Anda di halaman 1dari 2

Model dan Teknik Evaluasi Kurikulum

Dini Wahyu Mulyasari (S812102002)

1. Model evaluasi kurikulum


a. Stake’s Congruence-Contingency Model, bertujuan untuk menangkap kompleksitas
dari inovasi pendidikan atau perubahan dengan membandingkan hasil yang diharapkan
dan hasil yang diamati dalam berbagai tingkat operasi. Dalam model ini ada tiga data
yang harus dikumpulkan:
1) Antecedents / Prerequisites, yaitu kondisi yang ada sebelum implementasi
kurikulum yang mungkin mempengaruhi hasil.
2) Transactions / Curriculum, yaitu kegiatan yang terjadi saat pelaksanaan kurikulum.
3) Outcomes/ Result, yaitu hasil implementasi kurikulum.
b. Model CIPP Stufflebeam, dalam model ini terdapat empat hal yang harus diperhatikan
pada saat proses evaluasi yakni:
1) Evaluasi konteks, dimaksud untuk menilai kebutuhan untuk membantu menetapkan
tujuan.
2) Evaluasi masukan, dilaksanakan untuk menilai alternatif pendekatan, rencana
tindak, rencana staf dan pembiayaan bagi kelangsungan program dalam memenuhi
kebutuhan kelompok sasarna serta mencapai tujuan yang ditetapkan.
3) Evalusi proses, ditujukan untuk menilai implementasi dari rencana yang telah
ditetapkan guna membantu para pelaksana dalam menjalankan kegiatan dan
kemudian akan dapat membantu kelompok pengguna lainnya untuk mengetahui
program kerja dan memperkirakan hasilnya.
4) Evaluasi hasil (product) dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi dan
menilai hasil yang dicapai, yang diharapkan dan tidak diharapkan, jangka pendek
dan jangka panjang.
c. Eisner’s Connoisseurship and Criticism Model, pada dasarnya memiliki lima dimensi
evaluasi, yaitu:
1) Evaluasi yang disengaja (intended evaluation) mengacu pada penilaian pribadi
tentang nilai, prestasi, dan nilai kurikulum.
2) Evaluasi struktural (structural evaluation) menilai desain kurikulum dan organisasi
sekolah.
3) Evaluasi kurikulum (curricular evaluation) menilai isi khusus kurikulum dan
bagaimana mereka diatur dan diurutkan.
4) Evaluasi pedagogis (pedagogical evaluation) menilai desain instruksional dan
strategi pengajaran.
5) Evalutif evaluation (evaluative evaluation) menilai evaluasi itu sendiri.
d. Illuminative Evaluation Model, Evaluasi iluminatif memiliki tiga langkah:
1) Observation (Pengamatan).
Evaluator mendapatkan gambaran umum tentang program pembelajaran
2) Further inquirry (Penyelidikan lebih lanjut).
3) Explanation (Penjelasan).
Untuk memberikan data tentang apa yang terjadi dengan program dan mengapa.
e. Model Penelitian Tindakan (Action Research Model), Ada empat tahapan dalam
model ini, yaitu:
1) Mengidentifikasi tujuan pembelajaran (goals dan purposes)
Di tahap ini guru mengidentifikasi apa yang ingin dicapai dari pembelajaran dan apa
yang ingin siswa capai selama pembelajaran.
2) Menentukan alat untuk memonitor kurikulum.
3) Merefleksikan bagaimana menginterpertasikan data yang dikumpulkan.
4) Mengaktivasi dan melanjutkan proses (refleksi, penilaian, modifikasi) penelitian
tindakan.
2. Teknik Evaluasi Kurikulum
Berikut ini beberapa cara dalam melaksanakan evaluasi kurikulum: a. Observasi, b.
Interview, c. Kuesioner, d. Unobstructive Measure (Pengukuran tanpa halangan), d. Test, e.
Penilaian Alternatif