Anda di halaman 1dari 15

 Aserani, S.

Pd Bahan Diklat Produktif Bagian Pertama Untuk Siswa tingkat X


Pemasaran Semester ganjil PEMERINTAH KABUPATEN TABALONG
DINAS PENDIDIKAN  SMK NEGERI 1 TANJUNG  2012 
 Aserani, S.Pd Bahan Diklat Produktif iii Judul : Bahan Diklat Produktif
PELAYANAN PRIMA PENJUALAN Bagian Pertama Penyusun : Aserani, S.Pd HP.
085251967908 e-mail : aseranikurdi@ymail.com webblog :
http://aserani.wordpress.com Desain, Pengetikan dam Setting : Rolisa Komputer
Tanjung Mess Guru E SMKN 1 Tanjung Jln Ir.P.H.M.Noor Pembataan Tanjung
HP.085651067745 e-mail : rolisakomputer@ymail.com webblog :
http://rolisakomputer.wordpress.com Cetakan Ke : I, Juli 2012 HAK CIPTA
DILINDUNGI UNDANG-UNDANG iv Bagian Pertama Untuk Siswa tingkat X
Pemasaran Semester ganjil PEMERINTAH KABUPATEN TABALONG
DINAS PENDIDIKAN  SMK NEGERI 1 TANJUNG  2012 
 KATA PENGANTAR lhamdulillah, atas izin dan karunia Allah SWT. da- patlah
penyusun menyajikan tulisan ini dalam rang- ka pemenuhan bahan diklat produktif
pada SMK Negeri 1 Tanjung khususnya Bidang Kompetensi Kehlian Pema- saran.
Buku bahan diklat Pelayanan Prima Penjualan ini penyu- sun sajikan dalam dua
buku/dua bagian yaitu, bagian pertama berisi tentang : Hakikat dan Pengertian
Pelayanan Prima Penjual- an ; Arti Pentingnya Pelayanan Prima Penjualan; dan
Konsep- konsep Pelayanan Prima Penjualan, yang disajikan pasa semester ganjil.
Bagian kedua berisi tentang, Konsep Dasar Tentang Pembeli/Pelanggan dan;
Berkomunikasi dengan Pembeli/Pelang- gan, yang disajikan pada semester genap.
Terimakasih kami sampaikan kepada semua pihak yang turut membantu dalam proses
penulisan dan penggandaan buku ini. Semoga buku ini dapat membantu bagi
kelancaran proses pembelajaran mata diklat produktif pemasaran bidang kompe- tensi
Pelayanan Prima Penjualan. v Akhrinya, tegur sapa, saran dan kritik yang orientasinya
membangun sangat kami harapkan untuk perbaikan di masa- masa yang akan datang.
Semoga kita dapat berkarya terus dan terus berkarya untuk menoreh kebaikan buat
generasi muda kita guna me- nyongsong masa depan yang cerah dan gemilang. Amin.
Tanjung, 29 Juli 2012 Penyusun, vi A
 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR … v DAFTAR ISI … vii 1. HAKIKAT DAN
PENGERTIAN PELAYANAN PRIMA PENJUALAN … 1 2. ARTI PENTINGNYA
PELAYANAN PRIMA PENJUALAN … 3 A. Tujuan Pelayanan Prima Penjualan …
1 B. Manfaat Pelayanan Prima Penjualan … 1 C. Unsur-unsur Pelayanan Prima
Penjualan … 6 D. Karakteristik Pelayanan Prima Penjualan … 11 E. Faktor
Penunjang Pelayanan Prima Penjualan … 13 3. KONSEP-KONSEP PELAYANAN
PRIMA PENJUALAN … 15 A. Konsep Attitude (Sikap dan Perilaku) … 15 1.
Berpenampilan Serasi … 16 2. Ekspresi Wajah Yang Menarik … 17 3. Sopan, Ramah
tamah, dan Tutur Kata yang Santun. 18 4. Berpikir dan Bersikap Positif … 19 B.
Konsep Attention (Perhatian) … 20 1. Mendengarkan dan Memahami Kebutuhan
Pembeli/ Pe- anggan … 20 2. Mengamati dan Memahami Perilaku
Pembeli/Pelanggan … 23 3. Mencurahkan Perhatian Sepenuh Hati Kepada Pembeli/
Pelanggan … 27 C. Konsep Action (Tindakan) … 29 1. Mencatat Kebutuhan dan
Pesanan Pembeli/Pelanggan … 29 2. Mewujudkan Kebutuhan Pembeli/Pelanggan …
32 3. Memberikan Penghargaan dan Ucapan Terimakasih 33 DAFTAR
KEPUSTAKAAN … 35 vii HAKIKAT DAN PENGERTIAN PELAYANAN
PRIMA PENJUALAN i era persaingan global, khususnya dalam dunia usa- ha
sekarang ini, pelayanan prima terhadap pelang- gan, menjadi kunci utama bagi
keberhasilan dan ke- berlangsungan sebuah usaha. Kalau dulu, pelayanan prima
terhadap pelanggan lebih di- tujukan kepada perusahaan yang bergerak di bidang jasa
saja, seperti bank, asuransi, jasa transportasi, perhotelan dsb. kini nampaknya sudah
menjadi pengetahuan yang wajib diketahui dan diterapkan bagi semua perusahaan
dengan berbagai bidang usaha, apakah itu usaha dibidang jasa, industri maupun
perda- gangan, semuanya mau tidak mau sudah harus memperhatikan faktor
pelayanan pelanggan ini. Terlebih-lebih didalam usaha penjualan (selling), dimana
para pelanggan (pembeli) merupakan sasaran utama pelayanan, maka tentu
memberikan pelayanan yang terbaik (prima) kepada pelanggan/pembeli adalah suatu
keharusan yang tidak bisa di- tawar-tawar lagi. Dengan kata lain, semboyan pembeli
adalah raja harus benar-benar diterapkan dan bukan sekedar basa-basi lagi.
Kemampuan didalam memberikan pelayanan yang baik 1 D
 terhadap pelanggan/pembeli sama pentingnya dengan menye- diakan berbagai barang
dagangan yang diperlukan pelanggan/ pembeli. Artinya, ketersediaan barang yang
dibutuhkan pelang- gan/pembeli harus diimbangi dengan kemampuan didalam mem-
berikan pelayanan. Sebab, apalah artinya barang lengkap di toko kita, tapi tidak becus
didalam memberikan pelayanan, maka bo- leh jadi para pelanggan/pembeli merasa
enggan masuk atau ber- kunjung ke toko kita. Atau sebaliknya, kita berusaha
memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya, namun barang yang dibutuhkan para
pelanggan/pembeli tidak tersedia, maka pelanggan/pembeli juga tidak bisa belanja di
toko kita. Oleh karena itu memberikan pelayanan yang baik dan ketersediaan barang
yang dijual ibarat dua sisi mata uang, yang keduanya sama-sama penting dan sei- ring
sejalan. Hal ini senada dengan pendapat William H. Davidow yang mengatakan
bahwa “bila suatu produk atau jasa tertentu diciptakan tanpa memperhatikan
perencanaan pelayanan bagi pembeli, maka tugas usaha untuk menghasilkan produk
atau jasa tersebut akan sia-sia”. Pelayanan adalah tindakan yang dilakukan oleh
seseorang kepada orang lain dengan maksud untuk memberikan bantuan. Pelayanan
prima penjualan atau dalam istilah bisnisnya best service of sale atau excellent service
of sale adalah suatu pelayanan yang terbaik, yang dilakukan oleh penjual untuk mem-
berikan bantuan dalam rangka memenuhi segala harapan dan kebutuhan
pelanggan/pembeli. Dengan kata lain, pelayanan pri- ma penjualan adalah segala
upaya pelayanan yang memenuhi standar kualitas, yaitu suatu pelayanan yang sesuai
dengan harapan dan kepuasan pelanggan/pembeli. 2 ARTI PENTINGNYA
PELAYANAN PRIMA PENJUALAN A. Tujuan Pelayanan Prima Penjualan
Menurut Schnaars (1991), pada dasarnya tujuan suatu bisnis adalah untuk
menciptakan kepuasan para pelanggan. Ke- puasan pelanggan akan tercipta atau dapat
dipenuhi jika pela- yanan prima benar-benar diterapkan. Dengan demikian, pada ha-
kekatnya tujuan pelayanan prima penjualan adalah untuk mem- berikan kepuasan
kepada para pelanggan/pembeli. B. Manfaat Pelayanan Prima Penjualan 1.
Menciptakan Komunikasi yang Positif dan Harmonis Melakukan pelayanan identik
dengan melakukan komunikasi. Dengan kata lain, didalam memberikan pelayanan
tidak akan lepas dari kegiatan komunikasi, karena memberikan pelayan- an itu sendiri
merupakan wujud dari upaya melakukan komu- nikasi yang baik. Semakin baik dan
berkualitasnya sebuah pe- layanan, maka semakin baik dan berkualitas pula suatu hu-
bungan atau komunikasi. Dengan demikian maka, melakukan pelayanan prima
penjualan dapat menciptakan komunikasi yang positif dan harmonis antara penjual
dengan pembeli/ 3
 pelanggan. Dengan terjalinnya hubungan yang positif dan har- monis, akan
menciptakan suasana yang nyaman dan akrab bagi para pembeli/pelanggan yang
berdampak pada semakin langgengnya hubungan dengan pelanggan dan
bertambahnya jumlah pelanggan. 2. Mendorong bangkitnya rasa simpatik dan
loyalitas pembeli/pelanggan Setiap orang, terlebih-lebih para pembeli/pelanggan tentu
mendambakan pelayanan yang baik dari penjual. Dengan pe- layanan yang baik dapat
mendorong bangkitnya rasa sim- patik bagi para pembeli/pelanggan. Apabila penjual
dapat membangkitkan rasa simpatik bagi para pelanggannya, maka loyalitas
pembeli/pelanggan akan dapat pula diraih. Yang di- maksud dengan loyalitas di sini
adalah, kepatuhan, kesetiaan, kecintaan, ketergantungan dan sebagainya. Jika ada
ung- kapan yang mengatakan, karyawan tersebut sangat loyal de- ngan atasannya,
artinya karyawan tersebut sangat setia dan patuh terhadap perintah atasannya. Seorang
pasien sangat loyal dengan dokter praktek yang berada di sekitar rumahnya, artinya
seorang pasien itu sangat suka berobat kepada dokter tersebut. Dia tidak akan mau
berobat dengan dokter yang lain. Demikian juga dengan kegiatan penjualan.
Pembeli/pe- langgan yang loyal, artinya pembeli/pelanggan yang suka, se- nang
menjadi pembeli/pelanggan yang setia. Dia tidak akan pernah berbelanja ke toko lain,
selama barang yang dia bu- tuhkan tersedia di toko kita. 3. Membentuk opini publik
yang positif Memberikan pelayanan yang baik dapat membentuk opini publik yang
positif. Maksudnya, memberikan pelayanan yang baik kepada setiap
pembeli/pelanggan merupakan iklan ter- selubung atau iklan berjalan yang dapat
menghantarkan ke 4 opini publik secara general. Bukankah orang-orang yang per- nah
kita layani dengan baik, diantara mereka pasti ada yang cerita dengan orang lain, baik
dengan keluarganya, teman- temannya, tetangganya dan sebagainya. Dari sekian
banyak pembeli/pelanggan yang cerita tentang layanan yang memu- askan yang
pernah kita berikan, kemudian berkembang terus dan terus menyebar, pada akhirnya
terbentuklah opini publik (pendapat umum/orang banyak) yang menyatakan bahwa di
toko A itu pelayanannya sangat baik. Di warung B tersebut servicenya sangat
memuaskan dan seterusnya, dan hal ter- sebut sudah diketahui dan diakui oleh orang
banyak. Jika ini yang terjadi, maka sudah barang tentu usaha yang kita jalan- kan akan
berkembang pesat, karena pelanggannya semakin banyak saja, dan kita tidak akan
khawatir dengan para pe- saing yang ada di sekitar kita. 4. Meningkatkan
profitabilitas usaha Melakukan pelayanan yang baik terhadap pembeli/pelanggan
dapat meningkatkan dan menjamin keberlangsungan usaha serta peningkatan
keuntungan/laba yang terus menerus. Bu- kankah dengan pelayanan yang baik dapat
mendorong laju perkembangan jumlah pelanggan. Jika jumlah pelanggan sela- lu
bertambah, maka perputaran barang dan uang akan se- makin cepat, dan kecepatan
perputaran barang dan uang da- pat memacu dan memicu meningkatnya keuntungan
atau laba yang diperoleh. 5. Mendorong bagi perluasan usaha Meningkatnya jumlah
pembeli/pelanggan yang terus menerus sebagai akibat dari pelayanan yang baik yang
telah dan selalu diberikan, dapat mendorong bagi perluasan usaha. Betapa ti- dak,
karena bertambahnya jumlah pembeli/pelanggan meng- haruskan kita untuk
meningkatkan volume usaha atau 5
 memperluas usaha kita. Jika perluasan usaha ini tidak kita la- kukan, boleh jadi kita
akan kewalahan melayani mereka. To- ko yang sempit tidak mungkin dapat
menampung barang da- gangan yang banyak dan melayani para pembeli/pelanggan
dengan baik. Oleh karena itu, meningkatnya jumlah pembeli/ pelanggan harus
diimbangi dengan peningkatan volume usaha atau perluasan usaha, misalnya dengan
memperluas ruangan toko, menambah jumlah pelayan (sales) atau membuka toko
baru. C. Unsur-unsur Pelayanan Prima Penjualan 1. Memenuhi standar kualitas,
prosedur, biaya, waktu dan tempat Maksudnya, memberikan pelayanan terhadap
pembeli/pe- langgan, harus didasarkan pada acuan standar (ketentuan umum dan
khusus) yang telah dibuat dan ditentukan oleh suatu lembaga tertentu atau oleh
organisasi perusahaan/ bis- nis yang bersangkutan, baik mengenai standar kualitas
(mutu pelayanan), standar prosedur (tata cara atau aturan main pelayanan), standar
biaya (anggaran yang ditentukan untuk kegiatan pelayanan), standar waktu
(jangka/lamanya pela- yanan) dan standar tempat (yang berhubungan dengan lo-
kasi/kenyamanan tempat pelayanan). Setiap organisasi bis- nis/perusahaan, baik yang
bergerak dibidang perdagangan, industri maupun jasa biasanya sudah mempunyai
standar pelayanan ini. 2. Memuaskan pembeli/pelanggan Maksudnya, memberikan
pelayanan terhadap pembeli/pe- langgan, harus berorientasi untuk memuaskan
pelanggan/ pembeli. Terlepas apakah nanti akan terjadi transaksi jual 6 beli ataupun
tidak, yang penting adalah lakukan pelayanan yang memuaskan terlebih dahulu.
Untuk ini kita tentu tidak akan pilih-pilih pembeli/pelanggan, kita tidak akan membe-
dakan dalam pelayanan,semua pembeli/pelanggan kita layani dengan sebaik-baiknya.
Beberapa upaya yang harus kita lakukan dalam rangka me- muaskan
pembeli/pelanggan, antara lain : a. Penampilan Dalam memberikan pelayanan, faktor
pertama yang perlu kita perhatikan adalah soal penampilan. Kita harus tampil yang
terbaik di hadapan para pembeli/pelanggan. Pakailah busana yang cocok, sopan,
serasi dan menarik, atau kena- kanlah pakaian yang sudah ditentukan perusahaan (jika
disediakan seragam khusus). Sapalah para pelanggan/ pembeli dengan ramah dan
sopan serta tutur kata yang halus. b. Tepat Waktu dan Menepati Janji Ini yang sering
kurang diperhatikan oleh sebagian besar para pembisnis, terlebih-lebih para pekerja
jasa. Persoalan ketepatan waktu dalam menyelesaikan sebuah orderan (pe- sanan)
terkadang seenaknya saja diabaikan oleh penjual. Janjinya selesai satu minggu,
ternyata satu bulan baru se- lesai.Hal ini tentu menjengkelkan dan mengecewakan
pem- beli/pelanggan. Kalau terjadi hanya sesekali dan memang ada alasan yang
rasional, mungkin pembeli/pelanggan ma- sih bisa memaklumi, tetapi jika keterusan,
sering terjadi, hal ini akan memberikan image yang kurang baik di mata
pembeli/pelanggan dan boleh jadi pembeli/pelanggan kita satu demi satu mulai
berpaling, berpindah ke penjual lain. Oleh karena itu ketepatan waktu dan memenuhi
segala 7
 janji, bagi penjual adalah sesuatu yang wajib diperhatikan dan dijunjung tinggi. c.
Kesiapsediaan Melayani Sebagai penjual yang siap melayani, tentu kita selalu ber-
upaya memberikan pelayanan yang terbaik kepada setiap pembeli/pelanggan kita. Tak
ada alasan bagi kita untuk ber- malas-malasan. Bagaimanapun situasi dan kondisinya,
se- perti apapun kondisi pembeli/pelanggan yang datang ke toko kita, semuanya kita
layani dengan sebaik-baiknya. d. Punya Pengetahuan dan Keterampilan/Keahlian
Sebagian dari persyaratan yang harus dipenuhi oleh para penjual adalah mempunyai
setidaknya sedikit bekal ilmu pe- ngetahuan dan keterampilan/keahlian dalam
bidangnya. Pa- da beberapa swalayan atau toko-toko tertentu ada yang menuntut
beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh para penjual, diantaranya misalnya
persyaratan ijazah, ser- tifikat keahlian/keterampilan yang harus dimiliki dan hal-hal
lainnya yang mungkin bersifat pribadi (keterampilan khu- sus). e. Kesopanan dan
Ramah Tamah Siapapun kita, pasti menyukai kesopanan dan kermahta- mahan.
Apatah lagi para pembeli/pelanggan kita, mereka sangat mendambakan perilaku yang
sopan dan ramah ta- mah dari kita. Sekali kita berbuat tidak sopan dan tidak ra- mah,
boleh jadi pembeli/pelanggan kita merasa enggan un- tuk datang lagi ke toko kita.
Oleh karena itu, tunjukkanlah selalu sikap sopan dan ramah tamah kita kepada setiap
pembeli/pelanggan, tanpa terkecuali. 8 f. Kejujuran dan Kepercayaan Kejujuran
memang merupakan sesuatu yang mudah diu- capkan tetapi susah untuk diterapkan.
Kendati demikian, kita sebagai penjual hendaknya tetap selalu berupaya se- dapat
mungkin untuk tetap berlaku jujur terhadap para pe- langgan/pembeli kita. Sebab,
sekali kita tidak jujur, dan ke- tahuan ketidakjujuran kita tersebut, ini akan
mengurangi bahkan menghapus kepercayaan pembeli/pelanggan terha- dap kita,
karena setiap kejujuran yang kita tunjukkan, akan membuahkan kepercayaan yang
dalam bagi para pembeli/ pelanggan kita. Oleh karena itu tunjukkanlah kejujuran ki-
ta, baik dalam hal menginformasikan keadaan/kondisi ba- rang, manfaat dan
kegunaan barang, kelebihan dan keku- rangan barang (ada sisi lebihnya, namun ada
juga sisi ku- rangnya), tingkat keaslian barang dan sebagainya. Jika kita belum tahu
persis tentang keadaan barang, ada baiknya kita tanyakan kepada teman sekerja kita
atau atasan kita yang lebih tahu, jangan sekali-kali mereka-reka sendiri. g. Kepastian
Hukum Tidak saja soal kejujuran, kepastian hukum juga merupa- kan sesuatu yang
didambakan dan diinginkan oleh setiap manusia, terlebih-lebih para
pembeli/pelanggan. Dalam so- al jual beli, kepastian hukum tentu berhubungan
dengan kejelasan kepemilikan barang dagangan. Pembeli/pelang- gan tentu tidak akan
sudi membeli barang hasil curian, ha- sil rampokan atau tidak jelas dari mana asal
muasalnya. Disamping itu, soal resmi tidaknya status barang yang di- jual, soal
perizinan, kehalalan dan kebaikan barang dan se- bagainya, merupakan sederetan hal
yang memerluan ke- pastian hukum. Pendeknya, barang yang kita jual harus barang
yang jauh dari cacat cela secara hukum, baik hu- kum negara, hukum agama maupun
hukum masyarakat, 9
 adat dan budaya. Sekali saja didapati atau satu macam barang saja ditemukan oleh
pembeli/pelanggan bahwa ter- nyata barang yang kita jual cacat secara hukum, maka
segala upaya pelayanan yang baik yang pernah dan selalu kita lakukan selama ini
terhadap para pembeli/pelanggan, mungkin akan menjadi sia-sia. Pembeli/pelanggan
tidak akan mau lagi berbelanja ke toko kita, mungkin mereka merasa takut, merasa
ikut berdosa, dan sebagainya. h. Keterbukaan Keterbukaan ada kaitannya dengan
kejujuran seperti pen- jelasan sebelumnya. Orang yang jujur, ia akan selalu terbu- ka
(apa adanya). Yang dimaksud dengan keterbukaan di sini adalah sebagaimana bunyi
ungkapan jangan menjual kucing dalam karung. Artinya, ketika kita menawarkan satu
unit barang kepada pembeli/pelanggan, kita harus terbuka mengatakan dan
menunjukkan bahwa barang tersebut ada cacat celanya, jika keadaannya memang
demikian. Jika cacat cela barang ini tidak kita beri tahu, artinya kita tidak terbuka.
Keterbukaan juga bisa diartikan bahwa barang tersebut memang terbuka, dapat di
lihat dengan jelas, se- hingga tidak meragukan pembeli/pelanggan. i. Efesiensi Dalam
melakukan pelayanan pembeli/pelanggan, faktor efesiensi perlu diperhatikan, apalagi
jika kita harus mela- yani jumlah pembeli/pelanggan yang relatif banyak dalam waktu
yang relatif terbatas. Kita harus pandai-pandai menggunaan waktu yang sebaik-
baiknya dalam memberi- kan pelayanan tersebut. Satu hal juga yang perlu kita per-
hatikan terhadap pembeli/pelanggan yang nampaknya pu- nya sedikit waktu (tidak
bisa berlama-lama di toko kita) karena ada kesibukan lain, kesigapan kita dalam
melayani 10 benar-benar sangat dibutuhkan. j. Tidak Rasial Maksudnya, di dalam
memberikan pelayanan, kita tidak membeda-bedakan ras, suku, keturunan, agama dan
se- bagainya. Semua pembeli/pelanggan yang masuk ke toko kita, kita layani dengan
baik. k. Kesederhanaan Prosedur dan tata cara pelayanan yang kita berikan kepada
pembeli/pelanggan hendaknya sesederhana mungkin, da- lam arti tidak malah
menyulitkan pembeli/pelanggan, tidak berlebihan (dibuat-buat). Berikanlah pelayanan
yang se- wajarnya. D. Karakteristik Pelayanan Prima Penjualan 1. Perhatian Kesan
pertama yang nampak didalam melakukan pelayanan prima biasanya terlihat dari
bagaimana seorang penjual mem- berikan perhatian kepada pembeli/pelanggan.
Setiap pembeli/ pelanggan yang datang hendaknya tak pernah luput dari per- hatian
kita. Bentuk perhatian yang kita berikan kepada pem- beli/pelanggan bisa berupa
pandangan mata (menatap pem- beli/pelanggan), memberikan senyuman, menyapa,
mendekati dan menanyakan apa yang diperlukan (mau cari barang apa), dan
sebagainya. Jangan sekali-kali ada pembeli/pelanggan yang kita acuhkan, apapun
alasannya dan sesibuk apapun kita ketika itu. Jika ada diantara pembeli/pelanggan
yang merasa kurang diperhatikan, kendati kita sudah berusaha melakukan- nya,
namun menurut pembeli/pelanggan, pelayanan kita itu 11
 masih kurang, maka jangan segan-segan kita ucapkan maaf berkali-kali dan tak
perlulah kita memberikan alasan yang ter- kesan dibuat-buat, apalagi jika alasan kita
tersebut menim- bulkan perdebatan kita dengan pembeli/pelanggan. 2. Sederhana,
mudah, cepat dan tepat Pada prinsipnya pola dan sistem pelayanan itu harus didesain
sederhana, mudah, cepat dan tepat. Pada umumnya para pembeli/pelanggan kepingin
yang praktis-praktis saja. Artinya pelayanannya sederhana, tidak berlebihan dan tidak
bertele- tele. Usahakan semua sistem pendesainan ruangan, tata letak peralatan dan
barang dagangan di atur atau di setting sebaik mungkin yang dapat memberikan
kemudahan dalam pelayan- an. Disamping itu, soal kecepatan dalam memberikan
pela- yanan juga perlu dipertimbangkan, sebab di zaman yang ser- ba canggih ini,
nyaris semua orang memerlukan yang serba instan. Disamping sederhana, mudah dan
cepat, ketepatan dalam memberikan pelayanan juga jangan sampai terabaikan, sebab
kecepatan dalam memberikan pelayanan, sering kurang memperhatikan ketepatan
(bujurkah?, kadakah? yang penting capat), dengan kata lain, kecepatan dalam
memberikan pela- yanan tidak jarang membuat kita sedikit gegabah dan kurang hati-
hati. Cepat dan tepat memang dua kata yang sulit diprak- tekkan jika tidak didukung
oleh pengalaman kerja dan ke- canggihan peralatan yang digunakan. 3. Keakraban
dan keterbukaan Upayakan untuk menjalin keakraban kepada setiap pembeli/
pelanggan. Tunjukan sikap keakraban kita kepada mereka, tidak saja pada saat kita
sedang berjualan, tetapi juga pada saat-saat dan tempat-tempat yang lain. Di samping
itu, keter- bukaan, keterusterangan, apa adanya juga perlu kita tunjuk- an kepada
setiap pembeli / pelanggan, terutama pada saat 12 memberikan informasi tentang
kondisi barang yang sedang ditawarkan. E. Faktor Penunjang Pelayanan Prima
Penjualan 1. Kelengkapan Barang Kelengkapan barang yang tersedia dan siap dijual
sungguh sangat menunjang keberhasilan di dalam memberikan pe- layanan, sebab
apalah artinya upaya pelayanan yang sudah kita berikan, jika ternyata ketika
pembeli/pelanggan mau membeli barang yang ia perlukan, justeru barangnya belum
tersedia atau kehabisan, bukankah pelayanan yang kita beri- kan itu pada dasarnya
adalah untuk mendorong pembeli/pe- langgan bersedia membeli barang yang kita
jual. Oleh karena itu, kelengkapan barang yang ada di toko hendaknya setiap saat kita
kontrol ketersediaannya, atau jika masalah penye- diaan barang ini ada pengelola
khusus yang menangani, maka kita sebagai sales hendaknya selalu kontak dan
menjalin ker- jasama yang solid dengan petugas tersebut. 2. Kewajaran Harga Barang
Kewajaran harga barang memang sifatnya relatif, karena ukuran standar untuk
menentukan tingkat kewajaran harga belum ada yang baku. Jalan yang paling aman
yang dapat kita lakukan adalah dengan melihat dan memperhatikan harga pasar.
Hubungannya dengan soal pelayanan, memang cukup mempengaruhi dalam
menentukan harga. Sebuah toko, mini market atau tempat perbelanjaan lainnya, jika
pemberian pelayanan di tempat tersebut terlihat lebih baik, ada nilai plusnya, jika
dibandingkan dengan tempat perbelanjaan 13
 lainnya, maka ada kecenderungan bahwa standar harga yang dipatok di tempat
tersebut lebih tinggi. Mungkin inilah harga dari sebuah pelayanan. Tentu tidak akan
sama harga semang- kok soto yang dijual di warung/kedai di pinggir jalan dengan
pelayanan seadanya, dengan harga semangkok soto yang dijual di sebuah café yang
dilayani oleh gadis-gadis cantik dan dilengkapi dengan sarana hiburan. Belum lagi
soal rasa ma- sakan, kebersihan, kenyamanan dan keamanan, ini juga dapat
mempengaruhi harga barang. Lalu, di mana letak kewajaran harga sebuah barang?.
Susah memang menjawabnya. Namun yang jelas sudah bukan rahasia lagi, bahwa
para pembeli/pe- langgan juga pada umumnya sudah dapat memaklumi adanya
perbedaan harga yang cukup mencolok pada tempat-tempat tertentu, sehingga mereka
bisa memilih dan mempertimbang- kannya. Namun jika kita mampu memberikan
pelayanan yang sedikit beda (lebih baik) dengan harga yang tidak berbeda dengan
harga pasar/pada umumnya, ini barangkali yang lebih baik. 3. Kenyamanan dan
Keamanan Berbelanja Ini tentu berhubungan dengan sarana dan prasarana yang
tersedia. Letak toko, bentuk bangunan, penerangan ruangan, kebersihan ruangan,
kelengkapan sarana seperti kipas angin atau AC, aroma yang harum/sejuk, adanya
petugas keamanan (Satpam), tempat parkir yang memadai dan sebagainya meru-
pakan serangkaian sarana prasarana yang dapat memberikan kenyamanan dan
keamanan bagi para pembeli/pelanggan. Jika ini terpenuhi, maka proses pemberian
pelayanan dapat berjalan dengan lancar, tanpa diganggu oleh rasa gerah aki- bat
ruangan yang agak panas, tidak diganggu oleh kekhawa- tiran pembeli/pelanggan,
akibat tidak tersedianya tempat par- kir yang cukup aman, sehingga
pembeli/pelanggan dapat le- bih konsentrasi dan tidak buru-buru mau ke luar. 14
KONSEP-KONSEP PELAYANAN PRIMA PENJUALAN onsep yang digunakan di
dalam melakukan pelayanan prima penjualan adalah konsep A 3 , yaitu : 1. Attitude
(Sikap); 2. Attention (Perhatian); 3. Action (Tindakan); A. Konsep Attitude (Sikap
dan Perilaku) Secara umum orang berpendapat bahwa antara sikap dan perilaku sama,
dan ada juga yang mengatakan tidak sama. Sikap merupakan suatu pernyataan yang
bersifat menilai (evaluatif) berupa suka atau tidak suka terhadap sesuatu, sedangkan
peri- laku adalah perwujudan dari adanya sikap tersebut yang nampak terlihat, dapat
diamati dan dapat dirasakan. Seseorang yang su- ka terhadap sesuatu, dari wajahnya
akan kelihatan, seperti ada senyuman, ada perhatian dan sebagainya. Sebaliknya,
seseorang yang tidak suka terhadap sesuatu, wajahnya terlihat cemberut, masam, dan
acuh tak acuh. Sikap dan perilaku yang diharapkan pada pelayanan pri- ma adalah
sikap yang baik dan simpatik, sehingga proses pe- layanan dapat berlangsung dengan
baik. 15 K
 Bentuk-bentuk pelayanan yang dapat dilakukan berdasar- kan konsep Attitude (sikap
dan prilaku) ini adalah sebagai beri- kut : 1. Berpenampilan serasi; 2. Ekspresi wajah
yang menarik; 3. Sopan, ramah tamah, dan tutur kata yang santun; 4. Berpikir dan
bersikap positif; 1. Berpenampilan Serasi Berbicara tentang penampilan sering terkait
dengan soal cara berpakaian, berhias dan segala macam assesoris yang ber- hubungan
dengannya. Berpenampilan serasi hubungannya dengan memberikan pelayanan,
sesungguhnya berpenampilan serasi itu sendiri me- rupakan salah satu bentuk dari
pelayanan yang baik. Sebagai ilustrasi, misalnya seseorang yang bermaksud ingin
berkunjung ke rumah pacarnya. Jika kunjungannya tersebut disambut oleh sang pacar
dengan berpenampilan yang serasi, maka ia akan merasa tersanjung, senang dan
merasa diperhatikan. Sebaliknya, jika kedatangannya disambut oleh sang pacar
dengan berpakaian seadanya bahkan terkesan semraut, tentu ia merasa kecewa dan
kurang diperhatikan. Berpenampilan serasi tidak identik dengan mengenakan pakaian
yang serba baru, serba mahal dan wah (memukau). Ber- penampilan serasi adalah cara
berpakaian dengan mempertim- bangkan beberapa hal, diantaranya : a. Kecocokan
bentuk tubuh dengan pakaian yang dikenakan; b. Kecocokan bahan pakaian,
model/potongan/motif, warna dan assesoris yang digunakan; 16 c. Kecocokan cara
berpakaian dengan jenis dan barang da- gangan yang dijual; d. Kecocokan pakaian
yang dikenakan dengan tempat/lokasi di mana kita sedang berjualan; e. Kecocokan
pakaian yang dikenakan dengan situasi, kondisi, adat budaya setempat di mana kita
berjualan; f. Kecocokan pakaian yang dikenakan dengan iklim dan cua- ca; g.
Kecocokan pakaian dengan tata aturan yang sudah ditetap- kan oleh perusahaan
tempat kita bekerja. 2. Ekspresi Wajah Yang Menarik Ekspresi wajah merupakan
gambaran dari suasana hati dan pikiran seseorang. Jika hatinya senang dan pikirannya
te- nang, maka di wajahnya akan nampak berseri-seri. Sebaliknya, jika hatinya
bersedih, pikirannya kacau, maka di wajahnya akan nampak muram, cemberut dan
semacamnya. Seeorang sales yang baik, tentu akan berupaya sedapat- dapatnya untuk
menampakan ekspresi wajahnya yang menarik, dalam arti penuh senyuman di
wajahnya, muka yang teduh dan bersahabat di hadapan para pembeli/pelanggannya,
kendati mungkin pada saat itu susana hati dan pikirannya lagi kacau, bersedih, galau
dan sebagainya, namun kondisi ini dia upayakan untuk tidak nampak dalam ekspresi
wajahnya. Hal ini memang sulit, perlu latihan dan pembiasaan yang berulang-ulang,
persis seperti orang latihan bermain sandiwara/teater. Jika ternyata kita misalnya
ditakdirkan memiliki wajah atau raut muka yang kurang beruntung dalam arti raut
muka kita 17
 terlihat seperti cemberut terus, terlihat seperti orang marah terus, padahal kita tidak
lagi sedih, tidak lagi marah. Memang sudah dari sononya begitu. Mungkin sebagai
upaya untuk mengurangi keadaan ini, kita perlu pergi ke salon atau menggu- nakan
alat rias wajah, agar lebih berseri, terlihat agak teduh dan lebih anggun, atau jika hal
ini sangat merepotkan dan cukup menguras biaya, berhenti menjadi sales dan mencari
pekerjaan lain yang lebih cocok, mungkin merupakan jalan yang terbaik. 3. Sopan,
Ramah tamah, dan Tutur Kata yang Santun Ramah tamah dan tutur kata yang santun
sebenarnya bagian dari bentuk kesopanan. Artinya, ketika kita membicarakan tentang
kesopanan, maka termasuk di dalamnya ramah tamah dan tutur kata yang santun.
Nampaknya cukup sulit juga menjelaskan apa sebenarnya yang dimaksud dengan
sopan itu. Kesopanan sering diidentikkan dengan adab, sehingga orang yang tidak
sopan dianggap tidak beradab. Kalau kita lihat dari sudut kata adab dan kita hubung-
kan dengan kata adabtasi, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa orang yang
beradab itu adalah orang yang selalu mampu beradaptasi (menyesuaikan) dengan
situasi, kondisi, adat buda- ya, tata kesopanan yang sedang berlaku. Dengan demikian,
perilaku sopan adalah perilaku yang menjunjung tinggi nilai-nilai adat budaya yang
sedang berlaku. Dalam hal ini, lain daerah ten- tu lain adat istiadatnya. Boleh jadi
menurut daerah A perilaku tersebut dianggap baik dan bisa diterima, namun di daerah
B sa- ma sekali tidak bisa diterima. Oleh karena itu, kita sebagai sales, hendaknya
dapat menyesuaikan perilaku kesopanan kita dengan perilaku kesopanan yang sedang
berlaku di derah di mana kita 18 sedang membuka usaha atau sedang bertugas. 4.
Berpikir dan Bersikap Positif Kalau kita konsisten dengan semboyan pembeli adalah
raja, maka sikap dan perilaku kita akan selalu menjurus kepada hal-hal yang positif.
Kenapa? Karena yang namanya raja, perin- tahnya tidak bisa dibantah, kemauannya
harus dituruti. Semua kita adalah pelayannya, semua kita harus patuh kepadanya. Kita
harus berpikir positif kepadanya. Apapun alasannya, kita tidak boleh berpikir negatif
kepadanya, apatah lagi sampai menun- jukan perilaku yang menentang, tidak ada
gunanya, malah jus- teru dapat merugikan diri kita sendiri, salah-salah kita akan men-
dapat hukuman. Berpalsafah pada pembeli adalah raja ini, maka bagaima- napun juga
keadaan dan kondisi pembeli/pelanggan, bagi kita mereka adalah orang-orang yang
patut kita hormati dan kita layani dengan sebaik-baiknya. Berpikir dan bersikap
positiflah kepada mereka, dengan kata lain berbaiksangkalah kita kepada mereka.
Jauhkanlah prasangka-prasangka negatif yang pada gilirannya justeru dapat
mengurangi atau mengabaikan pelayan- an kita kepada pembeli/pelanggan. Anggap
saja setiap pembeli/ pelanggan yang datang ke toko kita, semuanya bermaksud baik
dan ingin membeli produk yang kita jual, sehingga kitapun terdo- rong untuk bersikap
positif kepada mereka. Diantara para pembeli/pelanggan yang pernah atau se- ring
mampir ke toko kita, mungkin ada satu dua orang pembeli/ pelanggan yang sukanya
hanya melihat-lihat barang, terkadang menanyakan harganya, minta informasi tentang
barang, namun setiap kali ia datang, tak pernah jadi ia beli. Terhadap orang 19
 yang begini inipun hendaknya tetap kita layani dengan baik. Ja- ngan sampai lantaran
kebiasaannya ini, justeru menjadikan kita berpikir dan bersikap negatif terhadapnya
dengan anggapan pa- ling-paling juga tidak jadi beli, cuma nanya-nanya doang. Kita
kan tidak tahu, jangan-jangan kali ini dia justeru beli. Atau kalau ternyata tidak juga,
kita berharap semoga suatu saat nanti dia akan tertarik dengan barang yang kita jual
dan pelayanan yang kita berikan sehingga akhirnya dia bersedia juga membeli barang
yang kita jual tersebut. Atau paling tidak orang yang begini ini, kita harapkan dapat
menjadi sosok promosi berjalan bagi usaha kita. B. Konsep Attention (Perhatian)
Yang dimaksud dengan konsep Attention (Perhatian) da- lam pelayanan prima adalah
semua aktivitas penjual yang berka- itan dengan : 1. Mendengarkan dan memahami
kebutuhan pembeli/pelang- gan; 2. Mengamati dan memahami perilaku
pembeli/pelanggan dan; 3. Mencurahkan perhatian sepenuh hati kepada
pembeli/pelang- gan. 1. Mendengarkan dan Memahami Kebutuhan Pembeli/
Pelanggan Yang dimaksud dengan mendengarkan disini adalah me- ngumpulkan
informasi dari pembeli/pelanggan tentang kebutuh- an apa yang ia perlukan.
Terkadang informasi ini langsung kita peroleh dari mulut pembeli/pelanggan, atau
terkadang perlu kita tanya dulu apa keperluannya, baru informasi itu kita dapat. 20
Ketika pembeli/pelanggan datang ke toko kita dan sedang melihat-lihat barang
dagangan, biasanya kita segera mengham- pirinya dan kita ucapkan salam, sebagai
wujud bentuk perhatian kita kepadanya. Tindakan kita ini sebenarnya tidak selamanya
benar dan belum tentu juga salah. Karena biasanya penjual yang sudah cukup
berpengalaman, jika pembeli/pelanggan sedang melihat-lihat barang dagangan, ia
akan membiarkannya saja. Karena jika pembeli/pelanggan itu baru masuk dan sedang
me- lihat-lihat barang, lantas kita sambut dengan ucapan selamat pagi/siang/sore. Ia
kemudian membalas salam kita. Lalu, keti- kan kita tanyakan, bisa saya bantu,
bapak/ibu mau cari barang apa?. Paling-paling ia akan jawab, saya lihat-lihat dulu ya.
Jika di rasa sudah cukup lama pembeli/pelanggan melihat-lihat barang, namun
nampaknya tidak ada yang cocok dengan yang ia cari, biasanya iapun akan bertanya,
saya mau cari jaket yang po- tongannya seperti milik anggota militer, ada ngga?. Kita
mungkin sedikit agak keheranan dengan permintaan ini, karena setelah kita perhatian
bentuk tubuh si pembeli/pelanggan ini, tubuhnya kecil dan kurus, dengan tinggi badan
kira-kita 160 cm. Apa yang mendorong pembeli/pelanggan ini mencari jaket
tersebut?. Mungkin jawabannya adalah agar sifat kejantanannya nampak terlihat. Lalu
kita jawab, ada mas, mari ikut saya, barangnya ada di pojok sana?. Pada suatu waktu,
toko kita dikunjungi beberapa pembe- li/pelanggan yang semuanya menanyakan
tentang jamu pegal linu. Umur mereka rata-rata 40 tahun ke atas. Lalu kita tanyakan
kepada sebagian pembeli/pelanggan tadi, kenapa pak? bapak lagi habis bekerja keras
ya?, badannya pegal-pegal. Sebagian besar mereka menjawab bahwa jamu tersebut
sangat dibutuh- kan oleh kami-kami yang sudah tua untuk menjaga kesehatan.
Mendengarkan dan memahami kebutuhan pembeli/pe- langgan sangat bermanfaat,
tidak saja bagi pembeli/pelanggan 21
 itu sendiri agar benar-benar pas/cocok tentang barang yang ia cari/perlukan, juga
sangat bermanfaat bagi kita sebagai penjual, karena dari mengetahui apa yang
dibutuhkan pembeli/pelanggan serta memahami mengapa ia membutuhkan barang
tersebut, hal ini dapat berdampak bagi pengembangan usaha kita. Dengan
mendengarkan dan memahami kebutuhan pem- beli/pelanggan, kita akan dapat
memperkirakan kebutuhan pem- beli/pelanggan di masa yang akan datang. Memang
tidak semua pembeli/pelanggan yang datang harus kita pahami secara detil kebutuhan
mereka. Disamping cukup merepotkan, perlu waktu tertentu, dan sedikit ekstra hati-
hati (karena salah-salah bisa menyinggung perasaan pembeli/ pelanggan), karenanya
mungkin hanya beberapa pembeli/pe- langgan yang kita pilih, dengan berbagai
pertimbangan, diantara- nya misalnya ada pembeli/pelanggan yang setiap kali beli ba-
rang (sudah sering), pasti barang yang bermotif itu yang ia beli, tidak mau yang
bermotif lainnya. Mungkin kita perlu tahu lebih jauh mengapa ia suka sekali barang
yang bermotif seperti itu. Bagi pedagang barang tertentu, diantaranya seperti pe-
dagang obat-obatan, mendengarkan dan memahami kebutuhan pembeli/pelanggan
merupakan sesuatu yang sangat penting. Suatu ketika datang seorang
pembeli/pelanggan bermaksud ingin membeli obat, namun ia tidak tahu obat apa yang
harus ia beli untuk penyembuhan penyakit yang sedang dideritanya. Kita se- bagai
penjual tentu akan menanyakan keluhan/sakit apa yang sedang ia alami. Lalu si
pembeli/pelanggan menjelaskan penyakit yang dideritanya, yang sesekali kita sela
dengan beberapa perta- nyaan (yah, mirip-mirip dokter lah), hingga akhirnya kita
dapat menduga penyakitnya ini, itu, lalu kita carikan alternatif obatnya. Bila kita
benar-benar (dengan seksama) mendengarkan dan mencoba memahami kebutuhan
pembeli / pelanggan ini dan 22 akhirnya dapat memilihkan obat yang tepat, sehingga
yang bersangkutan dapat sembuh dari sakitnya, hal ini sangat berpe- ngaruh bagi
kemajuan usaha kita ke depan. Mendengarkan dan memahami kebutuhan pembeli/pe-
langgan mutlak harus kita lakukan dengan serius, karena disam- ping ini merupakan
salah satu dari wujud pelayanan yang kita berikan, hal ini juga sangat berdampak bagi
kemajuan usaha kita di masa-masa yang akan datang. 2. Mengamati dan Memahami
Perilaku Pembeli/ Pelanggan Setiap pembeli/pelanggan yang datang ke toko kita,
tentu antara satu dengan yang lainnya tidak ada yang sama persis pe- rilakunya.
Berbagai orang berbagai pula tingkah dan perilakunya. Oleh karenanya,
membicarakan tentang perilaku pembeli/pe- langgan sungguh sangat beragam dan tak
mungkin kita jelaskan satu persatu. Diantara perilaku pembeli/pelanggan yang
mungkin per- nah kita temukan seperti pembeli/pelanggan yang bersikap di- ngin,
pendiam, kalem. Pembeli/pelanggan seperti ini memang sulit sekali diterka, apakah
mau beli atau hanya iseng lihat-lihat doang. Setiap kali ditanya tentang barang apa
yang mau dia cari, jawabannya rada-rada tidak jelas, seperti orang lagi grogi, salah
tingkah, kebingungan dan sebagainya. Bagaimana memahami dan tindakan apa yang
perlu kita lakukan terhadap pembeli/pelanggan yang pendiam ini. Yang jelas,
pembeli/pelanggan yang pendiam harus dihadapi dengan 23
 rasa gembira dan dilayani dengan kesabaran penuh. Pembeli yang pendiam biasanya
penuh percaya diri dan kuat pendirian, maksudnya, apabila ia sudah tertarik pada
suatu barang yang dia pandang baik dan cocok, maka langsung saja dia beli, tanpa ba-
nyak pertimbangan atau komentar. Oleh karena itu, kita sebagai penjual harus pro
aktif melayani dia, dengan menawarkan atau menunjukan/memperlihatkan beberapa
contoh barang ke hadap- annya, suruh dia memilih, atau kita yang mencoba
memilihkan dan jelaskan bahwa pilihan kita tersebut sangat cocok buat dia. Menurut
Ernerst Kretschmer, perilaku pembeli/pelanggan dapat dilihat berdasarkan tipe,
bentuk atau ciri-ciri seseorang yang nampak dari penampilan bentuk tubuh/keadaan
fisiknya. Menurutnya, ada tiga tipe yang terdapat pada pembeli/ pelanggan : a. Tipe
Piknis Bentuk badan bulat, pendek, wajah bulat lebar, bisa juga agak gemuk dan
gagah, tetapi tidak tinggi dan tidak pula pendek. Melayani pembeli/pelanggan tipe ini,
pertama-tama sambutlah dia dengan percakapan yang menarik. Lalu, ta- warkan jasa
kita untuk membantu dia, mau cari barang apa. Jika dia menyambut dengan perilaku
lain (tidak relevan), bi- arkan aja dulu, jangan dikomentari, biarkan dia melihat-lihat
barang dulu, sambil kita amati perilakunya. Bila dia sudah menemukan barang yang ia
inginkan, barulah kita mulai bicara lagi dengan menanyakan dengan sikap dan nada
yang sopan dan ramah, Maaf bu, sudah ketemu barang yang ibu inginkan? , cocok?.
Jika masih belum ada jawaban, respon, sebaiknya kita diam saja, tak usah dilanjutkan,
tunggu saja reaksi berikutnya, sampai dia benar-benar pas memilih ba- rang yang dia
sukai. 24 b. Tipe Atletis Bentuk badan kokoh, kekar, bahu lebar, anggota badan agak
panjang, pinggul berisi dan wajahnya bulat telur. Melayani pembeli/pelanggan tipe
ini, kita harus bersikap dan memberi perhatian dan kesan kepada dia seolah-olah dia
adalah orang yang pandai memilih barang yang berkualitas. Jika ia menanyakan
tentang salah satu barang yang sedang dipilih- nya, naka jawablah dengan ringkas dan
tepat, jangan ber- tele-tele. Pada umumnya pembeli/pelanggan yang bertipe atletis ini
tidak mudah percaya dengan apa yang dikatakan penjual. Apa yang dia omongkan,
kita seolah-olah setuju sa- ja, yang penting akhirnya dia mau membeli. Ingat, hindari
perdebatan dengan pembeli/pelanggan bertipe ini. c. Tipe Leptosom Bentuk badan
kelihatan kecil, perawakan kurus, kelihatan agak lemah, anggota tubuh agak panjang,
bentuk wajah/ muka hampir mirip bulat telur. Melayani pembeli/pelanggan bertipe ini
memang sering membuat kita agak sebel dan sedikit kewalahan, karena sikapnya
seolah seperti penguasa/ raja yang minta dilayani. Menghadapi pembeli/pelanggan
bertipe seperti ini memang kita harus banyak bersabar dan menjaga emosi, dan
bagaimanapun juga karena pembeli/ pelanggan dalam pandangan penjual adalah bagai
seorang raja, maka kita tentu tetap berupaya melayani dia dengan sebaik-baiknya.
Dan perlu diingat, berhati-hatilah mengha- dapi pembeli/pelanggan bertipe seperti ini,
karena pada umumnya mereka sangat mudah tersinggung, terutama yang
berhubungan dengan bentuk/keadaan tubuhnya. Oleh karenanya, jangan sekali-kali
menanyakan/membicarakan tentang bentuk perawakan tubuhnya. Memberikan
pelayanan kepada pembeli / pelanggan, 25
 siapapun dia, seperti apapun tipe atau ciri-cirinya, yang penting kita lakukan adalah :
o Ciptakan selalu suasana keakraban dan penuh simpatik de- ngan pembeli/pelanggan;
o Senyumlah selalu biar kelihatan peramah; o Sering-seringlah membaca buku yang
berhubungan dengan ilmu menjual dan ilmu-ilmu psikologi; Kemudian, perlu juga
diketahui bagaimana sikap pria dan wanita dalam berbelanja, sebagai berikut : a.
Pembeli Pria : • Mudah terpengaruh pada omongan sales yang menarik perhatiannya;
• Mudah dibujuk sales, terutama yang berlawanan jenis dan menarik perhatiannya; •
Sering berbelanja dengan sikap yang terburu-buru, dan apabila sudah terlanjur masuk
toko, menanyakan tentang barang, biasanya ia akan beli, sebab malu kalau tidak
membeli; • Sering tertipu karena tidak sabar dalam memilih dan me- neliti barang
yang akan dibeli; • Minta dilayani dengan cepat, tidak banyak bicara. Penjelas- an
barang seperlunya saja; • Mudah timbul rasa menyesal setelah membeli barang yang
kurang cocok; • Tidak senang pada warna yang menyolok; b. Pembeli Wanita : •
Tidak mudah terpengaruh pembicaraan penjual; • Lebih tertarik pada warna, bentuk
dan model baru barang; • Mementingkan status sosial dan prestise (rasa gengsi); •
Senang berbelanja; 26 • Peka terhadap suasana yang ada/terjadi; • Kurang tertarik
pada hal-hal teknis; • Senang hal-hal yang berbau romantis 3. Mencurahkan Perhatian
Sepenuh Hati Kepada Pembeli/Pelanggan Mencurahkan perhatian sepenuh hati
kepada pembeli/pe- langgan, menurut Dr. Patricia Patton terletak pada kesungguhan
penerapan empat sikap yang ditunjukkan oleh sales/penjual, yang dikenal dengan 4 P
(Passionate, Progressive, Proactive dan Positive. a. Passionate (Gairah) Untuk
menghasilkan semangat kita harus memiliki gairah. Tumbuhkanlah ke dalam diri kita
masing-masing gairah yang tinggi untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada
pembeli/pelanggan. Gairah yang dibalut dengan ketulusan hati akan melahirkan
sebuah pelayanan yang spesial, penuh vitalitas dan antusias yang tinggi. b.
Progressive (Progresif/Berpikir Maju) Dalam memberikan pelayanan sepenuh hati,
kita perlu se- nantiasa berusaha menciptakan cara-cara baru yang lebih efektif dan
efesien serta lebih menarik untuk menciptakan kualitas pelayanan yang lebih baik.
Bagi seseorang yang progresif tidak akan pernah puas dengan hasil yang pernah ia
peroleh. Ia akan selalu berusaha mencari cara-cara kreatif agar diperoleh hasil yang
lebih baik. Pekerjaan apapun yang kita lakukan, jika kita memiliki gairah dan pola
pikir yang progresif, kita akan mampu menyajikan hasil pekerjaan kita 27
 menjadi lebih baik dan lebih menarik. Sikap progresif ini bisa kita kembangkan lagi
jika kita memiliki pikiran yang terbuka, wawasan yang luas, kemauan belajar yang
tinggi, keberanan menghadapi pembeli/pelanggan serta tidak membatasi diri pada
cara-cara memberi pelayanan yang cenderung mono- ton. c. Proactive (Proaktif)
Proaktif sering juga disebut dengan istilah jemput bola. Dalam kehidupan sekarang
ini, dimana persaingan semakin banyak, memperoleh kesempatan semakin sulit,
perlombaan dan pertarungan hidup semakin ketat, maka untuk meme- nangkan semua
ini kita harus proaktif, dalam arti kita harus berbuat dan terus berbuat, jangan
menunggu. Kesempatan dan peluang harus dicari, kita yang mencari kesempatan dan
peluang, bukan kesempatan dan peluang yang mencari kita. Demikian juga dalam
memberikan pelayanan sepenuh hati, kita harus proaktif. Sebab, membiarkan
pembeli/pelanggan kebingungan dan berjalan mondar mandir, tanya sini, tanya situ
kepada orang lain, bukanlah sikap yang proaktif. Walau- pun pembeli/pelanggan tidak
mendekati kita dan tidak berta- nya kepada kita, kita sebagai sales yang proaktif tentu
akan terlebih dahulu mendekati pembeli/pelanggan serta bertanya barangkali kita bisa
membantu apa yang dia perlukan. Sikap proaktif ini juga bisa kita kembangkan
dengan cara berupaya mencari cara-cara baru dalam pelayanan untuk menambah
makna dan cita rasa pelayanan yang lebih baik. d. Positive (Positif) Bersikap positif
mendorong kita agar tidak mudah patah se- mangat jika mengalami berbagai kendala
dan persoalan. Bersikap positif akan membimbing kita agar lebih fokus pada
penyelesaian masalah, bukan mengutuk masalah itu sendiri. 28 Bersikap positif
ternyata sangatlah menarik, karena sikap ini bisa mengubah suasana yang lebih releks
dan menebar ke- gairahan. Dalam dunia penjualan barang, bersikap positif berarti
menyambut hangat para pembeli/pelanggan, serta melayani berbagai pertanyaan dan
permintaan pembeli/pe- langgan dengan sepenuh hati. Bersikap positif akan meman-
carkan keyakinan kita kepada pembeli/pelanggan, bahwa ki- ta mampu memberikan
jawaban bagi pertanyaan para pem- beli/pelanggan serta memberikan solusi atas
semua masalah yang mereka hadapi. Salah satu cara sederhana yang ampuh dan bisa
kita lakukan adalah memberikan pelayanan dengan senyum yang tulus, karena
senyuman yang tulus merupakan bahasa universal yang positif yang sudah dipahami
semua orang. C. Konsep Action (Tindakan) Pelayanan prima penjualan berdasarkan
konsep action (tindakan) adalah berbagai kegiatan nyata yang dilakukan sales/ penjual
dalam memberikan layanan kepada pembeli/pelanggan. Ada tiga tindakan yang
dilakukan untuk menerapkan kon- sep action ini, yaitu : 1. Mencatat kebutuhan dan
pesanan pembeli/pelanggan; 2. Mewujudkan kebutuhan pembeli/pelanggan; 3.
Memberikan pernghargaan dan ucapan terimakasih kepada pembeli/ pelanggan; 1.
Mencatat kebutuhan dan pesanan pembeli/pelanggan Setiap pembeli/pelanggan yang
datang ke toko kita tentu 29
 membawa sejumlah keperluan/kebutuhan yang ingin mereka tuntaskan. Bentuk
kebutuhan yang mereka bawa bisa berupa se- carik kertas yang berisi catatan/daftar
barang yang akan/ingin di- beli, bisa juga berupa contoh barang yang sudah dipakai
(hanya kemasannya saja) dan mereka ingin membeli barang yang sama atau serupa,
ada juga pembeli/pelanggan yang membawa gam- bar/fhoto barang yang
diperolehnya dari iklan di majalah, koran dan sebagainya, dan ia kepingin membeli
barang yang seperti di fhoto tersebut, bahkan ada juga yang datang ke toko kita yang
secara fisik tidak membawa apa-apa, namun ia punya rencana ingin membeli sesuatu
yang sudah ada dan cukup lama bersa- rang dibenak kepalanya (dalam pikirannya).
Semua yang diinginkan pembeli/pelanggan tersebut, baik yang sudah tercatat dalam
secarik kertas, yang terlihat dalam sebuah gambar/fhoto maupun yang diungkapkan
lewat kata/ ucapan/permintaan pembeli/pelanggan, hendaknya segera kita cocokkan
dengan ketersediaan barang yang ada di toko kita, apakah barang tersebut semuanya
ada/tersedia, atau mungkin hanya sebagian yang ada/bisa dipenuhi. Jika sudah
dicocokkan, maka catatlah barang-barang yang sudah siap tersebut, dan jika ada
sebagian barang yang masih belum tersedia di toko kita, alangkah baiknya kita
ucapkan maaf berikut jelaskan alasan atau latar belakangnya (misalnya barangnya lagi
kosong di tempat grosir, barang yang dimaksud tidak diproduksi lagi, barang tersebut
sudah laku terjual, dan sebagainya) dan jangan lupa berikan pula alternatif solusinya,
misalnya, jika pembeli/pelang- gan bersedia, akan kita pesankan ke toko grosir dan
insyaAllah minggu depan barang tersebut sudah siap di toko kita, atau bisa juga kita
sarankan ke toko di sebelah kita atau ke toko lainnya di mana kemungkinan barang
yang diinginkan pembeli/pelanggan tersebut tersedia di toko itu. Apabila barang
kebutuhan pembeli/pelanggan sudah kita 30 catat (setelah dicocokkan dengan
ketersediaan barang di toko, dalam arti barangnya memang ada/siap dijual),
selanjutnya kita konfirmasikan catatan tersebut kepada pembeli/pelanggan untuk
meminta kecocokkan dan kepastian. Jika kegiatan transaksi barang dilaksanakan
secara tidak langsung, misalnya melalui telepon/HP, surat biasa, surat elek- tronik, e-
mail dan sebagainya, mungkin prosesnya tidak jauh be- da dengan penjelasan di atas,
(dimulai dengan penerimaan/ pen- catatan pesanan, lalu cocokkan penerimaan/catatan
pesanan dengan ketersediaan barang di toko, kemudian konfirmasikan ca- tatan yang
telah dicocokkan tadi kepada pembeli/pelanggan), hanya saja caranya disesuaikan
dengan penggunaan alat komu- nikasi yang digunakan. Pencatatan terhadap
kebutuhan dan pesanan pembeli/ pelanggan perlu dilakukan, karena : a. Tindakan ini
merupakan salah satu bentuk pelayanan dan bukti perhatian penjual terhadap para
pembeli/pelanggannya; b. Dapat menjadi bukti tertulis terhadap adanya pesanan
barang dari pembeli/pelanggan; c. Dapat menjadi bukti adanya barang keluar (data
barang yang laku/terjual) sebagai data tertulis untuk bagian pengadaan ba-
rang/pembelian brang atau bagian pergudangan; d. Dapat memudahkan dalam
pengecekan barang yang dibeli pembeli/pelanggan; e. Dapat memudahkan dalam
pencarian fisik barang di toko/gu- dang; f. Dapat melengkapi data laporan bagian
penjualan kepada pim- pinan/pemilik toko; g. Dapat mempercepat waktu tunggu
pembeli/pelanggan dalam melakukan proses transaksi; h. Secara umum dapat
mempercepat proses pelayanan kepada pembeli/pelanggan; 31
 2. Mewujudkan Kebutuhan Pembeli/Pelanggan Pada intinya pelayanan prima
penjualan adalah untuk membantu para pembeli/pelanggan dalam mewujudkan
berbagai kebutuhan yang ia perlukan, dengan mudah, cepat dan tepat atau sesuai yang
diharapkan. Dari hasil pengkajian ahli ekonomi mengenai pentingnya pelayanan yang
baik kepada pembeli/pelanggan dengan me- ngembangkan konsep Total Quality
Service ( TQS ), dalam rangka mewujudkan tercapainya kepuasan pelanggan melalui
pemberikan bantuan/pelayanan agar apa yang dibutuhkan pem- beli/pelanggan dapat
terpenuhi dengan baik. Untuk itu menurut konsep TQS, memberikan pelayanan
harus : a. Berfokus kepada pelanggan Maksudnya, prioritas utama dalam melakukan
pelayanan adalah pembeli/pelanggan dengan mengidentifikasi keinginan, kebutuhan
dan harapan pembeli/pelanggan. Selanjutnya di- rangcang sistem yang dapat
memberikan jasa atau layanan tertentu yang dapat memenuhi keinginan
pembeli/pelanggan tersebut. b. Keterlibatan semua pihak secara menyeluruh
Maksudnya, semua pihak yang terkait dengan upaya pening- katan pelayanan harus
dilibatkan secara total menyeluruh. Karena itu, pimpinan toko atau manajer harus
dapat membe- rikan peluang perbaikan kualitas terhadap semua karyawan. Selain itu,
kepemimpinan harus pula memberikan kesempatan berpartisipasi kepada semua
karyawan yang ada dalam or- ganisasi, serta memberdayakan karyawan dalam
merancang dan memperbaiki sistem pelayanan dan organisasi secara umum. 32 c.
Sistem pengukuran yang memadai Maksudnya, segala komponen dalam sistem
pengukuran ha- rus menyangkut hal-hal sebagai berikut : a. Standar mutu/kualitas
barang yang dijual; b. Identifikasi kualitas/mutu barang yang dijual; c. Identifikasi
barang dan mengukur kesesuaiannya dengan kebutuhan pembeli/pelanggan; d.
Mengoreksi sarana penyimpangan barang dan meningkat- kan kinerja petugas; d.
Perbaikan berkesinambungan Maksudnya, melakukan pelayanan harus berorientasi
pada perbaikan secara terus menerus, dengan : • Memandang bahwa semua pekerjaan
sebagai suatu pro- ses; • Mengantisipasi setiap perubahan keinginan, kebutuhan dan
harapan para pembeli/pelanggan. • Melakukan upaya efesiensi terhadap proses
pelayanan yang diberikan; • Dengan senang hati menerima segala kritik, saran atau
umpan balik dari pembeli/pelanggan; 3. Memberikan Penghargaan dan Ucapan
Terimakasih Proses pelayanan prima terhadap pembeli/pelanggan ten- tu tidaklah
berakhir setelah terjadinya kesepakatan jual beli. Na- mun prinsip pelayanan prima
berdasarkan konsep A3 ini haruslah diikuti dengan upaya-upaya yang sekiranya dapat
membuat pembeli/pelanggan merasa ketergantungan untuk selalu datang dan
berbelanja ke toko kita pada waktu-waktu yang lain. Untuk itu maka kita harus
melakukan beberapa tindakan sebagai beri- kut : a. Pernyataan terimakasih kepada
setiap pembeli/pelanggan; 33
 b. Pemberian bonus atau hadiah kepada pembeli/pelanggan yang membeli barang
dalam jumlah tertentu; c. Pemberian potongan harga (diskon); Memberikan
penghargaan dan ucapan terimakasih kepa- da pembeli/pelanggan merupakan salah
satu tindakan yang bo- leh dibilang wajib atau mau tidak mau harus dilakukan, karena
kalimat sakti ini mempunyai daya pikat yang sangat kuat dan dapat memanjakan hati
dan perasaan pembeli/pelanggan sehing- ga mereka akan terpanggil untuk datang dan
datang lagi berbe- lanja ke toko kita. Kendati demikian, memberikan penghargaan dan
ucapan terimakasih, tentu tidak sekedar ucapan di bibir saja, tetapi mesti diikuti
dengan perasaan yang tulus, intonasi suara yang halus, penuh senyuman dan sikap
tubuh yang hormat dan santun. Lebih berkesan dan bermakna lagi, jika ucapan terima-
kasih tersebut kita barengi dengan memberikan rangsangan pro- mosi, seperti
diantaranya sebagai berikut : a. Semakin sering anda datang dan berbelanja ke toko
kami, maka berbagai hadiah dan bonus siap menanti anda; b. Dalam waktu dekat ini
kami akan memasang diskon besar- besaran terhadap semua jenis produk. Maka
sering-seringlah datang dan berbelanja ke toko kami; c. Di akhir tahun nanti kami
akan memberikan beberapa hadiah kejutan kepada sejumlah pembeli/pelanggan yang
beruntung. Nanti datang ya. 34 DAFTAR KEPUSTAKAAN Ani Setiani, Dra. MM.
Modul Pelayanan Prima (Custumer Care), P4TK Bisnis dan Pariwisata, Jakarta, 2010;
Ating Tedjasutisna, Pemasaran untuk SMK jilid 1, Armico Bnadung, 1999;
------------------------, Paket Keahlian Penjualan untuk SMK jilid 1, Armico Bandung,
2008; Devi Puspitasari, Penjualan jilid 1, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta,
2008; Retno Prasetyorini, SE. Pelayanan Prima, SMK YP 17 VI Temanggung, Jawa
Tengah, 2003; Soedjijo Rahardjo Utomo, Drs. Mengatasi Keluhan Konsu- men,
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1997; 35