Perkembangan Akuntansi dan Pajak di Indonesia
Perkembangan Akuntansi dan Pajak di Indonesia
PENDAHULUAN
Akuntansi komersial yang dibuat oleh perusahaan pada umumnya mengacu pada
aturan-aturan yang ditetapkan dalam Prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum dan di
Indonesia hal tersebut telah diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
(PSAK). Dalam menjalankan fungsi pajak, seringkali pemerintah menetapkan beberapa
aturan khusus dimana aturan tersebut berbedadengan aturan akuntansi yang diatur dalam
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan. Perbedaan-perbedaan inilah yang kemudian
menimbulkan akuntansi pajak yang berbeda dengan akuntansi komersial, yang akhirnya
berakibat pada perbedaan labarugi menurut akuntansi dengan laba rugi menurut fiskal.
Hal inilah yang akhirnya menimbulkan konflik antara manajemen dengan pemerintah
dalam hal perpajakan. Penerimaan negara yang bersumber dari pajak harus terus
dikembangkan danditingkatkan sesuai dengan perkembangan perekonomian dan laju
pembangunan nasional.
1
1.2.4. Apakah pengertian dari SAK ETAP?
1.2.5. Bagaimanakah laporan keungan menurut SAK ETAP?
1.2.6. Apakah pengertian dari pajak dan Undang-Undang Perpajakan?
1.2.7. Bagaimanakah kewajiban pembukuan bagi Wajib Pajak orang pribadi dan
badan?
2
BAB II
PEMBAHASAN
4
akuntan, yang mewakili para pengguna, merupakan mitra DSAK dalam
merumuskan arah dan pengembangan SAK di Indonesia. Due Process Prosedur
penyusunan SAK.
Prosedur penyusunan SAK sebagai berikut :
1) Identifikasi issue untuk dikembangkan menjadi standar;
2) Konsultasikan issue dengan DKSAK;
3) Membentuk tim kecil dalam DSAK;
4) Melakukan riset terbatas;
5) Melakukan penulisan awal draft;
6) Pembahasan dalam komite khusus pengembangan standar yang dibentuk
DSAK;
7) Pembahasan dalam DSAK;
8) Penyampaian Exposure Draft kepada DKSAK untuk meminta pendapat dan
pertimbangan dampak penerapan standar;
9) Peluncuran draft sebagai Exposure Draft dan pendistribusiannya;
10) Public hearing;
11) Pembahasan tanggapan atas Exposure Draft dan masukan Public Hearing;
12) Limited hearing
13) Persetujuan Exposure Draft PSAK menjadi PSAK;
14) Pengecekan akhir;
15) Sosialisasi standar
5
4) Ketentuan dalam menyajikan dalam menginterpretasikan bentuk dan isi laporan
keuangan.
5) Sebagai criteria dalam menilai perfoma perusahaan.
6
dalam menyusun laporan keuangan ini menghasilkan laporan keuangan yang
layak, tepat, relevan dan dapat dipercaya. Tetapi angka-angka yang terdapat dalam
laporan keuangan bukan sesuatu yang mutlak karena tergantung dari prinsip serta
kebijaksanaan akuntansi yang dilaksanakan perusahaan yang bersangkutan. Bila
kebijaksanaan akuntansi yang dianut berubah maka angka yang disajikan dalam
laporan keuangan akan berbeda. Oleh karena itu, penerapan prinsip-prinsip
akuntansi bersifat longgar. Apabila kita mengetahui sejak terbentuknya prinsip
akuntansi yang merupakan suatu persetujuan dari berbagai pihak yang
berkepentingan maka kelonggaran prinsip akuntansi menjadi hal yang wajar.
Perumusan prinsip-prinsip, prosedur, metode dan teknik-teknik dalam PAI
dibatasi pada hal-hal yang berhubungan dengan akuntansi keuangan dan
diungkapkan dalam gsris besarnya saja. Selain itu prinsip-prinsip yang diatur
dalam PAI bersifat umum, tidak mencakup praktek akuntansi untuk industri
tertentu, seperti perbankan atau Asuransi. Karena PAI belum mengatur
keseluruhan praktek akuntansi di Indonesia, masalah-masalah yang belum diatur
dalam PAI perlakuannya diserahkan kepada pihak yang bersangkutan, sepanjang
tidak bertentangan dengan praktek akuntansi yang lazim ( sound accounting
practice ) dan didasarkan atas pertimbangan yang sehat.
7
Pada Awalnya, IFRS berguna sebagai upaya untuk menyelaraskan akuntansi di
seluruh Uni Eropa, tetapi nilai harmonisasi cepat membuat konsep menarik di seluruh
dunia. IFRS digunakan di banyak bagian dunia, termasuk Uni Eropa, India, Hong Kong,
Australia, Malaysia, Pakistan, negara-negara GCC, Rusia, Chili, Filipina, Afrika
Selatan, Singapura dan Turki, tapi tidak di Amerika Serikat. Saat ini, lebih dari 120
negara mengizinkan dan mengharuskan IFRS untuk perusahaan publik, dengan lebih
banyak negara diharapkan untuk transisi ke IFRS pada tahun 2016.
PSAK adalah singkatan dari Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan yang
merupakan suatu kerangka dari prosedur pembuatan laporan keuangan akuntansi yang
berisi peraturan mengenai pencatatan, penyusunan, perlakuan, dan penyajian laporan
keuangan yang disusun oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) yang didasarkan pada
kondisi yang sedang berjalan dan telah disepakati serta telah disahkan oleh institut atau
lembaga resmi di indonesia.
Dari Pengertian PSAK di atas kita dapat mengambil gambaran bahwa Pernyataan
Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) berisi tentang tata cara penyusunan laporan
keuangan yang selalu mengacu pada teori yang ada seperti layaknya IFRS yang di
gunakan pada skala global. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan menetapkan dasar-
dasar penyajian laporan keuangan yang bertujuan umum atau disebut general purpose
financial statements agar dapat dibandingkan baik dengan laporan keuangan sebelumnya
maupun dengan laporan keuangan lain.
Aset Liabilitas
Aset Lancar Liabilitas Pendek
Aset Tidak Lancar Liabilitas Panjang
Ekuitas
Hak Non Pengendali
Ekuitas Yang Dapat Diatribusikan Ke
8
Pemilik Entitas Induk
Aset Ekuitas
Aset Lancar Hak Non Pengendali
Aset Tidak Lancar Ekuitas Yang Dapat Diatribusikan Ke
Pemilik Entitas Induk
Liabilitas
Liabilitas Pendek
Liabilitas Panjang
Aset merupakan jenis dan jumlah sumber daya yang diinvestasikan pada suatu
entitas, sedangkan pada sisi lain liabilitas dan ekuitas menunjukkan komposisi dan
jumlah sumber pendanaan atas aset, tentunya jumlah investasi dan sumber
pendanaannya harus seimbang. Liabilitas menunjukkan sumber pendanaan dari
pihak ketiga dan harus dibayar baik dalam bentuk uang, barang, atau jasa.
Sedangkan ekuitas menunjukkan investasi atau kepemilikan pemodal entitas yang
bersangkutan. Untuk menilai dan mengelola suatu entitas yang baik, perlu diketahui
keadaan likuiditas dan solvabilitas entitas pada suatu waktu, sehingga dapat
dipahami dengan baik fleksibilitas keuangan dalam menentukan kebijakan
keuangan khususnya dalam menghadapi kesulitan arus kas.
1) Likuiditas
Likuiditas adalah tersedianya dana kas dan saldo yang ada di rekening bank yang
tidak terikat dengan suatu pembatasan penggunaan peraturan suatu perjanjian,
dan aset setara kas yang diperlukan untuk membayar liabilitas secara tepat
waktu. Suatu entitas dikatakan liuid bila memiliki cukup dana tunai atau aset
yang setiap saat dapat dikonversikan menjadi dana tunai untuk memenuhi
liabilitasnya ketika jatuh tempo.
2) Solvabilitas
9
Solvabilitas ( solvency ) adalah kemampuan entitas untuk melunasi
liabilitasnnya. Lazimnya diukur dengan menghitung rasio solvabilitas ( solvency
ratio ).
Rasio solvabilitas ( solvency ratio ) adalah rasio untuk mengukur jumlah relatif
liabilitas yang digunakan suatu entitas untuk membelajai kegiatan usahanya,
terutama untuk mengukur kemampuan melunasi liabilitasnya.
3) Fleksibilitas Keuangan ( Financial Flexybility )
Likuiditas dan solvabilitas mempengaruhi fleksibiitas keuangan yang
menentukan kemampuan entitas dalam pengambilan tindakan secara efektif
untuk mengatur jumlah dan jadwal arus kas dalam menghadapi kebutuhan dan
kesempatan yang tidak terduga.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa tujuan dan manfaat laporan posisi keuangan
adalah memberikan informasi tentang keadaan keuangan suatu entitas usaha pada
suatu tanggal tertentu yaitu tentang komposisi aset, liabilitas, ekuitas, untuk
menghitung dan menganalisa keadaan likuiditas, solvabilitas, fleksibilitas keuangan,
serta arus kas, yang sangat diperlukan dalam pengambilan keputusan ekonomi oleh
para pemangku kepentingan. Selain itu, komponen Laporan Keuangan terdiri dari:
(a) laporan posisi keuangan pada akhir periode; (b) laporan laba rugi dan
penghasilan komprehensif lain selama periode; (c) laporan perubahan ekuitas
selama periode; (d) laporan arus kas selama periode; (e) catatan atas laporan
keuangan, berisi ringkasan kebijakan akuntansi yang signifikan dan informasi
penjelasan lain; (ea)informasi komparatif mengenai periode terdekat sebelumnya
sebagaimana ditentukan dalam paragraf 38 dan 38A; dan (f) laporan posisi
keuangan pada awal periode terdekat sebelumnya ketika entitas menerapkan suatu
kebijakan akuntansi secara retrospektif atau membuat penyajian kembali pos-pos
laporan keuangan, atau ketika entitas mereklasifikasi pos-pos dalam laporan
keuangannya sesuai dengan paragraf 40A-40D.
10
timbul pos kepentingan nonpengendaliyang sebelumnya dikenal dengan istilah hak
minoritas,kepentingan nonpengendali disajikan sebagai bagian dari ekuitas.
Disamping itu, dalam kelompok ekuitas terdapat komponen pendapatan
komprehensif lain.
d. Pengklasifikasian aset lancar dan tidak lancar, liabilitas jangka pendek dan jangka
panjang
Aset lancer adalah aset yang diharapkan dan direalisasikan atau dijual dalam siklus
operasi normal, aset yang dimiliki dengan tujuan untuk diperdagangkan, aset yang
diharapkan akan direalisasi dalam jangka waktu dua belas bulan setelah periode
laporan serta kas atau setara kaskecuali yang dibatasi penggunaannya sehingga tidak
dapat dipertukarkan atau digunakan untuk menyelesaikan liabilitas sekurang –
kurangnya dua belas bulan setelah periode pelaporan.,yang akan diselesaikan dalam
siklus operasi normal entitas. Dimaksudkan untuk diperdagangkan termasuk juga
liabilitas dimana ensentitas tidak memiliki hak tanpa syarat untuk menunda
penyelesaiannya pada tanggal laporan.
1) Aset Lancar
PSAK 1 menyebutkan criteria suatu aset diklarifikasi sebagai aset lancer jika
a) Entitas mengharapkan akan merealisasikan aset, atau bermaksud untuk
menjua dan menggunakannya, dalam siklus operasi normal
b) Entitas memiliki aset untuk tujuan diperdagangkan
c) Entitas mengharapkan akan merealisasi aset dalam jangka waktu dua belas
bulan setelah priode laporan.
d) Kas atau setara kas, kecuali yang dibatasi sehingga tidak dapat
dipertukarkan atau digunakan untuk menyelesaikan liabilitas sekurang –
kurangnya dua belas bulan setelah priode pelaporan
2) Liabilitas jangka pendek
Entitas mengklasifikasikan liabilitas yang tidak termasuk kategori tersebut
dibawah sebagai liabilitas jangka panjang.
a) Entitas mengharapakan akan menyelesaikan liabilitas tersebut dalam siklus
operasi normalnya.
b) Entitas memiliki liabilitas tersebut untuk tujuan diperdagangkan.
11
c) Liabilitas tersebut jatuh tempo untuk diselesaikan dalam jangka waktu dua
belas bulan setelah priode pelaporan.
d) Entitas tidak memiliki hak tanpa syarat untuk menunda penyelesaian
liabilitas selama sekurang – kurangnya dua belas bulan setelah priode
pelaporan.
Beberapa contoh dari liabilitasbini adalah sebagai berikut :
i. Doposit yang dapat dikembalikan.
ii. Liabilitas keuangan yang akan jatuh tempo dalam waktu dua belas bulan
setelah priode pelaporan.
iii. Ketika entitas melanggar ketentuan perjanjian pinjaman jangka panjang
yang menyebabkan liabilitas tersebut harus segera dibayarkan.
e. Informasi Yang Harus Disajikan Dalam Laporan Posisi Keuangan Atau Catatan Atas
Laporan Keuangan
1) Informasi yang disampaikan dalam laporan keuangan menjadi lebih informatif
bagi pengambil keputusan, hal ini tampak nyata dari format laporan keuangan
yang sedikit tampil beda dari sebelumnya, seperti:
2) Laporan laba rugi komprehensif disajikan secara tegas dengan langsung
mengurangi Pendapatan dengan Beban dan beban pendanaaan sehingga
diperoleh total laba rugi komprehensif, berbeda dengan format yang lama yg
masih mengakomodir kepentingan internal dama memisahkan pendapatan dan
laba operasi.
3) Tidak ada lagi komponen pendapatan dan beban lainnya atau pos luar biasa.
4) Total laba komprehensif langsung diatribusikan kepada pemilik dalam
kapasitasnya sebagai pemilik berdasarkan dua katagori: kepentingan non-
pengendali dan pemilik entitas induk. Demikian juga komponen ekuitas pemilik
dalam laporan posisi keuangan disajikan berdasarkan dua katagori ini.
5) Terdapat laporan laba rugi komprehensif lainnya yang dapat dibuat satu dengan
laporan laba rugi komprehensif atau dibuat terpisah masing-masing.
6) Didalam laporan perubahan ekuitas menyajikan secara terinci masing-masing
komponen yang terdapat dalam laoran laba rugi komprehensif lainnya.
12
7) Jika entitas melakukan penyajian kembali pos-pos laporan keuangan, atau ketika
entitas mereklasifikasi pos-pos dalam laporan keuangannya, maka entitas wajib
membuat laporan posisi keuangan secara komparatif secara dua tahun ditambah
awal periode komparatif. Contoh jika entitas melakukan reklasifikasi pada tahun
2011, maka laporan posisi keuangan dibuat untuk periode komparasi 31
Desember 2011, 31 Desember 2010 dan 1 Januari 2010.
13
4) Laporan perubahan ekuitas, sebagai komponen dari ekuitas, dengan menyajikan
rekonsiliasi komponen pendapatan konprehensif lain antara jumlah tercatat awal
priode dan akhir periode penyajian
Berdasarkan SAK yang berlaku hingga saat ini, komponen pendapatan komprehensif
lain adalah sebagai berikut :
1) Selisih revaluasi aset tetap, jika entitas menggunakan metode ravaluasi untuk
satu atau lebih kelompok aset tetapnya
2) Keuntungan dan kerugian actuarial atas program manfaat pasti
3) Selisih kurs penjabaran laporan keuangan
4) Selisih nilai wajar aset keuangan tersedia untuk dijual
5) Bagian efektif selisih nilai wajar instrument lindung nilai dalam rangka lindung
nilai arus kas.
14
Akuntabilitas publik yang signifikan yaitu akuntabilitas terhadap pihak kini atau
potensial yang menyediakan sumber daya dan pihak eksternal lain yang membuat
keputusan ekonomi. Namun tidaklah diposisika meminta laporan keuangan secara
khusus untuk memenuhi kebutuhan informasi tertentu mereka. Dengan demikian bila
entitas mempunyai pertanggungjawaban terhadap publik diperlukan syarat sebagaimana
telah dijelaskan sebelumnya.
Sesuai SAK ETAP sebagai tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi
posisi keuangan, kinerja keuangan, dan laporan arus kas suatu entitas yang bermanfaat
bagi sejumlah besar pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi oleh siapa pun
yang tidak dalam posisi dapat meminta laporan keuangan khusus untuk memenuhi
kebutuhan informasi tertentu. Dalam memenuhi tujuannya, laporan keuangan juga
menunjukkan apa yang telah dilakukan manajemen atau pertanggungjawaban
manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya.
Dengan diberlakukannya SAK ETAP yang efektif sejak 1 Ianuari 2011, penentuan
kebijakan SAK menjadi sangat strategis karena mempunyai dampak berjangka panjang
yang dapat arah di masa yang akan datang. Perusahaan sebagai entitas tanpa
akuntabilitas publik didominasi oleh perusahaan berskala menengah ke bawah yang
dikenali sebagai usaha kecil menegah (UKM). Perusahaan sedemikian tidak memiliki
eksposur kepada pengguna pihak eksternal. Terhadap entitas tanpa akuntabilitas publik
ini menyelenggarakan bisnis cukup sederhana saja, maka tidak diperlukan lagi
menerapkan PSAK Besar. Mengingat dalam UKM mempunyai karakteristik yang
berbeda yaitu adanya keterbatasan sumber daya manusia dan sumber daya keuangan.
Dengan jelas apabila SAK ETAP telah berlaku efektif, perusahaan-perusahaan kecil
seperti UKM tidak diperlukan lagi untuk membuat laporan keuangan berbasis PSAK
besar. Sebenarnya dengan SAK ETAP akan memberikan banyak manfaat dan
kemudahan bila dibanding dengan PSAK karena tuntutan pelaporan yang lebih
kompleks. Dari sisi ruang lingkup saja SAK ETAP sebagai standar akuntansi keuangan
digunakan untuk entitas tanpa akuntabilitas publik. Entitas dimaksud adalah entitas yang
tidak memiliki akuntabilitas publik yang signifikan dan tidak menerbitkan laporan
keuangan untuk tujuan umum (General Purpose Financial Statement) bagi pengguna
eksternal. Sebagai contoh pengguna eksternal atau laporan keuangan yaitu pemilik yang
ada unsur keterlibatan langsung dalam pengelolaan usaha, kreditur, dan lembaga
pemeringkat lainnya seperti telah dijelaskan sebelumnya.
15
reksadana, dana pensiun, dan lain sebagainya. Apabila entitas yang memiliki
akuntabilitas publik signifikan tersebut dapat menggunakan SAK ETAP yang
sebenarnya tentu entitas tersebut menggunakan PSAK. Hal inilah perlu pertimbangan
otoritas pembuat regulasi untuk mempertimbangkannya, karena kemungkinan ketentuan
penggunaan PSAK tersebut membutuhkan biaya yang besar atau rumit. Dasar
pertimbangan bahwa dari sisi kebijakan akuntansi untuk SAK ETAP beberapa aspek
memang kenyataannya lebih ringan disbanding PSAK, sehingga membuat aturan yang
ketat dalam rangkan masa transisi seperti tertuang dalam Bab 29 SAK ETAP yaitu
ketentuan transisi. Adapun ketentuan transisi dimaksud pada Bab 29 memuat berikut ini.
1. Entitas menerapkan SAK ETAPsecara retrospektif, namun bila hal tersebut tidak
praktis, maka entitas diperkenankan menerapkan SAK ETAP secara prospekti£
2. Entitas yang menerapkan secara prospektif dan sebelumnya telah menyusun
laporang keuangan maka:
a. Mengakui semua aset dan kewajiban yang pengakuannya dipersyaratkan
dalam SAK ETAP
b. Tidak mengakui pos-pos sebagai aset atau kewajiban bila SAK ETAP tidak
mengizinkan pengakuan tersebut
c. Mereklasikaasikan pos-pos yang diakui sebagai suatu jenis aset, kewajiban
atau komponen ekuitas berdasarkan kerangka pelaporan sebelumnya, tetapi
merupakan jenis aset, kewajiban atau komponen ekuitas yang berbeda
berdasarkan SAK ETAP
d. Menerapkan SAK ETAP dalam pengukuran seluruh aset dan kewajiban yang
diakui.
3. Kebijakan akuntansi yang digunakan oIeh entitas pada saldo awal neracanya
berdasarkan SAK ETAP mungkin berbeda dari yang digunakan untuk tanggal yang
sama dengan menggunakan kerangka pelaporan keuangan sebelumnya. Hasil
penyesuaian yang muncul dari transaksi kejadian atau kondisi lainnya sebelum
tanggal efektif SAK ETAP diakui secara langsung pada saldo laba pada tanggal
penerapan SAK ETAP.
4. Pada tahun awal penerapan SAK ETAP, entitas yang memenuhi persyaratan untuk
menerapkan SAK ETAP dapat menyusun laporan keuangan tidak berdasarkan SAK
ETAP, tetapi berdasarkan SAK non-ETAP sepanjang diterapkan secara konsisten.
Entitas tersebut tidak diperkenankan untuk kemudian menerapkan SAK ETAP ini
untuk penyusunan laporan keuangan berikutnya.
5. Entitas yang menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK ETAP kemudian tidak
memenuhi persyaratan entitas yang boleh menggunakan SAK ETAP, maka entitas
tersebut tidak diperkenankan untuk menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK
ETAP. Entitas tersebut wajib menyusun laporan keuangan berdasarkan PSAK non-
ETAP dan tidak diperkenankan untuk menerapkan SAK ETAP ini kembali sesuai
dengan butir 4.
16
Entitas yang sebelumnya menggunakan PSAK non_ETAP dalam menyusun laporan
keuangannya dan kemudian memenuhi persyaratan entitas yang dapat
menggunakan SAK ETAP,maka entitas tersebut dapat menggunakan SAK ETAP
ini dalam menyusun laporan keuangan. Entitas tersebut menerapkan persyaratan
dalam butir 1, dan butir 3.
a. Dapat dipahami.
Kualitas penting informasi yang disajikan dalam laporan keuangan adalah
kemudahannya untuk segera dapat dipahami oleh pengguna. Untuk maksud ini,
pengguna diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai tentang aktivitas
ekonomi dan bisnis, akuntansi, serta kemauan untuk mempelajari informasi tersebut
dengan ketekunan yang wajar. Namun demikian, kepentingan agar laporan
keuangan dapat dipahami tetapi tidak sesuai dengan informasi yang relevan harus
diabaikan dengan pertimbangan bahwa informasi tersebut terlalu sulit untuk dapat
dipahami oleh pengguna tertentu
b. Relevan
Agar bermanfaat, informasi harus relevan dengan kebutuhan pengguna untuk proses
pengambilan keputusan. Informasi memiliki kualitas relevan jika dapat
mempengaruhi keputusan ekonomi pengguna dengan cara membantu mereka
17
mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini atau masa depan, menegaskan, atau
mengoreksi hasil evaluasi mereka di masa lalu.
c. Matrealitas
Informasi dipandang material jika kelalaian untuk mencantumkan atau kesalahan
dalam mencatat informasi tersebut dapat mempengaruhi keputusan ekonomi
pengguna yang diambil atas dasar laporan keuangan. Materialitas tergantung pada
besarnya pos atau kesalahan yang dinilai sesuai dengan situasi tertentu dari
kelalaian dalam mencantumkan (omission) atau kesalahan dalam mencatat
(misstatement). Namun demikian, tidak tepat membuat atau membiarkan kesalahan
untuk menyimpang secara tidak material dari SAK ETAP agar mencapai penyajian
tertentu dari posisi keuangan, kinerja keuangan atau arus kas suatu entitas.
d. Keandalan
Agar bermanfaat, informasi yang disajikan dalam laporan keuangan harus andal.
Informasi memiliki kualitas andal jika bebas dari kesalahan material dan bias, dan
penyajian secara jujur apa yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar
diharapkan dapat disajikan. Laporan keuangan tidak bebas dari bias (melalui
pemilihan atau penyajian informasi) jika dimaksudkan untuk mempengaruhi
pembuatan suatu keputusan atau kebijakan untuk tujuan mencapai suatu hasil
tertentu.
e. Substansi mengungguli bentuk
Transaksi, peristiwa dan kondisi lain dicatat dan disajikan sesuai dengan substansi
dan realitas ekonomi dan bukan hanya bentuk hukumnya. Hal ini untuk
meningkatkan keandalan laporan keuangan.
Aset Lancar
Entitas mengklasifikasikan aset sebagai aset lancer jika:
a. Diperkirakan akan direalisasi atau dimiliki untuk dijual atau digunakan, dalam
jangka waktu siklus operasi normal entitas
b. dimiliki untuk diperdagangkan
c. Diharapkan akan direalisasi dalam jangka waktu 12 bulan setelah akhir periode
pelaporan;
d. Berupa kas atau setara kas, kecuali jika dibatasi penggunaannya dari pertukaran
atau digunakan untuk menyelesaikan kewajiban setidaknya 12 bulan setelah
akhir periode pelaporan.
Entitas mengklasifikasikan semua aset lainnya sebagai tidak lancar. Jika siklus
operasi normal entitas tidak dapat diidentifikasi dengan jelas, maka siklus
operasi diasumsikan 12 bulan.
19
Laporan laba rugi memasukkan semua pos penghasilan dan beban yang diakui
dalam suatu periode kecuali SAK ETAP mensyaratkan lain. SAK ETAP mengatur
perlakuan berbeda terhadap dampak koreksi atas kesalahan dan perubahan
kebijakan akuntansi yang disajikan sebagai penyesuaian terhadap periode yang lalu
dan bukan sebagai bagian dari laba atau rugi dalam periode terjadinya perubahan.
Dalam laporan laba rugi minimal meliputi pos-pos berikut.
a. Pendapatan
b. Beban keuangan
c. Bagian laba atau rugi dari investasi yang menggunakan metode ekuitas
d. Beban pajak
e. Laba atau rugi neto
Analisis Beban
Entitas menyajikan suatu analisis beban dalam suatu klasifikasi berdasarkan sifat
atau fungsi beban dalam entitas, mana yang memberikan informasi yang lebih andal
dan relevan.
Analisis Menggunakan Sifat Beban
Berdasarkan metode ini, beban dikumpulkan dalam laporan laba rugi
berdasarkan sifatnya (contoh, penyusutan, pembelian bahan baku, biaya
transportasi, imbalan kerja dan biaya iklan), dan tidak dialokasikan kembali
antara berbagai fungsi dalam entitas.
Misalnya:
Pendapatan x
Pendapatan operasi lain x
Perubahan persediaan barang jadi dan barang dalam proses x
Bahan baku yang digunakan x
Beban pegawai x
Beban penyusutan dan amortisasi x
Beban operasi lainnya x
Jumlah beban operasi (x)
Laba operasi x
3. Laporan Perubahan Ekuitas dan Laporan Laba Rugi dan Saldo Laba
a. Laporan perubahan ekuitas
Laporan perubahan ekuitas menyajikan laba atau rugi entitas untuk suatu
periode, pos pendapatan dan beban yang diakui secara langsung dalam ekuitas
untuk periode tersebut, pengaruh perubahan kebijakan akuntansi dan koreksi
kesalahan yang diakui dalam periode tersebut, dan (tergantung pada format
laporan perubahan ekuitas yang dipilih oleh entitas) jumlah investasi oleh, dan
dividen dan distribusi lain ke, pemilik ekuitas selama periode tersebut.
b. Laporan laba rugi dan saldo laba
Laporan laba rugi dan saldo laba menyajikan laba atau rugi entitas dan
perubahan saldo laba untuk suatu periode pelaporan. Kebijakan akuntansi
mengijinkan entitas untuk menyajikan laporan laba rugi dan saldo laba
menggantikan laporan laba rugi dan laporan perubahan ekuitas jika perubahan
pada ekuitas hanya berasal dari laba atau rugi, pembayaran dividen, koreksi
kesalahan periode lalu, dan perubahan kebijakan akuntansi
21
dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang langsung
dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum.
Menurut Sommerfeld Ray M., Anderson Herschel M., dan Brock Horace R. pajak
adalah suatu pengalihan sumber dari sektor swasta ke sektor pemerintah, bukan
akibat pelanggaran hukum, namun wajib dilaksakanan, berdasarkan ketentuan yang
ditetapkan lebih dahulu, tanpa mendapat imbalan yang langsung dan proporsional,
agar pemerintah dapat melaksanakan tugas-tugasnya untuk menjalankan
pemerintahan.
Sedangkan menurut pasal 1 angka 1 UU No. 6 Tahun 1983 sebagaimana telah
disempurnakan terakhir dengan UU No. 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum
dan Tata Cara Perpajakan, adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang
oleh otang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang,
dengan tidak mendapatkan timbal balik secara langsung dan digunakan untuk
keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
b. Unsur-Unsur Pajak
1. Subjek pajak adalah orang atau badan yang dibebani pajak yang diatur dalam
undang-undang.
22
2. Wajib pajak adalah orang atau badan yang menurut undang-undang memiliki
kewajiban seperti mendapatkan/mencari nomor pokok wajib pajak (NPWP) di
Direktorat Jendral Pajak (Dirjen Pajak) guna menghitung besarnya pajak dan
menyetorkan sejumlah dana pajak ke kas negara.
3. Objek pajak adalah benda/barang yang menjadi sasaran pajak contohnya : mobil,
rumah dan sebagainya.
4. Tarif pajak adalah pengenaan besarnya pajak yang harus dibayarkan subjek pajak
atas objek pajak yang menjadi tanggungannya. Tarif pajak umumnya dinyatakan
dengan persentase.
c. Fungsi Pajak
Pajak mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan bernegara, khususnya
di dalam pelaksanaan pembangunan karena pajak merupakan sumber
pendapatan negara untuk membiayai semua pengeluaran termasuk pengeluaran
pembangunan. Berdasarkan hal di atas maka pajak mempunyai beberapa fungsi, yaitu:
1) Fungsi anggaran (budgetair)
Sebagai sumber pendapatan negara, pajak berfungsi untuk membiayai
pengeluaran-pengeluaran negara. Untuk menjalankan tugas-tugas rutin negara dan
melaksanakan pembangunan, negara membutuhkan biaya. Biaya ini dapat
diperoleh dari penerimaan pajak. Dewasa ini pajak digunakan untuk pembiayaan
rutin seperti belanja pegawai, belanja barang, pemeliharaan, dan lain sebagainya.
Untuk pembiayaan pembangunan, uangdikeluarkan dari tabungan pemerintah,
yakni penerimaan dalam negeri dikurangi pengeluaran rutin. Tabungan pemerintah
ini dari tahun ke tahun harus ditingkatkan sesuai kebutuhan pembiayaan
pembangunan yang semakin meningkat dan ini terutama diharapkan dari sektor
pajak.
2) Fungsi mengatur (regulerend)
Pemerintah bisa mengatur pertumbuhan ekonomi melalui kebijaksanaan pajak.
Dengan fungsi mengatur, pajak bisa digunakan sebagai alat untuk mencapai
tujuan. Contohnya dalam rangka menggiring penanaman modal, baik dalam negeri
maupun luar negeri, diberikan berbagai macam fasilitas keringanan pajak. Dalam
23
rangka melindungi produksi dalam negeri, pemerintah menetapkan bea masuk
yang tinggi untuk produk luar negeri.
3) Fungsi stabilitas
Dengan adanya pajak, pemerintah memiliki dana untuk menjalankan kebijakan
yang berhubungan dengan stabilitas harga sehingga inflasi dapat dikendalikan, Hal
ini bisa dilakukan antara lain dengan jalan mengatur peredaran uang di
masyarakat, pemungutan pajak, penggunaan pajak yang efektif dan efisien.
4) Fungsi redistribusi pendapatan
Pajak yang sudah dipungut oleh negara akan digunakan untuk membiayai semua
kepentingan umum, termasuk juga untuk membiayai pembangunan sehingga dapat
membuka kesempatan kerja, yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan
pendapatan masyarakat.
d. Peran Pajak
1) Sumber Pendapatan Negara
Sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas, bahwa pajak merupakan sumber utama
pendapatan negara. Pajak yang dipungut digunakan pemerintah untuk membiayai
pengeluaran negara seperti pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan.
24
4) Sarana Stabilitas Ekonomi
1) Undang-undang nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan, telah mengalami beberapa kali perubahan dengan UU. Nomor 9
tahun 1994, UU. Nomor 16 tahun 2000 dan terakhir UU. Nomor 28 tahun 2007
yang efektif berlaku mulai tahun pajak 2008.
2) Undang-undang Nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan, telah
mengalami beberapa kali perubahan dengan UU. Nomor 7 Tahun 1991, UU.
Nomor 10 Tahun 1994, UU. Nomor 17 Tahun 2000 dan terakhir UU. Nomor
36 Tahun 2008 yang efektif berlaku mulai tahun pajak 2009.
3) Undang-undang Nomor 8 tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang
dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah, telah mengalami beberapa
perubahan dengan UU. Nomor 11 Tahun 1994, dan UU. Nomor 42 Tahun
2009.
4) Undang-undang Nomor 12 tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan,
telah mengalami perubahan terakhir dengan UU. Nomor 12 tahun 1994.
5) Undang-undang Nomor 13 tahun 1985 tentang Bea Meterei Undang-undang
6) Nomor 21 tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan,
telah mengalami perubahan dengan UU. Nomor 20 Tahun 2000.
7) Undang-undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan, telah diubah
dengan UU. Nomor 17 tahun 2006.
25
8) Undang-undang Nomor 11 tahun 1995 tentang Cukai telah mengalami
perubahan dengan UU. Nomor 39 Tahun 2007.
9) Undang-undang Nomor 17 tahun 1997 tentang Badan Penyelesaian Sengketa
Pajak yang kemudian diganti dengan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2002
tentang Pengadilan Pajak.
10) Undang-undang Nomor 24 tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional (tax
treaty)
Undang-undang Nomor 18 tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah,
telah mengalami perubahan dengan UU. Nomor 34 Tahun 2000.
2.7. Kewajiban Pembukuan Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi dan Badan
a. Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk
mengumpulkan data dan informasi keuangan yang meliputi harta, kewajiban,
modal, penghasilan dan biaya, serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang
atau jasa, yang ditutup dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca, dan
laporan laba rugi untuk periode Tahun Pajak tersebut.
Sedangkan pencatatan terdiri atas data yang dikumpulkan secara teratur tentang
peredaran atau penerimaan bruto dan/atau penghasilan bruto sebagai dasar untuk
menghitung jumlah pajak yang terutang, termasuk penghasilan yang bukan objek
pajak dan/atau yang dikenai pajak yang bersifat final.
b. Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas
dan Wajib Pajak badan di Indonesia wajib menyelenggarakan pembukuan.
26
1) Diselenggarakan dengan itikad baik dan mencerminkan keadaan atau kegiatan
usaha yang sebenarnya.
Pembukuan dengan menggunakan bahasa asing dan mata uang selain Rupiah
dapat diselenggarakan oleh Wajib Pajak, setelah mendapat izin Menteri
Keuangan. Wajib Pajak yang dapat menyelenggarakan pembukuan dalam
bahasa asing dan mata uang selain Rupiah adalah:
a) Wajib Pajak dalam rangka Penanaman Modal Asing, yaitu Wajib Pajak
yang beroperasi berdasarkan ketentuan undang-undang yang mengatur
mengenai Penanaman Modal Asing;
b) Wajib Pajak dalam rangka Kontrak Karya yaitu Wajib Pajak yang
beroperasi berdasarkan kontrak dengan Pemerintah Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam undangundang yang mengatur mengenai
pertambangan;
c) Wajib Pajak dalam rangka Kontrak Bagi Hasil yaitu Wajib Pajak yang
beroperasi berdasarkan undang-undang yang mengatur mengenai
pertambangan minyak dan gas bumi;
d) Bentuk Usaha Tetap (Pasal 2 ayat (5) UU 7/83, atau PSB terkait);
Bahasa asing dan mata uang selain Rupiah yang diperbolehkan untuk
dipergunakan dalam pembukuan Wajib Pajak adalah bahasa inggris dan mata uang
Dollar Amerika Serikat. Penyelenggaraan pembukuan dalam bahasa Inggris dan
27
mata uang Dollar Amerika Serikat oleh Wajib Pajak harus terlebih dahulu mendapat
izin tertulis dari Menteri Keuangan, kecuali bagi Wajib Pajak dalam rangka Kontrak
Karya atau Kontrak Bagi Hasil.
3) Pembukuan diselenggarakan dengan prinsip taat asas dan dengan stelsel akrual atau
stelsel kas. Perubahan terhadap metode pembukuan dan/atau tahun buku harus
mendapat persetujuan dari Direktur Jenderal Pajak.
Prinsip taat asas adalah prinsip yang sama digunakan dalam metode pembukuan
dengan tahun-tahun sebelumnya, untuk mencegah penggeseran laba atau rugi.
Stelsel akrual adalah suatu metode penghitungan penghasilan dan biaya dalam arti
penghasilan diakui pada waktu diperoleh dan biaya diakui pada waktu terutang. Jadi
tidak tergantung kapan penghasilan itu diterima dan kapan biaya itu dibayar tunai.
Stelsel kas adalah suatu metode yang penghitungannya didasarkan atas penghasilan
yang diterima dan biaya yang dibayar secara tunai. Menurut stelsel ini, penghasilan
baru dianggap sebagai penghasilan, bila benar-benar telah diterima tunai datam
suatu periode tertentu, serta biaya baru dianggap sebagai biaya, bila benar-benar
telah dibayar tunai dalam suatu periode tertentu. Stelsel kas biasanya digunakan
oleh perusahaan kecil orang pribadi atau perusahaan jasa misalnya transportasi,
hiburan, restoran, yang tenggang waktu antara penyerahan jasa dan penerimaan
pembayarannya tidak berlangsung lama.
28
4) Pembukuan sekurang-kurangnya terdiri atas catatan mengenai harta, kewajiban,
modal, penghasilan dan biaya, serta penjualan dan pembelian sehingga dapat
dihitung besarnya pajak yang terutang.
Selain dapat dihitung besarnya Pajak Penghasilan, pajak-pajak lainnya juga harus
dapat dihitung dari pembukuan tersebut. Agar Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah dapat dihitung dengan benar maka pembukuan harus
mencatat juga jumlah harga perolehan atau nilai impor, jumlah harga jual atau nilai
ekspor, jumlah harga jual dan barang yang dikenakan Pajak Penjualan Atas Barang
Mewah, jumlah pembayaran atas pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud
dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean dan atau pemanfaatan Jasa Kena
Pajak dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean, jumlah Pajak Masukan
yang dapat dikreditkan dan yang tidak dapat dikreditkan.
Dengan demikian pembukuan harus diselenggarakan dengan cara atau sistem yang
lazim dipakai di Indonesia misalnya berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan,
kecuali peraturan perundang-undangan perpajakan menentukan lain.
5) Buku, catatan, dan dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan dan
dokumen lain termasuk hasil pengolahan data dari pembukuan yang dikelola secara
elektronik atau secara program aplikasi on-line wajib disimpan selama 10 (sepuluh)
tahun di Indonesia, yaitu di tempat kegiatan atau tempat tinggal Wajib Pajak orang
pribadi, atau di tempat kedudukan Wajib Pajak badan.
29
b) Tidak menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan di Indonesia, tidak
memperlihatkan atau tidak meminjamkan buku, catatan, atau dokumen
lain;
Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama
6 (enam) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak terutang
yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak
terutang yang tidak atau kurang dibayar. Pidana menjadi 2 (dua) kali sanksi
pidana apabila seseorang melakukan lagi tindak pidana di bidang perpajakan
sebelum lewat 1 (satu) tahun, terhitung sejak selesainya menjalani pidana
penjara yang dijatuhkan.
30
BAB III
SIMPULAN
Standar akuntansi keuangan yang berkualitas merupakan salah satu prasarana penting
untuk mewujudkan transparasi tersebut. Standar akuntansi keuangan dapat diibaratkan sebagai
sebuah cermin, di mana cermin yang baik akan mampu menggambarkan kondisi praktis bisnis
yang sebenarnya. Oleh karena itu, pengembangan standar akuntansi keuangan yang baik,
sangat relevan dan mutlak diperlukan pada masa sekarang ini.
Tujuan dan manfaat laporan posisi keuangan adalah memberikan informasi tentang
keadaan keuangan suatu entitas usaha pada suatu tanggal tertentu yaitu tentang komposisi
aset, liabilitas, ekuitas, untuk menghitung dan menganalisa keadaan likuiditas, solvabilitas,
fleksibilitas keuangan, serta arus kas, yang sangat diperlukan dalam pengambilan keputusan
ekonomi oleh para pemangku kepentingan.
Laporan keuangan menyajikan posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas suatu
entitas. Laporan keuangan yang disajikan tersebut mensyaratkan jujur atau terbebas dari
pengaruh transaksi, peristiwa dan kondisi lain sesuai dengan apa yang telah dipedomani dalam
definisi atau batasan, dan kriteria pengakuan aset, kewajiban penghasilan dan beban. Dalam
31
penerapan SAK ETAP dengan pengungkapan tambahan akan menghasilkan laporan keuangan
yang wajar atas posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas.
Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh otang pribadi atau
badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan timbal
balik secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat. Pajak mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan
bernegara, khususnya di dalam pelaksanaan pembangunan karena pajak merupakan sumber
pendapatan negara untuk membiayai semua pengeluaran termasuk pengeluaran pembangunan.
Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dan
Wajib Pajak badan di Indonesia wajib menyelenggarakan pembukuan. Pembukuan adalah
suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data dan
informasi keuangan yang meliputi harta, kewajiban, modal, penghasilan dan biaya, serta
jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa. Sedangkan pencatatan terdiri atas
data yang dikumpulkan secara teratur tentang peredaran atau penerimaan bruto dan/atau
penghasilan bruto sebagai dasar untuk menghitung jumlah pajak yang terutang
32
DAFTAR PUSTAKA
33