Anda di halaman 1dari 42

ASUHAN KEPERAWATAN SECTIO CAESAREA PADA Ny.

R DI
BANGSAL MAWAR RSU QUEEN LATIFA YOGYAKARTA

Disusun untuk Memenuhi Tugas Praktik Klinik Stase Maternitas

Pembimbing :

Ns. Yuniarita, M.Kes

Disusun Oleh :

Faisal Aditia Maulana : P07120521074

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA

TAHUN 2021
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Asuhan Keperawatan maternitas yang berjudul “SECTIO CAESAREA”


di BANGSAL MAWAR RSU QUEEN LATIFA YOGYAKARTA, disusun untuk
memenuhi tugas PKK stase maternitas yang disahkan pada :

Hari :

Tanggal :

Tempat : Bangsal Mawar RSU Queen Latifa Yogyakarta

Praktikan,

Mengetahui,

Pembimbing Lapangan, Pembimbing Akademik,

Ns. Yuniarita, M.Kes


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sectio caesaria merupakan proses persalinan atau pembedahan melalui insisi


pada dinding perut dan rahim bagian depan untuk melahirkan janin. Indikasi
medis dilakukannya operasi sectio caesaria ada dua faktor yang mempengaruhi
yaitu faktor janin dan faktor ibu. Faktor dari janin meliputi sebagai berikut : bayi
terlalu besar, kelainan letak janin, ancaman gawat janin, janin abnormal, faktor
plasenta, kelainan tali pusat dan bayi kembar. Sedangkan faktor ibu terdiri atas
usia, jumlah anak yang dilahirkan, keadaan panggul, penghambat jalan lahir,
kelainan kontraksi lahir, ketuban pecah dini (KPD), dan pre eklampsia
(Hutabalian , 2011). Berdasarkan data yang ada penyebab langsung kematian pada
ibu terdiri dari perdarahan (35%), eklampsi (20%), infeksi (7%) sedangkan untuk
penyebab yang tidak diketahui (33%) (PWS KIA Tahun 2007). Dalam keadaan
normal 8–10% perempuan hamil aterm akan mengalami KPD (Sarwono, 2011).
Makin dikenalnya bedah caesar dan bergesernya pandangan masyarakat akan
metode tersebut, juga diikuti meningkatnya angka persalinan 2 dengan sectio
caesaria. Di Indonesia sendiri, secara garis besar jumlah dari persalinan caesar di
rumah sakit pemerintah adalah sekitar 20–25% dari total persalinan, sedangkan
untuk rumah sakit swasta jumlahnya sangat tinggi, yaitu sekitar 30–80% dari total
persalinan (Rosyid, 2009). Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia bersama
Pemerintah (Departemen Kesehatan dan Departemen Kesejahteraan Sosial)
mengeluarkan Surat Edaran Direktorat Jenderal Pelayanan Medik (Dirjen
Yanmedik) Departemen Kesehatan RI yang menyatakan bahwa angka sectio
caesaria untuk rumah sakit pendidikan atau rujukan sebesar 20% dan rumah sakit
swasta 15% (Kasdu, 2013). Angka kejadian sectio caesaria khususnya dengan
indikasi ketuban pecah dini yang disertai dengan presentasi bokong selama 1
tahun terakhir di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta terdapat 8 orang
dan untuk 1 bulan terakhir sebanyak 1 orang. Peningkatan angka kejadian sectio
caesaria selalu mengalami peningkatan untuk waktu yang akan datang.
Berdasarkan asumsi dari berbagai pihak yang terkait dengan meningkatnya
kecenderungan persalinan dengan sectio caesaria hal ini disebabkan oleh perasaan
cemas dan takut menghadapi rasa sakit, tidak kuat untuk menahan rasa sakit pada
persalinan spontan, takut tidak kuat mengedan, trauma pada persalinan yang lalu,
adanya kepercayaan atas tanggal dan jam kelahiran yang dapat mempengaruhi
nasib anaknya di masa mendatang, khawatir persalinan pervaginam akan merusak
hubungan seksual, keyakinan 3 bahwa dengan bedah caesar kesehatan ibu dan
bayi lebih terjamin, faktor pekerjaan, anjuran dari suami, faktor praktis karena
tindakan bedah caesar dilakukan sekaligus dengan tindakan sterilisasi serta faktor
sosial dan ekonomi yang mendukung dilakukannya tindakan bedah caesar. Salah
satu upaya pemerintah Indonesia untuk meminimalkan angka kejadian sectio
caesaria adalah dengan mempersiapkan tenaga kesehatan yang terlatih, terampil
dan profesional agar dapat melakukan deteksi dini dan pencegahan komplikasi
pada ibu hamil selama kehamilan sehingga kemungkinan persalinan dengan sectio
caesaria dapat diturunkan dan dicegah sedini mungkin. Selain itu, peran petugas
kesehatan sangat dibutuhkan yaitu pada saat pemeriksaan antenatal care. Petugas
kesehatan diharapkan mampu untuk memberikan konsultasi mengenai bahaya
yang ditimbulkan akibat operasi sectio caesaria sehingga masyarakat memahami
dan angka kejadian operasi sectio caesaria dapat diminimalkan.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan section caesaria.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui pengertian dari sectio caesaria.
b. Untuk mengetahui etiologi sectio caesaria.
c. Untuk mengetahui tujuan dari sectio caesaria.
d. Untuk mengetahui manifestasi klinis post sectio caesaria.
e. Untuk mengetahui jenis jenis sectio caesaria.
f. Untuk mengetahui komplikasi sectio caesaria.
g. Untuk mengetahui patofisologi sectio caesaria.
h. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang sectio caesaria.
i. Untuk mengetahui penatalaksanaan sectio caesaria.
j. Untuk mengetahui konsep dasar sectio caesaria.
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Pengertian

Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka


dinding perut dan dinding uterus. (Sarwono , 2011).
Sectio caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada
dinding uterus melalui depan perut atau vagina. Atau disebut juga histerotomia
untuk melahirkan janin dari dalam rahim. (Mochtar, 2012).
Sectio Caesaria ialah tindakan untuk melahirkan janin dengan berat badan diatas
500 gram melalui sayatan pada dinding uterus yang utuh (Gulardi &Wiknjosastro,
2019).
B. Etiologi
a) Indikasi Ibu
a. Panggul sempit absolute
b. Placenta previa
c. Ruptura uteri mengancam
d. Partus Lama
e. Partus Tak Maju
f. Pre eklampsia, dan Hipertensi
b) Indikasi Janin
a. Kelainan Letak
1. Letak lintang

Bila terjadi kesempitan panggul, maka sectio caesarea adalah jalan/cara yang
terbaik dalam melahirkan janin dengan segala letak lintang yang janinnya hidup
dan besarnya biasa. Semua primigravida dengan letak lintang harus ditolong
dengan sectio caesarea walaupun tidak ada perkiraan panggul sempit. Multipara
dengan letak lintang dapat lebih dulu ditolong dengan cara lain.
2. Letak belakang

Sectio caesarea disarankan atau dianjurkan pada letak belakang bila panggul
sempit, primigravida, janin besar dan berharga.
b. Gawat Janin
c. Janin Besar
d. Kontra Indikasi
a) Janin Mati
b) Syok, anemia berat.
c) Kelainan congenital Berat
C. Tujuan Sectio Caesarea

Tujuan melakukan sectio caesarea (SC) adalah untuk mempersingkat lamanya


perdarahan dan mencegah terjadinya robekan serviks dan segmen bawah rahim.
Sectio caesarea dilakukan pada plasenta previa totalis dan plasenta previa lainnya
jika perdarahan hebat. Selain dapat mengurangi kematian bayi pada plasenta
previa, sectio caesarea juga dilakukan untuk kepentingan ibu, sehingga sectio
caesarea dilakukan pada placenta previa walaupun anak sudah mati.
D. Manifestasi Klinik Post Sectio Caesaria

Persalinan dengan Sectio Caesaria , memerlukan perawatan yang lebih


koprehensif yaitu: perawatan post operatif dan perawatan post partum.Manifestasi
klinis sectio caesarea menurut Doenges (2012),antara lain :
a. Nyeri akibat ada luka pembedahan
b. Adanya luka insisi pada bagian abdomen
c. Fundus uterus kontraksi kuat dan terletak di umbilicus
d. Aliran lokhea sedang dan bebas bekuan yang berlebihan (lokhea
tidak banyak)
e. Kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira-kira 600-
800ml
f. Emosi labil / perubahan emosional dengan mengekspresikan
ketidakmampuan menghadapi situasi baru
g. Biasanya terpasang kateter urinarius
h. Auskultasi bising usus tidak terdengar atau samar
i. Pengaruh anestesi dapat menimbulkan mual dan muntah
j. Status pulmonary bunyi paru jelas dan vesikuler
k. Pada kelahiran secara SC tidak direncanakan maka bisanya kurang
paham prosedur
l. Bonding dan Attachment pada anak yang baru dilahirkan.
E. Jenis - Jenis Operasi Sectio Caesarea (SC)
a. Abdomen (SC Abdominalis)
a) Sectio Caesarea Transperitonealis

Sectio caesarea klasik atau corporal : dengan insisi memanjang pada corpus
uteri yang mempunyai kelebihan mengeluarkan janin lebih cepat,tidak
mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik, dan sayatan bias
diperpanjang proksimal atau distal . Sedangkan kekurangan dari cara ini adalah
infeksi mudah menyebar secara intra abdominal karena tidak ada reperitonealisasi
yang baik danuntuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi ruptura uteri
spontan.
b) Sectio caesarea profunda

Dengan insisi pada segmen bawah rahim dengan kelebihan penjahitan luka
lebih mudah, penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik, perdarahan
kurang dan kemungkinan rupture uteri spontan kurang/lebih kecil. Dan memiliki
kekurangan luka dapat melebar kekiri, bawah, dan kanan sehingga mengakibtakan
pendarahan yang banyak serta keluhan pada kandung kemih.
c) Sectio caesarea ekstraperitonealis

Merupakan sectio caesarea tanpa membuka peritoneum parietalis dan dengan


demikian tidak membuka kavum abdominalis.
b. Vagina (sectio caesarea vaginalis)

Menurut arah sayatan pada rahim, sectio caesaria dapat dilakukan apabila :
a) Sayatan memanjang (longitudinal)
b) Sayatan melintang (tranversal)
c) Sayatan huruf T (T Insisian)
d) Sectio Caesarea Klasik (korporal)

Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-kira 10cm.
Kelebihan :
a. Mengeluarkan janin lebih memanjang
b. Tidak menyebabkan komplikasi kandung kemih tertarik
c. Sayatan bisa diperpanjang proksimal atau distal

Kekurangan :
a. Infeksi mudah menyebar secara intraabdominal karena tidak ada
reperitonial yang baik.
b. Untuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi rupture uteri
spontan.
c. Ruptura uteri karena luka bekas SC klasik lebih sering terjadi
dibandingkan dengan luka SC profunda. Ruptur uteri karena luka
bekas SC klasik sudah dapat terjadi pada akhir kehamilan, sedangkan
pada luka bekas SC profunda biasanya baru terjadi dalam persalinan.
d. Untuk mengurangi kemungkinan ruptura uteri, dianjurkan supaya ibu
yang telah mengalami SC jangan terlalu lekas hamil lagi. Sekurang -
kurangnya dapat istirahat selama 2 tahun. Rasionalnya adalah
memberikan kesempatan luka sembuh dengan baik. Untuk tujuan ini
maka dipasang akor sebelum menutup luka rahim.
e. Sectio Caesarea (Ismika Profunda)
f. Dilakukan dengan membuat sayatan melintang konkaf pada segmen
bawah rahim kira-kira 10cm

Kelebihan :
a. Penjahitan luka lebih mudah
b. Penutupan luka dengan reperitonialisasi yang baik
c. Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan isi
uterus ke rongga perineum
d. Perdarahan kurang
e. Dibandingkan dengan cara klasik kemungkinan ruptur uteri spontan
lebih kecil
Kekurangan :
a. Luka dapat melebar ke kiri, ke kanan dan bawah sehingga dapat
menyebabkan arteri uteri putus yang akan menyebabkan perdarahan
yang banyak.
b. Keluhan utama pada kandung kemih post operatif tinggi.
F. Komplikasi
a. Infeksi Puerpuralis
a) Ringan : dengan kenaikan suhu beberapa hari saja.
b) Sedang : dengan kenaikan suhu yang lebih tinggi disertai dehidrasi atau
perut sedikit kembung
c) Berat : dengan peritonitis, sepsis dan ileus paralitik. Hal ini sering kita
jumpai pada partus terlantar dimana sebelumnya telah terjadi infeksi
intrapartum karena ketuban yang telah pecah terlalu lama.
b. Pendarahan disebabkan karena :
a) Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka
b) Atonia Uteri
c) Pendarahan pada placenta bled
c. Luka pada kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih
bila reperitonalisasi terlalu tinggi.
d. Suatu komplikasi yang baru kemudian tampak ialah kurang kuatnya
perut pada dinding uterus, sehingga pada kehamilan berikutnya bisa
terjadi ruptura uteri. Kemungkinan hal ini lebih banyak ditemukan
sesudah sectio caesarea klasik.
G. Patofisiologi

Adanya beberapa kelainan / hambatan pada proses persalinan yang


menyebabkan bayi tidak dapat lahir secara normal / spontan, misalnya plasenta
previa sentralis dan lateralis, panggul sempit, disproporsi cephalo pelvic, rupture
uteri mengancam, partus lama, partus tidak maju, pre-eklamsia, distosia serviks,
dan malpresentasi janin. Kondisi tersebut menyebabkan perlu adanya suatu
tindakan pembedahan yaitu Sectio Caesarea (SC).
Dalam proses operasinya dilakukan tindakan anestesi yang akan menyebabkan
pasien mengalami imobilisasi sehingga akan menimbulkan masalah intoleransi
aktivitas. Adanya kelumpuhan sementara dan kelemahan fisik akan menyebabkan
pasien tidak mampu melakukan aktivitas perawatan diri pasien secara mandiri
sehingga timbul masalah defisit perawatan diri.
Kurangnya informasi mengenai proses pembedahan, penyembuhan, dan
perawatan post operasi akan menimbulkan masalah ansietas pada pasien. Selain
itu, dalam proses pembedahan juga akan dilakukan tindakan insisi pada dinding
abdomen sehingga menyebabkan terputusnya inkontinuitas jaringan, pembuluh
darah, dan saraf - saraf di sekitar daerah insisi. Hal ini akan merangsang
pengeluaran histamin dan prostaglandin yang akan menimbulkan rasa nyeri (nyeri
akut). Setelah proses pembedahan berakhir, daerah insisi akan ditutup dan
menimbulkan luka post op, yang bila tidak dirawat dengan baik akan
menimbulkan masalah resiko infeksi.
PATHWAY
Kegagalan partus normal/
placenta previa/preeklamsi

Tindakan Invasif
Perdarahan vascular ( SC ) Ketidaksesuaian perencanaan
berlebih persalinan normal
Terputusnya continuitas jaringan
Hipovolumia ( Kulit, otot, p.darah )
Resti HDR
situasional
Aktivasi Pelepasan mediator
RestiMekanisme
perubahan kimia
koping tidak
perfusi jaringan
efektif ( Histamin, prostaglandin, Port d’ entry
bradikinin ) Mikroorganisme
Penurunan venus
return Stimulasi nosiseptor/Nerve Resti Infeksi
Ending

Aktifasi serabut  delta dan


Resti penurunan CO serabut C
Cornuposterior
medulla spinalis

Resiko kekurangan Melalui saraf spinotalamikus


volume cairan Efek anestesi

Thalamus direlai
Penurunan
sensorimotorik
Cortex cerebri dipersepsikan
( lokasi, integritas ) Kelemahan
Krisis situasi Perubahan status
kesehatan
Defisit perawatan diri
Nyeri
Kurang terpajan
informasi
Resti cedera maternal

Ansietas Kurang
pengetahuan
Sumber : Carpenito, 2011
H. Pemeriksaan Penunjang
a. Hemoglobin atau hematokrit (HB/Ht) untuk mengkaji perubahan
dari kadar pra operasi dan mengevaluasi efek kehilangan darah
pada pembedahan.
b. Leukosit (WBC) mengidentifikasi adanya infeksi
c. Tes golongan darah, lama perdarahan, waktu pembekuan darah
d. Urinalisis / kultur urine
e. Pemeriksaan elektrolit
I. Penatalaksanaan
a. Pemberian cairan

Karena 24 jam pertama penderita puasa pasca operasi, maka pemberian cairan
perintavena harus cukup banyak dan mengandung elektrolit agar tidak terjadi
hipotermi, dehidrasi, atau komplikasi pada organ tubuh lainnya. Cairan yang biasa
diberikan biasanya DS 10%, garam fisiologi dan RL secara bergantian dan jumlah
tetesan tergantung kebutuhan. Bila kadar Hb rendah diberikan transfusi darah
sesuai kebutuhan.
b. Diet

Pemberian cairan perinfus biasanya dihentikan setelah penderita flatus lalu


dimulailah pemberian minuman dan makanan peroral. Pemberian minuman
dengan jumlah yang sedikit sudah boleh dilakukan pada 6 - 10 jam pasca operasi,
berupa air putih dan air teh.
c. Mobilisasi
a) Mobilisasi dilakukan secara bertahap meliputi :
b) Miring kanan dan kiri dapat dimulai sejak 6 - 10 jam setelah operasi
c) Latihan pernafasan dapat dilakukan penderita sambil tidur telentang
sedini mungkin setelah sadar
d) Hari kedua post operasi, penderita dapat didudukkan selama 5 menit
dan diminta untuk bernafas dalam lalu menghembuskannya.
e) Kemudian posisi tidur telentang dapat diubah menjadi posisi setengah
duduk (semifowler)
f) Selanjutnya selama berturut-turut, hari demi hari, pasien dianjurkan
belajar duduk selama sehari, belajar berjalan, dan kemudian berjalan
sendiri pada hari ke-3 sampai hari ke5 pasca operasi.
d. Kateterisasi

Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri dan tidak enak pada
penderita, menghalangi involusi uterus dan menyebabkan perdarahan. Kateter
biasanya terpasang 24 - 48 jam / lebih lama lagi tergantung jenis operasi dan
keadaan penderita.
e. Pemberian obat-obatan
a) Antibiotik

Cara pemilihan dan pemberian antibiotic sangat berbeda-beda setiap institusi


b) Analgetik dan obat untuk memperlancar kerja saluran pencernaan
 Supositoria : ketopropen sup 2x/24 jam
 Oral : tramadol tiap 6 jam atau paracetamol
 Injeksi : penitidine 90-75 mg diberikan setiap 6 jam bila perlu
c) Obat-obatan lain

Untuk meningkatkan vitalitas dan keadaan umum penderita dapat diberikan


caboransia seperti neurobian I vit. C
f. Perawatan luka

Kondisi balutan luka dilihat pada 1 hari post operasi, bila basah dan berdarah
harus dibuka dan diganti
g. Perawatan rutin

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan adalah suhu, tekanan


darah, nadi,dan pernafasan.
h. Perawatan Payudara

Pemberian ASI dapat dimulai pada hari post operasi jika ibu memutuskan tidak
menyusui, pemasangan pembalut payudara yang mengencangkan payudara tanpa
banyak menimbulkan kompesi, biasanya mengurangi rasa nyeri.
J. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Identitas klien dan penanggung jawab
Meliputi nama, umur, pendidikan, suku bangsa, pekerjaan, agam, alamat,
status perkawinan, ruang rawat, nomor medical record, diagnosa medik,
yang mengirim, cara masuk, alasan masuk, keadaan umum tanda vital.
b. Keluhan utama
c. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas sebelumnya bagi klien multipara
d. Data Riwayat penyakit

 Riwayat kesehatan sekarang.


Meliputi keluhan atau yang berhubungan dengan gangguan atau
penyakit dirasakan saat ini dan keluhan yang dirasakan setelah pasien
operasi.
 Riwayat Kesehatan Dahulu
Meliputi penyakit yang lain yang dapat mempengaruhi penyakit
sekarang, Maksudnya apakah pasien pernah mengalami penyakit yang
sama (Plasenta previa).
 Riwayat Kesehatan Keluarga
Meliputi penyakit yang diderita pasien dan apakah keluarga pasien ada
juga mempunyai riwayat persalinan plasenta previa.
e. Keadaan klien meliputi :

a. Sirkulasi
Hipertensi dan pendarahan vagina yang mungkin terjadi.
Kemungkinan kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira-kira
600-800 mL
b. Integritas ego
Dapat menunjukkan prosedur yang diantisipasi sebagai tanda
kegagalan dan atau refleksi negatif pada kemampuan sebagai wanita.
Menunjukkan labilitas emosional dari kegembiraan, ketakutan, menarik
diri, atau kecemasan.
c. Makanan dan cairan
Abdomen lunak dengan tidak ada distensi (diet ditentukan).
d. Neurosensori
Kerusakan gerakan dan sensasi di bawah tingkat anestesi spinal epidural.
e. Nyeri / ketidaknyamanan
Mungkin mengeluh nyeri dari berbagai sumber karena trauma bedah,
distensi kandung kemih , efek - efek anesthesia, nyeri tekan uterus
mungkin ada.
f. Pernapasan
Bunyi paru - paru vesikuler dan terdengar jelas.
g. Keamanan
h. Balutan abdomen dapat tampak sedikit noda / kering dan utuh.
i. Seksualitas
Fundus kontraksi kuat dan terletak di umbilikus. Aliran lokhea sedang.
2. Diagnosa Keperawatan

a. Nyeri akut berhubungan dengan pelepasan mediator nyeri


(histamin, prostaglandin) akibat trauma jaringan dalam
pembedahan (section caesarea) Intoleransi aktivitas b/d tindakan
anestesi, kelemahan, penurunan sirkulasi
b. Gangguan Integritas Kulit b.d tindakan pembedahan
c. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan / luka
kering bekas operasi.
d. Ansietas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang
prosedur pembedahan, penyembuhan dan perawatan post operasi.
e. Defisit perawatan diri b/d kelemahan fisik akibat tindakan anestesi
dan pembedahan
3. Rencana Kperawatan

1. Nyeri akut berhubungan dengan pelepasan mediator nyeri (histamin,


prostaglandin) akibat trauma jaringan dalam pembedahan (section caesarea)
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan
nyeri klien berkurang / terkontrol dengan kriteria hasil :
a) Mengungkapkan nyeri dan tegang di perutnya berkurang
b) Skala nyeri 0-1 ( dari 0 – 10 )
c) TTV dalam batas normal ; Suhu : 36-37 0 C, TD : 120/80 mmHg, RR
20x/menit, Nadi : 80-100 x/menit
d) Wajah tidak tampak meringis
e) Klien tampak rileks, dapat berisitirahat, dan beraktivitas sesuai
kemampuan
Intervensi :
a. Lakukan pengkajian secara komprehensif tentang nyeri meliputi lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri dan faktor
presipitasi.
b. Observasi respon nonverbal dari ketidaknyamanan (misalnya wajah
meringis) terutama ketidakmampuan untuk berkomunikasi secara efektif.
c. Kaji efek pengalaman nyeri terhadap kualitas hidup (ex: beraktivitas, tidur,
istirahat, rileks, kognisi, perasaan, dan hubungan sosial)
d. Ajarkan menggunakan teknik nonanalgetik (relaksasi, latihan napas
dalam,, sentuhan terapeutik, distraksi.)
e. Kontrol faktor - faktor lingkungan yang yang dapat mempengaruhi respon
pasien terhadap ketidaknyamanan (ruangan, suhu, cahaya, dan suara)
f. Kolaborasi untuk penggunaan kontrol analgetik, jika perlu.
2. Intoleransi Aktivitas b.d kelemahan, penurunan sirkulasi
Tujuan : Kllien dapat melakukan aktivitas tanpa adanya komplikasi
Kriteria Hasil : klien mampu melakukan aktivitasnya secara mandiri
Intervensi :
a. Kaji tingkat kemampuan klien untuk beraktivitas
b. Kaji pengaruh aktivitas terhadap kondisi luka dan kondisi tubuh umum
c. Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari.
d. Bantu klien untuk melakukan tindakan sesuai dengan kemampuan /kondisi
klien
e. Evaluasi perkembangan kemampuan klien melakukan aktivitas
3. Gangguan Integritas Kulit b.d tindakan pembedahan
Tujuan : setelah dilakukan tindakan 3 x 24 jam diharapkan integritas kulit dan
proteksi jaringan membaik
Kriteria Hasil : Tidak terjadi kerusakan integritas kulit
Intervensi :
a. Berikan perhatian dan perawatan pada kulit
b. Lakukan latihan gerak secara pasif
c. Lindungi kulit yang sehat dari kemungkinan maserasi
d. Jaga kelembaban kulit
4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan / luka
bekas operasi (SC)
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan
klien tidak mengalami infeksi dengan kriteria hasil :
a) Tidak terjadi tanda - tanda infeksi (kalor, rubor, dolor, tumor, fungsio
laesea)
b) Suhu dan nadi dalam batas normal ( suhu = 36,5 -37,50 C, frekuensi nadi =
60 -100x/ menit)
c) WBC dalam batas normal (4,10-10,9 10^3 / uL)
Intervensi :
a. Tinjau ulang kondisi dasar / faktor risiko yang ada sebelumnya. Catat
waktu pecah ketuban.
b. Kaji adanya tanda infeksi (kalor, rubor, dolor, tumor, fungsio laesa)
c. Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik
d. Inspeksi balutan abdominal terhadap eksudat / rembesan. Lepaskan balutan
sesuai indikasi
e. Anjurkan klien dan keluarga untuk mencuci tangan sebelum / sesudah
menyentuh luka
f. Pantau peningkatan suhu, nadi, dan pemeriksaan laboratorium jumlah
WBC / sel darah putih
g. Kolaborasi untuk pemeriksaan Hb dan Ht. Catat perkiraan kehilangan
darah selama prosedur pembedahan
h. Anjurkan intake nutrisi yang cukup
i. Kolaborasi penggunaan antibiotik sesuai indikasi
5. Ansietas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang prosedur
pembedahan, penyembuhan, dan perawatan post operasi
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 x 6 jam diharapkan
ansietas klien berkurang dengan kriteria hasil :
a) Klien terlihat lebih tenang dan tidak gelisah
b) Klien mengungkapkan bahwa ansietasnya berkurang
Intervensi :
a. Kaji respon psikologis terhadap kejadian dan ketersediaan sistem
pendukung
b. Tetap bersama klien, bersikap tenang dan menunjukkan rasa empati
c. Observasi respon nonverbal klien (misalnya: gelisah) berkaitan dengan
ansietas yang dirasakan
d. Dukung dan arahkan kembali mekanisme koping
e. Berikan informasi yang benar mengenai prosedur pembedahan,
penyembuhan, dan perawatan post operasi.
f. Diskusikan pengalaman / harapan kelahiran anak pada masa lalu
g. Evaluasi perubahan ansietas yang dialami klien secara verbal
BAB III
TINJAUAN KASUS

A. PENGKAJIAN
Metode pengkajian : Wawancara, studi dokumen, observasi.
Tempat : Bangsal Mawar Obsgyn RSU Queen Latifa
Sumber Data : Pasien, keluarga, rekam medis, dan tim kesehatan
Oleh : Faisal Aditia Maulana
1. Identitas Klien
a. Nama : Ny. R
b. Umur : 48
c. Tempat/Tanggal lahir : Sleman, 24 Maret 1983
d. Agama/kepercayaan : Islam
e. Suku Bangsa : Jawa
f. Pendidikan : SMP
g. Pekerjaan : Pedagang
h. Alamat : Sidoarum, Godean
2. Identitas Penanggungjawab
a. Nama : Tn. J
b. Umur : 48
c. Tempat/Tanggal lahir : Sleman, 2 Januari 1983
d. Agama/kepercayaan : Islam
e. Suku Bangsa : Jawa
f. Pendidikan : SD
g. Pekerjaan : Pedagang
h. Hubungan dengan klien : Suami
i. Alamat : Sidoarum, Godean
A. Diagnosa Dan Informasi Medik Yang Penting Waktu Masuk
Tanggal Masuk : 5 Agustus 2021
Tanggal Pengkajian : 5 Agustus 2021
No. Medical Record : 128XXX
Ruang Rawat : Mawar Obsgyn
Diagnosa Medik : G3P2A0 UK 38 minggu dengan presbo
oligohidramnion
Alasan Masuk : Karena terasa kenceng kenceng dan sudah
mendekati HPL
B. RIWAYAT KESEHATAN UMUM
1. Riwayat Kesehatan Sekarang
a. Keluhan Utama Masuk :
Klien mengatakan bahwa kandungannya terasa kenceng kenceng, dan
juga karena sudah mendekati hari perkiraan lahirnya
b. Keluhan Saat Ini (Waktu Pengkajian) :
Klien mengatakan nyeri skala 5 dari 10, nyeri karena luka operasi,
rasanya seperti ditusuk tusuk, terasa pada bagian perut, dan rasanya
terus menerus. Pasien tampak meringis menahan nyeri.
2. Riwayat Kesehatan Dahulu :
Klien sebelumnya belum pernah dirawat di RS selain karena melahirkan.
3. Riwayat Kesehatan Keluarga :
Keluarga klien tidak ada yang menderita penyakit seperti diabetes,
hipertensi atau penyakit keturunan lainnya
Genogram
Keterangan :

= Laki laki = Laki laki meninggal = Tinggal serumah

= Perempuan = Garis keturunan = Klien

= Perempuan meninggal = Garis pernikahan

4. Riwayat alergi :
Klien tidak memiliki alergi baik makanan atau obat obatan
5. Kebiasaan yang mengganggu kesehatan :
Klien tidak memiliki kebiasaan yang dapat mengganggu kesehatan
C. RIWAYAT OBSTETRIK
1. Status Obestetikus : G3P2A0
2. Riwayat Menstuasi :
Klien mengatakan pertama menstruasi pada usia 13 tahun dengan durasi 7
hari, siklus haid teratur. Klien biasanya ganti pembalt 2-3 kali sehari,
selama haid klien tidak pernah ada keluhan
3. Riwayat Pernikahan :
Klien sudah menikah, usia pernikahan pertama kali 20 tahun, klien sudah
menikah 2 kali. Usia pernikahan dengan suami yang sekarang yaitu 1
tahun.
4. Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas yang lalu :

Tgl/thn Tempat Cara Ditolong Jenis kel. Kondisi saat Keadaan saat Pemberian ASI
No
partus partus Partus oleh Anak ini hamil
1. 2004 RS Spontan Bidan Laki laki Sehat Tidak ada ASI eksklusif
dan keluhan selama 6 bulan
dokter
2. 2006 RS Spontan Bidan Laki laki Sehat Tidak ada ASI eksklusif
dan keluhan selama 6 bulan
dokter

5. Riwayat Kehamilan Sekarang :


a. HPHT : 10 November 2020
b. Taksiran Partus : Sectio Cesaria
c. Umur kehamilan : 38 minggu
d. BB sebelum hamil : 78 Kg
e. Penambahan BB : 6 Kg
f. Riwayat ANC :
No Pemeriksaan ANC Trimester I Trimester II Trimester
III
1. Frekeunsi 1 kali 2 kali 4 kali
2. Tempat Puskesmas Puskesmas Puskesmas
3. Keluhan Tidak haid Tidak ada Tidak ada
4. Hasil pemeriksaan Hamil 10 Hamil 18 HPL
minggu minggu 17/8/2021
5. Saran tenaga Perbanyak Lakukan Jaga
kesehatan makan sayur olahraga kesehatan
ringan

6. Riwayat Persalinan Sekarang


a. Jenis Persalinan : Sectio cesaria
b. Ditolong Oleh : Dokter dan bidan
c. Jenis Kelamin Bayi : Laki laki
d. Panjang : Panjang 50 cm
e. Berat Badan : 3.100 gram
f. Apgar Skor :9
g. Keadaan air ketuban : Jernih
h. Komplikasi persalinan : Tidak ada
7. Riwayat KB
Sebelumnya klien belum pernah melakukan KB. Klien ingin menggunakan
KB setelah kehamilan kali ini tetapi belum tau alat KB apa yang aman dan
cocok digunakan. Klien bingung memilih KB apa karena jenisnya sangat
banyak. Klien mengatakan pernah diberikan penyuluhan mengenai KB
tetapi lupa
D. Pengkajian Kesehatan Dasar
1. Pengkajian kebersihan dan kenyamanan fisik
a. Kebersihan diri
Klien mengatakan mandi 2x sehari pada pagi hari dan sore hari. Pasien
mengatakan juga sering mengganti pakaiannya.
b. Telinga
Klien mengatakan bahwa pendengarannya masih normal. Klien
mengatakan sering membersihkan kotoran telinganya seminggu sekali.
c. Mata
Klien mengatakan bahwa penglihatnnya sudah kabur.
d. Mulut
Klien mengatakan menggosok gigi selama 2x sehari dengan pasta gigi.
e. Kuku
Klien tidak menggunakan cat kuku.Pasien mengatakan memotong kuku
1 minggu sekali.

2. Pengkajian aktivitas, latihan fisik/olahraga, istirahat dan tidur yang


optimal
a. Selama hamil
Pasien mengatakan pola tidur normal. Mulai tidur sekitar pukul 10.00
WIB.
b. Setelah melahirkan
Pasien mengatakan selama sakit pola tidur normal seperti biasanya.

3. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum
GCS = 15 (E4 V5 M6)
Compos mentis
A. Tanda-tanda vital
Suhu tubuh : 36,8 o C
Tekanan darah : 127/80 mmHg
Nadi : 84 x /menit
Pernafasan : 20 x /menit
BB : 84 kg
TB : 160 cm
IMT : 32,8 kg/m²
Status gizi : Obesitas
Pengkajian Nyeri :
P : karena post SC
Q : seperti di tusuk tusuk
R : area perut
S : 5 dari 10
T : hilang timbul
B. Pemeriksaan Head to toe
1. Kepala
- Bentuk oval
- Kulit kepala bersih, tidak ada ketombe
- Warna rambut hitam dan sedikit beruban
- Hidung simetris, tidak ada sumbatan
- Penciuman tidak terganggu
- Telinga simetris, bersih, tidak keluar cairan
- Mata konjungtiva anemis
2. Leher
- Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid
- Tidak ada lesi
- Tidak ada krepitasi
- Tonsil utuh
3. Dada
Paru-paru
- Inspeksi : saat respirasi tidak ada pembesaran sebelah, dada kanan
dan kiri
simetris. Clavikula terangkat
- Palpasi : taktil fremitus teraba di bagian depan/ belakang
- Perkusi : bunyi sonor pada bagian paru
- Auskultasi : tidak terdengar suara nafas tambahan
Jantung
- Inspeksi : ictus cordis terlihat
- Palpasi : ictus cordis dapat teraba pada ruang intercostalis kiri V,
medial (2 cm) dari lineal mid clavicularis kiri
- Perkusi : saat diperkusi terdengar suara dall/redup
- Auskultasi : regular (S1 lub & S2 dub)
Payudara
- Inspeksi : Payudara bersih dan simetris
- Pengeluaran colostrum/ASI : Colostrum sudah keluar tetapi ASI
belum keluar
- Keadaan puting susu : Puting menonjol
- Palpasi mammae : Terdapat pembengkakan
4. Abdomen
- Inspeksi abdomen : Terdapat luka post SC
- TFU : 2 cm dibawah pusat
- Keadaan kontraksi : Uterus keras
- Luka operasi : Terdapat luka post SC yang tertutup perban
5. Genetalia
Terdapat lochea, jenis lochea yang keluar adalah lochea rubra berwarna
merah, berbau khas darah
6. Ekstremitas
a. Atas
Akral hangat, nadi kuat, anggota gerak lengkap, tidak ada kelainan jari,
capillary refill <2 detik. Pasien terpasang infus.
b. Bawah
Jari kaki kanan utuh
4. penkajian eliminasi
a. Selama hamil
Pasien mengatakan sering b.a.k di malam hari. Frekuensi b.a.k per hari
2500 cc, Warna urine bening dan berbau khas sedangkan untuk b.a.b 1x
per hari dengan konsistensi feses lunak, bewarna kuning. Pasien tidak
pernah mengonsumsi obat pencahar.
b. Setelah melahirkan
Pasien mengatakan selama sakit susah untuk b.a.k, terasa sengkring-
sengkring. B.a.b 1x sehari. Pasien terpasang kateter.
5. Pengkajian psikososial postpartum
Kelahiran anak ini sangat ditunggu tunggu oleh dirinya dan keluarganya.
Pada saat pengkajian klien pada tahap taking in karena dirinya masih
memikirkan dirinya yang merasa nyeri pasca operasi SC. Klien masih
berfokus untuk istirahat memulihkan kondisinya. Suami klien memberikan
dukungan pada klien untuk menyusui anaknya.
6. Pengobatan yang di dapat saat ini
Tanggal : 5 Agustus 2021
Infus : RL 500 ml 20 tpm
Injeksi :
- Keterolac drip RL 10 mg/12 jam
- Ceftriaxone 1000 mg/12 jam
Oral :
- Amoxicilin 500 mg/8 jam
- Asam mefenamat 500 mg/8 jam
- Vitamin A 1x sehari
7. Pemeriksaan penunjang
Tanggal : 5 Agustus 2021
1. Radiologi
RO Thorax = pulmo tidak tampak kelainan
2. Hematologi
Pemeriksaan Hasil Normal
Pemeriksaan Darah
Hemoglobin 11,5 12-16 gr%
Eritrosit 4,35 4,2-5,5 /μL
Leukosit 9,4 4,8-10,8 /μL
Trombosit 412 150-450 /μL
Hematokrit 35 37-52 %
MCHC 32,7 33-37 %
RDW 15,4 10-15 %

3. Imunologi & mikrobiologi


Pemeriksaan Hasil Normal
HbSAg Non reaktif Non reaktif

1. ANALISA DATA
No Data Masalah Penyebab
1. DO : Nyeri Akut Agen pencedera
- Pasien tampak meringis (SDKI, 2017) fisik
menahan nyeri
DS :
- Pasien mengatakan nyeri
karena post SC
- Nyeri seperti di tusuk
tusuk
- Nyeri terasa pada area
perut
- Skala 5 dari 10
- Terasa hilang timbul

2. DO : - Defisit Kurang mampu


DS : Pengetahuan mengingat
- Sebelumnya klien belum tentang KB
pernah melakukan KB. (SDKI, 2017)
- Klien ingin menggunakan
KB setelah kehamilan kali
ini tetapi belum tau alat KB
apa yang aman dan cocok
digunakan.
- Klien bingung memilih KB
apa karena jenisnya sangat
banyak.
- Klien mengatakan pernah
diberikan penyuluhan
mengenai KB tetapi lupa

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik ditandai dengan :
- Pasien tampak meringis menahan nyeri
- Pasien mengatakan nyeri karena post SC
- Nyeri seperti di tusuk tusuk
- Nyeri terasa pada area perut
- Skala 5 dari 10
- Terasa hilang timbul
2. Defisit pengetahuan tentang KB berhubungan dengan kurang mampu
mengingat
- Sebelumnya klien belum pernah melakukan KB.
- Klien ingin menggunakan KB setelah kehamilan kali ini tetapi
belum tau alat KB apa yang aman dan cocok digunakan.
- Klien bingung memilih KB apa karena jenisnya sangat banyak.
- Klien mengatakan pernah diberikan penyuluhan mengenai KB tetapi
lupa
3. RENCANA INTERVENSI
DIAGNOSIS LUARAN INTERVENSI RASIONAL
Nyeri akut Setelah dilakukan asuhan Manajemen nyeri (I.08238) Manajemen diberikan
keperawatan selama 3 x 24 jam Observasi : kepada klien untuk tetap
tingkat nyeri menurun dengan 1. Identifikasi skala nyeri dengan menjaga nyeri yang
kriteria hasil : PQRST dirasakan klien terkendali
- Keluhan nyeri dari 1 (meningkat 2. Identifikasi respons nyeri non dan memampukan klien
menjadi 4 (cukup menurun) verbal untuk melakukan secara
- Meringis dari 1 (meningkat) Terapeutik : mandiri (Mubarak, 2019)
menjadi 4 (cukup menurun) 3. Berikan teknik nonfarmakologis
LUARAN TAMBAHAN untuk mengurangi rasa nyeri
Setelah dilakukan asuhan Edukasi :
keperawatan selama 1 x 15 menit 4. Ajarkan teknik nonfarmakologis
kontrol nyeri meningkat dengan berupa teknik relaksasi nafas
kriteria hasil : dalam.
Kemampuan menggunakan teknik Kolaborasi :
non farmakologis dari 1 (menurun) 5. Kolaborasi pemberian obat
menjadi 5 (meningkat) analgetik keterolac 10 mg
Defisit pengetahuan Setelah dilakukan asuhan Edukasi kesehatan (I.12383) Edukasi kesehatan
keperawatan selama 1 x 15 menit Observasi : diberikan kepada klien agar
tingkat pengetahuan meningkat 1. Identifikasi kesiapan dan klien mengerti mengenai
dengan kriteria hasil : kemampuan menerima suatu informasi kesehatan
Kemampuan menjelaskan suatu topik informasi agar membuat klien
meningkat dari 1 (menurun) menjadi Terapeutik : mandiri (Smith, 2018)
5 (meningkat) 2. Jadwalkan pendidikan kesehatan
mengenai KB
3. Berikan kesempatan klien
bertanya
Edukasi :
4. Jelaskan faktor risiko yang
dapat mempengaruhi kesehatan

4. IMPLEMENTASI DAN KEPERAWATAN


No Diagnosa Keperawatan Hari, tanggal Jam Implementasi Evaluasi
1. Nyeri akut berhubungan Kamis, 5 Agustus 17.00 Memberikan drip keterolac S : Pasien mengatakan nyeri saat
dengan agen pencedera 2021 10 mg pada klien obat dimasukkan
fisik O : Klien telah diberikan drip
keterolac 10 mg pada klien

Faisal
19.00 Mengajarkan klien teknik S : Pasien mengatakan akan
relaksasi nafas dalam mempraktikkan teknik relaksasi
nafas dalam saat terasa nyeri
O : Pasien dapat mempraktikkan
dengan benar teknik relaksasi nafas
dalam

Faisal
20.00 Mengkaji nyeri pasien S : Pasien mengatakan nyeri pada
dengan PQRST dan skala 4 dari 10 karena post op sc,
ekspresi wajah pasien nyerinya terasa di bagian perut,
seperti ditusuk tusuk dan terasa
hilang timbul
O : Wajah pasien tampak meringis
kesakitan
Faisal
20.30 S:
- Pasien mengatakan akan
mempraktikkan teknik relaksasi
nafas dalam saat terasa nyeri
- Pasien mengatakan nyeri pada
skala 4 dari 10 karena post op sc,
nyerinya terasa di bagian perut,
seperti ditusuk tusuk dan terasa
hilang timbul
O:
- Klien telah diberikan drip
keterolac 10 mg pada klien
- Pasien dapat mempraktikkan
dengan benar teknik relaksasi
nafas dalam
- Wajah pasien tampak meringis
kesakitan
A : Nyeri akut berhubungan dengan
agen pencedera fisik belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi

Faisal
Sabtu, 7 Agustus 05.00 Memberikan drip keterolac S : Pasien mengatakan nyeri saat
2021 10 mg pada klien obat dimasukkan
O:
- Klien telah diberikan drip
keterolac 10 mg pada klien
- Tetesan infus lancar dan perban
infus tampak bersih

Faisal
05.15 Mengkaji nyeri pasien S :
dengan PQRST dan - Pasien mengatakan nyeri pada
ekspresi wajah pasien skala 3 dari 10 karena post op sc,
nyerinya terasa di bagian perut,
seperti ditusuk tusuk dan terasa
hilang timbul
- Pasien mengatakan nyerinya
agak berkurang apabila
menggunakan relaksasi nafas
dalam
O : Wajah pasien sudah tidak
tampak meringis kesakitan

Faisal
07.00 S:
- Pasien mengatakan nyeri saat
obat dimasukkan
- Pasien mengatakan nyeri pada
skala 3 dari 10 karena post op sc,
nyerinya terasa di bagian perut,
seperti ditusuk tusuk dan terasa
hilang timbul
- Pasien mengatakan nyerinya
agak berkurang apabila
menggunakan relaksasi nafas
dalam
O:
- Klien telah diberikan drip
keterolac 10 mg pada klien
- Tetesan infus lancar dan perban
infus tampak bersih
- Wajah pasien sudah tidak tampak
meringis kesakitan
A : Nyeri akut belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi :
- Mengidentifikasi nyeri dengan
PQRST
- Identifikasi reaksi non verbal
pada nyeri

Faisal
Sabtu, 7 Agustus 22.00 Mengkaji nyeri pasien S :
2021 dengan PQRST dan - Pasien mengatakan nyerinya
ekspresi wajah pasien terasa hanya apabila untuk
berjalan skala 1 dari 10, nyerinya
terasa di bagian perut, seperti
ditusuk tusuk.
- Klien mengatakan apabila terasa
nyeri menggunakan relaksasi
nafas dalam
O : Wajah pasien sudah tidak
tampak meringis kesakitan

Faisal
22.15 S:
- Pasien mengatakan nyerinya
terasa hanya apabila untuk
berjalan skala 1 dari 10, nyerinya
terasa di bagian perut, seperti
ditusuk tusuk.
- Klien mengatakan apabila terasa
nyeri menggunakan relaksasi
nafas dalam
O:
- Wajah pasien sudah tidak tampak
meringis kesakitan
- Pasien sudah mampu
mempraktikkan nafas dalam
dengan cara dan di waktu yang
tepat
A : Nyeri akut berhubungan dengan
agen pencedera fisik teratasi
P : Hentikan intervensi
Faisal
2. Defisit pengetahuan Sabtu, 7 Agustus 06.30 Memberikan pendidikan S :
tentang KB berhubungan 2021 kesehatan mengenai KB - Pasien mengatakan akan memilih
dengan kurang mampu IUD sebagai alat KB karena
mengingat dirasa paling aman
- Pasien mampu menyebutkan
manfaat KB
O:
- Pasien terlihat antusias saat
diberikan pendidikan kesehatan
- Pasien aktif mengajukan
pertanyaan saat dilakukan
penyuluhan
Faisal
07.00 S:
- Pasien mengatakan akan memilih
IUD sebagai alat KB karena
dirasa paling aman
- Pasien mampu menyebutkan
manfaat KB
O:
- Pasien terlihat antusias saat
diberikan pendidikan kesehatan
- Pasien aktif mengajukan
pertanyaan saat dilakukan
penyuluhan
A : Defisit pengetahuan tentang KB
berhubungan dengan kurang mampu
mengingat teratasi
P : Hentikan intervensi
Faisal
5. KESIMPULAN
Setelah dilakukan pengkajian pada Ny. R terdapat 2 diagnosa keperawatan
yaitu nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik dan defisit
pengetahuan tentang KB berhubungan dengan kurang mampu mengingat
dengan prioritas masalah nyeri akut teratasi penuh karena saat dilakukan
asuhan keperawatan klien kooperatif.
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, I.J. 2011. Diagnosa Keperawatan, Edisi 8. Jakarta : EGC


Doengoes, Marylinn. 2011. Rencana Asuhan Keperawatan Maternal / Bayi.
Jakarta : EGC
Gulardi & Wiknjosastro 2019. Operasi Kebidanan Kandungan Dan Keluarga
Berencana Untuk Dokter Umum. Jakarta : EGC
Hutabalian, Michael. 2011. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri
Ginekologi dan KB. Jakarta : EGC
Kasdu, Emil. 2013. Angka Kejadian Penggunaan Prosedur Sectio Caesaria.
Jakarta : EGC
Mochtar, Rustam. 2012. Sinopsis Obstetri, Edisi 2, Jilid 2. Jakarta : EGC
Sarwono, Prawiroharjo,. 2011. Ilmu Kandungan, Cetakan ke-4. Jakarta : PT
Gramedia

Anda mungkin juga menyukai