Anda di halaman 1dari 4

KOMUNIKASI SBAR

a) Judul video
Komunikasi SBAR

b) Pengertian
Komunikasi SBAR adalah komunikasi efektif yang dilakukan perawat kepada rekanan
sejawat atau tenaga medis lainnya, untuk menyampaikan kondisi pasien.

c) Tujuan dan manfaat


Tujuan dilakukan komunikasi SBAR ini adalah bagian dari menyampaikan informasi
yang penting dari perawat kepada dokter ataupun tenaga medis lainnya.
Dalam komunikasi SBAR ada 4 komponen, yaitu S, B, A dan R.
- S adalah situation. Dalam hal ini perawat akan menyampaikan situasi terkini terkait
dengan pasien. Contoh : data/nama pasien, perkembangan terakhir dan diagnose
medis.
- B adalah background. Dalam hal ini perawat dapat menyampaikan latar belakang
terkait dengan kondisi pasien saat ini. Contoh : alasan pasien masuk rumah sakit,
Tindakan yang sudah dilakukan, terapi yang sudah diberikan dan juga perkembangan
pasien.
- A adalah assessment. Dalam hal ini perawat dapat menyampaikan hasil pengkajian
atau analisis terkait dengan kondisi pasien.
- R adalah recommendation. Dalam hal ini perawat dapat menyampaikan saran ataupun
dokter DPJP dapat memberikan rekomendasi atau saran sesuai dengan data atau
situasi yang sudah disampaikan dalam komunikasi sebelumnya.

d) Indikasi tindakan dilakukan


Komunikasi SBAR adalah kerangka teknik komunikasi yang disediakan untuk petugas
kesehatan dalam menyampaikan kondisi pasien.
SBAR adalah metode terstruktur untuk mengkomunikasikan informasi penting yang
membutuhkan perhatian segera dan tindakan berkontribusi terhadap eskalasi yang efektif
dan meningkatkan keselamatan pasien. SBAR juga dapat digunakan secara efektif untuk
meningkatkan serah terima antara shift atau antara staf di daerah klinis yang sama atau
berbeda. Melibatkan semua anggota tim kesehatan untuk memberikan masukan ke dalam
situasi pasien termasuk memberikan rekomendasi. SBAR memberikan kesempatan untuk
diskusi antara anggota tim kesehatan atau tim kesehatan lainnya. (kartika, 2019)

e) Siapa, Kapan dan Dimana tindakan dilakukan


 Siapa yang dapat melakukan komunikasi SBAR?
Sistem komunikasi SBAR digunakan untuk mengkomunikasikan pasien dan
pengelolaannya, terutama komunikasi verbal baik langsung maupun melalui
sambungan telepon antar tenaga kesehatan yaitu antara:
a. Perawat dengan dokter
b. Konsultasi antardokter
c. Antar bagian layanan Kesehatan
d. Pergantian petugas jaga (shift)
Unit terkait :
1. Keperawatan.
2. Dokter.
3. Instalasi Rehabilitasi Medik.
4. Laboratorium.
5. Radiologi.
6. Instalasi Gizi.
7. Instalasi Gawat Darurat.(Arianti, 2017)
 Kapan komunikasi SBAR itu dapat dilakukan?
Ketika ada informasi penting yang membutuhkan perhatian segera dan tindakan
berkontribusi terhadap eskalasi yang efektif dan meningkatkan keselamatan pasien.
 Dimana tindakan komunikasi SBAR dapat dilakukan?
Di rumah sakit maupun fasilitas kesehatan lainnya.

f) Tahapan prosedur ( pra interaksi, fase orientasi, fase kerja dan fase terminasi )
Tahap pra interaksi
1. Kondisi klien
Tn. A. saat ini pasien ada di bangsal penyakit dalam, dengan kondisi TD 150/80
mmHg, nadi 120x/menit, nafasnya 40x/menit. Ada bunyi nafas ronchi. Hasil lab
terbaru menunjukkan Hb 9 mg/dl. Kondisi Tn. A. masuk rumah sakit 23 Juni
2020. Pasien masuk IGD dengan kondisi asites dan edema pada kaki. Pasien
mengatakan sudah mengalami gagal ginjal selama 3 tahun. Sudah rutin
melakukan cuci darah, tetapi pada tanggal 23 Juni 2020 pasien merasakan tidak
nyaman pada badan sehingga memutuskan untuk ke rumah sakit. Di IGD pasien
sudah diberikan posisi semi fowler, sudah terpasang kateter, diberikan oksigen
sebanyak 3 liter/menit. Sudah dilakukan observasi selama 15 menit di IGD,
didapatkan pemeriksaan hasil SAO2 nya = 88 %, TD = 130/100 mmHg, respirasi
= 28x/menit, nadi = 110x/menit. 1 jam kemudian pasien baru di transfer ke
bangsal ruang perawatan, kemudian sudah dilakukan pemeriksaan oleh dokter
DPJP-nya. Pasien sudah diberikan Injeksi Lasix = 3x1 ampul. Iv untuk memantau
urine output sebagai indikator dari keseimbangan cairan elektrolit.
2. Diagnosis keperawatan
Diagnose medis = gagal ginjal kronik.
Gangguan pola napas, ketidakseimbangan cairan lebih dari kebutuhan tubuh.
3. Tindakan keperawatan
Perawat menyiapkan rekam medis
Perawat menyiapkan materi yang akan disampaikan
Siapkan alat tulis
Pasien diberikan oksigen non rebreathing mask 8 liter/menit
Diberikan extranasi prix 2 ampul
Observasi pernapasan dan tekanan darah
Monitor selalu pengeluaran urine

Fase orientasi
Salam terapeutik
Perawat : “Assalamualikum dokter.”
Perawat : “Perkenalkan saya perawat Kelly dari bangsal penyakit dalam.”
Perawat : “Hari ini saya akan menyampaikan terkait kondisi pasien Tn. A. saat ini pasien
ada di bangsal dengan kondisi, TD 150/80 mmHg, nadi 120x/menit, nafasnya
40x/menit. Ada bunyi nafas ronchi. Kemudian hasil lab terbaru menunjukkan
Hb 9 mg/dl.”
Perawat : “Kondisi Tn. A. masuk rumah sakit tanggal 23 Juni 2020. Pasien masuk IGD
dengan kondisi asites dan edema pada kaki. Pasien mengatakan sudah
mengalami gagal ginjal ini sudah selama 3 tahun dok.”
Perawat : “Kemudian Sudah rutin melakukan cuci darah, tetapi pada tanggal 23 Juni
tersebut, pasien merasakan tidak nyaman pada badan sehingga memutuskan
untuk ke rumah sakit.”

Fase kerja
Perawat : “Di IGD pasien sudah diposisikan semi fowler, kemudian sudah terpasang
kateter, diberikan oksigen sebanyak 3 liter/menit. Kemudian sudah dilakukan
observasi dok, selama 15 menit.”
Perawat : “Di IGD, didapatkan pemeriksaan hasil SAO2 nya = 88 %, TD = 130/100
mmHg, respirasi = 28x/menit, nadi = 110x/menit.”
Perawat : “1 jam kemudian pasien baru di transfer ke bangsal ruang perawatan, kemudian
sudah dilakukan pemeriksaan oleh dokter DPJP-nya.”
Perawat : “Pasien di diagnose medis gagal ginjal kronik dok, disini sudah ada Tindakan
pengobatan yang di dapat, yaitu Injeksi Lasix = 3x1 ampul dan Iv untuk
memantau urine output sebagai indicator dari keseimbangan cairan elektrolit.
Perawat: “Analisa dari perawat, pasien mengalami gangguan pola napas dan
ketidakseimbangan cairan lebih dari kebutuhan tubuh dok.”
Perawat : “Disini kami menyarankan, kalau kondisi pasien tersebut apakah harus di ganti
dengan oksigen NREM dok? Kemudian jika iya apakah kami perlu
meningkatkan diuretic?”
Fase terminasi
Dokter : “Saran saya pasien diberikan oksigen non rebreathing mask 8 liter/menit,
kemudian selanjutnya diberikan extranasi prix 2 ampul, tetap observasi
pernapasan dan tekanan darah, dan yang terakhir monitor selalu pengeluaran
urine.”
Perawat : “Baik terima kasih dokter sudah saya catat.”
Perawat : “Terima kasih atas sarannya, assalamualaikum Wr. Wb.”

Daftar Pustaka
Arianti, N. D. (2017). Gambaran Komunikasi SBAR Saat Transfer Pasien Pada Perawat Di
RSUD K.R.M.T. Wongsonegoro. 1–49.
Kartika, Y. dwi. (2019). Pentingnya Komunikasi Sbar Dalam Penerapan Keselamatan Pasien.
1–7. https://doi.org/10.31219/osf.io/qsb6a
Adrian, M. (2017). SBAR – Komunikasi Efektif di Rumah Sakit. 1-6. https://snars.web.id/rs/sbar
komunikasi-efektif-di-rumah-sakit/

Anda mungkin juga menyukai