Anda di halaman 1dari 20

c cc

c
 
 c  c c c
  c c


  
!"
= 
      















#
c$c %c&'c
()*+),--,*
 *)./.-





&c c  0c1c 2c c c
  c    c c

1c 
c3cc2c c
-)((


42 #

Sovereignty over Pedra Branca/Pulau Batu Puteh, Middle Rocks and South Ledge
(Kedaulatan Terhadap Pulau Batu Puteh, Middle Rocks Dan South Ledge)

4   
 c 

Contentious Case ( 23 MAY 2008)

4
c 5
c 'c 1 1 c

MALAYSIA vs SINGAPURA

04
%c 'c 1   c c  
 c 

 Kesultanan Johor didirikan setelah perebutan Malaka oleh Portugis pada tahun 1511. Pada
pertengahan tahun 1600-an Belanda merebut kontrol atas berbagai daerah di wilayah tersebut dari
kekuasaan Portugal. Tahun 1975, Inggris menetapkan peraturan atas beberapa milik Belanda di
kepulauan Melayu, tetapi pada tahun 1814 mengembalikan kepemilikan terdahulu Belanda (Dutch) di
kepulauan Melayu kepada Belanda (Nederlands).
Pada tahun 1819 sebuah ³pabrik´ Inggris (pusat perdagangan) didirikan di pulau Singapura
(yang pada saat itu masih merupakan milik Johor) oleh East India Company, yang bertindak sebagai
agent dari pemerintah inggris di beberapa wilayah kepemilikan Inggris. Hal ini memperburuk
ketegangan antara Inggris dan Belanda yang muncul terkait persaingan mereka terkait ambisi untuk
mengkolonisasi wilayah tersebut. Pada Maret tanggal 17 tahun 1824 sebuah perjanjian ditandatangani
antara dua kekuatan kolonial ini. Sebagai konsekuensi perjanjian tersebut, satu bagian dari kesultanan
Johor jatuh kedalam lingkup pengaruh Inggris sementara lainnya jatuh pada lingkup pengaruh
Belanda.
Pada 2 agustus 1824 sebuah perjanjian persahabatan dan aliansi (selanjutnya disebut
"Perjanjian Crawfurd") ditandatangani oleh East India Company dan Sultan Johor juga Temenggong
(petinggi Malaysia) dari Johor, mempersiapkan penyerahan (cessi) Singapura secara penuh kepada
East India Company, mencakup semua pulau dalam dalam rentang 10 mil dari geografis Singapura.
Sejak kematian sultan Mahmud III dari Johor pada tahun 1812, dua putranya telah mengklaim
suksesi dari kesultanan Johor. Inggris mengakui kepewarisan putra sulungnya yakni Hussein (yang
berbasis di Singapura), sebaliknya Belanda mengakui kepewarisan putra termuda yakni Abdul Rahman
(yang berbasis di Riau, sekarang dikenal sebagai Pulau Bintan di Indonesia). Tanggal 25 juni 1825
Sultan Abdul Rahman mengirim surat kepada kakaknya dimana dia ³mendonasikan´ bagian dari pulau
yang ditugaskan kepada sultan Husein berdasarkan pada perjanjian Anglo-dutch tahun 1824.
Antara maret 1850 dan 1851, sebuah mercusuar dibangun di Pedra Branca/pulau Batu Puteh.
Pada tahun 1867 diadakan Straits Settlement, kelompok wilayah East India Company yang
ditetapkan tahun 1826 (terdiri dari, antara lain, Penang, Singapura dan Malaka), menjadi wilayah
kolonial Inggris. Tahun 1885 pemerintah Inggris dan ³state of Johor´ (negara bagian Johor)
menandatangani Perjanjian Johor, dengan memberikan kepada Inggris hak perdagangan melalui darat
dan hak transit melalui ³state of Johor´ dan pertanggungjawaban terhadap hubungan luar negeri, serta
memberikan perlindungan kepada Inggris atas integritas teritorinya sebaik mungkin.
 Straits Settlement menjadi tak berlaku lagi pada tahun 1946 : tahun yang sama dimana uni
Malayan dibentuk, bagiannya berisi Straits Settlement terdahulu (tidak termasuk Singapura), Negara
Federasi Melayu dan lima negara Unfederasi Melayu (termasuk Johor). Tahun 1946 Singapura
diadministrasikan sebagai koloni Inggris dan menjadi hak milik Inggris. Tahun 1948 Uni Malayan
menjadi Federasi Malaya, pengelompokan dari koloni inggris dan ³Malay States´ berada di bawah
perlindungan kerajaan Inggris. Federasi Malay memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada tahun
1957, dengan Johor sebagai negara konstituen dari federasi. Pada tahun 1958, Singapura menjadi
koloni dengan pemerintahan sendiri. Pada 1963 Federasi Malaysia ditetapkan, dibentuk dengan
menggabungkan Federasi Malaysia dengan koloni Inggris terdahulu yakni Singapura, Sabah dan
Sarawak. Pada tahun 1965 Singapura meniggalkan Federasi dan memperoleh kedaulatannya sebagai
negara independen.

04
 cccc 'c 1   c c  
 c 
Pada 21 Desember 1979 Malaysia menerbitkan sebuah peta berjudul Š    
          (selanjutnya disebut ³peta 1979´). Peta menggambarkan
pulau Pedra Branca/Batu Puteh berada di dalam wilayah perairan Malaysia. Dengan Catatan
diplomatik tertanggal 14 Februari 1980 Singapura menolak "klaim" Malaysia terhadap Pedra
Branca/Batu Puteh dan meminta peta 1979 diperbaiki. Hal ini menyebabkan pertukaran korespondensi
antara kedua negara dan kemudian diadakan serangkaian pembicaraan antar pemerintah pada 1993-
1994, yang tidak menghasilkan resolusi atau penyelesaian terhadap masalah tersebut. Selama putaran
pertama perundingan pada bulan Februari 1993 pertanyaan juga keraguan tentang status Middle Rocks
dan South Ledge ikut muncul. Mengingat kurangnya kemajuan dalam negosiasi bilateral, akhirnya
Para Pihak setuju untuk menyerahkan sengketa untuk diselesaikan oleh Mahkamah Internasional.
Mahkamah Internasional diminta untuk menetukan apakah Pulau Batu Puteh atau yang oleh
Singapura disebut Pedra Branca juga Middle Rocks dan South Ledge berada di bawah kedaulatan
Malaysia ataukah Singapura?


04
  cc  cc 
 1c c  
 c 

4| ' 67 



2  1 c#
 cc 3c*c 


(4|




Malaysia menyatakan dalam pembelaan tertulis bahwa mereka memiliki hak


kepemilikan original dari Pulau Batu Puteh . Pulau Batu Puteh adalah, dan selalu, menjadi
bagian dari negara bagian Malaysia yakni Johor. Tak ada yang menyebabkan perpindahan
kedaulatan Malaysia atas Pulau Batu Puteh. Kehadiran Singapura di pulau tersebut dengan
tujuan untuk membangun dan memelihara sebuah mercusuar di sana (dengan izin dari
pemegang kedaulatan wilayah) dan Singapura tentu tak bisa mencaplok keadulatan atas
dasar tersebut. Lebih lanjut Malaysia mengatakan bahwa tak ada relevansi waktu pulau
Pedra Branca/Batu Puteh berstatus Terra Nullius dan karenanya tak rentan untuk akuisasi
melalui okupasi.
Singapura mengklaim bahwa pemilihan Pedra Branca/Batu Puteh sebagai tempat
pembangunan mercusuar adalah dengan wewenang/otorisasi dari kerajaan Inggris. Sebuah
proses yang dimulai tahun 1847 mencakup pengambilan alih hak milik secara klasik yang
disebut c". Menurut Singapura, hak kepemilikan pulau diperoleh oleh
kerajaan Inggris sesuai dengan prinsip hukum dan berlanjut ke penerus sahnya yakni
republik Singapura. Di dalam Memorial dan Counter-Memorial Singapura, tak ada
referensi yang jelas menyebut status pulau batu puteh sebagai Terra Nullius. Namun
Mahkamah mengamati bahwa dalam balasan Singapura mengindikasikan bahwa dengan
jelas dan nyata status Pedra Branca pada tahun 1847 adalah Terra Nullius.
Berdasarkan hal tersebut, Mahkamah mencatat beberapa poin yang harus diberikan
kedua pihak yakni apakah Malaysia bisa membuktikan hak kepemilikan aslinya sebelum
Singapura melakukan aktivitas di pulau tersebut tahun 1847-1851, dan sebaliknya apakah
Singapura bisa membuktikan klaim yang mereka akui yakni ³kepemilikan sah atas Pedra
Branca/Batu Puteh´ pada pertengahan abad 19 saat pembangunan mercusuar oleh
perwakilan kerajaan Inggris dimulai. Pembebanan pembuktian ini menegaskan bahwa hal
tersebut adalah prinsip umum hukum, ditetapkan oleh yurisprudensi, bahwa seseorang yang
mengajukan fakta untuk mendukung klaimnya harus membuktikan kebenaran fakta
tersebut.
-4| 6
 *76(8/)

c4|  
69:
 *

Mahkamah memulai dengan mengamati sejarah Pulau ini dan tidak dapat dibantah
bahwa kesultanan Johor, sejak berdirinya pada tahun 1512, menempatkan dirinya sebagai
negara berdaulat dengan domain wilayah pasti di bawah kedaulatannya dan menjadi bagian
dari Asia Tenggara. Setelah menguji argument para pihak, Mahkamah mencatat bahwa,
setidaknya sejak abad ke tujuh belas sampai awal abad ke Sembilan belas, diakui bahwa
domain teritori dan maritim dari kerajaan Johor terdiri atas bagian yang meliputi
Semenanjung Malaya, selat Singapura termasuk pulau Singapura dan pulau-pulau kecil di
wilayah selat (dimana Pedra Branca/Batu Puteh terletak).
Mahkamah kemudian berpindah ke pertanyaan untuk menegaskan apakah hak
kepemilikan asli dari Pedra Branca/Batu Puteh oleh Malaysia bisa dibuktikan secara
hukum. Poin signifikannya adalah bahwa sebuah fakta Pedra Branca/Batu Puteh dikenal
sebagai titik navigasi di selat Singapura. Karena itu pulau tersebut sudah jelas bukan Terra
Incognita. Faktanya bahwa tak ada bukti di semua jejak sejarah tentang kesultanan Johor
yang menyebutkan bahwa ada persaingan untuk mengklaim pulau di sekitar selat Singapura
adalah signifikasi lainny.
Mahkamah mengingatkan kembali pernyataan yang dibuat oleh PCIJ dalam kasus  
      ! , pada poin tidak adanya klaim saingan. PCIJ kemudian
mencatat bahwa, Š 
 
     " #
  $%%   "  "   % Pada kasus sebelum ini,
Š"  &'(&         
! . Karena itu PCIJ menyimpulkan bahwa dengan mempertimbangkan karakter
yang tak dapat ditembus atas bagian yang tidak dikolonisasi oleh negara, raja Denmark dan
norwegia menunjukkan«.pada 1721 sampai 1814 wewenangnya yang cukup untuk
memberi negaranya klaim sah atas kedaulatan, dan bahwa haknya atas Greenland tidak
dibatasi hanya pada area koloni.
Mahkamah mengamati bahwa kesimpulan ini juga digunakan terhadap kasus dewasa ini
terkait pulau kecil yang tak berpenghuni dan tak bisa dihuni, dimana tak ada klaim
kedaulatan oleh kekuasaan dalam kurun waktu awal abad tujuh belasa sampai pertengahan
abad Sembilan belas. Dalam konteks ini Mahkamah juga mencatat bahwa wewenang
negara seharusnya tak terlalu penting ditunjukkan ³pada faktanya tiap waktu tiap poin dari
wilayah´, sebagaimana ditunjukkan dalam kasus ") (Netherlands/United
States Of America).
Meneliti ikatan loyalitas yang ada antara Kesultanan Johor dan Orang Laut , yang
terlibat dalam penangkapan ikan dan kegiatan pembajakan di Selat Singapura, Mahkamah
menemukan deskripsi, dalam laporan resmi kontemporer oleh pejabat Inggris, sifat dan
tingkat hubungan antara Sultan Johor dan Orang Laut mengkonfirmasi hak kepemilikan asli
dari Kesultanan Johor, termasuk Pedra Branca/Batu Puteh. Mahkamah kemudian beralih ke
pertanyaan apakah hak ini berubah dipengaruhi oleh perkembangan dalam periode 1824
sampai 1840.

4|
;;c5  (8-/

Pertama Mahkamah mencatat bahwa bukti dokumentasi secara konklusif menunjukkan
bahwa kesultanan Johor melanjutkan keberadaannya dengan entitas kedaulatan yang sama
antara peiode 1512 sampai 1824, meskipun seiring berjalannya waktu terdapat perubahan
dalam lingkup geografis atas domain wilayah serta perubahan nasib atas kesultanan Johor,
tetapi pergeseran dan perubahan ini tidak berpengaruh terhadap situasi hukum dalam hal
hubungan dengan selat Singapura, yang selalu berada di domain wilayah kesultanan Johor.
Kedua, Mahkamah mengamati bahwa hal ini adalah pijakan bersama antara para pihak
bahwa perjanjian Anglo-Dutch 1824 membagi wilayah kedalam dua bagian²satu berada di
bawah lingkup pengaruh Belanda (kesultanan Riau-Lingga dibawah pimpinan Kesultanan
Abdul Rahman) dan bagian lainnya menjadi lingkup pengaruh Inggris (kesultanan Johor di
bawah kepemimpinan Husein). Namun tampaknya Singapura mengklaim bahwa perjanjian
menjadikan selat dikesampingkan, dan perjanjian menjadikan Pedra Branca/Batu Puteh
berstatus Terra nullius sebagai akibat dari pembagian dari kesultanan Johor lama, Hal ini
meninggalkan sebuah ruang untuk ³kepemilikan sah´ dari Pedra Branca/Pulau Batu Puteh
oleh Inggris selama periode 1847 sampai 1851.
Setelah analisa mendalam dari teks perjanjian Anglo-Dutch 1824, Mahkamah
menyimpulkan bahwa perjanjian tersebut merupakan refleksi hukum dari penyelesaian
secara politik yang ditempuh antara dua kekuatan kolonial untuk membagi domain wilayah
atas kesultanan Johor lama menjadi dua kesultanan yang ditempatkan di bawah lingkup
pengaruh mereka masing-masing. Hal ini dalam skema yang sama menunjukkan tak ada
kemungkinan kekosongan hukum manapun yang memberikan kebebasan bertindak dengan
tujuan mengambil alih kepemilikan secara sah dari sebuah pulau dalam dua lingkup
pengaruh ini.
Referensi umum dalam pasal 12 dari perjanjian Anglo-dutch berbunyi Š     
            "  menunjukkan bahwa semua pulau termasuk
pulau kecil di dalam cakupan wilayah selat Singapura jatuh ke dalam lingkup pengaruh
Inggris. Hal ini secara alamiah mencakup pulau Pedra Branca/Batu Puteh, yang tetap
menjadi bagian kedaulatan dari apa yang selanjutnya tetap disebut ³Kesultanan Johor´
setelah pembagian kesultanan Johor yang lama.

34|
;;<3=>?(8-/

Mahkamahmempertimbangkan relevansi sengketa atas ³perjanjian Crawfurd´ di mana
Sultan dan Temenggong Johor menyerahkan pulau Singapura kepada East India Company.
Mahkamah menyatakan bahwa perjanjian tak bisa dijadikan dasar penetapan klaim Inggris
sebelumnya dan melanjutkan kedaulatan dari kesultanan Johor di semua pulau lain di dalam
dan di sekitar selat Singapura´, termasuk Pedra Branca/pulau Batu Puteh, sebagaimana
Malaysia klaim. Mahkamah bagaimanapun mencatat bahwa penemuan ini tidak c) 
secara signifikan bahwa pulau-pulau di selat Singapura jatuh di luar lingkup pasal II dari
perjanjian ini adalah merupakan Terra Nullius dan tak bisa menjadi subjek perampasan
melalui ³okupasi sah´. Poin terakhir hanya bisa diputuskan dalam konteks apakah akibat
hukum dari pembagian atas kesultanan Johor lama atas pulau-pulau dalam wilayah selat
Singapura, secara khusus berdasarkan perjanjian anglo-dutch dan berdasrkan relevansi
hukum, Vel Non atas surat yang disebut ³Donasi´ pada tahun 1825 yang dikirim dari
sultan Abdul Rahman dari Riau-Lingga kepada saudaranya sultan Husein dari Johor.
4| <?(@-A

Mahkamah menguji apakah surat ³donasi´ dari sultan Abdul Rahman kepada
saudaranya Husein memiliki akibat hukum dalam hal mentransver hak kepemilikan wilayah
yang termaktub dalam surat donasi tersebut. Mahkamah mencatat bahwa surat yang disebut
surat donasi dari sultan Abdul Rahman kepada saudaranya hanya mengkonfirmasi
persetujuan pembagian mereka pada perjanjian Anglo-Dutch tahun 1824 dan karenannya
tak memiliki akibat hukum.

+4| 6
 *
(8/)

Mahkamah mencatat bahwa dalam rangka untuk menentukan apakah Malaysia telah
mempertahankan kedaulatan atas Pedra Branca/Batu Puteh setelah 1844 atau apakah
kedaulatan beralih pada Singapura, dibutuhkan fakta yang relevan²yang terdiri (sebagian
besar) atas tindakan para pihak selama periode tersebut²dengan mengacu pada prinsip dan
aturan hukum internasional.

c4|
6
67  7

Pada tahun 1836 pedagang dan pelaut menyatakan keinginan untuk membangun satu
atau lebih mercusuar untuk mengenang James Horsburgh, seorang hidrografer untuk
Perusahaan Hindia Timur. Pada November 1836 Pedra Branca/Batu Puteh diidentifikasikan
sebagai lokasi yang sesuai. Dalam sebuah surat yang dikirim kepada pemerintah Singapura
tertanggal 1 maret 1842 Pedra Branca/Batu Puteh adalah satu-satunya lokasi yang
disebutkan secara spesifik. Mahkamah mencatat dalam komunikasi formal pertama, Privat
commercial tertarik dan mengatakan bahwa pemerintah Inggris akan menerima proposal
dan menyediakan dana lebih lanjut.
Dalam korespondesi selanjutnya antara pemohon dan pemerintah Inggris, beberapa
lokasi alternative mulai dipertimbangkan. Pada oktober 1844, pulau Peak rock
diidentifikasikan sebagai tempat yang paling dipertimbangkan. Pada akhir November
W.J.Butterworth, yang pernah menjadi pimpinan Strait Settlements tahun 1843, menerima
balasan surat yang yang ia tulis kepada Sultan dan temenggong dari Johor. Meskipun telah
berusaha dicari oleh Malaysia dan Singapura tetapi surat asli gubernur tersebut tak pernah
diketemukan. Namun para pihak telah memberi salinan surat balasan tersebut yang telah
dialih bahasakan untuk Mahkamah. Surat tersebut tertanggal 25 november 1844, yang
berisi Sultan dan Temenggong menyetujui pembangunan mercusuar di selat Singapura,
tanpa menyebutkan lokasi jelasnya.
Mahkamah kemudian mengkaji persetujuan dari Sultan dan temenggong Johor. Apakah
persetujuan tersebut berarti kesultanan Johor telah member kedaulatan atas bagian tertentu
dari wilayah yang dipilih oleh Inggris untuk kepentingan pembangunan dan operasi
mercusuar untuk tujuan yang telah dinyatakan. Atau apakah pemberian ijin hanya untuk
pembangunan dan operasi mercusuar. Sayangnya Mahkamah kemudian menyatakan surat
tersebut tidak konkulsif, tak bisa ditarik kesimpulan.
Mengingat tidak adanya persetujuan tertulis yang berkaitan dengan modalitas dari
pemeliharaan mercusuar dan pulau di mana ia akan dibangun, Mahkamah menganggap
bahwa hal tersebut tidak dalam posisi untuk menyelesaikan masalah tentang isi perjanjian
yang mungkin dicapai pada November 1844.

4|
67
=6 7

Mahkamah mencatat bahwa rencana pembangunan dan realisasinya ada di tangan
surveyor pemerintah Singapura, John Thompson, yang ditetapkan sebagai arsitek dari
proyek oleh gubernur Butterworth. Pada desember 1849 surveyor pemerintah mulai
mengatur konstruksi. Pada 24 mei 1850 peletakan batu pertama telah dilakukan. Mahkamah
mencatat fakta bahwa tak ada wewenang Johor pada saat upacara. Bahkan Tak ada indikasi
bahwa mereka diundang oleh gubernur untuk hadir . Hal ini memberikan kesan bahwa
wewenang inggris dan Singapura tidak perlu mempertimbangakan pemberitahuan kepada
Johor atas aktivitas mereka di pedra branca atau batu puteh. Temenggong dari Johor
mengunjungi pembangunan hanya sekali, Sembilan hari selepas peletakan batu pertama,
disertai 30 pengikutnya.
Setelah menggambarkan mode;litas pembangunan dan pengawasan mercusuar,
Mahkamah mencatat bahwa tak dapat ditarik sebuah kesimpulan terkait kedaulatan.
Malahan hal ini dipandang sebagai kegiatan yang memperjelas masalah atas pandangan
yang berkembang terhadap wewenang di Johor dan di Singapura mengenai kedaulatan atas
Pedra Branca/Batu Puteh.
34| 

(8A-6(@A-

Mahkamah mempertimbangkan System Straight Light dan terkait legislasi Inggris dan
Singapura. Mahkamah mencatat bahwa sebagai masalah hukum, sebuah mercusuar bisa
dibangun di dalam wilayah sebuah negara dan dikelola oleh negara lain---dengan terikat
pada negara pertama. Sebuah elemen sentral dalam argument Malaysia adalah bahwa
karena mercusuar Horsburgh dibangun di atas sebuah pulau di mana Johor adalah pihak
yang berkuasa atas semua tindakan dari pemerintah inggris dan, berikut pula, pemerintah
Singapura, jadi hal tersebut hanyalah tindakan terkait serangkaian pengerjaan mercusuar.
Secara bertentangan Singapura mengatakan bahwa beberapa tindakan bukan hanya
tindakan dalam rangka operasi mercusuar tetapi dalam keseluruhan atau bagian tindakan
adalah merupakan tindakan a titre de souverain. Singapura mengacu pada undang-undang
yang berlaku dengan sendirinya dan merupakan cikal bakal kepemilikan, yang mengatur
dana pembiayaan dan operasi mercusuar, sepanjang pengawasan dibawah beberapa
lembaga pemerintahan, dan mengatur aktivitas orang-orang yang menetap, mengunjungi
dan bekerja di Pedra Branca/Batu Puteh. Dalam pandangan Mahkamah, bagaimanapun
ketentuan yang dilibatkan oleh Singapura tidak menunjukkan kedaulatan inggris atas
wilayah yang mereka gunakan, karena mereka menggunakan secara bersamaan terhadap
mercusuar yang tak dapat disangkal berada di wilayah Johor dan Pedra Branca/Batu Puteh
tentunya dan terlebih lagi tidak menunjukkan secara jelas tentang kedaulatan.
Beralih ke beberapa perkembangan konstitusional yang melibatkan Malaysia, termasuk
Straits settlemen tahun 1927 dan Johor Territrial waters Agreemnt, Mahkamah
mempertimbangkan bahwa mereka tidak membantu menyelesaikan masalah kedaulatan atas
pedra branca. Mahkamah mengamati bahwa tujuan dari persetujuan adalah untuk
³mengembalikan´ kepada Johor daerah-daerah tertentu yang telah diserahkan oleh Johor
kepada East India Company tahun 1824 dan semuanya berada dalam jarak 10 mil dari
pulau utama Singapura. Mereka tak bisa memasukkan pedra branca, karena pulau tersebut
tidak ada dalam lingkup yang disebutkan dalam persetujuan.
Dengan memperhatikan pernyataan Malaysia bahwa Temenggong melanjutkan
pengawasan perikanan di wilayah sekitar Pedra Branca/Batu Puteh setelah pembangunan
mercusuar, sebagai mana setunjukkan dengan pertukaran korespondensi antara Johor dan
pemerintah Inggis di Singapura tahun 1861, Mahkamah mengamati bahwa surat mengacu
pada kegiatan yang terjadi dalam rentang 20 mil dari pulau Singapura. Karenanya tak bisa
disimpulkan fakta bahwa pemerintah Singapura tidak dalam konteks yang menunjuk pada
yurisdiksi atas Pedra Branca/Batu Puteh.
 
4| (@A+

Mahkamah mencatat bahwa pada 12 juni 1953, sekretaris colonial Singapura menulis
surat kepada penasehat Inggris kepada sultan Johor, bahwa dia telah secara langsung
meminta informasi tentang batu kirakira 40 mil dari Singapura yang dikenal sebagai Pedra
Branca/Batu Puteh´ dalam konteks ³determinasi atas batas-batas perairan wilayah koloni´.

4| 

(@A+

Kedua pihak berpendapat bahwa patroli angkatan laut dan latihan di sekitar Pedra
Branca/Batu Puteh sejak pembentukan angkatan laut masing-masing menunjukkan hak
kedaulatan mereka atas pulau Pedra Branca/Batu Puteh. Mahkamah tidak melihat aktivitas
dari kedua pihak ini ini sebagai sesuatu yang penting. Mahkamah melihat kapal angkatan
laut yang beroperasi di mercusuar Singapura sering melewati area dekat Pedra Branca/Batu
Puteh hanya karena kedekatan geografis.
Adapun klaim Singapura bahwa penegakan bendera Inggris dan Singapura di mercusuar
Horgsburgh dari sejak pengawasan mercusuar sampai saat ini adalah juga tidak
menunjukkan kedaulatan, Mahkamah menyatakan bahwa pengibaran bendera bukanlah
cara manifestasi kedaulatan yang dikenal.
Selanjutnya Mahkamah melihat pada instalasi statsiun Relay oleh angkatan laut
Singapura Mei 1977, untuk sebuah stasiun penyiaran militer di Pedra Branca/Batu Puteh.
Singapura berpendapat bahwa instalasi tersebut dilakukan secara terbuka. Malaysia
menegaskan bahwa instalasi tersebut dilakukan secara rahasia dan baru diketahui pihak
Malaysia melalui Memorial Singapura. Mahkamah tidak dapat menentukan sisi mana yang
benar apakah Malaysia mengetahu atau tidak tentang instalasi tersebut. Tetapi tindakan
tersebut menunjukkan sisi inkonsistensi Singapura dalam hal mengakui keterbatasan atas
kebebasannya bertindak.
Adapun rencana untuk mengklaim kembali wilayah sekitar Pedra Branca/Batu Puteh,
yang telah dipertimbangkan dalam berbagai kesempatan pada tahun 1970 dengan
wewenang pelabuhan Singapura, saat itu reklamasi belum diproses dengan dan beberapa
dokumen tidak umum, iklan tender adalah sesuatu yang umum dan menarik perhatian.
Lebih lanjut tindakan pengusulan, seperti periklanan adalah manifestasi kedaulatan yang
nyata.
Pada tahun 1968 pemerintah Malaysia dan Continental oil company dari Malaysia
menandatangani sebuah persetujuan pemberian kuasa exsplorasi minyak tanah di seluruh
area selat continental lepas pantai timur Malaysia barat. Mengingat batasan territorial dan
kualifikasi dalam konsesi dan tidak ada kaitannya dengan Pedra Branca/Batu Puteh maka
Mahkamah tidak memperhitungkan konsesi ini.
Melalui perundang-undangan tahun 1969 Malaysia memperluas wilayah perairannya
dari 3 sampai 12 mil laut. Malaysia berpendapat bahwa undang-undang perluasan wilayah
perairan Malaysia tersebut mencakupkan pulau Pedra Branca/Batu Puteh. Mahkamah
mencatat bagaimanapun apa yang dimaksud perundang-undangan sebuah negara
identifikasi area penerapannya (dengan logika umum) hanya berlaku di ³wilayah
Malaysia´.
Malaysia memunculkan beberapa persetujuan wilayah untuk mendukung klaimnya atas
kedaulatan Pedra Branca/Batu Puteh yakni ¢Continental Shelf Agreement antara Indonesia
Malaysia tahun 1969, The Territorial Sea Agreement tahun 1970 dan Territorial Sea
Agreement tahun 1973 antara Indonesia dan Singapura. Mahkamah tidak
mempertimbangkan persetujuan-persetujuan tersebut bisa mendukung posisi Malaysia
dalam hal klaim kedaulatan atas pedra branca/pulau batu puteh, karena persetujuan tersebut
tidak mencakup pedra branca/batu puteh. Mahkamah juga tidak melihat ada signifikansi
tujuan dari proses kooperasi di selat malaka dan Singapura yang diadopsi oleh Indonesia ,
Malaysia dan Singapura pada tahun 1971 yang diadakan oleh Singapura.
Akhirnya, Mahkamah beralih pada peta resmi yang berjumlah hampir seratus yang
diajukan oleh para pihak. Malaysia menekankan bahwa semua peta sebelum diadaknnya
peradilan hanya satu yang dipublikasikan pemerintah Singapura yang mencakupkan Pedra
Branca/Batu Puteh dalam wilayah mereka. Peta tersebut dipublikasikan sampai tahun 1995.
Mahkamah mengingatkan bahwa Singapura memang tidak, sampai tahun 1995,
mempublikasikan peta yang mencakup Pedra Branca/Batu Puteh dalam teritorinya.



2  1 c#  3 

c6

Mahkamah mencatat argumen Singapura bahwa kedaulatan middle rock dan south
ledge mengikuti kedaulatan atas pedra branca/pulau batu puteh. Karenanya, menurut
Singapura, siapapun yang mendapatkan kedaulatan atas batu puteh akan juga mendapatkan
kedaulatan atas Middle Rocks dan South of Ledge, yang, diklaim adalah kesatuan dari
Pedra Branca./Batu puteh dan dibentuk dari kesatuan kelompok fitur maritim yang sama.
Malaysia di sisi lain berpendapat bahwa tiga fitur bukan merupakan satu kelompok yang
bisa diidentifikasikan secara historis atau geomorfologi,dan ditambahkan bahwa ketiga
pulau ini selalu dikenal sebagai fitur yang berada di dalam jurisdiksi Johor/Malaysia.

2  1 c#  1



 Mahkamah mencatat bahwa rupanya south ledge jatuh dalam wilayah perairan yang
tumpang tindih oleh tanah daratan Malaysia. Oleh pedra branca/batu puteh dan middle
rocks. Mahkamah mengingatkan bahwa dalam persetujuan khusus dan di pengajuan
terakhir, telah secara spesifik diminta oleh para pihak untuk memutuskan kedaulatan
masing-masing fitur maritime ini secara terpisah. Pada saat yang sama Mahkamah mengkaji
bahwa tidak dimandatkan oleh para pihak untuk menarik batas atas delimitasi terkait
wilayah perairan Malaysia dan Singapura dalam masalah ini.
Dalam keadaan ini, Mahkamah menyimpulkan bahwa kedaulatan atas south ledge,
sebagai sebuah elevasi gelombang rendah, menjadi milik negara dengan wilayah
perairannya merupakan tempat dimana south ledge berada.

74|
6' 67

Dari semua bahan yang diajukan oleh para pihak, ada beberapa yang mengandung
permasalahan signifikan terkait dengan sengketa kedaulatan atas Pedra Branca. Permasalahan ini
dipertimbangkan oleh Mahkamah dalam mengambil keputusan. Brikut permasalahan tersebut :

A.| Mahkamah menyimpulkan dari awal bahwa domain wilayah kesultanan Johor mencakup
pada prinsipnya semua pulau termasuk pulau-pulau kecil dalam selat Singapura, termasuk
Pedra Branca/Batu Puteh. Mahkamah menemukan bahwa kepemilikan pulau ini oleh
kesultanan tak pernah diprotes oleh kekuasaan lain dalam wilayah dan dan semua keadaan
telah diamati semua pihak puas dengan kondisi dari ³kedaulatan yang berlangsung secara
terus-menerus dan damai´. Mahkamah karenanya berpendapat bahwa kesultanan Johor
memiliki hak kepemilikan asli dari Pedra Branca/Batu Puteh.
B.| Mahkamah menyimpulkan bahwa klaim Malaysia benar, pada saat Inggris memulai
persiapan pembangunan mercusuar di Pedra Branca/Batu Puteh tahun 1844, pulau ini ada di
bawah kedaulatan Sultan Johor.
C.| Klaim Singapura bahwa penegakan bendera Inggris dan Singapura di mercusuar
Horgsburgh dari sejak pengawasan mercusuar sampai saat ini adalah juga jelas tidak
menunjukkan kedaulatan, Mahkamah menyatakan bahwa pengibaran bendera bukanlah
cara manifestasi kedaulatan yang dikenal. Tetapi Mahkaman memberi catatan kritis bahwa
meskipun pengibaran bendera tidak bukan cara yang dikenal dalam mpenguasaan efektif
namun pada faktanya Malaysia tidak protes atas pengibaran bendera tersebut di mercusuar
Horsburgh, dan tampaknya hal ini memberatkan posisi Malaysia. Tindakan diam ini
dianggap persetujuan.
D.| Mahkamah mempertimbangkan pernyataan Singapura bahwa mereka dan pendahulunya
telah menerapkan wewenang kedaulatan atas Pedra Branca/Batu Puteh dengan menyelidiki
kecelakaan kapal di perairan wilayah pulau. Disimpulkan bahwa tindakan ini memberi
dukungan signifikan terhadap posisi Singapura, Mahkamah juga mengingatkan kembali
bahwa hal ini terjadi pada juni 2003, setelah persetetujuan Khusus menyerahkan sengketa
kepada Mahkamah telah resmi berlaku, bahwa Malaysia memprotes dan tidak menyetujui
kategori tindakan Singapura tersebut
E.| Mahkamah mengamati bahwa, iklan tender adalah sesuatu yang penting dan menarik
perhatian. Karena ini adalah masalah publikasi di ruang umum. Lebih lanjut tindakan
pengusulan, seperti periklanan (yang seharusnya diprotes Malaysia tapi pada kenyataannya
tidak) merupakan manifestasi kedaulatan yang bahkan lebih dari pada tindakan
pemeliharaan dan operasi mercusuar. Hal ini tentunya mendukung posisi Singapura.
F.| Setelah menguji argumen atas penggunaan Singapura terhadap pengawasan kunjungan
ekslusif ke Pedra Branca/Batu Puteh, termasuk Malayasia, pengadiloan menyatakan bahwa
banyak kunjungan dari orang-orang Singapura terkait pemeliharaan dan operasi mercusuar
dan bukan sesuatu yang penting dalam kasus ini. Bagaimanapun Mahkamah menemukan
bahwa tindakan Singapura dengan memperhatikan pemberian ijin atau tidak pada pejabat
Malaysia dalam konteks mengamati perairan sekitaran pulau pada tahun 1978 harus
dipandang sebagai tindakan c " dan memberi dukungan signifikan pada
klaim Singapura atas kedaulatan Pedra Branca/Batu Puteh.
G.| Bahwa kekagalan bertindak/merespon dalam pandangan Mahkamah lebih memberatkan
posisi Malaysia ketimbang persetujuan Mahkamah terhadap peta yang diterbitkan Malaya
dan Malaysia. Mahkamah menyimpulkan bahwa peta tersebut cenderung untuk
mengkonfirmasi bahwa Malaysia menganggap Pedra Branca/Pulau Batu Puteh jatuh di
bawah kedaulatan Singapura.
H.| Mahkamah pertama mengamati bahwa isu status hukum Middle Rocks harus dinilai dalam konteks
penalaran pada pokok dalam kasus tersebut. Mengingat bahwa Mahkamah telah mencapai
kesimpulan bahwa kedaulatan atas Pedra Branca / Pulau Batu Puteh jatuh pada Singapura dengan
perimbangan keadaan khusus yang meliputi kasus ini. Namun keadaan ini jelas tidak berlaku ke
fitur maritim lainnya di sekitar Pedra Branca Batu / Pulau Puteh, yaitu Middle Rocks dan Ledge
Selatan. Tak satu pun dari tindakan para Pihak disebutkan pada bagian sebelumnya dari dari
peradilan. Karena itu Mahkamah menemukan bahwa kepemilikan asli dari middle rocks seharusnya
tetap ada pada Malaysia sebagai pengganti sultan Johor.
I.| Terkait south ledge, Mahkamah mencatat bahwa ada masalah khusus yang
dipertimbangkan, karena south Ledge menyajikan fitur geografis khusus yaitu elevasi
gelombang rendah. Mahkamah mengingatkan pasal 13 UNCLOS dan mempertimbangkan
yurisprudensi sebelumnya, argument para pihak, sebaik bukti yang ditampilkan sebelumnya

34 6
67

Mahkamah memutuskan bahwa kedaulatan atas Pulau Pedra Branca/Batu Puteh menjadi milik
Singapura meskipun Mahkamah mengakui bahwa kepemilikan asli pulau tersebut sesuai dengan fakta
historis merupakan milik Malaysia sebagai penerus kesultanan Johor. Pada intinya telah terjadi
perpindahan kedaulatan atas pulau Pedra Branca/Batu Puteh dikarenakan tindakan para pihak dan
pendahulunya. Dasar hukum yang dipakai oleh Mahkamah dalam memutuskan sengketa ini adalah
pendekatan prinsip-prinsip dalam hukum internasional tentang perolehan wilayah.
Mahkamah mencatat bahwa setiap pengambilan alih kedaulatan bisa melalui jalan persetujuan
antara dua negara yang bersangkutan. Seperti misalnya persetujuan dalam bentuk perjanjian atau
bahkan Persetujuan diam-diam dan tersirat dalam tindakan para pihak. Memang hukum internasional
tidak menentukan bentuk khusus tetapi lebih menekanan pada maksud/tujuan para pihak.
Kedaulatan atas wilayah bisa beralih karena kegagalan sebuah negara (yang memiliki
kedaulatan atas wilayah) dalam merespon tindakan c   " negara lain. c  
" Singapura dan pendahulunya terhadap Pulau Pedra Branca/Batu Puteh berlangsung tanpa
protes dari Malaysia dan pendahulunya. Termasuk saat Singapura melakukan kegiatan publikasi
seperti periklanan, Malaysia tidak menunjukkan respon setuju ataupun menolak. Dalam hukum
internasional tindakan diam juga diartikan sebagai persetujuan =    )   "  dan bisa
memperkuat tindakan c   "] Ini adalah dasar hukum signifikan yang mendukung
keputusan Mahkamah.
Beralih pada Middle Rock. Dasar hukum yang digunakan Mahkamah dalam memutuskan status
Middle Rock masih dalam penalaran yang sama. Mahkamah menguji apakah ada tindakan c 
" Singapura di Middle Rock yang tidak diprotes Malaysia. Namun dari awal persidangan
Mahkamah mencermati tak ada satupun tindakan dari para pihak yang menunjukkan hal tersebut.
Bahkan malah tak membahas Middle Rock sama sekali melainkan hanya bertitik pusat pada satu objek
yakni Pedra Branca/Batu Puteh. Maka dengan ini Mahkamah menegaskan bahwa Middle Rock tidak
mengalami peralihan kedaulatan. Statusnya tetap sama seperti status kepemilikan aslinya.
Fitur maritime lainnya yang menjadi objek sengketa adalah South Ledge. Namun dalam
konteks South Ledge, Mahkamah memberlakukan catatan khusus. Mahkamah menyatakan, Singapura
dan Malaysia tidak memandatkan pengadilan PBB untuk menetapkan garis teritorial laut yang
memisahkan kedua negara, karena South Ledge hanya bisa dilihat ketika pasang rendah. Oleh sebab itu
Mahkamah hanya memutuskan bahwa status kepemilikan South Ledge ,sebagai sebuah elevasi
gelombang rendah, menjadi milik negara dengan wilayah perairannya merupakan tempat dimana South
Ledge berada.

04 1 cc  
 c 

Mahkamah memutuskan sebagai berikut :

9(: (-6=/

Memutuskan bahwa kedaulatan atas Pedra Branca / Pulau Batu Puteh milik Republik Singapura;

' 6: Wakil Presiden, Pejabat Presiden, Al-Khasawneh; Hakim Ranjeva, Shi, Koroma,
Buergenthal, Owada, Tomka, Keith, Sepúlveda-Amor, Bennouna, Skotnikov; Hakim ad hoc
Sreenivasa Rao;

=# Hakim Parra-Aranguren, Simma, Abraham; Hakim ad hoc Dugard;


9-: (A6=(

Memutuskan bahwa kedaulatan atas Middle Rocks adalah milik Malaysia;

' 6# Wakil Presiden, Pejabat Presiden, Al-Khasawneh; Hakim Ranjeva, Shi, Koroma,
Parra-Aranguren, Buergenthal, Owada, Simma, Tomka, Abraham, Keith, Sepúlveda-Amor, Bennouna,
Skotnikov; Hakim ad hoc Dugard;

=# Hakim ad hoc Sreenivasa Rao;

9+: (A6=(

Memutuskan bahwa kedaulatan atas Ledge Selatan milik Negara di wilayah perairan yang
bersangkutan.

' 6# Wakil Presiden, Pejabat Presiden, Al-Khasawneh; Hakim Ranjeva, Shi, Koroma,
Buergenthal, Owada, Simma, Tomka, Abraham, Keith, Sepúlveda-Amor, Bennouna, Skotnikov;
Hakim ad hoc Dugard, Sreenivasa Rao;
=# Hakim Parra-Aranguren.

041c
  

4| c7
=! ;
6 

Yang dimaksud dengan peristiwa hukum adalah serangkaian peristiwa yang terjadi dan memilki
akibat hukum. Serangkaian peristiwa yang diajukan para pihak kepada Mahkamah internasional terkait
sengketa Singapura dan Malaysia dalam hal kedaulatan atas Pedra Branca/Batu Puteh memiliki akibat
hukum. Persitiwa hukum ini nantinya oleh Mahkamah akan digunakan untuk merumuskan masalah
yang ada untuk kemudian menetapkan sebuah keputusan yang mengikat kedua belah pihak. Oleh sebab
itu, keterkaitan antara persitiwa hukum dengan analisis masalah mutlak adanya. Dalam kasus sengketa
ini, peristiwa hukumnya sudah jelas terkait dengan analisis masalah yang didentifikasi oleh
Mahkamah. Peristiwa hukum adalah tempat Mahkamah mencari rumusan masalah serta penyelesaian
dari sengketa.
Seperti diketahui bahwa para pihak yakni Singapura dan Malaysia mengajukan sengketa wilayah
kedaulatan. Spesifiknya meminta Mahkamah menetapkan kedaulatan atas 3 fitur maritime yakni Pulau
Pedra Branca/Batu Puteh, Middle Rock, dan South Ledge. Mahkamah kemudian mencermati peristiwa
hukum yang ada di dalam Memorial dan Counter Memorial para pihak. Peristiwa hukum yang cukup
signifikan dalam sengketa ini adalah pembangunan Mercusuar Horsburgh di pulau Pedra Branca/Batu
Puteh oleh pihak Singapura (dengan ijin kesultanan Johor pada saat itu). Menurut saya ini adalah titik
peristiwa yang menjadi cikal bakal tindakan A titre de souvrein dari Singapura terhadap kedaulatan
atas Pedra Branca/Batu puteh. Setelah mercusuar Horsburgh rampung, Singapura masih melanjutkan
tindakan tindakan efektif di pulau tersebut tanpa mendapat protes dari Malaysia sebagai pemegang hak
kepemilikan asli.
Kemudian masalah pun mulai muncul saat Malaysia menerbitkan sebuah peta berjudul ³Territorial
Waters and Continental Shelf Boundaries of Malaysia´ (selanjutnya disebut ³peta 1979´). Peta
menggambarkan pulau Pedra Branca/Batu Puteh berada di dalam wilayah perairan Malaysia..
Mengingat kurangnya kemajuan dalam negosiasi bilateral, akhirnya Para Pihak setuju untuk
menyerahkan sengketa untuk diselesaikan oleh Mahkamah Internasional. Mahkamah kemudian
mengidentifikasi konteks sengketa ini adalah wilayah kedaulatan dengan perumusan masalah : ³Pada
kedaulatan negara manakah Pulau Pedra Branca/Batu Puteh, Middle Rock, dan South Ledge berada?
Perumusan masalah ini sangat terkait dengan peristiwa hukum yang telah dipaparkan sebelumnya.
Karena bila dicermati, peristiwa hukum mulai dari pendirian kesultanan Johor sampai pada penguasaan
efektif Singapura terhadap pulau Pedra Branca/Batu Puteh, telah menyiratkan peralihan kedaulatan
dengan cara yang dikenal dalam prinsip hukum internasional.

74|
  6 ; 

Dalam kasus ini, Mahkamah Internasional memakai berbagai pendekatan dalam mengkaji masalah.
Pendekatan yang pertama adalah pendekatan historis. Mahkamah mencermati mulai dari sejarah
pendirian kesultanan Johor. Riwayat kepemilikan wilayah kesultanan Johor. Riwayat perijinan
pendirian mercusuar Horsburgh. Sampai kemudian tindakan para pihak terhadap Pedra Branca/Batu
Puteh. Pendekatan ini dipakai mahkamah untuk mengidentifikasi masalah yang muncul.

Dalam kasus ini, Mahkamah juga Rupanya memakai pendekatan yurisprudensi/preseden. Dimana
Mahkamah mempertimbangkan putusan pengadilan dalam kasus lainnya dalam tataran yang sama
yakni kasus sengketa kedaulatan wilayah. Kasus tersebut adalah Legal Status of Eastern Greenland.
Mahkamah mengadopsi sebagian catatan pengadilan dalam sengketa Legal Status of Eastern
Greenland. Mahkamah mengidentifikasikan persamaan dalam hal klaim saingan. Kepemilikan
kesultanan Johor atas Pedra Branca/Batu Puteh pada faktanya tidak mendapat protes dari pihak
manapun, oleh sebab kepemilikannya secara sah ada di kesultanan Johor.
4|  

Keputusan Mahkamah yang memberikan hak kedaulatan Pedra Branca/Batu Puteh kepada
Singapura adalah sebuah keputusan yang tepat berdasarkan prinsip hukum internasional. Tindakan
Singapura ini dikenal sebagai Preskripsi. Unsur penting dalam preskripsi adalah bahwa wilayah
tersebut bukan terra nullius. Pengadilan menemukan bahwa Pedra Branca/Batu Puteh bukanlah
wilayah terra nullius. Pulau ini kepemilikan awalnya ada di Malaysia. Namun dengan gagalnya
Malaysia dan pendahulunya merespon tindakan pencaplokan Singapura yang berlangsung secara
damai dan terus-menerus menyebabkan beralihnya kedaulatan dari Malaysia ke Singapura. Penulis kira
putusan dan dasar hukum yang digunakan oleh Mahkamah sudah tepat.
Sedangkan untuk objek sengketa lainnya seperti Middle Rock dan South Ledge, Mahkamah
memberikan catatan yang berbeda. Middle Rock diputuskan tetap berada di bawah kepemilikan
aslinya, yakni Malaysia. Karena setelah meneliti fakta yang ada, Mahkamah tak melihat adanya
unsure-unsur yang bisa amembuat kedaulatan atas Middle Rock beralih ke dalam kepemilikan
Singpaura. Singapura berargumen bahwa Middle Rock merupakan satu kesatuan dengan pulau Pedra
Branca/Batu Puteh, oleh sebab itu siapapun yang berhak atas Pedra Branca/Batu Puteh secara otomatis
juga memperoleh kepemilikan atas Middle Rock. Malaysia berpendapat sebaliknya, Middle Rock
bukanlah satu kesatuan dengan Pedra Branca/Batu Puteh. Mahkamah tampaknya lebih cenderung
mempertimbankan argument Malaysia dan memutuskan bahwa Middle Rock tetap di bawah
kedaulatan Malaysia. Pada titik ini ada yang beranggapan bahwa keputusan ini semacam win-win
solution, namun penulis melihat bahwa putusan ini telah sesuai dengan prinsip hukum internasional.
Untuk South Ledge, Mahkamah memutuskan bahwa bebatuan tersebut menjadi kepemilikan oleh
negara dimana wilayah perairannya mencakup letak South Ledge. Banyak yang menganggap
Mahkamah telah membuka alur sengketa baru. Namun menurut hemat Mahkamah, South ledge
memang tak bisa disamakan dengan dua fitur maritime lainnya. Bagaimanapun south Ledge berbeda.
South Ledge semacam karang fiktif. Wujudnya baru terlihat saat terjadi elevasi gelombang rendah.

B4 
c 

Dalam hukum internasional dikenal beberapa cara dalam hal perolehan wilayah. Seperti
Okupasi (pendudukan), Aneksasi (penaklukan), Preskripsi atau perolehan dengan cara menduduki
sebuah wilayah dalam jangka waktu tertentu secara terus menerus dengan sepengetahuan dan tanpa
keberatan dari pemiliknya, Cessi atau penyerahan secara damai, dan Akresi yakni perolehan wilayah
karena faktor alam. Khusus dalam kasus ini bisa dilihat bahwa perolehan wilayah oleh Singapura
dengan cara Preskripsi.
Mahkamah memutuskan bahwa kedaulatan atas Pedra Branca/Batu Puteh telah beralih pada
Singapura sejak tahun 1980. Dasar pertimlah pertimbangan dari Mahkamah adalah pada faktanya,
Malaysia yang memiliki Hak kepemilikan awal pada Pulau tersebut tidak menunjukkan keberatannya
bahkan bersikap diam terhadap serangkaian tindakan Singapura di Pedra Branca/Batu Puteh dalam
kurung waktu yang cukup lama dan terus menerus bahkan sampai kasus ini diajukan Mahkamah
Internasional. Adapun Middle Rock tetap pada kepemilikan Malaysia karena tidak ditemukan adanya
celah fitur maritime tersebut untuk beralih kepemilikannya. Sedangkan South Ledge ditetapkan akan
menjadi milik negara yang wilayah perairannya mencakup letak South Ledge di dalamnya.
Catatan kritis dari sengketa ini adalah bahwa sebuah tindakan diam bukan berati tidak memiliki
implikasi apa-apa. Terkait dengan preskripsi, diam diartikan sebagai persetujuan. Mengenai keputusan
Mahkamah, penulis merasa bahwa keputusan yang diambil adalah memang murni sesuai dengan
pertimbangan dan dasar hukum internasional. Penulis tidak sependapat dengan selentingan yang
mengatakan bahwa putusan Pedra Branca/Batu Puteh adalah milik Singapura dan Middle Rock tetap
milik Malaysia, merupakan putusan yang ditempuh mahkamah sebagai jalan win-win solution. Putusan
Middle Rock tetap berada di bawah kedaulatan Malaysia bukanlah sekedar pengobat hati karena
Mahkamah memberikan kedaulatan atas Pedra Branca/Batu Puteh kepada Singapura. Penulis
mencermati bahwa memang pada faktanya tak ada tindakan preskripsi atas Middle Rock.