Anda di halaman 1dari 9

MODEL-MODEL KEPEMIMPINAN MASA KINI 

(SEKARANG)

Sebelum berbicara tentang kepemimpinan transaksional dan transformasional, sebaiknya kita

memahami dulu tentang arti kepemimpinan:

1. Kepemimpinan merupakan suatu konsep relasi. kepemimpinan hanya ada dalam


proses relasi dengan orang lain (para pengikut) . Apabila tidak ada pengikut, maka tidak
ada pemimpin. tersirat dalam definisi ini adalah premis bahwa pemimpin yang efektif
harus mengetahui bagaimana membangkitkan inspirasi dan berralasi dengan para
pengikut mereka.
2. Kepemimpinan merupakan suatu proses. agar bisa mempimpin, pemimpin harus
melakukan sesuatu. seperti telah diobservasi oleh John Gardner (1986-1988)
kepemimpinan lebih dari sekedar menduduki suatu otoritas. Kendati posisi otoritas yang
diformalkan mungkin sangat mendorong suatu proses kepemimpinan, namun sekedar
menduduki posisi itu tidak menandai seseorang untuk menjadi pemimpin.
3. kepemimpinan harus membujuk orang lain untuk mengambil tindakan. Pemimpin
membujuk pengikutnya melalui berbagai cara, seperti menggunakan otoritas yang
terelegitimasi, menciptakan model (menjadi teladan), penetapan sasaran, memberi
imbalan dan hukum, restrukturisasi organisasi dan mengkomonikasikan visi.

Konsep kepemimpinan transformasional dan transaksional didasari oleh teori kebutuhan atau

motivasi maslow (kebutuhan fisiologis, keamanan dan keselamatan, sosial, penghargaan, dan

aktualisasi diri). Menurut Bass dalam Robbins, (2008) kebutuhan pada tingkat yang lebih rendah

bisa dipenuhi dengan baik oleh pola kepemimpinan transaksional sedangkan pemuasan kebutuhan

pada tingkat yang lebih tinggi hanya bisa dipenuhi oleh pemimpin yang menerapkan pola

kepemimpinan transformasional.

Model Kepemimpinan Transaksional.

Kepemimpinan transaksional adalah hubungan antara pemimpin dan bawahan serta ditetapkan

dengan jelas peran dan tugas-tugasnya.

Menurut Masi and Robert (2000), kepemimpinan transaksional digambarkan sebagai

mempertukarkan sesuatu yang berharga bagi yang lain antara pemimpin dan bawahannya

(Contingen Riward), intervensi yang dilakukan oleh pemimpin dalam proses organisasional

dimaksudkan untuk mengendalikan dan memperbaiki kesalahan yang melibatkan interaksi antara

pemimpin dan bawahannya bersifat pro aktif.

Kepemimpinan transaksional aktif menekankan pemberian penghargaan kepada bawahan untuk

mencapai kinerja yang diharapkan. Oleh karena itu secara pro aktif seorang pemimpin

memerlukan informasi untuk menentukan apa yang saat ini dibutuhkan bawahannya.

Berdasarkan dari uraian tersebut diatas, maka dapat dikatakan bahwa prinsip utama dari

kepemimpinan transaksional adalah mengaitkan kebutuhan individu pada apa yang diinginkan

pemimpin untuk dicapai dengan apa penghargaan yang diinginkan oleh bawahannya

memungkinkan adanya peningkatan motivasi bawahan. Steers (1996).


Bass dalam Yukl, (2007) mengemukakan bahwa hubungan pemimpin transaksional dengan

karyawan tercermin dari tiga hal yakni:

1. Pemimpin mengetahui apa yang diinginkan karyawan dan menjelasakan apa yang
akan mereka dapatkan apabila kerjanya sesuai dengan harapan;
2. Pemimpin menukar usaha-usaha yang dilakukan oleh karyawan dengan imbalan; dan
3. Pemimpin responsif terhadap kepentingan pribadi karyawan selama kepentingan
tersebut sebanding dengan nilai pekerjaan yang telah dilakukan karyawan.

Karakteristik kepemimpinan transaksional ditunjukkan dengan prilaku atasan sebagai berikut

(Bass dalam Robbins – Judge, 2008) :

1. Imbalan  Kontinjen  (Contingensi  Reward).  Pemimpin  melakukan kesepakatan 


tentang  hal-hal  apa  saja  yang  dilakukan  oleh  bawahan dan  menjanjikan  imbalan 
apa  yang  akan  diperoleh  bila  hal  tersebut dicapai.
2. Manajemen  dengan  pengecualian / eksepsi Aktif (Active Manajemen  By 
exception).  Pada manajemen eksepsi aktif pemimpin memantau deviasi dari standar
yang telah ditetapkan  dan  melakukan  tindakan  perbaikan, serta melakukan tindakan
perbaikan.
3. Manajemen  dengan  pengecualian / eksepsi pasif (Pasive Manajemen  By 
exception).  Pada manajemen eksepsi pasif pemimpin melakukan tindakan jika standar
tidak tercapai.

Model Kepemimpinan Transformasional

Menurut Bass dalam Swandari (2003) mendefinisikan bahwa kepemimpinan transformasional

sebagai pemimpin yang mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi bawahan dengan cara-cara

tertentu.  Dengan penerapan kepemimpinan transformasional bawahan akan merasa dipercaya,

dihargai, loyal dan tanggap kepada pimpinannya.

Kepemimpinan transformasional adalah tipe pemimpin yang menginsprirasi para pengikutnya

untuk mengenyampingkan kepentingan pribadi mereka dan memiliki kemampuan mempengaruhi

yang luar biasa, Aspek utama dari kepemimpinan transformasional adalah penekanan pada

pembangunan pengikut, oleh karena itu, ada tiga cara seorang pemimpin transformasional

memotivasi karyawannya, yaitu dengan:

1. Mendorong karyawan untuk lebih menyadari arti penting hasil usaha;


2. Mendorong karyawan untuk mendahulukan kepentingan kelompok; dan
3. Meningkatkan kebutuhan karyawan yang lebih tinggi seperti harga diri dan aktualisasi
diri.

Bass dalam Robbin dan Judge, (2008) mengemukakan adanya empat ciri karakteristik

kepemimpinan transformasional, yaitu:

A. Kharisma (Charisma) / Pengaruh yang Ideal

Merupakan proses pemimpin mempengaruhi bawahan dengan menimbulkan emosi-emosi yang

kuat, Kharisma atau pengaruh yang ideal  berkaitan dengan reaksi bawahan terhadap pemimpin.

Pemimpin di identifikasikan dengan dijadikan sebagai penutan oleh bawahan, dipercaya, dihormati
dan mempunyai misi dan visi yang jelas menurut persepsi bawahan dapat diwujudkan. Pemimpin

mendapatkan standard yang tinggi dan sasaran yang menantang bagi bawahan.

Kharisma dan pengaruh yang ideal dari pemimpin menunjukkan adanya pendirian, menekankan

kebanggan dan kepercayaan, menempatkan isu-isu yang sulit, menunjukkan nilai yang paling

penting dalam visi dan misi yang kuat, menekankan pentingnya tujuan, komitmen dan konsekuen

etika dari keputusan serta memiliki sence of mission.  Dengan demikian pemimpin akan diteladani,

membangkitkan kebanggaan, loyalitas, hormat, antusiasme, dan kepercayaan bawahan.  Selain

itu pemimpin akan membuat bawahan mempunyai kepercayaan diri. Sunarsih, (2001)

B. Rangsangan intelektual (intellectual stimulation)

Berarti mengenalkan cara pemecahan masalah secara cerdik dan cermat, rasional dan hati-hati

sehingga anggota mampu berpikir tentang masalah dengan cara baru dan menghasilkan

pemecahan yang kreatif. Rangsangan intelektual berarti menghargai kecerdasan mengembangkan

rasionalitas dan pengambilan keputusan secara hati-hati.  Pemimpin yang mendorong bawahan

untuk lebih kreatif, menghilangkan keengganan bawahan untuk mengeluarkan ide-idenya dan

dalam menyelesaikan permasalahan yang ada menggunakan pendekatan-pendekatan baru yang

lebih menggunakan intelegasi dan alasan-alasan yang rasional dari pada hanya didasarkan pada

opini-opini atau perkiraan-perkiraan semata. Bass dalam Sunarsih, (2001).

C. Inspirasi (Inspiration)

Pemimpin yang inspirasional adalah seorang pemimpin yang bertindak dengan cara memotivasi

dan menginspirasi bawahan yang berarti mampu mengkomunikasikan harapan-harapan yang

tinggi dari bawahannya, menggunakan simbol-simbol untuk memfokuskan pada kerja keras,

mengekspresikan tujuan dengan cara sederhana.

Pemimpin mempunyai visi yang menarik untuk masa depan, menetapkan standar yang tinggi bagi

para bawahan, optimis dan antusiasme, memberikan dorongan dan arti terhadap apa yang perlu

dilakukan. Sehingga pemimpin semacam ini akan memperbesar optimisme dan antusiasme

bawahan serta motivasi dan menginspirasi bawahannya untuk melebihi harapan motivasional awal

melalui dukungan emosional dan daya tarik emosional.

D. Perhatian Individual (Individualized consideration)

Perhatian secara individual merupakan cara yang digunakan oleh pemimpin untuk memperoleh

kekuasaan dengan bertindak sebagai pembimbing, memberi perhatian secara individual dan

dukungan secara pribadi kepada bawahannya.


Pemimpin mampu memperlakukan orang lain sebagai individu, mempertimbangkan kebutuhan

individual dan aspirasi-aspirasi, mendengarkan, mendidik dan melatih bawahan. Sehingga

pemimpin seperti ini memberikan perhatian personal terhadap bawahannya yang melihat bawahan

sebagai individual dan menawarkan perhatian khusus untuk mengembangkan bawahan demi

kinerja yang bagus.  Pimpinan memberikan perhatian pribadi kepada bawahannya, seperti

memperlakukan mereka sebagai pribadi yang utuh dan menghargai sikap peduli mereka terhadap

organisasi.

PENTINGNYA FLEKSIBILITAS KEPEMIMPINAN

Dalam organisasi, seperti juga dalam kehidupan lainnya, dibutuhkan fleksibilitas. Ini membantu

untuk menanggapi terhadap orang-orang dan situasi-situasi secara tepat dan membuat

penyesuaian bila terjadi penyimpangan dari antisipasi. Sebagai manajer/pimpinan/pemimpin,

semua orang harus berhati-hati terhadap berbagai macam gaya kepemimpinan yang tersedia.

Pengetahuan tentang model kepemimpinan masa kini telah dijelaskan di atas, yang akan

membantu kita mengidentifikasikan perilaku kepemimpinan yang tepat. Tetapi semua orang harus

menggunakan pengamatannya sendiri untuk mempelajari kepemimpinan dalam situasi-situasi

nyata. Penting juga dilakukan percobaan dengan berbagai pendekatan yang berbeda dan

mempelajarinya melalui analisis terhadap hasil-hasil. Sebagai manajer/pemimpin/pimpina,

perilaku kepemimpinannya akan dipelajari pada jabatannya, saat berinteraksi dengan bawahan,

dan tugas-tugas mereka.

MEMIMPIN DENGAN HATI

Pemimpin yang berhasil adalah yang tidak hanya didukung oleh keterampilan teknis dan

kepintaran belaka. Yang tak kalah menentukan adalah emotional intelligence (EQ) yang tinggi. EQ

adalah kesanggupan memahami diri sendiri. Seseorang yang memiliki self-awareness yang baik

akan mampu mengendalikan dirinya sendiri (self-control) secara efektif. Self-control di sini

bukanlah kemampuan seseorang menekan sedalam-dalamnya perasaan di lubuk hati, melainkan

kesanggupan mengelola segenap emosinya secara aktif.

Pada seorang pemimpin, EQ menjadi dominan lantaran ia bekerja berada dalam satu kelompok,

yang dituntut menunjukkan kerjasama team yang solid serta hasil kerja yang efektif. Hanya

pemimpin yang terampil dan mampu mengendalikan emosinya secara positif atau bisa bekerja

dengan hati, yang dapat diandalkan keberhasilannya. Lima komponen EQ yang dapat menjadi

ukuran sukses seorang pemimpin adalah: Mawas diri, yang dimaksudkan disini adalah kesediaan

mengakui kekuatan, kelemahan, emosi, kebutuhan dan dorongan diri sendiri. Umumnya ia tahu

apa yang diinginkan, dan mengapa menginginkannya.


Sehingga, pemimpin ini akan lebih tegas dan fokus pada tujuan dan sasaran. Jika ada sesuatu

yang dianggap kurang mendukung sasaran, dengan cepat ia memahami persoalan dan mengubah

“kemarahan” menjadi hal yang konstruktif. Pengendalian diri ini merupakan komponen EQ yang

membebaskan seseorang dari cengkeraman emosi. Bahkan, pemimpin yang dapat mengendalikan

diri mampu mengubah konflik emosional menjadi solusi atau aktivitas yang bermanfaat.

Pertimbangan yang patut dipercayai, pemimpin yang dapat mengendalikan diri cenderung rasional

dan mampu menciptakan lingkungan saling percaya dan adil. Dengan demikian, ia dapat meredam

pertentangan antar anggota di dalam suatu organisasi. Di bawah pemimpin yang bisa

mengendalikan diri, anggota team-pun tidak akan gampang mengumbar emosi. Motivasi

Komponen ini harus dimiliki pemimpin yang ber-EQ tinggi. Motivasi memacu orang mencapai

tuntutan dirinya dan tuntutan orang lain. Motivasi bisa datang dari dalam diri maupun dari luar.

Jika seorang pemimpin termotivasi dengan baik, ia akan terlihat senang dengan pekerjaannya,

senang mencari tantangan kreatif, serta tentu saja senang meningkatkan kinerja dan mengontrol

tingkat keberhasilannya. Akibat lain, pemimpin seperti ini tidak mudah frustasi dan depresi akibat

kegagalan yang dialami. Empati Dari semua komponen EQ, empati menempati tempat yang paling

mudah dikenali. Empati di sini bukan berarti menyetujui emosi team atau memuaskan mereka

begitu saja, melainkan memperhatikan aspirasi karyawan bersama faktor-faktor lain dalam

membuat keputusan.

Ada tiga alasan mengapa empati sangat penting dalam situasi sekarang, yaitu:

1. peningkatan kebutuhan terhadap kelompok kerja.

2. kecepatan arus globalisasi.

3. kebutuhan menahan anggota team yang berbakat.

Ini merupakan pencetusan dari dimensi-dimensi EQ lainnya (mawas diri, pengendalian diri,

motivasi internal dan empati). Pemimpin cenderung efektif mengelola hubungan kerja bila mereka

bisa memahami orang lain, mampu mengendalikan emosi, dan berempati terhadap orang lain.

Mereka yang berketerampilan sosial cenderung memiliki pergaulan luas, pandai menemukan cara

berhubungan dengan berbagai tipe orang, dan yakin bahwa tidak ada hal penting yang dilakukan

sendirian. Orang-orang yang berketerampilan sosial bisa ahli mengelola team dengan baik, karena

empati mereka berfungsi. Mereka juga ahli mempersuasi orang lain dan ini merupakan wujud

kombinasi dari mawas diri, pengendalian diri dan empati. Dengan keterampilan itu, diyakini dapat

mengembangkan kecakapan yang dipahami sebatas keterampilan teknis dan kemampuan

pengetahuan seseorang menjadi kompetensi yang mempunyai cakupan lebih komprehensif, terdiri

dari: motif, sifat, citra-diri, peran sosial, pengetahuan dan keterampilan. Kompetensi inilah yang
diharapkan menjadi karakter mendasar seorang pemimpin. Sebab, ia bisa mendorong lahirnya

kinerja yang efektif dan superior dalam pekerjaan. 

KEPEMIMPINAN YANG MELAYANI

Dalam sebuah buku yang menarik tentang kepemimpinan yang melayani (servant leadership)

ditulis oleh Dr. Kenneth Blanchard dan kawan kawan, berjudul Leadership by The Book (LTB).

Buku LTB mengisahkan tentang tiga orang karakter yang mewakili tiga aspek kepemimpinan yang

melayani, yaitu seorang pendeta, seorang professor, dan seorang profesional yang sangat berhasil

di dunia bisnis. Tiga aspek kepemimpinan tersebut adalah hati yang melayani (servant heart),

kepala atau pikiran yang melayani (servant head), dan tangan yang melayani (servant hands).

Hati Yang Melayani (Karakter Kepemimpinan)

Kepemimpinan yang melayani dimulai dari dalam diri kita. Kepemimpinan menuntut suatu

transformasi dari dalam hati dan perubahan karakter. Kepemimpinan sejati dimulai dari dalam dan

kemudian bergerak ke luar untuk melayani mereka yang dipimpinnya. Disinilah pentingnya

karakter dan integritas seorang pemimpin untuk menjadi pemimpin sejati dan diterima oleh rakyat

yang dipimpinnya. Paling tidak menurut Ken Blanchard dan kawan-kawan, ada sejumlah ciri-ciri

dan nilai yang muncul dari seorang pemimpin yang memiliki hati yang melayani, yaitu:

Tujuan paling utama seorang pemimpin adalah melayani kepentingan mereka yang dipimpinnya.

Orientasinya adalah bukan untuk kepentingan diri pribadi maupun golongannya tetapi justru

kepentingan publik yang dipimpinnya. Entah hal ini sebuah impian yang muluk atau memang kita

tidak memiliki pemimpin seperti ini, yang jelas pemimpin yang mengutamakan kepentingan publik

amat jarang kita temui di republik ini.

Seorang pemimpin sejati justru memiliki kerinduan untuk membangun dan mengembangkan

mereka yang dipimpinnya sehingga tumbuh banyak pemimpin dalam kelompoknya. Hal ini sejalan

dengan buku yang ditulis oleh John Maxwell berjudul Developing the Leaders Around You.

Keberhasilan seorang pemimpin sangat tergantung dari kemampuannya untuk membangun orang-

orang di sekitarnya, karena keberhasilan sebuah organisasi sangat tergantung pada potensi

sumber daya manusia dalam organisasi tersebut. Jika sebuah organisasi atau masyarakat

mempunyai banyak anggota dengan kualitas pemimpin, organisasi atau bangsa tersebut akan

berkembang dan menjadi kuat.

Pemimpin yang melayani memiliki kasih dan perhatian kepada mereka yang dipimpinnya. Kasih itu

mewujud dalam bentuk kepedulian akan kebutuhan, kepentingan, impian dan harapan dari

mereka yang dipimpinnya.


Ciri keempat seorang pemimpin yang memiliki hati yang melayani adalah akuntabilitas

(accountable). Istilah akuntabilitas adalah berarti penuh tanggung jawab dan dapat diandalkan.

Artinya seluruh perkataan, pikiran dan tindakannya dapat dipertanggungjawabkan kepada publik

atau kepada setiap anggota organisasinya.

Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang mau mendengar. Mau mendengar setiap

kebutuhan, impian dan harapan dari mereka yang dipimpinnya. Pemimpin yang melayani adalah

pemimpin yang dapat mengendalikan ego dan kepentingan pribadinya melebihi kepentingan publik

atau mereka yang dipimpinnya. Mengendalikan ego berarti dapat mengendalikan diri ketika

tekanan maupun tantangan yang dihadapi menjadi begitu berat. Seorang pemimpin sejati selalu

dalam keadaan tenang, penuh pengendalian diri dan tidak mudah emosi.

Kepala Yang Melayani (Metoda Kepemimpinan)

Seorang pemimpin sejati tidak cukup hanya memiliki hati atau karakter semata, tetapi juga harus

memiliki serangkaian metoda kepemimpinan agar dapat menjadi pemimpin yang efektif. Banyak

sekali pemimpin memiliki kualitas dari aspek yang pertama, yaitu karakter dan integritas seorang

pemimpin, tetapi ketika menjadi pemimpin formal, justru tidak efektif sama sekali karena tidak

memiliki metoda kepemimpinan yang baik.

Tidak banyak pemimpin yang memiliki kemampuan metoda kepemimpinan ini. Karena hal ini tidak

pernah diajarkan di sekolah-sekolah formal. Oleh karena itu seringkali kami dalam berbagai

kesempatan mendorong institusi formal agar memperhatikan ketrampilan seperti ini yang kami

sebut dengan softskill atau personal skill. Dalam salah satu artikel di economist.com ada sebuah

ulasan berjudul Can Leadership Be Taught. Jelas dalam artikel tersebut dibahas bahwa

kepemimpinan (dalam hal ini metoda kepemimpinan) dapat diajarkan sehingga melengkapi

mereka yang memiliki karakter kepemimpinan. Ada tiga hal penting dalam metoda kepemimpinan,

yaitu:

Kepemimpinan yang efektif dimulai dengan visi yang jelas.Visi ini merupakan sebuah daya atau

kekuatan untuk melakukan perubahan, yang mendorong terjadinya proses ledakan kreatifitas

yang dahsyat melalui integrasi maupun sinergi berbagai keahlian dari orang-orang yang ada dalam

organisasi tersebut. Bahkan dikatakan bahwa nothing motivates change more powerfully than a

clear vision. Visi yang jelas dapat secara dahsyat mendorong terjadinya perubahan dalam

organisasi. Seorang pemimpin adalah inspirator perubahan dan visioner, yaitu memiliki visi yang

jelas kemana organisasinya akan menuju. Kepemimpinan secara sederhana adalah proses untuk

membawa orang-orang atau organisasi yang dipimpinnya menuju suatu tujuan (goal) yang jelas.

Tanpa visi, kepemimpinan tidak ada artinya sama sekali. Visi inilah yang mendorong sebuah
organisasi untuk senantiasa tumbuh dan belajar, serta berkembang dalam mempertahankan

survivalnya sehingga bisa bertahan sampai beberapa generasi.

Ada dua aspek mengenai visi, yaitu visionary role dan implementation role. Artinya seorang

pemimpin tidak hanya dapat membangun atau menciptakan visi bagi organisasinya tetapi memiliki

kemampuan untuk mengimplementasikan visi tersebut ke dalam suatu rangkaian tindakan atau

kegiatan yang diperlukan untuk mencapai visi itu.

Seorang pemimpin yang efektif adalah seorang yang sangat responsive. Artinya dia selalu tanggap

terhadap setiap persoalan, kebutuhan, harapan dan impian dari mereka yang dipimpinnya. Selain

itu selalu aktif dan proaktif dalam mencari solusi dari setiap permasalahan ataupun tantangan

yang dihadapi organisasinya.

Seorang pemimpin yang efektif adalah seorang pelatih atau pendamping bagi orang-orang yang

dipimpinnya (performance coach). Artinya dia memiliki kemampuan untuk menginspirasi,

mendorong dan memampukan anak buahnya dalam menyusun perencanaan (termasuk rencana

kegiatan, target atau sasaran, rencana kebutuhan sumber daya, dan sebagainya), melakukan

kegiatan sehari-hari (monitoring dan pengendalian), dan mengevaluasi kinerja dari anak buahnya.

Tangan Yang Melayani (Perilaku Kepemimpinan)

Pemimpin sejati bukan sekedar memperlihatkan karakter dan integritas, serta memiliki

kemampuan dalam metoda kepemimpinan, tetapi dia harus menunjukkan perilaku maupun

kebiasaan seorang pemimpin. Dalam buku Ken Blanchard tersebut disebutkan ada empat perilaku

seorang pemimpin, yaitu:

Pemimpin tidak hanya sekedar memuaskan mereka yang dipimpinnya, tetapi sungguh-sungguh

memiliki kerinduan senantiasa untuk memuaskan Tuhan. Artinya dia hidup dalam perilaku yang

sejalan dengan Firman Tuhan. Dia memiliki misi untuk senantiasa memuliakan Tuhan dalam setiap

apa yang dipikirkan, dikatakan dan diperbuatnya.

Pemimpin sejati fokus pada hal-hal spiritual dibandingkan dengan sekedar kesuksesan duniawi.

Baginya kekayaan dan kemakmuran adalah untuk dapat memberi dan beramal lebih banyak.

Apapun yang dilakukan bukan untuk mendapat penghargaan, tetapi untuk melayani sesamanya.

Dan dia lebih mengutamakan hubungan atau relasi yang penuh kasih dan penghargaan,

dibandingkan dengan status dan kekuasaan semata.

Pemimpin sejati senantiasa mau belajar dan bertumbuh dalam berbagai aspek, baik pengetahuan,

kesehatan, keuangan, relasi, dan sebagainya. Setiap hari senantiasi menselaraskan (recalibrating)

dirinya terhadap komitmen untuk melayani Tuhan dan sesama.

Melalui solitude (keheningan), prayer (doa) danscripture (membaca firman Tuhan).


Demikian kepemimpinan yang melayani menurut Ken Blanchard yang menurut kami sangat

relevan dengan situasi krisis kepemimpinan yang dialami oleh bangsa Indonesia. Bahkan menurut

Danah Zohar, penulis buku Spiritual Intelligence: SQ the Ultimate Intelligence, salah satu tolok

ukur kecerdasan spiritual adalah kepemimpinan yang melayani (servant leadership).

Bahkan dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Gay Hendrick dan Kate Luderman,

menunjukkan bahwa pemimpin-pemimpin yang berhasil membawa perusahaannya ke puncak

kesuksesan biasanya adalah pemimpin yang memiliki SQ yang tinggi. Mereka biasanya adalah

orang-orang yang memiliki integritas, terbuka, mampu menerima kritik, rendah hati, mampu

memahami orang lain dengan baik, terinspirasi oleh visi, mengenal dirinya sendiri dengan baik,

memiliki spiritualitas yang tinggi, dan selalu mengupayakan yang terbaik bagi diri mereka sendiri

maupun bagi orang lain.