Anda di halaman 1dari 21

II.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Rumput Lapangan

Rumput lapangan merupakan jenis hijauan pakan ternak yang tumbuh liar

terdiri dari campuran beragam rumput lokal yang tumbuh secara alami.

Produksinya cukup rendah begitu juga kualitas nutrisinya. Rumput ini dapat

tumbuh di segala macam tanah dan mudah ditemukan di pinggiran jalan, tanah

lapangan yang terdiri dari beragam tanaman seperti rumput para, rumput buffel

dan lain sebagainya.

Sebagai salah satu sumber hijauan makanan ternak, rumput lapang cukup

disukai oleh ternak ruminansia terutama domba dan kambing. Rumput lapangan

banyak dan mudah didapat, tetapi kualitas hijauan ini sangat bervariasi tergantung

dari jenis, umur, musim dan lokasi rumput tersebut tumbuh. Rumput yang masih

muda pada umumnya kualitasnya lebih baik. Begitu juga halnya dengan jenis

tanah, pada tanah yang subur kualitas rumput lapangan lebih baik dari pada yang

tumbuh di daerah tandus. Kandungan nutrisi rumput lapangan disajikan pada

Tabel 2.1.

Tabel 2.1. Komposisi Zat Makanan Rumput Lapang (% Bahan Kering)


Zat Makanan % Bahan Kering
Bahan Kering (%) 78,37
Protein Kasar (%) 7,12
Serat Kasar (%) 27,59
Lemak Kasar (%) 0,91
BETN (%) 35,61
Total Nutrien Tercerna (%) 54,29
Sumber : Herman (1989)

6
2.2.1. Rumput Buffel (Cenchrus ciliaris)

Rumput buffel (Cenchrus ciliaris) merupakan rumput tropis yang banyak

tumbuh di Australia, Afrika, India dan Indonesia. Rumput buffel disebut juga

dengan rumput ekor rubah. Rumput buffel memiliki daun dengan lebar 2-13 mm

dan panjang 3-30 cm, memiliki bulu di pangkalan dan permukaan daun kasar.

Rumput buffel tumbuh subur di lingkungan gundul yang gersang dan semi-

kering. Rumput ini dapat ditemukan di sepanjang pinggiran jalan atau tepi sungai

(Sanbi, 2010). Keunggulan rumput ini ialah persistent, sangat toleran dengan

kekeringan dan cepat merespon setelah hujan. Gambar rumput Buffel disajikan

pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1. Rumput Buffel (Cenchrus ciliaris)

Rumput buffel muda mengandung sekitar 6-16% protein, dan rumput buffel

yang sudah tua hanya sedikit mengandung protein yaitu sekitar 4% (Jacobs et al.,

2004). Kandungan nutrisi rumput buffel berdasarkan Caceres et al., (1986)

disajikan pada Tabel 2.2.

7
Tabel 2.2. Kandungan Nutrisi Rumput Buffel (Cenchrus ciliaris)
Zat Makanan % Bahan Kering
Bahan kering 30,1
Protein 7,1
Serat kasar 40,2
NDF 75,1
ADF 46,6
Lignin 6,8
Abu 9,1
Sumber: Caceres et al., (1986)

2.2. Petai Cina (Leucaena leucocephala)

Nama umum tumbuhan ini adalah petai Cina. Tumbuhan ini dikenal

masyarakat Indonesia dengan nama daerah yaitu: pete cina, pete selong

(Sumatera), pete selong (Sunda), lamtoro, peutey, selamtara, pelending,

kamalandingan (Jawa), kalandingan (Madura). Nama asing petai cina Yin he huan

(C), wild tamarind (L) dan nama simplisia petai cina adalah semen leucaenae

glaucae (biji lamtoro) (Yuniarti, 2008). Tanaman petai cina disajikan pada

Gambar 2.2.

Gambar 2.2. Petai Cina (Leucaena leucocephala)

Petai cina merupakan tanaman sejenis perdu dari suku Fabaceae

(Leguminosae, polong-polongan), yang sering digunakan dalam penghijauan

8
lahan atau pencegahan erosi. Nama ilmiahnya, leucocephala (berkepala putih)

berasal dari kata leu artinya putih dan cephala artinya kepala, mengacu kepada

bongkol-bongkol bunganya yang berwarna keputihan.

Daun dan ranting muda petai cina merupakan pakan ternak dan sumber

protein yang baik bagi ternak ruminansia. Daun petai cina memiliki tingkat

kecernaan 60 % hingga 70 % pada ternak ruminansia. Pemberian pakan tunggal

pada ternak yang terdiri dari rumput-rumputan yang umumnya rendah kandungan

nitrogennya tidak akan memenuhi kebutuhan zat-zat gizi minimal ternak,

campuran rumput atau jerami dengan daun petai cina sangat menguntungkan

untuk memperbaiki nilai gizi yang rendah.

Dari beberapa penelitian pemberian daun lamtoro sebagai campuran pada

rumput atau jerami dapat memperbaiki nilai gizi ransum. Limbong dan Sitorus

(1987), melaporkan bahwa penambahan hijauan Iamtoro segar sebanyak 0,5 kg

pada ransum dasar domba dan kambing (ransum dasar terdiri dari 1,8 kg rumput

gajah yang ditambah jerami padi yang diberikan secara bebas) menunjukkan

adanya perbaikan dalam nilai konsumsi pakan bila dibandingkan dengan ternak

yang hanya mendapat ransum dasar. Penelitian yang dilakukan oleh Semali dan

Mathius (1984), menunjukkan bahwa pemberian daun lamtoro sebanyak 1 kg/hari

merupakan jumlah pemberian yang optimal untuk pertumbuhan ternak domba

muda. Kandungan kimia hijauan petai cina disajikan pada Tabel 2.3.

9
Tabel 2.3. Komposisi Kimia Hijauan Petai Cina
Daun Petai Cina Muda Daun Petai Cina Tua
Bahan kering 29, 10 35,67
Protein kasar 34,57 27,48
Lemak 2,23 2,97
NDF 38,6 52,68
ADF 34,38 42,93
Hemiselulosa 4,22 9,55
Abu 4,85 4,93
Kalsium 0,47 0,10
Pospor 0,79 0,55
Sumber : Toruan Mathius dan Suhendi (1991)

Menurut Jones (1979), Haryanto dan Djajanegara (1993), daun lamtoro

mengandung protein yang relatif rendah tingkat pemecahannya di dalam rumen

sehingga merupakan sumber protein yang baik untuk ternak ruminansia.

Kandungan proteinnya berkisar antara 25-32 % dari bahan kering, sedangkan

kalsium dan fosfornya berturut-turut antara 1,9-3,2 % dan 0,15-0,35 % dari bahan

kering (Askar dan Marlina, 1997). Kandungan mineral lainnya seperti Fe, Co dan

Mn, menurut Mathius (1993) masih berada diambang batas yang tidak

membahayakan untuk dijadikan pakan, sedangkan rendahnya kadar sodium dan

iodium dapat diatasi dengan pemberian mineral lengkap yang dicampur dengan

garam dapur (Jones, 1979). Lamtoro mengandung ß karoten yang merupakan

provitamin A. Sekalipun pada musim kering daun lamtoro tetap berwarna hijau

berbeda dengan rumput yang pada musim kering menjadi kecoklatan (Jones,

1979).

Petai cina termasuk hijauan yang bernilai gizi tinggi namun

pemanfaatannya sebagai pakan ternak pemberiannya perlu dibatasi. Petai cina

mengandung zat anti nutrisi yaitu asam amino non protein yang disebut mimosin,

yang dapat menimbulkan keracunan atau gangguan kesehatan apabila dikonsumsi

10
dalam jumlah yang banyak dan terus menerus dalam jangka waktu yang cukup

lama (Haryanto dan Djajanegara, 1993 serta Siregar, 1994).

Petai cina mempunyai kandungan mimosin yang tinggi, apabila sapi

diberikan petai cina selama 6 bulan secara berturut-turut akan menyebabkan

ternak kehilangan rambut, penurunan fertilitas (kesuburan), gangguan pada

kelenjar tiroid dan katarak (Syamsudin dkk., 2006). Pada ruminansia mimosin

diuraikan di dalam lambungnya oleh sejenis bakteria, Synergistes jonesii, dengan

bantuan mikroorganisme tertentu atau enzim, mimosin dapat dirombak menjadi 3-

hydroxy-4 (IH) pyridone (DHP) yang derajat keracunannya Iebih rendah.

Mikroorganisme tersebut terdapat dalam rumen ternak ruminansia Indonesia

(Lowry 1982, Haryanto dan Djajanegara, 1993).

Zat anti nutrisi lainya yang terkandung didalam lamtoro yaitu asam

sianida (HCN) yang berpengaruh buruk karena dapat menyebabkan terjadinya

pembengkakan kelenjar tiroid pada ternak. Asam sianida dapat menyebabkan

keracunan akut (mematikan) dan keracunan kronis. Pada dosis rendah HCN yang

masuk dalam tubuh ternak dalam jangka waktu yang cukup lama dapat

menurunkan kesehatan ternak. Selain itu lamtoro juga mengandung tanin yang

dapat menurunkan palatabilitas pakan dan penurunan kecernaan protein (Siregar,

1994). Namun menurut Jones (1979) dan Manurung (1996) adanya sejumlah tanin

dalam lamtoro dapat mencegah kembung dan melindungi degradasi protein yang

berlebihan oleh mikroba rumen.

Adanya zat anti nutrisi dalam hijauan lamtoro tidak mengurangi nilai

manfaatnya sebagai pakan hijauan yang berkualitas. Pencampuran hijauan ini ke

dalam hijauan lainnya adalah salah satu cara mengurangi resiko keracunan pada

11
ternak ruminansia. Sebagai pakan ternak, hijauan lamtoro haruslah dicampur

dengan bahan lain, antara lain rumput- rumputan, katul, sagu dan lain-lain. Siregar

1983, menyarankan maksimum pemberian lamtoro pada ternak adalah 60%.

2.3. Pakan

Pakan adalah bahan yang dapat dimakan, dicerna dan diserap baik secara

keseluruhan atau sebagian dan tidak menimbulkan keracunan atau tidak

mengganggu kesehatan ternak yang mengkonsumsinya (Kamal, 1998 dalam

Subekti, 2009). Ransum adalah campuran dari beberapa bahan pakan yang

disusun untuk memenuhi kebutuhan ternak dalam waktu 24 jam sehingga zat gizi

yang dikandungnya seimbang sesuai kebutuhan ternak (Indah dan Sobri, 2001).

Pakan berfungsi untuk memenuhi kebutuhan ternak baik untuk hidup

pokok, pertumbuhan, reproduksi dan produksi. Oleh karena itu pakan harus terdiri

dari zat-zat yang dibutuhkan ternak berupa protein, lemak, karbohidrat, mineral,

vitamin dan air. Tiga faktor penting dalam kaitan penyediaan pakan bagi ternak

adalah ketersediaan pakan harus dalam jumlah yang cukup, mengandung nutrisi

dan protein yang baik. Ketersediaan hijauan umumnya berfluktuasi mengikuti

pola musim, dimana produksi hijauan melimpah dimusim hujan dan sebaliknya

terbatas di musim kemarau (Lado, 2007).

2.4. Pellet

Jahan et al., (2006) menyatakan bahwa pellet adalah hasil modifikasi dari

mash yang dihasilkan dari pengepresan mesin pellet menjadi lebih keras. Menurut

Hartadi et al., (1990), pellet dikenal sebagai bentuk massa dari bahan pakan atau

12
ransum yang dibentuk dengan cara menekan dan memadatkan melalui lubang

cetakan secara mekanis. Menurut Pond et al., (1995) pellet adalah ransum yang

dibuat dengan menggiling bahan baku yang kemudian dipadatkan menggunakan

die dengan bentuk, diameter, panjang dan derajat kekerasan yang berbeda.

Pellet terdiri dari 2 tipe, yaitu pellet keras (hard pellets) dan pellet lunak

(soft pellets). Pellet keras adalah pellet yang tidak menggunakan molases atau

menggunakan molases sebagai perekat kurang dari 10 %, sedangkan pellet lunak

adalah pellet yang menggunakan molases sebagai perekat sebanyak 30-40 %.

Pellet yang terbuat dari konsentrat memiliki diameter 5-15 mm dengan panjang

pellet 7-10 mm, sedangkan pellet yang terbuat dari hijauan atau makanan kasar

memiliki diameter 10-20 mm dengan panjang pellet yang sama (Pathak, 1997).

Menurut Pathak (1997), peletisasi adalah proses pengolahan pakan

tunggal, konsentrat ataupun pakan lengkap menjadi bentuk silindris dan pakan

yang dihasilkan disebut pellet. Caranya bahan pakan dimasukkan ke dalam mesin

pelleting kemudian melalui proses ekstrusi bahan pakan tersebut ditekan masuk

melalui lubang die dengan diameter yang diinginkan dan hasilnya berupa pakan

berbentuk pellet/silinder. Peletisasi pakan ternak bertujuan untuk:

1. Meminimalkan terbentuknya debu dan partikel-partikel halus lainnya yang

akan menyulitkan bagi pekerja pada saat pengolahan maupun pada hewan

ketika akan memakannya.

2. Memastikan konsumsi nutrisi tertentu yang kurang disukai atau bahkan tidak

disukai sama sekali oleh hewan tertentu.

13
3. Mengurangi jumlah pakan yang tidak termakan/tersisa, karena dengan

berbentuk pellet maka sisa pakan mudah dikumpulkan dan bias diberikan

kembali kepada hewan ketika sudah dicampur dengan pellet yang baru.

4. Menjamin keseragaman distribusi dan konsumsi zat gizi dalam campuran

pakan.

5. Mengurangi volume sehingga menghemat tempat untuk penyimpanan,

sedangkan densitasnya meningkat sehingga meningkatkan efisiensi konsumsi

pakan.

6. Relatif tidak akan ada zat gizi pakan yang hilang jika dibuat dalam bentuk

pellet dibandingkan dalam bentuk curah.

7. Memudahkan penanganan dan transportasi.

McElhiney (1994), menyatakan bahwa pellet merupakan hasil proses

pengolahan bahan baku ransum secara mekanik yang didukung oleh faktor kadar

air, panas dan tekanan, selain itu dua faktor yang mempengaruhi ketahanan serta

kualitas fisik pellet adalah karakteristik dan ukuran partikel bahan. Pellet yang

berkualitas harus mempunyai nutrisi tinggi misalnya meningkatkan konsumsi

ransum dan mungkin meningkatkan nilai nutrisi (Thomas dan Van der Poel,

1996). Adapun proses pembuatan pellet sebagai berikut:

1. Penggilingan (Grinding)

Penggilingan merupakan proses pengurangan ukuran partikel bahan baku

untuk meningkatkan nilai zat makanan bahan baku dan meningkatkan kinerja

proses pencampuran bahan baku. Penggilingan bertujuan untuk meningkatkan

14
kecernaan dan efesiensi penggunaan pakan, memudahkan proses pencampuran,

menyeragamkan bentuk dan ukuran bahan baku (Herman, 2000). Behnke (2001)

menyatakan bahwa ukuran partikel bahan dari hasil proses penggilingan dengan

kategori fine (halus) memiliki permukaan yang luas sehingga mudah menyerap air

dan menerima panas. Fairfield (1994) berpendapat bahwa karakteristik bahan

seperti densitas, kadar air, tekstur dan ukuran partikel bahan dari berbagai bahan

dalam formulasi ransum dapat mempengaruhi kualitas dan proses produksi pellet.

2. Pencampuran (Mixing)

Proses pencampuran merupakan proses penyatuan bahan baku dengan cara

pengadukan untuk mencapai campuran yang homogen sesuai dengan formula

yang telah ditetapkan. Herman (2000) menyatakan bahwa hasil pengadukan yang

homogen menentukan kualitas pakan yang dihasilkan dan akan meningkatkan

penampilan ternak. Faktor-faktor yang menentukan penyebaran bahan baku

adalah ukuran partikel, desain mesin pencampur, dan waktu pengadukan. Waktu

pengadukan dalam mixing untuk mendapatkan campuran yang homogen adalah

selama 10 menit (McElhinney, 1994).

3. Pelleting

Pelleting adalah proses pembuatan pakan berbentuk tepung (mash) yang

dipadatkan dan ditekan dengan mengunakan roller dan dimampatkan melalui

lubang silinder yang disebut die, sehingga dapat menghasilkan pakan bentuk

pellet. Proses pemadatan dan pemampatan ditentukan oleh desain pemasangan

roller dan die (Thomas dan van der Poel, 1996). Khalil dan Suryahadi (1995)

menyatakan bahwa beberapa variabel yang mempengaruhi proses pembuatan

pellet yaitu karakteristik bahan baku meliputi formulasi ransum, keseragaman,

15
ukuran partikel, kadar air dan kehalusan gilingan, sedangkan faktor-faktor yang

perlu diperhatikan dalam pembuatan pellet antara lain :

1) Rasio antara diameter dan panjang lubang die.

2) Kecepatan perputaran ring lubang die.

3) Kecepatan aliran bahan baku.

4) Kerapatan tumpukan, kerapatan pemadatan, dan penekanan pada lubang

die.

5) Komposisi kandungan zat makanan.

6) Temperatur dalam ruang mesin pellet.

7) Kelembapan lingkungan.

4. Pendinginan (Cooling)

Pada umumnya proses pendinginan menggunakan sedikit udara untuk

mengurangi resiko pengembunan pada pellet. Proses pendinginan bertujuan untuk

meminimumkan kerusakan pellet akibat kelebihan kadar air dan suhu yang tinggi

(Audet, 1995).

Menurut Thomas dan Van der Poel (1996) alat pendingin berupa kipas angin

sangat mempengaruhi proses pendinginan dalam cooler dan kekerasan (hardness)

atau ketahanan (durability) pellet. Brooker et al. (1974) menyatakan bahwa proses

pendinginan akan berlangsung secara optimal di dalam cooler bila terdapat lebih

dari satu buah kipas penggerak udara yang dapat mengalirkan udara keseluruh

bagian cooler.

Ada beberapa faktor yang menentukan kualitas pellet yang dihasilkan, yaitu

bahan baku, proses variabel, sistem variabel dan perubahan fungsi pakan pada

saat pembuatan pellet. Menurut Thomas et al., (1997), faktor bahan baku

16
dipengaruhi oleh sifat fisik kimia, komposisi kimia, dan komposisi fisik bahan.

Sifat fisik kimia terdiri dari protein, pati, dan serat. Komposisi kimia terdiri dari

kandungan bahan kering, lemak, abu, dan kandungan nitrogen. Komposisi fisik

terdiri atas berat jenis dan ukuran partikel. Proses variabel berhubungan dengan

spesifikasi mesin yang digunakan seperti kecepatan putaran mesin per menit

(RPM), jarak antara die dan roller, kecepatan die, penempatan pisau pemotong,

dan permukaan roller. Sistem variabel berhubungan dengan lamanya bahan baku

berada di dalam mesin pellet selama proses pemeletan berlangsung dan jumlah

energi yang digunakan (Thomas et al., 1997).

Thomas et al. (1997), juga menyatakan bahwa perubahan fungsi

berhubungan dengan proses gelatinisasi pati, solubilisasi serat, dan denaturasi

protein. Faktor tujuan berhubungan dengan kualitas nutrisi dari pellet yang

dihasilkan (kandungan energi dan protein), kualitas fisik seperti kekerasan dan

ketahanan benturan pellet, serta kualitas higienis (jumlah mikroba) pellet.

2.5. Molasses

Molasses adalah produk sampingan dari industri penyulingan gula

(Cheeke, 1999). Penggunaan molasses dapat meningkatkan palatabilitas,

mengurangi sifat berdebu ransum dan berfungsi sebagai sumber energi (Perry et

al., 2003). Komposisi zat makanan molasses berdasarkan bahan kering yaitu 10,4

% abu, 5,4 % protein kasar, 0,3 % lemak kasar, 10 % serat kasar, 73,9 % BETN,

1,09% Ca dan 0,12% P (Hartadi et al., 1990). Gambar molasses disajikan pada

Gambar 2.3 dibawah ini.

17
Gambar 2.3. Molasses

Bentuk fisik molasses tampak sebagai cairan pekat dan berwarna gelap

disebabkan oleh adanya reaksi “browning” memiliki rasa pahit-pahit manis dan

merupakan cairan yang berviskositas tinggi sehingga tidak mudah membeku

(Tedjowahjono, 1987). Kandungan yang terdapat pada molasses antara lain 20%

air, 3,5% protein, 58% karbohidrat, 0,80% Ca, 0,10% pospor dan 10,50% bahan

mineral lain (Pujaningsih, 2006). Menurut Akhirany (1998), molasses

mengandung 50-60% gula, sejumlah asam amino dan mineral (Puturau, 1982),

sehingga baik digunakan sebagai perekat.

Kandungan pati yang cukup banyak mendukung penggunaan molasses

sebagai bahan perekat pada proses pembuatan pakan pellet. Pati yang

tergelatinisasi akan membentuk struktur gel yang akan merekatkan pakan,

sehingga pakan akan tetap kompak dan tidak mudah hancur (Nilasari, 2012).

Nilasari, 2012 menambahkan bahwa penambahan perekat dapat meningkatkan

keutuhan pakan pellet dan tidak mudah hancur selama proses pengangkutan

(transportasi).

Keuntungan menggunakan molasses sebagai binder diantaranya akan

meningkatkan palatabilitas dan mengurangi sifat debu, molasses juga merupakan

18
sumber karbohidrat mudah tercerna, selain itu molases dapat meningkatkan

penampakan tekstur pellet (Arif, 2010). Keunggulan penggunaan molasses yang

lain merupakan zat aditif yang mempunyai sifat fisik yang baik untuk

menghasilkan pellet dengan kualitas yang baik dan meningkatkan palatabilitas

ternak (Juniyanto, dkk., 2013).

2.6. Pengujian Sifat Fisik

Sifat fisik merupakan sifat dasar yang dimiliki oleh suatu bahan sehingga

dapat menetapkan mutu pakan dan koefisien proses produksi. Sifat fisik pakan

penting untuk diketahui dalam beberapa permasalahan dan perancangan alat-alat

yang dapat membantu proses produksi pakan serta membantu pengolahan hasil

pertanian. Sifat fisik pakan yang penting untuk diketahui adalah kerapatan

tumpukan, kerapatan pemadatan tumpukan, berat jenis, sudut tumpukan, dan

pellet durability index (Rahmawan dan Mansyur, 2006).

2.6.1. Kadar Air

Kadar air merupakan persentase kandungan air suatu bahan yang dapat

dinyatakan berdasarkan berat basah atau berat kering. Kadar air berdasarkan berat

basah adalah perbandingan antara berat air dalam suatu bahan dengan berat total

bahan, sedangkan kadar air berdasarkan berat kering adalah perbandingan antara

berat air dalam suatu bahan dengan berat kering bahan tersebut (Syarif dan Halid,

1993).

Air yang terdapat dalam suatu bahan menurut derajat keterikatannya

terbagi menjadi empat tipe, yaitu: 1) tipe satu adalah molekul air yang terikat pada

19
molekul-molekul lain melalui suatu ikatan hidrogen yang berenergi besar. Air tipe

ini tidak dapat membeku pada proses pembekuan, tetapi sebagian air ini dapat

dihilangkan dengan cara pengeringan biasa, 2) tipe dua adalah molekul-molekul

air yang membentuk ikatan hidrogen dengan molekul air lain. Air tipe ini lebih

sulit dihilangkan, dan apabila dihilangkan akan mengakibatkan penurunan

aktivitas air (Aw), apabila air ini dihilangkan sebagian, maka pertumbuhan

mikroba, reaksi browning, hidrolisis atau oksidasi lemak dapat dikurangi,

sedangkan apabila air ini dihilangkan semuanya, kadar air bahan berkisar 3-7%

dan kestabilan produk suatu bahan akan tercapai, kecuali pada produk-produk

yang dapat mengalami oksidasi akibat adanya kandungan lemak tidak jenuh, 3)

tipe tiga adalah air yang secara fisik terikat dalam jaringan matriks bahan. Air tipe

ini mudah diuapkan dan dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan mikroba dan

media bagi reaksi-reaksi kimiawi.

Apabila air ini diuapkan seluruhnya, kandungan air bahan berkisar 12-25%

dengan Aw kira- kira 0,8 tergantung dari jenis bahan dan suhu. Air tipe ini disebut

dengan air bebas, 4) tipe empat adalah air yang tidak terikat dalam jaringan suatu

bahan atau air murni (Winarno, 1997). Kadar air dari suatu bahan dapat diukur

dengan metode umum seperti melakukan pemanasan dalam oven atau dengan cara

destilasi. Kadar air bahan merupakan pengukuran jumlah air total yang

terkandung di dalam bahan, tanpa memperlihatkan kondisi atau derajat keterikatan

air (Syarif dan Halid, 1993).

20
2.6.2. Berat Jenis

Berat jenis merupakan perbandingan antara berat dengan volume bahan,

satuannya kg/m3. Menurut Khalil (1999a), berat jenis memegang peranan penting

dalam berbagai proses pengolahan, penanganan dan penyimpanan. Berat jenis

diukur dengan menggunakan prinsip Hukum Archimedes, yaitu suatu benda di

dalam fluida, baik sebagian ataupun seluruhnya akan memperoleh gaya

archimedes sebesar fluida yang dipindahkan dan arahnya ke atas (Khalil, 1999a).

Berat jenis bersama dengan ukuran partikel berpengaruh terhadap homogenesitas

penyebaran partikel dan stabilitasnya dalam suatu campuran pakan. Berat jenis

yang tinggi akan meningkatkan kapasitas ruang penyimpanan (Syarifudin, 2001).

Sampel bahan dimasukkan ke dalam gelas ukur 100 ml menggunakan

sendok secara perlahan sampai mencapai volume 30 ml. Gelas ukur yang sudah

berisi bahan ditimbang, selanjutnya sebanyak 50 ml aquades dimasukkan ke

dalam gelas ukur tersebut. Untuk menghilangkan udara antar partikel maka

dilakukan pengadukan menggunakan pengaduk. Sisa bahan yang menempel pada

pengaduk dibilas dengan cara menyemprotkan aquades dan ditambahkan ke

dalam volume awal. Pembacaan volume akhir dilakukan setelah konstan.

Perubahan volume bahan setelah dicampur aquades merupakan volume bahan

sesungguhnya (Widyaningrum, 2007).

Berat jenis merupakan faktor penentu kerapatan tumpukan dan

berpengaruh besar terhadap daya ambang (Khalil, 1999a). Penelitian yang

dilakukan oleh Gauthama (1998) menunjukkan bahwa berat jenis tidak berbeda

nyata terhadap perbedaan ukuran partikel karena ruang antar partikel bahan sudah

terisi oleh aquades dalam pengukuran berat jenis.

21
2.6.3. Sudut Tumpukan

Sudut tumpukan adalah sudut yang dibentuk oleh bahan pakan diarahkan

pada bidang datar. Tumpukan akan terbentuk bila bahan dicurahkan pada bidang

datar melalui sebuah corong serta mengukur kriteria kebebasan bergerak dari

partikel pada sudut tumpukan bahan (Geldart et al., 1990). Sudut tumpukan

merupakan kriteria kebebasan bergerak pakan dalam tumpukan. Sudut tumpukan

berperan antara lain dalam menentukan flowability (kemampuan mengalir suatu

bahan, efisiensi pada pengangkutan atau pemindahan secara mekanik, ketepatan

dalam penimbangan dan kerapatan kepadatan tumpukan (Thomson 1984).

Semakin bebas suatu partikel bergerak, maka sudut tumpukan yang terbentuk juga

kecil. Pada Tabel 2.4 disajikan klasifikasi aliran bahan berdasarkan sudut

tumpukan.

Tabel 2.4. Klasifikasi Aliran Bahan Berdasarkan Sudut Tumpukan


Sudut Tumpukan Aliran Aliran
o
20 – 30 Sangat mudah mengalir
30 – 38o Mudah mengalir
o
38 – 45 Mengalir
45 – 55o Sulit mengalir
>55o Sangat sulit mengalir
Sumber: Fasina dan Sokhansanj (1993)

Pengukuran sudut tumpukan merupakan metode yang cepat dan produktif

untuk menentukan laju aliran bahan (Geldrart et al., 1990). Gautama (1998)

menyatakan bahwa tepung hijauan mempunyai sudut tumpukan berkisar 33o-52o,

nilai daya ambang 2m/det, kerapatan tumpukan 120-380 kg/m3 serta berat jenis

1.023-1.363 kg/m3, dinyatakan pula bahwa pembuatan pakan dalam bentuk pellet

dapat meningkatkan daya ambang (11 m/det) dan menurunkan sudut

22
tumpukannya (24o), selain itu korelasi positif antara daya serap air hijauan dengan

kadar semua fraksi serat kecuali lignin.

Khalil (1999b) menyatakan bahwa pergerakan partikel yang ideal

ditunjukkan oleh pakan bentuk cair, dengan sudut tumpukan sama dengan nol,

sedangkan ransum dalam bentuk padat mempunyai sudut tumpukan berkisar

antara 20o-50o. Sudarmadji (1997) menyatakan bahwa sudut tumpukan antara

30o-39o termasuk ke dalam kelompok sedang, dimana sifat kemudahan bahan

pakan dalam penanganan atas dasar pengangkutan sedang. Menurut Geldart et al.,

(1990) pada bahan yang memiliki sudut tumpukan tinggi mengakibatkan perlunya

proses pengadukan didalam silo agar bahan bisa mengalir, sehingga kerja dalam

industri menjadi tidak efesien, akan tetapi jika sudut tumpukan bahan kecil maka

turunnya bahan akan menjadi serentak.

2.6.4. Kerapatan Tumpukan

Kerapatan tumpukan adalah perbandingan antara berat bahan dengan

volume ruang yang ditempatinya dan satuannya adalah kg/m3 (Khalil, 1999a).

Kerapatan tumpukan diukur dengan cara mencurahkan bahan ke dalam gelas ukur

dengan menggunakan corong dan sendok teh sampai volume 100 ml. Gelas ukur

yang telah berisi bahan ditimbang. Perhitungan kerapatan tumpukan adalah

dengan cara membagi berat bahan dengan volume ruang yang ditempatinya

(gram/ml).

Kerapatan tumpukan dihitung setelah menempatkan suatu bahan ke dalam

wadah dengan volume konstan tanpa getaran. Nilai kerapatan tumpukan

menunjukkan porositas bahan, yaitu jumlah rongga udara yang terdapat diantara

23
partikel-partikel bahan (Wirakartakusumah, 1992). Khalil (1999b) menyebutkan

bahwa bahan yang mempunyai kerapatan tumpukan rendah (<450 kg/m3)

membutuhkan waktu mengalir dengan arah vertikal lebih lama sebaliknya dengan

bahan yang mempunyai kerapatan tumpukan yang lebih besar (>500 kg/m3).

Nilai kerapatan tumpukan berbanding lurus dengan laju alir pakan,

semakin tinggi kerapatan tumpukan maka laju alir pakan semakin meningkat

(Sing dan Heldman, 1984). Namun nilai kerapatan tumpukan berbanding terbalik

dengan kandungan air dan partikel asing dalam bahan (Fasina dan Sonkhansanj,

1993), sehingga peningkatan kandungan air atau partikel asing akan menurunkan

nilai kerapatan tumpukan bahan tersebut. Semakin tinggi nilai kerapatan

tumpukannya maka wadah bervolume yang dibutuhkan lebih sedikit.

Kerapatan tumpukan memiliki pengaruh terhadap daya campur dan

ketelitian penakaran secara otomatis seperti halnya dengan berat jenis. Sifat fisik

ini memegang peranan penting dalam memperhitungkan volume ruang yang

dibutuhkan suatu bahan dengan berat jenis tertentu seperti pada pengisian alat

pencampur, elevator, dan silo. Nilai kerapatan tumpukan menunjukkan porositas

dari bahan, yaitu jumlah rongga udara yang terdapat di antara partikel-partikel

bahan (Khalil, 1999a).

2.6.5. Kerapatan Pemadatan Tumpukan

Kerapatan pemadatan tumpukan merupakan perbandingan berat bahan

terhadap volume ruang yang ditempatinya setelah mengalami proses pemadatan

seperti guncangan. Nilai kerapatan pemadatan tumpukan penting diketahui karena

sangat bermanfaat pada saat pengisian bahan ke dalam wadah yang diam tetapi

24
bergetar. Pemadatan pakan berukuran partikel kecil akan mengurangi ruang antar

partikel dan menyebabkan bobot bahan setiap satuan volume meningkat.

Kerapatan pemadatan tumpukan hampir sama dengan kerapatan

tumpukan, menurut Khalil (1999a) kerapatan tumpukan dilakukan dengan

menuang bahan ke dalam wadah bervolume tertentu secara perlahan, sedangkan

kerapatan pemadatan tumpukan dilakukan penggoyangan dahulu agar bahan

menjadi mampat dan volume yang ditempatinya menjadi konstan. Kerapatan

pemadatan tumpukan dan kerapatan tumpukan mempunyai hubungan erat yaitu

berperan dalam pencampuran bahan serta penyimpanan, nilainya menurun dengan

semakin tingginya kandungan air (Giger-Reverdin, 2000). Kerapatan pemadatan

tumpukan menurun dengan semakin tingginya kandungan air (Suadnyana,1998).

Menurut Hoffman (1997), tingkat pemadatan serta densitas bahan sangat

menentukan kapasitas dan akurasi tempat penyimpanan seperti silo, kontainer dan

kemasan. Suatu bahan pakan yang telah diketahui nilai kerapatan pemadatan

tumpukannya akan bermanfaat pada saat pengisian bahan ke dalam wadah yang

diam tetapi bergetar. Kerapatan pemadatan tumpukan dipengaruhi oleh bentuk

dan ukuran partikel bahan pakan (Gautama, 1998). Kerapatan pemadatan

tumpukan yang tinggi berarti bahan memiliki kamampuan memadat yang tinggi

dibandingkan dengan bahan yang lain. Semakin rendah kerapatan pemadatan

tumpukan yang dihasilkan maka laju alir semakin menurun (Rikmawati, 2005).

2.6.6. Ketahanan Benturan

Kualitas pellet untuk pakan beberapa jenis ternak berbeda-beda, perbedaan

25
ini berkaitan erat dengan daya tahan pellet terhadap proses penanganan dan

transportasi (Dozier, 2001). Daya tahan pellet diukur dengan durability pellet

tester yaitu uji ketahanan standar pellet. Pellet yang baik adalah pellet yang

kompak, kokoh dan tidak mudah rapuh (Murdinah, 1989). Pellet harus memiliki

indek ketahanan (PDI) yang baik sehingga pellet memiliki tingkat kekuatan dan

ketahanan yang baik selama proses penanganan dan transportasi.

Standar spesifikasi durability index yang digunakan adalah minimum 80

% (Dozier, 2001). Menurut Balagopalan et al,. (1998) ketahanan pellet terhadap

gesekan dapat diuji dengan menggunakan Cochcrane Test, yaitu dengan cara

memasukkan pellet yang telah diketahui beratnya ke dalam sebuah drum logam

yang kemudian diputar dengan kecepatan tetap selama satuan waktu.

Kualitas fisik pakan pellet seperti daya tahan (durability) dipengaruhi oleh

komposisi kimiawi bahan yaitu lemak, pati, protein serta serat (Ginting, 2009).

Pengaruh unsur serat terhadap kualitas fisik pellet ditentukan oleh sifat kimiawi

unsur penyusun serat. Unsur serat yang larut dalam air, seperti glukan,

arabinoxylan dan pektin memiliki sifat viskositas yang tinggi, sehingga cenderung

meningkatkan daya tahan (durability) pellet, sedangkan unsur serat (NDF) yang

tidak mudah larut seperti selulosa, hemiselulosa dan lignin dapat menurunkan

daya tahan pellet (Thomas et al.,1998). Adanya kandungan serat yang tinggi

dalam bahan dapat menyebabkan pellet yang dihasilkan mudah patah dan pellet

yang memiliki diameter 3 mm lebih mudah patah dibandingkan dengan pellet

berdiameter 6 mm (Thomas and Van der Poel, 1996).

26