Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASKEP PADA PASIEN

TUMOR OTAK
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktek Daring Keperawatan Medikal Bedah 3
Dosen pembimbing: Lasman, S.Kep.,Ners.,M.Kep

DISUSUN OLEH:
NAMA :Lutvi Nurdiyanti
NIM: A2R18078
PRODI : S1 Kep 3B

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN


SEMESTER VI
STIKES HUTAMA ABDI HUSADA TULUNGAGUNG
2020/2021
LAPORAN PENDAHULUAN TUMOR OTAK

A. DEFINISI

Tumor otak adalah tumbuhnya sel


abnormal pada otak. Banyak jenis tumor
yang berbeda-beda. Beberapa tumor otak
bukan merupakan kanker (jinak) dan
beberapa tumor otak lainnya adalah kanker
(ganas). Tumor otak dapat berasal dari otak
(tumor otak primer) atau kanker yang
berasal dari bagian tubuh lain dan
merambat ke otak (tumor otak sekunder/
metastatik).

Gambar 1. Tumor/ kanker otak

Tumor otak adalah terdapatnya lesi yang ditimbulkan karena ada desakan
ruang baik jinak maupun ganas yang tumbuh di otak, meningen, dan
tengkorak. (Sylvia.A, 2012). Tumor otak adalah suatu lesi ekspansif yang
bersifat jinak (benigna) ataupun ganas (maligna) membentuk massa dalam
ruang tengkorak kepala (intra cranial) atau di sumsum tulang belakang
(medulla spinalis). Neoplasma pada jaringan otak dan selaputnya dapat
berupa tumor primer maupun metastase. Apabila sel-sel tumor berasal dari
jaringan otak itu sendiri disebut tumor otak primer dan bila berasal dari
organ-organ lain (metastase) seperti kanker paru, payudara, prostate, ginjal,
dan lain-lain disebut tumor otak sekunder. (Mayer. SA, 2011).

B. ETIOLOGI

Tumor disebabkan oleh mutasi DNA di dalam sel. Akumulasi dari mutasi-mutasi
tersebut menyebabkan munculnya tumor. Sebenarnya sel manusia memiliki
mekanisme perbaikan DNA (DNA repair) dan mekanisme lainnya yang
menyebabkan sel merusak dirinya dengan apoptosis jika kerusakan DNA sudah
terlalu berat. Apoptosis adalah proses aktif kematian sel yang ditandai dengan
pembelahan DNA kromosom, kondensasi kromatin, serta fragmentasi nukleus dan sel
itu sendiri. Mutasi yang menekan gen untuk mekanisme tersebut biasanya dapat
memicu terjadinya kanker.

Penyebab tumor hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti. Adapun
faktor-faktor yang perlu ditinjau, yaitu :

a. Herediter
b. Sisa-Sisa Sel Embrional (Embryonic Cell Rest)
c. Radiasi
d. Virus
e. Substansi-substansi Karsinogenik
f. Trauma kepala: trauma kepala yang dapat menyebabkan hematoma sehingga
mendesak massa otak akhirnya terjadi tumor otak.
C. MANIFESTASI
1. Manifestasi Klinis

Manifestasi Klinis mungkin tidak spesifik yang dapat disebabkan oleh


edema dan peningkatan TIK ( seperti: pandangan kabur, mual, muntah,
penurunan fungsi pendengaran, perubahan tanda-tanda vital, afasia) atau
spesifik yang disebabkan oleh lokasi anatomi tertentu.

a. Perubahan Status Mental: seperti letargi dan mengantuk, kebingungan,


disorientasi, serta perubahan kepribadian dapat ditemukan.
b. Sakit kepala: merupakan gejala awal pada 20% penderita dengan tumor otak
yang kemudian berkembang menjadi 60%. Nyerinya tumpul dan intermitten.
Nyeri kepala berat juga sering diperhebat oleh perubahan posisi, batuk,
maneuver valsava dan aktivitas fisik. Muntah ditemukan bersama nyeri
kepala pada 50% penderita. Nyeri kepala ipsilateral pada tumor supratentorial
sebanyak 80 % dan terutama pada bagian frontal. Tumor pada fossa posterior
memberikan nyeri alih ke oksiput dan leher.  Sakit kepala dapat terbatas atau
keseluruhan. Biasanya intermiten dengan durasi meningkat dan dapat
diperparah dengan perubahan posisi atau mengejan. Sakit kepala parah dan
berulang pada klien yang sebelumnya bebas sakit kepala atau sakit kepala
berulang di pagi hari yang frekuensi dan keparahannya meningkat dapat
menandakan suatu tumor intrakranial dan membutuhkan pengkajian lebih
lanjut.
c. Mual dan Muntah: terjadi karena tekanan pada medula, yang terletak pada
pusat muntah. Klien sering mengeluhkan sakit kepala parah setelah berbaring
di ranjang. Saat sakit kepala makin nyeri, klien juga dapat mengalami mual
atau muntah yang spontan. Selama episode muntah biasanya nyeri kepala
akan berkurang.
d. Papiledema: Peningkatan tekanan intrakranial mengganggu aliran balik vena
dari mata dan menumpuk darah di vena retina sentralis. Juga dikenal sebagai
“Choked disc”, papiledema umum pada klien dengan tumor intrakranial dan
mungkin merupakan manifestasi awal dari peningkatan tekanan intrakranial.
Papiledema awal tidak menyebabkan perubahan ketajaman penglihatan dan
hanya dapat dideteksi dengan pemeriksaan oftalmologis. Papiledema parah
dapat bermanifestasi sebagai penurunan tajam penglihatan.
e. Kejang: kejang, fokal atau umum, sering ditemui pada klien dengan tumor
intrakranial, terutama tumor hemisfer serebral. Kejang dapat parsial atau
menyeluruh. Kejang parsial biasanya membantu membatasi lokasi tumor.
1. Manifestasi Lokal

Manifestasi klinis lokal disebabkan oleh kerusakan, iritasi, atau kompresi


dari sebagian otak tempat tumor terletak.

a. Kelemahan Fokal ( misal, hemiparesis)


b. Gangguan sensoris, antara lain tidak dapat merasakan (anestesia), atau
sensasi abnormal (Parestesia)
c. Gangguan bahasa
d. Gangguan koordinasi (misal, jalan sempoyongan)
e. Gangguan penglihatan seperti diplopia (pandangan ganda) atau gangguan
lapang pandang (monopia)
D. PATOFISIOLOGI

Tumor otak menyebabkan gangguan neurologis progresif yang disebabkan oleh


dua faktor yaitu gangguan fokal oleh tumor dan kenaikan tekanan intracranial
(TIK).Gangguan fokal terjadi apabila terdapat penekanan pada jaringan otak dan
infiltrasi atau invasi langsung pada parenkim otak dengan kerusakan jaringan neuron.

Perubahan suplai darah akibat tekanan yang ditimbulkan tumor yang tumbuh
menyebabkan nekrosis jaringan otak.Akibatnya terjadi kehilangan fungsi secara akut
dan dapat dikacaukan dengan gangguan serebrovaskular primer.

Serangan kejang sebagai manifestasi perubahan kepekaan neuron akibat


kompresi, invasi, dan perubahan suplai darah ke dalam jaringan otak.

Peningkatan TIK dapat diakibatkan oleh beberapa faktor seperti bertambahnya


massa dalam tengkorak, edema sekitar tumor, dan perubahan sirkulasi CSS. Tumor
ganas menyebabkan edema dalam jaringan otak yang diduga disebabkan oleh
perbedaan tekanan osmosis yang menyebabkan penyerapan cairan tumor.Obstruksi
vena dan edema yang disebabkan oleh kerusakan sawar di otak, menimbulkan
peningkatan volume intracranial dan meningkatkan TIK.

Peningkatan TIK membahayakan jiwa jika terjadi dengan cepat.Mekanisme


kompensasi memerlukan waktu berhari-hari atau berbulan-bulan untuk menjadi
efektif dan oleh karena itu tidak berguna apabila tekanan intracranial timbul
cepat.Mekanisme kompensasi ini meliputi volume darah intrakranial, volum CSS,
kandungan cairan intrasel, dan mengurangi sel-sel parenkim otak. Kenaikan tekanan
yang tidak diatasi akan mengakibatkan herniasi untuk serebellum.

Herniasi unkus timbul jika girus medialis lobus temporalis bergeser ke inferior
melalui insisura tentorial karena adanya massa dalam hemisfer otak. Herniasi
menekan mesensefalon, menyebabkan hilangnya kesadaran dan menekan saraf otak
ke-3. Pada herniasi serebellum, tonsil serebellum tergeser ke bawah melalui foramen
magnum oleh suatu massa posterior.

Kompresi medulla oblongata dan terhentinya pernapasan terjadi dengan cepat.


Perubahan fisiologis lain yang terjadi akibat peningkatan intrakranial yang cepat.
E. PATHWAY

Herediter/ keturunan Sisa-sisa sel embrional Radiasi Virus Sunstansi-substansi karsinogenik

Hospitalisasi MK:
Pertumbuhan abnormal sel otak (tumor otak) Ansietas
& operasi

Massa dalam otak bertambah

B1 (Breathig) B3 (Brain)

Perubahan jaringan otak Kerusakan jaringan neuron


terhadap sirkulasi darah & O2

↓ suplai O2 ke jaringan Kejang Gangguan neurologis


otak akibat obstruksi
sirkulasi otak
- Aspirasi MK: Resiko Defisit neurologis B6 (Bone)
Hipoksia cerebral sekresi cedera
- Obstruksi
jalan nafas Paralisis (kelemahan/ lumpuh)
- Dispnea
- Henti nafas
Tubuh melakukan MK: Perfusi Kerusakan fungsi motorik
kompensasi dengan perifer tidak
mempercepat pernafasan efektif
MK:
Gangguan MK: Intoleransi MK: Gangguan
MK: Pola nafas tidak efektif pertukaran gas aktifitas mobilitas fisik
B2 (Blood) B4(Bladder)

Kerusakan aliran Kompresi


darah ke otak medulla spinalis
lumbal atas

Perpindahan cairan
intravaskuler kejaringan Refleks
serebral berkemih hilang

TIK ↑ MK:
Inkontinensia
urine
B5 (Bowel) Nyeri kepala Edema pada MK: Hipervolemia
saraf optik

Mual, muntah
MK: MK:
↓ lapang pandang,
Nyeri Gangguan
↓ ketajaman
↓ nafsu makan kronis pola tidur
penglihatan,
pandangan ganda
BB ↓

MK: Resiko jatuh


MK: Defisit
nutrisi
F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. CT Scan dan MRI

Memperlihatkan semua tumor intrakranial dan menjadi prosedur investigasi awal ketika
penderita menunjukkan gejala yang progresif atau tanda-tanda penyakit otak yang difus atau fokal,
atau salah satu tanda spesifik dari sindrom atau gejala-gejala tumor. Kadang sulit membedakan tumor
dari abses ataupun proses lainnya.

2. Foto Polos Dada

Dilakukan untuk mengetahui apakah tumornya berasal dari suatu metastasis yang akan
memberikan gambaran nodul tunggal ataupun multiple pada otak.

3. Pemeriksaan cairan serebrospinal

Dilakukan untuk melihat adanya sel-sel tumor dan juga marker tumor. Tetapi pemeriksaan ini
tidak rutin dilakukan terutama pada pasien dengan massa di otak yang besar. Umumnya diagnosis
histologik ditegakkan melalui pemeriksaan patologi anatomi, sebagai cara yang tepat untuk
membedakan tumor dengan proses-proses infeksi (abses cerebri).
4. Biopsi Stereostatik

Dapat digunakan untuk mendiagnosis kedudukan tumor yang dalam dan untuk memberikan
dasar-dasar pengobatan dan informasi prognosis.
5. Angiografi Serebral

Memberikan gambaran pembuluh darah serebral dan letak tumor serebral.


6. Elektroensefalogram (EEG)

Mendeteksi gelombang otak abnormal pada daerah yang ditempati tumor dan dapat
memungkinkan untuk mengevaluasi lobus temporal pada waktu kejang.
G. PENATALAKSANAAN

Metode umum untuk penatalaksanaan tumor otak meliputi :

 Pembedahan

Pembedahan intracranial biasanya dilakukan untuk seluruh tipe kondisi patologi dari otak untuk
mengurangi TIK dan mengangkat tumor. Pembedahan ini dilakukan melalui pembukaan tengkorak,
yang disebut dengan Craniotomy.

Perawatan pre operasi pada pasien yang dilakukan pembedahan intracranial adalah :

- Mengkaji keadaan neurologi dan psikologi pasien


- Memberi dukungan pasien dan keluarga untuk mengurangi perasaan-perasaan takut yang dialami.
- Memberitahu prosedur tindakan yang akan dilakukan untuk meyakinkan pasien dan mengurangi
perasaan takut.
- Menyiapkan lokasi pembedahan, yaitu: kepala dengan menggunakan shampo antiseptik dan
mencukur daerah kepala.
- Menyiapkan keluarga untuk penampilan pasien yang dilakukan pembedahan, meliputi :
1. Balutan kepala.
2. Edema dan ecchymosis yang biasanya terjadi dimuka.
3. Menurunnya status mental sementara.
Perawatan post operasi, meliputi :
- Mengkaji status neurologi dan tanda-tanda vital setiap 30 menit untuk 4 - 6 jam pertama setelah
pembedahan dan kemudian setiap jam. Jika kondisi stabil pada 24 jam frekuensi pemeriksaan dapat
diturunkan setiap 2 samapai 4 jam sekali.
- Monitor adanya cardiac aritmia pada pembedahan fossa posterior akibat ketidakseimbangan cairan
dan elektrolit
- Monitor intake dan output cairan pasien. Batasi intake cairan sekitar 1.500 cc / hari.
- Lakukan latihan ROM untuk semua ekstremitas setiap pergantian dinas.
- Pasien dapat dibantu untuk alih posisi, batuk dan napas dalam setiap 2 jam.
- Posisi kepala dapat ditinggikan 30 -35 derajat untuk meningkatkan aliran balik dari kepala. Hindari
fleksi posisi panggul dan leher.
- Cek sesering mungkin balutan kepala dan drainage cairan yang keluar.
- Lakukan pemeriksaan laboratorium secara rutin, seperti : pemeriksaan darah lengkap, serum
elektroit dan osmolaritas, PT, PTT, analisa gas darah.
- Memberikan obat-obatan sebagaimana program, misalnya : antikonvulsi,antasida, atau antihistamin
reseptor, kortikosteroid.
- Melakukan tindakan pencegahan terhadap komplikasi post operasi.
 Medis

Faktor –faktor prognostik sebagai pertimbangan penatalaksanaan medis:

- Usia
- General Health
- Ukuran Tumor
- Lokasi Tumor
- Jenis Tumor

Untuk tumor otak ada tiga metode utama yang digunakan dalam penatalaksaannya, yaitu:

a. Surgery

Terapi Pre-Surgery:

1) Steroid adalah Menghilangkan swelling, contoh dexamethasone.


2) Anticonvulsant adalah Untuk mencegah dan mengontrol kejang, seperti carbamazepine.
3) Shunt digunakan untuk mengalirkan cairan cerebrospinal.
Pembedahan merupakan pilihan utama untuk mengangkat tumor. Pembedahan pada
tumor otak bertujuan untuk melakukan dekompresi dengan cara mereduksi efek massa
sebagai upaya menyelamatkan nyawa serta memperoleh efek paliasi. Dengan pengambilan
massa tumor sebanyak mungkin diharapkan pula jaringan hipoksik akan terikut serta
sehingga akan diperoleh efek radiasi yang optimal. Diperolehnya banyak jaringan tumor
akan memudahkan evaluasi histopatologik, sehingga diagnosis patologi anatomi
diharapkan akan menjadi lebih sempurna. Namun pada tindakan pengangkatan tumor
jarang sekali menghilangkan gejala-gelaja yang ada pada penderita.

2
b. Radiotherapy

Radioterapi merupakan salah satu modalitas penting dalam penatalaksanaan proses keganasan.
Berbagai penelitian klinis telah membuktikan bahwa modalitas terapi pembedahan akan
memberikan hasil yang lebih optimal jika diberikan kombinasi terapi dengan kemoterapi dan
radioterapi.

Sebagian besar tumor otak bersifat radioresponsif (moderately sensitive), sehingga pada tumor
dengan ukuran terbatas pemberian dosis tinggi radiasi diharapkan dapat mengeradikasi semua sel
tumor. Namun demikian pemberian dosis ini dibatasi oleh toleransi jaringan sehat disekitarnya.
Semakin sedikit jaringan sehat yang terkena maka makin tinggi dosis yang diberikan. Guna
menyiasati hal ini maka diperlukan metode serta teknik pemberian radiasi dengan tingkat presisi
yang tinggi.

Glioma dapat diterapi dengan radioterapi yang diarahkan pada tumor sementara metastasis
diterapi dengan radiasi seluruh otak. Radioterapi juga digunakan dalam tata laksana beberapa tumor
jinak, misalnya adenoma hipofisis.

c. Chemotherapy

Pada kemoterapi dapat menggunakan powerfull drugs, bisa menggunakan satu atau dikombinasikan.
Tindakan ini dilakukan dengan tujuan untuk membunuh sel tumor pada klien. Diberikan secara oral,
IV, atau bisa juga secara shunt. Tindakan ini diberikan dalam siklus, satu siklus terdiri dari
treatment intensif dalam waktu yang singkat, diikuti waktu istirahat dan pemulihan. Saat siklus dua
sampai empat telah lengkap dilakukan, pasien dianjurkan untuk istirahat dan dilihat apakah tumor
berespon terhadap terapi yang dilakukan ataukah tidak. (Febri : 2012)

 Diet

Pengobatan tumor otak tidak hanya memerlukan dokter yang ahli dan obat yang mujarak tetapi
juga makanan yang sehat. Berikut beberapa kandungan makanan yang disarankan beserta alasannya:

a. Omega-3 yang dapat ditemukan di ikan (salmon, tuna dan tenggiri) bermanfaat dalam menguransi
resistensi tumor pada terapi. Omega-3 juga membantu mempertahankan dan menaikan daya tahan
tubuh dalam menghadapi proses pengobatan tumor otak seperti kemotrapi.
b. Omega-9 yang ada di minyak zaitun pun dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh sekaligus
mengurangi pembengkakan dan menguransi sakit saat pengobatan tumor otak.
c. Serat dari roti gandum, sereal, buah segar, sayur dan suku kacang-kacangan membantu Anda
mengatur tingkat gula. Sel kanker cenderung mengkonsumsi gula 10-15 kali lipat daripada sel
normal sehingga semakin meradang. Agar bisa mengatur gula dengan baik, disarankan
mengkonsumsi 4-5 porsi sayur dan 1-2 porsi buah segar. Selain mengatur kadar gula, serat dapat
menurunkan peluang sembelit.
d. Folic acid yang dikenal sebagai vitamin B9 atau Bc bisa mencegah menyebarnya sehinga bisa
membantu pengobatan tumor otak atau bagian lainnya. Vitamin B9 dapat ditemukan di sayuran
dengan daun hijau tua (bayam, asparagus dan daun selada), kacang polong, kuning telur dan biji
bunga matahari.
e. Antioksidan memang dikenal sebagai salah satu senjata untuk membantu pengobatan tumor otak.
Antioksidan dapat di temukan di keluarga beri (strawberi, rasberi dan blueberi), anggur, tomat,
brokoli, jeruk, persik, apricot, bawang putih, gandum, telur, ayam, kedelai dan ikan.

3
Makanan yang harus dihindari penderita kanker dan tumor otak adalah Gula dan karbohindrat harus
dihindari karena mereka merupakan makanan utama sel kanker. Pada saat pengobatan brain tumor and
cancer, sel-sel kanker yang ada di dalam tubuh akan mengkonsumsi 10-15 kali lipat gula. Gula yang
dikonsumsi akan menjadi energy para sel kanker yang mempercepat perkembangan mereka.

H. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri Kronis b.d Infiltrasi Tumor
2. Gangguan Pola Tidur b.d Kurang Control Nyeri
I. RENPRA (RENCANA KEPERAWAN)
1. Nyeri Kronis

Tanda Mayor :

Subjektif :

- Mengeluh Nyeri

Objektif :

- Tampak meringis
- Gelisah
- Tidak mampu menuntaskan aktivitas

Tanda Minor :

Subjektif :

- Merasa takut mengalami cidera berulang

Objektif :

- Bersikap protektif (miss. Posisi menghindari nyeri)


- Pola tidur berubah
- Anoreksia
- Focus menyempit
- Berfokus pada diri sendiri

Luaran SlKI :

Luaran Uatama : Tingkat Nyeri

Luaran Tambahan : Kontrol Nyeri

Kriteria Hasil :

Menurun :

- Keluhan nyeri
- Meringis
- Gelisah
- Kesulitan tidur

4
- Perasaan takut mengalami cidera berulang
- Berfokus pada diri sendiri

Intervensi Siki : Manajemen Nyeri

Obervasi :

- Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri kepala


- Identifikasi skala nyeri
- Identifikasi respon nyeri non verbal
- Identifikasi factor yang memperberat dan memperingan nyeri

Terapeutik :

- Berikan Teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (miss. terapi music, terapi
pijat, aromaterapi, kompres hangat/dingin
- Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (miss. suhu ruangan, pencahayaan,
kebisingan

Edukasi :

- Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri


- Jelaskan strategi meredakan nyeri
- Ajarkan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi rasa nyeri

Kolaborasi :

- Kolaborasi memberikan analgetic, jika perlu

2. Gangguan Pola Tidur b.d kurang control tidur (nyeri)

Tanda Mayor :

Subjektif :

- Mengeluh sulit tidur


- Mengeluh sering terjaga
- Mengeluh tidak puas tidur

Objektif : -

Tanda Minor :

Subjektif :

- Mengeluh kemampuan beraktifitas menurun

Objektif : -

Luaran SLKI :

5
Luaran Utama : Pola Tidur

Luaran Tambahan : Status Kenyamanan

Kriteria Hasil :

Membaik :

- Keluhan sulit tidur


- Keluhan sering terjaga
- Keluhan tidak puas tidur

Intervensi SIKI : Dukungan Tidur

Observasi :

- Identifikasi pola aktivitas dan tidur


- Identifikasi factor pengganggu tidur (fisik dan atau psikologi)
- Identifikasi makanan dan minuman yang mengganggu tidur (missal kopi, the, makanan
mendekati waktu tidur)

Terapeutik :

- Modifikasi lingkungan (missal pencahayaan, kebisingan, suhu, dan tempat tidur)


- Batasi waktu tidur siang, jika perlu
- Fasilitasi menghilangkan stress sebelum tidur
- Lakukan prosedur untuk meningkatkan kenyamanan (miss, pijit, pengaturan posisi)

Edukasi :

- Anjurkan menghindari makanan dan minuman yang mengganggu tidur


- Ajarkan relaksasi otot autogenic atau cara nonfarmakologi lainnya

6
DAFTAR PUSTAKA

Sylvia.A, 2012. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Ganngguan Sistem Persarafan. Jakarta:
Salemba Medika.
Mayer.SA, 2011. Ilmu Bedah Saraf. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Zulkarnain, Nuzulul Haq. 2011. Asuhan Kepererawatan (Askep) Tumor Otak
Smeltzer, Suzana C. 2010. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.
SDKI : Edisi 1 Cetakan III. 2017
SLKI : Edisi 1 Cetakan II. 2019
SIKI : Edisi 1 Cetakan II. 2018

7
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
“HUTAMA ABDI HUSADA”
Ijin Pendirian Mendiknas RI Nomor : 113/D/O/2009

Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo Telp./Fax: 0355-322738


Tulungagung 66224
Alamat E-mail : stikeshahta@yahoo.co.id

PENGKAJIAN DATA DASAR DAN FOKUS

Pengkajian diambil tgl : 11 Agustus 2021 Jam : 07.00


Tanggal Masuk : 10 Agutus 2021 No. reg : 000123
Ruangan / Kelas : Cempaka / III
No. Kamar :9
Diagnosa Masuk : Tumor Otak
Diagnosa Medis : Tumor Otak

I. IDENTITAS
1. Nama : Tn. D
2. Umur : 45 th
3. Jenis Kelamin : Laki-laki
4. Agama : Islam
5. Suku / Bangsa : Jawa / Indonesia
6. Bahasa : Indonesia
7. Pendidikan : SMA
8. Pekerjaan : Wiraswasta
9. Alamat : Wates, Campurdarat
10. Alamat yg mudah dihubungi : Wates, Campurdarat
11. Ditanggung oleh : Askes / Astek / Jamsostek / JPS / Sendiri
II. RIWAYAT KESEHATAN KLIEN
1. Keluhan utama / Alasan Masuk Rumah Sakit :
a. Alasan Masuk Rumah Sakit :
Px mengeluh nyeri pada kepalanya
b. Keluhan Utama :
Nyeri kepala dan sulit tidur
2. Riwayat Penyakit Sekarang ( PQRST ) :
Px mengeluh nyeri pada kepalanya sejak ± 2 tahun yang lalu dan 1 bulan ini nyeri di
kepala tambah memberat, nyeri seperti ditusuk-tusuk dan hilang timbul dengan skala
nyeri 8 kemudian px dibawa ke IGD RS pada tanggal 10 Agustus 2021 dan dirawat di
ruang Cempaka pada tanggal tersebut.

ASKEP KMB
3. Riwayat Kesehatan Yang Lalu :
Px mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit dahulu
4. Riwayat Kesehatan Keluarga :
Keluarga px tidak mempunyai riwayat penyakit hipertensi dan jantung, juga penyakit
yang dialami px saaat ini.

POLA AKTIFITAS SEHARI-HARI

SEBELUM MASUK RS DI RUMAH SAKIT

A. Pola Tidur / Istirahat


1. Waktu Tidur pukul 21.00 WIB pukul 21.00 WIB
pukul 02.00/ Sewaktu-
2. Waktu Bangun Pukul 02.00/ Sewaktu-waktu waktu karena nyeri kepala
karena nyeri kepala dan sulit tidur bila sudah
3. Masalah Tidur Ada terbangun
Ada
4. Hal-hal yang Suasana yang tenang dan waktu Suasana yang tenang
mempermudah tidur tidur telah tiba

5. Hal-hal yang Timbul nyeri pada kepala Suara berisik dan timbulnya
mempermudah pasien nyeri kepala
terbangun

B. Pola Eliminasi
1. B A B
- Warna Kuning kecoklatan Kuning kecoklatan
- Bau Khas Khas
- Konsistensi Lunak Lunak
- Jumlah Tidak dikaji Tidak terkaji
- Frekwensi 1 x/ hari 2 x/hari
- Kesulitan BAB Tidak ada Tidak ada
- Upaya mengatasi Tidak ada Tidak ada

2. B A K
- Warna Kuning jernih Kuning jernih
- Bau Khas Khas
- Konsistensi Cair Cair
- Jumlah -+ 1000 cc -+ 1500 cc
- Frekwensi -+ 4 x/hari -+ 4 x /hari
- Kesulitan BAK Tidak ada Tidak ada
- Upaya mengatasi Tidak ada Tidak ada

C. Pola Makan dan Minum


1. Makan
- Frekwensi 3x/ hari 3x/ hari
- Jenis Nasi, lauk, dan sayur Nasi, lauk, dan sayur
- Diit Tidak ada Tidak ada
- Pantangan Tidak ada Tidak ada
- Yang Disukai Gorengan, sate, ayam bakar Semua suka
- Yang Tdk disukai Tidak ada (semua suka) Tidak ada
- Alergi Tidak ada Tidak ada
- Masalah makan Tidak ada Tidak ada
- Upaya mengatasi Tidak ada Tidak ada

ASKEP KMB
2. Minum
- Frekwensi -+ 5 x /hari (sewaktu-waktu) -+5 x /hari (sewaktu-waktu)
- Jenis Air putih, teh, kopi Air putih
- Diit Tidak ada Tidak ada
- Pantangan Tidak ada Tidak ada
- Yang Disukai Semua suka Semua suka
- Yang Tdk disukai Tidak ada Tidak ada
- Alergi Tidak ada Tidak ada
- Masalah minum Tidak ada Tidak ada
- Upaya mengatasi Tidak ada Tidak ada

D. Kebersihan diri / personal


hygiene :
1. Mandi 2 x /hari 1x/hari
2. Keramas 2 hari sekali Belum keramas
3. Pemeliharaan gigi dan Gosok gigi 2x/hari Gosok gig 2x/hari
mulut
4. Pemeliharaan kuku Dipotong 1x/minggu Dipotong 1x/minggu
5. Ganti pakaian 2x/hari 1x/hari

E. Pola Kegiatan / Aktifitas Berjualan sayur dipasar Berbaring di tempat tidur


Lain

F. Kebiasaan
- Merokok Iya Tidak
- Alkohol Tidak Tidak
- Jamu, dll Tidak Tidak

III. DATA PSIKO SOSIAL


A. Pola Komunikasi :
Pola komunikasi denga orang lain baik dan Bahasa mudah dipahami
B. Orang yang paling dekat dengan klien :
Istri dan anak
C. Rekreasi
Hobby : Memancing
Penggunaan Waktu Senggang :
Istirahat dan berkumpul dengan keluarga
D. Dampak dirawat di Rumah Sakit :
Tidak bisa melakukan kegiatan sehari-hari
E. Hubungan dengan orang lain / interaksi sosial :
Hubungan dengan orang lain baik
F. Keluarga yang dihubungi bila diperlukan :
Istri

IV. KONSEP DIRI


A. Gambaran Diri
Px berkata sedih karena sakit dan harus dibantu orang-orang sekitarnya.
B. Harga Diri
Px mengatakan ikhlas bila rambutnya harus dipotong untuk kepentingan operasi.
C. Ideal Diri
Px berharap agar segera sembuh dari sakitnya.
D. Identitas Diri
Px seorang laki-laki.
E. Peran
Px dikeluarga sebagai kepala keluarga yaitu seorang suami dan juga sebagai ayah dari
anak laki-laki umur 19 tahun

ASKEP KMB
V. DATA SPIRITUAL
A. Ketaatan Beribadah :
Px selalu beribadah sholat 5 waktu, berdzikir dan berdo’a
B. Keyakinan terhadap sehat / sakit :
Px yakin bahwa sakitnya adalah cobaan dari Allah SWT
C. Keyakinan terhadap penyembuhan :
Px kadang merasa cemas apakah penyakitnya ini bisa disembuhkan

VI. PEMERIKSAAN FISIK


A. Kesan Umum / Keadaan Umum
k/u lemah
B. Tanda – tanda vital
Suhu Tubuh : 36,8 oC Nadi : 94
Tekanan darah : 140/90mmHg Respirasi : 20x/menit
Tinggi Badan : 165 cm Berat Bada : 63 kg
C. Pemeriksaan Kepala dan Leher
1. Kepala dan rambut
a. Bentuk Kepala : simetris
Ubun-ubun : datar (normal tidak cekung/cembung)
Kulit kepala : bersih tidak ada ketombe
b. Rambut
Penyebaran dan keadaan rambut :
Dipotong untuk keperluan operasi
Bau : tidak ada
Warna : hitam
c. Wajah
Warna Kulit : sawo matang
Struktur Wajah : lonjong (simetris)
2. Mata
a. Kelengkapan dan kesimetrisan : lengkap dan simetris
b. Kelopak Mata ( Palpebra ) : tidak ada benjolan
c. Konjuctiva dan sklera : merah muda dan putih
d. Pupil : isokor
e. Kornea dan iris : bening dan coklat
f. Ketajaman penglihatan / visus : normal
g. Tekanan bola mata : tidak ada tekanan (normal)

3. Hidung
a. Tulang hidung dan posisi septum nasi : simetris, tidak ada pembekakan
b. Lubang Hidung : tidak ada sumbatan
c. Cuping hidung : tidak ada pernafasan cuping hidung

4. Telinga
a. Bentuk telinga : simetris kanan kiri
Ukuran telinga : simetris dan tidak ada kelainan
Ketenggangan telinga : tegang dan lentur

ASKEP KMB
b. Lubang telinga : tidak ada luka dan tidak ada sumbata
c. Ketajaman pendengaran : normal
5. Mulut dan faring
a. Keadaan bibir : lembab
b. Keadaan gusi dan gigi : bersih tidak ada caries gigi
c. Keadaan lidah : bersih tidak ada kelainan
d. Orofarings : tidak ada pembesaran tonsil

6. Leher
a. Posisi trakhea : simetris
b. Tiroid : tidak ada pembesaran
c. Suara : jelas
d. Kelenjar Lymphe : tidak ada pembengkakan
e. Vena jugularis : tida ada pembengkakan vena
f. Denyut nadi coratis : teraba kuat

D. Pemeriksaan Integumen ( Kulit )


a. Kebersihan : bersih
b. Kehangatan : hangat
c. Warna : sawo matang
d. Turgor : normal (Kembali < 2 detik)
e. Tekstur : elastis
f. Kelembaban : lembab
g. Kelainan pada kulit : tidak ada luka

E. Pemeriksaan payudara dan ketiak


a. Ukuran dan bentuk payudara : simetris kanan dan kiri
b. Warna payudara dan areola : sawo matang dan coklat tua
c. Kelainan-kelainan payudara dan puting : tidak ada kelainan
d. Axila dan clavicula : normal tidak ada benjolan

F. Pemeriksaan Thorak / dada


1. Inspeksi Thorak
a. Bentuk Thorak : normal
b. Pernafasan
Frekwensi : 20 x/menit
Irama : reguler
c. Tanda-tanda kesulitan bernafas : tidak ada tanda-tanda kesulitan bernafas

2. Pemeriksaan Paru
a. Palpasi getaran suara ( vocal fremitus ) : intensitas kanan dan kiri sama
b. Perkusi : suara sonor
c. Auskultasi
Suara Nafas : vasikuler
Suara Ucapan : intensitas kanan dan kiri sama
Suara Tambahan : tidak ada suara tambahan

3. Pemeriksaan Jantung
a. Inspeksi dan Palpasi
ASKEP KMB
- Pulsasi : ada
- Ictus cordis : teraba di ICS IV mid clavicula sinistra
b. Perkusi
Batas-batas jantung : Batas kanan atas ICS II linea sternalis dextra, batas kiri
atas ICS II linea sternalis sinistra, batas kanan bawah ICS IV linea sternalis sinistra,
dan batas kiri bawah ICS V axilla anterior sinistra
Auskultasi
- Bunyi jantung I : lup
- Bunyi jantung II : dup
- Bunyi jantung Tambahan : tidak ada
- Bising / Murmur : tidak ada
- Frekwensi denyut jantung : 80 x/menit (regular)

G. Pemeriksaan Abdomen
a. Inspeksi
- Bentuk abdomen : simetris
- Benjolan / Massa : tidak ada benjolan
- Bayangan pembuluh darah pada abdomen : tidak ada
b. Auskultasi
- Peristaltik Usus : 10 x/menit
c. Palpasi
- Tanda nyeri tekan : tidak ada
- Benjolan / massa : tidak ada
- Tanda-tanda ascites : tidak ada
- Hepar : tidak ada pembesaran hepar
- Lien : tidak ada pembesaran lien
- Titik Mc. Burne : tidak ada nyeri tekan
d. Perkusi
- Suara Abdomen : timpani
- Pemeriksaan Ascites : tidak ada

H. Pemeriksaan Kelamin dan Daerah Sekitarnya


1. Genetalia
a. Kelainan – kelainan pada genetalia eksterna dan daerah inguinal :
tidak ada kelainan
2. Anus dan Perineum
a. Lubang anus : ada
b. Kelainan – kelainan pada anus dan perineum : tidak ada kelainan

I. Pemeriksaan Muskuloskeletal ( Ekstrimitas )


a. Kesimetrisan Otot : simetris
b. Pemeriksaan Oedem : tidak ada oedem
c. Kekuatan Otot :5 5
5 5
d. Kelainan – kelainan pada ekstrimitas dan kuku : tidak ada kelainan

J. Pemeriksaan Neurologi
1. Tingkat kesadaran ( secara kuantitatif ) / GCS : compos metis/ GCS 4-5-6
2. Tanda – tanda rangsangan otak ( meningeal sign ) : tidak ada kaku kuduk
3. Syaraf otak ( Nervus cranialis ) : tidak ada peradangan
4. Fungsi Motorik : baik
5. Fungsi Sensorik : baik
6. Refleks :
a. Refleks Fisiologis : baik
b. Refleks Patologis : baik

ASKEP KMB
K. Pemeriksaan Status Mental
a. Kondisi Emosi / Perasaan: Px kadang merasa cemas apakah penyakitnya ini bisa
disembuhkan dan merasa cemas apakah
setelah operasi ini px bisa kembali normal
b. Orientasi : baik
c. Proses berfikir ( ingatan, atensi, keputusan, perhitungan ) : baik
d. Motivasi ( Kemauan ) : ingin segera sembuh
e. Persepsi : baik
f. Bahasa : jelas dan mudah dipahami

PEMERIKSAAN PENUNJANG
A. Diagnosa Medis : Tumor Otak
B. Pemeriksaan Diagnostik / Penunjang Medis :
1. Laboratorium :
Pemeriksaan Hb, Na, K, CI
2. Rontgen :
Foto thorax AP
3. E C G :
Pemeriksaan EKG
4. U S G :
-
5. Lain – lain :
CT scan kepala
MRI kepala

PENATALAKSANAAN DAN TERAPI


- Ringer laktat (RL)
- Diazepam 2 mg
- Dexamethasone 9 mg
- Methadone 5 mg

Mahasiswa

Lutvi Nurdiyanti
NIM. A2R18078

ASKEP KMB
ANALISA DATA
Nama pasien : Tn. D
Umur : 45 th
No. Register : 000123

NO KELOMPOK DATA PENYEBAB MASALAH KEPERAWATAN


1. DS: Px mengeluh kepalanya Kerusakan aliran darah ke Nyeri Kronis
nyeri. otak
DO:
- Px nampak meringis
- P : Px mengeluh nyeri Perpindahan cairan
Q : Nyeri seperti intravsikuler kejaringan
ditusuk- tusuk serebral
R : Kepala
S : skala 8 TIK
T : Nyeri hilang timbul
- Px nampak gelisah
- TTV : Nyreri kepala
TD : 140/90 mmHg
N : 94 x/ menit
S : 36,8 C Nyeri Kronis
RR : 20 x/ menit

Kerusakan aliran darah ke Gangguan Pola Tidur


2. DS: otak
- Pasien mengatakan sulit
tidur bila sudah
terbangun karena nyeri Perpindahan cairan
di kepala intravsikuler kejaringan
- Pasien mengatakan serebral
sering terjaga
- Pasien mengatakan TIK
merasa cemas karena
memikirkan sesuatu
DO: Nyreri kepala
- Px nampak meringis
karena nyeri kepala
- Pasien tampak cemas Gangguan Pola Tidur
atau memikirkan
sesuatu
- Mata pasien nampak
cowong dan menghitam
(mata panda)
- Pasien sulit tidur
- Durasi tidur malam ± 5
jam, siang tidak tidur
sama sekali
- TTV :
TD : 140/90 mmHg
N : 94 x/ menit
S : 36,8 oC
RR : 20 x/ menit

ASKEP KMB
DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN
Nama pasien : Tn. D
Umur : 45 th
No. Register : 000123

TANGGAL
NO DIAGNOSA KEPERAWATAN
MUNCUL
1. 11 Agustus 2021 Nyeri kronis b.d infiltrasi tumor

2. 11 Agustus 2021 Gangguan pol tidur b.d kurang control tidur (nyeri)

ASKEP KMB
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
Nama pasien : Tn. D
Umur : 45 th
No. Register : 000123
DIAGNOSA
NO LUARAN (SLKI) INTERVENSI (SIKI)
KEPERAWATAN
1. Nyeri kronis b.d infiltrasi Setelah dilakukan Tindakan Manajemen Nyeri
tumor intervensi keperawatan Observasi
selama 2x24 jam maka - Identifikasi lokasi,
tingkat nyeri menurun karakteristik, durasi,
- Keluhan nyeri cukup frekuensi, kualitas, intensitas
menurun nyeri kepala
- Meringis cukup - Identifikasi skala nyeri
menurun - Identifikasi respon nyeri non
- Gelisah menurun verbal
- Identifikasi factor yang
memperberat dan
memperingan nyeri
Terapeutik
- Berikan Teknik
nonfarmakologi untuk
mengurangi rasa nyeri (miss.
Suhu ruangan, pencahayaan,
kebisingan)
- kontrol lingkungan yang
memperberat nyeri
Edukasi
- Jelaskan penyebab, periode,
dan pemicu nyeri
- Jelaskan strategi meredakan
nyeri
- Ajarkan teknik
nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri
Kolaborasi
- Kolaborasi memberikan
analgetic, jika perlu

2. Setelah dilakukan tindakan


Gangguan pola tidur b.d kurang intervensi keperawatan
control tidur (nyeri) selama 2x24 jam maka pola Dukungan Tidur
tidur membaik Observasi
- Keluhan sulit tidur - Identifikasi pola aktivitas dan
cukup menurun tidur
- Keluhan sering - Identifikasi factor pengganggu
terjaga cukup tidur (fisikdan psikologis)
menurun - Identifikasi makanan dan
minuman yang mengganggu
tidur
Terapeutik
- Modifikasi lingkungan (missal
pencahayaan, kebisingan, suhu
dan tempat tidur)
- Batasi waktu tidur siang, jika
perlu
ASKEP KMB
- Fasilitasi menghilangkan
stress sebelum tidur
- Lakukan prosedur untuk
meningkatkan kenyamanan
(missal pijit, pengaturan
posisi)
Edukasi
- Anjurkan menghindari
makanan atau minuman yang
mengganggu tidur
- Ajarkan relaksasi otot
autogenic atau cara
nonfarmakologis lainnya

ASKEP KMB
TINDAKAN KEPERAWATAN CATATAN PERKEMBANGAN

Nama Pasien : Tn . D Umur : 45 th No. Register : 000123 Kasus : Tumor Otak

TANGGAL/ TANDA TANGGAL/ TANDA


NO NO. DX IMPLEMENTASI EVALUASI
JAM TANGAN JAM TANGAN
1. I 11 Agustus Lutvi N 11 Agustus S : Px mengatakan kepalanya nyeri Lutvi N
2021 / 08.30 - Mengidentifikas lokasi,karakteristik, 2021 / 13.00 O:
durasi, frekuensi, kualitas, intensitas - Px nampak meringis
nyeri. - P : px mengeluh nyeri
P : Px mengeluh nyeri Q : nyeri seperti ditusuk-tusuk
Q : Nyeri seperti ditusuk-tusuk R : kepala
R : Kepala S : skala 6
S : Skala 6 T : nyeri hilang timbul
T : Nyeri hilang timbul - Px nampak gelisah
08.32 - Mengidentifikasi skala nyeri (skala 6) - TTV
08.34 - Mengidentifikasi respon nyeri non TD : 140/80 mmHg
verbal (px nampak meringis) N : 88 x/menit
08.36 - Mengidentifikasi faktor yang S : 36,5 C
memperberat dan memperingan nyeri RR : 20 x/menit
(nyeri muncul bila beraktivitas yang - Px bisa menerapkan teknik
berat-berat dan agak reda bila dibut relaksasi/distraksi
08.45
istirahat) A : Masalah teratasi sebagian
- Memberikan teknik nonfarmakologis P : Intervensi dilanjutkan
untuk mengurangi rasa nyeri (terapi
dengan kompres hangat/dingin)
08.55 - Mengontrol lingkungan yang dapat
memperberat nyeri (mengatur suhu
ruangan, pencahayaan, kebisingan)
09.10 - Menjelaskan penyebab dan pemicu
nyeri (nyeri kepala muncul disebabkan
karena pertumbuhan sel abnormal di
otak sehingga menimbulkan nyeri yang
sewaktu-waktu)
ASKEP KMB
09.15 - Menjelaskan strategi meredakan nyeri
(untuk meredakan nyeri Tn. D bisa
melakukan teknik relaksasi nafas dalam)
- Mengajarakan teknik nonfarmakologi
09.20
untuk mengurangi rasa nyeri
- Berkolaborasi memberikan analgetik,
09.25 jika perlu (methadon 5 mg dan
dexamethason 9 mg)

- Mengidentifikasi pola aktivitas dan tidur


2. II 11 Agustus (pola tidur -+ 5 jam)
2021/ 9.30 - Mengidentifikasi faktor pengganggu Lutvi N 11 Agustus S:
09.35 2021/ 13.05
tidur (px sulit tidur bila nyeri kepala - Px mengatakan sulit tidur bila sudah Lutvi N
timbul) terbangun karena nyeri kepala
- Mengidentifikasi makanan dan - Pasien mengatakan cemas karena akan
09.45 minuman yang mengganggu tidur (px operasi
makan mendekati waktu tidur) O:
- Memodifikasi lingkungan - Px nampak meringis karena nyeri
10.05 (pencahayaan, kebisingan, suhu dan kepala skala nyeri 6
tempat tidur) - Pasien nampak cemas atau
- Membatasi waktu tidur siang, jika perlu memikirkan sesuatu
10.15 - Memfasilitasi menghilangkan stress - Pasien sulit tidur
10.20 sebelum tidur - Pola tidur malam-+ 5 jam /hari
- Melakukan prosedur untuk - Siang tidak bisa tidur
10.25
meningkatkan kenyamanan (mis. Pijat, - Mata px nampak cowong
mengatur posisi yang nyaman) - TTV :
- Mengajarkan relaksasi otot autogenic TD : 140/80 mmHg
10.30 atau cara nonfarmakologi lainnya S : 36,5 C
(mengajarkan teknik relaksasi nafas N : 88 x/menit
dalam) RR : 20 x/menit
- Px bisa menerapkan teknik relaksasi
- Px nampak paham ketika diberi
penjelasan
A : Masalah teratasi sebagian
ASKEP KMB
P : Intervensi dilanjutkan

- Mengidentifikasi lokasi, karakteristik,


3. I 12 Agustus lokasi, frekuensi, kualitas, intensitas Lutvi N 12 Agustus S : Px mengatakan nyeri kepala sudah agak Lutvi N
2021/ 10.35 nyeri 2021/ 19.30 berkurang setelah operasi
P : Px mengatakan nyeri sudah agak O:
berkurang - P : Px mengatakan nyeri sudah agak
Q : Nyeri seperti ditusuk-tusuk berkurang
R : Kepala Q : Nyeri seperti ditusuk-tusuk
S : Skala 4 R : Kepala
T : Nyeri hilang timbul S : Skala 4
- Mengidentifikasi respon nyeri non T : Nyeri hilang timbul
verbal (px nampak tenang tidak gelisah - TTV :
10.45
lagi) TD : 12/80 mmHg
10.50 - Mengidentifikas faktor yang N : 80 x/menit
memperberat dan memperingan nyeri S : 36,2 C
(setelah operasi nyeri kepala agak RR : 20 x/menit
berkurang) - Px bisa menerapkan teknik
- Memberikan teknik untuk mengurangi distraksi/relaksasi
10.55 rasa nyeri (kompres hangat/dingin) A : Msalah teratasi
- Mengajarkan teknik nonfamakologis P : Intervensi dihentikan
11.00 untuk mengurangi rasa nyeri (teknik
nafas dalam)
- Berkolaborasi memberikan analgetik
11.05
(metodhen 5mg dan dexamethason 9
mg)

- Mengidentifikasi pola aktivitas dan tidur


4. II 12 Agustus (pola tidur -+ 6 jam) Lutvi N 12 Agustus S : Pasien mengatakan durasi tidur bertambah Lutvi N
2021 / 11.15 2021/ 19.35 1 jam dan siang hari bisa tidur
- Mengidentifikasi faktor pengganggu O:
11.20 tidur (px sudah tidak cemas lagi ,karena - Pasien nampak cukup tenang karena
sudah operasi) sudah operasi
- Nyeri kepala skala 4
ASKEP KMB
- Mengidentifikasi makanan dan - Pola tidur bertambah 1 jam, menjadi -+
11.25 minuman yang mengganggu tidur (px 6 jam / hari
sudah tidak makan mendekati waktu - Siang tidur 1 jam
tidur) - TTV
TD : 1420/80 mmHg
- Memodifikasi lingkungan N : 80 x/menit
11.35 (pencahayann, suhu ruangan) S : 36,2 C
RR : 20 x/menit
- Memfasilitasi menghilangkan stress A : Masalah teratasi
11.45 sebelum tidur P : Intervensi dihentikan

- Melakukan prosedur meningkatkan


12.00 kenyamanan (miss, pijet, mengatur
posis yang nyaman)

ASKEP KMB
FORMAT PENYULUHAN KESEHATAN

Topik : ………………………………..
Sasaran : ………………………………..
Ruang : ………………………...……...

TUJUAN UMUM TUJUAN KHUSUS POKOK BAHASAN MATERI METODE AVA EVALUASI

ASKEP KMB

Anda mungkin juga menyukai