Anda di halaman 1dari 3

NAMA : RENTI FITRI

NIM : 041623191
PROGRAM STUDI : ILMU ADMINISTRASI NEGARA-S1
TUGAS KE : 1(SATU)
MATA KULIAH : USAHA-USAHA MILIK NEGARA DAN DAERAH

SOAL:

1. System Ekonomi Pancasila (sep) sebagai system ekonomi pasar dengan unsur perencanaan.
Bandingkanlah Sistem Ekonomi Pancasila menurut versi Email Salim, Mubyarto dan Sumitro
Djojohadi Kusumo!....
2. Jelaskan secara singkat Hubungan Usaha Milik Negara dan Daerah dengan Administrasi
Negara, Administrasi Niaga dan Administrasi Pembangunan!...
3. Sebutkan dan jelaskan secara singkat periodisasi pembangunan Badan Usaha Milik Negara
dan Daerah!...
4. Sebagai mahasiswa mata kuliah UUMND, masukan atau usulan apa yang anda berikan guna
menyikapi situasi saat ini (dampak Covid-19) terhadap BUMN dan perekonomiaan Bangsa!...

JAWABAN:

1. Secara empiris, ekonomi berasal dari Bahasa Yunani yaitu oikos dan nomos. Oikos berarti
rumah tangga dan nomos adalah mengatur. Dalam pengertian tersebut maka ekonomi dapat
diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang mengelola dan mengatur rumah tangga.

Perbandingan Sistem Ekonomi Pancasila (SEP) Versi Emil Salim, Mubyarto, dan Sumitro
Djojohaddikusumo
Sila Emil Salim Mubyarto Sumitro Djojohadikusumo
I Mengenal etika dan Roda perekonomian Ikhtiar untuk senantiasaan
moral agama digerakan oleh hidup dekat dengan Tuhan
rangsangan ekonomi, YME
sosial, dan moral
II Titik berat pada nuansa Ada kehendak kuat dari Iktiar untuk mengurangi &
manusiawi dalam masyarakat untuk memberantas kemiskinan
menggalang hubungan mewujudkan kemerataan dan pengangguran dalam
ekonomi dalam sosial (egalitarian) sesuai penataan perkonomian
perkembangan asas kemanusiaan masyarakat
masyarakat
III Membuka kesempatan Nasionalisme menjiwai Pola kebijakan ekonomi &
ekonomi secara adil bagi setiap kebijaksanaan cara penyelenggaraan
semua, lepas dari ekonomi tidak menimbulkan
kedudukan suku, agama, kekuatan yang
rasa, atau daerah mengganggu persatuan
bangsa & kesatuan negara
IV Bermuara pada Koperasi merupakan Rakyat berperan dan
pelaksanaan demokrasi sokoguru perekonomian berpartisipasi aktif dalam
ekonomi dan politik & merupakan bentuk usaha pembangunan
paling konkrit dari usaha
bersama
V Memberi warna Imbangan yang tegas Pola pembagian hasil
egalitarian dan social antara perencanaan di produksi lebih merata
equity dalam proses tingkat nasional dan antar golongan, daerah,
pembangunan desentralisasi kota-desa

2. Hubungan Administrasi Usaha-Usaha Milik Negara dan Daerah dengan Administrasi Negara.
Menurut Ramanadham (1990), secara de jure Administasi Usaha-usaha Milik Negara
merupakan bagian dari Administrasi Negara. Dasar pemikirannya ditinjau dari konsep
kepemimpinan. Negara mempunyai hak dan kewajiban untuk mengawasi, memonitor, dan
mengevaluasi kinerja BUMN/D untuk menjamin tercapainya tujuan yang telah ditentukan.
Keterkaitan antara negara sebagai pemilik dengan BUMN/D akan banyak mempengaruhi
tingkat kinerja badan usaha yang bersangkutan. Secara de factor, pengaruh tersebut dapat
bersifat positif dan atau negative bergantung kemampuan kita untuk mengidentifikasikan
perbedaan di antara Administrasi Negara dengan Administrasi Usaha-Usaha Milik Negara.
Ramanadham dengan pandangannya melihat beberapa aspek yang dapat membedakan
Administrasi UMN/D dari Administrasi Negara antara lain motif perilaku yang meliputi equity,
equality, maximum coverage, dan adherence to pre-fixed ceilings, kriteria Tindakan,
kepentingan umum, pola organisasi, staffing, dan auditing.

Hubungan Administrasi UMN/D dengan Administrasi Niaga. Banyak prinsip-prinsip di dalam


Administrasi Niaga yang dipinjam dan diadaptasikan ke dalam Administrasi UMN/D. satu di
antaranya corporate planning. Pada dasarnya corporate planning, adalah suatu pendekatan
strategis terhadap pertumbuhan dan pengembangan usaha. Dengan pendekatan ini, badan
usaha berusaha Menyusun rencana perusahaan yang kohesif, terpadu dan komprehensif,
serta memberikan arah, misi, visi, dan identitas perusahaan. Sampai batas-batas tertentu,
corporate planning Administrasi Niaga tidak berbeda dengan corporate planning UMN/D.
perbedaan mendasar antara administrasi UMN/D dengan Administrasi Niaga terletak pada
perumusan tujuannya dan perbedaan ini tampak jelas pada cara penyusunan corporate plan.

Hubungan Administrasi UMN/D dengan Adminitrasi Pembangunan. Ditinjau dari aspek


pembangunan di negara-negara sedang berkembang, terdapat hubungan antara Administrasi
UMN/D dengan administrasi pembangunan. Keterkaitannya ini terletak pada pemanfaatan
BUMN/D sebagai instrument bagi kebijakan pembangunan sosial ekonomi. Administrasi
pembangunan merupakan salah satu dimensi dalam Administrasi Negara sebagai jawaban
atas peranan sentral pemerintah didalam pembangunan. Administrasi pembangunan
umumnya diterapkan di negara-negara berkembang yang sedang giat mengembangkan
dirinya, dari suatu keadaan dan sifat tradisional dengan kondisi ekonomi yang masih
terbelakang menuju kea rah yang lebih baik. Tanggung jawab pemerintah di negara sedang
berkembang dalam pelaksanaan pembangunan masih sangat dominan. Bagi Administrasi
Pembangunan, BUMN/D dimanfaatkan sebagai alat untuk menjangkau proses transformasi
factor-faktor produksi maupun trasformasi sumber-sumber daya pembangunan yang
produktif. Di samping itu, BUMN/D di gunakan sebagaai instrumen kebijakan pembangunan
bidang sosial ekonomi dan dijadikan sasaran pendayagunaan aparatur perekonomian negara.

3. Periodisasi Perkembangan Badan Usaha Milik Negara dan Daerah.


a. Periode tahun 1800-1948. Perkembangan BUMN di Indonesia diawali pada periode tahun
1800-1948. Pada zaman sesudah VOC sampai sebelum Ministeriele Verantwoordelijkheid,
Pemerintah Kerajaan Belanda melaksanakan kebijakan cultur-stelsel dan open door policy
guna menciptakan ketentraman dan ketertiban. Pada masa itu para pengusaha swasta
Belanda berdatang ke wilayah nusantara. Setelah masa itu usaha-usaha milik negara
berbentuk naamlosche Venootschap (N.V). pada tahun 1921 didirikan Nederland Indische
Maatschappij. Indische Berdrijven Wet (1927) mengatur dan memukinkan adanya bentuk
tata usaha perusahaan yang menunjang usaha-usaha milik negara.
b. Periode Tahun 1945-1960. Ditandai oleh dominasi peran perusahaan asing atau
perusahaan dengan BUMN/D pada masa ini dikelompokkan dalam beberapa kategori
berikut (1) Perusahaan Negara yang diatur dalam IBW; (2) Perusahaan Negara yang diatur
dalam ICW; (3) Perusahaan Negara yang diatur di luar ketentuan IBW dan ICW.
c. Periode Tahun 1960-1974. Ditandai dengan terbitnya UU No.19 tahun 1960 tentang
Perusahaan Negara sebagai upaya menyeragamkan cara pengelolaan dan pengendalian
serta bentuk hukum dari Perusahaan Negara dalam Sistem Ekonomi Terpimpin.
Pemerintah pada periode ini mengeluarkan berbagai peroduk hukum berikut (1) UU No.5
tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah, (2) UU No.1 Tahun 1967 tentang Penanaman
Modal Asing dan UU No.6 Tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri, (3) UU
No.14 Tahun 1967 tentang Bank Pemerintah, dan (4) UU No.9 Tahun 1969 yang
mengelompokkan BUMN kedalam PERJAN, PERUM, dan perusahaan perseroan
(PERSERO). Dasawarsa 70-an, seiring meningkatnya tuntutan pembangunan di semua
sector kehidupan, mendorong BUMN/D termasuk PERSERO menjalankan tugas-ugas
pembangunan.
d. Periode Tahun 1974-1982. Terjadi oil boom tahun 1973 dan mendorong pemerintah
untuk melakukan ekspansi besar-besaran dalam pembangunan insfrastruktur ekonomi
dengan mendirikan BUMN.
e. Periode Tahun 1982-1990. Terjadi krisis minyak bumi yang mendorong Pemerintah
mengambil serangkaian Tindakan penyesuaian, diantaranya dengan kebijakan
pengetatan Anggaran Belanja Negara, penjadwalan ulang proyek-proyek, penyesuaian
kurs mata uang dan kebijakan deregulasi yang diikuti kebijakan pemerintah tentang Tax
Reform.
f. Periode Tahun 1990-2003. Ditandai oleh semakin kuatnya fenomena perekonomian antar
bangsa dan arus liberalisasi perdagangan. Sejalan dengan amanat UU No.9 Tahun 1969,
Pemerintah membuat pedoman pembinaan BUMN yang mengatur secara rinci.
g. Periode Tahun 2003-2008. Pemerintah mengeluarkan berbagai regulasi guna
mengoptimalkan peran BUMN dalam perkembangan ekonomi dunia yang semakin
terbuka dan kompetitif, diantaranya UU No.19 Tahun 2003, PP No.41 Tahun 2003 dan
Keputusan Menteri BUMN No.Kep-236/MBU/2003.

4. Wabah virus corona memberikan dampak yang cukup besar bagi perekonomian Indonesia.
Dampak itu bisa saja diminimalisir, namun hal itu tergantung dari kebijakan yang diambil
pemerintah untuk mengatasinya. Pemerintah sendiri sudah mengeluarkan beberapa stimulasi
baik fiscal maupun moneter. Termasuk kebijakan yang berkaitan dengan antisipasi dampak
penularan covid-19 pada ekonomi domestic (stimulus Ekonomi I, II, dan III) patut diapresiasi.
Saran saya untuk menjaga daya beli masyarakat sebagai dampak perlambatan putaran roda
ekonomi, pemerintah dituntun untuk dapat mengurangi beban biaya yang secara langsung
dalam kendali pemerintah, diantaranya tarif dasar listrik, BBM, dan air bersih. Penurunan tarif
listrik dan BBM tentu tidak akan terlalu membebani keuangan BUMN dan BUMD.