Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK

Diajukan untuk memenuhi salah satu Tugas Mata Kuliah Praktikum Kimia Anorganik

Dosen Pengampu:
Drs. Ali Kusrijadi, M.Si.

Disusun Oleh:
Annisa Rizky Salsabila (1900006)
Ranggaweny Al-Ghani (1900072)
Trisa Sukma Nur Insani (1900112)
Jihan Nurafifah Hernawan (1900124)

PROGRAM STUDI KIMIA


DEPARTEMEN PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU
PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2021
Síntesis dan Karakterisasi Garam Natrium Tiosulfat

A. Tujuan Percobaan :
1. Membuat natrium tiosulfat
2. Menguji kemurnian natrium tiosulfat

B. Landasan Teori
Garam natrium tiosulfat yang memiliki rumus molekul Na 2S2O3 merupakan padatan
kristal tidak berwarna dan tidak berbau dengan titik leleh 48,3oC. Senyawa ini bersifat
higroskopis, yaitu mampu menyerap air dari udara. Sifat higroskopis ini disebabkan karena
ketidakstabilan strukturnya sehingga untuk menstabilkannya diperlukan air
(Fessenden, 1990)
Oleh karena itu, natrium tiosulfat sering dijumpai dalam bentuk hidratnya yaitu natrium
tiosulfat pentahidrat atau Na2S2O3.5H2O. Morfologi kristal dari garam ini adalah monoklin,
artinya hanya terdapat satu sumbu yang miring dari tiga sumbu yang dimilikinya. Ketiga
sumbu tersebut memiliki panjang yang tidak sama, dengan dua sumbu tegak lurus satu sama
lain
(Britannica, t.thn)
Morfologi kristal sistem monoklin dapat dilihat pada gambar 1.

Gambar 1. Morfologi kristal natrium tiosulfat adalah sistem monoklin


Natrium tiosulfat dapat disintesis dengan cara mereaksikan natirum sulfit heptahidrat
(NaSO3.7H2O) dengan belerang (S8). Karena ion tiosulfat dapat terbentuk jika ion sulfit
(SO32-) direaksikan dengan belerang (S8), mengikuti persamaan reaksi berikut:
8 S8 (s) + 8 SO32- (aq) → 8 S2O32- (aq)
Belerang atau molekul S8 yang digunakan untuk sintesis natrium tiosulfat ini merupakan
molekul stabil, sehingga ikatannya akan sulit untuk diputuskan dan sulit untuk mencampur.
Oleh karena itu, digunakan metode refluks. Refluks adalah proses pemanasan cairan yang
berisi campuran suatu bahan di mana tidak ada bahan/senyawa yang hilang karena menguap
akibat pemanasan
(Wilcox, 1995)
Hal ini dapat terjadi karena proses pemanasan dilakukan di dalam labu yang
disambungkan ke kondensor sehingga uap yang dihasilkan larutan akibat pemanasan akan
terkondensasi, lalu kondensat akan jatuh kembali ke dalam labu. Maka dengan cara refluks,
tidak akan ada senyawa yang hilang dan reaksi pun dapat berlangsung karena tersedianya
energi yang cukup untuk keberlangsungan reaksi. Hasil refluks adalah campuran bahan dalam
bentuk cairan, untuk mendapatkan natrium tiosulfat dalam bentuk padatan kristal, perlu
dilakukan kristalisasi. Kristalisasi adalah suatu proses pembuatan bahan padat dengan cara
menjenuhkan larutan. Kristalisasi merupakan teknik pemisahan bahan padat dengan cair.
Pada proses tersebut terjadi perpindahan massa zat terlarut dari cairan ke fasa kristal padat
(Ningsih, 2016)
Untuk bahan-bahan yang kelarutannya berkurang drastis dengan menurunnya
temperatur, kondisi lewat jenuh dicapai dengan pendinginan larutan panas yang jenuh.
Adapun cara lain untuk mendapatkan kondisi lewat jenuhnya yaitu dengan jalan penguapan
atau penghilangan pelarut
(Cahyono, 1998)
Pengukuran yang menunjukkan seberapa sukses suatu reaksi atau sintesis disebut persen
randemen. Untuk menghitung persen randemen, pertama-tama perlu ditentukan berapa
banyak produk yang harus dibentuk berdasarkan stoikiometri, ini disebut hasil teoritis.
Kemudian timbang hasil produk sebenarnya yang terbentuk. Hasil persen adalah rasio hasil
sebenarnya dengan hasil teoritis, dinyatakan sebagai berikut:
massa hasil percobaan
Persen randemen= x 100 %
massa hasil teoritis
Biasanya, hasil persen kurang dari 100% akibat adanya kesalahan eksperimental, reaksi
yang tidak lengkap, reaksi samping yang tidak diinginkan, dan lain-lain. Namun, hasil persen
lebih dari 100% juga memungkinkan jika produk reaksi yang diukur mengandung pengotor
yang menyebabkan massanya menjadi lebih besar
(Bewick, 2021)
Kristal garam natrium tiosulfat yang sudah terbentuk dapat diuji kemurniannya
dengan analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dapat dilakukan melalui analisis
morfologi kristal menggunakan mikroskop, uji titik leleh, serta analisis keberadaan kation
Na+ dan anion S2O32-. Titik leleh merupakan suhu ketika fase padat dan cair berada dalam
kesetimbangan yang mana suatu zat padat akan berubah wujud menjadi cair pada tekanan
satu atmosfer. Titik leleh adalah salah satu sifat fisik yang dapat digunakan untuk
mengidentifikasi suatu zat. Kristal yang murni biasanya memiliki kisaran titik leleh yang
tajam dan khas antara 0,5 – 1oC. Kisaran titik leleh ditentukan dengan mencatat suhu ketika
pelelehan pertama dimulai dan ketika pelelehan selesai. Jika kristal meleleh pada kisaran
suhu yang panjang, ini adalah tanda ketidakmurnian kristal
(Nichols, 2021)
Analisis kation dapat dilakukan karena pada natrium tiosulfat terdapat kation natrium
yang dapat memberikan warna kuning kuat jika dibakar pada nyala bunsen. Garam natrium
dalam jumlah yang sedikit memberikan hasil positif pada uji ini dan keberadaan natrium
dalam jumlah yang berarti menunjukkan warna yang kuat serta bertahan lama
(Vogel, 1979)
Analisis anion juga dapat dilakukan karena keberadaan anion tiosulfat. Penambahan
asam ke dalam larutan natrium tiosulfat menyebabkan larutan keruh karena terjadinya
pemisahan belerang, dan asam sulfat akan terbentuk dalam larutan. Ketika larutan
dipanaskan, gas SO2 akan dilepaskan yang dicirikan oleh bau dan reaksinya pada kertas
saring yang dibasahi dengan larutan kalium dikromat yang diasamkan. Persamaan reaksi
yang terjadi adalah:
S2O32- + 2H+ → S↓ + SO2↑ + H2O
(Vogel, 1979).
Dalam analisis kuantitatif, uji kemurnian natrium tiosulfat dapat dilakukan dengan titrasi
iodometri. Titrasi iodometri merupakan titrasi dengan prinsip reaksi reduksi-oksidasi. Titrasi
ini merupakan titrasi secara tidak langsung karena titrat yang bersifat oksidator direduksi
dengan kalium iodida dan akan mengkasilkan iodium yang selanjutnya dititrasi oleh larutan
baku natrium tiosulfat. Iodida (I- ) adalah reduktor lemah dan dengan mudah akan teroksidasi
jika direaksikan dengan oksidator. Sehingga titrat yang dipakai adalah oksidator yang dapat
bereaksi dengan iodida (I-) pada kalium iodida untuk menghasilkan Iodium (I 2) yang
berwarna kecoklatan. Iodium (I2) yang terbentuk secara kuantitatif dititrasi dengan tiosulfat
(S2O32-) dari natrium tiosulfat sehingga membentuk iodida (I -) kembali yang tidak berwarna.
Penambahan indikator amilum/kanji dilakukan ketika warna larutan kuning pucat yang
menandakan sebagian besar I2 telah tereduksi menjadi I-. Sehingga sisa I2 yang berada dalam
larutan bereaksi dengan indikator amilum membentuk senyawa kompleks berwarna biru.
Kelebihan titran S2O32- akan mereduksi sisa I2 tadi sehingga warna biru akibat I2 yang
bereraksi dengan amilum akan berubah menjadi tidak berwarna karena I 2 tersebut telah
direduksi menjadi I- tidak berwarna yang tidak bereaksi dengan amilum. Jadi pada titrasi ini,
natrium tiosulfat bertindak sebagai titran dan reduktor. Natrium tiosulfat adalah standar
sekuder karena sifatnya yang tidak stabil terhadap oksidasi udara, asam, dan adanya bakteri
pemakan belerang yang terdapat dalam pelarut. Sehingga kadar natrium tiosulfat dapat
diketahui melalui standardisasi oleh standar primer, yang dalam hal ini dapat digunakan
larutan kalium iodat (KIO3) atau kalium dikromat (K2Cr2O7). Adapun persamaan reaksinya:
Jika dengan KIO3 :
IO3- + 5I- + 6H+ → 3I2 + 3H2O
3I2 + 6S2O32- → 6I- + 3S4O62-
Jika dengan K2Cr2O7 :
Cr2O72- + 6I- + 14H+ → 2Cr3+ + 3I2 + H2O
3I2 + 6S2O32- → 6I- + 3S4O62-
(Vogel, 1979).
Kegunaan garam natrium tiosulfat pada kehidupan sehari-hari salah satunya
dimanfaatkan sebagai photographic fixer. Proses fixing menggunakan photographic fixer ini
bertujuan untuk menghilangkan kristal perak halida dari kertas film, yang mana jika proses
fixing ini tidak dilakukan, sisa perak halida yang tertinggal pada kertas film akan
menyebabkan hasil gambar berkabut. Natrium tiosulfat dapat menjadi photographic fixer
karena dapat membentuk ion kompleks yang larut dengan perak, yaitu ditiosulfatoargentat(I)
atau [Ag(S2O3)2]3-. Berikut persamaan reaksinya:
S2O32- + 2Ag+ → [Ag(S2O3)2]3-
(Vogel, 1979).

C. ALAT DAN BAHAN


Alat
 Neraca Analitik (1 set)
 Refluks (1 set)
-Labu Dasar Bulat (1 buah)
-Kondensor (1 buah)
-Selang Air (2 buah)
-Klem dan Statif (1 set)
-Termometer (1 buah)
-Batu Didih (3 buah)
-Penangas minyak (1 set)
-Hotplate (1 buah)
 Alat penyaringan (1 set)
-Corong Kaca (1 buah)
-Gelas Kimia (1 buah)
-Batang Pengaduk (1 buah)
-Kertas Saring (1 buah)
 Cawan Penguap (1 buah)
 Mikroskop (1 set)
 Kaca Preparat (1 buah)
 Alat penentu titik leleh (1 set)
 Kawat Nikrom (1 buah)
 Tabung Reaksi (2 buah)
 Pembakar Bunsen (1 set)
 Penjepit Tabung (1 buah)
 Buret 50 mL (1 buah)
 Labu Ukur 100 mL (2 buah)
 Labu Erlenmeyer (1 buah)
 Spatula (1 buah)
 Gelas Kimia (1 buah)
 Botol Semprot (1 buah)
 Pipet Tetes (3 buah)

Bahan
 Natrium Sulfit Heptahidrat (15 g)
 Sulfur (2 g)
 Aquades (436 mL)
 Larutan HCl (5 mL)
 Larutan K2Cr2O4 (1 mL)
 Natrium Tiosulfat Pentahidrat (1,2409 gram)
 Natrium Tiosulfat hasil sintesis (0,7905 gram)
 Padatan KIO3 (0,3567 g)
 Larutan H2SO4 1N (5 mL)
 Padatan KI (1 g)
 Kanji (2 g)
 Kertas Saring (2 lembar)
 Pipa Kapiler (1 buah)
 Benang Kasur (15 cm)

D. Spesifikasi Bahan

No. Nama Bahan Sifat Fisika Sifat Kimia


Aquades (H2O)
Titik didih : 100°C Senyawa polar
Titik beku : 0°C Memiliki Ikatan
Wujud : Cair, tak hidrogen
berwarna, tak
berbau

1.
Bahaya Penanggulangan

Dapat meledak atau Jauhkan dari logam


terbakar apabila yang bersifat reaktif
bereaksi dengan
logam reaktif

Natrium Sulfit Heptahidrat Sifat Fisika Sifat Kimia

Wujud : padat Relatif stabil dalam


Berwarna putih kondisi normal
Tak berbau Bereaksi dengan
Larut dalam air asam kuat
Titik lebur : 884° C
2. Mr = 142.04 g/mol

Bahaya Penganggulangan

Iritasi jika kontak Bilas dengan air


dengan mata mengalir

Sulfur Sifat Fisika Sifat Kimia

Wujud : padatan Relatif stabil


Berwarna kuning Bereaksi dengan zat
Titik nyala : 112° C pengoksidasi dan
Larut dalam air, logam
aseton
Mr : 32.06 gr/mol
3.

Bahaya Penanggulangan
Mudah terbakar Gunakan semprotan
Iritan air/semprotan
pemadam api
Bilas dengan air
mengalir

4. Natrium tiosulfat pentahidrat Sifat Fisika Sifat Kimia


Wujud : Padatan Bereaksi dengan
Warna : putih oksidator kuat
Tidak berbau
Larut dalam air,
ammonia
titik leleh : 45°C
Mr : 248.18 g/mol
Mr (anhidrat) :
158.11 g/mol
bentuk morfologi :
monoklin

Bahaya Penanggulangan
Mudah terbakar Gunakan semprotan
Iritan air/semprotan
pemadam api
Bilas dengan air
mengalir

Kalium Iodat Sifat Fisika Sifat Kimia


Wujud : padatan Relatif stabil
Berwarna putih Oksidator kuat
Tidak berbau
Titik lebur : 560° C
Mr = 214.02 g/mol

5. Bahaya Penanggulangan
Iritan Bilas dengan air
Pengoksidasi kuat mengalir, jika
terhirup cari udara
segar
Jauhkan dari bahan
yang mudah terbakar

Kanji Sifat Fisika Sifat Kimia


Wujud : padatan Relatif stabil
Berwarna putih Bereaksi dengan
Titik lebur : 256° C campuran dan
larut dalam air senyawa organik

Bahaya Penanggulangan
6.
Mudah terbakar Hindari reaksi
Iritan dengan campuran
dan senyawa organic
yang mudah terbakar
Bilas dengan air
yang mengalir

7. Larutan HCl Sifat Fisika Sifat Kimia


Wujud : cairan Bereaksi dengan
Tidak berwarna basa kuat, logam,
Baunya khas sianida, perak nitrat
Larut dalam air
Titik beku : -30° C
Mr : 36.46 g/mol
% massa : 97.26%
density : 1190 kg/m3
Sifat Bahaya Penanggulangan
Iritan Bilas dengan air
Korosif mengalir jika terkena
kulit, jika terhirup
cari udara segara.
Jangan biarkan
tertelan
Pemakaian dilakukan
pada ruang
berventilasi baik

Larutan H2SO4 Sifat Fisika Sifat Kimia


Wujud : Cairan Tidak stabil dalam
Tidak berwarna kondisi lembab
Tidak berbau Bereaksi dengan air,
Titik didih : 280oC basa kuat, senyawa
Mr : 98.08 g/mol organic, logam,
density : 1840 kg/m3 halogen, sianida
% massa : 80.85%

Bahaya Penanggulangan
8.
Iritan Bilas dengan air
Korosif mengalir jika terkena
kulit, jika terhirup
cari udara segara.
Jangan biarkan
tertelan
Pemakaian dilakukan
pada ruang
berventilasi baik

9. Kalium Iodida Sifat Fisika Sifat Kimia


Wujud : padatan Bereaksi dengan
tidak berwarna logam, agen
berbau khas pereduksi kuat
Titik lebur : 680oC
Larut dalam air

Bahaya Penanggulangan
Iritan Bilas dengan air
mengalir
Larutan K2Cr2O7 Sifat Fisika Sifat Kimia

Wujud : padatan Relatif stabil


Berwarna kuning Bereaksi dengan
Tak berbau reduktor, klorat

Bahaya Penanggulangan

10. Iritan Mata& kulit : bilas


Dapat menyebabkan dengan air mengalir
kerusakan pada Terhirup : pergi
organ jika terkena mencari udara segar
berkepanjangan Tertelan : minum air
Sangat toksik pada beberapa gelas
kehidupan perairan Hindari membuang
dengan efek jangka sembarang zat ke
panjang lingkungan

Sumber:
Labchem. 2012. Material Safety Data Sheet. [online] diakses dari www.labchem.com/msds
[Diakses pada 26 September 2021]
Merck Millipore. 2010. Safety Data Sheet. [online] diakses dari
www.merckmillipore.com/msds [Diakses pada 26 September 2021]

E. Prosedur Kerja

1. Melakukan Sintesis

Na2SO3.7H2O dan serbuk belerang

- ditimbang natrium sulfit heptahidrat (Na2SO3.7H2O) sebanyak 15 g dan 2 g


serbuk belerang
- dimasukkan kedua bahan tersebut ke dalam labu dasar bulat
- ditambahkan aquades sebanyak 35 mL
- dimasukkan batu didih
- dirangkai set alat refluks (labu dasar bulat diletakkan di dalam penangas minyak
yang disimpan di atas hotplate, kondensor disambungkan dengan labu dengan
keadaan kondensor diklem agar tidak jatuh, selang air dipasangkan ke kondensor,
air yang mengalir pada kondensor dinyalakan dengan arah aliran dari bawah ke
atas, termometer dipasangkan pada labu, hotplate dinyalakan)
Larutan dalam set alat refluks

- direfluks selama 1-2 jam hingga sebagian besar belerang telah larut
- selama proses, suhu dijaga pada 96oC dan tidak melebihi 100oC
- setelah proses refluks selesai, dilakukan penyaringan dengan corong kaca dalam
keadaan panas
- ditampung filtratnya dalam gelas kimia

Filtrat
- didinginkan dengan cara menempatkan gelas kimia yang berisi larutan tersebut
dalam suhu yang bertahap (pendinginan pertama di suhu ruang, pendinginan
kedua di dalam air dengan suhu ruang, pendinginan ketiga di dalam air es)
- dininisiasi dengan cara memasukan ujung benang kasur pada larutan
- ditunggu selama satu minggu.

Kristal

- Jika kristal tak terbentuk, dilakukan kristalisasi dengan cara penjenuhan larutan

Larutan
- dipindahkan dari gelas kimia ke dalam cawan penguap
- diletakkan di atas hotplate
- diaduk larutan tersebut sampai terbentuk padatan kering yang berwarna putih.

Garam natrium tiosulfat dalam cawan

- didinginkan
- ditimbang

Hasil

2. Uji bentuk kristal dengan mikroskop

Garam Natrium Tiosulfat

- diletakkan sedikit di atas kaca preparate


- dilarutkan dengan 1 tetes etanol
- diamati bentuk kristalnya pada mikrokop

Hasil Pengamatan
3. Uji titik leleh

Garam Natrium Tiosulfat

- dimasukkan ke dalam pipa kapiler hingga mengisi pipa dengan tinggi sekitar 0,5
cm dengan keadaan garam mencapai bagian bawah pipa kapiler
- dimasukkan pipa kapiler ke dalam alat penentu titik leleh
- dipastikan garam dalam pipa teramati lewat kaca pembesar pada alat
- dinyalakan alat
- diamati serta dicatat suhu saat garam natrium tiosulfat mulai meleleh dan suhu
saat garam natrium tiosulfat meleleh seluruhnya.

Hasil rentang titik leleh garam natrium tiosulfat

4. Uji Kation Na+ (Analisis Kualitatif)

Garam Natrium Tiosulfat

- disentuhkan hingga menempel pada kawat nikrom


- dicelupkan kawat nikrom yang sudah menyentuh garam natrium tiosulfat ke
dalam larutan HCl pekat.
- dibakar garam natrium tiosulfat dalam kawat nikrom dalam nyala api biru
- diamati warna nyala yang muncul

Hasil Pengamatan

5. Uji Anion S2O32- (Analisis Kualitatif)

Garam Natrium Tiosulfat

- dilarutkan dengan aquades


- dimasukkan ke dalam tabung reaksi sebanyak 1 mL.
- ditambahkan larutan HCl ke dalam larutan tersebut
- ditutup dengan kertas saring.
- ditetesi kertas saring penutup larutan dengan K₂Cr₂O₄ di permukaannya.
- dipanaskan
- diamati perubahan yang terjadi baik pada larutan maupun kertas saring penutup
larutan

Hasil Pengamatan
6. Analisis kemurnian garam natrium tiosulfat secara kuantitatif dengan metode titrasi
iodometri
a. Membuat larutan natrium tiosulfat dari natrium tiosulfat hasil sintesis dan natrium
tiosulfat lab

Garam Natrium Tiosulfat hasil sintesis

- ditimbang sebanyak 0,7905 gram


- dilarutkan dengan akuades
- dipindahkan larutan tersebut ke dalam labu ukur 100 mL
- ditambahkan akuades hingga tanda batas

Larutan Natrium Tiosulfat 0,1 N

Garam Natrium Tiosulfat lab

- ditimbang sebanyak 1,2409 gram


- dilarutkan dengan akuades
- dipindahkan larutan tersebut ke dalam labu ukur 100 mL
- ditambahkan akuades hingga tanda batas

Larutan Natrium Tiosulfat 0,1 N

b. Membuat larutan KIO3

Padatan KIO₃

- ditimbang sebanyak 0,3567 gram


- dilarutkan dengan akuades
- dipindahkan larutan tersebut ke dalam labu ukur 100 mL
- ditambahkan akuades hingga tanda batas

Larutan KIO3 0,1 N

c. Membuat larutan kanji yang digunakan sebagai indikator titrasi iodometri

Padatan Kanji

- ditimbang sebanyak 2 gram


- dilarutkan dalam 100 mL akuades panas
Larutan Kanji

d. Melakukan titrasi

Larutan KIO3 0,1 N

- dipipet sebanyak 10 mL
- dimasukkan kedalam labu Erlenmeyer
- ditambahkan padatan KI sebanyak ±1 gram dan larutan H₂SO₄ 1N sebanyak 5 mL
- dititrasi larutan tersebut dengan larutan natrium tiosulfat 0,1 N sampai warna
larutan berwarna kuning muda
- ketika larutan sudah berwarna kuning muda, dimasukkan larutan kanji
sebanyak 1 mL
- dilakukan titrasi kembali dengan larutan natrium tiosulfat sampai tepat warna biru pada
larutan menghilang
- dicatat volume natrium tiosulfat yang digunakan untuk titrasi
- dilakukan sebanyak dua kali, yang pertama dititrasi oleh larutan natrium tiosulfat
hasil sintesis, dan yang kedua dititrasi oleh larutan natrium tiosulfat lab

Hasil

F. Prelab
1. Gambarkan rancangan alat yang digunakan pada sintesis natrium tiosulfat.

Gambar 1. Set alat reflux digunakan saat mereaksikan natrium


sulfit heptahidrat dengan belerang

Gambar 2. Set alat filtrasi digunakan saat menyaring hasil refluks

Gambar 3. Set alat untuk kristalisasi hasil filtrasi menghasilkan


garam natrium tiosulfat

2. Bagaimanakah menghitung rendemen dari hasil percobaan sintesis natrium tiosulfat?


Nilai rendemen dapat dicari dengan menggunakan persamaan:
massa kristal hasil percobaan
%rendemen= x 100 %
massa kristal teoritis
Di mana,
Untuk massa kristal hasil percobaan, didapat dari hasil penimbangan garam natrium
tiosulfat setelah proses kristalisasi.
Untuk massa kristal teoritis, dihitung melalui perhitungan stoikiometri sebagai berikut:
massa N a 2 S O 3 .7 H 2 O yang digunakan 15 gram
mol N a2 S O 3 .7 H 2 O= = =0,0595 mol
Mr N a2 S O 3 .7 H 2 O 252,15 gram/mol
massa S8 yang digunakan 2 gram
mol S8 = = =0,007797 mol
Mr S8 256,512 gram/mol

S8 ( s ) +8 N a2 S O3 .7 H 2 O ( s ) → 8 N a2 S 2 O3 (aq)
m: 0,007797 mol 0,0595 mol -
r: 0,007797 mol 0,0623 mol 0,0623 mol
s: 0,0028 mol 0,0623 mol

dari persamaan reaksi tersebut, Na2S2O3 yang terbentuk adalah 0,0623 mol. Maka,
massa N a2 S 2 O3=mol N a2 S2 O3 x Mr N a2 S2 O3
massa N a2 S 2 O 3=0,0623mol x 158,11 gram /mol=9,85 gram
jadi, massa kristal teoritis hasil perhitungan adalah 9,85 gram.
Jika massa kristal hasil percobaan yang perlu ditimbang dan massa kristal teoritis yang
perlu dihitung tersebut sudah didapatkan, maka nilai rendemen dapat dihitung.

3. Bagaimana menentukan kemurnian natrium tiosulfat secara iodometri? Jelaskan cara


menghitungnya.
Untuk menentukan kemurnian, dapat digunakan persamaan:
%kemurnian=100 %−%kesalahan
Yang mana, %kesalahan ini didapat dari persamaan:

Normalitas N a2 S 2 O3 lab−Normalitas N a 2 S2 O3 hasil sintesis


%kesalahan= | Normalitas N a 2 S2 O3 lab | x 100 %

nilai Normalitas natrium tiosulfat lab dan hasil sintesis ini didapat dari hasil titrasi.
Volume larutan natrium tiosulfat yang digunakan untuk titrasi hingga mencapai titik
ekivalen kemudian dihitung untuk mencari nilai Normalitasnya menggunakan persamaan:
N N a2 S 2 O3 x V N a 2 S2 O 3=N KIO3 x V KI O 3
Di mana,
N Na2S2O3 nilainya dicari
V Na2S2O3 adalah volume natrium tiosulfat yang digunakan untuk titrasi hingga
mencapai titik ekivalen
N KIO3 nilainya sudah diketahui yaitu 0,1 N (karena KIO3 merupakan standar primer,
sehingga normalitasnya dapat diketahui dari penimbangan massa)
*massa KIO3 yang digunakan untuk membuat larutan adalah 0,3567 gram
0,3567 gram
massa KI O3 / Mr KI O3 214,02 gram/mol
M KI O3 = = =¿
Volume larutan 0,1 L

G. Daftar Pustaka
Bewick, Sharon. 2021. Theoretical Yield and Percent Yield [Daring]. Tersedia:
chem.libretext.org [Diakses pada 22 September 2021]
Britannica. t.thn. Monoclinic System [Daring]. Tersedia: www.britannica.com [Diakses pada
22 September 2021]
Cahyono, A. 1998. Bahan Asistensi dam Petunjuk Praktikum Ilmu Tanah Hutan. Yogyakarta:
UGM
Fessenden. 1990. Fundamentals of Organic Chemistry. New York: Longman
Labchem. 2012. Material Safety Data Sheet. [online] diakses dari www.labchem.com/msds
[Diakses pada 26 September 2021]
Merck Millipore. 2010. Safety Data Sheet. [online] diakses dari
www.merckmillipore.com/msds [Diakses pada 26 September 2021]
Nichols, Lisa. 2021. Melting Point Theory [Daring]. Tersedia: chem.libretext.org [Diakses
pada 22 September 2021]
Ningsih, Sherly. 2016. Sintesis Anorganik. Padang: UNP Press
Vogel, et al. 1979. Qualitative Inorganic Analysis 5th Edition. New York: Longman

Wilcox, C.F. 1995. Experimental Organic Chemistry: A Small Scale Approach. United
States: New Prentice Hall

Anda mungkin juga menyukai