Anda di halaman 1dari 8

BAB 5

KARTEL INTERNASIONAL DAN DISKRIMINASI HARGA

A. Kartel Internasional

5.8 Pengertian Kartel Internasional

Kartel internasional merupakan suatu organisasi resmi dari para penjual yang secara
bersama menentukan harga, kuantitas, dan diferensiasi produk secara bersama-sama
untuk memaksimumkan keuntungan industri tersebut.

Kartel internasional adalah perjanjian secara formal antara beberapa perusahaan dari
negara yang berbeda untuk membagi pasar atau mengurangi persaingan diantara
perusahaan tersebut.
Kartel harga yaitu menentukan harga mereka tidak boleh menjual harga lebih ke
luar negeri. Dalam kartel ada politik danting dimana barang lebih murah.

5.2 Tujuan Kartel Internasional


1. Dengan membagi pasar secara geografis atau atas dasar kategori produk sehingga
setiap perusahaan mempunyai monopoli pada segmen pasar tertentu.
2. Alokasi quota kepada negara anggota dan secara bersama-sama memasarkan
produk.
3. Membatasi persaingan diantara para anggota. Dengan membentuk kesepakatan
bersama, mereka bertindak sebagai satu perusahaan, seolah-olah pemonopoli atau
pemonopsoni besar.

5.3 Jenis Kartel Internasional


Sebagai suatu persekongkolan, kartel memiliki beragam jenis. Jenis kartel ini lebih
menekankan pada cakupan atau lingkup kerjasama yang menjadi poin utama
kesepakatan diantara para produsen yang terlibat dalam kartel. Adapun ragam jenis
kartel dapat diuraikan sebagai berikut.

1. Kartel harga
Sesuai namanya, jenis kartel ini bertujuan untuk mengatur harga produk yang
diproduksi oleh para produsen yang tergabung dalam kartel. Pada jenis kartel ini
ditentukan harga jual minimum produk. Setiap produsen anggota kartel dilarang untuk
menjual produknya dengan harga lebih rendah dari harga minimum yang telah
ditentukan dan disepakati bersama. Namun, anggota kartel tidak dilarang untuk
menjual produknya dengan harga lebih tinggi, dengan catatan segala risiko kerugian
jika tidak laku di pasaran menjadi tanggung jawab sendiri.

2. Kartel rayon
Rayon berarti pembagian wilayah. Kartel rayon merupakan jenis kerjasama untuk
menetapkan wilayah pemasaran yang diikuti dengan penetapan harga untuk masing-
masing wilayah. Dengan adanya kesepakatan pembagian wilayah, maka anggota kartel
dilarang untuk menjual produknya ke wilayah lain.

3. Kartel kontigentering
Kartel jenis ini menetapkan volume produksi. Produsen yang volume produksinya
lebih rendah atau sedikit dibandingkan dengan jatah yang ditetapkan, maka akan diberi
premi hadiah. Sebaliknya, jika volume produksinya melebihi jatah yang disepakati, maka
akan dikenakan sanksi berupa denda. Jenis kartel ini bertujuan untuk menguasai
ketersediaan produk di pasaran.

4. Kartel syarat
Jenis kartel syarat menetapkan persyaratan tertentu misal dalam hal penjualan, standar
kualitas barang dan pengiriman, serta kemasan. Tujuannya adalah untuk menciptakan
keseragaman produk dan atributnya, sehingga tidak terjadi persaingan diantara produsen.

5. Kartel penjualan
Poin kerjasama dalam jenis kartel penjualan adalah penetapan kartor penjualan pusat.
Artinya, barang-barang yang diproduksi oleh para produsen anggota kartel dijual melalui
kantor penjualan tunggal, sehingga tidak terjadi persaingan.

6. Kartel laba
Pada kartel ini kesepakatan dibuat pada perolehan dan pembagian laba.
Mekanismenya laba kotor yang diperoleh anggota kartel disentralisasikan pada kas
umum kartel. Sementara laba bersih yang diperoleh dibagi ke seluruh anggota kartel
dengan proporsi tertentu sesuai yang disepakati bersama.
5.4 Kartel Dilarang Di Setiap Negara
Kartel dalam UU Nomor 5 Tahun 1999 merupakan salah satu perjanjian yang
dilarang. Suatu kartel dilarang, karena para pelaku usaha yang tergabung dalam suatu
kartel dapat memperoleh keuntungan diatas harga yang kompetitif dengan cara mengatur
jumlah produksi para anggotanya, sehingga akan berpengaruh terhadap harga barang di
pasar. Melalui kartel para pelaku usaha akan mendapatkan keuntungan seperti layaknya
perusahaan yang memonopoli suatu pasar. Namun di sisi lain, kartel dapat merugikan
perekonomian suatu bangsa karena akan menyebabkan inefisiensi alokasi dan inefisiensi
produksi. Kartel juga dapat merugikan konsumen, karena konsumen dipaksa membayar
suatu barang atau jasa lebih mahal dari seharusnya, bahkan dapat menyebabkan sebagian
konsumen tidak mampu membeli barang atau jasa tersebut, padahal kalau harga sesuai
harga pasar atau harga persaingan mereka mampu untuk membelinya.
Ketika kartel ditetapkan pertama kali, kartel itu mungkin menikmati elastisitas yang
rendah dan merebut suatu bagian pasar yang tinggi. Akan tetapi, keberhasilannya dalam
menentukan harga yang terus meningkat mungkin akan segera di menghadapi tiga
kecenderungan yang bertentangan dengan gerakannya.

1. Permintaan yang Merosot.


Pertama, harga yang lebih tinggi akan membuat negara negara pembeli memandang
cara-cara baru untuk menghindari kecenderungannya mengimpor produk dari kartel.
Mereka mencari sediaan-sediaan produk dalam negeri yang baru dan akan sedapat
mungkin mencari barang-barang substitusi untuk memenuhi kebutuhannya itu. Harga itu
akan membuat pihak-pihak swasta mencari persediaan baru, bahkan kalau tidak ada
kebijakan pemerintah untuk membuat pengurangan dalam impor produk yang dilakukan
dengan cara kartel. Jika pencarian itu menemukan suatu keberhasilan, impor-impor
negara pembeli akan menurun semakin besar untuk setiap harga kartel yang diberikan,
dengan membuat kurva permintaan jangka panjang negara negara itu untuk mengimpor
produk menja di lebih elastis daripada kurva pemintaan jangka pendek mereka.
Elastisitas akan menjadi lebih negatif dalam perjalanan waktu.

2. Persediaan Berkompetisi yang Baru.


Kedua, keberhasilan kartel pada awalnya akan mempercepat pencarian sediaan-
sediaan yang dapat diekspor dalam negara-negara bukan-kartel. Kalau produk kartel
adalah hasil pertanian, seperti misalnya gula atau kopi, kenaikan harga kartel akan
menyebabkan para petani di negara-negara lain mengubah semakin banyak jumlah tanah,
tenaga kerja, dan dana mereka dari pertanian yang lain ke dalam gula atau kopi. Kalau
produk kartel adalah sebuah sumber daya mineral yang dapat dikuras habis, seperti
misalnya minyak atau tembaga, negara negara bukan-kartel akan menanggapi harga yang
lebih tinggi itu dengan melipatgandakan eksplorasi mereka dalam usaha mencari sumber-
sumber cadangan baru, seperti negara-negara lain di dunia telah melakukannya untuk
melawan kecenderungan OPEC menaikkan harga minyak mereka.

3. Bagian Pasar yang Menurun.


Akhirnya, bagian pasar dunia dari kartel (c) pasti akan jatuh setelah harga awal kartel
itu naik. Untuk menaikkan harganya tanpa menum puk sediaan-sediaan yang tidak laku
dijual sementara jumlahnya semakin meningkat, kartel itu harus memotong keluaran dan
penjualannya. Karena yang bukan anggota kartel akan berusaha untuk menaikkan ke
luaran dan penjualan mereka, maka bagian pasar dari kartel itu harus turun bahkan kalau
semua dari anggotanya bekerjasama untuk berusaha mengatasinya. Dengan demikian,
kartel akan jatuh sementara nilai-nilai absolut dari elastisitas kunci d dan s naik, dengan
memotong kenaikan harga optimal kartel dan labanya atas tiga bagian sekaligus.

5.5 Dampak Kartel


Secara umum para ahli sepakat bahwa kartel mengakibatkan kerugian baik bagi
perekonomian suatu Negara maupun bagi konsumen.

1. Kerugian bagi Perekonomian Suatu Negara


a. Dapat mengakibatkan terjadinya inefisiensi alokasi.
b. Dapat mengakibatkan terjadinya inefisiensi produksi.
c. Dapat menghambat inovasi dan penemuan teknologi baru
d. Menghambat masuknya investor baru.
e. Dapat menyebabkan kondisi perekonomian negara yang bersangkutan tidak
kondusif dan kurang kompetitif dibandingkan dengan negara-negara lain yang
menerapkan sistem persaingan usaha yang sehat.

2. Kerugian bagi konsumen


a. Konsumen membayar harga suatu barang atau jasa lebih mahal daripada harga
pada pasar yang kompetitif.
b. Barang atau jasa yang diproduksi dapat terbatas baik dari sisi jumlah dan atau
mutu daripada kalau terjadi persaingan yang sehat diantara para pelaku usaha
c. Terbatasnya pilihan pelaku usaha

3. Kerugian bagi industri yang bersangkutan


a. Kurangnya insentif bagi pelaku usaha dalam industri yang bersangkutan untuk
melakukan efisiensi
b. Perkembangan inovasi dan teknologi dalam industri yang bersangkutan dapat
terhambat karena kartel mengurangi insentif bagi pelaku usaha yang tergabung
didalamnya untuk menciptakan inovasi dan teknologi baru

5.6 Keuntungan Kartel


Keuntungan dari kartel adalah sebagai berikut :

1. Kartel dapat melaksanakan rasionalisasi.


2. Kartel mempunyai posisi yang baik di dalam menghadapi persaingan karena mampu
mengendalikan harga.
3. Risiko penjualan barang-barang yang dihasilkan dan risiko kapital para anggota dapat
diminimalkan.
4. Hubungan perburuhan dan manajemen personalia dapat lebih tenang

5.2 Kasus Kartel Terbesar Di Indonesia


Kartel Penetapan Layanan Tarif Short Message Service (SMS) KPPU mengungkap
praktik kartel yang dilakukan enam perusahaan seluler selama 2004-2008 yang
menetapkan persekongkolan harga tarif SMS Rp 350/SMS. Kerugian konsumen ditaksir
mencapai Rp 2,827 triliun.

Keenam perusahaan operator seluler tersebut diantaranya PT Excelcomindo Pratama


Tbk (XL), PT Telkomsel, PT Telkom, PT Bakrie Telecom Tbk, PT Mobile-8 Telecom
Tbk dan PT Smart Telecom yang telah dihukum denda oleh KPPU(Komisi Pengawas
Persaingan Usaha.

B. Diskriminasi Harga
6.1 Pengertian Diskriminasi Harga

Diskriminasi harga adalah menaikkan laba dengan cara menjual barang yang
sama dengan harga berbeda untuk konsumen. Diskriminasi harga terjadi saat
produsen menetapkan harga yang sama karena alasan yang tidak ada kaitannya
dengan perbedaan biaya, tetapi tidak semua perbedaan harga mencerminkan
diskriminasi harga.
Tujuan utama pelaku usaha melakukan diskriminasi harga yaitu untuk
mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi dan keuntungan yang lebih tinggi
tersebut diperoleh dengan cara merebut surplus konsumen. Diskriminasi harga /
price discrimination didasari adanya kenyataan bahwa konsumen sebenarnya
bersedia untuk membayar lebih tinggi, maka perusahaan akan berusaha merebut
surplus konsumen tersebut dengan cara melakukan diskriminasi harga.

6.2 Pengertian Dumping

Dumping adalah sebuah tindakan ekspor barang ke Negara lain dengan harga
yang jauh lebih rendah dari harga normal di Negara pengimpor untuk
mengantisipasi terjadinya praktik dumping yaitu adanya suatu tindakan balasan yaitu
berupa pengenaan bea masuk, yang diberikan oleh Negara pengimpor barang dari
Negara pengekspor. Istilah dumping dalam konteks hukum perdagangan
internasional adalah suatu wujud diskriminasi harga internasional yang dilakukan
pada sebuah perusahaan di Negara pengekspor, yang menjual barangnya dipasar luar
negeri dengan harga jauh lebih rendah dibandingkan dengan pasar dalam negeri,
dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan dari produk ekspor tersebut.
Menurut kamus hukum ekonomi dumping adalah melakukan praktik dagang
eksportir dengan cara menjual komoditi dipasaran internasional dengan memberikan
harga kurang dari nilai yang wajar atau lebih rendah daripada negerinya sendiri.
Pada dasarnya, praktik ini dinilai tidak adil karena merusak pasaran dan merugikan
produsen pesaing di Negara pengimpor.
 Pengenaan harga lebih murah dari Luar Negeri dibandingkan Dalam Negeri untuk
komoditi yang sama, karena lebih tingginya elastisitas permintaan Luar Negeri
 Perusahaan dapat memperoleh laba lebih tinggi dibandingkan dengan menjual
harga yang sama di dua pasar Dalam Negeri
 Elastisitas permintan Luar Negeri lebih tinggi diandingkan Dalam Negeri sebab
adanya persaingan dengan produsen negara lan dalam pasar Luar Negeri

6.3 Jenis-Jenis Dumping

Berikut ini jenis-jenis dari dumping :

1. Persistent Dumping

Kecenderungan memonopoli yang berkelanjutan dari suatu perusahaan di pasar


domestik untuk memperoleh laba maksimum dengan menetapkan harga yang lebih tinggi
di dalam negeri daripada diluar negeri.

2. Predatory Dumping
Tindakan perusahaan untuk menjual barangnya di luar negeri dengan harga lebih
murah untuk sementara (temporer) sehingga dapat menggusur ataau mengalahkan
perusahaan lain dari persaingan bisnis. Setelah dapat memonopoli pasar, barulah harga
kembali dinaikkan untuk mendapat laba maksimum.
3. Sporadic Dumping
Tindakan perusahaan dalam menjual produknya di luar negeri dnegan harga lebih
murah secara sporadis dibandingkan harga di dalam negeri karena adanya surplus
produsen di dalam negeri.

6.4 Perjanjian Internasional Tentang Barang


Untuk kebanyakan produk terutama produk pertanian atau bahan mentah, elastisitas
permintaan dan penawaran biasanya sangat rendah. Fluktuasi dalam permintaan dan
penawaran yang kecil saja dapat mengakibatkan fluktuasi harga yang relatif besar.
Satu-satunya cara bagi produsen yang bekerja pada struktur pasar yang demikian ini
untuk melindungi diri dari penurunan harga adalah dengan membatasi jumlah yang
ditawarkan dengan mengadakan perjanjian dengan produsen/negara lain. Inilah tugas
perjanjian internasional tentang komoditi tertentu untuk membatasi jumlah sehingga
dapat dapat menguntungkan produsen. Perjanjian ini dapat diselenggarakan oleh
produsen sendiri (swasta) maupun pemerintah negara penghasil produk.
6.5 Kebijakan Politik Dumping dan Tujuannya
Kebijakan politik dumping adalah tindakan perdagangan internasional yang dinilai
sebagai suatu tindakan yang tidak lazim karena dapat merugikan negara lain apalagi jika
tindakan tersebut disengaja.

Indonesia merupakah anggota WTO yang berarti indonesia tunduk terhadap


peraturan-peraturan dalam WTO, termasuk peraturan mengenai sengketa Anit-Dumping.
Dalam ketentuan WTO, bila ada negara yang merasa dirugikan oleh negara lainnya, maka
akan mengambil tindakan Anti-Dumping (Dumping Duties). Seperti pemerintah Amerika
Serikat yang mencegah udang Cina masuk ke negaranya karena dampak dai politik
dumping yang dilakukan pemerintah Cina pada udang yang di ekspor ke Amerika Serikat.

Tujuan dari adanya kebijakan politik dumping adalah untuk menguasai pasar luar
megeri serta untuk menghabiskan barang-barang produksi lama.

Anda mungkin juga menyukai