Anda di halaman 1dari 12

Perbedaan Adalah Sebuah Keniscayaan

ِ ِ‫إِ ّن احْل م َد لِلَّ ِه حَنْم ُده ونَستَعِينُه ونَسَت ْغ ِفره و َنعوذُ ب‬


‫اهلل ِم ْن ُشُر ْو ِر أَْن ُف ِسنَا‬ ُْ َ ُ ُ ْ َ ُ ْ ْ َ ُ َ َْ
ِ ِ ْ ‫ضل لَه ومن ي‬ ِ ِِ ِ ِ
ُ‫ي لَه‬َ ‫ضل ْل فَالَ َهاد‬ ُ ْ َ َ ُ ّ ‫َو َسيّئَات أ َْع َمالنَا َم ْن َي ْهده اهللُ فَالَ ُم‬
‫أَ ْش َه ُد أَ ْن الَ إِلهَ إِالّ اهللُ َوأَ ْش َه ُد أَ ّن حُمَ ّم ًدا َعْب ُدهُ َو َر ُس ْولُه‬
ٍ ‫اَللهم صل وسلّم على حُمَم ٍد وعلى آلِِه ِوأَصحابِِه ومن تَبِعهم بِِإحس‬
‫ان‬ َ ْ ْ َُ ْ َ َ َ ْ ََ ّ َ ْ َ َ ّ َ ُّ
.‫إِىَل َي ْوِم ال ّديْن‬

‫يَاأَيّ َها الّ َذيْ َن َآمُن ْوا اّت ُقوا اهللَ َح ّق ُت َقاتِِه َوالَ مَتُْوتُ ّن إِالّ َوأَْنتُ ْم ُم ْسلِ ُم ْو َن‬

‫صلِ ْح لَ ُك ْم أ َْع َمالَ ُك ْم‬ ِ ِ


ْ ُ‫يَاأَيّ َها الّذيْ َن َآمُن ْوا اّت ُقوا اهللَ َو ُق ْولُْوا َق ْوالً َسديْ ًدا ي‬
‫َو َي ْغ ِف ْرلَ ُك ْم ذُنُ ْوبَ ُك ْم َو َم ْن يُ ِط ِع اهللَ َو َر ُس ْولَهُ َف َق ْد فَ َاز َف ْو ًزا َع ِظْي ًما‬
Perbedaan adalah sesuatu yang tidak bisa lepas dari kehidupan manusia.
Perbedaan adalah bintang yang selalu menghiasi langit sejarah peradaban
manusia. Oleh karena itu, ketika kita berbicara tentang masalah perbedaan,
maka itu akan menjadi tema pembicaraan yang tidak akan pernah habis untuk
dibahas, karena perbedaan itu sudah ada sejak zaman dahulu kala dan
merupakan sebuah keniscayaan.
Manusia Diciptakan Dengan Berbagai Perbedaan
Walaupun Allah SWT menciptakan manusia dari bapak yang sama yaitu Nabi
Adam Alaihissalam tetapi Allah SWT memberikan keunikan kepada setiap
manusia. Keunikan tersebut merupakan perbedaan yang Allah SWT berikan

Page 1|
kepada seseorang dan tidak Dia berikan kepada yang lainnya. Dan perbedaan
inilah yang merupakan suatu keindahan yang selalu mewarnai lembaran sejarah
hidup manusia. Allah SWT berfirman:

‫ف أَلْ ِسنَتِ ُك ْم َوأَلْ َوانِ ُك ْم إِ َّن‬


ُ ‫اختِاَل‬ ِ ‫السماو‬
ِ ‫ات َواأْل َْر‬ ِِ‫و ِمن آيات‬
ْ ‫ض َو‬ ََ َّ ‫ق‬
ُ ‫ل‬
ْ ‫خ‬
َ ‫ه‬ َ ْ َ
‫ني‬ ِِ ِ ٍ ِ
َ ‫يِف َذل‬
َ ‫ك آَل يَات ل ْل َعالم‬
“Dan diantara tanda-tanda (kebesaran) Nya ialah menciptakan langit dan bumi,
perbedaan bahasamu dan perbedaan warna kulitmu. Sungguh pada yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang
mengetahui”. (QS. ar-Ruum : 22)
Secara fisik dan bahasa, Allah SWT telah memberikan perbedaan diantara
manusia. Dan tidak hanya sebatas itu, Allah SWT juga memberikan perbedaan-
perbedaan dalam hal yang lain. Allah SWT memberikan manusia akal yang
berbeda, kecerdasan yang berbeda, pola pikir yang berbeda, cara pandang yang
berbeda dan perbedaan-perbedaan yang lainnya.
Dari sekian banyak perbedaan yang dimiliki oleh manusia, maka tidak heran jika
dari perbedaan-perbedaan tersebut akan melahirkan sesuatu yang berbeda pula.
Tidak terkecuali perbedaan cara pandang di dalam menyelesaikan masalah yang
ada dalam kehidupan ini, khususnya masalah-masalah fiqih yang selalu menjadi
tema hangat yang asyik untuk dibahas, baik itu oleh para pendahulu kita maupun
oleh kita yang ada di zaman sekarang ini.
Terlebih lagi banyaknya permasalahan-permasalahan baru yang ada di zaman
ini yang belum ada di zaman sebelumnya, maka didalam menyelesaikan
masalah-masalah tersebut pasti akan menghasilkan perbedaan-perbedaan yang
disebabkan oleh banyak faktor, khususnya faktor perbedaan yang sudah ada
pada diri manusia itu sendiri. Dan perbedaan pendapat itu menjadi sesuatu yang
lumrah dan tidak bisa dihindari.
Malaikat Juga Berbeda Pendapat

Page 2|
Tidak mengherankan   jika manusia selalu berbeda   pendapat, karena   Allah
SWT telah menciptakan manusia dengan karakter yang berbeda-beda dan
menambahkan hawa nafsu di dalam diri manusia.
Bahkan Malaikat yang tidak Allah SWT berikan hawa nafsu juga berbeda
pendapat, padahal mereka adalah makhluk-makhluk Allah SWT yang selalu
patuh dan tunduk kepada Allah SWT, serta mengisi waktu-waktu mereka dengan
beribadah dan bertasbih kepada Allah SWT, toh mereka juga bisa berbeda
pendapat.
Kisah perbedaan pendapat yang terjadi dikalangan Malaikat dapat kita lihat
dalam kisah yang sudah sangat masyhur yang diriwayatkan oleh dua pakar
hadits terkemuka Imam al-Bukhari dan juga Imam Muslim. Kisah tentang
seorang laki-laki yang membunuh sembilan puluh sembilan orang dan kemudian
menggenapkannya menjadi seratus orang ketika dia juga membunuh rahib yang
mengatakan kalau dirinya tidak mempunyai kesempatan untuk bertaubat.    
Kemudian dia meminta nasehat dari seorang ahli ilmu yang menyuruhnya untuk
pergi ke suatu tempat jika dia benar-benar ingin bertaubat dari semua dosa-
dosanya. Laki-laki tersebut menuruti nasehat sang ahli ilmu untuk pergi ke
tempat yang sudah diberitahukan kepadanya. Belum sampai di tempat yang
dituju, ternyata Allah SWT berkehendak lain. Laki-laki tersebut menemui ajalnya
ketika dia berada di tengah perjalanannya.
Tidak lama setelah itu, turunlah dua Malaikat untuk membawa ruh laki-laki
tersebut. Salah satu dari Malaikat tersebut adalah Malaikat rahmat, sedangkan
yang satunya adalah Malaikat adzab. Disinilah perbedaan pendapat antara dua
Malaikat terjadi.
Malaikat rahmat berpendapat bahwa laki-laki tadi berhak mendapatkan surga,
karena dia sudah bertaubat dengan taubat yang sebenar-benarnya. Di sisi lain,
Malaikat adzab berpendapat bahwa laki-laki tadi termasuk penghuni neraka
karena dia belum sampai ditempat yang ditujunya untuk bertaubat.
Perbedaan cara pandang tersebut menjadikan dua Malaikat tadi terjebak dalam
perdebatan tentang siapa yang benar pendapatnya di antara mereka berdua.

Page 3|
Hingga akhirnya Allah SWT mengutus Malaikat lain sebagai penengah di antara
pertikaian mereka berdua. Malaikat tadi memberikan solusi untuk menyelesaikan
perbedaaan pendapat antara Malaikat rahmat dan Malaikat adzab dengan
mengukur jarak yang sudah dilalui laki-laki tadi dengan tempat dia berangkat dan
tempat yang dituju.
Jika jarak laki-laki tadi lebih dekat dengan tempat dia berangkat, maka dia
berhak mendapatkan adzab. Dan jika jaraknya lebih dekat dengan tempat yang
dia tuju, maka dosa-dosanya sudah diampuni dan dia termasuk penghuni surga.
Setelah diukur, ternyata jarak laki-laki tadi dengan tempat tujuannya lebih dekat
daripada jaraknya dengan tempat berangkat. Dan otomatis laki-laki tadi tidak
berhak mendapatkan adzab, justru dia berhak mendapatkan pengampunan dari
Allah SWT disebabkan taubatnya yang dia lakukan dengan sepenuh hati.
Para Nabi Juga Berbeda Pendapat
Walaupun para nabi adalah manusia yang ma’shum, akan tetapi hal itu tidak
menghalangi terjadinya perbedaan pendapat di antara mereka. Kisah perbedaan
yang terjadi antara para Nabi ini dapat kita lihat pada kisah perbedaan pendapat
antara Nabi Dawud Alahissalam dengan putranya Nabi Sulaiman Alaihissalam
ketika keduanya dimintai hukum mengenai kambing-kambing yang merusak
ladang orang lain.
Kejadian tersebut diabadikan oleh Allah SWT dalam surat al-Anbiya’ ayat 78 dan
79. Menurut riwayat Ibnu Abbas, ada sekelompok kambing telah merusak
tanaman pada waktu malam. Pemilik tanaman mengadukan hal ini kepada Nabi
Dawud Alaihissalam. Beliau memutuskan bahwa kambing-kambing itu harus
diserahkan kepada pemilik tanaman sebagai ganti tanaman yang rusak.
Tetapi Nabi Sulaiman Alaihissalam memiliki pendapat yang lain dalam
memutuskan perkara ini. Beliau memutuskan agar kambing-kambing itu
diserahkan sementara kepada pemilik tanaman untuk diambil manfaatnya. Dan
pemilik kambing diharuskan mengganti tanaman itu dengan tanaman yang baru.
Apabila tanaman yang baru telah dapat diambil hasilnya, pemilik kambing itu
boleh mengambil kambingnya kembali. Dan dalam masalah ini, keputusan Nabi

Page 4|
Sulaiman Alaihissalam yang lebih tepat sebagaimana yang dikabarkan Allah
SWT didalam firman-Nya.

‫اها ُسلَْي َما َن َو ُكاًّل آَتْينَا ُح ْك ًما َو ِع ْل ًما‬


َ َ‫َف َف َّه ْمن‬
“Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum
(yang lebih tepat), dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan
Hikmah dan ilmu”. (QS. al-Anbiya’: 79)
Para Sahabat Nabi Juga Berbeda Pendapat
Bahkan para manusia terbaik dalam umat ini, yaitu para sahabat Nab SAW,
mereka juga sering berbeda pendapat mengenai suatu masalah. Pujian Nabi
SAW kepada para sahabatnya sebagai manusia yang hidup di zaman yang
terbaik tidak menghalangi mereka berbeda pendapat satu sama yang lainnya,
karena memang perbedaan pendapat merupakan sebuah keniscayaan yang
tidak bisa dihindari.
Perbedaan pendapat yang terkenal yaitu perbedaan pendapat antara Ibnu Abbas
dengan Ibnu Umar dalam beberapa masalah agama ini. Contoh lain dari
perbedaan pendapat dikalangan para sahabat Nabi SAW dapat kita lihat pada
masalah shalat ashar ketika perang melawan Bani Quraizhah.
Sebelum berangkat ke perkampungan Bani Quraizhah, Nabi SAW berpesan
kepada para sahabat:

َ‫صَر إِاَّل يِف بَيِن ُقَريْظَة‬


ْ ‫الع‬ َ ‫صلِّنَي َّ أ‬
َ ‫َح ٌد‬ َ ُ‫الَ ي‬
“Janganlah salah seorang dari kalian melaksanakan shaat ashar kecuali di
perkampungan Bani Quraizhah”. (Muttafaq ‘Alaih)
Sebagian dari sahabat berpendapat dengan cara mengambil zhahir ucapan Nabi
SAW tersebut. Yaitu mereka tidak akan melaksanakan shalat ashar kecuali
setelah sampai di perkampungan Bani Quraizhah. Sehingga sebagian dari

Page 5|
mereka tidak melaksanakan shalat ashar kecuali di perkampungan Bani
Quraizhah, meskipun pada saat itu sudah keluar dari waktu shalat ashar.
Sedangkan sebagian yang lain berpendapat bahwa ucapan Nabi tersebut
bermaksud untuk memotivasi para sahabat untuk bergegas menuju ke
perkampungan Bani Quraizhah, sehingga mereka dapat melaksanakan shalat
ashar disana. Oleh karena itu, mereka melaksanakan shalat ashar sebelum
waktu shalat ashar habis meskipun mereka masih dalam perjalanan dan belum
sampai di perkampungan Bani Quraizhah. Karena menurut mereka ucapan Nab
SAW tidak bisa dipahami dari zhahirnya saja karena hal tersebut bertentangan
dengan nash al-Qur’an yang menjelaskan bahwa masing-masing shalat
mempunyai waktunya tersendiri yang tidak mungkin digabungkan dengan waktu
shalat yang lain kecuali adanya ‘udzur yang membolehkan hal tersebut.
Setelah para pengkhianat Yahudi Bani Quraizhah dapat di tumpas, para sahabat
tidak lantas merasa tenang. Masih ada ganjalan di hati mereka, yaitu masalah
yang berkaitan dengan shalat ashar yang mereka berselisih di dalam hal
tersebut.
Lantas para sahabat bergegas menemui Rasulullah SAW untuk menanyakan
masalah tersebut. Sesampainya dihadapan Rasulullah SAW, mereka segera
menceritakan hal tersebut. Dalam masalah ini Rasulullah Saw tidak
membenarkan tindakan salah satu pihak dan menyalahkan pihak yang lain.
Bahkan Rasulullah SAW membenarkan pendapat kedua belah pihak.
Maka jelaslah kalau perbedaan pendapat merupakan hal yang lumrah dan wajar
terjadi di kalangan umat islam. Bahkan Rasulullah SAW mengakui perbedaan
pendapat tersebut, dan membenarkannya selama hal tersebut mempunyai dalil
yang bisa dijadikan sebagai hujjah.
Allah SWT dan Rasulullah SAW Sebagai Hakim Penentu Kebenaran

ِّ ‫ض ي بَ ۡينَهُم بِح ُۡك ِم ِۚۦه َوهُ َو ۡٱل َع ِزي ُز ۡٱل َعلِي ُم فَت ََو َّك ۡل َعلَى ٱهَّلل ۖ ِ إِنَّكَ َعلَى ۡٱل َح‬
‫ق‬ ِ ‫ك يَ ۡق‬
َ َّ‫إِ َّن َرب‬
ِ ِ‫ۡٱل ُمب‬
‫ين‬

Page 6|
78. Sesungguhnya Tuhanmu akan menyelesaikan perkara antara mereka
dengan keputusan-Nya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. 79.
Sebab itu bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya kamu berada di atas
kebenaran yang nyata.

Tidak jarang, dalam sebuah perselisihan, terjadi saling mengadu argumen


dengan merasa masing-masing paling benar. Dalam berdiskusi, yang dicari ialah
sebuah kebenaran dari kedua belah pihak. Namun, jika tidak kunjung ditemukan,
serahkanlah kebenaran itu kepada Allah. Seperti yang disampaikan dalam ayat
79 yang menjelaskan, “Sebab itu, bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya
kamu berada di atas kebenaran yang nyata.”

َ‫ك فَاَل تَ ُكون ََّن ِمنَ ۡٱل ُممۡ ت َِرين‬ ُّ ‫ۡٱل َح‬
َ ِّ‫ق ِمن َّرب‬
Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk
orang-orang yang ragu. (Qs Al Baqarah:147)
Sebagai contoh, dalam perdebatan dengan seseorang yang berbeda
kepercayaan, seharusnya jangan sampai terjadi pertengkaran. Biarkanlah ia
menjalani hidup dengan kepercayaannya karena pada hari penentuan nanti,
Allah akan memutuskan kebenaran itu.

Dalam masalah perbedaan pengambilan keputusan antara Nabi Dawud


Alaihissalam dan Nabi Sulaiman Alaihissalam, Allah SWT membenarkan
pendapat Nabi Sulaiman Alaihissalam sebagai pendapat yang lebih tepat dalam
masalah tersebut. Walaupun Demikian Allah SWT tidak menyalahkan Nabi
Dawud Alaihissalam yang pendapatnya kurang tepat dalam masalah tersebut,
bahkan Allah SWT malah memuji keduanya karena mereka berdua sudah
berijtihad sesuai kesanggupan mereka untuk menyelesaikan permasalahan
tersebut.
Pada sengketa perbedaan pendapat antara Malaikat rahmat dengan Malaikat
adzab, Allah SWT mengutus malaikat lain sebagai penengah dari perbedaan
pendapat tersebut. Hingga akhirnya pendapat Malaikat rahmat lah yang lebih
benar dalam masalah tersebut. Lagi-lagi Allah SWT yang bisa menunjukkan

Page 7|
pendapat siapa yang lebih benar dalam masalah tersebut dengan mengutus
malaikat lain sebagai penengah.
Dalam kasus perbedaan pendapat diantara para sahabat, Rasulullah SAW yang
bertindak sebagai hakim yang menghukumi masalah tersebut. Dan Rasulullah
SAW membenarkan pendapat kedua belah pihak.
Maka yang berhak untuk menjadi hakim dalam masalah perbedaan pendapat
dalam masalah agama, hanya Allah SWT dan Rasulullah SAW saja, yang pada
zaman sekarang ini dapat kita ketahui dengan mempelajari al-Qur’an dan
sunnah.
Jadi selama perbedaan pendapat tersebut mempunyai landasan dasar hukum
syar’i yang bisa dijadikan sebagai hujjah, maka pendapat tersebut harus
dihormati walaupun berbeda dengan pendapat kita.
Yang memprihatinkan di zaman sekarang, yaitu adanya segelintir orang yang
menjadikan dirinya sebagai hakim yang berhak memutuskan pendapat siapa
yang benar dalam masalah perbedaan pendapat ini. Dan yang paling
menyedihkan lagi, mereka menganggap pendapat mereka saja yang paling
benar. Bahkan mereka mencela pendapat yang berseberangan dengan mereka,
walaupun masing-masing pendapat memiliki dalil-dalil yang bisa dijadikan
sebagai hujjah.
Semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai umat yang selalu mengikuti jalan
para ulama pendahulu kita yang saling menghormati di antara saudaranya
sesama muslim. Dan juga agar kita dijadikan umat yang selalu nasehat
menasehati di dalam kebenaran dan nasehat menasehati di dalam kesabaran,
bukan menjadi umat yang selalu mencela saudaranya sesama muslim bahkan
sesat menyesatkan di antara sesama muslim.

َ‫ك فَاَل تَ ُكون ََّن ِمنَ ۡٱل ُممۡ ت َِرين‬ ُّ ‫ۡٱل َح‬
َ ِّ‫ق ِمن َّرب‬
Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk
orang-orang yang ragu. (Qs Al Baqarah:147)

Page 8|
‫الس ِمْي ُع‬ ‫اسَت ْغ ِفر اهللَ يِل ولَ ُكم ولِسائِِر املسلِ ِمنْي َ إِ‬
‫َ َ‬ ‫و‬‫ه‬‫ُ‬ ‫ه‬
‫ُ‬ ‫َّ‬
‫ن‬ ‫َ ْ َ َ ُْ‬ ‫أَُق ْو ُل َق ْويِل َه َذا َو ْ ُ‬
‫العلِْي ُم‬
‫َ‬

‫|‪Page 9‬‬
‫‪Khutbah Kedua‬‬

‫اف األَنْبِيَ ِاء‬ ‫َش ر ِ‬ ‫أ‬ ‫ى‬ ‫ل‬


‫َ‬ ‫ع‬ ‫م‬ ‫ال‬ ‫الس‬ ‫و‬ ‫ة‬
‫ُ‬ ‫ال‬ ‫الص‬
‫َّ‬ ‫و‬ ‫ب الع املِ‬ ‫ِّ‬ ‫ر‬ ‫احلم ُد ِ‬
‫هلل‬
‫َ‬ ‫ْ‬ ‫َ‬ ‫ُ‬ ‫َ‬ ‫َّ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫نْي‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫َْ‬
‫ص ْحبِ ِه أَمْج َعِنْي َ اََّما َب ْع ُد ‪َ :‬فيَ ااَ‬ ‫ِ ِ‬ ‫ٍ‬ ‫ِ‬
‫املر َس لنْي َ نَبِِّينَ ا حُمَ َّمد َو َعلَى آل ه َو َ‬ ‫َو ْ‬
‫ش َم ا ظَ َه َر منها َو َم ا بَطَ ْن‪.‬‬ ‫ِ‬ ‫َّ‬‫يُّهاالنَّاس !! اِ‬
‫اىل‪َ .‬وذَ ُروالْ َف َواح َ‬ ‫َ‬ ‫ع‬
‫َ‬ ‫ت‬‫َ‬ ‫َ‬‫اهلل‬ ‫وا‬ ‫ق‬
‫ُ‬ ‫ت‬ ‫َ ُ‬
‫وح افِظُوا على الطَّاع ِة وحض و ِر اجْل مع ِة واجْل م ِ‬
‫اع ة‪َ .‬و ْاعلَ ُم ْوا اَ َّن اهللَ‬‫َ َ ْ َ َ َ َ ُ ُ ْ ُْ َ َ ََ َ‬
‫اىل َومَلْ َي َز ْل‬ ‫ع‬ ‫ت‬
‫َ‬ ‫ال‬
‫َ‬ ‫ق‬
‫َ‬ ‫ف‬
‫َ‬ ‫‪.‬‬ ‫اَمر ُكم بِأَم ٍر ب َدأَ فِي ِه بَِن ْف ِس ِه‪ .‬وثَىَّن مِب َالَئِ َك ِة قُ ْد ِس ِ‬
‫ه‬
‫َ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫ََ ْ ْ َ ْ‬
‫ا‪:‬‬ ‫قَائِالً َعلِْي ًم‬
‫ص لُّ ْوا َعلَْي ِه‬ ‫ِ‬ ‫اِ َّن اهلل ومالَئِ‬
‫لى النَّىِب ْ يَ اَ يُّ َه ا الَّذيْ َن َآمُن ْوا َ‬ ‫َ‬ ‫ع‬
‫َ‬ ‫ن‬
‫َ‬ ‫و‬ ‫ْ‬ ‫ص لُّ‬‫َ‬ ‫ُ‬‫ي‬ ‫ه‬
‫ُ‬ ‫ت‬
‫َ‬ ‫ك‬‫َ‬ ‫َ ََ‬
‫َو َسلِّ ُم ْوا تَ ْسلِْي ًما‬

‫ت َعلَى إِ ْبَر ِاهْي َم َو َعلَى‬ ‫صلَّْي َ‬


‫ِ ٍ‬ ‫ٍ‬
‫ص ِّل َعلَى حُمَ َّمد َو َعلَى آل حُمَ َّمد َك َما َ‬ ‫اَللَّ ُه َّم َ‬
‫ك مَحِ ْي ٌد جَمِ ْي ٌد‪َ .‬وبَا ِر ْك َعلَى حُمَ َّم ٍد َو َعلَى ِآل حُمَ َّم ٍد َك َما‬ ‫ِ‬
‫ِآل إِْبَراهْي َم‪ ،‬إِنَّ َ‬
‫الله َّم ا ْغ ِف ْر‬ ‫بار ْكت علَى إِبر ِاهيم وعلَى ِآل إِبر ِاهيم‪ ،‬إِنَّ َ ِ ِ‬
‫ك مَح ْي ٌد جَم ْي ٌد ‪ُ -‬‬ ‫َْ ْ َ‬ ‫َ َ َ َ َْ ْ َ َ َ‬
‫ات األَحي ِاء ِمْنهم واألَمو ِ‬ ‫املؤ ِمنَ ِ‬ ‫لِْلمسلِ ِم واملسلِم ِ‬
‫ات‬ ‫َْ ُ ْ َ َْ‬ ‫املؤ ِمنِنْي َ َو ْ‬
‫ات َو ْ‬ ‫ُ ْ نْي َ َ ْ َ‬
‫وبنَا َب ْع َد إِ ْذ َه َد ْيَتنَا‬ ‫إِنَّك مَسِ يع قَ ِريب جُمِ يب الد ِ‬
‫‪.‬ربَّنَا اَل تُِز ْغ ُقلُ َ‬
‫َّع َوة َ‬ ‫َ ٌْ ْ ٌ ْ ُ ْ‬
‫ك‬‫اب ‪ -‬اللَّ ُه َّم إِنَّا نَ ْسأَلُ َ‬ ‫ت الْ َو َّه ُ‬‫ك أَنْ َ‬ ‫ب لَنَا ِم ْن لَ ُدنْ َ‬
‫ك َرمْح َةً إِنَّ َ‬ ‫َو َه ْ‬
‫الت َقى والع َف َ ِ‬
‫اف َوالغىَن‬ ‫اهلَُدى َو ُّ َ َ‬
‫| ‪P a g e 10‬‬
‫َصلِ ْح لنا ُد ْنيَانا اليت‬ ‫ص َمةُ أ َْم ِرنا ‪ ،‬وأ ْ‬
‫ِ‬ ‫ِ‬
‫َصل ْح لنا ديننا الَّذي ُه َو ع ْ‬
‫هم أ ِ‬
‫للَّ َّ ْ‬
‫ِ‬ ‫ِ‬ ‫فِيها معاشنا ‪ ،‬وأ ِ‬
‫عل احليَا َة ِز َ‬
‫ياد ًة‬ ‫َصل ْح لنا آخَرتنا الَّيت فيها معادنا‪َ ،‬و ْ‬
‫اج ِ‬ ‫َ ْ‬ ‫َ ََ‬
‫راحةً لنا ِم ْن ُك ِّل َش ٍر ‪-‬اللَّ ُه َّم ا ْك ِفنَا‬ ‫املوت َ‬ ‫اج َع ِل َ‬ ‫لنا يف ُك ِّل خَرْيٍ ‪َ ،‬و ْ‬
‫‪-‬ربنا أ َْد ِخ ْلنا ُم ْد َخ َل‬ ‫ِ‬ ‫حِب الَلِك عن حر ِامك وأَ ْغنِنا بَِف ْ ِ‬
‫ك َع َّم ْن س َو َاك َ‬ ‫ضل َ‬ ‫َ َ َ ْ ََ َ َ َ‬
‫ك س ْلطَانًا نَ ِ‬ ‫ِ‬ ‫ِ ٍ‬ ‫ِ ٍ‬
‫ص ًريا‪-‬‬ ‫اج َع ْل لنا م ْن لَ ُدنْ َ ُ‬ ‫َخ ِر ْجنا خُمَْر َج ص ْدق َو ْ‬ ‫ص ْدق َوأ ْ‬
‫الد ْنيا و َع َذ ِ‬ ‫ِ ِ ِ ِ‬ ‫ِ‬ ‫اللَّ ُه َّم أ ْ ِ ِ ىِف‬
‫اب‬ ‫َحس ْن َعاقبََتنَا األ ُُمور ُكلِّ َها َوأَج ْرنَا م ْن خْزى ُّ َ َ‬
‫ِ ِ‬ ‫ِ‬ ‫ِ‬ ‫ِ‬ ‫ِ‬
‫ني‬
‫اج َع ْلنَا ل ْل ُمتَّق َ‬‫ب لَنَا م ْن أ َْز َواجنَا َوذُِّريَّاتنَا ُقَّرةَ أ َْعنُي ٍ َو ْ‬ ‫اآلخَر ِة‪َ -‬ربَّنَا َه ْ‬
‫إِ َم ًاما‬
‫ِ‬ ‫ِ‬ ‫َربَّنَا آتِنَا يِف ُّ‬
‫الد ْنيَا َح َسنَةً َويِف اآْل خَر ِة َح َسنَةً َوقنَا َع َذ َ‬
‫اب النَّا ِر‬
‫ك‬‫‪.‬سْب َحا َن َربِّ َ‬ ‫وصلَّى اهلل علَى سيِّ ِدنَا حُم َّم ٍد وعلَى آلِِه وصحبِ ِه أَمْج عِ‬
‫َ َْ َ ُ‬
‫َ‬ ‫نْي‬ ‫َ ََ‬ ‫َ َ َُ َ‬
‫ب‬ ‫ص ُف ْو َن‪َ .‬و َسالٌَم َعلَى الْ ُم ْر َسلِنْي َ ‪َ .‬واحْلَ ْم ُد لِلّ ِه َر ِّ‬ ‫ب الْعَِّز ِة ع َّما ي ِ‬
‫َ َ‬ ‫َر ِّ‬
‫الْ َعالَ ِمنْي َ ‪.‬‬
‫ان َوإِ ْيتَ ِاء ِذي الْ ُق ْرىَب َو َيْن َهى َع ِن‬ ‫ِعباد اهلل‪ ،‬إِ َّن اهلل يأْمر بالْع ْد ِل واإْلِ حس ِ‬
‫َ َ ُُ َ َ َ ْ َ‬ ‫ََ‬
‫ِ ِ‬ ‫ِ‬
‫الْ َف ْخ َشاء َوالْ ُمْن َك ُر َوالْبَغي يَعظُ ُك ْم لَ َعلَّ ُك ْم تَ َذ َّك ُر ْو َن‪ .‬فَاذْ ُك ُروا اهللَ‬
‫ِ‬ ‫ِ ِِ‬ ‫ِ‬
‫ب لَ ُك ْم‬ ‫الْ َعظْي َم يَ ْذ ُك ْر ُك ْم َوا ْش ُك ُروه َعلَى ن َعمه يَِز ْد ُك ْم َو ْادعُ ْوهُ يَ ْستَج ْ‬
‫ولذكر اهلل أكرب‬

‫| ‪P a g e 11‬‬
P a g e 12 |