Anda di halaman 1dari 19

HAKIKAT KURIKULUM

(PENGERTIAN,KOMPONEN,PERTIMBANGAN, MODEL DESAIN KURIKULUM)

Dosen Pengampu:

Dr. Herry Widyastono Siswowarsito, M.Pd

Oleh:

Anita Winandari (S812102001)

Dini Wahyu Mulyasari (S812102002)

Iin Endrayani (S812102003)

PROGRAM STUDI S2 TEKNOLOGI PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur diucapkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmatNya sehingga makalah
yang berjudul “Hakekat Kurikulum” ini dapat tersusun sampai dengan selesai. Tidak lupa kami
mengucapkan terimakasih terhadap bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan
memberikan sumbangan baik pikiran maupun materinya.

Penulis sangat berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan serta
wawasan bagi pembaca. Bagi kami sebagai penyusun merasa bahwa masih banyak kekurangan
dalam penyusunan makalah ini karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman Kami. Untuk
itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.

Surakarta, 28 April 2021

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .........................................................................................................i

DAFTAR ISI ........................................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................................1

A. Latar Belakang ........................................................................................................1


B. Rumusan Masalah ..................................................................................................1
C. Tujuan Penulisan ....................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN .....................................................................................................2

A. Pengertian Kurikulum ............................................................................................ 2


B. Komponen-komponen Kurikulum ........................................................................4
1. Komponen Tujuan .............................................................................................. 4
2. Komponen Isi/Materi .......................................................................................... 5
3. Komponen Metode/Strategi ................................................................................6
4. Komponen Evaluasi ............................................................................................ 7
5. Keterkaitan Antar Komponen Kurikulum .......................................................... 9
C. Pertimbangan Dalam Memilih Desain Kurikulum .............................................10
D. Model Desain Pengembangan Kurikulum ........................................................... 10
1. Subject Centered design ......................................................................................10
2. Learnere Cntered design .....................................................................................12
3. Problem Centered design ....................................................................................13

BAB II PENUTUP ..............................................................................................................15

A. Kesimpulan ..............................................................................................................15
B. Saran ........................................................................................................................ 15

DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................................16

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ilmu pengetahuan selalu berkembang dan mengalami kemajuan yang sangat pesat,
sesuai dengan perkembangan zaman dan perkembangan cara berpikir manusia. Cara untuk
mendapatkan ilmu pengetahuan melalui pendidikan. Dalam UUD 1945 disebutkan bahwa
negara kita ingin mewujudkan masyarakat yang cerdas. Untuk mencapai bangsa yang
cerdas, harus terbentuk masyarakat belajar. Pendidikan adalah sebagai usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran untuk peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang
diperlukan dirinya dan masyarakat.
Pendidikan dapat dibagi menjadi dua yaitu pendidikan tiga jalur utama, yaitu formal,
nonformal, dan informal. Pendidikan formal merupakan pendidikan di sekolah yang di
peroleh secara teratur, sistematis, bertingkat, dan dengan mengikuti syarat-syarat yang jelas.
Pendidikan formal diatur oleh kurikulum dimana kurikulum mengalami revisi menyesuikan
perkembangan, saat ini pendidikan di Indonesia menggunakan kurikulum K13.
Makalah ini akan membahas lebih jauh mengenai hakikat kurikulum secara umum yang
perlu diketahui untuk calon pendidik (guru) serta bagi yang ingin mempelajari kurikulum
makalah ini juga bisa menjadi acuan.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas,maka muncul rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan kurikulum ?
2. Apa komponen-komponen kurikulum ?
3. Apa pertimbangan dalam memilih kurikulum?
4. Apa model desain pengembangan kurikulum ?
C. TUJUAN PENULISAN
Berdasarkan rumusan masalah,tujuan penulisan makalah ini adalah:
1. Mahasiswa mampu memahami makna dari kurikulum.
2. Mahasiswa mampu memahami komponen-komponen kurikulum.
3. Mahasiswa mampu mengetahui pertimbangan dalam memilih kurikulum.
4. Mahasiswa mampu mengetahui model desain pengembangan kurikulum.

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Kurikulum
Secara etimologi , kurikulum berasal dari bahasa Yunani , Yaitu curir yang berarti
“pelari” dan curere yang berarti “tempat berpacu”. Jadi istilah kurikulum berasal dari dunia
olah raga pada zaman Yunani Kuno di Yunani , yang mengandung pengertian suatu jarak
yang harus ditempuh oleh pelari dari garis start sampai finish , kemuadia digunakan oleh
dunia pendidikan. Sedangkan dalam bahasa Inggris , kurikulum berasal dari kata Currere
yang berarti berlari cepat , tergesa-gesa , menjelajahi , menjalani , dan berusaha.
Dalam kamus Webster’s tahun 1857 , secara gamblang kurikulum diartikan sebagai
rancangan sejumlah mata pelajaran yang harus dikuasi oleh siswa untuk naik kelas atau
mendapatkan ijazah. Dalam hal ini, ijazah pada hakikatnya merupakan suatu bukti, bahwa
siswa telah menempuh kurikulum yang berupa rencana pembelajaran, sebagaimana halnya
seorang pelari telah menempuh suatu jarak antara satu tempat ke tempat lainnya dan
akhirnya mencapai finish.
Dengan kata lain, suatu kurikulum dianggap sebagai jembatan yang sangat penting
untuk mencapai titik akhir dari suatu perjalanan dan ditandai oleh perolehan suatu ijazah
tertentu (Hamalik, 2008:16-17). Sedangkan secara terminology , istilah kurikulum
digunakan dalam dunia pendidikan , yaitu sejumlah pengetahuan atau kemampuan yang
harus ditempuh atau diselesaikan siswa guna mencapai tingkatan tertentu secara formal dan
dapat dipertanggungjawabkan.
Terdapat pakar kurikulum yang mengutarakan bahwa “kurikulum mencakupi
maksud, tujuan, isi, proses, sumber daya, dan sarana-sarana evaluasi bagi semua
pengalaman belajar yang direncanakan bagi para pembelajar baik di dalam maupun di luar
sekolah dan masyarakat melaluipengajaran kelas dan program-program terkait”, dan
selanjutnya membatasi “silabus sebagai suatu pernyataan mengenai rencana bagi setiap
bagian kurikulum menesampingkan unsure evaluasi kurikulum itu sendiri, silabus
hendaknya dipandang dalam konteks proses pengembangan kurikulum yang sedang
berlangsung” (Robertson 1971: 584; Shaw 1977 dalam Tarigan, 1993:5).
Selain itu, masih terdapat bermacam-macam pengertian diberikan kepada istilah
kurikulum. Ada pengertian yang sangat luas dan sebaliknya terdapat pengertian yang
sempit. Perkataan kurikulum bukan perkataan Indonesia asli, tetapi berasal dari bahasa
asing, yaitu bahasa Yunani. Di dalam kamus Webster dalam Team Pembina Mata Kuliah

2
Didaktik Metodik (1995:97) terdapat beberapa arti dari kurikulum, di antaranya yaitu
sebagai berikut:
1. Tempat berlomba, jarak yang harus ditempuh pelari kereta lomba.
2. Pelajaram-pelajaran tertentu yang diberikan di sekolah atau perguruan tinggi yang
ditujukan untuk mencapai suatu tingkat atau ijazah.
3. Keseluruhan pelajaran yang diberikan dalam suatu lembaga pendidikan.

Lazimnya, kurikulum dipandang sebagai suatu rencana yang disusun untuk


melancarkan proses belajar-mengajar di bawah bimbingan dan tanggung jawab sekolah atau
lembaga pendidikan berserta staf pengajarnya (Nasution, 2006:5). Menurut UU RI no.20
tahun 2003 tentang Sisdiknas, kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan
mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Kurikulum adalah suatu rancangan program pendidikan yang berisi serangkaian
pengalaman yang diberikan kepada peserta didik untuk mencapai suatu tujuan yang ingin
dicapai melalui serangkaian pengalam belajar (Mohammad Adnan Latief dalam Mulyasa,
2006:85). Pengertian kurikulum yang lebih luas kemudian diberikan oleh para pendidikan
yaitu “segala usaha sekolah untuk memengaruhi anak belajar, di dalam kelas, di halaman
sekolah maupun di luarnya” atau “segala kegiatan di bawah tanggung jawab sekolah yang
memengaruhi anak dalam pendidikannya” (Team Pembina Mata Kuliah Didaktik Metodik,
1995:97). Pakar pendidikan Indonesia seperti Hamid Hasan (1988) menyampaikan 4
dimensi kurikulum , yaitu:

1. Kurikulum sebagai ide yang dihasilkan melalui teori-teori dan penelitian , khususnya
dalam bidang kurikulum dan pendidikan.
2. Kurikulum sebagai suatu rencana tertulis , sebagai perwujudan dari kurikulum
sebagai suatu ide , yang di dalamnya memuat tentang tujuan , bahan , kegiatan , dan
alat-alat dan waktu.
3. Kurikulum sebagai suatu kegiatan , yang merupakan pelaksanaan dari kurikulum
sebagai suatu rencana tertulis dalam bentuk praktek pembelajaran.
4. Kurikulum sebagai suatu hasil yang merupakan konsekuensi dari kurikulum sebagai
suatu kegiatan , dalam bentuk ketercapaian tujuan kurikulum yakni tercapainya
perubahan perilaku atau kemampuan tertentu dari peserta didik.

3
B. Komponen-komponen Kurikulum
Komponen adalah bagian yang integral dan fungsional yang tidak terpisahkan dari
suatu sistem kurikulum karena komponen itu sendiri mempunyai peranan dalam
pembentukan sistem kurikulum. Sebagai sebuah sistem, kurikulum mempunyai komponen-
komponen. Seperti halnya dalam sistem manapun, kurikulum harus mempunyai komponen
lengkap dan fungsional baru bisa dikatakan baik. Sebaliknya kurikulum tidak dikatakan baik
apabila didalamnya terdapat komponen yang tidak lengkap sekarang dipandang kurikulum
yang tidak sempurna. Komponen-komponen kurikulum pada prinsipnya terdiri dari empat
macam komponen yaitu: tujuan, materi, metode dan evaluasi.
1. Komponen Tujuan
Komponen tujuan adalah komponen kurikulum yang menjadi target atau
sasaran yang mesti dicapai dari melaksanakan suatu kurikulum. Komponen ini sangat
penting, karena melalui tujuan, materi proses dan evaluasi dapat dikendalikan untuk
kepentingan mencapai tujuan kurikulum dimaksud. Tujuan kurikulum dapat
dispesifikasikan ke dalam tujuan pembelajaran umum yaitu berupa tujuan yang dicapai
untuk satu semester. Sedangkan tujuan pembelajaran khusus yang menjadi target setiap
kali tatap muka. Dalam konteks kurikulum berbasis kompetensi tujuan pembelajaran
umum disebut dengan istilah standar kompetensi dan tujuan pembelajaran khusus
disebut dengan istilah kompetensi dasar.
Tujuan kurikulum pada hakikatnya adalah tujuan dari setiap program
pendidikan nasional dapat dilihat secara jelas dalam Undang – Undang Nomor 20 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa: “ Pendidikan Nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermatabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertaqwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis, serta bertanggungjawab.” Tujuan
pendidikan antara lain :
a. Tujuan Institusional (Kompetensi Lulusan) yaitu tujuan yang harus dicapai
oleh suatu lembaga pendidikan,contoh : SD,SMP,SMA
b. Tujuan Kurikuler (Standart Kompetensi) adalah tujuan bidang studi atau mata
pelajaran sehingga mencapai hakikat keilmuan yang ada didalamnya. Dalam
Permendiknas No. 22 Tahun 2007 dikemukakan bahwa tujuan pendidikan

4
tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada
tujuan umum pendidikan berikut:
1) Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan,
pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup
mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
2) Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan,
pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup
mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
3) Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan,
pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup
mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan
kejuruannya. Tujuan pendidikan institusional tersebut kemudian
dijabarkan lagi ke dalam tujuan kurikuler; yaitu tujuan pendidikan yang
ingin dicapai dari setiap mata pelajaran yang dikembangkan di setiap
sekolah atau satuan pendidikan.
4) Tujuan Instruksional (KD) dirumuskan sebagai kemampuan-kemampuan
yang diharapkan dimili anak didik setelah mereka menyelesaikan proses
belajar mengajar. Tujuan Instruksional dibagi menjadi tiga: Pertama,
Tujuan Instruksional Umum (Indikator Umum), Kedua, Tujuan
Instruksional Khusus (Indikator Khusus), Ketiga, Komponen Isi/Materi.
2. Komponen Isi/Materi
Komponen materi adalah komponen yang didesain untuk mencapai komponen
tujuan. Yang dimaksud dengan komponen materi adalah bahan-bahan kajian yang
terdiri dari ilmu pengetahuan, nilai, pengalaman dan keterampilan yang dikembangkan
ke dalam proses pembelajaran guna mencapai komponen tujuan.
Siswa belajar dalam bentuk interaksi dengan lingkungannya, lingkungan orang-
orang, alat-alat, dan ide-ide. Tugas utama seorang guru adalah menciptakan lingkungan
tersebut, untuk mendorong siswa melakukan interaksi yang produktif dan memberikan
dirancang dalam suatu rencana mengajar. Materi pembelajaran disusun secara logis dan
sistematis, dalam bentuk:
a. Teori; seperangkat konstruk atau konsep, definisi atau preposisi yang saling
berhubungan, yang menyajikan pendapat sistematik tentang gejala dengan
menspesifikasi hubungan-hubungan antara variabel-variabel dengan maksud
menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut.

5
b. Konsep; suatu abstraksi yang dibentuk oleh organisasi dari kekhususan-
kekhususan, merupakan definisi singkat dari sekelompok fakta atau gejala.
c. Generalisasi; kesimpulan umum berdasarkan hal-hal yang khusus, bersumber
dari analisis, pendapat atau pembuktian dalam penelitian.
d. Prinsip; yaitu ide utama, pola skema yang ada dalam materi yang
mengembangkan hubungan antara beberapa konsep.
e. Prosedur; yaitu seri langkah-langkah yang berurutan dalam materi pelajaran
yang harus dilakukan peserta didik.
f. Fakta; sejumlah informasi khusus dalam materi yang dianggap penting, terdiri
dari terminologi, orang dan tempat serta kejadian.
g. Istilah; kata-kata perbendaharaan yang baru dan khusus yang diperkenalkan
dalam materi.
h. Contoh/ilustrasi; yaitu hal atau tindakan atau proses yang bertujuan untuk
memperjelas suatu uraian atau pendapat.
i. Definisi; yaitu penjelasan tentang makna atau pengertian tentang suatu hal/kata
dalam garis besarnya.
j. Preposisi; yaitu cara yang digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran
dalam upaya mencapai tujuan kurikulum.

Isi program kurikulum adalah segala sesuatu yang diberikan kepada anak didik
dalam kegiatan belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuan. Isi kurikulum meliputi
jenis-jenis bidang studi yang diajarkan dan isi program masing-masing bidang studi
tersebut. Bidang-bidang studi tersebut disesuaikan dengan jenis, jenjang maupun jalur
pendidikan yang ada. Kriteria yang dapat membantu pada perancangan kurikulum
dalam menentukan isi kurikulum. Kriteria itu antara lain:
a. Isi kurikulum harus sesuai, tepat dan bermakna bagi perkembangan siswa.
b. Isi kurikulum harus mencerminkan kenyataan sosial.
c. Isi kurikulum harus mengandung pengetahuan ilmiah yang tahan uji.
d. Isi kurikulum mengandung bahan pelajaran yang jelas
e. Isi kurikulum dapat menunjang tercapainya tujuan pendidikan.
3. Komponen Strategi dan Metode
Strategi dan metode merupakan komponen ketiga dalam pengembangan
kurikulum. Komponen ini merupakan komponen yang memiliki peran sangat penting,
sebab berhubungan dengan implementasi kurikulum. Strategi merujuk pada pendekatan

6
dan metode serta peralatan mengajar yang digunakan dalam pengajaran. Tetapi pada
hakikatnya strategi pengajaran tidak hanya terbatas pada hal itu saja. Pembicaraan
strategi pengajaran tergambar dari cara yang ditempuh dalam melaksanakan pengajaan,
mengadakan penilaian, pelaksanaan bimbingan dan mengatur kegiatan, baik yang
secara umum berlaku maupun yang bersifat khusus dalam pengajaran.
Strategi pelaksanaan kurikulum berhubungan dengan bagaimana kurikulum itu
dilaksanakan disekolah. Kurikulum merupakan rencana, ide, harapan, yang harus
diwujudkan secara nyata disekolah, sehingga mampu mampu mengantarkan anak didik
mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum yang baik tidak akan mencapai hasil yang
maksimal, jika pelaksanaannya menghasilkan sesuatu yang baik bagi anak didik.
Komponen strategi pelaksanaan kurikulum meliputi pengajaran, penilaian,
bimbingan dan penyuluhan dan pengaturan kegiatan sekolah. Strategi meliputi rencana,
metoda dan perangkat kegiatan yang direncanakan untuk mencapai tujuan tertentu.
Strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk
penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya / kekuatan dalam
pembelajaran. Upaya untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam
kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal, dinamakan
metode.
4. Komponen Evaluasi
Evaluasi kurikulum dimaksudkan menilai suatu kurikulum sebagai program
pendidikan untuk menentukan efisiensi, efektivitas, relevansi, dan produktivitas
program dalam mencapai tujuan pendidikan. Efisiensi berkenaan dengan penggunaan
waktu, tenaga, sarana dan sumber-sumber lainnya secara optimal. Efektivitas
berkenaan dengan pemilihan atau penggunaan cara atau jalan utama yang paling tepat
dalam mencapai suatu tujuan. Relevansi berkenaan dengan kesesuaian suatu program
dan pelaksanaannya dengan tuntutan dan kebutuhan baik dari kepentingan masyarakat
maupun peserta didik. Produktivitas berkenaan dengan optimalnya hasil yang dicapai
dari suatu program.
Evaluasi merupakan komponen untuk melihat efektifitas pencapaian tujuan.
Fungsi evaluasi menurut Scriven ( 1967 ) adalah evaluasi sebagai fingsi sumatif dan
evaluasi sebagai fungsi formatif. Evaluasi sebagai alat untuk melihat keberhasilan
pencapaian tujuan dapat dikelompokan kedalam dua jenis, yaitu tes dan non tes.

7
a. Tes
Tes digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam aspek kognitif
atau tingkat penguasai materi pembelajaran. Adapun jenis-jenis tes adalah
sebagai berikut:
1) Berdasarkan jumlah peserta.
a) Tes kelompok adalah tes yang dilakukan terhadap sejumlah siswa
secara bersama-sama.
b) Tes individual adalah tes yang dilakukan kepada seorang siswa
secara perorangan.
2) Berdasarkan cara penyusunannya.
a) Tes buatan guru disusun untuk menghasilkan informasi yang
dibutuhkan oleh guru bersangkutan.
b) Tes standar adalah tes yang digunakan untuk mengukur kemampuan
siswa.
3) Dilihat dari pelaksanaannya.
a) Tes tertulis adalah tes yang dilakukan dengan cara menjawab
sejumlah item soal dengan cara tertulis. Ada dua jenis tes yang
termasuk kedalam tes tertulis ini, yaitu tes essai dan tes objektif.
b) Tes lisan adalah bentuk tes yang menggunakan bahasa secara lisan.
Tes perbuatan adalah tes dalam bentuk peragaan.
b. Non Tes
Non tes adalah alat evaluasi yang biasanya digunakan untuk menilai aspek
tingkah laku termasuk sikap, minat, dan motivasi. Ada beberapa jenis non tes
sebagai alat evaluasi, diantaranya wawancara, observasi, studi kasus, dan skala
penilaian.
1) Observasi
Observasi adalah teknik penilaian dengan cara mengamati
tingkah laku pada situasi tertentu. Ada dua jenis observasi, yaitu
observasi partisipatif dan non partisipatif.
a) Observasi partisipatif adalah observasi yang dilakukan dengan
menempatkan observer sebagai bagian dimana observasi itu
dilakukan.
b) Observasi non partisipatif adalah observasi yang dilakukan dengan
cara observer murni sebagai pengamat. Artinya, observer dalam

8
melakukan pengamatan tidak aktif sebagai bagian dari itu, akan
tetapi ia berperan smata-mata hanya sebagai pengamat saja.
2) Wawancara
Wawancara adalah komunikasi langsung antara yang
diwawancarai dan yang mewawancarai. Ada dua jenis wawancara, yaitu
wawancara langsung dan wawancara tidak langsung.
a) Wawancara langsung dimana pewawancara melakukan komunikasi
dengan subjek yang ingin dievaluasi.
b) Wawancara tidak langsung dilakukan dimana pewawancara ingin
mengumpulkan data subjek melalui perantara.
3) Studi Kasus
Studi kasus dilaksanakan untuk mempelajari individu dalam
periode tertentu secara terus-menerus.
5. Keterkaitan Antara Komponen Satu Dengan yang Lainnya
Komponen tujuan berhubungan dengan arah atau hasil yang diharapkan. Dalam
skala makro rumusan tujuan kurikulum erat kaitannya dengan filsafat atau sistem nilai
yang dianut masyarakat. Bahkan rumusan tujuan menggambarkan suatu masyarakat
yang dicita-citakan. Isi kurikulum merupakan komponen yang berhubungan dengan
pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa. Isi kurikulum itu menyangkut semua
aspek baik yang berhubungan dengan pengetahuan atau materi pelajaran yang biasanya
tergambarkan pada isi setiap mata pelajaran yang diberikan maupun aktivitas dan
kegiatan siswa. Baik materi maupun aktivitas itu seluruhnya diarahkan untuk mencapai
tujuan yang ditentukan.
Strategi berkaitan dengan upaya yang harus dilakukan dalam rangka pencapaian
tujuan. Strategi yang ditetapkan dapat berupa strategi yang menempatkan siswa sebagai
pusat dari setiap kegiatan, ataupun sebaliknya. Strategi yang berpusat kepada siswa
biasa dinamakan teacher centered. Strategi yang bagaimana yang dapat digunakan
sangat tergantung kepada tujuan dan materi kurikulum. Evaluasi merupakan komponen
untuk melihat efektivitas pencapaian tujuan. Dalam konteks kurikulum evaluasi dapat
berfungsi untuk mengetahui apakah tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai atau
belum, atau evaluasi digunakan sebagai umpan balik dalam perbaikan strategi yang
diterapkan.

9
C. Pertimbangan Dalam Memilih Desain Kurikulum
Dalam memilih desain kurikulum, pengembang perlu mempertimbangkan beberapa
hal dalam antara lain adalah:
1. Memudahkan dan mendorong seleksi serta pengembangan semua jenis
pengalaman belajar yang esensial bagi pencapaian prestasi belajar.
2. Memuat berbagai pengalaman belajar yang bermakna dalam rangka merealisasikan
tujuan–tujuan pendidikan.
3. Memungkinkan dan menyediakan peluang bagi guru untuk menggunakan prinsip-
prinsip belajar dalam memilih, membimbing, dan mengembangkan berbagai
kegiatan belajar di sekolah.
4. Memungkinkan guru untuk menyesuaikan pengalaman dengan kebutuhan,
kapasitas, dan tingkat kematangan siswa.
5. Mendorong guru mempertimbangkan berbagai pengalaman belajar anak yang
diperoleh diluar sekolah dan mengaitkannya dengan kegiatan belajar di sekolah.
6. Menyediakan pengalaman belajar yang berkesinambungan, agar kegiatan belajar
siswa berkembang sejalan dengan pengalaman terdahulu dan terus berlanjut pada
pengalaman berikutnya.
7. Kurikulum harus di desain agar dapat membantu siswa mengembangkan watak,
kepribadian, pengalaman, dan nilai-nilai demokrasi yang menjiwai kultur.
8. Desain kurikulum harus realistis, layak, dan dapat diterima.
D. Desain Pengembangan Kurikulum
Ada tiga bentuk organisisi kurikulum yang berorientasi pada disiplin ilmu, yaitu:
subject centered desain, learned centered desain, problem centered desain. Setiap desain
kurikukum memberikan teknik atau cara yang efektif dalam proses pembelajaran agar
berjalan dengan efektif dan efisien. Tetapi tidak setiap desain kurikulum dapat dijadikan
pedoman dalam melaksanakn proses pembelajaran, karena setiap desain kurikulum
memiliki kelebihan dan kekurangan dalam pelaksanannya.
1. Subject Centered Design
Subject centered design curiculum merupakan bentuk desain yang paling
populer, paling tua dan paling banyak digunakan. Dalam subject centered design,
kurikulum dipusatkan pada isi atau materi yang akan diajarkan. Kurikulum tersusun
atas sejumlah mata-mata pelajaran, dan mata-mata pelajaran tersebut diajarkan secara
terpisah-pisah. Karena terpisah-pisahnya itu maka kurikulum ini disebut juga separated
subject curiculum.

10
Subject centered design berkembang dari konsep pendidikan klasik yang
menenkankan pengetahuan, nilai-nilai dan warisan budaya masa lalu, dan berupaya
untuk mewariskannya kepada generasi berikutnya. Karena mengutamakan isi atau
bahan ajar atau subject matter tersebut, maka desain kurikulum ini disebut juga subject
academic curriculum.
Model design curriculum ini mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan.
Beberapa kelebihan dari model ini adalah:
a. Mudah disusun, dilaksanakan, dievaluasi, dan disempurnakan
b. Para pengajarnya tidak perlu dipersiapkan khusus, asal menguasai ilmu atau
bahan yang akan diajarkan sering dipandang sudah dapat menyampaikannya.
Selain kelebihan dari model ini juga terdapat beberapa kekurangan model desain
adalah:
a. Karena pengetahuan diberikan secara terpisah-pisah, hal itu bertentangan
dengan kenyataan, sebab adalam kenyataan pengetahuan itumerupakan suatu
kesatuan.
b. Karena mengutamakan bahan ajar maka peran peserta didik sangat pasif.
c. Pengajaran lebih menekankan pengetahuan dan kehidupan masa lalu, dengan
demikian pengajaran lebih bersifat verbalitas dan kurang praktis.
Atas dasar tersebut, para pengkririk menyarankan perbaikan ke arah yang lebih
terintegrasi, praktis, dan bermakna serta memberikan peranyang lebih aktif kepada
siswa.
a. The Subject Design
The Subject Curiculum merupakan bentuk desain yang paling murni
dari subject centered design. Materi pelajaran disajikan secara terpisah-pisah
dalam bentuk mata-mata pelajaran. Model desain ini telah ada sejak lama.
Orang-orang Yunani kemudian Romaaw imengembangkan Trivium dan
Quadrivium. Trivium meliputi gramatika, logika, dan retorika, sedangkan
Quadrivium meliputi matematiks, geometri, astonomi, dan musik. Paada saat itu
pendidikan tidak diarahkan pada mencari nafkah, tapi oada pembentuakan
pribadi dan status sosial (Liberal Art). Pendidikan hanya di peruntukan bagi
anak-anak golongan bangsawan yang tidak usah bekerja mencari nafkah.
b. The Disciplines Design
Pada subject design belum ada kriteria yang tegas tentang apa yang
disebut subject (ilmu). Belum ada perbedaan antara matematika, psikologi

11
dengan teknik atau cara mengemudi, semuanya disebut subject. Pada disciplines
design kriteria tersebut telah tegas, yang membedakan apakah suatu
pengetahuan itu ilmu atau subject dan bukan adalah batang tubuh ke ilmuannya.
Batang tubuh keilmuan menentukan apakah suatu bahan pelajaran itu disiplin
ilmu atau bukan, Untuk menegaskan hal itu mereka menggunakan istilah
disiplin.
Isi kurikulum yang diberikan di sekolah adalah dusiplin-disiplin ilmu.
Menurut pandangan ini sekolah adalah mikrokosmos dari dunia intelek, batu
pertama dari hal itu adalah isi dari kurikulum. Para pengembang kurikulum dari
aliran ini berpegang teguh pada disiplin-disiplin ilmu seperti : fisika, biologi,
psikologi, sosiologi dan sebagainya.
Perbedaan lain adalah dalam tingkat penguasaan, disciplines design
tidak seperti subject design yang menekankan penguasaab fakta-fakta dan
informasi tetapi pada pemahaman (understing). Para peserta didik didorong
untuk memahami logika atau struktur dasar suatu disiplin, memahami konsep-
konsep, ide-ide dan prinsip-prinsip penting juga didorong untuk memahami cara
mencari dan menemukannya (modes of inquiry and discovery). Hanya dengan
meguasai hal-hal itu, kata mereka, peserta didik akan memahami masalah dan
mampu melihat hubungan berbagai fenomena baru.
c. The Broad Fields Design
Dalam model ini mereka menyatukan beberapa mata pelajaran yang
berdekatan atau berhubungan menjadi satu bidang studi seperti sejarah,
Geografi, dan Ekonomi digabung menjadi ilmu Pengetahuan sosial, Aljabar,
Ilmu ukur, dan Berhitung menjadi matematika, dan sebagainya.
Tujuan pengembangan kurikulum broad field adalah menyiapakan para
siswa yang dewasa ini hidup dalam dunia informasi yang sifatnya spesialistis,
dengan pemahaman yang bersifat menyeluruh. Bentuk kurikulum ini banyak
digunakan di sekolah menengah pertama, di sekolah menengah atas
penggunaannya agak terbatas apalagi di perguruan tinggi sedikit sekali.
2. Learner-centered design
Sebagai reaksi sekaligus penyempurnaan terhadap beberapa kelemahan
subject centered design berkembang learner centered design. Desai ini berbeda
dengan subject centered, yang bertolak dari cita-cita untuk melestarikan dan

12
mewariskan budaya, dan karena itu mereka mengutamakan peranan isi dari
kurikulum.
Learner centered, memberi tempat utama kepada peserta didik. Di dalam
pendidikan atau pengajaran yang belajar dan berkembang adalah peserta didik
sendiri. Guru atau pendidik hanya berperan menciptakan situasi belajar-mengajar,
mendorong dan memberikan bimbingan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
a. The Activity atau Experience Design
Model desain berawal pada abad ke 18, atas hasil karya dari
rousseau dan Pestalozzi, yang berkembang pesat pada tahun 1920/1930an
pada masa kejayaan pendidikan progresif. Beberapa ciri utama activity atau
experience design:
1) Pertama,struktur kurikulum ditentukan oleh kebutuhan dan minat
peserta didik. Dalam implementasinya guru hendaknya:Menemukan
minat dan kebutuhan peserta didik, Membantu para siswa memilih
mana yang paling penting dan urgen.
2) Kedua, karena struktur kurikulum didasarkan atas minat dan kebutuhan
peserta didik, maka kurikulum tidak dapat di susun jadi sebelumnya,
tetapi disusun bersama oleh siswa.
3) Ketiga, Desain kurikulum menekankan prosedur pemecahan masalah,
maksudnya dalam pembelajaran tentu akan di dapatkan masalah dan
dalam activity design perlu mempunyai cara memecahkan masalah
tersebut.
3. Problem centered design
Problem centered design berpangkal pada filsafat yang mengutamakan
peranan manusia (man centered). Problem centered desain menekankan manusia
dalam kesatuan kelompok yaitu kesejahteraan masyarakat. Problem cebtered design
menekankan pada isi maupun perkembangan peserta didik. Minimal ada dua variasi
model desain kurikulum ini, yaitu the areas of living design, dan The core design.
a. The Area of Living Design
Dalam prosedur belajar ini tujuan yang bersifat proses (process
objectives) dan yang bersifat isi (content objectivies) diintegrasikan.
Penguasaan informasi- unformasi yang bersifat pasiftetap dirangsang. Cirri
lai yaiti menggunakan pengalaman dan situasi – situasi dari peserta didik
sebagai pembuka jalan dalam mempelajari bidang-bidang kehidupan.

13
Dalam the areas of living hubungannya dengan bidang-bidang
kehidupan sehingga dapat dikatakan suatu desain bidang-bidang kehidupan
yang dirumuskan dengan baikakan merangkumkan pengalaman-
pengalaman peserta didik.
b. The Core Design
The cores design timbul sebagai reaksi utama kepada separate
subject design, yang sifatnya terpisah-pisah. Dalam mengintegrasikan
bahan ajar , mereka memilih mta mata pelajaran tertentu sebagai inti (core).
Pelajaran lainnya dikembangkan kan disekitar core tersebut. Menurut
konsep ini inti-initi bahn ajar dipusatkan pada kebutuhan individual dan
sosial. The core design biasa juga disebut the core curriculum.

14
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Menurut UU RI no.20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, kurikulum adalah seperangkat
rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, serta cara yang
digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai
tujuan pendidikan tertentu. Selanjutnya komponen-komponen kurikulum yaitu:
1. Komponen tujuan berupa target atau sasaran yang mesti dicapai dari melaksanakan
suatu kurikulum.
2. Komponen Isi/Materi didesain untuk mencapai komponen tujuan.
3. Komponen Metode/Strategi merupakan upaya untuk mengimplementasikan rencana
yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara
optimal.
4. Komponen Evaluasi berguna untuk menilai, apakah proses kurikulum berjalan secara
optimal atau tidak.

Desain kurikulum merupakan rencana pembelajaran yang harus dilaksanakan oleh guru
dan siswa dalam proses pembelajaran. Desain kurikulum yang dapat digunakan diantaranya
adalah subject centered design, learned centered design, problem centered design. Setiap
design kurikukum memberikan teknik atau cara yang efektif dalam proses pembelajaran
agar berjalan dengan efektif dan efisien. Tetapi tidak setian design kurikulum dapat
dijadikan sebagai salah satu pedoman dalam melakukan proses pembelajaran. Jadi setiap
design kurikulum memiliki kelebihan dan kekurangan dalam pelaksanannya.

B. Saran
Kami menyadari sepenuhnya bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak
terdapat kesalahan dan kekurangan didalam pembuatan makalah ini. oleh karena itu, dengan
kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan saran baik dari dosen maupun dari
pembaca. atas kritik dan saran nantinya kamis ucapkan terima kasih.

15
DAFTAR PUSTAKA

Adi, Abdulllah. 2006. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik, Yogyakarata: Ar-Ruzz
Media.

Arifin, Zainal. 2011. Konsep & Model Pengembangan Kurikulum, Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.

Hamalik, Oemar. 2008. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara.

Masril, Fanny Rahmatina Rahim.2017.Kurikulum Fisika SMA. Padang : SUKABINA press,


CETAKAN PERTAMA DESEMBER 2017. ISBN : 978-602-6277-60-2.

Nasution, S. 2006. Kurikulum dan Pengajaran. Jakarta : Bumi Aksara.

Permendiknas No. 22 Tahun 2007.

Subandijah. 1993. Pengembangan dan Inovasi Kurikulum. Jakarta : PT Raja Grafindo.

Sukmadinata, Nana Syaodih Sukmadinata. 1997. Pengembangan Kurikulum Teori dan


Praktek. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Susilo, Joko Muhammad. 2008 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Yogyakarta: Pustak
Belajar.

Tarigan, Henry Guntur. 1993. Dasar-Dasar Kurikulum Bahasa. Bandung : Angkasa Bandung.

Team Pembina Mata Kuliah Didaktik Metodik. 1995. Pengantar Didaktik Metodik Kurikulum
PBM. Jakarta : Grafindo Persada. Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional.

16