Anda di halaman 1dari 4

Nama : Hesti Elvina

NIM : 20180811024012

SOAL UJIAN TENGAH SEMESTER


PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
REGULER SEMESTER VI
TRI YANUARIA.,S.H.,M.H

1. Sebutkan dan jelaskan 7 perbuatan utama Korupsi?


2. sebutkan dan jelaskan serta berikan contoh masing-masing 1
contoh dilingkungan kerja saudara tentang nilai-nilai dasar
anti korupsi?
3. Sebutkan dan jelaskan subjek hukum pidana korupsi?
4. Sebutkan dan jelaskan unsur-unsur tindak pidana korupsi

Jawab :

1.
 Merugikan keuangan negara. Karenaa keuangan negara
itu bersumber dari rakyak jika keuangan negara menipis
bisa negara kita bisa menjadi negara miskin. Yang kaya
adalah orng” yang telah berkorupsi
 Suap. Seperti memberikan tujuan dengan maksud
tertentu
 Penggelapan dalam jababatan : memanfaatkan
jawabatannya dengan pengelapan dana untuk
kepentingan pribadi
 Pemerasan : mengambil hak mikik orang lain secara
paksa
 Perbuatan curang : seperti melakukan kegiatan yang
tidak seharusnya
 Benturan kepentingan dalam pengadaan : Orang atau
badan yang ditunjuk untuk menghadirkan dipilih
melalui proses seleksi tender. Proses ini harus berjalan
secara bersih dan jujur
 Gratifikasi : pemberian hadiah dengan maksud dan
tujuan tertentu
2.
 Jujur contohnya : jujur dalam berkata kepada orang tua
kalau mau mengerjakan kelompok
 Peduli : peduli terhadap orang yang tidak mampu
 Mandiri : mandiri dalam mengerjakan tugas individu
yang di bberikan dosen
 Disiplin : disiplin tepat waktu saat masuk kuliah
 Tanggung jawab : tanggung jawab jika di beri amanah
oleh seseorang
 Adil : adil dalam memberikan jajanan atau makanan
kepada saudara
 Sederhana : makan dengan lauk apa adanya
 Kerja keras : kerja keras dalam mengerjakan tugas
membuat video yang di berikan oleh dosen
 Berani : berani melawan orang-orang yang bertindak
seenaknya

3.
UU No. 31 tahun 1999
1) Setiap Orang (Pasal 1 angka 3) yang meliputi:
a. orang perseorangan: siapa saja, setiap orang, pribadi
kodrati;
b. korporasi (Pasal 1 angka 1): kumpulan orang atau
kekayaan yang terorganisasi, baik merupakan badan
hukum maupun bukan badan hukum;

2) Pegawai Negeri:
a. pegawai negeri sebagaimana dimaksud dalam UU
tentang kepegawaian (sekarang UU ASN);
b. pegawai negeri sebagaimana dimaksud dalam
KUHP;
c. rang yang menerima gaji/upah dari keuangan
negara/daerah;
d. orang yang menerima gaji/upah dari suatu
korporasi yang menerima bantuan dari keuangan
negara/daerah;
e. orang yang menerima gaji/upah dari korporasi yang
mempergunakan modal atau fasilitas dari
negara/masyarakat.

3) Penyelenggara negara.
Penyelenggara Negara
Menurut UU No. 28 Tahun 1999, Penyelenggara Negara,
meliputi:
 Pejabat Negara pada Lembaga Tertinggi Negara
 Pejabat Negara pada Lembaga Tinggi Negara
 Menteri
 Gubernur
 Hakim
 Pejabat Negara lain sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku, dan
 Pejabat lain yang memiliki fungsi strategis dalam
kaitannya dengan penyelenggaraan negara sesuai
dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku

4.

1) Unsur “setiap orang”


Pasal 1: setiap orang adalah orang perseorangan atau termasuk
korporasi.
Orang perseorangan adalah siapa saja, setiap orang, pribadi
kodrati/manusia ciptaan Tuhan (naturlijk persoon), pengemban
hak dan kewajiban dalam hukum pidana, yang dapat dimintai
pertangggungjawaban di hadapan hukum pidana.

2) Unsur “melawan hukum”


meliputi pengertian melawan hukum dalam arti formil maupun
materil. (lihat penjelasan Sifat Melawan Hukum di bagian awal).

3) Unsur “melakukan perbuatan”


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), melakukan
perbuatan berarti melakukan sesuatu yang diperbuat, berupa
tindakan (apapun).
Dalam Hukum Pidana dikenal adanya jenis delik formil dan delik
yang dilakukan secara aktif.
4) Unsur “memperkaya”
Menurut KBBI, memperkaya diartikan sebagai perbuatan
menambah kekayaan. Memperkaya juga dapat diartikan sebagai
setiap perbuatan/tindakan yang mengakibatkan bertambahnya
aset dan harta kekayaan.

5) Unsur “dapat merugikan keuangan negara atau


perekonomian negara”
Kata “dapat” sejalan dengan bagian Penjelasan Umum yang
menyatakan Tindak Pidana Korupsi yang diatur oleh UU No.
31/1999 sebagai berjenis delik formil, yaitu delik yang sempurna
dengan telah dilakukannya perbuatan yang dilarang oleh UU.
Kerugian keuangan negara tidak menjadi syarat.