Anda di halaman 1dari 13

BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Infertilitas

Infertilitas adalah ketidakmampuan untuk hamil setelah sekurang-kurangnya satu


tahun berhubungan seksual sedikitnya empat kali seminggu tanpa kontrasepsi (Strigh B,
2005:5 ).

Adapula pengertian lain yaitu, infertilitas adalah pasangan suami istri yang telah
menikah selama satu tahun dan sudah melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan
alat kontrasepsi tetapi belum memiliki anak (Sarwono, 2000).

Menurut dokter ahli reproduksi, sepasang suami istri dikatakan infertil jika tidak
hamil setelah 12 bulan melakukan hubungan intim secara rutin (1-3 kali seminggu) dan
bebas kontrasepsi bila perempuan berumur kurang dari 34 tahun. Tidak hamil setelah
enam bulan melakukan hubungan intim secara rutin dalam kurun 1-3 kali seminggu dan
bebas kontrasepsi bila perempuan berumur lebih dari 35 tahun serta perempuan yang bisa
hamil namun tidak sampai melahirkan sesuai masanya (37-42 minggu).

Pada dasarnya infertilitas adalah ketidakmampuan secara biologis dari seorang laki-
laki atau seprang perempuan untuk menghasilkan keturunan.

B. Jenis Infertilitas

Jenis infertilitas ada dua yaitu  infertilitas primer dan infertilitas sekunder. 

1. Infertilitas primer

Dikatakan infertilitas primer apabila istri belum pernah hamil walaupun


melakukan hubungan seksual tanpa usaha kontrasepsi dan berada pada kepada
kemungkinan kehamilan selama dua belas bulan.

 Penyebab infertilitas primer

Infertilitas primer banyak dialami oleh pasangan suami istri,


penyebabnya dapat disebabkan oleh gaya hidup masing-masing yang kurang
sehat. Seperti tidak tercukupinya asupan makanan yang menunjang produksi
hormon reproduksi, tidak melakukan olahraga, stress berkepanjangan yang
nantinya akan mempengaruhi produksi hormon dan masalah waktu yang tepat
untuk melakukan hubungan seksual.

2. Infertilitas sekunder

Infertilitas sekunder adalah apabila istri pernah hamil, namun kemudian tidak
terjadi kehamilan lagi walaupun melakukan hubungan seksual tanpa usaha
kontrasepsi dan berada kepada kemungkinan kehamilan selama dua belas bulan.

 Penyebab infertilitas primer

Masalah pada infertilitas sekunder sangat berhubungan dengan


masalah pada pasangan dengan infertilitas primer. Sebagian besar pasangan
dengan infertilitas sekunder menemukan penyebab masalah kemandulan
sekunder tersebut, darikombinasi  berbagai faktor  meliputi :

a. Usia
Faktor usia sangat berpengaruh pada kesuburan seorang wanita.
Selama wanita tersebut masih dalam masa reproduksi yang berarti
mengalami haid yang teratur, kemungkinan masih bisa hamil. Akan tetapi
seiring dengan bertambahnya usia maka kemampuan indung telur untuk
menghasilkan sel telur akan mengalami penurunan. Penelitian menunjukkan
bahwa potensi wanita untuk hamil akan menurun setelah usia 25 tahun dan
menurun drastis setelah usia diatas 38 tahun. Berdasarkan penelitian yang
dilakukan oleh National Center for Health Statistics menunjukkan bahwa
wanita subur berusia dibawah 25 tahun memiliki kemungkinan hamil 96%
dalam setahun, usia 25 –34 tahun menurun menjadi 86% dan 78% pada usia
35 – 44 tahun. Pada pria dengan bertambahnya usia juga menyebabkan
penurunan kesuburan.

Meskipun pria terus menerus memproduksi sperma sepanjang


hidupnya, akan tetapi morfologi sperma mereka mulai menurun. Penelitian
mengungkapkan hanya sepertiga pria yang berusia diatas 40 tahun mampu
menghamili isterinya dalam waktu 6 bulan dibanding pria yang berusia
dibawah 25 tahun. Selain itu usia yang semakin tua juga mempengaruhi
kualitas sperma (Kasdu, 2001:63 ).

b. Masalah reproduksi
Masalah pada sistem reproduksi dapat berkembang setelah kehamilan
awal bahkan, kehamilan sebelumnya kadang-kadang menyebabkan masalah
reproduksi yang benar-benar mengarah pada infertilitas sekunder, misalnya
perempuan yang melahirkan dengan operasi caesar, dapat menyebabkan
jaringan parut yang mengarah pada penyumbatan tuba. Masalah lain yang
juga berperan dalamreproduksi yaitu ovulasi tidak teratur, gangguan pada
kelenjar pituitary dan penyumbatan saluran sperma.

c. Faktor gaya hidup


Perubahan pada faktor gaya hidup juga dapat berdampak pada
kemampuan setiap pasangan untuk dapat menghamili atau hamil lagi.
Wanita dengan berat badan yang berlebihan sering mengalami gangguan
ovulasi, karena kelebihan berat badan dapat mempengaruhi estrogen dalam
tubuh dan mengurangi kemampuan untuk hamil. Pria yang berolah raga
secara berlebihan juga dapat meningkatkan suhu tubuh mereka,yang
mempengaruhi perkembangan sperma dan penggunaan celana dalam yang
ketat juga mempengaruhi motilitas sperma ( Kasdu, 2001:66 )

C. Penyebab Infertilitas
Penyebab infertilitas dapat dibagi menjadi tiga kelompok: satu pertiga masalah terkait
pada wanita, satu pertiga pada pria dan satu pertiga disebabkan oleh faktor kombinasi.

D. Infertilitas Pada Wanita

Infertilitas pada wanita dapat disebabkan oleh:

1. Masalah vagina
Infeksi vagina seperti vaginitis, trikomonas vaginalis yang hebat akan menyebabkan
infeksi lanjut pada portio, serviks, endometrium bahkan sampai ke tuba yang dapat
menyebabkan gangguan pergerakan dan penyumbatan pada tuba sebagai organ
reproduksi vital untuk terjadinya konsepsi. Disfungsi seksual yang mencegah
penetrasi penis, atau lingkungan vagina yang sangat asam, yang secara nyata dapat
mengurangi daya hidup sperma (Stright B, 2005:60 ).
2. Masalah serviks
Gangguan pada setiap perubahan fisiologis yang secara normal terjadi selama periode
praovulatori dan ovulatori yang membuat lingkungan serviks kondusif bagi daya
hidup sperma misalnya peningkatan alkalinitas dan peningkatan sekresi (Stright B,
2005:60).

3. Masalah uterus
Nidasi ovum yang telah dibuahi terjadi di endometrium. Kejadian ini tidak dapat
berlangsung apabila ada patologi di uterus. Patologi tersebut antara lain polip
endometrium, adenomiosis, mioma uterus atau leiomioma, bekas kuretase dan abortus
septik. Kelainan-kelainan tersebut dapat mengganggu implantasi, pertumbuhan,
nutrisi serta oksigenisasi janin ( Wiknjosastro, 2002:509 ).

4. Masalah tuba
Saluran telur mempunyai fungsi yang sangat vital dalam proses kehamilan. Apabila
terjadi masalah dalam saluran reproduksi wanita tersebut, maka dapat menghambat
pergerakan ovum ke uterus, mencegah masuknya sperma atau menghambat implantasi
ovum yang telah dibuahi. Sumbatan di tuba fallopi merupakan salah satu dari banyak
penyebab infertilitas. Sumbatan tersebut dapat terjadi akibat infeksi, pembedahan tuba
atau adhesi yang disebabkan oleh endometriosis atau inflamasi (Hall et all. 1974 ).
Infertilitas yang berhubungan dengan masalah tuba ini yang paling menonjol adalah
adanya peningkatan insiden penyakit radang panggul (pelvic inflammatory disease –
PID). PID ini menyebabkan jaringan parut yang memblok kedua tuba fallopi.

5. Masalah ovarium
Wanita perlu memiliki siklus ovulasi yang teratur untuk menjadi hamil, ovumnya
harus normal dan tidak boleh ada hambatan dalam jalur lintasan sperma atau
implantasi ovum yang telah dibuahi. Dalam hal ini masalah ovarium yang dapat
mempengaruhi infertilitas yaitu kista atau tumor ovarium, penyakit ovarium
polikistik, endometriosis, atau riwayat pembedahan yang mengganggu siklus
ovarium. Dari perspektif psikologis, terdapat juga suatu korelasi antara
hyperprolaktinemia dan  tingginya tingkat stress diantara pasangan yang
mempengaruhi fungsi hormone.(Handersen C & Jones K, 2006:86 ).
E. Infertilitas Pada Pria

Infertilitas terutama lebih banyak terjadi di kota-kota besar karena gaya hidup yang
penuh stres, emosional dan kerja keras serta pola makan yang tidak seimbang. Infertilitas
dapat terjadi dari sisi pria, wanita, kedua-duanya, maupun pasangan. Dari sisi pria,
penyebab infertilitas yang paling umum terjadi adalah:

1. Faktor koitus dan bentuk dan gerakan sperma yang tidak sempurna
Faktor-faktor ini meliputi spermatogenesis abnormal, motilitas abnormal, kelainan
anatomi, gangguan endokrin dan disfungsi seksual. Kelaianan anatomi yang mungkin
menyebabkan infertilitas adalah tidak adanya vasdeferens kongenital, obstruksi
vasdeferens dan kelainan kongenital system ejakulasi. Spermatogenesis abnormal
dapat terjadi akibat orkitis karena mumps, kelainan kromosom, terpajan bahan kimia,
radiasi atau varikokel (Benson R & Pernoll M, 2009:680).
Sperma harus berbentuk sempurna  serta dapat bergerak cepat dan akurat menuju ke
telur agar dapat terjadi pembuahan. Bila bentuk dan struktur (morfologi) sperma tidak
normal atau gerakannya (motilitas) tidak sempurna sperma tidak dapat mencapai atau
menembus sel telur. Sperma memiliki tiga bagian utama:
a. Kepala sperma mengandung inti. Inti memegang DNA dari sel. Kepala juga
mengandung enzim yang membantu sperma memecah melalui membran sel telur.
b. Bagian tengah sperma dikemas dengan mitokondria. Mitokondria adalah organel
dalam sel yang menghasilkan energi. Sperma menggunakan energi dalam
midpiece untuk bergerak.
c. Ekor sperma bergerak seperti baling-baling, berputar-putar. Ekor ini adalah
flagella panjang yang mendorong sperma ke depan. Sebuah sperma dapat
melakukan perjalanan sekitar 30 inci per jam.

Untuk mengenali ciri-ciri sperma yang baik dan sperma sehat sangatlah mudah
dilihat melalui pemerikasaan atau pengamatan dengan mikroskop. berikut ini tanda
atau ciri dari sperma yang baik dan berkualitas :

a. Volume
Ketika pria mengalami ejakulasi saat berhubungan intim, normalnya sperma yang
keluar ada sekitar 2-6 ml. Jika sperma yang keluar kurang dari sperma yang
normal, kemungkinan mengaalami suatu gangguan atau masalah dengan tingkat
kesuburan yang disebabkan oleh seringnya melakukan hubungan sesual, terlalu
cepat ejakulasi dan seringnya masturbasi.

b. Waktu Pembekuan
Ciri-ciri sperma yang baik yang dikenal mengandung protein dan akan
menggumpal (koagulasi) jika dibiarkan diudara terbuka selama kurang lebih 20-
30 menit. Jika dalam waktu tersebut sperma tetap cair kemungkinan adanya
infeksi pada saluran kemih.

c. Jumlah Sel Sperma


Jumlah sel sperma yang baik yang terjadi sekali ejakulasi normalnya kurang lebih
sekitar 20-40 juta sperma atau 0 (nol) jika pria menjalani vasektomi. Jika
seseorang memiliki jumlah sperma yang kurang dari sperma normal dapat
dikatakan mengalami ketidak suburan. Walaupun seperti itu tetap tidak menutup
kemungkinan jumlah sperma yang kurang dari jumlah normal sperma tetap bisa
membuahi sel telur.

d. Bentuk Sperma (Morfologi)


Untuk mendapatkan sperma yang sehat, minimal sperma pria harus memiliki 70%
sel sperma dalam sekali ejakulasi dan harus memiliki bentuk ideal. Jika sel sperma
yang abnormal umumnya memiliki 2 ekor (ekor pendek dan kepala kecil)
sehingga memungkinkan kegagalan dalam membuahi sel telur.

e. Pergerakan Sperma (Motilitas)


Gerakan sperma seperti kecebong serta lincah dan cepat dalam pergerakannya
maka dapat disebut sebagai sperma yang memiliki kualitas yang baik. Minimal
60% dari jumlah sperma yang dikeluarkan dalam sekali ejakulasi harus dapat
bergerak lincah berenang menuju sel telur dan sisanya bergerak lambat tak
menjadi masalah.

f. Keasaman Sperma (pH)


Sperma juga memerlukan keseimbangan pH sekitar 7,2-8,0 untuk tetap menjaga
kondisi, kualitas sperma yang ideal agar mampu bertahan hidup dan bergerak
secara optimal. Bila keasaman dan keseimbangan sperma terlalu tinggi atau
rendah dapat membunuh sel sperma.
g. Jumlah Sel Darah Putih

Sel darah putih umumnya tidak ditemukan didalam cairan sperma. Sel darah putih
hanya terdeteksi atau terlihat di urine dan cairan sperma jika mengalami infeksi
yang ditemukan bersama dengan beberapa bakteri penyebab infeksi.

Sedangkan, morfologi sperma yang abnormal antara lain:

a) Makro : 25 % > kepala normal.


b) Mikro : 25 % < kepala normal.
c) Taper : kurus, lebar kepala ½ dari yang normal, tidak jelas batas akrosom,
memberi gambaran cerutu.
d) Piri : memberi gambaran ”tetesan air mata”.
e) Amorf : bentuk kepala yang ganjil, permukaan tidak rata, tidak jelas batas
akrosom.
f) Round : bentuk kepala seperti lingkaran, tidak menunjukkan akrosom
g) Piri : tidak jelas adanya kepala yang nyata, tampak midpiece dan ekor saja.
h) Ekor abnormal : pendek / spiral / permukaan tidak halus / ganda.
Ciri-ciri sperma yang tidak sehat ialah:

a) Berbau busuk
Cara mendasar untuk membedakan sperma sehat atau tidak adalah dengan
mencium bau yang dihasilkan dari sperma itu sendiri. Apabila sperma sobat
mengeluarkan aroma yang sangat bau dan busuk, maka bisa dipastikan bahwa
sperma tersebut dalam keadaan yang tidak sehat. Mengapa? Karena sperma
yang sehat dan normal adalah sperma yang mengeluarkan bau klorin. Bila
sperma sobat berbau busuk maka ada kemungkinan bahwa telah terjadi sebuah
infeksi yang menyerang sperma. Untuk mengatasi hal ini, sebisa mungkin
carilah dokterk yang telah berpengalaman untuk mendapatkan solusi.

b) Warna sperma
Selain putih, ternyata ada juga beberapa warna yang mengindikasikan bahwa
sperma masuk dalam kategori sehat atau tidak. Warna-warna tersebut adalah
kuning, hijau, merah, dan coklat. Untuk sobat yang mempunyai sperma
dengan warna yang terlalu kuning bahkan cenderung hijau, maka sobat harus
berhati-hati karena warna tersebut mengindikasikan terjadinya infeksi. Selain
itu bisa dimungkinkan bahwa sperma sobat terserang sebuah penyakit menular
yang disebut dengan kencing nanah atau gonore. Sperma berwarna merah pun
berbahaya, karena warna merah ataupun coklat mengindikasikan bahwa ada
pembuluh darah yang pecah di area prostat. Warna merah disebabkan oleh
darah persisten keluar bersama sperma.

c) Sperma terlalu kental


Mempunyai sperma lengket seperti jelly memang merupakan hal yang tak
menghawatirkan karena menunjukkan bahwa sperma sobat sehat. Namun
apabila sperma terlalu lengket atau kental, maka bisa saja sperma sobat tidak
dalam keadaan sehat. Untuk sperma yang normal, dalam waktu sekitar 30
menit maka akan menjadi encer bahkan bening. Air mani kental bisa
disebabkan oleh dehidrasi ataupun rendahnya hormone testosterone yang ada
pada tubuh. Untuk itu, pria harus waspada apabila memiliki air mani yang
terlalu kental.

2. Kualitas sperma atau konsentrasi sperma rendah


Konsentrasi sperma yang normal adalah 20 juta sperma/ml semen atau lebih. Bila 10
juta/ml atau kurang maka menujukkan konsentrasi yang rendah (kurang subur).
Hitungan 40 juta sperma/ml atau lebih berarti sangat subur. Jarang sekali ada pria
yang sama sekali tidak memproduksi sperma. Kurangnya konsentrasi sperma ini
dapat disebabkan oleh testis yang kepanasan (misalnya karena selalu memakai celana
ketat), terlalu sering berejakulasi (hiperseks), merokok, alkohol dan kelelahan.
3. Tidak ada semen
Semen adalah cairan yang mengantarkan sperma dari penis menuju vagina. Bila tidak
ada semen maka sperma tidak terangkut (tidak ada ejakulasi). Kondisi ini biasanya
disebabkan penyakit atau kecelakaan yang memengaruhi tulang belakang.
4. Varikokel (varicocele)
Varikosel adalah varises atau pelebaran pembuluh darah vena yang berhubungan
dengan testis. Sebagaimana diketahui, testis adalah tempat produksi dan
penyimpanan sperma. Varises yang disebabkan kerusakan pada sistem katup
pembuluh darah tersebut membuat pembuluh darah melebar dan mengumpulkan
darah. Akibatnya, fungsi testis memproduksi dan menyalurkan sperma terganggu.
5. Testis tidak turun
Testis gagal turun adalah kelainan bawaan sejak lahir, terjadi saat salah satu atau
kedua buah pelir tetap berada di perut dan tidak turun ke kantong skrotum. Karena
suhu yang lebih tinggi dibandingkan suhu pada skrotum, produksi sperma mungkin
terganggu.
6. Kekurangan hormon testosterone
Kekurangan hormon ini dapat memengaruhi kemampuan testis dalam memproduksi
sperma.
7. Kelainan genetic
Dalam kelainan genetik yang disebut sindroma Klinefelter, seorang pria memiliki dua
kromosom X dan satu kromosom Y, bukannya satu X dan satu Y. Hal ini
menyebabkan pertumbuhan abnormal pada testis sehingga sedikit atau sama sekali
tidak memproduksi sperma. Dalam penyakit Cystic fibrosis, beberapa pria
penderitanya tidak dapat mengeluarkan sperma dari testis mereka, meskipun sperma
tersedia dalam jumlah yang cukup. Hal ini karena mereka tidak memiliki vas
deferens, saluran yang menghubungkan testis dengan saluran ejakulasi.
8. Infeksi
Infeksi dapat memengaruhi motilitas sperma untuk sementara. Penyakit menular
seksual seperti klamidia dan gonore sering menyebabkan infertilitas karena
menyebabkan skar yang memblokir jalannya sperma.
9. Masalah seksual
Masalah seksual dapat menyebabkan infertilitas, misalnya disfungsi ereksi, ejakulasi
prematur, sakit saat berhubungan (disparunia). Demikian juga dengan penggunaan
minyak atau pelumas tertentu yang bersifat toksik terhadap sperma.
10. Ejakulasi balik
Hal ini terjadi ketika semen yang dikeluarkan justru berbalik masuk ke kantung
kemih, bukannya keluar melalui penis saat terjadi ejakulasi. Ada beberapa kondisi
yang dapat menyebabkannya, di antaranya adalah diabetes, pembedahan di kemih,
prostat atau uretra, dan pengaruh obat-obatan tertentu.
11. Sumbatan di epididimis/saluran ejakulasi
Beberapa pria terlahir dengan sumbatan di daerah testis yang berisi sperma
(epididimis) atau saluran ejakulasi. Beberapa pria tidak memiliki pembuluh yang
membawa sperma dari testis ke lubang penis.
12. Lubang kencing yang salah tempat (hipoepispadia)
Kelainan bawaan ini terjadi saat lubang kencing berada di bagian bawah penis. Bila
tidak dioperasi maka sperma dapat kesulitan mencapai serviks.
13. Antibodi pembunuh sperma
Antibodi yang membunuh atau melemahkan sperma biasanya terjadi setelah pria
menjalani vasektomi. Keberadaan antibodi ini menyulitkannya mendapatkan anak
kembali saat vasektomi dicabut.
14. Pencemaran lingkungan
Paparan polusi  lingkungan dapat mengurangi jumlah sperma dengan efek langsung
pada fungsi testis dan sistem hormon. Beberapa bahan kimia yang mempengaruhi
produksi sperma antara lain: radikal bebas, pestisida (DDT, aldrin, dieldrin, PCPs,
dioxin, furan, dll), bahan kimia plastik, hidrokarbon (etilbenzena, benzena, toluena,
dan xilena), dan logam berat seperti timbal, kadmium atau arsenik.
15. Kanker Testis
Kanker testis berpengaruh langsung terhadap kemampuan testis memproduksi dan
menyimpan sperma. Penyakit ini paling sering terjadi pada pria usia 18 – 32 tahun.
F. Gejala dan Pencegahan Infertilitas
1. Gejala

Gejala-gejala yang dapat dikategorikan sebagai gejala infertilitas antara lain:

a. Gejala yang timbul tidak kunjung hamil.


b. Reaksi emosional (baik pada isteri, suami maupun keduanya) kerena tidak
memiliki anak.
c. Kemandulan sendiri tidak menyebabkan penyakit fisik, tetapi dampak psikisnya
pada suami, isteri maupun keduanya bisa sangat berat.
d. Pasangan tersebut mungkin akan menghadapi masalah
e. Pernikahan (termasuk perceraian), depresi dan kecemasan.
2. Pencegahan

Infertilitas dapat dicegah dengan beberapa penyesuaian, yaitu:

a. Kemandulan seringkali sebabkan oleh penyakit menular seksual, karena itu


dianjurkan untuk menjalani perilaku seksual yang aman guna meminimalkan risiko
kemandulan dimasa yang akan datang.
b. Imunisasi gondongan telah terbukti mampu mencegah gondongan dan
komplikasinya pada pria (orkitis). Kemandulan akibat gondongan bisa dicegah
dengan menjalani imunisasi gondongan.
c. Beberapa jenis alat kontrasepsi memiliki risiko kemandulan lebih tinggi misalnya:
IUD, IUD tidak dianjurkan untuk dipakai pada wanita yang belum pernah memiliki
anak.
G. Penangulangan Infertilitas
1. Penanggulangan infertilitas pria

Penanggulangan terbaik adalah dengan menangani penyebabnya. Namun tidak


semua penyebab diketahui dan sebaliknya cukup banyak penderita yang diketahui
penyebabnya, namun tidak dapat tuntas ditanggulangi. Beberapa cara penanggulangan
infertilitas pada pria:

 Tindakan pembedahan / operasi varikokel. Tindakan yang saat ini dianggap


paling tepat adalah dengan operasi berupa pengikatan pembuluh darah yang
melebar (varikokel) tersebut. Suatu penelitian dengan pembanding
menunjukkan keberhasilan tindakan pada 66% penderita berupa peningkatan
jumlah sperma dan kehamilan, dibandingkan dengan hanya 10% pada
kelompok yang tidak dioperasi.
 Memberikan suplemen vitamin. Infertilitas yang tidak diketahui penyebabnya
merupakan masalah bermakna karena meliputi 20% penderita.
Penanggulangannya berupa pemberian beberapa macam obat, yang dari
pengalaman berhasil menaikkan jumlah dan kualitas sperma. Usaha
menemukan penyebab di tingka kromosom dan keberhasian manipulasi
genetik tampaknya menjadi titik harapan di masa datang.
 Tindakan operasi pada penyumbatan di saluran sperma. Bila sumbatan tidak
begitu parah, dengan bantuan mikroskop dapat diusahakan koreksinya. Pada
operasi yang sama, dapat juga dipastikan ada atau tidaknya produksi sperma di
testis.
 Menghentikan obat-obatan yang diduga menyebabkan gangguan sperma.
 Menjalani teknik reproduksi bantuan. Termasuk dalam hal ini adalah
inseminasi intra uterin dan progra bayi tabung. Tindakan inseminasi dilakukan
apabila ada masalah jumlah sperma yang sangat sedikit atau akibat masalah
antibodi pada serviks. Pria dengan jumlah sperma hanya 5- 10 juta/cc dapat
mencoba inseminasi buatan. Sedagkan bayi tabung umumya membutuhkan
sperma hanya beberapa buahdapat dilakukan dengan teknologi terbaru dengan
menyuntikkan langsung sel sperma ke dalam sel telur yang dikenal sebagai
ICSI (Intra Cytoplasmic Sperm Injection)
2. Penanggulangan infertilitas wanita

Penanganan pada wanita dapat dibagi dalam 7 langkah yang digambarkan sebagai
berikut:

 Langkah I
Cara yang terbaik untuk mencari penyebab infetilitas pada wanita. Banyak faktor
penting yang berkaitan dengan infertilitas dapat ditanyakan pada pasien. Anamnesis
meliputi hal-hal berikut :
1. Lama fertilitas
2. Riwayat menstruasi, ovulasi dan dismenore
3. Riwayat koitus, frekuensi koitus, dispareunia.
4. Riwayat komplikasi pascapartum, abortus, kehamilan ektopik, kehamilan terakhir.
5. Kontrasespsi yang pernah digunakan.
6. Pemeriksaan infertilitas dan pengobatan sebelumnya.
7. Riwayat penyakit sistematik (tuberculosis, diabetes melitus, tiroid)
8. Pengobatan radiasi, sitostatika, alkoholisme)
9. Riwayat bedah perut/hipofisis/ginekologi
10. Riwayat keluar ASI
11. Pengetahuan kesuburan.
 Langkah II (Analisis Abnormal)
Dilakukan jika hasil anamnesis ditemukan riwayat atau sedang mengalami gangguan
menstruasi, atau dari pemeriksaan dengan suhu basal badan (SBB) ditemukan
anovulasi. Hiperprolaktinemia menyebabkan gangguan sekresi GnRH yang akibatnya
terjadi anovulasi. Kadar normal prolaktin adalah 525 ng/ml. Jika ditemukan kadar
prolaktin >50 ng/ml dosertai gangguan menstruasi, perlu dipikirkan ada tumor di
hipofisis. Pemeriksaan gonadotropin dapat memberi informasi tentang penyebab tidak
terjadinya menstruasi.
 Langkah III (Uji Pasca-Koitus)
Tes ini dapat emberi informasi tentang interaksi antara sperma dan getah serviks. Jika
hasilnya negatif, perlu dilakukan evaluasi kembali terhadap sperma.
 Langkah IV (Penilaian Ovulasi)
Penilaian ovulasi dapat diukur dengan pengukuran suhu basal badan (SBB). Sbb
dikerjakan setiap hari pada saat bangun pagi hari, sebelum bangkit dari tempat tidur,
atau sebelum makan dan minum. Jika wanita memilki siklus haid berovulasi, grafik
akan memperlihatkan gambaran bifasik, sedangkan yang tidak berovulasi gambaran
grafiknya monofasik. Pada gangguan ovulasi idiopatik yang penyebabnya tidak
diketahui, induksi ovulasi dapat dicoba dengan pemberian estrogen (umpan balik
positif) atau antiestrogen (umpan balik negatif). Cara lain untuk menilai ovulasi
adalah dengan USG. Jika diameter folikel mencapai 18 – 25 mm, berarti
menunjukkan folikel yang matang dan tidak lama lagi akan terjadi ovulasi.
 Langkah V (Pemeriksaan Bakteriologi)
Perlu dilakukan pemeriksaan bakteriologi dari vagina dan porsio. Infeksi akibat
Clamydia Trachomatis dan Gonokokus sering menyebabkan sumbatan tuba.
 Langkah VI (Analisis Fase Luteal)
Kadar estradiol yang tinggi pada fase luteal dapat menghambat implantasi.
Pengobatan insufisiensi korpus luteum dengan pemberian sediaan progesteron
alamiah.
 Langkah VII (Diagnosis Tuba Fallopi)
Karena makin meningkatnya penyakit akibat hubungan seksual, pemeriksaan tuba
menjadi sangat penting. Tuba yang tersumbat, gangguan hormon, dan anovulasi
merupakan penyebab tersering infertilitas. Penanganan pada prediposisi infertilitas
bergantung pada penyebabnya, termasuk pemberian antibiotik untuk infertilitas akibat
infeksi.

SUMBER

Daniel, 2008. Benarkah Infertilitas Disebabkan Gaya Hidup. Bandung : PT. Refika Aditama.
Elizabeth, 2005.  Panduan kesehatan Bagi Wanita. Jakarta : PT. Prestasi Pustaka.
Manuaba, IBG., 1999. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Arcan. Jakarta.
Permadi, 2008. Mengatasi Infertilitas. Bandung: PT Grafindo