Anda di halaman 1dari 16

Laporan Praktikum

Biologi Umum

Praktikum Respirasi

OLEH KELOMPOK 5

Syifa Mutiara Shabrina (1304620043) Fina Fauziyah (1304620025)


Khalisdhia Falah B. (1304620056) Aura Cahya Sesilia (130462063)
Aulia Fi Jalatami (1304620054) Prayoga Arya W. (1304620069)
Erfina Damayanti (1304620013) Mixel Febriana (1304620004)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNVERSITAS NEGERI JAKARTA

2020
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Respirasi biasanya disebut juga sebagai pernafasan. Namun demikian, istilah


respirasi mencakup proses-proses yang juga tidak tercakup pada istilah pernapasan.
Respirasi terjadi pada semua tingkatan organisme hidup, mulai dari individu hingga
satuan terkecil, sel. Respirasi merupakan proses yang sangat penting dan dibutuhkan
oleh setiap makhluk hidup. Dengan adanya respirasi ini dapat diketahui atau
ditentukan seberapa besar laju metabolisme pada makhluk hidup. Setiap makhluk
hidup memiliki ciri yang berbeda saat melakukan respirasi, dan setiap laju respirai
makhluk hidup ini juga berbeda beda antar makhluk hidup yang satu dengan
makhluk hidup yang lainnya. Hal ini dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu faktor internal
dan faktor eksternal. Faktor internal ini meliputi tingkat perkembangan makhluk
hidup, susunan kimia jaringan pada makhluk hidup dan jenis jaringan pada makhluk
hidup. Sedangkan faktor eksternal meliputi tingkat ketersediaan unsur CO2 dan
unsur O2, suhu lingkungan, dan adanya gas etilen. Kebanyakan proses respirasi pada
tumbuhan terjadi pada tumbuhan yang sedang aktif tumbuh serta banyak terjadi juga
pada tumbuhan yang melakukan metebolisme. Misalnya saja pada respirasi pada
ujung akar, tunas, ujung tunas, dan biji yang berkecambah serta pada kuncup bunga.
Berdasarkan adanya kebutuhan oksigen, respirasi digolongkan menjadi dua jenis
yaitu respirasi aerob dan respirasi anaerob.

Apabila pernapasan biasanya diasosiasikan dengan penggunaan oksigen


sebagai senyawa pemecah, respirasi tidak selalu melibatkan oksigen. Respirasi yang
seperti itu disebut respirasi an aerob sedangkan yang menggunakan udara (O2)
disebut respirasi aerob.

Dalam respirasi terdapat 4 tahapan yaitu Glikolisis, Dekarboksilase oksidatif,


Siklus crabs, dan tranfer elektron. Praktikum yang dilakukan untuk uji respirasi
menggunakan kecambah kacang hijau sebagai objeknya dan dari sana kita
mempelajari bagaimana proses respirasi tersebut berlangsung.

1.2. Tujuan
1. Mengukur laju respirasi pada tumbuhan dan hewan.
2. Mengetahui kandungan CO2 pada udara pernapasan.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Landasan Teori

Respirasi adalah suatu proses oksidasi bahan organik menjadi senyawa yang
lebih sederhana dan sejumlah energi. Semua organisme baik hewan maupun
tumbuhan melakukan respirasi. Pada tumbuhan agak sukar menunjukkan
respirasinya, karena tumbuhan yang berklorofil juga melakukan fotosintesis. Oleh
karena itu, untuk menunjukkan respirasi pada tumbuhan biasanya digunakan
kecambah yang belum berklorofil. Jika tumbuhan yang sudah berklorofil digunakan,
harus disimpan di tempat gelap.

Respirasi merupakan kebalikan dari fotosintesis. Oksigen yang merupakan


hasil fotosintesis merupakan bahan dalam respirasi, sedangkan hasil respirasi
berupa karbondioksida dan jumlah energi. Reaksi sederhananya :
𝐶6 𝐻12 𝑂6 + 6𝑂2 6𝐶𝑂2 + 6𝐻2 𝑂 + 686 𝑘. 𝑘𝑎𝑙

Laju respirasi dari suatu organisme dapat diukur. Salah satu cara yang dapat
dipakai yaitu dengan menghitung jumlah oksigen yang dipergunakan oleh organisme
tersebut. Jumlah ini dinyatakan dalam ml O2/jam/gram berat tubuh.

2.2. Teori Tambahan

Respirasi adalah proses penguraian bahan makanan yang menghasilkan


energi. Respirasi dilakukan oleh semua penyusun tubuh, baik sel-sel tumbuhan
maupun sel hewan dan manusia. Respirasi dilakukan pada siang maupun malam hari.
Aktivitas makhluk hidup memerlukan energi begitu juga dengan tumbuhan. Respirasi
terjadi pada seluruh bagian tubuh tumbuhan, pada tumbuhan tingkat tinggi respirasi
terjadi baik pada akar, batang maupun daun dan secara kimia pada respirasi aerobik
pada karbohidrat (glukosa) adalah kebalikan fotosintesis. Pada respirasi pembakaran
glukosa oleh oksigen akan menghasilkan energi karena semua bagian tumbuhan
tersusun atas jaringan dan jaringan tersusun atas sel, maka respirasi terjadi pada sel
(Campbell, 2002).

Tumbuhan atau tanaman melakukan respirasi pada saat malam hari. Ada
beberapa bagian dari tanaman atau tumbuhan yang aktif melakukan respirasi yaitu
tunas, kuncup bunga, ujung akar, ujung batang, dan biji yang mulai tumbuh atau
muncul akar. Proses respirasi pada tanaman terjadi di stomata (mulut daun). Melalui
stomata tumbuhan atau tanaman dapat menyerap oksigen. Proses respirasi tersebut
kaitannya dengan proses pembebasan energi kimia menjadi energi yang akan
digunakan dalam aktifitas pada tumbuhan atau tanaman.
Berdasarkan adanya kandungan oksigen respirasi dapat dibedakan menjadi
dua yaitu respirasi aerobik dan anaerobik dengan adanya oksigen proses respirasi
dapat terjadi yang biasa disebut dengan respirasi aerobik dan jika tidak ada oksigen
maka disebut dengan respirasi anaerobik (Adirahmanto dkk, 2013). Respirasi
aerobik adalah proses respirasi yang membutuhkan oksigen dari udara bebas.
Sedangkan, respirasi anaerobik merupakan proses respirasi yang tidak memerlukan
oksigen dari udara bebas, tetapi dapat diperoleh oksigen dalam jaringan tanaman,
atau dari proses metabolisme yang lain. Respirasi anaerobik ini biasa disebut dengan
proses permentasi. Perbedaan nyata yang terletak antara proses respirasi aerobik
dengan proses respirasi anaerobik adalah sumber oksigen. Pada respirasi anaerob
sumber oksigen berasal dari bahan organik yag telah mengalami metabolisme.
Sedangkan pada respirasi aerob sumber oksigennya berasal dari udara bebas (Jumin,
2012).

Lakitan (2013) berpendapat bahwa, proses respirasi pada tumbuhan terdiri


dari beberapa aktivitas yaitu yang pertama diawali dengan adanya proses glikolisis.
Glikolisis merupakan penguraian gula untuk menghasilkan etil alkohol atau etanol.
Akan tetapi apabila terjadi penguraian gula pada kondisi kecukupan oksigen akan
menghasilkan asam piruvat.

Manfaat glikolisis dalam proses respirasi yaitu :


1. Mereduksi 2 molekul NAD+ menjadi NADH dalam perombakan setiap molekul
heksosa.
2. Molekul heksosa yang dirombak akan menghasilkan 2 molekul ATP.
3. Melalui proses glikolisis akan dihasilkan senyawa-senyawa antara yang dapat
menjadi bahan baku untuk sintesis berbagai senyawa yang terdapat dalam
tumbuhan.

Setelah proses glikolisis, tahap selanjutnya dalam pembentukan energi yaitu


siklus krebs. Tahap awal dari siklus krebs yaitu terjadinya oksidasi dari asam piruvat
yang merupakan hasil dari glikolisis. Kemudian pembentukan koenzim atau asetil
CoA yang ditandai dengan adanya unit asetat dengan 2-C yang tersisa dan bergabung
dengan suatu senyawa yang mengandung belerang. Pada siklus krebs secara
langsung dihasilkan satu molekul ATP dari ADP dan asam suksinat.

Fungsi utama siklus krebs dalam proses respirasi adalah :


1. Mereduksi NAD+ dan FAD menjadi NADH dan FADH2 yang kemudian dioksidasi
untuk menghasilkan ATP,
2. Mensintesis ATP secara langsung yaitu 1 molekul ATP untuk setiap molekul piruvat
yang dioksidasi
3. Pembentukan kerangka karbon yang dapat digunakan untuk sintesis asam-asam
amino tertentu dan di konversi menjadi senyawa yang lebih besar.

Laju respirasi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya sebagai


berikut :

1. Ketersediaan substrat
Respirasi bergantung pada ketersediaan substrat. Tumbuhan yang kandungan
pati, fruktan, atau gulanya rendah, melakukan respirasi pada laju yang rendah.
Tumbuhan yang banyak gula sering melakukan respirasi lebih cepat bila gula
disediakan. Bahkan laju respirasi daun sering lebih cepat setelah matahari tenggelam,
saat kandungan gula tinggi dibandingkan dengan ketika matahari terbit, saat
kandungan gulanya lebih rendah (Salisbury & Ross, 1995).

2. Ketersediaan oksigen
Ketersediaan oksigen akan mempengaruhi laju respirasi, namun besarnya
pengaruh tersebut berbeda bagi masing-masing spesies dan bahkan berbeda antara
organ pada tumbuhan yang sama. Fluktuasi normal kandungan oksigen di udara tidak
banyak mempengaruhi laju respirasi, karena jumlah oksigen yang dibutuhkan
tumbuhan untuk berespirasi jauh lebih rendah dari oksigen yang tersedia di udara
(Yasa, 2009).

3. Suhu
Pengaruh faktor suhu bagi laju respirasi tumbuhan sangat terkait dengan
faktor Q10, dimana umumnya laju reaksi respirasi akan meningkat untuk setiap
kenaikan suhu sebesar 10oC, namun hal ini tergantung pada masing-masing spesies.
Bagi sebagian besar bagian tumbuhan dan spesies tumbuhan, Q10 respirasi biasanya
2,0 sampai 2,5 pada suhu antara 5 dan 25°C. Bila suhu meningkat lebih jauh sampai
30 atau 35°C, laju respirasi tetap meningkat, tapi lebih lambat, jadi Q10 mulai menurun
(Salisbury & Ross, 1995).

4. Jenis dan Umur Tumbuhan


Masing-masing spesies tumbuhan memiliki perbedaan metabolisme, dengan
demikian kebutuhan tumbuhan untuk berespirasi akan berbeda pada masing-masing
spesies. Tumbuhan muda menunjukkan laju respirasi yang lebih tinggi dibanding
tumbuhan yang tua. Demikian pula pada organ tumbuhan yang sedang dalam masa
pertumbuhan (Grander, 1991).
BAB 3. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
3.1. Waktu Pelaksanaan Praktikum

Hari/tanggal : Rabu, 2 Desember 2020


Jam : 16.00 WIB

3.2. Alat dan Bahan

Kegiatan 1. Mengukur Laju Respirasi Pada Tumbuhan


1. Botol kaca/botol plastic (2 buah)
2. Sumbat karet/plastisin (plasticine)
3. Sedotan kecil (sedotan minuman)
4. Stop watch
5. Kapas
6. Penggaris
7. Kapur sirih
8. Kecambah kacang hijau
9. Zat warna/tinta/pewarna makanan cair

Kegiatan 2. Kandungan 𝑪𝑶𝟐 Pada Udara Pernapasan


1. Tiga botol plastic
2. Tiga sedotan
3. Air kapur
4. Plastisin

3.3. Cara Kerja


Kegiatan 1. Mengukur Laju Respirasi Pada Tumbuhan

1. Isi tabung dengan air kapur sirih ¼ botol


2. Kemudian isi kapas secukupnya pada dasar botol
3. Masukkan kecambah
*Catatan: kecambah yang dipakai adalah kecambah kacang hijau. Kacang hijau
yang digunakan harus direndam selama 24 jam (1 hari) sebelum praktikum.
*Berat kacang hijau yang direndam adalah 3 sendok makan (43,9 g)
4. Masukkan kecambah berumur 1 hari kedalam botol
5. Tutup ujung botol dengan plastisin dan letakkan sedotan ditengan plastisin
6. Beri setetes zat warna diujung sedotan
7. Catat waktu pergeseran zat warna pada sedotan. Lakukan 10 kali pengamatan.
8. Ukur panjang pergerakan zat warna dari ujung sedotan, perhatikan ilustrasi
dibawah
Kegiatan 2. Kandungan 𝑪𝑶𝟐 Pada Udara Pernapasan

1. Siapkan 3 botol, 3 sedotan.


2. Atur peralatan seperti pada Gambar 1 dan 2. Setiap botol diisi air kapur dengan
volume yang sama, misalnya 70 ml atau ½ botol
3. Isap udara untuk bernapas dari pipa A, kemudian keluarkan udara pernapasan
melalui pipa B. Menghisap dan mengeluarkan napas jangan terlalu kuat.
4. Lakukan pernapasan tadi beberapa kali hingga air kapur di botol B menjadi cukup
keruh. Mana yang paling keruh antara botol A, B, dan C, mengapa demikian?
Apakah botol A juga menjadi keruh?

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 . Hasil Pengamatan


• Mahasiswa 1
Kegiatan 1. Mengukur Laju Respirasi Pada Tumbuhan

Tabel 1. Laju Respirasi pada Tumbuhan dan Hewan

Rerata
(dalam
Pergeseran zat selama 5/10 menit Jumlah
5/10
menit)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Kecambah 0,2 0,3 0,4 0,3 0,2 0,3 0,4 0,3 0,3 0,4 3,1 0,31

Catatan: Carilah rumus laju respirasi, kemudian tuliskan perhitungan laju respirasi
sesuai dengan data praktikum.

A. Tumbuhan
Berat kecambah : 13,25 gram
Lama pengukuran : 5 menit
Konsumsi O2 : 0,31 ml
Laju respirasi : 0,292 ml O2/jam/gram
(tuliskan perhitungannya)
➢ Laju respirasi = 𝑚𝐿𝑂2/jam/gram 5
5 menit = = 0,08 jam
60
= 0,31/0,08/13,25
= 0,292

B. Hewan
Berat hewan : 50 gram
Lama pengukuran : 30 menit
Konsumsi : 0,19 ml
Laju Respirasi : 0,0076 ml O2/jam/gram (tuliskan perhitungannya)
Laju Respirasi = mlO2 / Jam / Gram 30
30 menit = 60 = 0,5 jam
= 0,19 / 0,5 / 50

= 0,0076

Kegiatan 2. Kandungan 𝑪𝑶𝟐 Pada Udara Pernapasan


Pada percobaan ini diketahui bahwa botol A menghasilkan air kapur sirih yang
tidak bewarna atau bening, botol B air kapur sirih menjadi sangat keruh sedangkan
pada botol C air tidak mengalami perubahan apapun. Botol B menjadi sangat keruh
karena banyak mengandung karbondioksida yang dihasilkan dari pernapasan kita.
Dari ketiga botol A,B, dan C, dapat disimpulkan bahwa botol kedua (Botol B) adalah
yang paling keruh. Ini menunjukkan bahwa air tersebut mengandung
karbondioksida, setelah kita menghembuskan nafas pada botol kedua (Botol B),
sebab di dalam botol B banyak mengandung karbondioksida.

• Mahasiswa 2

Kegiatan 1. Mengukur Laju Respirasi Pada Tumbuhan


Hasil pengamatan dituliskan dalam tabel berikut:

Tabel 1. Laju Respirasi pada Tumbuhan dan Hewan

Rerata (dalam 5/10


Pergeseran zat selama 5/10 menit Jumlah
menit)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 10

Kecambah 3 3 3,5 4 0,5 0,5 5 2 1 1 23,5 2,35 menit

Catatan: Carilah rumus laju respirasi, kemudian tuliskan perhitungan laju respirasi
sesuai dengan data praktikum.

A. Tumbuhan
Berat kecambah : 5 gram
Lama pengukuran : 5 menit
Konsumsi O2 : Satu sendok teh atau 5 ml
Laju respiras i : 0,2 ml O2/menit/gram (tuliskan perhitungannya
V Keterangan :
L=
W .B L = Laju Respirasi
5
= V = Volume Kosumsi O2
5 5
5 W = Waktu Lama Pengukuran
=
25 B = Berat Berkecambah
= 0,2 ml O 2 / menit / gram

B. Hewan
Berat hewan : 50 gram
Lama pengukuran : 30 menit
Konsumsi : 0,19 ml
Laju Respirasi : 0,0001 ml O2/menit/gram (tuliskan perhitungannya)
V Keterangan :
L=
W .B L = Laju Respirasi
0,19
= V = Volume Kosumsi O2
30  50
0,19 W = Waktu Lama Pengukuran
=
1500 B = Berat Berkecambah
= 0,0001 ml O 2 / menit / gram

Kegiatan 2. Kandungan 𝑪𝑶𝟐 Pada Udara Pernapasan

Pada botol A, B, dan C diharapkan mengalami perubahan warna yang bening


atau tidak berkeruh menjadi berkeruh. Jika air berkuruh bertanda terdapat CO2.
Dari ketiga botol yang dihasilkan melalui percobaan, botol yang terlihat keruh
adalah botol B, kenapa demikian karena botol B terkandung CO2 oleh pembuangan
udara pernapasan. Ketika kita tiupkan udara ke air kapur, karbon dioksida yang
terkandung di udara yang kita tiupkan tadi bereaksi dengan kalsium hidroksida di air
kapur dan menghasilkan kalsium karbonat, senyawa yang menyebabkan air kapur
menjadi keruh.

4.2 . Analisis dan Pembahasan


• Mahasiswa 1
Kegiatan 1. Mengukur Laju Respirasi Pada Tumbuhan dan hewan
Pembahasan :
Pada praktikum ini percobaan menggunakan kecambah dan jangkrik
menunjukkan bahwa respirasi bertujuan untuk menghasilkan energi yang
dibutuhkan. Pada percobaan ini menggunakan air larutan kapur sirih yang ditutupi
kapas lalu kemudian dimasukkan ke dalam botol air mineral, setelah itu botol air
mineral harus ditutupi oleh plastisin agar tidak ada udara yang masuk ke dalam botol
tersebut. Setelah itu letakkan sedotan pada bagian tengah lilin plastisin kemudian
setetes pewarna makanan pada ujung sedotan.

Dari data percobaan diatas dapat diketahui bahwa kecambah yang massanya
13,25 gram memiliki rata-rata sebesar 0,31 ml dalam waktu 5 menit dan memiliki
nilai laju respirasi sebesar 0,292 ml/jam/gram. Sedangkan pada jangkrik yang
massanya 50 gram dalam waktu 30 menit memilki nilai laju respirasi sebesar 0,0076
ml/jam/gram. Hal ini membuktikan bahwa kecambah dan jangkrik sama-sama
melakukan respirasi namun dengan laju yang berbeda-beda.

Kegiatan 2. Kandungan 𝑪𝑶𝟐 Pada Udara Pernapasan

Pembahasan :
Pada percobaan botol A,B, dan C yang diisi dengan 50 ml air kapur sirih.
percobaan yang dilakukan dengan cara menghisap udara untuk bernapas dari botol
A, kemudian dikeluarkan udara pada botol B yang dialakukan selama beberapa kali
pengulangan hasilnya air yang terdapat pada botol B menjadi sangat keruh
sedangkan air yang terdapat didalam botol A menjadi tidak bewarna (bening) dan air
yang terdapat di dalam botol C tidak mengalami perubahan apapun.

Respirasi merupakan suatu proses oksidasi bahan organik menjadi senyawa


yang lebih sederhana dan sejumlah energi hasil respirasi berupa karbondioksida dan
jumlah energi. Proses respirasi pada tanaman terjadi di stomata (mulut daun),
Melalui stomata tumbuhan dapat menyerap oksigen. Kebutuhan Oksigen pada
respirasi tumbuhan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan substrat sebagai bahan
utamanya, ketersediaan oksigen pada proses oksidasi untuk membentuk energi
perkecambahan,

• Mahasiswa 2
Kegiatan 1. Mengukur Laju Respirasi Pada Tumbuhan
Pada percobaan ini kita bisa mengetahui bahwa kecambah melakukan
respirasi dengan mengamati dari pergerakan pewarna makanan pada sedotan, hal ini
menujukan bahwa kecambah melakukan respirasi. Jika dilihat dari hasil yang
diujikan dari menit ke menit kita bisa melihat dari data percobaan 1 hinggan 4
mengalami peningkatkatkan, namun dari data berikutnya mengalami penurunan dan
meningkatkan lagi. Ini bisa terjadi karena laju kecepatan pada respirasi
perkecambahan bergantung pada beberapa faktor diantaranya adalah jumlah
kecambah, massa, umur, suhu serta substrat kecambah.

Mengukur laju Respirasi Pada Hewan

Kegunaan air kapur sirih dapat membantu mempercepat proses pernapasan


pada serangga, dan terdapat hubungan antara berat serangga dengan kecepatan
pernafasannya, Semakin Berat tubuh jangkrik maka semakin banyak oksigen yang di
butuhkan sehingga semakin cepat pernapasannya. Sebaliknya, Semakin ringan berat
jangkrik maka makin sedikit pula oksigen yang ia butuhkan sehingga semakin lambat
pernapasanya. Faktor yang mempengaruhi respirasi ini adalah berat tubuh, ukuran
tubuh, kadar O2 dan aktivitasnya.

Kegiatan 2. Kandungan 𝑪𝑶𝟐 Pada Udara Pernapasan


Dari hasil percobaan botol A, B, dan C mengalami perubahan warna. Botol A
yang tidak diberikan apa-apa, botol B diberikan udara pernapasan, dan botol C
diberikan pembuang dari udara pernapasan. Dari ketiga botol tersebut yang
mengalami perubahan warna yang paling keruh ialah botol B, karena botol B
diberikan udara pernapasan melalui meniup botol paling banyak sehingga air sirih
berubah menjadi lebih keruh. Kenapa bisa menyebabkan air kapur sirih B lebih
keruh, karena di botol B banyak mengandung banyak CO2. Ketika kita tiupkan udara
ke air kapur, karbon dioksida yang terkandung di udara yang kita tiupkan tadi
bereaksi dengan kalsium hidroksida di air kapur dan menghasilkan kalsium
karbonat, senyawa yang menyebabkan air kapur menjadi keruh.

4.3 Pertanyaan

1. Apakah satuan untuk menyatakan laju respirasi?


Jawab:
ml O2/jam/gram
2. Mengapa menggunakan air kapur sirih dalam percobaan respirasi? Jelaskan!
Jawab:
Pada percobaan ini, digunakan kapur sirih yang bertujuan untuk mengikat
CO2 agar kecambah dapat bergerak. Kapur sirih ini akan mengikat karbon dioksida
yang dihasilkan kecambah kacang hijau, Sehingga volume udara dalam botol akan
berkurang seiring dengan berkurangnya oksigen untuk respirasi. Sementara itu
karbon dioksida yang dikeluarkan langsung bereaksi dengan kapur sirih menjadi
senyawa lain. Dengan demikian volume udara didalam botol terus berkurang dan
menyebabkan tekanan udara di dalam tabung meningkat. Perbedaan tekan udara
inilah yang menyebabkan bergerak masuknyanya larutan pewarna yang diletakkan
di ujung sedotan.
BAB 5. KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa :

1. Setiap makhluk hidup pasti melakukan respirasi/pernapasan dan ketika melakukan


respirasi, mahkluk hidup memerlukan udara (oksigen).

2. Setelah kita menghirup oksigen akan dihembuskan karbon dioksida, hal ini
ditunjukkan pada perubahan air kapur yang awalnya jernih kemudian berubah
menjadi keruh setelah berikatan dengan karbondioksida.

3. Kapur yang keruh itulah yang menjadi bukti nyata hasil dari endapan reaksi air kapur
dengan karbondioksida.

4. Kebutuhan oksigen tiap makhluk hidup berbeda tergantung spesies, ukuran tubuh,
aktivitas, dan kelengkapan organ tubuh.

5. Umur tumbuhan mempengaruhi laju respirasi. Semakin muda tumbuhan semakin


cepat meyerap oksigen di udara dan sebaliknya. Hal ini dibuktikan pada praktikum
respirasi pada kecambah. Pada tumbuhan tua hal ini dikarenakan daya atau
kemampuan tumbuhan untuk menyerap oksigen di udara telah berkurang
DAFTAR PUSTAKA

Adirahmanto, K.A, Hartanto R, dan Novita D.D. 2013. Perubahan Kimia Dan Lama Simpan
Buah Salak Pondoh (Salacca Edulisreinw) Dalam Penyimpanan Dinamis Udara – Co2.
Teknik Pertanian Lampung, 2(3): 123-132.

Campbell, N.A., Reece, J.B., Mitchell, L.G. 2002. Biologi. Alih bahasa lestari, R. et al. safitri,A.,
Simarmata, L., Hardani, H.W. (eds). Erlangga, Jakarta.

Jumin, Hasan B. 2012. Dasar-Dasar Agronomi. Jakarta: Rajawali Press.

Kimball, J. E. 1977. Biology. Addison Wesley Publ. Co. Reading Massachusetts.

Lakitan, Benyamin. 2013. Dasar Dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: Rajawali Press.

McFadden, C. H. and W. T. Keeton. 1995. Biology an Exploration of Life. W.W. Norton &
Company. Inc. New York.

Pajatmo, W., A. Ratnaningsih, dan K. Iryani. 1987. Panduan Praktikum biologi Umum I.
Angkasa. Bandung.

Anda mungkin juga menyukai