Anda di halaman 1dari 6

LEGAL OPINION :

LICENSE FOR EXPLORATED AND EXPLOITED


OIL AND GAS IN INDONESIA
By: Padlah Riyadi., SE., MM., MH., Ak., CA., Asean CPA

A. ISU HUKUM

1. Dapatkah suatu pihak asing atau perusahaan asing masuk ke Indonesia dengan
membuat kantor perwakilan yang bergerak dalam bidang Oil and Gas dan bagaimana
masalah pajaknya?
2. Dapatkah pihak tersebut mendapatkan kontrak kerja sama di Indonesia dalam hal
eksplorasi serta eksploitasi Oil and Gas di Indonesia?
3. Bagaimana prosedur perizinan di Indonesia khususnya dalam hal pendirian Bentuk
Usaha Tetap dan prosedur perizinan Kontrak Kerja Sama?

B. RULES

Adapun aturan hukum terkait dengan isu hukum yang dimaksudkan diatas, antara lain:
1. UU No. 22 Tahun 2001 Tentang Minyak dan Gas Bumi
2. PP No. 35 Tahun 2004 Tentang Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi Jo PP No.
34 Tahun 2005 Tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 2004
Tentang Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi Jo PP No. 55 Tahun 2009
Tentang Perubahan Kedua Atas PP No. 35 Tahun 2004 Tentang Kegiatan Usaha Hulu
Minyak dan Gas Bumi
3. PP No. 42 Tahun 2002 tentang Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas
Bumi
4. Peraturan Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral No. 35 Tahun 2008 Tentang Tata
Cara Penetapan dan Penawaran Wilayah Kerja Minyak dan Gas Bumi
5. Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 2761K/13/MEM/2008 Tahun
2008 tentang penetapan Wilayah kerja Minyak dan Gas Bumi, Bentuk Kontrak Kerja
Sama dan Ketentuan Pokok kontrak Kerja Sama (Term and Condition) serta
mekanisme, Penawaran Wilayah Kerja Dalam Penawaran Wilayah kerja Minyak Dan
Gas Bumi Periode II Tahun 2008

C. ANALISA

Sejak ditetapkannya Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas
Bumi, ditegaskan bahwa Minyak dan Gas Bumi sebagai sumber daya alam strategis tak
terbarukan yang terkandung di dalam Wilayah Hukum Pertambangan Indonesia merupakan
kekayaan nasional yang dikuasai negara. Penguasaan oleh negara tersebut diselenggarakan
oleh Pemerintah sebagai pemegang Kuasa Pertambangan. Sebagai sumber daya alam
strategis, Minyak dan Gas Bumi merupakan kekayaan nasional yang menduduki peranan
penting sebagai sumber pembiayaan, sumber energi dan bahan bakar bagi pembangunan
ekonomi negara.
Mengingat bahwa Minyak dan Gas Bumi sebagai sumber daya alam yang takterbarukan,
maka pengusahaan Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi harus dilakukan seoptimal
mungkin dan kebijakan pengaturannya berpedoman pada jiwa Pasal 33 ayat (2) dan ayat
(3) Undang-Undang Dasar 1945. Dalam pengusahaan Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan
Gas Bumi bertujuan antara lain untuk menjamin efektivitas pelaksanaan dan pengendalian
kegiatan usaha Eksplorasi dan Eksploitasi secara berdaya guna, berhasil guna, serta berdaya
saing tinggi dan berkelanjutan atas Minyak dan Gas Bumi melalui mekanisme yang terbuka
dan transparan. Bertitik tolak dari landasan perlunya dasar hukum dalam pengusahaan
Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi, maka diperlukan pengaturan dalam suatu
Undang-Undang, Peraturan Pemerintah serta peraturan pelaksana lainnya. Aturan hukum
tersebut ini mengatur mengenai Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi, yang antara
lain meliputi pengaturan mengenai penyelenggaraan Kegiatan Usaha Hulu termasuk
pembinaan dan pengawasannya, mekanisme pemberian Wilayah Kerja, Survey Umum,
Data, Kontrak Kerja Sama, pemanfaatan Minyak dan Gas Bumi untuk kebutuhan dalam
negeri, penerimaan negara, penyediaan dan pemanfaatan lahan, pengembangan lingkungan
dan masyarakat setempat, pemanfaatan barang, jasa, teknologi, dan kemampuan rekayasa
dan rancang bangun dalam negeri, serta penggunaan tenaga kerja dalam Kegiatan Usaha
Hulu Minyak dan Gas Bumi.

Melihat dari hal tersebut, maka untuk menjawab isu hukum yang dimaksudkan adalah:
1. Suatu pihak asing atau pun perusahaan asing dapat membuat kantor perwakilan di
Indonesia dalam hal pertambangan minyak dan gas dengan BENTUK USAHA
TETAP. Merujuk pada Pasal 1 butir 18 UU No. 22 Tahun 2001, suatu BENTUK
USAHA TETAP adalah badan usaha yang didirikan dan berbadan hukum di luar
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang melakukan kegiatan di wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia dan wajib mematuhi peraturan perundang-
undangan yang berlaku di Republik Indonesia.

Cara pendirian Bentuk Usaha Tetap hanya perlu dengan akta penegasan dari Notaris.
Maksud penegasannya adalah dengan mencantumkan klausul “BADAN USAHA
YANG BERBENTUK USAHA TETAP” di dalam akta tersebut. Dengan adanya
klausul tersebut maka, secara valid Bentuk Usaha Tetap telah tunduk pada segala
peraturan hukum di Indonesia sekalipun Bentuk Usaha Tetap tersebut merupakan
Badan Hukum Asing.
Syarat-syarat BUT mencakup:
1) adanya tempat usaha
2) sifat usaha permanent (Certain degree of permanent).
3) adanya sifat ketergantungan (dependence) dengan Kantor Pusat.

Melihat isu hukum yang terkait maka Bentuk Usaha Tetap ini termasuk dalam kategori
BUT fasilitas (Asset), karena berupa tempat kedudukan manajemen, cabang
perusahaan, kantor perwakilan, gedung kantor, pabrik, bengkel, pertambangan dan
penggalian sumber daya alam, pengeboran migas, perikanan, perkebunan dan
kehutanan Pada intinya Bentuk Usaha Tetap dipergunakan untuk menjalankan kegiatan
usaha secara teratur di Indonesia oleh badan atau perusahaan yang tidak didirikan atau
bertempat kedudukan di Indonesia.

Bentuk Usaha Tetap diartikan sebagai bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang
pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih
dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan, atau badan yang tidak didirikan atau
berkedudukan di Indonesia, untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di
Indonesia yang dapat berupa, yaitu tempat kedudukan manajemen, cabang perusahaan,
kantor perwakilan, gedung kantor, pabrik, bengkel pertambangan dan penggalian
sumber alam, wilayah kerja pengeboran yang digunakan untuk eksplorasi
pertambangan, Orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya tidak
bebas.

Penjelasan pasal 3 ayat (5) undang-undang No.17 tahun 2000 tentang PPh, menyatakan
suatu BUT mengandung pengertian:

a) Suatu tempat usaha (place of business) yaitu fasilitas yang dapat berupa tanah dan
gedung termasuk juga mesin-mesin dan peralatan.
b) Tempat usaha tersebut bersifat permanent dan digunakan untuk menjalankan usaha
atau melakukan kegiatan dari orang pribadi yang tidak bertempat tinggal atau badan
yang tidak didirikan dan idak bertempat kedudukan di Indonesia.
c) Pengertian BUT mencakup pula orang pribadi atau badan selaku agen yang
kedudukannya tidak bebas yang berindak untuk dan atas nama orang pribadi atau
badan yang tidak bertempat kedudukan di Indonesia.
d) Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal atau badan yang tidak didirikan dan
tidak bertempat kedudukan di Indonesia tidak dapat dianggap mempuanyai BUT
apabila orang pribadi/badan dalam menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di
Indonesia menggunakan agen, broker atau perantara yang mempunyai kedudukan
bebas, asalkan agen atau perantara tersebut dalam kenyataannya bertindak
sepenuhnya dalam rangka menjalankan perusahaannya sendiri.
e) Perusahaan asing yang didirikan dan bertempat kedudukan di luar Indonesia
dianggap mempunyai BUT di Indonesia apabila perusahaan asuransi tersebut
menerima pembayaran premi asurransi di Indonesiaatau menanggung risiko di
Indonesia melalui pegawai.
f) Menanggung resiko di Indonesia tidak berarti bahwa peristiwa yang mengakibatkan
risiko tersebut terjadi di Indonesia, yang perlu diperhatikan adalah bahwa pihak
tertanggung bertempat tinggal, berada atau bertempat kedudukan di Indonesia.

2. Menurut ketentuan aturan perundang-undangan serta aturan pelaksananya khususnya


mengenai Oil and gas, maka perusahaan asing dapat mendapatkan kontrak kerja sama
dengan Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi. Badan Pelaksana
Kegiatan Usaha Minyak dan Gas Bumi di Indonesia diserahkan sepenuhnya kepada BP
MIGAS. Namun, Bentuk Usaha Tetap hanya dapat melaksanakan kegiatan usaha hulu.

Kegiatan usaha hulu tersebut dikendalikan melalui kontrak kerja sama. Dan paling
sedikit memuat persyaratan mengenai:
1. kepemilikan sumber daya alam tetap di tangan Pemerintah sampai pada titik
penyerahan.
2. pengendalian manajemen operasi berada pada Badan Pelaksana (BP MIGAS).
3. Modal dan risiko seluruhnya ditanggung Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap.

Kegiatan Usaha dilaksanakan oleh Bentuk Usaha Tetap berdasarkan Kontrak Kerja Sama
dengan BP MIGAS. Kontrak Kerja Sama wajib memuat paling sedikit ketentuan-
ketentuan pokok yaitu:
a) penerimaan Negara;
b) Wilayah Kerja dan pengembaliannya;
c) kewajiban pengeluaran dana;
d) perpindahan kepemilikan hasil produksi atas Minyak dan Gas Bumi;
e) jangka waktu dan kondisi perpanjangan kontrak;
f) penyelesaian perselisihan;
g) kewajiban pemasokan Minyak Bumi dan/atau Gas Bumi untuk kebutuhan dalam
negeri;
h) berakhirnya kontrak;
i) kewajiban pasca operasi pertambangan;
j) keselamatan dan kesehatan kerja;
k) pengelolaan lingkungan hidup;
l) pengalihan hak dan kewajiban;
m) pelaporan yang diperlukan;
n) rencana pengembangan lapangan;
o) pengutamaan pemanfaatan barang dan jasa dalam negeri;
p) pengembangan masyarakat sekitarnya dan jaminan hak-hak masyarakat adapt;
q) pengutamaan penggunaan tenaga kerja Indonesia.

Kontrak Kerja Sama dibuat dalam bahasa Indonesia atau pun dalam bahasa Inggris. Dan
jangka waktu kontrak kerja sama di Indonesia adalah paling lama 30 tahun, yang terdiri
atas jangka waktu eksplorasi dan eksploitasi. Apabila dalam jangka waktu Eksplorasi
Kontraktor tidak menemukan cadangan Minyak dan/atau Gas Bumi yang dapat
diproduksikan secara komersial maka Kontraktor wajib mengembalikan seluruh Wilayah
Kerjanya.

Di dalam Pasal 38 PP No. 35 Tahun 2004 Tentang Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi
menyatakan bahwa kontrak kerja sama tunduk dan berlaku hukum Indonesia. Bentuk
Usaha Tetap wajib ikut memenuhi kebutuhan Minyak Bumi dan/atau Gas Bumi dalam
negeri. Bentuk Kewajibannya adalah dengan menyerahkan sebesar 25% (dua puluh lima
perseratus) dari hasil produksi Minyak Bumi dan/atau Gas Bumi bagian Bentuk Usaha
Tetap (kontraktor).

3. Prosedur perizinan dalam hal pendirian Bentuk Usaha Tetap dan Kontrak Kerja Sama,
yaitu:
a) Prosedur Perizinan Bentuk Usaha Tetap
Bentuk Usaha Tetap adalah badan usaha yang didirikan dan berbadan hukum di luar
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang melakukan kegiatan di wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia dan wajib mematuhi peraturan perundang-
undangan yang berlaku di Republik Indonesia. Prosedur pendiriannya adalah cukup
hanya perlu dengan akta penegasan dari Notaris. Maksud penegasan tersebut adalah
dengan mencantumkan klausul “BADAN USAHA YANG BERBENTUK USAHA
TETAP” di dalam akta tersebut. Dengan adanya klausul tersebut maka, secara valid
Bentuk Usaha Tetap telah tunduk pada segala peraturan hukum di Indonesia sekalipun
Bentuk Usaha Tetap tersebut merupakan Badan Hukum Asing.

Dalam pendiriannya Bentuk Usaha tetap memerlukan beberapa syarat terkait, antara
lain:
1) adanya tempat usaha
2) sifat usaha permanent (Certain degree of permanent).
3) adanya sifat ketergantungan (dependence) dengan Kantor Pusat.
Melihat isu hukum yang terkait maka Bentuk Usaha Tetap ini termasuk dalam kategori
BUT fasilitas (Asset), karena berupa tempat kedudukan manajemen, cabang
perusahaan, kantor perwakilan, gedung kantor, pabrik, bengkel, pertambangan dan
penggalian sumber daya alam, pengeboran migas, perikanan, perkebunan dan
kehutanan Pada intinya Bentuk Usaha Tetap dipergunakan untuk menjalankan kegiatan
usaha secara teratur di Indonesia oleh badan atau perusahaan yang tidak didirikan atau
bertempat kedudukan di Indonesia.

b) Prosedur Perizinan Kontrak Kerja Sama


Kontrak Kerja Sama merupakan Kontrak Bagi Hasil atau bentuk kontrak kerja sama
lain dalam kegiatan Eksplorasi dan Eksploitasi yang lebih menguntungkan Negara
dan hasilnya dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Adapun prosedur
perizinannya adalah sebagai berikut:
1) Diperlukannya akta penegasan yang dikeluarkan oleh notaris, memuat klausul
“BENTUK USAHA TETAP” di dalam akta tersebut.
2) Setelah adanya akta penegasan yang dikeluarkan oleh notaris, maka diajukan izin
usaha untuk melakukan pertambangan dalam hal ini eksplorasi dan eksploitasi
kepada Menteri Sumber Daya dan Mineral. Menteri Sumber Daya dan Mineral
harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan pemerintah Daerah setempat (Gubernur)
sebelum melakukan penetapan atas Bentuk Usaha Tetap. Penetapan tersebut
mencakup penawaran wilayah kerja dan dilakukan oleh Menteri.
3) Setelah adanya penetapan dari Menteri, maka Kontraktor (BUT) mengajukan
aplikasi work program ke BP MIGAS selaku Badan Pelaksana. Setelah aplikasi
Work Program di approve, oleh BP MIGAS selanjutnya kontraktor mengajukan
Plan of Development kepada BP MIGAS.
4) Sebelum menyetujui atau pun menyatakan bahwa work program dan plan of
development BP MIGAS berhak mengaudit ulang segala macam aspek terkait atau
pun aplikasi yang diajukan oleh kontraktor dan melakukan survey umum terhadap
wilayah kerja.
5) Setelah dilakukan audit terhadap aplikasi yang telah diajukan, dan apabila BP
MIGAS menyetujuinya maka Kontrak Kerja Sama pun dikeluarkan oleh BP
MIGAS. Kontrak Kerja Sama tersebut paling tidak berisikan:
a) penerimaan Negara;
b) Wilayah Kerja dan pengembaliannya;
c) kewajiban pengeluaran dana;
d) perpindahan kepemilikan hasil produksi atas Minyak dan Gas Bumi;
e) jangka waktu dan kondisi perpanjangan kontrak;
f) penyelesaian perselisihan;
g) kewajiban pemasokan Minyak Bumi dan/atau Gas Bumi untuk kebutuhan
dalam negeri;
h) berakhirnya kontrak;
i) kewajiban pasca operasi pertambangan;
j) keselamatan dan kesehatan kerja;
k) pengelolaan lingkungan hidup;
l) pengalihan hak dan kewajiban;
m) pelaporan yang diperlukan;
n) rencana pengembangan lapangan;
o) pengutamaan pemanfaatan barang dan jasa dalam negeri;
p) pengembangan masyarakat sekitarnya dan jaminan hak-hak masyarakat adat;
q) pengutamaan penggunaan tenaga kerja Indonesia.
6) Kontrak Kerja Sama yang sudah ditandatangani harus diberitahukan secara tertulis
kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
7) Dan tahapan terakhir adalah pelaksanaan eksplorasi serta eksploitasi dari wilayah
kerja yang sudah ditetapkan dalam kontrak kerja sama.

D. CONCLUSION

Adapun kesimpulan yang diperoleh dari analisa mengenai isu hukum tersebut antara lain:
1. Pihak asing atau pun perusahaan asing dapat membuat kantor perwakilan di Indonesia
dalam hal pertambangan minyak dan gas dengan BENTUK USAHA TETAP.
2. Ketentuan aturan perundang-undangan serta aturan pelaksananya khususnya mengenai
Oil and gas, menyatakan bahwa perusahaan asing bisa mendapatkan kontrak kerja sama
dengan Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi. Badan
Pelaksana Kegiatan Usaha Minyak dan Gas Bumi di Indonesia diserahkan sepenuhnya
kepada BP MIGAS. Namun, Bentuk Usaha Tetap hanya dapat melaksanakan kegiatan
usaha hulu saja.
a) Prosedur pendiriannya adalah cukup hanya perlu dengan akta penegasan dari
Notaris. Maksud penegasan tersebut adalah dengan mencantumkan klausul
“BADAN USAHA YANG BERBENTUK USAHA TETAP” di dalam akta
tersebut. Dengan adanya klausul tersebut maka, secara valid Bentuk Usaha Tetap
telah tunduk pada segala peraturan hukum di Indonesia sekalipun Bentuk Usaha
Tetap tersebut merupakan Badan Hukum Asing.
b) Akta penegasan yang dikeluarkan oleh notaris, memuat klausul “BENTUK
USAHA TETAP”, penetapan dari Menteri Sumber Daya Alam untuk melakukan
kegiatan eksplorasi dan eksploitasi, BP MIGAS menyetujui berbagai aplikasi
sebagai pemenuhan agar Kontrak Kerja Sama yang telah diajukan oleh kontraktor,
kontrak kerja sama yang telah ditanda tangani harus diberitahukan kepada Dewan
Perwakilan Rakyat, dan tahapan terakhir setelah adanya pemberitahuan kepada
DPR maka kontraktor (Bentuk Usaha Tetap) dapat melakukan eksplorasi serta
eksploitasi.

Anda mungkin juga menyukai