIKAPP
negatif positif Total
pernah terlibat kegiatan tangap YA 69 53 122
bencana TIDAK 46 43 89
Total 115 96 211
Chi-Square Tests
Asymptotic
Significance (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-
Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square ,493 1 ,483
b
Continuity Correction ,316 1 ,574
Likelihood Ratio ,492 1 ,483
Fisher's Exact Test ,488 ,287
Linear-by-Linear Association ,490 1 ,484
N of Valid Cases 211
a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 40,49.
b. Computed only for a 2x2 table

PERNAH PELATIHAN TENTANG MANAJEMEN BENCANA * SIKAP


Crosstab
Count
SIKAP
negatif positif Total
YA 23 25 48
PERNAH PELATIHAN TIDAK 92 71 163
TENTANG MANAJEMEN
BENCANA
Total 115 96 211
Chi-Square Tests
Asymptotic
Significance (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-
Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 1,087 1 ,297
b
Continuity Correction ,770 1 ,380
Likelihood Ratio 1,083 1 ,298
Fisher's Exact Test ,325 ,190
Linear-by-Linear Association 1,082 1 ,298
N of Valid Cases 211
a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 21,84.
b. Computed only for a 2x2 table

TERMASUK DALAM TIM GERAK CEPAT (TGC) DI PUSKESMAS *


SIKAP
Crosstab
Count
SIKAP
negatif positif Total
TERMASUK DALAM TIM YA 30 26 56
GERAK CEPAT (TGC) DI TIDAK 85 70 155
PUSKESMAS
Total 115 96 211
Chi-Square Tests
Asymptotic
Significance (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-
Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square ,027 1 ,870
b
Continuity Correction ,000 1 ,995
Likelihood Ratio ,027 1 ,870
Fisher's Exact Test ,877 ,496
Linear-by-Linear Association ,027 1 ,871
N of Valid Cases 211
a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 25,48.
b. Computed only for a 2x2 table
Case Processing Summary
Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
jenis kelamin * praktik dan 211 100,0% 0 0,0% 211 100,0%
pengalaman sebelumnya
umur * praktik dan pengalaman 211 100,0% 0 0,0% 211 100,0%
sebelumnya
tingkat pendidikan * praktik 211 100,0% 0 0,0% 211 100,0%
dan pengalaman sebelumnya
tempat bekerja * praktik dan 211 100,0% 0 0,0% 211 100,0%
pengalaman sebelumnya
lama tugas * praktik dan 211 100,0% 0 0,0% 211 100,0%
pengalaman sebelumnya
pernah terlibat kegiatan tangap 211 100,0% 0 0,0% 211 100,0%
bencana * praktik dan
pengalaman sebelumnya
PERNAH PELATIHAN 211 100,0% 0 0,0% 211 100,0%
TENTANG MANAJEMEN
BENCANA * praktik dan
pengalaman sebelumnya
TERMASUK DALAM TIM 211 100,0% 0 0,0% 211 100,0%
GERAK CEPAT (TGC) DI
PUSKESMAS * praktik dan
pengalaman sebelumnya

JENIS KELAMIN * PRAKTIK DAN PENGALAMAN SEBELUMNYA


Crosstab
Count
Praktik dan pengalaman sebelumnya
Total
BAIK CUKUP KURANG
jenis kelamin laki-laki 2 31 15 48
perempuan 5 89 69 163
Total 7 120 84 211
Chi-Square Tests
Asymptotic
Significance (2-
Value df sided)
a
Pearson Chi-Square 1,928 2 ,381
Likelihood Ratio 1,968 2 ,374
Linear-by-Linear Association 1,837 1 ,175
N of Valid Cases 211
a. 1 cells (16,7%) have expected count less than 5. The minimum expected count
is 1,59.

PRAKTIK DAN PENGALAMAN SEBELUMNYA


Crosstab
Count
Praktik dan pengalaman sebelumnya
Total
BAIK CUKUP KURANG
umur <25 3 20 18 41
26-35 2 76 56 134
36-45 2 20 10 32
46-55 0 3 0 3
56-65 0 1 0 1
Total 7 120 84 211
Chi-Square Tests
Asymptotic
Significance (2-
Value df sided)
Pearson Chi-Square 8,729a 8 ,366
Likelihood Ratio 9,936 8 ,270
Linear-by-Linear Association 1,740 1 ,187
N of Valid Cases 211
a. 9 cells (60,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count
is ,03.

TINGKAT PENDIDIKAN * PRAKTIK DAN PENGALAMAN


SEBELUMNYA
Crosstab
Count
Praktik/pengalaman sebelumnya
BAIK CUKUP KURANG Total
tingkat pendidikan SPK 1 3 0 4
DIPLOMA 6 69 57 132
SARJANA 0 48 27 75
Total 7 120 84 211
Chi-Square Tests
Asymptotic
Significance (2-
Value df sided)
a
Pearson Chi-Square 12,391 4 ,015
Likelihood Ratio 13,011 4 ,011
Linear-by-Linear Association ,265 1 ,607
N of Valid Cases 211
a. 5 cells (55,6%) have expected count less than 5. The minimum expected count
is ,13.

TEMPAT BEKERJA * PRAKTIK DAN PENGALAMAN


SEBELUMNYA
Crosstab
Count
Praktik/pengalaman sebelumnya
BAIK CUKUP KURANG Total
tempat bekerja PKM POTO TANO 3 10 14 27
PKM SETELUK 2 23 11 36
PKM TALIWANG 2 34 6 42
PKM BRANG ENE 0 3 12 15
PKM BRANG REA 0 17 10 27
PKM JEREWEH 0 7 12 19
PKM MALUK 0 15 4 19
PKM SEKONGKANG 0 11 3 14
PKM TONGO 0 0 12 12
Total 7 120 84 211
Chi-Square Tests
Asymptotic
Significance (2-
Value df sided)
a
Pearson Chi-Square 61,602 16 ,000
Likelihood Ratio 68,556 16 ,000
Linear-by-Linear Association 6,133 1 ,013
N of Valid Cases 211
a. 10 cells (37,0%) have expected count less than 5. The minimum expected
count is ,40.

LAMA TUGAS * PRAKTIK DAN PENGALAMAN SEBELUMNYA


Crosstab
Count
Praktik dan pengalaman sebelumnya
BAIK CUKUP KURANG Total
lama tugas 0-1 TH 1 15 11 27
2-5 TH 2 45 41 88
6-10 3 36 25 64
11-15 1 17 6 24
16-20 0 4 0 4
21-25 0 1 1 2
26-40 0 2 0 2
Total 7 120 84 211
Chi-Square Tests
Asymptotic
Significance (2-
Value df sided)
a
Pearson Chi-Square 9,099 12 ,694
Likelihood Ratio 11,483 12 ,488
Linear-by-Linear Association 3,512 1 ,061
N of Valid Cases 211
a. 13 cells (61,9%) have expected count less than 5. The minimum expected
count is ,07.

PERNAH TERLIBAT KEGIATAN TANGAP BENCANA * PRAKTIK


DAN PENGALAMAN SEBELUMNYA
Crosstab
Count
Praktik dan pengalaman sebelumnya
BAIK CUKUP KURANG Total
pernah terlibat kegiatan tangap YA 4 72 46 122
bencana TIDAK 3 48 38 89
Total 7 120 84 211
Chi-Square Tests
Asymptotic
Significance (2-
Value df sided)
a
Pearson Chi-Square ,557 2 ,757
Likelihood Ratio ,557 2 ,757
Linear-by-Linear Association ,412 1 ,521
N of Valid Cases 211
a. 2 cells (33,3%) have expected count less than 5. The minimum expected count
is 2,95.

PERNAH PELATIHAN TENTANG MANAJEMEN BENCANA *


PRAKTIK DAN PENGALAMAN SEBELUMNYA
Crosstab
Count
Praktik dan pengalaman sebelumnya
BAIK CUKUP KURANG Total
PERNAH PELATIHAN YA 0 34 14 48
TENTANG MANAJEMEN TIDAK 7 86 70 163
BENCANA
Total 7 120 84 211
Chi-Square Tests
Asymptotic
Significance (2-
Value df sided)
Pearson Chi-Square 5,959a 2 ,051
Likelihood Ratio 7,534 2 ,023
Linear-by-Linear Association 1,113 1 ,291
N of Valid Cases 211
a. 1 cells (16,7%) have expected count less than 5. The minimum expected count
is 1,59.

TERMASUK DALAM TIM GERAK CEPAT (TGC) DI PUSKESMAS *


PRAKTIK DAN PENGALAMAN SEBELUMNYA
Crosstab
Count
Praktik dan pengalaman sebelumnya
BAIK CUKUP KURANG Total
TERMASUK DALAM TIM YA 1 34 21 56
GERAK CEPAT (TGC) DI TIDAK 6 86 63 155
PUSKESMAS
Total 7 120 84 211
Chi-Square Tests
Asymptotic
Significance (2-
Value df sided)
a
Pearson Chi-Square ,839 2 ,657
Likelihood Ratio ,911 2 ,634
Linear-by-Linear Association ,015 1 ,901
N of Valid Cases 211
a. 1 cells (16,7%) have expected count less than 5. The minimum expected count
is 1,86.

Case Processing Summary


Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
tempat bekerja * TAHU 211 100.0% 0 0.0% 211 100.0%

tempat bekerja * TAHU Crosstabulation


TAHU
BAIK CUKUP KURANG Total
tempat PKM POTO % within tempat bekerja 55.6% 44.4% 100.0%
bekerja TANO % within TAHU 10.6% 20.3% 12.8%

% of Total 7.1% 5.7% 12.8%

PKM SETELUK % within tempat bekerja 66.7% 30.6% 2.8% 100.0%


% within TAHU 17.0% 18.6% 9.1% 17.1%
164

% of Total 11.4% 5.2% 0.5% 17.1%


PKM TALIWANG % within tempat bekerja 78.6% 16.7% 4.8% 100.0%

% within TAHU 23.4% 11.9% 18.2% 19.9%

% of Total 15.6% 3.3% 0.9% 19.9%

PKM BRANG % within tempat bekerja 66.7% 33.3% 100.0%


ENE % within TAHU 7.1% 8.5% 7.1%

% of Total 4.7% 2.4% 7.1%

PKM BRANG % within tempat bekerja 66.7% 29.6% 3.7% 100.0%


REA % within TAHU 12.8% 13.6% 9.1% 12.8%

% of Total 8.5% 3.8% 0.5% 12.8%

PKM JEREWEH % within tempat bekerja 73.7% 21.1% 5.3% 100.0%


% within TAHU 9.9% 6.8% 9.1% 9.0%

% of Total 6.6% 1.9% 0.5% 9.0%

PKM MALUK % within tempat bekerja 89.5% 10.5% 100.0%

% within TAHU 12.1% 3.4% 9.0%

% of Total 8.1% 0.9% 9.0%

PKM % within tempat bekerja 57.1% 42.9% 100.0%


SEKONGKANG % within TAHU 5.7% 10.2% 6.6%

% of Total 3.8% 2.8% 6.6%

PKM TONGO % within tempat bekerja 16.7% 33.3% 50.0% 100.0%

% within TAHU 1.4% 6.8% 54.5% 5.7%

% of Total 0.9% 1.9% 2.8% 5.7%

Total % within tempat bekerja 66.8% 28.0% 5.2% 100.0%


% within TAHU 100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
% of Total 66.8% 28.0% 5.2% 100.0%

Symmetric Measures
Asymp. Std.
Value Errora Approx. Tb Approx. Sig.
Interval by Interval Pearson's R .144 .080 2.097 .037c
Ordinal by Ordinal Spearman Correlation .058 .076 .845 .399c
N of Valid Cases 211

a. Not assuming the null hypothesis.


b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
c. Based on normal approximation.

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


165

CROSSTABS
/TABLES=Tingkat_pendidikan BY TAHU1
/FORMAT=AVALUE TABLES
/STATISTICS=CORR
/CELLS=ROW COLUMN TOTAL
/COUNT ROUND CELL.
Notes
Output Created 24-JAN-2019 21:09:53
Comments
Input Data C:\Users\TOSHIBA\Downloads\SP
SS Skripsi Arsi.sav
Active Dataset DataSet1
Filter <none>
Weight <none>
Split File <none>
N of Rows in Working Data File 211
Missing Value Handling Definition of Missing User-defined missing values are
treated as missing.
Cases Used Statistics for each table are based on
all the cases with valid data in the
specified range(s) for all variables
in each table.
Syntax CROSSTABS
/TABLES=Tingkat_pendidikan
BY TAHU1
/FORMAT=AVALUE TABLES
/STATISTICS=CORR
/CELLS=ROW COLUMN
TOTAL
/COUNT ROUND CELL.
Resources Processor Time 00:00:00,02

Elapsed Time 00:00:00,01

Dimensions Requested 2
Cells Available 174734

CROSSTABS
/TABLES=Lama_tugas BY TAHU1
/FORMAT=AVALUE TABLES
/STATISTICS=CORR
/CELLS=ROW COLUMN TOTAL
/COUNT ROUND CELL.

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


Case Processing Summary
Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
lama tugas * TAHU 211 100.0% 0 0.0% 211 100.0%

lama tugas * TAHU Crosstabulation


TAHU
BAIK CUKUP KURANG Total
lama tugas 0-1 TH % within lama tugas 66.7% 29.6% 3.7% 100.0%

% within TAHU 12.8% 13.6% 9.1% 12.8%

% of Total 8.5% 3.8% 0.5% 12.8%

2-5 TH % within lama tugas 61.4% 31.8% 6.8% 100.0%

% within TAHU 38.3% 47.5% 54.5% 41.7%

% of Total 25.6% 13.3% 2.8% 41.7%

6-10 % within lama tugas 70.3% 26.6% 3.1% 100.0%

% within TAHU 31.9% 28.8% 18.2% 30.3%

% of Total 21.3% 8.1% 0.9% 30.3%

11-15 % within lama tugas 75.0% 20.8% 4.2% 100.0%

% within TAHU 12.8% 8.5% 9.1% 11.4%

% of Total 8.5% 2.4% 0.5% 11.4%

16-20 % within lama tugas 75.0% 25.0% 100.0%

% within TAHU 2.1% 1.7% 1.9%

% of Total 1.4% 0.5% 1.9%

21-25 % within lama tugas 50.0% 50.0% 100.0%

% within TAHU 0.7% 9.1% 0.9%

% of Total 0.5% 0.5% 0.9%

26-40 % within lama tugas 100.0% 100.0%

% within TAHU 1.4% 0.9%

% of Total 0.9% 0.9%

Total % within lama tugas 66.8% 28.0% 5.2% 100.0%


% within TAHU 100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
% of Total 66.8% 28.0% 5.2% 100.0%

Symmetric Measures
Asymp. Std.
Value Errora Approx. Tb Approx. Sig.
Interval by Interval Pearson's R -.062 .073 -.894 .372c
Ordinal by Ordinal Spearman Correlation -.083 .068 -1.205 .230c
N of Valid Cases 211

a. Not assuming the null hypothesis.


b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
c. Based on normal approximation.

CROSSTABS
/TABLES=Pernah_terlibat BY TAHU1
/FORMAT=AVALUE TABLES
/STATISTICS=CORR
/CELLS=ROW COLUMN TOTAL
/COUNT ROUND CEL
Case Processing Summary
Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
pernah terlibat kegiatan tangap bencana *
211 100.0% 0 0.0% 211 100.0%
TAHU

pernah terlibat kegiatan tangap bencana * TAHU Crosstabulation


TAHU
BAIK CUKUP KURANG Total
pernah terlibat YA % within pernah terlibat
72.1% 25.4% 2.5% 100.0%
kegiatan tangap kegiatan tangap bencana
bencana % within TAHU 62.4% 52.5% 27.3% 57.8%
% of Total 41.7% 14.7% 1.4% 57.8%
TIDAK % within pernah terlibat
59.6% 31.5% 9.0% 100.0%
kegiatan tangap bencana
% within TAHU 37.6% 47.5% 72.7% 42.2%

% of Total 25.1% 13.3% 3.8% 42.2%


Total % within pernah terlibat kegiatan
66.8% 28.0% 5.2% 100.0%
tangap bencana
% within TAHU 100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
% of Total 66.8% 28.0% 5.2% 100.0%

Symmetric Measures
Asymp. Std.
Value Errora Approx. Tb Approx. Sig.
Interval by Interval Pearson's R .162 .068 2.368 .019c
Ordinal by Ordinal Spearman Correlation .146 .069 2.137 .034c
N of Valid Cases 211

a. Not assuming the null hypothesis.


b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
c. Based on normal approximation.

CROSSTABS
/TABLES=Pernah_pelatihan BY TAHU1
/FORMAT=AVALUE TABLES
/STATISTICS=CORR
/CELLS=ROW COLUMN TOTAL
/COUNT ROUND CELL.

Case Processing Summary


Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
PERNAH PELATIHAN TENTANG
211 100.0% 0 0.0% 211 100.0%
MANAJEMEN BENCANA * TAHU

PERNAH PELATIHAN TENTANG MANAJEMEN BENCANA * TAHU Crosstabulation


TAHU
BAIK CUKUP KURANG Total
PERNAH YA % within PERNAH
PELATIHAN PELATIHAN TENTANG 77.1% 22.9% 100.0%
TENTANG MANAJEMEN BENCANA
MANAJEMEN % within TAHU 26.2% 18.6% 22.7%
BENCANA % of Total 17.5% 5.2% 22.7%
TIDAK % within PERNAH
PELATIHAN TENTANG 63.8% 29.4% 6.7% 100.0%
MANAJEMEN BENCANA

% within TAHU 73.8% 81.4% 100.0% 77.3%


% of Total 49.3% 22.7% 5.2% 77.3%
Total % within PERNAH
PELATIHAN TENTANG 66.8% 28.0% 5.2% 100.0%
MANAJEMEN BENCANA
% within TAHU 100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
% of Total 66.8% 28.0% 5.2% 100.0%

Symmetric Measures
Asymp. Std.
Value Errora Approx. Tb Approx. Sig.

Interval by Interval Pearson's R .144 .053 2.101 .037c


Ordinal by Ordinal Spearman Correlation .131 .061 1.904 .058c
N of Valid Cases 211

a. Not assuming the null hypothesis.


b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
c. Based on normal approximation.

CROSSTABS
/TABLES=Termasuk_timgercep BY TAHU1
/FORMAT=AVALUE TABLES
/STATISTICS=CORR
/CELLS=ROW COLUMN TOTAL
/COUNT ROUND CELL.

Case Processing Summary


Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
TERMASUK DALAM TIM GERAK CEPAT
211 100.0% 0 0.0% 211 100.0%
(TGC) DI PUSKESMAS * TAHU

TERMASUK DALAM TIM GERAK CEPAT (TGC) DI PUSKESMAS * TAHU Crosstabulation


TAHU
BAIK CUKUP KURANG Total
TERMASUK YA % within TERMASUK
DALAM TIM DALAM TIM GERAK CEPAT 76.8% 21.4% 1.8% 100.0%
GERAK CEPAT (TGC) DI PUSKESMAS
(TGC) DI % within TAHU 30.5% 20.3% 9.1% 26.5%
PUSKESMAS % of Total 20.4% 5.7% 0.5% 26.5%

TIDAK % within TERMASUK


DALAM TIM GERAK CEPAT 63.2% 30.3% 6.5% 100.0%
(TGC) DI PUSKESMAS
% within TAHU 69.5% 79.7% 90.9% 73.5%
% of Total 46.4% 22.3% 4.7% 73.5%
Total % within TERMASUK
DALAM TIM GERAK CEPAT 66.8% 28.0% 5.2% 100.0%
(TGC) DI PUSKESMAS
% within TAHU 100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
% of Total 66.8% 28.0% 5.2% 100.0%

Symmetric Measures
Asymp. Std.
Value Errora Approx. Tb Approx. Sig.
Interval by Interval Pearson's R .138 .059 2.012 .045c
Ordinal by Ordinal Spearman Correlation .134 .063 1.949 .053c
N of Valid Cases 211

a. Not assuming the null hypothesis.


b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
c. Based on normal approximation.

CROSSTABS
/TABLES=umur jenis_kelamin Tingkat_pendidikan Tempat_bekerja Lama_tugas Pernah_terlibat
Pernah_pelatihan Termasuk_timgercep BY sikap1
/FORMAT=AVALUE TABLES
/STATISTICS=CORR
/CELLS=ROW COLUMN TOTAL
/COUNT ROUND CELL.
Case Processing Summary
Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
umur * SIKAP 211 100.0% 0 0.0% 211 100.0%
jenis kelamin * SIKAP 211 100.0% 0 0.0% 211 100.0%
tingkat pendidikan * SIKAP 211 100.0% 0 0.0% 211 100.0%
tempat bekerja * SIKAP 211 100.0% 0 0.0% 211 100.0%
lama tugas * SIKAP 211 100.0% 0 0.0% 211 100.0%
pernah terlibat kegiatan tangap bencana *
211 100.0% 0 0.0% 211 100.0%
SIKAP
PERNAH PELATIHAN TENTANG
211 100.0% 0 0.0% 211 100.0%
MANAJEMEN BENCANA * SIKAP
TERMASUK DALAM TIM GERAK CEPAT
211 100.0% 0 0.0% 211 100.0%
(TGC) DI PUSKESMAS * SIKAP
umur * SIKAP
Crosstab
SIKAPP
negatif positif Total
umur 15-25 % within umur 46.3% 53.7% 100.0%

% within SIKAP 16.5% 22.9% 19.4%

% of Total 9.0% 10.4% 19.4%

26-35 % within umur 56.0% 44.0% 100.0%

% within SIKAP 65.2% 61.5% 63.5%

% of Total 35.5% 28.0% 63.5%

36-45 % within umur 56.3% 43.8% 100.0%

% within SIKAP 15.7% 14.6% 15.2%

% of Total 8.5% 6.6% 15.2%

46-55 % within umur 66.7% 33.3% 100.0%

% within SIKAP 1.7% 1.0% 1.4%

% of Total 0.9% 0.5% 1.4%

56-65 % within umur 100.0% 100.0%

% within SIKAP 0.9% 0.5%

% of Total 0.5% 0.5%

Total % within umur 54.5% 45.5% 100.0%


% within SIKAP 100.0% 100.0% 100.0%
% of Total 54.5% 45.5% 100.0%

Symmetric Measures
Asymp. Std.
Value Errora Approx. Tb Approx. Sig.
Interval by Interval Pearson's R -.086 .067 -1.241 .216c
Ordinal by Ordinal Spearman Correlation -.077 .069 -1.118 .265c
N of Valid Cases 211

a. Not assuming the null hypothesis.


b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
c. Based on normal approximation.

jenis kelamin * SIKAP


Crosstab
SIKAP
negatif positif Total

jenis kelamin laki-laki % within jenis kelamin 45.8% 54.2% 100.0%

% within SIKAP 19.1% 27.1% 22.7%

% of Total 10.4% 12.3% 22.7%

Perempuan % within jenis kelamin 57.1% 42.9% 100.0%

% within SIKAP 80.9% 72.9% 77.3%

% of Total 44.1% 33.2% 77.3%

Total % within jenis kelamin 54.5% 45.5% 100.0%


% within SIKAP 100.0% 100.0% 100.0%
% of Total 54.5% 45.5% 100.0%

Symmetric Measures
Asymp. Std.
Value Errora Approx. Tb Approx. Sig.
Interval by Interval Pearson's R -.094 .069 -1.372 .172c
Ordinal by Ordinal Spearman Correlation -.094 .069 -1.372 .172c
N of Valid Cases 211

a. Not assuming the null hypothesis.


b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
c. Based on normal approximation.

tingkat pendidikan * SIKAP


Crosstab
SIKAP
negatif positif Total
tingkat pendidikan SPK % within tingkat pendidikan 50.0% 50.0% 100.0%

% within SIKAP 1.7% 2.1% 1.9%

% of Total 0.9% 0.9% 1.9%

DIPLOMA % within tingkat pendidikan 62.1% 37.9% 100.0%

% within SIKAP 71.3% 52.1% 62.6%

% of Total 38.9% 23.7% 62.6%

SARJANA % within tingkat pendidikan 41.3% 58.7% 100.0%

% within SIKAP 27.0% 45.8% 35.5%

% of Total 14.7% 20.9% 35.5%


Total % within tingkat pendidikan 54.5% 45.5% 100.0%
% within SIKAP 100.0% 100.0% 100.0%
% of Total 54.5% 45.5% 100.0%

Symmetric Measures
Asymp. Std.
Value Errora Approx. Tb Approx. Sig.

Interval by Interval Pearson's R .181 .069 2.654 .009c


Ordinal by Ordinal Spearman Correlation .187 .068 2.756 .006c
N of Valid Cases 211

a. Not assuming the null hypothesis.


b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
c. Based on normal approximation.
tempat bekerja * SIKAP
Crosstab
SIKAP
negatif positif Total
tempat bekerja PKM POTO TANO % within tempat bekerja 51.9% 48.1% 100.0%

% within SIKAP 12.2% 13.5% 12.8%

% of Total 6.6% 6.2% 12.8%

PKM SETELOK % within tempat bekerja 33.3% 66.7% 100.0%

% within SIKAP 10.4% 25.0% 17.1%

% of Total 5.7% 11.4% 17.1%

PKM TALIWANG % within tempat bekerja 57.1% 42.9% 100.0%

% within SIKAP 20.9% 18.8% 19.9%

% of Total 11.4% 8.5% 19.9%

PKM BRANG ENE % within tempat bekerja 66.7% 33.3% 100.0%

% within SIKAP 8.7% 5.2% 7.1%

% of Total 4.7% 2.4% 7.1%

PKM BRANG REA % within tempat bekerja 66.7% 33.3% 100.0%

% within SIKAP 15.7% 9.4% 12.8%

% of Total 8.5% 4.3% 12.8%

PKM JEREWEH % within tempat bekerja 31.6% 68.4% 100.0%

% within SIKAP 5.2% 13.5% 9.0%

% of Total 2.8% 6.2% 9.0%

PKM MALUK % within tempat bekerja 52.6% 47.4% 100.0%


% within SIKAP 8.7% 9.4% 9.0%
% of Total 4.7% 4.3% 9.0%
PKM SEKONGKANG % within tempat bekerja 71.4% 28.6% 100.0%

% within SIKA 8.7% 4.2% 6.6%

% of Total 4.7% 1.9% 6.6%

PKM TONGO % within tempat bekerja 91.7% 8.3% 100.0%

% within SIKAP 9.6% 1.0% 5.7%

% of Total 5.2% 0.5% 5.7%

Total % within tempat bekerja 54.5% 45.5% 100.0%


% within SIKAP 100.0% 100.0% 100.0%
% of Total 54.5% 45.5% 100.0%

Symmetric Measures
Asymp. Std.
Value Errora Approx. Tb Approx. Sig.
Interval by Interval Pearson's R -.165 .065 -2.413 .017c
Ordinal by Ordinal Spearman Correlation -.159 .067 -2.333 .021c
N of Valid Cases 211

a. Not assuming the null hypothesis.


b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
c. Based on normal approximation.

lama tugas * SIKAP


Crosstab
SIKAP
negatif positif Total
lama tugas 0-1 TH % within lama tugas 37.0% 63.0% 100.0%

% within SIKAP 8.7% 17.7% 12.8%

% of Total 4.7% 8.1% 12.8%

2-5 TH % within lama tugas 58.0% 42.0% 100.0%

% within SIKAP 44.3% 38.5% 41.7%

% of Total 24.2% 17.5% 41.7%

6-10 % within lama tugas 56.3% 43.8% 100.0%

% within SIKAP 31.3% 29.2% 30.3%

% of Total 17.1% 13.3% 30.3%

11-15 % within lama tugas 62.5% 37.5% 100.0%


% within SIKAP 13.0% 9.4% 11.4%
% of Total 7.1% 4.3% 11.4%
16-20 % within lama tugas 100.0% 100.0%

% within SIKAP 4.2% 1.9%

% of Total 1.9% 1.9%

21-25 % within lama tugas 50.0% 50.0% 100.0%

% within SIKAP 0.9% 1.0% 0.9%

% of Total 0.5% 0.5% 0.9%

26-40 % within lama tugas 100.0% 100.0%

% within SIKAP 1.7% 0.9%

% of Total 0.9% 0.9%

Total % within lama tugas 54.5% 45.5% 100.0%


% within SIKAP 100.0% 100.0% 100.0%
% of Total 54.5% 45.5% 100.0%

Symmetric Measures
Asymp. Std.
Value Errora Approx. Tb Approx. Sig.
Interval by Interval Pearson's R -.065 .068 -.942 .347c
Ordinal by Ordinal Spearman Correlation -.067 .069 -.977 .330c
N of Valid Cases 211

a. Not assuming the null hypothesis.


b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
c. Based on normal approximation.

pernah terlibat kegiatan tanggap bencana * SIKAP


Crosstab
SIKAPP
Negatif positif Total
pernah terlibat YA % within pernah terlibat
56.6% 43.4% 100.0%
kegiatan tangap kegiatan tangap bencana
bencana % within SIKAP 60.0% 55.2% 57.8%
% of Total 32.7% 25.1% 57.8%
TIDAK % within pernah terlibat kegiatan
51.7% 48.3% 100.0%
tangap bencana
% within SIKAP 40.0% 44.8% 42.2%
% of Total 21.8% 20.4% 42.2%
Total % within pernah terlibat kegiatan
54.5% 45.5% 100.0%
tangap bencana
% within SIKAP 100.0% 100.0% 100.0%
% of Total 54.5% 45.5% 100.0%

Symmetric Measures
Asymp. Std.
Value Errora Approx. Tb Approx. Sig.
Interval by Interval Pearson's R .048 .069 .699 .485c
Ordinal by Ordinal Spearman Correlation .048 .069 .699 .485c
N of Valid Cases 211

a. Not assuming the null hypothesis.


b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
c. Based on normal approximation.

PERNAH PELATIHAN TENTANG MANAJEMEN BENCANA * SIKAP


Crosstab
SIKAP
negatif positif Total
PERNAH YA % within PERNAH PELATIHAN
PELATIHAN TENTANG MANAJEMEN 47.9% 52.1% 100.0%
TENTANG BENCANA
MANAJEMEN % within SIKAP 20.0% 26.0% 22.7%
BENCANA % of Total 10.9% 11.8% 22.7%

TIDAK % within PERNAH PELATIHAN


TENTANG MANAJEMEN 56.4% 43.6% 100.0%
BENCANA
% within SIKAP 80.0% 74.0% 77.3%
% of Total 43.6% 33.6% 77.3%
Total % within PERNAH PELATIHAN
TENTANG MANAJEMEN 54.5% 45.5% 100.0%
BENCANA
% within SIKAP 100.0% 100.0% 100.0%
% of Total 54.5% 45.5% 100.0%

Symmetric Measures
Asymp. Std.
Value Errora Approx. Tb Approx. Sig.
Interval by Interval Pearson's R -.072 .069 -1.040 .299c
Ordinal by Ordinal Spearman Correlation -.072 .069 -1.040 .299c
N of Valid Cases 211

a. Not assuming the null hypothesis.


b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
c. Based on normal approximation.
TERMASUK DALAM TIM GERAK CEPAT (TGC) DI PUSKESMAS *
SIKAP
Crosstab
SIKAP
negatif positif Total
TERMASUK YA % within TERMASUK DALAM
DALAM TIM TIM GERAK CEPAT (TGC) DI 53.6% 46.4% 100.0%
GERAK CEPAT PUSKESMAS
(TGC) DI % within SIKAP 26.1% 27.1% 26.5%
PUSKESMAS % of Total 14.2% 12.3% 26.5%

TIDAK % within TERMASUK DALAM


TIM GERAK CEPAT (TGC) DI 54.8% 45.2% 100.0%
PUSKESMAS

% within SIKAP 73.9% 72.9% 73.5%


% of Total 40.3% 33.2% 73.5%
Total % within TERMASUK
DALAM TIM GERAK CEPAT 54.5% 45.5% 100.0%
(TGC) DI PUSKESMAS
% within SIKAP 100.0% 100.0% 100.0%
% of Total 54.5% 45.5% 100.0%

Symmetric Measures
Asymp. Std.
Value Errora Approx. Tb Approx. Sig.
Interval by Interval Pearson's R -.011 .069 -.162 .871c
Ordinal by Ordinal Spearman Correlation -.011 .069 -.162 .871c
N of Valid Cases 211

a. Not assuming the null hypothesis.


b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
c. Based on normal approximation.

CROSSTABS
/TABLES=umur jenis_kelamin Tingkat_pendidikan Tempat_bekerja Lama_tugas Pernah_terlibat
Pernah_pelatihan Termasuk_timgercep BY pRAKTEK_PENGALAMAN
/FORMAT=AVALUE TABLES
/STATISTICS=CORR
/CELLS=ROW COLUMN TOTAL
/COUNT ROUND CELL.
Case Processing Summary
Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
umur * PRAKTIK/PENGALAMAN
211 100.0% 0 0.0% 211 100.0%
SEBELUMNYA
jenis kelamin * PRAKTIK/PENGALAMAN
SEBELUMNYA 211 100.0% 0 0.0% 211 100.0%
tingkat pendidikan *
PRAKTIK/PENGALAMAN SEBELUMNYA 211 100.0% 0 0.0% 211 100.0%
tempat bekerja * PRAKTIK/PENGALAMAN
SEBELUMNYA
211 100.0% 0 0.0% 211 100.0%
lama tugas * PRAKTIK/PENGALAMAN
SEBELUMNYA
211 100.0% 0 0.0% 211 100.0%
pernah terlibat kegiatan tangap bencana *
PRAKTIK/PENGALAMAN SEBELUMNYA
PERNAH PELATIHAN TENTANG 211 100.0% 0 0.0% 211 100.0%
MANAJEMEN BENCANA *
PRAKTIK/PENGALAMAN SEBELUMNYA
TERMASUK DALAM TIM GERAK CEPAT 211 100.0% 0 0.0% 211 100.0%
(TGC) DI PUSKESMAS *
PRAKTIK/PENGALAMAN SEBELUMNYA
211 100.0% 0 0.0% 211 100.0%

UMUR * PRAKTIK/PENGALAMAN SEBELUMNYA


Crosstab
PRAKTIK/PENGALAMAN
SEBELUMNYA
BAIK CUKUP KURANG Total
umur 15-25 % within umur 7.3% 48.8% 43.9% 100.0%
% within praktik/pengalaman sebelumnya 42.9% 16.7% 21.4% 19.4%
% of Total 1.4% 9.5% 8.5% 19.4%
26-35 % within umur 1.5% 56.7% 41.8% 100.0%

% within praktik/pengalaman sebelumnya 28.6% 63.3% 66.7% 63.5%

% of Total 0.9% 36.0% 26.5% 63.5%

36-45 % within umur 6.3% 62.5% 31.3% 100.0%

% within praktik/pengalaman sebelumnya 28.6% 16.7% 11.9% 15.2%

% of Total 0.9% 9.5% 4.7% 15.2%

46-55 % within umur 100.0% 100.0%

% within praktik/pengalaman sebelumnya 2.5% 1.4%

% of Total 1.4% 1.4%

56-65 % within umur 100.0% 100.0%


% within praktik/pengalaman sebelumnya 0.8% 0.5%

% of Total 0.5% 0.5%

Total % within umur 3.3% 56.9% 39.8% 100.0%


% within praktik/pengalaman sebelumnya 100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
% of Total 3.3% 56.9% 39.8% 100.0%

Symmetric Measures
Asymp. Std.
Value Errora Approx. Tb Approx. Sig.
Interval by Interval Pearson's R -.091 .068 -1.322 .188c
Ordinal by Ordinal Spearman Correlation -.085 .071 -1.236 .218c
N of Valid Cases 211

a. Not assuming the null hypothesis.


b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
c. Based on normal approximation.

JENIS KELAMIN * PRAKTIK/PENGALAMAN SEBELUMNYA


Crosstab
PRAKTIK/PENGALAMAN
SEBELUMNYA
BAIK CUKUP KURANG Total
jenis kelamin laki-laki % within jenis kelamin 4.2% 64.6% 31.3% 100.0%

% within
praktik/pengalaman 28.6% 25.8% 17.9% 22.7%
sebelumnya
% of Total 0.9% 14.7% 7.1% 22.7%
perempuan % within jenis kelamin 3.1% 54.6% 42.3% 100.0%

% within
praktik/pengalaman 71.4% 74.2% 82.1% 77.3%
sebelumnya
% of Total 2.4% 42.2% 32.7% 77.3%

Total % within jenis kelamin 3.3% 56.9% 39.8% 100.0%


% within
praktik/pengalaman 100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
sebelumnya
% of Total 3.3% 56.9% 39.8% 100.0%

Symmetric Measures
Asymp. Std.
Value Errora Approx. Tb Approx. Sig.
Interval by Interval Pearson's R .094 .067 1.358 .176c
Ordinal by Ordinal Spearman Correlation .095 .067 1.382 .168c
N of Valid Cases 211

a. Not assuming the null hypothesis.


b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
c. Based on normal approximation.

tingkat pendidikan * PRAKTIK/PENGALAMAN SEBELUMNYA


Crosstab
PRAKTIK/PENGALAMAN
SEBELUMNYA
BAIK CUKUP KURANG Total
tingkat SPK % within tingkat pendidikan 25.0% 75.0% 100.0%
pendidikan % within
14.3% 2.5% 1.9%
praktik/pengalaman
sebelumnya 0.5% 1.4% 1.9%
% of Total
DIPLOMA % within tingkat pendidikan 4.5% 52.3% 43.2% 100.0%

% within
85.7% 57.5% 67.9% 62.6%
praktik/pengalaman
sebelumnya 2.8% 32.7% 27.0% 62.6%
% of Total
SARJANA % within tingkat pendidikan 64.0% 36.0% 100.0%
% within praktik/pengalaman
40.0% 32.1% 35.5%
sebelumnya
% of Total 22.7% 12.8% 35.5%
Total % within tingkat pendidikan 3.3% 56.9% 39.8% 100.0%
% within praktik/pengalaman
100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
sebelumnya
% of Total 3.3% 56.9% 39.8% 100.0%

Symmetric Measures
Asymp. Std.
Value Errora Approx. Tb Approx. Sig.
Interval by Interval Pearson's R .035 .068 .514 .608c
Ordinal by Ordinal Spearman Correlation .002 .068 .025 .980c
N of Valid Cases 211

a. Not assuming the null hypothesis.


b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
c. Based on normal approximation.

tempat bekerja * PRAKTIK/PENGALAMAN SEBELUMNYA


Crosstab
PRAKTIK/PENGALAMAN
SEBELUMNYA
BAIK CUKUP KURANG Total
tempat PKM POTO % within tempat bekerja 11.1% 37.0% 51.9% 100.0%
bekerja TANO % within
praktik/pengalaman 42.9% 8.3% 16.7% 12.8%
sebelumnya
% of Total 1.4% 4.7% 6.6% 12.8%

PKM SETELUK % within tempat bekerja 5.6% 63.9% 30.6% 100.0%

% within
praktik/pengalaman 28.6% 19.2% 13.1% 17.1%
sebelumnya
% of Total 0.9% 10.9% 5.2% 17.1%

PKM % within tempat bekerja 4.8% 81.0% 14.3% 100.0%


TALIWANG % within
praktik/pengalaman 28.6% 28.3% 7.1% 19.9%
sebelumnya
182

% of Total 0.9% 16.1% 2.8% 19.9%


PKM BRANG % within tempat bekerja 20.0% 80.0% 100.0%
ENE % within
praktik/pengalaman 2.5% 14.3% 7.1%
sebelumnya
% of Total 1.4% 5.7% 7.1%

PKM BRANG % within tempat bekerja 63.0% 37.0% 100.0%


REA % within
praktik/pengalaman 14.2% 11.9% 12.8%
sebelumnya
% of Total 8.1% 4.7% 12.8%

PKM JEREWEH % within tempat bekerja 36.8% 63.2% 100.0%

% within
praktik/pengalaman 5.8% 14.3% 9.0%
sebelumnya
% of Total 3.3% 5.7% 9.0%

PKM MALUK % within tempat bekerja 78.9% 21.1% 100.0%

% within
praktik/pengalaman 12.5% 4.8% 9.0%
sebelumnya
% of Total 7.1% 1.9% 9.0%

PKM % within tempat bekerja 78.6% 21.4% 100.0%


SEKONGKAN % within
G praktik/pengalaman 9.2% 3.6% 6.6%
sebelumnya
% of Total 5.2% 1.4% 6.6%
PKM TONGO % within tempat bekerja 100.0% 100.0%

% within
praktik/pengalaman 14.3% 5.7%
sebelumnya
% of Total 5.7% 5.7%
Total % within tempat bekerja 3.3% 56.9% 39.8% 100.0%
% within
praktik/pengalaman 100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
sebelumnya
% of Total 3.3% 56.9% 39.8% 100.0%

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


183

Symmetric Measures
Asymp. Std.
Value Errora Approx. Tb Approx. Sig.
Interval by Interval Pearson's R .171 .068 2.508 .013c
Ordinal by Ordinal Spearman Correlation .137 .071 1.994 .047c
N of Valid Cases 211

a. Not assuming the null hypothesis.


b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
c. Based on normal approximation.

lama tugas * PRAKTIK/PENGALAMAN SEBELUMNYA


Crosstab
PRAKTIK/PENGALAMAN
SEBELUMNYA
BAIK CUKUP KURANG Total
lama 0-1 TH % within lama tugas 3.7% 55.6% 40.7% 100.0%
tuga % within
s praktik/pengalaman
14.3% 12.5% 13.1% 12.8%
sebelumnya
% of Total 0.5% 7.1% 5.2% 12.8%

2-5 TH % within lama tugas 2.3% 51.1% 46.6% 100.0%

% within
28.6% 37.5% 48.8% 41.7%
praktik/pengalaman
sebelumnya 0.9% 21.3% 19.4% 41.7%
% of Total
6-10 % within lama tugas 4.7% 56.3% 39.1% 100.0%

% within pRAKTEK DAN


42.9% 30.0% 29.8% 30.3%
pENGALAMAN
% of Total 1.4% 17.1% 11.8% 30.3%

11-15 % within lama tugas 4.2% 70.8% 25.0% 100.0%

% within
14.3% 14.2% 7.1% 11.4%
praktik/pengalaman
sebelumnya 0.5% 8.1% 2.8% 11.4%
% of Total
16-20 % within lama tugas 100.0% 100.0%

% within
3.3% 1.9%
praktik/pengalaman
sebelumnya 1.9% 1.9%
% of Total

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


184
21-25 % within lama tugas 50.0% 50.0% 100.0%

SKRIPSI GAMBARAN KESIAPAN TENAGA….. ARSI SUSILAWATI


% within praktik/pengalaman
0.8% 1.2% 0.9%
sebelumnya
% of Total 0.5% 0.5% 0.9%
26-40 % within lama tugas 100.0% 100.0%

% within praktik/pengalaman
1.7% 0.9%
sebelumnya
% of Total 0.9% 0.9%
Total % within lama tugas 3.3% 56.9% 39.8% 100.0%
% within praktik/pengalaman
100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
sebelumnya
% of Total 3.3% 56.9% 39.8% 100.0%

Symmetric Measures
Asymp. Std.
Value Errora Approx. Tb Approx. Sig.

Interval by Interval Pearson's R -.129 .061 -1.886 .061c


Ordinal by Ordinal Spearman Correlation -.128 .066 -1.859 .064c
N of Valid Cases 211

a. Not assuming the null hypothesis.


b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
c. Based on normal approximation.

pernah terlibat kegiatan tangap bencana * PRAKTIK/PENGALAMAN


SEBELUMNYA
Crosstab

PRAKTIK/PENGALAMAN
SEBELUMNYA
BAIK CUKUP KURANG Total

pernah YA % within pernah terlibat


3.3% 59.0% 37.7% 100.0%
terlibat kegiatan tangap
kegiatan bencana
tangap bencana % within
praktik/pengalaman 57.1% 60.0% 54.8% 57.8%

sebelumnya
% of Total 1.9% 34.1% 21.8% 57.8%

TIDAK % within pernah terlibat


3.4% 53.9% 42.7% 100.0%
kegiatan tangap
bencana
% within
praktik/pengalaman 42.9% 40.0% 45.2% 42.2%
sebelumnya
% of Total 1.4% 22.7% 18.0% 42.2%
Total % within pernah terlibat
3.3% 56.9% 39.8% 100.0%
kegiatan tangap bencana
% within
praktik/pengalaman 100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
sebelumnya
% of Total 3.3% 56.9% 39.8% 100.0%

Symmetric Measures
Asymp. Std.
Value Errora Approx. Tb Approx. Sig.
Interval by Interval Pearson's R .044 .069 .641 .522c
Ordinal by Ordinal Spearman Correlation .047 .069 .681 .497c
N of Valid Cases 211

a. Not assuming the null hypothesis.


b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
c. Based on normal approximation.

PERNAH PELATIHAN TENTANG MANAJEMEN BENCANA *


PRAKTIK/PENGALAMAN SEBELUMNYA
Crosstab
PRAKTIK/PENGALAMAN
SEBELUMNYA
BAIK CUKUP KURANG Total
PERNAH YA % within PERNAH
PELATIHAN PELATIHAN TENTANG 70.8% 29.2% 100.0%
TENTANG MANAJEMEN BENCANA
MANAJEMEN % within
28.3% 16.7% 22.7%
BENCANA praktik/pengalaman
sebelumnya 16.1% 6.6% 22.7%
% of Total
TIDAK % within PERNAH PELATIHAN
TENTANG MANAJEMEN 4.3% 52.8% 42.9% 100.0%
BENCANA
% within praktik/pengalaman
100.0% 71.7% 83.3% 77.3%
sebelumnya
% of Total 3.3% 40.8% 33.2% 77.3%
Total % within PERNAH PELATIHAN
TENTANG MANAJEMEN 3.3% 56.9% 39.8% 100.0%
BENCANA
% within praktik/pengalaman
100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
sebelumnya
% of Total 3.3% 56.9% 39.8% 100.0%

Symmetric Measures
Ap
pr
o
Asymp. Std. x.
a b
Value Error Approx. T Si
g
.
Interval by Interval Pearson's R .29
.073 .062 1.055
2c
Ordinal by Ordinal Spearman Correlation .19
.090 .064 1.304
4c
N of Valid Cases 211

a. Not assuming the null hypothesis.


b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
c. Based on normal approximation.

TERMASUK DALAM TIM GERAK CEPAT (TGC) DI PUSKESMAS *


PRAKTIK/PENGALAMAN SEBELUMNYA
Crosstab
PRAKTIK/PENGALAMAN
SEBELUMNYA
Total
BAIK CUKUP KURANG
TERMASUK YA % within TERMASUK
DALAM TIM DALAM TIM GERAK 1.8% 60.7% 37.5% 100.0%
GERAK CEPAT (TGC) DI
CEPAT (TGC) PUSKESMAS
14.3% 28.3% 25.0% 26.5%
DI % within
PUSKESMAS praktik/pengalaman
sebelumnya 0.5% 16.1% 10.0% 26.5%

% of Total
TIDAK % within TERMASUK
DALAM TIM GERAK 3.9% 55.5% 40.6% 100.0%
CEPAT
(TGC) DI PUSKESMAS
% within praktik/pengalaman
85.7% 71.7% 75.0% 73.5%
sebelumnya
% of Total 2.8% 40.8% 29.9% 73.5%
Total % within TERMASUK
DALAM TIM GERAK CEPAT 3.3% 56.9% 39.8% 100.0%
(TGC) DI PUSKESMAS
% within praktik/pengalaman
100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
sebelumnya
% of Total 3.3% 56.9% 39.8% 100.0%

Symmetric Measures
Asymp. Std.
Value Errora Approx. Tb Approx. Sig.
Interval by Interval Pearson's R .009 .066 .124 .901c
Ordinal by Ordinal Spearman Correlation .016 .067 .228 .820c
N of Valid Cases 211

a. Not assuming the null hypothesis.


b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
c. Based on normal approximation.