Anda di halaman 1dari 46

PENGENALAN SOFTWARE

ANALISA & DESIGN STRUKTUR STAADPRO

STAAD adalah singkatan dari STructural Analysis And Design, yang dirilis oleh Research
Engineering di Amerika. STAAD merupakan salah satu program analisa struktur yang
cukup populer di dunia dan banyak dipakai oleh konsultan-konsultan struktur kelas
dunia.
STAAD menggunakan teknologi yang paling mutakhir dalam metode finite-element,
dengan metode input yang sangat interaktif dan mudah. Oleh karena itu, program ini
layak dipelajari dan dipahami oleh para praktisi perencana struktur.
Kelebihan dari STAAD dibandingkan program yang sejenis adalah kemudahan dalam
penggunaannya. GUI (Graphical User Interface) nya dibuat sedemikian rupa sehingga
pengguna gampang menggunakannya.

Interface/perangkat utama di dalam STAAD dapat dibagi menjadi 5 bagian yaitu :


1. Menu Pulldown (A)
Letaknya adalah di atas layar, menu ini memberikan akses ke semua fasilitas yang
ada di dalam STAAD.
2. Menu Toolbar (B)
Toolbar ini terdapat dibaris kedua dari atas, yaitu berada di bawah Pulldown Menu.
Yang berisi toolbar-toolbar yang paling sering digunakan.
3. Main Window
Yaitu layar tempat bekerja, di sini model struktur dan hasil analisa akan ditampilkan.
4. Page Menu (C)
Adalah sekumpulan tab yang letaknya disebelah kiri dari layar.
5. Area Data (D)
Pada bagian sebelah kanan layar adalah Area Data.

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 1


(A) Menu Pulldown
Toolbar Menu (B)

Main Window
P
a
g
e
M
e
n
u

Area Data (D)

Gbr.1. Graphic User Interface dari StaadPro

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 2


Adapun urutan input data dapat diringkas berikut ini :
a. Keterangan mengenai pekerjaan
b. Geometri Struktur
c. Bentuk dan Ukuran dari batang (property)
d. Spesifikasi batang (bila ada)
e. Kondisi tumpuan atau perletakan
f. Kondisi Pembebanan Primer
g. Kondisi Pembebanan Kombinasi
h. Analisa Mekanika Struktur
i. Desain Struktur ( Baja, Beton )
j. Tampilan hasil analisa.

JENIS ELEMEN

Jenis elemen dapat dikelompokkan sebagai berikut :


1. Elemen Batang (Beam Element)
a. Truss 2D (Rangka batang 2D)
b. Plane Frame 2D (Portal 2D)
c. Grid/Floor
d. Truss 3D (Rangka batang 3D)
e. Space Frame (Portal 3D)
2. Elemen Segitiga
3. Elemen Segi Empat
4. Elemen Benda Pejal (Solid Element)

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 3


SISTEM KOORDINAT

Ada 2 macam sistem koordinat yang dipergunakan di dalam Staad yaitu Sistem
Koordinat Global dan Sistem Koordinat Lokal.

SISTEM KOORDINAT GLOBAL


Sistem koordinat global adalah sistem koordinat di dalam ruang area pemodelan struktur
X, Y, Z, dan perjanjian tandanya mengikuti aturan tangan kanan. Gambar berikut adalah
gambar sistem koordinat global dengan arah displacement-nya. Selanjutnya boleh disebut
sebagai sistem sumbu global.

Gbr.2. Sistem Koordinat Global berikut arah displacement

SISTEM KOORDINAT LOKAL


Sistem Koordinat Lokal adalah sistem koordinat terhadap masing-masing elemen/batang
itu sendiri. Dan juga mengikuti aturan tangan kanan sebagai perjanjian tandanya.
Seterusnya boleh disebut sebagai sistem sumbu lokal.
Gbr.3. menunjukkan sistem koordinat lokal dari sebuah elemen yang membentang dari
titik “i” ke titik “j” . Sumbu memanjang x dari “i” ke “j” adalah merupakan arah positif.

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 4


Sedangkan sumbu lokal y dan z adalah merupakan sumbu-sumbu prinsip dari arah
momen inersia elemen.

Gbr.3. Sistem Koordinat Lokal tergambar di dalam sistem global

TIPE STRUKTUR
Hampir semua struktur dapat dianalisa dengan menggunakan Staad. Struktur Ruang
(SPACE) dengan struktur portal tiga dimensi pembebanan dapat diaplikasikan dari segala
arah.
Struktur Bidang (PLANE) menggunakan sistem koordinat global X-Y dan
pembebanannya juga dalam arah yang sama pula.
Struktur TRUSS, hanya mempertimbangkan elemen/batang yang mengalami gaya-gaya
aksial saja, tidak ada momen sama sekali.

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 5


Struktur FLOOR, adalah struktur dua dimensi atau tiga dimensi, yang tidak mengalami
pembebanan horisontal (global X atau Z). Apabila terdapat pembebanan dalam arah
horisontal maka struktur harus direncanakan sebagai struktur SPACE.

MEMBER PROPERTIES
Member properties atau sifat-sifat dari elemen/batang selama ini dikenal sebagai dimensi
dari elemen, yakni ukuran-ukuran elemen, luas, momen inersia, momen perlawanan dan
sebagainya. Member properties dapat berupa Prismatic Properties atau pun penampang-
penampang standard yang bisa diambil dari tabel yang sudah disediakan oleh program.

PRISMATIC PROPERTIES
Prismatic properties terdiri dari AX (luas penampang lintang), IZ (momen inersia
terhadap sumbu-z), IY (momen inersia terhadap sumbu-y) dan IX (konstanta torsi).
Apabila dikehendaki dapat pula ditambahkan AY (luas geser efektif pada sumbu-y), AZ
(luas geser efektif sumbu-z), YD (tinggi dalam sumbu lokal y) dan ZD (lebar dalam
sumbu lokal-z).
Tabel berikut memberikan kebutuhan properties (minimum) untuk beberapa tipe struktur.

TIPE STRUKTUR PROPERTIES YG DIPERLUKAN


TRUSS AX
PLANE AX, IZ, atau IY
FLOOR IX, IZ atau IY
SPACE AX, IX, IY, IZ

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 6


Gbr.4. Sumbu Lokal pada beberapa macam penampang
NOTE : sumbu lokal x dari penampang-penampang di atas tidak digambar karena
menembus ke dalam bidang gambar.

TABEL BAJA BUATAN


User dapat menyiapkan tabel baja sendiri sesuai keinginannya, dengan nama yang sesuai
pula dengan keiinginan. Program selanjutnya dapat menemukan properties dari elemen
tersebut dari tabel.

MEMBER RELEASE
Salah satu ujung elemen atau kedua ujung elemen dapat di-release (dilepas
pengekangannya). Pelepasan pengekangan ini dilakukan apabila dalam “pemodelan
struktur” ternyata model menuntut kondisi yang tidak RIGID 100% seperti yang
diasumsikan oleh program sebagai PORTAL RIGID.
Komponen release ini dilakukan terhadap sistem koordinat lokal elemen yang
bersangkutan.

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 7


TRUSS MEMBER
Adakala nya di dalam suatu struktur portal rigid terdapat sebagian elemen yang hanya
memikul gaya aksial saja (seperti Bracing misalnya), maka elemen-elemen ini dapat
dipisahkan secara otomatis oleh program dengan COMMAND : MEMBER TRUSS.

CONSTANTS
Constants atau sering dikenal sebagai konstanta adalah berisi : modulus elastisitas (E),
berat jenis (DEN), Poisson rasio (POISS), dan sebagainya. Di dalam StaadPro telah
dilakukan penyederhanaan yaitu sudah dikategorikan dalam 3 kelompok jenis material
struktur yaitu : STEEL, CONCRETE dan ALUMINUM.
Dengan memilih salah satu jenis material, maka secara otomatis telah didefinisikan
konstanta-konstanta tersebut di atas.

SUPPORTS
Support atau perletakan, didefinisikan sebagai PINNED, FIXED atau FIXED dengan
mengijinkan pelepasan pengekangan pada beberapa Degree Of Freedom-nya.

MASTER /SLAVE JOINTS


Master/slave joint diberikan untuk membantu pemakai dalam pemodelan Rigid-Link dari
sistem struktur, dan berlaku sebagai Rigid Diaphragm.

BEBAN
Beban pada struktur dapat diberikan sebagai :
• Joint load : beban titik kumpul
• Member load : beban pada elemen
• Temperature load : beban akibat temperatur
• Fixed-end member load : beban pada ujunt elemen
Staad dapat pula melakukan perhitungan berat sendiri dari strukturnya, yang arah
pembebanannya dapat diatur sesuai keinginan.

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 8


1. JOINT LOAD
Beban titik ini bekerja pada titik kumpul struktur dan bekerja pada sistem koordinat
global. Beban positif bekerja pada arah positif koordinat.

Gbr.5. Arah dan penamaan dari beban titik terhadap sumbu global

2. MEMBER LOAD
Ada 3 (tiga) macam member load yang bekerja di dalam elemen struktur, yaitu :
a. Beban distribusi merata (uniformly distributed load)
b. Beban terpusat (concentrated load)
c. Beban bervariasi lininer (linearly varying load)

Beban distribusi merata bekerja secara penuh atau sebagian di dalam suatu elemen.
Beban terpusat bekerja di sembarang tempat sepanjang elemen. Beban bervariasi bekerja
penuh sepanjang elemen, sedangkan beban trapesium bervariasi, bekerja penuh atau
sebagian dari elemen. Beban bertanda positif adalah beban yang bekerja searah sumbu
positif dari sistem koordinat, baik sumbu global maupun sumbu lokal.
Berikut beberapa ilustrasi pembebanan dari member load.

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 9


Gbr.6. Konfigurasi dari Member Load

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 10


Penjelasan lebih detail dapat dilihat dalam Gambar 7.A,B,C,D berikut ini :

UNIFORM LOAD
Format :
No.elemen UNI GY {f1, f2, f3, f4}

Gbr.7.A. Uniform Load

CONCENTRATED LOAD
Format :
No.elemen CON GY {f5, f6}

Gbr.7.B. Concentrated Load

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 11


LINEAR LOAD
Format :
No.elemen LIN GY {f7, f8, F9}

Gbr.7.C. Linear Load

TRAPEZOIDAL LOAD
Format :
No.elemen TRAP GY {f10, f11, F12, f13}
f10 ≠ f11
dan dalam hal f12 = 0 dan f13 = L maka f12 = f13 = 0 (seperti gambar di atas)

Gbr.7. D. Trapezoidal Load

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 12


3. AREA LOAD
Sering kali terdapat pembebanan merata pada bidang lantai (seperti misalnya beban
lantai), dan dibutuhkan banyak sekali pekerjaan menghitung beban tersebut terhadap
setiap elemen/batang pada lantai yang bersangkutan. Dengan menggunakan Area
Load, pembebanan dapat dilakukan dengan mudah (beban per luas area). Program
dengan sendirinya melakukan perhitungan tributary area terhadap setiap elemen
batang pada lantai tersebut.

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 13


PRINT OUT DATA
StaadPro membutuhkan perintah yang jelas mengenai Ouput data apa saja yang akan
ditampilkan. Bila perintah ini tidak ada di dalam input data, maka output yang
diharapkan juga tidak ditampilkan.
Beberapa output data yang lazim dibutuhkan adalah :
• MEMBER END FORCES (gaya-gaya dalam pada ujung-ujung elemen)
• MEMBER SECTION FORCES (gaya-gaya dalam beberapa lokasi per elemen)
• JOINT DISPLACEMENTS (perpindahan titik)
• SUPPORT REACTIONS (reaksi perletakan)
Dalam membaca output untuk gaya-gaya dalam, gaya-gaya dalam yang ditampilkan
disesuaikan dengan Koordinat/sumbu lokal elemen.

Gbr 8. Aksi gaya dalam di ujung elemen

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 14


DESIGN
Untuk Design, hanya akan dibahas Design untuk Baja dan Beton Bertulang saja. Untuk
Design Baja menggunakan Allowable Stress Design (ASD) dari AISC, sedangkan untuk
Design Beton Bertulang menggunakan ACI. Karena Peraturan Beton Indonesia SK SNI-
T-03-2002 sudah sangat mirip dengan ACI.

ASD-AISC
Untuk Design Baja menggunakan ASD-AISC, yang perlu diperhatikan adalah parameter-
parameter yang terdapat di dalam Staad. Secara ringkas parameter-parameter yang
dibutuhkan adalah :
• Code : CODE AISC
• Tegangan leleh baja : FYLD
• Ratio : ratio adalah 1 untuk beban tetap, 1,3 untuk
Beban sementara.
• Faktor panjang tekuk : (akan dibahas tersendiri)
• Check code : CHECK CODE

ACI
Untuk Design Beton bertulang, parameter-parameter yang diperlukan adalah sebagai
berikut :
• Code : CODE ACI
• Kuat beton : FC
• Tegangan leleh tulangan utama : FYMAIN
• Tegangan leleh tulangan sengkang : FYSEC
• Parameter-parameter pendukung lainnya (akan dibahas tersendiri)
• Design Balok : DESIGN BEAM
• Design Kolom : DESIGN COLUMN

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 15


CONTOH OPERASI STAADPRO
1. ANALISA STRUKTUR FRAME 2D
1.1. Pemodelan Struktur

Gbr 9. Struktur Frame/portal 2D untuk contoh

Dimana : R1 = balok beton ukuran 25x50 cm2


R2 = kolom beton ukuran 30x30 cm2
R3 = balok baja profil W.10x49
R4 = kolom baja profil W.10x60

Kasus pembebanan yang akan dipertimbangkan adalah :

1. Berat sendiri

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 16


2. Beban Mati (Q1 = 10 kN/m; Q2 = 25 kN/m; V = 40 kN)
3. Beban Hidup (Q1 = 5 kN/m; Q2 = 5 kN/m; V = 5 kN)
4. Beban Angin (P1 = 10 kN; P2 = 5 kN)
5. Beban Kombinasi 1 (1,2DL + 1,6LL)
6. Beban Kombinasi 2 (1,05DL + 1,05LL + 1,05WL)
7. Beban Kombinasi 3 (1,05DL + 1,05LL - 1,05WL)

1.1.1. Memulai Main Window untuk StaadPro


Untuk memulai input data untuk analisa struktur, berikut adalah langkah-langkahnya :
1. Klik File > New. Maka kotak dialog New akan muncul gambar seperti dibawah ini.
2. Tentukan tipe struktur yang akan dianalisa dengan meng-klik check-box Plane dan
menentukan unit yang dipakai yaitu klik KiloNewton dan Meter.
3. Berikan nama file dengan nama Structure1, tentukan pula lokasi dimana file
tersebut akan disimpan. Lalu klik OK.
4. Klik Next untuk melanjutkannya.

Gbr 10. Kotak dialog awal New

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 17


Gbr 10A. Kotak dialog awal berikutnya

5. Kotak dialog akan muncul, dimana STAAD akan menanyakan apa yang akan
dilakukan selanjutnya. Apakah membuat model struktur atau mengedit proyek dari
pekerjaan yang sudah ada. Disini dapat mempergunakan Structure Wizard, untuk
menggambar struktur
6. Untuk pembahasan kali ini akan dituntun untuk membuat struktur sendiri dari main
window. Maka pada kotak dialog akan kita klik check list Add Beam, kemudian
Finish.
7. Maka kita akan dihadapkan pada layar main window sebagai berikut

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 18


Symbols & Labels
Rotate

Gbr 11. Page Menu Setup

8. Menyiapkan geometri struktur.


Umumnya tampilan pertama dari jendela window ini disertai dengan grid. Grid ini
dapat diubah-ubah baik jumlah kotak pada sumbu X maupun dalam sumbu Y yaitu
dengan mengubah Construction Lines yang terdapat pada Data Area. Display grid
juga dapat diputar sesuai dengan kehendak, yaitu dengan cara melalui menu toolbar
Rotate. Apabila grid ini ingin dihilangkan, maka dapat dilakukan dengan mengklik
Menu Page > General. Untuk menggambar koordinat titik-titik nodal, non-aktifkan
Snap Node Beam (klik x), sehingga yang tampil adalah Structure1.std-Nodes.
Terdapat kotak yang bertuliskan Node, X, Y, Z.
Klik kotak dibawah X pada Node 1, ketik angka 0 kemudian ENTER. Isilah
koordinat masing-masing titik pada kotak-kotak tersebut. Bersamaan dengan itu, di
dalam layar utama akan muncul titik-titik hitam yang telah di definisikan.
Untuk menampilkan nomor titik, klik ToolBar Menu > (symbols & labels) akan
muncul kotak dialog Diagram>Labels> Nodes, klik check-box Node Numbers
(N), kemudian klik Apply > OK. Maka dalam layar akan tampil nomor titik.

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 19


joint coord

Gbr 12. Menentukan koordinat titik

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 20


Gbr 13. Menggambar elemen/member dengan menghubungkan 2 titik.
Sebagai persiapan membuat geometri struktur, Gbr.9 merupakan referensi dan dapat
dibuatkan manualnya sebagai berikut :
Titik nodal :
No.titik X Y Z
1 0.0 0.0 0.0
2 5.0 0.0 0.0
3 10.0 0.0 0.0
4 0.0 4.0 0.0
5 5.0 4.0 0.0
6 10.0 4.0 0.0
7 0.0 7.5 0.0
8 5.0 7.5 0.0

Sehingga didapatkan gambar titik-titik nodal (angka dalam lingkaran) seperti tergambar
dalam Gbr.14, sedangkan untuk membuat batang/member adalah dengan
menghubungkan satu titik dengan titik lainnya (contoh titik 1 ke 4), seperti terlihat dalam
Gbr.13. Secara keseluruhan gambar member tertuang dalam Gbr.14 (angka dalam kotak).

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 21


Gbr 14. Nomor titik dan nomor batang

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 22


Gbr 15. Command

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 23


9. Data perletakan
Untuk mendifinisikan perletakan dapat meng klik Commands, kemudian Support
Specification, tampilan nya akan seperti gambar berikut ini :

Gbr 16. Menyiapkan Perletakan

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 24


10. Material Constants
Klik Command, Materials Contants dan Material Table, maka akan tampil :

Gbr 17. Konstanta Material

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 25


11. Member Property
Untuk mendefinisikan Property dari batang-batang struktur, klik Command,
Member Property, Prismatic, maka tampilannnya sebagai berikut :

Gbr 18. Property untuk menentukan bentuk penampang dan dimensi

Ada bermacam-macam tabel property yang tersedia di dalam Staad, tinggal memilih
mana yang dibutuhkan.

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 26


12. Data Pembebanan
Klik Commands > Loading > Primary Load, selanjutnya akan tampil kotak dialog
Set Active Primary Load Case > Create New Primary Load Case .
Buat Load 1 : Dead Load + Live Load (misalnya)

Gbr 19.Pendefinisian Load Cases

Dalam contoh di atas, pembebanan yang ditinjau adalah Beban Mati, Beban Hidup dan Beban
Angin. Berikut 3 kasus pembebanan kombinasinya.

a. Beban Mati
Beban Mati adalah semua beban gravitasi termasuk berat sendiri struktur. Berikut adalah
contoh cara mendefinisikan berat sendiri (selfweight).
Klik Commands, Loading, Primary Load, maka akan tampil :

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 27


Title boleh ditambahkan Nama Pembebanan, misalkan BEBAN MATI + BEBAN HIDUP. Klik
Add, kemudian Close. Di samping kiri akan muncul tampilan sebagai berikut :

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 28


kemudian Klik LOAD CASE 1 dan Add. Akan terlihat sebagai berikut :

Berat sendiri bekerja pada sumbu Global Y dengan faktor -1. Klik Add kemudian Close.

Akan dicoba untuk melihat isi daripada perintah-perintah yang sudah dilakukan inputnya yaitu
dengan mengklik STAAD-Editor.

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 29


STAAD Editor
Tampilan Input data dalam data base adalah sebagai berikut :

Data base ini bisa dirubah, ditulis kembali, akan tetapi apabila perintahnya salah tulis, maka
program tidak akan mengenal perintah tersebut, sehingga akan terjadi error.

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 30


Dengan cara yang sama, dapat dilakukan input beban berikutnya.
LOAD CASE 1 setelah berat sendiri adalah Beban Mati. Langkah pertama akan mulai
meng-input beban pada balok Q1 dan Q2. Kemudian diikuti dengan beban pada balok V.
• Dari Page Menu klik Loads, dari Data Area, klik kotak dialog Load Cases Details,
klik 1: LOAD CASE 1, selanjutnya klik Add,

I
s
i
B
e
b
a
n

Satuan dalam kotak dialog di atas dapat dirubah sewaktu-waktu sesuai kebutuhan

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 31


13. Perintah Analisa
Setelah semua pembebanan di input, selanjutnya adalah melakukan input perintah
analisa struktur. Klik Commands, Analysis.

Analysis untuk struktur seperti contoh di atas dapat dilakukan dengan Perform Analysis atau P-
Delta Analysis. Gunakan Perform Analysis. Untuk Print Option pilih No Print.
Dan untuk Post-Analysis Print, dapat diperintah Output apa saja yang diinginkan. Contohnya
dapat dilakukan perintah Support Reaction.

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 32


Selanjutnya apabila data base di cek kembali akan terlihat sebagai berikut :

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 33


14. Analyze
Analyze dilakukan untuk melakukan perintah analisa struktur. Klik Analyze, Run
Analysis.
Tampilan yang muncul adalah :

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 34


Klik Done, hasil analisa dapat dilihat dengan mengklik STAAD Output :

STAAD Output
Tampilan STAAD Output :

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 35


15. Design Parameter
Di dalam design, untuk pembahasan kali ini hanya akan mengupas Design Baja dan
Design Beton Bertulang. Design Baja mengacu kepada AISC sedangkan Design
Beton Bertulang mengacu kepada ACI.
Untuk contoh perhitungan di atas, material baja mempunyai data sebagai berikut :
• Tegangan leleh = 2400 kg/cm2
• Rasio untuk beban tetap adalah 1,00 sedangkan rasio untuk beban sementara
diambil 1,30
Untuk material beton bertulang mempunyai data sebagai berikut :
• fc’ = 200 kg/cm2
• Tegangan leleh tulangan pokok = 4000 kg/cm2
• Tegangan leleh tulangan sekunder = 2400 kg/cm2
Tegangan leleh
Member yang materialnya dari beton adalah member no. 1, 3, 4, 5, 7, 8 sedangkan
member yang materialnya dari baja profil adalah member 2 dan 6.

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 36


Klik Commands, Design, dengan pilihan :
1. Concrete Design......
2. Steel Design........

CONCRETE DESIGN
Klik Commands, Design, Concrete Design, maka di sebelah kanan pada Area Data
akan muncul tampilan Concrete Design - Whole Structure kemudian klik Select
Parameter. Selanjutnya tampilannya adalah sebagai berikut :

Pindahkan semua parameter ke sebelah kiri dengan meng klik <<, selanjutnya cari dan
klik Fc dan klik >, maka Fc akan pindah ke Selected Parameters (kotak kanan). Dengan
cara yang sama pilih Fymain, Fysec.
Pada Area Data klik Define Parameters, selanjutnya definisikan besaran Fc, Fymain dan
Fysec.
Fc = 200 kg/cm2 adalah sama dengan 2 kN/cm2, setelah itu klik Add. Lakukan hal yang
sama untuk Fymain dan Fysec. Setelah selesai klik Close.

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 37


Kembali ke Data Area, muncul parameter-parameter dengan tanda tanya (?), yang berarti
bahwa parameter yang bersangkutan belum di definisikan ke dalam struktur.
klik batang-batang yang bermaterial beton (warna-merah di Main Window), kemudian
klik FC2 di Data Area, klik juga Assign To Selected Beams/Plates dan klik Assign.

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 38


Akan tampil kotak dialog : The Assignment method you have chosen is Assign to Selected
Geometry. Do you want to proceed ? Klik Yes.
Lakukan dengan cara yang sama untuk Fymain dan Fysec.
Berikutnya adalah klik Commands yang ada di Data Area, sehingga muncul kotak dialog
Design Commands seperti terlihat dalam gambar di bawah ini :

Klik DESIGN BEAM kemudian klik Add, klik DESIGN COLUMN kemudian klik
Add. Akhiri dengan Close.
Pada Data Area akan muncul pula DESIGN BEAM dan DESIGN COLUMN dengan
tanda tanya (?) yang berarti belum di definisikan ke dalam struktur. Dengan meng klik
balok-balok sehingga terdefinisi (berwarna merah), lalu klik DESIGN BEAM, periksa
check box Assign to Selected Beams, dan diakhir dengan klik Assign. Dengan cara yang
sama lakukan untuk DESIGN COLUMN.

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 39


STEEL DESIGN
Klik Commands, Design, Steel Design, maka di sebelah kanan pada Area Data akan
muncul tampilan Steel Design - Whole Structure kemudian klik Select Parameter.
Selanjutnya tampilannya adalah sebagai berikut :

Pindahkan semua parameter ke sebelah kiri dengan meng klik <<, selanjutnya cari dan
klik Fyld dan klik >, maka Fyld akan pindah ke Selected Parameters (kotak kanan).
Dengan cara yang sama pilih parameter-parameter yang lain.
Pada Area Data klik Define Parameters, selanjutnya definisikan besaran Fyld.
Fyld = 2400 kg/cm2 adalah sama dengan 24 kN/cm2, setelah itu klik Add. Lakukan hal
yang sama untuk parameter lainnya. Setelah selesai klik Close.
Sama seperti pada design concrete, nyatakan parameter-parameter untuk baja ke dalam
struktur.
Berikutnya adalah klik Commands yang ada di Data Area, sehingga muncul kotak dialog
Design Commands seperti terlihat dalam gambar di bawah ini :

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 40


Klik Check Code dan diakhiri dengan Add.
Selanjutnya di dalam Data Area, klik CHECK CODE kemudian definisikan ke dalam
batang yang bermaterial baja (batang 2 dan 6).

16. Perintah Analyze


Setelah semua input data diyakini sudah selesai lakukan analisa terhadap struktur.
Klik Analyze - Run Analysis. Tetapi sebelum melakukan analisa adalah umum
apabila dilakukan penggontrolan input data melalui STAAD Editor. Beberapa
modifikasi lebih mudah dilakukan melalui Editor ini. Lakukanlah beberapa
modifikasi yang diperlukan, sebelum melakukan Analyze.

17. Output Hasil Analisa dan Design

STAAD Output
Output dari hasil perhitungan dapat dilihat dalam Lampiran.

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 41


Hasil Output dalam grafik.

skala gambar

Mz

Loadcases

Bidang Momen, Gaya Lintang, Gaya Aksial, Garis elastika/displacement dapat dilihat
melalui fasilitas ini. Skala grafik bidang momen misalnya dapat dirubah melalui icon
Scale.
Sedangkan untuk melihat tampilan hasil design dapat digunakan Post Processing,
kemudian dari Pulldown Menu klik Report, Section Forces dan pilih Batang yang akan
ditampilkan, klik Moment-Z, Absolute Value. Maka tampilan yang akan di dapat adalah
sebagai berikut :

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 42


Klik 2 kali

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 43


Klik batang yang bersangkutan 2 kali, maka akan muncul kotak dialog Beam dengan Tab
yang aktif adalah Geometry, yang menampilan informasi geometri dari batang. Klik Tab
Concrete Design, maka akan tampak hasil desain beton lengkap dengan penulangannya.

Dengan cara yang sama, dapat pula ditampilkan desain baja.

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 44


Untuk melihat file output klik icon (STAAD Output) dan akan
tampil :

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 45


LAMPIRAN

Pengenalan StaadPro – Ir. Willy C. Wungo 46