Anda di halaman 1dari 5

Hypersex Party

Posted: admin on Jul 24 | cerita pesta seks | 49,599 views

Sejak sore tadi hujan menggericik tak deras. Luisa berbaring di ranjangnya berselimut
tebal. Pintu kamarnya terkunci rapat. Luisa mendehem-dehem nikmat, matanya sayu tapi
nafasnya memburu. Sesekali kain selimut tersingkap sehingga beberapa bagian tubuhnya
yang tak berbusana nampak dari luar.

“Ahh.. ehg.. emhh..”


Gadis itu terduduk dan menyingkap selimut tebalnya. Keringat dingin membasahi
tubuhnya yang memang bugil sama sekali. Kepalanya mendongak-dongak menahan
ilusinya ketika sebatang dildo bergoyang-goyang di liang vaginanya. Buah dadanya yang
berukuran 36 lengkap dengan putingnya yang kenyal membengkak menggairahkan.
Lendir kawinnya sudah menggenang di sprei kasur. Tepat diatas lendir itu pussy Luisa
yang besar berbulu tipis merekah disodok batang dildo ukuran L.

“Uahh..”
Orgasme telah diraihnya. Luisa terlentang lemas. Batang dildo itu masih menancap di
pussy-nya. Enggan rupanya Luisa mencabutnya. Matanya terpejam, nafasnya masih
terengah-engah. Tiba-tiba dering telpon mengganggunya.
“Kring.. kring..”

“Hallo..” Luisa menerima telpon sambil menjilati ujung dildo yang barusan bersarang di
pussy nya.
“Luisa, hujan-hujan gini enaknya ngapain?” tanya suara di seberang.
“Enaknya dikelonin kamu,” jawab Luisa sekenanya.
“Hi.. hi.. kalau gitu, kamu saya undang deh. Sekarang ke Star Pub deh, kita tunggu.
Jangan lupa be a sexy girl, okey?”
“Klik..”
Luisa segera meletakkan gagang telepon di induknya.

*****

Luisa masuk ke dalam café kecil itu. Pintu masuk café nampak tertulis “CLOSE”, tapi
tidak bagi anggota pub. Suasana di café sepi, tapi sayup-sayup Luisa mendengar gemuruh
tawa di lantai atas. Luisa segera menuju ruang atas. Begitu Luisa masuk beberapa
anggota lain segera menyambutnya.

“Hai Luisa,” sapa Sidney yang hanya memakai CD transparan sedangkan susunya yang
sekal bergelantungan dengan bebas.
“Hai, makin motok saja susumu,” balas Luisa sambil meremas susu kiri Sidney.
“Saya baru main sama Leo,” ujar Sidney menunjuk pria tegap telanjang yang duduk
jongkok di sudut ruangan. Pistolnya mengayun-ayun tegang sejak tadi.
“Hai Luisa, kita sudah nunggu kamu dari tadi loh,” sapa Sari yang memakai CD merah
dan BH hitam, kontras banget tapi seksi banget. Kemudian mereka saling berciuman
beberapa menit. Sembari berciuman, tangan Luisa sudah nakal menyusup ke CD Sari.
“Kamu baru aja cukur ya?” tanya Luisa ketika jemarinya merasakan bulu-bulu pussy
Sari.
Sari tersenyum malu.
“Nggak pa-pa lagi, rasanya malah geli-geli nikmat. Hi.. hi..,” Sari tertawa cekikikan lalu
berlalu.

Mata Luisa memedar berbinar-binar ke seluruh ruangan. Ada dua belas orang di ruangan
itu. Kesemuanya saling bersaing memperlihatkan keseksian tubuhnya. Wita memakai
bikini putih tipis sehingga puting susunya nampak menyembul menggoda. Lia cantik
banget malam itu, rambut panjangnya meriap-riap seksi. Apalagi Lia memakai CD putih
berenda dan BH putih yang kelihatan puting susunya karena dilubangi pada bagian
putingnya, Luisa bener-bener pingin melumat susunya. Maka Luisapun segera mendekati
Lia
“Li, kamu cantik sekali malam ini.” Sapa Luisa sambil mempermainkan puting susu Lia
yang sengaja disembulkan itu.
“Inikan maksud kamu? Kalau kamu mau, isep aja.” Bagai gayung tersambut.
“Ntar kamu main sama aku yah?”
Lia mengangguk lalu pergi menghampiri Si ganteng Ricko yang pakai CD pink, sejak
tadi pistolnya tegang terus melihat pemandangan yang merangsang itu.

Jude (tokoh: Jude, Guru Privatku) memakai BH yang ketat banget hingga susu “Pamela
Anderson” nya bagai berebut ingin keluar kain tipis itu, sedang pussynya dibiarkan saja
dipelototin sama Tino yang sejak tadi penny nya pingin menerobos jaring tipisnya. Ayu
yang pakai daster pendek transparan tanpa CD dan BH memamerkan pahanya di atas
meja. Hanya orang nggak waras saja yang nggak berminat sama paha mulusnya.
Cindylah yang paling sexy, doski hanya mengenakan stocking hitam sebatas paha dan
duduk dengan santainya sambil memamerkan pussynya yang berambut tipis. Pengen
banget Luisa melumat klitoris mungil Cindy.

Luisa sendiri memakai CD tipis bertali dan BH bertali yang hanya menutup nipplesnya
saja. Sedang Mbak Sarah sang ketua party yang polos los sedang sibuk menjilati dildo
barunya. Begitu melihat Luisa datang Mbak Sarah segera menepuk tangannya bertanda
party akan segera dimulai. Semuanya segera berkumpul di tengah ruangan.

“Nah, gimana nih? Siapa yang pengin main duluan?” ujar Mbak Sarah membuka acara.
“Saya!” Ayu menunjuk jari.
“Kebetulan Ayu, sudah lama kita nggak liat lagi tarian pecut asmaramu itu.” Sambut si
Ricko.
“Okey, Cin, nyalakan tapenya!” kata Ayu.

Cindy segera menyalakan tape recorder kecil. Lalu terdengar suara music yang
memancarkan suasana erotic bagi siapa saja yang mendengarnya. Ayu segera berdiri di
tengah lalu menari mengikuti suara tape recorder. Tarian gemulai itu semakin memancing
hasrat, Ayu memang bekas penari latar yang piawai. Luisa yang sudah sejak tadi
menahan birahinya tanpa sadar meremas-remas susunya sendiri. Apalagi kemudian Ayu
meminta Ricko melucuti onderdil nya. Maka seperti diberi aba-aba yang lain segera
melucuti pakaian milik pasangan yang dipilihnya.

Dengan segera Ricko mendorong Ayu untuk berbaring lalu Ricko segera melumat bibir
kenyal Ayu penuh nafsu sedang tangannya meremas-remas penisnya sendiri. Jude yang
sudah terbakar segera ikut melumat susu kiri Ayu disusul oleh Cindy yang kebagian susu
kanannya. Luisa sendiri segera menyusup ke selakangan Ayu yang terbuka. Lalu dengan
semangat Luisa mengerjain pussy Ayu. Dijilatinya pussy Ayu yang sudah penuh dengan
lelehan lendir kawinnya. Lalu diobok-oboknya liang vagina Ayu dengan jarinya.

“Aaghh..,” erang Ayu dan Luisa bersamaan karena saat itu Ricko sudah menyodokkan
pistolnya ke pussy Luisa dari belakang. Posisi Luisa yang menungging membuat Ricko
semakin mudah menancapkan senjata pamungkasnya. Sedang posisi Ricko sebelumnya
sudah digantikan oleh Mbak Sarah yang menyekokkan nipplesnya ke mulut mungil Ayu.

Di sudut lain, Tino yang setengah menungging sedang mengerang-erang keenakan ketika
diserbu dari dua arah. Sidney yang mengganyang pistolnya dari depan dan Leo yang
menyodomi pantatnya. Sedangkan di sisi lain Lia, Wita dan Sari bergumul sendiri. Lia
dan Wita saling memagut susu lawan mainnya sedang Sari menyerang pussy Lia yang
posisinya terlentang. Beberapa kali dildo masuk keluar pussy Lia dengan mudah lalu
bergoyang-goyang membuat Lia bergelinjangan keenakan. “Agh.. enak.. terus Sar..,”
erang Lia.

Ricko masih memainkan pistolnya di pussy Luisa. Pantat Luisa bergoyang-goyang naik
turun mengikuti gerakan penis Ricko. Berulang kali Luisa mencapai puncak asmaranya,
berulang kali pula mani Ricko muncrat ke liang vaginanya. Tapi mereka masih ingin
mengulangi dan mengulanginya lagi.
“Rick, saya mau keluar lagi Rick.. oh.. enghh..,” rintih Luisa.
“Kita keluar sama-sama yah, yang..”
Kemudian Ricko semakin memperkuat tekanan batang penisnya keliang vagina Luisa,
sehingga tidak lama setelah itu muncratlah air mani Ricko ke dalam vagina Luisa
bersamaan dengan keluarnya cairan kawin Luisa.
“Engg.. ah..,” jerit Ricko dan Luisa bebarengan.

Luisa tergeletak di atas karpet. Wajahnya sudah nampak kepayahan, tapi birahinya belum
terpuaskan. Ricko sudah meninggalkannya untuk mencari petualangan lain. Mata Luisa
memandang sayu kepada Lia yang berdiri di atasnya. Susu Lia yang sudah sangat
bengkak membuat Luisa ingin sekali mengunyah nipplesnya yang tegang kecoklat-
coklatan. Pussy Lia yang berbulu agak lebat nampak mengkilap basah oleh lendir
kawinnya. Lia tahu betul kalau Luisa menginginkannya. Dia segera merunduk dan
menyerahkan susunya untuk dilumat oleh Luisa. Luisa melumat susu dan bibir Lia secara
bergantian. Tangannya pun agresif menyusuri lorong goa vagina Lia, memelintir klitoris
Lia berkali-kali. Lalu masuk dalam dan semakin dalam membuat Lia makin terlena.
“Kamu.. enak banget.. egh..,” rintih Lia.
Luisa mendesis-desis, nafasnya menghembus di bukit montok Lia membuat Lia semakin
terbakar. Tapi Luisa juga kembali terbakar ketika Sari datang dan menghisap puting susu
Luisa. Lia juga berebut mencaplok susu kanan Luisa. Luisa merem melek manahan
semua rasa syur yang tercipta. Semakin syur ketika Leo menjejalkan penisnya yang besar
dan tegang banget ke mulutnya.
“Isep sayang.. ayo..”
Luisa menghisap penis Tino. Menggigit-gigit nakal membuat Tino melenguh-lenguh
keasyikan. Tino menekan pistolnya dan maninya muncrat ke dalam mulut Luisa. Luisa
menelan lendir itu hingga tandas. Segala keindahan terasa ketika entah lidah siapa lagi
yang menggerayangi pussy Luisa. Hingga ia merasa tubuhnya dijunjung ke atas dan..,
“Augh..”
Sebatang daging tegang kembali bersarang di pussy Luisa. Kembali dialaminya orgasme
yang dialaminya bersamaan dengan si pemilik pistol.
“Ehg.. kau hebat banget Luisa, hebat! Makasih ya..”
Itu suara Leo.
“Bajingan! Mau nyodok nggak bilang-bilang!” umpat Luisa dalam hati.

Lalu semua yang tadi ngerjain Luisa pergi ngerjain yang lain. Luisa tidak lagi
memperhatikan orang-orang disekelilingnya. Rasa capeknya telah membawanya terlelap.
Dua jam pun berlalu, suasana hening. Party itu sudah selesai, pemain-pemainnya sudah
terlelap tidur.

Luisa yang terbangun paling awal. Dipandangi sekelilingnya dengan senyum simpul.
Semua dalam keadaan telanjang bulat, termasuk dirinya. Berbagai CD dan BH
berserakan berserakan dimana-mana Pantat Sari merah bengkak begitu juga puting susu
Ayu. Luisa tersenyum sendiri melihat ujung susu si bule Jude yang masih dikenyot
Ricko. Pantat Sidney juga memerah, mungkin karena di kerjain sama temen-temen yang
lain. Dalam party itu tidak hanya cowok saja yang disodomi, cewek juga bisa disodomi.
Yang paling suka menyodomi cewek, ya.. si Tino itu. Luisa berpaling kepada Mbak
Sarah. Wajah Mbak Sarah penuh dengan mani dan lendir vagina yang mulai mengering.
Ruangan itu menebarkan aroma mani dan lendir vagina yang khas.

Mata Luisa tertuju pada Cindy. Gadis itu masih terlelap. Kadangkala mengigau sambil
senyum-senyum sendiri. Wajah gadis itu cantik. Tubuhnya kecil tapi susunya montok
bener. Vaginanya polos tanpa bulu, warnanya putih kemerahan seperti pipi gadis yang
sedang malu. Klitorisnya mungil menyembul. Gairah Luisa kembali bangkit. Luisa
berjongkok di depan Cindy kemudian memainkan jemarinya di atas vagina yang merekah
itu. Dengan penuh nafsu segera dilumatnya klistoris yang sejak awal tadi membuatnya
ngiler itu. Cindy menggeliat-geliat, tapi Luisa tak perduli. Bibir Luisa melumat gundukan
vagina Cindy sedang kedua tangannya menggapai meremas-remas daging kenyal nan
montok di dada Cindy. Antara sadar dan tidak Cindy menjamak-jaMbak rambut Luisa
dan menjepit kepalanya dengan kedua pahanya.

“Ah.. uh.. ah.. uh..,” suara Cindy mendesis lirih.


Nafas keduanya kembali memburu. Luisa menumpahkan segala birahi yang tersisa di
kepalanya. Seakan-akan Cindy itu hanya miliknya sendiri. Cindy dipaksa untuk bangun
dari lelapnya. Matanya memicing merasakan surga yang kembali datang untuknya. Tapi
Cindy sudah tak punya daya untuk membalas. Ia pasrah saja ketika Luisa menjejalkan
sebatang dildo masuk ke dalam liang vaginanya.

“Sruup..”
Tanpa banyak perlawanan pistol mainan itupun amblas ke dalam liang kenikmatan
Cindy. Cindi sempat terpekik beberapa kali, tapi lemah, rupanya dia sudah tak punya
daya kecuali menikmati permainan Luisa. Luisa menarik si dildo maju mundur beberapa
kali. Pantat Cindy bergoyang mengikuti iramanya. Makin lama dildo itu bergerak makin
cepat.
“Sruup.. sruup..”
Suaranya menyibak lendir-lendir kental yang keluar dari vagina Cindy. Mata Luisa
berbinar memandangi vagina bermandikan lendir itu. Langsung ia merunduk dan
“Sruup..”
Dihisapnya si lendir dari pussy Cindy hingga tandas.
“Ah, puasnya..,” kata Luisa dalam hati. Dikecupnya kening Cindy yang tak sadarkan diri.
Kemudian dia segera pergi dari tempat itu dengan senyum penuh kepuasan.