Anda di halaman 1dari 7

1.

Aktualisasi CINTA tanah Air melalui Perspektif Astagatra

Cinta Tanah Air adalah Perasaan yang Timbul dari hati sanubari seorang warga Negara untuk
mengabdi, memelihara, membela, melindungi tanah airnya dari segala ancaman dan gangguan.

Asta Gatra atau biasa di sebut 8 (delapan) gatra merupakan model perangkat hubungan bidang-
bidang kehidupan manusia dan budaya di atas bumi ini. Dapat diambil kesimpulan 8(delapan)
aspek kehidupan nasional terdiri dari
a. TRI GATRA (Posisi dan Lokasi Geografi Negara, Keadaan dan kekayaan alam, Keadaan dan
Kemampuan Penduduk).
b. PANCA GATRA (Ideologi,Politik,Ekonomi, Sosial Budaya dan Pertahanan Keamanan.

Dalam Aktualisasi nya

- Mencintai Pekerjaan dan Menjalankannya dengan iklas dan sepenuh hati.


- Memiliki daya Juang demi mencapai yang diinginkan dalam menjalankan tugas pokok dan fungsi
sebagai pejabat pengawas
- Cerdas, cepat dan responsive dalam menghadapi semua tantangan, rintangan dan hambatan dalam
pelaksanaan pekerjaan
- Profesionalisme dalam bekerja
- Tetap produktif dalam menghasilkan nilai tambah untuk kemajuan bangsa

2. Aktualisasi Kesadaran Berbangsa dan Bernegara berdasarkan Sistematika UUD NRI tahun 1945
Tujuan Negara, sebagaimana tertulis dalam amanat konstitusi pembukaan Undang-Undang
Dasar (UUD) 1945 yaitu:
1. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia
2. Memajukan Kesejahteraan umum
3. Mencerdaskan Kehidupan Bangsa
4. Ikut serta melaksanakan ketetiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan
keadilan social.

Dalam Aktualisasi nya

- Melaksanakan tugas yang diberikan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi jabatan dengan sebaik-
baiknya dan penuh dengan tanggung jawab
- Menjunjung Tinggi prinsip-prinsip dasar NRI sebagai Negara Hukum berdasarkan Pancasila dan UUD
1945 dalam bentuk berprilaku sesuai dengan landasan dan ideologi Negara yaitu Pancasila dan UUD
NRI Tahun1945.
- Menciptakan nilai-nilai kerukunan, persatuan dan kesatuan dalam keberagaman di lingkungan kerja
baik dengan sesama rekan kerja maupun dengan atasan
3. Keseimbangan Kepentingan Sektoral dan Kinerja Organisasi sebagai wujud aplikasi bela Negara
dalam profesionalisme ASN
 Kepentingan Sektoral Adalah tindakan yang dilakukan untuk mencapai tujuan atau maksud
dari kelompok/organisasi/golongan-golongan tertentu
 Kinerja Organisasi Merupakan indicator tingkatan prestasi yg dapat dicapai dan
mencerminkan keberhasilan suatu Organisasi serta merupakan hasil yang dicapai dari
prilaku anggota Organisasi. Kinerja juga merupakan hasil dari serangkaian proses kegiatan
yang dilakukan untuk mencapai tujuan Organisasi.

Jadi Keseimbangan kepentingan Sektoral dalam Kinerja Organisasi dapat diartikan bahwa
tindakan yang tidak hanya mementingkan kepentingan kelompok/Organisasi/Golongan belaka
namun juga harus mewujudkan tujuan atau visi Organisasi dengan tingkatan Prestasi yang
dicapai, sehingga tujuan organisasi dapat diwujudkan dengan kepentingan kelompok yang
sesuai dengan visi dan misi Organisasi juga dapat dilakukan.

Kepentingan Sektoral dan Kinerja Organisasi

1. Sentimen dan kepentingan sektoral sering menjadi hambatan dalam melakukan koordinasi
dalam organisasi.
2. Sejatinya kebijakan yang dituangkan dalam regulasi dibuat untuk kepentingan rakyat.
Sehingga perlu ditekankan bahwa segenap rencana kerja pemerintah Daerah merupakan
perwujudan bela Negara sesuai tugas dan fungsinya Masing-masing
3. Masalah tumpang tindih regulasi masih terjadi, sehingga masih tergambar bahwa sentiment
dan kepentingan sektoral masih menjadi penghambat koordinasi dalam organisasi.

Untuk memahami nilai nilai dasar dan teladan bela negara terlebih dahulu kita harus memahami
apa yang menjadi nilai nilai dasar dan teladan bela negara dimaksud yakni:

• Rasa Cinta Tanah Air,

• Sadar Berbangsa dan Bernegara,

• Setia Kepada Pancasila Sebagai Ideologi Negara,

• Rela berkorban Untuk Bangsa dan Negara,

Kaitannya dengan kita sebagai Pejabat Pengawas di Organisasi wujud Aksi Bela Negara dalam
Profesionalisme dapat dikaitkan dengan melakukan tugas secara Profesional, komitmen dan
Pengabdian kepada Negara serta melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya.

Apabila masyarakat telah merasa terlayani dengan baik maka dengan sendirinya keamanan
serta keberlangsungan negara dapat tetap terjaga dengan baik.
4. Pemaparan Kelompok : Aktualisasi Kemampuan awal Bela Negara Melalui Kesinambungan
integritas dan Kinerja Organisasi Pelayanan Publik dalamKerangka kerja nilai-nilai dasar bela
Negara

Berangkat dari UU no 32 tahun 2002 sebagaimana tertuang pada poin B sebelumnya, maka
dapat ditarik kesimpulan terhada definisi Bela Negara.
• Bela Negara adalah sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada
Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar
1945 dalam menjalin kelangsungan hidup bangsa dan negara yang seutuhnya.
• Integritas adalah mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga
memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan, kejujuran
• Aktualisasi adalah proses implementasi seorang individu dari minat, kreativitas, keinginan untuk
berkembang (dalam kaitannya dengan ASN bertujuan untuk meningkatkan prestasi kerja)

a. Nilai-nilai dasar Bela Negara :


• Kecintaan kepada tanah air
• Kesadaran berbangsa dan bernegara
• Yakin kepada Pancasila dan Ideologi Negara
• Rela berkorban untuk bangsa dan Negara
• Memiliki kemampuan bela Negara baik secara psikis maupun fisik
• Semangat mewujudkan Negara yang berdaulat, adil dan makmur

Seorang pemimpin harus mempunyai nilai-nilai dasar bela Negara, selain itu juga harus mempunyai
Integritas yang sejatinya akan menghasilkan kebijakan yang akan tertuang dalam regulasi yang dibuat
untuk kepentingan rakyat, sehingga perlu ditekankan bahwa segenap rencana kerja pemerintah (pusat
dan daerah) merupakan perwujudan Bela Negara sesuai tugas dan fungsinya masing masing dan
menghasilkan output kinerja pelayanan publik yang baik dan memuaskan

b. Kondisi Ideal Ketahanan Nasional


Untuk mendukung penerapan nilai-nilai bela negara tersebut diperlukan kondisi ideal ketahanan
nasional dalam bentuk Panca Gatra :
1. Gatra ideologi
Merupakan kondisi mental bangsa Indonesia yang berlandaskan keyakinan akan kebenaran ideologi
Pancasila
2. Gatra politik
Merupakan kondisi kehidupan politik bangsa yaitu demokrasi yang berlandaskan Pancasila dan UUD
NRI 1945 agar mampu memelihara stabilitas politik dan mampu menerapkan politik luar negeri yang
bebas aktif
3. Gatra ekonomi
Merupakan kondisi kehidupan perekonomian bangsa yang berlandaskan demokrasi ekonomi
berlandaskan Pancasila untuk memeilhara stabilitas eknmi yang sehat dan dinamis serta mampu
menciptakan kemandirian ekonomi nasional dengan daya saing tinggi dan meuwujudkan kemakmuran
rakyat yang adil dan merata
4. Gatra sosial budaya
Merupakan kondisi kehidupan sosial budaya bangsa yang dijiwai kepribadian nasional berlandaskan
Pancasila, agar mampu membentuk dan mengembangkan masyarakat Indonesia yang beriman,
bertakwa kepada Tuhan YME, rukun, bersatu, cinta tanah air, berkualitas, maju dan sejahtera
kehidupan yang serba selaras, serasi dan seimbang dan memiliki kemampuan untuk menangkal
penetrasi asing yang tidak sesuai
5. Gatra pertahanan keamanan
Merupakan kondisi daya tangkal bangsa yang dilandasi kesadaran bela negara agar mampu
memelihara stabilitas pertahanan keamanan negara yang dinamis, mengamankan pembangunan dan
hasilnya, serta mampu mempertahankan kedaulatan negara dan menangkal segala bentuk ancaman.

AKTUALISASI AWAL BELA NEGARA

Untuk melakukan aktualisasi kemampuan awal Bela Negara diperlukan kesiapan warga negara (dalam hal ini
ASN peserta pelatihan)

Siap seperti apa? Siap secara FISIK dan PSIKIS

Tidak hanya aksi FISIK di lingkungan tempat kerjanya masing-masing

Namun juga menunjukkan jati diri, sikap dan prilaku yang berlandaskan nilai-nilai Bela Negara (PSIKIS)

Untuk itu dalam tugas kelompok ini kami mengambil aktualisasi dalam proses Penganggaran APBD
yang dimana kami rasa cukup kompleks dalam menggambarkan Integritas dan kinerja organisasi
pelayanan publik yang di tampung dalam wadah Tim Anggaran Pemerintah Daerah atau biasa kita
sebut dengan Tim TAPD.
Dalam proses perencanaan penggangaran tentunya di mulai dengan menyerap Aspirasi aspirasi
masyarakat yang dituang dalam wadah Musrenbang dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat /
organisasi / stake holder terkait dimana dalam hal ini akan berjalan secara demokratis yang juga termasuk
dalam Gatra Politik serta nilai bela Negara kita sebagai seorang pemimpin akan mengerti mana yang
menjadi prioritas kita untuk kemaslahatan masyarakat kita yang juga harus disandingkan dengan prioritas
nasional dan prioritas daerah kemudian sesuai dalam Gatra Ideologi dalam proses ini kita akan memilah
memilih mana aspirasi yang sesuai dengan ideologi bangsa kita dan memunculkan kegiatan kegiatan yang
dapat mempersatu bangsa dengan itu akan muncul nilai nilai dasar bela Negara yang berbunyi semangat
mewujudkan Negara yang berdaulat, adil dan makmur. Setelah aspirasi dikumpulkan dalam bentuk RKPD
akan dibahas dan dibuat rancangan KUA tentunya kita juga bisa memasukkan selain hasil dari aspirasi
aspirasi masyarakat kita juga bisa memasukkan kreatifitas untuk kemajuan pelayanan public kita seperti
contohnya pada OPD Bapenda dimana mempunyai pelayanan public berupa Samsat. Untuk mendapatkan
penerimaan daerah yang tinggi kita harus punya inovasi inovasi untuk mewujudkan integritas kita sebagai
pelayan public serta kita harus membuat kemudahan kemudahan yang bisa langsung dirasakan oleh
masyarakat mengingat zaman sekarang sangat erat kaitannya dengan IT, internet dan sebagainya. Dengan
kenyamanan masyarakat dalam membayar pajak tentu akan timbul Gatra ekonomi dimana pemerintah
provinsi riau khususnya dapat menjaga, memelihara kestabilan ekonomi serta dapat mampu menciptakan
kemandirian ekonomi. Seperti hal yang kita ketahui sampai saat ini proporsi penganggaran kita dalam APBD
masih di dominasi oleh Dana Transfer pemerintah pusat. Kemudian dalam mengusulkan kegiatan lain
seperti halnya dalam Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura dalam kegiatan Pengembangan
Komoditi dalam satu Daerah harus memperhatikan sosial budaya dan tipologi daerah. Sebagai contoh,
terkait pengembangan komoditi sagu yang sesuai dengan tipologi daerah kabupaten Kepulauan Meranti
dan apabila komoditi sagu tersebut dianggarkan ditempat lain belum tentu akan berhasil dan cocok dengan
sosial budaya di daerah tersebut. Hal tersebut merupakan bagian dari Gatra Sosial budaya.

Selanjutnya dalam proses pembahasan APBD selesai, dilakukan harmonisasi dalam bentuk
penyelarasan peraturan perundangan dan tidak bertentangan dengan kepentingan umum yang merupakan
upaya untuk melindungi kepentingan bangsa dan negara yang merupakan bagian dari gatra pertahanan
dan keamanan. Sebelum menjadi Rancangan Peraturan Daerah, Peraturan Kepala Daerah yang akan
ditetapkan oleh Kepala Daerah, Biro Hukum menyampaikan evaluasi ke Kementerian Dalam Negeri dan
selanjutnya berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan dan dilanjutkan dengan penetapan Perda dan
Perkada.

Pada proses pelaksanaan, sebagai contoh pada Dinas Kelautan dan Perikanan untuk proses
pemberian bantuan yang tepat sasaran guna menstabilkan ekonomi masyarakat yang bertujuan untuk
mewujudkan keadilan dan kemakmuran masyarakat yang merupakan bagian dari nilai-nilai dasar bela
negara.

Kemudian pada proses Pertanggung jaawaban Keterbukaan Informasi sangat di perlukan. Dengan
melakukan pencatatan dan Pelaporan yang Jujur yang dilaksanakan dengan sistem aplikasi yang
dikembangkan oleh Pemerintah Pusat yang pelaksana memberikan banyak manfaat seperti pembayaran
yang tepat waktu, tepat sasaran, pencatatan keuangan yang lebih rapi dan terdokumentasi secara baik,
meminimalisir terjadinya penyalahgunaan uang negara yang dengan sendirinya ini merupakan salah satu
bentuk dari bela negara dari segi pengelolaan keuangan daerah yang lebih baik.

Saat ini kami yang bekerja di lingkungan Pertanggungjawaban keuangan daerah ikut terlibat
langsung dalam pengembangan sistem SIPD permendagri 90 tahun 2020 , turut serta menyusun konsep-
konsep pembayaran secara non tunai yang dituangkan dalam Instuksi Gubernur Nomor 1 tahun 2018
tentang Pelaksanaan Transaksi Non Tunai di Lungkungan Pemerintah Provinsi Riau. Sistem pembayaran
secara non tunai adalah sebuah keniscayaan dari kemajuan teknologi secara global. Transaksi non tunai
memberikan efek yang positif bagi pengelolaan keuangan daerah, terutama dalam pengelolaan belanja
yang ada pada bendahara perangkat daerah. Dengan melakukan pembayaran secara non tunai yang
dilaksanakan dengan sistem aplikasi yang dikembangkan oleh bank pelaksana memberikan banyak manfaat
seperti pembayaran yang tepat waktu, tepat sasaran, pencatatan keuangan yang lebih rapi dan
terdokumentasi secara baik, meminimalisir terjadinya penyalahgunaan uang negara yang dengan sendirinya
ini merupakan salah satu bentuk dari bela negara dari segi pengelolaan keuangan daerah yang lebih baik.

Dari penjelasan diatas dapat kita simpulkan Dalam konteks pelayanan publik, integritas organisasi
pelayanan public akan meningatkan kepercayaan public. Sementara keberadaan etika, kompetensi,
akuntabiitas, dan tentunya transparansi yang menjadi pembangunan integritas, juga akan meningkatkan
kepuasan public.

Contoh selanjutnya :
Di UPT. Pengujian dan Sertifikasi Mutu Barang Disperindagkop UKM, dimana melakukan pelayanan publik
secara langsung ke masyarakat.
UPT. PSMB merupakan salah satu pemegang amanat UU 20 tahun 2014 tentang Standardisasi dan Penilaian
Kesesuaian sebagai Lembaga Penilaian Kesesuaian (LPK). LPK adalah sebuah lembaga yang melakukan
kegiatan penilaian kesesuaian.
Penilaian kesesuaian seperti apa?
Berdasarkan pergub 44 tahun 2020, UPT. PSMB memiliki tupoksi untuk melakukan kegiatan pengujian dan
sertifikasi mutu barang, secara spesifik adalah kegiatan layanan pengujian komoditi, layanan kalibrasi
peralatan dan sertifikasi produk SNI.
Dalam menjalankan operasional layanan tersebut, UPT. PSMB membuat dan menerapkan sistem
manajemen mutu yang berbasi ISO 17025 dan ISO 17065 dan persyaratan peraturan relevan lainnya. Bahkan
melalui komitmen yang tinggi, UPT. PSMB juga telah memperoleh akreditasi dari Komite Akreditasi Nasional
terhadap 3 jenis layanan tersebut.
Melalui penerapan iptek, sistem manajemen tersebut disusun dan diterapkan dengan alur kerja yang
transparan.
Seluruh SDM di dalamnya dituntut utk memiliki etika dan integritas dalam melayani, menjaga kerahasiaan
dan bersikap tidak memihak, menjunjung tinggi profesionalitas dalam bekerja dan berlandaskan nilai-nilai
Pancasila.
Melalui sikap dan perilaku tersebut sedikit banyaknya telah mencerminkan nilai-nilai bela negara yang
berkesinambungan dengan integritas melalui kinerja pelayanan publik yang baik.

KESIMPULAN

Sasaran dari pembinaan Bela Negara adalah untuk mendorong terciptanya rasa cinta tanah air,
kesadaran berbangsa dan bernegara, kesetiaan pada ideologi Pancasila, rela berkorban demi
bangsa dan negara serta memiliki kemampuan awal menegakkan kedaulatan bagsa dan negara
berdasarkan Pancasila dan UUD NRI 1945 demi mewujudkan cita-cita luhur bangsa kita.

Diharapkan melalui pembinaan tersebut dapat menciptakan ASN dengan kepemimpinan yang
memiliki integritas dan berlandaskan Pancasila serta nilai-nilai Bela Negara.