Anda di halaman 1dari 34

MAKALAH KESELAMATAN PASIEN & KESEHATAN KERJA

PENINGKATAN KEAMANAN OBAT YANG PERLU DIWASPADAI PADA


PROSEDUR PEMBERIAN OBAT INTRAVENA

Dosen Pembimbing :

Ani Nuraeni SKp, MKes


Ns. Dinny Atin Amanah, S.Kep

Disusun Oleh Kelompok 2 :

Ahmad Rangga Hidayatullah (P17120120006)


Hilmiyah Niswati Ilhamy (P17120120017)
Khansa Qonitah (P17120120022)
Kiana Rani Nurwita (P17120120023)
Nada Sya’bany Al-Humairo (P17120120026)
Nurmala Sepiani (P17120120029)
Regifa Octafirani (P17120120032)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN JAKARTA 1


JURUSAN KEPERAWATAN PRODI NERS TINGKAT 1
JAKARTA SELATAN
2021
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya
sehingga kami dapat menyusun dan menyelesaikan makalah berjudul “Ketepatan Identifikasi
Pasien dan Peningkatan Keamanan Obat yang Perlu Diwaspadai pada Prosedur Pemberian
Obat Intra Vena”. Makalah ini dibuat guna meningkatkan pengetahuan diri tentang ketetapan
identifikasi pasien dan peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai pada prosedur
pemberian obat intravena serta untuk memenuhi tugas mata kuliah keselamatan pasien dan
kesehatan kerja.
Dalam penyelesaian makalah ini, kami banyak menerima bantuan dari berbagai pihak.
Untuk itu kami ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Kepada Ani Nuraeni SKp, MKes dan Ns. Dinny Atin Amanah, S.Kep selaku dosen
pembimbing kelompok 2 dalam mata kuliah keselamatan pasien dan kesehatan kerja.
2. Kepada kedua orang tua, adik, kakak, keluarga, teman dan sahabat yang telah memberi
dukungan moril dan materil sehingga kami dapat menyelesaikan makalah.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu, kami mengharapkan masukan berupa kritik dan saran yang bersifat membangun
demi perbaikan dan penyempurnaan makalah ini. Dengan adanya makalah ini di harapkan
dapat membantu dalam proses pembelajaran dan dapat menambah pengetahuan para
pembaca. Semoga makalah ini dapat berguna bagi kita semua.

Jakarta, 26 April 2021

Penyusun

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.....................................................................................................................2
DAFTAR ISI....................................................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................................4
A. Latar Belakang......................................................................................................................4
B. Rumusan Masalah.................................................................................................................5
C. Tujuan...................................................................................................................................6
D. Manfaat.................................................................................................................................6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.....................................................................................................7
A. KETEPATAN IDENTIFIKASI PASIEN.............................................................................7
1. Pengertian Identifikasi Pasien...........................................................................................7
2. Tujuan dan Manfaat Identifikasi Pasien............................................................................7
3. Tatalaksana Identifikasi Pasien.........................................................................................8
4. Petugas Pelaku Identifikasi Pasien....................................................................................9
5. Prosedur Identifikasi Pasien..............................................................................................9
6. Kesalahan dan Akibat Kesalahan Identifikasi Pasien.....................................................10
B. PENINGKATAN KEAMANAN OBAT YANG PERLU DIWASPADAI.......................10
1. Pengertian Obat yang Perlu Diwaspadai.........................................................................10
2. Tujuan Peningkatan Keamanan Obat yang Perlu Diwaspadai........................................11
3. Obat-obat yang Perlu Diwaspadai...................................................................................12
C. PEMBERIAN OBAT INJEKSI INTRAVENA.................................................................17
1. Pengertian........................................................................................................................17
2. Tujuan.............................................................................................................................18
3. Prosedur...........................................................................................................................18
4. Indikasi............................................................................................................................21
5. Hal- hal yang perlu diperhatikan.....................................................................................22
BAB III KASUS DAN SKENARIO.............................................................................................24
A. KASUS...............................................................................................................................24

3
B. SKENARIO........................................................................................................................24
BAB IV PENUTUP.......................................................................................................................28
A. KESIMPULAN...................................................................................................................28
B. SARAN...............................................................................................................................30
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................................31

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Seorang tenaga kesehatan harus mampu meningkatkan mutu pelayanan, dengan
memberikan pelayanan secara efisien dan efektif sesuai dengan standar profesi, standar
pelayanan, yang dilaksanakan secara menyeluruh sesuai dengan kebutuhan pasien. Dalam
memberikan pelayanan terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu keselamatan
pasien dan meminimalkan resiko terulangnya keluhan atau ketidak puasan pasien.
Keselamatan pasien bertujuan untuk meningkatkan keselamatan, menghindari pasien
cidera dan meningkatkan mutu pelayanan (Susiati, M. 2008).
Keselamatan dan keamanan merupakan kebutuhan dasar manusia serta suatu
indikator dalam peningkatan mutu pelayanan. Keselamatan pasien merupakan sebuah
prioritas dalam pelayanan rumah sakit dan menjadi tuntutan kebutuhan dalam pelayanan
kesehatan. Keselamatan pasien (patient safety) meliputi : ketepatan identifikasi pasien,
peningkatan komunikasi yang efektif, peningkatan keamanan obat yang perlu
diwaspadai, kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur, tepat-pasien operasi, pengurangan
risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan dan, pengurangan risiko pasien jatuh
(Nursalam, 2011)
Berdasarkan analisis kejadian beresiko dalam proses kefarmasian, kejadian obat
yang merugikan, kesalahan pengobatan dan reaksi obat yang merugikan menempati
kelompok urutan utama dalam keselamatan pasien. Hal ini memerlukan pendekatan ke
sistem untuk mengelola, mengingat kompleksitas keterkaitan kejadian antara kesalahan
merupakan hal yang manusiawi dan proses farmakoterapi yang sangat kompleks. Faktor
lain yang mempengaruhi terjadinya resiko obat terebut adalah multifaktor dan
multiprofesi yang kompleks, jenis pelayanan medik, banyaknya jenis dan jumlah obat per
pasien, faktor lingkungan, beban kerja, kompetensi karyawan, kepemimpinan dan

4
sebagainya (Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan RI
tahun 2008).
Penggunaan yang salah terhadap obat dapat menimbulkan kecacatan bahkan
kematian pada manusia. Kesalahan dalam pemberian obat sering ditemukan meliputi
kekeliruan dalam mengidentifikasi pasien, menetapkan jenis obat, order dosis yang salah,
rute yang tidak tepat, waktu pemberian yang tidak tepat, obat yang menimbulkan alergi
atau kombinasi yang bertentangan sehingga menimbulkan akibat berupa kematian
(kartika, 2013).
Mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit dipengaruhi oleh banyak sekali faktor.
Faktor yang berpengaruh dikelompokan kedalam faktor pelayanan medic, faktor
pelayanan non medic, dan faktor pasien. Faktor pelayanan medik ditentukan oleh standar
pelayanan yang dipakai, alat kesehatan, dokter, dan perawat. Agar pasien mendapatkan
pelayanan yang baik di rumah sakit petugas wajib mematuhi standar profesi pelayanan
keperawatan khususnya mematuhi standar operasional prosedur tindakan keperawatan
yang akan dilakukan pada setiap pasien. (kartika, 2013).
Pasien yang menjalani rawat inap sebagian besar mendapatkan terapi intravena
yang bertujuan untuk pemberian obat, cairan, dan pemberian produk darah, atau samping
darah (Alexander, Corigan, Gorski, Hanskin, & Perucca, 2010). Menurut Smeltzer dan
Bare (2010) pemberian terapi intravena bertujuan untuk menyediakan air, elektrolit,
nutrient; menyediakan suatu medium untuk pemberian obat secara intravena. Oleh karena
itu diperlukan ketetapan identifikasi pasien dan peningkatan keamanan obat yg perlu
diwaspadai pada prosedur pemeberian obat intravena untuk mencegah risiko kesalahan
dalam prosedur pemberian obat intravena (Smeltzer & Bare, 2010).

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian identifikasi pasien?
2. Apa tujuan dan manfaat identifikasi pasien?
3. Apa saja tatalaksana identifikasi pasien?
4. Siapa saja petugas pelaku identifikasi pasien?
5. Apa prosedur identifikasi pasien?
6. Apa saja kesalahan dan akibat kesalahan identifikasi pasien?
7. Apa pengertian obat yang perlu diwaspadai?
8. Apa tujuan peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai?

5
9. Apa saja obat-obatan yang perlu diwaspadai?
10. Apa pengertian pemberian obat injeksi intravena?
11. Apa tujuan pemberian obat injeksi intravena?
12. Bagaimana prosedur pemberian obat injeksi intravena?
13. Apa indikasi pemberian obat injeksi intravena?
14. Apa saja hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemberian injeksi intravena?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu menerapkan prosedur peningkatan pemberian obat yang perlu
diwaspadai pada pemberian obat melalu injeksi intravena melalui skenario roleplay.

2. Tujuan Khusus
a. Menjelaskan pengertian identifikasi pasien.
b. Menjelaskan tujuan dan manfaat identifikasi pasien.
c. Menjelaskan tatalaksana identifikasi pasien.
d. Mengetahui petugas pelaku identifikasi pasien.
e. Menjelaskan prosedur identifikasi pasien.
f. Mengetahui kesalahan dan akibat kesalahan identifikasi pasien.
g. Menjelaskan pengertian obat yang perlu diwaspadai.
h. Menjelaskan tujuan peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai.
i. Mengetahui obat-obatan yang perlu diwaspadai.
j. Menjelaskan pengertian pemberian obat injeksi intravena.
k. Menjelaskan tujuan pemberian obat injeksi intravena.
l. Menjelaskan prosedur pemberian obat injeksi intravena.
m. Menjelaskan indikasi pemberian obat injeksi intravena.
n. Mengetahui hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemberian injeksi intravena.

D. Manfaat
1. Mahasiswa
Menambah wawasan tentang ketepatan identifikasi pasien dan peningkatan keamanan obat
yang perlu diwaspadai pada prosedur pemberian obat intravena.

6
2. Pembaca
Mendapatkan informasi tentang peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai serta
menambah wawasan tentang kewaspadaan akan high alert medications pada prosedur
pemberian obat intravena.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. KETEPATAN IDENTIFIKASI PASIEN


1. Pengertian Identifikasi Pasien
Pengertian identifikasi adalah proses pengumpulan data dan pencatatan segala
keterangan tentang bukti-bukti dari seseorang sehingga kita dapat menetapkan dan
menyamakan keterangan tersebut dengan individu seseorang. Identifikasi pasien adalah
suatu proses pemberian tanda atau pembeda yang mencakup nomor rekam medis dan
identitas pasien dengan tujuan agar dapat membedakan antara pasien satu dengan pasien
yang lainnya guna ketepatan pemberian pelayanan, pengobatan dan tindakan atau prosedur
kepada pasien. (Tutiany et al., 2017)
Persentase pelaksanaan standar identifikasi pasien pada pemberian identitas pasien pada
pasien rawat inap :
a) Identifikasi pemakaian gelang identitas rawat inap
b) Identifikasi pemberian obat
c) Identifikasi pasien pada awal pemeriksaan
d) Identifikasi pada pengambilan sampel darah dan specimen. (Arahman, 2017)

2. Tujuan dan Manfaat Identifikasi Pasien


Mengidentifikasi pasien dilakukan dengan tujuan untuk membedakan antara pasien satu
dengan pasien yang lainnya, sehingga mempermudah dalam proses pemberian pelayanan
kesehatan kepada pasien yang datang berobat dan mencegah kesalahan dan kekeliruan
dalam proses pemberian pelayanan, pengobatan tindakan atau prosedur. Ketepatan
identifikasi pasien menjadi hal yang penting, karena berhubungan dengan keselamatan
pasien. Kesalahan karena keliru pasien dapat terjadi dalam semua aspek diagnosis dan

7
pengobatan. Kesalahan karena keliru pasien dapat merugikan pasien, menyebabkan pasien
tidak mendapatkan terapi yang tepat, membuat pasien cidera, bahkan bisa menyebabkan
cacat atau kematian pasien. Karena itu kesalahan karena keliru pasien merupakan hal yang
amat sangat berat hukumnya. Tujuan dari mengidentifikasi pasien dengan benar adalah:
a. Mengidentifikasi pasien sebagai individu yang dimaksudkan untuk mendapatkan
pelayanan atau pengobatan dengan cara yang dapat dipercaya/reliable,
b. Untuk mencocokkan pelayanan atau pengobatan terhadap individu tersebut.
c. Untuk memastikan tidak terjadinya kesalahan dalam identifikasi pasien selama
perawatan di rumah sakit.
d. Mengurangi kejadian/ kesalahan yang berhubungan dengan salah identifikasi.
Kesalahan ini dapat berupa: salah pasien, kesalahan prosedur, kesalahan medikasi,
kesalahan transfusi, dan kesalahan pemeriksaan diagnostik.
e. Mengurangi kejadian cidera pada pasien (Tutiany et al., 2017).

3. Kondisi yang Memerlukan Identifikasi Pasien


Beberapa keadaan yang dapat beresiko menyebabkan terjadinya error/ kesalahan dalam
mengidentifikasi pasien, yaitu pasien yang dalam keadaan terbius/ tersedasi, mengalami
disorientasi, atau tidak sadar sepenuhnya, mungkin bertukar tempat tidur, kamar, lokasi di
dalam rumah sakit; mungkin mengalami disabilitas sensori; atau akibat situasi lain. Tujuan
menerapkan sasaran ini adalah mengidentifikasi pasien sebagai individu yang tepat untuk
mendapatkan pelayanan atau pengobatan; dan untuk mencocokkan pelayanan atau
pengobatan terhadap individu tersebut. (Tutiany et al., 2017)
Dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 11 Tahun 2017 tentang Keselamatan Pasien
disebutkan bahwa fasilitas pelayanan kesehatan menyusun pendekatan untuk memperbaiki
ketepatan identifikasi pasien. Dari berbagai laporan kejadian baik di Indonesia maupun di
luar negeri, di Negara berkembang ataupun di Negara maju, kesalahan karena keliru-pasien
sebenarnya terjadi di semua aspek diagnosis dan pengobatan. Keadaan yang dapat
mengarahkan terjadinya error/ kesalahan dalam mengidentifikasi pasien, adalah pasien yang
dalam keadaan terbius/ tersedasi, mengalami disorientasi, atau tidak sadar sepenuhnya;
mungkin bertukar tempat tidur, kamar, lokasi di dalam fasilitas pelayanan kesehatan;
mungkin mengalami disabilitas sensori; atau akibat situasi lain. (Tutiany et al., 2017)

8
4. Ruang Lingkup dan Pelaksana Identifikasi Pasien
Ruang Lingkup identifikasi pasien, mencakup :
a. Semua pasien rawat inap, pasien Instalasi Gawat Darurat (IGD), dan pasien yang akan
menjalani suatu prosedur.
b. Pelaksana identifikasi pasien adalah semua tenaga kesehatan (medis, perawat, farmasi,
bidan, dan tenaga kesehatan lainnya); staf di ruang rawat, staf administratif, dan staf
pendukung yang bekerja di rumah sakit. (Tutiany et al., 2017)

5. Waktu Dilakukannya Identifikasi Pasien


Kebijakan dan/atau prosedur secara kolaboratif dikembangkan untuk memperbaiki
proses identifikasi, khususnya proses yang digunakan untuk mengidentifikasi pasien.
Berikut adalah beberapa prosedur yang membutuhkan identifikasi pasien :
a. Pemberian obat
b. Pemberian darah atau produk darah (transfusi darah)
c. Pengambilan darah dan spesimen lain untuk pemeriksaan klinis; atau
d. Memberikan pengobatan atau tindakan lain.
e. Prosedur pemeriksaan radiologi (rontgen, MRI, dan sebagainya)
f. Intervensi pembedahan dan prosedur invasif lainnya
g. Transfer pasien
h. Konfirmasi kematian (Tutiany et al., 2017).

6. Kegiatan untuk Mengidentifikasi Pasien dengan Benar


Suatu proses kolaboratif digunakan untuk mengembangkan kebijakan dan/atau prosedur
untuk memastikan telah mengatur semua situasi yang memungkinkan untuk diidentifikasi.
Kegiatan yang dilaksanakan, adalah:
a. Pasien diidentifikasi menggunakan dua identitas pasien, tidak boleh menggunakan
b. Nomor kamar atau lokasi pasien.
c. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian obat, darah, atau produk darah.
d. Pasien diidentifikasi sebelum mengambil darah dan spesimen lain untuk pemeriksaan
e. klinis
f. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian pengobatan dan tindakan / prosedur.
g. Kebijakan dan prosedur mengarahkan pelaksanaan identifikasi yang konsisten pada
h. Semua situasi dan lokasi. (Tutiany et al., 2017)

9
7. Tatalaksana Identifikasi Pasien
Kebijakan dan/atau prosedur memerlukan sedikitnya dua cara untuk mengidentifikasi
seorang pasien, seperti nama pasien, dengan nomor identifikasi menggunakan nomor rekam
medis, tanggal lahir, gelang (-identitas pasien) dengan bar-code, atau cara lain. Nomor
kamar atau lokasi pasien tidak bisa digunakan untuk identifikasi. Kegiatan identifikasi
pasien merupakan hal yang terintegrasi, sehingga penerapan ini diperlukan standar
operasional prosedur untuk pelaksanaan identifikasi pasien. Minimal terdapat dua identitas
pasien, meliputi nama pasien dan tanggal lahir. Kebijakan dan/atau prosedur juga
menjelaskan penggunaan dua pengidentifikasi/ penanda yang berbeda pada lokasi yang
berbeda di fasilitas pelayanan kesehatan, seperti di pelayanan ambulatori atau pelayanan
rawat jalan yang lain, unit gawat darurat, atau kamar operasi. Identifikasi terhadap pasien
koma yang tanpa identitas, juga termasuk. Tatalaksana identifikasi pasien (RSUPN Dr.
Cipto Mangunkusumo, 2016) adalah sebagai berikut:
a. Melakukan identifikasi pasien
 Menanyakan nama lengkap pasien dan tanggal lahir
 Identifikasi pasien dapat menggunakan Nomor Rekam Medik (NRM)
 Menggunakan komunikasi aktif/ pertanyaan terbuka dalam mengidentifikasi

b. Identifikasi pasien menggunakan dokumen foto


 Pasien yang tidak memiliki ekstremitas
 Pasien luka bakar luar
 Pasien psikiatri yang tidak memungkinkan untuk dipasang gelang identitas
 Pasien tanpa identitas

c. Identifikasi pasien menggunakan gelang identitas pasien


Gelang nama pasien diberikan berdasarkan jenis warna dengan ketentuan, berikut:
1) Gelang warna merah jambu diberikan kepada pasien perempuan
2) Gelang warna biru diberikan kepada pasien laki-laki
3) Gelang warna putih diberikan kepada pasien berkelamin ganda
4) Label pada gelang identitas: Nama lengkap; tanggal lahir; jenis kelamin; dan
Nomor Rekam Medik pasien

10
Gambar 7.1. Gelang Pasien

d. Identifikasi pasien berisiko


1) Menggunakan gelang identitas:
 Warna merah diberikan kepada pasien yang mengalami alergi terhadap obat-
obatan terutama obat antibiotik
 Gelang warna kuning diberikan kepada pasien yang mempunyai risiko jatuh

2) Menggunakan klip dan gelang risiko:


 Klip Merah : Pasien dengan risiko alergi
 Klip Kuning : Pasien dengan risiko jatuh
 Klip Ungu : Pasien dengn DNR (Do Not Resucitate)
 Klip Pink : Pasien dengan keterbatasan ekstremitas
 Gelang abu-abu : Pasien dengan pemasangan implant radio aktif

Gambar 3.2. Klip Penanda Risiko

3) Identifikasi pasien berisiko adalah terkait pasien yang tidak dapat dilakukan
pemasangan gelang risiko, seperti pada pasien luka bakar luas, pasien psikiatri yang
tidak kooperatif/ gaduh gelisah dan pasien tanpa anggota gerak, maka diberikan
berupa stiker (sesuai warna gelang) yang ditempel pada halaman depan status
pasien.

11
4) Pastikan identitas pasien:
 Ada dalam setiap lembar dokumen pasien di rekam medic
 Ada dalam setiap cairan parenteral (obat/ makanan/ produk darah) yang
diberikan
 Ada dalam botol susu/ botol makanan cair/ tempat makanan pasien. (Tutiany et
al., 2017)

8. Kesalahan dan Akibat Kesalahan Identifikasi Pasien


Kesalahan mengidentifikasi pasien dapat terjadi hampir disemua aspek diagnosis dan
pengobatan. Sebagai contoh dalam keadaan pasien masih dibius, mengalami disorientasi
atau belum sepenuhnya sadar, mungkin pindah tempat tidur, pindah kamar, atau pindah
lokasi didalam rumah sakit, mungkin juga pasien memiliki cacat indra atau rentan terhadap
situasi berbedayang dapat menimbulkan kekeliruan pengidentifikasian (Swastikarini et al.,
2019).
Kesalahan identifikasi pasien dapat berakibat fatal, misalnya kematian dan sebagai
pemicu kesalahan lainnya. Berbagai bentuk kesalahan identifikasi pasien tersebut meliputi
pemberian obat pada pasien yang salah, pembedahan pada pasien yang salah, pemeriksaan
patologi anatomi pada pasien yang salah, pemeriksaan imaging pada pasien yang salah,
pemberian tranfusi pada pasien yang salah, pengambilan spesimen pada pasien yang salah.
Hal tersebut dapat terjadi pada pelayanan kesehatan (Swastikarini et al., 2019).

B. PENINGKATAN KEAMANAN OBAT YANG PERLU DIWASPADAI


1. Pengertian Obat yang Perlu Diwaspadai
Obat yang perlu di waspadai atau high alert adalah sejumlah obat-obatan yang terdaftar
dalam kategori obat yang berisiko tinggi seperti elektrolit konsestrasi tinggi dan sejumlah
obat yang termasuk kelompok norup/lasa. Lokasi penyimpanan obat yang harus di waspadai
atau high alert berada di logistik farmasi pada setiap kemasan high alert harus terpisah dari
obat lain harus terkunci dan akses terbatas guna tercipta medicine safety maka perawat harus
melakukan verifikasi ulang atau double check ketika akan memberikan obat high alert
kepada pasien melalui prinsip 7 benar yaitu benar pasien, benar obat, benar dosis, benar
waktu pemberian,benar rute pemberian, benar edukasi dan benar dokumentasi.

12
Obat yang perlu diwaspadai (High-Alert Medications) adalah sejumlah obat-obatan
yang memiliki risiko tinggi menyebabkan bahaya yang besar pada pasien jika tidak
digunakan secara tepat (drugs that bear a heightened risk of causing significant patient
harm when they are used in error (ISMP - Institute for Safe Medication Practices). Obat
yang perlu diwaspadai (High-Alert Medications) merupakan obat yang persentasinya tinggi
dalam menyebabkan terjadinya kesalahan / error dan / atau kejadian sentinel (sentinel event).
Obat yang perlu diwaspadai adalah obat yang sering menyebabkan KTD (Kejadian Tidak
Diharapkan) seperti obat high alert, eletrolit konsetrat, norum atau LASA (Look Alike Sound
Alike).
Dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 11 Tahun 2017 tentang Keselamatan Pasien,
disebutkan bahwa sasaran keselamatan ketiga adalah meningkatkan keamanan obat-obatan
yang harus diwaspadai. dan fasilitas pelayanan kesehatan mengembangkan pendekatan
untuk memperbaiki keamanan obat-obatan yang harus diwaspadai.(Tutiany et al., 2017)

2. Tujuan Peningkatan Keamanan Obat yang Perlu Diwaspadai


Tujuan dari meningkatkan keamanan obat yang perlu diwaspadai bila obat-obatan
adalah bagian dari rencana pengobatan pasien, maka penerapan manajemen yang benar
penting/krusial untuk memastikan keselamatan pasien. Obat-obatan yang perlu diwaspadai
(high-alert medications) adalah obat yang persentasinya tinggi dapat menyebabkan terjadi
kesalahan/ error dan/ atau kejadian sentinel (sentinel event). Obat yang berisiko tinggi
menyebabkan dampak yang tidak diinginkan (adverse outcome). Demikian pula obat-obat
yang tampak mirip/ucapan mirip (Nama Obat, Rupa dan Ucapan Mirip/NORUM, atau
Look-Alike Sound-Alike/ LASA). Tujuan penerapan sasaran keselamatan pasien
meningkatkan keamanan obat-obatan yang perlu diwaspadai, adalah :
a) Memberikan pedoman dalam manajemen dan pemberian obat yang perlu diwaspadai
(high-alert medications) sesuai standar pelayanan farmasi dan keselamatan pasien
rumah sakit.
b) Meningkatkan keselamatan pasien rumah sakit.
c) Mencegah terjadinya sentinel event atau adverse outcome
d) Mencegah terjadinya kesalahan/ error dalam pelayanan obat yang perlu diwaspadai
kepada pasien.
e) Meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit.(Tutiany et al., 2017)

13
3. Obat-obat yang Perlu Diwaspadai
a. High Alert Medication
High alert medication adalah obat-obat yang memerlukan pengawasan khusus
sejak proses pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian sampai pada
pemberian obat kepada pasien karena sering menyebabkan terjadinya kesalahan serius
(sentinel event) dan berisiko tinggi menyebabkan Reaksi Obat yang Tidak Diinginkan
(ROTD). (Dr. Rusli, Sp. FRS, 2018)
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1691/MENKES/PER/VII/2011
tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit berdasarkan sasaran III mengenai
peningkatan keamanan obat yang perlu di waspadai (High Alert) dalam Standar SKP III,
Rumah sakit mengembangkan suatu pendekatan untuk memperbaiki keamanan obat –
obat yang perlu di waspadai (High Alert), bila obat – obatan menjadi bagian dari
rencana pengobatan pasien, manajemen harus berperan secara kritis untuk memastikan
keselamatan pasien (Dr. Rusli, Sp. FRS, 2018)
International Journal Quality in Health juga mengatakan bahwa 5 peringkat
teratas high alert medication adalah insulin, opiates dan narkotik, injeksi fosfat, heparin,
dan NaCl 0,9%. (Dr. Rusli, Sp. FRS, 2018)

Gambar 3.3. Obat High Alert Medication (Insulin)

Penyimpanan Obat High Alert Medication


a) High alert medications disimpan di pos perawat di dalam troli atau kabinet yang
memiliki kunci
b) Semua tempat penyimpanan harus diberikan label yang jelas dan dipisahkan
dengan obat-obatan rutin lainnya. Jika high alert medications harus disimpan di
area perawatan pasien, kuncilah tempat penyimpanan dengan diberikan label
‘Peringatan : high alert medications pada tutup luar tempat penyimpanan

14
c) Jika menggunakan dispensing kabinet untuk menyimpan high alert medications,
berikanlah pesan pengingat di tutup cabinet agar pengasuh/perawat pasien
menjadi waspada dan berhati-hati dengan high alert medications. Setiap kotak
tempat yang berisi high alert medications harus diberi label (label dengan warna
dasar merah, dan huruf berwarna hitam)
d) Infus intravena high alert medications harus diberikan label yang jelas dengan
menggunakan huruf/tulisan yang berbeda dengan sekitarnya
e) .Larutan dengan konsentrasi tinggi hanya boleh disimpan di instalasi farmasi,
kamar operasi, ruang VK, dan High Care Unit, dan khusus KCl hanya boleh
disimpan di Instalasi Farmasi. (Dr. Rusli, Sp. FRS, 2018)

Prosedur Pemberian Obat High Alert Medication


a) Instruksikan dokter untuk menggunakan obat kategori high alert pada instruksi
pengobatan pasien (dalam rekam medik pasien)
b) Lakukan pemeriksaan stok obat high alert pada penyimpanan pasien (bila tersedia
secara unit dose dispensing(UDD),atau pada lemari penyimpanan obat khusus
high alert yaitu lemari obat ,lemari pharmaceutical refrigenator (lemari
pendingin) sesuai dengan jenis obat yang dibutuhkan.
c) Periksa kebenaran obat high alert yang akan digunakan dan alat kesehatan
pendukung (jika diperlukan)dengan prinsip 7 (tujuh) BENAR 
d) Untuk penggunaan obat high alert menggunakan jalur parenteral
(intravena/intratekal/intramuscular/intraperitonial) baik dalam bentuk bolus
maupun drip dilakukan dengan menggunakan prosedur pelarutan obat injeksi high
alert secara aseptis.
e) Untuk penggunaan obat high alert yang menggunakan jalur non parenteral
(oral/rectal/sublingual) dalam bentuk sediaan tablet/kapsul/sirup/suppose maka
dilakukan pemberian label etiket pada kemasan obat yang akan digunakan. (Dr.
Rusli, Sp. FRS, 2018)

b. Elektrolit Konsentrat
Elektrolit konsentrasi tinggi (konsentrat/pekat) adalah sediaan obat yang
mengandung ion elektrolit yang sebelum digunakan terlebih dahulu diencerkan.

15
Penggunaan elektrolit konsentrat di rumah sakit sesuai standar operasional prosedur
penggunaan adalah :
1. Sebelum digunakan harus terlebih dahulu diencerkan.
2. Harus dicek berulang penggunaannya dengan orang yang berbeda.
3. Dibuang di tempat sampah khusus.
4. Disimpan di lemari terkunci dalam kotak hitam.
5. Diberikan label obat dengan kewaspadaan tinggi dan elektrolit konsentrat.

` Gambar 3.4. Obat Elektrolit Konsentrat (Sodium Acetate dan Potassium


Phosphates)

Lokasi penyimpanan obat yang perlu diwaspadai berada di logistik farmasi dan
pelayanan farmasi. Namun demikian, khusus untuk elektrolit konsentrasi tinggi
terdapat juga di unit pelayanan, yaitu ICU dan kamar bersalin dalam jumlah yang
terbatas. Obat disimpan sesuai dengan kriteria penyimpanan perbekalan farmasi,
utamanya dengan memperhatikan jenis sediaan obat (rak/kotak penyimpanan, lemari
pendingin), sistem FIFO dan FEFO, serta ditempatkan sesuai ketentuan obat dengan
kewaspadaan tinggi (High Alert). Elektrolit konsentrasi tinggi tidak disimpan di unit
perawatan kecuali untuk kebutuhan klinis yang penting. Sementara itu, elektrolit
konsentrasi tinggi yang disimpan pada unit perawatan pasien dilengkapi dengan
pengaman. Dalam mengamankannya harus diberi label yang jelas dan disimpan pada
area yang dibatasi ketat (restricted) untuk mencegah penatalaksanaan yang kurang
hati-hati. (Dr. Rusli, Sp. FRS, 2018)

Pemberian Obat Elektrolit Konsentrat


Penyiapan dan pemberian obat elektrolit konsentrasi tinggi kepada pasien harus
memperhatikan kaidah-kaidah berikut:

16
a. Setiap pemberian obat menerapkan PRINSIP 7 BENAR, yaitu:
1) Benar obat.
2) Benar waktu dan frekuensi pemberian.
3) Benar dosis.
4) Benar rute pemberian.
5) Benar identitas pasien yang meliputi kebenaran nama pasien; nomor rekan
medis pasien; umur/tanggal lahir pasien; dan alamat rumah pasien.
6) Benar informasi.
7) Benar dokumentasi.
b. Pemberian elektrolit pekat harus dengan pengenceran dan penggunaan label
khusus.
c. Pastikan pengenceran dan pencampuran obat dilakukan oleh orang yang
berkompeten.
d. Pisahkan atau beri jarak penyimpanan obat dengan kategori LASA.
e. Tidak menyimpan obat kategori kewaspadaan tinggi di meja dekat pasien tanpa
pengawasan (Dr. Rusli, Sp. FRS, 2018).

c. Obat LASA
Obat LASA atau NORUM adalah obat yang nampak mirip dalam hal bentuk,
tulisan, warna, dan pengucapan. Oleh karena itu, kementerian kesehatan perlu
menerapkan strategi manajemen risiko untuk meminimalkannya efek samping dengan
obat LASA dan meningkatkan keamanan pasien. Keberadaan LASA di unit pelayanan
kefarmasian mengharuskan adanya pedoman atau standar dalam menanganinya. Hal
ini dimaksudkan untuk menghindari dampak yang tidak diinginkan melalui
identifikasi dan implementasi keselamatan tindakan pencegahan. (Dr. Rusli, Sp. FRS,
2018)

1. Ucapan mirip

17
Gambar 3.5.Obat Sound Alike (cefTAZIDIME Sandoz dan cefEPIME Sandoz)

2. Kemasan mirip

Gambar 3.6. Obat Look Alike (Omeprazole dan ceftizoxime sodium)

3. Nama obat sama kekuatan berbeda

Gambar 3.7. Obat Look Alike Sound Alike (Histapan mebhydrolin dan Heptasan
Cyproheptadien)

Penyimpanan Obat LASA


Dalam melakukan penyimpanan terhadap obat jenis ini sebaiknya menggunakan
huruf pada penulisan obat kategori LASA/NORUM yang berbeda. Jika
memungkinkan diberi warna agar supaya terlihat berbeda dengan obat jenis yang lain.
Hal ini dilakukan untuk menekankan pada perbedaannya. Metode Tall man dapat
digunakan untuk membedakan huruf yang tampaknya sama dengan obat yang mirip.

18
Dengan memberi huruf kapital, maka petugas akan lebih berhati-hati dengan obat yang
LASA. Sekedar informasi buat Anda bahwa beberapa studi menunjukkan penggunaan
huruf kapital ini terbukti mengurangi error akibat namaobat yang look-alike.
Contohnya: metFORmin dan metRONIdaZOL, ePINEFrin dan efeDRIN,
AlloPURINOL dan HaloPERIDOL, dan lain sebagainya. (Dr. Rusli, Sp. FRS, 2018)

Prosedur Obat LASA


a. Petugas farmasi memisahkan obat yang memiliki kemiripan nama obat, rupa dan
ucapan sesuai daftar obat LASA.
b. Petugas farmasi memastikan dan memeriksa obat-obat LASA disimpan sesuai
sesuai dengan suhu penyimpanan obat
c. Petugas farmasi meletakkan obat LASA pada tempat yang tidak berdekatan,
minimal dengan jeda satu jenis obat yang berbeda.
d. Petugas farmasi memberi label obat LASA pada lemari LASA, wadah obat/
kemasan asli obat yang ada di Instalasi Farmasi Label obat LASA untuk almari,
wadah obat/kotak kemasan asli obat LASA
e. Petugas farmasi memberikan label “stiker obat LASA” untuk Obat LASA yang
memiliki rupa yang hampir sama dengan kekuatan berbeda.
f. Petugas farmasi memberikan label LASA pada kemasan tersier untuk obat injeksi,
pada kemasan sekunder untuk obat tablet dan sirup dengan tidak menutupi nama
obat.
g. Petugas farmasi tidak perlu memberikan label LASA untuk obat obat LASA yang
diberikan langsung kepada pasien.
h. Petugas farmasi, perawat, bidan meningkatkan kewaspadaan pada obat- obat
dengan label LASA yang akan diberikan kepada pasien. (Dr. Rusli, Sp. FRS,
2018)

C. PEMBERIAN OBAT INJEKSI INTRAVENA

1. Pengertian
Injeksi intravena adalah pemberian obat dengan cara memasukkan obat ke dalam
pembuluh darah vena dengan menggunakan spuit. Pemberian obat dengan cara memasukkan

19
obat ke dalam pembuluh darah vena dengan menggunakan spuit. Sedangkan pembuluh
darah vena adalah pembuluh darah yang menghantarkan darah ke jantung. (Joyce, K &
Everlyn, R.H. 1996)
Memasukkan cairan obat langsung kedalam pembuluh darah vena sehingga obat
langsung masuk ke dalam sistem sirkulasi darah. Injeksi dalam pembuluh darah
menghasilkan efek tercepat dalam waktu 18 detik, yaitu waktu satu peredaran darah, obat
sudah tersebar ke seluruh jaringan. Tetapi, lama kerja obat biasanya hanya singkat. Cara ini
digunakan untuk mencapai penakaran yang tepat dan dapat dipercaya, atau efek yang sangat
cepat dan kuat. Tidak untuk obat yang tak larut dalam air atau menimbulkan endapan
dengan protein atau butiran darah. (Smeltzer, Suzanne C. 2001)
Bahaya injeksi intravena adalah dapat mengakibatkan terganggunya zat-zat koloid darah
dengan reaksi hebat, karena dengan cara ini “benda asing” langsung dimasukkan ke dalam
sirkulasi, misalnya tekanan darah mendadak turun dan timbulnya shock. Bahaya ini lebih
besar bila injeksi dilakukan terlalu cepat, sehingga kadar obat setempat dalam darah
meningkat terlalu pesat. Oleh karena itu, setiap injeksi intravena sebaiknya dilakukan amat
perlahan, antara 50-70 detik lamanya. (Potter, Perry. 2006)
Adapun empat klasifikasi tempat penyuntikan dari injeksi intravena adalah :
 Lengan atas (vena basilica dan vena sefalika)
 Tungkai (vena safena)
 Leher (vena jugularis)
 Kepala (vena frontalis dan temporalis). (Lestari, 2016)

2. Tujuan
a) Untuk memperoleh reaksi obat yang cepat diabsorbsi daripada dengan injeksi parenteral
lain.
b) Untuk menghindari terjadinya kerusakan jaringan
c) Untuk memasukkan obat dalam jumlah yang lebih besar. (Lestari, 2016)

3. Indikasi
Indikasi pemberian obat melalui jalur intravena antara lain:
a. Pada seseorang dengan penyakit berat, pemberian obat melalui intravena langsung
masuk ke dalam jalur peredaran darah. Misalnya pada kasus infeksi bakteri dalam

20
peredaran darah (sepsis). Sehingga memberikan keuntungan lebih dibandingkan
memberikan obat oral.
b. Obat tersebut memiliki bioavailabilitas oral (efektivitas dalam darah jika dimasukkan
melalui mulut) yang terbatas. Atau hanya tersedia dalam sediaan intravena (sebagai
obat suntik). Misalnya antibiotika golongan aminoglikosida yang susunan kimiawinya
“polications” dan sangat polar, sehingga tidak dapat diserap melalui jalur
gastrointestinal (di usus hingga sampai masuk ke dalam darah). Maka harus
dimasukkan ke dalam pembuluh darah langsung.
c. Pasien tidak dapat minum obat karena muntah, atau memang tidak dapat menelan obat
(ada sumbatan di saluran cerna atas). Pada keadaan seperti ini, perlu dipertimbangkan
pemberian melalui jalur lain seperti rektal (anus), sublingual (di bawah lidah),
subkutan (di bawah kulit), dan intramuskular (disuntikkan di otot).
d. Kesadaran menurun dan berisiko terjadi aspirasi (tersedak—obat masuk ke
pernapasan), sehingga pemberian melalui jalur lain dipertimbangkan.
e. Kadar puncak obat dalam darah perlu segera dicapai, sehingga diberikan melalui
injeksi bolus (suntikan langsung ke pembuluh balik/vena). Peningkatan cepat
konsentrasi obat dalam darah tercapai. Misalnya pada orang yang mengalami
hipoglikemia berat dan mengancam nyawa, pada penderita diabetes mellitus. Alasan
ini juga sering digunakan untuk pemberian antibiotika melalui infus/suntikan, namun
perlu diingat bahwa banyak antibiotika memiliki bioavalaibilitas oral yang baik, dan
mampu mencapai kadar adekuat dalam darah untuk membunuh bakteri.(Andrayani,
n.d.)

4. Prosedur
A. Pengkajian
1. Sebelum memberikan obat, perawat harus mengetahui diagnosis medis pasien,
indikasi pemberian obat dan efek samping. Kaji adanya kebutuhan klien terhadap
pemberian suntikan intravena.
2. Review catatan dokter dan pastikan 7 benar dalam pemberian obat (nama pasien,
nama obat, dosis, rute waktu pemberian, dokmentasi, informasi).
3. Kaji kesiapan psikologis klien untuk dilakukan pemberian suntikan IV.
4. Kaji riwayat alergi dan kemungkinan efek samping pemberian obat IV. (Lestari,
2016)

21
B. Persiapan Alat
1. Spuit dan jarum steril
2. Obat yang diperlukan (vial atau ampul)
3. Bak spuit steril
4. Kapas alkohol
5. Kassa steril untuk membuka ampul (bila perlu)
6. Karet pembendung atau tourniquet
7. Gergaji ampul (bila perlu)
8. 2 bengkok (satu berisi cairan desinfektan)
9. Pengalas (bila perlu)
10. Sarung tangan steril
11. Daftar / formulir pengobatan (Hughes, 2012)

C. Persiapan Perawat
1. Telaah pesanan dokter untuk memastikan nama obat, dosis dan rute pemberian.
2. Cuci tangan dan kenakan sarung tangan.
3. Jelaskan prosedur pada pasien.
4. Jaga privasi pasien dengan menutup pintu ruangan atau menarik tirai.

D. Implementasi
1. Periksa Medications Administration Record (MAR)
 Periksa label obat dengan hati-hati terhadap Medication Adminitration Record
(MAR) untuk memastikan bahwa obat yang benar sedang disiapkan.
 Ikuti tiga pemeriksaan untuk obat dan dosis yang benar.
 Bacalah label obat (1) saat diambil dari keranjang obat, (2) sebelum mencabut
obat, dan (3) setelah mencabut obat.
 Hitung dosis obat secara akurat. Konfirmasikan bahwa rutenya benar.
(Hughes, 2012)

2. Kinerja
a) Lakukan kebersihan tangan dan amati prosedur pencegahan infeksi lain yang
sesuai.
22
b) Siapkan obatnya.
c) Siapkan obat sesuai dengan arahan pabrikan. Rasional: Penting untuk
memiliki dosis yang tepat dan pengenceran yang tepat.
d) Siapkan spuit
e) Masukkan obat ke dalam spuit
f) Lakukan kebersihan tangan dan gunakan sarung tangan bersih. Rasional: Ini
mengurangi penularan mikroorganisme dan mengurangi kemungkinan tangan
perawat menyentuh darah klien.
g) Menyediakan privasi klien
h) Persiapkan klien.
 Sebelum melakukan prosedur, perkenalkan diri dan verifikasi identitas
klien menggunakan protokol agensi. Rasional: Ini memastikan bahwa
klien yang tepat menerima pengobatan yang tepat.
 Jika tidak dinilai sebelumnya, lakukan tindakan penilaian yang sesuai
yang diperlukan untuk pengobatan. Jika salah satu dari ditemukan di atas
atau di bawah parameter yang telah ditentukan, konsultasikan dengan
penyedia layanan primer sebelum memberikan obat.
i) Jelaskan tujuan pengobatan dan bagaimana pengobatan akan membantu,
dengan menggunakan bahasa yang dapat dipahami klien. Sertakan informasi
yang relevan tentang efek pengobatan. Rasional: Informasi dapat
memfasilitasi penerimaan dan kepatuhan terhadap terapi.
j) Tentukan lokasi penyuntikan yang tepat. Obat diberikan melalui injection
port pada selang infus.
k) Pasang perlak atau pengalas dibawah area yang akan dilakukan penyuntikan
dan dekatkan bengkok.
l) Klem jalur infus jika penyuntikan menggunakan 3ways, arahkan jalur off ke
jalur penyuntikan.
m) Sambungkan spuit dengan jalur infus, jika port penyuntikan tidak
memerlukan jarum : buka jalur penyuntikan , bersihkan lokasi penusukan
dengan kapas alkohol searah atau melingkar kearah luar, lepas jarum dari
spuit, dan hubungkan spuit dengan port penyuntikan.
n) Jika menggunakan 3ways, arahkan jalur off ke jalur infus sebelum aspirasi.
Jika ada darah yang masuk spuit, masukkan obat secara perlahan.

23
o) Setelah selesai memasukan obat, arahkan jalur off ke jalur penyuntikan
sebelum jalur dilepas
p) Buka klem, atur kembali tetesan infus.
q) Buang peralatan sesuai dengan praktik keagenan. Rasional: Ini mengurangi
cedera akibat tertusuk jarum dan penyebaran mikroorganisme.
r) Lepas dan buang sarung tangan. Lakukan kebersihan tangan.
s) Amati klien dengan cermat untuk reaksi yang merugikan
t) Tentukan praktik agen tentang waktu yang disarankan untuk mengubah kunci
IV. Beberapa lembaga menganjurkan perubahan setiap 48 hingga 72 jam
untuk perangkat IV periferal.
u) Dokumentasikan semua informasi yang relevan. Catat tanggal, waktu, obat,
dosis, dan rute; respon klien; dan penilaian situs penguncian infus atau
heparin jika sesuai.(Hughes, 2012)

E. Evaluasi
 Melakukan tindak lanjut yang sesuai seperti efek pengobatan yang diinginkan,
reaksi atau efek samping yang merugikan, atau perubahan tanda-tanda vital.
 Kaji kembali status situs kunci IV dan patensi infus IV, jika berjalan.
 Berhubungan dengan temuan sebelumnya, jika tersedia.
 Laporkan penyimpangan yang signifikan dari normal ke penyedia layanan primer.
 Periksa penampilan obat dan periksa tanggal kedaluwarsa. (Hughes, 2012)

5. Hal- hal yang perlu diperhatikan


 Petugas kesehatan mempersiapkan obat dan hal-hal dibawah ini untuk menjalani
pengecekan ganda oleh petugas yang kedua
 Obat-obatan pasien dengan label yang masih baik
 Rekam medis pasien, catatan pemberian medikasi pasien, atau resep tertulis
dokter
 Obat yang hendakdiberikan lengkap dengan labelnya
 Petugas kedua akan memastikan hal-hal berikut ini:
 Obat telah disiapkan dan sesuai dengan intruksi
 Perawat pasien harus memverifikasi bahwa obat yang hendak dibeirkan sesuai
dengan instruksi dokter

24
 Obat memenuhi 5 persyaratan
 Membaca label dengan lantang untuk memverifikasi 5 persyaratan yaitu tepat
obat, tepat dosis, tepat rute pemberian obat, tepat frekuensi, tepat pasien
 Pada beberapa kasus, harus tersedia juga kemasan/vial obat untuk memastikan bahwa
obat yang disiapkan adalah obat yang benar
 Ketika petugas kedua telah selesai melakukan pengecekan ganda dan kedua petugas puas
bahwa obat telah sesuai, lakukanlah pencacatan pada rekam medis/ catatan pemberian
medikasi pasien
 Petugas kedua harus menulis “dicek oleh” dan diisi dengan nama pengecek
 Pengecekan ganda akan dilakukan sebelum obat diberikan kepada pasien
 Pastikan infus obat berada pada jalur/selang yang benar dan lakukan pengecekan selang
infus mulali dari larutan/ cairan infus, pompa, hingga tempat insersi selang
 Pastikan infusion pump terprogram dengan kecepatan pemberian yang tepat, termasuk
data berat badan pasien
Untuk pengecekan saat pergantian jaga perawat :
 Petugas akan memastikan hal berikut ini:
 Obat yang diberikan harus memenhi kelima persyaratan
 Perawat berikutnya akan membaca dengan lantang kepada perawat sebelumnya
untuk memverifikasi kelima persyaratan tersebut
 Saat pengecekan telah selesai dan kedua perawat telah yakin bahwa obat telah sesuai,
lakukanlah pencatatan pada bagian pengecekan oleh perawat direkam medis pasien.
(RSUD dr. R Koesma, 2018)

25
BAB III

KASUS DAN SKENARIO

A. KASUS
Ny. M berusia 35 tahun dengan usia kandungan 36 minggu saat ini sedang menjalani perawatan
di Ruang Perawatan lantai 3 RSIA Pasutri. Ny. M akan dilakukan tindakan operasi sectio
caesarea (SC) dikarenakan waktu persalinan sudah lebih satu minggu dari HPL. Sebelum
dilakukan tindakan operasi klien akan diberikan obat ceftriaxone dengan dosis 1 gram melalui
suntikan intravena.

B. SKENARIO
Peran
1. Perawat 1 : Nada Sya’bany Al-Humairo
2. Perawat 2 : Regifa Octafirani
3. Petugas farmasi 1 : Khansa Qonitah
4. Petugas farmasi 2 : Nurmala Septiani
5. Pembaca narasi : Kiana Rani Nurwita
6. Klien : Hilmiyah Niswati Ilhamy
7. Keluarga : Ahmad Rangga Hidayatullah

Pra interaksi
 Persiapan Obat high alert
Perawat Nada: “Bu, sesuai intruksi dokter saya ingin mengambil obat ceftriaxone atas nama
Ny.M yang akan dilakukan operasi SC, pemberian obat ini akan dilakukan 1 dalam bentuk
vial.”
Apoteker Khansa : “Baik sus, tunggu sebentar saya akan mengambil obat tersebut”
26
Perawat Nada : “Baik bu, saya akan menunggu”
(Kemudian sesuai dengan prinsip 7 benar yaitu benar pasien, benar obat, benar dosis, benar
waktu pemberian,benar rute pemberian, benar edukasi dan benar dokumentasi. Apoteker
memverifikasi resep obat high alert sesuai Pedoman Pelayanan Farmasi penanganan High
Alert. Lalu, apoteker menggaris bawahi setiap obat high alert pada lembar resep dengan tinta
merah. Setelah itu dilakukan pemeriksaan kedua oleh petugas farmasi yang berbeda sebelum
obat diserahkan kepada perawat serta Petugas farmasi pertama dan kedua, membubuhkan
tanda tangan dan nama jelas di bagian belakang resep sebagai bukti telah dilakukan double
check)
Apoteker Nurmala : “ Obat Ceftriaxone dosisnya 1 gram dalam bentuk vial melalui intravena
dengan pasien Ny. M umur 35 tahun, tanggal lahir 3 bulan November tahun 1986 dan
nomer RM 00031488.”
Apoteker khansa :” Baik bu Mala, sudah sesuai ya bu”
(Apoteker pun menyerahkan obat tersebut)
Apoteker Khansa : “ini obat dengan identitas pasien bernama Ny. M dan nomer RM
00031488 diberikan obat ceftriaxone dengan dosis 1 gram akan diberikan dalam bentuk
ampul dengan rute pemeberian obat melalui intravena” (Apoteker pun menyerahkan obat
tersebut)
Perawat Nada : “Baik, terimakasih pak”
Apoteker Khansa : “Sama-sama sus"

 Double checking
Perawat Nada : “Suster Regifa tolong bantu double checking kembali obat atas nama
Ny.M”
Perawat Regifa : “Atas nama Ny. M dengan nomer RM 00031488 dengan tanggal lahir 3
bulan November tahun 1986 sesuai dengan instruksi dokter akan diberikan obat ceftriaxone 1
gram dengan suntikan IV dalam bentuk vial”
Perawat Nada : “Sudah benar nih suster ya, obat ceftriaxone 1 gram dalam bentuk vial dan
disuntikan lewat IV” (menulis dikardeks)

Fase orientasi
 SKP 1 Ketepatan Identifikasi Pasien
Perawat Regifa : “Selamat siang bu”

27
Hilmiyah : “Siang sus”
Perawat Regifa : “Perkenalkan saya suster Regifa Octafirani, saya yang bertugas di ruang
perawatan lantai 3 RSIA PASUTRI. Sesuai dengan prosedur keselamatan pasien, saya akan
memastikan ketepatan identifikasi pasien. Bisa sebutkan nama dan tanggal lahir ibu (sambil
memegang tangan pasien untuk melihat gelangnya)”
Hilmiyah : “Nama saya Ny.M , tanggal lahir saya 3 november 1986”
Perawat Regifa : “Sudah benar ya bu, disini saya akan memberikan obat antibiotik. Obat
ini diberikan 1 jam sebelum operasi ya bu”

Fase kerja
(Perawat memberikan obat antibiotik kepada pasien melalui intravena atau jalur infus)
Perawat Regifa : “Ibu, sekarang saya akan melakukan penyuntikan antibiotik melalui jalur infus
ya bu. Apakah bisa kita mulai ?”
Hilmiyah:” Iya saya bersedia sus”
Perawat Regifa : “ Kalau sakit, tarik nafas ya bu”
Hilmiyah :” Iya sus”
Kinerja
a) Lakukan kebersihan tangan dan amati prosedur pencegahan infeksi lain yang sesuai.
b) Siapkan obatnya.
c) Siapkan obat sesuai dengan arahan pabrikan. Rasional: Penting untuk memiliki dosis
yang tepat dan pengenceran yang tepat.
d) Siapkan spuit
e) Masukan obat ke dalam spuit
f) Lakukan kebersihan tangan dan gunakan sarung tangan bersih. Rasional: Ini
mengurangi penularan mikroorganisme dan mengurangi kemungkinan tangan perawat
menyentuh darah klien.
g) Menyediakan privasi klien
h) Persiapkan klien.
 Sebelum melakukan prosedur, perkenalkan diri dan verifikasi identitas klien
menggunakan protokol agensi. Rasional: Ini memastikan bahwa klien yang tepat
menerima pengobatan yang tepat.
 Jika tidak dinilai sebelumnya, lakukan tindakan penilaian yang sesuai yang
diperlukan untuk pengobatan. Jika salah satu dari ditemukan di atas atau di
28
bawah parameter yang telah ditentukan, konsultasikan dengan penyedia layanan
primer sebelum memberikan obat.
i) Jelaskan tujuan pengobatan dan bagaimana pengobatan akan membantu, dengan
menggunakan bahasa yang dapat dipahami klien. Sertakan informasi yang relevan
tentang efek pengobatan. Rasional: Informasi dapat memfasilitasi penerimaan dan
kepatuhan terhadap terapi.
j) Tentukan lokasi penyuntikan yang tepat. Obat diberikan melalui injection port pada
selang infus.
k) Pasang perlak atau pengalas dibawah area yang akan dilakukan penyuntikan dan
dekatkan bengkok.
l) Klem jalur infus jika penyuntikan menggunakan 3ways, arahkan jalur off ke jalur
penyuntikan.
m) Sambungkan spuit dengan jalur infus, jika port penyuntikan tidak memerlukan jarum :
buka jalur penyuntikan , bersihkan lokasi penusukan dengan kapas alkohol searah atau
melingkar kearah luar, lepas jarum dari spuit, dan hubungkan spuit dengan port
penyuntikan.
n) Jika menggunakan 3ways, arahkan jalur off ke jalur infus sebelum aspirasi. Jika ada
darah yang masuk spuit, masukkan obat secara perlahan.
o) Setelah selesai memasukan obat, arahkan jalur off ke jalur penyuntikan sebelum jalur
dilepas
p) Buka klem, atur kembali tetesan infus.
q) Buang peralatan sesuai dengan praktik keagenan. Rasional: Ini mengurangi cedera
akibat tertusuk jarum dan penyebaran mikroorganisme.
r) Lepas dan buang sarung tangan. Lakukan kebersihan tangan.
s) Amati klien dengan cermat untuk reaksi yang merugikan
t) Tentukan praktik agen tentang waktu yang disarankan untuk mengubah kunci IV.
Beberapa lembaga menganjurkan perubahan setiap 48 hingga 72 jam untuk perangkat
IV periferal.
u) Dokumentasikan semua informasi yang relevan. Catat tanggal, waktu, obat, dosis, dan
rute; respon klien; dan penilaian situs penguncian infus atau heparin jika sesuai.

Fase terminasi

29
Perawat Regifa : “Sudah selesai ya bu, bagaimana bu perasaan nya setelah dilakukan
tindakan ini?”
Hilmiyah : “Saya merasa cemas sus”
Perawat Regifa : “Ibu tidak usah cemas, serahkan saja semuanya kepada Tuhan semoga
diberikan kelancaran operasinya ya bu, saya akan kembali lagi nanti kesini, jika ibu
membutuhkan sesuatu ibu bisa menekan bel disamping kasur ibu”
Hilmiyah : “Baik sus, terimakasih”
Perawat Regifa : “Baik, saya izin keluar ruangan, permisi bu” (perawat meninggalkan
ruangan)

BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Identifikasi pasien adalah suatu sistem identifikasi kepada pasien untuk membedakan
antara pasien satu dengan yang lain dan suatu hal yang sangat mendasar yang harus dilakukan
oleh seorang petugas kesehatan. Tujuan dilakukan identifikasi pasien yaitu untuk mengurangi
kesalahan dalam pelayanan dan menghasilkan peningkatan keselamatan pasien. Identifikasi
pasien bermanfaat agar pasien mendapatkan standar pelayanan kesehatan dan pengobatan yang
benar dan tepat sesuai kebutuhan pasien, selain itu identifikasi pasien juga mampu menghindari
terjadinya kesalahan pemberian layanan kesehatan atau hal yang tidak diharapkan.
Tatalaksana identifikasi pasien, yaitu semua pasien diidentifikasi dengan tiga identitas,
Semua pasien harus diidentifikasi dengan benar sebelum pemberian obat atau tindakan lain,
identifikasi dengan cara verbal (menanyakan/ mengkonfirmasi nama pasien dan tanggal lahir)
dan visual (melihat gelang pasien), pasien yang tidak memungkinkan gelang dipasang di lengan,
maka pemasangan gelang dilakukan di kaki. Warna gelang yang digunakan di rumah sakit
adalah : biru untu pasien laki-laki, merah muda untuk pasien perempuan, putih untuk pasien
kelamin ganda, kuning untuk pasien risiko jatuh di rawat jalan, dan klip penanda risiko: warna
merah (pasien alergi), warna kuning (pasien risiko jatuh), dan warna ungu (pasien yang menolak
dilakukan resusitasi).

30
Petugas pelaku identifikasi pasien, yaitu dokter, perawat, petugas administrasi, petugas
rekam medis, petugas farmasi, petugas laboratorium, petugas rehab medik, petugas penunjang
medik, dan petugas radiologi/ radioterapi. Prosedur identifikasi pasien, yaitu secara umum yang
dilakukan oleh perawat atau petugas dan bayi baru lahir atau neonatus. Kesalahan identifikasi
pasien dapat berakibat fatal, misalnya kematian dan sebagai pemicu kesalahan lainnya. Berbagai
bentuk kesalahan identifikasi pasien meliputi pemberian obat pada pasien yang salah,
pembedahan pada pasien yang salah, pemeriksaan patologi anatomi pada pasien yang salah,
pemeriksaan imaging pada pasien yang salah, pemberian tranfusi pada pasien yang salah,
pengambilan spesimen pada pasien yang salah.
Obat yang perlu di waspadai atau high alert adalah sejumlah obat-obatan yang terdaftar
dalam kategori obat yang berisiko tinggi seperti elektrolit konsestrasi tinggi dan sejumlah obat
yang termasuk kelompok norup/lasa. Lokasi penyimpanan obat yang harus di waspadai berada di
logistik farmasi pada setiap kemasan high alert harus terpisah dari obat lain harus terkunci dan
akses terbatas guna tercipta medicine safety maka perawat harus melakukan verifikasi ulang atau
double check ketika akan memberikan obat high alert kepada pasien melalui prinsip 7 benar
yaitu benar pasien, benar obat, benar dosis, benar waktu pemberian,benar rute pemberian, benar
edukasi dan benar dokumentasi.
Tujuan peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai, yaitu memberikan pedoman
dalam manajemen dan pemberian obat yang perlu diwaspadai (high-alert medications) sesuai
standar pelayanan farmasi dan keselamatan pasien rumah sakit, meningkatkan keselamatan
pasien rumah sakit, mencegah terjadinya sentinel event atau adverse outcome, mencegah
terjadinya kesalahan dalam pelayanan obat yang perlu diwaspadai kepada pasien, meningkatkan
mutu pelayanan rumah sakit.
High alert medication adalah obat-obat yang memerlukan pengawasan khusus sejak proses
pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian sampai pada pemberian obat kepada
pasien karena sering menyebabkan terjadinya kesalahan serius (sentinel event) dan berisiko
tinggi menyebabkan Reaksi Obat yang Tidak Diinginkan (ROTD). Elektrolit konsentrasi tinggi
(konsentrat/pekat) adalah sediaan obat yang mengandung ion elektrolit yang sebelum digunakan
terlebih dahulu diencerkan. Obat LASA atau NORUM adalah obat yang nampak mirip dalam hal
bentuk, tulisan, warna, dan pengucapan.
Peningkatan obat yang perlu diwaspadai dalam memasukkan cairan obat langsung kedalam
pembuluh darah vena sehingga obat langsung masuk ke dalam sistem sirkulasi darah. Injeksi
dalam pembuluh darah menghasilkan efek tercepat dalam waktu 18 detik, yaitu waktu satu
peredaran darah, obat sudah tersebar ke seluruh jaringan, tetapi lama kerja obat biasanya hanya

31
singkat. Cara ini digunakan untuk mencapai penakaran yang tepat dan dapat dipercaya. Tujuan
pemberian obat injeksi intravena, yaitu untuk memperoleh reaksi obat yang cepat diabsorbsi
daripada dengan injeksi parenteral lain untuk menghindari terjadinya kerusakan jaringan dan
untuk memasukkan obat dalam jumlah yang lebih besar.

B. SARAN
Sebagai tenaga ahli kesehatan dengan jenjang pendidikan tinggi keperawatan (Ahli Madya,
Ners, Ners Spesial, dan Ners Konsultan) yang memberikan asuhan keperawatan terhadap pasien
dan mendampingi pasien secara dominan saat menjalani perawatan, perawat diharapkan
senantiasa memperhatikan SOP yang berlaku dan menerapkannya dengan tepat dalam
memberikan pelayanan kesehatan. Ketidakamanan obat yang perlu diwaspadai pada prosedur
pemberian obat intravena dapat terjadi kapanpun dan dalam keadaan apapun saat pelaksanaan
asuhan keperawatan sehingga perawat dituntut untuk lebih profesional agar kualitas pelayanan
kesehatan yang diberikan semakin meningkat.

32
DAFTAR PUSTAKA
Andrayani, L. W. (n.d.). Pemberian Obat Intravena. KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK
INDONESIA.
Arahman, N. (2017). Ketepatan identifikasi pasien dalam sasaran keselamatan pasien.
[Diitjen Binfar dan Alkes] Direktorat Jendral Bina Kefarmasian dan Alat Keschatan. (2008).
Tanggung Jawab Apoteker Terhadap Keselamatan Pasien (Patient Safety). Jakarta,
Indonesia. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.Andrayani, L. W. (n.d.). Pemberian
Obat Intravena. KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA.
Arahman, N. (2017). Ketepatan identifikasi pasien dalam sasaran keselamatan pasien.
Dr. Rusli, Sp. FRS, A. (2018). Farmasi Klinik.
Hughes, S. J. (2012). Kozier and Erb’s Fundamentals of Nursing: Concepts, Process and
Practice. In Nurse Education in Practice (Vol. 12, Issue 2).
https://doi.org/10.1016/j.nepr.2011.09.002
kartika, Y. dwi. (2013). Keselamatan dan Keamanan Pasien. Journal of Chemical Information
and Modeling, 53(9), 1689–1699.
Lestari, S. (2016). Farmakologi Dalam Keperawatan. 1–242.
Nursalam. (2011). Manajemen Keperawatan Aplikasi dalam Praktik Keperawatan Profesional
Edisi 3. In Salemba Medika.
RSUD dr. R Koesma. (2018). Panduan Identifikasi Pasien. RSUD dr. R Koesma.
Swastikarini, S., Yulihasri, Y., & Susanti, M. (2019). Analisis Faktor Faktor Yang Berhubungan
Dengan Pelaksanaan Ketepatan Identifikasi Pasien Oleh Perawat Pelaksana. Jurnal Ilmiah
Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal, 9(2), 125–134.
https://doi.org/10.32583/pskm.9.2.2019.125-134

33
Tutiany, Lindawati, & Krisanti, P. (2017). Bahan Ajar Keperawatan: Manajemen Keselamatan
Pasien. Pusat Pendidikan Sumber Daya Manusia Kesehatan Kementerian Kesehatan RI,
297.

34

Anda mungkin juga menyukai