Anda di halaman 1dari 16

BUDIDAYA TANAMAN MENTIMUN (Cucumis Sativus L)

PROPOSAL
PROYEK USAHA MANDIRI (PUM)

OLEH

ALBERTUS GONGGOR
NIM. 192383003

JURUSAN TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA


PROGRAM STUDI TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI KUPANG
KUPANG
2021
LEMBAR PENGESAHAN

Nama : Albertus Gonggor

Nim : 192383003

Jurusan : Tanaman Pangan dan Hortikultura

Program Studi : Tanaman Pangan dan Hortikultura

Judul : Budidaya Tanaman Mentimun (Cucumis Sativus L)

Proposal Proyek Usaha Mandiri ini telah disetujui dan disahkan pada Tanggal yang
Tertera dibawah ini

Menyetujui

Kupang, ………2018

Koordinator PUM Pembimbing PUM

Ester Ruchamana Jella,S.P.,M.P Olivina S. Messakh, SP., MP


NIP.19811108 200604 2 002 NIP.19741026 200501 1 2001

Mengesahkan
Ketua Jurusan TPH

Jemrifs H.H.Sonbai, SP., M.Sc


NIP. 19770618 200501 1 002
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang senantiasa telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga Penulis dapat menyelesaikan pembuatan Proposal
Proyek Usaha Mandiri (PUM) yang berjudul “Budidaya Mentimun’’dengan baik.
Penyusunan proposal ini tidak terlepas dari banyak tantangan dan hambatan yang dihadapi
penulis tetapi atas dorongan, sumbangan pikiran tenaga dan waktu dari berbagai pihak, maka
penulis dapat menyelesaikannya. oleh karena itu penulis mengucapkan limpah terima kasih
kepada :

1. Jemrifs H, H.Sonbai, SP., M.Sc, selaku Ketua Jurusan Tanaman Pangan dan Hortikultura.


2.  Olivina S.Messakh SP., MP, selaku Ketua Program Studi Tanaman Pangan dan Hortikultura.
3. Ester Ruchamana Jella, S.P., M.P, selaku Koordinator Proyek Usaha Mandiri
4. Olivina S. Messakh, SP., MP selaku Pembimbing Proyek Usaha Mandiri
5.  Ibunda dan ayah tercinta yang susah payah mendukung, memotivasi dan membiayai
pendidikan penulis.
6.  Teman teman seperjuangan yang telah membantu penulis dalam penyusunan proposal.

Penulis menyadari bahwa proposal ini masih jauh dari kesempurnaan. Usul dan saran dari
semua pihak sangat diharapkan, dan semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Kupang,……………… 2021

Penulis
DAFTAR ISI

Teks Halaman

LEMBAR PENGESAHAN............................................................................ i
KATA PENGANTAR ................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................... iii
BAB.I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ................................................................................. 1
1.2. Tujuan............................................................................................... 2
1.3. Manfaat............................................................................................. 2
BAB.II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Klafikasi Tanaman Mentimun.......................................................... 3
2.2 Morfologi Tanaman Mentimun........................................................ 3
2.3. Teknik Budidaya Tanaman Mentimun............................................. 4
BAB.III METODOLOGI PELAKSANAAN
3.1. Waktu dan Tempat........................................................................... 10
3.2. Alat dan Bahan................................................................................. 10
3.3. Prosedur Pelakasanan....................................................................... 10
3.4. Jadwal Pelakasanan Kegiatan........................................................... 12
BAB.IV RENCANA BIAYA
4.1. Biaya Tetap Budidaya Mentimun.................................................... 13
4.2. Biaya Tidak Tetap Budidaya Mentimun ........................................ 14
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 15
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Politeknik Pertanian Negeri Kupang merupakan perguruan tinggi yang menyelenggarakan


pendidikan vokasi untuk menghasilkan lulusan dengan tingkat kompentensi tinggi dalam bidang
ilmu pertanain. Lulusan dituntut mampu menerapkan,mengembangkan dan menyebarluaskan
ilmu pengetahuan teknologi dan seni dalam bidang pertanain bagi kesejahteraan
masyarakat.Lulusan juga harus mempunyai jiwa kewirausahaan sehingga pengetahuan dan
keterampilannya dapat ditransformasikan ke dalam bentuk kegiatan ekonomi produktif dalam
rangka menigkatkan daya saing bangsa.
Politeknik Pertanaian Negeri Kupang sebagai lembaga pendidikan diarahkan pada
kesiapan peserta didik atau mahasiswa untuk menerapkan keahliandalam lingkup ilmu
pertanian ,yang sala satunya dicapai melalui kegiatan Proyek Usaha Mandiri (PUM) .Kegiatan
Proyek Usaha Mandiri (PUM) merupakan salah satu mata kuliah yang wajib dilaksanakan oleh
setiap mahasiswa semester V untuk strata DIII di Politeknik Pertanian Negeri Kupang. Selain itu,
PUM juga menjadi salah satu persyaratan untuk mengikuti Praktik Kerja Lapangan (PKL).
Melalui kegiatan PUM diharapkan dapat memberikan tambahan ilmu pengetahuan,
keterampilan, pengalaman dan menumbuhkamn jiwa wirausaha mahasiswa dalam melaksanakan
dan mengevaluasi usaha pertanian secara ekonomis dan mandiri,seperti usaha budidaya
mentimun.
Tanaman Mentimun(Cucumis Sativa L) M merupakan tanaman sayuran buah-buahan yang
banyak juga dikonsumsi oleh masyarakat.Mentimun merupakan sasla satu sayuran yang bisah
diolah menjadi berbagai macam makanan dan juga dimanfaatkan untuk berbagai keperluan
antara lain untuk acar,untuk lalapan dan lain-lain.Selain itu mentimun juga bermanfaat untuk
menurunkan tekanan darah tinggi,sehingga mentimun ini tentunya sangat bermanfaat dan sangat
dibutuhkan.
Tanaman Mentimun (Cucumis sativa L) termasuk tanaman merambat yang merupakan sala
satu jenis tanaman sayuran dari keluarga labu-labuan( Cucurbitaceae)yang sudah popular di
seluruh dunia.Pembudidayaan mentimun meluas keseluruh dunia,baik didaerah beriklim
panas(tropis)maupun daerah sedang(sup-tropis).Buah mentimun memiliki bermacam-macam
manfaat dalam kehidupan sehari-hari,antara lain sebagai bahan makanan,bahan untuk obat-
obatan dan bahan kosmetik,Nilai gizi mentimun culup baik karena sayuran buah ini merupakan
sumber mineral dan vitamin.Buah mentimun mengandung zat-zat
saponin,protein,lemak,kalsium,fosfor,besi,belerang,Vitamin A,B1,dan C.Mentimun menta
bersifat menurunkan panas badan,juga menigkatkan stamina.
Mentimun atau ketimun atau ketimun (Cucumis sativus L) merupakan sala satu jenis
sayuran dari keluarga labu-labuan (cucurbitaceae) yang sudah popular di seluruh dunia.Menurut
sejarahnya,tanaman mentimun berasal dari benua Asia.Beberapa sumber literature menyebutkan
daerah asal tanaman mentimun adalah Asia Utara,tetapi sebagian lagi menduga berasal dari Asia
Selatan.
Parah ahli tanaman memastikan daerah asal tanaman mnetimun adalah india ,tepatnya di
lereng gunung Himalaya.Dikawasan ini ditemukan jenis mentimun liar yaitu Cucumis
hardwichii Royle.Mentimun yang lain ditemukan para ahli tanaman terdapat di Afrika
Selatan.Dari kawasan India dan Afrika Selatan.pembudidayaan mentimun kemudian meluas
kewilayah Mediteran.(Rahmat Rukmana,1991).
Mentimun merupakan sayuran yang sangat populer dan digemari oleh hampir seluruh
masyarakat.kebanykan usahatani mentimun masi dianggap usaha sampingan sehingga rata-rata
hasil mentimun secara nasional masi rendah,yakni antara 3,5-4,8 ton/hektar.(Semangun
Haryono,1989).

1.2 Tujuan
Tujuan dari Proyek Usaha Mandiri (PUM) yakni agar mahasiswa :
1. Mampu melaksanakan budidaya sawi Varietas Shinta dan mendapatkan keuntungan secara
ekonomis.
2. Mampu menganalisis kelayakan usaha tani budidaya sawi hijau Varietas Shinta.

1.3 Manfaat
Manfaat dari Proyek Usaha Mandiri (PUM) adalah agar mahasiswa dapat memperoleh
pengetahuan dan pengalaman dalam budidaya sawi hijau.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Taksonomi Sawi Hijau


Tanaman sawi hijau dalam sistem klasifikasi menurut para ahli dalam Haryanto dan Tina
(2002) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Class : Dicotyledonae
Ordo : Rhoeadales
Family : Cruciferae (Brassicaceae)
Genus : Brassica
Spesies : juncea
Nama Ilmiah : Brassica juncea L.
Sawi hijau merupakan salah satu sayuran penting di Asia atau khususnya di China. Daun
sawi hijau bertangkai, berbentuk oval, berwarna hijau tua, dan mengkilat, tidak membentuk
kepala, tumbuh agak tegak atau setengah mendatar, tersusun dalam spiral rapat, melekat pada
batang yang tertekan. Tangkai daun berwarna putih atau hijau muda, gemuk dan berdaging.
Tanaman dapat mencapai tinggi 15–30 cm (Cahyono, 2003).

2.2 Syarat Tumbuh


Sawi bukan tanaman asli Indonesia, menurut asalnya di Asia.Indonesia mempunyai
kecocokan terhadap iklim, cuaca dan tanahnya sehingga dapat dikembangkan di Indonesia.

Syarat tumbuh tanaman sawi hijau meliputi iklim dan tanah.

Keadaan iklim yang perlu mendapat perhatian didalam menentukan lokasi usaha tani
sawi adalah suhu udara, kelembaban udara, curah hujan, dan penyinaran cahaya matahari. Sawi
pada umumnya banyak ditanam di dataran rendah. Tanaman ini selain tahan terhadap suhu panas
(tinggi) juga mudah berbunga dan menghasilkan biji secara alami pada kondisi iklim tropis
Indonesia (Haryanto dan Tina, 2002). Sawi dapat dikatakan sebagai tanaman yang cukup adaptif
dengan keadaan iklim di Indonesia. Sawi yang cocok ditanam mulai dari ketinggian 5 meter
sampai dengan 200 meter di atas permukaan laut, namun biasanya dibudidayakan pada daerah
yang mempunyai ketinggian 100 meter sampai 500 meter dpl. Tanaman sawi hijau dapat tumbuh
dengan baik di tempat yang berhawa panas maupun berhawa dingin, sehingga dapat diusahakan
dari dataran rendah maupun dataran tinggi.
Keadaan tanah yang cocok untuk ditanami sawi hijau adalah tanah yang gembur, banyak
mengandung humus, subur akan unsur hara, serta pembuangan airnya baik. Derajat kemasaman
(pH) tanah yang optimum untuk pertumbuhan sawi adalah antara pH 6 – 7 ( Fahrurroji, 2013).

2.3 Teknik Budidaya Sawi Hijau


Menurut Haryanto dan Tina (2002), kegiatan budidaya sawi meliputi tahapan :
Pengolahan tanah, pembibitan, penanaman, pemeliharaan, panen, dan pasca panen.

1. Pengolahan tanah
Kegiatan membersihkan lahan dari segala vegetasi atau tanaman yang tidak diinginkan
seperti sisa-sisa perakaran, rumput liar, dan batu-batu. apabila untuk pembukaan lahan baru
harus menyiapkan lahan yang bersih permukaannya dan layak sebagai tempat tumbuhnya sawi
hijau sehingga memudahkan penyiapan dan pengolahan tanah selanjutnya.
Kegiatan pengolahan tanah secara umum sebelum menanam sawi hijau adalah
penggemburan tanah dan pembuatan bedengan.
Penggemburan tanah dapat menciptakan kondisi yang dibutuhkan oleh tanaman agar
mampu tumbuh dengan baik. Tahap-tahap penggemburan meliputi pencangkulan untuk
memperbaiki stuktur tanah serta sirkulasi udaranya dan pemberian pupuk organik atau pupuk
kimia sebagai pupuk dasar untuk memperbaiki stuktur kimia tanah yang akan menambah
kesuburan lahan. Pengemburan tanah umumnya dilakukan dengan cara mencangkul tanah
sedalam 20-40 cm.
Pengemburan tanah sebaiknya dilakukan juga pemberian pupuk bokashi sebagai pupuk
dasar. Tanaman sawi membutuhkan pupuk bokashi sebanyak 10 ton/ha, (Haryanto dan Tina,
2002).
Pemberian pupuk bokashi pada saat penggemburan bertujuan agar pupuk bokashi dapat
lebih cepat tercampur merata dengan tanah sehingga unsur hara dan stuktur tanah dapat dengan
mudah tergantikan.
Tahap selanjutnya adalah pembuatan bedengan. Bedeng berfungsi untuk memberikan
perlakuan pada tanaman agar tumbuh lebih teratur dan baik. Bedengan sebaiknya dibuat
memanjang dari arah timur ke barat agar tanaman dapat menerima cahaya matahari yang cukup
untuk pertumbuhan tanaman.

2. Pembibitan

Pembibitan dapat dilakukan bersamaan dengan pengolahan tanah untuk penanaman. Hal
ini bertujuan untuk mengefisienkan waktu yang digunakan dua minggu sebelum penaburan.
benih dilakukan pada bedengan pembibitan terlebih dahulu ditaburi dengan 2 kg pupuk bokhasi.
Cara melakukan pembibitan diawali dengan benih ditaburkan pada permukaan bedengan
pembibitan selanjutnya benih ditutupi dengan tanah setebal 1-2 cm. Perawatan selanjutnya
pemberian air menggunakan ember. Benih yang baik akan tumbuh 3-5 hari setelah penaburan
benih. Setelah berdaun 3 – 4 lembar baru dapat dipindahkan ke bedengan penanaman (Haryanto
dan Tina, 2002).

3. Penanaman
Bedengan penanaman sawi dibuat dengan lebar 100 cm dan panjang 10 m. Tinggi
bedengan penanaman ini dibuat sekiar 20-30 cm dengan jarak antar bedengan 30 cm. Jarak antar
bedengan ini bertujuan sebagai parit drainase dan tempat lalu-lalang pekerja. Satu minggu
sebelum penanaman sawi dilakukan, bedengan penanaman ditaburi serta dicampurkan dengan
pupuk bokashi secara merata. Jarak tanam antar tanaman adalah 20 x 20 cm (Haryanto dan Tina,
2002).
Ciri-ciri bibit yang baik adalah batang tubuh tegak, daun hijau segar mengkilap dan tidak
terserang hama atau penyakit. Bibit dipindahkan dengan hati-hati dari bedengan pembibitan, agar
sebagian tanah yang membalut perakaran bibit dapat terikut pada saat pencabutan.
Langkah selanjutnya adalah pembuatan lubang tanam di bedeng penanaman.Pembuatan
dilakukan dengan tangan atau tugal pada titik yang sesuai dengan jarak tanam. Bibit dimasukkan
ke lubang tanam dengan hati-hati. Selanjutnya lubang dirapihkan dan tanahnya dipadatkan pada
pangkal batang.

4. Pemeliharaan
Tindakan pemeliharaan sawi meliputi penyiraman, penjarangan, penyulaman,
penyiangan, pengemburan, pemupukan tambahan, serta pengendalian hama dan penyakit.
a. Penyiraman
Penyiraman biasanya dilakukan pada pagi dan sore hari karena pada siang hari terjadi
penguapan yang sangat tinggi sehingga akan menyebabkan kelayuan pada sawi. Oleh karena itu
harus menyiapkan air yang cukup untuk pertumbuhannya. Tanpa air yang cukup sawi hijau
tumbuh kerdil, layu dan bahkan mati. Sejak tanaman disemai hingga tumbuh besar air selalu
dibutuhkan oleh tanaman sawi.
b. Penjarangan
Penanaman sawi hijau yang tanpa melalui tahap pembibitan pada umumnya tumbuh
tidak teratur, jika hal ini dibiarkan dan tidak dilakukan penjarangan maka akan menyebabkan
adanya persaingan dalam mengambil unsur hara dalam tanah. Penjarangan ini bertujuan untuk
mendapatkan kualitas dan hasil sawi yang baik. Penjarangan dilakukan 2 minggu setelah
penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh berdekatan atau terlalu rapat.
Tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang sudah ditentukan yaitu 20 x 20
cm.

c. Penyulaman
Penyulaman merupakan kegiatan penanaman kembali bagian-bagian yang kosong bekas
tanaman yang mati sehingga terpenuhi tanaman yang normal. Penyulaman ini dilakukan 7 hst.
Tanaman yang digunakan berasal dari bibit tanaman yang masih tersisa di bedeng pembibitan.
Hal ini bertujuan agar umur dan tingkat pertumbuhan tanaman yang sudah tumbuh dengan baik
di bedengan penanaman dengan tanaman sulaman tidak berbeda jauh. Cara penyulaman cukup
sederhana dan mudah, tanaman yang mati dibuang dengan cara dicabut kemudian lubang
penanaman dibuat pada bekas tempat penanaman sebelumnya. Selanjutnya tanaman sulaman
ditanam sebagai penggantinya.

d. Penyiangan, penggemburan, dan pengguludan


Penyiangan biasanya dilakukan 2-4 kali selama masa pertanaman sawi, disesuaikan
dengan kondisi keberadaan gulma pada bedengan penanaman. setelah tanaman berumur 2
minggu di bedeng penanaman biasanya gulma sudah mulai banyak yang tumbuh. Penyiangan
ini dilakukan agar pengambilan unsur hara dari dalam tanah dapat berlangsung sempurna tanpa
diganggu oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang lainnya. Penggemburan dan pengguludan
dilakukan apabila struktur tanah berubah menjadi keras dan padat.
Penggemburan dan pengguludan biasanya dilakukan bersamaan dengan penyiangan.
Penggemburan harus dilakukan dengan hati-hati karena seringkali dapat merusak tanaman.
Pengguludan di bedengan untuk tanaman sawi hijau tidak terlalu dibutuhkan karena
pengguludan yang dilakukan pada bedengan bertujuan untuk tetap memfungsikan parit drainase
sebagai sarana pembuangan kelebihan air. Pengguludan dilakukan dengan cara menaikan tanah
yang jatuh kebagian parit pengairan ke bedengan semula.

e. Pemupukan tambahan
Pupuk tambahan diberikan pada saat tanaman berumur 10 hari setelah tanam yaitu
berupa pupuk urea dengan dosis 50 kg/ha, hal ini dikarenakan sawi merupakan sayuran daun
yang lebih membutuhkan pupuk untuk membantu pertumbuhan daun, sehingga pupuk urea
lebih penting dan lebih dibutuhkan sebagai pupuk tambahan (Haryanto dan Tina, 2002).

f. Pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan)


Menurut Direktorat Budidaya Tanaman Sayuran & Biofarmaka (2008), pengendalian
OPT dilakukan agar tidak terjadi kerusakan pada bagian tananaman, sehingga menjaga
kesehatan tanaman dan kelestarian lingkungan hidup dan aman untuk dikonsumsi.
Pelaksanaan kegiatan pengendalian OPT, harus diawali dengan pengenalan jenis hama
dan penyakit yang ada pada tanaman sawi, sehingga pada saat pelaksanaan pengendalian OPT
dapat dilakukan dengan tepat.
Menurut Haryanto dan Tina (2002), jenis-jenis hama yang menyerang tanaman sawi
hijau adalah : Ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis Zell),
Ulat tritip (Plutella maculipennis), Siput (Agriolimax Sp), Ulat (Thepa javanica), dan Cacing
bulu (Cut worn).
Sedangkan jenis-jenis penyebab Penyakit yang menyerang tanaman sawi hijau adalah :
Akar pekuk, bercak daun alternaria, Busuk Basah (soft root), Penyakit embun tepung, Penyakit
rebah semai, Busuk Rhizoctonia, dan Bercak daun,

5. Panen
Hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan panen ini adalah umur panen dan cara
panennya. Panen harus dilakukan pada waktu yang tepat agar sesuai dengan keinginan konsumen
dan baik kualitasnya. Sawi yang dipanen terlalu tua akan menjadi keras dan tidak enak untuk
dikonsumsi. sedangkan apabila dipanen terlalu muda produksinya menjadi sedikit dan harga
jualnya rendah karena tidak memenuhi standar yang diinginkan oleh konsumen.
Tanaman sawi Varietas Shinta dipanen umur 21-25 hst, selain berdasarkan umurnya
kriteria sawi yang siap dipanen adalah dengan melihat bentuk daun mulai mengembang penuh
tapi belum berbunga.

6. Pasca panen
Menurut Direktorat Budidaya Tanaman Sayuran dan Biofarmaka (2008), pasca panen
merupakan kegiatan penanganan sayur yang telah selesai dipanen (sortasi, pengkelasan,
pengemasan dan penyimpanan) berdasarkan ukuran dan standar mutu yang telah ditentukan
hingga siap didistribusikan ke konsumen. Tujuan kegiatan ini adalah tersedianya (jumlah dan
kualitas) sesuai dengan permintaan pasar baik domestik maupun global. Alat dan bahan yang
diperlukan beserta fungsinya adalah sebagai berikut; keranjang digunakan untuk menampung
hasil panen, kemasan kotak plastik, karung goni, peti kayu dan kotak karton digunakan untuk
menampung sawi yang akan didistribusikan, gudang pre colling digunakan untuk tempat
penyimpanan agar dapat memperpanjang masa segar daun sawi, dan Stiker digunakan sebagai
tanda pengenal pada kemasan sawi yang siap distribusikan.
BAB III
METODE PELAKSANAAN

3.1 Waktu dan Tempat


Kegiatan Proyek Usaha Mandiri (PUM) dilaksanakan pada Bulan Oktober-Desember
2018 bertempat di kebun petani Desa Penfui-Timur, Kecamatan Kupang-Tengah Kabupaten
Kupang.

3.2 Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan yaitu pacul, sekop, ember, meter roll, benih sawi Varietas
Shinta, tali raffia, pupuk bokashi, dan pupuk urea.

3.3. Prosedur Kerja

Tahapan budidaya sawi meliputi persemaian, pengolahan tanah, penanaman,


pemeliharaan (penyiraman penyulaman penyiangan penggemburan pemupukan susulan
pengendalian hama dan penyakit), panen pascapanen dan pemasaran.
a. Persemaian
Media yang digunakan untuk persemaian adalah tanah dan pupuk bokashi yang dicampur
sekaligus dengan perbandingan 1:1. Setelah dicampur, media tanam diratakan menggunakan
kayu dan disiram sampai basah kemudian di atas media tanam, ditaburi benih sawi yang akan
disemai.

b. Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah yang dilakukan menggunakan pacul. Tanah diolah dengan kedalaman
lapisan olah 30 cm - 40 cm dari permukaan tanah. Lahan dibuat bedengan lebar 1 meter, tinggi
15 cm, panjang 10 m dan jarak antar bedengan 30 cm untuk drainase. Jumlah bedeng yang
terbentuk sebanyak 7 bedengan.

c, Penanaman
Penanaman sawi dilakukan pada saat bibit berumur 3-4 minggu yaitu sudah memiliki 3-5
helai daun. Bibit dipindahkan dari tempat persemaian dengan hati-hati agar tidak merusak
perakaran dan batang bibit yang masih muda, serta dilakukan pada waktu sore hari. Bibit
ditanam dengan jarak tanam 20 x 20 cm.

d. Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman sawi hijau meliputi penyiraman, penyulaman, penyiangan,
penggemburan, pemupukan susulan, panen, pascapanen dan Pemasaran.
Kegiatan budidaya sawi dilaksanakan pada akhir musim kemarau dan awal musim
penghujan sehingga penyiraman dilakukan 2 kali sehari yakni pada pagi dan sore hari sampai
tanah lembab serta penyiraman dilakukan sesuai hujan turun agar lumpur yang menempel pada
bagian tanaman dapat segar kembali. Penyiraman dilakukan menggunakan ember.
Penyulaman ini dilakukan pada tanaman yang mati dengan menggunakan tanaman yang
masih tersisa di bedeng pembibitan. Penyulaman ini dilakukan 7 Hst.

Penyiangan dilakukan hanya satu kali yaitu 15 hari setelah tanam. dengan membersihkan
rumput yang tumbuh disekitar tanaman sawi menggunakan tangan.
Penggemburan dilakukan di sekitar tanaman dengan menggunakan tangan agar lebih
hati-hati sehingga tidak dapat merusak tanaman.
Pemupukan susulan dilakukan saat tanaman sawi berumur 10 hari setelah tanam. Jenis
pupuk yang digunakan adalah pupuk Urea dengan dosis 50 kg/ha. (setara dengan 100 g /
bedeng). Pemberian pupuk urea dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan lalu ditutup
dengan tanah.
Hama yang menyerang tanaman sawi biasanya adalah ulat bulu (Lymantridae) yaitu
menyerang pada daun sawi dengan gejala daun berlubang-lubang. Tindakan pengendalian hama
dilakukan secara mekanik yaitu langsung mengambil hama dan matikan dengan cara dibakar.
Penyakit yang menyerang tanaman sawi adalah penyakit reput daun yaitu menginfeksi
tanaman sawi bagian daun dengan gejala busuk pada bagian ujung daun dan pada akhirnya
semua bagian daun busuk dan rusak. Kegiatan pengendalian yang dilakukan secara mekanik
yaitu memusnahkan bagian tanaman yang terserang penyakit dan membuangnya jauh dari
kawasan penanaman
Sawi hijau dipanen mulai tanaman berumur 25 hari setelah penanaman yaitu dengan
selang waktu 3 – 4 minggu, selain dari penentuan umur, penentuan panen dapat dilakukan
dengan cara melihat bentuk ukuran daun yaitu sudah mengembang tapi belum berbunga

Kegiatan pemasaran sawi dilakuan dengan cara menjual sawi pada pelanggan, konsumen,
dan pedagang pengecer dengan harga 1.000 per/ikat.

3.4 Jadwal Kegiatan Proyek Usaha Mandiri (PUM)


Jadwal kegiatan budidaya sawi hijau dapat di lihat pada Tabel 3.1 berikut ini.

Waktu dan Tempat


No Aktivitas September Oktober November Desember Januari
III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV
1 Konsultasi Proposal                                  
Persiapan alat dan
2
bahan                                    
Pengolahan tanah
3 dan pembuatan
bedengan                                    
4 Persemaian                                    
Tanam dan
5
pemeliharaan                                    
Panen dan
6
pemasaran                                    
7 Pembuatan laporan                                    
8 Konsultasi laporan                                    
9 Pemasukan laporan                                    

Anda mungkin juga menyukai