Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENGERTIAN DAN JENIS – JENIS PONDASI

I.1 Pengertian Pondasi


Dalam setiap kontruksi, seperti gedung, jembatan, jalan raya, terowongan, dinding
penahan, menara, tanggul, harus mempunyai pondasi yang dapat mendukungnya.
Pondasi harus diperhitungkan untuk dapat menjamin kestabilan Bangunan terhadap
berat sendiri, beban - beban bangunan, gaya-gaya luar seperti : tekanan angin,
gempa bumi, dan lain-lain. Disamping itu, tidak boleh terjadi penurunan melebihi
batas yang diijinkan. Agar Kegagalan fungsi pondasi dapat dihindari, maka pondasi
Bangunan harus diletakkan pada lapisan tanah yang cukup keras, padat, dan kuat
mendukung beban bangunan tanpa menimbulkan penurunan yang berlebihan.
Pondasi adalah struktur bagian bawah yang umumnya terletak dibawah permukaan
tanah yang berfungsi untuk meneruskan gaya yang diterimanya ke lapisan tanah
pendukung (bearing layers).
Adapun beberapa pengertian pondasi dalam kontruksi, antara lain :
1. Suatu badian konstruksi bangunan yang memiliki fungsi untuk memindahkan
beban/bobot/gaya yang ditimbulkan oleh banguna yang ada diatasnya kedalam
tanah.
2. Bagian bangunan yang menghubungkan bangunan tersebut dengan tanah,
dimana tanah harus menerima beban dari bangunan tersebut (beban mati dan
beban hidup) dan tugas pondasi untuk membagi beban itu sehingga tekanan tanah
yang diizinkan (daya dukung) tidak terlewati.
3. Konstruksi yang diperhitungkan sedemikian rupa sehingga dapat menjamin
kestabilan bangunan terhadap berat sendiri dan menghindari penurunan bangunan
yang tidak merata.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa pondasi merupakan Bagian dari elemen bangunan
yang berfungsi meletakkan dan meneruskan beban ke dasar tanah yang kuat
mengimbangi dan mendukung (merespon) serta dapat menjamin kestabilan
bangunan, paling tidak terhadap beratnya sendiri, beban yang bekerja serta beban
gempa.

Pondasi bangunan adalah kontruksi yang paling terpenting pada suatu bangunan.
Karena pondasi berfungsi sebagai penahan seluruh beban (hidup dan mati) yang
berada di atasnya dan gaya – gaya dari luar. Pada pondasi tidak boleh terjadi
penurunan pondasi setempat ataupun penurunan pondasi merata melebihi dari
batas – batas tertentu, yaitu :
Jenis bangunan Penurunan maksimum
1. Bangunan umum 2.54 Cm
2. Bangunan pabrik 3.81 Cm
3. Gudang 5.08 Cm
4. Pondasi mesin 0.05 Cm
Oleh karena itu,sebelum perencanaan pondasi dilakukan terlebih dahulu perlu
mengetahui prilaku tanah baik sifat fisik maupun mekanis tanah. Dimana sifat fisik
dan mekanisnya dapat diketahui dengan melakukan penyelidikan tanah yang
meliputi penyelidikan dilapangan dan laboratorium, sehingga dari data-data hasil
penyelidikan tanah tersebut dapat dipergunakan sebagai dasar dalam
merekomendasikan sistem pondasi. Untuk maksud ini diperlukan pengertian yang
mendalam mengenai metode pengujian tanah, batasan-batasan atau karakteristik
dalam metode pengujian dan bagaimana menyimpulkan hasil-hasil yang diperoleh.
Pekerjaan lapangan dalam peyelidikan tanah yang dilaksanakan meliputi pekerjaan
Boring dan Standart Penetrasi Test (SPT). Hasil pekerjaan boring log yang akan
memperlihatkan jenis lapisan tanah, letak lapisan tanah keras yang ditujukan
dalam nilai SPT. Dari data hasil penyelidikan lapangan tersebut dijumpai jenis tanah
yang dapat mendukung pondasi pada kedalaman 40 meter. Maka dapat ditentukan
pondasi tiang pancang sebagai pendukung struktur yang bekerja diatasnya.

I.2 Klasifikasi Jenis-jenis Pondasi


I.2.a Klasifikasi Berdasarkan Sistem Kerja gaya
Dari berbagai hal yang mempengaruhinya (pada point 2 diatas), maka jenis-jenis
pondasi secara garis besar dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Spread Fondations / pondasi telapak


Dimana beban yang disalurkan disebarkan melalui lebar telapak pondasi. Dimana
intensitas beban yang diteruskan ketanah haruslah lebih kecil dari daya dukung
tanah yang diijinkan.

2. Pile Foundations / pondasi tiang pancang


Pondasi tiang pancang, beban dan bobot disalurkan dengan mekanisme pergeseran
antara tanah dan pondasi (tiang), dan dukungan dari lapisan tanah keras pada
kedalaman tertentu. Pile adalah komponen penerus beban yang berbentuk panjang
dan vertical. Pile dapat terbuat dari bahan kayu, besi/baja, beton atau kombinasi
diantaranya, tergantung dari berat beban yang dipikul.

Pile digunakan dengan pertimbangan:


- Beban yang dipikul sangat besar
- Penggunaan jenis pondasi yang lain dinilai tidak ekonomis
- Kondisi air tanah yang bervariasi dan perlu dipertimbangkan
- Apabila dikemudian akan dibangun saluran dalam tanah/canal
- Digunakan pada konstruksi bangunan di pelabuhan atau daerah air lainnya

3. Pier Foundations / pondasi sumuran


Pondasi sumuran, pondasi yang berupa konstruksi sumuran vertical yang mencapai
tanah keras. Bilamana bangunan terletak pada tanah yang berpasir dan letak tanah
keras pada lapisan yang dalam, maka tipe pondasi ini perlu dipertimbangkan.
Dengan kata lain sumuran sebenarnya merupakan kolom pada sub struktur yang
berfungsi mendukung beban dari upper struktur dan melaluinya beban akan
disalurkan ke tanah.

I.2.b Klasifikasi Berdasarkan Kedalaman Pondasi


Bentuk pondasi ditentukan oleh berat bangunan dan keadaan tanah disekitar
bangunan tersebut, sedangkan kedalaman pondasi ditentukan oleh letak tanah
padat yang mendukung pondasi. Pondasi pada tanah miring lebih dari 10 %, maka
pondasi bangunan tersebut harus dibuat rata atau dibentuk tangga dengan bagian
bawah dan atas rata. Jenis pondasi berdasarkan kedalaman peondasinya dibagi
menjadi 2, yaitu :
1. Pondasi Dangkal (Shallow Foundation)
Disebut Pondasi dangkal karena kedalaman masuknya ke tanah relatif dangkal,
hanya beberapa meter masuknya ke dalam tanah. Salah satu tipe yang sering
digunakan ialah pondasi menerus yang biasa pada rumah-rumah,dibuat dari beton
atau pasangan batu,meneruskan beban dari dinding dan kolom bangunan ke tanah
keras. Pondasi dangkal dapat dibedakan menjadi beberapa jenis :
- Pondasi Setempat ( Single Footing )
- Pondasi Menerus ( Continuous Footing )
- Pondasi Pelat ( Plate Foundation )
- Pondasi Cakar Ayam
- Pondasi Sarang Laba-laba
- Pondasi Grid
- Pondasi Gasing
1.a Pondasi Setempat (Single Footing)
Pondasi setempat; dibuat pada bagian yg terpisah (di bawah kolom
pendukung/kolom struktur), tiang, dsb), juga biasa digunakan pada konstruksi
bangunan kayu di daerah rawa-rawa. Pada bangunan sementara sering juga
digunakan penumpu batu alam massif yang bertarah dan diletakkan di atas
permukaan tanah yang diratakan.
Adapun ciri-ciri pondasi setempat adalah :
1. Jika tanahnya keras, mempunyai kedalaman > 1,5 meter
2. Pondasi dibuat hanya di bawah kolom
3. Masih menggunakan pondasi menerus sebagai tumpuan men-cor sloof, tidak
digunakan untuk mendukung beban.
Adapun bentuk-bentuk dari pondasi setempat antara lain:
1. Pondasi pilar, dari pasangan batu kali berbentuk kerucut terpancung.
2. Pondasi sumuran, dari galian tanah berbentuk bulat sampai kedalaman tanah
keras, kemudian diisi adukan beton tanpa tulangan dan batu-batu besar.
3. Pondasi umpak, dipakai untuk bangunan sederhana. Pondasi umpak dipasang di
bawah setiap tiang penyangga. Antara tiang dihubungkan dengan balok kayu di
bagian bawah tiang, di bagian atas tiang menyatu dengan atapnya.Pondasi kayu
dibuat keluar permukaan tanah sampai ketinggian ± 1 meter.
Pondasi umpak dapat dibuat dari bahan-bahan sebagai berikut:
1. Pasangan bata yg disusun bertangga
2. Pasangan batu kali
3. Cor beton tidak bertulang;
4. Batu alam yang dibentuk menjadi lunak

Gambar I.1 Pondasi Setempat

1.b Pondasi Menerus (Continuous Footing)


Pondasi menerus (Pondasi Langsung) dapat digunakan pada tanah yang seragam.
Ciri-ciri Pondasi menerus adalah :
• Ukuran sama besar dan terletak pada kedalaman yang sama;
• Dipasang di bawah seluruh dinding penyekat dan kolom;
• Biasanya digunakan sebagai pondasi bangunan tidak bertingkat;
• Untuk tanah lembek, dibuat dari sloof memanjang bagian bawah diperlebar
menjadi pelat.
Gambar I.2 Pondasi Menerus

1.c Pondasi Pelat (Plate Foundation)


Pondasi pelat biasanya seluas ukuran gedung. Pondasi ini membagi beban secara
merata ke tanah bangunan. Pondasi pelat ini biasa digunakan dalam hal:
• Daya dukung tanah jelek atau beban bangunan yang tinggi;
• Raster atau jarak-jarak tiang/dinding kurang dari 8 meter;
• Beban bangunan yang tinggi sudah dibagi merata oleh konstruksi atas;
• Pada daerah rawan banjir, pondasi ini akan mencegah meresapnya air dari bawah
(tanah).

Gambar I.2 Pondasi Pelat

1.d Pondasi Cakar Ayam


Merupakan salah satu rekayasa keteknikan di bidang pondasi, hasil temuan Prof.
Dr. Ir. Sedijatmo. Kostruksi ini terdiri dari plat beton bertulang dengan tebal 10 -
12 cm di dan bagian bawahnya diberi pipa-pipa beton bertulang yang menempel
kuat pada plat tersebut. Mirip seperti akar serabut pada tanaman kelapa yang
dapat tumbuh tinggi menjulang di pantai berpasir yang daya ikatnya rendah, pile
atau pipa-pipa beton mencengkeram ke dalam tanah dan plat betonnya mengikat
pile-pile tersebut sehingga menjadi satu kesatuan yang monolit.
Dasar pemikiran Iahirnya pondasi cakar ayam ialah memanfaatkan tekanan tanah
pasif, yang pada sistem pondasi lain tak pernah dihiraukan. Plat beton yang tipis itu
akan mengambang di permukaan tanah, sedangkan kekakuan plat ini
dipertahankan oleh pipa-pipa yang tetap berdiri akibat tekanan tanah pasif. Dengan
demikian maka plat dan konstruksi di atasnya tidak mudah bengkok.
Bagi daerah yang bertanah lembek, pondasi cakar ayam tidak hanya cocok untuk
mendirikan gedung, tapi juga untuk membuat jalan dan landasan. Satu keuntungan
lagi, sistem ini tidak memerlukan sistem drainasi dan sambungan kembang susut.

Gambar I.3 Stuktur Pondasi Cakar Ayam dan Pengerjaannya di Lapangan

1.e Pondasi Sarang Laba-laba


Pondasi ini memiliki kelebihan jika dibandingkan dengan pondasi konvensional yang
lain diantaranya yaitu KSSL memiliki kekuatan lebih baik dengan penggunaan
bahan bangunan yang hemat dibandingkan dengan pondasi rakit (full plate)
lainnya, mampu memperkecil penurunan bangunan karena dapat membagi rata
kekuatan pada seluruh pondasi dan mampu membuat tanah menjadi bagian dari
struktur pondasi, berpotensi digunakan sebagai pondasi untuk tanah lunak dengan
mempertimbangkan penurunan yang mungkin terjadi dan tanah dengan sifat
kembang susut yang tinggi, menggunakan lebih sedikit alat-alat berat dan bersifat
padat karya, waktu pelaksanaan yang relatif cepat dan dapat dilaksanakan secara
industri (pracetak), lebih ekonomis karena terdiri dari 80% tanah dan 20% beton
bertulang dan yang paling penting adalah ramah lingkungan karena dalam
pelaksanaan hanya menggunakan sedikit menggunakan kayu dan tidak
menimbulkan kerusakan bangunan serta tidak menimbulkan kebisingan
disekitarnya.

c.

Gambar I.4 Pondasi Sarang Laba-laba dan Pengerjaannya di Lapangan

2. Pondasi Dalam (Deep Foundatio)


Digunakan untuk menyalurkan beban bangunan melewati lapisan tanah yang lemah
di bagian atas ke lapisan bawah yang lebih keras.
Pondasi dalam dapat dibedakan menjadi beberapa jenis :
- Pondasi tiang pancang (pasak bumi)
- Pondasi tiang bor
- Pondasi Caison
Penyebutannya dapat berbeda-beda tergantung disiplin ilmu atau pasarannya
2.a Pondasi Tiang Pancang
Pondasi tiang pancang dipergunakan pada tanah-tanah lembek, tanah berawa,
dengan kondisi daya dukung tanah (sigma tanah) kecil, kondisi air tanah tinggi dan
tanah keras pada posisi sangat dalam. Bahan untuk pondasi tiang pancang adalah :
bamboo, kayu besi/kayu ulin, baja, dan beton bertulang.

1 Tiang Pancang Kayu


Tiang kayu adalah batang pohon yang cabang-cabangnya telah dipangkas dengan
hati-hati. Panjang maksimum kebanyakan tiang kayu adalah 10-20 m. Agar
kualitas tiang kayu yang dipakai bagus, maka kayunya harus lurus, keras, dan
tanpa adanya kerusakan. Manual Praktek No. 17 yang dikeluarkan oleh ASCE (The
American Society of Civil Engineers) tahun 1959, mengklasifikasikan tiang kayu ke
dalam 3 kategori :
1. Tiang klas A: Tiang-tiang dalam kelas ini mampu menerima beban-beban yang
berat. Diameter minimum batang sekurang-kurangnya 356 mm.
2. Tiang klas B: Tiang-tiang dalam kelas ini mampu menerima beban-beban
sedang. Diameter minimum batang adalah 305-330 mm.
3. Tiang klas C: Tiang ini digunakan untuk kontruksi sementara. Tiang ini dapat
digunakan untuk konstruksi permanen apabila keseluruhan tiang tenggelam di
bawah muka air tanah. Diameter minimum batang sekurang-kurangnya 305 mm.
Dalam setiap keadaan, kepala tiang tidak boleh memiliki diameter yang kurang dari
150 mm.
Tiang kayu biasanya tidak dapat menahan tegangan pada pemancangan yang
keras; oleh karena itu kapasitas tiang umumnya dibatasi hingga sekitar 220-270 kN
(25-30 ton). Sepatu baja bisa digunakan untuk mencegah kerusakan ujung bawah
tiang. Kepala tiang mungkin bisa juga rusak selama proses pemancangan.
Kerusakan pada serat-serat kayu yang disebabkan oleh tumbukan palu dinamakan
dengan brooming. Untuk mencegah kerusakan kepala tiang, topi dari logam
biasanya ditambahkan pada kepala tiang.
Pondasi tiang pancang kayu di Indonesia, dipergunakan pada rumah-rumah
panggung di daerah Kalimantan, di Sumatera, di Nusa Tenggara, dan pada rumah-
rumah nelayan di tepi pantai.

Gambar I.5 Penyambungan tiang kayu: (a) selubung pipa; (b) lempeng logam
dengan baja

2 Tiang Pancang Beton


Pondasi tiang beton dipergunakan untuk bangunan-bangunan tinggi (high rise
building). Pondasi tiang pancang beton, proses pelaksanaannya dilakukan sebagai
berikut
1. Melakukan test “ boring” untuk menentukan kedalaman tanah keras dan
klasifikasi panjang tiang pancang, sesuai pembebanan yang telah diperhitungkan.
2. Melakukan pengeboran tanah dengan mesin pengeboran tiang pancang.
3. Melakukan pemancangan pondasi dengan mesin pondasi tiang pancang.
Pondasi tiang pancang beton pada prinsipnya terdiri dari : pondasi tiang pancang
beton cor di tempat dan tiang pancang beton system fabrikasi.
Pondasi tiang pancang beton cor ditempat
Proses pelaksanaannya pondasi tiang pancang beton cor di tempat sebagai
berikut :
1. Melakukan pemboran tanah sesuai kedalamn yang ditentukan dengan
memasukkan besi tulangan beton.
2. Memompa tanah bekas pengeboran ke atas permukaan tanah.
3. Mengisi lubang bekas pengeboran dengan adukan beton, dengan sistem
dipompakan dan desakan/tekanan.
4. Pengecoran adukan beton setelah selesai sampai di atas permukaan tanah.
5. Kemudian dipasang stek besi beton sesuai dengan aturan teknis yang telah
ditentukan.
Pondasi tiang pancang beton sistem fabrikasi
Kemajuan teknologi khususnya pada bidang rancang bangun beton bertulang telah
menemukan pondasi tiang pancang sistem fabrikasi. Cetakan-cetakan pondasi
dengan beberapa variasi diameter tiang pancang dan panjang tiang pancang dibuat
dalam pabrik dengan system “Beton Pra-Tekan” Ukuran tiang pancang produksi
pabrik dapat dilihat pada tabel berikut ini
Tabel I.1 Tiang Pancang Beton
Gambar I.6 Tiang beton cor di tempat (lihat Tabel I.1 untuk deskripsi lebih lanjut)

3 Tiang baja
Tiang baja umumnya digunakan baik sebagai tiang pipa maupun sebagai tiang baja
berpenampang H. Tiang pipa dapat disorongkan ke dalam tanah dengan ujung
terbuka atau tertutup. Balok baja berpenampang flens-lebar (wide-flange) dan I
dapat juga digunakan sebagai tiang. Namun tiang berpenampang H biasanya lebih
disukai karena badan (web) flensnya memiliki ketebalan yang sama. Pada balok
berpenampang flens-lebar dan I, ketebalan badannya lebih tipis dari flensnya.
Memberikan ukuran tiang baja penampang H standar yang digunakan di Amerika
Serikat. Memperlihatkan daftar sejumlah penampang pipa yang sering digunakan
untuk pemipaan. Dalam banyak kasus, tiang pipa diisi dengan beton setelah
dimasukkan ke dalam tanah.

Contoh penampang tiang pipa

Gambar I.7 Tiang baja: (a) sambungan tiang-H dengan las; (b) sambungan tiang
pipa dengan las; (c) sambungan tiang-H dengan paku keling dan baut; (d) sarung
datar pemancangan tiang pipa; (e) sarung konikal pemancangan tiang pipa
2.b Pondasi Sumuran (Caisson)
Caisson adalah suatu pondasi yang terletak pada lapisan pendukung, yang
terbenam ke dalam tanah karerna beratnya sendiri dan dengan mengeluarkan
tanah galian dari dasar bangunan bulat yang terbuat dari beton bertulang.
Pondasi ini terbuat dari beton bertulang atau beton pracetak, yang umum
digunakan pada pekerjaan jembatan di Indonesia adalah dari silinder beton
bertulang dengan diameter 250 cm, 300 cm, 350 cm, dan 400 cm. Pekerjaan ini
mencakup penyediaan dan penurunan dinding sumuran yang dicor di tempat atau
pracetak yang terdiri unit-unit beton pracetak. Penurunan dilakukan dengan
menggali sedikit demi sedikit di bawah dasarnya. Berat beton pada sumuran
memberikan gaya vertical untuk mengatasi gesekan (friction) antara tanah dengan
beton, dan dengan demikian sumuran dapat turun.
Ketepatan pematokan pada sumuran sangat penting karena tempat yang
digunakan oleh sumuran sangat besar. Akibat kesalahan pematokan, bersama-
sama dengan kemiringan yang terjadi pada waktu sumuran diturunkan, dapat
menyebabkan sumuran itu berada di luar daerah kepala jembatan atau pilar.
Hal ini merupakan tambahan pekerjaan untuk memperbesar kapala jembatan atau
pilar, dan akan meneruskan beban vertical dari bangunan atas kepada bangunan
bawah secara eksentris. Garis tengah memanjang jembatan dan garis tengah
melintang dari sumuran harus ditentukan dan dioffset sejauh jarak tertentu untuk
memastikan bahwa titik titik referensi tersebut tidak terganggu pada saat
pembangunan sumuran.
Harus diperhatikan penentuan letak tiap segmen untuk memastikan bahwa segmen
baru akan mempunyai alinyemen yang benar sepanjang sumbu vertical. Hal ini
penting terutama pada waktu suatu segmen ditambahkan pada sumuran yang tidak
(keluar dari) vertical. Secara ideal kemiringan ini harus diperbaiki sebelum
penambahan segmen berikutnya. Setelah pekerjaan pematokan selesai, dilakukan
penggalian pendahuluan untuk memberikan jalan awal melalui mana sumuran akan
diturunkan. Sisi galian ini harus sedapat mungkin vertical

Gambar I.8 Jenis Pondasi Sumuran


Gambar I.9 Bentuk Detail Pondasi Sumuran

Jenis ini dibedakan antara kaisaon terbuka dan kaison tekanan, kaison dip[akai
sebagai pondasi bangunan yang besar, bila cara pemotongan terbuka tidak dapat
dipakai akibat adanya air yang nai, atau endapan pada dasar piondasi dan lainnya
dan bila daya dukung (vertikal mendatar) tidak mencukupi untuk pondasi tiang.

Gambar I.10 Bagian Pekerjaan Caison Tekanan

2.c Pondasi Tiang Bor (Bored Pile)


Penggunaan bor pile relative menimbulkan getaran karena tidak ada tanah yang
dimobilisir. Karena itu sangat cocok untuk pembangunan diperkotaan yang padat
bangunan.
Pengecoran beton harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan. Dimanapun beton
digunakan harus dicor ke dalam suatu lubang yang kering dan bersih. Beton harus
dicor melalui sebuah corong dengan panjang pipa. Pengaliran harus diarahkan
sedemikian rupa hingga beton tidak menimpa baja tulangan atau sisi-sisi lubang.
Beton harus dicor secepat mungkin setelah pengeboran dimana kondisi tanah
kemungkinan besar akan memburuk akibat terekspos. Bilamana elevasi akhir
pemotongan berada di bawah elevasi muka air tanah, tekanan harus dipertahankan
pada beton yang belum mengeras, sama dengan atau lebih besar dari tekanan air
tanah, sampai beton tersebut selesai mengeras.

Gambar I.11 Pondasi Bor Pile

BAB II
PERHITUNGAN PONDASI

II.1 Perhitungan Daya Dukung Tiang Pancang Tunggal (Single Pile)


Untuk menentukan kapasitas dukung satu tiang digunakan metode pendekatan
analitis dari hasil pengujian dilapangan. Dalam penulisan ini akan digunakan
metode interpretasi daya dukung tiang pancang beradasarkan data SPT menurut
Mayerhof dan Luciano Decourt.

II.1.a Interpretasi Kapasitas Dukung Tanah Berdasarkan Nilai SPT Menurut


”Mayerhof”
Dalam hal ini penyelidikan tanah dilakukan di tiap titik-titik bor, maka dalam
pembahasan ini titik yang diambil yaitu: BH-I, BH-II dan BH-III. Interpretasi daya
dukung tiang pancang berdasarkan data SPT dapat dihitung dengan menggunakan
formula klasik Mayerhof.
Untuk diameter tiang direncanakan , D = 0,45 m, maka :
. D2π Ap = 1/¬4¬ .
= 1/¬4¬. 3,14 . 0,452 = 0,159 m2
Tiang yang dipancang pada lapisan tanah keras harus diperehitungkan terhadap
daya dukung izin tiang. Penentuan daya dukung izin tiang pancang dapat diperoleh
dengan mulai menghitung ekivalen tiang dari penetrasi tiang.
a. Mencari ekivalen tiang dari penetrasi tiang
- Pada titik BH-I
(a) Harga N pada ujung tiang N1 = 34,55 (dari intervolasi)
(b) Harga N rata-rata pada jarak 4D dari ujung tiang ke atas ( ¬2)
Karena harga N pada jarak 4D dari ujung tiang ke atas hanya satu yaitu harga N
pada ujung tiang, maka Harga ¬2 = 34,55
(c) Harga untuk pernerncanaan tanah pada ujung tiang yaitu :
= = = 34,55 ≤ 40
(c) Menentukan panjang ekivalen penetrasi pada lapisan pendukung (l).
Karena harga = N1 seperti terlihat pada gambar dibawah ini, maka l = 0

Gambar II.1 Kalibrasi Harga N

Untuk nilai ekivalen dari titik-titik BH yang lain dapat dilihat dalam Tabel II.1.
dibawah ini.

Tabel II.1 Panjang Ekivalen Tiang


No.Titik
BH Kedalaman Tiang (m) N¬¬¬1¬ ¬2

Panjang Ekivalen (l) (m)


BH – I 36,00 34,55 34,55 34,55 0
BH – II 36,00 37,43 37,43 37,43 0
BH – III 36,00 37,70 37,70 37,70 0

b. Daya dukung pada ujung tiang


Contoh perhitungan pada BH-I, yaitu :
==0
mencari nilai dapat dilihat pada gambar II.2.

Gambar II.2 Diagram perhitungan dari intensitas daya dukung ultimit tanah pada
ujung tiang Pada Titik BH-I

= 10
q¬d¬ = 10 . = 10 . 34,55 = 345,5 ton/m²
Untuk daya dukung ujung tiang dari titik-titik yang lain dapat dilihat dalam Tabel
II.2 dibawah ini.
Tabel II.2 Daya dukung ujung tiang
No.Titik
BH L
(m) D
(m)

q¬d¬
(ton/m²)
BH -I 0 0,45 0 10 34,55 345,5
BH-II 0 0,45 0 10 37,43 374,3
BH -III 0 0,45 0 10 37,70 377,0

c. Gaya geser maksimum dinding tiang


Besarnya gaya geser maksimum dari lapisan tanah (fi) dapat diperoleh sebagai
berikut : (lihat pada tabel 2.4)
fi = ≤ 10 (untuk tanah berpasir)
fi = c atau Ni ≤ 12 (untuk tanah kohesif)
Dimana : Ni = Harga rata-rata N pada tiap jenis lapisan tanah.
Perhitungan gaya geser pada titik BH-I yaitu :
Pada kedalaman 3,95 – 7,00m dengan jenis tanah pasir halus, maka :±
fi =
Ni = = 14
fi = = 2,8 t/m² ≤ 10
untuk perhitungan selanjutnya dapat dilihat pada tabel II.3. dibawah ini.

Tabel II.3 Perhitungan gaya geser pada BH – I.


Kedalamanan
(m) Tebal Lapisan Li
(m) Jenis Tanah Harga
Rata-rata
N fi
(t/m²) Li.fi
(t/m²)
3.95 - 7.00 3.05 Pasir halus 14 2.80 8.54
7.00 - 9.00 2.00 Lanau berpasir 0 0 0
9.00 - 17.00 8.00 Pasir halus 20.67 4.13 33.04
17.00 - 31.00 14.00 Lempung 5 5 70.00
31.00 - 36.00 5.00 Pasir halus 23.27 4.65 23.35
Σ 32.05 134.83
R = Li.fiΣ U .
= 3,14 . 0,45.134,83
= 190,515 ton

Tabel II.4 Perhitungan gaya geser pada BH – I.I


Kedalamanan
(m) Tebal Lapisan Li
(m) Jenis Tanah Harga
Rata-rata
N fi
(t/m²) Li.fi
(t/m²)
3.95 - 7.00 3.05 Pasir halus dan fossil 11 2.20 6.71
7.00 - 13.50 6.50 Pasir halus 25.5 5.10 33.15
13.50 - 34.00 20.50 lempung dan fossil 5.86 5.86 120.13
34.00 - 36.00 2.00 Pasir halus 37.43 7.49 14.98
Σ 32.05 174.97
R = Li.fiΣ U .
= 3,14 . 0,45. 174,97
= 247,233 ton

Tabel II.5 Perhitungan gaya geser pada BH – III


Kedalamanan
(m) Tebal Lapisan Li
(m) Jenis Tanah Harga
Rata-rata
N fi
(t/m²) Li.fi
(t/m²)
3.95 - 4.00 0.05 Pasir halus 16 3.20 0.16
4.00 - 10.50 6.50 Pasir halus dan fossil 22.5 4.50 29.25
10.50 - 14.50 4.00 Pasir halus 32 6.4 25.60
14.50 - 35.00 20.50 Lempung 6.43 6.43 131.82
35.00 - 36.00 1.00 Pasir halus 37.7 7.54 7.54
Σ 32.05 194.37
R = Li.fiΣ U .
= 3,14 . 0,45. 194,37
= 274,645 ton

d. Daya dukung Ultimite tanah terhadap tiang pancang pada arah vertikal
Rumus :
Ru = qd . Ap + R
Perhitungan daya dukung ultimite pada titik BH – I, yaitu :
Ru = 345,5 . (0,159) + 190,515
= 245,450 ton

Untuk perhitungan daya dukung ultimite tanah pada titik bor yang lain dapat dilihat
pada tabel II.6.
Tabel II.6 Perhitungan daya dukung ultimite tanah terhadap tiang pancang pada
arah vertikal
No. Titik
BH qd
(ton/tiang) Ap
(m2) R
(ton) Ru
(ton)
BH – I 345,5 0.159 190,515 245,450
BH – II 374,3 0.159 247,233 306,747
BH – III 377,0 0.159 274,645 334,588
e. Daya dukung yang diizinkan
Waktu normal:
Ra =
Perhitungan pada titik bor BH – I, yaitu ::
Ra = = 81,817 ton
Untuk perhitungan pada titik-titik bor lainnya dapat dilihat pada tabel II.7.
Tabel II.7 Perhitungan Daya dukung yang diizinkan
No. Titik
BH Ru
(ton) Fk Ra
(ton)
BH – I 245,450 3 81,817
BH – II 306,747 3 102,249
BH – III 334,588 3 111,529

II.1.b Interpretasi Kapasitas Dukung Tanah Berdasarkan Nilai SPT menurut


”Luciano Decourt”
Dalam memperkirakan daya dukung tiang pancang (Qu) berdasarkan data SPT
menurut Luciano Decourt, dapat menggunakan persamaan sebagai berikut :
Qu = Qp + Qs
Untuk diameter tiang direncanakan , D = 0,45 m, maka :
As = π. D.L
= 3,14. 0,45. 36,00
= 50,868 m²
Untuk memperkirakan daya dukung ujung tiang (Qp) pada titik BH-I dapat dihitung
dengan persamamaan sebagai berikut :
Qp = q .A
Tegangan ultimit ujung tiang (q ) :
q = .K
Dimana : q = Tegangan ultimit ujung tiang (ton/m²)
= rata-rata jumlah pukulan (3 harga N) di ujung tiang ke atas
K = Koefisen tanah (ton/m²)
A = Luas penampang tiang (m²)
= = 16,85
K = 392 kPa = 392 . 1,02.10 = 39,984 ton/m² (dari tabel 2.5)
q = 19,85. 39,984 = 673,730 ton/m²
Maka daya dukung ultimit ujung tiang (Qp) :
Qp = q .A
= 673,730 . (0,159) = 107,123 ton
Untuk daya dukung ujung tiang dari titik-titik yang lain dapat dilihat dalam Tabel
II.8 dibawah ini.

Tabel II.8 Daya dukung ujung tiang (Qp)


No.Titik
BH
K
(ton/m²) q
(ton/m²) Ap
(m²) Qp
(ton)
BH -I 16,85 39,984 673,730 0,159 107,123
BH-II 17,48 39,984 698,920 0,159 111,128
BH -III 17,90 39,984 715,714 0,159 113,799

Untuk memperkirakan daya dukung akibat gesekan tiang (Qs) pada titik BH-I dapat
dihitung dengan persamamaan sebagai berikut :
Qs = As.q
Gesekan disepanjang tiang (q ),
q=
Dimana : q = Gesekan disepanjang tiang (ton/m²)
= , (dengan n = jumlah titik yang ditinjau)
= rata-rata jumlah pukulan
= Jumlah pukulan pada tiap lapis tanah sepanjang tiang yang tertanam
As = Luas permukaan tiang/sisi tiang yang tertanam (m²)

= = 14,05
q = = = 5,68 ton/m²
Maka daya dukung ultimit gesekan tiang (Qp) :
Qs = As.q
Qs = 50,868 . (5,68) = 288,930 ton
Untuk daya dukung akibat gesekan tiang dari titik-titik yang lain dapat dilihat
dalam Tabel II.9 dibawah ini.
Tabel II.9 Daya dukung gesekan tiang (Qs)
No.Titik
BH
n
As
(m²) q
(ton/m²) Qs
(ton)
BH -I 168,55 12 14,05 50,868 5,68 288,930
BH-II 151,43 12 12,62 50,868 5,21 265,022
BH -III 175,70 12 14,63 50,868 5,88 299,104

Jadi besar daya dukung ultimit tiang pancang pada titik bor BH-I, yaitu :
Qu = Qp + Qs
= 107,123 + 288,930
= 396,053 ton
Sehingga :
Qu =
= = 132,018 ton
Untuk daya dukung ultimit tiang pancang (Qu) dari titik-titik yang lain dapat dilihat
dalam Tabel II.10 dibawah ini.
Tabel II.10 Daya dukung ultimit tiang pancang (Qu)
No.Titik
BH Qp
(ton) Qs
(ton) Qu
(ton)
Qu
(ton)
BH -I 107,123 288,930 396,053 3 132,018
BH-II 111,128 265,022 376,150 3 125,383
BH -III 113,799 299,104 412,903 3 137,634

Jadi perbandingan perhitungan daya dukung ultimit berdasarkan data SPT menurut
Mayerhof dan Luciano Decourt dapat dilihat pada tabel II.11. dibawah ini :
Tabel II.11 Perbandingan Daya dukung ultimit (Qu) menurut Mayerhof dan Luciano
Decourt
No.Titik
BH Qu “Mayerhof”
(ton) Qu “Luciano Decourt”
(ton)
BH -I 81,817 132,018
BH-II 102,249 125,383
BH -III 111,529 137,634

II.2 Effisiensi Kelompok tiang pancang (Pile group)


Dalam menganalisa daya dukung kelompok tiang pancang perlu juga untuk
menghitung effisiensi kelompok tiang pancang yaitu perbandingan kapasitas jumlah
kapasitas masing-masing tiang pancang. Untuk menghitung jarak dari kelompok
tiang pancang maka digunakan formula sebagai berikut :
s=
dimana:
s = jarak antara tiang (m)
m = banyak baris
n = banyak kolom
misalnya : m = 3 ; n = 2

s = = 0,963 m

Gambar II.3. Denah perencanaan kelompok tiang pancang

Menurut Joseph E. Bowles effisiensi kelompok tiang pancang


Eg =
Dimana:
Eg = Perbandingan habatan kulit pada garis keliling kelompok terhadap jumlah
tahanan kulit masing-masing tiang pancang
D = Diameter tiang pancang (m)
Maka diperoleh:
Eg =
Eg = 1,00

II.3 Daya dukung Kelompok Tiang Pancang


Untuk menghitung daya dukung tiang pancang pada lapisan tanah yang mencapai
lapisan keras diperkirakan bahwa daya dukung tiang dalam kelompok tiang adalah
sama dengan kemampuan tiang tunggal dikalikan dengan banyak tiang yaitu:
Qpg = n . Eg. Qu

Dimana:
Qpg = Daya dukung kelompok tiang pancang (pile group)
Qu = daya dukung tiang pancang yang berdiri sendiri (single pile)
n = Banyaknya tiang pancang
Eg = Efisiensi kelompok tiang pancang
Pada penulisan ini jumlah kelompok tiang diasumsikan sebanyak 4 tiang
Maka dari hasil perhitungan daya dukung tiang tunggal (single pile) yang akan
digunakan untuk perhitungan daya dukung kelompok tiang (pile grup) yaitu pada
hasil analisa yang terkecil yang diperoleh dari formula klasik Mayerhof, sehingga :
Qpg = n . Eg. Qu
Qpg = 4.1,00. (81,817) = 327,268 ton
Untuk perhitungan daya dukung kelompok tiang pancang pada titik bor yang lain
dapat dilihat dalam tabel II.12 dibawah ini :
Tabel II.12 Daya Dukung Kelompok Tiang Pancang
NO. Titik
BH Qu
(ton) n Qpg
(ton)
BH -I 81,817 4 327,268
BH -II 102,249 4 408,996
BH -III 111,529 4 446,116

II. 4 Perhitungan Pondasi Telapak

Menghitunga luasan telapak Foot Plate :


h Pondasi diambil 500 mm
Kedalamn pondasi = 2 m
q Netto = q tanah izin – (h pondasi γ beton) – (kedalaman pondasi γ tanah)
γ tanah = 18 kN/m3

Pondasi Pada luasan pada Kolom Kn (ex K1 ; K2, dst) :


Pu = 3508,94 kN
P = 2591,74 kN
M kap = 853,36 kNm
Dengan Mencoba tinggi Pondasi
h pondasi = di coba 500 mm
q Netto = 225 – (0,5 . 240 – (2 . 18)
= 177 kN/m2
Hasil dari perhitungan pondasi diatas, selanjutnya dituangkan dalam gambar detail
pondasi seperti gambar berikut ini :

Landasan Teori (Dasar Perencanaan)

Dalam mendesain pondasi telapak, perencanaan pondasi harus mencakup segala aspek agar
terjamin keamanan sesuai dengan persyaratan yang berlaku, misalnya, penentuan dimensi
pondasi meliputi panjang, lebar dan tebal pondasi, kemudian jumlah dan jarak tulangan yang
harus dipasang pada pondasi.

Adapun peraturan untuk perencanaan pondasi telapak tercantum pada SNI 03-2847-2002
merujuk pada pasal 13.12 dan pasal 17.

Jika sobat kampuz ada yang belum memiliki peraturan tersebut. Silahkan klik disini untuk
download SNI 03-2847-2002

Garis besar perencaan Fondasi Telapak

1. Menentukan Dimensi Pondasi

hal yang paling penting dalam merencanakan pondasi adalah menentukan ukuran dimensi,
dimana ukuran panjang, lebar dan ketebalan telapak pondasi harus ditetapkan sedemikian rupa
sehingga tegangan yang terjadi pada dasar pondasi tidak melebihi daya dukung tanah
dibawahnya

2. Mengontrol Kuat Geser 1 Arah

kerusakan akibat gaya geser 1 arah terjadi pada keadaan dimana mula-mula terjadi retak miring
pada daerah beton tarik (seperti creep) lihat gambar dibawah. Akibat distribusi beban vertikal
dari kolom (Pu kolom) yang diteruskan ke pondasi, maka pada bagian dasar pondasi mengalami
tegangan. Akibat tegangan ini, tanah memberikan respon berupa gaya reaksi vertikal keatas
(gaya geser) sebagai akibat dari adanya gaya aksi tersebut. Kombinasi beban vertikal Pu kolom
(kebawah) dan gaya geser tekanan tanah keatas berlangsung sedemikian rupa sehingga sedikit
demi sedikit membuat retak miring tadi semakin menjalar keatas sehingga membuat daerah
beton tekan semakin mengecil. Nah…dengan semakin mengecilnya daerah beton tekan ini maka
mengakibatkan beton tidak mampu menahan beban geser tanah yang menyodok/mendorong
keatas, akibatnya beton tekan akan mengalami keruntuhan.
Kerusakan pondasi yang diakibatkan oleh gaya geser 1 arah ini biasanya terjadi jika nilai
perbandingan antara nilai a dan nilai d cukup kecil, dan selain itu, mutu beton yang digunakan
juga kurang baik sehingga mengurangi kemampuan beton dalam menahan beban tekan
Retak pondasi yang diakibatkan oleh gaya geser 1 arah, biasanya terjadi pada jarak +/- d dari
muka kolom, dimana d adalah tebal efektif podasi

3. Mengontrol Kuat Geser 2 Arah (Geser Pons)

Bisa disebut juga dengan geser pons (punching shear), dimana akibat gaya ini, pondasi
mengalami kerusakan disekeliling kolom dengan jarak kurang lebih d/2
4. Menghitung Tulangan Pondasi

Beban yang bekerja pada pondasi adalah beban dari reaksi tegangan tanah yang bergerak vertikal
keatas akibat adanya gaya aksi vertikal kebawah (Pu) yang disalurkan oleh kolom. Tulangan
pondasi dihitung berdasarkan momen maksimal yang terjadi pada pondasi dengan asumsi bahwa
pondasi dianggap pelat yang terjepit dibagian tepi-tepi kolom.

Menurut SNI 03-2847-2002, untuk tulangan pondasi telapak berbentuk bujursangkar harus
disebar merata pada seluruh lebar pondasi (lihat pasal 17.4.3)

5. Mengontrol Daya Dukung Pondasi


Pondasi sebagai struktur bangunan bawah yang menyangga kolom yang memikul beban-beban
diatasnya (bangunan atas) harus mampu menahan beban axial terfaktor (Pu) dari kolom tersebut.
Maka dari itu beban dari Pu diisyaratkan tidak boleh melebihi daya dukung dari pondasi (Pup)
yang dirumuskan sebagai berikut :

Pu < Pup

Pup = Ø x 0,85 x fc’ x A

Dimana :

Pu = Gaya aksial terfaktor kolom……. (N)

Pup = Daya dukung pondasi yang dibebani……. (N)

fc’ = Mutu beton yang diisyaratkan……. (Mpa)

A = Luas daerah yang dibebani…….(mm2)

Untuk contoh penggunaan spreadsheet ini, akan diulas pada posting berikutnya.

Dasar teori spreadsheet perhitungan pondasi telapak bujursangkar ini mengacu pada SNI 03-
2487-2002, dan alur langkah perhitungan ada dalam bagan alir perencanaan pondasi yang ada
dalam spreadsheet tersebut.