Anda di halaman 1dari 17

Demineralisasi air 

adalah sebuah proses penyerapan kandungan ion-ion mineral di


dalam air dengan menggunakan media resin ion exchange. Proses tersebut mampu
menghasilkan air dengan tingkat kemurnian yang sangat tinggi ( ultrapure water )
dengan jumlah kandungan kandungan Ionik dan An-ionik nya mendekati angka nol
sehingga mencapai batas yang hampir tidak dapat dideteksi lagi. Demineralisasi
merupakan salah satu jenis water treatment yang memungkinkan bisa mendapatkan
air bersih dan air yang dihasilkan sangat  jernih. Air dari sistem Demineralisasi
tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan seperti memasak bahkan dapat langsung
di minum karena diproses menggunakan teknologi terbaik yang ada sehingga hasil
yang di dapatkan sesuai dengan keinginan yang kita mau.

Proses Demineralisasi dilakukan dengan menggunakan2 tabung pertukaran ion


yang berisikan resin ion positif ( kation resin ) dan resin ion negativ ( anion resin ).
Dari dua tabung tersebut Isinya  berbeda antara satu dengan yang lainnya. Ion
Positif terdiri atas magnesium (mg), calcium (ca) dan natrium (na) dengan ion H+.
Sedangkan untuk Ion Negatif terdiri dari  SO4, SiO2, dan lainnya.

Manfaat dan kegunaaan Demineralisasi  adalah dapat untuk  memurnikan air dari
yang sebelumnya hanya sekedar air mentah bisa menjadi air bersih. Kemurnian
yang di dapatkan sangat murni sekali dibandingkan dengan menggunakan alat lain.
Selain aman di konsumsi manusia,demineralisasi air digunakan untuk di bidang
industri sebagai bahan utilitas industri.

Kelebihan Air Demin adalah sebagai berikut :

1. Air demineral Sangat baik dikonsumsi bagi penderita penyakit tertentu yang
harus membatasi asupan mineral.
2. Air Demineral tidak memiliki kandungan magnesium dan kalsium, sehingga 
digunakan untuk umpan ke boiler tanpa perlu khawatir resiko ketel uap berkarat atau
korosi.
3. Proses pemurnian menggunakan alat yang mana dalam proses instalasinya
tidak membutuhkan terlalu banyak ruang, terutama bila memilih demin system yang
menggunakan ion exchange untuk menghasilkan air demineral.

Kekurangan Air Demin adalah sebagai berikut : 

1. Air demin tidak dianjurkan untuk dikonsumsi bagi penderita yang kekurangan
mineral karena dapat memungkin memicu kekurangan mineral pada tubuh menjadi
lebih parah.
2. Biaya yang ditimbulkan untuk proses regenerasi ataupun pergantian media
resin jika dikalkulasikan untuk jangka waktu satu tahun cukup besar sehingga
membutuhkan anggaran yang bersifat rutin atau regular

 
Demineralisasi adalah salahsatu teknologi proses pengolahan air untuk menghilangkan mineral dari
air. Istilah Demineralisasi biasanya digunakan secara khusus untuk proses pertukaran ion untuk
penghilangan total kontaminan mineral ion sampai mendekati angka nol. Seringkali,
istilah Demineralisasi dan Deionisasi digunakan secara bergantian. Demineralisasi menggunakan
resin penukar kation dan anion, di dalam dua tabung atau di dalam satu tabung secara bersama.
Setelah Demineralisasi, air yang diolah akan memiliki tingkat kemurnian yang tinggi sebanding
dengan air suling.
Desain dan komponen spesifik dari Sistem Demineralisasi dapat bervariasi dari satu aplikasi ke
aplikasi berikutnya berdasarkan pada kondisi proses dan komposisi aliran yang akan diolah. Namun,
sebagian besar sistem demineralisasi akan mencakup komponen-komponen berikut :
- Satu atau Dua Tanki Resin
- Sistem Dosis Regenerasi
- Tangki Penyimpanan Bahan Kimia
- Kontrol Sistem dan Pemipaan
- Resin Cation dan Anion

Ada beberapa fleksibilitas dalam konfigurasi Sistem Demineralisasi agar dapat secara optimal


memenuhi berbagai kondisi proses dan tujuan kemurnian. Dalam merancang Sistem
Demineralisasi, pertimbangan harus diberikan pada variabilitas air umpan, tingkat kemurnian yang
dibutuhkan, kontrol sistem, toleransi untuk kebocoran ion (khususnya natrium dan silika), dan
persyaratan bahan kimia, dan faktor-faktor lainnya.

Cara Kerja Demineralisasi


Seperti yang telah kami jelaskan, bahwa Demineralisasi biasanya bertujuan untuk menghilangkan
zat padat mineral terlarut melalui proses pertukaran ion. Secara umum, Sistem
Demineralisasi tersedia dalam konfigurasi dua tanki (two bed) atau dalam satu tanki (mixed bed).

Two Bed Demineralizers


Yaitu pertukaran ion menggunakan dua tanki, masing-masing terdiri dari Cation Tank dan Anion
Tank. Dalam System Two Bed Demineralizers, tanki pertama diisi dengan resin kation asam kuat
(SAC) yang menangkap kation terlarut, dan melepaskan ion hidrogen (H+) sebagai gantinya. Larutan
asam mineral yang dihasilkan kemudian dialirkan ke Anion Tank yang berisi resin anion kuat (SBA).
Pada tanki kedua ini akan memisahkan kontaminan anionik sambil melepaskan ion hidroksida (OH-),
yang bergabung dengan ion hidrogen (H+) yang ada untuk membentuk air.

Aliran yang dihasilkan setelah tanki kedua ini akan menghasilkan TDS rendah dan memiliki pH
hampir netral. Sistem ini sangat efektif untuk Demineralisasi, karena minim kebocoran natrium, yang
dapat mempengaruhi kualitas air demin, terutama untuk aliran dengan TDS tinggi dan/atau pH
rendah.

Mixed Bed Demineralizer


Sistem ini dapat menghasilkan kualitas air yang lebih tinggi dibandingkan dengan sistem dua tanki.
Ketika aliran air dilewatkan melalui unit sistem ini, maka reaksi pertukaran kation dan anion terjadi
secara bersamaan di dalam unit, sehingga dapat mengurangi efek masalah kebocoran natrium yang
dapat mengganggu kualitas air yang dihasilkan. Akan tetapi sistem ini membutuhkan proses
regenerasi resin yang lebih banyak. Selain itu, sistem ini lebih rentan terhadap fouling resin atau
fungsi sistem yang lebih rendah karena fluktuasi isi aliran, dan karenanya biasanya digunakan di
bagian akhir dari langkah-langkah treatment lainnya.

Kontaminan apa yang dihilangkan Demineralisasi?


Demineralisasi umumnya menghasilkan penghilangan mineral yang hampir lengkap, dan dengan
demikian biasanya dicadangkan untuk aplikasi yang membutuhkan tingkat kemurnian air yang lebih
tinggi, seperti air umpan untuk boiler bertekanan tinggi , air bilas untuk industri makanan dan
minuman, atau aliran proses yang digunakan dalam pabrik elektronik, dll.

Untuk aplikasi air tawar, Demineralisasi dapat menjadi alternatif yang baik untuk distilasi, karena
dapat menghasilkan air yang sama kualitasnya dengan air suling, tetapi melalui proses pertukaran ion
yang lebih hemat biaya.

Berikut kami akan menguraikan kontaminan paling umum yang diproses oleh Sistem
Demineralisasi.

Kation
Resin Kation dalam Sistem Demineralisasi akan menukar kation, atau kontaminan yang bermuatan
positif, diantaranya meliputi :
 Kalsium (Ca2+)
 Besi (Fe3+)
 Magnesium (Mg2+)
 Mangan (Mn2+)
 Kalium (K+)
 Sodium (Na+)

Anion

Resin Anion dalam Sistem Demineralisasi akan menukar anion, atau kontaminan yang memiliki


muatan negatif, diantaranya meliputi :
 Alkalinitas (CO32-, HCO3-)
 Klorida (Cl-)
 Nitrat (NO3-)
 Sulfat (SO42-)
 Silika (SiO2)

Demineralisasi berfungsi untuk membebaskan air dari unsur-unsur silika,


sulfat,  chloride  (klorida) dan karbonat dengan menggunakan resin. Diagram Alir
proses  seperti gambar dibawah ini:
 
 

Diagram Alir Demineralizer


a.  Cation exchenger

Proses ini bertujuan untuk menghilangkan unsur-unsur logam yang berupa ion- ion positif
yang terdapat dalam air dengan menggunakan resin kation R-SO3H (type Dowex Upcore
Mono A-500). Proses ini dilakukan dengan melewatkan air melalui  bagian bawah, dimana
akan terjadi pengikatan logam-logam tersebut oleh resin. Resin  R-SO3H ini bersifat asam
kuat, karena itu disebut asam kuat cation exchanger resin.

Proses ini menghasilkan asam seperti asam seperti HCl, H2SO4 dan asam-asam lain.
Keasaman berkisar antara Ph 2,8 – 3,5. untuk memperoleh resin aktif kembali, dilakukan
regenerasi dengan menambahkan H2SO4 pada resin tersebut. 

 b.    Degasifier 
  
Dari  cation tower  air dilewatkan ke  degasifier  yang berfungsi untuk menghilangkan gas
CO2 yang terbentuk dari asam karbonat pada proses sebelumnya. 

Reaksi yang terjadi adalah :

H2CO3   ----->      H2O  +  CO2

Proses di degasifier  ini berlangsung pada tekanan vakum 740 mmHg


dengan  menggunakan  steam ejektor, di dalam tangki ini terdapat netting  ring  sebagai
media untuk memperluas bidang kontak sehingga air yang masuk terlebih dahulu
diinjeksikan dengan  steam.. Sedangkan keluaran  steam ejektor dikondensasikan dengan
menginjeksi air dari bagian atas dan selanjutnya ditampung dalam  seal pot sebagai
umpan  recovery tank, maka CO2 akan terlepas sebagai fraksi ringan dan air akan turun ke
bawah sebagai fraksi berat.

c.    Anion Tower  

Berfungsi untuk menyerap atau mengikat ion-ion negatif yang terdapat dalam kandungan air
yang keluar dari  degasifier. Resin pada  anion exchanger  adalah R = NOH (Tipe  Dowex
Upcore Mono C-600). Reaksi ini menghasilkan H2O, oleh karena itu air demin selalu bersifat
netral.Selanjutnya air  outlet anion tower masuk ke mix bed polisher  dari bagian atas. Air
keluar tangki ini memiliki pH = 7,5  –  8,5. Untuk memperoleh resin aktif
kembali,  dilakukan regenerasi dengan menambahkan NaOH pada resin tersebut. 

d.  Mix Bed Polisher 

Berfungsi untuk menghilangkan sisa-sisa logam atau asam dari proses  sebelumnya, sehingga
diharapkan air yang keluar dari mix bed polisher  telah bersihdari kation dan anion. Di dalam
mix bed polisher digunakan dua macam resin yaitu resin kation dan resin anion yang
sekaligus keduanya berfungsi untuk menghilangkan  sisa kation dan anion, terutama natrium
dan sisa asam sebagai senyawa silika, dengan reaksi sebagai berikut :

Reaksi Kation :

Na2SiO3  +   2 R – SO3H      ---->         2 RSO3Na +  H2SiO3


Reaksi Anion :
H2SiO3   +   2 R = N – OH    ---->       2 R=N-SiO3 +  H2O 

 Air yang telah bebas mineral tersebut dimasukkan ke polish water tank  dandigunakan untuk
air umpan boiler. Air yang keluar dari mix bed polisher ini memiliki  pH antara 6 – 7.

Demineralisasi adalah proses pertukaran ion dengan tiga tahap yaitu kation
exchanger, anion exchanger dan mixed bed. Penukar ion lebih digunakan karena
biayanya lebih rendah dan kualitasnya sebanding dengan hasil proses distilasi.
Secara garis besar, proses tergantung pada dua tahap reaksi :

 Semua kation dihapuskan dan digantikan dengan H+, menggunakan penukar


kation muatan hidrogen.

Pertukaran kation

 Kontaminan utama air murni adalah silika. Silika dihilangkan dalam proses
demineralisasi dengan penukar anion basa kuat dalam mode hidroksida.

Ada dua tipe kolom resin yang umum digunakan pada proses demineralisasi air.
Diantaranya adalah Single Bed dan Mixed Bed Ion Exchange Resin.

Single Bed berarti di dalam satu kolom hanya terdapat satu jenis resin saja yakni
kation resin saja atau anion resin saja. Sedangkan kolom Mixed Bed berisi campuran
resin kation dan anion.

Dua type sistem demineralisasi yang berbeda diantaranya sebagai berikut :


Multi-Stage Demineralisasi
Pada awal proses demineralisasi multi-stage, air akan melewati resin kation untuk
mengikat ion-ion mineral positif. Proses ini diikuti dengan pelepasan ion H+ ke
dalam air. Jika R dan K2+ berturut-turut adalah molekul ion resin dan ion mineral
positif, maka reaksi ion exchange yang terjadi pada kolom resin yakni sebagai
berikut:
2 R-H + K2+ → R2K + 2 H+

Ion kalsium yang terlarut di dalam air biasanya berbentuk kalsium bikarbonat. Pada
saat ion kalsium diikat molekul resin, kalsium bikarbonat akan terpecah membentuk
molekul air dan karbondioksida.

      2 R-H + Ca(HCO3)2 → R2Ca + 2 H2 + 2 CO2

Molekul karbondioksida hasil reaksi di atas dikeluarkan melalui sistem CO2 removal.

Kombinasi Kolom Resin Kation, Anion dan CO2 Removal


Ion H+ yang lepas ke dalam air akan berikatan dengan anion terlarut di
dalam air. Sehingga reaksi ion hidrogen tersebut akan menghasilkan asam
kuat seperti asam sulfurik, hidroklorik, dan asam nitrit. Untuk
menghilangkan keasaman ini, air dialirkan lebih lanjut ke resin anion. Saat
melewati resin anion, ion-ion negatif yang larut di dalam air akan terikat
oleh molekul resin diikuti dengab terlepasnya ion OH –. Jika A adalah ion
negatif yang terlarut di dalam air, maka reaksi yang terjadi pada resin
anion adalah sebagai berikut:
2 R-OH + A2- → R2A + 2 OH–
Pada akhirnya ion H+ dan OH– akan bereaksi membentuk molekul air baru:
H+ + OH– → H2O

Proses demineralisasi Air Multi-Stage


Bentuk variasi sistem demineralisasi lain yakni dengan menggunakan
kolom resin anion kuat dan lemah. Sistem ini menghasilkan kualitas
output yang sama dengan hanya menggunakan satu resin anion.
Keuntungan sistem ini yaitu lebih ekonomis saat harus mengikat anion-
anion kuat seperti sulfat dan klorit, karena pada saat proses regenerasi
resin, larutan NaOH pekat yang keluar dari kolom resin kuat sudah cukup
untuk meregenerasi anion resin lemah. Untuk menghadapi anion kuat
terlarut dalam air dengan jumlah yang sama, jumlah larutan NaOH yang
dibutuhkan untuk meregenerasi dua anion resin tersebut, lebih sedikit
dibandingkan NaOH yang meregenerasi sistem dengan satu anion resin.

Proses demineralisasi air menggunakan resin Anion Kuat dan Lemah


Mixed Bed Demineralisasi

Pada beberapa kebutuhan industri, terkadang dibutuhkan tidak satu


tahap proses pertukaran kation dan anion. Pada beberapa proses, bahan
baku air dilewatkan sampai dua atau tiga kation dan anion kolom resin.
Untuk meringkas proses, maka setiap stage pertukaran ion dapat
digunakan satu kolom resin yang berisi resin kation dan anion sekaligus.
Pada akhir proses demineralisasi, akan didapatkan air dengan kualitas
sangat murni. Sistem ini sangat cocok digunakan pada pabrik-pabrik
pengguna boiler bertekanan tinggi, serta industri elektronik untuk
kebutuhan mencuci transistor dan komponen-komponen elektronika
lainnya.

Prinsip Ion Exchanger


Pertukaran ion adalah sebuah proses fisika-kimia. Pada proses tersebut
senyawa yang tidak larut, dalam hal ini resin, menerima ion positif atau negatif
tertentu dari larutan dan melepaskan ion lain ke dalam larutan tersebut dalam jumlah
ekivalen yang sama. Jika ion yang dipertukarkan berupa kation, maka resin tersebut
dinamakan resin penukar kation, dan jika ion yang dipertukarkan berupa anion,
maka resin tersebut dinamakan resin penukar anion. Contoh reaksi pertukaran
kation dan reaksi pertukaran anion disajikan pada reaksi :
Reaksi pertukaran kation :
2NaR (s) + CaCl2 (aq)             CaR(s) + 2 NaCl(aq) ..............(1)
Reaksi pertukaran anion :
2RCl (s) + Na2SO4                   R2SO4(s) + 2 NaCl ................(2)
Reaksi (1) menyatakan bahwa larutan yang mengandung CaCl2 diolah dengan resin
penukar kation NaR, dengan R menyatakan resin. Proses penukaran kation yang
diikuti dengan penukaran anion untuk mendapatkan air demin (demineralized water)
diberikan pada Gambar A. Tahap terjadinya reaksi pertukaran ion disebut tahap
layanan (service). Jika resin tersebut telah mempertukarkan semua ion Na+ yang
dimilikinya, maka reaksi pertukaran ion akan terhenti. Pada saat itu resin dikatakan
telah mencapai titik habis (exhausted), sehingga harus diregenerasi dengan larutan
yang mengandung ion Na+ seperti NaCl. Tahap regenerasi merupakan kebalikan
dari tahap layanan. Reaksi yang terjadi pada tahap regenerasi merupakan kebalikan
reaksi (2).
Resin penukar kation yang mempertukarkan ion Na+ tahap tersebut di atas
dinamakan resin penukar kation dengan siklus Na. Resin penukar kation dengan
siklus H akan mempertukarkan ion H+ pada tahap layanan dan regenerasi.

Proses pertukaran ion


Konstanta disosiasi air sangat kecil dan reaksi dari H+ dengan OH- sangat
cepat. Ketika semua posisi pertukaran yang awalnya dipegang H+ atau ion OH- yang
menempati Na+ atau Cl- (kation atau anion lain) yang masing-masing resin dikatakan
habis. Resin kemudian dapat diregenerasi dengan ekuilibrasi menggunakan asam
atau basa yang sesuai.
Reaksi dalam persamaan (3) dan (4) merupakan proses kesetimbangan yang dapat
bergerak ke arah hasil. Sebagai hasilnya, ion kotoran di dalam air dipertukarkan dan
dipertahankan dalam resin. Jadi ketika air biasa dilewatkan melalui penukar kation,
semua kotoran kationik seperti Na+, Ca2+, Mg2+ dipertukarkan untuk ion hidrogen dari
resin. Jelas, limbah akan bersifat asam. Saat berikutnya dilewatkan melalui
pertukaran anion, semua kotoran anionik seperti CI-, N03- dan sulfat yang mengalami
pertukaran, selanjutnya akan melepaskan OH-. Hidrogen dan hidroksil bergabung
membentuk molekul air dan limbah menjadi air netral.
Jumlah pengotor kationik yang seimbang akan setara dengan jumlah kotoran anionik
di perairan alami. Dengan demikian, kapasitas pertukaran ion akan habis dalam
kedua kolom resin pada tingkat yang sama. Tapi, dalam prakteknya, hal ini agak
berbeda, karena adanya ion bikarbonat dan karbonat di perairan alam.Ion-ion
hidrogen berinteraksi dengan anion dan dihasilkan asam karbonat sehingga
terbentuk menjadi air dan karbon dioksida.
Bagian dari beban anioik dihilangkan dalam bentuk gas untuk mengurangi beban
anion resin. Hal ini menyebabkan banyak pembentukan gelembung, hampir seperti
buih. Hal ini diperlukan untuk menghilangkan gas buangan.
Fe3+ > Ca2+ > Mg2+ > Na+ dan Sulphate > Chloride > Bicarbonate

Operasi Sistem Pertukaran Ion


Operasi sistem pertukaran  ion dilaksanakan dalam empat tahap, yaitu :
1. tahap layanan (service)
2. tahap pencucian balik (backwash)
3. tahap regenerasi, dan
4. tahap pembilasan
Tahap Layanan
Tahap layanan adalah tahap dimana terjadi reaksi pertukaran ion.Tahap layanan
ditentukan oleh konsentrasi ion yang dihilangkan terhadap waktu, atau volume air
produk yang dihasilkan.Hal yang penting pada tahap layanan dalah kapasitas
(teoritik dan operasi) dan beban pertukaran ion (ion exchange load). Kapasitas
pertukaran teoritik didefinisikan sebagai jumlah ion secara teoritik yang dapat
dipertukarkan oleh resin per satuan massa atau volume resin. Kapasitas pertukaran
ion teoritik ditentukan oleh jumlah gugus fungsi yang dapat diikat oleh matriks resin.
Kapasitas operasi adalah kapasitas resin aktual yang digunakan untuk reaksi
pertukaran pada kondisi tertentu. Beban pertukaran ion adalah berat ion yang
dihilangkan selama tahap layanan dan diperoleh dari hasil kali antara volume air
yang diolah selama tahap layanan dengan konsentrasi ion yang dihilangkan. Tahap
layanan ini dilakukan dengan cara mengalirkan air umpan dari atas (down flow).

Tahap Pencucian Balik


Tahap pencucian balik dilakukan jika kemampuan resin telah mencapai titik habis.
Sebagai pencuci, digunakan air produk. Pencucian balik mempunyai
sasaran sebagai berikut :

 pemecahan resin yang tergumpal


 penghilangan partikel halus yang terperangkap dalam ruang antar resin
 penghilangan kantong-kantong gas dalam  reaktor, dan
 pembentukann ulang lapisan resin 

Pencucian balik dilakukan dengan pengaliran air dari bawah ke atas (up flow).

Tahap Regenerasi
Tahap regenerasi adalah operasi penggantian  ion yang terserap dengan  ion
awal yang semula berada dalam  matriks resin dan pengembalian kapasitas ke
tingkat awal atau ke tingkat yang diinginkan. Larutan regenerasi harus dapat
menghasilkan titik puncak (mengembalikan waktu regenerasi dan jumlah larutan
yang digunakan).
Jika sistem dapat dikembalikan ke kemampuan pertukaran awal, maka ekivalen ion
yang digantikan harus sama dengan ion yang dihilangkan selama tahap layanan.
Jadi secara teoritik, jumlah  larutan regenerasi (dalam ekivalen) harus sama dengan
jumlah ion (dalam ekivalen) yang dihilangkan (kebutuhan larutan regenerasi teoritik).
Operasi regenerasi agar resin mempunyai kapasitas seperti semula sangat mahal,
oleh sebab itu maka regenerasi hanya dilakukan untuk menghasilkan sebagian dari
kemampuan pertukaran awal.

Tahap Pembilasan tahap pembilasan dilakukan untuk menghilangkan sisa larutan


regenerasi yang terperangkap oleh resin. Pembilasan dilakukan  menggunakan air
produk dengan aliran down flow dan dilaksanakan dalam dua tingkat, yaitu:

 tingkat laju alir rendah untuk menghilangkan larutan  regenerasi, dan


 tingkat laju alir tinggi untuk menghilangkan sisa ion.

Limbah pembilasan tingkat laju alir rendah digabungkan dengan


larutan garam dan dibuang, sedangkan limbah pembilasan tingkat laju alir tinggi
disimpan dan digunakan sebagai pelarut senyawa untuk regenerasi.

Penghilangan Gas (Deaerator)


Penghilangan gas dilakukan sebelum air keluaran kolom kation diolah di kolom resin
penukar anion dimaksudkan untuk mengurangi beban pertukaran pada
kolom penukar anion, yang berarti juga mengurangi penggunaan larutan regenerasi.
Air yang diolah di kolom degasifier mengandung karbon dioksida yang ekivalen
dengan alkalinitas bikarbonat ditambah dengan jumlah  karbon dioksida yang larut
dalam air tersebut. Kandungan CO2 dalam air menggunakan udara
yang dihembuskan oleh blower atau secara
vakum . Pemakaian kolom degasified dapat mengurangi kandungan karbon dioksida
menjadi 5 mg/l.
Desalinasi

Desalinasi. seperti yang didiskusikan dalam makalah ini, adalah suatu proses yang memisahkan kadar
garam dari air tawar. Proses ini dapat dilakukan daiam beberapa cara, tapi tujuannya adalah sama,
yaitu mendapatkan air bersih dari air laut atau air payau. Kualitas air ini ditentukan oleh total
dissolve solid (TPS) yang mempunyai satuan part per million (ppm) yang dinyatakan dengan makin
kedl ppm. maka makin baik kwalitas air yang dihasiikan. Dalam makalah ini disajikan analisis umum
teknologi desalinasi yang umum digunakan akhir-akhirini, juga disajikan jenis air. pengoperasian dan
perawatan. serta perbandingan umum instalasi desalinasi. Pada dasamya. teknologi desalinasi dibagi
dalam 2 jenis. yaitu thermal desalination yang terdiri dari MultiEffect Distillation (MED) dan
MuitiStage Flash (MSF). serta membrane desalination yaitu Reverse Osmosis (RO). Kedua jenis
teknologi inidibedakan dari sumber energinya. thermal desalination memperoleh sumber energi dari
panas buangan suatu sumber panas. sedangkan membrane desaiination menggunakan energi listrik
untuk menggerakkan pompa dan membrane semipermeable. Dalam proses thermal teijadi distilasi
(penyulingan), yang mendidihkan air masukan dan kemudian mengkondensasikan uap yang terjadi.
Proses ini menghasilkan air bersih (distilat) dengan kadar garam sangat rendah, sekitar 10 ppm.
Sedang proses membran memanlaatkan membran semi permeable guna memisahkan air bersih
terhadap garam yang terlarut. Air bersih yang diperoleh dengan teknologi ini mengandung kadar
garam berkisar antara 350-500 ppm.

Secara garis besarterdapat2 jenisteknoiogi desalinasi, yaitu desalinasi thermal dan desalinasi
membrane, desalinasi thermal membutuhkan energi berupa panas buangan dari pembangkit untuk
sumber energinya, sedangkan desalinasi jenis membrane hanya membutuhkan listrik untuk
menjalankan pompanya. Desalinasi jenis thermal terdiri dari Multi Effect Distillation (MED) dan Multi
Stage Flash (MSF). Pada teknoiogi MED uap dikondensasi didalam pipa-pipa feedwater, sedangkan
pada jenis MSF uap dikondensasi diluar pipa-pipa feedwater.

IV.I. Disb'lasi

IV.1.1. Multi Stage Flash (MSF) Dalam proses MSF, air laut disalurkan ke dalam vessel yang
dinamakan brine heater untuk dipanaskan, Proses pemanasan dilakukan dengan cara
menyemprotkan uap panas yang keluar dari turbin pada pembangkit listrik. Air laut yang sudah
dipanaskan kemudian dialirkan kevessel berikutnya yang dinamakan stage. Di tempat ini tekanan
dikondisikan menjadi lebih rendah dari stadium sebelumnya. Perubahan tekanan akan menyebabkan
air laut yang masuk menjadi mendidih secara mendadak (flashing) dan menyebabkanterjadinya uap
air (watervapour
Gambar 3. Proses teknologidesalinasi jenis MSF Proses ini akan terus berlanjut pada stage berikutnya
sampai airmenjadi dingin dan tidak menghasilkan uap air lagi. Biasanya stadium ini berjumlah 15
sampai 25. Penambahan jumlah stage akan menambah capital cost dan menambah rumit
pengoperasian. Uap air yang dihasilkan dari flashing ini dikondensasi pada tabung yg ada pada tiap
sfage.Tabung ini juga berfungsi sebagai alat untuk mengalirkan air laut masukan ke dalam brine
heater. Pada proses kondensasi ini juga akan menghangatkan air iaut masukan, sehingga jumlah
energi yang dibutuhkan untuk memanaskan air laut masukan di brine heater menjadi lebih kecil.
Kapasitas dari instalasi ini 4000 - 57000 mS/hari (1-15 mgd). Suhu maksimum (Top Brine
Temperatur) dari airlaut yang keluar dari brine heater adalah 90- 110 °C, Menambahkan suhu akan
menambah kinerja dari instalasi ini, tetapi dilain pihak juga akan merugikan, sebab akan
mempercepat proses pembentukan scalingdan korosi dari permukaan logam.®^