Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN

PRAKTIKUM KIMIA DASAR I

REAKSI PEMBATAS

Nama : Adnan Hilman Nurfaizi (11200960000034) 


Kelas : Kimia 1A
Kelompok : 1 (Satu) 
 Alma Faizira Putri Pradini (11200960000014)
 M. Rian Firmansyah (11200960000030)
 Nurmala Santika Putri (11200960000016)

Tanggal :  04 November 2020


Dosen : Nurul Amalia, M.Si

Program Studi Kimia


Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta Tahun 2020
BAB I PENDAHULUAN

1.1. Prinsip Percobaan

Pereaksi pembatas adalah pereaksi yang nilai quosiennya pling kecil. Pereaksi
pembatas dapat ditentukan dengan cara membagi jumlah mol setiap pereaksi masing-
masing dengan koefisien reaksinya. Penentuan pereaksi pembatas dapat dilakukan
hanya ketika persamaan reaksi kimia sudah berada dalam keadaan setara.

1.2. Tujuan Percobaan

 Mahasiswa mampu menentukan reaktan pembatas bdari suatu reaksi kimia pembatas
 Mahasiswa mampu memprediksi hubungan antara tinggi endapan yang terbentuk
dengan banyaknya produk yang dihasilkan.
 Menghitung endapan yang terbentuk berdasarkan prinsip stoikiometri (hasil teoritis).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Suatu reaksi kimia adalah proses dimana ikatan atom di dalam molekul-molekulzat-


zat yang bereaksi dipecahkan, diikuti oleh penyusunan kembali dari atom-atomtersebut dalam
kombinasi molekul baru. Dengan perkataan lain, timbul zat kimia baru danyang lama hilang,
tetapi atom atomnya tetap sama. (Harijono.1987:103).

Reaksi kimia secara umum dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu reaksiasam-
basa dan reaksi redoks. Secara garis besar, terdapat perbedaan yang mendasar antarakedua
jenis reaksi tersebut, yaitu pada reaksi redoks terjadi perubahan bilangan oksidasi(biloks),
sedangkan pada reaksi asam-basa tidak ada perubahan biloks. Kedua kelompokreaksi kimia
ini dapat dikelompokkan ke dalam 4 tipe reaksi: Sintesis, Dekomposisi,Penggantian Tunggal,
dan Penggantian Ganda.(Yusuf.2011).

Stoikiometri berasal dari kata yunani, stoicheion (unsure) dan mettrein


(mengukur), berarti mengukur unsur. Pengertian unsur-unsur dalam hal ini adalah partikel-
partikelatom, ion, molekul atau electron yang terdapat dalam unsur atau senyawa yang
terlibatdalam reaksi kimia. Stoikiometri yang menyangkut cara untuk menimbang
danmenghitung spesi-spesi kimia atau dengan kata lain, stoikiometri adalah kajian
tentanghubungan-hubungan kuantitatif dalam reaksi kimia.(Achmad.1996:2).

Stoikiometri beberapa reaksi dapat dipelajari dengan mudah, salah satunya


denganmetode JOB atau metode Variasi Kontinu, yang mekanismenya yaitu dengan
dilakukan pengamatan terhadap kuantitas molar pereaksi yang berubah-ubah, namun
molar totalnyasama. Sifat fisika tertentunya (massa, volume, suhu, daya serap) diperiksa,
dan perubahannya digunakan untuk meramal stoikiometri sistem. Dari
grafik aluran sifat fisikterhadap kuantitas pereaksi, akan diperoleh titik maksimal atau
minimal yang sesuai titikstoikiometri sistem, yang menyatakan perbandingan pereaksi-
pereaksi dalam senyawa.Perubahan kalor pada reaksi kimia bergantung jumlah pereaksinya.
Jika mol yang bereaksidiubah dengan volume tetap, stoikiometri dapat ditentukan dari titik
perubahan kalormaksimal, yakni dengan mengalurkan kenaikan temperatur terhadap
komposisi campuran.( Sutrisno.1986:247).

Stoikiometri reaksi adalah penentuan perbandingan massa unsur-unsur dalamsenyawa


dalam pembentukan senyawanya. Pada perhitungan kimia secara stoikiometri, biasanya
diperlukan hukum-hukum dasar ilmu kimia.(Brady,1986).

Pereaksi pembatas dapat ditentukan dengan cara membagi jumlah mol setiap pereaksi
masing-masing dengan koefisien reaksinya. Penentuan pereaksi pembatas dapat dilakukan
hanya ketika persamaan reaksi kimia sudah berada dalam keadaan setara. Pereaksi pembatas
adalah pereaksi yang nilai quosiennya pling kecil. Setelah pereaksi pembatas ditentukan,
perhitungan selanjutnya, untuk menentukan jumlah produk yang dihasilkan, mol pereaksi
pembatas digunakan sebagai pembanding. Penentuan pereaksi pembatas ini sangat penting
untuk tujuan efisiensi dari penggunaan pereaksi pada suatu reaksi kimia tertentu.

BAB III METODE PERCOBAAN

1.1. Alat
Tabung reaksi 6 buah, Rak tabung reaksi 1 buah, Pipet tetes 6 buah, dan Gelas ukur
10 mL 1 buah.
1.2. Bahan
Larutan Na2CO3 1 M, Larutan Na2CO3 0,5 M, Larutan CaCl2 1 M, Larutan CaCl2 0,5
M, Larutan CaCl2 0,05 M, dan Larutan CaCl2 0,01 M.

1.3. Prosedur Pekerjaan

Masukan 5 mL larutan Na2CO3 dan 5 CaCl2 mL larutan ke dalam


6 tabung reaksi sesuai dengan kosentrasi yang ditentukan.

Kocok tabung reaksi lalu diamkan di rak tabung reaksi sampai 15


menit atau 30 menit hinggs endapan terkumpul.

Ukur tinggi endapan pada masing-masing tabung dan catat pada


tabel pengamatan.

Saring endapan pada tabung ketiga, keringkan dalam oven pada


temperatur 100 0C selama 60 menit. Lalu timbang massa endapan
tersebut.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Pengamatan

No. Na2CO3 CaCl2 Tinggi Mol Mol Mol Mol


Na2CO3 CaCl2 NaCl CaCO3
(M) (M) endapan
(cm)
1. 1 1 1,2 cm 5 × 10-3 5 × 10-3 1 × 10-2 5 × 10-3
mol mol mol mol
2. 1 0,5 1 cm 5 × 10-3 2,5 × 10-3 5 × 10-3 2,5 × 10-3
mol mol mol mol
3. 0,5 0,5 0,7 cm 2,5 × 10-3 2,5 × 10-3 5 × 10-3 2,5 × 10-3
mol mol mol mol
4. 0,5 1 0,7 cm 2,5 × 10-3 5 × 10-3 5 × 10-3 2,5 × 10-3
mol mol mol mol
5. 0,5 0,1 0,4 cm 2,5 × 10-3 5 × 10-4 1 × 10-3 5 × 10-4
mol mol mol mol
6. 0,5 0,05 0,3 cm 2,5 × 10-3 2,5 × 10-4 5 × 10-4 2,5 × 10-4
mol mol mol mol

 Percobaan pertama yaitu 5 mL larutan Na2CO3 1 M dengan 5 mL larutan CaCl2 1 M


Hasil persamaan reaksinya :
Na2CO3 (aq) + CaCl2 (aq) → 2 NaCl (aq) + CaCO3 (s)
 n Na2CO3 = M × V n CaCl2 = M × V
= 1 M × 5 mL = 1 M × 5 mL
= 5 mmol = 5 mmol
-3
= 5 × 10 mol = 5 × 10-3 mol

 n NaCl = 10 × 10-3 mol


= 1 × 10-2 mol
 n CaCO3 = 5 × 10-3 mol
 m CaCO3 = mol × Mr
= 5 × 10-3 mol × 100 gr/mol
= 0,5 gram

Pada percobaan ini tidak ada pereaksi pembatasnya

 Percobaan kedua yaitu 5 mL larutan Na2CO3 1 M dengan 5 mL larutan CaCl2 0,5 M


Hasil persamaan reaksinya :
Na2CO3 (aq) + CaCl2 (aq) → 2 NaCl (aq) + CaCO3 (s)
 n Na2CO3 = M × V n CaCl2 = M × V
= 1 M × 5 mL = 0,5 M × 5 mL
= 5 mmol = 2,5 mmol
= 5 × 10-3 mol = 2,5 × 10-3 mol

 n NaCl = 5 × 10-3 mol


 n CaCO3 = 2,5 × 10-3 mol
 m CaCO3 = mol × Mr
= 2,5 × 10-3 mol × 100 gr/mol
= 0,25 gram
Pada percobaan kali ini pereaksi pembatasnya adalah CaCl2

 Percobaan ketiga yaitu 5 mL larutan Na2CO3 0,5 M dengan 5 mL larutan CaCl2 0,5 M
Hasil persamaan reaksinya :
Na2CO3 (aq) + CaCl2 (aq) → 2 NaCl (aq) + CaCO3 (s)
 n Na2CO3 = M × V n CaCl2 = M × V
= 0,5 M × 5 mL = 0,5 M × 5 mL
= 2,5 mmol = 2,5 mmol
-3
= 2,5 × 10 mol = 2,5 × 10-3 mol

 n NaCl = 5 × 10-3 mol


 n CaCO3 = 2,5 × 10-3 mol
 m CaCO3 = mol × Mr
= 2,5 × 10-3 mol × 100 gr/mol
= 0,25 gram
Percobaan ini tidak ada pereaksi pembatas

 Percobaan keempat yaitu 5 mL larutan Na2CO3 0,5 M dengan 5 mL larutan CaCl2 1 M


Hasil persamaan reaksinya :
Na2CO3 (aq) + CaCl2 (aq) → 2 NaCl (aq) + CaCO3 (s)
 n Na2CO3 = M × V n CaCl2 = M × V
= 0,5 M × 5 mL = 1 M × 5 mL
= 2,5 mmol = 5 mmol
-3
= 2,5 × 10 mol = 5 × 10-3 mol

 n NaCl = 5 × 10-3 mol


 n CaCO3 = 2,5 × 10-3 mol
 m CaCO3 = mol × Mr
= 2,5 × 10-3 mol × 100 gr/mol
= 0,25 gram
Pereaksi pembatasnya adalah Na2CO3

 Percobaan kelima yaitu 5 mL larutan Na2CO3 0,5 M dengan 5 mL larutan CaCl2 0,1 M
Hasil persamaan reaksinya :
Na2CO3 (aq) + CaCl2 (aq) → 2 NaCl (aq) + CaCO3 (s)
 n Na2CO3 = M × V n CaCl2 = M × V
= 0,5 M × 5 mL = 0,1 M × 5 mL
= 2,5 mmol = 0,5 mmol
-3
= 2,5 × 10 mol = 5 × 10-4 mol

n NaCl = 1 × 10-3 mol


n CaCO3 = 0,5 × 10-3 l
= 5 × 10-4 mol
 m CaCO3 = mol × Mr
= 5 × 10-4 mol × 100 gr/mol
= 0,05 gram
Pereaksi pembatasnya adalah CaCl2
 Percobaan keenam yaitu 5 mL larutan Na2CO3 0,5 M dengan 5 mL larutan CaCl2 0,05
M
Hasil persamaan reaksinya :
Na2CO3 (aq) + CaCl2 (aq) → 2 NaCl (aq) + CaCO3 (s)
 n Na2CO3 = M × V n CaCl2 = M × V
= 0,5 M × 5 mL = 0,05 M × 5 mL
= 2,5 mmol = 0,25 mmol
-3
= 2,5 × 10 mol = 2,5 × 10-4 mol

 n NaCl = 0,5 × 10-3 mol


= 5 × 10-4 mol
 n CaCO3 = 0,25 × 10-3 mol
= 2,5 × 10-4 mol
 m CaCO3 = mol × Mr
= 2,5 × 10-4 mol × 100 gr/mol
= 0,025 gram

Pereaksi pembatasnya adalah CaCl2

Dari hasil di atas kita dapat mengetahui hasil reaksi antara larutan Na2CO3 (Natrium
Karbonat) dengan larutan CaCl2 (Kalsium Klorida) akan menghasilkan larutan garam NaCl
(Natrium Klorida) dan endapan CaCO3 (Kalsium Karbonat). Dari data yang didapatkan di
atas, tinggi endapan dan massa endapan berbeda – beda. Pada percobaan pertama yang
konsentrasi pelarutnya sama pereaksi pembatasnya tidak ada karena kedua dari pereaksi
tersebut habis keduanya sehingga tidak ada yang tersisa oleh kedua pereaksinya dan sama
halnya seperti pada percobaan yang ke tiga yang sama konsentrasi pelarutnya. Hanya saja
tinggi endapan antara percobaan pertama dan yang ke tiga berbeda, tidak hanya itu saja
massa endapannyapun berbeda diantara keduanya. Pada percobaan ke dua, ke empat, ke lima
dan ke enam memiliki pereaksi pembatasnya. Hanya saja pada percobaan yang ke empat
pereaksi pembatasnya adalah natrium karbonat (Na2CO3), berbeda dengan halnya percobaan
ke dua, ke lima dan yang ke enam pereaksi pembatasnya adalah kalsium klorida (CaCl 2).
Pada setiap percobaan di atas semakin kecil konsentrasi pelarutnya semakin kecil massa
endapan, tinggi endapannya dan jumlah molnya pun semakin kecil.

BAB V KESIMPULAN

Pereaksi pembatas adalah pereaksi yang benar-benar habis digunakan selama reaksi
kimia. Pereaksi yang berlebih adalah reaktan yang tidak sepenuhnya habis digunakan selama
reaksi kimia, dengan kata lain ada beberapa dari reaktan yang tersisa setelah reaksi.

Besarnya suatu konsentrasi dalam pelarut sangat berpengaruh dalam menentukan


pereaksi pembatas serta dalam massa endapan, tinggi endapan, jumlah mol pelarut dan
jumlah mol terlarut.

DAFTAR PUSTAKA

Djojodiharjo,Harijono.1987. Termodinamika Teknik Aplikasi dan Termodinamika Statistik 


.Jakarta:PT. Gramedia

Luscua,Achmad.1996. Stoikiometri Energitika Kimia. Bandung : PT Citra Aditya Bakti.

Sutrisno. 1986. Materi Pokok Fisika. Jakarta : Karvaika

Yusuf.2011. Stoikiometri. Jakarta : PT.Gramedia

Brady, J.E dan Humiston. 1986. General Chemistry. New York: John Willey and Sons.

Anda mungkin juga menyukai