Anda di halaman 1dari 7

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

Jl. Cempaka Putih Tengah No. 27, Jakarta Pusat 10510


Telp. (021) 424406 Fax. 4256023

BAHAN BAKAR UTAMA UNTUK KONVERSI ENERGI

Secara umum ada 3 kategori bahan bakar utama, yaitu bahan (1) bakar fosil, (2) bahan bakar
nuklir, dan (3) bahan bakar energi surya. Namun, pada penjelasan di dalam rangkuman ini hanya
khusus membahas bahan bakar fosil.

# BAHAN BAKAR FOSIL


Ada banyak jenis dari bahan bakar fosil yang diperoleh di bumi, tapi yang paling umum
dikenal oleh masyarakat adalah (1) batubara (padatan), (2) minyak bumi (cair), dan (3) gas alam (gas).
Semua bahan bakar fosil dihasilkan dari pemfosilan senyawa karbohidrat dengan rumus kimia
Cx(H2O)y yang dihasilkan dari tanaman-tanaman hidup melalui proses fotosintesa pada jutaan tahun
yang lalu dan diubah menjadi senyawa hidrokarbon oleh bantuan tekanan dan panas, karena ketiadaan
oksigen.
1. Kimia Hidrokarbon
Ada tiga kelompok utama dari senyawa hidrokarbon, yaitu (1) hidrokarbon alifatik, (2)
hidrokarbon alisiklik, dan (3) hidrokarbon aromatik. Hidrokarbon alifatik adalah senyawa rantai
karbon yang dikategorikan dalam jenis ikatan jenuh dan tak jenuh. Hidrokarbon jenuh adalah
senyawa yang mempunyai ikatan tunggal pada setiap atom karbon, sedangkan hidrokarbon tak
jenuh adalah senyawa yang mempunyai ikatan rangkap pada setiap atom karbon.
Pada tiap jenis hidrokarbon terdapat subkelompok, diantaranya hidrokarbon jenuh dengan
kelompok alkana yang disebut rangkaian parafin dengan ikatan tunggal. Rumus kimia dari
hidrokarbon alkana adalah CnH2n+n. Beberapa contoh dari senyawa hidrokarbon alkana adalah
metana (CH4), etana (C2H6), propana (C3H8), butana (C4H10), dan oktana (C8H18). Senyawa-
senyawa yang umum dalam bahan bakar utama seperti metana pada gas alam dan oktana pada
gasoline.
Kemudian ada subkelompok hidrokarbon jenuh dengan kelompok alkena yang disebut
rangkaian olefin dengan ikatan rangkap dua. Rumus kimia dari hidrokarbon alkena adalah CnH2n,
dan beberapa contoh senyawa adalah etilena (C2H4), propilena (C3H6), butena (C4H8), dan heksena
(C6H12). Serta terdapat kelompok alkuna yang disebut rangkaian asetilen dengan ikatan rangkap
tiga dengan contoh senyawa seperti, asitilen (C2H2), dan etilasitilen (C4H6). Rumus kimia dari
hidrokarbon alkuna yaitu CnH2(n-1).
Dua kelompok utama hidrokarbon lainnya, hidrokarbon alisiklik dan aromatik disebut
senyawa cincin sebab bentuk ikatan yang menyerupai cincin dengan jenis cincin jenuh pada
alisklik dan cincin tak jenuh pada aromatik. Hidrokarbon alisiklik biasanya menggunakan nama
“siklo” pada awalan nama senyawa seperti siklopropana (C3H6), siklobutana (C4H8), dan
siklopentana (C5H10). Sedangkan pada hidrokarbon aromatik menggunakan cincin “benzena”,
seperti toluena (C7H8), xylena (C8H10), dan naptalena (C10H8)
2. Batubara
Batubara merupakan bahan bakar fosil yang dianggap berasal dari tumbuhan. Klasifikasi
batubara dibagi beberapa tingkat menurut American Society for Testing Materials menjadi empat
kategori utama berdasarkan sub divisi setiap kelas, yaitu (1) batubara antrasitik, (2) batubara
bitumin, (3) batubara subbitumin, dan (4) batubara lignitik.

Gambar 1. Klasifikasi batubara berdasarkan tingkatan (ASTM D-388)

Ada dua basis analisis batubara, yakni analisis proksimasi dan analisis ultimasi. Analisis
proksimasi adalah analisis batubara yang paling sederhana dan menghasilkan fraksi massa dari karbon
tetap (fixed carbon = FC), bahan dapat menguap (volatil moisture = VM), kebasahan (moisture=M),
dan abu(ash = A) dalam batubara.. analisis ini dapat dilakukan dengan menimbang, memanaskan dan
membakar sebuah sampel kecil batubara. Suatu sampel batubara yang dihaluskan (poedered coal)
ditimbang dengan hati-hati lalu dipanaskan hingga 110oC (230oF) selama 20 menit. Sampel ini
kemudian ditimbang kembali dan kehilangan massa dibagi dengan massa semula akan memberikan
fraksi massa dari kebasahan sampel. Sampel kemudian dipanaskan ke temperatur 954oC (1750oC)
dalam sebuah tabung tertutup selama 7 menit, dan sesudah itu kembali ditimbang. Massa yang hilang
karenanya, dibagi dengan massa semula menghasilkan fraksi massa dari bahan yang dapat meguap di
dalam sampel. Sampel kemudian dipanaskan ke temperatur 732oC (1350oC) dalam sebuah cawan
peleburan hingga ia terbakar sempurna. Sisanya kemudian ditimbang dan berat terkahir ini dibagi
dengan berat semula menghasilkan fraksi abu. Fraksi massa darikarbon tetap diperoleh dengan cara
mengurangkan fraksi kebasahan, bahan dapat menguap, dan abu, dari kesatuan. Sebagai tambahan
terhadap FC, VM, M, dan A, kebanyakan analisis proksimasi juga memuat fraksi massa sulfur (S) dan
nilai pembakaran tinggi (HHV) batubara.
Lalu, ada analisis ultimasi batubara adalah suatu analisis laboratorium yang memuat fraksi
massa karbon (C), hidrogen (H2), oksigen (O2), sulfur (S), dan nitrogen (N2) di dalam ultimasi
memberikan kebasahan M dan abu A secara terpisah, tetapi beberapa analisis memasukkan kebasahan
sebagai bagian dari fraksi massa hidrogen dan oksigen. Analisis ultimasi diperlukan untuk
menentukan kebutuhan udara pembakaran untuk suatu sistem tertentu dan hal ini, pada gilirannya,
digunakan untuk mengukur sistem aliran bagi dapur pembakaran. Perhitungan-perhitungan ini jika
mungkin hendaklah didasarkan pada analisis ultimasi begitu terbakar.

HHV – LHV = 2400 (M + 9H2) kJ/kg

Rumus Dulong :

𝑂2
HHV = 33.950C + 144.200 (𝐻2 − ) + 9400S kJ/kg
8

➢ Contoh Soal :
Hitunglah analisis ultimasi dan proksimasi dengan basis begitu diterima, taksiran nilai pembakaran
rendah dari nalai pembakaran tinggi yang tercantum di daftar, nilai pembakaran tinggi yang
dihitung dengan rumus Dulong, dan tentukan klasifikasi ASTM (kelas dan kelompok) dari
batubara Strak County, North Dakota, dengan A = 9 dan M = 39.
Penyelesaian :

(1) Dari lampiran C,


Analisis batubara proksimasi bebas abu, kering :
VM = 54,0 % S = 2,8 %
FC = 46,0 %
100,0 % HHV = 28.922 kJ/kg = 12.435 Btu/lbm

(2) Analisis ultimasi bebas abu, kering:


C = 72,4 % ; H2 = 4,7 % ; O2 = 18,6 % ; N2 = 1,5 % ; S = 2,8 %

(3) Faktor koreksi


Faktor koreksi = (1 – M – A)
Faktor koreksi = (1 – 0,39 – 0,08)
Faktor koreksi = 0,53

VM = 0,53 x 54,0 = 28,62 % S = 0,53 x 2,8 = 1,48 %


FC = 0,53 x 46,0 = 24,38 %
M = 39,00 % HHV = 0,53 x 28,922 = 15,329 kJ/kg
A = 8,00 % HHV = 0,53 x 12,435 = 6,591 Btu/lbm
100,00 %
(4) Analisis ultimasi begitu diterima :
C = 0,53 x 72,4 = 38,37 %
H2 = 0,53 x 4,7 = 2,49 % HHV = 15,329 kJ/kg
O2 = 0,53 x 18,6 = 9,86 % HHV = 6,591 Btu/lbm
N2 = 0,53 x 1,5 = 0,80 %
S = 0,53 x 2,8 = 1,48 %
M = 39,00 %
A = 8,00 %
100,00 %

(5) Nilai pembakaran rendah


LHV = HHV – 2400 (M + 9H2) kJ/kg

LHV = 15,329 – 2400 (0,39 + 0,0249) kJ/kg

LHV = 13.855 kJ/kg = 5957 Btu/lbm

(6) Harga taksiran tertinggi rumus Dulong :


𝑂2
HHV = 33.950C + 144.200 (𝐻2 − ) + 9400S kJ/kg
8

0,0986
HHV = 33.950 (0,3837) + 144.200 (0,0249 − ) + 9400 (0,0148) kJ/kg
8

HHV =14.979 kJ/kg = 6440 Btu/lbm

(7) Klasifikasi batubara berdasarkan ASTM :


100 (𝐹𝐶−0,15𝑆)
FC, bebas-Mm, kering =
100−𝑀−1,08𝐴−0,55𝑆

100 (24,38−0,15 𝑥 1,48)


FC, bebas-Mm, kering =
100 −39,0 −1,08 𝑥 8,0 − 0,55 𝑥 1,48

FC, bebas-Mm, kering = 46,87o (karena harga < 69 %, maka bukan termasuk mineral kering)

100 (𝐵𝑡𝑢−50𝑆)
Btu, bebas-Mm, basah =
100−𝑀−1,08𝐴−0,55𝑆

100 (6591−50 𝑥 1,48)


Btu, bebas-Mm, basah =
100 −39,0 −1,08 𝑥 8,0 − 0,55 𝑥 1,48

Btu, bebas-Mm, basah = 7197 Btu/lbm

Batubara digolongkon ke dalam kelas IV, kelompok I batubara-lignite A, karena memiliki


kisaran nilai pembakaran 6300 sampai 8300 Btu/lbm.

3. Minyak Bumi (Petroleum)


Minyak bumi merupakan bahan bakar fosil yang dianggap berasal dari kehidupan laut yang
membusuk sebagian. Minyak bumi atau minyak mentah (crude oil) terdiri dari komposisi senyawa
organik. Klasifikasi minyak bumi ada 3, yaitu (1) minyak bumi parafin, (2) minyak bumi aspal, dan
(3) minyak basis campuran. Pada analisis ultimasi (lengkap) semua minyak bumi relatif konstan,
diantaranya (1) fraksi massa karbon sekitar 84 – 87 %, (2) fraksi massa hidrogen sekitar 11 – 16 %,
(3) fraksi massa oksigen & nitrogen sekitar 0 – 7 %, dan (4) fraksi massa sulfur sekitar 0 – 4 %.

Gambar 2. Pembagian minyak mentah

o HHV Flash point*


Bahan bakar BM API
(kJ/kg) (oF)
LPG Propane 44 112,5 50400 -
LPG Butane 58 103,1 49590 -
Gas Oline 113 70 47590 -
Kerosine 154 40 45940 130
Diesel 1-D 170 30,2 44750 100
Diesel 2-D 180 22,2 44450 120
Diesel 4-D 195 15,8 43800 130
Fuel 0,1 No.1 - 42 46070 100
Fuel 0,1 No.4 - 22,5 43280 130
Fuel 0,1 No.6 - 14,5 42330 150

Tabel 1. Pembagian minyak mentah berdasarkan oAPI (American Petroleum Institute)

141,5
o
API = – 131,5
𝐵𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑗𝑒𝑛𝑖𝑠 𝑝𝑎𝑑𝑎 60/60 °𝐹

*)Flash point (titik nyala) merupakan temperatur minimum suatu cairan pada saat uap keluar dari
permukaan fluida langsung akan menguap.
4. Bahan Bakar Gas
Bahan bakar gas adalah bahan bakar fosil ataupun hasil samping (by prodructs) dari bahan
bakar fosil. Bahan bakar fosil dapat dibagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu (1) gas alam, (2) gas
pabrik, dan (3) gas hasil sampingan.
Nilai pembakaran volumetrik dari suatu bahan bakar gas dapat dihitung dengan rumus
sebagai berikut :

(HHVv campuran)Pr, Tr = Σ (HHVv, i) Pr, Tr (Vi)


𝑃 𝑇ᵣ
(HHVv)P, T = (HHVv) Pr, Tr 𝑃ᵣ 𝑇

HHVm = (HHVv) P, T (v) P, T

𝑉 𝑅𝑇 𝑅ᵤ 𝑇
v = = =
𝑚 𝑃 𝑃(𝑀𝑊)

➢ Contoh Soal :
Diketahui gas alam dengan komposisi CH4 = 94,3 % ; C2H6 = 4,2 % ; CO2 = 1,5 % pada suhu 10oC
dan tekanan 3 atm. Hitunglah nilai pembakaran volumetrik dan nilai pembakaran gravimetrik ?
Penyelesaian :
Komponen % (HHVv) Pr, Tr (HHVv) Pr, Tr campuran BM BM campuran
CH4 94,3 37,204 35,083 16 15,09
C2H6 4,2 65,702 2,763 30 1,26
CO2 1,5 0 0 44 0,66
Jumlah 37,846 17,01

Nilai pembakaran volumetrik :


𝑃 𝑇ᵣ
(HHVv)P, T = (HHVv) Pr, Tr x 𝑃ᵣ 𝑇
3 (273+20)
(HHVv)P, T = (37,086) x 1 𝑥
(273+10)
kg/m3
3
(HHVv)P, T = 117550 kg/m
Nilai pembakaran gravimetrik :
𝑅ᵤ 𝑇
(1) v =
(𝑃)(𝐵𝑀 𝑐𝑎𝑚𝑝𝑢𝑟𝑎𝑛)

0,08314 𝑥 283
v = m3/kg
(3 𝑥 1,013)(17,01)
v = 0,04552 m3/kg

(2) HHVm = (HHVv) P, T (v) P, T

HHVm = 117550 kg/m3 x 0,04552 m3/kg

HHVm = 53509 kg/kg