Anda di halaman 1dari 45

MAKALAH

( Keperawatan keluarga Hipertensi )

Disusun Oleh :
Devi indah arum sari
Dita faradilla aprastya
Hesti elvina
Evelin saweri
Maria udam

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS CENDERAWASIH
2020/2021
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

A. keluarga

Menurut WHO (1969) Keluarga adalah anggota rumah tangga yang saling

berhubungan melalui pertalian darah, adopsi atau perkawinan.Menurut

Departeman Kesehatan RI (1988)Keluarga merupakan unit terkecil dari

masyarakat yang terdirir dari kepala keluarga dan beberapa orang yang

berkumpul dan tinggal di suatu tempat dibawah satu atap dalam keadaan saling

ketergantungan. Sedangkan menurut BKKBN (1999) Keluarga adalah dua

orang atau lebih yang dibentuk berdasarkan ikatan perkawinan yang sah,

mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materil yang layak, bertakwa

kepada Tuhan, memiliki hubungan yang selaras dan seimbang antara anggota

keluarga dan masyarakat serta lingkungan. Dapat disimpulkan keluarga adalah

dua orang individu yang menikah , tinggal disatu atap yang sama , memiliki

tujuan bersama, dan saling menbutuhkan satu sama lain .

Struktur keluarga terdiri dari Struktur egalisasi,Struktur yang hangat, Struktur

yang terbuka, Struktur yang kaku,Struktur yang bebas, Struktur yang kasar dan

Disorganisasi keluarga. Dimana struktur tersebut memiliki fungsi didalam

keluarga , menurut Friedman (1992) adalah:


 Fungsi afektif dan koping yaitu Keluarga memberikan kenyamanan

emosional anggota, membantu anggota dalam membentuk identitas dan

mempertahankan saat terjadi stress.

 Fungsi sosialisasi yaitu Keluarga sebagai guru, menanamkan

kepercayaan, nilai, sikap, dan mekanisme koping, memberikan

feedback, dan memberikan petunjuk dalam pemecahan masalah.

 Fungsi reproduksi yaitu Keluarga melahirkan anak, menumbuh-

kembangkan anak dan meneruskan keturunan.

 Fungsi ekonomi yaitu Keluarga memberikan finansial untuk anggota

keluarganya dan kepentingan di masyarakat

 Fungsi fisik yaitu Keluarga memberikan keamanan, kenyamanan

lingkungan yang dibutuhkan untukpertumbuhan, perkembangan dan

istirahat termasuk untuk penyembuhan dari sakit.

Sedangkan Fungsi keluarga menurut BKKBN (1992) antara lain:

 Fungsi keagamaan yaitu Memperkenalkan dan mengajak anak dan

anggota keluarga yang lain dalam kehidupan beragama, dan tugas

kepala keluarga untuk menanamkan bahwa ada kekuatan lain yang

mengatur kehidupan ini dan ada kehidupan lain setelah di dunia ini.

 Fungsi sosial budaya yaitu Membina sosialisasi pada anak, membentuk

norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat perkembangan anak,

meneruskan nilai-nilai budaya keluarga.


 Fungsi cinta kasih yaitu Memberikan kasih sayang dan rasa aman,

memberikan perhatian diantara anggota keluarga

 Fungsi melindungi yaitu Melindungi anak dari tindakan-tindakan yang

tidak baik, sehingga anggota keluarga merasa terlindung dan merasa

aman

 Fungsi reproduksi yaitu Meneruskan keturunan, memelihara dan

membesarkan anak, memelihara dan merawat anggota keluarga

 Fungsi sosialisasi dan pendidikan yaitu Mendidik anak sesuai dengan

tingkat perkembangannya, menyekolahkan anak, bagaimana keluarga

mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik

 Fungsi ekonomi yaitu Mencari sumber-sumber penghasilan untuk

memenuhi kebutuhan keluarga, pengaturan penggunaan penghasilan

keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga, menabung untuk

memenuhi kebutuhan keluarga di masa datang.

Suatu keluarga terdiri dari Ayah, Ibu dan Anak merupakan keluarga batin / inti.

Dalam keluarga besar masih ada pribadi-pribadi lain seperti nenek, kakek,

paman dll. Oleh karena suatu hal kehadiran anak dengan kecacatan

menyebabkan peran keluarga belum berjalan sebagaimana mestinya. Adapun

peran keluarga bagi anak dengan kecacatannya antara lain : Sebagai

Pendidik,Sebagai Pelindung ,Sebagai pemotivasi (motivator) ,Sebagai Pelayan

dan Sebagai Teman tempat Curahan Hati


B. komunitas

Menurut World Health Organization – WHO (1974), komunitas merupakan


kelompok sosial yang ditentukan oleh batas-batas wilayah, nilai-nilai keyakina
dan minat yang sama, serta adanya saling mengenal dan interaksi antara
anggota masyarakat yang satu dengan yang lainnya.

Menurut Vanina Delobelle , Komunitas merupakan sarana berkumpulnya


orang-orang yang memiliki kepentingan bersama, komunitas yang dibentuk
oleh empat faktor:

 Keinginan untuk berbagi dan berkomunikasi di antara anggota sesuai


dengan kepentingan bersama
 Basecamp atau wilayah di mana mereka biasanya berkumpul
 Berdasarkan kebiasaan di antara anggota yang selalu hadir

Pyne (1991) Pemberdayaan komunitas didefinisikan sebagai upaya sekumpulan


orang perorangan maupun kelompok yang bersangkutan dalam mencapai
kehidupan yang adil dan beradab, serta kesejahteraan dalam berbagai bidang
kehidupan, seperti bidang ekonomi, sosial, politik dan lain sebagainya.

Secara umum, komunitas ini dapat dikelompokkan ke dalam tiga (3) jenis.
Dibawah ini merupakan beberapa jenis komunitas diantaranya sebagai berikut:

1. Komunitas Berdasarkan Minat

Ini merupakan jenis komunitas yang terbentuk disebabkan karena adanya


kesamaan minat atau ketertarikan para anggotanya. Biasanya komunitas yang
terbentuk dengan berdasarkan minat jumlahnya anggotanya akan besar
disebabkan karena komunitas tersebut dapat mendukung minat atau juga hobi
mereka.

2. Komunitas Berdasarkan Lokasi

Ini merupakan jenis komunitas yang terbentuk disebabkan karena adanya


kesamaan lokasi atau tempat itu secara geografis. Pada dasarnya komunitas
berdasarkan lokasi ini terbentuk disebabkan karena adanya keinginan untuk
dapat saling mengenal satu sama lain sehingga tercipta interaksi yang bisa
membantu perkembangan lingkungannya.
3. Komunitas Berdasarkan Komuni

Ini merupakan suatu komunitas yang terbentuk disebabkan karena adanya


keinginan serta kepentingan bersama. Dengan kata lain, komunitas tersebut
terbentuk atas dasar kepentingan di dalam suatu organisasi sosial dalam
masyarakat.

Pembentukan komunitas ini tentu mempunyai manfaat bagi para anggotanya.


Dibawah ini merupakan beberapa manfaat komunitas diantaranya sebagai
berikut:Sarana Informasi, Menjalin Hubungan , Salin Mendukung. Terdapat
banyak sekali contoh komunitas yang berada disekitar kita, baik itu komunitas
di dunia nyata atau juga komunitas online. Dibawah ini merupakan beberapa
contoh komunitas ini ialah sebagai berikut:Komunitas keperawatan ,Komunitas
Petani/ Peternak, Komunitas Seni , Komunitas Photography, dll.

1.3 keperawatan keluarga

A. Definisi keperawatan keluarga

Keperawatan keluarga merupakan pelayanan holistik yang menempatkan


keluarga dan komponennya sebagai fokus pelayanan dan melibatkan anggota
keluarga dalam tahap pengkajian, diagnosis keperawatan, perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi (Depkes, 2010).

Pengertian lain dari keperawatan keluarga adalah proses pemberian pelayanan


kesehatan Sesuai kebutuhan keluarga dalam lingkup praktik keperawatan
(Depkes RI, 2010).

Pelayanan keperawatan keluarga merupakan salah satu area pelayanan


keperawatan di masyarakat yang menempatkan keluarga dan komponennya
sebagai fokus pelayanan dan melibatkan anggota keluarga dalam pengkajian,
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi, dengan memobilisasi sumber
pelayanan kesehatan yang tersedia di keluarga dan sumber-sumber dari profesi
lain, termasuk pemberi pelayanan kesehatan dan sektor lain di kmunitas
(Depkes RI, 2010)

B. TUJUAN KEPERAWATAN KELUARGA.


Tujuan keperawatan keluarga ada dua macam, yaitu tujuan umum dan khusus.
Tujuan umum dari keperawatan keluarga adalah kemandirian keluarga dalam
memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Tujuan khusus dari keperawatan
keluarga adalah keluarga mampu melaksanakan tugas pemeliharaan kesehatan
keluarga dan mampu menangani masalah kesehatannya berikut ini.

1.Mengenal masalah kesehatan yang dihadapi anggota keluarga.

Kemampuan keluarga dalam mengenal masalah kesehatan seluruh anggota


keluarga.

Contohnya, apakah keluarga mengerti tentang pengertian dan gejala kencing


manis Yang diderita oleh anggota keluarganya?

2.Membuat keputusan secara tepat dalam mengatasi masalah kesehatan anggota


keluarga.

Kemampuan keluarga dalam mengambil keputusan untuk membawa anggota


keluarga Ke pelayanan kesehatan. Contoh, segera memutuskan untuk
memeriksakan anggota kluarga yang sakit kencing manis ke pelayanan
kesehatan.

3. Memberi perawatan pada anggota keluarga yang mempunyai masalah


kesehatan.

Kemampuan keluarga dalam merawat anggota keluarga yang sakit. Contoh,


keluarga mampu merawat anggota keluarga yang sakit kencing manis, yaitu
memberikan diet DM, memantau minum obat antidiabetik, mengingatkan untuk
senam, dan kontrol ke Pelayanan kesehatan.

4. Memodifikasi lingkungan yang kondusif.

Kemampuan keluarga dalam mengatur lingkungan, sehingga mampu


mempertahankan kesehatan dan memelihara pertumbuhan serta perkembangan
setiap anggota keluarga. Contoh, keluarga menjaga kenyamanan lingkungan
fisik dan psikologis untuk seluruh anggota keluarga termasuk anggota keluarga
yang sakit.

5. Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan untuk pemeliharaan dan


perawatan
Anggota keluarga yang mempunyai masalah kesehatan.

Contoh, keluarga memanfaatkan Puskesmas, rumah sakit, atau fasilitas


pelayanan kesehatan lain untuk anggota keluarganya yang sakit

C. SASARAN KEPERAWATAN KELUARGA (DEPKES RI, 2010)

1. Keluarga sehat

Keluarga sehat adalah seluruh anggota keluarga dalam kondisi tidak


mempunyai masalah kesehatan, tetapi masih memerlukan antisipasi terkait
dengan siklus perkembangan manusia dan tahapan tumbuh kembang keluarga.
Fokus intervensi keperawatan terutama pada promosi kesehatan dan
pencegahan penyakit.

2. Keluarga risiko tinggi dan rawan kesehatan

Keluarga risiko tinggi dapat didefinisikan, jika satu atau lebih anggota keluarga
memerlukan perhatian khusus dan memiliki kebutuhan untuk menyesuaikan
diri, terkait siklus perkembangan anggota keluarga dan keluarga dengan faktor
risiko penurunan status kesehatan

3. Keluarga yang memerlukan tindak lanjut

Keluarga yang memerlukan tindak lanjut merupakan keluarga yang mempunyai


masalah kesehatan dan memerlukan tindak lanjut pelayanan keperawatan atau
kesehatan, misalnya klien pasca hospitalisasi penyakit kronik, penyakit
degeneratif, tindakan pembedahan, dan penyakit terminal.

D. PERAN DAN FUNGSI PERAWAT KELUARGA (FRIEDMAN DKK,


20013)

Peran dan fungsi perawat di keluarga adalah sebagai berikut.

1.pelaksana

Peran dan fungsi perawat sebagai pelaksana adalah memberikan pelayanan


keperawatan dengan pendekatan proses keperawatan, mulai pengkajian sampai
evaluasi. Pelayanan diberikan karena adanya kelemahan fisik dan mental,
keterbatasan pengetahuan, serta kurangnya keamanan menuju kemampuan
melaksanakan kegiatan sehari-hari secara mandiri. Kegiatan yang dilakukan
bersifat promotif, preventif, Kuratif, serta rehabilitatif.

2.Pendidik

Peran dan fungsi perawat sebagai pendidik adalah mengidentifikasi kebutuhan,


menentukan tujuan, mengembangkan, merencanakan, dan melaksanakan
pendidikan kesehatan agar keluarga dapat berperilaku sehat secara mandiri.

3. Konselor

Peran dan fungsi perawat sebagai konselor adalah memberikan konseling atau
bimbingan kepada individu atau keluarga dalam mengintegrasikan pengalaman
kesehatan dengan pengalaman yang lalu untuk membantu mengatasi masalah
kesehatan keluarga.

4. Kolaborator

Peran dan fungsi perawat sebagai kolaborator adalah melaksanakan kerja sama
dengan berbagai pihak yang terkait dengan penyelesaian masalah kesehatan di
keluarga

I.1.4 keperawatan komunitas

A. DEFINISI KOMUNITAS

Para ahli mendefinisikan komunitas dari berbagai sudut pandang, yaitu sebagai
berikut :

1.Komunitas berarti sekelompok individu yang tinggal pada wilayah tertentu,


memiliki

Nilai-nilai keakinan dan minat yang relatif sama, serta berinteraksi satu sama
lain dengan mencapai tujuan.

2.WHO tahun 1974 mendefinisikan komunitas sebagai suatu kelompok sosial


yang diitentukan oleh batas-batas wilayah, nilai-nilai keyakinan dan minat yang
sama, serta ada rasa saling mengenal dan interaksi antara anggota masyarakat
yang satu dan yang lainnya.
3. Spradley (1985), komunitas sebagai sekumpulan orang yang saling bertukar
pengalaman penting dalam hidupnya.

4. Koentjaradiningrat (1990), komunitas sebagai suatu kesatuan hidup manusia


yangmenempati suatu wilayah nyata dan berinteraksi menurut suatu sistem adat
istiadat,serta terikat oleh rasa identitas suatu komunitas.

5.Sounders (1991), komunitas sebagai tempat atau kumpulan orang-orang atau


sitem sosial.

B.DEFINISI KEPERAWATAN KOMUNITAS

1.Menurut WHO (1959), keperawatan komunitas adalah bidang perawatan


khusus yang merupakan gabungan keterampilan ilmu keperawatan, ilmu
kesehatan masyarakat dan bantuan sosial, sebagai bagian dari program
kesehatan masyarakat secara keseluruhan guna meningkatkan kesehatan,
penyempurnaan kondisi sosial, perbaikan lingkungan fisik, rehabilitasi,
pencegahan penyakit dan bahaya yang lebih besar ditujukan kepada individu,
keluarga yang mempunyai masalah dimana hal itu mempengaruhi masyarakat
secara keseluruhan

2.America NursisAssociation (1973), keperawatan komunitas merupakan suatu


sistem dari praktekkepeawatan dan praktik kesehatan masyarakat yang
diterapkan untuk meningkatkan serta memelihara kesehatan penduduk.

3.WHO (1974), keperawatan komunitas adalah kesaatuan mencakup perawatan


kesehatan kerluarga (nursehealthfamily) juga kesehatan dan
kesejahteraanmasayarakat luas, membantu masyarakat tersebut sesuai dengan
kemampuan yang ada pada mereka sebelum mereka meminta bantuan kepada
orang lain.

4. Ruth B.Freeman (1981), keperawtan komunitas adalah kesatuan yang unik


dari

Praktik keperawatan dan kesehatan masayarakat yang ditujukan pada


pengembangan serta peningkatan kemampuan kesehatan, baik diri sendiri
sebagai perorangan maupun secara kolektif sebagai keluarga, kelompok khusus,
atau masyarakat.pelayanan kesehatan untuk masyarakat.
5. Departmen kesehatan RI (1986), keperawatan kesehatan masyarakat adalah
suatu

Upaya pelayanan keperawatan yang merupakan bagian integral dari pelayanan


Kesehatan yang dialaksanakan oleh perawat dengan mengikutsertakan tim
kesehatan lainnya dan masyarakat untuk memperoleh tim kesehatan individu,
keluaraga, dan masyarakat yang lebih tinggi.

6. Pradley (1985), Logan dan Dawkin (1987), keperawtan komunitas adalah


pelayanan keperawatan profesional ynag ditujukan kepada masyarakat dengan
penekanan pada kelompok resiko tinggi, dalam upaya pencapaian derajat
kesehatan yang optimal yang melalui pencegahan penyakit dan peningkatan
kesehatan. Dengan menjamin keterjangkauan pelayanan kesehatan yang
dibutuhkan, jugan melibatkan klien sebagai mitra dalam perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi pelayanan keperawatan

7. Rapat Kerja Keperawatan Kesehatan Masyarakat (1990) mendefinisikan


keperawatan

Komunitas sebagai suatu bidang keperawatan yang merupakan perpaduan


antara keperawatan dan keadaan masyarakat (publichealth) dengan dukungan
peran serta masyarakat secara aktif serta mengutamakan pelayanan promotif
dan preventif secara berkesinambungan tanpa mengabaikan pelayanan kuratif
dan rehabilitatif secara menyeluruh dan terpadu yang ditujukan pada individu,
kelompok, serta masyarakat sebagai kesatuan utuh melalui proses keperawatan
(nursingprocess) untuk meningkatkan fungsi kehidupan manusia secara
optimal, sehingga mampu mandiri dalam upaya kesehatan

8. Menurut IOM (2003), Praktik pelayanan komunitas adalah layanan


keperawatan profesional yang diberikan oleh perawat yang telah memperoleh
pendidikan keperawatan komunitas atau disiplin lain yang berkaitan dan
bekerja untuk meningkatkan derajat kesehatan yang berfokus pada masyarakat

9. Perawatan komunitas adalah perawatan yang diberian dari luar suatu


institusi yang berfokus pada masyarakat atau individu dan keluarga (Elisabeth,
2007)

10. Winslow (1920), seorang ahli kesehatan adalah ilmu dan senio mencegah
penyakit,memperpanjang hidup, serta meningkatkan efisiensi hidup melalui
usaha-usaha pengorganisasian masyarakat untuk hal-hal berikut ini:
A.Kelompok-kelompok masyarakat yang terkoordinir

B.Perbaikan kesehatan liongkungan

C.Mencegah dan memberantas penyakit menular

D.Memberikan pendidikan kesehatan kepada masyarakat / perseorangan

E.Dilaksanakan dengan mengkoordinasikan tenaga kesehatan dalam satu


wadah pelayanan kesehatan masyarakat yang mampu menumbuhkan swadaya
masyarakat untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat secara optimal
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Hipertensi

2.1. 1 Definisi

Hipertensi merupakan tekanan darah tinggi yang bersifat abnormal dan


diukur paling tidak pada tiga kesempatan yang berbeda. Seseorang dianggap
mengalami hipertensi apabila tekanan darahnya lebih tinggi dari 140/90 mmHg
(Elizabeth dalam Ardiansyah M., 2012).

Menurut Price (dalam Nurarif A.H., & Kusuma H. (2016), Hipertensi


adalah sebagai peningkatan tekanan darah sistolik sedikitnya 140 mmHg atau
tekanan diastolik sedikitnya 90 mmHg. Hipertensi tidak hanya beresiko tinggi
menderita penyakit jantung, tetapi juga menderita penyakit lain seperti penyakit
saraf, ginjal, dan pembuluh darah dan makin tinggi tekanan darah, makin besar
resikonya.

Sedangkan menurut Hananta I.P.Y., & Freitag H. (2011), Hipertensi


adalah suatu peningkatan abnormal tekanan darah dalam pembuluh darah arteri
secara terus-menerus lebih dari suatu periode. Hipertensi dipengaruhi oleh
faktor risiko ganda, baik yang bersifat endogen seperti usia, jenis kelamin dan
genetik/keturunan, maupun yang bersifat eksogen seperti obesitas, konsumsi
garam, rokok dan kopi.

Menurut American Heart Association atau AHA dalam Kemenkes


(2018), hipertensi merupakan silent killer dimana gejalanya sangat bermacam-
macam pada setiap individu dan hampir sama dengan penyakit lain. Gejala-
gejala tersebut adalah sakit kepala atau rasa berat ditengkuk. Vertigo, jantung
berdebar-debar, mudah lelah, penglihatan kabur, telinga berdenging atau
tinnitus dan mimisan.

2.1.2 Etiologi Hipertensi


Berdasarkan penyebab hipertensi dibagi menjadi 2 golongan (Ardiansyah M.,
2012) :

2.1.2.1 Hipertensi primer (esensial)

Hipertensi primer adalah hipertensi esensial atau hiperetnsi yang 90%


tidak diketahui penyebabnya. Beberapa faktor yang diduga berkaitan dengan
berkembangnya hipertensi esensial diantaranya :

a. Genetik

Individu dengan keluarga hipertensi memiliki potensi lebih tinggi


mendapatkan penyakit hipertensi.

b. Jenis kelamin dan usia

Lelaki berusia 35-50 tahun dan wanita yang telah menopause berisiko
tinggi mengalami penyakit hipertensi.

c. Diet konsumsi tinggi garam atau kandungan lemak.

Konsumsi garam yang tinggi atau konsumsi makanan dengan kandungan


lemak yang tinggi secara langsung berkaitan dengan berkembangnya penyakit
hipertensi.

d. Berat badan obesitas

Berat badan yang 25% melebihi berat badan ideal sering dikaitkan
dengan berkembangnya hipertensi.

e. Gaya hidup merokok dan konsumsi alkohol

Merokok dan konsumsi alkohol sering dikaitkan dengan berkembangnya


hipertensi karena reaksi bahan atau zat yang terkandung dalam keduanya.

2) Hipertensi sekunder

Hipertensi sekunder adalah jenis hipertensi yang diketahui penyebabnya.


Hipertensi sekunder disebabkan oleh beberapa penyakit, yaitu :

a) Coarctationaorta, yaitu penyempitan aorta congenital yang mungkin


terjadi beberapa tingkat pada aorta toraksi atau aorta abdominal.
Penyembitan pada aorta tersebut dapat menghambat aliran darah
sehingga terjadi peningkatan tekanan darah diatas area kontriksi.

b) Penyakit parenkim dan vaskular ginjal. Penyakit ini merupakan penyakit


utama penyebab hipertensi sekunder. Hipertensi renovaskuler
berhubungan dengan penyempitan

c) satu atau lebih arteri besar, yang secara langsung membawa darah ke
ginjal. Sekitar 90% lesi arteri renal pada pasien dengan hipertensi
disebabkan oleh aterosklerosis atau fibrous dyplasia (pertumbuhan
abnormal jaringan fibrous). Penyakit parenkim ginjal terkait dengan
infeksi, inflamasi, serta perubahan struktur serta fungsi ginjal.

d) Penggunanaan kontrasepsi hormonal (esterogen). Kontrasepsi secara


oral yang memiliki kandungan esterogen dapat menyebabkan terjadinya
hipertensi melalui mekanisme renin-aldosteron-mediate volume
expantion. Pada hipertensi ini, tekanan darah akan kembali normal
setelah beberapa bulan penghentian oral kontrasepsi.

e) Gangguan endokrin. Disfungsi medulla adrenal atau korteks adrenal


dapat menyebabkan hipertensi sekunder. Adrenal- mediate hypertension
disebabkan kelebihan primer aldosteron, kortisol, dan katekolamin.

f) Kegemukan (obesitas) dan malas berolahraga. Stres, yang cenderung


menyebabkan peningkatan tekanan darah untuk sementara waktu.

g) Kehamilan

h) Luka bakar

i) Peningkatan tekanan vaskuler

j) Merokok. Nikotin dalam rokok merangsang pelepasan katekolamin.


Peningkatan katekolamin mengakibatkan iritabilitas miokardial,
peningkatan denyut jantung serta menyebabkan vasokortison yang
kemudian menyebabkan kenaikan tekanan darah.
Hipertensi pada usia lanjut dibedakan atas (Nurarif A.H., & Kusuma H., 2016) :

1. Hipertensi dimana tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140
mmHg dan atau tekanan diastolik sama atau lebih besar dari 90 mmHg.
2. Hipertensi sistolik terisolasi dimana tekanan distolik lebih besar dari
160 mmHg da tekanan diastolik lebih rendah dari 90 mmHg.

Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya


perubahan-perubahan pada (Nurarif A.H., & Kusuma H., 2016):

1. Elastisitas dinding aorta menurun


2. Katub jantung menebal dan menjadi kaku
3. Kemampuan jantung memompa darah menurun menyebabkan
menurunnya kontraksi dan volumenya
4. Kehilangan elastisitas pembuluh darah. Hal ini terjadi karena kurangnya
efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi.
5. Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer.

2.1.3 Klasifikasi Hipertensi

1. Menurut Tambayong (dalam Nurarif A.H., & Kusuma H. 2016),


klasifikasi hipertensi klinis berdasarkan tekanan darah sistolik dan
diastolik yaitu :

Tabel 2.1 Klasifikasi derajat hipertensi secara klinis

No Kategori Sistolik Distolik (mmHg)


1 Optimal < 120 <80
2 Normal 120-129 80-84
3 High Normal 130-139 85-89
4 Grade 1 (ringan) 140-159 90-99
5 Grade 2 ( sedang) 160-179 100-109
6 Grade 3 ( berat) 180-209 100-119
7 Grade 4 (sangat Berat ) >210 >210

Sumber : Tambayong dalam Nurarif A.H., & Kusuma H. (2016).


2) Menurut World Health Organization (dalam Noorhidayah, S.A.(2016)
klasifikasi hipertensi adalah :

a) Tekanan darah normal yaitu bila sistolik kurang atau sama dengan 140
mmHg dan diastolik kurang atau sama dengan 90 mmHg.
b) Tekanan darah perbatasan (border line) yaitu bila sistolik 141-149
mmHg da n diastolik 91-94 mmHg.
c) Tekanan darah tinggi (hipertensi) yaitu bila sistolik lebih besar atau
sama dengan 160 mmHg dan diastolik lebih besar atau sama dengan 95
mmHg.
d) Manifestasi Klinis Hipertensi

Menurut Tambayong (dalam Nurarif A.H., & Kusuma H., 2016), tanda dan
gejala pada hipertensi dibedakan menjadi :

1) Tidak ada gejala

Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan
tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa. Hal
ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan darah
tidak teratur.

2) Gejala yang lazim

Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi


nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataanya ini merupakan gejala terlazim
yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis.

Beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu :

a) Mengeluh sakit kepala, pusing


b) Lemas, kelelahan
c) Sesak nafas
d) Gelisah
e) Mual
f) Muntah
g) Epistaksis
h) Kesadaran menurun
i) Faktor-Faktor Risiko Hipertensi
Menurut Aulia, R. (2017), faktor risiko hipertensi dibagi menjadi 2
kelompok, yaitu :

1. Faktor yang tidak dapat diubah

Faktor yang tidak dapat berubaha adalah :

a. Riwayat Keluarga

Seseorang yang memiliki keluarga seperti, ayah, ibu, kakak


kandung/saudara kandung, kakek dan nenek dengan hipertensi lebih berisiko
untuk terkena hipertensi.

b. Usia

Tekanan darah cenderung meningkat dengan bertambahnya usia. Pada


laki-laki meningkat pada usia lebih dari 45 tahun sedangkan pada wanita
meningkat pada usia lebih dari 55 tahun.

c. Jenis Kelamin

Dewasa ini hipertensi banyak ditemukan pada pria daripada wanita.

d. Ras/etnik

Hipertensi menyerang segala ras dan etnik namun di luar negeri


hipertensi banyak ditemukan pada ras Afrika Amerika daripada Kaukasia atau
Amerika Hispanik.

2. Faktor yang dapat diubah

Kebiasaan gaya hidup tidak sehat dapat meningkatkan hipertensi antara lain
yaitu :

a. Merokok

Merokok merupakan salah satu faktor penyebab hipertensi karena dalam


rokok terdapat kandungan nikotin. Nikotin terserap oleh pembuluh darah kecil
dalam paru-paru dan diedarkan ke otak. Di dalam otak, nikotin memberikan
sinyal pada kelenjar adrenal untuk melepas epinefrin atau adrenalin yang akan
menyemptkan pembuluh darah dan memaksa jantung bekerja lebih berat karena
tekanan darah yang lebih tinggi (Murni dalam Andrea, G.Y., 2013).
b. Kurang aktifitas fisik

Aktifitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot
rangka yang memerlukan pengeluaran energi. Kurangnya aktifitas fisik
merupakan faktor risiko independen untuk penyakit kronis dan secara
keseluruhan diperkirakan dapat menyebabkan kematian secara global
(Iswahyuni, S., 2017).

c. Konsumsi Alkohol

Alkohol memiliki efek yang hampir sama dengan karbon monoksida,


yaitu dapat meningkatkan keasaman darah. Darah menjadi lebih kental dan
jantung dipaksa memompa darah lebih kuat lagi agar darah sampai ke jaringan
mencukupi (Komaling, J.K., Suba, B., Wongkar, D., 2013). Maka dapat
disimpulkan bahwa konsumsi alkohol dapat meningkatkan tekanan darah.

d. Kebiasaan minum kopi

Kopi seringkali dikaitkan dengan penyakit jantung koroner, termasuk


peningkatan tekanan darah dan kadar kolesterol darah karena kopi mempunyai
kandungan polifenol, kalium, dan kafein. Salah satu zat yang dikatakan
meningkatkan tekanan darah adalah kafein. Kafein didalam tubuh manusia
bekerja dengan cara memicu produksi hormon adrenalin yang berasal dari
reseptor adinosa didalam sel saraf yang mengakibatkan peningkatan tekanan
darah, pengaruh dari konsumsi kafein dapat dirasakan dalam 5-30 menit dan
bertahan hingga 12 jam (Indriyani dalam Bistara D.N., & Kartini Y., 2018).

e. Kebiasaan konsumsi makanan banyak mengandung garam

Garam merupakan bumbu dapur yang biasa digunakan untuk memasak.


Konsumsi garam secara berlebih dapat meningkatkan tekanan darah. Menurut
Sarlina, Palimbong, S., Kurniasari, M.D., Kiha, R.R. (2018), natrium
merupakan kation utama dalam cairan ekstraseluler tubuh yang berfungsi
menjaga keseimbangan cairan. Natrium yang berlebih dapat mengganggu
keseimbangan cairan tubuh sehingga menyebabkan edema atau asites, dan
hipertensi.

f. Kebiasaan konsumsi makanan lemak


Menurut Jauhari (dalam Manawan A.A., Rattu A.J.M., Punuh M.I,
2016), lemak didalam makanan atau hidangan memberikan kecenderungan
meningkatkan kholesterol darah, terutama lemak hewani yang mengandung
lemak jenuh. Kolesterol yang tinggi bertalian dengan peningkatan prevalensi
penyakit hipertensi.

2.1.4 Komplikasi Hipertensi

Menurut Ardiansyah, M. (2012) komplikasi dari hipertensi adalah :

1. Stroke

Stroke akibat dari pecahnya pembuluh yang ada di dalam otak atau akibat
embolus yang terlepas dari pembuluh nonotak. Stroke bisa terjadi pada
hipertensi kronis apabila arteri-arteri yang memperdarahi otak mengalami
hipertrofi dan penebalan pembuluh darah sehingga aliran darah pada area
tersebut berkurang. Arteri yang mengalami aterosklerosis dapat melemah dan
meningkatkan terbentuknya aneurisma.

2. Infark Miokardium

Infark miokardium terjadi saat arteri koroner mengalami arterosklerotik


tidak pada menyuplai cukup oksigen ke miokardium apabila terbentuk
thrombus yang dapat menghambat aliran darah melalui pembuluh tersebut.
Karena terjadi hipertensi kronik dan hipertrofi ventrikel maka kebutuhan okigen
miokardioum tidak dapat terpenuhi dan dapat terjadi iskemia jantung yang
menyebabkan infark.

3. Gagal Ginjal

Kerusakan pada ginjal disebabkan oleh tingginya tekanan pada kapiler-


kapiler glomerulus. Rusaknya glomerulus membuat darah mengalir ke unti
fungsionla ginjal, neuron terganggu, dan berlanjut menjadi hipoksik dan
kematian. Rusaknya glomerulus menyebabkan protein keluar melalui urine dan
terjadilah tekanan osmotic koloid plasma berkurang sehingga terjadi edema
pada penderita hipertensi kronik.

4. Ensefalopati
pEnsefalopati (kerusakan otak) terjadi pada hipertensi maligna (hipertensi
yang mengalami kenaikan darah dengan cepat). Tekanan yang tinggi
disebabkan oleh kelainan yang membuat peningkatan tekanan kapiler dan
mendorong cairan ke dalam ruang intertisium diseluruh susunan saraf pusat.
Akibatnya neuro-neuro disekitarnya terjadi koma dan kematian.

Asuhan Keperawatan Keluarga Dengan Hipertensi


Asuhan keperawatan keluarga merupakan suatu rangkaian kegiatan dalam
praktek keperawatan yang diberikan pada klien sebagai anggota keluarga pada
tatanan komunitas dengan menggunakan proses keperawatan, berpedoman pada
standar keperawatan dalam lingkup wewenang serta tanggung jawab
keperawatan (WHO, 2014).

Asuhan keperawatan keluarga adalah suatu rangkaian yang diberikan


melalui praktik keperawatan dengan sasaran keluarga. Asuhan ini bertujuan
untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang dialami keluarga dengan
menggunakan pendekatan proses keperawatan, yaitu sebagai berikut

(Heniwati, 2008) :

1. Pengkajian

Pengkajian merupakan langkah awal pelaksanaan asuhan keperawatan,

agar diperoleh data pengkajian yang akurat dan sesuai dengan keadaan

keluarga. Sumber informasi dari tahapan pengkaajian dapat

menggunakan metode wawancara keluarga, observasi fasilitas rumah,

pemeriksaan fisik pada anggota keluarga dan data sekunder.

Hal-hal yang perlu dikaji dalam keluarga adalah :

a. Data Umum

Pengkajian terhadap data umum keluarga meliputi :

1) Nama kepala keluarga

2) Alamat dan telepon

3) Pekerjaan kepala keluarga

4) Pendidikan kepala keluarga

5) Komposisi keluarga dan genogram

6) Tipe keluarga

7) Suku bangsa
8) Agama

9) Status sosial ekonomi keluarga

10) Aktifitas rekreasi keluarga

b. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga meliputi :

1) Tahap perkembangan keluarga saat ini ditentukan dengan anak

tertua dari keluarga inti.

2) Tahap keluarga yang belum terpenuhi yaitu menjelaskan

mengenai tugas perkembangan yang belum terpenuhi oleh

keluarga serta kendala mengapa tugas perkembangan tersebut

belum terpenuhi.

3) Riwayat keluarga inti yaitu menjelaskan mengenai riwayat

kesehatan pada keluarga inti yang meliputi riwayat penyakit

keturunan, riwayat kesehatan masing-masing anggota keluarga,

perhatian terhadap pencegahan penyakit, sumber pelayanan

kesehatan yang biasa digunakan keluarga serta pengalaman

pengalaman terhadap pelayanan kesehatan.

4) Riwayat keluarga sebelumnya yaitu dijelaskan mengenai

riwayat kesehatan pada keluarga dari pihak suami dan istri.

c. Pengkajian Lingkungan

1) Karakteristik rumah

2) Karakteristik tetangga dan komunitas RW

3) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat

4) Sistem pendukung keluarga


d. Struktur keluarga

1) Pola komunikasi keluarga yaitu menjelaskan mengenai cara

berkomunikasi antar anggota keluarga.

2) Struktur kekuatan keluarga yaitu kemampuan anggota keluarga

mengendalikan dan mempengaruhi orang lain untuk merubah

perilaku.

3) Struktur peran yaitu menjelaskan peran dari masing-masing

anggota keluarga baik secara formal maupun informal.

4) Nilai atau norma keluarga yaitu menjelaskan mengenai nilai dan

norma yang dianut oleh keluarga yang berhubungan dengaan

kesehatan.

5) Fungsi keluarga :

a) Fungsi afèktif, yaitu perlu dikaji gambaran diri anggota

keluarga, perasaan memiliki dan dimiliki dalam keluarga,

dukungan keluarga terhadap anggota keluarga lain,

bagaimana kehangatan tercipta pada anggota keluarga dan

bagaimana keluarga mengembangkan sikap saling

menghargai.

b) Fungsi sosialisai, yaitu perlu mengkaji bagaimana

berinteraksi atau hubungan dalam keluarga, sejauh mana

anggota keluarga belajar disiplin, norma, budaya dan

perilaku.

c) Fungsi perawatan kesehatan,


yaitu meenjelaskan sejauh mana keluarga menyediakan makanan, pakaian,
perlu dukungan serta merawat anggota keluarga yang sakit. Sejauh mana
pengetahuan keluarga mengenal sehat sakit. Kesanggupan keluarga dalam
melaksanakan perawatan kesehatan dapat dilihat dari kemampuan keluarga
dalam melaksanakan tugas kesehatan keluarga, yaitu mampu mengenal masalah
kesehatan, mengambil keputusan untuk melakukan tindakan, melakukan
perawatan kesehatan pada anggota keluarga yang sakit, menciptakan
lingkungan yang dapat meningkatan kesehatan dan keluarga mampu
memanfaatkan fasilitas kesehatan yang terdapat di lingkungan setempat.

d) Pemenuhan tugas keluarga. Hal yang perlu dikaji adalah

sejauh mana kemampuan keluarga dalam mengenal, mengambil keputusan


dalam tindakan, merawat anggota keluarga yang sakit, menciptakan lingkungan
yang mendukung kesehatan dan memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan
yang ada.

6) Stres dan koping keluarga

a) Stressor jaangka pendek dan panjang

(1) Stressor jangka pendek yaitu stressor yang dialami

keluarga yang memerlukan penyelesaian dalam waktu

kurang dari 5 bulan.

(2) Stressor jangka panjang yaitu stressor yang dialami

keluarga yang memerlukan penyelesaian dalam waktu

lebih dari 6 bulan.

b) Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi/ stressor

c) Strategi koping yang digunakan keluarga bila menghadapi

permasalahan.

d) Strategi adaptasi fungsional yang divunakan bila menghadapi

permasalah
e) Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik dilakukan terhadap semua anggotaa keluarga. Metode


yang digunakan pada pemeriksaan fisik tidak berbeda dengan pemeriksaan fisik
di klinik. Harapan keluarga yang dilakukan pada akhir pengkajian, menanyakan
harapan keluarga terhadap petugas kesehatan yang ada.

2. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul

Berdasarkan pengkajian asuhan keperawatan keluarga di atas maka


diagnosa keperawatan keluarga yang mungkin muncul adalah :

a. Manajemen keluarga tidak efektif, yaitu pola penanganan masalah

kesehatan dalam keluarga tidak memuaskan untuk memulihkan

kondisi kesehatan anggota keluarga.

b. Manajemen kesehatan tidak efektif, yaitu pola pengaturan dan

pengintegrasian penanganan masalah kesehatan ke dalam kebiasaan

hidup sehari-hari tidak memuaskan untuk mencapai status kesehatan

yang diharapkan.

c. Pemeliharaan kesehatan tidak efektif, yaitu ketidakmampuan

mengidentifikasi, mengelola dan atau menemukan bantuan untuk

mempertahankan kesehatan.

d. Kesiapan peningkatan koping keluarga yaitu pola adaptasi anggota

keluarga dalam mengatasi situasi yang dialami klien secara efektif

dan menunjukkan keinginan serta kesiapan untuk meningkatkan

kesehatan keluarga dan klien.

e. Penurunan koping keluarga yaitu ketidakefektifan dukungan, rasa


nyaman, bantuan dan motivasi orang terdekat (anggota keluarga atau

orang berarti) yang dibutuhkan klien untuk mengelola atau

mengatasi masalah kesehatan.

f. Ketidakberdayaan, persepsi bahwa tindakan seseorang tidak akan

mempengaruhi hati secara signifikan, persepsi kurang kontrol pada

situasi saat ini atau yang akan datang.

g. Ketidakmampuan koping keluarga, yaitu perilaku orang terdekat

(anggota keluarga) yang membatasi kemampuan dirinya dan klien

untuk beradaptasi dengan masalah kesehatan yang dihadapi klien.

Yang menjadi etiologi atau penyebab dari masalah keperawatan yang

muncul adalah hasil dari pengkajian tentang tugas kesehatan keluarga

yang meliputi 5 unsur sebagai berikut :

a. Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah hipertensi yang terjadi

pada anggota keluarga

b. Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan yang tepat untuk

mengatasi penyakit hipertensi

c. Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan

hipertensi

d. Ketidakmampuan keluarga dalam memelihara atau memodifikasi

lingkungan yang dapat mempengaruhi penyakit hipertensi

e. Ketidakmampuan keluarga menggunakan fasilitas pelayanan

kesehatan guna perawatan dan pengobatan hipertensi

3. Membuat Perencanaan
Menurut Suprajitno perencanaan keperawatan mencakup tujuan

umum dan khusus yang didasarkan pada masalah yang dilengkapi dengan

kriteria dan standar yang mengacu pada penyebab. Selanjutnya

merumuskan tindakan keperawatan yang berorientasi pada kriteria dan

standar. Perencanaan yang dapat dilakukan pada asuhan keperawatan

keluarga dengan hipertensi ini adalah sebagai berikut :

a. Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah hipertensi yang terjadi

pada keluarga.

Sasaran : Setelah tindakan keperawatan keluarga dapat mengenal dan

mengerti tentang penyakit hipertensi.

Tujuan : Keluarga mengenal masalah penyakit hipertensi setelah tiga

kali kunjungan rumah.

Kriteria : Keluarga dapat menjelaskan secara lisan tentang penyakit

hipertensi.

Standar : Keluarga dapat menjelaskan pengertian, penyebab, tanda

dan gejala penyakit hipertensi serta pencegahan dan pengobatan

penyakit hipertensi secara lisan.

Intervensi :

1) Jelaskan arti penyakit hipertensi

2) Diskusikan tanda-tanda dan penyebab penyakit hipertensi

3) Tanyakan kembali apa yang telah didiskusikan.

b. Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan yang tepat untuk

mengatasi penyakit hipertensi.


Sasaran : Setelah tindakan keperawatan keluarga dapat mengetahui

akibat lebih lanjut dari penyakit hipertensi.

Tujuan : Keluarga dapat mengambil keputusan untuk merawat

anggota keluarga dengan hipertensi setelah tiga kali kunjungan rumah.

Kriteria : Keluarga dapat menjelaskan secara lisan dan dapat

mengambil tindakan yang tepat dalam merawat anggota keluarga yang

sakit.

Standar : Keluarga dapat menjelaskan dengan benar bagaimana

akibat hipertensi dan dapat mengambil keputusan yang tepat.

Intervensi:

1) Diskusikan tentang akibat penyakit hipertensi

2) Tanyakan bagaimana keputusan keluarga untuk merawat anggota

keluarga yang menderita hipertensi.

c. Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan

hipertensi

Sasaran : Setelah tindakan keperawatan keluarga mampu merawat

anggota keluarga yang menderita penyakit hipertensi.

Tujuan : Keluarga dapat melakukan perawatan yang tepat terhadap

anggota keluarga yang menderita hipertensisetelah tiga kali kunjungan

rumah.

Kriteria : Keluarga dapat menjelaskan secara lisan cara pencegahan

dan perawatan penyakit hipertensi

Standar : Keluarga dapat melakukan perawatan anggota keluarga


yang menderita penyakit hipertensi secara tepat.

Intervensi:

1) Jelaskan pada keluarga cara-cara pencegahan penyakit hipertensi.

2) Jelaskan pada keluarga tentang manfaat istirahat, diet yang tepat

dan olah raga khususnya untuk anggota keluarga yang menderita

hipertensi.

d. Ketidakmampuan keluarga dalam memelihara atau memodifikasi

lingkungan yang dapat mempengaruhi penyakit hipertensi

berhubungan.

Sasaran : Setelah tindakan keperawatan keluarga mengerti tentang

pengaruh lingkungan terhadap penyakit hipertensi.

Tujuan : Keluarga dapat memodifikasi lingkungan yang dapat

menunjang penyembuhan dan pencegahan setelah tiga kali kunjungan

rumah.

Kriteria : Keluarga dapat menjelaskan secara lisan tentang pengaruh

lingkungan terhadap proses penyakit hipertensi

Standar : Keluarga dapat memodifikasi lingkungan yang dapat

mempengaruhi penyakit hipertensi.

Intervensi :

1) Ajarkan cara memodifikasi lingkungan untuk mencegah dan

mengatasi penyakit hipertensimisalnya :

a) Jaga lingkungan rumah agar bebas dari resiko kecelakaan

misalnya benda yang tajam.


b) Gunakan alat pelindung bila bekerja Misalnya sarung tangan.

c) Gunakan bahan yang lembut untuk pakaian untuk

mengurangi terjadinya iritasi.

2) Motivasi keluarga untuk melakukan apa yang telah dijelaskan.

e. Ketidakmampuan keluarga menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan

guna perawatan dan pengobatan hipertensi.

Sasaran : Setelah tindakan keperawatan keluarga dapat menggunakan

fasilitas pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan.

Tujuan : Keluarga dapat menggunakan tempat pelayanan kesehatan

yang tepat untuk mengatasi penyakit hipertensisetelah dua kali

kunjungan rumah.

Kriteria : Keluarga dapat menjelaskan secara lisan ke mana mereka

harus meminta pertolongan untuk perawatan dan pengobatan penyakit

hipertensi.

Standar : Keluarga dapat menggunakan fasilitas pelayanan secara

tepat.

Intervensi : Jelaskan pada keluarga ke mana mereka dapat meminta

pertolongan untuk perawatan dan pengobatan hipertensi.

BAB III
KASUS

A. ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

1. Pengkajian Keluarga

a. Data Umum

1) Nama kepala keluarga : Tn. A

2) Usia : 69 Tahun

3) Pendidikan : STM

4) Pekerjaan : Pensiunan

5) Alamat : Wirogunan RW 09, Mergangsan

6) Komposisi keluarga :

Tabel 2. Komposisi Keluarga

N Nama Jk Hub Umur Pendidika


O n

1 Ny.E P Istri 65 th SMP

Genogram
8) Tipe keluarga

Tipe Keluaga TN. A adalah keluarga usila yaitu yang terdiri dari suami,

istri yang sudah tua dengan anak yang sudah memisahkan diri.

9) Suku dan Bangsa

Keluarga klien berasal dari suku Jawa atau Indonesia kebudayaan

yang dianut tidak bertentangan dengan masalah kesehatan, bahasa

sehari-hari yang digunakan yaitu bahasa Jawa.

10) Agama

Seluruh anggota Tn. A beragama Islam dan taat beribadah, sering


mengikuti pengajian yang ada di RT serta berdoa agar Tn. A dapat

sembuh dari penyakit.

11) Status sosial ekonomi keluarga :

Sumber pendapatan keluarga sejumlah Rp. 3.000.000,00 Kebutuhan

yang dibutuhkan keluarga :

Makan : 1.500.000,00

Listrik : 200.000,00

Beli bensin : 200.000,00

Barang-barang yang dimiliki : televisi, kulkas, sepeda motor,

almari, 1 set kursi tamu

12) Aktifitas rekreasi keluarga

Rekreasi digunakan untuk mengisi kekosongan waktu dengan

menonton televisi bersama dirumah, rekreasi di luar rumah kadang-kadang.

b. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga

1) Tahap perkembangan saat ini

Tahap perkembangan keluarga Tn. A merupakan tahap VIII

keluarga usia lanjut.

2) Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi

Tahap perkembangan keluarga Tn. A merupakan tahap VIII

keluarga usia lanjut.

3) Riwayat keluarga

a) Tn. A sebagai kepala keluarga mempunyai hipertensi sejak 8 tahun


yang lalu, rutin kontrol ke puskesmas 1 bulan sekali untuk cek lab

dan mengambil obat rutin, tidak mempunyai masalah dengan istirahat,

makan maupun kebutuhan dasar

lainnya mempunyai penyakit hipertensi pada saat pengkajian :

TD : 120/80 mmhg S : 36,2 celcius BB : 54 Kg

N : 80 x/m R : 20 x/m TB : 162 cm

b) Ny. E menderita DM, kontrol rutin di Puskesmas Mergangsan

tidak mempunyai masalah dengan istirahat, makan, maupu

kebutuhan dasar yang lainnya.

4) Riwayat keluarga sebelumnya

Tn. A menderita hipertensi tapi keluarganya Tn. A dari pihak Bapak/Ibu

ada yang menderita hipertensi.

a. Lingkungan

1) Karakteristik rumah

Memiliki sirkulasi udara yang baik, memiliki sistem sanitasi yang yang

baik, dan memiliki sistem penerangan ruang yang baik.

2) Karakteristik tetangga dan komunitas RW

Hubungan antar tetangga saling membantu, bila ada tetangga yang

membangun rumah dikerjakan saling gotong royong.

3) Mobilitas geografis keluarga


Sebagai penduduk kota Yogyakarta, tidak pernah transmigrasi

Maupun imigrasi.

4) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat


Kebiasaan Tn. A dilingkungan sekitarnya, yaitu Tn. A selalu berkumpul
dan berkomunikasi dengan tetangga pada waktu siang
hari, dan setiap dengan tetangganya selalu melakukan kumpulan
arisan, kebiasaan lain dari masyarakat di lingkungan sekitar rumah
selalu melaksanakan kerja bakti.
5) Sistem pendukung keluarga
Jumlah anggota keluarga yaitu 2 orang, ke puskesmas bersama,
saling mendukung satu sama lain.
b. Struktur keluarga
1) Pola komunikasi keluarga
Anggota keluarga menggunakan bahasa Jawa dalam berkomunikasi

sehari-harinya dan mendapatkan informasi kesehatan dari petugas

kesehatan dan televisi.

2) Struktur kekuatan keluarga

Tn.A menderita penyakit hipertensi, anggota keluarga lainnya

dalam saling mendukung.

3) Struktur peran (formal & informal) :

Formal : Tn.A sebagai kepala keluarga, Ny.E sebagai istri.

Informal : Tn.A dibantu anaknya juga membantu mencari

nafkah.

4) Nilai dan norma keluarga


Keluarga percaya bahwa hidup sudah ada yang mengatur, demikian

pula dengan sehat dan sakit keluarga juga percaya bahwa tiap sakit

ada obatnya, bila ada keluarga yang sakit dibawa ke puskesmas

atau petugas kesehatan yang terdekat.

c. Fungsi keluarga

1) Fungsi afektif

Hubungan antara keluarga baik, mendukung bila ada yang sakit

langsung dibawa ke puskesmas atau petugas kesehatan.

2) Fungsi sosial

Setiap hari keluarga selalu berkumpul di rumah, hubungan dalam

keluarga baik dan selalu mentaati norma yang baik.

3) Fungsi perawatan keluarga

Menurut Tn. A keluarganya sangat peduli dan sangat perhatian

terhad ap keadaan kesehatannya. Tn. A selalu mendukung untuk

selalu berobat ke puskesmas secara teratur, dan anggota keluarga

yang lain selalu mengingatkan hal-hal yang dapat memperberat

sakitnya, misalnya jangan terlalu lelah.

4) Fungsi reproduksi
Tn. A mempunyai 3 orang anak perempuan.

5) Fungsi ekonomi

Keluarga dapat memenuhi kebutuhan makan yang cukup, pakaian

dan biaya untuk berobat.

d. Stres dan Koping Keluarga

1) Stresor jangka pendek dan panjang :

Stresor jangka pendek : Tn. A mengatakan dirinya menderita

penyakit hipertensi.

Stresor jangka panjang : Tn. A mengidap penyakit hipertensi semenjak

tahun 2010 dan ia ingin penyakitnya ini sembuh total.

2) Kemampuan keluarga dalam merespon terhadap situasi dan stresor

Keluarga selalu memeriksakan anggota keluarga yang sakit ke

puskesmas dengan petugas kesehatan.

3) Strategi koping yang digunakan

Anggota keluarga selalu bermusyawarah untuk menyelesaikan

masalah yang ada.

4) Strategi adaptasi disfungsional

Jika ada masalah dengan anggota keluarganya Tn. A

menyampaikan atau membicarakan dengan anggota keluarganya.

g. Pemeriksaan Fisik
Dilaksanakan pada tanggal 2 Juli 2018

Tekanan Darah : 120/80 mmHg

Nadi : 80 x/m

Suhu : 36,20

Respirasi : 20 x/m

Berat badan : 54 kg

Tinggi badan : 162 cm

Kepala : simetris, berambut bersih berwarna putih, muka

tidak pucat

Mata : tidak ada keluhan.

Hidung : lubang hidung normal simetris.

Mulut : bibir tidak kering, tidak ada stomatitis

Telinga : pendengaran masih normal tidak ada keluar

cairan dari telinga

Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid.

Dada : dada kanan dan kiri sama, tidak ada keluhan.

Perut : simetris, tidak ada keluhan.

Extremitas : tidak ada oedema, masih dapat gerak aktif.

Eliminasi : BAB biasanya 1 kali sehari, BAK 3-4 kali sehari

h. Harapan Keluarga
Harapan yang diinginkan keluarga Keluarga berharap pada petugas

kesehatan agar meningkatkan mutu pelayanan dan membantu masalah Tn. A.

Tabel. Analisa Data

3.Diagnosis Keperawatan
a. Diagnosis Keperawatan

Kesiapan Peningkatkan Manajemen Kesehatan

DS : TN.A mengatakan :

- ingin segera sembuh dari penyakitnya

- setiap pagi olah raga rutin

- ikut kegiatan kampung seperti kerja bakti,pengajian dan lain-lain

- mengikuti macapat bahasa jawa

- tidak makan daging

- kontrol teratur di puskesmas

- ikut olah raga prolanis

- siap mengikuti pola hidup sehat

DO : - klien kooperatif , konsentrasi baik

b. Prioritas Masalah

Manajemen kesehatan keluarga tidak efektif berhubungan dengan

ketidakmampuan keluarga merawat dalam mengenal masalah anggota

keluarga dengan hipertensi. Skoring data :


DAFTAR PUSTAKA

Keperawatan-Keluarga-dan-Komunitas-Komprehensif.pdf

Iqbal Mubarak,W.2009.Ilmu Keperawatan Komunitas.jakarta:Salemba

Medika Anderson Elizabeth. 2006. Buku Ajar Keperawatan Komunitas

dan Praktik. Edisi 3.EGC.Jakartas

Efendi, Ferry, dkk. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas Teori dan


Praktik dalam Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
Andarmoyo, Sulistyo. 2012. Keperawatan Keluarga. Yogyakarta : Graha Ilmu