Restrukturisasi Sistem Produksi Usaha Peternakan Sapi Perah Rakyat dalam Sistem Pembangunan Berkelanjutan (Kasus di Daerah Hulu

Sungai Citarum)
Dwi Cipto Budinuryanto Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran Bandung Abstract Diary Production System is resource management for sustainable farm based on the principles of management practices, in order to assist the growing human needs while maintaining or improving environmental quality and conserve natural resources. There are four components to consider in the basic principles of Sustainable Development Strategy of equity, participation, diversity, integration, and long-term perspective. Livestock is sustainable resource management that works for the farm business to help a growing human needs while maintaining or improving environmental quality and conserve natural resources. There are four components to consider in the basic principles of Sustainable Development Strategy of equity, participation, diversity, integration, and long-term perspective. The orientation of technological and institutional changes carried out in such a way as to ensure the fulfillment and satisfaction of human needs in a sustainable manner for present and future generations. So the system is environmentally sound farming people have the sense and purpose in the context of food security and environmental sustainability. Management of the Upper Citarum River in an integrated manner should be preceded by the identification of physical and socio-economic problems, identification of institutional and stakeholders, analysis of the role of the parties, formulate strategies, policies, programs and activities of an integrated and systematic monitoring and evaluation systems, effective and efficient. Keywords: sustainable agricultural development strategies, dairy production system A. PENDAHULUAN Dalam rapat koordinasi dengan DPR RI (2010), Menteri Pertanian RI mengungkapkan ada 10 masalah fundamental yang menjadi faktor penghambat pertanian di Indonesia secara umum yaitu meningkatnya kerusakan lingkungan dan perubahan iklim global, ketersediaan infrastruktur, sarana prasarana, lahan, dan air. Status dan luas kepemilikan lahan (9,55 juta KK < 0,5 Ha) sehingga membuat lemahnya sistem perbenihan dan perbibitan nasional. Selain itu, keter-batasan akses petani terhadap permodalan dan masih tingginya suku bunga usaha tani, lemahnya kapasitas dan kelembagaan petani dan penyuluh, masih rawannya ketahanan pangan dan ketahanan energi, belum berjalannya diversifikasi pangan dengan baik, rendahnya nilai tukar petani (NTP), serta kurang optimalnya kinerja dan pelayanan birokrasi pertanian, dan keter-paduan antarsektor. Untuk mengatasi beberapa masalah tersebut pemerintah membuat langkah-langkah strategis yang dijabarkan dalam tujuh Gema Revitalisasi yang meliputi, revitalisasi lahan, revitalisasi pembenihan dan pembibitan, revitalisasi infrastruktur dan sarana, revitalisasi sumber daya manusia, revitalisasi pembiayaan petani, revitalisasi kelembagaan petani, dan revitalisasi teknologi dan industri hilir. Ke sepuluh faktor fundamental tersebut dapat disimpulkan merupakan faktor dominan terhadap ancaman terhadap visi dan misi pembangunan peternakan berkelanjutan. Dalam UU Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan dikatakan Seminar Nasional 2010 - Pembangunan Peternakan Berkelanjutan 2 | 1

keanekaragaman. populasi yang bertambah. Dua hal ini akan terpenuhi jika tanah dikelola dan kesehatan tanaman dan hewan serta masyarakat dipertahankan melalui proses biologis (regulasi sendiri). pakan. atau bidang lainnya yang terkait. hewan) dihargai dan menggabungkan nilai kemanusiaan yang mendasar (kepercayaan. rasa sayang) dan termasuk menjaga dan memelihara integritas budaya dan spiritual masyarakat dan (e) Luwes. (d) Manusiawi. yang berarti petani mendapat penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan. “Pertanian berkelanjutan adalah pengelolaan sumberdaya yang berhasil untuk usaha pertanian guna membantu kebutuhan manusia yang berubah sekaligus mempertahankan atau meningkatkan kualitas lingkungan dan melestarikan sumberdaya alam”. dan pengusahaannya. yang berarti masyarakat desa memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan ubahan kondisi usahatani yang berlangsung terus. B. sesuai dengan tenaga dan biaya yang dikeluarkan. benih. kemandirian. Beberapa terminologi dalam bidang peternakan berubah dan berorientasi pada sistem agribisnis berwawasan lingkungan yang berkelanjutan. panen.Pembangunan Peternakan Berkelanjutan 2 | 2 . misalnya. yang berarti kualitas sumberdaya alam dipertahankan dan kemampuan agroekosistem secara keseluruhan – dari manusia. bibit dan/atau bakalan. integrasi. pemasaran. kehutanan. (2) Penyelenggaraan peternakan dan kesehatan hewan berasaskan kemanfaatan dan keberlanjutan. Sumberdaya lokal digunakan secara ramah dan yang dapat diperbaharui. budi daya ternak. keterbukaan dan keterpaduan. Berdasarkan hal tersebut di atas dapat dirumuskan bahwa dalam prinsip dasar STRATEGI PEM-BANGUNAN BERKELANJUTAN ada empat komponen yang perlu diperhatikan yaitu pemerataan. kejujuran. kebijakan. misi. (b) Dapat berlanjut secara ekonomis. yang berarti bahwa martabat dasar semua makhluk hidup (manusia. kerakyatan dan keadilan. dan perspektif jangka panjang. PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DALAM PERSPEKTIF USAHA PETERNAKAN RAKYAT Dalam UU Nomor 18 Tahun 2009 dimensi peternakan menjadi jauh lebih luas dan komprehensif dibandingkan dengan UU Nomor 6 Tahun 1967. Azas dan tujuan tersebut perlu digaris bawahi mengingat bahwa substansi dan hakekat pembangunan pertanian berkelanjutan adalah menjadi semangat dan jiwa bagi pemerintah dalam merumuskan visi. dan bantuan teknis terjamin. Menurut Technical Advisorry Committee of the CGIAR (TAC-CGIAR. Masyarakat berkesempatan untuk berperanserta dalam pengambilan keputusan. sasaran pembangunan dan programprogram yang akan dikembangkan. perikanan. tanaman. (c) Adil. dan hewan sampai organisme tanah ditingkatkan. permintaan pasar dan lain-lain. harga diri. kemitraan. 1988). dan keprofesionalan. dan dapat melestarikan sumber-daya alam dan meminimalisasikan risiko. pengolahan. yang berarti sumberdaya dan kekuasaan didistribusikan sedemikian rupa sehingga keperluan dasar semua anggota masyarakat dapat terpenuhi dan begitu juga hak mereka dalam penggunaan lahan dan modal yang memadai. hortikultura.(Bab II Pasal 2) tentang Asas dan Tujuan yaitu bahwa : (1) Peternakan dan kesehatan hewan dapat diselenggarakan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dilaksanakan secara tersendiri dan/atau me-lalui integrasi dengan budi daya tanaman pangan. partisipasi. keamanan dan kesehatan. Seminar Nasional 2010 . kerjasama. pascapanen. tanaman. Ciri-ciri pertanian berkelanjutan tersebut meliputi : (a) Mantap secara ekologis. alat dan mesin peternakan. perkebunan. di lapangan dan di masyarakat. Peternakan didefinisikan sebagai: segala urusan yang berkaitan dengan sumber daya fisik. renstra.

Pertama. Dimensi dan perspektif yang terkandung dalam bab. maka perlu ada beberapa koreksi mendasar terhadap paradigma yang menjadi arah kebijakan tersebut (Mubyarto dan Awan S. Keempat. Bahkan lebih dari itu. termasuk di antaranya peternak. bukan ideologis dan normatif. Dalam perspektif sosio-ekonomik usaha peternakan rakyat. peternakan berkelanjutan. dan terdesentralisasi. yang berdasar pada lima premis dasar agribisnis. Hal tersebut dilandasi pemikiran bahwa usaha peternakan sapi perah rakyat di hulu sungai Citarum hanya merupakan bagian atau elemen dari basis agro-ekosistem yang lebih luas. termasuk di Indonesia. yaitu segala sesuatu yang harus dihitung untung-ruginya. Pembangunan peternakan tetap merupakan bagian dari pembangunan perdesaan (rural development) yang menekankan pada upaya-upaya meningkatkan kesejahteraan penduduk desa. berkelanjutan. pakar-pakar agribisnis lebih memikirkan bisnis pertanian/peternakan. petani penggarap. Dalam konteks usaha sapi perah rakyat di daerah hulu Sungai Citarum penulis lebih senang menggunakan istilah pembangunan berkelanjutan. pertanian adalah komponen rantai dalam sistem komoditi. 2003). gurem. yang dituangkan dalam visi terwujudnya perekonomian nasional yang sehat melalui pembangunan sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing. Sistem agribisnis secara intrinsik netral terhadap semua skala usaha. dan buruh-buruh tani-ternak yang miskin. efisiensinya. Rumusan inilah yang nampaknya digunakan sebagai konsep pembangunan pertanian dari Departemen Pertanian. Sepintas paradigma agribisnis memang menjanjikan perubahan kesejahteraan yang signifikan bagi para petani. dan kelima. sehingga kinerjanya ditentukan oleh kinerja sistem komoditi secara keseluruhan. pendekatan sistem agribisnis adalah formulasi kebijakan sektor pertanian yang logis. pendekatan sistem agribisnis khususnya ditujukan untuk negara sedang berkembang. Fokus yang berlebihan pada agribisnis akan berakibat berkurangnya perhatian kita pada peternak kecil. Daerah hulu sungai Citarum yang Seminar Nasional 2010 . adalah suatu kebenaran umum bahwa semua usaha pertanian berorientasi laba (profit oriented). berkerakyatan. Paradigma agribisnis yang dikembangkan oleh Davies dan Goldberg. mengingat bahwa input utama untuk proses produksi usaha peternakan sapi rakyat biasanya sangat tergantung pada sektor/subsektor lainnya. pasal dan ayat-ayat dalam peraturan perundangan di bidang Peternakan dan kesehatan hewan dengan sendirinya akan berdampak pada strategi pembangunan berkelanjutan khususnya bagaimana merumuskan sistem integrasi antara subsektor peternakan dengan subsektor lainnya. dan harus dianggap sebagai alasan ilmiah yang positif. dan lain-lain yang kegiatannya tidak merupakan bisnis. penyakap. C. dan sama sekali tidak memikirkan keadilannya dan moralnya. Pembangunan pertanian dan peternakan di Indonesia mestinya berarti pembaruan penataan pertanian dan peternakan yang menyumbang pada upaya mengatasi kemiskinan atau meningkatkan kesejahteraan mereka. Kedua. USAHA PETERNAKAN SAPI PERAH DALAM KONTEKS PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN Ada berbagai definisi tentang pembangunan pertanian berkelanjutan.Pembangunan Peternakan Berkelanjutan 2 | 3 . Dalam kasus usaha peternakan sapi perah rakyat di hulu sungai Citarum.Definisi di atas tentunya akan berimplikasi pada strategi dan program yang akan dikembangkan oleh pemerintah. Ketiga. pembangunan peternakan berkelanjutan. dimana usaha peternak-an tersebut dituding sebagai penyebab masalah kerusakan lingkungan yang paling dominan di daerah DAS Hulu Sungai Citarum. sebagian ilmuwan melihat bahwa pengembangan sistem dan usaha agribisnis belum tentu cocok untuk diterapkan di semua kondisi. Namun jika dikaji lebih mendalam.

Dalam mengadopsi input minimal (low input) sistem-sistem berkelanjutan dapat menunjukkan penurunan potensial fungsi-fungsi eksternal atau konsekuensi-konsekuensi negatif dari jebakan sosial pada masyarakat. Orientasi perubahan teknologi dan kelembagaan dilakukan sedemikian rupa. (b) Bernuansa dan bersahabat dengan ekologi (ecologically sound and friendly). Petani sering terperangkap dalam perangkap sosial tersebut sebab insentif-insentif yang mereka terima dari kegiatan produksi saat ini. sistem budidaya pertanian tidak boleh menyimpang dari sistem ekologis yang ada. akan tetap ada pada saat yang akan datang dan selamanya. Setidaknya ada lima Lima kriteria untuk mengelola suatu sistem peternakan berke-lanjutan (a) kelayakan ekonomis (economic viability). Ilmuwan lain mendeskrepsikan Sistem berkelanjutan berupa suatu ajakan moral untuk berbuat kebajikan pada lingkungan sumber daya alam dengan memepertimbangkan tiga matra atau aspek sebagai berikut: (a) Kesadaran Lingkungan (Ecologically Sound). Peternakan berkelanjutan atau pemanfaatan sumber daya yang dapat diperbaharui (renewable resources) dan sumberdaya tidak dapat diperbaharui (unrenewable resources). (d) Kepantasan secara budaya (Culturally approciate) dan (e) Pendekatan sistem holistik (system and hollistic approach). Hasilnya adalah terdapat banyak kemungkinan yang dapat ditemukan yaitu meningkatnya kualitas hidup. Penulis sangat sependapat bahwa prinsip-prinsip dasar peternakan berkelanjutan dan prinsip-prinsip dasar cara beternak yang baik (good farming practices) memang harus diterapkan sebaik-baiknya. Berpijak pada pengalaman dalam sektor pertanian. untuk jangka pandek dan jangka panjang. (c) Diterima secara sosial (Social just).Pembangunan Peternakan Berkelanjutan 2 | 4 . perubahan sosial dan struktur ekonomi juga akan terjadi. baik bagi diri sendiri dan orang lain. Ibun. untuk proses produksi peternakan dengan menekan dampak negatif terhadap lingkungan seminimal mungkin. Bermanfaat bagi semua dan tidak menimbulkan bencana bagi semuanya. sistem budidaya pertanian harus mengacu pada pertimbangan untung rugi. Jadi sistem peternakan rakyat yang berwawasan lingkungan memiliki pengertian dan tujuan dalam rangka keamanan pangan dan kelestarian lingkungan. kualitas dan kuantitas produksi. Menurut Food and Agriculture Organization (FA0). Sehingga dapat menjamin pemenuhan dan pemuasan kebutuhan manusia secara berkelanjutan bagi generasi sekarang dan mendatang. Proses produksi peternakan yang berkelanjutan akan lebih mengarah pada penggunaan produk hayati yang ramah terhadap lingkungan. Peternakan sapi perah berkelanjutan dapat diartikan bahwa usaha peternakan yang berlanjut untuk saat ini. dan peningkatan kegiatan pertanian mereka. serta lingkungannya. serta bagi organisme dalam sistem ekologi maupun diluar sistem ekologi dan (c) Berwatak sosial atau kemasyarakatan (Socially Just). Keseimbangan adalah indikator adanya harmonisasi dari sistem ekologis yang mekanismenya dikendalikan oleh hukum alam. Seminar Nasional 2010 . Ketika perubahan dari kegiatan pertanian konvensional ke pertanian berkelanjutan dilaksanakan. Pacet dan Majalaya.dijadikan referensi untuk penulisan artikel juga dibatasi untuk menggambarkan Wilayah hulu Sungai Citarum yang terdiri dari Kecamatan Kertasari. pertanian berkelanjutan merupakan pengelolaan dan konservasi sumber daya alam. terdapat hubungan yang menurun pula pada hubungan kerja terhadap mereka yang selama ini terlibat dan mendapatkan manfaat dari pertanian konvensional. Hal yang sama diprediksi juga dapat terjadi pada peternak sapi perah rakyat di daerah sekitar Hulu Sungai Citarum. sistem pertanian harus selaras dengan norma-norma sosial dan budaya yang dianut dan dijunjung tinggi oleh masyarakat disekitarnya. Norma-norma sosial dan budaya akan menjadi masalah jika tidak diper-hatikan. Keberlanjutan yang dimaksud meliputi : penggunaan sumberdaya. (b) Bernilai ekonomis (Economic Valueable). Pada saat input menurun.

Pembangunan Peternakan Berkelanjutan 2 | 5 . Peta Wilayah Penyebaran TPK KPBS Pangalengan Berdasarkan pengamatan penulis yang pernah beberapa kali (2005-2008) melakukan program pelatihan dan pendampingan peningkatan produksi dan kualitas susu sapi perah di beberapa TPK di Pangalengan Timur dimana Hulu Sungai Citarum berada. RESTRUKTURISASI USAHA PETERNAKAN SAPI PERAH RAKYAT DALAM SISTEM PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN (KASUS DI DAERAH HULU SUNGAI CITARUM) Deskripsi Peternakan Sapi Perah Rakyat di daerah sekitar Hulu Sungai Citarum Basis agroekosistem usaha peternakan sapi perah rakyat di daerah sekitar Hulu Sungai Citarum memang harus dirancang ulang jika konsep pembangunan berkelanjutan akan diterapkan di wilayah tersebut. Cihawuk. Lembang Sari dan Lodaya). Lihat Gambar 1. Situ Cisanti yang merupakan hulu dari sungai Citarum berada di daerah Goha Pangalengan Timur. Karakteristik Kelompok Peternak dan Populasi ternak di Rayon 5 dan 6. Citawa. Cikembang. Hasil sensus oleh Tim Fakultas Peternakan Unpad (2008) tentang karakteristik peternak.D. Goha dan Sukapura) adalah yang paling berkepentingan dengan program restrukturisasi usaha dalam sistem pembangunan berkelanjutan. Komposisi Ternak Induk Pedet Betina Dara Pedet Jantan Betina Muda Pejantan Jasa / Dagang / Buruh 12% Swasta / Koperasi 11% PNS / TNI / Bertani POLRI 6% 1% Lain lain 7% Jenis Pekerjaan 65% 11% 1% 4% 7% 12% Memelih ara Sapi Perah 63% Seminar Nasional 2010 . dan terakhir pada tahun 2008 melakukan sensus peternak dan sapi perah di daerah Pangalengan Timur menunjukkan bahwa peternak sapi perah anggota KPBS Pangalengan di 2 Rayon yang meliputi peternak yang tergabung dalam Rayon 5 yaitu (TPK Cibeureum. Sehingga dapat dikatakan bahwa daerah tersebut merupakan ring utama untuk prioritas pembangunan berkelanjutan sedangkan ring berikutnya di luar daerah utama adalah para peternak yang tergabung dalam rayon 6 (wilayah TPK Cisabuk. Kertasari. produksi susu dan Kepemilikan lahan di ke dua wilayah (Komda) tersebut dapat digambarkan pada Gambar 2 sebagai berikut. Gambar 2. Gambar 1.

Seminar Nasional 2010 .15 165 32 27 26 51 29 407 84 51 97 127 48 102 44 21 0 15 22 7 0 2 0 0 5 4 4 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 23 13 3 0 2 5 53 7 16 8 16 6 B Dapat disimpulkan bahwa kepemilikan lahan untuk mendukung usaha peternakan sapi perah masih sangat jauh dari ideal sehingga para peternak lebih banyak yang mencari rumput di daerah perhutani.53 0.68 0.28 2.97 91.84 8.772 437 384 326 335 290 1. Performans TPK.00 123.10 128. No A Nama TPK Rayon -5 Cisabuk Citawa Kertasari Lembang Sari Lodaya Rayon -6 Cibeureum Cihawuk Cikembang Goha Sukapura Total luas lahan milik (ha) Total luas lahan sewa (ha) Perhutani (orang) Perkebunan (orang) PLN (orang) Perorangan (orang) 8.16 0.24 7.38 138.22 2.90 0. (c) dinamika populasi dan komposisi ternak kurang ideal.Pembangunan Peternakan Berkelanjutan 2 | 6 .57 203.14 545.20 2.10 3. Tabel 2.00 5. Populasi Ternak dan Produksi Susu (2008) Jumlah Kelompok 38 6 8 10 6 8 29 6 5 8 6 4 No Nama TPK Jumlah Peternak (orang) 742 184 167 131 132 128 753 133 90 190 251 89 Populasi induk (ekor) 1. Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa walaupun total KK 63% memelihara sapi perah namun (a) skala kepemilikan peternak sangat rendah dan sangat jauh dari pencapaian BEP.20 0.67 54.00 0.95 118.568 237 195 397 568 171 Susu disetor (1000lt/bl) 560.Tabel 1.07 0.00 79.45 1.47 0.84 1. 2008).34 0.90 97. Kepemilikan Lahan Petani Peternak di Rayon 5 dan 6.99 68.60 0. (b) produktivitas ternak tidak terlalu baik.40 1 2 3 5 6 Rayon -5 Cisabuk Citawa Kertasari Lembang Sari Lodaya Rayon -6 Cibeureum Cihawuk Cikembang Goha Sukapura 1 2 3 4 5 Sumber: Sensus Peternak Sapi Perah (Tim Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. perkebunan dan tanah milik PLN.41 0.00 1.74 6.81 7.

57 7.91 33.71 45.00 Seminar Nasional 2010 .57 45.01 69. Aktivitas dan Persepsi dalam bidang Perkandangan dan Peralatan (%) di Rayon 5 dan 6.68 63.04 57.43 60. Aktivitas dan Persepsi (%) Perkandangan Jarak kandang dari rumah> 5 meter Lantai kokoh dan mudah dibersihkan Atap genting Cukup sinar dan sirkulasi udara Tempat makan permanen Tempat minum permanen dan terpisah Saluran pembuangan air dan kotoran baik dan lancar Ada tempat penampungan kotoran Ada gudang sapronak Pencapaian Kondisi Kandang Rayon 5 75.01 94.70 75.11 49.29 82.36 82.52 Gambar 4.43 75.36 64.79 72.18 82.22 77.11 87.40 53.42 91.49 88.22 30.17 77.71 87.14 67.42 72.43 53.79 30.87 39.Pembangunan Peternakan Berkelanjutan 2 | 7 .43 49.61 56.86 33.40 43. Tingkat Pengetahuan dalam Aktivitas Zooteknik (%) Perkandangan Rayon 6 Pencapaian Kondisi Kandang Ada gudang sapronak Ada tempat penampungan kotoran Saluran pembuangan air dan kotoran baik… Tempat minum permanen dan terpisah Tempat makan permanen Cukup sinar dan sirkulasi udara Atap genting Lantai kokoh dan mudah dibersihkan Jarak kandang dari rumah> 5 meter Rayon 5 60.Gambar 3.29 87.68 Tabel 3.86 26.91 Rayon 6 64.43 69.14 91.86 62.14 94.00 63.11 91.43 7.40 26. Tingkat Pengetahuan Berkoperasi (%) Pengetahuan Berkoperasi Rayon 6 Pencapaian Pengetahuan Berkoperasi Pengetahuan badan-badan koperasi Pengetahuan kekayaan koperasi Pengetahuan kewajiban menabung di… Pengetahuan hak anggota menjadi pengurus Pengetahuan landasan berkoperasi 25.55 Rayon 5 63.50 36.14 87.17 67.

Secara umum penerapan prinsip-prinsip Good Dairyng Practices harus ditingkatkan.88 6. SDM. saluran pembuangan dan atau penampungan kotoran merupakan masalah utama di daerah Rayon 5 dan 6. E.Pembangunan Peternakan Berkelanjutan 2 | 8 . Dalam progran jangka pendek setidaknya terdapat outline plan.27 70.84 51. Kelembagaan. Serta memanfaatkan pengertian tentang kompleknya keterkaitan antara sistem alam dan sistem sosial.55 98. Disusun dalam jangka panjang (10 tahun). Penyusunan harus melibatkan partisipasi masyarakat setempat sehingga program yang disusun lebih akomodatif. Dengan menggunakan pengertian tersebut maka pembangunan yang bersifat integratif merupakan solusi konsep pelaksanaan pembangunan berkelanjutan. RANCANGBANGUN DAN KONSEP AWAL SISTEM PRODUKSI USAHA PETERNAKAN SAPI PERAH RAKYAT DALAM SISTEM PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN (KASUS DI DAERAH HULU SUNGAI CITARUM) Penyusunan master plan pengembangan atau rancangbangun usaha peternakan sapi perah rakyat harus memperhatikan berbagai aspek di atas dan bersifat holistik sesuai kaidah-kaidah normatif perencanaan pembangunan berkelanjutan.85 57. Pembangunan berkelanjutan mengutamakan keterkaitan antara manusia dengan alam.Aktivitas dan Persepsi (%) Peralatan Ember perah Milkcan Teat dipping Alat pemeriksa susu awal Saringan susu Ember air hangat Ember lap kotor Lap ambing Pencapaian Peralatan Pemerahan Rayon 5 87.99 2.30 68. metriks kegiatan lintas sektor.48 82.76 Rayon 6 94.35 79.47 96. antara lain: Potensi SDA.77 Pengetahuan zooteknis dan data empiris di atas setidaknya dapat menggambarkan bahwa perkandangan terutama. Seminar Nasional 2010 . Manusia mempengaruhi alam dengan cara yang bermanfaat atau merusak.84 98.09 89. Misalnya untuk merancang sistem produksi karena idealnya dibuat suatu sistem koloni disesuaikan topografi dan ekosistem kelompok dalam sistem manajemen terpadu.15 75. terkait dengan sistem yang ingin dikembangkan harus sangat detail (terpadu dan terintegrasi) dan mempertimbangkan aspek sosiologis. jangka menengah (5 tahun) dan jangka pendek (1-3 tahun) yang bersifat rintisan dan dan stimultans. Identifikasi Potensi dan Masalah untuk mengetahui kondisi dan potensi lokasi (komoditas unggulan).81 71. penanggung jawab kegiatan dan rencana pembiayaan.00 65.38 67. Iklim Usaha. Data di atas dapat digunakan untuk merancang restrukturisasi usaha sapi perah rakyat berbasis pembangunan berkelanjutan. dan sebagainya.

Identifikasi kelembagaan dan para pihak.Gambar 5. supervisi dan evaluasi Identifikasi Kinerja (impact) dan Indikator Kinerja Sasaran dan Nilai Tambah Lima kriteria untuk mengelola sistem pertanian berkelanjutan: 1. Pendekatan agroekosistem 8. Restrukturisasi lahan 3. Ibun. Cisarea. menyusun strategi. Pemberian bimbingan teknis. Kelembagaan Pendukung 5. norma. Citarik. 2. Keberlanjutan sosioekonomi 7. UU No. Diterima secara sosial 4. Legislasi yang terkait dgn PB 2. Penyiapan perumusan standar. DAS Citarum Hulu dibagi ke dalam lima sub-DAS yaitu: Cikapundung. pedoman. Kelayakan ekonomis 2. Sumberdaya teknologi. Pacet dan Majalaya dapat dirancang sebagai wilayah peternakan terpadu dengan lebih memperhatikan subsektor lainnya (pertanian. Konsep Rancangbangun Program Restrukturisasi Usaha Peternakan Sapi Perah Rakyat dalam Sistem Pembangunan Berkelanjutan (Dwi Cipto B. Pendekatan sistem holistik Program/kegiatan dan Aktifitas Program Unggulan/ arah pengembangan 1. Dimensi ontologis Dimensi epistemologis Dimensi axiologis Dimensi retorik Dimensi metodologis Perkebunan Analisis SWOT Analisis SIPOC Analisis SMART Identifikasi misi dan sasaran strategis Penyiapan perumusan strategi 1. Pengelolaan SDA. dan prosedur 2. Wilayah hulu Sungai Citarum yang terdiri dari Kecamatan Kertasari. 2010) Pertanian Landasan Yuridis dan Idiil 1. Permen Nomor : 06 Tahun 2009 Kehutanan Landasan Filosofis Pembangunan Berkelanjutan Peternakan 1. baik dan benar. Sebagaimana diketahui bahwa untuk keperluan pengelolaan. Pembinaan dan pengembangan 4. 3. 18 Tahun 2009 2. 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional 3. Pemanfaatan sumberdaya lokal 6. Seminar Nasional 2010 . Hulu sungai Citarum akan berdampak secara langsung pada ekosistem di daerah DAS Citarum Hulu yang mencakup mata air sungai Citarum hingga Saguling dengan luas sekitar 1771 km2. 4. Good Dairy Practices 4. Bernuansa dan bersahabat dengan ekologi 3. komoditas. Penguatan kelompok dll Identifikasi Sumberdaya Analisis Peluang dan Manfaat Prioritas Pengelolaan Hulu Sungai Citarum secara terpadu harus diawali dengan identifikasi permasalahan fisik dan sosial ekonomi. 5. UU No. Kepantasan secara budaya 5. kebijakan program dan kegiatan terpadu dan Sistem monitoring evaluasi yang sistematis. Analisa peran para pihak.Pembangunan Peternakan Berkelanjutan 2 | 9 . Cisangkuy dan Ciwidey. permodalan. 3. kriteria. Alih fungsi lahan mungkin dapat dirancangulang sehingga lahandapat dimanfaatkan lebih maksimal dan tidak merusak agroekosistem. kehutanan dan perkebunan) di daerah tersebut. Lahan yang ditanami pertanian mungkin dapat dikonversi menjadi lahan tempat penanaman pohon berakar keras serta menjadi area kebun rumput untuk pakan ternak.

Sehingga pekerjaan rumah kiranya masih akan sangat panjang.Beberapa tahun yang lalu (2001) Pemda Jawa Barat pernah mencanangkan program Citarum Bergetar (bersih. Pemerintah Indonesia bekerjasama dengan Asian Development Bank (ADB) serta para pemangku kepentingan (akademisi. kalangan usaha dan masyarakat) mempersiapkan program pemulihan yang dinamakan Integrated Citarum Water Resources Management Investment Program (ICWRMIP) atau Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu di Wilayah Sungai Citarum. Namun demikian. Penyusunan Karakteristik DAS Citarum (Tahun 2006).Pembangunan Peternakan Berkelanjutan 2 | 10 . Tujuannya adalah untuk bersama-sama secara partisipatif mengelola dan menangani permasalahan di Wilayah Sungai Citarum. Pada tahun 2006. LSM. (c) pengendalian pencemaran. seperti dikatakan oleh Huffington Posts. pada tahun 2010 ini. Aspek-aspek perbaikan dan pengembangan yang menjadi agenda utama dalam program Citarum Bergetar adalah: (a) kebijakan dan hukum. dan (d) pemberdayaan masyarakat. Sungai Citarum merupakan sungai paling berpolusi di Bumi. Dan terakhir untuk memulihkan dan membangun sungai Citarum secara terpadu. Perlu keterpaduan semua pihak untuk merelalisasikan Pembangunan berkelanjutan khususnya di hulu Sungai Citarum. (b) konservasi. Sistem Manajemen Terpadu Peternak P Peternak Q Peternak B Peternak R Peternak E Peternak A Peternak A Peternak B Peternak D Peternak D Peternak E Peternak C Peternak F Peternak C Peternak x Peternak y Peternak F Peternak Z Rambu-rambu Restrukturisasi Usaha Peternakan Sapi Perah Rakyat [Memenuhi Good Dairyng Practices dengan penerapan teknologi yang berbasis sumberdaya dan ekosistem lokal] Seminar Nasional 2010 . juga ada Gerakan Nasional Rehabilitasi Lahan (GERHAN). geulis dan lestari) pada tanggal 15 Agustus 2001 di Gunung Wayang sebagai mata air Sungai Citarum.

Ternak dikandangkan secara terus menerus b. Perkawinan dilakukan secara alami c. 8. Tatalaksana Pengendalian Penyakit Penanganan Pasca Panen 6. 2. Efisiensi penggunakan pakan sudah dapat diukur a. b. Tidak melakukan pemilihan bibit. Tatalaksana Pemberian Pakan a. Melakukan pengukuran efisiensi reproduksi Melakukan prinsip manajemen agribisnis secara efektif dan efisien. Kandang didesain secara khusus sesuai standar peruntukan ternak a. InputTeknologi Tatalaksana Perbibitan dan Teknologi Reproduksi Ekstensif a. Efisiensi penggunakan pakan diukur dan dievaluasi a. Pakan sudah dikontrol b. pengendalian) a. a.Pembangunan Peternakan Berkelanjutan 2 | 11 . Angka morbiditas dan mortalitas masih tinggi a. 9. Kualitas pakan belum efektif c. Memiliki program Biosekuriti namun belum efektif b. pelaksanaan. Proses pengolahanan belum dilakukan secara efektif Produk sebagian besar dipasarkan Merupakan usaha peternakan rakyat namun skala usaha masih rendah Memiliki Tidak dilakukan Memiliki tenaga ahli tapi belum mencukupi Intensif a. 2008) No 1. mengandalkan pakan dari luar (diabur) b. Kandang tidak didesain secara sesuai peruntukan (standar) a. merupakan usaha sampingan b. Memiliki tenaga ahli yang spesifik sesuai bidangnya 5. evaluasi. Melakukan input teknologi reproduksi c. Jumlah dan kualitas pakan terkonsumsi tidak terukur c. 7. Melakukan pemilihan bibit b. Sudah melakukan pengukuran Efisiensi reproduksi Sudah melakukan prinsipprinsip manajemen agribisnis namun belum efektif dan efisien. Efisiensi penggunakan pakan tidak terukur a. Ternak lebih banyak di luar kandang (diabur) b. Angka morbiditas dan mortalitas tinggi a. Tidak ada pengukuran efisiensi reproduksi Tidak dikelola sesuai prinsip manajemen agribisnis (perencanaan. Jumlah dan kualitas pakan terkonsumsi tidak terukur b. Tatalaksana Pemeliharaan 3. Manajemen perbibitan dilakukan secara ketat b. Angka morbiditas dan mortalitas rendah Memiliki standar produksi dan proses pengolahanan dilakukan secara efektif dan efisien (menggunakan standar mutu kualitas pangan (misalnya HACCP dll) Dikelola menggunakan prinsipprinsip pemasaran Merupakan industri peternakan (sesuai Kebijakan Pemerintah dan atau Kepmen) Memiliki mitra yang luas Dilakukan secara baik sesuai prinsip-prinsip akuntansi. 10. Memiliki program Biosekuriti yang baik b. Kandang didesain sesuai peruntukan namun belum memenuhi standar a. Ciri-Ciri Usaha Peternakan Berdasarkan Identifikasi dan Penerapan Teknologi (Dwi Cipto B. pengawasan. tidak memiliki standar b.Tabel 4. 11. Pemasaran hasil Skala usaha Kemitraan Sistem Audit Pengembangan R&D Untuk kebutuhan rumah tangga a. pengorganisasian. Mengandalkan perkawinan secara alam c. tidak melakukan pengolahan Usaha Peternakan Semiintensif a. tidak direncanakan Tidak memiliki Tidak dilakukan Tidak memiliki Seminar Nasional 2010 . Ternak lebih banyak dikandangkan b. Memiliki standar b. Tatalaksana Perkandangan 4. Tidak ada pola biosekuriti yang jelas b.

Jumlah dan kualitas basis ekosistem di setiap b. Disesuaikan dengan basis (standar) standar peruntukan. Citarum No 1. Jumlah dan kualitas pakan c. Matrik Rencana Implementasi Manajemen Pemeliharaan dan Input Teknologi Usaha Peternakan Sapi Perah di Hulu S. Memiliki program a. d. Memenuhi praktek-praktek d. Menggunakan bahanyang jelas Biosekuriti yang baik bahan lokal d. Skala usaha 9. evaluasi. ekosistem di setiap TPK b. Efisiensi penggunakan dengan pihak Perhutani dll terkonsumsi tidak terukur pakan diukur dan c. Pemasaran hasil 8. Kemitraan Sistem Audit Pengembangan R&D Seminar Nasional 2010 . manajemen b. Melakukan input calf dan lain-lain. Prevalensi penyakit tinggi b. Kerjasama terpadu (MOU) c. Tatalaksana Pemberian Pakan 5. Penanganan Pasca Panen 7. pengawasan. Mitra utama adalah KPBS (bagi Sistem integrasi (Perhutani. spesifik sesuai bidangnya pendampingan secara sistematis dan berkelanjutan dalam semua aspek. Bahan pakan terkontrol a. Memenuhi praktek-praktek e. Tidak dilakukan Dilakukan secara baik sesuai Melaksanakan prinsip2 dasar prinsip-prinsip dasar audit sistem audit. Angka morbiditas dan rendah minimal dalam sistem mortalitas pedet tinggi c. Sangat rendah. pengorganisasian. a. (perencanaan. Sedikit sekali yang memiliki pakan terkonsumsi TPK kebun terukur b. Prevalensi penyakit b. Melakukan pengukuran efisiensi reproduksi Tidak dikelola sesuai prinsip Melakukan prinsip Melaksanakan prinsip baik tentang manajemen manajemen agribisnis secara manajemen agribisnis. Mengkaji ulang pola kemitraan anggota koperasi) Perkebunan dan Kehutanan) agar berkeadilan. Belum melaksanakan a. 10. pengendalian) yang terukur a. tidak melakukan dan proses penanganan teknologi madya untuk pengolahan /pengolahanan secara menjamin pemanfaatan bahan efektif dan efisien pangan untuk konsumsi seharihari. pelaksanaan. mengandalkan bahan a. Kandang tidak didesain Kandang didesain sesuai a. Tatalaksana Pengendalian Penyakit 6. IB dan prinsip-prinsip Good Breeding Practices sinkronisasi estrus. Angka morbiditas dan biosekuriti khususnya mortalitas rendah terkait dengan mastitis c. Efisiensi penggunakan dievaluasi baik pakan ternak. reproduksi belum teknologi reproduksi dilaksanakan denagan baik. Breeding Practices dan b. Melaksanakan Good Sistem recording. Kandang koloni secara sesuai peruntukan peruntukan dan memenuhi b. Memenuhi standar saluran dan penampungan minimal praktek-praktek untuk pembuangan feses baik perkandangan sapi perah. Tidak memiliki Memiliki tenaga ahli yang Melaksanakan pelatihan2. Citarum) (Ramah Lingkungan) Teknologi Tepat Guna a. tidak memiliki standar Memiliki standar produksi Mendorong penggunaan d. Tidak ada pola biosekuriti a. Good Dairyng Practices Tatalaksana Perbibitan dan Teknologi Reproduksi Usaha Peternakan Sapi Perah Rakyat Kondisi Eksisting Manajemen Teknologi Input (Hulu S. pakan tidak terukur c. agribisnis efektif dan efisien. Tatalaksana Perkandangan 4.Tabel 5. Manajemen perbibitan atau Reproduksi dilakukan secara ketat Pola rearing. 11. 2. Tidak banyak yang memiliki c. Pengukuran efisiensi c.Pembangunan Peternakan Berkelanjutan 2 | 12 . Pakan disesuaikan dengan pakan dari luar b. susu sebagian Dikelola menggunakan Mendorong penggunaan besar langsung diserap oleh prinsip-prinsip pemasaran prinsip2 dasar manajemen KPBS Pangalengan yang berkeadilan agribisnis (kelompok) Merupakan usaha sampingan Merupakan usaha Meningkatkan skala usaha dan tidak melakukan peternakan rakyat yang melalui efisiensi usaha perencanaan yang sesuai menggunakan prinsip2 dasar (kelompok) dengan prinsip2 manajemen Good Management Practices. Tatalaksana Pemeliharaan 3.

6 1. (6) Program pengendalian penyakit.2. Biosekuriti Pakan.3. (5) Metode pemerahan.2. kandang. Bloat.4. hormon dll Kelompok (TPK) Poskeswan dan ULIB yang memenuhi persyaratan Peternak Pelatihan dan Pendampingan: Biosekuriti Seminar Nasional 2010 . alsin.6 Keterangan: (1) Identifikasi ternak. vaksin.4. 2 Konsep Keterkaitan Biosekuriti Sistem Produksi sapi perah Rakyat dan Pemanfaatan Teknologi Madya PENERAPAN INOVASI: Biosekuriti Sistem Produksi Sapi Perah Rakyat Penerapan Good Dairyng Practices Pemanfaatan Teknologi Madya Fitofarmasetika Masalah Utama: Mastitis.3.5. angka morbiditas dan mortalitas. Ternak.6 Dewasa 1.Tabel 6.6 1.2.4 bulan) Pedet (4 – 8 bulan) Dara (8 bulan – 2 th) Dewasa Manajemen Pemeliharaan Praproduksi Produksi Pascaproduksi 1.3.2.3. Matrik Rencana Manajemen Pemeliharaan dan Indikator Keberhasilan Usaha Peternakan Sapi Perah No 1 Jenis Kelamin Betina Pedet (0 . Hypocalsemia. Retensi Plasenta.3.2.6 1. pemerah dll Input Output Outcomes Susu Berkualitas ASUH Quality Control Kebijakan Penyediaan Obat.6 1.6 Indikator keberhasilan Produktivitas ternak.3.4.2. (2) Kebutuhan luasan lahan/kandang.4.3. Jantan Pedet 1.2. Helminthiasis. (4) Sistem perkawinan.Pembangunan Peternakan Berkelanjutan 2 | 13 . Footrot. (3) Kebutuhan kuantitas dan kualitas pakan. efisiensi ekonomi dan lain-lain.

Mubyarto dan A.F. [Artikel . berorientasi dan memiliki komitmen kuat terhadap masyarakat petani/peternak kecil.No. 3 Mei 2003] Peter H and L Haddad (2001).C. 2009 Seminar Nasional 2010 . 3. II .Pembangunan Peternakan Berkelanjutan 2 | 14 . Transformasi kebijakan pemerintah dalam rancangbangun pembangunan berkelanjutan belum pernah teruji sehingga harus dikaji dan diteliti secara lebih mendalam khususnya (a) instrumen kelembagaan pendukung.Th.. Paper Prepared for the Technical Advisory Committee of the CGIAR By International Food Policy Research Institute (IFPRI) Washington D. mikro. Rancangbangun restrukturisasi usaha peternakan sapi perah rakyat sebagai bagian integral dari pembangunan berkelanjutan masih memerlukan pengkajian secara menyeluruh. (d) pengembangan riset dan teknologi dan (e) sistem informasi perlu mendapatkan dukungan semua pihak khususnya kalangan pendidikan. memberi perlindungan yang lebih baik terhadap petani peternak rakyat. Water Resources and Irrigation Directorate – BAPPENAS Citarum Roadmap Coordination and Management Unit. sistema-tis dan komprehensif. CGIAR RESEARCH AND POVERTY REDUCTION. PEMBANGUNAN PERTANIAN BERKELANJUTAN (KRITIK TERHADAP PARADIGMA AGRIBISNIS). KESIMPULAN DAN SARAN 1. (c) tugas pokok semua komponen. memiliki transparansi tinggi dan moral kebijakan yang dapat dipertanggungjawabkan. dan orientasi kebijakan. (b) kebijakan makro. industri dan masyarakat. Kebijakan pemerintah harus lebih berorientasi pada penguatan dan pemanfaatan sumberdaya lokal. 2. peneliti. 4. USA Report of the regional workshop on sustainable agricultural development strategies for the least developed countries of the Asian and Pacific Region. Santosa (2003). Pembangunan berkelanjutan khususnya di daerah hulu sungai Citarum tidak akan dapat di-implementasikan secara baik jika tidak mendapatkan dukungan semua pihak. DAFTAR PUSTAKA IWRM Project in the Citarum River Basin (2009). Journal Ekonomi Rakyat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful