Anda di halaman 1dari 12

Kisahku di kala Hujan

Posted: Santi on Jan 01 | cerita seks daun muda | 93,235

views

Perkenalkan, namaku Santi. Saat ini usiaku 21 tahun. Aku

sekarang berkuliah di Universitas X di Jakarta. Aku ingin

menceritakan pengalamanku pertama kali mengenal sex.

Sebenarnya pengalaman ini sudah lama terjadi, yaitu ketika

aku masih kelas 2 SMA, tetapi aku baru berani

menceritakannya sekarang. Ini adalah tulisan pertamaku,

jadi maaf bila kurang baik.

***

Ketika aku masih bersekolah di SMA X, aku punya banyak

sekali kesibukan seperti les dan belajar kelompok.

Akibatnya, seringkali aku pulang malam. Aku sendiri tidak

takut, karena sudah sering. Jika pulang malam, aku

menggunakan jasa ojek untuk mengantarku ke rumah. Oya,

aku akan menceritakan diriku terlebih dahulu. Saat itu, aku


berumur 16 tahun. Kulitku sawo matang seperti kebanyakan

gadis jawa, rambut lurus panjang berwarna hitam

sepunggung. Bentuk fisikku biasa saja, tinggi 163 cm

dengan berat 51 kg. Ukuran bra 34B. Ketika itu, aku belum

tahu tentang sex sama sekali. Maklum, aku tinggal di

lingkungan yang baik-baik. Kejadian yang mengubah

hidupku terjadi ketika suatu hari aku pulang dari rumah

temanku. Waktu itu sekitar bulan November, ketika Jakarta

memasuki musim hujan. Aku pulang dari rumah teman

sekitar jam 8 malam dengan menggunakan ojek. Aku selalu

memilih pengemudi ojek yang tampangnya baik-baik.

Pengemudi ojek yang kutumpangi kali ini sudah agak tua

kira-kira 40 tahunan dan tampangnya penuh senyum.

Sepanjang perjalanan dari daerah Lenteng Agung ke

rumahku di Srengseng Sawah, beliau mengajakku ngobrol

dengan sopan sambil melajukan motornya pelan-pelan.

Namun di tengah jalan hujan mulai turun dan semakin

deras. Bajuku sudah setengah basah akibat hujan dan

tampaknya bapak ojek ini, sebut saja Pak Amir (aku hingga
kini tidak tahu namanya), tidak membawa jas hujan.

Melihatku hampir kuyup dan kedinginan, beliau mengajakku

berteduh terlebih dahulu di pos ojek terdekat. Pos itu tidak

seperti gubuk-gubuk yang biasa dijadikan pos ojek dan

penerangannya cukup baik. Di dalamnya terdapat dua

pengemudi ojek lain yang juga menunggu hujan, sebut saja

namanya Pak Doni dan Pak Budi (aku hingga kini juga tidak

tahu nama mereka) yang usianya kira-kira 30 tahunan. Pak

Amir memintaku masuk agak ke dalam karena hujan sudah

sangat deras. Sementara itu, Pak Amir terlihat ngobrol

dengan Pak Doni dan Pak Budi sambil sesekali melihat ke

arahku. Agak risih juga, karena aku gadis seorang diri di

sana sementara baju SMA ku yang sudah lembab terlihat

agak transparan. Beberapa lama kemudian, karena hujan

belum reda, Pak Doni menawarkan teh manis hangat yang

tersedia di pos tersebut. Tanpa curiga aku meminumnya

sementara mereka melihatku sambil tersenyum. Setelah itu,

mereka mengajakku ngobrol macam-macam. Kira-kira 5

menit kemudian, aku mulai merasa agak panas. Rasanya


gerah sekali bajuku, padahal masih lembab. Anehnya aku

juga mulai berkeringat.

Mereka yang melihat reaksiku, berkata: “Kenapa neng,

gerah ya?”

“Iya nih pak”, jawabku

“Buka saja neng bajunya”, timpal mereka lagi

Gila, yang benar saja. Aku diam saja mendengar omongan

mereka, aku anggap hanya lelucon orang dewasa. Tapi

beberapa saat kemudian, tangan mereka mulai nakal

menggerayangi pahaku yang masih terbungkus rok abu-

abu. Aku yang semakin kepanasan mencoba menepis

tangan mereka.

“Ih, apa sih pak, jangan macam-macam ah”, kataku

“Ga papa dong neng, sekali-sekali, ntar neng juga doyan

kok”

Sial, berani benar mereka, aku mencoba melawan dan teriak

minta tolong, tetapi karena hujan sangat deras dan jalanan

sepi, tidak ada yang mendengarku. Seketika itu juga, aku

didorong hingga rebah di dipan pos tersebut. Tangan dan


kakiku dipegangi.

Pak Amir berkata: “Neng, kalo neng diem, kita janji deh ga

bakalan bikin neng kesakitan, malah kita puasin.”

Aku diam saja melihat mereka, pikiranku antara sadar dan

tidak, aku merasa kepanasan seolah ikut bergairah meladeni

mereka. Pak Doni dan Pak Budi mulai melepas kancing

seragamku sedangkan pak Amir menyingkap rokku dan

mengelus-elus pahaku. Sekarang Mereka mulai mencumbui

daerah dadaku dan pahaku.

“Ahh, pak, jangan pak… saya belum pernah… ahh”

Mereka malah semakin liar menjilatinya. Pak Doni mulai

menggerayangi punggungku mencari kancing bra, namun

anehnya aku malah ikut mengangkat punggungku untuk

membantunya.

Seketika itu juga dadaku terpampang jelas di depan

mereka, menjulang keluar seperti bukit, dengan puting

warna coklat muda. Pak Doni dan Pak Budi kemudian

menghisap putingku perlahan, membuat putingku makin

tegak berdiri dengan keras. Jilatan Pak Amir semakin nakal


di CD ku, kadang-kadang menyelinap ke balik CD ku yang

sudah basah membuatku semakin kepanasan.

“ahh… Pak… Ouch…”

kataku makin tak jelas, sementara Pak Amir mulai menarik

CD ku. Aku mengangkat pantatku untuk membantunya.

“Wah, cantik banget neng, memeknya. Masih perawan ya”,

begitu kata beliau ketika melihat memekku yang berwarna

merah muda dengan bulu memek yang jarang dan tampak

mengkilat karena lendir kewanitaanku, “sekarang saya bikin

neng puas deh”, dan setelah itu beliau mulai menjilati

daerah pribadi saya. Saat itu, saya berpikir saya sedang

dikerjai, tapi justru saya menikmatinya. Ketika mereka

sudah tidak menahan tangan dan kaki saya, tangan saya

malah mulai ikut menekan-nekan kepala pak Doni dan Pak

Budi sedangkan kaki saya menjepit kepala Pak Amir seolah

ingin mendapatkan kenikmatan lebih.

“ahh… ahh… ahh”

“Pak… ahh… enakh… trus..” aku meracau terus tanpa henti

ketika pak Amir memainkan klitorisku


“Ahhh… Pak… aku mau pipis… ah…”

“Arrhhhh…” aku teriak sekencangnya ketika aku orgasme

untuk pertama kalinya. Seketika itu badanku lemas tidak

bisa bergerak. Sementara mereka malah keenakan menjilati

memekku bergantian, menghabiskan lendir kewanitaanku

yang sudah banjir di rok. Kemudian sisa bajuku dilepas

semua hingga aku bugil. Mereka juga melepaskan baju

mereka hingga kami berempat bugil di pos.

Waktu sudah sekitar jam 9 malam tapi hujan masih sangat

deras hingga tak ada seorangpun di luar dan menyadari

kejadian ini. Mereka mulai merangsangiku lagi dengan

menjilatiku, kali ini Pak Amir dan Pak Budi menjilati

putingku, sedangkan pak Doni menjilati liang kewanitaanku.

Aku yang masih dibawah pengaruh obat perangsang kembali

bergairah menerima perlakuan mereka.

“ahh… ahh…, udah ahh…”

“jangan… trusin… ahhh”

“emh.. pak… enak banget…” kataku tak karuan

Pak Doni menjawab, “Memekmu juga enak say”


“ahh… ahh” aku menggelinjang menerima perlakuan

mereka, sekarang adegan yang seharusnya pemerkosaan

sudah berubah menjadi adegan sex yang kuinginkan lebih.

“ahhh… pak aku mau keluar…”

Kali ini ketika mereka tahu aku mau orgasme, mereka

berhenti merangsangku. Aku yang sudah sangat horny

sedikit kecewa waktu itu, tapi Pak Doni malah rebah di

sampingku dan kedua pengojek lain menuntunku ke atas

tubuh Pak Doni. Ketika bibir memekku tersentuh kepala

kontol Pak Doni, aku merasa sangat terangsang. Dalam

keadaan terangsang berat, aku mulai memegang kontol Pak

Doni yang sudah sangat besar, dan memainkannya di bibir

memekku. Sesekali Pak Doni menarikku hingga kepala

kontolnya masuk ke memekku. Sementara dua pengojek

lainnya masih memainkan putingku dan bibirku. Aku merasa

sangat kenikmatan. Kukocok kontolnya di ujung memekku,

semakin lama ku dorong semakin dalam dan akhirnya..

“ahhh… ahhhh… ahhhhhhh” tembus sudah keperawananku.

Pak Doni mendiamkan batang kontolnya sebentar,


membiarkanku beradaptasi dengan benda besar di dalam

kemaluanku sambil menikmati pijatan dinding memekku

yang masih sangat rapat. Sesaat kemudian Pak Doni mulai

menaik-turunkan badanku hingga aku mendesah keenakan.

Lama kelamaan aku bisa mengocok kontolnya dengan

memekku sendiri.

“Ahhh… ahhh… cplok cplok…. ehhhhhggghhh…” begitu bunyi

permainan kami.

“Enak banget memekmu, say. Masih rapet” kata Pak Doni

yang kemudian menarikku dan menghisap putingku.

“Hmmm ahhh… Ssshhhh enghhhhh… ahhhhh… awhhhh…”

aku tak bisa berkata-kata lagi karena terlalu keenakan

menikmati kontol Pak Doni. Pak Amir mengocok batang

kontolnya melihat adegan kami, sedangkan Pak Budi

mencoba mengeksplorasi liang pantatku. Beliau

memasukkan jarinya.

“ahhh sakit pak… ahhh…” begitu kataku, ketika jari

tengahnya masuk.

“Sabar neng, nanti juga enak…” kata pak Budi, kemudian


malah memasukan batang kontolnya yang besar ke

anusku… tentu saja rasanya sangat sakit

“arrrghh… arkk sakit pak… sudah…” tapi beliau tak peduli,

kontolnya terus dimasukkan hingga dalam kemudian aku

dibiarkan istirahat dalam posisi sandwich.

Setelah terbiasa, mereka berdua mengocokku, aku seperti

isi sandwich, Pak Doni mengocok memekku dari bawah

sedangkan Pak Budi mengocok anusku dari atas… aku teriak

sejadi-jadinya antara keenakan dan kesakitan…

“arrrgghh… ahhh…ahhh…”

“Owhhh… enakkk…. trusss….. ssshshhhhhh….”

Pak Amir yang melihat adegan kami dipanggil kedua

rekannya,

“Pak, jangan bengong aja, ni masih nyisa satu lobang”

sambil menunjuk mulutku

Selanjutnya Pak Amir memasukkan kontolnya ke mulutku

hingga aku sesak napas. Kepalaku ditariknya maju mundur

hingga ke tenggorokan. Aku semakin kewalahan

menghadapi nafsu binal mereka. Semakin lama aku semakin


tidak sadar dengan apa yang ku perbuat.

“Ahhh.. ahh…” desahku di antara hisapan kontol Pak Amir.

“ahhkk… neng enak banget memeknya…” kata Pak Doni

“trus neng, jangan berhenti” kata Pak Amir

“Neng, bentar lagi keluar nih” kata Pak Budi

“Arrrrrhhhh…. ssshhhhh” Seluruh tubuhku terasa bergetar…

kemudian aku ambruk di atas pak Doni, kukeluarkan seluruh

lendir kewanitaanku hampir bersamaan dengan ketiga orang

itu mengeluarkan spermanya di dalam tubuhku.

***

Sesaat kemudian aku tak sadarkan diri. Ketika aku sadar,

aku sudah kembali berpakaian dengan kusut. Seluruh

tubuhku lemas. Jam menunjukkan pukul setengah 11

malam. Memek dan anusku masih penuh dengan sperma

mereka. 5 menit kemudian ketika aku sudah mampu berdiri,

Pak Amir mengantarku hingga ke rumah. Orangtuaku

menanyaiku tetapi aku telalu lelah sehingga aku langsung

masuk kamar dan tidur. Begitulah pengalaman pertamaku

melakukan hubungan sex dengan orang-orang yang hingga


kini aku sendiri tidak kenal. Sampai saat ini, seringkali aku

rindu disetubuhi oleh tiga orang lagi tapi aku masih tidak

berani.