Anda di halaman 1dari 19

DEPARTEMEN ILMU ANESTESI, PERAWATAN INTENSIF DAN

MANAJEMEMEN NYERI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

REFERAT II
APRIL 2021

PENGGUNAAN HIGH-FLOW NASAL CANNULA (HFNC) PADA PASIEN


SAKIT KRITIS

Oleh :

Ridwan

C113216105

Konsulen Pembimbing :

DR. Dr. A. M. Takdir Musba, Sp.An-KMN

DIBAWAKAN SEBAGAI SALAH SATU TUGAS PADA


PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS
PROGRAM STUDI ILMU ANESTESI, PERAWATAN INTENSIF DAN
MANAJEMEN NYERI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
1. PENDAHULUAN
Pengobatan perawatan kritis berkaitan dengan potensi yang
mengancam nyawa penyakit. Dimana ahli anestesi memainkan peran
utama dalam mengembangkan subspesialisasi multidisiplin ini. Ahli
anestesi sendiri memiliki keahlian yang lebih besar dalam manajemen jalan
napas, ventilasi mekanis, resusitasi obat dan cairan, dan teknik
pemantauan lanjutan yang penting untuk perawatan yang efektif pada
penyakit kritis.

Seringkali pasien yang di rawat di ICU merupakan pasien dengan


berbagai komorbid dan tidak sedikit pada pasien kritis yang dengan
perawatan lama.

Penyakit kritis merupakan suatu proses yang mengancam jiwa yang


berlangsung dalam sejumlah sistem dan jika tidak mendapatkan intervensi
medis maka akan menyebabkan mortalitas atau morbiditas yang signifikan.
Penyakit kritis mungkin suatu produk dari satu atau lebih proses
patofisiologi yang telah ada, tetapi pada akhirnya akan menjadi progresi
multisistem yang akan melibatkan sejumlah sistem , diantaranya
respiratorik.14 Bernapas dikontrol oleh pusat respirasi oleh pusat
pernapasan yang disusun oleh suatu jaringan kompleks dari saraf-saraf
yang saling terkoneksi di dalam struktur medula dan pons. Pusat
pernapasan mendapatkan sinyal masuk yang konstan dari sejumlah
sumber, tentunya dalam proses yang rumit. Sinyal tersebut akan
ditranslasikan menjadi luaran dengan pola osilatorik.Luaran ini dapat dibagi
secara fungsional menjadi sinyal-sinyal ritmis dan meregulasi tiga fase dari
siklus respiratorik: inspiratorik, pascainspirasi, dan ekspirasi. Selama fase
inspirasi, luaran dari pusat respirasi menuju ke otot inspiratorik meningkat
secara bertahap, hingga mencapai nilai puncak. Selanjutnya, fase
pascainspiratorik mulai, dan luaran tersebut berkurang secara bertahap
hingga mencapai nilai dasar. Akhirnya, fase ekspiratorik berlangsung,
selama fase tersebut tidak terdapat aktivitas respiratorik yang berarti
proses istirahat pernapasan pada indivudu yang normal. Durasi dari ketiga
fase tersebut menentukan frekuensi pernpasan, sementara intensitas dari
luaran pusat pernapasan diartikan sebagai respiratory drive.Penyakit kritis
mampu mempengaruhi respiratory drive pasien melalui sejumlah jalur,
utamanya yang beroperasi melalui tiga sistem umpan balik: kortikal,
metabolik, dan kimiawi. Sistem umpan balik kimiawi, yang didefinisikan
sebagai respon luaran respiratorik terhadap adanya perubahan gas dan pH
darah arteri, merupakan salah satu dari penentu penting respiratory drive.
Meskipun demikian, fungsi respiratorik yang adekuat memerlukan
komponen lain selain respiratory drive, diantaranya aktivitas otot
respiratorik, luas permukaan alveolus yang cukup untuk pertukaran gas,
dan sirkulasi pulmonal yang adekuat. Pada pasien sakit kritis, komponen
tersebut juga dapat ditemukan.14,15 Penanganan yang tidak efektif atau
kegagalan untuk mengintervensi dari sisi waktu mampu menyebabkan
peningkatan kegagalan multiorgan dan mortalitas karena jumlah dari
sistem organ yang terlibat ikut meningkat.14

Mengacu pada gangguan yang terjadi pada komponen pernapasan


tersebut, hipoksemia dianggap sebagai dampak dan gambaran dari pasien
sakit kritis.16 Kondisi hipoksemia dan asal dari gagal napas sebaiknya
ditentukan segera, dan observasi dilakukan untuk mengevaluasi
perburukan dan efektivitas terapi. Sebagian besar tanda vital yang
abnormal pada hipoksemia adalah dispneu seiring dengan penurunan
volume tidal sebagai langkah untuk menurunkan usaha pernapasan. Pada
unit perawatan intensif, terapi respirasi terhadap pasien sakit kritis
biasanya terdiri dari SpO2 yang kontinyu, pemeriksaan analisa gas darah
serial, dan pemantauan FiO2. Jika pasien menunjukkan kadar saturasi
oksigen awal dibawah 90%, maka pasien dianggap tidak stabil dan
memerlukan terapi oksigen dengan aliran yang tinggi.16,17

Kanul nasal yang beraliran deras, high-flow nasal cannula (HFNC),


merupakan suatu alat pendukung dalam pemberian oksigen yang
belakangan ini dikembangkan sebagai pilihan lain terhadap terapi oksigen
konvensional. Alat ini terdiri dari blender oksigen yang dihubungkan melalui
suatu alat pengatur kelembapan yang menghangatkan (active heated
humidifier) menuju ke nasal kanul. Alat ini memungkinkan terjadinya
pengaturan fraksi oksigen yang diinspirasi (FiO 2) dari aliran udara.1 Alat ini
memberikan keuntungan terhadap klinisi dengan adanya pilihan modalitas
yang lebih banyak dalam memberikan oksigen terhadap pasien dengan
beragam kelebihan dan kekurangan masing-masing. Berdasarkan
komponen HFNC tersebut, alat ini mampu untuk menghantarkan aliran
oksigen yang hangat dan lembab hingga kecepatan 60 L/menit dengan
konsentrasi yang terkontrol melalui nasal kanul.2 Selain faktor esensial
tersebut, HFNC memiliki toleransi penggunaan yang tinggi, kerusakan kulit
yang lebih sedikit, dan beban kerja perawatan yang lebih rendah yang
setara dengan ventilasi non-invasif.3 Hal ini dibuktikan dengan sejumlah
hasil penelitian yang menunjukkan bahwa HFNC dikaitkan dengan
sejumlah manfaat fisiologis dan adanya perbaikan luaran dalam beberapa
kondisi klinis.1

Pemberian suplementasi oksigen merupakan salah satu terapi yang


paling banyak digunakan di seluruh dunia dan merupakan perawatan yang
paling penting di unit perawatan intensif (intensive care unit, ICU). Alasan
rasional terhadap fakta tersebut adalah untuk menghindari kondisi
hipoksemia pada pasien dengan, atau yang berisiko terhadap, gangguan
pertukaran gas pada tingkat pulmoner.4 Penggunaan medis oksigen
seringkali dilakukan pada sejumlah pasien, terutama pasien yang berada
dalam kondisi sakit kritis.5,6 Pada pasien yang sakit kritis, hipoksemia
merupakan suatu manifestasi klinis dari tidak adekuatnya pertukaran gas di
paru-paru yang seringkali ditemukan. Koreksi hipoksia menjadi normoksia
memiliki sejumlah manfaat yang potensial, diantaranya mempertahankan
peghantaran oksigen, mencegah disfungsi organ yang dapat diikuti oleh
cedera anoksia, dan peningkatan fungsi jantung kanan karena terjadinya
vasokonstriksi pulmoner. Selain itu, induksi enzim antioksidan, sitokin
antiinflamasi, dan beberapa faktor pertumbuhan; menurunkan infeksi
pascapoperasi, aktivasi neutrofil dan penenda kerusakan jaringan serebral;
memiliki efek antiapoptotik di serebral dan miokardium; menormalkan
homeostasis ekstraseluler serebral; dan menstabilkan sawar darah otak. 7
Pemberian oksigen HFNC semakin populer sebagai cara alternatif dari
terapi oksigen pada pasien sakit kritis dengan kondisi dasar yang sangat
bervariasi, termasuk gagal napas akut. Nadel WL et al yang melakukan
suatu tinjauan sistematik dan metaanalisis mengenai penggunaan HFNC
pada pasien dengan sakit kritis dengan atau yang berisiko terhadap gagal
napas menemukan bahwa HFNC memiliki tingkat oksigenasi yang lebih
baik dibandingkan dengan terapi oksigen konvensional;meskipun proses
pertukaran gas yang terjadi tidak lebih baik dibandingkan dengan ventilasi
noninvasif.6 Hal tersebut didukung oleh suatu penelitian acak terkontrol
yang menemukan bahwa HFNC memiliki kasus kegagalan terapi (berupa
perubahan jenis terapi oksigen) yang lebih sedikit dibandingkan
8
penggunakan terapi oksigen standar. Penyebaran virus SARS-CoV2
(infeksi virus tersebut dinamakan COVID-19) yang mampu menimbulkan
manifestasi gagal napas akut mendorong peningkatan penggunaan HFNC.
Hasilnya, penggunaan HFNC pada pasien gagal napas terkait COVID-19
berkaitan dengan peningkatan jumlah hari bebas ventilasi, dan penurunan
lama perawatan di ICU dibandingkan melakukan intubasi dini. Meskipun
demikian, hasil tersebut dianggap masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut.9

Dengan segala manfaat dan kekurangan dari modalitas ini, kami


akan berusaha membahas mengenai HFNC sebagai modalitas terapi pada
pasien dengan sakit kritis.

2. Gagal Nafas

Secara garis besar, kegagalan pernapasan dapat didefinisikan sebagai

kondisi di mana sistem pernafasan gagal dalam satu atau kedua fungsi

pertukaran gas. Hal ini konvensional didefinisikan oleh tekanan oksigen

arteri (Pa, O2) dari 6,0 kPa (45 mmHg) atau keduanya. Umumnya, sistem

pernapasan terdiri dari dua bagian yang merupakan paru-paru dan pompa

yang ventilasi paru-paru. Pompa terdiri dari dinding dada, termasuk otot-

otot pernapasan, pengendali pernapasan dalam sistem saraf pusat (SSP)

dan jalur yang menghubungkan kontroler pusat dengan otot-otot

pernapasan (tulang belakang dan perifer saraf). Kegagalan setiap bagian


dari sistem mengarah ke entitas yang berbeda yang akhirnya mengarah

pada berbagai jenis kegagalan pernapasan.5

Gagal nafas terdirii dari dua tipe, yaitu gagal nafas akut dan gagal nafas

kronik, dimana msing-masing mempunyai pengertian yang berbeda. Gagal

nafas akut adalah gagal nafas yang timbul pada pasien yang parunya

normal secara structural maupun fungsional sebelum awitan penyakit

timbul. Sedangkan gagal nafas kronik terjadi pada pasien dengan penyakit

paru kronik seperti bronchitis kronis, emfisema dan lain-lain

Kegagalan pernafasan akut terjadi akibat kegagalan sistem pernafasan

pada salah satu atau keduanya fungsi pertukaran gas — oksigenasi dan

eliminasi karbon dioksida. Gagal nafas masih merupakan penyebab utama

morbiditas dan mortalitas di unit perawatan intensif (ICU). Ada dua tipe —

gagal napas hipoksia tipe 1 dan pernapasan hiperkapnikal tipe 2

kegagalan.

Analisis gas darah arteri sendiri sangat penting untuk keputusan diagnostik

dan terapeutik.

- Kegagalan pernafasan tipe 1 dikenali oleh hipoksemia (PaO2 <60

mmHg). Dengan atau tanpa pelebaran gradien oksigen arteri-alveolar,

PaCO2 rendah atau normal.

- Kegagalan pernapasan tipe 2 didiagnosis jika PaO2 kurang dari 60 mmHg

terkait dengan PaCO2 lebih dari 45 mmHg dan asidosis pernapasan.


Tabel 1. Etiologi gagal nafas tipe 1 (Hipoksemia)

Gagal napas

hipoksemia lebih sering dijumpai daripada gagal napas hiperkapnia. Pasien

tipe ini mempunyai nilai PaO2 yang rendah tetapi PaCO2 normal atau

rendah. PaCO2 tersebut membedakannya dari gagal napas hiperkapnia,

yang masalah utamanya adalah hipoventilasi alveolar.

Yang dimaksudkan dengan hipoksemia adalah, PO2 yang rendah di dalam

darah arteri (PaO2) dan dapat digunakan untuk menunjukkan PO2 pada

kapiler, vena dan kapiler paru. Istilah tersebut juga dipakai untuk

menekankan rendahnya kadar O2 darah atau berkurangnya saturasi

oksigen di dalam hemoglobin. Hipoksia berarti penurunan penyampaian

(delivery) O2 ke jaringan atau efek dari penurunan penyampaian O2 ke

jaringan. Hipoksemia berat akan menyebabkan hipoksia. Hipoksia dapat

pula terjadi akibat penurunan penyampaian O2 karena faktor rendahnya

curah jantung, anemia, syok septic atau keracunan karbon monoksida,

dimana PaO2 dapat meningkat atau normal.


Tabel 2. Etiologi Gagal Nafas tipe II

3. Terapi Oksigen

4. High-flow Nasal Cannula (HFNC)

4.1. Pengenalan HFNC


Kanul nasal beraliran tinggi yang hangat dan terlembabkan,
atau yang diistilahkan sebagai HFNC, tidak hanya sebagai kanul
nasal standar yang diciptakan untuk mengalirkan udara dengan
volume yang besar. Alat ini menghantarkan gas, yang mampu
menghangatkannya hingga suhu 37°C dengan kelembapan relatif
100%, dan mampu menghantarkan FiO2 sebesar 21 – 100% pada
kecepatan aliran hingga 60 L/menit.10 Peralatan dari HFNC terdiri dari
pengaduk oksigen/udara (blender), pelembab penghangat yang aktif,
satu sirkuit yang hangat, dan nasal kanul (Gambar 1). Di dalam
blender, fraksi oksigen inspirasi dapat diatur sesuai kebutuhan
bersama dengan pengaturan aliran gas. Gas tersebut dihangatkan
dan dilembabkan dengan menggunakan penghangat aktif dan
dihantarkan melalui sirkuit.11
Gambar 1. Komponen dari alat high-flow nasal cannula
(Nishimura M. High-flow nasal cannula oxygen therapy in adults. J Intensive Care. 2015)

4.2. Mekanisme kerja


Mekanisme kerja dari alat ini memiliki sejumlah manfaat
terhadap perbaikan luaran klinis pasien (Gambar 2). Mnemonik
HIFLOW dibuat untuk memudahkan dalam memahami mekanisme
kerja HFNC.10,12

Gambar 2. Mekanisme kerja dari high flow nasal cannula (HFNC)


pada gagal napas hipoksemia akut
VILI,ventilator-induced lung injury; V/Q, ventilation/perfusion; WOB, work of
breathing.
(Goligher EC, et al. Not Just Oxygen? Mechanisms of Benefit from High-Flow Nasal
Cannula in Hypoxemic Respiratory Failure. Am J Respir Crit Care Med. 2017)

a. Penghangatan dan pelembapan (heated and humudified)


Oksigen yang hangat dan lembab dihantarkan melalui
HFNC; terapi oksigen standar menghantarkan gas yang dingin dan
kering. Hal ini akan menurunkan risiko inflamasi, menjaga fungsi
mukosilier, menurunkan risiko gangguan pembersihan sekret, dan
menghemat pengeluaran energi.10–13

b. Kebutuhan inspiratorik (inspiratory demands)


HFNC memiliki kemampuan untuk mengalirkan gas dengan
kecepatan gas yang sangat tinggi, sehingga memperbaiki kerja
pernapasan pada pasien gagal napas melalui penurunan peak
inspiratory flow dan memperbaiki sinkronitas
torakoabdominal.10,12,13

c. Kapasitas fungsional residu (functional residual capacity)


HFNC dianggap mampu meningkatkan positive end
expiratory pressure (PEEP) diperkirakan sekitar 1 cmH2O per 10
L/menit dalam kondisi bernapas dengan mulut tertutup. Riera et al
menemukan bahwa HFNC meningkatkan kapasitas fungsional
residu atau volume paru-paru pada akhir ekspirasi (end expiratory
lung volume, EELV) yang berarti terdapat peningkatan rekrutmen
alveolar dan mencegah atelektasis.10,12,13

d. Lebih menyenangkan (lighter)


HFNC lebih sering disenangi oleh pasien karena
penggunaan nasal kanul tidak menekan wajah seperti pada
penggunaan masker pada terapi oksigen lainnya, seperti
continuous positive pressure ventilation (CPAP) atau bi-level
positive pressure ventilation (BPAP), sehingga pasien masih dapat
melanjutkan makan dan berbicara secara normal. Selain itu gas
yang hangat dan lebab tidak akan membuat mukosa menjadi
kering. 10,12,13
e. Pengenceran oksigen (O2 dilution)
Setiap 1 L/menit oksigen yang diberikan mampu
meningkatkan 4% FiO2 diatas FiO2 ruangan (21% menjadi 25%).
Hal ini dikenal sebagai ‘1 : 4 rule’. Namun, perkiraan FiO2 itu sulit
untuk dicapai dengan kecepatan aliran inspirasi yang rendah
karena adanya dilusi oksigen akibat lebih besarnya kecepatan
aliran udara ruangan (hingga 15 – 20 L/menit). HFNC mampu
meminimalkan fenomena tersebut dengan meningkatkan
10,12,13
kecepatan aliran inspirasi hingga 60 L/menit.

f. Washout of dead-space
HFNC memiliki manfaat utama yaitu pemberian aliran gas
dengan volume tinggi secara kontinyu sehingga mampu
menurunkan jumlah dead-space (kadar oksigen yang rendah dan
karbon dioksida yang tinggi) pada faring. Hal ini menjadi sangat
berarti bagi pasien gagal napas akut, karena pada pasien tersebut
jumlah gas yang terhirup kembali menjadi lebih besar
dibandingkan individu normal, dan sebagai akibatnya, jumlah
oksigen yang terhirup menjadi lebih sedikit. 10–13

4.3. Rekomendasi penggunaan


Berdasarkan tuntunan praktik klinis yang dibuat oleh Rochwerg
B et al dalam suatu laporan konfrensi dan panel ahli yang diterbitkan
pada tahun 2020, terdapat empat indikasi klinis spesifik dalam
penggunaan HFNC (Gambar 3).2
Gambar 3. Skema rekomendasi penggunaan HFNC pada praktik
klinis
Strong reccomendation: sebagian besar pasien harus menerima prosedur
ini.
Conditional recommendation: pilihan lain nampaknya sesuai terhadap
masing-masing pasien dan terapi sebaiknya disesuaikan terhadap kondisi
pasien masing-masing.
(Rochwerg B, Einav S, Chaudhuri D, Mancebo J, Mauri T, Helviz Y, et al. The role for
high flow nasal cannula as a respiratory support strategy in adults: a clinical practice
guideline. Intensive Care Med. 2020)

a. Gagal napas hipoksemik


Penggunaan HFNC dianjurkan terhadap pasien dengan
gagal napas hipoksemik dibandingkan terapi oksigen
konvensional.2

b. Pascaekstubasi
Penggunaan HFNC lebih dianjurkan pada pasien yang telah
diintubasi > 24 jam dan memiliki risiko perburukan. Bagi pasien
yang ditangani oleh klinisi yang terbiasa melakukan ekstubasi
menuju ke NIPPV, para ahli menganjurkan untuk tetap
menggunakan NIPPV dibandingkan HFNC.2

c. Pascaoperasi dan pasien obesitas


Pada pasien yang berisiko tinggi atau pasien obes yang
menjalani pembedahan jantung atau torakal, konsensus
menganjurkan penggunaan HFNC dibandingkan terapi oksigen
konvensional untuk mencegah gagal napas yang terjadi segera
setelah operasi. Kami tidak menganjurkan penggunaan HFNC
profilaktik untuk mencegah gagal napas pada pasien pascaoperasi
lainnya.2

d. Periintubasi
Konsensus tersebut tidak memberikan anjuran yang
berkaitan penggunaan HFNC terhadap pasien yang sementara
diintubasi.2

4.4. Kontraindikasi penggunaan


Penggunaan HFNC telah dilakukan dalam sejumlah penyakit
dan kondisi. Hingga saat ini belum pernah dilaporkan adanya
penelitian klinis dalam skala besar dan bukti klinis kuat terkait
kontraindikasi absolut dari penggunaan HFNC. Namun, pertimbangan
terhadap kontraindikasi penggunaan HFNC mungkin sama dengan
penggunaan noninvasive positive-pressure ventilation (NPPV),
diantaranya gangguan kesadaran, abstruksi jalan napas, cedera atau
malformasi fasial, sputum yang berlebihan, risiko aspirasi, dan
keadaan hemodinamik yang tidak stabil.11

5. PENYAKIT KRITIS: Gangguan sistem respirasi


Penyakit kritis merupakan suatu proses yang mengancam jiwa yang
berlangsung dalam sejumlah sistem dan jika tidak mendapatkan intervensi
medis maka akan menyebabkan mortalitas atau morbiditas yang signifikan.
Penyakit kritis mungkin suatu produk dari satu atau lebih proses
patofisiologi yang telah ada, tetapi pada akhirnya akan menjadi progresi
multisistem yang akan melibatkan sejumlah sistem , diantaranya
respiratorik.14 Bernapas dikontrol oleh pusat respirasi oleh pusat
pernapasan yang disusun oleh suatu jaringan kompleks dari saraf-saraf
yang saling terkoneksi di dalam struktur medula dan pons. Pusat
pernapasan mendapatkan sinyal masuk yang konstan dari sejumlah
sumber, tentunya dalam proses yang rumit. Sinyal tersebut akan
ditranslasikan menjadi luaran dengan pola osilatorik.Luaran ini dapat dibagi
secara fungsional menjadi sinyal-sinyal ritmis dan meregulasi tiga fase dari
siklus respiratorik: inspiratorik, pascainspirasi, dan ekspirasi. Selama fase
inspirasi, luaran dari pusat respirasi menuju ke otot inspiratorik meningkat
secara bertahap, hingga mencapai nilai puncak. Selanjutnya, fase
pascainspiratorik mulai, dan luaran tersebut berkurang secara bertahap
hingga mencapai nilai dasar. Akhirnya, fase ekspiratorik berlangsung,
selama fase tersebut tidak terdapat aktivitas respiratorik yang berarti
proses istirahat pernapasan pada indivudu yang normal. Durasi dari ketiga
fase tersebut menentukan frekuensi pernpasan, sementara intensitas dari
luaran pusat pernapasan diartikan sebagai respiratory drive.Penyakit kritis
mampu mempengaruhi respiratory drive pasien melalui sejumlah jalur,
utamanya yang beroperasi melalui tiga sistem umpan balik: kortikal,
metabolik, dan kimiawi. Sistem umpan balik kimiawi, yang didefinisikan
sebagai respon luaran respiratorik terhadap adanya perubahan gas dan pH
darah arteri, merupakan salah satu dari penentu penting respiratory drive.
Meskipun demikian, fungsi respiratorik yang adekuat memerlukan
komponen lain selain respiratory drive, diantaranya aktivitas otot
respiratorik, luas permukaan alveolus yang cukup untuk pertukaran gas,
dan sirkulasi pulmonal yang adekuat. Pada pasien sakit kritis, komponen
tersebut juga dapat ditemukan.14,15 Penanganan yang tidak efektif atau
kegagalan untuk mengintervensi dari sisi waktu mampu menyebabkan
peningkatan kegagalan multiorgan dan mortalitas karena jumlah dari
sistem organ yang terlibat ikut meningkat.14

Mengacu pada gangguan yang terjadi pada komponen pernapasan


tersebut, hipoksemia dianggap sebagai dampak dan gambaran dari pasien
sakit kritis.16 Kondisi hipoksemia dan asal dari gagal napas sebaiknya
ditentukan segera, dan observasi dilakukan untuk mengevaluasi
perburukan dan efektivitas terapi. Sebagian besar tanda vital yang
abnormal pada hipoksemia adalah dispneu seiring dengan penurunan
volume tidal sebagai langkah untuk menurunkan usaha pernapasan. Pada
unit perawatan intensif, terapi respirasi terhadap pasien sakit kritis
biasanya terdiri dari SpO2 yang kontinyu, pemeriksaan analisa gas darah
serial, dan pemantauan FiO2. Jika pasien menunjukkan kadar saturasi
oksigen awal dibawah 90%, maka pasien dianggap tidak stabil dan
memerlukan terapi oksigen dengan aliran yang tinggi.16,17

6. EFEKTIVITAS TERAPI OKSIGEN : HFNC


Gagal napas hipoksemik akut merupakan alasan utama untuk
melakukan terapi HFNC. Suatu penelitian klinis FLORALI (Clinical Effect of
the Association of Noninvasive Ventilation and High-Flow Nasal Oxygen
Therapy in Resuscitation of Patients with Acute Lung Injury)
membandingkan penggunaan HFNC (50 L/menit dengan FIO2 yang dititrasi
hingga SpO2 > 92%), masker nonrebreathing, atau NIV terhadap pasien
dengan pneumonia sebagai diagnosia utamanya. Penelitian tersebut
menemukan bahwa HFNC memiliki kegagalan yang lebih sedikit (pasien
menjalani intubasi) dibandingkan penggunaan masker nonrebreathing dan
NIV.Tabel 1 menunjukkan sejumlah penelitian yang membandingkan
penggunaan HFNC terhadap pasien sakit kritis, terutama ARF.2,3,9,18,19
Author/Studi Desain Kondisi Pembanding Luaran
FLORALI [2015] RCT ARF HFNC (50 L/mnt)  Intubasi lebih sedikit terjadi pada HFNC (38%)
(310 pasien) vs. COT atau NIV dibandingkan COT (47%) dan NIV (50%)
 Tingkat kematian hari ke-90 lebih rendah pada
penggunaan HFNC
HOT-ER [2016] RCT ARF HFNC 40 L/mnt vs.  Intubasi dalam 24 jam hanya ditemukan pada 5,5%
(303 pasien) COT (1 – 15 L/mnt) kelompok HFNC vs. 11,6% kelompok COT (P =
0,0053)
Lin S et al [2017] Metaanalitik ARF HFNC vs. kontrol  Penggunaan HFNC cenderung menurunkan jumlah
(8 penelitian, 1.818 (COT atau NIV) intubasi (P = 0,09)
pasien)  Mortalitas tidak berbeda antara penggunaan HFNC
dan kontrol.
 Tiga penelitian yang melaporkan penurunan dispneu
dibandingkan kelompok kontrol

Ni et al [2017] Metaanalitik ARF HFNC vs. NIV atau  Kejadian intubasi lebih sedikit pada penggunaan
(18 penelitian, 3.881 COT HFNC
pasien)  Mortalitas antara kedua kelompok sama
Frekuensi napas pada pengguna HFNC lebih rendah
dibandingkan COT atau NIV
Ou et al [2017] Metaanalitik ARF HFNC vs. NIV atau  Kejadian intubasi lebih rendah dibandingkan COT,
(6 penelitian; 1.892 COT tetapi tidak berbeda terhadap penggunaan NIV
pasien) Tidak ditemukan perbedaan terhadap mortalitas
Monro-Somerville Metaanalitik ARF HFNC vs. COT  Kejadian intubasi dan mortalitas pada kedua kelompok
[2017] (9 penelitian; 2.507 sama.
pasien)
Mellado-Artigas R et Kohort prospektif ARF HFNC vs. ventilasi  HFNC meningkatkan lama perawatan bebas ventilator
al [2021] (122 pasien) (Covid-19) mekanis invasif dan menurunkan lama perawatan ICU.
(early intubation) Tidak ditemukan perbedaan mortalitas
Wang K et al [2020] Observasional prospektif Pneumonia HFNC  Tidak ditemukan kegagalan terapi pada penggunaan
(17 pasien) Covid-19 HFNC dengan PaO2/FiO2 > 200 mmHg.
7.
8. RINGKASAN

Pada sakit kritis, pasien seringkali menunjukkan gambaran gagal


napas akut yang memerlukan terapi oksigen yang segera. HFNC memiliki
sejumlah manfaat diantaranya mampu mengalirkan gas dengan aliran yang
tinggi, FiO2 yang konstan, washout dead space, meningkatkan EELV, dan
kenyamanan penggunaan; berdasarkan mekanisme kerja HIFLOW.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa HFNC tidak lebih inferior
dibandingkan terapi oksigen konvensional ataupun NIV dari segi mortalitas
di ICU dan mampu menurunkan jumlah kejadian intubasi pada pasien sakit
kritis.
DAFTAR PUSTAKA

1. Besnier E, Hobeika S, NSeir S, Lambiotte F, Du Cheyron D, Sauneuf B, et


al. High-flow nasal cannula therapy: clinical practice in intensive care units.
Ann Intensive Care. 2019;9(1).

2. Rochwerg B, Einav S, Chaudhuri D, Mancebo J, Mauri T, Helviz Y, et al.


The role for high flow nasal cannula as a respiratory support strategy in
adults: a clinical practice guideline. Intensive Care Med.
2020;46(12):2226–37.

3. Lin S ming, Liu K xiong, Lin Z hong, Lin P hong. Does high-flow nasal
cannula oxygen improve outcome in acute hypoxemic respiratory failure?
A systematic review and meta-analysis. Respir Med. 2017;131:58–64.

4. Angus DC. Oxygen Therapy for the Critically Ill. N Engl J Med. 2014;2:1–2.

5. Nakane M. Biological effects of the oxygen molecule in critically ill patients.


J Intensive Care. 2020;8(1):1–12.

6. Nedel WL, Deutschendorf C, Moraes Rodrigues Filho E. High-flow nasal


cannula in critically ill subjects with or at risk for respiratory failure: A
systematic review and meta-analysis. Respir Care. 2017;62(1):123–32.

7. Barbateskovic M, Schjørring OL, Jakobsen JC, Meyhoff CS, Rasmussen


BS, Perner A, et al. Oxygen supplementation for critically ill patients—A
protocol for a systematic review. Acta Anaesthesiol Scand.
2018;62(7):1020–30.

8. Lewis SR, Baker PE, Parker R, Smith AF. High-flow nasal cannulae for
respiratory support in adult intensive care patients. Cochrane database
Syst Rev. 2021;3:CD010172.

9. Mellado-Artigas R, Ferreyro BL, Angriman F, Hernández-Sanz M, Arruti E,


Torres A, et al. High-flow nasal oxygen in patients with COVID-19-
associated acute respiratory failure. Crit Care. 2021;25(1):1–10.

10. Lodeserto FJ, Lettich TM, Rezaie SR. High-flow Nasal Cannula:
Mechanisms of Action and Adult and Pediatric Indications. Cureus.
2018;10(11).

11. Nishimura M. High-flow nasal cannula oxygen therapy in adults. J


Intensive Care. 2015;3(1):1–8.

12. Fraisse F, At D, Carli P, Spaulding C. s a therapeutic agentMechanisms of


Bene fi t from High-Flow Nasal Cannula in Hypoxemic Respiratory Failure
Supplemental inhaled oxygen has been used a. Am J Respir Crit Care
Med. 2017;195(9):9–12.

13. Liew W, Singh P. High-flow nasal cannula: A narrative review of current


uses and evidence. Airway. 2020;3(2):66.

14. Robertson LC, Al-Haddad M. Recognizing the critically ill patient. Anaesth
Intensive Care Med. 2013;14(1):11–4.

15. Vaporidi K, Akoumianaki E, Telias I, Goligher EC, Brochard L,


Georgopoulos D. Respiratory drive in critically Ill patients pathophysiology
and clinical implications. Am J Respir Crit Care Med. 2020;201(1):20–32.

16. Flower L, Martin D. Management of hypoxaemia in the critically ill patient.


Br J Hosp Med. 2020;81(1):1–10.

17. Samuel J, Franklin C. Hypoxemia and Hypoxia. Common Surg Dis.


2008;391–4.

18. Drake MG. High-flow nasal cannula oxygen in adults: An evidence-based


assessment. Ann Am Thorac Soc. 2018;15(2):145–55.

19. Wang K, Zhao W, Li J, Shu W, Duan J. The experience of high-flow nasal


cannula in hospitalized patients with 2019 novel coronavirus-infected
pneumonia in two hospitals of Chongqing, China. Ann Intensive Care.
2020;10(1):0–4.