Anda di halaman 1dari 7

Mangkane kula suwun Allah itu hanya dhawuh:

ّ ‫فَا ْس ُجدُوا ّ ه‬
‫َلِل َوا ْعبُدُوا‬

Allah itu hanya dhawuh kau itu disuruh sujud, tidak ada di quran: ‫فاسجدوا هلل و اكملو في السجود‬

Nggak ada. Pokoknya asal sujud sudah jempol. jos!

Jangan repot. Apalagi kalau sampai jidatnya gosong, tambah jos. Itu kalau betulan lho.

Tapi itu bukan ukuran sujud diterima Allah. Tapi seandainya sujud tidak diterimalah, itu sudah
merupakan bukti baik. Kau tidak usah memaksakan diri diterima.

Insya Allah rohmat Allah yang luas, maaf-Nya yang luas, itu insyaallah pasti menerima.

Kau jangan suka membayangkan Allah tidak menerima sujud karena Allah ngendikan:

‫أنا عند ظن عبدي بي‬

Karena itu benar yang disampaikan al-Hikam:

Kau menyangka Allah tidak menerima itu berarti kau sudah menyifati Allah dengan sifat suudzan. Paham
ya!

Jadi segala hal negatifmu diingatkan supaya dirimu tidak husnudzan pada Allah SWT. Itu berarti dirimu
mengalami:

ّ ‫اس ْال َخنه‬


‫اس‬ ّ ‫ّم ْن ش َّر ْال َوس َْو‬
ّ ‫ُور النه‬
‫اس‬ ّ ‫صد‬ ُ ‫الهذّي ي َُو ْس ّو‬
ُ ‫س فّي‬

Saya punya hadits yang saya ingat sungguh-sungguh:

Ada orang melarat: punyanya hanya sandal untuk padang pasir. Bahannya dari karet,jelek sekali. Dari
ban bekaslah kalau di Indonesia. Dia sowan Kanjeng Nabi.

Ya Rasulalllah. Saya ini disuruh apa? Ya kau yang syukur.

Yang saya syukuri apa? Semua orang punya harta, saya tidak."

Nabi menjawabnya lucu, "Kau punya sandal?"

"Punya."

"Seandainya kau supaya tidak punya harta, sandalmu kuminta."

"Janganlah, Nabi. Nanti kaki saya kepanasan."

"Lha iya. Itu artinya kau masih punya sesuatu. Sudah, kau syukur karena punya sandal saja."

"Nggih, siap!"
Tiap bertemu shahabat dan orang lain, dia bilang: "Alhamdu lillah masih punya sandal."

Jadi dulu itu oleh Nabi SAW manusia dilatih syukurnya sedemikian. Sekarang ini tidak: orang lupa
nikmatnya.

Lha saya ini sudah terkenal disebut kyai besar. Saya kalau mendidik istri saya: "Alhamdulillah, Dik. Bisa
makan, nggak ngutang tetangga sudah alhamdu lillah, masih hidup, masih bisa sujud."

Anak saya, saya tidak sombong ini cerita tahaddis binni'mat, tiap kali minta uang ke saya tidak berani di
atas 200ribu. Dia selalu bilang, "Nanti kalau Bapak dari Yogya, saya minta uang 200ribu."

Karena memang saya didik sederhana. Saya sendiri kalau ke Yogya juga sering naik bus sampai
sekarang. Pokoknya saya didik hidup itu sendirian. Anak saya beli terasi juga biasa. Ya karena tadi.
Jangan suka melatih anak misalnya: "Enak jadi ning/gus (putra/putri kyai), santrinya banyak, bisa
gampang disuruh2.Enak ya jadi kyai di mana-mana disambut."

Jangan terbiasa begitu, karena nikmat ini akan hilang dan semu. Melatih nikmat itu dengan nikmat
kebenaran. Misalnya saya mengajar begini, maka: "Alhamdulillah bisa mensyariatkan hukum Allah."

Nggak perlu bangga dengan santri banyak, kau biasakan biar hati tidak mengonversi nikmat dengan
makhluk. Santri banyak itu juga makhluk, pengaruh (suatu jabatan, misal kyai) itu juga makhluk.

Makhluk itu:

‫َّللا َش ْيئًا‬ َ ‫لَ ْن يُ ْغنُوا‬


ّ ‫ع ْنكَ ّمنَ ه‬

tidak ada gunanya di hadapan Allah.

Yang ada gunanya adalah kita semua dipertemukan oleh haq, yaitu memuji Allah SWT.

Nabi Ibrahim sampai menjadi khalilurrahman, kalian saya ceritai, itu tidak karena ibadahnya khusyu',
sudah tentu semua tahu beliau khusyu', tapi karena beliau pernah bersujud ketika itu menangis.
Menangis kemudian didangu Allah, beliau menjawab:

‫إنه ليحزنني أال أرى في األرض أحدا ً غيري يعبدك‬


Saya menangisi Engkau, Ya Allah. Engkau dzat yang begitu pentingnya tapi yang menyembah Engkau
hanya saya. Seharusnya Engkau adalah pusat dari perhatian semua makhluk, tapi di Palestina yang
menyembah-Mu hanya saya. Saya menangis, dzat yang baiknya demikian kok hanya saya yang
memperhatikan-Mu."

Sama dengan saya mengajar tafsir al-Quran: ilmu sebaik ini kok yang tahu hanya saya saja. Makanya
saya sebar, saya ajarkan.

Itulah ciri orang yang dekat Allah: segala kompensasi itu hanya dengan Allah SWT.
Nabi Dawud pun demikian.

Tapi kau tidak. Kau malah senang sujud sendirian, seolah tidak apa-apa.Jadi kita ini egois.

Oleh sebab itulah kita ini disunatkan salat jamaah. Wong saat punya istri cantik saja, kau ingin orang lain
mengakui bahwa istrimu cantik,

Kalau punya mobil mewah saja kau ingin setiap orang mengakui bahwa mobilmu mewah,

Kalau punya karier kerja yang bagus saja, kau ingin orang mengakui bahwa kerjamu bagus.

Lha sekarang Allah itu dzat paling penting, seharusnya kita juga ingin semua orang mengakui Dialah
Tuhan. Karena itulah disunatkan shalat jamaah, supaya bersama-sama mengakui dzat yang digjaya.

Makanya semua ilmu itu wajib diajarkan, karena kita menyampaikan ke alam ini bahwa kita butuh
Allah SWT. Karena itu ilmu harus dimaklumatkan. Paham ya? Makanya wajib tabligh, wajib
menyampaikan. Paham ya? Ini penting.

Dulu itu orang masih pada soleh. Zaman akhir tidak. Tiap kali tambah soleh, tambah juga bodohnya.
Soleh selalu ibadah, saat ditanyai mengapa Anda belain begitu? Jawabnya, "Supaya saya masuk surga. Di
dunia sengsara."

Itu haddun nafsi, kan?

Kira-kira kelakuan orang macam ini saat di surga mau apa? Ya ingin ngeloni bidadari karena kapok
istrinya cerewet di dunia.

Kalau para Nabi tidak demikian. MEreka menajak orang menyembah Allah, Allah alhaqqusshamad.
yuqshadu ilaih. yg jadi tujuan. kok nggak disembah itu bagaimana? Makanya para nabi punya gerakan
ّ ‫فَ ّف ُّروا ّإلَى ه‬
ayo le. ‫َّللا‬

Ayo sowan Allah. Allah itu dzat yang kalian butuhkan. Mereka juga tidak membahas amalnya diterima
atau tidak. Tidak membahas itu.

Tapi sayangnya sekaran ini tidak. Sekarang ini soleh sedikit menjadi tambah egois, soleh sedikit menjadi
tambah egois. Repot orang sekarang. Nggak usah begitu. Yang penting sholat yang senang. Anak2 cucu2
kita ajari tauhid. Paham ya. Supaya mereka tahu dzat paling penting di dunia akhirat hanya Allah SWT.
Itu disebut:

َ ‫َو َجعَلَ َها َك ّل َمةً بَا ّقيَةً ّفي‬


‫ع ّق ّب ّه‬
Ibrahim adalah orang yang sukses menjadikan kalimat tayyibah menjadi kalimah yang selalu ada di anak
keturunannya.
Ibrahim menjelang kematian menangis tidak perkara mati, tapi: "Gusti, saya itu akan meninggal, nggak
masalah. Saya hanya khawatir, tidak ada lagi yang kampanye tentang Engkau."

Coba, kalian bayangkn begini saja. Andaikan kalian pengagum Sukarno, Anda mengeluh atau tidak ketika
tidak ada lagi orang membaca biografi Sukarno? Jawab saja! Mengeluh, kan! Andaikan kamu cucu para
wali, misalnya kau alumni Krapyak, Sarang, atau Lirboyo, ingin nggak semua santri dan semua orang
tahu biografi keunggulan kyaimu? Ingin itu, kan? Dan kamu akan kecewa misalnya ada orang bertanya,
"Mbah Ali Maksum itu siapa?", "Mbah Zubair itu siapa?", "Mbah Karim itu siapa?"

Ketika ada orang tanya demikian, kau kecewa tidak? Kau kecewa kan ada orang sepopuler itu,
semanfaat itu, kemudian masih ada orang tanya dia itu siapa.

Sekarng kau senang Allah, selalu bilang mencintai Allah. Kau bisakah membayangkan ada orang "Allah
itu siapa?"

makanya ciri agama itu:

fa'lam

harus diketahui bahwa di dunia itu lailahaillallah

Membayangkan itu Ibrahim menangis tersedu.

‫يز ْال َح ّكي ُم‬


ُ ‫َاب َو ْال ّح ْك َمةَ َويُزَ ّكي ّه ْم ۚ إّنهكَ أ َ ْنتَ ْالعَ ّز‬
َ ‫علَ ْي ّه ْم آيَاتّكَ َويُعَ ّل ُم ُه ُم ْال ّكت‬
َ ‫وال ّم ْن ُه ْم يَتْلُو‬
ً ‫س‬ ْ َ‫َربهنَا َوا ْبع‬
ُ ‫ث ّفي ّه ْم َر‬
Gusti, harus selalu ada orang yang Kau utus, orang yang selalu memaklumatkan bahwa Engkau itu Allah,
Engkau menurunkan hukum-hukummu,Engkau mengatur hidup ini dengan hukum-hukum-Mu. Harus
selallu ada orang-orang ini."

Karena Ibrahim tidk ingin Allah tidak disebut di bumi karena tidak da rasul, tidak ada ulama.

Tidak adaceritanya nabi akan mati menangisi, "Saya surga ataukah neraka, Gusti?"

Itu haddun nafsi, berarti mikir untung rugi.

Saya tidak punya cita2 demikian, tidak punya.

Saya mati paling agak nangis, "Gusti, yang mengaku-aku murid saya itu bisa baca apa tidak kok bawa
Jalalain ke mana-mana?"
Nggak2, nggak akan saya tangisi. Zaman akhir seperti itu sudah bagus. Nggak nggak saya tangisi. Biasa
saja klo mati ya mati saja.

Cuma kalau kalian doakan saya nangis. Itu kalian menghina saya.

Doanya keliru malah blaen. Jatah saya bidadari 300, taunya RUkhin hnya 70 malah mengurangi jatah
saya.

Jadi para nabi para wali kepikirannya satu: jangan sampai agama ini tidak berlangsung. Yang dipikir itu
keberlangsungan agama.

Oleh karena itu Ibrahim disebut Bapak Agama Tauhid, karena setiap beliau mendapat kebenaran, itu
tidak pernah berpikir dirinya sendiri.

ّ ‫إّنّي َجا ّعلُكَ ّللنه‬


‫اس إّ َما ًما ۖ قَا َل َو ّم ْن ذُ ّريهتّي‬

Jadi mudahnya, setiap kali ada kebenaran, yang dipikirkan adalah: Apakah ini nanti ada yang
meneruskan? Anak cucuku bagaimana?

Sehingga ketika Nabi Ibrahim sudah paham tauhid, sudah di shibghah tauhid oleh Allah, beliau
berstatus:

َ ‫َو َجعَلَ َها َك ّل َمةً بَاقّيَةً فّي‬


‫ع ّقبّ ّه‬
Dan kalimat ini kemudian dijadikan Ibrahim ke anak turunnya. Gampangnya kita senang al-Quran jug
harus sampai ke anak keturunan, senang Allah juga hingga ke anak turun. Senang Rasulullah hingga ke
anak keturunan.

Karena kita nggak ingin dunia ini tanpa menyebut Allah tanpa menyebut Rasulullah.

Jika sudah begitu sungguh-sungguh, berarti kau:

‫ فَا ْد ُخ ّلي فّي ّعبَادّي‬,

barulah

‫َوا ْد ُخ ّلي َجنه ّتي‬

Jadi semua yang kau pikir itu kelangsungan agama.


Orang soleh zaman akhir tidak begitu. Tambah soleh tambah egois. Ditanya selalu masuk surga
orientasinya. Itu juga baik, tapi juga kacau secara ilmu hakekat kacau, masalah itu. Tapi ya baik,
maksudnya daripada orang dugem, lihat konser ya lebih baik itu. Tapi membandingkannya ya dengan
semacam itu. Kalau dibandingkan dengan wali-wali ya jauh.

Jadi keinginan orang-orang soleh itu semua adalah:

ٍ ‫تُؤْ تّي أ ُ ُكلَ َها ُك هل ّح‬


‫ين بّإّ ْذ ّن َربّ َها‬
Keinginan kita itu pokoknya:

‫اء‬
ّ ‫س َم‬
‫ع َها فّي ال ه‬ ْ َ ‫ط ّيبَ ٍة أ‬
ُ ‫صلُ َها ثَابّتٌ َوفَ ْر‬ َ ‫طيّبَةً َك‬
َ ٍ‫ش َج َرة‬ َ ً‫َّللا َمث َ ًًل َك ّل َمة‬
ُ‫ب ه‬ َ ‫ض َر‬ َ ‫أَلَ ْم ت ََر َكي‬
َ ‫ْف‬

Pokoknya kalimat tauhid harus sampai pada:

ٍ ‫تُؤْ تّي أ ُ ُكلَ َها ُك هل ّح‬


‫ين بّإّ ْذ ّن َربّ َها‬
Bahwa kalimat tauhid itu kalimat yang selalu memberi makanan, selalu memberi manfaat kepada kita,
pada anak-anak kita, pada cucu-cucu kita.

ٍ ‫تُؤْ تّي أ ُ ُكلَ َها ُك هل ّح‬


‫ين ّبإّ ْذ ّن َر ّب َها‬

Sampai ketika kerja juga demi kalimat tauhid.

Kita nikmati hidup juga demi kalimat tauhid.

Kita menjabat juga demi melangsungkan kalimat tauhid.

Kita kaya juga demi menghidupkan kalimat tauhid.

Semua demi kalimat tauhid.

Jika sudah begitu itu, kalian layak mendapat status HIDUP. Jika tidak begitu, lebih baik matilah. Makanya
Allah dhawuh:

‫ع ْن بَ ّينَ ٍة‬ َ َ‫ّليَ ْهلّكَ َم ْن َهلَك‬


‫ع ْن بَ ّينَ ٍة َويَحْ يَ ٰى َم ْن َح ه‬
َ ‫ي‬
Ketika Allah sudah murka, manusia yang tidak mengerti tauhid itu biar matilah. Yang pantas hidup itu
manusia yang tahu tauhid. Itu ayatnya:

‫ع ْن بَيّنَ ٍة‬ َ َ‫ّليَ ْهلّكَ َم ْن َهلَك‬


‫ع ْن بَيّنَ ٍة َويَحْ يَ ٰى َم ْن َح ه‬
َ ‫ي‬
Apa gunanya hidup tidak tahu tuhan?

Tapi jangan mati sekarang lho ya.

Kapan-kapan saja sesuai jadwalnya.


Maksudnya ayat itu begini lho:

Kalian berani hidup itu juga karena membela tauhid.

Jangan kok terus mati sekarang, kasihan anak istrimu. Karena orang itu kalau tidak wali, sekali mati juga
terlantar keluarganya. Zaman hidupnya saja terlantar apalagi ditinggal mati.

Maksudnya ayat itu, yang sah hidup itu:

‫ع ْن بَيّنَ ٍة‬
َ ‫ي‬
‫َح ه‬

Maksudnya yang sah hidupnya itu yang hidupnya bersaksi kepada kebenaran haq/kebenarannya Allah
SWT. Makanya Allah dhawuh:

‫ع ْن بَيّنَ ٍة‬ َ َ‫ّليَ ْهلّكَ َم ْن َهلَك‬


‫ع ْن بَيّنَ ٍة َويَحْ يَ ٰى َم ْن َح ه‬
َ ‫ي‬
Gampangnya jika diterjemahkan: yang nggak tahu tauhid, biarlah sana mati. Maksudnya itu tidak kok
terus mati nyata, tapi dianggap mati.

Makanya Allah pernah marah:

ُ ٰ ‫ب اله ّذ ۡينَ يَ ۡس َمعُ ۡونَ ؕؔ َو ۡال َم ۡو ٰتی َي ۡبعَث ُ ُہ ُم‬


‫َّللا‬ ُ ‫اّنه َما يَ ۡست َّج ۡي‬
Jadi gampangannya: Yang tahu ayat-ayatKu ya orang2 yang hidup itu. Yang tidak tahu, ya anggap orang
mati gitu saja. Gayanya hidup, tapi hakekatnya mati. Makanya orang yang tidak menerima kebenaran
itu dianggap mati, gitu saja. Gayanya hidup, hakekatnya mati.

Makanya orang yang tidak menerima kebenaran itu dianggap mati. Dianggap buta, tuli, mati.

‫ي فَ ُه ْم َال يَ ْر ّجعُو َن‬ ُ ‫صم بُ ْك ٌم‬


ٌ ‫ع ْم‬ ُ

Paham ya? Jadi, kalian ngaji yang senang, untuk mengesahkan hidup kalian, karena hidup kalian sah itu
setelah:

‫ع ْن بَ ّينَ ٍة‬ ‫َويَحْ يَ ٰى َم ْن َح ه‬


َ ‫ي‬
Diingat-ingat ya!