Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PEMBAHASAN

PERCOBAAN 2
SINTESIS SENYAWA DERIVAT KALKON

Nama Praktikan :

NIM : 1813015

Kelas/Kelompok : S1 A 2018/

Dosen : Harra Ismi Farah, S.Pd., M.Sc.

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MULWARMAN
2021

PERCOBAAN 2
SINTESIS SENYAWA DERIVAT KALKON
A. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Batang Pengaduk
b. Corong kaca
c. Desikator
d. FTIR
e. Gelas Kimia
f. HPLC Analitik
g. Labu Sintesis
h. Labu Ukur
i. Magnetik Stirrer
j. Melting Point
k. Pipet Tetes
l. Pipet Ukur
m. Polarimeter
n. Pro Pipet
o. Rotary Evaporator
p. Spectrum Massa (HR-ToF-MS)
q. Stirer
r. Timbangan Analitik

2. Bahan
a. Aquades
b. Es Batu
c. Etil Asetat
d. H2SO4
e. Kertas Indikator pH
f. Kertas Saring
g. L-Leusin
h. Metanol
i. NaSO4 anhidrat
j. NaCl
k. NaHCO3
l. NaNO2
m. Ninhidrin
n. Plat Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
o. Propanol
B. Bagan Kerja
senyawa 2-hidroksi-5-kloro asetofenon

Ditimbang 852,59 mg (5 mmol)

metanol

Dilarutkan dalam 10 mL metanol

NaOH 40% 5 mL

Ditambahkan secara perlahan (tetes demi tetes)

4-metoksi benzaldehida

Ditambahkan 608,35 µL (5 mmol) 4-metoksi


benzaldehida yang telah dilarutkan dalam 10 mL metanol

Diaduk selama 48-72 jam pada suhu kamar dan setiap 24 jam

Dilakukan controlled KLT

penambahan HCl dilakukan pada suhu 0-5 oC

Dihentikan reaksi jika produk telah terbentuk, lalu tambahkan HCl 10% terhadap hasil reaksi
hingga pH 7

ditabur
padatan
garam Sa mpai suhu stabil di 0-5°

Ic e bath

Disiapkan
40 m l &

H2SO4 2M 1 gra m Leusin

Sem bari di-stir rer ad larut


0-5°C

1 gra m Le usin
Ice bath

Disaring dan dicuci dengan aquades

Dikeringkan dan disimpan produk reaksi dalam desikator

C. Data Hasil Percobaan


1. Massa Produk
Massa produk 2’-hidroksi-5’-kloro-4-metoksikalkon : 1,22 g
a. Massa 2-hidroksi-5-kloro aseton
g
n =
Mr
g
5 mmol =
170,59 g /mol
g = 0,005 mol x 170,59 g/mol
= 0,85295 g
= 852,95 mg

b. Massa 4-metoksi benzaldehida


g
n =
Mr
g
5 mmol =
136,15 g /mol
g = 0,005 mol x 136,15 g/mol
= 0,68075 g
= 680,75 mg

2-hidroksi-5-kloro aseton + 4-metoksi benzaldehida → 2-hidroksi-5-kloro4 metoksikalkon


M: 5 mmol 5 mmol -
R: - 5 mmol - 5 mmol 5 mmol
Hasil: 0 0 5mmol

c. Massa Teoritis 2-hidroksi- 5- kloro 4 metoksikalkon


g
n =
Mr
g
5 x 10-3 mol =
288,73 g/mol
g = 5 x 10-3 mol x 288,73 g/mol
g = 1,44 gram

d. % Rendemen
Berat hasil produk = 1,22 gram
Berat teoritis = 1,44 gram
1,22 gram
x 100% = 84,7 %
1,44 gram

2. Melting Point
Melting point 2’-hidroksi-5’-kloro-4-metoksikalkon : 126-128 °C
3. Spektrum UV-VIS

𝝺 (nm)
ε pada
pada 𝝺 Mask
No Kromofor gambar ε Mask
gambar (nm)

C=C=C/
1 221 227 1,5 630
Benzena
2 C=C=O 283 375 1,1 20
3 C=C=O 338 375 1,1 20
4. Spektrum FTIR

OCH3

OH

Cl

Tipe
Spektrum Ikatan Frekuensi Intensitas
Senyawa
Cincin
752,23 cm-1 (C-H) 675-995 cm-1 Kuat
Aromatik
972,12 cm-1 (C-H) Alkena 675-995 cm-1 Kuat
1188,15 cm-1 (C-O) Alkohol 1000-3000 cm-1 Kuat
1257,59 cm-1 (C-O) Alkohol 1000-3000 cm-1 Kuat
Cincin Berubah-
1558,48 cm-1 (C=C) 1500-1600 cm-1
Aromatik ubah
Cincin
1604,77 cm-1 (C=O) 1500-2000 cm-1 Kuat
Aromatik
2931,80 cm-1 (C-H) Alkana 2850-2970 cm-1 Kuat
3008,95 cm-1 (C-H) Alkana 3000-3500 cm-1 Kuat
3263,56 cm-1 (O-H) Fenol, 3200-3600 cm-1 Berubah-
Monomer ubah,
Alkohol,
Alkohol,
terkadang
Ikatan
melebar
hidrogen
fenol

5. Spektrum Massa (EI-MS)

3 3'
OCH3 OH
2'
2 4'
4

5 5' 1'
1 Cl
6'
6
O

Chemical Formula: C7H4ClO2•


Chemical Formula: C9H9O•
Exact Mass: 154.99
Exact Mass: 133.07
6. Spektrum H-NMR
Signal δ ( ppm) Integrasi Proton
Doublet 7,919; J = 16 Hz 0,96 1H
Doublet 7,885; J = 2,4 Hz 0,79 1H
7,642 1,82 2H
7,425 2,10 2H
6,960 2,99 3H

Struktur Jenis Nilai J Kopling


Integrasi Sistem
Kopling (Hz)
Nonn Aromarik HA HB

0,96 (Trans) C C

HC
16 Hz
Non Aromatik

Aromatik (Meta) HA

HB

0,79 Hc
2,4 Hz
HD

Aromatik

2,10 Non Aromatik R


HA 2,8 Hz, 2,4 Hz,
(Geminal) C 15,2 Hz
R HB

Non Aromatik
Aromatik (Orto) HA

HB

8,4 Hz, 8,8 Hz,


2,99 Hc
14,8 Z
HD

Aromatik

D. Reaksi dan Mekanisme Reaksi


OCH3

OCH3 Cl OH
OH

H NaOH
CH3
Cl
O O
O

Reaksi Sintesis Kalkon 2-hidroksi- 5- kloro 4 metoksikalkon

O
O O

CH3
CH3 H

OH
Cl OH
Cl OH Cl Cl

O OH O O H
H

H
Cl OH OCH3 Cl OH OCH3

O OH2 O

-H2O + H 2O

Cl OH OCH3 Cl OH OCH3

OCH3

OH
+ H 2O

Cl

Mekanisme Reaksi Sintesisi Senyawa 2-hidroksi- 5- kloro 4 metoksikalkon

E. Pembahasan
Percobaan dari praktikum kali ini membahas tentang sintesis senyawa derivate
kalkon serta memperoleh dan mengolah data yang didapatkan melalui data hasil sintesis
senyawa derivate kalkon.
Kalkon merupakan α, β-keton tidak jenuh (trans-1,3-diaril-2-propen-1-on), terdiri
dari dua cincin aromatik (A dan B) yang terikat dengan sistem α, β-karbonil tidak jenuh
dengan substituen yang bervariasi. Biosintesis kalkon melalui jalur sikimat dan
merupakan prekursor senyawa flavonoid. Kalkon terdistribusi sangat luas pada
tumbuhan. Beberapa kelompok senyawa heterosiklik yang memiliki aktivitas biologi
yang penting dapat disintesis dari senyawa kalkon, seperti 1,4-diketon, benzotiazefin,
flavonoid dan pirazolina (Raut et al., 2016).
Kalkon sendiri memiliki spektrum aktivitas biologis yang sangat luas sebagai
antibakteri, antifungal, antiinflammatory, antioksidan, antikanker, antitumor,
antidiabetes, dsb. Kalkon memiliki ikatan rangkap terkonjugasi dan sistem elektron π
yang terdelokalisasi sepenuhnya pada kedua cincin aromatik (benzena), senyawa molekul
dengan sistem terkonjugasi seperti ini memiliki potensi redoks yang relatif rendah dan
lebih besar kemungkinan menjalani reaksi transfer elektron (Chavan et al., 2016).
Pada umumnya sintesis kalkon dilakukan melalui mekanisme reaksi kondensasi
Claisen-Schmidt, dengan prekursor aril keton dan aldehida aromatis seperti derivat
asetofenon dan benzaldehida. Reaksi ini berlangsung dengan adanya katalis asam atau
basa di dalam suatu pelarut sebagai agen kondensasi. Sintesis kalkon secara konvensional
dengan metode refluks maupun reaksi pada suhu ruang, mengalami perkembangan
kearah sintesis yang lebih sustainable (green chemistry) dengan metode sintesis yang
non-solvent seperti dengan metode grinding dan microwave (Susanti et al., 2018).

Cara kerja yang dilakukan dalam percobaankali ini pertama menimbang 852,59
mg (5 mmol) senyawa 2-hidroksi-5-kloro asetofenon, kemudian dilarutkan dalam 10 mL
metanol, masukkan dalam labu sintesis aduk pada suhu kamar, tambahkan secara
perlahan (tetes demi tetes) 5 mL NaOH 40% kedalam larutan tersebut dimana NaOH
merupakan katalis basa yang di larutkan dalam methanol akan menyebabkan
terbentuknya CH3CH2ONa yang terpolarkan sehingga reaksi menjadi lebih cepat terjadi,
lanjut diambahkan 608,35 μL (5 mmol) 4-metoksi benzaldehida yang telah dilarutkan
dalam 10 mL metanol kedalam campuran reaksi tersebut aduk selama 48-72 jam pada
suhu kamar dan setiap 24 jam dilakukan kontrol KLT terhadap produk reaksi, Jika
produk reaksi telah terbentuk, hentikan reaksi dan lakukan penambahan HCl 10%
terhadap hasil reaksi hingga pH 7 (Penambahan HCl kedalam campuran reaksi dilakukan
pada kondisi suhu 0-5 ℃), penabahan HCl sebagai katalis asam sehingga bila suatu
hidrogen alfa bila direaksikan dengan dengan basa akanmembentuk ion enolat yang dapat
bereaksi dengan gugus karbonil dari molekul aldehid yang lain. Padatan yang terbentuk
disaring dan dicuci dengan aquades, produk reaksi dikeringkan dan disimpan dalam
desikator.
Hasil yang di dapatkan dari percobaan kali ini adalah senyawa produk yaitu 2-
hidroksi-5-kloro-4-metoksikalkon dengan berat 1,22 g dengan rendemen sebesar 84,7 %.
Melting point dari senyawa produk yang didapat adalah 126-128℃ dimana dapat
dikatakan senyawa murni karena suatu senyawa dapat dikatakan murni salah satunya
apabila selisih harga titik lelehnya ≤ 2℃(Furi dkk, 2015).
Umumnya spektrum UV dari senyawa kalkon memperlihatkan adanya 2 pola
pada serapan maksimum yaitu 200-270 nm untuk cincin turunan asetofenon dan serapan
maksimum 340-390 nm untuk cincin aldehid. Berdasarkan data yang diperoleh terlihat
serapan maksimum pada panjang gelombang 221 nm, 283 nm dan 338 nm. Pada serapan
maksimum 221 nm menunjukkan adanya ikatan rangkap terkonjugasi. Hal ini disebabkan
semakin banyak ikatan rangkap terkonjugasi terdapat pada senyawa kalkon, maka energi
ikatannya menjadi semakin lemah sehingga panjang gelombang yang dihasilkan semakin
besar (Lusrianti dkk., 2015). Pada serapan maksimum 283 nm, berhubungan dengan
turunan asetofenon (benzoyl/cincin α) yang memiliki serapan maksimum berkisar 200-
270 nm. Sedangkan pada serapan maksimum 338 nm berhubungan dengan cincin aldehid
(cinnamoyl/cincin β) yang memiliki serapan maksimum berkisar 340-390 nm. Kedua
serapan maksimum tersebut menandakan adanya senyawa kalkon (Eryanti dkk., 2010).
Berdasarkan analisis menggunakan spektrum FTIR yang dibandingkan dengan
tabel IR hasil pengukuran senyawa 5’-kloro-2’-hidroksi-4-metoksikalkon yaitu terdapat 9
peak dengan nilai 3263.56 cm-1 (ikatan O-H, dengan tipe senywa fenol, alkohol), 3008.95
cm-1 (ikatan C-H, alkana), 2931.80 cm-1 (ikatan C-H alkana), 1604.77 cm-1 (ikatan C=O,
Cincin aromatik), 1558.48 cm-1 (ikatan C=C, Cincin aromatik), 1257.59 cm-1 (ikatan C-O,
alkohol), 1188.15 cm-1 (ikatan C-O, alkohol), 972. 12 cm-1 (ikatan C-H, alkena), dan
725.23 cm-1 (ikataan C-H, cincin aromatik). Dari data tersebut dapat diketahui bahwa
senyawa yang terdeteksi adalah senyawa yang mengandung cincin aromatis hal ini dapat
dibuktikan dengan adanya peak 1558.48 cm-1 yang memiliki tipe senyawa cincin
aromatis. Selain itu senyawa yang terdeteksi juga mengandung gugus karbonil, aldehid,
serta gugus hidroksi, dimana gugus karbonil ini terdeteksi pada peak 1604.77 cm -1 , gugus
aldehid terdeteksi pada peak 2931.80 cm-1 dan gugus hidroksi pada peak 3263.56 cm-1.
Berdasarkan data - data yang yang diuraikan diatas dapat disimpulkan bahwa senyawa
yang terdeteksi pada spektrum FTIR merupakan senyawa kalkon dari prekursor 2-
hidroksi-5-kloroasetofenon dan 4-metoksibenzaldehida yang telah terkonversi menjadi
5’-kloro-2’-hidroksi-4-metoksikalkon.
Pada percobaan sintesis senyawa kalkon digunakan Spektrum massa dengan
teknik EI, yaitu dengan menembakan berkas elektron pada suatu molekul organik
menghasilkan ion molekul bemuatan positif yang dapat dipecah menjadi ion- ion kecil
(Silverstein, 1998).
Hasil analisis MS menunjukkan bahwa senyawa Kalkon hasil sintesis yang
didapat menunjukkan hasil yang cukup murni. Pada data MS puncak ion molekuler
muncul pada m/e 288 yang sesuai dengan berat molekul dari kalkon. Harga m/e 134
merupakan base peak ( puncak dasar ) dan hasil fragmentasi dari kalkon [C9H9O] yang
kehilangan gugus C7H4ClO2.
Spektroskopi H-NMR pada dasarnya merupakan sarana untuk menentukan
struktur senyawa organik dengan mengukur momen magnet atom hidrogennya. Pada
kebanyakan senyawa, atom hidrogen terikat pada gugus yang berlainan seperti –CH2-,
-CH3, -CHO,-NH2,-CHOH- dan spektrum H-NMR merupakan rekaman sejumlah atom
hidrogen yang berada dalam keadaan lingkungan yang berlainan tersebut. Pada
spektroskopi H-NMR dapat menentukan banyaknya jenis lingkungan atom hidrogen yang
berbeda yang ada dalam molekul, beberapa hidrogen pada masing-masing jenis
lingkungan hidrogen, serta berapa banyak atom hidrogen yang ada pada atom karbon
tetangga. Prinsip kerja spektroskopi H-NMR berdasarkan pada penyerapan gelombang
radio (4-600MHz) oleh inti atom hidrogen dalam molekul, saat molekul tersebut berada
dalam medan magnet yang sangat kuat dan diradiasi dengan radiasi elektromagnetik
maka inti atom hidrogen tersebut akan menyerap energi melalui absorbsi atau resonansi
magnetik. Absorpsi radiasi akan terjadi apabila kekuatan medan magnet sesuai dengan
frekuensi radiasi elektromagnetik (Pavia et al., 2009).
Pada puncak integrator dengan angka 2.99 dibulatkan menjadi 3 dapat
disimpulkan jumlah atom H berjumlah 3 dengan jumlah sinyal 8, >4 (Multiplet), puncak
integrator dengan angka 2.10 dibulatkan menjadi 2 dapat disimpulkan jumlah atom H
berjumlah 2 dengan jumlah sinyal 6, >4 (Multiplet), puncak integrator dengan angka 1.82
dibulatkan menjadi 2 dapat disimpulkan jumlah atom H berjumlah 2 dengan sinyal 5, >4
(Multiplet), puncak integrator dengan angka 0.79 dibulatkan menjadi 1 dapat disimpulkan
jumlah atom H berjumlah 1 dengan sinyal 2, =2 (Doublet), puncak integrator dengan
angka 0.96 dibulatkan menjadi 1 dapat disimpulkan jumlah atom H berjumlah 1 dengan
sinyal 2, =2 (Doublet). Pada pergeseran kimia integrator 0.96 didapatkan hasil 7,919
ppm, integrator 0.79 didapatkan hasil 7,855 ppm, integrator 1.82 didapatkan hasil 7,6424
ppm, integrator 2.10 didapatkan hasil 7,493 ppm. Pada perhitungan kopling konstanta J
integrator 2.10 double of doublet dengan hasil J1 2.8 Hz dan J2 2.4 Hz, double dengan
hasil J1 15.2 Hz. Sedangkan pada integrator 2.99 didapatkan hasil J1 8.4 Hz, J2 8.8 Hz,
J3 14.8 Hz. Perhitungan proton akan mempengaruhi pergeseran kimia. Spliting dapat
dilihat dari atom tetangga untuk mengkopling tetangga yang dekat atau jauh. Meskipun
terlihat tidak ada proton, tetapi dapat membentuk doublet. 4’ kemungkinan mengkopling
tetangga pada 3’ dan 6’ sehingga membentuk spliting double of doublet.
Proton memiliki lingkungan proton, bila lingkungan proton dipengaruhi oleh
atom-atom atau gugus fungsi yang memiliki keelektronegatifan tinggi akan menyebabkan
pergeseran kimia ke arah lebih besar nilainya karena kerapatan elektron semakin jauh.
Jika dibandingkan dengan keelektronegatifan yang lebih kecil, lingkungan proton akan
muncul pada ppm lebih rendah, oleh karena itu di tulis pada peak pertama. Misal 3, 5’
karena protonnya dipengaruhi oleh lingkungan OCH3 yang kurang elektronegatif oleh
karena itu muncul pada ppm lebih rendah 3’ dipengaruhi OH.
Berdasarkan analisis menggunakan spektrum C-NMR, hasil pengukuran senyawa
2’-hidroksi-5’-kloro-4-metoksikalkon menunjukkan adanya 14 atom karbon. Puncak
yang berada pada 192.791 ppm (C1’) menunjukkan adanya gugus karbonil yang
mengandung gugus keton (C=O). Kemudian pada puncak yang berada pada 162.413 ppm
(C2’); 162.108 ppm (C4); 136.003 ppm (C4’); 130.911 ppm (C6’); 128.804 ppm
(C2/C6); 127.164 (C1); 123;503 (C5’); 120.814 ppm (C1’); 120.271 ppm (C3’); 114.683
(C3/C5) ppm merupakan gugus senyawa aromatik. Puncak yang berada pada 77.422
ppm; 77.107 ppm; 76.793 ppm bukan atom karbon dari senyawa 2’-hidroksi-5’-kloro-4-
metoksikalkon melainkan pelarut yang digunakan yaitu CDCl3. Puncak yang berada pada
146.529 (C-β) dan 116.683 ppm (C-α) merupakan senyawa golongan alkene. Sedangkan
pada puncak 55.588 merupakan ikatan O-CH3.

F. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:
1. Sintesis senyawa derivate kalkon didapatkan rendemen sebesar 84,7%.
2. Hasil analisis dengan menggunakan spectrum FTIR, UV-Vis, Spektrum massa
dengan teknik EI, H-NMR, C-NMR, melting point menunjukkan bahwa senyawa dari
sintesis 2-hidroksi-5-kloro aseton dan 4-metoksi benzaldehida didapatkan 2’-
hidroksi-5’-kloro-4-metoksikalkon sesuai yang diharapkan.
DAFTAR PUSTAKA

Chavan, B.B., Gadekar, A.S., Mehta, P.P., Vawhal, P.K., Kolsure, A.K., and Chabukswar, A.R.,
2016, Synthesis and Medicinal Significance of Chalcone- A review, Asian Journal of
Biomedical and Pharmaceutical Sciences, 6(56), 01-07.

Eryanti Y. dkk. 2010. Sintesis Turunan 2’-hidroksi Kalkon melalui Kondensasi Claisen-Schmidt
dan Uji Aktivitasnya sebagai Antimikroba. Jurnal Natur Indonesia.

Furi, Mustika., dkk. 2015. Isolasi dan Karakterisasi Terpenoid dari Kulit Ekstrak Etil Asetat
Kulit Batang Meranti Kunyit (Shorea conica). Jurnal Penelitian Farmasi Indonesia
(3)2.

Lusrianti dkk. 2015. Sintesis dan Uji Toksisitas Senyawa Analog Kalkon dari 4’-
Hidroksiasetofenon dengan Dimetoksibenzaldehid. Jurnal Photon. 6(1): 45-49.

Pavia, L. D., Lampman, G.M., dan Kriz, G.S. 2009. Introduction to Spektroscopy, Third
Edition.USA: Thomson Learning, inc.
Raut, N. A., Dhore, P.W., Saoji, S.D., and Kokare, D.M., 2016, Selected Bioactive Natural
Products for Diabetes Mellitus, Studies in Natural Products Chemistry, 48, 287-322.

Silverstein, R. M. and Webster F. X. 1998. Spectrometric Identification of Organic Compounds.


New York: John Wiley & Sons, Inc.

Susanti, E. VH., and Setyowati, W.A.E., 2017, A Green Synthesis of Chalcones As an


Antioxidant and Anticancer. IOP Conf. Series: Material Science and Engineering, 299,
012077.

Anda mungkin juga menyukai