Anda di halaman 1dari 1

FPSO di Indonesia

FPSO merupakan fasilitas produksi migas terapung terintegrasi yang memberikan


solusi menyeluruh dalam menghasilkan migas. Mengapa menyeluruh? Karena hampir
semua proses produksi migas dari mulai reservoir sampai transfer ke kapal kargo
terjadi disini. Karena itu pula desain FPSO bisa menjadi sangat kompleks
dibandingkan dengan desain fixed platform.

FPSO pertamakali di dunia adalah Shell Castellon yang beroperasi mulai tahun 1977
di laut mediterania pada kedalaman 117 meter. Saat ini ada lebih dari 270 FPSO
sedang dan telah beroperasi di dunia (Wikipedia). Pada 2016, Shell Turritella FPSO
akan menjadi FPSO system paling dalam di dunia dengan kedalaman 2,896 meter
(9,500 feet) [2]. Jika kita lihat juga  proyek FLNG Shell Prelude, sepertinya Shell
adalah pioneer di bidang FPSO.

Di Indonesia sendiri jumlah FPSO yang sedang beroperasi hanya sebanyak 7 buah
[3]. Dibawah Brazil (32buah), UK (14 buah) dan Angola(13 buah) (offshore-mag).
Hal ini merupakan ironi karena selain pulau-pulau yang menyebar, luas lautan
Indonesia yang lebih dominan dibandingkan dengan negara2 pemilik FPSO terbanyak
lainnya.  Selain itu, berdasarkan data dari sumber yang sama, FPSO Indonesia hanya
bermain pada kedalaman sekitar 100 meter. Masih jauh dibawah kedalaman optimal
rata-rata FPSO sebesar 1000 meter ke atas [4].

Jumlah FPSO memang bukan indikator utama kemajuan industri migas Indonesia.
Akan tetapi, jika dilihat dari perbandingan jumlah FPSO dibandingkan fasilitas fixed
platform dan luasan lautan Indonesia, sepertinya FPSO memiliki potensi penggunaan
yang lebih banyak pada masa depan migas Indonesia.

Data FPSO yang sedang beroperasi di Indonesia bisa dilihat pada table dibawah.
Sebaran FPSO yang sedang beroperasi di seluruh dunia bisa didapat pada gambar
dibawah. Data-data dibawah berasal dari publikasi offshore-mag.com [4]

Laporan tahunan SKK Migas tahun 2014 menyatakan ada 7 proyek utama yang
berskala besar dan diawasi khusus dimana 4 diantaranya kemungkinan adalah fasilitas
floating system [5]. Dari empat proyek floating system, ada 2 yang kemungkinan
menggunakan FPSO (atau FLNG) yaitu Bukit Tua Petronas Carigali Ketapang II dan
Abadi Inpex Masela. Kedua proyek lainnya kemungkinan berupa Floating Production
Unit yaitu Proyek Indonesia Deepwater Developemt Chevron dan Proyek Jangkrik
Eni Muara Bakau. Dengan bertambahnya jumlah FPSO, posisi Indonesia sebagai
pengguna teknologi FPSO bisa semakin terangkat dan sebanding dengan beberapa
Negara lainnya.