Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

CIDERA KEPALA RINGAN

Disusun Oleh :

Nama : Leni Nurhayati


Nim : 2020207209155
Kelas : RSUD Mayjend HM Ryacudu

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PRINGSEWU
LAMPUNG 2020/2021
LAPORAN PENDAHULUAN
CIDERA KEPALA RINGAN

1. KONSEP PENYAKIT
a. Definisi
Cedera kepala ringan adalah hilangnya fungsi neurology atau menurunnya
kesadaran tanpa menyebabkan kerusakan lainnya (Smeltzer,2002). Cedera
kepala ringan adalah trauma kepala dengan GCS:15 (sadar penuh) tidak ada
kehilangan kesadaran, mengeluh pusing dan nyeri kepala, hematoma, laserasi
dan abrasi (Mansjoer,2000). Cedera kepala ringan adalah cedera kepala
tertutup yang ditandai dengan hilangnya kesadaran sementara (Corwin,2000)
Jadi cedera kepala ringan adalah cedera karena tekanan atau kejatuhan benda
tumpul yang dapat menyebabkan hilangnya fungsi neurology sementara atau
menurunya kesadaran sementara, mengeluh pusing nyeri kepala tanpa adanya
kerusakan lainnya.
Secara umum cedera kepala dapat diklasifikasikan menurut nilai skala
glasgow, sebagai berikut :
1. Ringan (GCS 13-15)
Dapat terjadi kehilangan kesadaran atau amnesia tetapi kurang dari 30
menit
Tidak ada kontusio tengkorak, tidak ada fraktur serebral, hematoma
2. Sedang (GCS 9 – 12)
Kehilangan kesadaran dan atau amnesia lebih dari 30 menit tetapi kurang
dari 24 jam.
Dapat mengalami fraktur tengkorak.
3. Berat (GCS 3 – 8)
Kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia lebih dari 24 jam.
Juga meliputi kontusio serebral, laserasi, atau hematoma intrakranial

b. Penyebab
Penyebab cedera kepala adalah kecelakaan lalu lintas, perkelahian, jatuh, dan
cedera olah raga, cedera kepala terbuka sering disebabkan oleh pisau atau
peluru. Cedera kepala merupakan salah satu penyebab terbesar kematian dan
kecacatan utama pada usia produktif dan sebagian besar terjadi akibat
kecelakaan lalu lintas. Di samping penanganan dilokasi kejadian dan
transportasi korban ke rumah sakit, penilaian dan tindakan awal diruang gawat
darurat sangat menentukan pelaksanaan dan prognosis selanjutnya (Corwin,
2000).

c. Klasifikasi
Cidera kepala diklasifikasikan menjadi dua :
1. Cidera kepala terbuka
2. Cidera kepala tertutup
1. Cidera kepala terbuka
Luka terbuka pada lapisan-lapisan galea tulang tempurung kepala
duramater disertai cidera jaringan otak karena impressi fractura berat.
Akibatnya, dapat menyebabkan infeksi di jaringan otak. Untuk
pencegahan, perlu operasi dengan segera menjauhkan pecahan tulang dan
tindakan seterusnya secara bertahap.

Fractura Basis Cranii


Fractura ini dapat terletak di depan, tengah, atau di belakang. Gejala
fractura di depan:
1. Rhino liquore disertai lesi di sinus-frontalis pada ethmoidal, spenoidal,
dan arachnoidal.
2. Pneunoencephalon, karena pada fractura basis cranii udara dari sinus
maksilaris masuk ke lapisan selaput otak encepalon.
3. Monokli haematoma, adalah haematoma pada biji mata, karena pada
orbita mata dan biji lensa mata memberi gejala pendarahan
intracranialis pula.
Fractura bagian tengah basis cranii antara lain memberi gejala khas
menetesnya cairan otak bercampur darah dari telinga: otoliquor,
melalui tuba eustachii. Gambaran rontgen sebagai tanda khas pada
fractura basis cranii selalu hanya memperlihatkan sebagian. Karena itu,
dokter-dokter ahli forensik selalu menerima kalau hanya ada satu
tanda-tanda klinik.
2. Cidera kepala tertutup
Pada tulang kepala, termasuk di antaranya selaput otak, terjadi
keretakan-keretakan. Dalam keadaan seperti ini, timbul garis/linea
fractura sedemikian rupa sehingga menyebabkan luka pada daerah
periferia a. meningia media, yang menyebabkan perdarahan arteri.
Haematoma dengan cepat membesar dan gambaran klinik juga cepat
merembet, sehingga tidak kurang dari 1 jam terbentuk
haematomaepiduralis. Penentuan diagnosis sangat berarti lucidum
intervalum (mengigat waktu yang jitu dan tepat). Jadi, pada epiduralis
haematoma, sebenarnya jaringan otak tidak rusak, hanya tertekan
(depresi). Dengan tindakan yang cepat dan tepat, mungkin pasien dapat
ditolong. Paling sering terdapat di daerah temporal, yaitu karena
pecahnya pembulnh darah kecil/perifer cabang-cabang a. meningia
media akibat fractura tulang kepala daerah itu (75% pada Fr. Capitis).

a. Epiduralis haematoma
Pada frontal, parietal, occipital dan fossa posterior, sin.
transversus. Foto rontgen kepala sangat berguna, tetapi yang lebih
penting adalah pengawasan terhadap pasien. Saat ini, diagnosis yang
cepat dan tepat ialah CT scan atau Angiografi. Kadangkala kita
sangat terpaksa melakukan "Burr hole Trepanasi", karena dicurigai
akan terjadi epiduralis haematoina. Dengan ini sekaligus bisa
didiagnosis dan dekompresi, sebab terapi untuk epiduralis
haematoma adalah suatu kejadian yang gawat dan harus segera
ditangani.
b. Subduralis haematoma akut
Kejadian akut haematoma di antara durameter dan corteks,
dimana pembuluh darah kecil sinus vena pecah atau terjadi
perdarahan. Atau jembatan vena bagian atas pada interval yang
akibat tekanan lalu terjadi perdarahan. Kejadiannya keras dan cepat,
karena tekanan jaringan otak sehingga darah cepat tertuangkan dan
memenuhi rongga antara durameter dan corteks. Kejadian dengan
cepat memberi tanda-tanda meningginya tekanan dalam jaringan otak
(TIK = Tekanan Intra Kranial).
c. Subrachnoidalis Haematoma
Kejadiannya karena perdarahan pada pembuluh darah otak,
yaitu perdarahan pada permukaan dalam duramater. Bentuk paling
sering dan berarti pada praktik sehari-hari adalah perdarahan pada
permukaan dasar jaringan otak, karena bawaan lahir aneurysna
“pelebaran pembuluh darah”. Ini sering menyebabkan pecahnya
pembuluh darah otak. Gambaran klinik tidak menunjukkan gejala-
gejala penyakit tetapi terjadi gangguan ingatan karena timbulnya
gangguan meningeal. Akut Intracerebralis Haematoma terjadi karena
pukulan benda tumpul di daerah korteks dan subkorteks yang
mengakibatkan pecahnya vena yang besar atau arteri pada jaringan
otak. Paling sering terjadi dalam subkorteks. Selaput otak menjadi
pecah pula karena tekanan pada durameter bagian bawah melebar
sehingga terjadilah "subduralis haematoma", disertai gejala
kliniknya.

d. Contusio Cerebri
Di antara yang paling sering adalah bagian yang berlawanan
dengan tipe centralis - kelumpuhan N. Facialis atau N. Hypoglossus,
atau kelumpuhan syaraf-syaraf otak, gangguan bicara, yang
tergantung pada lokalisasi kejadian cidera kepala. Contusio pada
kepala adalah bentuk paling berat, disertai dengan gegar otak
encephalon dengan timbulnya tanda-tanda koma, sindrom gegar otak
pusat encephalon dengan tanda-tanda gangguan pernapasan,
gangguan sirkulasi paru - jantung yang mulai dengan bradikardia,
kemudian takikardia, meningginya suhu badan, muka merah,
keringat profus, serta kekejangan tengkuk yang tidak dapat
dikendalikan (decebracio rigiditas).
d. Manifestasi klinis
Tanda-tanda dari terjadinya cedera kepala ringan adalah :
Pingsan tidak lebih dari 10 menit, tanda-tanda vital dalam batas normal atau
menurun, setelah sadar timbul nyeri, pusing, muntah, GCS 13-15, tidak
terdapat kelainan neurologis.
Gejala lain cedera kepala ringan adalah :
Pada pernafasan secara progresif menjadi abnormal, respon pupil mungkin
lenyap atau progresif memburuk, nyeri kepala dapat timbul segera atau
bertahap seiring dengan tekanan intrakranial, dapat timbul muntah-muntah
akibat tekanan intrakranial, perubahan perilaku kognitif dan perubahan fisik
pada berbicara serta gerakan motorik dapat timbul segera atau secara
lambat (Corwin, 2000).

e. Pathway
f. Pemeriksaan penunjang
1. CT-Scan : untuk mengidentifikasi adanya SOL hemografi,
menentukan ukuran ventrikuler, pergeseran jaringan.
2. Angiografiserebral : menunjukan kelainan sirkulasi serebral
seperti kelainan pergeseran jaringan otak akibat edema, perdarahan
trauma.
3. EEG : untuk memperlihatkan keberadaan atau berkembangnya
petologis.
4. Sinar X : mendeteksi adanya perubahan struktur tulang
( fraktur)
5. BAER ( Brain Auditori Evoker Respon ) : menentukan fungsi
korteks dan batang otak.
6. PET ( Position Emission Yomography ) menunjukan perubahan
aktivitas metabolisme pada otak.
7. Fungsi Lumbal CSS : dapat menduga adanya perubahan sub
araknoid.
8. Kimia atau elektrolit darah : mengetahui ketidakseimbangan
yang berperan dalam peningkatan TIK atau perubahan status mental.

g. Komplikasi
Komplikasi yang dapat timbul pada pasien yang mengalami trauma kapitis
yaitu:
a. Shock disebabkan karena banyaknya darah yang hilang atau rasa sakit
hebat. Bila kehilangan lebih dari 50% darah dapat mengakibatkan
kematian.
b. Peningkatan tekanan intrakranial, terjadi pada edema cerebri dan
hematoma dalam tulang tengkorak.
c. Meningitis, terjadi bila ada luka di daerah otak yang ada hubungannya
dengan luar.
d. Infeksi/kejang, terjadi bila disertai luka pada anggota badan atau
adanya luka pada fraktur tulang tengkorak.
e. Edema pulmonal akibat dari cedera pada otak yang menyebabkan
adanya peningkatan tekanan darah sistemik sebagai respon dari sistem
saraf simpatis pada peningkatan TIK. Peningkatan vasokontriksi tubuh
ini menyebabkan lebih banyak darah dialirkan ke paru-paru. Perubahan
permeabilitas pembuluh darah paru berperan dalam proses
memungkinkan cairan berpindah ke dalam alveolus.

h. Penatalaksanaan medis keperawatan


Penatalaksanaan klien cedera kepala ditentukan atas dasar beratnya cedera dan
dilakukan menurut prioritas, yang ideal penatalaksanaan tersebut dilakukan
oleh tim yang terdiri dari perawat yang terlatih dan dokter spesialis saraf dan
bedah saraf, radiologi, anastesi, dan rehabilitasi medik. Klien dengan cedera
kepala harus dipantau terus dari tempat kecelakaan, selama transportasi : di
ruang gawat darurat, unit radiology, ruang perawatan dan unit ICU sebab
sewaktu-waktu dapat berubah akibat aspirasi, hipotensi, kejang dan
sebagainya.
1. Air dan Breathing
a. Perhatian adanya apnoe
b. Untuk cedera kepala berat lakukan intubasi
endotracheal. Penderita mendapat ventilasi dengan oksigen 100% sampai
diperoleh AGD dan dapat dilakukan penyesuaian yang tepat terhadap
FiO2.
c. Tindakan hiperventilasi dilakukan hati-hati
untuk mengoreksi asidosis dan menurunkan secara cepat TIK pada
penderita dengan pupil yang telah berdilatasi. PCO2 harus dipertahankan
antara 25-35 mmhg.
2. Circulation
Hipotensi dan hipoksia adalah merupakan penyebab utama terjadinya
perburukan pada CKS. Hipotensi merupakan petunjuk adanya kehilangan
darah yang cukup berat, walaupun tidak tampak. Jika terjadi hipotensi maka
tindakan yang dilakukan adalah menormalkan tekanan darah. Lakukan
pemberian cairan untuk mengganti volume yang hilang sementara penyebab
hipotensi dicari.

3. disability (pemeriksaan neurologis)


a. Pada penderita hipotensi pemeriksaan neurologis
tidak dapat dipercaya kebenarannya. Karena penderita hipotensi yang tidak
menunjukkan respon terhadap stimulus apapun, ternyata menjadi normal
kembali segera tekanan darahnya normal
b. Pemeriksaan neurologis meliputi pemeriksaan
GCS dan reflek cahaya pupil

Menurut prioritas tindakan pada cedera kepala ditentukan berdasarkan beratnya


cedera yang didasarkan atas kesadaran pada saat diperiksa.
1. Klien dalam keadaan sadar  ( GCS : 15 ) :
a. Cedera kepala simleks ( simple head injury )
Klien mengalami cedera kepala tanpa diikuti dengan gangguan kesadaran,
amnesia maupun gangguan kesadaran lainya. Pada klien demikian
dilakukan perawatan luka, periksa radiologi hanya atas indikasi, kepada
kelurga diminta untuk mengobservasi kesadaran.
b. Kesadaran terganggu sesaat
Klien mengalami penurunan kesadaran sesaat setelah cedera kepala dan
saat diperiksa sudah sadar kembali, maka dilakukan pemeriksaan foto
kepala dan penatalaksanaan selanjutnya seperti cedera kepala simpleks.

2. Klien dengan kesadaran menurun


Cedera kepala ringan atau minor head injury ( GCS : 13-15) :
Kesadaran disorientasi atau not abay comand tanpa disertai defisit fokal
serebral. Setelah pemeriksaan fisik dilakukan perawatan luka, dilakukan foto
kepala, CT Scan Kepala dilakukan jika dicurigai adanya hematoma
intrakranial, misalnya ada interval lusid, pada follow up kesadaran semakin
menurun atau timbul lateralisasi, observasi kesadaran, pupil, gejala fokal
serebral disamping tanda-tanda vital. Klien cedera kepala biasanya disertai
dengan cedera multipel fraktur, oleh karena itu selain disamping kelainan
serebral juga bisa disertai dengan kelainan sistemik ( Corwin, 2000).

2. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


a. Pengkajian
Fokus pengkajian pada cedera kepala ringan meliputi:
1. Riwayat kesehatan meliputi: keluhan utama, kapan cidera terjadi,
penyebab cidera, riwayat tak sadar, amnesia, riwayat kesehatan yang lalu,
dan riwayat kesehatan keluarga.
2. Pemeriksaan fisik head to toe
3. Keadaan umum (tingkat kesadaran dan kondisi umum klien).
4. Pemeriksaan persistem dan pemeriksaan fungsional.

Sedangkan menurut dongoes tahun 2000 :


1. Sistem persepsi dan sensori (pemeriksaan panca indera: penglihatan,
pendengaran, penciuman, pengecap, dan perasa).
2. Sistem persarafan (tingkat kesadaran/ nilai GCS, reflek bicara, pupil,
orientasi waktu dan tempat).
3. Sistem pernafasan (nilai frekuensi nafas, kualitas, suara, dan kepatenan
jalan nafas).
4. Sistem kardiovaskuler (nilai TD, nadi dan irama, kualitas, dan frekuensi).
5. Sistem gastrointestinal (nilai kemampuan menelan, nafsu makan/ minum,
peristaltik, eliminasi)
6. Sistem integumen (nilai warna, turgor, tekstur dari kulit, luka/ lesi).
7. Sistem reproduksi.
8. Sistem perkemihan (nilai frekuensi BAK, volume BAB)
9. Pola Makan / cairan.
Gejala : mual, muntah, dan mengalami perubahan selera.
Tanda : muntah kemungkinan muntah proyektil, gangguan menelan
(batuk, air liur keluar,disfagia).
10. Aktifitas / istirahat
Gejala : merasa lemah, letih, kaku, kehilangan keseimbangan.
Tanda : perubahan kesadaran, letargie, hemiparese, kuadreplegia, ataksia,
cara berjalan tak tegap, masalah keseimbangan, kehilangan tonus otot dan
tonus spatik.
11. Sirkulasi
Gejala : normal atau perubahan tekanan darah.
Tanda : perubahan frekuensi jantung (bradikaria, takikardia yang diselingi
disritmia).
12. Integritas ego
Gejala : perubahan tingkah laku kepribadian (terang atau dramatis)
Tanda : cemas mudah tersinggung, delirium,agitasi, bingung, depresi dan
impulsive.
13. Eliminasi
Gejala : inkontinensia kandung kemih / usus atau megalami gangguan
fungsi,

14. Neurosensori
Gejala : kehilangan kesadaran, amnesia seputar kejadian, vertigo, sinkope,
tinnitus, kehilangan pendengaran, Perubahan dalam penglihatan seperti
ketajamannya,  diplopia, kehilangan sebagian lapang pandang, fotopobia.
Tanda : perubahan status mental (oreintasi, kewaspadaan, perhatian
/konsentrasi, pemecahan masalah, pengaruh emosi atau tingkah laku dan
memori). Perubahan pupil (respon terhadap cahaya simetris),
Ketidakmampuan kehilangan pengideraan seperti pengecapan, penciuman
dan pendengaran. Wajah tidak simetris, gengaman lemah tidak seimbang,
reflek tendon dalam tidak ada atau lemah, apaksia, hemiparese, postur
dekortikasi atau deselebrasi, kejang sangat sensitivitas terhadap sentuhan
dan gerakan.
15. Nyeri dan kenyamanan
Gejala : sakit kepala dengan intensitas dengan lokasi yang berbeda
bisaanya sama.
Tanda : wajah menyeringai, respon menarik pada rangsangan nyeri yang
hebat, gelisah, tidak bisa istirahat, merintih (Doengoes,2000).

Pengkajian primer
a. Airway
Kaji adanya obstruksi jalan antara lain suara stridor, gelisah karena
hipoksia, penggunaan otot bantu pernafasan, sianosis
b. Breathing
Inspeksi frekuensi nafas, apakah terjadi sianosis karena luka tembus dada,
fail chest, gerakan otot pernafasan tambahan. Kaji adanya suara nafas
tambahan seperti ronchi, wheezing.
c. Sirkulasi
Kaji adanya tanda-tanda syok seperti: hipotensi, takikardi, takipnea,
hipotermi,pucat, akral dingin, kapilari refill>2 detik, penurunan produksi
urin.
d. Disability
Kaji tingkat kesadaran pasien serta kondisi secara umum.
e. Eksposure
Buka semua pakaian klien untuk melihat adanya luka.
Pengkajian skunder
a. Kepala
Kelainan atau luka kulit kepala dan bola mata, telinga bagian luar dan
membrana timpani, cedera jaringan lunak periorbital
b. Leher
Adanya luka tembus leher, vena leher yang mengembang
c. Neurologis
Penilaian fungsi otak dengan GCS
d. Dada
Pemeriksaan klavikula dan semua tulang iga, suara nafas dan jantung,
pemantauan EKG
e. Abdomen
Kaji adanya luka tembus abdomen, pasang NGT dengan trauma tumpul
abdomen
f. Pelvis dan ekstremitas
Kaji adanya fraktur, denyut nadi perifer pada daerah trauma, memar dan
cedera yang lain

b. Diagnosa keperawatan
a. Gangguan perfusi jaringan b/ d oedema cerebri, meningkatnya aliran darah
ke otak.
b. Gangguan rasa nyaman nyeri b/ d peningkatan tekanan intra kranial.
c. Perubahan persepsi sensori b/ d penurunan kesadaran, peningkatan tekanan
intra kranial.
d. Gangguan mobilitas fisik b/ d spastisitas kontraktur, kerusakan saraf
motorik.
e. Resiko tinggi infeksi b/ d jaringan trauma, kerusakan kulit kepala.
c. Rencana asuhan keperawatan
Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional
Gangguan Gangguan perfusi jaringan - Pantau status Mengkaji adanya
perfusi jaringan tidak dapat diatasi setelah neurologis secara kecenderungan pada
b/ d oedema dilakukan tindakan teratur. tingkat kesadaran dan
cerebri, keperawatan selama 2x 24 jam potensial peningkatan TIK
meningkatnya dengan KH : dan bermanfaat dalam
aliran darah ke - Mampu mempertahankan menentukan lokasi,
otak. tingkat kesadaran perluasan dan
- Fungsi sensori dan motorik perkembangan kerusakan
membaik. SSP
Menentukan tingkat
kesadaran
Mengukur kesadaran
secara keseluruhan dan
kemampuan untuk
- Evaluasi berespon pada rangsangan
kemampuan eksternal.
membuka mata
(spontan, rangsang Dikatakan sadar bila pasien
nyeri). mampu meremas atau
melepas tangan pemeriksa.
- Kaji respon
motorik terhadap Peningkatan tekanan darah
perintah yang sistemik yang diikuti
sederhana. dengan penurunan tekanan
darah diastolik merupakan
- Pantau TTV dan tanda peningkatan TIK .
catat hasilnya. Peningkatan ritme dan
disritmia merupakan tanda
adanya depresi atau trauma
batang otak pada pasien
yang tidak mempunyai
kelainan jantung
sebelumnya.
Nafas yang tidak teratur
menunjukan adanya
peningkatan TIK

Ungkapan keluarga yang


- Anjurkan orang menyenangkan klien
terdekat untuk tampak mempunyai efek
berbicara dengan relaksasi pada beberapa
klien klien koma yang akan
menurunkan TIK

Pembatasan cairan
- Kolaborasi diperlukan untuk
pemberian cairan menurunkan Oedema
sesuai indikasi cerebral: meminimalkan
melalui IV dengan fluktuasi aliran vaskuler,
alat kontrol tekanan darah (TD) dan
TIK
Gangguan rasa Rasa nyeri berkurang setelah - Teliti keluhan Mengidentifikasi
nyaman nyeri b/ dilakukan tindakan nyeri, catat karakteristik nyeri
d peningkatan keperawatan selama 2 x 24 jam intensitasnya, merupakan faktor yang
tekanan intra dengan KH : lokasinya dan penting untuk menentukan
kranial. - pasien mengatakan nyeri lamanya. terapi yang cocok serta
berkurang. mengevaluasi keefektifan
- Pasien menunjukan skala dari terapi.
nyeri pada angka 3. - Catat kemungkinan Pemahaman terhadap
- Ekspresi wajah klien rileks. patofisiologi yang penyakit yang
khas, misalnya mendasarinya membantu
adanya infeksi, dalam memilih intervensi
trauma servikal. yang sesuai.

- Berikan kompres Meningkatkan rasa


dingin pada kepala nyaman dengan
menurunkan vasodilatasi.

Perubahan Fungsi persepsi sensori - Evaluasi secara Fungsi cerebral bagian atas
persepsi sensori kembali normal setelah teratur perubahan biasanya terpengaruh lebih
b/ d penurunan dilakukan perawatan selama 3x orientasi, dahulu oleh adanya
kesadaran, 24 jam dengan KH : kemampuan gangguan sirkulasi,
peningkatan - mampu mengenali orang berbicara, alam oksigenasi. Perubahan
tekanan intra dan lingkungan sekitar. perasaan, sensori persepsi sensori motorik
kranial. - Mengakui adanya dan proses pikir. dan kognitif mungkin akan
perubahan dalam berkembang dan menetap
kemampuannya. dengan perbaikan respon
secara bertahap

- Kaji kesadaran Semua sistem sensori dapat


sensori dengan terpengaruh dengan adanya
sentuhan, panas/ perubahan yang
dingin, benda melibatkan peningkatan
tajam/ tumpul dan atau penurunan sensitivitas
kesadaran terhadap atau kehilangan sensasi
gerakan. untuk menerima dan
berespon sesuai dengan
stimuli.

- Bicara dengan Pasien mungkin


suara yang lembut mengalami keterbatasan
dan pelan. perhatian atau pemahaman
Gunakan kalimat selama fase akut dan
pendek dan penyembuhan. Dengan
sederhana. tindakan ini akan
Pertahankan kontak membantu pasien untuk
mata. memunculkan komunikasi.

- Berikan lingkungan Mengurangi kelelahan,


tersetruktur rapi, kejenuhan dan
nyaman dan buat memberikan kesempatan
jadwal untuk klien untuk tidur REM
jika mungkin dan (ketidakadaan tidur REM
tinjau kembali. ini dapat meningkatkan
gangguan persepsi
sensori).

- Gunakan Memberikan perasaan


penerangan siang normal tentang perubahan
atau malam. waktu dan pola tidur.

- Kolaborasi pada Pendekatan antar disiplin


ahli fisioterapi, ilmu dapat menciptakan
terapi okupasi, rencana panatalaksanaan
terapi wicara dan terintegrasi yang berfokus
terapi kognitif. pada masalah klien
Gangguan Pasien dapat melakukan
- Periksa kembali Mengidentifikasi
mobilitas fisik mobilitas fisik setelahkemampuan dan kerusakan secara
b/d spastisitas mendapat perawatan dengan keadaan secara fungsional dan
kontraktur, KH : fungsional pada mempengaruhi pilihan
kerusakan saraf - tidak adanya kontraktur, kerusakan yang intervensi yang akan
motorik. footdrop. terjadi. dilakukan.
- Ada peningkatan kekuatan
dan fungsi bagian tubuh - Pertahankan Penggunaan sepatu tenis
yang sakit. kesejajaran tubuh hak tinggi dapat membantu
- Mampu secara fungsional, mencegah footdrop,
mendemonstrasikan seperti bokong, penggunaan bantal,
aktivitas yang kaki, tangan. gulungan alas tidur dan
memungkinkan Pantau selama bantal pasir dapat
dilakukannya penempatan alat membantu mencegah
atau tanda terjadinya abnormal pada
penekanan dari alat bokong.
tersebut.

- Berikan/ bantu Mempertahankan mobilitas


untuk latihan dan fungsi sendi/ posisi
rentang gerak normal ekstrimitas dan
menurunkan terjadinya
vena statis.

- Bantu pasien dalam Proses penyembuhan yang


program latihan lambat seringakli
dan penggunaan menyertai trauma kepala
alat mobilisasi. dan pemulihan fisik
Tingkatkan merupakan bagian yang
aktivitas dan sangat penting.
partisipasi dalam Keterlibatan pasien dalam
merawat diri program latihan sangat
sendiri sesuai penting untuk
kemampuan. meningkatkan kerja sama
atau keberhasilan program.
Resiko tinggi Tidak terjadi infeksi setelah - Berikan perawatan Cara pertama untuk
infeksi b/ d dilakukan tindakan aseptik dan menghindari nosokomial
jaringan trauma, keperawatan selama 3x 24 jam antiseptik, infeksi.
kerusakan kulit dengan KH : pertahankan teknik
kepala. - Bebas tanda- tanda infeksi cuci tangan yang
- Mencapai penyembuhan baik.
luka tepat waktu
- Observasi daerah Deteksi dini perkembangan
kulit yang infeksi memungkinkan
mengalami untuk melakukan tindakan
kerusakan, daerah dengan segera dan
yang terpasang alat pencegahan terhadap
invasi, catat komplikasi selanjutnya.
karakteristik
drainase dan
adanya inflamasi. Menurunkan pemajanan
- Batasi pengunjung terhadap pembawa kuman
yang dapat infeksi.
menularkan infeksi
atau cegah
pengunjung yang
mengalami infeksi
saluran nafas atas.
Terapi profilaktik dapat
- Kolaborasi digunakan pada pasien
pemberian atibiotik yang mengalami trauma,
sesuai indikasi. kebocoran LCS atau
setelah dilakukan
pembedahan untuk
menurunkan resiko
terjadinya infeksi
nosokomial.
3. DAFTAR PUSTAKA
Arief Mansjoer. 2010. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3, Jakarta FKUI.
Brunner & Suddarth. 2012. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8, Vol.
3, Jakarta, EGC.
Doengoes. E. Marlynn, dkk. 2010. Rencana Asuhan Keperawatan, jakarta, EGC.
Elisabeth j.Corwin . 2011. buku  saku patofisiologi.jakarta EGC.
Price, S & Wilson, L. M. 2015. “Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses
Penyakit”, Jakarta : EGC