Anda di halaman 1dari 10

DAFTAR ISI

Kata pengantar…………………………………………….

Lembar pengesahan ………………………………………

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang……………………………………..
B. Rumusan Masalah………………………………….
C. Tujuan ………………………………………………

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian ………………………………………….
B. Klasifikasi…………………………………………..
C. Etiologic…………………………………………….
D. Tanda Gejala………………………………………..
E. Pemeriksaan Penunjang…………………………….

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan…………………………………………..
B. saran …………………………………………………
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Menurut profil Kesehatan Indonesia, Hasil Survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia (SDKI) tahun 2017 menunjukkan AKN sebesar 15 per 1.000
kelahiran hidup, AKB 24 per 1.000 kelahiran hidup, dan AKABA 32 per
1.000 kelahiran hidup (Gambar 5.22). Meskipun demikian, angka kematian
neonatus, bayi, dan balita diharapkan akan terus mengalami penurunan.
Intervensi-intervensi yang dapat mendukung kelangsungan hidup anak
ditujukan untuk dapat menurunkan AKN menjadi 10 per 1000 kelahiran
hidup dan AKB menjadi 16 per 1000 kelahiran hidup di tahun 2024.
Sementara, sesuai dengan Target Pembangunan Berkelanjutan, AKABA
diharapkan dapat mencapai angka 18,8 per 1000 kelahiran hidup di tahun
2030. Dan pada tahun 2019, penyebab kematian neonatal terbanyak adalah
kondisi berat badan lahir rendah (BBLR). Penyebab kematian lainnya di
antaranya asfiksia, kelainan bawaan, sepsis, tetanus neonatorium, dan lainnya.
Pada masa neonatal (0-28 hari) terjadi perubahan yang sangat besar dari
kehidupan di dalam rahim dan terjadi pematangan organ hampir pada semua
sistem. Bayi hingga usia kurang satu bulan merupakan golongan umur yang
memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi dan berbagai masalah
kesehatan bisa muncul, sehingga tanpa penanganan yang tepat, bisa berakibat
fatal. Beberapa upaya kesehatan dilakukan untuk mengendalikan risiko pada
kelompok ini di antaranya dengan mengupayakan agar persalinan dapat
dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan serta menjamin
tersedianya pelayanan kesehatan sesuai standar pada kunjungan bayi baru
lahir. Kunjungan neonatal idealnya dilakukan 3 kali yaitu pada umur 6-48
jam, umur 3-7 hari, dan umur 8- 28 hari.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah pada makalah ini
adalah Apakah Sepsi Neonatanal”
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Penulis mampu memahami
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui pengertian sepsis neonatum
b. Mengetahui klasifikasi sepsis neonatum
c. Mengetahui etiologi sepsis neonatum
d. Mengetahui tanda gejala sepsis neonatum
e. Pemeriksaan penunjang sepsis neonatum

3. Manfaat

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Sepsis adalah kondisi yang membahayakan nyawa. Gangguan medis ini
disebabkan oleh respons tubuh terhadap infeksi.Sistem imun berfungsi
Sepsis neonatorum adalah sindroma klinis yang terjadi pada 28 hari awal
kehidupan, dengan manifestasi infeksi sistemik dan atau isolasi bakteri
patogen dalam aliran darah. Secara umum sepsis neonatorum
diklasifikasikan berdasarkan waktu terjadinya menjadi sepsis neonatorum
awitan dini (early-onset neonatal sepsis) dan sepsis neonatorum awitan
lambat (late-onset neonatal sepsis). Angka mortalitas sepsis neonatorum
awitan lambat lebih rendah 10-20% dibanding dengan sepsis neonatorum
awitan dini.melindungi tubuh dari banyak penyakit dan infeksi. Sepsis
terjadi ketika zat-zat kimia dalam sistem imun dilepaskan ke pembuluh
darah untuk melawan infeksi, dan menyebabkan peradangan.
Sepsis neonatorum adalah sindroma klinis yang terjadi pada 28 hari awal
kehidupan, dengan manifestasi infeksi sistemik dan atau isolasi bakteri
patogen dalam aliran darah

B. Klasifikasi
Secara umum sepsi neonatorum diklasifikasikan waktu terjadinya sepsis
neonatorum awitan dini (early-onset neonatal sepsi) dan sepsis
neonatorum awitan lambat (late-onset neonatal sepsi). Angka mortalitas

sepsis neonatorum awitan lambat lebih rendah 10-20%


dibanding dengan sepsis neonatorum awitan dini.

C. Etiologi
Penyebab sepsis neonatorum adalah infeksi bakteri, khususnya

bakteri streptococcus. Selain itu, bakteri-bakteri lain juga bisa memicu

kondisi yang juga dikenal dengan istilah sepsis neonatal ini.

Misalnya Escherichia coli (E. coli), dan Listeria.

Beberapa faktor ini yang dapat meningkatkan resiko bayi terinfeksi

sepsis sebelum kelahiran:

 Kelahiran prematur
 Air ketubah pecah selama 18 jam sebelum kelahiran
 Infeksi pada jaringan plasenta dan cairan amniotik

Bayi yang menderita late onset (onset lambat) sepsis biasanya terinfeksi setelah


dilahirkan. Risikonya bisa meningkat apabila bayi:
 Diinfus waktu yang lama
 Menjalani rawat inap di rumah sakit dalam waktu yang lama

D. Tanda gejala
Beberapa gejala sepsis neonatorum meliputi:
 Perubahan suhu tubuh, misalnya demam di atas 38 derajat Celsius atau
suhu tubuh di bawah 36 derajat celcius
 Sesak napas
 Bayi menjadi kurang aktif
 Bayi mals menyusu
 Kejang

 Muntah
 Detak jantung yang lambat atau cepat
 Kulit bagian putih mata yang tampak kuning
 Diare atau konstipasi
 Kadar gula darah yang rendah

E. Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan fisik
Dokter akan mengecek tanda vital dan tekanan darah bayi
2. Tes darah
Tes darah berguna untuk mengetahui beberapa komplikasi di bawah
ini :
a. Infeksi
b. Masalah pembekuan
c. Fungsi hati atau ginjal yang tidak normal
d. Berkurangnya jumlah oksigen
3. Spinal tap
Jika dokter mencurigai bayi mengalami sepsis, dokter akan melakukan
tes ini untuk mencari bakteri penyebab penyakit. Tes yang dilakukan
dengan mengambil cairan di tulang belakang.
4. Tes urine
Tes urine hanya bisa dilakukan setelah bayi berusia beberapa hari. Tes
ini dilakukan untuk melacak bakteri dalam urine.
5. Rontgen dada
Rontgen dada dilakukan dengan bayi mengalami batuk atau gangguan
pernapasan.
6. CT scan
CT scan dilakukan untuk melihat kemungkinan infeksi di usus buntu,
pancreas, atau daerah usus.
7. USG
Usg bertujuan melihat infeksi di kantong empedu atau ovarium
8. MRI
Prosedur MRI dapat mengidentifikasi jaringan lunak
BAB III
PENUTUP

I. KESIMPULAN
Pada masa neonatal terjadi perubahan yang sangat besar dari kehidupan
di dalam rahim dan terjadi pematangan organ hampir pada semua
sistem. Bayi hingga usia kurang satu bulan merupakan golongan umur
yang memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi dan berbagai
masalah kesehatan bisa muncul, sehingga tanpa penanganan yang
tepat, bisa berakibat fatal. Beberapa upaya kesehatan dilakukan untuk
mengendalikan risiko pada kelompok ini di antaranya dengan
mengupayakan agar persalinan dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan di
fasilitas kesehatan serta menjamin tersedianya pelayanan kesehatan
sesuai standar pada kunjungan bayi baru lahir.

II. SARAN
Sebaiknya keluarga calon ibu dan calon ibu melakukan check kandungan
setiap bulan agar mengetahui perkembangan bayi.
Daftar Pustaka

http://eprints.undip.ac.id/46283/3/NOVRIKA_DWI_NINGRUM_22010111120053_Lap.
KTI_Bab_2.pdf RABU 28 JULI 2021 17.45

https://www.sehatq.com/penyakit/sepsis-neonatorum RABU 28 JULI 21.16

Healthline. https://www.healthline.com/health/sepsis#newborns
Diakses pada 4 Oktober 2019Medline Plus.

https://medlineplus.gov/ency/article/007303.htm
Diakses pada 4 Oktober 2019Medscape.

https://emedicine.medscape.com/article/978352-overview
Diakses pada 4 Oktober 2019WHO.

https://www.who.int/reproductivehealth/topics/maternal_perinatal/world-sepsis-
day/en/ Diakses pada 16 Juni 2021NCBI.

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2891980/
Diakses pada 16 Juni 2021