Anda di halaman 1dari 185

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Pengertian Kimia

Kimia adalah ilmu yang mempelajari benda, ciri-cirinya, strukturnya,


komposisinya, dan perubahannya yang disebabkan karena interaksi dengan benda
lain atau reaksi kimia (Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas).

B. Pengertian Lingkungan

Lingkungan adalah semua yang mempengaruhi pertumbuhan manusia atau


hewan, alam dan keadaan (kondisi, kekuatan) sekitar yang mempengaruhi
perkembangan dan tingkah laku organisme, daerah (kawasan) yang termasuk
didalamnya (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1989). Lingkungan adalah sejumlah
kondisi di luar dan mempengaruhi kehidupan dan perkembangan organisme-
organisme (Encyclopedia of Science and Technology, 1960).

Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan,
dan makhluk hidup termasuk didalamnya manusia dan perilakunya yang
mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta
makhluk hidup lainnya (Undang Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun
1997).

C. Pengertian Kimia Lingkungan

Kimia Lingkungan adalah cabang ilmu kimia yang mempelajari masalah


lingkungan, serta penerapannya yang bertujuan untuk mencegah dan memperbaiki
lingkungan dari pencemaran.

Kimia lingkungan mempelajari masalah lingkungan hidup yang berkaitan dengan


reaksi kimia serta penerapan pengetahuan kimia untuk melindungi dan memperbaiki
lingkungan hidup. Kerusakan lingkungan hidup dapat disebabkan oleh alam atau
kegiatan manusia.

1
D. Pengertian Pencemaran Lingkungan

Pencemaran Lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya suatu zat, energi


dan komponen lain ke dalam lingkungan akibat aktifitas manusia atau oleh proses
alam yang mengakibatkan kualitas lingkungan turun atau tidak berfungsi lagi sesuai
dengan peruntukannya.

E. Sumber-sumber Pencemaran dalam Kehidupan


1. Alam (natural sources)
a. Letusan gunung berapi (vulkanik) yang mengeluarkan debu dan gas yang
terdiri dari Fumarol: Sulfur dioksida (SO2), Hidrogen Sulfida (H2S) dan
Karbon dioksida (CO2); Movet: karbon monooksida (CO), dan Solfatara:
Belerang Oksida (SO).
b. Gempa bumi, banjir, angin topan, kebakaran hutan, gelombang pasang,
pergeseran tanah, dan lain sebagainya dapat menghasilkan zat/bahan buangan
yang turut mencemari keberadaan alam itu sendiri.
2. Manusia (anthropogenic/man made sources)
a. Industri
Industri menerapkan berbagai proses produksi yang melibatkan perangkat
kerja, bahan-bahan dan teknologi sebagai upaya manusia untuk memenuhi
kebutuhan barang yang diperlukan bagi kehidupannya. Hasil samping dari
proses produksi dalam bentuk bahan/zat buangan limbah cair, limbah padat dan
gas. Bahan/zat buangan dalam bentuk limbah cair disebut “effluent”, yang
berbentuk gas dan partikel disebut “gaseous/particulate matters”, sedangkan
yang berbentuk buangan padat disebut “solid wastes”.
b. Tempat-Tempat Umum
Pusat Perekonomian/Perdagangan termasuk dalam kategori ini seperti: pasar,
pusat perbelanjaan (mall/super market), terminal angkutan darat/laut/udara,
stasiun kereta api, restoran/rumah makan, kafe, hotel. Gas buangan kendaraan
dan sampah dapat dihasilkan di tempat ini.

2
c. Pemukiman Penduduk
Perumahan/pemukiman penduduk merupakan sumber pencemar yang perlu
mendapat perhatian, karena banyak aktivitas yang dilakukan di tempat ini.
Bahan/zat pencemar yang dihasilkan adalah limbah cair, sampah padat, kotoran
manusia (excreta) dan gas/asap buangan dari aktivitas penduduk.
d. Pertanian
Kebutuhan pangan manusia dapat dipenuhi melalui penanaman berbagai jenis
tanaman pangan. Intensifikasi, extensifikasi, diversifikasi dan mekanisme
pertanian menghasilkan produk yang bermanfaat dan bahan buangan. Bentuk
bahan/zat buangan pertanian yang dihasilkan dari sektor pertanian terdiri dari
limbah cair, sampah padat dan gas buangan/asap pembakaran.

F. Ruang Lingkup Kimia Lingkungan


1. Kimia lingkungan memberikan kontribusi untuk ikut memecahkan masalah
lingkungan.
2. Kimia Lingkungan mempelajari substansi, proses-proses kimiawi yang
berlangsung di alam, di lingkungan kerja, lingkungan tempat tinggal serta
perubahan-perubahan yang terjadi.
3. Kimia Lingkungan mempelajari unsur-unsur yang dapat menimbulkan gangguan
kesehatan dan bahan yang mempengaruhi kehidupan atau ekosistem.
4. Kimia Lingkungan mempelajari parameter-parameter kimia yang digunakan untuk
menentukan kriteria dan standar dalam hal-hal yang menyangkut bidang
kesehatan seperti air minum, makanan, air limbah, obat dan lain-lain.
5. Kimia Lingkungan mengembangkan metoda, alat, bahan dalam rangka penentuan
kualitas bahan dan pemantauan serta pengendalian lingkungan.
6. Kimia Lingkungan memberikan kontribusi dalam penyelenggaraan pengendalian
faktor-faktor lingkungan seperti pengadaan peraturan-peraturan di bidang
lingkungan, penentuan nilai ambang batas bahan-bahan kimia, peraturan-
peraturan tentang bahan-bahan berbahaya, bahan aditif makanan dan pengawasan
peredaran bahan kimia berbahaya.

3
G. Peranan Kimia Lingkungan dalam Pengendalian Pencemaran

Secara garis besar peranan kimia lingkungan dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Kimia lingkungan memberikan kontribusi berupa pengetahuan dan prinsip-prinsip


kimia, karena kimia lingkungan mempelajari hal-hal tentang pemakaian dan
timbulnya bahan kimia di alam.
2. Kimia lingkungan mempelajari seberapa jauh pengaruh bahan kimia terhadap
lingkungan hidup.
Dalam hal ini pengaruh itu dapat berupa:
a. Kebersihan udara atmosfir.
b. Kelestarian sumber air yang sehat.
c. Kelestarian lapisan tanah yang subur dan produktif.
d. Kesehatan manusia dan kelestarian makhluk hidup.
3. Kimia lingkungan mempelajari proses, penyebaran, pemusatan, pengenceran,
penghancuran bahan kimia baik di udara, air maupun dalam tanah serta
mempelajari sumber-sumber bahan kimia yang merupakan gangguan terhadap
ekosistem, antara lain:
a. Bahan sampah atau bahan buangan.
b. Gas buangan dari pembakaran fosil dan bahan bakar lain.
c. Pemakaian di bidang pertanian, seperti pestisida, herbisida, insektisida, zat-zat
yang mempengaruhi pertumbuhan, pupuk-pupuk kimia, obat tanaman dan lain-
lain.
d. Pemakaian obat-obatan, maupun penggunaan bahan sintetis sebagai zat aditif
(tambahan) dalam makanan.
e. Sampah, baik organik maupun anorganik terutama yang tidak bisa hancur oleh
aktivitas biologik mikroba, seperti plastik, detergen dan lain-lain.
f. Penggunaan radio isotop dan tenaga nuklir.
4. Kimia lingkungan mempelajari upaya mengurangi sampah sekecil-kecilnya
pengaruh negatif pemakaian dan penyebaran bahan kimia di alam antara lain:
a. Berperan dalam upaya pengendalian pencemaran.
b. Berperan dalam memilih bahan baku tidak berbahaya pada proses produksi.

4
c. Berperan dalam pengawasan dan pembatasan terhadap produksi barang sintetis
yang berbahaya.
d. Berperan membantu memberikan pedoman dalam cara-cara yang benar
pemakaian obat atau bahan kimia.
e. Berperan dalam pelaksanaan pembuangan sampah dan bahan buangan
berbahaya, sampah beracun maupun sampah radioaktif.
f. Berperan dalam membantu pengaturan tata lingkungan yang baik dan bebas
dari pencemaran bahan kimia berbahaya (tata kota, tata lokasi dalam kompleks
industri dan lain-lain).
5. Kimia lingkungan dapat berfungsi membantu memberikan petunjuk dalam hal
pengendalian pencemaran lingkungan oleh bahan kimia antara lain:
a. Pengawasan dan pemantauan pemakaian bahan-bahan kimia berbahaya pada
kosmetik, makanan dan obat.
b. Pemantauan kualitas air minum, air buangan industri badan air, dan lain-lain.
c. Penyimpanan dan pengisolasian bahan berbahaya di pabrik atau di instalasi
lain.

H. Klasifikasi Lingkungan menurut Wujudnya:


1. Lingkungan fisik: air, udara, tanah, makanan, panas, dingin, ketinggian tempat,
bangunan, kendaraan, dan lain-lain.
2. Lingkungan kimiawi: bahan pengawet makanan, zat kimia alkali, logam, obat-
obatan, pestisida, detergen, sabun, dan lain-lain.
3. Lingkungan biologis: tanaman, hewan, mikroorganisme, dan lain-lain.
4. Lingkungan sosial: pergaulan masyarakat, kelompok profesi, ras, organisasi, dan
lain-lain.

5
BAB 2
DASAR-DASAR KIMIA LINGKUNGAN

A. Konsep Dasar Kimia Anorganik

Kimia anorganik adalah cabang ilmu kimia yang mempelajari sifat dan reaksi
senyawa anorganik. Ini mencakup semua senyawa kimia kecuali yang berupa rantai
atau cincin atom-atom karbon. Atom, Unsur, Molekul suatu zat yang erat dengan
kimia lingkungan.

1. Pengertian Zat/Materi

Zat adalah segala sesuatu yang mempunyai massa dan menempati ruangan.
Bentuk terkecilnya disebut unsur atau elemen.

Unsur kimia jumlahnya 118. Unsur adalah zat kimia yang tidak dapat dibagi lagi
menjadi zat yang lebih kecil, atau tidak dapat diubah menjadi zat kimia lain
dengan menggunakan metode kimia biasa.

Satu unsur terbentuk oleh molekul-molekul, yang mempunyai atom-atom yang


sama, misalnya unsur Hidrogen (H) mempunyai molekul yang mengandung 2
atom H.
Unsur-unsur yang paling banyak terdapat pada makhluk hidup adalah:
a. Oksigen (O2): 65 %.
b. Karbon (C): 18 %.
c. Hidrogen (H): 10 %.
d. Nitrogen (N): 3 %.
e. Kalsium (Ca): 2 %.
f. Fosfor (P): 1 %.
Unsur-unsur ini sangat diperlukan untuk menjalankan proses fisiologik dalam
tubuh agar dapat tumbuh dan berkembang serta produksinya.

6
Unsur-unsur berdasarkan sifat-sifat kimia dapat dibagi menjadi:
a. Logam (penghantar listrik dan panas).
b. Non logam (sukar menghantarkan listrik dan panas).
c. Metaloid dapat mempunyai sifat logam/non logam (sifat antara yang disebut
amfoter).

Unsur Cuprum 64
29𝐶𝑢 dalam Bahasa Inggris (UK) dikenal dengan copper, dan

dalam Bahasa Indonesia dikenal sebagai tembaga. Unsur ini bentuknya tidak
dapat dibagi lagi kedalam bentuk yang lebih kecil, sedangkan senyawa adalah
bagian dari zat yang merupakan gabungan dari unsur.

Unsur adalah bagian dari zat yang hanya terdiri dari satu atom dan seluruh atom
pada suatu unsur sama ukuran, berat dan bentuknya. Atom dari unsur yang
berbeda tidak sama ukuran, bentuk dan beratnya, sehingga didapatkan banyak
unsur-unsur di alam yang berbeda-beda.

Senyawa ialah suatu gabungan yang terdiri dari dua unsur atau lebih yang
bergabung secara kimia dengan perbandingan tertentu dalam setiap molekulnya.

Rumus kimia dari suatu senyawa dapat berupa rumus molekul dan rumus empiris.
Rumus molekul itu adalah suatu molekul yang ada dalam rumus kimia yang
menyatakan suatu jenis serta jumlah atom yang dapat menyusun zat.

Apabila dalam suatu unsur mempunyai senyawa lebih dari satu, maka nama
senyawa mengikuti angka indeksnya dalam bahasa Yunani seperti: 1= Mono; 2=
Di; 3= Tri; 4= Tetra; 5= Penta; 6= Heksa; 7= Hepta; 8= Okta, 9= Nano; 10=
Deka. Contoh: CO= Karbon monoksida; CO2 = Karbon dioksida.

Molekul adalah: Gabungan dari beberapa atom unsur, bisa dua atau lebih.
Molekul adalah partikel terkecil dari suatu unsur atau senyawa.

7
Tabel 1. Contoh Unsur dan Senyawa

Unsur Senyawa
Nama Simbol Nama Simbol
Natrium Na Natrium Khlorida NaCl

Khlor Cl Natrium Bromida NaBr

Brom Br Air H2O

Hidrogen H Karbon dioksida CO2

Oksigen O

Karbon C

Materi/Zat secara umum dibagi menjadi 2 bagian yaitu zat tunggal dan
campuran. Zat tunggal dapat berupa unsur, atau berupa senyawa. Campuran
adalah gabungan beberapa zat dengan perbandingan tidak tetap tanpa melalui
reaksi kimia. Sedangkan campuran dapat berupa campuran homogen atau
berupa campuran heterogen.

8
Gambar 1. Skema Bentuk Zat/Materi

Campuran homogen adalah campuran antara 2 zat atau lebih yang partikel-
partikel penyusun tidak dapat dibedakan lagi. Campuran homogen sering
disebut larutan. Contoh: campuran air dengan gula dinamakan larutan gula,
campuran air dengan garam dinamakan larutan garam.

Campuran di atas adalah campuran antar zat cair.

Terdapat campuran antara logam dengan logam lain sehingga terbentuk


campuran homogen.

Tabel 2. Contoh Paduan Logam dan Fungsinya

Nama Campuran Logam Penyusun Fungsi


Perunggu Tembaga, zink, timah Medali
Kuningan Tembaga, zink Ornamen
Stainless stell Besi, krom, nikel Alat dapur, alat
kesehatan
Emas Putih Emas, perak, tembaga Perhiasan
Timah solder (Tinol) Timah, timbal Penyambung
kabel saat
menyolder

9
Tabel 3. Perbedaan Campuran dan Senyawa

No. Campuran Senyawa


1. Terbentuk tanpa Terbentuk melalui reaksi
melalui reaksi kimia kimia
2. Perbandingan massa Perbandingan massa unsur
unsur dan senyawa tetap
tidak tetap
3. Tersusun dari beberapa Tersusun dari beberapa unsur
senyawa saja
4. Sifat komponen Sifat komponen penyusun
penyusun campuran senyawa berbeda dengan
sesuai dengan sifat aslinya
masing-masing
5. Melalui proses fisika Melalui proses kimia
komponen penyusun komponen penyusun senyawa
campuran dapat dapat dipisahkan
dipisahkan

Campuran Heterogen adalah campuran antara dua macam zat atau lebih yang
partikel penyusunnya masih dapat dibedakan satu sama lainnya disebut
campuran heterogen.

Contoh campuran heterogen: tanah, air sungai, makanan, minuman, air laut,
adonan kue, adonan beton cor, dan lain-lain.

Pada campuran heterogen, dinding pembatas antar zat masih dapat dilihat
misalnya: campuran air dengan minyak, campuran besi dan pasir, campuran
serbuk besi dan air, dan sebagainya.

Partikel adalah sebuah satuan dasar dari benda atau materi. Bisa juga dikatakan
bahwa partikel merupakan satuan bagian terkecil dari suatu materi. Jenis
Partikel ini ada 3 yaitu: atom, molekul, dan ion. Jadi baik atom, molekul, dan
ion ketiganya merupakan satuan terkecil dari materi yang secara umum disebut
partikel.

10
Senyawa mempunyai sifat-sifat yang sangat berbeda dengan unsur
pembentuknya. Terdapat 3 fase atau bentuk dari zat, yaitu: padat, cair, dan gas.
Fase masing-masing terjadi karena unsur atau senyawa dipengaruhi oleh
tekanan dan suhu. Sebagai contoh, air berada dalam bentuk padat pada
temperatur dibawah 00C, sedangkan sebagai bentuk cair pada 00C sampai
1000C dan dalam bentuk gas diatas 1000C pada tekanan atmosfir.

2. Atom

Menurut John Dalton seorang ilmuwan Inggris, bahwa Atom adalah partikel
pembentuk zat. Atom tidak dapat dipecah atau dibagi-bagi. Unsur adalah bagian
dari zat yang hanya terdiri dari satu tipe atom dan seluruh atom pada suatu unsur
akan sama ukuran, berat dan bentuknya sebaliknya atom dari unsur yang berbeda
tidak sama ukuran, bentuk serta beratnya. Sebuah atom terdiri atas inti atom
(nukleus) dan dikelilingi oleh elektron.

Teori atom Dalton ini tetap berlaku sampai sekarang, dan postulat yang
diajukannya adalah sebagai berikut:

a. Atom bukan partikel zat yang terkecil yang dapat terlihat, tetapi merupakan
unit terkecil suatu zat yang dapat dibedakan menurut unsur-unsurnya.
b. Atom adalah unit terkecil suatu zat yang dapat bereaksi secara kimia.
c. Atom dari unsur yang berbeda akan berbeda pula komposisi dan sifat-sifatnya.
d. Tidak seluruh atom dari unsur yang sama mempunyai sifat yang sama, tetapi
diantaranya hanya mirip sifatnya.
e. Senyawa kimia terbentuk dari campuran atom-atom dari unsur yang berbeda.
Unit terkecil dari zat yang terbentuk dengan sifat senyawa baru tersebut disebut
molekul.
f. Molekul adalah kumpulan dari bermacam unsur. Bila komposisi dari molekul
dirubah, maka ciri molekul/ senyawa juga berubah. Dalam reaksi kimia
komposisi molekul diubah seperti halnya suatu bahan kimia dirubah ke bentuk
lainnya.

11
Berikut ini digambarkan suatu senyawa/molekul yang terdiri dari unsur-unsur
yang masing-masing molekul terbagi lagi ke dalam unsur.

Contoh senyawa air:

H O H H2o

Unsur Unsur Unsur Molekul air

Gambar 2. Senyawa air

3. Struktur Atom

Atom mempunyai massa, dan massa ini ada yang bermuatan positif (proton)
dan yang bermuatan negatif (elektron), sedangkan yang netral (neutron) (Ernest
Rutherford, 1911). Untuk mengenali suatu atom dapat dilihat dari jumlah proton
dan elektron. Atom-atom dari unsur yang sama mempunyai jumlah proton dan
elektron yang sama. Jumlah proton dari masing-masing atom menunjukkan nomor
atom sedangkan berat atom merupakan penjumlahan dari berat proton dan neutron
dengan satuan Atomic Mass Unit (AMU) atau SMU (satuan massa atom), sebagai
ukuran massa atom.

Jumlah massa atom

23 Penjumlahan dari berat proton

dan neutron

23
Simbol kimia dari Natrium: 11𝑁𝑎

Na Nomor atom: merupakan jumlah proton di


dalam nucleus.

12
Gambar 3. Contoh Simbol Kimia

Ion adalah: atom yang bermuatan listrik, ion yang bermuatan listrik disebut
kation, dan ion yang bermuatan negatif disebut anion. Kation dan anion dapat
berupa ion tunggal hanya terdiri dari satu jenis atom atau dapat pula berupa ion
poliatom mengandung dua atau lebih atom yang berbeda.

Contoh: Natrium

a. Jenis Unsur: Logam


b. Lambang Unsur: Na
c. Nomor massa (A): 23
d. Konfigurasi elektron (e-) berdasarkan kulit atom: 2 8 1 (K=2; L=8; M=1)
e. Konfigurasi berdasarkan subkulit pengisian elektron (e-) pada tiap subkulit
mengikuti diagram tingkat energi: 11 Ne 3s1 [J.J. Thomson (1856-1940)
Penemu Elektron]
f. Neutron (n) atau A – Z: 12
g. Elektron valensi: 1
h. Periode: 3
i. Golongan: IA (Elektron Valensi (ev) atom netral menunjukkan golongan.
Penentuan Golongan A dan B. Golongan A, jika ev. berada pada subkulit ns np
Golongan B, jika ev. berada pada subkulit ns n-1d Logam transisi dengan ev
8,9, 10 berada pada golongan VIII B.
j. Kation: Na+
k. Anion: -
l. Jumlah p, e-, konfigurasi e- dan n setelah mengalami ionisasi.
m. Elektron di dalam Atom.

Dalam mempelajari materi hendaknya telah memahami tentang atom dan


intinya, sebab inti atom atau nucleus ini berperan sangat penting dalam
pembentukan materi.

13
B. Konsep Dasar Kimia Organik
Pengetahuan dasar kimia organik diperlukan oleh praktisi di bidang lingkungan,
sebab kenyataannya banyak terdapat bahan sintetis yang terdiri dari bahan-bahan
organik. Di alam bahan organik dapat berupa cair, padat atau gas yang dapat
dihancurkan. Sebagian besar bahan organik ini terbentuk sebagai produk dan
sebagian kecil sebagai hasil reaksi. Bahan organik ini tidak sepenuhnya murni
namun merupakan campuran bahan organik dan umumnya memberikan beban pada
badan air. Sebagai contoh badan air secara normal mengandung formaldehida 5
persen.
Ahli-ahli di bidang lingkungan seperti ahli kimia harus memahami secara
mendalam dasar-dasar biokimia ini, sebab tidak hanya penting untuk mengetahui
kompleksitas reaksi bahan-bahan ini serta hasil-hasil reaksi yang diharapkan terjadi,
tetapi yang penting adalah bagaimana bahan ini berperan sebagai sumber energi atau
nutrien dari kehidupan organisme. Bagi praktisi dibidang ini akan lebih mudah
menangani masalah-masalah yang ditimbulkan oleh bahan organik.
1. Sejarah tentang Bahan Organik
Kimia organik mempelajari bahan kimia yang mengandung karbon (C).
Pengetahuan tentang kimia organik ini dikenal tahun 1685 melalui suatu publikasi
oleh Lemery dalam buku yang membahas bahan-bahan kimia murni seperti
mineral, bahan dari tumbuhan atau hewan. Dan sejak itu bahan-bahan yang
dihasilkan dari tumbuhan dan hewan dikenal sebagai bahan organik sedangkan
bahan yang dihasilkan dari benda tak hidup dikenal sebagai bahan anorganik.
Teori ini dikenal dengan vital force theory.
Sampai tahun 1828 masih tetap dianggap bahwa bahan-bahan organik hanya
bersumber dari bahan tumbuhan dan binatang. Namun kemudian ahli kimia
Jerman yaitu Wholer (1928) secara kebetulan menemukan bahwa
pengubahan/penguraian amonium sianat yang merupakan bahan anorganik,
ternyata dapat dihasilkan dari bahan urea, yaitu suatu bahan organik yang
dihasilkan di alam. Sehingga mulai saat itu vital force theory berubah. Dan baru

14
pada tahun 1850 mulai dikembangkan kimia organik modern, dan saat ini sebagai
produk kimia sintetik, dan sebagian diantaranya tidak dikenal di alam.

2. Unsur-unsur
Seluruh bahan organik terdiri dari rangkaian karbon dalam berbagai kombinasi
dengan satu unsur atau lebih. Sedangkan senyawa-senyawa yang terbentuk
dengan sintesa biasanya ada penambahan unsur logam halogen tertentu dan
sejumlah besar unsur yang lain.
3. Sifat Senyawa Organik

Sifat senyawa organik antara lain:

a. Senyawa organik biasanya mudah terbakar.


b. Senyawa organik umumnya sebagai bahan pelarut bahan lain dan mudah
menguap.
c. Senyawa organik umumnya sukar larut dalam air.
d. Beberapa senyawa organik biasanya berada pada beberapa bentuk. Dalam hal
ini dapat diketahui dari isomernya.
e. Reaksi dari senyawa organik umumnya bersifat molekuler bukan atas dasar ion
dan hasilnya biasanya sangat lambat.
f. Berat molekul senyawa organik umumnya sangat tinggi, sering berat
molekulnya mencapai lebih dari 1000.
g. Sebagian besar senyawa organik dapat bertindak sebagai sumber makanan bagi
bakteri.
4. Sumber-sumber Senyawa Organik
Senyawa organik dihasilkan dari 3 sumber:
a. Alam
Serat, minyak tumbuhan, minyak dan lemak binatang, alkaloid, selulosa, pati,
gula dan sebagainya.
b. Sintetis
Berbagai senyawa dan bahan-bahan organik dihasilkan dari proses produksi
pabrik.

15
c. Fermentasi
Sekonal, aseton, gliserol, antibiotika, asam-asam dan banyak juga dihasilkan
oleh aktifitas mikroorganisme terhadap bahan organik.
Bahan organik dari bahan buangan dari proses industri, proses alam dan
fermentasi bahan organik di industri merupakan penyebab terbesar dalam hal
menimbulkan masalah lingkungan.
5. Susunan Atom Karbon
Susunan atom karbon pada senyawa organik cukup bervariasi, disebabkan
sifat-sifat karbon yang memiliki empat valensi serta kemampuan atom karbon
membentuk rangkaian bersama atom lain.
a. Ikatan lurus

-C–C–C –C- C–

b. Ikatan lurus dengan cabang

-C-

-C– C–C– C- C- C-

-C-

c. Lingkaran
-C
C - -C–

C- -C–

d. Isomer

16
Pada senyawa karbon, suatu molekul formula biasanya bersifat khusus.
Gabungan dari beberapa “molekul formula” ini dikenal dengan isomer.

Contoh molekul formula adalah:


H H

H–C -C–C–O–H

H O O

H
Gabungan dari dua buah molekul formula disebut asam hidroksi, 3 buah
molekul formula disebut asam ester hidroksi sedangkan gabungan 4 buah
molekul formula disebut asam metoksi.
e. Penulisan

Penulisan dari rumus bangun dapat disederhanakan.

H H H

H – C - C – C – OH dapat ditulis dengan cara

H H H CH3 - CH2 –CH2OH atau CH3CH2CH2OH


6. Jenis Senyawa Organik
Ada 3 jenis senyawa organik, yaitu alifatik, aromatik dan heterosiklik.
a. Alifatik
Alifatik adalah senyawa organik yang terbentuk dari rangkaian atom karbon
lurus dengan atom hidrogen atau atom-atom lain.
Contoh: n satuan
H H H H

H– C - C–C– C - H

17
H H H H

b. Aromatik
Aromatik adalah senyawa organik yang terbentuk dari rangkaian 6 atom yang
membentuk lingkaran. Dalam hal ini, suatu lingkaran dapat membentuk ikatan
dengan lingkaran yang lain sampai 3 buah.
Contoh: Fenol
CH2

CH2 CH2

CH2 CH2

CH2
c. Heterosiklik
Heterosiklik adalah senyawa organik yang memiliki struktur atom karbon
melingkar dimana dalam lingkaran tersebut terdapat sebuah atom yang bukan
atom karbon.
Contoh: Indol.

18
7. Reaksi Kimia Hidrokarbon Alifatik
Pada suhu ruang asam, basa kuat, atau larutan oksidator tidak dapat bereaksi
dengan hidrokarbon jenuh. Pada suhu tertentu, oksidator kuat seperti asam sulfat
dapat mengoksidasi senyawa organik menjadi karbondioksida dan air. Reaksi ini
penting karena sering terjadi di alam terutama nitrogen organik. Reaksi lainnya
yang penting adalah sebagai berikut:
a. Oksidasi dengan oksigen atau udara,
CH4 + 2 O2 -------- > CO2 + 2 H2O
b. Substitusi hidrogen dengan halogen
CH4 + Cl2 ---------> HCL + CH3 Cl
c. Pirolisis atau perusakan
Molekul hidrokarbon dengan berat molekul yang tinggi dapat dihancurkan
menjadi molekul-molekul yang lebih kecil dengan cara pemanasan. Proses
pirolisis ini digunakan pada industri minyak, untuk menguraikan bahan yang
diproduksi sehingga cocok untuk dijual seperti premium ataupun bahan kimia
sintetik. Pemanasan tinggi akan menghasilkan molekul-molekul yang kecil.
Contoh: Parafin dengan pemanasan tinggi akan menghasilkan parafin dengan
molekul yang lebih kecil: + Olefin; + Hidrogen,+ Naften;+ Karbon.
d. Oksidasi Biologik
Hidrokarbon dapat dioksidasi oleh bakteri tertentu pada kondisi aerobik.
Oksidasi terjadi melalui beberapa langkah. Langkah pertama oksidasi biologik
terjadi sangat lambat termasuk didalamnya konversi dari hidrokarbon menjadi
alkohol bila bacteri yang menyerang banyak.
2 CH3CH2CH3 + O2 - - - - - -> 2 CH3CH2CH2OH
Hidrokarbon bakteri alkohol
Pada langkah berikutnya akan terbentuk carbon dioksida dan air.
CH3CHO2
CH3CH2CH3 + 5 O2 - - - - - - -> 3 CO2 + 4 H2O

19
Bakteri
Reaksi ini perlu diketahui karena banyak terjadi di alam.

8. Beberapa Senyawa Karbon Yang Penting


a. Methana (CH4)
Methana adalah hidrokarbon yang sederhana. Bentuknya adalah gas yang
diproduksi pada proses anaerobik, umumnya terdapat pada bahan buangan
terutama bahan buangan organik. Methana juga merupakan komponen dari gas
alam, campuran dengan udara mengandung sekitar 5 sampai 15 prosen
methana. Methana dapat digunakan sebagai bahan bakar, karena sifatnya yang
mudah terbakar dan meledak. Sifat mudah meledak inilah yang menyebabkan
methana tidak dipilih sebagai bahan bakar yang digunakan untuk kepentingan
rumah tangga.
b. Asetilen ( H – C = C – H )
Senyawa ini didapatkan dari hasil buangan industri tertentu, biasanya
berasal dari pabrik-pabrik yang memproses karet sintetik. Sebagai senyawa
hidrokarbon tidak jenuh memiliki sifat-sifat seperti :
1) Oksidasi
Senyawa ini mudah teroksidasi terutama dalam larutan kalium permanganat
menghasilkan glikol.
2) Reduksi
Pada kondisi khusus, suhu, tekanan dan katalis, hidrogen dari alkena ini
dapat menyebabkan ikatan ganda maupun tripel. Reaksi ini penting terutama
untuk usaha komersial yaitu dalam mengubah minyak tumbuh-tumbuhan
dalam bentuk lemak padat.
3) Adisi (penambahan)
Asam-asam halogen, asam hipokhlorit dan halogen akan mengisi ikatan tak
jenuh atom karbon.
OH Cl

CH3 – C = C - H + HOCl - - - - -> CH3 – C –C - H

20
H H H H

Reaksi dengan asam hipochlorit ini penting diketahui. Industri yang bahan
buangannya mengandung sejumlah besar senyawa tak jenuh akan
membutuhkan asam hypochlorit yang cukup besar untuk desinfeksi
(khlorinasi).
4) Polimerisasi
Sifat polimerisasi ini mendasari pabrik-pabrik resin sintetik, serta
berproduksi. Molekul dari senyawa tidak jenuh ini akan saling mengikat
satu sama lain membentuk polimer, dengan berat molekul yang besar.
Dalam hal ini juga penting diketahui bahwa buangan industrinya dapat
diharapkan berisi berbagai polimer yang tentu saja akan memerlukan
khlorin yang besar untuk desinfeksi.
5) Oksidasi oleh bakteri
Pada umumnya senyawa organik yang tidak jenuh cenderung mudah
teroksidasi oleh bakteri dibandingkan senyawa jenuh sebab adanya ikatan
atom karbon tak jenuh.
c. Etanol (CH3CH2OH)
Etanol atau etil alkohol diproduksi di pabrik-pabrik pertanian dan pabrik
obat-obatan. Terbentuk sebagai hasil proses fermentasi secara besar-besaran
derivat pati dari berbagai material seperti jagung, ketela, beras dan buah-
buahan, gula. Etanol dengan konsentrasi 70 % digunakan sebagai antiseptik
lokal. Penggunaan yang lain adalah sebagai pelarut dan campuran obat-obatan.
Sedangkan industri alkohol ini memiliki residu organik terutama sisa-sisa
bahan yang tidak terfermentasi. Hasil buangan berupa bahan organik ini yang
sering menjadi masalah lingkungan.
d. Metanol (CH2OH)
Metanol digunakan sebagai bahan pengganti bahan organik lain. Sifatnya
yang mudah terbakar digunakan untuk bahan bakar mobil. Kelebihan bahan ini
adalah karena panasnya konstan. Metanol adalah bahan yang bersifat racun dan

21
tidak berwarna sehingga dalam perdagangan harus dibubuhkan zat warna agar
mudah dikenal sebagai bahan racun. Metanol diproduksi terutama melalui
sintesa gas alam metana (CH4) dengan uap air bertekanan melalui sistem
katalis.
tekanan
CH4 + H2O - - - - - - - - - - - - - - - - -> CH3OH + H2
Katalis
Tetapi mungkin juga dibuat dari karbon monoksida dan hidrogen.
e. Isopropil Alkohol (CH3CHOHCH3)
Isopropil alkohol digunakan secara luas pada sintesa organik, dan
diperdagangan banyak yang dijual dalam bentuk “gas kering” . Dibuat sebagai
gas kering ini, dengan maksud untuk menjaga terpisahnya air didalam tangki
bahan bakar, kompos atau mobil.
Isopropil alkohol dipersiapkan dari proses hidrasi derivat propilen pada
pengolahan minyak.
H

f. Formaldehida ( H - C = O)

Formaldehida terbentuk dari hasil oksidasi metil alkohol.

H - C = OH + 12 O2 - - - - - H - C = O + H2

Bahan ini sangat toksik terhadap mikroorganisme dan karena sifatnya ini
maka digunakan untuk tujuan pembuatan spesimen biologik melalui
pengawetan. Bahan buangan industri yang mengandung formaldehida pada

22
suatu saat akan terlalu beracun, sehingga mempengaruhi bahan buangan lain,
yang sebenarnya diharapkan akan terdegradasi secara biologik dalam proses
purifikasi alamiah.

Dengan pengenceran akan dapat mengurangi konsentrasi formaldehida dalam


bahan buangan sampai dibawah 1.500 mg/liter. Pada konsentrasi ini
mikroorganisme bahkan dapat menggunakan formaldehida sebagai makanan
dan dioksidasikan menjadi karbon dioksida dan air. Pengalaman ini kemudian
mendasari adanya konsep ambang batas keracunan (toxicity threshold) pada
penanganan bahan buangan. Konsep ini juga diterapkan pada penanganan
limbah dengan sistem pencampuran lumpur aktif.

Di udara formaldehida terbentuk melalui reaksi hidrokarbon sebagai hasil


buangan kendaraan dengan bahan bakar fosil dengan ozon. Aldehida yang
terbentuk ini menyebabkan iritasi pada mata dan hal ini merupakan salah satu
masalah yang serius pada pencemaran lingkungan.

g. Etil Khlorida (C2H5Cl)


Etil Khlorida merupakan senyawa organik yang termasuk golongan alkil
holida. Etil khlorida penting sebab digunakan pada pabrik yang memproduksi
tetra ethyl lead (C2H5)4 Pb yaitu bahan yang cukup berkualitas untuk membuat
minyak bakar dengan aktor yang tinggi karena tetra ethyl lead ini berfungsi
sebagai bahan anti-knock (mengurangi letupan pada pembakaran) gas olie.

400 - 600
4 C2H5Cl + 4 NaPb - - - - - - - -> 4 NaCl + 3 Pb + (C2H5)4 Pb
Tetra ethyl Lead
Selama pembakaran Pb yang terlepas akan membentuk Timbal oksida dan akan
terbawa bersama gas buang menuju atmosfir dan menjadi masalah pencemaran
udara karena sifatnya yang beracun. Karena alasan inilah maka produksi
minyak bakar yang menggunakan tetra ethyl lead dibatasi.
h. Khloroform (CHCl3)

23
Khloroform adalah salah satu bahan anestesi yang digunakan sampai sekitar
tahun 1920. Bahan ini merupakan senyawa organik yang termasuk golongan
alkil holida. Penggunaan lain adalah di industri yaitu sebagai pelarut dari
lemak, minyak dan lain-lain. Sifatnya tidak mudah terbakar tetapi mudah
menguap dan bersifat karsinogenik.
Di dalam air minum hasil olahan hanya terdapat dalam satuan mikrogram
per liter suatu jumlah yang sangat kecil yaitu hasil dari proses desinfeksi
dengan khlorinasi. Sedangkan pada air alam khloroform juga dapat terbentuk
yaitu karsinogenik inilah maka dalam standar kwalitas air minum konsentrasi
khloroform dibatasi.
i. Karbon Tetra Khlorida (CCl4)
Karbon tetra khlorida secara luas digunakan untuk bahan pelarut dan
pemadam api lokasi terbatas yaitu Pyrene. Bahan ini diperkirakan beracun,
sehingga pemakaiannya dibatasi. Digunakan sebagai bahan pemadam api
tentunya cukup berbahaya, sebab bila berhubungan dengan besi panas dan
oksigen akan terbentuk Phosgene (COCl2) suatu gas yang sangat beracun.
Karena itulah maka pekerja di bidang pemadaman kebakaran lebih sukar
menggunakan alat lain yang lebih tidak berbahaya.
j. Penol (C6H5OH)
Ada beberapa derivat monohidrik dari benzen, yang penting diantaranya
adalah fenol. Fenol sering dikenal sebagai asam karbol dimana pada larutan
dengan konsentrasi tertentu dapat bersifat racun bagi mikroba sehingga
dipakai secara luas sebagai bahan penyuci-hama. Fenol diketahui berasal dari
batu bara juga di produksi secara sintetik oleh pabrik. Pada umumnya fenol
berada sebagai bahan buangan dari gas batu bara, pemasakan dengan bahan
bakar batu bara, industri minyak serta industri lain yang menggunakan fenol
sebagai bahan baku.
Tentu saja karena sifat membunuh bakteri ini menimbulkan kesulitan untuk
mengolah limbah industri dengan cara biologik, terutama untuk limbah industri
dengan cara biologik, terutama untuk limbah industri yang memiliki
konsentrasi fenol lebih dari 25 mg/l. Pada penelitian yang dilaksanakan

24
ternyata menunjukkan hal yang menarik, yaitu pada konsentrasi diatas 500
mg/l bakteri bahkan dapat menjadikan fenol sebagai nutrien, sedangkan
dibawah batas 500 mg/l tersebut justru sangat beracun bagi bakteri.
Bahan antiseptik lain yang merupakan turunan fenol adalah kresol. Bahan ini
sifat membunuh bakterinya lebih besar dan diperdagangkan dikenal sebagai
lisol. Penggunaan lain adalah untuk pengawetan makanan biasanya digunakan
creosate, suatu bahan yang juga termasuk turunan fenol.
Penggunaan lain adalah di bidang fotografi yaitu menggunakan pirogalol
karena bahan ini mudah teroksidasi. Selain itu larutan alkali pirogal juga
digunakan untuk mendeteksi oksigen pada gas. Bahan ini digunakan untuk
menyerap oksigen sehingga dapat diukur volume.
k. Asam Organik
Dalam senyawa ini asam-asam yang dikenal peruntukannya bermacam-
macam, seperti:
1) Asam bensoat (digunakan untuk bahan pengawet makanan)
2) Asam salisilat (bahan baku obat analgesik dan anti piretik yaitu aspirin)
3) Phenolphtalein (digunakan sebagai indikator penentuan pH di laboratorium).
l. Anilin
Anilin adalah suatu senyawa organik, sederhana yang didalamnya terdapat
unsur nitrogen dengan rumus: NH2 , sifat dari anilin ini adalah mudah bereaksi
dengan asam kuat membentuk garam. Turunannya adalah asam sulfanilicum
karena sifat-sifatnya kemudian digunakan sebagai bahan untuk mendeteksi
nitrit dengan cara colorimetry.
m. Trinitrotoluena (TNT)
Senyawa ini dikenal karena biasa digunakan untuk bahan peledak, baik
untuk keperluan militer maupun untuk pemecahan batu-batu di gunung.
n. Deterjen
Istilah detergen digunakan secara luas sebagai bahan pembersih. Bahan aktif
detergen merupakan senyawa organik yang mempunyai sifat-sifat sebagai
surfactant (surface active agent). Bahan-bahan surfactant ini mempunyai dua
kutub molekul-molekul yang terluar sebagian larut dalam air sebagian lainnya

25
larut dalam minyak. Kelompok molekul yang larut dalam air diantaranya
carbonat sulfat, hidroksil atau sulfonat. Dalam hal ini bahan aktif surfactan
kelompok larut dalam air berikatan dengan natrium atau kalium sebagai garam.
Tabel 4. Molekul yang larut dalam minyak terdiri dari senyawa organik.
Bagian yang larut dalam Bagian yang larut dalam air
minyak
Senyawa organik COONa - SO Na
SO Na - OH

o. Sabun
Sabun adalah garam-garam natrium atau kalium dalam rantai panjang asam
organik. Sabun mempunyai kemampuan membersihkan dalam air dan karena
memiliki satu molekul khusus yang bersifat polar sehingga mudah larut dalam
air, dikatakan sabun mempunyai sifat hidrofilik atau menyenangi air. Rantai
panjang hidrokarbon ini memiliki struktur yang mirip dengan lemak dan
minyak sehingga merupakan pelarut yang baik, meskipun bahan-bahan tersebut
sukar larut dalam air. Molekul yang bersifat hidrofobik. Dua pasangan molekul
inilah yang menjadikan sabun sebagai bahan pengemulsi. Bila digunakan
dalam air yang mengandung besi, sabun akan membentuk endapan-endapan
(scum) ditandai dengan tidak adanya buih dan kehilangan daya membersihkan.
Calsium dan Magnesium dalam sabun tidak melarut.
Biasanya sabun terbuat dari penurunan lemak dan minyak melalui proses
saponifikasi dengan natrium hidroksida. Saponifikasi secara khusus diartikan
sebagai hidrolisa dengan bahan alkali dengan tujuan untuk menetralkan asam
lemak. Saponifikasi dengan natrium hidroksida akan dihasilkan sabun lunak
sedangkan dengan Kalium hidroksida menghasilkan sabun keras. Dengan
sendirinya sabun yang terjadi juga tergantung tipe lemak atau minyak yang
digunakan. Lemak domba dan kapas digunakan untuk memproduksi sabun
cuci. Sedangkan minyak kelapa atau minyak olivarum, minyak jagung
dihasilkan sabun mandi. Seluruh sabun natrium dan kalium larut dalam air.
Namun bila digunakan air sadah, baik oleh kalsium atau magnesium maka akan

26
terjadi reaksi ion yaitu adanya pengendapan sebagai metalic soap, hal ini
ditandai dengan tidak munculnya busa dari sabun.
Bahan buangan hasil pencucian dengan sabun natrium organik ini dapat
diuraikan oleh mikroorganisme.
p. Deterjen Sintetik
Deterjen sintetik pertama kali diformulasikan tahun 1930 di Jerman dan
diperkenalkan di Amerika Serikat sekitar 1940. Deterjen sintetik mudah larut
dan sedikit menimbulkan endapan sekalipun dengan air yang bersifat sadah.
Seperti halnya pada sabun, deterjen terdiri dari komponen-komponen hidrofilik
dan hidrofobik pada molekul-molekulnya dan ada beberapa jenis struktur yang
diproduksi. Pertama adalah formulasi deterjen anion. Sampai beberapa tahun
deterjen jenis ini diakui efektif untuk mencuci dan dipertahankan sampai kini.
Disebut deterjen anion sebab muatan molekul yang mengikat/menangkap
gugus hidrokarbon adalah negatif (anion). Contoh: Alkyl Benzene Sulfonat
(ABS).
Jenis kedua, deterjen kation, menunjukkan bahwa bahan yang berikatan dengan
grup utama bermuatan positif.
Biaya produksi untuk deterjen kation umumnya lebih mahal dibandingkan
deterjen anion, tetapi deterjen kation memiliki sifat lain yaitu sebagai
pembunuh kuman (germicidal). Deterjen kation biasa digunakan di pabrik
sebagai softener (untuk proses pelunakan). Jenis berikutnya adalah deterjen
nonionik, yang saat ini sangat jarang dipergunakan. Sesuai namanya, deterjen
ini tidak menggunakan kation maupun anion.
ABS deterjen tidak dapat diuraikan secara biologik oleh mikroorganisme sebab
mikroorganisme tidak mampu menggunakan hidrokarbon dengan rantai
melingkar ini untuk metabolismenya. Karena sifatnya yang tidak bisa hancur
ini maka dikembangkan jenis lain yang kemudian dikenal dengan linear alkyl
sulfonate (LAS) yang bersifat biodegredable (mudah terurai) sehingga deterjen
jenis ini yang digunakan hingga sekarang.
q. Pestisida

27
Pestisida adalah bahan yang mempunyai kemampuan membunuh hama
tertentu. Pestisida digolongkan kedalam beberapa golongan sesuai dengan
sasaran apa yang dibunuh misalnya, insektisida untuk serangga, fungisida bila
yang dibunuh hama tumbuhan, rodentisida bila yang dibunuh binatang
mengerat (tikus), germisida bila yang dibunuh cacing-cacing, dan banyak lagi
seperti acarisida, moluskasida, nematosida.
Penggunaan pestisida pertama kali dilaporkan sekitar tahun 1963. Ketika
digunakan ekstrak nikotin untuk membunuh serangga (aphids). Setelah itu
penggunaan pestisida semakin berkembang meskipun bahan yang digunakan
adalah bahan kimia sintetik yang baru diketahui tahun 1892 dan sejak itu
dikembangkan bahan kimia sintetik.

Penggunakan pestisida sintetik secara besar-besaran digunakan di bidang


pertanian sehingga perkembangannya begitu pesat. Kemudian timbul masalah
yang tidak dikehendaki yang berhubungan dengan pestisida sebagai bahan
beracun, membuat orang berpikir bahwa pestisida harus digunakan secara
cermat. Residu dari pestisida ini yang kemudian banyak mencemari tanah, air,
dan makanan sehingga menjadikan sifat-sifat alami dari tanah maupun air
berubah.

1) Golongan Organoklorin
Organokhlorin terbentuk dari bahan organik yang terdapat gugus
khlornya. Seluruh bahan organokhlorin dapat larut dalam lemak (lipofilik).
Oleh karenanya mudah menembus jaringan tubuh binatang. Selain itu,
bahan jenis ini agak sukar diuraikan secara alamiah sehingga sering
menimbulkan masalah lingkungan. Contohnya: DDT, Lindane, Heptachlor,
Mitex, Dieldrin, dan Toxaphene.
2) Golongan Organofosfat
Organofosfat merupakan bahan organik yang aktif. Saat ini sekitar
100.000 insektisida dari jenis organofosfat digunakan, dan sekitar 40 persen
yang digunakan berhasil dengan hasil baik. Atom fosfor yang terletak di
tengah bersifat sangat elektrofilik dan inilah kunci dari berkhasiatnya racun

28
ini secara fisiologik. Fosfor ini menarik enzim cholinesterase (ChE) dan
menghambat enzim ini untuk menjalankan fungsi seperti biasanya.
Terbentuknya asetilkholin ini menyebabkan kerusakan pada simpul syaraf
yang harus meneruskan rangsangan dari satu simpul syaraf ke simpul syaraf
berikutnya menjadi cholin dan bagian luar dari simpul syaraf ini menjadi
tidak normal fungsinya. Inilah sebabnya sehingga pada insekta yang
menggunakan jaringan simpul syaraf yang menyerupai sistem elektrik ini
bila terkena insektisida ini akan terputus jaringan syaraf otaknya. Akibat
yang terjadi pada manusia adalah adanya gejala hiperaktif, tremor (kejang-
kejang dan menggigil), konvulsi, paralisis dan kematian.
Keracunan oleh Organofosfat
Banyak organofosfat yang mempunyai derajat keracunan yang lebih tinggi
dari chlorinated hidrocarbon, diukur misalnya dengan LD50 untuk tikus.
Dengan demikian pada penggunaan organofosfat ini haruslah berhati-hati,
cermat dan sedapat mungkin dihindarkan tertinggalnya bahan-bahan ini di
alam. Disamping itu kepada petugas penyemprot haruslah dilengkapi
dengan sarung tangan karet, baju lengan panjang, kaca mata, topeng atau
respirator dan sepatu.
Contoh: Parathion, Methyl paration, Malathion, TEPP (tertreaethyl
pyrophosphate, Sulfotepp tetraethyl dithionopyrophosphate, DDVP atau
dichlorovos 0,0. Dymethyl 2,2. Dichlorovinyl phosphate, Systox (demeton).
3) Karbamat
Khasiat karbamat hampir sama dengan organofosfat. Strukturnya mirip
dengan asetil kholin, dan oleh karenanya karbamat juga memiliki
kemampuan mempengaruhi enzim cholinesterase. Daya racun dari karbamat
hampir sama dengan organofosfat. Sifatnya tidak terakumulasi dalam tubuh
dan sangat cepat diuraikan. Kontak dengan kulit memberikan reaksi yang
tidak berat. Reaksi baru timbul pada konsentrasi yang tinggi yaitu 4.000
mg/kg untuk carbaryl dan 1.000 mg/kg untuk Baygon.
Satu sifat carbamat yang penting sebagai insektisida adalah bahwa
insektisida ini mempunyai sifat sinergistik dengan carbamat lainnya

29
sehingga penggabungan sejumlah kecil suatu karbamat dengan karbamat
lain dapat melipatgandakan daya bunuhnya. Dalam hal ini golongan
karbamat yang sering digunakan adalah Piperonil butoksida, sesoxane dan
propil isomer. Bahan ini efektif dalam jumlah yang kecil, sehingga ini akan
membantu mencegah keracunan sementara daya bunuhnya tetap tinggi.
Perlu diketahui bahwa selain efektif untuk insektisida karbamat juga efektif
untuk membunuh moluska. Keracunan oleh carbamat dapat ditanggulangi
dengan atropin sebagai antidote. Beberapa bahan karbamat: Dimetilen,
Zestram, Temik, Baygon.

C. Konsep Dasar Kimia-Fisika


1. Adsorbsi
Peristiwa penyerapan suatu zat pada permukaan zat lain disebut adsorbsi. Zat
yang diserap disebut terserap, sedangkan zat yang menyerap disebut adsorben.
Kecuali zat padat, adsorben dapat berupa zat cair karena adsorbsi dapat terjadi
antara zat padat dan zat cair, zat padat dan gas, zat cair dan zat cair, ataupun zat
cair dan gas.

Persitiwa adsorbsi ini disebabkan oleh gaya tarik molekul-molekul di permukaan


adsorben. Adsorbsi berbeda dengan absorbsi, karena pada absorbsi zat yang
diserap masuk ke dalam absorben, misalnya absorbsi air oleh gabus atau uap air
oleh CaO sahidrous.

Jenis Adsorbsi

Ada dua jenis adsorbsi, yang pertama ialah adsorbsi fisika, yaitu adsorbsi yang
disebabkan oleh gaya van der Walls yang ada pada permukaan adsorben. Panas
adsorbsi fisika biasanya rendah

(± 10.000 kal/mol) dan lapisan yang terjadi pada permukaan adsorben biasanya
lebih dari satu molekul.

30
Pada adsorbsi kimia terjadi reaksi antara zat yang diserap dan adsorben. Panas
molekul pada permukaan adsorbens hanya satu lapis dan panas adsorbsinya tinggi
(± 20.000-100.000 kal/mol).

Dalam keadaan tertentu gas diserap dalam keadaan utuh pada permukaan
adsorben. Dalam keadaan lain, seperti hidrogen pada permukaan Pt hitam
molekulnya terpecah menjadi atom-atom. Akibat dari hal ini, hidrogen menjadi
aktif sekali sehingga Pt sering dipakai sebagai katalisator untuk reaksi-reaksi
hidrogen.

2. Sistim Koloid
Bila suatu zat kita larutkan kedalam suatu pelarut, maka akan kita dapatkan
bermacam-macam sistem, tergantung dari diameter partikel yang dilarutkan.
Secara garis besar kita mengenal 3 macam sistem.
a. Larutan sejati atau dispers molekuler, yaitu bila diameter partikelnya lebih
kecil dari 1 mikron misalnya larutan gula, larutan garam dan sebagainya.
b. Larutan koloid atau dispers halus, bila diameter partikel terletak antara 1-100
mikron.
c. Dispers kasar, bila diameter partikelnya lebih besar dari 100 mikron.

Campuran suatu zat dimana zat yang satu tersebar halus dalam zat lain disebut
sistem dispers. Sistem ini terdiri dari fase dispers dan medium dispers. Koloid
merupakan campuran heterogen dengan diameter partikel fase dispersnya antara 1
mikron sampai dengan 100 mikron. Partikel ini bisa berupa kumpulan atom,
molekul atau campuran bahan yang lebih besar dari atom atau molekul, tapi cukup
kecil jika dibandingkan partikel yang kasar. Dan biasanya partikel ini tidak
tampak, bahkan dengan bantuan mikroskop biasa (bukan elektron mikroskop)
berkekuatan tinggi. Umumnya koloid memiliki partikel homogen tidak mudah
mengendap dan tidak tersaring. Pada koloid atau campuran sering tampak sebagai
sejumlah molekul yang terkumpul bukan molekul-molekul yang benar-benar
terpisah. Larutan sejati dan koloid hampir sama, perbedaannya hanyalah bahwa
koloid mempunyai efek Tyndal yang positif (+), dimana sinar yang dilewatkan

31
nampak jelas melewati koloid (kumpulan molekul-molekulnya) sebab molekul-
molekulnya cukup besar sehingga dapat memantulkan sinar.

Keadaan Koloid

Bila kita bandingkan dengan larutan yang lain maka keadaan koloid dapat
dibedakan seperti tabel berikut:

Tabel 5. Perbedaan Keadaan Koloid.

Sistem Larutan Sejati Sistem Koloid Sistem Suspensi


1. Satu fase 1. Dua fase 1. Dua fase
2. Partikel zat terlarut 2. Partikel zat 2. Partikel dalam
merata dalam terlarut dalam bentuk cukup besar
pelarut serta bentuk agak besar dalam pelarut
molekuler dalam pelarut 3. Dapat diamati
3. Tidak dapat 3. Idem dengan mikroskop
diamati dengan 4. Idem 4. Tidak dapat
mikroskop 5. Tidak dapat tembus kertas
4. Dapat tembus melalui membran saring biasa
kertas saring biasa 6. Tidak ada 5. Tidak dengan
5. Dapat melalui endapan melalui membran
membran 6. Ada endapan
6. Tidak ada endapan

Macam-macam Koloid

a. Koloid pelindung ialah suatu koloid jika dicampurkan dengan koloid lain tidak
mengalami penggumpalan. Koloid pelindung akan melapisi partikel koloid lain
sehingga melindungi muatan koloid tersebut. Misalnya dalam cat, unsur timbal
akan mengendap bila tidak ada koloid pelindung.
b. Koloid liofil yaitu sistem koloid dimana partikel-partikel koloid dapat menarik
molekul-molekul pelarutnya. Contoh: agar-agar, kanji.
c. Koloid liofil yaitu sistem koloid dimana partikel-partikel koloid tidak dapat
menarik molekul-molekul pelarutnya. Contoh: AgCl.
Koloid dan Koagulasi

32
Bahan penyebab kekeruhan pada air berupa partikel yang seringkali sulit untuk
mengendap, disebut koloid. Agar air yang keruh ini dapat mengendap perlu
ditambah bahan-bahan yang disebut koagulan. Proses mempercepat terjadinya
pengendapan disebut koagulasi ini tujuannya ialah untuk menciptakan suasana
yang tidak stabil, sehingga partikel-partikel itu kontak satu dengan yang lain
membentuk floc (partikel yang lebih besar), yang akhirnya dapat mengendap
dalam proses sedimentasi. Sehingga pengertian koagulasi atau flokulasi adalah
proses penggumpalan partikel-partikel halus yang tidak dapat diendapkan secara
gravitasi menjadi partikel yang lebih besar, agar dapat diendapkan, dengan
penambahan bahan koagulan.
Proses menghilangkan kekeruhan dengan koagulasi tergantung pada:
a. Jenis koloid dalam larutan atau suspensi.
b. S u h u.
c. pH.
d. Komposisi kimia air.
e. Jenis koagulan yang ditambahkan.
f. Tingkat dan lama pencampuran.

Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya floc pada proses koagulasi:

a. Dosis dan bahan koagulan.


b. Kondisi pH.
c. Alkalinitas.
d. Kekeruhan air baku.
e. Jenis zat padat yang tersuspensi (suspended solid).
f. Pengadukan.

Dosis bahan koagulan yang optimal yang harus ditambahkan, ditentukan dengan
berdasar pada percobaan laboratorium yang dinamakan Jar Test.

D. Konsep Dasar Kimia Inti

33
Kimia inti membahas transformasi di dalam inti atom. Atom adalah bagian
terkecil dari suatu unsur kimia. Beberapa atom bersifat stabil, tetapi sebagian bersifat
tidak stabil. Bila suatu atom mengalami transformasi menjadi bentuk yang tidak
stabil, maka akan dihasilkan radioaktifitas, yaitu pelemparan partikel atau radiasi
dari inti. Perubahan atom menjadi tidak stabil ini dapat mempunyai pengaruh
berbahaya bagi kesehatan. Radioaktifitas dikenal pada tahun 1895, ketika Roentgen
menemukan sesuatu bentuk radiasi dari sinar katoda. Radiasi yang disebabkan oleh
garam tertentu itu menciptakan pancaran sinar dan juga menimbulkan gambar atau
lapisan fotografi. Mereka menyebutkan sinar Roentgen atau sinar X.

Dengan sedikit modifikasi tabung sinar katoda maka didapatkanlah tabung


Roentgen modern atau tabung sinar X yang digunakan secara luas dibidang
kedokteran dan industri. Baik sinar gamma yang berasal dari bahan radioaktif
maupun sinar X keduanya merupakan gelombang elektromagnetik. Sinar gamma
memiliki panjang gelombang yang lebih pendek. Becquerel dan ayahnya tertarik
pada sinar yang berpendar (phosphorescence) di tahun 1891. Tercatat bahwa
potasium uranil sulfat (K2HO2(SO4)2 2H2O, menunjukkan sinar yang memencar
ketika disinari sinar ultra violet. Semula Becquerel ingin menguji apakah garam
uranil sebagai asal sinar X. Ia menemukan bahwa dari berbagai garam dan bahan-
bahan yang mengandung uranium agaknya juga menghasilkan sinar X.

Pada tahun 1898 Pierre dan Marie Curie menyimpulkan bahwa sinar X dari
uranium memiliki sifat-sifat radioaktif yang mempunyai kekuatan yang besar sekali.
Mereka menemukan bahwa bahan thorium juga mengeluarkan radiasi yang mirip
dengan uranium. Kemudian mereka mencatat bahwa biji uranium tertentu
radioaktifitasnya lebih besar dibandingkan uranium sendiri. Mereka menjumpai pada
penelitian berikutnya bahwa polonium dan radium juga bersifat radioaktif dan bahwa
radium berkekuatan radioaktif beberapa ratus kali dari pada uranium.

1. Struktur Atom

Konsep struktur atom-atom modern sebagian besar adalah merupakan hasil


inspirasi dari sifat-sifat bahan radioaktif. Mula-mula atom dinyatakan sebagai

34
satuan yang tidak terbagi lagi kedalam bagian yang lebih kecil. Namun dengan
ditemukannya radioaktifitas, dimana unsur radioaktif mengeluarkan partikel
bermuatan positif dan negatif, maka kemudian konsep yang lebih baru kemudian
berkembang.

2. Teori Inti

Rutherford (1911) mengajukan konsep inti atom, dimana teori ini mengatakan
bahwa atom terdiri dari inti yang tersusun dari proton (bermuatan +) serta neutron
yang netral dan disekitarnya bertebaran elektron yang bermuatan negatif. Lebih
lanjut dikatakan bahwa jumlah dari proton dan neutron merupakan massa atom
(berat atom) unsur itu, sedangkan jumlah proton adalah nomor atom yang
merupakan jumlah elektron dalam orbit. Unsur yang mempunyai nomor atom
sama tetapi berbeda nama atomnya disebut isotop. Teori ini juga berlaku bahwa
makin tinggi kelebihan neutron terhadap proton, makin besar ketidak-stabilan
atom itu.

3. Orbit Elektron

Bohr adalah orang pertama kali yang menyatakan bahwa elektron berada di
sekitar inti suatu atom. Elektron ini tersusun secara metodik dan mengitari orbit di
sekitar inti atom. Teori ini kemudian mendasari pengetahuan modern, dimana
teori Bohr ini disempurnakan oleh Sommerfeld. Ia mengatakan bahwa elektron
yang tersusun ini membentuk tingkatan energi. Para penemu lain saat itu ialah
Langmuir, Mosely, G.N. Lewis dan W. Kossel.

Tabel 6. Susunan Elektron Secara Umum

Simbol Nomor Jumlah elektron pada kulit


atom
K L M N O P Q
H 1 1
He 2 2
N 7 2 5

35
Ne 10 2 8
Na 11 2 8 1
Cl 17 2 8 7
Ar 18 2 8 8
Ca 20 2 8 8 2
Zn 30 2 8 18 2
Br 35 2 8 18 8
Kr 36 2 8 18 18 1
Ag 47 2 8 18 19 8
Xe 54 2 8 18 18 8 2
B3 56 2 8 18 32 18 2
Hg 80 2 8 18 32 18 4
Pb 82 2 8 18 32 18 8
Rn 86 2 8 18 32 18 8 2
Ra 88

Hidrogen dan Helium sebagai atom sederhana mempunyai sebuah kulit elektron
dan atom yang paling kompleks memiliki 7 kulit elektron. Kulit lintasan atom ini
ditandai dengan nama kulit K, M, N, O, P, Q. Jumlah maksimum dari elektron
pada masing-masing kulit dihitung dengan formula 2n2, dimana n adalah nomor
kulit, yaitu K = 1 seterusnya sampai Q = 7.

Gelombang Elektromagnetik

Bermacam-macam gelombang ada di alam, diantaranya adalah gelombang bunyi


dan gelombang elektromagnetik. Rangkaian gelombang elektromagnetik disebut
magnetic radiation. Kita mengenal bentuk radiasi elektromagnetik seperti halnya
pada sinar X, sinar ultra ungu, infra merah gelombang radio. Semuanya memiliki
kecepatan cahaya (3 x 1010 cm/second atau 186.000 mil/second dalam ruang
hampa). Untuk memahaminya maka dapat diperhatikan rumus kecepatan
gelombang V = fx. Dalam hal ini nilai V adalah konstan, sama dengan kecepatan
cahaya sebesar 3 x 1010 cm/detik.

Gelombang ini bisa melewati ruang hampa. Dan dengan cara inilah energi
matahari dapat diteruskan ke bumi. Energi gelombang elektromagnetik sebanding
dengan tinggi rendah frekwensinya, gelombang frekwensi tinggi (gelombang
pendek) mempunyai energi yang tinggi, dan sebaliknya. Energi yang tinggi ini
cukup kuat untuk membongkar elektron dari atom, dimana kehilangan elektron ini
dapat menyebabkan perubahan kimia dari atom tersebut. Bila hal ini terjadi pada
atom dari molekul jaringan penting dari tubuh makhluk hidup, maka akan timbul

36
perubahan dan kerusakan. Sedangkan pada sinar dengan gelombang frekwensi
rendah, daya tembusnya tidak terlalu besar, tetapi sifatnya dapat menaikkan
temperatur.

4. I s o t o p

Setiap elemen mempunyai jumlah proton yang pasti dalam intinya. Namun
pada unsur yang sama meskipun jumlah protonnya sama, tetapi mempunyai
neutron yang berbeda. Hal ini dikenal sebagai isotop unsur tersebut. Suatu isotop
mempunyai sifat-sifat kimia yang sama, sebab sifat kimia ditentukan oleh jumlah
proton dan bukan jumlah neutronnya. Karena masa dari isotop bervariasi, maka
jumlah neutron juga bervariasi. Untuk membedakan isotop-isotop ini, maka
diperkenalkanlah suatu sistem simbul. Cara penulisannya, nomor atom ditulis
sebelum simbul bagian atas. Sebagai contoh, isotop alamiah dari uranium dengan
jumlah proton 92, yang satu jumlah neutronnya 143, dan yang lain lagi 146, maka
235 92
ditulis: 92𝑈 238𝑈

Sembilan puluh unsur dalam bumi mempunyai dua atau lebih isotop, sehingga
seluruhnya berjumlah sekitar 300 isotop alamiah dari 90 unsur yang ada.

5. Ketidakstabilan Inti

Pada prinsipnya ikatan inti dalam atom sama dengan ikatan atom dalam
molekul. Kekuatan dalam inti yang mengingat antara proton dan neutron kita
sebut nuclear force. Semakin tinggi nomor atom proton dan neutron mempunyai
jumlah proton lebih besar hingga berikatan le bih erat dalam inti. Berlawanan
dengan nuclear force yang berkerjanya tarik menarik satu sama lain, ada kekuatan
lain yaitu electrostatic force yang bekerja tolak menolak satu sama lain antara
muatan positif dari proton. Kekuatan ini berpengaruh hingga keluar sekitarnya
lebih jauh dari pada daya tarik menarik tersebut. Bila inti menjadi besar daya tolak
menolak menjadi lebih kuat hingga mudah memecah inti. Analisanya adalah
sebagai berikut bila nomor atom naik pada mulanya inti menjadi stabil karena

37
naiknya nuclear force kemudian menjadi tidak stabil karena daya tolak menolak
antar proton.

6. Inti yang Stabil dan Radioaktif

Identitas kimia suatu atom oleh jumlah proton pada inti ditandai huruf z.
Stabilitas inti secara empiris dapat dihubungkan dengan perbandingan jumlah
neutron dengan jumlah proton pembentuk ini adalah N : Z.

Bahan yang stabil perbandingan neutron : proton harus mendekati 1, sementara


yang sangat stabil perbandingan mendekati 2. Bila komposisi inti menyimpang
dari pola ini menghasilkan bahan yang tidak stabil. Goncangan inti yang tidak
stabil dalam proses suatu atom menunjuk stabilitasnya menghasilkan kerusakan
inti dan mengeluarkan partikel atau radiasi dari inti atom. Transformasi inti atau
reaksi dapat juga terjadi dengan membom inti dengan partikel atau energi. Atom
radioaktif dapat berada dalam waktu yang cepat, 10-20 detik atau sangat lama 1018
tahun. Sehingga untuk menghancurkan bahan radioaktif sangat lambat. Seluruh
inti atom yang mempunyai jumlah atom lebih besar dari 83 atau berat atom lebih
besar dari 200 termasuk tidak stabil. Tabel berikut menunjukkan beberapa elemen
dan komposisi yang stabil dan radioaktif.

Tabel 7. Isotop Beberapa Elemen Bentuk Stabil dan Radioaktif

Elemen Isotop
Hidrogen 1 2 3
H H H
stabil stabil radioaktif
Carbon 11 12 13 14
C C C C
6 6 6 6
radioaktif stabil stabil radioaktif
Nitrogen 12 13 14 15 16
N N N N N
radioaktif stabil stabil stabil radioaktif
Oksigen 14 15 16
O O O
8 8 8
radioaktif radioaktif stabil
17 18 19
O O O
8 8 8

38
stabil stabil radioaktif
Phospor 29 30 31 32 33
P P P P P
15 15 15 15 15
radioaktif radioaktif radioaktif radioaktif Radioaktif
Chlor 34 35 36 37 38
Cl Cl Cl Cl Cl
17 17 17 17 17
radioaktif stabil radioaktif stabil radioaktif

Sifat Dasar Radiasi

Sementara para pekerja dibidang radioaktif hanya mengenal satu bentuk radiasi
dan sifat-sifatnya mirip dengan sinar X. Tetapi penelitian selanjutnya
menunjukkan bahwa terdapat tiga jenis radiasi yang disebut alpha (α) betha (β)
dan gamma (ϫ).

Pemisahan dan identifikasi dilakukan melalui suatu lapangan magnetic. Beberapa


sinar radiasi memancar menuju kutub negatif. Fenomena ini menunjukkan bahwa
sinar ini bermuatan positif dan mempunyai massa yang besar, sinar ini dikenal
sinar alpha. Radiasi lain menuju kutub positif sehingga menunjukkan bermuatan
negatif. Sinar radiasi ini mempunyai massa yang kecil dan dikenal radiasi sinar
beta. Radiasi ketiga yang tidak terpengaruh oleh kutub positif maupun negatif,
sinar ini tidak bermuatan dan dikenal radiasi sinar gamma.

a. Partikel Alpha
Radiasi Alpha bukanlah radiasi elektromagnetik sejati seperti sinar X.
4
Partikel ini terdiri dari helium yang bermassa 1 4(𝐻).
Partikel ini terdiri dari 2 neutron dan 2 proton. Meskipun partikel ini didorong
dari inti dengan kecepatan antara 1.4 sampai 104 cm/detik atau 10 % dari
kecepatan cahaya, partikel ini tidak berjalan di udara pada temperatur kamar
lebih dari 10 cm. Mereka akan terhenti oleh lapisan kertas biasa sekalipun.
Partikel alpha dikeluarkan oleh partikel unsur dan seluruhnya bervariasi pada
tiap unsur, karena daya tembus kedalam jaringan adalah kecil. Kerusakan besar
bila zat yang mengeluarkan partikel alpha ini masuk kedalam tubuh. Jika
partikel alpha kontak dengan molekul suatu jaringan, maka muatan positif dari

39
proton menarik muatan negatif dari atom dalam jaringan. Hal ini
mengakibatkan perubahan yang merugikan. Karena ada 2 proton maka
penarikan elektron ini terjadi secara efektif sekali.
b. Partikel Beta
Radiasi beta berisi partikel bermuatan negatif yang bergerak pada kecepatan
30 % sampai 99 % kecepatan cahaya. Beta partikel adalah elektron yang keluar
dari inti atom. Daya tembusnya bervariasi sesuai kecepatan. Daya tembusnya
di udara sampai sepanjang beberapa ratus kali. Partikel ini dapat dihalang oleh
lapisan aluminium dengan ketebalan beberapa milimeter. Karena memiliki
massa yang rendah kekuatan ionisasinya lebih dibandingkan partikel alpha.
Daya tembusnya terhadap jaringan bisa sampai 1 cm atau lebih. Di dalam
jaringan elektron ini akan menabrak inti sehingga elektron dalam orbital pada
atom dalam molekul suatu jaringan berubah, akibatnya terjadi perubahan-
perubahan kimia.
c. Sinar Gamma
Radiasi gamma merupakan radiasi elektromagnetik sejati yang berjalan
seperti kecepatan sinar. Radiasi gamma merupakan sinar X tetapi memiliki
panjang gelombang yang lebih pendek, sehingga daya tembusnya tinggi. Sinar
ini adalah quantum energy yang keluar dari suatu inti atom, sedangkan sinar X
keluar dari kulit atom. Untuk membatasi sinar ini diperlukan beberapa cm
lapisan plumbum. Unit radiasi gamma adalah photon sinar ini cukup tenaga.
Untuk membuat ion disepanjang jalan yang dilewati, sedang sinar tidak, hal ini
yang menjadikan bahaya dari radiasi sinar gamma.

Energi Radiasi

Energi dari berbagai radiasi yang dihasilkan bahan radioaktif perlu diketahui,
karena alpha dan betha partikel memiliki sinar sedangkan radiasi gamma tidak,
dari sini dapat diketahui energi yang ditimbulkan oleh masing-masing sinar dan
partikel ini.

40
Hubungan antara masa dan energi digambarkan oleh Einstein dengan formula
sebagai berikut:

E = m.C2

Dimana E = energi

m = massa

C = Kecepatan cahaya

Kecepatan cahaya = (2,998 x 1010 cm detik) dan m massa dari partikel dalam
gram. E mempunyai satuan g.cm/s atau ergs. Sementara satuan energi untuk
partikel inti adalah elektron volt (ev), yaitu energi yang diperlukan untuk
menimbulkan satu elektron melalui suatu tegangan sebesar 1 volt. Faktor
konservasinya antara 1,602.10-2 erg. Energi alpha dan beta partikel serta proton
gamma berkisar antara beberapa ribu sampai jutaan elektrovolt. Sehingga energi
dinyatakan dalam million electron volt(MeV). Tingginya energi ini terjadi karena
massa inti yang kecil itu dikalikan dengan kecepatan sinar kuadrat (C2) sehingga
menghasilkan energi yang luar biasa besarnya. Ini berarti di dalam inti atom
tersimpan energi yang luar biasa. Bila neutron dan proton digabungkan dengan
nuclear force membentuk inti atom, sejumlah energi hilang/terserap. Einstein
meramalkan dalam hal ini bahwa sejumlah kecil massa hilang, hingga berat inti
atom lebih kecil dari jumlah massa neutron dan proton pembentuknya. Massa
defect masing-masing unsur dalam sistem tabel berkala berbeda-beda.

Reaksi Inti

Reaksi inti (nuclear) dapat terjadi disebabkan oleh pemboman dengan berbagai
partikel. Di bidang industri penelitian obat-obatan banyak menggunakan bahan
radioaktif, yang mempercepat partikel (particle accelerator). Beberapa partikel
yang digunakan sebagai perangsang reaksi ini antara lain:

a. Partikel Alpha

41
Partikel Alpha bermuatan positif sehingga partikel ini dapat lebih kuat
menolak muatan positif pada inti atom. Makin tinggi nomor atom unsur maka
daya tolak terhadap alpha semakin pertambah, sehingga partikel alpha tidak
mampu menyebabkan perubahan inti dari suatu unsur yang berat atomnya
tinggi dan hanya digunakan terbatas terutama untuk elemen yang berat
atomnya ringan. Reaksi alpha partikel mendasari pembuatan neutron sehingga
reaksi ini sangat penting.

b. Proton
Proton mempunyai keterbatasan, karena rasio massanya terhadap muatan
hanya separuh dari partikel alpha. Oleh karenanya mereka lebih mudah ditolak
oleh muatan inti positif.

c. Deuteron21(𝐻)
Deuteron mempunyai kemungkinan paling efektif karena mereka hanya
mempunyai satu muatan dan perbandingan antara massa dengan muatan sama
dengan partikel alpha. Deuteron tertentu merupakan sumber neutron yang
unggul.
d. Gamma
Gamma dan sinar X sama sekali tidak efisien untuk menciptakan reaksi inti,
karena adanya muatan pada sinar gamma dan sinar X.
e. Neutron
Secara alamiah akan lebih efisien untuk membom dan menciptakan reaksi
inti dengan menggunakan neutron. Semua unsur kecuali helium dapat diubah
menjadi unsur lain. Dua neutron penyebab reaksi umumnya digunakan yang
pertama adalah n. Gamma yang biasa digunakan untuk menciptakan Co dan
membom Co memakai neutron.

Nuclear Fussion

a. Pengertian

42
Setelah ditemukannya neutron, Fermi menemukan bahwa pemboman
beberapa logam berat diikuti oleh aktifitas sinar beta. Aktifitas ini tidak dapat
dihubungkan dengan unsur-unsur yang mempunyai massa seperti uranium.
Kemudian Halm dan Strassman menggambarkan suatu analisa kimia tentang
produk tersebut. Mereka menemukan isotop Berium, Lanthanum, Strontium
dan Yttrium, yang sama lambatnya dengan gas (Xe atau Kr) dan alkali metal
(Cs atau Rb). Dari informasi ini dapat disimpulkan bahwa penangkapan
neutron oleh uranium berat atom yang lebih rendah. Peristiwa ini disebut
nuclear fission.
Nuclear fission menjadi demikian penting karena demikian hebatnya jumlah
energi yang dilepaskan sebagai hasil dari proses fission. Ini adalah merupakan
hasil konversi dari massa menjadi energi. Energi yang terlepas selama proses
fission satu gram atom 233U, 235U atau 239Pu sesuai dengan 5,3.106 Kwh.

b. Ledakan Inti
Nuclear fission ditandai oleh pemboman neutron selama proses fission239U,
rata-rata 2,5 neutron dilepaskan masing-masing atom, dan selanjutnya keluar
terus menerus dengan sendirinya. Selama fission masih berlangsung untuknya
kejadian demikian tidak terjadi di laboratorium. Kemungkinan yang perlu
dipertimbangkan menunjukkan bahwa bila massa dari bahan yang fissionable-
nya cukup besar rangkaian reaksi yang terus-menerus dengan sendirinya akan
terjadi. Inti terjadi dalam waktu yang lama, dimulai pertama kali sejak atom
dibom. Ledakan inti disertai pelepasan sejumlah radioaktifitas yang hebat.
Pengaruh terhadap tanah disekitarnya tergantung dari jarak dari tanah di mana
ledakan terjadi. Beberapa kejadian menunjukkan bahwa penggunaan besar-
besaran bahan radioakti dipancarkan keluar atmosfer. Dan ini akan kembali ke
bumi pada saat hujan atau hujan salju, sebagai fall out. Terdapat lebih dari 200
produk fission dari ledakan inti. Sekalipun hanya 17 yang memberikan
kontribusi radioaktif cukup besar.
c. Kekuatan Inti

43
Pengendalian reaksi fission dilakukan terhadap sejumlah besar energi yang
dilepaskan. Energi ini dapat digunakan untuk berbagai kepentingan. Untuk
tujuan penelitian dibangunlah instalasi pembangkit tenaga, begitu juga
pemakaian bahan bakar nuklir di berbagai kota di dunia. Reaktor dimana
reaksi fission terjadi haruslah diisi bahan fissionable yang memenuhi syarat
critical mass. Untuk menghindari ledakan neutron yang lepas pada proses
fission harus dikontrol jumlahnya agar rangkaian reaksinya terkendali
kecepatannya. Dalam hal ini dapat digunakan bahan yang dapat menyerap
neutron seperti Kadmium, Graphite, dan Deutterium oksida.
Pada reaktor nuklir 233U, 235U atau 239Pu umumnya digunakan sebagai bahan
bakar untuk memelihara pengontrolan rangkaian reaksi. Selama penghancuran
mereka berfungsi menghasilkan neutron yang juga dapat digunakan untuk
merubah elemen yang tidak radioaktif menjadi bentuk radioaktif atau
fissionable. Reaktor nuklir memerlukan sejumlah besar air untuk pendingin
akibat panas yang dikeluarkan proses fission dalam menghasilkan neutron.
Pembuangan air pendingin ini dilarang dibuang langsung ke sungai bukan
hanya karena pencemaran radioaktif.

Nuclear Fussion

Fungsi dua buah atau lebih inti atom yang kecil membentuk inti dengan elemen
lebih besar umumnya lebih produktif menghasilkan energi dibandingkan dengan
fusi dari elemen yang berat. Produksi dari sebuah atom Helium dan fusi 4 buah
atom hidrogen menghasilkan energi 7 kali energi ber unit berat dari bahan pada
fission dari 235 U atau 239 Pu.

Bom hidrogen tergantung kepada nuclear fussion, untuk tenaga ledakan yang luar
biasa, dihasilkan dari fusi nuklir dari isotop hidrogen yang berat. Suhu diatas
50.000 derajat celcius diperlukan untuk menentukan proses fusi sebab proses ini
diketahui sebagai thermo nuclear reaction. Temperatur yang tinggi diperlukan
agar terjadi penggabungan alat fission untuk pembakaran pertama (starter). Pada
suatu kondisi tertentu neutron diubah menjadi energi. Reaksi ini sekitar 20 % dari

44
sejumlah massa rata-rata dari hidrogen diubah menjadi energi. Nuclear fusion
sendiri tidak melepaskan bahan radioaktif dan pecahan radioaktif, oleh sebab itu
penggunaan secara besar-besaran pada penelitian menganjurkan adanya
pengendalian fusion untuk memproduksi kekuatan.

Satuan Radioaktifitas

Satuan Radioaktif adalah Curie, yaitu sejumlah pemecahan yang terjadi setiap
detik pada 1 gram radium. Karena radium diakui secara konstan dari waktu ke
waktu maka radium ini digunakan mewakili perhitungan radioaktif yang dikenal
standard curie, yaitu curie = jumlah dari 3,7 .1010 disintegrasi tiap sekon dalam
suatu zat radioisotop.

Dikenal beberapa tingkatan ukuran curie.

Milli curie (m Ci) = 10-3 curie

Micro curie (µ Ci) = 10-6 curie

Nano curie (n Ci) = 10-9curie

Pico curie (p Ci) = 10-12 curie

Curie digunakan terutama untuk menyatakan kuantitas radioaktifitas suatu bahan.


Curie dari alpha adalah pelepasan yang besarnya = jumlah 3,7 . 10 10 partikel alpha
persekon. Curie dari beta partikel adalah pelepasan yang besarnya = jumlah
3,7.1010 partikel beta per sekon. Curie dari sinar gamma adalah pelepasan sebesar
= jumlah 3,7. 1010 photon per sekon. Ukuran radioaktifitas yang secara praktis
digunakan diantaranya roentgen, rep, rad, rem.

a. Rontgen (r)
Rontgen adalah satuan intensitas radiasi sinar X atau sinar gamma yaitu
merupakan nilai melalui penelitian tentang pengaruh biologis dari radiasi yang
dihasilkan dari jumlah ionisasi terhadap sel. Rontgen didefinisikan sebagai
jumlah sinar gamma atau sinar X yang akan memproduksi 1 elektro statik unit
listrik pada 1 cm2 udara kering dengan suhu 00C tekanan76 cm Hg atau setara

45
dengan 1,62. 1012 pasang ion setiap 1 gram udara kering dan sesuai dengan
penyerapan 83,8 ergs energi. Rontgen merupakan satu unit jumlah total ionisasi
yang diproduksi oleh gamma atau sinar X dengan satuan rontgen per unit
waktu.
b. Rontgent Equivalent Physical (REP)
REP adalah jumlah radiasi selain sinar X dan gamma yang ionisasi pada 1
gram jaringan manusia setara dengan radiasi diudara oleh 1 rontgen radiasi
gamma atau sinar X (equivalent dengan 82,8 ergs energi). REP ini selanjutnya
digantinya RAD (Rontgent Absorption Dosis) yang secara luas digunakan.
c. Rontgent Absorption Dosis (RAD)
RAD adalah satuan radiasi sesuai dengan penyerapan suatu energi sebesar
100 erg per gram pada setiap media. Satuan ini dapat digunakan untuk
beberapa type dan radiasi energi yang diproduksi dari ionisasi. Penelitian
menunjukkan bahwa radiasi dari bahan-bahan biologi, rontgen kira-kira setara
dengan 100 ergs/gram jaringan, tergantung dari energi sinar X dan radiasi
gamma serta tipe jaringan. Satuan dengan RAD lebih umum digunakan
dibandingkan dengan REP pada efek radiasi jaringan Satu RAD dalam 1 kg
jaringan bila dirubah dalam bentuk panas hanya menaikkan temperatur kecil
sekali (+ sepersejuta 0C). RAD dikenal sebagai dosis radiasi yang luar biasa
sedangkan dosis yang diperbolehkan untuk manusia dikenal dengan satuan
REM (Rontgen Equivalent Men).
d. REM (Rontgent Equivalent Men)
Satuan ini sesuai dengan jumlah radiasi yang dihasilkan satu energi yang
mengakibatkan kerusakan biologis setara dengan satu Rad dari radiasi sinar X
atau radiasi. (100 ergs/gram), Dosis Maximum untuk rem ini adalah Maximum
Permissible Dose (MPD) untuk pekerja teradiasi adalah 5 rem/tahun dan untuk
pekerja yang non radiasi sebesar rem/tahun.
Satu rem adalah satu rad dikalikan dengan faktor penyesuaian yang disebut
RBE (Relative Biological Equivalence) atau QF (Quality Factor). Jadi bisa kita
tuliskan. REM= RAD x RBE atau RAD x QF

46
Kerusakan yang ditimbulkan oleh masing-masing jenis radiasi adalah berbeda-
beda. Misalnya partikel alpha 10 kali merusak dari pada radiasi beta dengan
energy yang sama RBE dari berbagai jenis radiasi terlihat pada tabel berikut.

Tabel 8. RBE dari beberapa Jenis Radiasi

Jenis radiasi RBE


Most Sinar gamma atau X 1
Partikel beta 11
Radiation partikel alpha 10
Fast Neutron 10
Slow (thermal) Neutron 5

Faktor-faktor yang mempengaruhi efek biologik dari suatu radiasi adalah:

1) Quality Factor (QF)


Quality Factor ditentukan dari ionisasi yang terjadi pada lintasan yang
telah dilewati dari suatu jaringan. Dalam hal ini dikenal istilah Linear
Energy Transfer (LET) yaitu perbandingan kehilangan energi sepanjang
lintasan yang dilalui.
a) Untuk partikel Beta QF= 1 (LET rendah).
b) Untuk partikel alpha QF= 18 – 30 (LET tinggi).
c) Gamma atau sinar X QF= 1 (LET rendah).
d) Neutron QF= 3 – 10 (LET Medium).
2) Faktor Distribusi (DF)
Untuk hal yang tertelan atau terhirup dari zat yang radioaktif.
a) Zat yang mengeluarkan alpha dan beta radiasi DF=5.
b) Radiasi lainnya DF= 1.

Waktu Paruh (half life, t =1/2)

Dekomposisi radioaktif merupakan reaksi molekuler sebenarnya. Kecepatannya


konstan diberbagai kondisi lingkungan. Seperti halnya reaksi internal. Molekul ini
juga memerlukan waktu tertentu. Zat radioaktif mengalami desintegrasi secara
acak bagian per bagian, hingga dalam jangka waktu tertentu zat aslinya akan

47
habis. Waktu yang diperlukan agar separuh dari zat semula telah mengalami
desintegrasi kita sebut half life. Jadi jika suatu radio isotop mulai memancar
radiasi sampai periode satu half life, maka zat tersebut tinggal separuhnya.
Sebagai contoh radio isotop mempunyai t 1/2 = 3 tahun dimulai berat 10 gram,
setelah periode 3 tahun 5 gram bahan asli telah berubah, selanjutnya setelah 6
tahun tinggal 2,5 gram bahan asli yang tinggal, kemudian tinggal 1,25 gram
setelah 9 tahun dan seterusnya. Konsep ini dijelaskan pada grafik berikut.

100

90

80

70

60

50 10,0 gram isotop dengan t 1/2 = 3 tahun

40

30

48
20

10

0 1 6 9 12

Gambar 4. Grafik pengurangan radioaktif dengan half life tiga Tahun.

Half life merupakan sifat-sifat yang penting untuk identifikasi suatu isotop. Tidak
ada sebuah pun reaksi kimia, panas, tekanan, asam atau bahan kimia lain yang
dapat merubah kecepatan desintegrasi radioisotop. Tidak ada satupun jalan untuk
menghentikan proses desintegrasi. Half life tiap radioisotop berbeda mulai dari
satu sekon sampai 10 tahun.

Tabel 9. Umur Paruh Beberapa Radioisotop

Nomor Inti Umur Paruh Radiasi yang dikeluarkan


Atom
1 3H 12,3 tahun Β
6 14C 5730 tahun Β
11 24Na 15 jam Β, ϫ
15 32p 14,3 hari Β
16 35S 88 hari Β
19 40K 1,20. 404 tahun Β
27 60Co 5,3 tahun Β, ϫ
35 78Br 6,4 tahun B, ϫ
38 90Sr 28,1 tahun Β
53 131I 8,0 hari Β, ϫ
55 137Cs 30 tahun Β
88 226Ra 1600 tahun α, ϫ
92 238U 4,51. 109tahun α

Perbedaan antara biological half life dan effectif half life

49
a. Biological half life adalah waktu dimana suatu jaringan organ atau individu
melalui suatu proses biologik memusnahkan separuh dari jumlah yang
dimasukkan.
b. Effectif half life adalah waktu yang diperlukan dimana sejumlah radioaktif
berkurang menjadi separuhnya baik secara alamiah maupun secara
pemusnahan biologik.
Dirumuskan sebagai berikut:

𝐵𝑖𝑜𝑙𝑜𝑔𝑖𝑐𝑎𝑙 ℎ𝑎𝑙𝑓 𝑙𝑖𝑓𝑒 𝑥 𝑅𝑎𝑑𝑖𝑜𝑎𝑐𝑡𝑖𝑣𝑒 ℎ𝑎𝑙𝑓 𝑙𝑖𝑓𝑒


𝐸𝑓𝑓𝑒𝑐𝑡𝑖𝑓 ℎ𝑎𝑙𝑓 𝑙𝑖𝑓𝑒 = 𝐵𝑖𝑜𝑙𝑜𝑔𝑖𝑐𝑎𝑙ℎ𝑎𝑙𝑓𝑙𝑖𝑓𝑒+𝑅𝑎𝑑𝑖𝑜𝑎𝑡𝑖𝑣𝑒ℎ𝑎𝑙𝑓𝑙𝑖𝑓𝑒

Efek Radiasi pada Manusia

Efek radiasi pada manusia digolongkan kedalam efek somatik dan genetik.
Efek somatik disebabkan terpisah-pisah seperti anemia, kelelahan, kerontokan
rambut, katarak, bercak pada kulit, kanker dan lain-lain. Efek genetik termasuk
perubahan sifat genetik disebabkan oleh mutasi pada sistem reproduksi dan
sebagainya. Pengaruhnya luas, bahkan dengan dosis kecil sekalipun radiasi masih
memberikan pengaruh. Manusia yang terpapar berbagai tingkat radiasi didalam
umumnya dari sumber di luar tubuh tidak demikian terpengaruh. Umumnya yang
terpapar radiasi yang dihasilkan dari aktifitas manusia cukup berbahaya, tetapi
radiasi jenis ini dapat dikendalikan dengan baik menggunakan bahan yang tidak
tembus olehnya.

Perbedaan tipe radiasi berbeda pula pengaruhnya pada manusia. Pemaparan


eksternal oleh partikel alpha terhadap tubuh tidak terlalu berbahaya karena mereka
sulit menembus kulit. Namun partikel alpha akan bersifat lebih menghancurkan
bila masuk dalam tubuh (perut), karena mereka dapat terionisasi menyebarkan
zarah yang dapat bertubrukan dengan jaringan tubuh sehingga hancur. Partikel
beta lebih kecil, tetapi bergerak lebih cepat dibandingkan partikel alpha oleh
karenanya dapat menembus jarak yang lebih dalam. Mereka dapat menembus
kulit beberapa milimeter sampai beberapa centimeter. Oleh karenanya lebih
berbahaya baik dalam pemaparan eksternal maupun internal. Tentu saja
pemaparan internal lebih berbahaya dibanding pemaparan eksternal, tetapi mereka

50
tidak sedemikian dekstruktif seperti partikel alpha. Radiasi gamma adalah yang
paling berbahaya karena mempunyai daya tembus paling tinggi.

Interaksi radiasi dengan bahaya biologis dan dengan air yang berisi bahan yang
mudah uriomesasi dari bahan binatang (seperti H+, H2O, H2O+, e, e+,H3O dan
sebagainya) adalah sangat reaktif. Mereka menuju protein untuk mematikan
aktifitas enzymnya, merintangi pemecahan sel mengganggu membran sel, dan
sebaliknya menghancurkan formal sel. Dari pengetahuan ini dapatlah
dipertimbangkan resiko dan keuntungan penggunaan radioaktif.

BAB 3
SIKLUS BAHAN KIMIA DI ALAM

A. Siklus Karbon
Garis besar siklus karbon seperti pada gambar berikut:
Gambar 5. Siklus Karbon

51
Angka-angka pada diagram adalah hasil perkiraan berdasarkan analisa dan
dinyatakan dalam kg C/m2 permukaan tanah. Untuk mendapatkan gambaran jumlah
seluruhnya angka tersebut harus dikalikan dengan luas permukaan bumi dalam m2,
14
yang diperkirakan 5.1 x 10 m. Dari gambaran diatas terlihat bahwa kurang dari
separuh karbon di bumi terdapat dalam bentuk oksida, seperti CO 2 dan CaCO3 dan
lebih dari separuh dalam bentuk reduksi. Bentuk pokok reduksi adalah fotosintesa
oleh tumbuh-tumbuhan hijau, yang merubah CO2 dengan energi matahari menjadi
karbohidrat. Sesuai dengan data pada gambar maka waktu tinggal C di udara adalah
1.34/0.274 = 4.9 tahun.
Pengambilan CO2 dari biosfir dalam proses fotosintesa hampir seimbang dengan
pernafasan tanaman, binatang, atau mikroorganisme. Sejumlah kecil C dirubah
menjadi batu bara dan minyak tanah, namun lebih banyak yang kembali ke udara
sebagai CO2 atau CH4. Walaupun diperkirakan fotosintesa itu hanya meliputi 1.3 kg
C/m2 tahun namun prosesnya telah berjalan sejak 2 x 109 tahun yang lalu hingga
hasilnya kira-kira 26.000 kg C/m2 dalam kerak bumi. Walau karbon dalam biosfir

52
hanya kira-kira 0.002 % dari seluruh C dalam bumi, namun 95 % C diambil kembali
(daur ulang) dari biosfir.
Aktifitas manusia menimbulkan dua dampak terhadap siklus karbon seperti pada
diagram di atas. Produksi semen akan melepas CO2 namun jumlahnya kecil bila
dibanding dengan proses pembentukan CaCO2 oleh binatang. Yang lebih nampak
jelas pengaruhnya adalah pembakaran batu bara dan bahan bakar lainnya untuk
mendapatkan tenaga atau panas. Dari grafik sebelumnya menunjukkan peningkatan
(pembakaran) bahan bakar, dengan perkiraan pemakaian minyak 85 % C dan batu
bara 75 % C. Jumlah CO2 di atmosfir meningkat 14 % sejak 1830 hingga 1960,
disebabkan adanya peningkatan pembakaran karbon sampai 40-60 kali lipat. Untuk
menjaga kembali keseimbangan perlu dilakukan pengurangan pembakaran karbon
menjadi 1/500 dari tingkat saat ini, atau kurang lebih kembali pada tingkat
pemakaian karbon tahun 1880.
Dipandang dari segi kebutuhan tanaman memang menguntungkan, tetapi yang
justru perlu diperhatikan adalah kenaikan temperatur bumi. CO2 menyerap pantulan
energi gelombang dari permukaan bumi, sehingga makin tinggi CO 2 maka
keseimbangan energi yang diterima dan yang kembali ke bumi berubah, yang datang
lebih banyak dari pada yang pergi. Akibatnya es kutub utara dan selatan mencair dan
menaikkan permukaan air laut. Antara 1900 – 1940 rata-rata temperatur bumi naik
0,6 K. Faktor lain yang berpengaruh terhadap temperatur bumi adalah adanya debu
di udara akibat gunung meletus. Peranan CO2 terhadap kenaikan temperatur
permukaan bumi sebenarnya kurang dari 1/3 dari yang disebabkan oleh debu.
Karenanya kurang tepat bila dikatakan kadar CO2 pada tahun 2010 nanti 1.5 x tahun
1880 dan menyebabkan kenaikan temperatur 1 K.
Segi lain kegiatan manusia dalam memanfaatkan tanah untuk pertanian adalah
pengikatan karbon dalam tanah. Produktifitas fiksasi karbon tiap unit luas tanah per
tahun menurut jenis kawasan (komunitas) adalah seperti pada tabel berikut:

Tabel 10. Luas dan Produktifitas Rata-rata untuk Kawasan Utama

Kawasan Luas Produktifitas (kg C m-2 yr-


(1014m2) 1

Hutan 0.44 0.54 – 2.3

53
Padang rumput 0.27 0.91
Daerah tandus 0.23 0.91
Padang pasir dan tundra 0.44 0.045
Lautan 3.61 0.081
Sumber: John Lenihan William W. Fletcher, The Chemicsl Environment,
halaman 12, Academic Press, New York, 1977.
Perubahan dari tanah yang dapat ditanami dengan baik menjadi padang rumput
tidak terlalu mengkhawatirkan, namun perubahan dari hutan menjadi daerah
pertanian atau padang rumput lalu menjadi gurun akan mengurangi kapasitas fiksasi
karbon. Dari data di atas fiksasi karbon oleh tanaman adalah: 1.35 x 1014
kgC/tahun. Bila hutan dirubah menjadi daerah pertanian akan menjadi 1.17 x 10 14 kg
C, sedang kalau padang rumput berubah menjadi gurun maka kapasitas fiksasi
menjadi 1.11 x 1014 kg C. Kesimpulannya, manusia mampu mengurangi kapasitas
fiksasi karbon dengan 20 %.

B. Siklus Oksigen
Sejumlah 46.6 % dari kerak bumi adalah O2. Pada atmosfir kita dapatkan kira-kira
1015 ton. Disamping itu perlu kita ketahui pula siklus O2 secara global.

54
Gambar 6. Siklus Oksigen

Pembentukan O2 yang berasal dari proses anaerobik telah dimulai sejak 3 x 10 9


tahun yang lalu, dari penguraian H2O (uap) dengan energi matahari menjadi H2 dan
O2. H2 ini akan naik ke atas sedang O tetap ditempat bergabung dengan unsur sejenis
membentuk O2. Unsur O2 yang terbentuk ini mula-mula akan segera berikatan
dengan berbagai zat yang ada di udara H2S, SO2, NH3, HCO dan zat-zat yang bersifat
reduktif yang ada pada permukaan kulit bumi. Bentuk mikroorganisme yang awal,
menggunakan zat organik yang ada dalam air sebagai sumber energi. Lama-lama zat
organik itu habis, namun sebelumnya sudah mulai ada mikroorganisme yang mampu
melakukan fotosintesa, dengan menghasilkan zat organik dan O 2. Produk sampingan
O2 ini sebenarnya merupakan racun/pencemar bagi kehidupan mikroorganisme yang
ada. Timbul usaha penyesuaian dari mikroorganisme dengan membentuk enzim yang
mampu mengatasi keadaan dengan hadirnya O2 . Makin lama fotosintesa makin
meningkat sehingga kadar O2 menjadi berlebih terlepas ke udara. Selanjutnya O2
yang memasuki udara akan dimanfaatkan oleh pernafasan tumbuh-tumbuhan, dalam
keseimbangan antara proses fotosintesa dan pernafasan (respirasi).

55
Masalah yang lain ialah apabila cadangan bahan bakar minyak di planet bumi ini
dibakar habis dengan O2. Diperkirakan untuk seluruh jenis bahan bakar kandungan
karbonnya 6.5 trilyun/ton. Seluruhnya akan menghabiskan 8/3 x 6.5 = 17.3 trilyun
metrik ton (17.3 x 1012 ton) O2. Ini kira-kira hanya (17.3 x 1012) /15) x 100 % dari
seluruh O2. Kira-kira hanya (17.3 x 1012) /15) x 100 % dari seluruh O2 di udara (1.7
% saja), jadi dari segi ini tidaklah terlalu mengkhawatirkan cadangan O 2 akan habis
untuk maksud tersebut.
Hal lain yang penting adalah terbentuknya O3 pada lapisan atas atmosfir. Dengan
adanya O2 bebas di udara, ditambah adanya radiasi yang tinggi maka terjadilah
fotoreaksi pada lapisan atas sebagai berikut:
uv
O2 2O

uv
O2 + O O3

Ozone ini dapat menyerap radiasi sinar matahari pada gelombang pendek yang
sangat merusak kehidupan. Maka, terbentuknya O3 diibaratkan seperti pembentukan
lapisan payung untuk membuat bumi ini mampu mendukung kehidupan.
Kemudian timbul pertanyaan, mungkinkah O2 itu habis karena:
1. Pembentukan O2 dari fotosintesa berhenti.
2. Kemungkinan lain dipergunakan untuk pembakaran semua karbon baik dalam
bentuk minyak maupun dalam tubuh tumbuh-tumbuhan.
Produksi terbesar O2 adalah dari laut. Tumbuh-tumbuhan termasuk tumbuhan laut
sangat sensitif terhadap DDT walau hanya dalam konsentrasi rendah (ppb) serta
terhadap adanya Hg. Katakanlah proses ini berhenti. Tadi dijelaskan O 2 yang
dihasilkan melalui fotosintesa seimbang dengan untuk keperluan pernafasan kembali.
Jadi seandainya benar-benar berhenti, maka yang diperlukan hanya O2 untuk
membakar berbagai phytoplankton sebesar kira-kira 2 x 10 10 ton organik.
Ini memerlukan 8/3 x 2 x 1010 ton O2. Atau hanya (5.3 x 1010)1015x 100% = {(5.3 x
1012)/1015} = 0.0053 % dari O2 yang tersedia.

56
Bila tumbuh-tumbuhan darat yang jumlahnya 10 – 100 kalinya juga dibakar habis
dengan O2 maka akan memerlukan 0.53 % O2 dari udara. Dari analisa di atas bisa
disimpulkan bahwa persediaan O2 di bumi dengan siklus seperti di atas tidak akan
habis untuk menunjang kehidupan di planet bumi ini.

C. Siklus Nitrogen
Gambar 7. Siklus Nitrogen

Gambaran siklus N2 di alam adalah seperti diagram di atas. N2 tidak mempunyai


radioisotop yang berumus panjang, sehingga sulit untuk melakukan monitoring dan
derajat produksi pada tiap tingkat sulit untuk diukur. Data informasi dari pelacakan
15
N dan 14N belum cukup untuk dapat memahami siklus N2 ini.
Cadangan utama nitrogen adalah atmosfir serta batuan endapan dengan jumlah
keduanya 95 % dari jumlah nitrogen pada kerak bumi. Lumut biru hijau (blue green
algae) serta simbiosa seperti Rhisobium spp yang hidup pada jenis tanaman
leguminose bisa merubah N2 bebas udara menjadi nitrogen organik. Bila tumbuhan

57
itu mati maka nitrogen organik tersebut akan berubah menjadi amonia karena
aktifitas bakteri dan jamur. Walau sebagian besar mengalami daur ulang namun
sebagian kecil masih tetap tinggal dalam humus. Derajat produksi nitrogen menjadi
nitrogen organik oleh leguminose kira-kira 10 gN/m2/tahun, namun secara global
juga belum diketahui dengan tepat. Perkiraan dapat diperoleh dari perangai karbon
dalam fotosintesa. Dengan perkiraan bahwa zat kering dari makhluk hidup terdiri
dari 45 % C dan 3,2 % N dari seluruh beratnya, maka kita akan mendapatkan 3,2/45
x 274 = 19 gN/m2/tahun. Dari data ini yang berubah menjadi amonia tidak
diketahui. Teknologi telah mampu membuat industri fiksasi N 2 udara dengan proses
Haber. Kira-kira 44 x 109kg N/tahun, kira-kira hanya 5 % dari derajat produksi
secara biologik.
Dalam tanah dan laut terjadi oksidasi amonia oleh bakteri Nitrosomonas menjadi
nitrit dan oleh spesies Nitrobacteri menjadi nitrat. Derajad produksinya kira-kira 10
g N/m2/tahun. Pembuatan pupuk nitrat kira-kira 7 x 909 kg/tahun atau bila disebar
merata seluruh muka bumi adalah 0.014 g N/m2/tahun. Di beberapa tempat di dunia,
akibat dari pemakaian nitrat yang berlebihan telah nampak pada sumur-sumur. Nitrat
sendiri tidak berbahaya namun unsur itu siap dirubah oleh bakteri perut menjadi nitrit
yang sangat beracun. Nitrit dalam darah mengoksidasi Fe (II) pada haemoglobin
membentuk methaemoglobin yang tidak lagi mampu mengangkut O2. Suasana
lambung bayi memang memungkinkan untuk merubah semua bentuk nitrat menjadi
nitrit. Karenanya air minum tidak boleh mengandung lebih dari 10 µ g/liter.
Amonia dan nitrat dalam tanah sifatnya berbeda. Ion Amonia akan diikat oleh
tanah liat dengan kuat dan waktu tinggalnya lama. Sebaliknya nitrat tak diserap tanah
liat dan sangat mudah bergerak vertikal maupun horisontal bersama air tanah.
Sebaliknya ada juga bakteri yang mampu merubah nitrat menjadi N 2 karena ia
memanfaatkan O2 yang terkandung dalam nitrat bila terjadi kekurangan cadangan O 2
dalam udara. Perkiraan derajat produksinya adalah 0.16 g N/m2/tahun. Sesungguhnya
kegiatan manusia tak begitu berpengaruh, kecuali pada pemakaian pupuk nitrat yang
berlebihan.
Keutamaan siklus nitrogen terletak pada oksigen nitrogen (N 2O). Gas ini
dihasilkan oleh mikroba baik dalam air maupun dalam tanah. Namun belum jelas

58
apakah ini berasal dari oksidasi nitrogen organik atau dari reduksi nitrat. Derajad
produksinya kira-kira 0,4 g N/m2/tahun dengan waktu tinggal dalam atmosfir 10
tahun. Gas ini siap untuk diserap oleh tanah, tetapi sebagian diuraikan oleh radiasi
ultra violet menghasilkan oksida nitrit, nitrogen dan oksigen.
N2 + O
N2O
N + NO

NO adalah gas yang reaktif dan dihasilkan dari beberapa reaksi sebagai berikut:

mikroba
NH3 NO baik dalam air maupun tanah.
N2 + O2 NO dalam atmosfir baik karena
Pembakaran maupun halilintar.
radiasi

4 N2O NO + N pada stratosfir.

D. Siklus Belerang (S)

Dikutip dari John Lenihan dan William W. Flether dalam: The Chemical
Environment halaman 19 Academic Press New York San Francisco, 1977. Garis
besar siklus belerang adalah seperti diagram pada gambar 8.

Gambar 8. Siklus Belerang (S)

59
Dalam kerak bumi maupun di laut didapatkan sulfat maupun sulfit dalam jumlah
yang cukup besar. N2S yang terdapat di udara sangat tidak menentu derajad produksi
maupun oksidasi dan reduksinya. Proses oksidasi maupun reduksi belerang
dilakukan oleh suatu spesies bakteri. Tumbuhan hijau mampu memenuhi kebutuhan
belerangnya dari sulfat yang ada dalam tanah. Tanaman mampu mereduksi senyawa
sulfat menjadi sulfida organik dan hidrosulfida, dimana binatang tak mampu
melakukannya.

Dua cara bagaimana manusia dapat mengganggu keseimbangan siklus belerang


ialah dengan produksi SO2 dan penambangan S2 dari dalam tanah. Produksi SO2
secara besar-besaran adalah sebagai hasil samping pembakaran pada alat-alat
transportasi. Minyak serta batu bara kira-kira mengandung 1.5 % S2 dan ini akan
memasuki atmosfir sebagai SO2 bila bahan bakar minyak tersebut dibakar.
Pengecoran Cu, Al, Zn, kira-kira mempunyai andil 10 % dari jumlah seluruh emisi
selama satu tahun. Sumber gas S2 alamiah satu-satunya adalah gunung berapi yang
menghasilkan kira-kira 2 – 5 x109 kg/tahun, jauh lebih kecil dari pada industri dan
rumah tangga yang kira-kira sebesar 83 x 109 kg S/tahun. Waktu tinggal unsur ini di
udara kira-kira 4 hari. Mengingat waktu tinggal yang sangat singkat maka S2 dengan
produk lanjutannya adalah pencemar yang sifatnya sangat setempat (lokal) dan
musiman.

Beberapa hal yang bisa diakibatkan oleh SO2 adalah:

1. Hujan asam. Hasil oksidasi SO2 adalah asam sulfat dan ion amonium sulfat yang
keduanya larut dalam air hujan. Akibatnya kadang-kadang pH air hujan turun
sampai 3 – 5.5 yang sangat merugikan bagi tumbuh-tumbuhan maupun hewan
lain.
2. Erosi kalsium karbonat pada tembok bangunan dalam kota. Ini disebabkan oleh
kalsium karbonat yang dirubah menjadi kalsium sulfat yang lebih bisa larut.
3. Membuat kertas menjadi rapuh, terutama pada kertas buku-buku pada toko buku
dan perpustakaan. SO2 diserap oleh kertas dan dioksidasi menjadi asam sulfida
yang menyerang selulosa.

60
4. Membuat beberapa jenis logam menjadi karatan misalnya Al, Cu, Fe dan Zn,
kecuali Pb.
5. Mengurangi hasil tumbuhan hijau. Gas ini membuat kerusakan (nekrosis) pada
daun-daun. Tumbuhan hijau sensitif terhadap hujan asam sehingga bisa
dipergunakan sebagai indikator adanya pencemaran SO2.
6. Iritasi saluran pernafasan. SO2 sendiri tidak beracun walau sampai dengan
konsentrasi yang bisa tercium oleh indera. Namun pemaparan yang terlalu lama
menyebabkan gangguan pernafasan.

E. Siklus Fosfor

Gambar 9. Siklus Fosfor

61
Siklus fosfor ini lebih sederhana dari pada siklus O2, C, N2 atau S2. Hal ini
disebabkan oleh tiga hal:

1. Dalam perjalanan siklus fosfor jarang mengalami oksidasi atau reduksi.


2. Fosfat organik alam seluruhnya terdiri dari asam-asam fosfat dan tidak kita
dapatkan dalam bentuk senyawa karbon fosfat.
3. Tak ada fosfor dalam bentuk uap sehingga relatif sangat sedikit siklus fosfat yang
memasuki atmosfir.
P4 sendiri adalah zat yang sangat beracun, namun untungnya secara alamiah
sumber P4 tidak ada dan sangat jarang kita dapatkan dalam pencemaran.
Inti siklus fosfor terletak pada perubahan ion-ion fosfat dari berbagai sumbernya
seperti pada diagram. Sumber fosfor adalah dari makhluk hidup dan endapan dalam
air segar. Pengetahuan tentang derajad produksi fosfor sangat terbatas. Pengendapan
diperkirakan 6,4 x 108 kg P/tahun, dengan catatan waktu tinggalnya adalah 160.000
tahun. Perpindahan fosfor dari tanah ke laut melalui sungai memakan waktu kira-kira
1.9 x 108 kg P/tahun. Dengan demikian waktu tinggal dalam tanah = 56.000 tahun.
Pemanfaatan fosfor pada endapan batuan telah meningkat tajam dalam abad ini.
Penggunaan yang melampaui siklus alamiah terjadi kira-kira tahun 1910. Sebagian
besar, 75 – 90 % batuan fosfat digunakan untuk pupuk tanah. Selebihnya untuk
menghilangkan kesadahan air misalnya sodium tripolifosfat dan hal ini langsung
dibuang ke sungai. Fosfat dalam bentuk larutan segera dirubah ke dalam bentuk yang
sulit melarut. Fosfat aluminium, kalsium, besi, sangat rendah daya larutnya,
tergantung pH dan pada kadar yang rendah (trace element) diserap oleh basa Fe dan
Al. Ini merupakan sebab-sebab mengapa waktu tinggalnya dalam tanah sangat
panjang, dan rendahnya kadar fosfat dalam air laut maupun air tawar. Karenanya
seringkali walau tak selalu, fosfat merupakan makanan pembantu pertumbuhan
tanaman di daerah tandus, danau, pantai serta tanah. Sebagai contoh kadar fosfat
pada air laut sangat rendah bagian permukaan dibanding dengan bagian yang lebih
dalam karena adanya pengambilan oleh plankton. Penambahan fosfat pada tanah
pertanian sangat menambah hasil pertanian, namun sebagian dari pupuk ini akan
terbawa ke sungai.

62
Pembuangan air limbah yang banyak mengandung P ke dalam badan air
menyebabkan pertumbuhan lumut yang berlebih yang disebut eutrophication. Air
menjadi keruh, karena pembusukan lumut-lumut yang mati serta timbul bau yang tak
enak. Dengan waktu tinggal yang sangat panjang maka pencemaran fosfat
dampaknya baru dirasakan setelah sekian lama. Di sungai, fosfat akan kita dapati
pada endapan lumpur pada dasar muara sungai. Masalah peningkatan fosfat pada
badan-badan air perlu dicegah dengan menerapkan pengolahan air buangan. Secara
teoritik ke dalam air limbah ditambahkan aluminium sulfat hingga terjadi endapan
aluminium fosfat yang bisa diambil kembali.

F. Siklus Logam Berat Cu, Pb, dan Zn


Tiga macam logam di atas di alam terdapat dalam bentuk sulfida. Dalam siklusnya
sebagai ion sulfida ini teroksidasi menjadi sulfat yang lebih larut dalam air. Ion-ion
tersebut akan mengendap dalam bentuk fosfat komplek. Ketiga logam tersebut dalam
pengendapannya dibantu oleh Mg(OH)2 dan CaCO3.
Tabel 11. Siklus Utama Tembaga, Timbal dan Seng
Logam Perjalanan di sungai Terendap (109kg/th) Waktu
(109kg/th) Tinggal
Cu 0.20 0.31 2000-4000
Pb 0.15 0.05 300-850
Zn 0.37 0.26 19000-27000
Tabel di atas adalah suatu perkiraan dengan koreksi faktor 2.
Sumber: John Lenihan William W. Fletcher, The Chemical Environment, halaman
28, Academic Press New York, 1977.
Pengambilan rata-rata sebagai bahan tambang terhadap 3 macam logam di atas
dalam jangka 120 tahun terakhir terlihat pada grafik halaman berikut. Penggunaan
ketiga jenis logam semuanya adalah untuk bahan pelindung. Korosi merubah tiga
macam logam pelindung tersebut menjadi garam yang lebih larut. Zn lebih cepat
karatan dari pada Cu sedang Pb sangat lambat berkarat.
Ketiga logam tersebut masuk ke dalam atmosfir bersama asap pembakaran batu-
batu, tetapi dalam jumlah yang kecil, kira-kira 5 – 10 x 105 kg/tahun setiap jenis
logam tersebut di seluruh dunia. Pb masuk ke udara melalui gas buang dari

63
kendaraan bermotor. Sejak tahun 1940 alkil-Pb ditambahkan ke dalam bahan bakar
sebagai zat anti knock dalam proses pembakaran.

Karena pemakaian Pb sampai sebesar 4 x 108 kg yang dibakar dan masuk ke udara
(dalam bentuk aerosol), maka Pb saat ini merupakan pencemaran di seluruh dunia,
Pb yang berbentuk aerosol semacam ini akan berada di udara kira-kira satu bulan dan
konsentrasi pada lapisan tanah bagian atas (top soil) meningkat, begitu pula pada
endapan di danau, es di pulau Greenland di kutub utara dan daerah-daerah lainnya.
Sebagai data penunjang lapisan endapan pada dasar danau Michigan di USA
meningkat sejalan dengan waktu dan kedalaman tanah.

Logam-logam berat As, Cd, Cr, Hg, Ni, saat ini siklusnya telah diwarnai dengan
campur tangan manusia dengan berbagai bentuk teknologinya. Tabel di bawah ini
memberikan gambaran hal tersebut. Pada tabel nampak gambaran bahwa siklusnya
tak ada yang melalui udara, produk industri serta produk sampingan dari pembakaran
batu-bara, dengan anggapan konsumsi batu bara 2 x 1012 kg/tahun, serta proporsi zat-
zat tersebut dalam bentuk debu, asap dan gas tidak diketahui:
Tabel 12. Logam-logam berat dengan siklusnya.
Unsur Perjalanan di TerendapWaktu Produk Produk
sungai (106 (106 kg/th)
Tinggal industri samping batu
kg/th) di laut (106 /th) bara
6
(10 /tahun) (106 kg/th)
As 9.6 5.6 550-930 35 100
Cd 1.1 0.62 140-250 16 2
Cr 210 640 0.1-0.34 3000 10
Hg 3.7 1.1 12-40 9.5 1.6
Ni 370 300 8-9 667 120
Sumber: John Yenihan dan William W. Fletcher, The Chemical Environment,
halaman 33, Academic Proses New York, 1977.
As sendiri (dari produksi industri), lebih kecil dari produk sampingan pembakaran
batu-bara. As yang tertimbun pada tanah-tanah pertanian di daerah-daerah pertanian
di negara berhawa dingin berasal dari pembakaran batu-bara. As merupakan racun
berbahaya pada mamalia, mungkin bersifat karsinogenik. Banyak makanan laut yang
mengandung As. Beberapa jenis bakteri dan jamur mampu melakukan metilasi
dengan metilator B12 menghasilkan antara lain: trimetil arsine yang sangat beracun.

64
Cd merupakan pencemar industri yang saat ini sudah cukup tinggi di beberapa
muara sungai yang menerima air buangan dari pengecoran logam itu. Zat ini pada
dasarnya tak terakumulasi pada tanah walaupun didapatkan juga adanya pada lumpur
buangan dengan kadar yang tinggi. Pencemaran logam ini pernah mencatat sejarah di
Jepang dengan penyakit itai-itai (aduh-aduh) penyerapan yang berlebihan akan
menyebabkan kerusakan ginjal, kemandulan, dan kanker, namun logam ini tidak
merusak tanaman.
Siklus Hg sangat rumit dan berlangsung sangat cepat. Hg larut dalam air dengan
kadar yang sangat kecil (trace level) walau pada temperatur kamar Hg dapat larut
dalam air sampai 20 mg/l. Penguapan zat ini dari kerak bumi diperkirakan 84 x 106
kg/tahun dan tertimbun pada lapisan tanah bagian atas (top soil).
Sejak tahun 1880 hingga 1950 (dengan mengabaikan hasil sampingan pembakaran
batu-bara) produksi Hg seimbang dengan siklus alam melalui air. Setelah tahun 1950
produksi meningkat dua kali, terutama berbentuk sebagai fungisida untuk keperluan
pengawetan biji-bijian. Segera setelah itu didapatkan kenaikan kadar Hg dalam tubuh
burung dan ikan. Pemakaian metil merkuri sebagai fungisida di berbagai negara
meningkat dibanding dengan pemakaian fenil merkuri yang kurang toksik.
Konsentrasi Hg pada ikan, moluska dan krustasea didapatkan lebih tinggi dari jenis
lainnya.
Semua jenis garam Hg beracun, terutama yang larut dalam lemak adalah golongan
metil merkuri dan yang larut dalam air adalah Hg bervalensi II. Daya larut Hg yang
sangat kecil mempengaruhi toksisitasnya. Tetapi uap Hg sangat berbahaya bila
terhisap.

65
BAB 4

BAHAN KIMIA YANG BERHUBUNGAN DENGAN


KESEHATAN LINGKUNGAN

A. Sifat Bahan Kimia dan Masuknya ke dalam Tubuh Manusia


1. Gambaran Umum

Salah satu sifat dari suatu zat ialah bersifat racun. Sifat racun bukan merupakan
sifat fisik seperti berat atau massa, tetapi merupakan sifat biologik atau juga dapat
dikatakan sifat ekstrinsik karena sifat racun ini dipengaruhi oleh banyak bahan.
Berhubungan dengan kesehatan lingkungan karena berperan sebagai bahan:

a. Esensial, yakni pembentuk bahan untuk kehidupan.


b. Katalisator, yakni pembantu proses untuk kehidupan.
c. Inert, yakni tidak dibutuhkan tubuh karena membahayakan.
Daya racun adalah kemampuan dari suatu bahan untuk mengganggu organisme
hidup tidak dengan secara mekanik. Adanya daya racun suatu zat tidak terjadi
karena perlakuan tertentu atau karena pengolahan, dan tidak akan berubah oleh
suhu atau karena sifat fisiknya. Bahaya racun disebabkan karena pengaruh kuat
dari faktor-faktor luar. Bahaya racun ini timbul karena penambahan jumlahnya,
sifat fisik dan kimiawi bahan tersebut, cara penggunaan dan faktor lain yang
mempengaruhi kontak secara bermakna.
Bahaya tidak hanya datang dari zat beracun saja, tetapi juga dapat berasal dari
berbagai bentuk energi dan sumber mekanik. Bahaya secara mekanik misalnya
jatuh, tertimpa benda, terbakar dan lain-lain, tidak sama dengan keracunan.
2. Jalan Masuk Bahan Kimia ke Dalam Tubuh
Daya racun merupakan sifat bahan yang tidak tergantung pada bagaimana
bahan tersebut sampai ke tubuh, kecuali bahan yang berubah karena sifat
kimiawinya. Oleh sebab itu, masuknya bahan kimia ke dalam tubuh umumnya
khas, sehingga daya racun suatu bahan dan efisiensi penyerapan bahan tersebut
oleh tubuh ditentukan juga oleh jalan masuknya. Ada tiga jalan masuk zat kimia
ke dalam tubuh, yaitu melalui kulit, alat pencernaan makanan, dan alat pernafasan.

66
a. Melalui Kontak dengan Kulit

Gambar 10. Kontak dengan Kulit

1) Pandangan Umum
Walaupun salah satu fungsi fisiologik dari kulit adalah melindungi tubuh
terhadap masuknya zat asing, tetapi beberapa bahan seperti garam-garam
yang larut dalam air selalu dapat menembus kulit. Kemungkinan yang
terjadi jika bahan kimia kontak dengan kulit adalah sebagai berikut:
a) Kulit dan lapisan lemak di bawahnya dapat bertindak sebagai pelindung
terhadap terobosan, luka atau bentuk gangguan lain.
b) Di bawah permukaan kulit (sub-cutan) dapat terjadi reaksi dan
menyebabkan iritasi (dermatitis).
c) Zat dapat melewati kulit dan berikatan dengan jaringan protein,
menyebabkan proses sensitisasi kulit (menjadi peka).
d) Zat bisa melampaui kulit, masuk dalam peredaran darah yang
mengakibatkan keracunan sistemik.

Keracunan sistemik dapat menimbulkan akibat serius, bahkan kematian,


misalnya pada pemaparan dalam waktu singkat pada bagian kulit oleh zat-
zat yang sangat beracun seperti: fenol, parathion, senyawa fosfat organik,
alkyl-lead, seng anilin dan asam sianida. Kerusakan pada jaringan kulit
seperti luka dan borok meningkatkan daya serap melalui kulit.

67
2) Pola Penyerapan
Terdapat dua jalan utama penyerapan zat melalui kulit, yaitu melalui sel-
sel epidermal (trans-epidermal) dan melalui fackel-fackel rambut dan
kelenjar sebicons (Pilozebaceous). Dari kedua jalan penyerapan tersebut
trans-epidermal lebih utama karena melalui pilozebaceous relatif kecil
walaupun sifat pilozebaceous lebih tembus (permeable) dibandingkan trans-
epidermal. Jalur trans-epidermal sangat dipengaruhi oleh lapisan yang
terletak diantara lapisan tanduk dan lapisan epidermis.
3) Faktor yang mempengaruhi kecepatan penyerapan
Secara umum penyerapan zat organik (yang elektronik) termasuk air
melalui lapisan kulit tidaklah terlalu bermakna. Hanya zat anorganik yang
mempunyai daya meng-ion sangat lemah seperti asam borat, garam merkuri
tertentu, dapat terserap pada derajat tertentu. Di lain pihak, zat yang larut
dalam lemak, terutama senyawa organik diserap dengan sangat cepat.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan penyerapan melalui kulit
adalah:
a) Faktor Fisika Kimia
Termasuk dalam hal ini adalah struktur kimia serta sifat-sifat fisik
seperti daya larut zat dalam air atau lemak, serta konsentrasi bahan
beracun. Namun demikian, zat yang mudah larut dalam air atau lemak
seperti penta endiol atau dietilen glikol, masih mendapat hambatan
menembus kulit, walau relatif kecil.
Hambatan ini tak sepenuhnya diketahui, tetapi ada dugaan bahwa
kemungkinan terjadi pengikatan secara kimiawi dengan zat pada kulit.
Dugaan ini dikemukakan karena ditemukannya ikatan gas mustrad pada
epidermis dan corium kulit manusia setelah pemaparan selama 24 jam.
Secara umum dapat dikatakan bahwa semua zat yang mempunyai efek
kaustik, seperti fenol dan kresol atau yang mempunyai efek
menggumpalkan protein seperti logam-logam berat atau polivalensi,
dalam konsentrasi yang tinggipun diserap lebih kecil dibandingkan
dengan zat yang tidak menggumpalkan protein dalam kadar yang rendah.

68
Gas dan uap biasanya menunjukkan kenaikan penyerapan karena adanya
kenaikan konsentrasi, sehingga penyerapan oleh kulit terhadap gas di
udara yang kadarnya di bawah ambang batas (Treshold Limit Value,
TLV) dapat diabaikan.
Perubahan pH nampaknya membantu penerobosan kulit. Beberapa
macam zat surfactant (surface active agents) tertentu terus terserap dari
larutan suffer dengan pH 10,5. Di lain pihak, logam polivalensi lebih
mudah terserap jika terdapat dalam larutan dengan pH rendah.
Pemakainan pelarut yang melarutkan lemak, seperti bensin, alkohol,
chloroform akan meningkatkan permeabilitas dari sel-sel pelindung kulit.
Sedangkan perubahan suhu menyebabkan peningkatan penyerapan
melalui kulit dengan diikuti pula oleh peningkatan penyerapan melalui
kulit dengan diikuti pula oleh peningkatan pelepasan bahan buangan
melalui kulit.
b) Faktor Fisiologik
Walaupun tidak mutlak, kulit manusia berperan sebagai penghalang
atau saringan yang selektif terhadap zat-zat asing. Secara fisiologik hal
ini terjadi karena adanya lapisan-lapisan yang masing-masing dapat
menghalangi masuknya bahan-bahan dari luar. Tetapi lapisan kulit dan
lapisan tanduk misalnya, masih cukup mempunyai pori-pori yang bisa
ditembus, bahkan oleh molekul gabungan sekalipun.
Disamping itu, tidak semua lapisan berperan sebagai penghalang.
Lapisan yang berlemak biasanya kaya dengan kolesterol, ester, dan
lemak dimana mereka berfungsi sebagai emulsifier agent (peng-emulsi).
Jadi dapat dikatakan bahwa lapisan penghalang tersebut terutama adalah
lapisan yang terletak antara lapisan tanduk dan lapisan teratas dari
epidermis.
Pada bagian yang berbeda, kulit manusia memperlihatkan penyerapan
yang berbeda pula. Sebagai contoh, punggung tangan (dorsal) dan kulit
perut (abdomen) mempunyai daya serap dua kali daya serap bagian
lengan yang lain, karena mempunyai folicle-folicle seperti pada kulit

69
kepala. Sudut dagu mempunyai daya serap empat kali lebih besar,
sedangkan kulit pelir (scrotum) hampir menyerap secara total.
Hyperaemia karena peningkatan penguapan oleh karena efek suhu dapat
meningkatkan penyerapan bahan oleh kulit, penyerapan oleh lapisan-
lapisan di dalam kulit terjadi karena adanya perbedaan konsentrasi
diantara lapisan. Jaringan kulit yang dalam turgor-nya lebih rendah,
sehingga cairan yang berada di luarnya akan terserap ke dalam.
Berkeringat juga merupakan aktifitas fisiologik. Secara klinik dan
berdasarkan pengamatan diketahui bahwa penyerapan zat beracun lebih
banyak terjadi pada orang yang selalu memakai pakaian yang membuat
kulit dalam keadaan basah. Berkeringat membuat lemak kulit meningkat,
sehingga zat-zat yang larut dalam lemak akan terserap lebih murah.
Berkeringat juga membantu terjadinya alergi kulit yang peka terhadap zat
tertentu, misalnya khrom dan nikel. Keasaman keringat dapat
menyebabkan sejumlah logam yang kontak dapat terserap, sehingga
menimbulkan efek alergi.
b. Melalui Saluran Pencernaan (Ingestion)

Gambar 11. Melalui Saluran Pencernaan

70
Saluran pencernaan makanan merupakan pintu masuk yang amat penting
untuk bahan-bahan yang bersifat akut (dalam waktu singkat atau dosis tunggal)
atau kronis (dalam waktu lama atau dosis berulang-ulang). Data menunjukkan
bahwa kejadian keracunan melalui saluran pencernaan cukup tinggi. Bahan-
bahan yang mempunyai daya racun per-oral yang tinggi adalah semua
radioisotop, beberapa logam, dan pestisida golongan organofosfat. Bahan yang
menimbulkan keracunan oral secara akut umumnya memiliki LD50 sebesar 1,0
miligram per kilogram berat badan (Lethal Dose for 50 % animals fed, LD50).
Pengaruh penyerapan racun melalui saluran pencernaan (ingestion) terhadap
kesehatan ternyata lebih kecil jika dibandingkan dengan penyerapan melalui
kulit atau saluran pernafasan (inhalation).

Hal ini disebabkan, karena:

1) Macam zat yang dapat ditelan lebih sedikit, dan orang tidak mungkin
menelan gas atau uap.
2) Frekuensi dan derajat kontak dengan makanan atau minuman beracun
sangat terbatas, serta waktu kontaknya pendek.
3) Daya racun melalui mulut secara umum lebih rendah dari pada keracunan
melalui saluran pernafasan sebab jumlah yang masuk dalam peredaran darah
sangat kecil. Rendahnya pH pada lambung (pH 1 – 2) sudah merupakan
suatu penghambat kemudian diikuti oleh suasana pada usus kecil yang
sangat basa karena kelenjar pankreas. Keadaan sangat asam dan sangat basa
ini mengurangi daya racun zat-zat organik melalui hidrolisis. Enzim
pankreas akan mengurangi toksisitas sesuatu zat sebelum zat tersebut
terserap.
4) Faktor lain yang menyebabkan rendahnya penyerapan adalah:
a) Zat beracun yang tercampur dengan makanan yang tertelan, disamping
berkurang toksisitasnya, juga seringkali membentuk bahan yang lebih
kompleks sehingga kurang larut.
b) Ada seleksi tertentu pada penyerapan melalui usus, sehingga usus
membatasi penyerapan zat-zat yang tidak alamiah.

71
c) Setelah terserap kedalam aliran darah yang menuju hati, maka akan
terjadi proses degradasi atau detoksikasi lebih lanjut.
Namun demikian, sekalipun banyak pengurangan toksisitas dalam proses
penyerapan melalui saluran pencernaan (ingestion) ini, beberapa unsur yang
sangat toksis dengan reaksi yang lambat dan cellulative, seperti Arsen,
Kadmium, Timbal, Merkuri harus diwaspadai.
c. Melalui Saluran Pernafasan (Inhalation)

Gambar 12. Melalui saluran pernafasan

Paru berfungsi memasukkan dan mengeluarkan udara ke dalam tubuh, dan


merupakan alat untuk menyerap oksigen dan mengeluarkan karbon-dioksida.
Beberapa bahan yang terdispersi di udara secara tak sengaja dapat masuk ke
dalam paru. Jika mencapai alveoli mungkin dapat lolos masuk ke dalam aliran
darah. Pernafasan merupakan pintu masuk yang efektif bagi bahan-bahan
termasuk juga bahan beracun ke dalam tubuh. Itulah sebabnya dalam dunia
kedokteran, inhalasi dipergunakan sebagai cara pembiusan (anestesi) yang
menggunakan bahan karbon tetraklorida dan etil ether.

Manusia menghisap udara 4 (empat) sampai 10 (sepuluh) meter kubik, atau


140 sampai 350 feet-kubik, selama 8 (delapan) jam. Sejumlah bahan yang
terdispersi di udara dapat terhisap, terutama jika konsentrasi bahan tersebut di
udara rendah. Bahan-bahan yang terhisap dapat menimbulkan iritasi atau

72
merangsang saluran pernafasan. Luas permukaan paru orang dewasa yang
dapat kontak dengan udara adalah 90 meter per segi. Alveoli 70 meter per segi,
ditambah luas pembuluh kapiler hampir 140 meter per segi. Darah yang
mengalir terus-menperus memungkinkan penyerapan zat-zat di udara yang
efektif dengan daya serap rata-rata yang tinggi. Karena alasan inilah, waktu
paru berhubungan dengan jaringan tubuh melalui aliran darah, maka inhalasi
merupakan pintu masuk yang amat penting, dan harus diperhitungkan terutama
bagi pekerja yang berhubungan dengan bahan-bahan berbahaya.

Beberapa bahan yang mudah larut dalam air, misalnya garam halogen
(bukan asamnya) dan khromat (bukan asamnya) melewati paru dengan cepat
dan dapat dipantau setelah penyerapannya. Sebaliknya, beberapa bahan yang
sukar larut dalam cairan tubuh atau lambat bereaksi dengan bahan-bahan pada
paru, akan tetap tinggal dalam paru untuk jangka waktu tertentu. Zat-zat ini
biasanya tidak hilang karena phagositosis atau mekanisme perlindungan tubuh
lainnya. Zat-zat ini akan menyebabkan luka bakar, emphysema,
granulomatosis, fibrosis, alergy atau malignancy (keganasan). Uap dan gas
dari beberapa zat yang sangat reaktif dengan daya larut rendah, bisa dengan
cepat menyebabkan iritasi dan luka bakar pada paru. Menghisap uap atau gas
ini secara terus-menerus dapat mengakibatkan luka bakar yang kronik, fibrosis
atau kekenyalan saluran pernafasan. Disamping itu, jenis uap ini dapat
menyebabkan granulomatosis dan malignancy. Dengan demikian dapat
disimpulkan, bahwa partikel dapat menyebabkan bronchocarcionoma, apabila
partikel tersebut mempunyai sifat tidak larut dalam cairan atau jaringan tubuh
paru.

3. Aktifitas Bahan
Aktifitas bahan di dalam tubuh atau aktifitas tubuh terhadap bahan bervariasi
mulai yang sederhana hingga yang kompleks. Gas inert misalnya helium dan
metan, melewati paru dan masuk ke dalam aliran darah tetapi tidak dapat bergerak
aktif seperti bahan-bahan berbahaya yang terlarut dalam darah.

73
Banyak pula bahan yang tidak menimbulkan efek setelah dicerna atau setelah
melewati kulit atau mata. Bahan seperti ini biasanya inert yang mempunyai
derajat keracunan rendah. Sebaliknya, jika dosisnya cukup besar, konsentrasinya
cukup tinggi, atau kontaknya cukup lama, efeknya akan tampak.

a. Aktifitas pada bagian kontak


Semua bahan iritan (irritant) mempunyai aktifitas mengikis pada tempat
kontak. Dalam beberapa hal meskipun jumlahnya cukup namun waktu
kontaknya singkat, sifat bahayanya dapat diabaikan. Sementara itu debu fiber
yang walaupun tidak bersifat iritan, jika kontak dengan kulit akan terasa oleh
syaraf.
b. Penyerapan ke dalam darah
Pada kulit, paru dan usus, bahan-bahan akan terhisap pada tempat kontak.
Penyerapan sepenuhnya tidak pernah terjadi, tergantung pada koefisien
distribusi terhadap luasnya permukaan kontak.
c. Aktifitas di dalam darah
Dalam kondisi normal, darah berfungsi mengangkut bahan yang telah
diserapnya. Beberapa bahan mempunyai aktifitas tersendiri dalam darah
misalnya karbon monoksida dan amina aromatis. Bahan tersebut bereaksi
dengan haemoglobin dan mengurangi kemampuan transportasi oksigen dari
paru ke seluruh jaringan. Bahan-bahan yang diangkut oleh darah tersebut
selanjutnya akan diserap oleh jaringan. Meskipun suatu jenis organ atau sistem
organ tertentu dapat terpengaruh, secara umum bahan tersebut tetap menyebar
ke seluruh tubuh.
d. Penyerapan ke dalam jaringan
Penyerapan bahan tidak sama untuk setiap jenis jaringan yang berbeda.
Beberapa bahan lebih mudah terserap jaringan lemak karena bahan tersebut
terlarut dalam lemak. Aktifitas peracunan yang utama tidak terletak pada lipida
(lemak kompleks) tetapi justru pada jaringan yang lemaknya sederhana dimana
bahan-bahan ini ditimbun untuk dipergunakan perlahan-lahan dalam waktu

74
lama. Yang berpengaruh terhadap potensi racunnya dari penimbunan bahan
tersebut adalah banyaknya lemak dalam jaringan untuk melarutkan bahan
beracun tersebut. Inilah sebabnya mengapa ada perbedaan efek racun pada
berbagai jenis binatang atau spesies.
Jika dibuat kurva antara hasil pengukuran jumlah bahan racun dalam tubuh
dengan lamanya seseorang terpapar bahan tersebut, maka akan diperoleh kurva
yang mula-mula mendekati garis lurus (linear), lalu mendatar mendekati
asimut. Potensi peracunan tidak tergantung pada jalan masuk bahan racun
(route of entry), tetapi tergantung pada faktor-faktor kelarutan bahan dalam
jaringan atau lemak, kecepatan penyerapan oleh jaringan, reaksi dengan
jaringan (misalnya, detoksifikasi atau penetralan), serta cukup tidaknya waktu
pemaparan.
Bahan beracun dalam tubuh cenderung berkurang atau hilang karena adanya
mekanisme fisiologik tubuh, misalnya reaksi dengan bahan lain yang ada
dalam tubuh, dikeluarkan melalui ekskresi keringat, urine, faeses, rambut, kuku
dan ludah. Beberapa jenis bahan tertentu dapat tersimpan dalam jaringan tubuh,
misalnya dalam lemak. Menghilangnya bahan beracun dari dalam tubuh,
merupakan hal yang agak pelik dan berhubungan dengan variasi umur paruh
(half life) dari jenis bahan tersebut.
e. Aktifitas setempat dari organ tubuh
Beberapa organ atau sistem organ tertentu memiliki kepekaan atau
kecenderungan penyerapan yang lebih besar dari organ yang lain. Penyerapan
oleh organ-organ tubuh ini diikuti dengan aktifitas organ tersebut. Aktifitas
yang cukup besar terjadi pada ginjal, hati, jantung, otak, bahkan pada bagian
organ yang lebih kecil seperti glumerolus dari ginjal. Seluruh sistem organ
dapat terkena (efek sistemik), misalnya adanya bensin dalam sistem darah atau
etil eter dalam sistem syaraf pusat, tetapi mungkin juga efeknya hanya terbatas
pada organ tertentu saja, seperti bahan-bahan organofosfat yang memiliki
kecenderungan terhadap syaraf. Yang paling sering terjadi adalah adanya
kerusakan enzim atau sistem enzim oleh bahan beracun tersebut. Disamping

75
pengaruh yang besar terhadap organ yang bersangkutan, terdapat juga efek
sampingan yang perlu diperhatikan.
f. Aktifitas Racun
Racun adalah suatu sifat bahan yang dikaitkan dengan sifat biologik.
Keragaman pengaruh aspek biologik cukup besar dibanding dengan sifat
fisiknya sebab sistem biologik lebih kompleks dari pada sistem fisik.
Perbedaan ini berlaku pula untuk spesies yang berbeda. Percobaan toksisitas
yang dilakukan terhadap binatang, tumbuhan atau flora, belum dapat
mengidentifikasi pengaruhnya terhadap manusia.
Pemaparan terhadap dua macam atau lebih racun kadang-kadang
menimbulkan efek akhir yang lebih besar. Daya racun semacam ini disebut
sinergis (sinergitic effect). Tetapi bukan tidak mungkin terjadi sebaliknya,
beberapa macam racun yang masuk ke dalam suatu sistem biologik justru akan
mengurangi efeknya. Sifat racun lain yang penting ialah daya akumulasi
(penimbunan) dalam organ tubuh. Dalam waktu singkat racun belum
menampakkan pengaruh, tetapi juga waktu pemaparan lama maka akan terjadi
penimbunan kadar racun sehingga barulah tampak pengaruhnya.

B. Unsur-Unsur yang berhubungan dengan Kesehatan


Alam ini diperkirakan terdapat 104 macam unsur dasar (basic elements). Partikel-
partikel ini memiliki sifat-sifat fisik dan biologik, dan sifat biologik inilah yang
menentukan peranan unsur tersebut bagi kehidupan tumbuhan, hewan maupun
manusia. Untuk menggambarkan keseluruhan sifat biologik, unsur-unsur tersebut
maka dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1. Unsur-unsur yang dibutuhkan sekali kehadirannya dalam tubuh manusia walau
dalam jumlah yang kecil (essential).
2. Unsur-unsur pembentuk senyawa dalam tubuh manusia atau tumbuhan, dalam
jumlah yang relatif besar.
3. Unsur-unsur inert, yang tidak dibutuhkan oleh tubuh, baik sebagai pembangun,
pengatur maupun sebagai akselerator.

76
Berikut ini adalah tabel tentang berbagai sifat unsur-unsur:

Tabel 13. Sifat Biologik Unsur-Unsur.

Unsur Simbol Nomor Berat Fungsi atau Sifatnya


Atom Atom
1 2 3 4 5
Hidrogen H 1 1.01 Diperkirakan dalam tubuh manusia
atau hewan.
Helium He 2 4.00 Inert, tidak/belum diketahui
penggunaannya.
Mungkin diperlukan dalam fungsi
Lithium Li 3 6.94 otak.
Beryllium Be 4 9.01 Racun akut bagi tubuh.
Boron B 5 10.80 Penting (essensial) bagi tumbuhan.
Carbon C 6 12.01 Unsur penting dalam struktur
biokimia.
Nitrogen N 7 14.01 Unsur penting dalam struktur
biokimia.
Oksigen O 8 15.99 Unsur penting dalam struktur
biokimia.
Fluor F 9 18.99 Diperlukan sebagai pelapis email
pada gigi.
Neon Ne 10 20.10 Inert.
Natrium Na 11 22.99 Diperlukan sebagai elektrolit cairan
tubuh.
Magnesium Mg 12 24.31 Diperlukan untuk merubah energi
pada otot.
Aluminium Al 13 26.98 Inert.
Silicon Si 14 23.09 Inert.
Phosporus P 15 30.97 Diperlukan untuk merubah
energi/transfer dan sintesa pada
proses biokimia.
Unsur pembentuk protein dan pada
Belerang S 16 32.06 cairan tubuh.

77
Diperlukan sebagai unsur
Khlorin Cl 17 35.45 pembentuk elektrolit cairan tubuh.
Argon Ar 18 39.95 Inert.
Diperlukan sebagai elektrolit cairan
Kalium K 19 39.10 tubuh.
Kalsium Ca 20 40.08 Inert.
Scandium Sc 21 44.96 Inert.
Titanium Ti 22 47.90 Inert.
Essensial bagi tumbuhan dan
Vanadium Va 23 50.94 binatang laut tertentu.
Khromium Cr 24 51.99 Essensial bagi binatang besar.
Penting untuk aktifitas enzim,
Mangan Mn 25 54.94 fungsi hati, ginjal dan mata
Komponen dalam darah berfungsi
Besi Fe 26 55.85 sebagai pengangkut O2
Cobalt Co 27 58.93 Komponen Vitamin B12
Nikel Ni 28 58.71 Mungkin bersifat karsinogenik
Tembaga Co 29 63.5 Pembangun sel darah
Seng Zn 30 65.37 Faktor pertumbuhan agar normal
Arsen As 33 74.92 Beracun, mungkin karsinogenik
Pada dosis kecil, esensial untuk
Selenium Se 34 78.96 fungsi hati
Melibdenum Me 35 95.94 Penting dalam reaksi biokimia
Esensial pada tikus, fungsi belum
Tin Sn 50 118.69 diketahui.
Yodium I 53 127.6 Esensial bagi kelenjar otak
Barium Ba 56 137.34 Digunakan dalam diagnosa penyakit
Menyebabkan kerusakan syaraf dan
Air raksa Hg 80 200.59 kematian
Menyebabkan kerusakan alat dan
Timbal Pb 82 207.19 kejang-kejang

Tabel 14. Pengaruh Penyimpangan Standar Kualitas Air Minum Terhadap


Kesehatan

Unsur Kimia Satuan Minimal Maksimal Pengaruh Penyimpangan


1 2 3 4 5
Derajat pH yang lebih kecil dari 6.5 dan lebih
- 6.5 9.2
Keasaman besar dari 9.2 dapat menyebabkan
koro sifitas pada pipa air, dan dapat
menyebabkan beberapa senyawa
kimia berubah menjadi racun.

78
Menimbulkan rasa tidak enak, rasa
mual terutama yang disebabkan oleh
Zat Padat mg/l - 1.500 natrium sulfat dan magnesium sulfat,
menyebabkan gangguan jantung.

Zat organik mg/l - 10 Menimbulkan bau yang tidak sedap


sebagai dan dapat menyebabkan sakit perut.
KMNO4
Menyebabkan korosif pada pipa
CO2 mg/l - 10 logam dan dapat menyebabkan
beberapa senyawa kimia berubah
Kesadahan oD 5 10 Kesadahan jumlah adalah kesadahan
Jumlah oleh Kalsium dan Magnesium
sehingga pengaruh terhadap
kesehatan sesuai dengan masing-
masing unsur pendukung nya
diantaranya pengapuran terhadap
pembuluh darah yang menyebabkan
tekanan darah tinggi dan
pembentukan batu ginjal.
Kalsium mg/l 75 200 75 mg/liter menyebabkan penyakit
tulang rapuh karena Kalsium
diperlukan untuk pertumbuhan tulang
dan gigi. Konsentrasi lebih besar dari
200 mg/liter menyebabkan
pengapuran pembuluh darah.
Magnesium mg/l 30 150 Dalam jumlah kecil dipergunakan
oleh otot untuk merubah energi
dalam jumlah besar bersifat laxative.
Tembaga mg/l 0.05 1.5 Dalam jumlah kecil Cu diperlukan
tubuh untuk pembentukan sel-sel
darah merah, dalam jumlah besar
dapat menyebabkan rasa tidak enak
di lidah di samping dapat
menyebabkan kerusakan hati.
Dalam jumlah kecil diperlukan untuk
Besi mg/l 0.1 1.0 pembentukan sel-sel darah merah,
konsentrasi yang lebih besar dari 1.0
mg/liter dapat menyebabkan warna
air kemerah-merahan dan memberi
rasa yang tidak enak pada minuman
di samping dapat membentuk
endapan pada pipa logam dan bahan
cucian.

79
Mangan mg/l 0.05 0.5 Konsentrasi Mn yang lebih besar dari
0.5 mg/liter dapat menimbulkan rasa
yang aneh pada minuman
meninggalkan noda kecoklatan pada
pakaian yang dicuci, dapat
menyebabkan kerusakan hati.
Seng mg/l 1.0 15.0 Dalam jumlah kecil merupakan unsur
yang penting untuk metabolisme
karena kekurangan Zn dapat
menyebabkan hambatan pada
pertumbuhan anak, sedangkan dalam
jumlah besar menimbulkan rasa pahit
dan sepat pada air minum.
Khlorida mg/l 200 600 Dalam jumlah kecil (sebagai Cl2 )
merupakan desinfektan, dan
ikatannya dengan ion Na
menimbulkan rasa asin dan sifatnya
jadi korosif pada pipa air.
Sulfat mg/l 200 400 Dalam jumlah besar dapat bereaksi
dengan ion Na atau Mg dalam air.
Garam ini dapat menyebabkan reaksi
laxative.
Sulfida mg/l - 0.0 Dalam bentuk H2S bersifat sangat
sangat beracun dan berbau busuk.
Dalam jumlah besar mempengaruhi
keasaman air (korosifitas=berkarat).
Fluorida mg/l 1.0 2.0 Fluorida dalam jumlah kecil
diperlukan sebagai bahan pelapis gigi
untuk mencegah caries gigi. Dalam
jumlah besar menimbulkan fluorosis,
timbulnya bercak hitam pada gigi.
Amonia mg/l - 0.0 Menimbulkan bau yang menusuk
hidung.
Nitrat (NO3 ) mg/l - 20.0 Kadar nitrat yang besar dalam usus
berubah menjadi nitrit yang dapat
beraksi dengan haemoglobin
membentuk methaemoglobin yang
mempengaruhi fungsi trans-oksigen.
Nitrit (NO2) mg/l - 0.0 Dapat beraksi dengan hemoglobin
membentuk methaemoglobin yang
mempengaruhi fungsi transport
oksigen, mudah terjadi pada bayi
sehingga nampak biru (penyakit blue
babies).
Fenol mg/l 0.001 0.002 Bila bereaksi dengan Khlor dapat
menimbulkan bau yang tidak enak.

80
Arsen mg/l - 0.05 Merupakan senyawa yang sangat
beracun dapat tertimbun dalam
tubuh, menyebabkan gangguan
sistem pencernaan, kemungkinan
menyebabkan kanker pada kulit,
saluran empedu dan hati.
Timbal mg/l - 0.10 Sangat berbahaya, tertimbun dalam
jaringan tubuh, menyerang syaraf.
Pada anak-anak dapat menyerang
syaraf otak, menyebabkan anemia
dan kelumpuhan.
Selenium mg/l - 0.001 Memberi pengaruh terhadap
kecenderungan penyakit caries gigi
pada anak-anak diperkirakan
menyebabkan kanker hati, ginjal dan
limpa.
Khromium mg/l - 0.005 Diperkirakan dapat menyebabkan
kanker kulit dan alat pernafasan.
Sianida mg/l - 0.005 Dapat mengganggu pernafasan
oksigen dalam jaringan dan dapat
meracuni hati.
Kadmium mg/l - 0.01 Tertimbun dalam jaringan tubuh
sehingga dapat menyebabkan batu
ginjal gangguan lambung, kerapuhan
tulang, menurunkan hemoglobin
darah, pigmentasi gigi.
Merkuri mg/l - 0.001 Meracuni sel-sel tubuh, merusak
ginjal, hati, syaraf. Pada bayi
menyebabkan keterbelakangan jiwa
(cerebral palay).

C. Bahan-Bahan yang Berhubungan dengan Kesehatan Lingkungan


1. Golongan Korosif dan Narkotik
a. Asam Sulfat (H2SO4)
Asam sulfat merupakan asam yang bersifat korosif terhadap metal,
mengakibatkan karat dan keropos. Asam sulfat sangat mudah bereaksi dan
beroksidasi dengan air, bahan-bahan organik, diikuti dengan pengeluaran panas
(kalori). Asam sulfat yang pekat (99 %) bersifat sangat higroskopik, yaitu
dapat mengeringkan zat-zat yang basah. Gula oleh asam sulfat pekat dapat
hangus menjadi arang.

81
Jika uap/kabut asam sulfat terhirup oleh manusia dapat menyebabkan
kerusakan parah pada jaringan paru, menimbulkan peradangan (inflamation)
kronis dan bronchitis kronis pada saluran pernafasan bagian atas. Jika kontak
dengan kulit asam sulfat dapat menyebabkan dermatitis, kerusakan kulit
bahkan luka bakar kimiawi dengan borok yang dalam. Asam sulfat pekat yang
mengenai kulit akan menyerang epidermis dan mengakibatkan kematian
jaringan kulit (necrosis), disertai rasa sakit kematian jaringan kulit (necrosis)
disertai rasa sakit yang luar biasa. Jika bagian kulit yang terkena cukup luas
akan dapat mengakibatkan “shock” atau “collaps”. Jika terminum atau
termakan maka asam sulfat akan membakar selaput lendir saluran pencernaan
(mucus membrane), seperti mulut, oesophagus, kerongkongan dan lambung.
b. Amonia (NH3)
Amonia mudah larut dalam air, lebih mudah daripada asam khlorida (HCl).
Amonia mempunyai sifat basa sehingga dalam air akan membentuk amonium
hidroksida. Zat ini banyak digunakan dalam proses pembuatan bahan-bahan
organik sintetik, sebagai bahan anti beku pada alat-alat pendingin, pembuatan
pupuk, asam sulfat, asam nitrat dan bahan-bahan lain. Dalam konsentrasi yang
rendah amonia masih dapat diketahui karena baunya yang merangsang.
Amonia dapat berpengaruh pada refleks pernapasan, batuk-batuk, sesak napas
lalu tiba-tiba lemas, serta dapat mengganggu selaput conjunctive pada mata.
Dijumpai pula efek kronis pada bronchus, peningkatan ekskresi ludah, gejala
kencing tersendat-sendat (urine retention).
c. Aseton (Dimetil-ketone: 2-propanon)
Aseton dipergunakan sebagai pelarut, pembersih kuku, mencairkan plastik,
dan lain-lain. Bahan ini dapat menimbulkan iritasi pada kulit yang dapat
diikuti infeksi, efek narkotik atau menghilangkan lemak kulit. Penyerapan
dapat dilakukan melalui semua jalan termasuk melalui pernapasan.
d. Karbon disulfida (CS2)
Karbon disulfida banyak dipergunakan dalam industri misalnya pada proses
pengolahan serat-serat sintetik seperti industri rayon, karet, bahan kimia serta
bahan untuk insektisida jenis kabut (fumigant; fumigan). Sebagai bahan

82
beracun, karbon disulfida bersifat narkotik yaitu menyerang sistem syaraf
perifer misalnya syaraf penglihatan, pencium dan perasa.
e. Khlorin (Cl)
Khlorin merupakan bahan yang penting dalam kehidupan sehari-hari,
walaupun tetap mengandung bahaya dalam kadar tertentu. Khlorin bersifat
racun terutama jika berbentuk gas dan terhisap oleh saluran pernafasan. Gas ini
mempunyai bau yang khas, dan dapat menyebabkan iritasi pada selaput lendir
mata, hidung, tenggorokan, tali suara dan paru.
f. Hidrogen Sulfida (H2S)
Hidrogen sulfida adalah asam lemah yang mudah terurai dari ikatannya dan
dapat menimbulkan bahaya bagi para pekerja yang berada dalam ruang
pengolahan yang menggunakan bahan tersebut, misalnya pabrik kertas, pabrik
benang tiruan, dan sebagainya. Dalam konsentrasi yang cukup tinggi gas yang
berasal dari hidrogen sulfida ini menyerang sistem syaraf pusat mengakibatkan
kelumpuhan, ketidak-sadaran dan terganggunya pernapasan.
g. Hidrogen Sianida (HCN)
Hidrogen sianida berbentuk gas, larutan atau garam-garam alkali seperti
kalium sianida yang banyak dipergunakan dalam berbagai bentuk insektisida,
rodentisida dan racun kabut (fumigasi). Belum pernah dijumpai adanya kasus
keracunan yang kronis. Keracunan biasanya terjadi secara akut. HCN dalam
bentuk gas atau cair dikenal sebagai racun yang mematikan.
Sebagai racun, HCN menyerang sistem antar sel dengan menghambat
sistem oksidasi sitokhrom dalam sel-sel. Akibatnya oksigen tidak dapat
bereaksi dengan haemoglobin untuk membentuk oksi-haemoglobin sehingga
transpor oksigen terganggu, akibatnya oksigen tidak dapat dikirimkan ke
jaringan-jaringan yang memerlukan. Pada saatnya, sistem syaraf pusat akan
terkena dan melumpuhkan sistem pernafasan yang jika tidak tertolong akan
menyebabkan kematian.
h. Fenol (Asam Karbol)
Fenol (asam karbol), kresol atau dengan nama umum karbol, kreolin, dan
sebagainya, banyak dipergunakan sehari-hari di rumah sebagai pembunuh

83
hama (desinfektan) atau untuk menghilangkan bau. Larutan fenol dengan
kepekatan 10 % sangat korosif terhadap kulit yang mengakibatkan nekrosis.
Jika terserap ke dalam tubuh fenol berperan sebagai racun protoplasmik (sel-sel
darah).
2. Golongan Logam Berat
a. Arsen (As)
Arsen banyak digunakan sebagai bahan campuran rodentisida, insektisida,
herbisida, bahan cat dan lain-lain. Senyawa arsen organik banyak dipergunakan
dalam pengobatan, misalnya neosalversan untuk pengobatan penyakit sifilis,
patek, dan lain-lain. Bentuk keracunan berat oleh arsen adalah gastritis dan
gastroenteritis yaitu radang lambung dan usus karena adanya kerusakan
pembuluh-pembuluh darah oleh arsen yang terserap.
b. Tembaga (Cu)
Beberapa jenis insektisida menggunakan tembaga sulfat. Senyawa dalam
bentuk tembaga arsenit bersifat racun yang bahayanya sama dengan daya racun
arsen. Keracunan akut dapat terjadi oleh garam tembaga, karena terjadinya
iritasi oleh ion tembaga pada usus dan lambung.
c. Merkuri (Hg)
Di alam, merkuri biasanya berbentuk garam-garam raksa dan persenyawaan
organik, yang pada suhu normal mudah menguap misalnya HgCl2, HgO, atau
Hg2Cl2, Merkuri atau senyawanya sangat beracun bagi tubuh. Bahan tersebut
masuk ke dalam tubuh berupa uap air raksa atau persenyawaannya, baik
melalui pernapasan, terserap oleh kulit, atau saluran pencernaan. Kontak
dengan kulit akan menimbulkan dermatitis lokal, tetapi jika jumlahnya cukup
banyak karena kontak yang berulang-ulang akan terjadi efek yang sistemik
(meluas).
d. Timah (Pb)
Timah maupun bentuk khloridanya banyak dipergunakan dalam bidang
industri. Karena timah merupakan logam yang tidak terpengaruh oleh udara,
maka bahan ini banyak dipergunakan bahan pelapis tembaga atau besi agar
tidak teroksidasi oleh udara, misalnya bahan-bahan kayeng yang sebenarnya

84
merupakan lembaran besi berlapis timah. Timah dalam segala bentuk bersifat
racun bagi kesehatan tubuh dengan sifatnya yang kumulatif, tertimbun dalam
berbagai organ tubuh, misalnya hati, ginjal dan lain-lain.
3. Bahan-bahan Kimia Industri
a. Barium (Ba)
Dalam gas asam berium terdapat pada beberapa jenis rodentisida. Jika
termakan atau terminum, akan sangat beracun, menyebabkan muntah, diare,
pendarahan pada usus atau ginjal. Jika mempengaruhi syaraf pusat dapat
menimbulkan kejang-kejang.
Barium sulfat, tidak dapat larut dalam air sehingga mengurangi sifat racunnya.
Dalam dunia kedokteran radiologi, berium sulfat dipergunakan untuk
melapisi/melindungi saluran pencernaan dalam proses pembuatan foto sinar X.
Karena bahan ini menyerap sinar X, hasil fotonya akan nampak lebih jelas.
b. Benzen
Benzen dapat ditemukan pada cat, pelarut, larutan pembersih, vernis dan
sirlak. Bahan ini bersifat iritan terhadap kulit dan selaput lendir.
c. Borat, borax, asam borat
Borat banyak dipergunakan dalam larutan antiseptis, baik dalam bentuk
tepung, larutan (boorwater), atau salep (boorzalf) yang dipakai untuk
pengobatan penyakit kulit. Disamping sebagai antiseptik, borat dapat
menyebabkan iritasi pada kulit.
d. Karbonmonoksida (CO)
Karbon monoksida adalah gas yang tidak berwarna dan tidak berbau. Gas
ini memiliki berat sama dengan berat udara, dan jika terbakar di udara akan
berubah menjadi karbondioksida (CO2). Gas karbonmonoksida merupakan
racun asphyxiant yang membentuk karboksihemoglobin dalam darah, sehingga
haemoglobin tidak lagi dapat mengikat oksigen yang diperlukan jaringan atau
mengangkut kabondioksida yang akan dibuang, akibatnya orang akan mati
lemas. Gas ini merupakan hasil pembakaran yang tidak sempurna dari
hidrokarbon, terdapat pada asap rokok, asap pembakaran kayu yang lembab,
juga terbentuk pada peristiwa peledakan di pertambangan bawah tanah.

85
e. Karbondioksida (CO2)
Karbondioksida disebut juga asam karbonat, atau juga es kering. Ini banyak
dipergunakan pada mesin-mesin pendingin. Kerja racunnya adalah dengan
menyerang alat-alat pernafasan menyebabkan asphyxia, dan meningkatkan
penyerapan air oleh selaput lendir meningkatkan keasaman cairan lambung.
f. Formaldehida (Formalin)
Formaldehida (formalin, oksimetilen) dapat berbentuk gas (HCHO) atau
larutan. Formalin dalam bentuk cairan mengandung tidak kurang dari 37 %
formaldehida dan sedikit metanol. Larutan formalin dipergunakan sebagai
bahan antiseptik, untuk menghilangkan bau, sebagai bahan dalam fumigasi.
Dalam bentuk fumigant baunya sangat merangsang dan dapat menyebabkan
mati lemas (sesak napas, suffocation). Bahan ini dapat menimbulkan
penekanan fungsi sel-sel dan menyebabkan kematian jaringan.
g. Karosen (Minyak Tanah)
Kerosen, disebut juga parafinbakar atau minyak lampu. Kerosen diserap
lambat oleh lambung, usus atau paru dan dikeluarkan melalui air seni dalam
bentuk fenol. Gejala keracunannya dapat berupa euphoria (tertawa-tawa), rasa
panas di dada, sakit kepala, kuping berdengung (tinnitus), mual, lesu, koma dan
mati.
h. Nitrat dan Nitrit (𝑁𝑂32− , 𝑁𝑂2− )
Nitrat dan Nitrit banyak dipergunakan untuk berbagai keperluan, misalnya
obat amil nitrit, nitro gliserin, natrium nitrit. Nitrit adalah hasil penguraian
bahan organik oleh bakteri dalam keadaan aerobik pada pH mendekati netral.
Kedua bentuk ini dalam darah akan mempengaruhi efektifitas fungsi
haemoglobin dengan menciptakan methaemoglobin, kekurangan oksigen
karena hemoglobin tak dapat melakukan pengiriman oksigen.
i. Oksalat
Asam oksalat maupun garam-garamnya dipakai sebagai pengelantang karat
dan larutan pembersih logam. Penampilannya mirip dengan garam epsom dan
keduanya banyak didapatkan di rumah-rumah, sehingga memperbesar
kemungkinan keracunan. Jika tertelan, asam maupun garam-garam oksalat

86
dapat menyebabkan pengikisan selaput lendir usus dan lambung. Gejala
keracunan nampak dalam waktu singkat (segera/mendadak) dan dalam
beberapa menit dapat terjadi kematian karena radang dan “shock”. Gejala
pertama keracunan otot adalah kejang-kejang otot atau kram serta depresi
syaraf pusat.
j. Terpentin
Terpentin banyak dipergunakan sebagai bahan obat gosok (liniment), vernis,
cat, bahan pelarut dan sebagainya. Terpentin merupakan bahan yang bersifat
iritan, dan cepat diserap melalui kulit, alat pernapasan dan usus. Kontak yang
cukup lama dengan bahan ini dapat menyebabkan eksim basah disertai rasa
gatal. Kulit berwarna kemerahan kadang-kadang bergelembung. Jika terhisap
saluran pernapasan dapat menurunkan selera makan, pusing, sakit kepala,
gastritis, kelelahan, kekacauan jiwa, bronchitis dan kelopak mata bengkak.
4. Bahan Pestisida
a. DDT (dikhloro-difenil-trikhloroetan)
DDT adalah insektisida yang merupakan racun golongan halogen yang
sangat toksik. Penggunaan utamanya adalah untuk membunuh nyamuk. DDT
sangat berbahaya bagi manusia.
b. Dieldrin
Dieldrin memiliki kemurnian antara 60 % - 95 %, baik sendiri atau dalam
kombinasi dengan insektisida lain. Dieldrin dipergunakan untuk membasmi
serangga. Bahan ini diaplikasikan dalam bentuk bubuk atau dalam bentuk
emulsi untuk disemprotkan dengan menggunakan bahan pelarut minyak,
aerosol, dan sebagainya. Dieldrin, terutama dalam larutan minyak mudah
terserap oleh kulit, selaput lendir pernapasan atau pencernaan.
Gejala keracunan nampak jika tertelan dieldrin dengan dosis sebanyak 10
miligram per kilogram berat badan. Racun bekerja dengan mempengaruhi
syaraf pusat yang ditandai dengan kejang-kejang. Jika bahan ini terhirup
berulang-ulang, misalnya pada orang yang melakukan penyemprotan, dapat
terjadinya keracunan dengan gejala-gejala yang mirip gejala idiopathic
epilepsy.

87
c. Diazinon
Diazinon adalah sejenis insektisida. Cara kerjanya adalah anticholinesterase.
Dosis mematikan untuk manusia dewasa berkisar antara 10 sampai 25 gram.
Walaupun diazinon dapat diserap melalui kulit dan saluran pernapasan, tetapi
tidak menimbulkan efek penimbunan (kumulatif). Gejala-gejala keracunan
diazinon adalah muntah, kejang perut, oedema paru, pernapasan cepat, denyut
nadi cepat dan hipertensi. Odema paru inilah yang menjadi penyebab utama
kematian.
d. Endrin
Endrin juga termasuk sejenis insektisida. Bahan ini diserap oleh kulit,
terlebih lagi jika bahan pelarutnya minyak. Endrin ini dapat tertimbun dalam
jaringan lemak tubuh. Gejala keracunannya adalah nyeri lambung, mual,
muntah, pusing, kejang-kejang seringkali disertai kegagalan pernapasan.
e. Malathion
Bahan ini tergolong pada jenis insektisida. Cara kerja racunnya adalah
dengan menghalangi fungsi enzim cholines-terase. Gejala keracunannya antara
lain adalah hilangnya selera makan, sakit kepala, pusing dan lemah badan.
Kadang-kadang penderita juga merasakan mual, keluar air mata, terjadi
oedema paru, kegagalan jantung atau koma.
f. Parathion
Parathion adalah sejenis insektisida dari golongan organofosfat. Bahan ini
berwarna kuning kecoklatan, dalam tekanan rendah berupa uap, larut dalam air
dan minyak tanah, kondisinya stabil dalam air, tetapi dapat dihidrolisis dalam
suasana basa. Bahan parathion teknis (diperdagangkan), adalah bahan aktif
berupa bubuk, yang dapat dilarutkan, dibuat emulsi atau aerosol. Bahan ini
membunuh serangga dengan jalan kontak atau diaplikasikan sebagai umpan.
Bahan ini dapat tetap aktif sampai beberapa hari di atas daun-daunan atau
buah-buahan. Karena sifat racunnya yang sangat toksik, parathion tidak
dipergunakan untuk keperluan rumah tangga. Dosis yang mematikan untuk
manusia dewasa adalah tiga sampai empat miligram per kilogram berat badan.
g. Rotenon

88
Rotenon adalah sejenis insektisida yang sangat efektif untuk hama tanaman
atau mamalia. Bahan ini diaplikasikan dalam bentuk debu atau kabut, secara
tunggal atau dalam kombinasi dengan DDT atau insektisida lain.
Rotenon juga dipergunakan dalam dunia kedokteran sebagai obat luar untuk
scabies, dengan kadar 2 % sebagai lotion dan 10 % dalam bentuk emulsi.
Rotenon berdaya racun relatif rendah dan dapat dikatakan tidak terlalu
berbahaya, karena biasanya kadarnya rendah (0,75 – 1 %), tidak stabil, bersifat
merangsang lambung sehingga jika tertelan akan dimuntahkan kembali.
h. Baygon
Baygon sangat efektif untuk nyamuk, lalat, kecoak dan sebagainya. Bahan
ini adalah insektisida yang tergolong kelompok carbamate, dan sangat beracun
bagi manusia jika termakan atau terminum. Efek kronis dapat terjadi karena
penyerapan melalui kulit.
5. Bahan Narkotika dan Obat Berbahaya
a. Morfin
Morfin merupakan hasil olahan opium atau candu/papaver somniferrum).
Dalam dunia kedokteran, morfin dipergunakan sebagai obat tidur atau untuk
menghilangkan rasa sakit, mencegah shock akibat kecelakaan dan
menghilangkan rasa cemas. Keracunan morfin terjadi karena pemberian atau
pemakaian yang melebihi takaran, atau penyelahgunaan. Dalam dosis besar,
morfin menyebabkan penurunan kesadaran yang hebat dan dapat
mengakibatkan kematian.
b. Lysergide (LSD)
LSD merupakan golongan narkotika yang bersifat hallucinagenic dengan
cara penggunaan disuntikkan atau diminum. Bagi pemakai bahan ini dapat
menimbulkan provokasi perasaan, pikiran dan emosi, dapat berupa khayalan
yang menyenangkan atau menakutkan.
c. Alkohol
Alkohol yang diperdagangkan dapat berupa metanol, etanol dan butanol.
Metanol diperoleh dari hasil penyulingan serbuk gergaji kayu sebagai bahan
mentahnya, dan dalam proses itu dihasilkannya arang, asam asetat dan aseton.

89
Whisky atau minuman beralkohol lainnya seperti vodka, mengandung 40 – 50
% alkohol, dibanding dengan bir yang hanya mengandung 2 – 6 %. Daya kerja
alkohol ialah dengan melakukan depresi syaraf pusat. Dalam dosis kecil dapat
menyebabkan pemakainya lemah cara berpikirnya, banyak bicara kemudian
tertidur. Dalam dosis yang besar dapat menyebabkan rasa mual dan bicara
tidak terkontrol (vertigo).
6. Bahan Makanan

Dalam makanan seringkali terdapat senyawa kimia yang tidak mempunyai nilai
gizi. Bahan-bahan seperti ini mungkin mengandung sifat-sifat yang tidak
diinginkan, beracun, sehingga membahayakan konsumennya. Akibat yang
ditimbulkan dapat berupa keracunan akut, menahun atau adanya perubahan gen
(mutagen). Secara umum senyawa-senyawa ini dapat dibagi menjadi 3 (tiga)
golongan yaitu senyawa beracun alamiah, senyawa beracun dari mikroba, serta
senyawa beracun dari residu dan pencemaran.

a. Senyawa Beracun Alamiah


Berbagai bahan makanan baik hewani maupun nabati, secara alamiah
seringkali mengandung racun. Senyawa beracun yang bereaksi akut umumnya
mudah diketahui masyarakat, seperti singkong (mengandung HCN), cendawan
(muscarin), biji bengkoang (pakrizide), jengkol (asam jengkolat); adanya racun
pada ikan buntal, pada kerang dan udang.
1) Asam Sianida (HCN)
Glikosida cyanogenic yang terkandung dalam makanan merupakan
makanan beracun potensial karena dapat terurai menjadi asam cyanida.
Hidrogen cyanida sangat cepat terserap oleh saluran pencernaan dan beredar
dalam saluran darah. Dosis kematian HCN adalah 0,5 – 3,5 mg per kg BB.
Glikosida cyanogenic juga terdapat pada berbagai tanaman dengan nama
berbeda, seperti amylgladin, misalnya pada biji almonis, aprikot, dan apel,
linamarin pada biji kara (linabean).
2) Kafein

90
Kafein merupakan alkaloid yang terdapat dalam teh, kopi, coklat, cola
dan beberapa minuman lainnya. Kafein berfungsi sebagai stimulan.
Kandungan kafein dalam teh lebih besar daripada kopi. Namun dalam
pemakaiannya, orang lebih mencampur teh lebih encer daripada kopi.

3) Mimosin
Mimosin lebih banyak dalam biji lamtoro atau petai cina (lencanea
glanca) dan merupakan senyawa yang dicurigai sebagai penyebab rontoknya
rambut pada hewan dan manusia. Hal ini diperkirakan karena hubungannya
dengan retrogressi sel-sel partikel rambut.

4) Asam Jengkolat
Racun asam jengkolat terdapat dalam biji jengkol (phiticolabium
lobatum). Besar kecilnya kandungan zat ini tergantung pada varietas dan
umur biji jengkol. Gangguan kesehatan yang ditimbulkan adalah
terbentuknya kristal asam jengkolat yang dapat menyumbat air seni.
Pembentukan kristal asam jengkolat tergantung pada derajat pH air seni.
Pada suasana asam, asam jengkolat mengkristal. Rumus kimia asam
jengkolat adalah sebagai berikut:
S - CH2 - CHNH2 - COOH
CH2SS - CH2 - CHNH2 - COOH
5) Pakirizida
Biji bengkoang mempunyai racun yang bersifat narkotik pada syaraf
pusat. Kematian terjadi karena kelumpuhan organ pernafasan. Biji ini juga
dipakai orang untuk menangkap ikan.
b. Senyawa Racun dari Mikroba
Mikroba yang dapat menghasilkan racun adalah bakteri Clostridium
botulinum, Staphylococcus aureus, Pseudomonas cocovenenans) dan
kapang/mikrotoksin (Aflavus, Penicillium sp.).
1) Clostridium Botulinum

91
Zat racun dibuat oleh C.botulinum adalah botulinin, sedangkan peristiwa
keracunannya disebut botulisme. Botulinin merupakan neurotoksin yang
sangat berbahaya bagi manusia. Serangannya akut dan seringkali
menyebabkan kematian. Botulinin merupakan molekul protein yang sangat
toksik atau mikrogram saja sudah cukup untuk membunuh manusia. Karena
merupakan protein, botulinin ini bersifat thermolabil dan dapat
dinonaktifkan dengan pemanasan pada suhu 80oC selama 30 menit.
2) Pseudomonas Cocovenenans
Zat yang diproduksi oleh P.Cocovenenans adalah toksoflavin dan asam
bongkrek. Kedua zat beracun ini diproduksi dalam pembuatan tempe
bongkrek. Toksoflavin (C7H7N5O2) merupakan pigmen berwarna kuning,
bersifat fluoresen dan tahan terhadap oksidasi. Asam bongkrek (C26H38O7)
merupakan asam trikarboksilat tidak jenuh. Asam bongkrek adalah racun
yang bersifat sangat fatal yang merupakan penyebab kematian korban.
3) Staphylococcus aureus
Zat racun yang dihasilkan mikroba ini disebut enterotoksin, karena dapat
menyebabkan gastroenteritis. Zat ini dapat terbentuk dalam makanan karena
pertumbuhan bakteri tersebut. Enterotoksin sangat tahan panas terutama
terutama enterotoksin tipe B. Pemanasan yang lazim dilakukan sewaktu
memasak tidak dapat netralisir racun ini. Namun keracunan enterotoksin
jarang menimbulkan keracunan.
4) Mikotoksin
Mikotoksin adalah racun yang dihasilkan oleh kapang (Mold atau jamur).
Namun tidak semua jenis jamur memproduksi racun. Racun yang terbentuk
terdifusi ke dalam makanan, sehingga dengan cara mengeruk jamur yang
ada di permukaan suatu makanan tidak cukup untuk menghilangkan
racunnya. Mikotoksin yang terkenal adalah aflatoksin. Aflatoksin ini
diproduksi oleh aspergillus flavus dan digolongkan menjadi Aflatoksin B
(fluoresen biru) dan aflatoksin G (fluoresen hijau) serta turunan-turunannya.
Dari berbagai jenis Aflatoksin tersebut, Aflatoksin B1 adalah yang paling
toksik dan bersifat karsinogenik pada hati.

92
c. Senyawa Racun dari Residu dan Pencemaran
1) Residu Pestisida
Pestisida, termasuk insektisida, fungisida, rodentisida dan sebagainya
banyak dipergunakan sebagai upaya mengurangi kerusakan komoditi
pangan baik di ladang maupun dalam penyimpanan. Pestisida yang
diaplikasikan tersebut meninggalkan sejumlah residu pada bahan pangan
sehingga dapat membahayakan konsumen. Karena itu pemakainya harus
diawasi dan residu yang tertinggal tidak melebihi kadar toleransi yang telah
ditentukan. Residu yang dijumpai pada hasil ternak, seperti daging, unggas,
susu atau telur, adalah antibiotika, hormon, tranquillizer dan enzim. Bahan-
bahan ini dipergunakan dalam rangka meningkatkan produksi.

2) Merkuri
Keracunan metil merkuri pernah terjadi karena orang memakan ikan
berasal dari perairan yang tercemar oleh merkuri, seperti yang pernah terjadi
di Minamata tahun 1953. Endapan merkuri berasal dari buangan industri
diubah menjadi metil merkuri yang terlarut, oleh bakteri methanobacterium
omelanskii yang banyak hidup dalam lumpur sungai.
3) Nitrit
Nitrit sering dipergunakan sebagai bahan pengawet dengan cara
menghambat pertumbuhan bakteri. Proses curing adalah upaya untuk
mempertahankan warna merah daging dengan membubuhkan senyawa
natrium nitrit atau kalium nitrit, jika kadarnya melebihi batas dapat
membahayakan konsumen.

93
BAB 5
PARAMETER KIMIA YANG BERHUBUNGAN DENGAN AIR

A. Kandungan Bahan Kimia

Air mempunyai sifat melarutkan bahan kimia. Abel Woman menyatakan bahwa
rumus air adalah H2O + X, dimana X merupakan zat-zat yang dihasilkan air
buangan oleh aktivitas manusia. Dengan bertambahnya aktivitas manusia, maka
faktor X tersebut dalam air akan bertambah dan menimbulkan masalah, misalnya:

1. Toksisitas.
2. Reaksi-reaksi kimia yang menyebabkan:
a. Pengendapan yang berlebihan.
b. Timbulnya busa yang menetap dan sulit untuk dihilangkan.
c. Timbulnya reaksi fisiologik yang tidak diharapkan misalnya terhadap rasa atau
pengaruh laxatif.
d. Perubahan dari rona fisik air.

Zat-zat kimia yang larut dalam air dapat mengganggu bahkan membahayakan
kesehatan manusia antara lain:

94
1. Arsen: Standar Baku Mutu (kadar maksimum) yang diperbolehkan dalam air 0,05
mg/l. Dikenal sebagai racun khronik, bersifat karsinogenik dengan melalui kontak
dengan arsen atau melalui makanan.
2. Barium: Kadar maksimum yang diperbolehkan dalam air 1,5 mg/l. Dikenal
sebagai bahan kimia yang bersifat toksik terhadap hati, aliran darah, rasa gugup,
dll.
3. Kadmium: Kadar maksimum yang diperbolehkan dalam air 0,005 mg/l. Sebagai
racun yang akut bagi manusia melalui makanan.
4. Khromium (valensi 6): Kadar maksimum yang diperbolehkan dalam air 0,05
mg/l. Karsinogenik terhadap sistem pernafasan. Bersifat kumulatif dalam daging
tikus percobaan.
5. Timbal: Kadar maksimum yang diperbolehkan dalam air 0,05 mg/l. Dikenal
sebagai racun melalui makanan, air, udara dan menghisap rokok.
6. Air Raksa: Kadar maksimum yang diperbolehkan dalam air minum 0,001 mg/l.
Dikenal sebagai racun pada pekerja industri dan dalam ikan.
7. Nitrat: Kadar maksimum yang diperbolehkan dalam air minum 10 mg/l. Air
sumur dengan kandungan 15-250 mg/l menyebabkan methaemoglobinemia pada
bayi yang disebabkan karena usus yang dicampur dengan air tersebut.
8. Selenium: Kadar maksimum yang diperbolehkan dalam air minum 0,01 mg/l.
Dikenal sebagai racun yang berhubungan dengan pekerjaan. Menyebabkan
keracunan pada anak bila mengkonsumsi lebih dari 3-4 mg/kg melalui makanan.
9. Perak: Kadar maksimum yang diperbolehkan dalam air minum 0,05 mg/l.
Menyebabkan penyakit argria, warna kulit kelabu kebiru-biruan, termasuk mata.
10. Sulfat: Kadar maksimum yang diperbolehkan dalam air 250 mg/l. Menyebabkan
efek laxative apabila berupa garam magnesium dan sodium.
11. Besi: Kadar maksimum yang diperbolehkan dalam air 1 mg/l. Besi berguna
untuk metabolisme. Nilai ambang rasa 2 mg/l, menimbulkan warna,
menyebabkan timbulnya koloidal yang berwarna dalam air.
12. Tembaga: Kadar maksimum yang diperbolehkan dalam air 1 mg/l. Penting untuk
metabolisme. Menyebabkan air mempunyai rasa tertentu. Nilai ambang rasa 1-5
mg/l.

95
13. Klorida: Kadar maksimum yang diperbolehkan dalam air 250 mg/l. Kadar yang
berlebihan menyebabkan air asin rasanya. Rasa asin akan bertambah akibat
adanya limbah yang mencemari.
14. Fluor: Kekurangan fluor di dalam air dapat menyebabkan gigi keropos dan jika
kelebihan fluor menyebabkan penyakit fluorosis. Batas kadar di dalam air
minum 1-2 mg/l.

B. Parameter Kimia dalam Pengawasan Kualitas Air


dan hubungannya dengan Kesehatan Manusia

Peraturan Menteri Kesehatan RI No.01/Birhukmas/I/1975 mencantumkan


sebanyak 26 macam unsur kimia. Peraturan ini telah diperbaharui dengan Peraturan
Menteri Kesehatan RI No. 416/Menkes/PER/IX/1990 tentang syarat-syarat dan
pengawasan kualitas air. Dalam Peraturan Menteri Kesehatan tersebut, tercantum
sebanyak 41 macam parameter kimia air, namun Peraturan Menteri Kesehatan ini
dicabut dan dinyatakan tidak berlaku ketika pada tanggal 20 Juni 2017 diundangkan
Permenkes RI Nomor 32 Tahun 2017 tentang Standar Baku Mutu Kesehatan
Lingkungan Persyaratan Kesehatan Air Untuk Keperluan Higiene Sanitasi, Kolam
Renang, Solus Per Aqua, dan Pemandian Umum. Dalam Permenkes ini tercantum 10
parameter wajib dan 10 parameter tambahan.

n No. Parameter Unit Standar Baku Mutu


(kadar maksimum)
Wajib
1. pH mg/l 6,5-8,5
2. Besi mg/l 1
3. Fluorida mg/l 1,5
4. Kesadahan (CaCO3) mg/l 500
5. Mangan mg/l 0,5
6. Nitrat, sebagai NO3 mg/l 10
7. Nitrit, sebagai NO2- mg/l 1
8. Sianida mg/l 0,1
9. Deterjen mg/l 0,05
10. Pestisida total mg/l 0,1
Tambahan

96
1. Air raksa mg/l 0,001
2. Arsen mg/l 0,05
3. Kadmium mg/l 0,005
4. Kromium (valensi 6) mg/l 0,05
5. Selenium mg/l 0,01
6. Seng mg/l 15
7. Sulfat mg/l 400
8. Timbal mg/l 0,05
9. Benzene mg/l 0,01
10 Zat Organik (KMNO4) mg/l 10
Tabel 15. Parameter Kimia dalam Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan untuk
Media Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi

Beberapa diantara unsur-unsur tersebut tidak dikehendaki kehadirannya pada air


minum, karena merupakan zat kimia yang bersifat racun, dapat merusak sistim
perpipaan, atau karena sebagai penyebab bau dan rasa yang akan mengganggu
estetika (keindahan). Bahan-bahan tersebut adalah nitrit, sulfida, amonia dan CO2
agresif.
Beberapa unsur meskipun dapat bersifat racun, masih dapat ditolerir
keberadaannya dalam air minum asal tidak melebihi konsentrasi yang ditetapkan.
Unsur atau bahan-bahan tersebut adalah Fenol, Arsen, Selenium, Khromium
martabat 6, Sianida, Kadmium, Timbal dan air raksa.
Tinjauan terhadap setiap unsur yang tercantum dalam standar persyaratan kualitas
kimia air minum secara rinci di bawah ini akan memberikan gambaran tentang sifat
pengaruh unsur-unsur tersebut dalam air, sumber dari unsur-unsur tersebut dan akibat
yang ditimbulkan apabila konsentrasinya melebihi standar yang telah ditetapkan.
1. Derajat Keasaman
pH (Power Hydrogen atau Potential hydrogen) adalah istilah yang digunakan
untuk menyatakan intensitas keadaan asam atau basa suatu larutan. pH juga
merupakan cara untuk menyatakan konsentrasi ion H+ maupun OH-.
pH merupakan suatu ukuran derajad keasaman air. Air yang sangat asam dan
atau basa tidak akan mendukung banyak kehidupan didalamnya. Air yang
mutunya baik harus memenuhi rentang pH tertentu. Dalam instalasi penyediaan
air, pH juga merupakan satu faktor yang harus dipertimbangkan mengingat bahwa

97
derajat keasaman air akan sangat mempengaruhi aktifitas pengolahan yang
dilakukan, misalnya koagulasi kimiawi, desinfeksi, pelunakan air (water
softening) dan dalam pencegahan korosi. Yang sangat penting untuk diketahui
yakni konsentrasi OH- suatu larutan takkan dapat diturunkan sampai nol,
bagaimanapun asamnya larutan.

Sebagai satu faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi kehidupan


mikroorganisme dalam air, pH optimum untuk setiap species secara empirik
harus ditentukan. Umumnya mikroorganisme tumbuh terbaik pada pH 6,0 – 8,0
meskipun beberapa bentuk mempunyai pH optimum yang rendah 2,0 yaitu
(thiobacillus thio oxidans), sementara lainnya memerlukan pH optimum 8,5
(alcaligenes faecalis). Pengetahuan ini sangat diperlukan dalam penentuan
rentang pH yang akan diterapkan pada usaha pengolahan air bekas yang
menggunakan proses-proses biologis.

Pengaruh yang menyangkut aspek kesehatan dalam hal penyimpangan pH dari


standar kualitas air minum ialah bahwa pH yang lebih kecil dan lebih besar dari
standar dapat menyebabkan karat (korosi) pada pipa-pipa air, dan dapat
menyebabkan beberapa senyawa kimia berubah menjadi racun yang mengganggu
kesehatan. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 32 Tahun 2017 syarat pH media
air adalah 6,5-8,5 mg/l.

2. Zat padat/jumlah (Total Solids)


Yang dimaksud sebagai bahan padat (solids) adalah sisa (residu) penguapan
dan pengeringan pada 103oC-1050C. Dalam analisa air, dikenal beberapa istilah
tentang bahan padat ini, yaitu:
a. Dissolved solids (DS) dan Suspended solids, SS).
b. Volatile solids dan fixed solids.
c. Settleable solids dan unsettleable solids.
Dalam air bersih (portable water), kebanyakan bahan padat terdapat dalam
bentuk terlarut (dissolved) yang terdiri terutama dari garam anorganik dan gas-gas
yang terlarut. Kandungan total solids pada potable water biasanya dalam rentang

98
antara 20-1000 mg/l, dan sebagai satu pedoman, kesadahan air akan meningkat
sesuai dengan meningkatnya total solids. Disamping itu, pada semua bahan cair,
jumlah koloid yang tidak terlarut dan bahan yang tersuspensi akan meningkat
sesuai dengan derajat pencemaran.
Besarnya jumlah total solids merupakan pertimbangan dalam menentukan
sesuai atau tidaknya air untuk keperluan rumah tangga. Umumnya, air dengan
kandungan total solids kurang dari 500 mg/l adalah yang paling baik untuk
keperluan tersebut.
Justru karena pengolahan untuk menurunkan kandungan bahan padat ini tidak
lazim dilakukan, dan kenyataannya banyak orang yang menggunakan air
mengandung bahan padat tanpa sesuatu gangguan kesehatan, maka U.S. Public
Health Service menetapkan batas maksimum total solids sebesar 1000 mg/l untuk
air minum.
Berdasarkan Permenkes RI Nomor: 32 Tahun 2017, parameter ini termasuk
parameter fisika yang diperbolehkan adalah 1000 mg/l. Pengaruh kesehatan yang
dapat timbul dari adanya penyimpangan kadar total solid dari standar kualitas air
minum yakni bahwa air akan memberi rasa yang kurang enak, rasa mual terutama
yang disebabkan karena adanya Natrium sulfat dan Magnesium sulfat.
3. Zat Organik (sebagai KMnO4)

Zat organik yang terdapat di dalam air bisa berasal dari:

a. Alam yaitu minyak tumbuh-tumbuhan, serat-serat, lemak hewan, alkohol,


selulosa, gula, pati, dsb.
b. Sintesa yaitu berbagai persenyawaan dan buah-buahan yang dihasilkan dari
proses-proses dalam pabrik.
c. Fermentasi yaitu alkohol, asetone, gliserol, antibiotika, asam-asam dan
sejenisnya yang berasal dari kegiatan mikroba terhadap bahan-bahan organik.
Dengan melihat proses asal terjadinya bahan-bahan organik tersebut dapat
diketahui bahwa sumber utama dari bahan-bahan tersebut adalah kegiatan-
kegiatan rumah tangga dan proses-proses industri, tanpa mengesampingkan

99
adanya bahan-bahan organik yang berasal dari kegiatan-kegiatan dalam bidang
pertanian, peternakan dan pertambangan.
Adanya bahan-bahan organik dalam air, erat hubungannya dengan terjadinya
perubahan sifat fisik, terutama dengan timbulnya warna, bau, rasa dan kekeruhan.
Adanya dan banyaknya zat organik dalam air dapat diketahui dengan menentukan
Bilangan Permanganat (Bilangan KMnO4). Walaupun KMnO4 sebagai oksidator
yang dipakai dalam penentuan Bilangan Permanganat tidak dapat mengoksidasi
semua zat organik yang ada, namun cara ini sangat praktis dan cepat
mengerjakannya.
Standar maksimum kandungan bahan organik yang diperbolehkan dalam air
minum menurut Permenkes RI No. 32 Tahun 2017 adalah 10 mg/l.
WHO dan US Public Health Service tidak mencantumkan angka standar ini dalam
daftar standar kualitas air minum yang ditetapkannya. Pengaruh terhadap
kesehatan yang dapat ditimbulkan oleh penyimpangan terhadap standar ini yaitu
timbulnya bau yang tidak sedap pada air minum dan dapat menyebabkan
gangguan perut.
4. CO2 Agresif
CO2 yang terkandung dalam air berasal dari udara dan dari hasil dekomposisi
zat organik. Permukaan air disuburi mengandung CO2 bebas kurang dari 10 mg/l,
sedangkan pada dasar air konsentrasinya dapat lebih dari 10 mg/l. Menurut
bentuknya CO2 dalam air dapat dibedakan dalam:
a. CO2 bebas atau CO2 agresif yaitu banyaknya CO2 yang larut dalam air yang
dapat merusak bangunan perpipaan dalam distribusi air minum.
b. CO2 kesetimbangan (equilibrium) disebut pula CO2 bikarbonat yaitu CO2 yang
dalam air setimbang dengan HCO3 -.
CO2 agresif dalam air ditentukan dengan cara grafis dan analitis.
Penyimpangan terhadap standar konsentrasi maksimal CO2 agresif dalam air,
akan menyebabkan terjadinya korosifitas pada pipa-pipa logam.
5. Kesadahan Jumlah (Total Hardness)
Kesadahan merupakan sifat air yang disebabkan oleh adanya ion-ion (kation)
logam valensi dua. Ion-ion semacam itu mampu bereaksi dengan sabun

100
membentuk gumpalan. Kation-kation penyebab utama dari kesadahan adalah
Ca++, Mg++, Fe++ dan Mn ++.
Sedangkan anion-anion yang biasa terdapat dalam air adalah HCO3 -, SO4, Cl-,
NO3-, dan SiO3 -. Ion-ion Al+++ kadang-kadang dianggap sebagai penyebab
kesadahan pada air namun kelarutannya dibatasi oleh nilai pH dari alam, sehingga
konsentrasi ion dapat diabaikan.
Kesadahan dalam air sebagian besar berasal dari kontaknya dengan tanah dan
pembentukan batuan. Pada umumnya air sadah berasal dari daerah dimana lapisan
humusnya (topsoil) agak tebal dan ada kandungan kapur dan pada lapisan
dibawahnya. Air yang meresap ke dalam tanah akan diperkaya dengan kandungan
CO3 dari humus, sehingga menyebabkan mampu melarutkan komponen kapur
yang ada di bawahnya.
Yang dimaksud dengan kesadahan total adalah kesadahan yang disebabkan
oleh adanya kedua ion Ca++ dan Mg++, karena kebanyakan kesadahan dalam air
alam disebabkan oleh dua kation tersebut. Menurut Permenkes RI Nomor: 32
Tahun 2017 adalah 500 mg/l CaCO3.
Pengaruh langsung terhadap kesehatan akibat penyimpangan dari standar
belum pernah dipublikasikan, tetapi kesadahan dapat menyebabkan sabun
pembersih menjadi tidak efektif kerjanya serta menimbulkan kerak pada dinding
pipa saluran dan bangunan-bangunan air lainnya.
6. Kalsium (Ca)
Kalsium merupakan sebagian dari komponen yang menjadi penyebab
kesadahan. Sedangkan efek secara ekonomis maupun efek terhadap kesehatan
yang ditimbulkan oleh kesadahan adalah timbulnya lapisan kerak pada ketel
pemanas air pada perpipaan, dan juga menurunnya efektivitas dari kerja sabun.
Selain itu, adanya Ca dalam air diperlukan untuk dapat memenuhi kebutuhan
tubuh akan unsur tersebut, khususnya untuk pertumbuhan tulang dan gigi.
Oleh karena itu untuk menghindari efek yang tidak diinginkan akibat dari
terlalu rendah atau terlalu tingginya kadar Ca dalam air minum, ditetapkanlah
standar persyaratan konsentrasi Ca sebagaimana standar yang ditetapkan oleh
WHO inter-regional water study group adalah sebesar 75-150 mg/l, sedangkan

101
pada Permenkes RI No. 416/Menkes/Per/IX/1990 tidak ada ketentuan untuk kadar
Ca dan Mg begitupun pada Permenkes RI Nomor 32 Tahun 2017.
Konsentrasi Ca dalam air minum yang lebih rendah dari 75 mg/l dapat
menyebabkan penyakit tulang rapuh, sedangkan konsentrasi yang lebih tinggi dari
200 mg/l dapat menyebabkan korositifitas pada pipa-pipa air.
7. Magnesium
Seperti halnya Calsium, Magnesium juga merupakan bagian dari komponen
penyebab kesadahan pada air. Dengan sendirinya efek umum yang dapat
ditimbulkan oleh adanya unsur ini dalam air adalah serupa dengan efek umum
yang dapat ditimbulkan oleh pengaruh kesadahan. Dalam jumlah kecil Mg
dibutuhkan oleh tubuh untuk pertumbuhan tulang akan tetapi dalam jumlah yang
lebih besar 1500 mg/l dapat menyebabkan rasa mual.
8. Besi (Fe)
Unsur besi diperlukan untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan unsur tersebut,
misalnya untuk pembentukan sel-sel darah merah. Tubuh manusia membutuhkan
7-35 mg per hari yang diperoleh tidak hanya dari air. Konsentrasi besi dalam air
yang melebihi 2 mg/l menimbulkan noda-noda pada peralatan dan bahan-bahan
yang berwarna putih. Adanya unsur ini dapat pula menimbulkan bau, warna dan
koloid pada air minum. Standar Besi (Fe) dalam Permenkes RI Nomor: 32 Tahun
2017 adalah 1 mg/l.
9. Mangan (Mn)
Endapan MnO2 akan memberikan noda-noda pada bahan dan benda yang
berwarna putih. Adanya unsur ini dapat menimbulkan bau dan rasa pada air
minum. Usaha penurunan kadar Mn dalam air kebanyakan hanya mencapai batas
terendah sebesar 0,05 mg/l. Unsur ni juga merupakan nutrien yang diperlukan
dengan kebutuhan per hari 10 mg yang dapat diperoleh dari makanan. Pada alat
pernafasan unsur ini bersifat toksik. Konsentrasi Mn yang lebih besar dari 0,5
mg/l dapat menyebabkan rasa yang aneh pada minuman dan meninggalkan warna
kecoklat-coklatan pada pakaian cucian dan dapat menyebabkan gangguan pada
hati.

102
Konsentrasi Mn dalam air minum yang diperbolehkan ditetapkan oleh
Permenkes RI Nomor: 32 Tahun 2017 adalah 0,5 mg/l.
10. Tembaga (Cu)
Dalam jumlah kecil Cu diperlukan untuk pembentukan sel-sel darah merah
dan untuk metabolisme, namun dalam jumlah besar dapat menyebabkan rasa
yang tidak enak dan dapat menyebabkan kerusakan pada hati. Konsentrasi 1
mg/l merupakan batas konsentrasi 1 mg/l merupakan batas konsentrasi tertinggi
untuk mencegah timbulnya rasa yang tidak menyenangkan (1-5 mg/l). Batas
kadar yang ditetapkan oleh Depkes RI untuk Cu sesuai Permenkes RI No.
416/Menkes/Per/IX/1990 kadar maksimum yang diperbolehkan adalah 1 mg/l.
Permenkes RI Nomor: 32 Tahun 2017 tidak mencantumkan parameter ini.
11. Seng (Zn)

Unsur ini dalam jumlah kecil merupakan unsur penting karena diperlukan
untuk metabolisme, dengan kebutuhan per hari 10 – 15 mg. Kekurangan Zn
dapat menyebabkan hambatan menimbulkan rasa pahit dan sepat pada air
minum. Pada konsentrasi 675-2280 mg/l dapat menyebabkan muntah.
Konsentrasi Zn yang ditetapkan menurut Permenkes RI No.
416/Menkes/Per/IX/1990 kadar maksimum yang diperbolehkan adalah 5 mg/l.
Kadar maksimum seng (Zn) dalam Permenkes RI Nomor: 32 Tahun 2017
menjadi 15 mg/l.

12. Chlorida (Cl)

Konsentrasi sebesar 250 mg/l dalam air merupakan batas mulai timbulnya
rasa asin. Konsentrasi klorida dalam air dapat meningkat dengan adanya kontak
dengan air limbah. Khlorida mencapai air alam dengan banyak cara.
Kemampuan melarutkan pada air adalah untuk melarutkan khlorida dari humus
(top soil). Percikan dari laut terbawa ke pedalaman sebagai tetesan atau sebagai
Kristal-kristal garam yang dihasilkan dari penguapan air laut. Sumber-sumber
ini secara tetap mengisi khlorida di daerah pedalaman tempat di mana mereka
jatuh. Kotoran manusia khususnya urine, mengandung khlorida yang dikonsumsi

103
lewat makanan dan air. Jumlah ini rata-rata sekitar 6 gr khlorida per orang per
hari dan memberikan penambahan Cl dalam air bekas (sewage) sekitar 15 mg/l
di atas konsentrasi dalam air yang membawanya, di samping itu banyak air
buangan industri yang mengandung khlorida dalam jumlah yang cukup besar .

Khlorida dalam konsentrasi yang layak tidak berbahaya bagi manusia. US


Public Health Service menyatakan bahwa khlorida hendaknya dibatasi sampai
250 mg/l dalam air yang akan digunakan oleh umum. Sebelum proses
pemeriksaan bakteriologik berkembang, pemeriksaan khlorida dan nitrogen
dalam berbagai bentuk, digunakan sebagai dasar dalam mendeteksi kontaminasi
air tanah oleh air bekas. Unsur ini apabila berikatan dengan ion Na+ dapat
menyebabkan rasa asin, dan dapat merusak pipa-pipa air. Konsentrasi khlorida
maksimal yang di perbolehkan dalam air sebagaimana ditetapkan oleh
Permenkes RI No. 416/Menkes/Per/IX/1990 adalah 250 mg/l.
13. Sulfat (SO4 )

Ion sulfat adalah salah satu anion yang banyak terjadi pada air alam. Dalam
penyediaan air untuk umum unsur ini perlu diperhatikan karena pengaruhnya
pada perut yang bisa terjadi apabila konsentrasinya cukup besar, US Public
Health Service menyatakan batas tertinggi 250 mg/l dalam air yang akan
digunakan untuk konsumsi manusia.

Sulfat yang harus diperhatikan dalam penyediaan air untuk industri, karena
air lazim mengandung unsur tersebut dalam jumlah yang cukup besar, dan dapat
mengkibatkan timbulnya kerak yang keras pada ketel dan alat pengubah panas.

Sulfat juga merupakan suatu senyawa yang berhubungan dengan terjadinya


pengeroposan saluran air limbah di kota-kota, sebagaimana ditunjukkan pada
persamaan berikut:

anaerobik
SO4 + bahan organik --------------------------- S=+ H2O+CO2
Bakteri
S=+ 2H+ <===================> H2S

104
H2S+2 O2 --------------------->H2SO4 (korosif)
H2SO4 merupakan asam kuat yang selanjutnya akan dapat bereaksi dengan
bahan dari pipa yang dipergunakan, dan terjadilah korosi. Terbentuknya H 2S
menimbulkan masalah baru.
Efek laktasif ditimbulkan pada konsentrasi sulfat 6000 – 1000 mg/l, apabila
SO4 bergabung dengan kation Mg∂ dan Na∂ membentuk Na2SO4 atau MgSO4
yang dapat menimbulkan rasa mual dan ingin muntah. Konsentrasi yang
ditetapkan oleh Permenkes RI No. 416/Menkes/Per/IX/1990 kadar maksimum
yang diperbolehkan untuk SO4 adalah 400 mg/l. Demikian juga yang berlaku
dalam Permenkes RI Nomor: 32 Tahun 2017, bahwa kadar maksimum sulfat
adalah 400 mg/l.
14. Sulfida (H2S)
Adanya H2S maupun S. air bisa merupakan kelanjutan dari terdapatnya SO4
dalam air tersebut yang telah direduksi oleh bakteri-bakteri anaerobik. H2S
merupakan bahan beracun dan berbau busuk, sehingga kehadirannya dalam air
akan mempengaruhi sikap masyarakat yang mengkonsumsi air tersebut. Selain
itu, dalam jumlah besar dapat memperbesar keasaman air sehingga dapat
menyebabkan korosifitas pada pipa. Oleh karena H2S adalah bahan yang beracun
dan mengingat pengaruh yang dapt ditimbulkannya appbila ia berada dalam air
minum yang dikonsumsi manusia, maka dalam stadar kualitas air minum
ditetapkan bahwa air minum sama sekali tidak boleh mengandung H 2S ataupun
S-
15. Fluorida (F)
Terdapatnya fluoride yang berlebihan dalam air minum dapat di akibatkan
oleh terjadinya peristiwa pencemaran udara yang diakibatkan oleh penggunaan
kriolit (Na3ALF6) sebagai pelarut Al2O3 dalam produksi aluminium secara
elektrolitik. Pada suhu yang meningkat, krolit mencair dan menghasilkan
tekanan uap yang cukup besar. Akibatnya, Fluorida dalam jumlah yang cukup
banyak masuk ke atmosfir melalui system exhauster yang ada. Fluorida
mengembun membentuk asap (smoke), dan banyak dari bahan-bahan partikel
tersebut mengendap diatas tanam-tanaman dan tanah disekitar daerah itu. Fluor

105
dapat mengakibatkan efek yang mengganggu namun sebaliknya juga bermanfaat
bagi manusia.

Diketahui bahwa penggunaan selama bertahun-tahun dari air yang


mengandung 8 – 20 mg/l Fluor, akan menyebabkan perubahan-perubahan tulang
pada manusia. Konsumsi Fluorida perhari 20 mg atau lebih selama 20 tahun atau
lebih mengakibatkan fluorosis. Satu single dose 2250-4500 miligram Fluorida
berakibat mematikan bagi manusia. Namun untuk ini diperlukan konsumsi
sebesar 510 gr Natrium Fluorida (NaF). Sedangkan pada konsentrasi 1 mg/l
yang digunakan untuk pengobatan gigi, lebih dari 1300 gallon air harus diminum
untuk memperoleh konsumsi sebesar 5 gram saja. Fluorida dalam jumlah kecil
(0,6 mg/l air) dibutuhkan sebagai pencegahan terhadap carries gigi yang paling
efektif tanpa merusak kesehatan. Konsentrasi yang lebih besar dari 1,0 mg/l air
dapat menyebabkan “fluorosis” pada gigi, yaitu terbentuknya bercak-bercak
coklat yang tidak mudah hilang pada gigi. Dalam hubungan inilah maka batas
konsentrasi maksimal untuk Fluorida yang ditetapkan oleh Permenkes RI No.
416/Menkes/Per/IX/1990 kadar maksimum yang diperbolehkan adalah 1.5 mg/l.
Untuk daerah tropik, US Public Health Service menetapkan batas maksimal
sebesar 1,5 ppm sebagai standar maksimal. Ini ada hubungannya dengan
frekwensi minimum di daerah tersebut. Permenkes RI Nomor: 32 Tahun 2017
menetapkan kadar maksimum untuk Fluorida adalah 1,5 mg/l.

16. Amonia (NH3+)


Terdapatnya amonia dalam air erat hubungannya dengan siklus N di alam.
Dengan melihat siklus tersebut dapat diketahui bahwa amonia (NH4+) dapat
terbentuk dari:
a. Dekomposisi, bahan-bahan organik yang mengandung N baik yang berasal
dari hewan (misalnya feses) oleh bakteri.
b. Hidrolisa urea yang terdapat pada urine hewan.
c. Dekomposisi bahan-bahan organik dari tumbuh-tumbuhan yang mati oleh
bakteri.

106
d. Dari N2 atmosfir, melalui pengubahan menjadi N 2O5 oleh loncatan listrik di
udara, kemudian menjadi NHO3 karena bersatu dengan air, dan selanjutnya
terbawa jatuh oleh hujan. Setelah melalui pembentukan menjadi protein
organik, maka oleh dekomposisi bakteri akhirnya akan terbentuk amonia.
e. Dari reduksi NO2 oleh bakteri
Dari siklus Nitrogen dapat dilihat bahwa NH4+ bisa terdapat dalam air
melalui tanah maupun langsung terjadi dalam air, apabila proses dekomposisi
oleh bakteri ataupun hidrolisa terjadi dalam air. Amonia merupakan suatu zat
yang menimbulkan bau yang menusuk hidung. Jadi kehadiran bahan ini
dalam air minum adalah menyangkut perubahan fisik di pada air tersebut
yang mempengaruhi penerimaan masyarakat. Amonia (NH4) tidak
diperbolehkan terdapat pada air minum.
17. Nitrat (NO3-)
Sebagaimana halnya amonia, adanya NO3 dalam air adalah berkaitan erat
dengan siklus nitrogen dalam alam. Dalam siklus tersebut dapat diketahui bahwa
nitrat dapat terjadi baik dari N2 atmosfir maupun dari pupuk (fertilizer) yang
digunakan, dan dari oksidasi NO2 oleh bakteri kelompok nitrobakteri. Nitrat
yang terbentuk dari proses-proses tersebut merupakan pupuk bagi tanam-
tanaman. Nitrat yang berlebihan dari yang dibutuhkan oleh kehidupan tanaman
terbawa oleh air yang merembes melalui tanah, sebab tanah tidak mempunyai
kemampuan untuk menahannya. Ini mengakibatkan terdapatnya konsentrasi
nitrat yang relatif tinggi pada air tanah.

Air sumur perorangan dengan konsentrasi nitrat 67-1100 mg/l telah


mengakibatkan methaemoglobinaemia pada bayi yang minum susu yang dibuat
dengan campuran air tersebut. Kandungan nitrat mempengaruhi sesuatu
populasi tertentu dalam penggunaan air yang khusus. Konsentrasi nitrat yang
melebihi 45 mg/l dalam air merupakan peringatan agar berhati-hati dalam
penggunaan air tersebut untuk campuran makanan/minuman untuk bayi. Nitrat
(NO3) dalam usus cenderung untuk berubah menjadi nitrit (NO2-) karena suasana
pH lambung, yang kemudian dapat bereaksi dengan haemoglobine dalam darah

107
membentuk “methaemoglobine” yang dapat menghalangi transportasi oksigen
di dalam tubuh. Standar konsentrasi maksimum yang diperbolehkan untuk NO3-
yang ditetapkan Permenkes RI No. 416/Menkes/Per/IX/1990 kadar maksimum
Nitrat sebagai N yang diperbolehkan adalah 10 mg/l. Menurut WHO, batas
konsentrasi yang diterima adalah 45 mg/l, sama dengan standar yang ditetapkan
oleh US Public Health Service. Kadar Maksimum Nitrat, sebagai NO3 dalam
Permenkes RI Nomor: 32 Tahun 2017 adalah 10 mg/l.

18. Nitrit (NO2-)


Nitrit dalam alam yang pada akhirnya akan sampai juga ke air, dapat
terbentuk baik dari oksidasi amonia (NH3) oleh bakteri nitrosomonas dalam
kondisi aerobik;
bakteri
2 NH3 + 3O2− − − − −−→ 2 NO2- + 2 H- + 2 H2O maupun dari reduksi
Nitrat (NO3)
Gambaran proses pembentukan Nitrit ini dapat dilihat pada siklus nitrogen di
alam. Efek terhadap kesehatan manusia yang dapat ditimbulkan oleh kandungan
nitrit ini dalam air adalah serupa dengan apa yang diakibatkan oleh Nitrat, yaitu
dapat menyebabkan methaemoglobinaemia pada bayi (blue babies). Selain itu,
Nitrit adalah zat yang bersifat racun, sehingga standar ditetapkan Permenkes RI
No. 416/Menkes/Per/IX/1990 kadar maksimum Nitrit sebagai NO2 - yang
diperbolehkan adalah 1 mg/l. Kadar maksimum Nitrit sebagai NO2 - dalam
Permenkes RI Nomor: 32 Tahun 2017 adalah 1 mg/l.

19. Fenolik (Fenol)


Fenol merupakan salah satu dari persenyawaan aromatik yang penting. Fenol
(C6H6OH) adalah monohidrosida, derivat dari benzene. Fenol dikenal pula
-10
sebagai asam karbol. Bahan ini terionisasi dengan menghasilkan HX10 , dan
dalam larutan dengan konsentrasi tinggi (pekat) sangat beracun bagi bakteri.
Karena itu bahan ini digunakan secara luas sebagai pembunuh kuman.

108
Berbagai jenis desinfektan dinilai daya kerjanya dengan istilah “phenol
coefficient”, yaitu kekuatan membunuh kuman (desinfecting) relatif. Fenol
terjadi sebagai satu komponen alamiah dalam buangan industri gas batu bara.
Kokas batu bara, industri minyak tanah dan berbagai variasi buangan industri
berasal dari proses-proses yang menggunakan fenol sebagai bahan dasar.
Riset yang dilakukan di Dow Chemical Co. Plant Mitland, Michigan dan di
tempat lain, menunjukkan bahwa fenol akan berfungsi juga sebagai makanan
bakteri tanpa efek toksis yang serius pada tingkat konsentrasi setinggi 500 mg/l.
Pada suatu konsentrasi tertentu, bakteri akan menggunakan fenol sebagai
makanan, tetapi di atas konsentrasi tersebut bakteri akan mendapatkannya
sebagai sesuatu bahan yang terlalu toksis untuk konsumsi dan reproduksi
organisme tersebut. Fenol apabila bereaksi dengan khlor dapat menimbulkan bau
seperti obat. Konsentrasi yang ditetapkan oleh Depkes RI sesuai dengan
Permenkes RI No.01/Birhukmas/I/1975 untuk fenol dalam air adalah 0,001 mg/l
(konsentrasi maksimal yang dianjurkan), dan 0,002 mg/l (konsentrasi maksimal
yang diperbolehkan). Sedangkan dalam Permenkes RI No.
416/Menkes/Per/IX/1990 maupun Permenkes RI Nomor: 32 Tahun 2017 tidak
terdapat Parameter ini.
20. Arsen (As)
Arsen yang terdapat dalam air bisa berasal dari persenyawaan-persenyawaan
arsen yang banyak digunakan sebagai insektisida (lead arsenate, calcium
arsenate). Persenyawaan arsen termasuk salah satu diantara racun sistemik, dan
dapat berakumulasi dalam tubuh manusia. Arsen dapat menyebabkan gangguan
pada sistem pencernaan dan kemungkinan dapat menyebabkan kanker kulit, hati
dan saluran empedu. Menurut standar kualitas air minum yang ditetapkan dalam
Permenkes RI No. 416/Menkes/Per/IX/1990, kadar maksimum Arsen yang
diperbolehkan adalah 0,05 mg/l. Standar Baku Mutu Arsen dalam Permenkes RI
Nomor: 32 Tahun 2017 adalah 0,05 mg/l merupakan parameter tambahan.
21. Timbal (Pb)
Timbal dan persenyawaannya banyak digunakan dalam industri-industri
baterai dan cat. Seperti kebanyakan logam-logam berat, timbal dan

109
persenyawaannya adalah beracun. Untuk menimbulkan serat racun ini,
diperlukan dosis yang besar, tetapi bahaya timbal ini meningkat, sebab timbal
cenderung untuk berakumulasi dalam tubuh dan mempengaruhi sistem syaraf
pusat. Sifat racun ini dapat disebabkan karena kenyataan bahwa timbal dan
logam-logam berat lainnya adalah merupakan penghambat yang kuat terhadap
reaksi-reaksi enzim.
Timbal merupakan bahan dikenal sehari-hari, dengan kontak tiap hari antara
lain melalui makanan, air, udara dan asap tembakau. Kesetimbangan dalam
tubuh dapat dipelihara pada pemasukan total intakes kira-kira 0,3-0,4 mg/hari.
Intake dengan konsentrasi 8-10 mg/l dalam air untuk selama beberapa minggu,
adalah suatu kondisi yang membahayakan. Keracunan yang dilaporkan
umumnya membahayakan. Keracunan yang dilaporkan umumnya berasal dari
penggunaan air dengan variasi konsentrasi antara 0,04-1 mg/l atau lebih.
Konsentrasi sebesar 0,1 mg/l sudah akan mengganggu kehidupan ikan.
Konsentrasi maksimal yang diperbolehkan untuk unsur ini dalam air minum
menurut Permenkes RI No. 416/Menkes/Per/IX/1990 adalah 0,05 mg/l. Kadar
maksimum untuk parameter timbal dalam Permenkes RI Nomor: 32 Tahun 2017
adalah 0,05 mg/l.
22. Selenium (Se)
Selenium merupakan unsur alam yang kira-kira sama jarangnya dengan emas.
Unsur ini terjadi terutama bersama-sama dengan sulfur, baik sebagai selenium
murni maupun sebagai selenia dalam berbagai mineral sulfida. Ia bereaksi
dengan logam membentuk selenida, misalnya Al2Se3 yang membusuk dalam
asam memberikan hidrogen selenida yang bersifat gas, H 2Se. Seperti H2S, ia
bersifat toksik, dan terbakar memberikan Se atau SeO2, tetapi bahan ini
merupakan bahan reduktor yang lebih kuat dari pada H2S. SeO adalah bahan
padat tidak berwarna yang dapat larut dalam air, dan memberikan “selenious
acid” yang lemah H2SeO3. Selenium merupakan racun yang dikenal sebagai
accupational poison (racun dalam pekerjaan). Se dapat menyebabkan keracunan
pada ternak dalam keadaan dimana konsentrasi Se melebihi 3-4 mg/kg dalam
makanan ternak tersebut. Gejala-gejala yang pasti pada keracunan yang timbul

110
melalui air belum dapat ditentukan. Dalam jumlah kecil dipercaya merupakan
unsur yang penting dalam makanan. Pernah dijumpai terjadinya keracunan yang
ringan pada manusia di daerah dimana Se terdapat dalam konsentrasi tinggi.
Adanya Se dalam air minum dalam konsentrasi yang melebihi standar
maksimal dapat memberi pengaruh terhadap kenaikan jumlah penyakit gigi
keropos pada anak-anak. Sebab merupakan racun yang diperkirakan dapat
menyebabkan kanker pada hati, ginjal dan limpa. Kadar maksimum yang
diperbolehkan menurut Permenkes RI Nomor: 32 Tahun 2017 untuk unsur ini
adalah 0,01 mg/l.
23. Khromium (Cr)
Khromium sebagai ion bervalensi enam bersifat karsinogenik misalnya pada
saluran pernafasan. Tidak didapatkan reaksi terhadap sifat racun khromium pada
tikus yang diberi Cr selama 1 tahun dalam konsentrasi 0,54-25 mg/l. Demikian
juga tidak ada efek yang dapat diamati pada kasus tunggal dimana terhadap 4
keluarga dalam waktu 3 tahun diberi air dengan konsentrasi Cr sampai 1 mg/l.
Konsentrasi unsur ini dalam air minum yang melebihi batas maksimum yang
ditetapkan mungkin dapat menyebabkan kanker kulit dan alat-alat pernafasan.
Kadar maksimum khromium dalam media air berdasarkan Permenkes RI No.
416/Menkes/Per/IX/1990 adalah sebesar 0,05 mg/l. Angka ini sama dengan
angka standar yang ditetapkan baik oleh US Public Health Service, WHO untuk
kawasan Eropa, maupun Internasional demikian juga dalam Permenkes RI
Nomor: 32 Tahun 2017 adalah 0,05 mg/l, sebagai parameter tambahan.
24. Sianida (Cn)
Sianida dimasukkan dalam standar persyaratan kualitas air minum, oleh
karena dalam dosis tunggal sebesar 50-60 mg bersifat mematikan; ntake sebesar
3-5 mg/hari tidak menimbulkan gangguan, begitu juga untuk dosis tunggal
sebesar 10 mg. Pada konsentrasi 0,2 mg/l akan bersifat mematikan terhadap ikan
air tawar untuk masa kontak selama 2 hari. Khlorinasi akan mengubah sianida
menjadi sianogen khlorida yang mempunyai oral toxicity yang akut.
Konsentrasi Cn dalam air minum yang melebihi standar yang ditetapkan akan
dapat mengganggu metabolisme dan selain itu dapat pula meracuni hati.

111
Standar konsentrasi maksimal untuk Cn dalam air minum menurut Permenkes
RI No. 416/Menkes/Per/IX/1990 adalah sebesar 0,1 mg/l. Angka ini masih
berlaku pada Permenkes RI Nomor: 32 Tahun 2017. Angka ini lebih kecil dari
pada angka yang ditetapkan oleh US Public Health Service maupun WHO
Internasional mg/l.
25. Kadmium (Cd)
Kadmium dapat menyebabkan keracunan akut pada manusia yang
mengkonsumsi unsur tersebut dari makanan. Konsentrasi dalam ginjal dan hati
tikus terus meningkat jika tikus tersebut diberikan air dengan konsentrasi Cd
0,1-10 mg/l. Secara individual, pemberian air dengan konsentrasi Cd rata-rata
0,047 mg/l tidak memberikan gejala. Konsumsi air minum dengan konsentrasi
Cd yang melebihi standar yang ditetapkan menyebabkan unsur tersebut
tertimbun dalam jaringan tubuh sehingga dapat menimbulkan batu ginjal,
gangguan lambung, kerapuhan tulang, mengurangi haemoglobin darah dan
pigmentasi gigi. Konsentrasi maksimum yang diperbolehkan untuk Cd dalam
air minum menurut Permenkes No. 416/Menkes/Per/IX/1990 sebesar 0,005
mg/l. Angka ini masih berlaku pada Permenkes RI Nomor: 32 Tahun 2017.
Angka ini lebih kecil dengan angka yang ditetapkan oleh US Public Health
Service maupun WHO Internasional.
26. Air Raksa (Hg)
Hg terjadi dari senyawa mineral HgS (cinnabar) melalui pembakaran udara:
HgS (padat) + O2 (gas) -- - - - - - - -- -> Hg + SO2 (gas)

Tidak seperti logam-logam yang lain, pada suhu kamar Hg merupakan zat cair.
Logam ini disebut hydrargyrum yang berarti perak cair. Zat cair ini tidak mudah
menguap (tekanan uapnya adalah 0,0018 mm Hg pada 250 C), tetapi uap tersebut
sangat beracun, dan pemaparan yang lama terhadapnya harus dihindarkan.
Kandungan air raksa dalam air minum dalam konsentrasi yang melebihi batas
maksimal yang ditetapkan akan dapat meracuni sel-sel tubuh, merusak ginjal,
hati dan syaraf. Selain itu, dapat pula menyebabkan keterbelakangan mental dan
cerebral palsy pada bayi. Konsentrasi maksimum yang diperbolehkan sebagai

112
standar yang ditetapkan berdasarkan Permenkes RI No.
416/Menkes/Per/IX/1990 untuk unsur ini dalam air adalah sebesar 0,001 mg/l.
Angka ini masih berlaku pada Permenkes RI Nomor: 32 Tahun 2017 sebagai
parameter tambahan. US Public Health Service maupun WHO tidak
mencantumkan unsur Hg didalam standar persyaratan air minum yang
ditetapkannya.

27. BOD (Biological Oxygen Demand)


Biological Oxygen Demand (BOD) atau Kebutuhan Oksigen Biologik (KOB)
adalah suatu analisa empirik yang mencoba mendekati secara global proses-
proses mikrobiologik yang benar-benar terjadi di alam . Angka BOD adalah
jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri untuk menguraikan
(mengoksidasi) hampir semua zat organik yang terlarut atau tersuspensi dalam
air. Pemeriksaan BOD diperlukan untuk menentukan beban pencemaran akibat
air buangan oleh penduduk atau industri, dan untuk merancang system
pengolahan biologic terhadap air yang tercemar tersebut. Penguraian zat organik
adalah peristiwa alamiah. Sesuatu badan air yang dicemari oleh zat organik
dapat menghabiskan oksigen terlarut dalam proses oksidasinya yang bisa
mengakibatkan kematian ikan dalam air, merubah keadaan menjadi anaerobik
dan menimbulkan alam air jernih dan air buangan industri yang mengandung
zat organik jumlah bakteri ini tidak banyak. Pada kasus seperti ini, maka dalam
analisa BOD yang menggunakan bakteri perlu ditambahkan benih bakteri yang
sesuai.
Untuk oksidasi zat organik yang khusus, terutama di beberapa jenis air
buangan industri yang mengandung bahan-bahan seperti fenol, deterjen, minyak
dan sebagainya, bakteri harus diberikan waktu penyesuaian (adaptasi) beberapa
hari melalui kontak dengan air buangan tersebut, sebelum dapat digunakan
sebagai benih pada analisa BOD air tersebut (seeding).

28. COD (Chemical Oxygen Demand)

113
Chemical Oxygen Demand (COD) atau Kebutuhan Oksigen Kimia (KOK)
adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organik
yang ada dalam 1 liter sampel air, dimana pengoksidasi K2Cr2O7 digunakan
sebagai sumber oksigen (oxidizing agent). Angka COD merupakan ukuran bagi
pencemaran air oleh zat-zat organik termasuk yang tidak dapat dioksidasikan
melalui proses mikrobiologik dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut
di dalam air. Proses analisa COD berbeda dengan analisa BOD namun
perbandingan antara angka COD dengan angka BOD dapat diperkirakan. Dalam
Tabel 16 tercantum perkiraan perbandingan angka tersebut untuk beberapa jenis
air.
Tabel 16. Perbandingan Rata-rata Angka BOD3 20 /COD Untuk Beberapa Jenis
Air.
No. Jenis Air BOD3 20 / COD
1. Air buangan domestik 0,40 – 0,60
2. Air buangan domestik pengendapan 0,60
primer
3. Air buangan domestik setelah 0,20
pengolahan secara biologik
4. Air sungai 0,10

Jika angka perbandingan tersebut lebih rendah dari yang tercantum, misalnya
untuk air buangan domestik kurang dari 0,20 ini menunjukkan adanya zat-zat
yang bersifat racun bagi mikroorganisme. Tidak semua zat-zat organik dalam air
buangan, maupun air permukaan dapat dioksidasikan melalui tes COD atau
BOD. Tabel 17 menunjukkan jenis zat organik, anorganik yang tidak atau dapat
dioksidasikan melalui tes COD atau BOD.

Tabel 17. Jenis Zat-Zat yang tidak atau dapat Dioksidasi melalui TES COD dan
BOD.

114
No. Jenis Zat Organik/Anorganik Dapat Dioksidasi melalui TES
COD BOD
1. Zat Organik yang biodegredable X X
(protein, gula, dsb)
2. Selulosa, dsb
3. Nitrogen organik yang X
biodegredable (protein, dsb) X X
Nitrogen organik Non-
4. Biodegredable NO2 , FE , S2-,
- 2+
X
Mn3+
5. NH4 bebas (Nitrifikasi) - X
6. Hidrokarbon aromatik dan rantai X -

C. Pencemaran Air (Water Pollution)


Pengertian pencemaran air antara lain, menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI
No. 173/Menkes/VII/1977, bahwa Pencemaran air adalah suatu peristiwa masuknya
zat ke dalam air yang mengakibatkan kualitas (mutu) air tersebut menurun sehingga
dapat mengganggu atau membahayakan kesehatan masyarakat.
Pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi
dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air
turun sampai ketingkat tertentu yang membahayakan, yang mengakibatkan air tidak
berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya (Peraturan Pemerintah RI Nomor 20
Tahun 1990). Pengertian lain dari pencemaran air atau polusi Air adalah
penyimpangan sifat-sifat air dari keadaan normal, bukan dari kemurniannya. Air
yang tersebar di alam tidak pernah terdapat dalam bentuk murni, tetapi bukan berarti
semua air sudah terpolusi.
1. Fosfor (P)
Sumber pencemarnya adalah pupuk dan zat-zat buangan dari pabrik. Efeknya:
terbentuknya fosfat (PO4) yang berguna sebagai nutrient bagi tumbuh-tumbuhan
sehingga menimbulkan eutrophication (baca: yutrofikasi) yang mengakibatkan
pendangkalan. Proses pemupukan yang terlalu banyak mengakibatkan tumbuhnya
algae dan gulma (algae bloom: peledakan tumbuhan algae).

2. Nitrogen (N)

115
Sumbernya adalah pupuk, zat-zat buangan kotoran dan langsung dari atmosfir.
Efeknya: pada air ialah terlarutnya nitrogen (N2) dalam air seperti halnya dengan
gas-gas terlarut lainnya. Sebagai amonia (NH3), Nitrit (NO2) dan Nitrat (NO3)
merupakan nutrient bagi tumbuh-tumbuhan yang dapat menyebabkan
eutrophication. Nitrat dapat merupakan racun bagi manusia, terutama pada bayi
menyebabkan methaemoglobinemia.
3. Suspended Solids (SS)
Sumber pencemarnya adalah debu tanah dan debu selokan atau kotoran.
Efeknya pada air: dapat mengurangi daya tembus cahaya matahari sehingga
mengganggu kehidupan dalam air dan menghambat kegiatan-kegiatan biologik.
Pada kadar yang tinggi dapat menyebabkan air berwarna kecoklat-coklatan atau
tampak berlumpur. Kadar kekeruhan yang tinggi menunjukkan kadar SS yang
tinggi pula, sehingga daya tembus cahaya matahari menjadi rendah.
4. Panas
Walaupun panas lebih mengarah ke kondisi fisik dari pada pencemaran, tetapi
mengingat efeknya, panas dapat dianggap sebagai pencemar. Sumber
pencemarnya adalah reaktor (pusat tenaga) nuklir, industri, dan sebagainya. Panas
dapat mengurangi kadar oksigen yang terlarut dalam air (dissolved oxygen).
5. Logam
Senyawa khlorin dan benda-benda asing sumber pencemar yang berasal dari
buangan industri, atau tanah pertanian/peternakan. Beberapa bahan pencemar
dapat menyebabkan penyakit antara lain : kanker, atau bersifat racun bagi
manusia. Polychlorinated biphenyls umumnya racun bagi hewan, terutama ikan.
6. Indikator Kualitas Biological Oxygen Demand (BOD), Dissolved Oxygen (DO),
Kekeruhan (turbidity) dan pH.
BOD merupakan deskripsi tentang banyaknya oksigen yang diperlukan untuk
mengoksidasi sejumlah zat secara sempurna melalui proses biologi. Biasanya
BOD dinyatakan sebagai BOD5, 20 atau banyaknya oksigen yang digunakan oleh
mikroba pengurai selama 5 hari pada suhu 20 derajad Celcius. BOD adalah
banyaknya oksigen yang diperlukan untuk proses oksidasi biologik. Bila zat-zat

116
organik dibuang ke dalam air (sungai), maka sejumlah oksigen terlarut (dissolved
oxygen= DO) akan digunakan untuk mengoksidasi zat-zat organik tersebut.
Oksigen terlarut (DO) merupakan kebutuhan dasar untuk kehidupan tanaman
dan hewan di dalam air. Kehidupan makhluk hidup di dalam air tersebut
tergantung dari kemampuan air untuk mempertahankan konsentrasi minimal yang
dibutuhkan untuk kehidupannya. Air dengan kadar DO yang tinggi akan memiliki
kemampuan mengoksidasi yang baik. Air dengan DO rendah biasanya adalah
akibat dari pembuangan kandungan air dengan kandungan pencemar (bahan
organik) tinggi, yang kadang-kadang menyebabkan terbunuhnya ikan-ikan.
Kekeruhan merupakan suatu ukuran kandungan zat padat, termasuk yang
mengendap (suspended solid, SS). Kadar kekeruhan yang tinggi menunjukkan
kadar SS yang tinggi pula, sehingga daya tembus cahaya matahari menjadi
rendah.
pH merupakan suatu ukuran derajad keasaman air. Air yang sangat asam dan atau
basa tidak akan mendukung banyak kehidupan didalamnya. Air yang mutunya
baik harus memenuhi rentang pH tertentu.

117
BAB 6
PARAMETER KIMIA YANG BERHUBUNGAN DENGAN TANAH
A. Komposisi Kimia Tanah
1. Asal Bahan Tanah
Tanah yang terbentuk di permukaan bumi secara langsung ataupun tidak,
mengandung bahan mineral dari batu-batuan. Melalui proses pelapukan, baik
secara fisik maupun secara kimia dibantu oleh pengaruh atmosfir, maka batu-
batuan remuk menghasilkan bahan lepas, dan selanjutnya, berkembang menjadi
tanah. Proses perubahan dari batu-batuan menjadi secara ringkas adalah sebagai
berikut:

Batu-batuan dan mineral-mineral Bahan Induk Profil Tanah

Pelapukan Pembentukan Tanah

Proses pembentukan tanah dibawah kondisi tropik dimana suhu tinggi dan curah
hujan besar, berlangsung cepat, berbeda dengan pembentukan tanah di daerah
berhawa sejuk. Untuk daerah tropik studi batu-batuan dan mineral dalam
hubungannya dengan komposisi dan pelapukannya merupakan studi yang
menarik.

2. Unsur Kimia Utama Tanah


Tanah merupakan sumber hara yang potensial untuk pertumbuhan tanaman.
Kandungan unsur-unsur dalam litosfir yang penting untuk bidang pertanian dapat
dilihat pada tabel berikut.

118
Tabel 18. Kadar Beberapa Unsur di dalam Litosfir
No. Atom Unsur Jumlah ppm No. Atom Unsur Jumlah ppm
1 H - 23 V 150
5 B 10 25 Mn 1.000
6 C 320 26 Fe 50.000
7 N - 27 Co 40
8 O 446.000 29 Cu 70
11 Na 28.000 30 Zn 80
12 Mg 20.900 33 As 5
13 Al 81.300 34 Se 0.09
14 Si 277.200 35 Br 2.5
15 P 1.200 37 Rb 280
16 S 520 38 Sn 150
17 Cl 480 42 Mo 2.3
20 Ca 25.900 53 J 0.3
21 Sc 5 56 Ba 430

Tanah merupakan sumber penghidupan manusia. Tanah selain mengandung


mineral juga jasad renik yang keberadaannya sangat membantu kesejahteraan
manusia. Kegiatan makhluk renik ini menambah kesuburan tanah. Misalnya
bakteri nitrifikasi mengubah gas N2 di udara menjadi senyawa nitrogen yang
diperlukan tumbuhan. Bakteri pembusukan menguraikan tubuh makhluk hidup
yang sudah mati dan sampah menjadi mineral-mineral kembali yang berguna bagi
tumbuhan. Ada juga mikroorganisme yang menghasilkan gas CO2 yang dapat
membantu dalam proses penghancuran batuan menjadi tanah. Jadi di dalam tanah
penuh dengan segala macam kegiatan hidup.

Umumnya penyebab kerusakan tanah yang diketahui orang banyak ialah erosi.
Erosi alamiah berjalan lambat seimbang dengan pembentukan tanah baru. Tetapi
erosi yang disebabkan karena kegiatan manusia, misalnya penebangan hutan oleh
para pengusaha sangat mempercepat proses erosi sehingga menimbulkan daerah-
daerah tandus. Cara lain perusakan tanah akibat kegiatan manusia ialah melalui
pencemaran. Tanah mengandung air dan udara. Jika suatu daerah udara atau
airnya tercemar, maka tanahnya pun tak luput ikut tercemar. Disamping adanya

119
bahan yang langsung dibuang ke dalam tanah seperti plastik, pestisida dan
sebagainya. Timbul masalah, apakah yang terjadi jika bahan-bahan kimia
yang beracun, misalnya organokhlorin masuk dan menetap di dalam tanah.
Senyawa organokhlorin ini ada yang disemprotkan langsung ke dalam tanah untuk
tujuan membasmi hama tanaman atau serangga dan sebagai lagi terbawa oleh
udara dan air ke dalam tanah. Kehadiran senyawa organokhlor di dalam tanah
dapat mengganggu kegiatan hidup didalamnya. Penggunaan senyawa organokhlor
yang semula dimaksudkan untuk membasmi hama tanaman, kenyataannya dapat
meracuni juga organisme-organisme yang berguna. Penguraian senyawa
organokhlor di alam berjalan lambat. Jadi senyawa ini dapat berada dalam tanah
dalam waktu yang lama, dari beberapa bulan sampai puluhan tahun. Terlebih lagi
penggunaan racun ini secara terus-menerus dapat menambah konsentrasi zat ini
dalam tanah.

Bahaya yang dapat timbul karena kehadiran senyawa organokhlor di dalam


tanah ialah beberapa jenis tanaman dapat menyerap racun ini dari tanah.
Selanjutnya keracunan dapat terjadi pada manusia jika tanaman itu dimakan
orang. Parameter kimia tanah yang dapat digunakan untuk menilai kualitas tanah
di Indonesia secara pasti belum ada, yang ada hanyalah menyangkut kualitas air
dan udara.

a. Kapasitas Tukar Ion


Pertukaran kation merupakan reaksi umum dan merupakan salah satu reaksi
yang terpenting dalam tanah. Daerah-daerah adsorbsi dan pertukaran kation
dapat dikemukakan secara sederhana. Sebagai contoh adalah pergantian ion
lain dengan hidrogen. Terjadinya fenomena ini, dan reaksinya sebagai berikut:

+H H
𝐶𝑎 𝑋 + 2𝐻2 + X + Ca2+

+Ca H

120
Sejumlah asam karbonat dan asam lainnya dibentuk bersamaan dengan proses
dekomposisi bahan organik. Kapasitas tukar bahan suatu tanah dapat
didefinisikan sebagai suatu kemampuan koloid tanah menyerap dan
mempertukarkan kation.
b. Bahan Organik
Pengaruh bahan organik terhadap daya adsorbsi kation berarti semakin
tinggi kandungan bahan organik suatu tanah makin tinggi pula kapasitas tukar
kationnya.
c. Persentase Kejenuhan Basa
Persentasi kejenuhan basa adalah perbandingan antara jumlah persen kation
basa dengan persen kapasitas tukar kation.

B. Proses Terjadinya Kesadahan Air Tanah


Kesadahan merupakan sifat air yang disebabkan oleh adanya ion-ion (kation)
logam valensi dua. Ion-ion semacam itu mampu bereaksi dengan sabun membentuk
gumpalan. Kation-kation penyebab utama dari kesadahan adalah Ca++, Mg++, Fe++
dan Mn ++. Sedangkan anion-anion yang biasa terdapat dalam air adalah HCO3-, SO4,
Cl-, NO3-, dan SiO3-. Ion-ion Al+++ kadang-kadang dianggap sebagai penyebab
kesadahan pada air namun kelarutannya dibatasi oleh nilai pH dari alam, sehingga
konsentrasi ion dapat diabaikan. Kesadahan dalam air sebagian besar berasal dari
kontaknya dengan tanah dan pembentukan batuan. Pada umumnya air sadah berasal
dari daerah dimana lapisan humusnya (topsoil) agak tebal dan ada kandungan kapur
pada lapisan dibawahnya. Air yang meresap ke dalam tanah akan diperkaya dengan
kandungan CO3 dari humus, sehingga menyebabkan mampu melarutkan komponen
kapur yang ada di bawahnya.
Yang dimaksud dengan kesadahan total adalah kesadahan yang disebabkan oleh
adanya kedua ion Ca++ dan Mg++, karena kebanyakan kesadahan dalam air alam
disebabkan oleh dua kation tersebut. Ketentuan standar dari Depkes RI untuk
kesadahan pada air minum menurut Permenkes No.01/Birhukmas/I/1975 adalah 5-10
o
D (derajad Jerman). Sedangkan menurut Permenkes RI No
416/Menkes/Per/IX/1990 adalah 500 mg/l CaCO3. Pengaruh langsung terhadap

121
kesehatan akibat penyimpangan dari standar belum pernah dipublikasikan, tetapi
kesadahan dapat menyebabkan sabun pembersih menjadi tidak efektif kerjanya serta
menimbulkan kerak pada dinding pipa saluran dan bangunan-bangunan air lainnya.
Kalsium merupakan sebagian dari komponen yang menjadi penyebab kesadahan.
Sedangkan efek secara ekonomis maupun efek terhadap kesehatan yang ditimbulkan
oleh kesadahan adalah timbulnya lapisan kerak pada ketel pemanas air pada
perpipaan, dan juga menurunnya efektivitas dari kerja sabun. Selain itu, adanya Ca
dalam air diperlukan untuk dapat memenuhi kebutuhan tubuh akan unsur tersebut,
khususnya untuk pertumbuhan tulang dan gigi.
Oleh karena itu untuk menghindari efek yang tidak diinginkan akibat dari terlalu
rendah atau terlalu tingginya kadar Ca dalam air minum, ditetapkanlah standar
persyaratan konsentrasi Ca sebagaimana yang ditetapkan oleh Depkes RI
berdasarkan Permenkes No.01/Birhukmas/I/1975 sebesar 75 – 200 mg/l . Standar
yang ditetapkan oleh WHO inter-regional water study group adalah sebesar 75-150
mg/l, sedangkan pada Permenkes RI No 416/Menkes/Per/IX/1990 tidak ada
ketentuan untuk kadar Ca dan Mg. Konsentrasi Ca dalam air minum yang lebih
rendah dari 75 mg/l dapat menyebabkan penyakit tulang rapuh, sedangkan
konsentrasi yang lebih tinggi dari 200 mg/l dapat menyebabkan korosifitas pada
pipa-pipa air. Seperti halnya Calsium, Magnesium juga merupakan bagian dari
komponen penyebab kesadahan pada air. Dengan sendirinya efek umum yang dapat
ditimbulkan oleh adanya unsur ini dalam air adalah serupa dengan efek umum yang
dapat ditimbulkan oleh pengaruh kesadahan. Dalam jumlah kecil Mg dibutuhkan
oleh tubuh untuk pertumbuhan tulang akan tetapi dalam jumlah yang lebih besar
1500 mg/l dapat menyebabkan rasa mual. Standar Baku Mutu (kadar maksimum)
Kesadahan (CaCO3) dalam Permenkes RI Nomor: 32 Tahun 2017 adalah 500 mg/l.

C. Mekanisme Pencemaran Tanah

Komponen penting dalam tanah terdiri dari 2 (dua) kelompok. Bagian pertama
adalah komponen yang berasal dari bahan an-organik yang terdiri dari unsur batuan,
elemen mineral, air, udara yang merupakan ikatan kimia tertentu, membentuk

122
karakteristik tanah. (Texture, pH, Kelembaban, porositas dan permeabilitas tanah).
Bagian kedua adalah komponen yang berasal dari bahan organik yang merupakan
bahan sisa-sisa buangan/sampah makhluk hidup yang mati. Mekanisme pencemaran
dalam tanah sebagian besar terjadi atas dukungan faktor-faktor texture/komposisi
tanah, porositas dan permeabilitas tanah dimana pergerakan daur air/siklus hidrologi
mempunyai peranan besar dalam memperluas jangkauan pencemaran. Pergerakan
bahan-bahan pencemar baik fisik, kimia maupun bakteriologis dapat jelas dimengerti
dari studi Cadwell & Parr (1938) Dyer, Baskaran dan sekar (1945). Lebih jelas
disajikan dalam skema berikut.

Gambar 13. Mekanisme Pencemaran dalam Tanah

123
BAB 7
PARAMETER KIMIA YANG BERHUBUNGAN DENGAN UDARA
A. Komposisi Kimia Udara

Udara yang bersih merupakan campuran berbagai gas, terutama nitrogen 78,09
%, oksigen 20,94 % dan karbon dioksida 0,031 %. Selain itu terdapat pula berbagai
gas lain dalam jumlah kecil, seperti gas mulia (helium, neon, argon dan xenon),
hidrogen, hidrokarbon (khususnya metana), oksida-oksida nitrogen dan ozon.
Komposisi rata-rata udara kering dan bersih dapat dilihat pada tabel 7. Udara lembab
juga mengandung air, namun kadarnya berbeda-beda.

Kegiatan manusia memberikan kontribusi besar dalam pencemaran udara, seperti


menjamurnya kegiatan industri, kegiatan transportasi berupa kendaraan bermotor
yang menggunakan bahan bakar minyak sehingga kondisi udara menjadi terpolusi.
Udara tercemar oleh tercampurnya zat-zat asing kedalamnya. Udara tercemar karena
meningkatnya konsentrasi komponen-komponen tertentu yang dapat membawa
akibat yang tidak diinginkan dan mengganggu kelestarian lingkungan.

Tabel 19. Komposisi Udara Kering dan Bersih

Komponen Rumus Konsentrasi


% ppm
Nitrogen N2 78,09 780900
Oksigen O2 20,94 209400
Argon Ar 0,934 9340
Karbon dioksida CO2 0,0315 315
Neon Ne 0,0018 18
Helium He 0,00052 5,2
Metana CH4 0,00010-0,00012 2,0-1,2
Kripton Kr 0,0001 1

124
Nitrooksida N2O 0,00005 0,5
Hidrogen H2 0,00005 0,5
Ksenon Xe2 0,000008 0,08
Nitrogen dioksida NO 0,000002 0,02
Ozon O3 0,000001-0,000004 0,01-0,04

Catatan: ppm = bagian per sejuta (parts per million) 1 % =10000 ppm.

Sebelum ada intervensi kegiatan manusia dan peristiwa-peristiwa alamiah, udara


yang ada di atmosfer dapat dikatakan bersih. Namun setelah ada kegiatan manusia
seperti kegiatan lalu lintas, pembakaran sampah, kegiatan industri dan pertambangan
dan kegiatan rumah tangga serta peristiwa alam seperti gunung meletus dan
keluarnya gas beracun, udara di atmosfer mengalami pencemaran.

B. Sumber, Proses dan Macam Pencemar Udara

1. Sumber Pencemaran Udara

a. Alam (natural source) seperti kebakaran hutan embusan debu oleh angin,
bencana gunung berapi dan lain-lain.

b. Aktivitas manusia (man made source) seperti dari industri, transportasi,


pembangkit tenaga listrik dan lain-lain.

2. Proses Terjadinya Pencemaran Udara

Secara umum terjadinya pencemaran yang disebabkan oleh aktivitas manusia


dapat dibagi 3 kategori:

a. Attrition (gesekan).
Terjadi pada setiap aspek kehidupan mulai dari yang sederhana, seperti
gesekan sepatu atau gesekan ban mobil sampai ke yang lebih kompleks seperti
penyebaran partikel-partikel ke udara melalui proses sanding (pemecahan
butiran), grinding (pemotongan), drilling (pengeboran), dan spraying
(penyemprotan).
b. Vaporization (penguapan).

125
Istilah vaporization (penguapan) adalah suatu perubahan bentuk dari cair ke
bentuk gas. Perubahan bentuk tersebut dapat disebabkan oleh adanya kekuatan
tertentu seperti tekanan/pemanasan sedang yang lain adalah secara alami, pada
temperatur normal. Vaporization merupakan penyebab dari bau/rangsangan.

c. Combustion (pembakaran).
Combustion adalah proses pembakaran sebagai contoh pembakaran bahan
bakar (batu bara, minyak) untuk pembangkit tenaga listrik maupun kendaraan
bermotor. Pembakaran tersebut dapat berlangsung sempurna maupun tidak
sempurna yang dapat mengakibatkan pencemaran.
3. Macam Bahan Pencemar Udara

Dapat diklasifikasikan dalam beberapa kelompok:

a. Klasifikasi menurut Bentuk Asal


1) Bahan pencemar udara primer (primary air pollutant).
Polutan yang apabila menyebar, keadaannya tetap seperti keadaan semula.
Contoh:
a) Partikel-partikel halus (ukuran 100µ m diameternya)
b) Partikel-partikel kasar/yang lebih besar dari ukuran 100µ m diameternya.
c) Senyawa-senyawa sulfur, nitrogen, carbon, halogen.
d) Senyawa-senyawa organic.
e) Radioaktif.
2) Bahan pencemar udara sekunder (secondary air pollutant).
Yang termasuk disini adalah bahan pencemar udara primer yang
mengalami reaksi dengan senyawa lain setelah keluar dari sumbernya.

Contohnya: SO3 + H2O H2SO4

b. Klasifikasi menurut Keadaan Fisik Polutan.


Polutan dapat berada dalam bentuk padat, cair, gas.
Bentuk padat dan cair, disebut juga particulate.

126
1) Particulate: dikelompokkan lagi dalam:
a) Aerosol: partikel padat/cair yang dapat tetap tinggal di udara oleh sebab
ukurannya yang kecil ( < 1 µ m )
b) Dust: partikel padat yang berdiameter antara 0,1 – 1000 µ m.
c) Fume: partikel padat berdiameter 0,1 – 1 µ m. Sebagai akibat dari proses
industri pencairan benda padat seperti Pb.
d) Mist: partikel cair yang berdiameter > 100 µ m.
e) Smoke: partikel padat atau cair yang berdiameter 1 µ m.
f) Fog: kondensasi uap air di udara.
2) G a s
a) True gas: Suatu zat yang keadaan fisiknya mempunyai sifat menyebar
dan menempati tempat dimana ia berada. Contoh: CO, SO2, CH4.
b) Vapor: bentuk gas dari suatu zat yang umumnya berbentuk padat dan cair
pada tekanan dan suhu kamar. Contoh: Hydrocarbon.
c. Klasifikasi menurut Susunan Kimia Bahan Pencemar Udara
1) Inorganik
Gas atau particulate yang tidak mengandung unsur carbon dan umumnya
apabila mengandung unsur tersebut, tidak dikombinasikan dengan
Hidrogen. Contoh: CO, SO2, CO3, NO2, dan lain-lain.
2) Organik
Gas, Vapor atau particulate yang tersusun dari unsur Carbon, yang
mempunyai kombinasi dengan hydrogen dan mungkin juga dengan unsur-
unsur inorganic yang lain. Contoh: Methane, benzene, ethylene.

C. Pencemar Udara yang Utama


1. Oxida Carbon
Oxida Carbon merupakan hasil pembakaran dari bahan bakar.
CO2 dari hasil pembakaran yang sempurna (menimbulkan api), sedangkan
CO=Carbon monooxida dihasilkan dari pembakaran yang tidak sempurna (tanpaa
menimbulkan api.
a. Carbon monooxida

127
Sumber utama ialah kendaraan bermotor, asap rokok. Ciri-cirinya tidak
berbau, tidak berwarna, toxic, mempunyai efek berlomba dengan oksigen
untuk mengikat haemoglobin di dalam darah. Pada konsentrasi < 10 ppm tidak
menimbulkan gejala apa-apa, tetapi pada konsentrasi 100 ppm menimbulkan
gejala pusing, sakit kepala, dan daya tangkap yang lemah. Pada konsentrasi
100 -400 ppm terjadi gangguan penglihatan, mual, abdominalpain.
b. Carbon dioxide.
Tidak dikategorikan sebagai pollutant, sebab mempunyai peranan yang
penting di dalam proses kehidupan. Tetapi dengan adanya moisture di udara,
CO2 berubah menjadi asam carbonat yang dapat mengikat batu dan
menyebabkan korosi magnesium.
2. Sulfur dan senyawa-senyawa.
Molekul-molekul sulfur yang utama di udara ialah SO2, SO3, H2SO4, H2S dan
SO4. SO2 dan SO3 merupakan hasil pembakaran (Combustion) dari kayu, batu
bara, dan produk-produk petroleum. SO2 sendiri tidak begitu toxic (minimum 0,2
ppm), tetapi di udara dapat mengalami reaksi:

2 SO2 + sinar matahari + O2 -------> 2 SO3

SO3 ini dengan cepat akan bereaksi dengan air membentuk H2SO4, suatu
senyawa yang sangat toxic dan corrosive (mudah berkarat). Sulfur dioksida
sebagai gas apabila terhisap biasanya hanya sampai saluran pernafasan saja,
jarang sampai masuk ke paru-paru. Gas ini dapat masuk ke paru-paru apabila
dalam bentuk aerosol atau terabsorbsi oleh particulate. SO 2 pada konsentrasi 10
ppm menyebabkan iritasi pada mata, hidung dan tenggorokan.

Senyawa lain: Hydrogen sulfide, berbau busuk mempunyai sifat dapat


memudarkan barang-barang dari perak atau tembaga.

3. Nitrogen Oxida
a. NO (Nitrit Oxida): tak berwarna, terbentuk pada proses pembakaran pada
temperatur yang tinggi (pada cylinder kendaraan bermotor, pembangkit tenaga

128
listrik) yang menyebabkan terjadinya reaksi antara Nitrogen dengan Oxygen di
dalam mesin dan membentuk NO. NO ini relative tidak berbahaya, tetapi
apabila NO bereaksi dengan oxygen di udara akan membentuk NO2 yang lebih
toxic, dan apabila terdapat O3 diatmosfir terbentuknya NO2 akan lebih cepat
(NO + NO3 ---> NO2 + O2 ).

b. NO2 (Nitrogen dioxide)

Berwarna coklat sehingga dapat mengurangi penglihatan. Pada konsentrasi


yang tinggi gas ini dapat menyebabkan iritasi pada mata, berhentinya aktifitas
paru-paru, dan kematian. Nitrogen dioxide merupakan juga unsur pokok asap
tembakau. Apabila gas ini bercampur dengan uap air akan membentuk HNO3,
senyawa yang sangat corrosive.

4. Photochemical Oxidant
Adalah secondary pollutant yang berbentuk oleh sebab pengaruh sinar matahari
pada oksidasi nitrogen dan hydrocarbon di udara. Inilah penyebab utama
terjadinya photochemical smog.

Contoh: Ozon, fomaldehyde, poroxyacyl nitrate (PAN) dan lain-lain. Pengaruhnya


pada tanaman: necrosis, chlorosis dan gangguan pada pertumbuhannya.
Pengaruhnya pada manusia: gangguan pada mata dan saluran pernafasan.

5. Hydrocarbon
Senyawa yang berisi unsur carbon, hydrogen dalam berbagai macam
kombinasi. Sumber utama ialah kendaraan bermotor, juga dari proses penguapan
bahan pelarut pada suatu pabrik. Tidak ada efek langsung yang merugikan
kesehatan manusia, tetapi bahayanya apabila pollutant ini mengadakan reaksi di
bawah sinar matahari, akan membentuk photochemical oxidant yang bias
menyebabkan radang jalan pernafasan dan membuat mata terus berair.
6. Fluoride
Penyebarannya dapat berupa gas atau solid, biasanya berasal dari peleburan biji
besi, proses pembuatan barang-barang keramik atau dari pabrik pupuk dan

129
aluminium. Fluoride dapat merusak dan dapat menumpuk pada tumbuh-tumbuhan
dan apabila ada ternak yang memakannya dapat menyebabkan sakit pada hewan
tersebut. Pada konsentrasi yang rendah sangat baik untuk pertumbuhan tulang dan
gigi, baik pada manusia maupun hewan. Pada konsentrasi tinggi dapat
menyebabkan iritasi pada mata, kulit, radang saluran pernafasan, sesak nafas.

Berdasarkan pembakuan mutu udara ambien (Keputusan Menteri KLH No. KEP-
02/MENKLH/I/1988 ada sembilan parameter pencemaran udara yaitu SO2, CO, NOx,
O3, debu, Pb, H2S, NH3 dan Hidrokarbon.

1. Sulfur dioksida (SO2)


SO2 terutama dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara
atau minyak bumi. Sebagian besar SO2 di udara dapat mengalami oksidasi
lanjutan dalam proses pembakaran, membentuk sulfur trioksida (SO 3) dan
akhirnya dapat bereaksi dengan uap air di udara membentuk sulfat aerosol. Sulfur
dioksida di udara dapat berpengaruh langsung terhadap manusia, terutama karena
sifat iritasi dari gas itu sendiri. Lebih dari 95 % dari SO 2 dengan kadar tinggi yang
dihirup melalui pernafasan akan diserap oleh bagian atas saluran pernafasan,
prosentase ini akan menurun menjadi 50 % untuk kadar SO2 yang lebih rendah
dari 0,1 ppm. Karena sifatnya yang dapat mengganggu pernafasan, SO 2 ini dapat
membuat penderita bronchitis, emphisema dan lain-lain penderita penyakit
saluran pernafasan menjadi lebih parah keadaannya. Karena eratnya hubungan
antara kadar SO2 di udara dengan gejala-gejala penyakit pernafasan inilah maka
WHO menyatakan SO2 sebagai salah satu pencemar udara paling berbahaya.
Ada satu hal yang perlu mendapat perhatian mengenai SO2 ini adalah
terjadinya perubahan kimia yang terjadi di udara. Karena SO2 dapat membentuk
asam sulfat aerosol. Kemungkinan dapat membentuk partikel amonium sulfat
sebagai hasil reaksinya dengan amoniak. Partikel ini dapat terbawa jauh masuk ke
dalam saluran paru-paru. Keadaan ini dapat mengakibatkan masalah kesehatan
yang lebih parah pada penderita. Kejadian ini disebut “Synergistic Effect” yaitu
bahwa pengaruh total dari dua komponen pencemaran (dalam hal ini SO 2 dan

130
partikel) menjadi lebih besar jika dibandingkan dengan pengaruh masing-masing
komponen apabila berdiri sendiri.
2. Karbon monoksida (CO)
Sumber utama gas CO adalah dari kendaraan bermotor yang menggunakan
bensin sebagai bahan bakarnya. Selain itu CO dapat juga dihasilkan dari
pembakaran tidak sempurna yang berasal dari berbagai proses industri. Sumber
lain yang cukup berarti akan tetapi sering dilupakan atau tidak dihiraukan orang
adalah dari asap rokok dan pembakaran bahan bakar fosil (minyak tanah) di dalam
rumah tangga. Karbon monoksida mempunyai sifat berbeda dengan gas-gas
pencemar udara lain. Pada umumnya gas-gas pencemar udara yang lain hanya
mengganggu saluran pernafasan, sedangkan gas-gas CO akan terus menuju
kealiran darah setelah melewati paru-paru dan bereaksi dengan haemoglobin
dalam darah membentuk karboksihaemoglobine (CO-Hb). Pembentukan CO-Hb
dalam darah ini akan menghambat fungsi normal Hb dalam membawa oksigen
dari paru-paru ke seluruh bagian tubuh. Afinitas (kecenderungan terhadap)
pembentukan CO-Hb adalah 240 kali lebih besar dibandingkan dengan afinitas
terhadap oksigen. Gejala keracunan CO yang pertama adalah sesak nafas karena
kekurangan oksigen dan si penderita akan terlihat pucat yang apabila tidak segera
mendapatkan udara segar kembali akan dapat menyebabkan kematian. Hb dalam
darah akan segera melepaskan CO apabila si penderita mendapatkan udara segar
kembali. Walaupun keracunan CO ini sifatnya reversible (pulih) akan tetapi
apabila tidak segera ditangani dapat berakibat fatal. Karena jantung dan otak
adalah organ-organ yang paling peka terhadap kurangnya oksigen di dalam tubuh,
organ-organ tersebutlah yang mengalami kerusakan paling parah dalam keracunan
CO.
Dalam prakteknya kadar CO-Hb dalam darah akan bergantung dari banyaknya
CO di udara yang dihisap melalui pernafasan, lamanya pernafasan, kapasitas paru-
paru untuk menampung udara dan kondisi orang itu sendiri. Pada umumnya gejala
pembentukan CO-Hb akan lebih cepat terjadi pada perokok dibandingkan dengan
yang tidak merokok.
3. Nitrogen Oksida (NO=)

131
Selain di alam, nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) terutama
berasal dari gas-gas yang dihasilkan dari gas buangan kendaraan bermotor dan
pusat-pusat tenaga listrik. Tidak seperti karbon dan sulfur, nitrogen oksida tidak
terdapat dalam bahan bakar minyak, akan tetapi berasal dari udara dimana terjadi
proses pembakaran dari senyawa ini.
Pengaruh nitrogen oksida terhadap lingkungan yang utama adalah dalam
pembentukan smog (smoke dan fog), diketahui dengan jelas. Akan tetapi nitrogen
monoksida (NO) dalam kadar yang cukup tinggi dapat bereaksi dengan
haemoglobin dan mempunyai sifat yang serupa dengan CO karena dapat
menghalangi fungsi normal Hb dalam darah. Disamping itu NO 2 dapat
menyebabkan iritasi pada mata dan saluran pernafasan.
4. Ozon (O3)
Ozon merupakan substansi yang lazim disebut oksidan karena biasanya
merupakan bagian terbanyak dari oksidan yang terukur dan merupakan hasil awal
dan kesinambungan dari reaksi smog fotokimia (photochemical smog). Ozon tidak
berwarna, tetapi berbau tajam. Zat ini dapat menyebabkan batuk, pusing dan
kelelahan, serta penyakit jantung yang berat.
5. Debu (Suspended Particulate Matter)
Secara alamiah partikel debu dapat dihasilkan dari debu tanah kering yang
terbawa oleh angin atau berasal dari letusan gunung berapi. Pembakaran yang
tidak sempurna dari bahan bakar yang mengandung senyawa karbon akan
menimbulkan asap yang hampir seluruhnya terdiri dari partikel karbon murni atau
bercampur dengan berbagai gas-gas organik, misalnya dalam hal penggunaan
mesin diesel yang tidak terpelihara dengan baik. Partikel-partikel debu dapat juga
dihasilkan dari destilasi destruktif dari pembakaran yang tidak sempurna dari batu
bara sehingga terbentuk aerosol kompleks dari penggilingan dan penyemprotan
dapat menyebabkan abu beterbangan di udara. Partikel udara juga dihasilkan dari
kendaraan bermotor.
Pengaruh partikel padat maupun cair yang berada di udara sangat bergantung
kepada ukurannya. Pada umumnya ukuran partikel sekitar 5 mikron merupakan
ukuran partikel di udara yang dapat masuk ke dalam paru-paru dan mengendap di

132
alveoli. Ini tidak berarti bahwa ukuran partikel yang lebih besar dari 5 mikron
tidak berbahaya, karena partikel yang lebih besar ini dapat mengganggu saluran
pernafasan bagian atas dan menyebabkan iritasi. Keadaan akan lebih bertambah
parah apabila terjadi reaksi sinergistik dengan SO2. Selain itu partikel debu yang
melayang dan beterbangan dibawa angin akan menyebabkan iritasi pada mata dan
dapat menghalangi pandangan. Adanya cacahan logam beracun yang terdapat
dalam partikel di udara juga merupakan bahaya yang besar bagi kesehatan. Pada
umumnya udara yang tercemar hanya mengandung logam beracun sekitar 0,01 %
- 3 % dari seluruh partikel di udara, akan tetapi logam tersebut bersifat akumulatif
dan kemungkinan dapat terjadi reaksi sinergistik pada jaringan tubuh. Selain itu
perlu disadari bahwa logam yang terhirup dari udara mempunyai pengaruh yang
lebih besar, jika dibandingkan dengan dosis yang sama tetapi masuk melalui
makanan atau minuman, sehingga kadar logam di udara patut mendapat perhatian.
6. Timah Hitam (Pb)
Timah Hitam merupakan salah satu logam beracun yang dapat masuk dalam
sistem biologik dan sangat membahayakan kesehatan manusia. Sumber utama
Timah Hitam di udara berasal dari pembakaran bahan bakar minyak (bensin).
Timbah organik seperti tetraetil dan tetrametil lead ditambahkan dalam bensin
sebagai cara yang murah dalam upaya meningkatkan angka oktana. Senyawa
tersebut sebagian besar diemisikan dalam gas buangan sebagai oksida.
Akibat terpapar timah hitam yang melampaui nilai ambang batas akan dapat
menimbulkan gangguan seperti anemia, keracunan pada susunan syaraf,
kerusakan otak, kelemahan mental dan encepalopathy. Menurut WHO kandungan
normal timah hitam dalam darah adalah sebesar 10-25 mg/dl.
7. Hidrogen Sulfida (H2S)
Gas H2S tidak berwarna, menimbulkan bau yang merangsang (busuk), dengan
konsentrasi alamiah sekitar 0,002-0,02 ppm. Gas H2S ditemukan pada gas
vulkanik dan gas alam. Golongan industri yang menghasilkan gas H 2S antara lain
adalah pengilangan minyak, rayon, penyamakan kulit, pabrik kertas, destilator,
dan penambangan biji besi. Terhadap kesehatan manusia menimbulkan gangguan
berupa iritasi mata, kerongkongan, keracunan dan mabuk.

133
8. Ammonia (NH3)
Gas amoniak menimbulkan bau yang merangsang dan gas ini tidak berwarna
dengan konsentrasi alamiah antara 6 – 20 ppm. Gas ini selain dihasilkan dari
bakteri pembusuk, juga dihasilkan dari kegiatan industri kimia pupuk. Pada
konsentrasi 3 ppm menimbulkan iritasi mata, saluran pernafasan, dan bersifat
korosif terhadap logam.

9. Hidrokarbon (HC)
Secara global alam menghasilkan sekitar 85 % dari seluruh hidrokarbon yang
ada di udara. Walaupun demikian, di daerah perkotaan sumber hidrokarbon yang
berasal dari aktifitas manusia merupakan jumlah yang terbesar. Berbagai jenis
hidrokarbon juga dihasilkan dari proses biologik yang terjadi pada tumbuhan baik
di hutan-htan maupun di tempat-tempat lain. Sampah organik yang terurai secara
bakteriologik pada umumnya menghasilkan gas metan. Aktifitas manusia
memberikan kontribusi hidrokarbon yang cukup banyak di udara yang dihasilkan
dari pembakaran sampah yang tidak sempurna, minyak, kayu bakar, dan
penggunaan bahan bakar minyak untuk kendaraan bermotor.

Adanya berbagai jenis hidrokarbon di udara membuat sukar dicari pengaruh


spesifiknya terhadap lingkungan. Hidrokarbon yang reaktif memegang peranan
penting dalam pembentukan smog yang ternyata di London (1952) dapat
mengakibatkan kematian. Beberapa jenis hidrokarbon dinyatakan mempunyai
implikasi terhadap masalah kesehatan seperti adanya hubungan antara benzo-(a)-
pyrene dengan pertumbuhan kanker dalam tubuh. Jenis hidrokarbon aromatik juga
dicurigai mempunyai sifat serupa.

134
BAB 8
PARAMETER KIMIA YANG BERHUBUNGAN DENGAN MAKANAN
A. Pengertian dan Peranan Makanan

Menurut WHO, bahwa Makanan adalah semua substansi yang diperlukan tubuh,
kecuali air dan obat-obatan dan substansi-substansi yang dipergunakan untuk
pengobatan. Menurut Departemen Kesehatan RI (2003), bahwa makanan adalah
semua bahan, baik dalam bentuk alamiah maupun dalam bentuk buatan yang
dimakan manusia kecuali air dan obat-obatan.

Makanan diperlukan manusia sebagai sumber energi dan untuk pembangun tubuh
yang berfungsi dalam proses fisiologisnya. Makanan, bila ditekankan fungsinya
maka paling tidak harus memenuhi 2 dan 3 fungsi berikut ini:
1. Memberikan panas dan tenaga kepada tubuh.
2. Membangun jaringan-jaringan tubuh baru, memelihara dan memperbaiki yang
tua,
3. Mengatur proses-proses alamiah, kimiawi atau faali dalam tubuh.

Air dimasukkan pula dalam golongan makanan karena memenuhi fungsi nomor 2
dan 3, dan juga penting dalam pencernaan. Alkohol, kopi dan teh tidak dapat
memenuhi 2 syarat di atas (hanya dapat menghasilkan panas dan tenaga) tapi untuk
kepentingan sanitasi makanan (karena dapat mengantarkan penyakit) maka
digolongkan juga dalam makanan.

135
B. Kegunaan dari Makanan

1. Memberi tenaga untuk bekerja.


2. Untuk pertumbuhan.
3. Melindungi tubuh terhadap beberapa macam penyakit.
4. Mengatur suhu tubuh.
5. Membentuk makanan cadangan di dalam tubuh.

C. Jumlah Kebutuhan Makanan

Manusia dapat bertahan hidup hingga 3 minggu tanpa makanan dan dibawah 3
hari tanpa minum dan 10 hingga 15 menit tanpa oksigen. Untuk mencapai tingkat
kehidupan yang baik, kita hendaknya mengetahui jumlah dan macam makanan
yang diperlukan. Jumlah kebutuhan makanan sehari untuk individu berbeda-beda ini
ditentukan oleh:

1. U m u r.
2. J e n i s.
3. Macam pekerjaan yang dilakukan.
4. I k l i m.
5. Tinggi dan berat badan.
6. Keadaan individu.

Tetapi pada dasarnya kita semua memerlukan makanan yang memenuhi syarat
syarat sebagai berikut:

1. Enak rasanya
Makanan harus bisa dinikmati oleh seseorang untuk menimbulkan selera
makan, ini berhubungan dengan kebiasaan atau adat. Oleh karena itu jenis-jenis
makanan harus diberi bumbu-bumbu atau zat-zat warna supaya bisa menarik.
Untuk itu harus dipilih bahan-bahan yang tidak membahayakan kehidupan.
2. Bersih dan Sehat

136
Kebersihan makanan sangat mempengaruhi selera makan selain sangat penting
dari segi kesehatan. Makanan yang kotor mungkin mengandung pathogen atau
toxin yang sangat membahayakan.
3. Memenuhi gizi yang cukup
Untuk mempertahankan kehidupannya, manusia harus memakan makanan yang
mengandung beberapa konstituen penting, yaitu:
a. Tepung/Gula/lemak yang merupakan sumber tenaga.
Kebutuhan zat tepung bagi seseorang yang normal ± 2.000 kal/hari, 1 gram zat
lemak memberikan 9 kalori.
b. Protein yang sangat berguna untuk memperbaiki jaringan yang rusak, membuat
jaringan baru, dan untuk pembentukan tulang, rambut, kuku, dan lain-lain.
c. Mineral terutama diperlukan untuk pembentukan tulang, mempengaruhi kerja
otot.
d. Vitamin, merupakan zat pelengkap kebutuhan makanan.
e. Mudah dicerna dan diserap oleh tubuh.

Makanan sebaiknya dipilih yang sedapat mungkin siap digunakan oleh tubuh.
Jenis-jenis makanan tertentu mungkin mengandung jumlah protein yang tinggi,
tetapi nilai penyerapannya rendah.

D. Kebutuhan Makanan
Kebutuhan akan makanan itu meliputi:
1. A i r
a. Sebagai bahan pembangun.
Air adalah bagian yang penting dari semua sel tubuh. Tubuh mengandung
70 % air. Tulang yang kelihatan keras itu mengandung 1/3 air, darah
mengandung 4/5 air.
b. Sebagai alat pengatur.
Air merupakan bahan pelarut dari berbagai bahan dalam tubuh. Sebagai
larutan, bahan-bahan ini dapat bereaksi dan dapat dibawa ke bagian-bagian

137
tubuh yang membutuhkannya. Di samping itu air diperlukan untuk menjaga
suhu tubuh agar tetap. Semua bahan makanan mengandung air dalam jumlah
yang berbeda-beda, baik itu bahan makanan hewani maupun nabati. Air
berperan sebagai pembawa zat-zat makanan dan sisa metabolisme, sebagai
media reaksi dan sebagainya.
Kandungan air sangat berpengaruh terhadap bahan pangan dimana sebagian
besar bahan pangan segar mempunyai kadar air 70 % atau lebih. Sebagai
contoh: sayuran dan buah-buahan segar mempunyai kadar 70 - 95 %; susu 85 -
90 %; ikan 70 – 80 %; telur 7,5 %; dan daging 60 – 70 %, juga kadar air sangat
menentukan keawetan bahan pangan. Beberapa bebijian yang diperdagangkan
di pasar mempunyai kadar tertentu, misal beras 14 %, kacang dan kedelai 8 %.
Pada kadar air tersebut beras, kacang dan kedelai mempunyai keawetan dan
daya simpan lebih lama jika dibandingkan pada saat bahan pangan dalam
keadaan segar, kadar airnya lebih tinggi.
Di dalam bahan pangan, air terdapat dalam bentuk bebas dan terikat. Air
bebas mudah dihilangkan dengan cara penguapan atau pengeringan sedang air
terikat sangat sukar dihilangkan. Air merupakan bahan yang sangat penting
bagi semua makhluk hidup. Jumlah air yang terdapat dalam tubuh manusia
sekitar 80 %. Proses fisiologis dalam tubuh manusia dapat berjalan karena
adanya air, serta semua kegiatan sel berlangsung dengan bantuan air. Oleh
karena itu manusia lebih mudah mati karena kehausan dari pada karena
kelaparan.
2. Karbohidrat dan Lemak
Tubuh manusia pada umumnya mengandung 1 % KH dan kira-kira 15 %
Lemak. Kedua zat ini mengandung unsur-unsur C, H, dan O yang sangat penting
dalam pembentukan energi. Tubuh manusia atau binatang tergantung sepenuhnya
pada makanan yang dimakannya untuk kebutuhan pemanasan dan tenaga untuk
bergerak. Jadi, kedua bahan ini merupakan sumber pokok pembentukan panas dan
energi.
1 gram KH = 4,1 cal.
1 gram lemak = 9,3 cal.

138
Seseorang dengan berat normal tanpa kegiatan membutuhkan 11700 cal/hari,
sedangkan untuk pekerja berat kebutuhan calori bisa mencapai 4.000 – 5.000
calori. Karbohidrat dan lemak merupakan sumber panas dan energi bagi tubuh,
atau dapat juga disimpan dalam bentuk fat (lemak). Sumber-sumber makanan
yang memenuhi kebutuhan tubuh akan enegi dan panas adalah makanan yang
mengandung gula dan pati, seperti beras, kentang, roti, makaroni. Sedang
makanan yang banyak mengandung lemak seperti kacang-kacangan, coklat,
daging yang berlemak, sosis, juga menghasilkan panas yang banyak atau
merupakan sumber lemak yang disimpan dalam tubuh.
Karbohidrat merupakan sumber kalori utama bagi hampir seluruh penduduk
dunia, khususnya bagi penduduk negara berkembang. Walaupun jumlah kalori
yang didapatkan dalam 1 gram karbohidrat hanya 4 kalori, namun bila
dibandingkan dengan protein dan lemak, karbohidrat merupakan sumber kalori
yang lebih murah. Selain itu beberapa karbohidrat mengandung serat-serat yang
berguna bagi pencernaan.
Karbohidrat merupakan sumber energi yang diperlukan oleh tubuh manusia
maupun hewan, yang mengandung kalori sebesar 4,2 kalori dalam setiap gram
karbohidrat, dan setiap gram protein mengandung 4 kalori.
Karbohidrat juga mempunyai peranan penting dalam menentukan karakteristik
bahan pangan dalam menentukan karakteristik bahan pangan, misalnya rasa,
tekstur, dan lain-lain. Sedangkan dalam tubuh karbohidrat berguna untuk
mencegah timbulnya ketosis, pemecahan molekul protein tubuh secara
berlebihan, kehilangan mineral dan berguna untuk membantu metabolisme lemak
dan protein.
Unsur-unsur yang membentuk karbohidrat ialah Karbon (C), Hidrogen (H),
Oksigen (O), dan Nitrogen. Dalam tubuh karbohidrat dapat dibentuk dari
beberapa asam amino dan sebagian dari gliserol lemak. Tetapi sebagian besar
karbohidrat diperoleh dari bahan makanan yang dimakan sehari-hari, terutama
bahan makanan yang berasal dari tumbuhan. Pada tanaman, karbohidrat dibentuk
dari reaksi CO2 dan H2O dengan bantuan sinar matahari melalui proses
fotosintesis dalam sel tanaman yang berklorofil.

139
Reaksi Fotosintesa:

CO2 + H2O ------------------------------------------- (C6H12O6)n + O2

Sinar matahari

Karbohidrat dapat pula disintesis secara kimia, misalnya pada pembuatan sirup
formosa yang dibuat dengan menambahkan larutan alkali encer pada
formaldehida. Cara yang lebih mudah dan murah untuk mendapatkan karbohidrat
adalah dengan mengekstraknya dari bahan-bahan nabati sumber karbohidrat
seperti sagu.
Sumber karbohidrat yang merupakan bahan makanan pokok diberbagai daerah di
Indonesia ialah beras dan jagung.
Pada umumnya karbohidrat dapat dikelompokkan menjadi monosakarida, serta
polisakarida. Monosakarida merupakan suatu molekul yang dapat terdiri dari lima
atau enam atom C, sedang oligosakarida merupakan polimer dari 2 – 10
monosakarida, dan pada umumnya polisakarida merupakan polimer yang terdiri
dari 10 monosakarida.
Lemak adalah bahan-bahan yang mengandung asam lemak. Lemak yang cair
dalam temperatur biasa disebut minyak (oil), sedang lemak yang berbentuk padat
disebut lemak (fat).
Lemak sebagai sumber energi dan sebagai cadangan makanan, penting untuk
menyusun membran plasma mitokondria yang merupakan komponen-komponen
dalam sel. Satu gram lemak mengandung kalori sebesar 7,3 kalori.

Struktur kimia dari lemak terdiri dari ikatan antara asam lemak dan gliserol.
Dalam peristiwa hidrolisa maka lemak akan terurai menjadi satu molekul gliserol
dan tiga molekul asam lemak. Sejenis lemak yang disebut palmitin misalnya
dalam peristiwa hidrolosa akan terurai menjadi satu molekul gliserol dan molekul
asam palmitin.

Reaksi ini C3H5(C16H31O2)2 -------------------- <=> C3H5(OH)3 + 3

C16H32 O2

140
Rumus umum kimia lemak adalah:

CH2OCOCn H2n + 1

Pada umumnya, baik lemak padat ataupun cair, struktur kimianya tidaklah
berbeda dari rumus kimia umumnya. Adanya asam-asam lemak dalam lemak
memberikan rasa berbeda-beda setiap macam lemak, demikian juga susunannya.

Lemak merupakan zat penting yang dibentuk oleh tubuh manusia karena dapat
menjadi sumber energi yang efektif dibandingkan dengan karbohidrat dan protein,
juga dapat mencegah penyempitan pembuluh darah akibat penumpukan
kolesterol, serta berfungsi sebagai sumber dan pelarut bagi vitamin A, D, E dan K.
Lemak hampir terdapat pada semua sumber bahan pangan dengan kandungan
berbeda-beda. Tetapi lemak sering ditambahkan dengan sengaja ke bahan
makanan dengan berbagai tujuan, antara lain sebagai media penghantar panas,
menambah kalori, memperbaiki tekstur dan citra rasa bahan pangan seperti pada
kembang gula, kue-kue dan sebagainya.

Berbagai bahan pangan seperti daging, ikan, telur, susu, alpokat, kacang tanah
dan beberapa sayuran mengandung lemak yang biasanya termakan bersama bahan
tersebut. Lemak dalam bentuk ini dikenal dengan istilah lemak tersembunyi
(invisible fat). Sedang lemak yang telah diekstraksi dari ternak atau bahan nabati
dan dimurnikan dikenal sebagai lemak biasa atau lemak kasat mata (visible fat).

3. Protein
Merupakan makanan yang sangat penting untuk pembangun tubuh atau untuk
mengganti sel-sel yang rusak. Berdasarkan hasil penelitian, protein ini sangat
berpengaruh terhadap kecerdasan. Oleh karena itu dalam usaha meningkatkan
kualitas hidup manusia dan mencegah kematian balita khususnya, protein sangat
memegang peranan penting dalam kehidupan manusia.
Tanpa Karbohidrat dan lemak manusia atau binatang bisa tahan hidup untuk
jangka waktu yang cukup lama, tetapi kalau protein tertentu tidak terkandung
dalam makanannya dia akan mati dalam waktu yang relatif singkat. Protein
berbeda dengan KH dan Lemak dalam komposisi molekulnya yaitu mengandung

141
unsur N selain C, H dan O. Mungkin juga mengandung unsur N selain C, H dan
O. H, mungkin juga mengandung sulphur, phosphor atau juga zat besi, mangan
dan sebagainya.

Protein terbagi menjadi 2 golongan:

a. Berasal dari hewan, dinamakan protein hewani, seperti yang terdapat pada
daging, ikan, ayam, telur, dan keju.
b. Berasal dari tumbuhan, dinamakan protein nabati, seperti pada kacang tanah,
kacang kedele, kacang merah, kacang hijau, jagung, tahu, tempe.
Protein merupakan suatu zat makanan yang amat penting bagi tubuh, karena zat
ini berfungsi juga sebagai zat pembangun dan pengatur. Protein adalah sumber
asam-asam amino yang mengandung unsur-unsur C, H, O dan N yang tidak
dimiliki oleh lemak dan karbohidrat. Molekul protein mengandung pula fosfor
(P), belerang (S), dan ada jenis protein yang mengandung unsur-unsur logam
seperti besi (Fe) dan tembaga (Cu). Fungsi utama protein bagi tubuh ialah untuk
membentuk jaringan baru dan mempertahankan jaringan yang telah ada. Namun
protein dapat pula digunakan sebagai bahan bakar apabila keprluan energi tubuh
tidak terpenuhi oleh karbohidrat dan lemak.
Pada dasarnya protein dibentuk oleh satuan-satuan asam amino yang
membentuk polimer sehingga merupakan senyawa panjang. Molekul asam amino
mempunyai gugus amino (- NH2) yang bersifat basa dan gugus karboksil (-
COOH) yang bersifat asam. Keadaan tersebut memungkinkan asam amino
bereaksi baik dengan asam, maupun basa serta pereaksi-pereaksi lainnya. Gugus
amino dari asam amino dapat bereaksi dengan gugus karboksil dari asam amino
lainnya dengan mengeluarkan satu molekul H2O dan membentuk ikatan peptida
disebut dipeptida. Gugus amino dan karboksil bebas dari dipeptida tersebut dapat
bereaksi lagi dengan asam-asam amino lainnya membentuk polipeptida.
Protein dapat mengalami kerusakan yang disebabkan oleh pengaruh-pengaruh
panas, reaksi kimia dengan asam atau basa, goncangan atau sebab lainnya.
Sebagai contoh misalnya protein dalam larutan pH tertentu dapat mengalami
denaturasi dan mengendap. Perubahan-perubahan tersebut di dalam makanan

142
mudah dikenal dengan terjadinya penggumpalan atau pengerutan, misalnya putih
telur akan menggumpal dan daging akan mengkerut karena pemanasan atau susu
akan menggumpal karena asam.
Disamping mengalami denaturasi, protein dapat pula mengalami degradasi
yaitu pemecahan molekul kompleks menjadi molekul yang lebih sederhana oleh
pengaruh asam, basa atau enzim. Hasil-hasil degradasi protein dapat berbentuk
proteosa, pepton, polipeptida, asam amino, NH3 dan unsur N. Disamping itu dapat
juga dihasilkan komponen-komponen yang menimbulkan bau busuk misalnya
merkaptan, skatol, putrescine dan H2S.
4. Bahan-bahan Pelengkap
Bahan pelengkap ini adalah bahan makanan yang jumlahnya sedikit tetapi
keberadaannya sangat dibutuhkan pada makanan. Bila tidak ada bahan tambahan
ini makan bahan makanan tersebut disebut bahan makanan tidak lengkap. Bahan
makanan yang termasuk bahan pelengkap adalah vitamin dan mineral.
a. Vitamin
Vitamin adalah zat makanan yang diperlukan untuk mempertahankan
kesehatan tubuh juga sebagai zat yang diperlukan untuk pertumbuhan, menjaga
kesehatan pada umumnya dan reproduksi. Fungsinya: Tiap vitamin mempunyai
fungsi tertentu, yang satu tidak dapat menggantikan yang lain.
Beberapa fungsi vitamin adalah:
1) Penggunaan makanan oleh tubuh.
2) Pertumbuhan.
3) Pembentukan tulang.
4) Pembentukan jaringan-jaringan tertentu dan daya tahan terhadap penyakit.
5) Pembentukan butir-butir darah merah.
6) Pembentukan darah.

Untuk menjaga keseimbangan fungsi fisiologis dalam tubuh diperlukan


vitamin. Pada umumnya vitamin dibagi atas dua golongan yaitu vitamin yang
larut dalam air (Vitamin B, C) dan vitamin yang larut dalam lemak (Vitamin
A, D, E, K). Kekurangan salah satu vitamin, akan mengakibatkan

143
keseimbangan fisiologis tubuh terganggu, misalnya kekurangan vitamin A
akan mengakibatkan kebutaan (xerophtalmia). Berdasarkan uraian di atas
dalam usaha meningkatkan kualitas hidup manusia, persyaratan-persyaratan
yang dikemukakan di atas harus dipenuhi, artinya bagaimana manusia harus
hidup sehat, dimana faktor-faktor lingkungan sangat menentukan.

Macam-macam vitamin.

Vitamin dibedakan dalam 2 kelompok:

1) Vitamin yang larut dalam air.


a) Vitamin B Compleks.
Hingga saat ini dikenal lebih dari 10 macam vitamin B Compleks,
antara lain:
(1) Vitamin B1 (Thiamin)
Sangat penting untuk pertumbuhan yaitu dalam proses oksidasi
Pyravic Acid dari karbohidrat. Kekurangan vitamin ini menyebabkan
kurang nafsu makan, denyut jantung berkurang, kegelisahan, suka
berak karena akumulasi pyravic acid dalam jaringan tubuh. Banyak
terdapat terutama pada bijian, kuning telur dan susu.
(2) Vitamin B2 (Riboflavin)
Penting terutama untuk kulit, juga bekerja sebagai enzym dalam
oksidasi pyravic acid. Bisa mempengaruhi fungsi mata. Banyak
terdapat pada hati, daging, telur, dan daun-daunan.
(3) Niacin
Memegang peranan penting dalam pemeliharaan kesehatan
jaringan-jaringan tubuh. Kekurangan Niacin akan menyebabkan
penyakit “Pellagra”’ fungsi saluran pencernaan terganggu dengan
nafsu makan tidak ada. Banyak terdapat pada hati, daging, susu dan
kacang-kacangan.
(4) Vitamin B12

144
Memegang peranan dalam pembentukan butir-butir darah merah
dan pertumbuhan. Kekurangan vitamin ini menyebabkan pucat,
kurang darah dan pertumbuhan terlambat. Banyak terdapat pada
beras merah.
b) Vitamin C.
Vitamin ini sangat penting untuk respirasi sel, regenerasi darah,
pemeliharaan kekuatan pembuluh darah, pertumbuhan gigi dan tulang
serta pertumbuhan jaringan tubuh. Bahan pangan yang merupakan bahan
sumber vitamin C adalah jeruk, tomat dan cabe hijau. Kentang juga
mengandung Vitamin C walaupun dalam jumlah sedikit. Susu, bijian dan
daging sedikit sekali mengandung vitamin C. Kekurangan vitamin
menyebabkan kerapuhan dinding-dinding kapiler, gusi berdarah, gigi
mudah tanggal dan penyakit pada sendi tulang. Vitamin C mudah rusak
karena oksidasi terutama pada suhu tinggi vitamin ini mudah hilang
selama pengolahan dan penyimpanan.
2) Vitamin yang larut dalam lemak.
Vitamin: A, D, E, dan K.
a) Vitamin A
Sangat penting untuk pertumbuhan. Kekurangan vitamin A dalam
makanan menyebabkan seseorang menjadi rentan terhadap penyakit-
penyakit: paru-paru, mata, telinga, dan sinus. Banyak terdapat pada
sayur-sayuran segar, juga pada kuning telur, susu, hati, dan mentega.
b) Vitamin D
Berhubungan erat dengan vitamin dan dalam pertumbuhan seseorang,
tetapi yang khusus bagi vitamin D adalah: mencegah penyerangan
ricketsis dan membantu deposisi C dan D dalam perkembangan tulang.
Sumber vitamin D terdapat pada sinar matahari, ikan, minyak ikan, susu
dan kuning telur.
c) Vitamin E

145
Dinamakan juga vitamin anti kemandulan. Fungsi yang penting adalah
mempengaruhi kesuburan dalam reproduksi. Banyak terdapat pada
makanan yang berlemak, lemak susu, daging, slada, dan lain-lain.
d) Vitamin K
Sangat penting untuk proses koagulasi darah. Banyak terdapat pada
daun-daunan, hati, minyak kedelai, susu dan hasil produksi susu.

Makanan yang mengandung konstituen seperti di atas belum tentu cukup


memuaskan untuk konsumsi kita. Karena itu dalam penelitian bahan makanan perlu
pertimbangan, bahwa:

1. Manusia memerlukan makanan yang enak rasanya (palatable).


2. Manusia memerlukan makanan yang bersih dan sehat (clean and whole sose).
3. Manusia memerlukan makanan yang mudah terurai (Digestible).
4. Manusia memerlukan makanan yang murah harganya.

b. Mineral dan Garam-garam

Jumlah mineral yang ada dalam tubuh manusia adalah sangat kecil tetapi ini
sangat penting bagi tubuh. Tulang-tulang pada prinsipnya adalah susunan dari
pada Calsium dan phosphor plus sedikit magnesium. Oleh karena itu elemen-
elemen tersebut terdapat dalam jumlah yang cukup di dalam makanan sehari-
hari untuk memelihara tulang-tulang. Selain itu juga diperlukan mineral-
mineral lain seperti:

1) Sodium.
2) Potasium.
3) Phosphor.
4) Magnesium.
Walaupun tidak semua protein mengandung unsur-unsur ini. Kebutuhan
yang paling besar adalah kebutuhan akan Ca dan P, yang terdapat banyak pada
daun-daunan, buah-buahan dan susu. Buah juga merupakan sumber zat besi,
potasium dan Yodium. Dalam hal ini mineral susu juga merupakan makanan

146
yang bagus sekali karena mengandung Ca, Potasium, Magnesium dan sodium.
Dalam ratio yang ada mirip dengan yang terdapat pada manusia. Ca selain
berguna untuk pembentukan tulang, juga berguna untuk mempengaruhi kerja
jaringan otot, seperti otot jantung.
Sekitar 70 % mineral untuk membangun tubuh terdiri dari: kalsium,
natrium, kalium, fosfor, belerang, khlor dan besi. Mineral-mineral tersebut
diperlukan untuk pembangun tubuh dan pengaturan-pengaturan (regulasi),
misalnya kalsium (Ca) penting untuk tulang dan gigi, demikian juga halnya
dengan fosfor.
Natrium (Na) diperlukan untuk memelihara keseimbangan asam dan basa
diperlukan kira-kira 5 mg/hari. Kalium (K) berfungsi untuk keseimbangan
asam dan basa serta untuk aktifitas otot dan syaraf, diperlukan sebanyak 4
mg/hari. Khlor diperlukan untuk keseimbangan asam dan basa, sangat penting
untuk pembentukan asam lambung. Diperoleh dalam bentuk garam (NaCl)
dalam makanan. Belerang diperlukan untuk pembentukan protein, sedangkan
besi (Fe) diperlukan untuk pembentukan haemoglobin dalam sel darah merah.
Sebagai besar bahan pangan terdiri dari bahan organik dan air (96 %), sisanya
terdiri dari unsur-unsur mineral. Unsur mineral juga dikenal sebagai zat
organik atau kadar abu. Dalam proses pembakaran bahan organik terbakar
tetapi zat organiknya tidak. Sampai sekarang telah diketahui ada 14 jenis unsur
mineral yang diperlukan manusia agar memiliki kesehatan dan pertumbuhan
yang baik. Mineral yang sudah dikenal adalah magnesium dan
belerang. Unsur-unsur ini terdapat dalam tubuh dalam jumlah yang cukup
besar dan karenanya disebut unsur makro. Sedangkan unsur mineral lain
seperti besi, yodium, mangan, tembaga, seng, kobalt dan fluor hanya terdapat
dalam tubuh dalam jumlah yang kecil saja, karena itu disebut trace elements,
mineral mikro.
Beberapa elemen lainnya termasuk aluminium dan boron telah ditemukan
dalam jaringan tubuh hewan, tetapi belum diketahui apakah elemen-elemen
tersebut benar-benar mempunyai fungsi khusus dalam tubuh manusia. Dalam
tubuh, mineral-mineral ada yang bergabung dengan zat organik ada pula yang

147
berbentuk ion-ion bebas. Di dalam tubuh unsur-unsur mineral ini berfungsi
sebagai zat pembangun dan pengatur.

E. Faktor-faktor Kimia Yang Mempengaruhi Kondisi Makanan


Macam-macam penyakit dapat ditularkan melalui makanan, hal ini disebabkan
karena keadaan lingkungan yang kurang baik. Faktor-faktor kimia yang dapat
mempengaruhi makanan, meliputi: pestisida, food additive (bahan tambahan),
antibiotika dan logam-logam. Zat kimia seperti herbisida (pembasmi tanaman),
fungisida (pembasmi jamur), insektisida (pembasmi serangga), germisida (pembasmi
kuman) bila dicerna dalam jumlah besar bisa menjadi keracunan.
Beberapa antibiotika tertentu telah mendapatkan persetujuan dari badan
administrasi makanan dan obat-obatan untuk digunakan dalam keperluan
pengawetan daging ayam pada konsentrasi tertentu. Yang disetujui antara lain adalah
dari jenis yang disebut Klortetra Siklin atau Aureomisin; Oksitetrasiklin atau
teramisin.
Logam juga bisa terkena makanan dengan menggunakan peralatan kecil-kecil
pada pemrosesan dan pelayanan makanan. Tempat-tempat penampungan makanan
dan panci-panci yang belum tentu cocok untuk makanan. Misalnya tempat memasak
yang mengandung cadmium, yaitu peralatan pinggan, antimoni, yaitu gelas email
abu-abu dan seng bisa mengantarkan racun. Sel-sel pada lemari pendingin bisa saja
mengandung cadmium.
Makanan seperti daging bila langsung ditempatkan pada tempat-tempat tersebut
bisa menyebabkan terjadinya proses keracunan. Timah telah dikenal mengandung
unsur yang bisa digunakan untuk menyimpan buah-buahan yang sangat tinggi kadar
asamnya atau jus (juice), sedangkan seng digunakan dalam galvanisasi kaleng
makanan yang membebaskan makanan asam beracun, misalnya jus buah-buahan dan
salad asam. Cadmium, timah dan seng dapat larut melalui kegiatan asam dan kaleng
yang mengandung cadmium, timah serta seng yang bersinggungan dengan makanan
tidak cocok digunakan sebagai sarana penyimpan makanan. Sayangnya, kaleng
pembungkus yang mempunyai potensi berbahaya kadang-kadang digunakan dalam
keadaan “terjepit” bila berlangsung kegiatan pelayanan makanan pada masyarakat.

148
Tembaga telah menyebabkan terjadinya akibat negatif pada pencernaan makanan bila
bersentuhan dengan makanan yang asam dan cairan yang mengandung Carbon.

F. Bahan Tambahan Pangan (Food Additive)

Undang-undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan pasal 10:

(1) Setiap orang yang memproduksi pangan untuk diedarkan dilarang menggunakan
bahan apapun sebagai bahan tambahan pangan yang dinyatakan dilarang atau
melampaui ambang batas maksimal yang ditetapkan;
(2) Pemerintah menetapkan lebih lanjut bahan yang dilarang dan atau dapat
digunakan sebagai bahan tambahan pangan dalam kegiatan atau proses produksi
pangan serta ambang batas maksimal sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Sanksi Hukum

Pasal 55 dan 56

Pelanggaran terhadap ketentuan Undang-undang ini karena:

(1) Dengan sengaja: dipidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan atau denda
paling
banyak Rp. 600.000,-
(2) Karena kelalaiannya: dipidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan atau denda
paling banyak Rp. 120.000.000,-

Pasal 57

Pidana dalam pasal 55 dan 56 ditambah seperempat apabila menimbulkan kerugian


terhadap kesehatan manusia atau ditambah sepertiga apabila menimbulkan kematian.

Intisari dari Undang-undang Nomor 7 Tahun 1996:

(1) Pangan termasuk makanan dan bahan makanan, baik yang siap dimakan maupun
yang perlu pengolahan lebih lanjut.

149
(2) Proses produksi, penyimpanan, pengangkutan dan atau peredaran pangan wajib
memenuhi persyaratan sanitasi.

(3) Dalam pengolahan pangan untuk diedarkan dilarang menggunakan bahan apapun
yang dinyatakan dilarang atau bahan tambahan pangan yang melampaui
ambang batas maksimal yang ditetapkan.

(4) Pelanggaran dapat dikenakan sanksi hukum baik penjara maupun denda.

1. Definisi Bahan Tambahan Pangan “Food Additive”

FAO dan WHO (1956) dalam kongresnya di Roma menetapkan bahwa “food
additive” adalah bahan-bahan yang ditambahkan dengan sengaja ke dalam
makanan dalam jumlah sedikit yaitu untuk memperbaiki warna, bentuk, cita rasa,
tekstur, atau memperpanjang masa simpan. Bahan Tambahan Makanan (BTM)
didefinisikan adalah bahan yang biasanya tidak digunakan sebagai makanan dan
biasanya bukan merupakan komposisi khas makanan, mempunyai atau tidak
mempunyai nilai gizi, yang dengan sengaja ditambahkan ke dalam makanan untuk
maksud teknologi (termasuk organoleptik pada pembuatan, pengolahan,
penyimpanan atau pengangkutan makanan. Bahan-bahan yang sebelumnya tidak
terdapat di dalam makanan tersebut dan sengaja ditambahkan untuk memperbaiki
nilai gizinya misalnya vitamin-vitamin dan mineral tidak termasuk ke dalam “food
additive”.

Vitamin dan mineral dapat digunakan sebagai “food additive” jika vitamin atau
mineral tersebut sebelumnya telah ada di dalam makanan, hanya jumlahnya perlu
ditambah. “Food Additive” yang digunakan harus mempunyai sifat-sifat sebagai
berikut: dapat mempertahankan nilai gizi makanan tersebut, tidak mengurangi zat-
zat esensial di dalam makanan, dapat mempertahankan atau memperbaiki mutu
makanan, dan menarik bagi konsumen tetapi tidak merupakan suatu penipuan.

“Food additive” yang tidak boleh digunakan diantaranya adalah yang


mempunyai sifat-sifat sebagai berikut: dapat merupakan penipuan bagi konsumen,
menyembunyikan kesalahan dalam teknik penanganan atau pengolahan, dapat

150
menurunkan nilai gizi makanan, atau jika tujuan dan penambahan “food additive”
tersebut ke dalam makanan masih dapat digantikan oleh perlakuan-perlakuan lain
yang praktis dan ekonomis. Peraturan pemakaian bahan kimia sebagai “food
additive” telah disusun dalam “food Chemical Codes” yang dikeluarkan pada
tahun 1960 oleh “Food Protection Committee” dan “National Academy of
Sciences Nation Research Council”, dan telah disetujui oleh FDA (Food and
Drug Administration).

2. Tujuan Penggunaan Bahan Tambahan Pangan


Bahan Tambahan Makanan digunakan dengan tujuan adalah untuk
menghasilkan atau diharapkan menghasilkan (langsung atau tidak langsung) suatu
komponen makanan atau mempengaruhi sifat khas makanan. Untuk meningkatkan
kualitas makanan dapat pula diupayakan pengolahan makanan dengan
penggunaan Bahan Tambahan Makanan (BTM) agar kualitas makanan tetap
terjaga sehingga cita rasa dan penampilannya semakin baik.
Penggunaan Bahan Tambahan Makanan hanya dibenarkan “jika” ditujukan
untuk keperluan berikut:
a. Mempertahankan nilai gizi makanan.
b. Konsumsi segolongan orang tertentu yang memerlukan diit.
c. Mempertahankan mutu atau kestabilan makanan atau untuk memperbaiki sifat-
sifat organoleptiknya hingga tidak menyimpang dari sifat alamiahnya.
d. Keperluan pembuatan atau pengolahan, penyediaan, perlakuan, pewadahan,
pembungkusan, pemindahan atau pengangkutan makanan.

Penggunaan Bahan Tambahan Makanan tidak diperbolehkan untuk hal-hal


sebagai berikut:

a. Menyembunyikan cara pembuatan atau pengolahan yang tidak baik.


b. Mengelabui konsumen, misalnya untuk memberi kesan baik pada suatu
makanan yang dibuat dari bahan yang kurang baik mutunya.
c. Mengakibatkan penurunan nilai gizi pada makanan.

151
Penyimpangan atau pelanggaran mengenai penggunaan BTM yang sering
dilakukan oleh produsen pangan, yaitu:

a. Menggunakan bahan tambahan yang dilarang penggunaannya untuk makanan.


b. Menggunakan BTM melebihi dosis yang diizinkan.

Persyaratan Bahan Tambahan Makanan yang dapat digunakan adalah sebagai


berikut:

a. Harus telah mengalami pengujian dan evaluasi toksikologi.


b. Harus tidak membahayakan kesehatan konsumen pada kadar yang diperlukan
dalam penggunaannya.
c. Harus selalu dipantau terus-menerus dan dilakukan evaluasi kembali jika perlu
sesuai dengan perkembangan teknologi dan hasil evaluasi toksikologi.
d. Harus selalu memenuhi persyaratan spesifikasi dan kemurnian yang telah
ditetapkan.
e. Harus dibatasi penggunaannya hanya untuk tujuan tertentu dan hanya jika
maksud penggunaan tersebut tidak dapat dicapai dengan cara lain secara
ekonomis dan teknis.
f. Sedapat mungkin penggunaannya dibatasi agar makanan tertentu dengan
maksud tertentu dan kondisi tertentu serta dengan kadar serendah mungkin
tetapi masih berfungsi seperti yang dikehendaki.

Dalam penggunaan Bahan Tambahan Makanan harus selalu dilakukan


pengamatan dan evaluasi ulang dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai
berikut:

a. Berdasarkan penelitian ilmu mutakhir, suatu bahan tambahan makanan yang


sebelumnya dianggap aman bisa dianggap menjadi tidak aman lagi.
b. Kadar yang diperkenankan dapat berubah menjadi lebih kecil atau lebih besar
sesuai dengan kemajuan teknologi pengolahan makanan.
3. Pengaturan dan Pengawasan BTM (Food Additive Control)

152
Pengaturan dan pengawasan Bahan Tambahan Makanan (BTM) dimaksudkan
agar hanya bahan yang diizinkan saja yang digunakan pada pengolahan makanan,
dimana bahan tersebut betul-betul diperlukan untuk pengolahan makanan
bersangkutan, mutunya harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan dan
jumlahnya sesuai dengan cara produksi yang baik atau tidak melebihi batas
maksimum yang diizinkan. Penggunaan Bahan Tambahan Makanan di Indonesia
telah diatur dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor:
722/Menkes/Per/IX/1988 tentang Bahan Tambahan Makanan sebagai pengganti
Peraturan Menkes RI Nomor: 235 Tahun 1979.

Dalam Peraturan tentang Bahan Tambahan Makanan ini yang diatur antara
lain:

a. Jenis bahan tambahan makanan yang diizinkan, demikian juga yang dilarang
digunakan untuk makanan.
b. Batas penggunaan bahan tambahan pada masing-masing makanan yang
diizinkan untuk menggunakan bahan tersebut.
c. Ketentuan tentang penandaan makanan yang mengandung bahan tambahan
makanan.
d. Produksi dan import bahan tambahan makanan.

Sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam peraturan tersebut di atas,


maka dalam memilih bahan tambahan makanan yang akan digunakan oleh
produsen makanan perlu memperhatikan hal-hal berikut:

a. Bahan tambahan tersebut diizinkan penggunaannya untuk makanan.


b. Fungsinya sesuai dengan tujuan pengolahan yang diinginkan.
c. Bahan tambahan tersebut sesuai atau cocok dengan jenis makanan yang akan
diolah.
d. Jumlah yang digunakan dalam makanan secukupnya saja sesuai dengan cara
produksi yang baik, atau tidak melebihi batas maksimum penggunaannya.

153
Penggunaan bahan tambahan lain atau menggunakan dengan tujuan lain, selain
yang dimaksud dalam Permenkes RI Nomor: 722/Menkes/Per/IX/1988 hanya
dapat diizinkan setelah mendapat persetujuan, sesuai dengan Surat Keputusan
Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Nomor: 02592/B/VIII/91
tentang Penggunaan Bahan Tambahan Makanan. Selain peraturan tersebut di atas,
Departemen Kesehatan juga telah menerbitkan:

a. Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor: 43/Menkes/SK/II/1979 yang


menetapkan persyaratan mutu untuk masing-masing bahan tambahan makanan
seperti dimuat pada Kodeks Makanan Indonesia (KMI) yang telah diangkat
menjadi Standar Nasional Indonesia (SNI).
b. Permenkes RI Nomor 208/Menkes/Per/IV/1985 tentang pemanis buatan.
c. Keputusan Dirjen Pengawasan Obat dan Makanan Nomor:
2987/B/SK/XII/1990 tentang Pendaftaran Bahan Tambahan Makanan tertentu.

Khusus untuk pemanis buatan yang telah diatur dalam Permenkes nomor 208
tahun 1985 menetapkan Aspartam, Sakarin, Siklamat serta Sorbitol merupakan
pemanis buatan yang boleh diproduksi diimpor dan diedarkan.

Pemanis buatan adalah bahan kimia yang dibuat secara sintetis yang karena
rasanya manis dapat digunakan khusus yaitu untuk penderita diabetes dan untuk
orang yang membutuhkan makanan berkalori rendah.

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan sebenarnya siklamat dan sakarin hanya


boleh digunakan dalam makanan yang khusus ditujukan untuk orang yang
menderita diabetes atau sedang menjalani diet kalori. Amerika dan Jepang bahkan
sudah melarang sama sekali penggunaan kedua pemanis tersebut karena terbukti
berbahaya bagi kesehatan.

Untuk makanan yang mengandung pemanis buatan pada labelnya harus


dicantumkan:

a. Tulisan “mengandung pemanis buatan”.

154
b. Tulisan “mengandung gula dan pemanis buatan”, jika makanan tersebut
mengandung gula juga.
c. Jumlah mg pemanis buatan tiap kg makanan.
d. Jumlah pemanis buatan yang dapat digunakan tiap hari per kg berat badan.
e. Tulisan “untuk penderita diabetes dan atau orang membutuhkan makanan
berkalori rendah.

Khusus untuk pewarna makanan, Departemen Kesehatan menerbitkan


Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 239/Menkes/Per/V/1985 tentang zat
warna tertentu yang dinyatakan sebagai Bahan Berbahaya dan Keputusan Dirjen
POM Nomor 01415/B/SK/IV/1991 tentang Tanda Khusus Pewarna Makanan.
Tujuan diterbitkannya peraturan ini adalah untuk “mencegah digunakannya” zat
warna yang bukan untuk makanan dalam pengolahan makanan.

Peraturan dan keputusan tersebut di atas tujuannya agar bahan tambahan


makanan yang beredar memenuhi persyaratan mutu kesehatan. Produsen makanan
perlu memperhatikan label bahan tambahan makanan. Terutama perlu
diperhatikan terhadap pewarna karena di pasaran banyak tersedia pewarna untuk
berbagai keperluan misalnya untuk tekstil, kertas atau cat dan lain-lain yang
harganya jauh lebih murah, warnanya lebih mencolok dan tahan pemanasan.
Produsen perlu berhati-hati memilih pewarna yang akan digunakan dalam
makanan karena bila menggunakan pewarna yang dilarang untuk makanan dapat
dikenakan sanksi hukum. Produsen dan produk bahan tambahan makanan harus
terdaftar pada Departemen Kesehatan. Tata cara pendaftarannya diatur dalam
Keputusan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Nomor:
02593/B/SK/VIII/1991 tentang Tata Cara Pendaftaran Produsen dan Produk
Bahan Tambahan Makanan. Untuk importir yang mengimpor bahan tambahan
makanan yang diimpornya harus segera melaporkan secara tertulis kepada Kepala
Badan Pengawasan Obat dan Makanan setelah bahan tersebut tiba di pelabuhan,
sesuai dengan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan
Nomor: 02594/B/SK/VIII/1991 tentang Komposisi Bahan Tambahan Makanan.

155
4. Macam-macam “Food Additive”
Di Amerika “Food Protection Comittee (FPC) telah membagi food additives
menjadi 12 golongan berdasarkan tujuan dan kegunaannya yaitu bahan pengawet,
antioksidan, pengikat logam, “emulsifier”’ pengental, pemutih, buffer, zat
pewarna, zat pemanis, nutrient suplement, flavoring agent dan food additive
lainnya.yang tidak termasuk seperti tersebut di atas.
a. Bahan Pengawet (Food Preservatives).
Bahan pengawet adalah bahan kimia yang dapat mempertahankan makanan
terhadap serangan bakteri, ragi atau kapang.
Pengawet adalah bahan tambahan makanan yang dapat mencegah atau
menghambat fermentasi, pengasaman atau peruraian lain terhadap makanan
yang disebabkan oleh mikroorganisme. Bahan tambahan makanan ini biasanya
ditambahkan ke dalam makanan yang mudah rusak, atau makanan yang mudah
ditumbuhi bakteri atau jamur misalnya produk daging, buah-buahan dan lain-
lain. Sebagai contoh misalnya natrium benzoat yang digunakan didalam
minuman-minuman atau makanan yang asam. Natrium dan kalsium propionat
untuk mencegah kapang di dalam roti dan kue-kue; asam sorbat yang
digunakan di dalam keju untuk mencegah tumbuhnya kapang dan bahan-bahan
yang mengandung khlor aktif yang berfungsi sebagai pembasmi mikroba pada
pencucian buah-buahan dan sayur-sayuran.
Pertumbuhan bakteri dicegah atau dihambat tergantung dari jumlah
pengawet yang ditambahkan dan juga pH (keasaman) dari makanan. Menurut
pengamatan, pengawet hampir tidak aktif dalam suasana netral, dan
aktivitasnya meningkat bila pH diturunkan.

Contoh:

1) Asam.
Asam dapat menurunkan pH makanan sehingga dapat menghambat
pertumbuhan bakteri pembusuk. Asam dapat dibagi dalam 3 golongan :
a) Asam alami, adalah asam organik misalnya asam tartarat dan asam dari
buah-buahan misalnya asam sitrat.

156
b) Asam yang dihasilkan melalui proses fermentasi, misalnya asam laktat
dan asam asetat.
c) Asam-asam sintetik misalnya asam malat, asam fosfat dan asam adipat.

Disamping sebagai bahan pengawet asam juga digunakan untuk


menambah rasa, untuk mengurangi rasa manis memperbaiki sifat koloidal
dari makanan yang mengandung pektin, memperbaiki tekstur dari jeli dan
selai, membantu ekstraksi pektin dan pigmen dari buah-buahan dan sayur-
sayuran, menaikkan efektivitas benzoat sebagai bahan pengawetan lain-
lainnya.

2) Benzoat.
Benzoat dan turun-turunannya dapat menghancurkan sel-sel mikroba
terutama kapang. Asam benzoat, natrium benzoat, asam parahidrosibenzoat
dan turunan-turunannya merupakan kristal putih yang dapat ditambahkan
secara langsung ke dalam makanan atau dilarutkan terlebih dahulu di dalam
air atau pelarut-pelarut lainnya. Asam benzoat kurang kelarutannya di dalam
air, oleh karena itu lebih sering digunakan dalam bentuk garamnya yaitu
natrium benzoat. Benzoat lebih efektif digunakan dalam makanan-makanan
yang asam sehingga banyak digunakan sebagai pengawet di dalam sari
buah-buahan, jeli, sirup dan makanan lainnya yang mempunyai pH rendah.
Asam Benzoat serta garamnya dan Ester p-Hidroksi Benzoat efektif
untuk menghambat pertumbuhan bakteri, ragi dan jamur.Bahan-bahan ini
digunakan sebagai pengawet produk buah-buahan, minuman ringan, sirup
dan kecap. Asam benzoat dan garamnya, jumlah yang digunakan 500 mg/kg
–1 g/kg. Ester p-Hidroksi Benzoat biasanya digunakan dalam bentuk
campuran yaitu Metil paraban dan Etil paraban. Pada umumnya jumlah
yang digunakan 200 mg/kg–500 mg/kg.
Natrium benzoat larut baik dalam air jika dibandingkan dengan asam
benzoat dan penggunaan sebagai pengawet sebagian besar adalah bentuk
garam.Natrium benzoat bekerja efektif dalam suasana asam terutama pada
pH-4 atau lebih kecil (2,5 – 4,0). Menurut pengamatan benzoat hampir 100

157
kali lebih aktif dalam suasana asam jika dibandingkan dengan suasana
netral.
Ester asam p hidroksi benzoat.
Menurut beberapa laporan dalam suasana netral dan sedikit asam daya
kerjanya lebih besar jika dibandingkan dengan benzoat. Ester metil dan
propil dapat digunakan sebagai pengawet makanan dalam konsentrasi
maksimum 0.1 % dan aktivitasnya tidak dipengaruhi oleh pH serta
menghambat pertumbuhan sejumlah bakteri, jamur dan ragi yang dapat
merusak makanan
3) Asam Sorbat serta garamnya efektif untuk menghambat pertumbuhan jamur
dan ragi.
Dapat digunakan misalnya pada produk roti dan buah kering dengan
jumlah 250 mg/kg–1 g/kg. Asam sorbat dapat menghambat pertumbuhan
beberapa jenis bakteri, biasa digunakan dengan kadar 0,01–0,1 % dalam
permen, sirup, acar, margarine, kue, buah-buahan, jus buah-buahan, sayuran
segar, dan minuman yang mengandung karbon dioksida. Sangat efektif pada
pH=5 atau lebih kecil. Asam Sorbat dapat mencegah pertumbuhan kapang
dan bakteri dengan cara meng-inaktifkan enzim dehidrogenase yang
diperlukan oleh mikroba tersebut untuk metabolisme karbohidrat dan asam-
asam lemak. Asam sorbat, kalium sorbat atau natrium sorbat biasanya sering
digunakan di dalam makanan untuk mencegah pertumbuhan kapang.
Jumlah asam sorbat yang digunakan misalnya 0,2 % untuk bermacam-
macam keju, 0,1 % untuk kue-kue, 0,025–0,1 % untuk acar, 0,02 % untuk
sari buah anggur, 0,025-0,50 % untuk minuman ringan, 0,1-0,15 % untuk
coklat atau sirup, dan 0,05-0,1 % untuk ikan yang diasap atau digarami.
4) Asam propionat dan garam propionat.
Kebanyakan senyawa propionat digunakan untuk menghambat
pertumbuhan jamur, misalnya pembuatan roti, Natrium propionat banyak
digunakan dalam industri roti sebagai penghambat pertumbuhan jamur dan
bakteri, juga dapat digunakan pada pembuatan kue. Kalsium propionat juga
digunakan dalam industri roti, tapi tidak digunakan dalam industri kue

158
lainnya. Asam propionat efektif untuk menghambat pertumbuhan jamur.
Asam Propionat biasa digunakan sebagai pengawet pada roti dengan kadar 2
g/kg adonan roti.
5) Nitrit
Nitrit dapat menghambat pertumbuhan bakteri pada ikan, tetapi nitrit
hanya efektif jika daging ikan tersebut mempunyai pH di bawah 6,4.
Mekanisme nitrit sebagai bahan pengawet belum dapat diketahui dengan
pasti. Nitrit juga sering digunakan pada ‘curing” daging yaitu untuk
mempertahankan warna merah dari daging. Jumlah nitrit yang digunakan
biasanya 200 ppm yaitu berupa natrium dan kalium nitrit. Perubahan warna
daging secara kimia sangat kompleks. Pigmen dalam otot daging terdiri dari
protein yang disebut mioglobin yang mempunyai warna ungu kemerahan.
Mioglobin dengan oksigen akan membentuk oksimioglobin yang berwarna
merah terang, jadi daging segar jika dipotong mula-mula akan berwarna
ungu, tetapi permukaannya akan berubah segera menjadi merah terang jika
kena udara. Bagian permukaan lebih merah dari pada bagian dalam karena
bagian dalam daging kurang mendapat oksigen. Warna merah terang
oksimioglobin tidak stabil, dan dengan oksidasi yang berlebihan akan
berubah menjadi metmioglobin yang berwarna coklat. Tetapi daging yang
mengalami “curing” dengan nitrit atau nitrat akan merah dan selama
pemasakan warna tetap merah. Oleh karena oksigen dapat menyebabkan
warna daging menjadi coklat yang disebabkan perubahan nitric oxide
Mioglobin (merah) menjadi metmioglobin (coklat), maka sebaiknya “meat
curing” dilakukan dalam keadaan dengan tekanan udara rendah.
Oleh karena jumlah nitrit yang berlebihan (lebih dari 200 ppm) dapat
menyebabkan keracunan, maka pada “curing” daging biasanya digunakan
campuran nitrit dan nitrat, dimana nitrat tersebut akan diubah menjadi nitrit
sedikit demi sedikit sehingga jumlah nitrit di dalam daging tidak berlebihan.
Bakteri yang efektif untuk mengubah nitrat menjadi nitrit di dalam
“curing”daging misalnya Micrococcus auranticus.
6) Sulfur Dioksida(SO2)

159
Sari buah-buahan atau makanan lain yang bersifat asam (pH rendah)
dapat diawetkan dengan menambah SO2. Jumlah SO2 yang digunakan untuk
sari buah-buahan adalah 350 – 600 ppm. Sulfur dioksida juga dapat
digunakan untuk mencuci alat-alat yang digunakan dalam pembuatan
anggur atau cuka dengan kadar 50 – 75 ppm. Pada pembuatan anggur atau
cuka, SO2 ditambahkan untuk menghambat pertumbuhan kapang, ragi dan
kadang-kadang bakteri selama penyimpanan.
7) Antibiotika
Antibiotika seperti Khlortetrasiklin dan Oksitetrasiklinbiasanya
digunakan untuk mengawetkan daging ayam atau ikan. Antibiotika akan
hancur selama pemanasan, oleh karena itu antibiotika biasanya digunakan
untuk mengawetkan daging ayam atau ikan yang langsung akan dibekukan
dalam keadaan mentah. Pada bahan mentah yang dibekukan dengan
penambahan antibiotika penting pula ditambahkan bahan-bahan yang di
dalam air bersifat koloidal misalnya CMC (carboxymethyl cellulose) atau
karagenan, supaya penyebaran antibiotika di dalam es dapat merata. Kadar
antibiotika yang digunakan biasanya 7 ppm.
8) Bahan fumigasi misalnya etilena oksida dan etil formiat juga termasuk
bahan pengawet yaitu menghilangkan hama dari bumbu-bumbuan, kacang-
kacangan dan buah-buahan kering. Bahan yang dapat mencegah terjadinya
warna coklat (browning) pada buah-buahan dan sayur-sayuran juga
termasuk dalam bahan pengawet.
9) Antikempal
Antikempal adalah bahan tambahan makanan yang dapat mencegah
mengempalnya makanan yang berupa serbuk. Bahan tambahan makanan ini
biasanya ditambahkan pada makanan yang berbentuk serbuk, misalnya
garam meja, merica bubuk dan bumbu lainnya, agar makanan tersebut tidak
mengempal dan mudah dituang dari wadahnya.

Contoh:

160
a) Kalsium aluminium silikat, kalsium silikat, magnesium karbonat, silikon
dioksida dipakai sebagai antikempal pada garam meja, merica dan
rempah atau bumbu lainnya.
b) Garam-garam stearat dan tri kalsium fosfat pada gula, kaldu dan susu
bubuk.
c) Pengasam, penetral dan pendapar.
Pengasam, penetral dan pendapar adalah bahan tambahan makanan
yang dapat mengasamkan, menetralkan dan mempertahankan derajat
keasaman makanan. Tujuan penambahan bahan makanan ini umumnya
untuk memperbaiki dan mempertahankan keasaman makanan hingga
mempunyai rasa yang diinginkan atau untuk meningkatkan kestabilan
makanan.
10) Antioksidan
Antioksidan adalah bahan tambahan makanan yang digunakan untuk
melindungi/mencegah/menghambat makanan dari terjadinya proses
oksidasi. Antioksidan adalah bahan yang digunakan untuk mencegah
oksidasi lemak, misalnya digunakan pada bahan pangan yang akan
digoreng, makanan dari biji-bijian, dan makanan-makanan lain yang
mengandung banyak lemak dan mudah tengik. Antioksidan biasanya
digunakan pada minyak, lemak dan makanan yang mengandung lemak dan
minyak, misalnya produk ikan dan daging. Dapat juga digunakan pada
produk buah dan sari buah dalam kaleng.

Contoh:

a) Asam Askorbat dan Asam Eritorbat beserta garamnya digunakan sebagai


antioksidan pada produk daging dan ikan serta buah-buahan dari sari
buah kalengan.
b) Butilhidroksianisol (BHA) atau Butilhidroksitoluen (BHT) biasa dipakai
sebagai antioksidan pada lemak, minyak dan margarin.

161
Contoh antioksidan misalnya butilated hidroxyanisol (BHA), butylated
hidroxy-toluena (BHT), propil galat. Sulfur dioksida selain berfungsi
sebagai bahan pengawet juga digunakan sebagai antioksidan. Adanya panas
dapat merangsang atau menstimulir reaksi oksidasi. Semakin tinggi suhu,
kecepatan oksidasi akan semakin bertambah. Sinar juga dapat mempercepat
oksidasi. Sinar ultra-violet lebih aktif dalam mempercepat oksidasi dari
pada sinar-sinar tampak (visible light) karena sinar ultra-violet mempunyai
panjang gelombang yang lebih kecil sehinggaenerginya lebih besar.
Beberapa zat kimia seperti ozon, peroksida, serta logam-logam tertentu
terutama tembaga, besi dan garam-garamnya juga dapat mempercepat
oksidasi lemak. Beberapa enzim tertentu misalnya lipoksidase juga dapat
bertindak sebagai katalis dalam reaksi oksidasi, dimana enzim ini dapat
terus aktif sampai di bawah suhu pembekuan. Kecepatan oksidasi lemak
tergantung dari jenis asam lemaknya, adanya antioksidan, adanya feroksidan
(katalis) dan faktor-faktor lainnya. Antioksidan adalah senyawa yang
biasanya mengandung orto atau paradifenol. Seperti telah disebutkan
sebelumnya, beberapa antioksidan yang biasa digunakan di dalam makanan
adalah BHA, BHT, NDGA, propil galat, 2,4,5, trihidroksi butirophenon dan
lain-lain.
Asam askorbat adalah antioksidan yang sekarang telah dapat dihasilkan
secara sintetik. Asam askorbat atau vitamin C ini biasanya ditambahkan ke
dalam daging sebagai antioksidan, tetapi tidak akan menambah nilai
vitaminnya karena asam askorbat akan rusak oleh pemanasan. Beberapa
antioksidan alam yang terdapat di dalam makanan-makanan (tocopherol),
dan beberapa asam amino yang mengandung sulfur.
11) Pengikat Logam (Sequestrant, Chelating Agents).
Sequestrant adalah bahan tambahan makanan yang dapat mengikat ion
logam yang ada dalam makanan sehingga memantapkan warna dan tekstur
makanan, atau mencegah perubahan warna makanan. Sequestrant dapat
mengikat logam-logam seperti besi dan tembaga sehingga membebaskan

162
makanan dari logam-logam tersebut. Logam-logam ini merupakan
katalisator oksidasi sehingga dapat menyebabkan reaksi-reaksi perubahan
warna yang tidak diinginkan. Contoh dari sequestrant misalnya Asam
fosfat, untuk produk kepiting kalengan (5 g/kg), serta lemak dan minyak
makan (100 mg/kg). Kalsium dinatrium edeta (EDTA= Etylen Diamine
Tetraacetic Acid)untuk udang kalengan (250 mg/kg), jamur kalengan (200
mg/kg), dan potongan kentang goreng beku (100 mg/kg), polifosfat dan
asam sitrat.
12) Emulsifier, pemantap.
Emusifier adalah bahan yang digunakan untuk menstabilkan emulsi
(lemak), misalnya campuran minyak dan air, campuran gas dengan bahan
cair, atau campuran gas dengan bahan padat. Contoh: “emulsifier” adalah
lechitin, asam-asam lemak dan turunannya, asam empedu dan “emulsifier
buatan” seperti modo dan digliserida. Fungsinya untuk memantapkan
emulsi dari lemak dan air sehingga produk tetap stabil, tidak meleleh, tidak
terpisah antara bagian lemak dan air. Bahan makanan yang biasanya
menggunakan BTM ini adalah es krim, es puter, saus sardin, jem, jeli, sirup
dan lain-lain.

Contoh:

a) Agar, untuk sardin dan sejenisnya (20 g/kg), es krim, es puter dan
sejenisnya (10 g/kg), keju (8 g/kg).
b) Dekstrin, untuk es krim, es puter dan sejenisnya (30 g/kg), yogurt (10
g/kg).

13) Pengental (Thickener).

Bahan-bahan yang termasuk ke dalam pengental diantaranya adalah gum,


pati, dekstrin, turunan-turunan dari protein dan bahan-bahan lainnya yang
dapat menstabilkan memekatkan atau mengentalkan makanan yang
dicampur dengan air untuk membentuk kekentalan tertentu atau gel pada

163
beberapa makanan misalnya saus selada, susu coklat, jeli, puding dan
sebagainya adalah makanan yang mengandung bahan pengental misalnya
gum arabik, CMC (carboxymethyl cellulose), pektin, amilosa, gelatin dan
lain-lainnya.

14) Pemutih (Bleaching Agents) dan “Starch Modifier”.

Tepung yang masih baru biasanya berwarna agak kekuning-kuningan.


Warna ini dapat diperbaiki secara perlahan-lahan selama penyimpanan,
misalnya dengan cara menambahkan bahan pemutih seperti benzoil
peroksida,oksida-oksida nitrogen, khlor dioksida dan komponen-komponen
khlor lainnya, yang masing-masing dapat mengubah warna kuning tepung
menjadi putih. Bahan pemutih lainnya misalkan hidrogen peroksida,bromat,
dan iodat. Hidrogen peroksida dapat digunakan untuk memutihkan warna
susu yang digunakan untuk membuat keju.

“Starch Modifier” adalah bahan yang dapat mengoksidasi pati menjadi


bahan-bahan yang larut dalam air, misalnya yang sering digunakan adalah
natrium hipokhlorit. Bahan tambahan makanan yang dapat mempercepat
proses pemutihan dan atau pematang tepung sehingga dapat memperbaiki
mutu pematangannya.

Contoh:

a) Asam ascorbat untuk tepung dengan kadar 2 mg/kg.


b) Kalium bromat untuk tepung dengan kadar 150 mg/kg.
15) Buffer (Pengatur keasaman, alkali).
Buffer digunakan untuk menyesuaikan dan mendapatkan pH makanan
yang diinginkan. Asam yang digunakan dapat diperoleh dari asam organik
di dalam buah-buahan secara fermentasi atau dibuat secara sintetik. Buffer
adalah bahan tambahan makanan yang dapat mengasamkan, menetralkan
dan mempertahankan derajat keasaman makanan. Tujuan penambahan
bahan tambahan makanan ini umumnya untuk memperbaiki dan

164
mempertahankan keasaman makanan hingga mempunyai rasa yang
diinginkan atau untuk meningkatkan kestabilan makanan.
16) Zat Pewarna (Coloring Agent).

Pewarna adalah bahan tambahan makanan yang dapat memperbaiki atau


memberi warna pada makanan. Penambahan pewarna pada makanan
dimaksudkan untuk memperbaiki warna makanan yang berubah atau
menjadi pucat selama proses pengolahan, atau untuk memberi warna pada
makanan yang tidak berwarena agar kelihatan lebih menarik. Pewarna
digolongkan menjadi pewarna alam dan pewarna sintetik. Pewarna alam
lebih aman dari pewarna sintetik. Makanan yang sering diberi pewarna
adalah sirop, minuman ringan dan permen.

Contoh:

a. Karmin, Ponceau 4 R dan Eritrosin untuk memberikan warna merah.


b. Biru berlian dan Indigotin untuk memberikan warna biru.
c. Klorofil, Hijau FCF dan Hijau S untuk memberikan warna hijau.
d. Kurkumin, Karoten, Kuning FCF, Kuning Kuinolin dan Tartrazin untuk
memberikan warna kuning, dan
e. Karamel untuk memberikan warna coklat.

Zat pewarna ditambahkan kedalam makanan bertujuan untuk menarik


selera dan keinginan konsumen. Zat-zat pewarna alam sering digunakan
misalkan karoten, kunyit dan daun-daunan (daun pandan). Dibandingkan
dengan bahan pewarna alam, maka bahan pewarna buatan mempunyai
banyak kelebihan yaitu dalam hal aneka ragam warnanya, keseragaman
warna, kestabilan warna dan penyimpanannya lebih mudah dan lebih
tahan lama. Selain dari pada itu bahan pewarna alam biasanya
mempunyai warna yang jarang sesuai dengan warna yang diinginkan.
Zat-zat pewarna lainnya misalnya “carbon black” yang memberikan
warna hitam dan titanium oksida untuk memberikan warna putih secara
intensif.

165
17) Zat Pemanis bukan gula (Sweetener)
Zat pemanis yang dimaksudkan di sini adalah zat pemanis yang tidak
menghasilkan kalori, misalkan sakarin serta natrium, kalsium, magnesium
dan kalium siklamat. Bahan-bahan ini biasanya ditambahkan kedalam
minuman-minuman penyegar, buah-buahan kaleng dan lain-lainnya. Zat
pemanis ini juga menolong orang-orang yang tidak boleh makan gula.
Beberapa zat pemanis yang baru ditemukan mempunyai rasa manis kira-kira
10-3000 kali dari sukrosa per satuan berat.
Pemanis buatan, adalah bahan tambahan makanan yang dapat
menyebabkan rasa manis pada makanan yang tidak atau hampir tidak
mempunyai nilai gizi. Biasanya digunakan pada makanan yang ditujukan
kepada penderita diabetes melitus atau untuk makanan diet.
Contoh: Sakarin dan Siklamat serta garamnya dapat digunakan sebagai
pemanis buatan pada jenis makanan tertentu sebagai makanan berkalori
rendah atau makanan untuk penderita diabetes.
Sakarin kemanisannya: 300 x gula dan siklamat 30 x gula. Sakarin dan
siklamat sering digunakan dalam bentuk campuran, misalnya 1 bagian
sakarin dicampur dengan 12 bagian siklamat.
18) Nutrient Supplements
“Nutrient supplements” adalah bahan-bahan yang ditambahkan kedalam
makanan untuk menambah zat-zat gizi yang telah ada di dalam makanan
tersebut, misalkan vitamin-vitamin dan mineral. Sebagai contoh adalah
penambahan vitamin D ke dalam susu, penambahan vitamin B, besi dan
kalsium ke dalam hasil pengolahan biji-bijian, penambahan vitamin A
kedalam margarin dan vitamin C ke dalam sari buah-buahan. Beberapa
asam amino juga dapat dimasukkan ke dalam golongan ini, misalnya
penambahan lysine ke dalam tepung gandum.
19) Flavoring Agents(penyedap rasa).
Flavouring agents dapat diperoleh dari alam atau dibuat secara sintetik.
Flavoring agents alami misalkan bumbu-bumbuan. Flavoring Agents
buatan misalnya benzaldehida yang mempunyai cita rasa seperti lobi-lobi

166
atau ceri, etil butirat dengan cita rasa buah nenas, metil antranilat seperti
buah anggur dan amil-asetat seperti buah pisang ambon. Bahan-bahan yang
tidak mempunyai cita rasa tetapi dapat mengaktifkan timbulnya cita rasa
dari komponen-komponen yang terdapat di dalam suatu makanan termasuk
ke dalam “taste enhancer” (penegas rasa), misalnya monosodium glutamat
(MSG). Vetsin adalah salah satu preparat MSG komersiil.
Penyedap rasa dan aroma serta penguat rasa adalah bahan tambahan
makanan yang dapat memberikan, menambah atau mempertegas rasa dan
aroma. Penyedap rasa dan aroma biasanya diperdagangkan dalam bentuk
campuran, yang bila digunakan memberikan rasa dan aroma tertentu. Bahan
ini sering ditambahkan pada permen, minuman ringan serta kue dan biskuit.
Penguat rasa bila ditambahkan pada makanan akan meningkatkan rasa yang
sudah ada pada makanan tersebut, misalnya MSG biasa ditambahkan pada
produk daging setiap 1 kg makanan sudah meningkatkan rasa gurih pada
makanan tersebut.
20) Lain-lain.
Bahan-bahan tambahan lainnya yang tidak termasuk golongan food
additives seperti telah disebutkan di atas, dapat digolongkan dalam
miscelleneous additives misalnya pengaktif rasa yang digunakan untuk
mempercepat pertumbuhan ragi di dalam roti yaitu amonium sulfat, bahan
pengeras (firming agent) untuk buah-buahan dan sayur-sayuran misalnya
kalsium klorida. “anticaking agent”, misalnya kalsium fosfat, bahan
penjernih (clarifying agent) seperti bentonite untuk minuman anggur, “meat
curing agent” misalnya natrium nitrat/nitrit pada pembuatan kornet dan lain-
lainnya.

b. Bahan Tambahan yang Dilarang


Bahan tambahan yang dilarang diproduksi, diimpor dan digunakan sebagai
bahan tambahan makanan yaitu:
1) Asam Borat dan senyawanya (Borax)

167
2) Asam Salisilat dan garamnya
3) Dietilpirokarbonat
4) Dulsin
5) Kalium Klorat
6) Kloromfenikol
7) Minyak nabati yaang dibrominasi
8) Nitrofurazon
9) Formalin

Bahan tambahan di atas dinyatakan berbahaya bila digunakan dalam


makanan dan makanan yang mengandung bahan tersebut dinyatakan pula
sebagai makanan berbahaya. Khusus bahan pewarna yang dilarang digunakan
sebagai bahan tambahan makanan ditetapkan dengan Permenkes RI Nomor
239 Tahun 1985 tentang Zat Warna yang dinyatakan sebagai bahan berbahaya.

c. Persyaratan Pemakaian Berbagai Jenis Bahan Zat Pengawet dan Pewarna.


Persyaratan penggunaan pengawet dan pewarna yaitu bahan pengawet dan
pewarna harus memenuhi persyaratan seperti pada bahan tambahan makanan
lainnya. Oleh karena itu, maka pengawet dan pewarna makanan sebelum
diedarkan harus didaftarkan terlebih dahulu pada Departemen Kesehatan c.q.
Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan yang sekarang telah
menjadi Badan Pengawasan Obat dan Makanan untuk dilakukan penelitian
terlebih dahulu apakah memenuhi persyaratan atau tidak. Disamping itu dalam
peredaran BTM harus dinyatakan penggunaannya yaitu sebagai pengawet atau
pewarna makanan. Khusus untuk pewarna makanan harus dicantumkan nomor
indeks warnanya. Terhadap komoditi makanannya sendiri juga harus
didaftarkan, agar dapat dilakukan penelitian penggunaan bahan tambahan
makanan apakah memenuhi persyaratan atau tidak.
Selain penelitian bahan pengawet dan bahan pewarna yang dilakukan saat
pendaftaran, juga dilakukan penelitian dalam makanan yang telah beredar
dengan jalan sampling dan pengujian laboratorium. Jika ditemukan
penggunaan pengawet dan pewarna yang tidak memenuhi persyaratan yang

168
sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor:
235/Menkes/Per/VI/1979 tentang Bahan Tambahan Makanan, maka Direktur
Jenderal POM atau pejabat yang ditunjuk, berwenang memerintahkan
penarikan produk-produk tersebut dari peredaran. Selain penarikan produk dari
peredaran, pelanggaran terhadap peraturan tersebut dapat dikenakan sanksi
berdasarkan Undang-undang yang berlaku berupa penyitaan, pemusnahan dan
hukuman denda atau kurungan.
Tabel 20. Zat Warna Tertentu Yang Dinyatakan Sebagai Bahan Berbahaya.
No. Nama Nomor Indeks Warna
1. Auramine (C.I. Basic Yellow 2) 41000
2. Alkanet 75520
3. Butter Yellow (C.I. Solvent Yellow 2) 11020
4. Black 7984 (Food Black 2) 27755
5. Burn Umber (Pigment Brown 7) 77491
6. Chrysoidine (C.I. Basic Orange 2) 11270
7. Chrysoidine -
8. Citrus Red No.2 12156
9. Chocolate Brown FB (Food Brown 2) -
10. Fast Red E (C.I. Food Red 2) 16045
11. Fast yellow AB (C.I. Food Yellow 2) 13015
12. Guinea Green B (C.I. Acid Green No.3) 42085
13. Indanthrene Blue RS (C.I. Food Blue 4) 69800
14. Megenta (C.I. Basic Violet 14) 42510
15. Metanil Yellow (Ext. D & C Yellow 1) 13065
16. Oil Orange SS (C.I. Solvent Orange 2) 12100
17. Oil Orange XO (C.I. Solvent Orange) 12140
18. Oil Yellow AB (C.I. Solvent Yellow 5) 11380
19. Oil Yellow OB (C.I. Solvent Yellow 6) 11390
20. Orange G (C.I. Food Orange 4) 16230
21. Orange GGN (C.I. Food Orange 2) 15980
22. Orange RN (Food Orange 1) 15970
23. Orchil & Orcein) -
24. Ponceau 3 R (C.I. Red 6) 16155
25. Ponceau SX (C.I. Food Red 1) 14700
26. Ponceau 6 R (C.I. Food Red 8) 16290
27. Rhodamine B (C.I. Food Red 15) 45170
28. Sudan I (C.I. Solvent Yellow 14) 12055
29. Scarlet GN (Food Red 2) 14815
30. Violet 6 B 42620

169
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1997. Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 Tentang: Pengelolaan


Lingkungan Hidup. Jakarta: MenKLH.
Anonim, 2006. Bahaya Bahan Kimia pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan
(Hazardous Chemicals in Human and Environmental Health). Alih
Bahasa: Palupi Widyastuti, SKM; Editor Edisi Bahasa Indonesia :
Monica ester, Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran: EGC.
Anonim, 2012. Kumpulan Modul Kursus Higiene Sanitasi Makanan dan Minuman.
Jakarta: Sub Direktorat Higiene Sanitasi Pangan, Direktorat Penyehatan
Lingkungan dan Direktorat Jenderal PP dan PL, Kemenkes RI.
Anonim, 2017. Permenkes RI Nomor: 32 Tahun 2017.
http://kesmas.kemkes.go.id/perpu/konten/permenke/pmk-no.32.

Anonim, 2018. https://id.m.wikipedia.org>wiki google.com/search?q=k


Anwar, H., dkk. 1991. Buku Pedoman Bidang Studi Sanitasi Makanan dan Minuman
pada Institusi Pendidikan Tenaga Sanitasi. Jakarta: Depkes RI,
Pusdiknakes.
Buckle, K.A., dkk. 2009. Ilmu Pangan. Penerjemah Purnomo H & Adiono, Jakarta:
Universitas Indonesia(UI-PRESS).
Fardiaz, S. 1992. Polusi Air dan Udara. Bogor: Penerbit Kanisius.
Margono, dkk. 1991. Buku Pedoman Bidang Studi Mata Ajaran Kimia Lingkungan.
Jakarta: Depkes RI, Pusdiknakes.
Mukono, H.J. 2000. Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan. Surabaya: Airlangga
University Press.

Reksosoebroto, S. 1978. Higiene dan Sanitasi. Jakarta: Akademi Penilik Kesehatan-


Teknologi Sanitasi.
Ryadi, S. 1982. Pencemaran Udara. Surabaya: Akademi Teknologi Sanitasi.
Siswanto, H., 2002. Kamus Populer Kesehatan Lingkungan. Jakarta: Buku
Kedokteran EGC.
Soedjono, 1991. Pedoman Bidang Studi: Pengawasan Pencemaran Lingkungan Fisik
(pada Institusi Pendidikan Tenaga Kesehatan Lingkungan). Jakarta: Pusat
Pendidikan Tenaga Kesehatan Depkes RI.
Winarno, F.G. 1986. Air untuk Industri Pangan, Jakarta: Gramedia.

170
Lampiran 1.

171
Lampiran 2

Soal Kimia Lingkungan


Perhatikan petunjuk soal di bawah ini:
Silakan anda melingkari/menyilang jawaban yang benar.
1. Istilah yang digunakan untuk menyatakan intensitas keadaan asam basa atau
derajad keasaman disebut:
a. Keep Healthy
b. Power Acidity
c. Power Hydrogen
d. Power Acid
e. Potensial Alkalinity
2. Zat organik yang terdapat di dalam air bisa berasal dari alam. Sebagai
contohnya:
a. Gliserol
b. Alkohol
c. Antibiotik
d. Asam-asam
e. Protein
3. Udara kering dan bersih terdiri dari beberapa parameter. Yang termasuk
komponen tersebut, rumusnya seperti di bawah ini, kecuali:
a. N2
b. O2
c. Ar
d. CO2
e. CO
4. Sumber pencemaran udara yang berasal dari alam dapat berbentuk gas, cair
bahkan padat. Sebagai contohnya adalah:
a. Asap kendaraan
b. Debu vulkanik
c. Pembakaran Sampah
d. Debu asbes
e. Effluent RT
5. Vitamin sangat esensial dibutuhkan oleh tubuh manusia ternyata dapat larut
dalam lemak, kecuali:
a. Vitamin A
b. Vitamin C
c. Vitamin D
d. Vitamin E
e. Vitamin K
6. Perbandingan antara jumlah persen kation basa dengan persen kapasitas tukar
kation adalah:
a. Kapasitas tukar ion
b. Jumlah bahan organic
c. Kondisi kesadahan air
d. Jumlah unsur kimia

172
e. Persentasi kejenuhan basa
7. Substansi atau campuran substansi yang berfungsi untuk mencegah,
menghancurkan atau mengendalikan hama adalah:
a. Bahan kimia
b. Malathion
c. Karbamat
d. Pestisida
e. Timbal
8. Keberadaan bakteri dalam makanan yang dapat menyebabkan penyakit karena
berkembangbiak dalam usus dan memproduksi toksin dalam saluran usus setelah
berkembangbiak dan berkembang, disebut :
a. Food borne infection
b. Food borne
c. Food borne intoxication
d. Food hygiene
e. Food Sanitation
9. Keberadaan toksin mikroba sudah terbentuk sebelumnya di dalam makanan yang
ikut termakan, disebut:
a. Food poison
b. Food borne intoxication
c. Food hygiene
d. Food Sanitation
e. Food borne infection
10. Keberadaan toksin mikroba sudah terbentuk sebelumnya di dalam makanan yang
ikut termakan, jenis penyakitnya disebut :
a. Sallmonelosis
b. Botulisme
c. Beryllosis
d. Diphteri
e. Diare
11. Keberadaan bakteri dalam makanan yang dapat menyebabkan penyakit karena
berkembangbiak dalam usus dan memproduksi toksin dalam saluran usus setelah
berkembangbiak dan berkembang, jenis penyakitnya disebut:
a. Sallmonelosis
b. Botullisme
c. Beryllosis
d. Diphteri
e. Diare
12. Fluor sangat dibutuhkan manusia sebagai bahan kimia essensial dalam tubuh
manusia. Apabila kita kekurangan akan bahan kimia tersebut maka akan dapat
menyebabkan:
a. Gangguan mata
b. Asam Urat
c. Gigi keropos
d. Tulang keropos
e. Sariawan.

173
13. Gas emisi berupa asap yang dikeluarkan/dihasilkan dari knalpot kendaraan
bermotor dapat merupakan sumber pencemar udara karena aktivitas manusia.
Gas yang dimaksud tersebut adalah:
a. Khlorida
b. Hidroksida
c. Carbonmonoksida
d. Carbondioksida
e. Nitrogen Oksida
14. Orang yang terpapar dengan gas buangan CO akan merasa pusing. Berapakah
konsentrasi yang menyebabkan respon tersebut ?
a. 25 ppm
b. 50 ppm
c. 75 ppm
d. 100 ppm
e. 125 ppm
15. Bahan tambahan makanan dapat merangsang pertumbuhan sel kanker pada
tubuh konsumen atau bersifat karsinogen. Istilah yang biasa digunakan adalah:
a. Pathogenic
b. Food Aditive
c. Miom
d. MSG
e. Kista
16. Air mempunyai sifat melarutkan bahan kimia. Abel Woman menyatakan bahwa
rumus air adalah:
a. HO2 + X
b. X + HO2
c. H2O + X
d. H2 + X
e. X + H2 O
17. Untuk membentuk jaringan baru dan mempertahankan jaringan yang telah ada
merupakan fungsi utama dari:
a. Air
b. Vitamin
c. Lemak
d. Protein
e. Mineral
18. Kesadahan air disebabkan karena kandungan garam-garam dan mineral-mineral.
Kesadahan air terdiri dari 2 bagian, yaitu kesadahan tetap dan kesadahan
sementara. Apa yang membedakan kedua bagian tersebut ?
a. Sulfat
b. Magnesium
c. Chlorida
d. Kimia
e. Carbon
19. Penyebab utama dari kesadahan adalah garam-garam dan mineral. Senyawa
kimia yang dimaksud adalah:

174
a. HCO3- , SO4 , Cl-
b. Ca++ , Mg ++, Fe++, dan Mn++
c. NO3-, SiO3-
d. CO2, HCO3-
e. Al++, NO-3
20. H2S merupakan gas yang ditemukan dari sumber:
a. Batu bara dan minyak bumi
b. Gas kendaraan bermotor
c. Gas beracun
d. Vulkanik dan gas alam
e. Pabrik industri
21. Mengkonsumsi lemak 1 gram bila dikonversikan menjadi:
a. 5,3 kalori
b. 6,3 kalori
c. 7,3 kalori
d. 8,3 kalori
e. 9,3 kalori
22. Proses pembusukan dalam tanah secara anaerobik dapat menghasilkan gas-gas
berikut, kecuali:
a. Methan
b. Carbondioksida
c. CO
d. H2S
e. NH3
23. Kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup
termasuk didalamnya manusia dan perilakunya yang mempengaruhi
kelangsungan hidupnya. Hal tersebut adalah pengertian dari:
a. Kimia Lingkungan
b. Pengendalian Lingkungan
c. Toksikologi Lingkungan
d. Lingkungan Hidup
e. Kesehatan Lingkungan
24. Kesehatan Lingkungan adalah upaya pencegahan penyakit dan gangguan
kesehatan dari faktor resiko lingkungan untuk mewujudkan kualitas lingkungan
yang sehat. Kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan hal ini adalah:
a. PP RI Nomor 12 Tahun 2014
b. PP RI Nomor 13 Tahun 2013
c. PP RI Nomor 17 Tahun 2014
d. PP RI Nomor 66 Tahun 2014
e. PP RI Nomor 36 Tahun 2015
25. Sumber pencemaran lingkungan yang bersumber dari kegiatan manusia
khususnya di daerah permukiman/rumah tangga salah satunya limbah cair. Istilah
lain untuk jenis limbah yang dihasilkan itu adalah:
a. Gaseous
b. Effluent
c. Dissolved solid

175
d. Disposal
e. Excreta
26. Salah satu sifat dari bahan kimia ini sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia. Sifat
bahan kimia ini adalah sebagai bahan:
a. Toksin
b. Inert
c. Katalisator
d. Aditive
e. Esensial
27. Bahan kimia terpapar dalam tubuh manusia melalui jalur-jalur transportasi,
seperti bottulinum dapat menimbulkan efek racun pada tubuh manusia. Racun
tersebut berada dalam tubuh manusia (port d’entry) melalui:
a. Pernafasan
b. Pencernaan
c. Punggung tangan
d. Kulit kepala
e. Scrotum
28. Gas pencemaran udara yang dihasilkan dari pembakaran sampah disebut
karbondioksida. Adapun rumus kimianya adalah:
a. CO
b. CO2
c. CO3
d. CaCO3
e. CaO
29. Penipisan lapisan ozon mengakibatkan suhu atmosfir bumi makin meningkat,
mencairnya es di daerah kutub, iklim yang tidak menentu, naiknya gelombang air
laut setinggi 1 meter. Kejadian tersebut merupakan contoh-contoh terjadinya:
a. Eutrofication
b. Kebutuhan Biokimia Oksigen
c. Algae Bloom
d. Pemanasan Global
e. PencemaranUdara
30. Bahan anorganic adalah bahan yang mempunyai sifat sulit terurai atau non
biodegradable. Berikan contohnya:
a. Telur
b. Kertas
c. Plastik
d. Balok
e. Sayur
31. Penipisan lapisan ozon yang mengakibatkan suhu atmosfir bumi terus meningkat,
mencairnya es di daerah kutub, iklim yang tidak menentu, naiknya gelombang air
laut setinggi 1 meter. Kontribusi yang sangat besar terhadap peristiwa tersebut
adalah karena penggunaan, kecuali:
a. Sinar UV pada charger
b. Bahan Bakar Fosil
c. BBM

176
d. Freon
e. Hair spray
32. Pencemaran udara dapat disebabkan oleh gas yang keluar dari knalpot kendaraan
bermotor. Apakah gas yang dimaksud tersebut ?
a. Chlorin
b. CO2
c. CFC
d. CO
e. NH4
33. Ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang bahan kimia atau racun yang
mempunyai efek merugikan atau merusak lingkungan yang berdampak pada
kesehatan manusia. Ilmu yang dimaksud adalah :
a. Fisika Lingkungan
b. Biologi Lingkungan
c. Toksikologi Lingkungan
d. Kimia Lingkungan
e. Kesehatan Lingkungan
34. Suatu upaya pencegahan penyakit atau gangguan kesehatan dari faktor resiko
lingkungan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat, baik fisik, kimia,
biologi dan sosial. Hal ini merupakan pengertian dari:
a. Fisika Lingkungan
b. Biologi Lingkungan
c. Toksikologi Lingkungan
d. Kimia Lingkungan
e. Kesehatan Lingkungan
35. Unsur-unsur yang dibutuhkan sekali kehadirannya dalam tubuh manusia walau
dalam jumlah yang kecil disebut essensial. Manakah yang termasuk unsur
tersebut ?
a. Helium
b. Neon
c. Aluminium
d. Silikon
e. Natrium
36. Masuknya bahan kimia ke dalam tubuh melalui kontak kulit tergantung dari
kecepatan penyerapan. Bagian manakah yang menyerap secara total ?
a. Dorsal
b. Abdomen
c. Kulit kepala
d. Sudut dagu
e. Kulit pelir
37. Bahan pencemar udara sekunder adalah bahan pencemar udara primer yang
mengalami reaksi dengan senyawa lain setelah keluardari sumbernya. Manakah
contoh bahan pencemar tersebut ?
a. Senyawa Nitrogen
b. Senyawa Carbon
c. Senyawa Sulfur

177
d. Asam Sulfat
e. Radioaktif
38. Proses pembakaran untuk pembangkit tenaga listrik maupun kendaraan bermotor
dapat berlangsung sempurna maupun tidak sempurna. Apa yang dapat
membedakan dari keduanya ?
a. Adanya gas
b. Adanya asap
c. Adanya polutan
d. Adanya api
e. Adanya panas
39. Air adalah sebagai bahan pembangun dan sebagai alat pengatur tubuh manusia
sehingga dikatakan esensial. Berapa prosentase bahan ini dalam tubuh manusia ?
a. 50 %
b. 60 %
c. 70 %
d. 80 %
e. 90 %
40. Vitamin adalah zat makanan yang diperlukan untuk mempertahankan kesehatan
tubuh juga sebagai zat yang diperlukan untuk pertumbuhan. Apabila kekurangan
salah satu vitamin maka dapat terjadi gangguan atau penyakit, contohnya
kebutaan. Apa yang menyebabkan gangguan tersebut ?
a. Kekurangan vitamin A
b. Kekurangan vitamin B1
c. Kekurangan vitamin C
d. Kekurangan vitamin E
e. Kekurangan vitamin D

178
179
Bahan Narkotika dan Obat Berbahaya

Oleh : Marlyn Pandean

a. Morfin
Morfin merupakan hasil olahan opium atau candu/papaver somniferrum).
Dalam dunia kedokteran, morfin dipergunakan sebagai obat tidur atau untuk
menghilangkan rasa sakit, mencegah shock akibat kecelakaan dan

180
menghilangkan rasa cemas. Keracunan morfin terjadi karena pemberian atau
pemakaian yang melebihi takaran, atau penyelahgunaan. Dalam dosis besar,
morfin menyebabkan penurunan kesadaran yang hebat dan dapat
mengakibatkan kematian.

b. Lysergide (LSD)

LSD merupakan golongan narkotika yang bersifat hallucinagenic dengan cara


penggunaan disuntikkan atau diminum. Bagi pemakai bahan ini dapat
menimbulkan provokasi perasaan, pikiran dan emosi, dapat berupa khayalan
yang menyenangkan atau menakutkan.

c. Alkohol

Alkohol yang diperdagangkan dapat berupa metanol, etanol dan butanol.


Metanol diperoleh dari hasil penyulingan serbuk gergaji kayu sebagai bahan
mentahnya, dan dalam proses itu dihasilkannya arang, asam asetat dan aseton.
Whisky atau minuman beralkohol lainnya seperti vodka, mengandung 40 – 50
% alkohol, dibanding dengan bir yang hanya mengandung 2 – 6 %. Daya kerja
alkohol ialah dengan melakukan depresi syaraf pusat. Dalam dosis kecil dapat
menyebabkan pemakainya lemah cara berpikirnya, banyak bicara kemudian
tertidur. Dalam dosis yang besar dapat menyebabkan rasa mual dan bicara
tidak terkontrol (vertigo).

181
Gambar 1.

Gambar 2. Siklus Karbon

Gambar 3. Siklus Oksigen

182
Gambar 4. Siklus Nitrogen

183
Tabel 6.1
Kadar Beberapa Unsur di dalam Litosfir
No. Unsur Jumlah ppm No. Unsur Jumlah ppm
Atom Atom
1 H - 23 V 150
5 B 10 25 Mn 1.000
6 C 320 26 Fe 50.000
7 N - 27 Co 40
8 O 446.000 29 Cu 70
11 Na 28.000 30 Zn 80
12 Mg 20.900 33 As 5
13 Al 81.300 34 Se 0.09
14 Si 277.200 35 Br 2.5
15 P 1.200 37 Rb 280
16 S 520 38 Sn 150
17 Cl 480 42 Mo 2.3
20 Ca 25.900 53 J 0.3
21 Sc 5 56 Ba 430

Tabel 7. Komposisi Udara Kering dan Bersih

Komponen Rumus Konsentrasi


% Ppm
Nitrogen N2 78,09 780900

184
Oksigen O2 20,94 209400
Argon Ar 0,934 9340
Karbon dioksida CO2 0,0315 315
Neon Ne 0,0018 18
Helium He 0,00052 5,2
Metana CH4 0,00010-0,00012 2,0-1,2
Kripton Kr 0,0001 1
Nitrooksida N2O 0,00005 0,5
Hidrogen H2 0,00005 0,5
Ksenon Xe2 0,000008 0,08
Nitrogen dioksida NO 0,000002 0,02
Ozon O3 0,000001-0,000004 0,01-0,04

Catatan : ppm = bagian per sejuta (parts per million) 1 % = 10000 ppm.

185