Anda di halaman 1dari 18

KONTAMINASI PADA BAHAN BAKAR, OLI, DAN BODI

A. Pengertian P3K
Pengertian pertolongan pertama ialah pemberian pertolongan segera kepada penderita sakit
ataupun cedera (kecelakaan) yang memerlukan penanganan medis Dasar. Sedangkan
pengertian medis dasar ialah tindakan perawatan berdasarkan ilmu kedokteran yang dimiliki
oleh orang awam atau orang awam yang terlatih secara khusus. Dasar hukum mengenai
pertolongan pertama belum diatur secara khusus, namun umumnya merujuk pasal 531
KUHP yang menyebutkan bahwa Barangsiapa menyaksikan sendiri ada orang di dalam
keadaan bahaya maut, lalai memberikan atau mengadakan pertolongan kepadanya sedang
pertolongan itu dapat diberikannya atau diadakannya dengan tidak akan menguatirkan,
bahwa ia sendiri atau orang lain akan kena bahaya dihukum kurungan selama-lamanya
tiga bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 4.500,-. Jika orang yang perlu ditolong itu
mati, diancam dengan : KUHP 45, 165, 187, 304s, 478, 535, 566.
Dalam pelaksanaan pertolongan pertama terdapat beberapa tujuan, di antaranya
ialah sebagai berikut :
1. Menyelamatkan jiwa penderita.
2. Mencegah kecacatan.
3. Memberikan rasa nyaman dan menunjang proses penyembuhan.
Dalam pertolongan pertama terdapat pelaku pertolongan pertama yang artinya ialah
penolong yang pertama kali tiba di tempat kejadian, yang memiliki kemampuan dan terlatih
dalam kemampuan medis dasar.
Kewajiban pelaku pertolongan pertama antara lain :
1. Menjaga keselamatan diri, anggota tim, penderita dan orang lain di sekitarnya.
2. Dapat menjangkau penderita baik dalam kendaraan, kerumunan massa maupun
bangunan.
3. Dapat mengenali dan mengatasi masalah yang mengancam nyawa.
4. Meminta bantuan ataupun rujukan apabila diperlukan.
5. Memberikan pertolongan dengan cepat dan tepat berdasarkan keadaan korban.
6. Membantu pelaku pertolongan pertama lainnya.
7. Ikut menjaga kerahasiaan medis penderita.
8. Melakukan komunikasi dengan petugas lain yang terlibat.
9. Mempersiapkan penderita untuk ditransportasikan.
Pelaku pertolongan pertama dalam melaksanakan tugasnya memerlukan peralatan dasar
untuk digunakan. Oleh karena penderita dapat saja mengeluarkan ceceran darah ataupun
cairan tubuh lainnya yang memiliki potensi sumber penyakit, maka pelaku penolong
pertama memerlukan APD (Alat Perlindungan Diri) yang di antaranya ialah :
1. Sarung tangan lateks.
2. Kacamata pelindung.
3. Baju pelindung.
4. Masker.
5. Helm (untuk melindungi apabila menolong di tempat yang rawan akan jatuhnya
benda dari atas seperti runtuhan bangunan,dsj).
Selain APD, penolong pertama juga menggunakan peralatan penolong dalam menjalankan
tugasnya di antaranya ialah :
1. Penutup luka :
a. Kasa steril.
b. Bantalan Kasa.
2. Pembalut luka :
a. Pembalut gulung (pita).
b. Pembalut segitiga (mitella).
c. Pembalut tubuller (tabung).
d. Pembalut rekat (plester).
3. Cairan antiseptik :
a. Alkohol 70%.
b. Betadine.
4. Cairan pencuci mata (boorwater).
5. Bidai dan peralatan stabilitas tubuh lainnya.
6. Gunting pembalut.
7. Pinset.
8. Senter.
9. Kapas.
10. Selimut.
11. Oksigen.
12. Tensimeter.
13. Stetoskop.
14. Tandu.
15. Alat Tulis.

B. Potensi Kontaminasi pada Bahan Bakar, Oli, dan Bodi Kendaraan


1. Kontaminasi pada Bahan Bakar
Pada post kali ini saya melanjutkan artikel saya yang sebelumnya mengenai
contamination control. Saya ingin menunjukkan bahwa begitu pentingnya kita
menjaga engine dari kendaraan kita dari contaminant. Karena saya sering jumpain di
sekitar saya, kurangnya kesadaran masyarakat tentang hal ini. Bahkan mungkin untuk
remaja-remaja yang memiliki kendaraan filter udara kendaraan mereka dengan
sengaja dicopot untuk meningkatkan power dari sepeda motor. Padahal secara tidak
langsung mereka mulai meracuni kendaraan mereka. Apalagi dengan perkembangan
dunia mechanical dimana pada saat ini dunia mechanical telah menggunakan pula
sistem elektronik untuk meningkatkan keefisiensi kerja engine dan pengurangan
konsumsi bahan bakar.
Kontaminasi pada bahan bakar atau lebih singkatnya kita sebut saja kontaminasi pada
fuel. Pada artikel sebelumnya pernah saya singgung bahwa kita harus menggunakan
fuel atau bahan bakar yang bersih untuk kendaraan kita, dengan membeli bahan bakar
pada pom bensin-pom bensin. pada artikel kali ini saya akan memperdalam lagi
kontaminasi pada bahan bakar.
Bahan bakar merupakan sumber energi penggerak utama pada sebuah kendaraan.
Dari fuel ini akan di ubah menjadi tenaga gerak didalam sebuah engine. Kita bahas
mengenai proses pemindahan energi dari fuel menjadi gerak.
Kita ambil contoh proses 4-stroke
Pada proses proses kerja 4 stroke diatas, proses pertama air intake (Induction), yaitu
masuknya udara kedalam chamber pembakaran, proses pengaturan masuknya udara
kedalam chamber diatur oleh sebuah katup yang disebut dengan valve, pada sebuah
kendaraan bermotor pada umumnya terdapat 2 valve setiap chamber. Proses kedua
adalah compression, dimana valve dari inlet manifold (lorong masuk) tertutup
kemudian piston bergerak mengarah Top Dead Centre (bagian puncak dari
pergerakan piston), pergerakan piston ini akan mengakibatkan udara tertekan dan
menjadi panas. Proses kemudian dilanjutkan dengan proses ketiga, dimana ketika
udara menjadi panas karena tekanan dari piston, fuel disemprotkan ke dalam chamber
(dikabutkan) dari injector. Apabila fuel yang digunakan adala solar maka tidak
diperlukan sebuah spark (busi) untuk memicu ledakan fuel, tapi apabila fuel yang
digunakan adalah solar maka diperlukan spark (busi) untuk memacu ledakan pada
chamber. Ledakan dari fuel akan menyebabkan piston terdorong ke bawah dan
menggerakkan crankshaft. Setelah terjadi ledakan dan menggerakkan piston ke bawah
maka valve outlet akan terbuka dan mengalirkan udara hasil ledakan menuju outlet
manifold (lorong pembuangan). Proses pembuangan udara ini akan dibantu dengan
dorongan dari piston. Kemudian setelah proses keempat selesai maka proses akan
berulang menuju proses pertama. Karena terdapat empat proses inilah proses ini
disebut dengan proses 4 stroke atau 4 langakah. Selain proses 4 storke ada juga proses
2 stroke. Untuk lebih jelasnya perbedaan antara proses 2 stroke dengan proses 4
stroke kita bisa melihat dalam video dibawah ini.
Vidio

Bagian utama dalam proses ini perubahan fuel ke gerak ini antara lain :
a. Valve
b. Piston
c. Injector
d. Chamber
Kontaminasi pada fuel berdampak pada berbagai komponen dalam engine. Tetapi
pengaruh terbesar akan berakibat pada komponen-komponen diatas. Akan saya
jelaskan beberpaa akibat yang terjadi pada komponen-komponen tersebut.
a.    Fuel Injector
Secara umum fuel injector adalah tempat keluarnya fuel didalam chamber
pembakaran (Cylinder). Fuel yang dikeluarkan sebelumnya dikabutkan
terlebih dahulu. Untuk lebih jelasnya kita lihat gambar dibawah ini,
beberapa contoh injector dengan keterangan bagian-bagiannya.
Dari gambar diatas bisa dibayangkan apabila terdapat sebuah kotoran yang
menghalangi proses fuel spray ataupun pada linenya. Apabila kotoran
tersebut tertahan pada plunger dan ikut bergerak seiring dengan pergerakan
plunger maka akan mengakibatkan scratch pada area sekitar plunger. Dan
akan mengakibatkan kerja plunger akan terhambat dan menyebabkan
kebocoran fuel. Dan akibat paling parahnya adalah terjadinya pressure
berlebihan karena hambatan dari kotoran tersebut.
Injector menurut teknologi yang digunakan dibagi menjadi 3, yaitu
1) Mechanical actuated Unit Injector (MUI), Injector dimana proses
spray dipicu oleh pukulan/mechanical
2) Mechanical actuated Electronics Controlled Unit Injector (MEUI),
dimana proses spray dipicu oleh mechanic system yang digerakkan
oleh electronics system (solenoid)
3) Hydraulic actuated Electronics controlled unit Injector (HEUI),
dimana proses spray dipicu oleh mechanic system yang digerakkan
menggunakan hydraulic system
Untuk keterangan lebih lanjut tentang Injector mungkin akan saya
terangkan pada thread yang lain.
Pada beberapa jenis injector ini apabila terdapat kotoran yang menghambat
akan sama-sama menyebabkan proses spray dari fuel terganggu. Pada
MEUI, apabila line dari spray terganggu maka semacam microkomputer
yang mengatur system akan memerintahkan untuk menyalurkan fuel lagi ke
chamber, karena mungkin tenaga yang dihasilkan berkurang. dari sini kita
dapat menarik kesimpulan, seiring perkembangan jaman maka system-
system mechanical akan berjalan dengan menggunakan system electronics
dimana pada system ini keputusan dari sebuah system akan ditentukan oleh
prosesor. Presisi yang digunakan untuk menjalankan system ini sangat
tinggi, sehingga dibutuhkan pula Contamination control yang bagus
b.     Valve
valve pada proses transformasi ini berfungsi sebagai katup untuk mengatur
udara  yang masuk dan udara yang keluar. Seperti yang kita ketahui dalam
proses pembakaran diperlukan 3 hal mutlak agar proses pembakaran dapat
berjalan, yaitu : bahan bakar, udara dan heat (panas). Apakah hubungannya
antara kebersihan dari fuel dengan kebersihan dari valve.
Coba kita bayangkan proses 4 langkah ini, ketika fuel kotor dispray
kedalam chamber, fuel akan berada didalam chamber dan ikut pula dalam
proses pembakaran. Ketika proses ini berlangsung kotoran yang ikut masuk
dengan fuel akan tersebar didalam chamber, salah satunya akan mengenai
valve, baik valve inlet maupun valve outlet. Kotoran tersebut mungkin saja
tidak akan ikut habis dalam pembakaran tetepi masih terdapat sisa, nah sisa
kotoran ini dapat menempel pada bagian chamber maupun valve. Apabila
kotoran ini menempel pada sekat antara valve dengan cylinder atau
chamber akan mengakibatkan proses penyekatan akan terganggu. Apa yang
akan terjadi :
1) Pada proses induction, udara akan masuk melalui inlet manifold,
apabila valve bagian outlet manifold tidak menutup rapat maka udara
panas sisa pembakaran yang seharusnya keluar dapat pula masuk
2) Pada proses compression, Compression tidak akan mencapai suhu
maksimu karena udara tidak termampatkan secara sempurna,
akibatnya titik bakar fuel tidak akan didapat dan proses pembakaran
tidak akan berjalan lancar. Akibat yang dapat kita lihat, pada proses
pembuangan akan terdapat pula sisa fuel yang tidak terbakar.
Akibatnya lagi Low power, tenaga mesin akan lemah.
3) Pada proses exhaust, udara seharusnya keluar hanya dari outlet
manifold, apabila pada valve inlet tidak tersekat dengan sempurna
maka udara pembuangan juga akan keluar melewati inlet manifold.
c.    Piston dan Chamber
Piston dan chamber merupakan dua bagian yang tidak dipisahkan, apabila
fuel yang disemprotkan oleh injector masih mengandung kotoran dan
menempel pada piston atau chamber akan menyebabkan scratch. Scratch
ini akan menyebabkan terjadinya kebocoran antara ruang chamber diatas
piston dan dibawah piston. Selain itu pula kotoran yang terselip pada
bagian piston dan chamber akan menjadi gesekan bagi piston yang
sehingga tenaga yang dihasilkan juga akan berkurang. Pada keadaan yang
lama akan menyebabkan umur dari komponen-komponen ini akan
berkurang serta mempunyai kerja yang tidak maksimal kembali.
Selain bagian-bagian diatas kontaminasi pada fuel akan berdampak pada
komponen-komponen lain. Seperti Fuel Injection Pump, line ataupun
komponen-komponen lain yang tidak berhubungan langsung dengan fuel.
Begitu pentingnya kebersihan fuel ini untuk mendapatkan kerja yang
maksimal dan hemat bahan bakar.
Langkah-Langkah untuk menghindari Kontaminasi pada Fuel
Banyak langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya
kontaminasi pada fuel, beberapa langkah penting sebagai berikut.
1) Usahakan untuk membeli fuel pada tempat-tempat yang sudah
terjamin kebersihannya
2) Jangan sering membuka penutup bahan bakar apabila tidak
dibutuhkan
3) Apabila suhu lingkungan sangat dingin (pegunungan), jangan
letakkan kendaraan kita langsung di lingkungan terbuka, karena pada
suhu yang dingin, akan terjadi pengembunan didalam tangki, Air
merupakan salah satu kontamnian yang berbahaya juga. Karena selain
mengganggu proses pembakaran, air juga akan menyebabkan korosi
yang akan mengakibatkan terjadinya kontaminasi lagi.
4) Untuk Tempat penyimpanan bahan bakar dalam skala besar usahakan
menggunakan breather (Alat pernapasan). Usahakan gunakan
breather yang mempunyai 2 fungsi, yaitu menyaring udara diluar
yang masuk (dari air ataupun kotoran) dan menyaring udara yang ad
didalam tangki keluar.
5) Jagalah lingkungan kerja dan penyimpanan alat-alat perbaikan.

2. Kontaminasi pada oli


Kontaminasi pelumas adalah hal yang sangat mungkin terjadi di kehidupan sehari-
hari di berbagai industry. Kontaminasi pelumas dapat dibagi menjadi dua yaitu
kontaminasi partikel dan kontaminasi kimia. Kontaminasi partikel adalah adanya
benda asing yang masuk kedalam pelumas berupa keausan logam dan debu.
Sedangkan kontaminasi kimia berupa panas, udara, dan air yang masuk ke dalam
pelumas sehingga bias mengakibatkan reaksi kimia dengan pelumas dan
menghasilkan zat-zat asam dan oksidasi.
a. Pelumas mesin
Kontaminasi pelumas mesin bersumber dari arang dan bahan bakar, bahan bakar
minyak, keausan logam, air, glycon, produk asam, nitrasi, dan oksidasi yang
terjadi saat pelumas digunakan.
b. Pelumas Hidrolik
Pelumas hidrolik merupakan suatu fluida yang sangat penting dalam
sistemhidrolik sebagai sumber tenaga yang digerakkan dengan bantuan pompa,
katup pengontrol, silinder, dan motor hidrolik.
C. Kebersihan dan Kerapian Bengkel
Banyak dari mekanik-mekanik bengkel baik motor atau mobil dalam bertugas di bengkel
kurang memperhatikan faktor keamanan dan kebersihan. Akibat dari hal tersebut sangat
berbahaya misalnya jika mekanik tidak menggunakan APD jika terjadi kesalahan saat
mengebor besi (tidak memakai APD/kaca mata) maka serbuk dari pengeboran itu bias
masuk ke mata dan bias menyebabkan kebutaan permanen. Diluar itu jika mekanik tidak
menjaga kebersihan dari kendaraan pelanggan bias berpengaruh pada kepuasan pelanggan.
1. Pakaian kerja
a. Penanggulangan kecelakaan
b. Jaga kebersihan pakaian sebab oli yang menempel di baju dapat mengotori
kendaraan pelanggan
c. Pilih sepatu kerja yang memiliki sol yang tidak licin dan berkulit keras
d. Saat mengangkat benda yang dajam dan memiliki permukaan yang tajam juga
diharuskan menggunakan saerung tangan
e. Jangan menggunakan sarung tangan saat mengebor dan menggerinda
2. Berkerja dengan aman dan rapi
a. Jaga supaya tempat kerja selalu rapi
b. Suku cadang bekas harus dikumpulkan dan selanjutnya dibuang
c. Parker kendaraan yang akan di servis di garis stall agar tidak mengganggu
kendaraan lain
d. Jangan meninggalkankuci dan suku cadang dilantai
3. Menangani kendaraan pelanggan
a. Selama berkerja gunakan selalu fender cover, seat cover, floor cover agar tidak
merusak dan mengotori kendaraan
b. Jagalah selalu kebersihan fender cover, seat cover
c. Jangan sekali-kalimemasukan alat tajam dalam kantor pakaian karena dapat
merusak kendaraan dan melukai diri kalian
d. Jika kendaraan tertumpah menyakrem jangan di lap karena akan merusak
kendaraan. Caranya di semprot air.
TDO KD 3.3 Memahami prinsip-prinsip pengendalian kontaminasi

Dalam pekerjaan di bengkel otomotif biasanya menggunakan beberapa bahan yang mudah
terkontaminasi dan bias berdampak buruk bagi kesehatan. Contohnya kontaminasi gas buang.
Seperti yang kita pahami bahwa dari proses pembakaran mesin akan menghasilkan gas buang
yang bisa merugikan kesehatan (HC, CO, CO₂, NOₓ, H₂SO₄, dll). Untuk itu diperlukan suatu
penangan yang baik dan benar terhadap kemungkinan kontaminasi yang bias terjadi di
lingkungan bengkel.

A. Pengertian Kontaminasi
Kontaminasi adalah suatu kondisi dimana terjadi pencampuran terhadap suatu unsur lain yang
akan memberikan efek buruk tertentu. Dalam dunia industri termasuk otomotif banyak sekali
menghasilkan limbah atau kontaminan. Oleh karena itu berbagai limbah atau kontamina tersebut
harus dapat dikendalikan agar tidak menyebabkan permasalahan.
Dalam industri otomotif banyak sekali manghasilkan kontaminan. Berbagai jenis kontaminan ini
digolongkan melalui berbagai hal seperti bentuk dan sifatnya. Sebagai contoh penggolongan
jenis kontaminan ini adalah kontaminan cair, kontaminan padat, kontaminan gas, dan
kontaminan B3.

B. Pengertian Pengendalian Kontaminasi


Kontaminasi adalah suatu kondisi dimana terjadi pencampuran atau pencemaran terhadap suatu
unsur lain yang memberikan efek tertentu (buruk). Komponen yang dapat menyebabkan
kontaminasi sangat beragam mulai dari benda, hewan, maupun berbentuk padat ataupun cair.
Karena sifat yang berbahaya maka kontaminan perlu dikendalikan agar tidak mencampur atau
mencemar zat atau unsur lain sehingga dapat membahayakan makhluk hidup terutama manusia.
Makanya pengendalian kontaminasi merupakan suatu cara untuk mencegah terjadinya
pencampuran atau pencemaran terhadap unsur lain yang dapat memberikan efek buruk baik
jangka pendek maupun jangka panjang.

C. Cara Pengendalian Kontaminasi


Dalam pengendalian kontaminasi disesuaikan dengan jenis kontaminan itu sendiri. Artinya setiap
jenis kontaminan memiliki cara penanganan atau pengendalian yang berbeda-beda. Untuk lebih
jelasnya berikut pembahasan mengenai cara pengendalian kontaminasi.
a. Penanganan Kontaminan Cair melalui proses pengolahan primer (penyaringan,
pengolahan awal, pengendapan, pengapungan) , pengolahan sekunder dengan
mikroorganisme, desinfeksi, dan endapan lumpur.
b. Penanganan kontaminan padat dapat melalui proses penimbunan terbuka, sanitary
landfill (lubang yang dilapisi plastik), membuat kompos padat, dan daur ulang.
c. Penangan kontaminan gas dapat melalui kontrol emisi, menghilangkan materi
partikulat.
d. Penanganan kontaminan B3 melalui penanganan khusus seperti sumur injeksi,
kolam penyimpanan, dan terapan ilmu fisika biologi dan kimia.

D. Kontaminan di Bengkel Otomotif


Ada beberapa contoh kontaminan yang kerap kali ditemukan di bengkel otomotif. Berikut
merupakan contoh kontaminan yang ada di bengkel otomotif.
 Gas H2SO4 yang merupakan hasil elektrolisis accu pada saat pengisian maupun
pengosongan. Hal ini dapat diketahui dari bau menyengat asam sulfat. Oleh karena itu
diperlukan ruangan khusus yang digunakan untuk proses pengisian aki dan ruangan
tersebut memiliki ventilasi yang baik. Selain berbahaya untuk kesehatan, gas H2SO4
dapat memicu ledakan apabila terkena sumber panas atau api.
 Gas buang dari kendaraan bermotor memiliki berbagai unsur yang dapat membahayakan
kesehatan seperti karbonmonoksida, karbondioksida, hidrokarbon, dan partikel lainnya.
Oleh karena itu, sebuah workshop atau bengkel harus memiliki ventilasi yang baik agar
berbagai partikel tersebut tidak meracuni manusia disekitarnya.
 Kontaminan Cair seperti uap bensin, cairan pembersih, dan lain sebagainya. Oleh karena
itu dalam proses perawatan diperlukan berbagai alat keselamatan seperti masker untuk
mencegah terjadinya keracuna akibat berbagai kontaminan cairan.
 Limbah B3 atau limbah berbahaya seperti oli dan zat-zat lain yang mengandung bahan-
bahan berbahaya. Limbah berbahaya tersebut diperlukan pengelolaan khusus agar tidak
mencemari lingkungan. Limbah-limbah tersebut biasanya ditampung terlebih dahulu
kemudian dikirim ke tempat penampungan untuk didaur ulang.

E. Konsep Pengendalian Kontaminasi (Mendukung Konsep Hijau)


1. Pilah sampah
Salah satu langkah utama dalam pengelolaan sampah adalah sorting atau pemilahan. Sampah
harus dipilah dan dibuang berdasarkan jenisnya agar pengelolaan sampah lebih mudah.

Hijau – Tempat Sampah Organik


Untuk tempat sampah yang berwarna hijau, artinya hanya sampah-sampah organik yang dapat
dibuang ke tempat tersebut. Sampah organik mencakup sampah-sampah alami seperti dedaunan,
ranting pohon, dan sisa makanan. Sampah organik mudah terurai di alam. Selain itu sampah
organik juga dapat bermanfaat untuk bahan pembuatan pupuk kompos.

Kuning-Tempat Sampah Anorganik


Sampah anorganik harus dibuang ke tempat sampah yang berwarna kuning. Contohnya adalah
plastik, kaleng, styrofoam, dan sebagainya. Berbeda dengan sampah organik, bahan anorganik
yang rata-rata merupakan benda yang diciptakan oleh mesin sangat sulit terurai. Bahkan sampah
seperti plastik baru dapat terurai di tanah selama ratusan tahun, dan sebelum terurai plastik
tersebut dapat turut merusak lingkungan. Oleh karena itu, sampah anorganik harus dipisahkan
dari jenis sampah lainnya dan didaur ulang.

Merah – Tempat Sampah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)


Tempat sampah berwarna merah menampung khusus sampah B3 atau sampah dengan Bahan
Berbahaya dan Beracun. Yang termasuk dalam kategori ini adalah pecahan kaca, bahan-bahan
kimia, dan benda berbahaya lainnya. Dengan memilah sampah B3 ke kategorinya diharapkan
dapat meminimalisir/menghilangkan risiko bahaya bagi petugas orange atau masyarakat.

2. Konsep 3 R (Reuse, Reduce, dan Recycle)

1) Reduce
Reduce berarti kita mengurangi penggunaan bahan-bahan yang bisa merusak lingkungan.
Reduce juga berarti mengurangi belanja barang-barang yang anda tidak “terlalu” butuhkan
seperti baju baru, aksesoris tambahan atau apa pun yang intinya adalah pengurangan kebutuhan.
Kurangi juga penggunaan kertas tissue dengan sapu tangan, kurangi penggunaan kertas di kantor
dengan print preview sebelum mencetak agar tidak salah, baca koran online, dan lainnya.

2) Reuse
Reuse sendiri berarti pemakaian kembali seperti contohnya memberikan baju-baju bekas anda ke
yatim piatu. Tapi yang paling dekat adalah memberikan baju yang kekecilan pada adik atau
saudara anda, selain itu baju-baju bayi yang hanya beberapa bulan dipakai masih bagus dan bisa
diberikan pada saudara yang membutuhkan.

3) Recycle
Recycle adalah mendaur ulang barang. Paling mudah adalah mendaur ulang sampah organik di
rumah anda, menggunakan bekas botol plastik air minum atau apapun sebagai pot tanaman,
sampai mendaur ulang kertas bekas untuk menjadi kertas kembali. Daur ulang secara besar-
besaran belum menjadi kebiasaan di Indonesia.

3. Good Housekeeping

Dalam menerapkan ‘good housekeeping’ atau penataan tempat, barang, peralatan dan bahan,
sebenarnya Anda bisa menerapkan metode 5S di perusahaan. Dalam lean six sigma, 5S
merupakan suatu metode penataan dan pemeliharaan wilayah kerja secara intensif yang
digunakan oleh manajemen dalam usaha memelihara ketertiban, efisiensi, dan disiplin di area
kerja sekaligus meningkatkan kinerja perusahaan secara menyeluruh.

Di Indonesia, metode ini dikenal dengan nama 5R yang diadaptasi dari istilah Jepang 5S, di
antaranya:
1. Seiri (ringkas): memilah dan menyingkirkan barang-barang yang tidak
diperlukan, sehingga barang yang ada di area kerja hanya barang yang dibutuhkan
saja.
2. Seiton (rapi): baik barang maupun peralatan kerja harus diletakkan sesuai posisi
yang ditetapkan.
3. Seiso (resik): kegiatan membersihkan peralatan dan area kerja sehingga kondisi
peralatan terjaga baik dan area kerja yang bersih juga berdampak baik untuk
kesehatan karyawan.
4. Seiketsu (rawat): standarisasi dan dokumentasi proses yang akan memastikan
berjalannya seiri, seiton, dan seiketsu.
5. Shitsuke (rajin): pemeliharaan kedisiplinan dan konsistensi dalam menjalankan
seluruh tahap 5S.

F. PENYEBAB KONTAMINASI
Berikut ini merupakan beberapa penyebab terjadinya kontaminasi lingkungan, yaitu:
1. Kontaminasi Kimia merupakan bahan kimia yang mampu menimbulkan
intoksikasi pada manusia. Sebagai contoh adalah bahan kimia yang menyebabkan
keracunan: residu pestisida, antibiotika, pencemaran kimia industri.
2. Kontaminasi Biologi merupakan beberapa pemicu kontaminasi biologi atau
mikrobiologis yaitu bakteri patogen, parasit (protozoa dan cacing), dan virus yang
bisa menyebabkan keracunan dan infeksi pada manusia.
3. Kontaminasi Fisik merupakan pencemaran yang memiliki sifat secara fisik.
Contohnya: batu, debu, logam, potongan kayu, atau bahkan peralatan industri
yang tidak digunakan. Kontaminasi fisik tidak saja mengakibatkan penyakit,
tetapi juga berbahaya dan dapat menganggu kesehatan manusia.
Pengendalian kontaminasi di bengkel otomotif diperlukan untuk meminimalisir dampak
Kontaminasi Fisik pada lingkungan. Beberapa dari dampak kontaminasi fisik: menimbulkan
gangguan hati, jantung, saluran pencernaan, ginjal, dan organ tubuh lainnya. Dapat
menimbulkan keracunanan pada makanan. Dapat melukai tubuh fisik bahkan dapat
mengakibatkan kematian.

Penutup
Kontaminasi mengarah pada kondisi di mana unsur-unsur lain tercampur atau terkontaminasi
sehingga melahirkan efek tertentu (biasanya efek buruk). Komponen yang dapat menyebabkan
pencemaran sangat bervariasi, mulai dari benda, hewan, maupun berbentuk padat atau cair.

Oleh sebab sifatnya yang berbahaya, kontaminasi perlu dilaksanakan agar tidak bercampur atau
mencemari zat atau unsur lain, yang berakibat membahayakan kehidupan, khususnya bagi
manusia. Maka pengendalian pencemaran adalah sebuah cara untuk mencegah tercampurnya
atau tercemarnya unsur-unsur lain, dan kedua unsur tersebut bisa menghasilkan dampak buruk
dalam jangka pendek ataupun pada jangka panjang.

No Jenis Kontaminan Cara Penanganan/Pengendalian


1.
2.
3.
4.

No Contoh Kontaminan di bengkel Cara Penanganan/Pengendalian


1.
2.
3.
Dst
.

3R Pengertian Contoh tindakan di bengkel


Reduce
Reuse
Recycle

5R 5S Pengertian/penjelasan

TBSM 1
Daftar siswa/I yang belum mengerjakan tugas 1 (K3):
- Nasron Mufidun
- Adhitya Prayoga
- Afrizal Aziz M
- Dedi Ristianto
- Doni Satrio
- Fatkhur Rochman
- Hadid Nur A’rah
- Nabil Iqbal
- Ndaru Nugroho
- Ri’fuh Mobarokah
- Siti Hidayatil I
Daftar siswa/I yang belum mengerjakan tugas 2 (APAR):
- Nasron Mufidun
- Adhitya Prayoga
- Afrizal Aziz M
- Aldi Abdilah
- Angga Rahmat
- Bayu Ardi
- Dedi Ristianto
- Erzal Bagus
- Farel
- Fatkhur Rochman
- M Aedi Nur
- M Ifki Raditya
- Nabil Iqbal
- Ndaru Nugroho
- Ri’fuh Mobarokah
- Yulfi Riskiana

TBSM 2
Daftar siswa/I yang belum mengerjakan tugas 1 (K3):
- Abid Aljauhari
- Dwi Sulistyo H
- Fajar Isnun
- Fiqkhi Setia Budi
- Kholidin
- Mita Rindahsari
- Muhamad Yusron
- M Durril Farid
- Narendra Sastro D
- Novillia Rahmawati
- Saiful Aqmal K
- Sultoni
- Tegar Radesa I
- Wiranto Budi S
- Yoga Aidil P
Daftar siswa/I yang belum mengerjakan tugas 2 (APAR):
- Abid Aljauhari
- Ahmad Afriyanto
- Kholidin
- M Durril Farid
- Saputra Widiyanto
- Sultoni
- Tegar Radesa I
- Toni Setiawan
- Wiranto Budi S