Anda di halaman 1dari 53

MAKALAH

KEPERAWATAN MENJELANG AJAL & PALIATIF


PENGKAJIAN PERAWATAN PALIATIF
(BIO-PSIKO-SOSIO-SPIRITUAL-KULTURAL)

Dosen Pembimbing :
Ns. Mega Lestari Khoirunnisa., S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.J

Disusun Oleh Kelompok 2 :


1. Kiana Rani Nurwita (P17120120023)
2. Maya Dias Kencana Rukmi (P17120120024)
3. Nada Nadidah Faras Dita Putri (P17120120025)
4. Nada Sya’bany Al Humairo (P17120120026)
5. Nagita Nabila Cansa (P17120120027)
6. Najmi Afifah (P17120120028)
7. Nurmala Sepiani (P17120120029)
8. Oktaviyana Tri Handayani (P17120120030)
9. Ranti Fauziyah (P17120120031)

PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN & PROFESI NERS


JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN JAKARTA 1
JAKARTA
2021
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan
karunia-Nya sehingga kami dapat menyusun dan menyelesaikan Makalah Keperawatan
Menjelang Ajal dan Paliatif. Makalah ini dibuat guna meningkatkan pengetahuan diri
tentang asuhan perawatan paliatif ditinjau dari bio, psiko, sosio, dan kultural serta untuk
memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Menjelang Ajal dan Paliatif.
Dalam penyelesaian Makalah ini, kami banyak menerima bantuan dari berbagai
pihak. Untuk itu kami ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. Kepada Ibu Mumpuni S.Kp, M.Biomed selaku Ketua Jurusan Keperawatan Politeknik
Kesehatan Kementerian Kesehatan Jakarta 1.
2. Kepada Ibu Ns. Uun Nurulhuda, S.Kep., M.Kep., Sp.KMB selaku Dosen Penanggung
Jawab Mata Ajar Keperawatan Menjelang Ajal dan Paliatif.
3. Kepada Ns. Mega Lestari Khoirunnisa, S.Kep, M.Kep, Sp.Kep.J selaku Dosen
Pembimbing Kelompok 2 dalam mata kuliah Keperawatan Menjelang Ajal dan
Paliatif.
4. Kepada kedua orang tua, adik, kakak, keluarga, teman, dan sahabat yang telah
memberi dukungan moril dan materil sehingga kami dapat menyelesaikan makalah.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan Makalah ini masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan masukan berupa kritik dan saran yang
bersifat membangun demi perbaikan dan penyempurnaan Makalah ini. Dengan adanya
makalah ini di harapkan dapat membantu dalam proses pembelajaran dan dapat
menambah pengetahuan para pembaca. Semoga Makalah ini dapat berguna bagi kita
semua.

Jakarta, 10 Agustus 2021

Penyusun

i
DAFTAR ISI

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menurut Soltani, R (2013 dalam Poerin et al., 2018) pelayanan paliatif di
Indonesia telah dimulai sejak 19 Februari 1992, Indonesia menempati peringkat ke-53
dari 80 di dunia dengan nilai 33.6 untuk pelayanan paliatif pada tahun 2015.
Penyelenggaraan pelayanan paliatif di Indonesia masih dalam masa pertumbuhan dan
masih sangat terbatas pada rumah sakit tertentu. Jumlah tenaga kesehatan dan masyarakat
yang paham akan konsep pelayanan paliatif pun masih sangat terbatas. Hasilnya lebih
banyak pasien dengan penyakit kronis mengalami berbagai penderitaan terkait dengan
gejala penyakit dan meninggal di rumah sakit tanpa menerima pelayanan paliatif.
World Health Organization (WHO) 2013 menyatakan kanker menjadi penyebab
kematian nomor dua di dunia sebesar 13% setelah penyakit kardiovaskuler. Diperkirakan
tahun 2030 insiden kanker mencapai 26 juta orang dan 17 juta diantaranya meninggal
akibat kanker. Di Indonesia berdasarkan data Riskesdas tahun 2013 prevalensi tumor/
kanker di Indonesia adalah 1,4 per 1000 penduduk atau sekitar 330.000 orang. Kanker
merupakan penyebab kematian no 7 di Indonesia. Penderita kanker tertinggi di Indonesia
adalah kanker payudara dan kanker leher rahim. Jumlah penderita rawat jalan maupun
rawat inap pada kanker payudara terbanyak yaitu 2014 orang atau 28,7% dan kanker
serviks 5,349 orang atau 12,8% (Anita, 2016).
Kanker adalah penyakit akibat mutasi sekumpulan gen pada sel tumbuh yang
mengatur proses-proses penting, yaitu siklus pembelahan sel, pengaturan kematian sel
(apoptosis), dan pertahanan kestabilan atau integritas genom (bentuk jamak dari gen)
(Sobri et al., 2017). Kanker Payudara merupakan keganasan pada jaringan payudara yang
dapat berasal dari epitel duktus maupun lobulusnya. Kanker payudara memperlihatkan
proliferasi keganasan sel epitel yang membatasi duktus atau lobus payudara. Pada
awalnya hanya terdapat hiperplasia sel dengan perkembangan sel-sel yang atipikal. Sel-
sel ini kemudian berlanjut menjadi karsiroma insitu dan menginvasi stroma. (Komite
Penanggulangan Kanker Nasional, 2019)

1
Gejala kanker payudara dapat ditemukan berupa benjolan pada ketiak, perubahan
ukuran dan bentuk payudara, keluar cairan darah atau berwarna kuning sampai kehijau-
hijauan yang berupa nanah. Ditandai juga dengan putting susu atau areola (daerah coklat
di sekeliling susu) payudara tampak kerahan dan putting susu tertarik ke dalam atau
terasa gatal (Ariani, 2015)
Permasalahan yang sering muncul ataupun terjadi pada pasien dengan perawatan
paliatif meliputi masalah psikologi, masalah hubungan sosial, konsep diri, masalah
dukungan keluarga serta masalah pada aspek spiritual (Campbell, 2013) dalam (Hartati
Nurwijaya et all, 2010). Perawatan paliatif ini bertujuan untuk membantu pasien yang
sudah mendekati ajalnya, agar pasien aktif dan dapat bertahan hidupselama mungkin.
Perawatan paliatif ini meliputi mengurangi rasa sakit dan gejala lainnya, membuat pasien
menganggap kematias sebagai proses yang normal, mengintegrasikan aspek-aspek
psikokologis dan spritual (Hartati Nurwijaya et all, 2010). Selain itu perawatan paliatif
juga bertujuan agar pasien terminal tetap dalam keadaan nyaman dan dapat meninggal
dunia dengan baik dan tenang (Bertens, 2009).
Makalah ini penting dibuat untuk mengetahui bagaimana tinjauan sosisal dan
budaya perawatan paliatif mencakup bio-psiko-sosio-spiritual-kultural untuk pasien
kanker payudara.

1.2 Tujuan
A. Tujuan Umum
Tujuan umum pembuatan makalah ini untuk memberikan gambaran mengenai
pengkajian perawatan paliatif baik dari aspek bio, psiko, sosio, spiritual, dan kultural
pada kanker payudara.
B. Tujuan Khusus
1. Mahasiswa/i mampu memahami konsep perawatan paliatif.
2. Mahasiswa/i mampu memahami asuhan keperawatan paliatif.
3. Mahasiswa/i mampu memahami keperawatan paliatif dalam perspektif sosial dan
budaya.
4. Mahasiswa/i mampu menggambarkan pengkajian fisik yang meliputi pengkajian
nyeri, pengkajian dispnea, pengkajian fatik, dan pengkajian delirium.
5. Mahasiswa/i mampu menggambarkan pengkajian psikologis, spiritual dan budaya.

1.3 Manfaat
2
Penulisan makalah ini diharapkan bisa bermanfaat bagi semua pembaca untuk
menambah pengetahuan mengenai konsep dan asuhan keperawatan paliatif dalam
perspektif sosial dan budaya, serta melakukan pengkajian fisik maupun psikologis pasien

1.4 Sistematika Penulisan


Agar pembahasan makalah ini lebih teratur dan sistematis maka penyusunan pun
disususun dengan segala kemudahan sehingga memberikan pemahaman yang efesien
mungkin, adapun penyusunanya :
BAB I Pendahuluan : Latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan,
manfaat penulisan, dan sistematika penulisan.
BAB II Tinjauan Pustaka : Konsep perawatan paliatif, asuhan keperawatan
paliatif, perawatan paliatif dalam perspektif sosial dan budaya, Pengkajian fisik,
pengkajian psikologis, pengkajian spiritual, pengkajian budaya.
BAB III Pembahasan : Kasus, asuhan keperawatan terkait kasus, scenario.
BAB IV Penutup : Kesimpulan dan saran.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Perawatan Paliatif


Paliatif Care adalah pendekatan untuk merawat orang sakit parah yang telah lama
bagian dari perawatan kanker. Baik perawatan paliatif dan hospice telah diakui sebagai
jembatan penting antara paksaan untuk perawatan berorientasi penyembuhan dan bunuh
diri yang dibantu dokter (Saunders & Kastenbaum, 1997) dalam (Yodang, 2018).
Advokat untuk perawatan yang lebih baik untuk orang yang sekarat telah menyatakan
bahwa penerimaan, pengelolaan, dan pemahaman kematian harus menjadi konsep yang
sepenuhnya terintegrasi dalam arus utama perawatan kesehatan (Callahan, 1993;
Morrison, Siu, Leipzig et al., 2000) dalam (Yodang, 2018). Semakin, perawatan paliatif
ditawarkan kepada pasien dengan penyakit kronis non-kanker, di mana gejala yang
komprehensif manajemen dan dukungan psikososial dan spiritual dapat meningkatkan
kualitas hidup pasien dan keluarga. Istilah hospice umumnya dikaitkan dengan perawatan
paliatif yang diberikan di rumah atau di fasilitas khusus kepada pasien yang mendekati
akhir hayat.
Perawatan paliatif menekankan manajemen psikologis, sosial, dan masalah
spiritual selain untuk mengontrol rasa sakit dan gejala fisik lainnya. Tujuan perawatan
paliatif adalah untuk meningkatkan kualitas kehidupan pasien dan keluarga, dan banyak
aspek dari jenis komprehensif ini, berfokus pada kenyamanan pendekatan perawatan
dapat diterapkan lebih awal dalam proses penyakit yang mengancam jiwa dalam
hubungannya dengan penyembuhan yang berfokus pada perlakuan. Namun, definisi
perawatan paliatif, jasa yang merupakan bagian darinya, dan dokter yang
menyediakannya adalah berkembang stabil (Yodang, 2018).
A. Perawatan Paliatif di Akhir Kehidupan
Perawatan paliatif secara luas dikonseptualisasikan sebagai: perawatan yang
komprehensif, berpusat pada orang dan keluarga ketika penyakit tidak responsif
terhadap pengobatan. Perawatan rumah sakit sebenarnya adalah perawatan
paliatif.perbedaannya adalah bahwa perawatan rumah sakit dikaitkan dengan akhir
dari kehidupan, dan meskipun berfokus pada kualitas hidup, perawatan rumah sakit
karena kebutuhan biasanya mencakup emosional realistis, sosial, spiritual, dan

4
keuangan persiapan kematian. Untuk sebagian besar, pasien yang sakit parah
meninggal dalam rumah sakit dan fasilitas perawatan jangka panjang. Jelas bahwa
perawatan yang lebih baik untuk sekarat sangat dibutuhkan di rumah sakit, fasilitas
perawatan jangka panjang, agen perawatan di rumah, dan pengaturan rawat jalan.
Pada waktu yang sama, banyak penyakit kronis tidak memiliki "tahap akhir" yang
dapat diprediksi itu memenuhi kriteria kelayakan rumah sakit, yang berarti bahwa
banyak pasien mati setelah penurunan yang lama, lambat, dan seringkali
menyakitkan, tanpa manfaat dari perawatan paliatif terkoordinasi yang untuk program
rumah sakit (Yodang, 2018).
B. Perawatan Paliatif di Pengaturan Rumah Sakit
Insentif keuangan rumah sakit mentransfer pasien dengan penyakit terminal yang
tidak lagi membutuhkan perawatan tingkat akut ke pengaturan lain, seperti fasilitas
perawatan jangka panjang dan rumah, untuk menerima perawatan (Field & Cassel,
1997) dalam (Yodang, 2018). Kekurangan yang mengganggu dalam perawatan
sekarat di dalam pengaturan rumah sakit:
1. Banyak pasien menerima perawatan yang tidak diinginkan di akhir hidupnya.
2. Dokter tidak menyadari preferensi pasien untuk mempertahankan hidup
pengobatan, bahkan ketika preferensi didokumentasikan dalam catatan klinis.
3. Nyeri sering kali tidak terkontrol dengan baik di akhir kehidupan.
4. Upaya peningkatan komunikasi tidak efektif.
Jelas bahwa banyak pasien akan terus memilih rumah sakit perawatan atau secara
default akan menemukan diri mereka dalam pengaturan rumah sakit di Akhir Hidup.
Semakin banyak, rumah sakit melakukan seluruh sistem penilaian praktik dan hasil
perawatan akhir kehidupan dan sedang berkembang model inovatif untuk
memberikan kualitas tinggi, berpusat pada orang merawat pasien yang mendekati
akhir hayat. Rumah sakit mengutip besar hambatan keuangan untuk menyediakan
paliatif berkualitas tinggi peduli dalam pengaturan perawatan akut (Cassel, Ludden &
Moon, 2000) dalam (Yodang, 2018).

C. Perawatan Rumah Sakit


Akar kata hospice adalah hospes, yang berarti “tuan rumah”. Secara historis,
hospice telah merujuk ke tempat penampungan atau stasiun jalan untuk pelancong
yang lelah berziarah. Menurut Saunders, yang mendirikan Rumah Sakit St.

5
Christopher di London yang terkenal di dunia (Bennahum, 1996) dalam (Yodang,
2018), prinsip yang mendasari hospice adalah sebagai berikut:
1. Kematian harus diterima.
2. Perawatan total pasien paling baik dikelola oleh interdisipliner tim yang
anggotanya berkomunikasi secara teratur satu sama lain.
3. Nyeri dan gejala penyakit terminal lainnya harus dikelola.
4. Pasien dan keluarga harus dilihat sebagai satu kesatuan dari peduli.
5. Perawatan di rumah untuk orang yang sekarat diperlukan.
6. Perawatan berkabung harus diberikan kepada anggota keluarga.
7. Penelitian dan pendidikan harus terus dilakukan.

2.2 Asuhan Keperawatan Paliatif


Asuhan keperawatan paliatif merupakan suatu proses atau rangkaian kegiatan
praktek keperawatan yang langsung diberikan kepada pasien dengan menggunakan
pendekatan metodologi proses keperawatan berpedoman pada standart keperawatan,
dilandasi etika profesi dalam liungkup wewenang serta tanggung jawab perawat yang
mencakup wewenang serta tanggung jawab perawat pada seluruh proses kehidupan,
dengan menggunakan pendekatan holistik mencakup pelayanan biopsikososiospritual
yang komprehensif dan bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. (Muntamah,
2020)
A. Pengkajian Keperawatan
1. Pengkajian Fisik
Perawat melakukan pengkajian kondisi fisik secara keseluruhan dari ujung
rambut sampai ujung kaki. Masalah fisik yang sering dialami pasien biasanya
diakibatkan oleh karena penyakitnya mapun efek samping dari pengobatan yang
diterimanya. Di antaranya adalah nyeri, nutrisi, kelemahan umum, eliminasi luka
dekubitus serta masalah keperawatan lainnya.
a. Pengkajian Nyeri

Pengkajian nyeri secara akurat serta mengkomunikasikan diagnosis terkait


nyeri serta merencanakan tindakan atau penanganan nyeri pada tim paliatif
merupakan hal yang tepenting untuk dapat mengelola nyeri dengan efektif
terutama pada pasien paliatif. Hughes (2012) dalam (Yodang, 2018)

6
menyatakan bahwa kuisioner nyeri dalam SOCRATES dapat digunakan untuk
mengungkap riwayat nyeri pasien paliatif.
1) Site of pain; di daerah mana nyeri dirasakan?
2) Onset; kapan nyeri terjadi, bagaimana nyeri tersebut ter jadi, kondisi apa
yang dapat memicu munculnya nyeri, apa kah nyerinya berubah dalam
kurun waktu selama kejadian
3) Character; bagaimana tipe nyeri dirasakan? Apakah seperti rasa tertusuk,
teriris, gatal, panas atau terbakar, tertekan. Bagaimana pola nyerinya
apakah nyeri terjadi secara terus menerus atau hilang timbul.
4) Radiation; apakah nyeri menyebar kebagian tubuh lain nya, daerah apa?
5) Associated features; apakah saat nyeri terjadi kadang disertai dengan
gejala yang lain seperti mual, muntah.
6) Timing/pattern; apakah nyeri semakin parah pada wak tu-waktu tertentu,
apakah nyeri terjadi saat melakukan aktifitas seperti bergerak atau buang
air kecil.
7) Exacerbating and relieving factors; apa saja yang membuat nyeri semakin
buruk atau nyeri menjadi lebih berkurang.
8) Severity; apakah derajat atau pun skala nyeri mengalami perubahan selama
kurun waktu kejadian.

Beberapa instrumen yang dapat digunakan untuk mengkaji nyeri pasien


paliatif, yang mana instrumen tersebut juga mencakup bagaimana seorang
perawat dapat menggali informasi dengan mengajukan beberapa pertanyaan.

1) The Numerical Rating Scale (NRS)


Nyeri
Tidak
Sangat
Nyeri
hebat
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

2) The Visual Analog Scale (VAS)


Pasien akan ditanya mengenai perasaan nyeri yang dialami pada suatu
garis lurus dengan panjang sekitar 10 cm, dari tidak ada nyeri hingga pada
sisi ujung lainnya berupa nyeri sangat hebat.
7
Tidak nyeri---------------------------------------Nyeri sangat hebat

3) The Verbal Rating Score


Pasien akan ditanya untuk menetapkan tingkat atau level nyeri yang
dialaminya dengan menggunakan daftar kata-kata yang menggambarkan
adanya peningkatan instesitas nyeri.
0 Tidak nyeri
1 Nyeri ringan
2 Nyeri sedang
3 Nyeri berat

4) Body Chart
Body chart juga dapat digunakan untuk mengkaji nyeri. Penggunaan
body chart memberikan kesempatan pada pasien nenetapkan dan
menunjukkan tempat kejadian nyeri yang dialaminya. Hal tersebut sangat
penting mengingat bahwa berapa pasien dapat memiliki nyeri lebih dari
satu tempat, sehingga penggunaan body chart sangat membantu perawat
untuk mengidentifikasi dan memahami daerah yang pasien sampaikan
selama proses pengkajian. (Rosser Walsh, 2014) dalam (Yodang, 2018).
Berikut contoh body chart yang digunakan untuk pengkajian nyeri.

b. Pengkajian Dispnea

Berbagai alat ukur yang tervalidasi dapat digunakan untuk menilai dispnea
baik secara kuantitatif maupun kualitatif pada pasien paliatif. Instrument
tersebut mulai dari yang menggunakan skala ordinal dengan menggunakan

8
acuan single-item seperti visual analog scale (VAS), numerical rating scale
(NRS) dimana angka 0 menunjukkan tidak mengalami dispnea sedangkan

angka 10 menunjukkan dispnea yang sangat berat atau sangat buruk (Kamal,
Maguire, Wheeler, Currow & Abernethy, 2011) dalam (Yodang, 2018).

The Respiratory Distress Obseruation Scale (RDOS) merupakan


instrument yang valid dan reliabel untuk mengukur dan menilai tanda-tanda
yang konsisten ditemukan pada saat dispnea terjadi, intensitas dan respon
terhadap pengobatan terutama pada pasien yang tidak mampu melaporkan
sendiri mengenai kondisi dispnea yang dialaminya (Pantilat, Anderson,
Gonzales &Widera, 2015) dalam (Yodang, 2018).
The RDOS adalah instrument yang menggunakan skala ordinal pada 8
variabel yang digunakan untuk menilai derajat dispnea. Setiap variabel dinilai
dari skor 0 sampai 2, lalu seluruh skor ditotal untuk menentukan derajat
dispnea. Berikut ini gambaran variabel yang diobservasi pada RDOS yaitu:
Skor
Variabel Total
0 1 2
Denyut nadi per <90 kali per 90-109 kali ≥ 110 kali per
menit menit per menit menit
Frekuensi pernafasan ≤ 18 kali per 19-30 kali per > 30 kali per
per menit menit menit menit
Kadang-
Resstlesnes;
kadang, Melakukan
pergerakan yang
tidak melakukan gerakan berlebih
tidak bermakna
gerakan yang sering
tujuan
minim
Pola pernafasan
paradoks; perut
Tidak - Iya
bergerak kedalam
saat inspirasi

9
Penggunaan otot-otot
bantu pernafasan;
klavikula tertarik ke
Sedikit Nampak jelas
atas saat inspirasi dan Tidak
terangkat ternagkat
suara seperti
mendengkur di akhir
ekspirasi
Suara seperti
Iya
mendengkur di akhir Tidak -
ekspirasi
Cuping hidunh Tidak - Iya
Ekspresi ketakutan
Tidak - Iya
atau cemas
Total

Petunjuk penggunaan instrumen RDOS :

1) RDOS tidak dapat digunakan pada pasien yang mampu melaporkan


kondisi dispneanya
2) RDOS merupakan isntrument pengkajian untuk pasien dewasa
3) RDOS tidak dapat digunakan bila pasien mengalaami paralisis atau pasien
yang mendapatkan obat agen penghambat neuromuscular
4) Hitung frekuensi denyut nadi dan pernafasan dalam satu menit, bila perlu
lakukan auskulatsi
5) Suara mendengkur kemungkinannya dapat didengar melalaui auskultasi
pada pasien yang dilakukan intubasi

c. Pengkajian Fatik
Pengkajian fatik dengan memperhatikan aspek atau dimensi fisik, kognitif
dan spirit merupakan hal yang sangat dasar (Paice, 2014) dalam (Yodang,
2018). Beberapa istilah yang sering digunakan oleh pasien untuk
menggambarkan kondisi fatik yang dialaminya seperti hilang energi atau
tenaga untuk melakukan aktifitas ringan, kelemahan dan kelelalahan.
Pada pasien kanker stadium lanjut, fatik menjadi gejala yang sering
dikeluhkan dan sebagai penyebab terjadi kelemahan dan ketidakberdayaan
pada pasien, dimana berdasarkan studi yang dilakukan ditemukan bahwa

10
kejadian fatik pada pasien kanker sekitar 60-90% (Cherny, Fallon, Kaasa,
Portenoy & Currow, 2015) dalam (Yodang, 2018). Beberapa kriteria yang
digunakan untuk menetapkan diagnosis fatik yang berhubungan dengan
kanker yaitu :

1) Gejala fatik yang dirasakan hampir setiap hari dalam kurun 2 minggu
terakhir.
2) Menyatakan akan adanya kelemahan yang bersifat umum atau tungkai
terasa berat.
3) Kemampuan berkonsentrasi ataupun perhatian semakin berkurang.
4) Menurunnya motivasi atau keinginan untuk melakukan kegiatan rutin.
5) Insomnia atau hypersomnia.
6) Pasien merasa tidak segar saat terbangun dari tidur.
7) Mengalami kesulitan untuk mengatasi kondisi ketidakaktifan
8) Ditandai dengan reaktif emosional yang mengakibatkan pasien merasa
fatik seperti kesedihan, frustasi, dan irirabilitas
9) Mengalami kesulitan untuk menyelesaikan aktiftas rutin runmah tangga.
10) Mengalami masalah terkait memori jangka pendek.
11) Merasakan ketidaknyaman dalam beberapa jam setelah melakukan latihan
fisik atau aktiftas.

Beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengkaji dan mendiagnosis


fatik. Berbagai instrument telah dikembangkan untuk mengukur atau menilai
kondisi fatik pada pasien dewasa dengan tingkat validitas dan reliabilitas yang
beragam. Instrument pengukuran fatik seperti The Multidimensional
Asssessment of Fatigue, the Symptom Distress Scale, the Fatigue Scale, the
Fatigue Observation Checklist, dan Visual Analog Scale untuk Fatigue. Dalam
tatanan klinik, penggunaan skala rating secara verbal merupakan metode yang
sangat efisien. Dimana tingkat atau derajat fatik akan dengan mudah dan cepat
untuk dikaji dengan menggunakan kriteria 0 yang berarti tidak fatik kriteria 10
yang berarti fatik berat.
Tidak Fatik
Fatik Berat
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

11
d. Pengkajian Delirium

Delirium merupakan salah satu masalah yang terkait dengan gangguan


mental yang sering ditemukan pada pasien yang menjalani perawatan di rumah
sakit. Close dan Long (2012) dalam (Yodang, 2018) menjelaskan bahwa
delirium merupakan komplikasi yang paling lazim ditemukan pada pasien
dengan penyakit stadium lanjut atau terminal. Gambaran klinis delirium yaitu:
1) Adanya perubahan tingkat kesadaran dan kewaspadaan. Adanya perubahan
tingkat perhatian.
2) Secara klinis kejadiannya dapat berlangsung dan berfluktuasi, timbulnya
gejala yang tiba-tiba dan tidak dapat diperkirakan atau diharapkan secara
cepat.
3) Disorientasi.
4) Perubahan kognitif seperti gangguan memori, apraks agnosia, disfungsi
visual-spasial, gangguan atau perubahan dalam berbahasa.
5) Terjadinya peningkatan atau penurunan aktifitas motorik. Terjadi
perubahan siklus tidur dan terjaga.
6) Gejala terkait mood seperti depresi dan mood yang labil.
7) Gangguan persepsi seperti halusinasi, ilusi atau delusi.
8) Proses pikir yang tidak terstruktur dan terorganisir dengan baik.
9) Berbicara dengan tidak koheren.
10) Kemungkinan ditemukan gejala terkait gangguan saraf seperti asteriksis,
mioklonus, tremor, dan terjadi perubahan tonus otot.

Instrument skrining digunakan untuk mengidentifikasi adanya gangguan


kognitif pada pasien, namun skrining tersebut tidak bertujuan untuk
mendiagnosis delirium, akan tetapi untuk mengidentifikasi adanya kondisi lain
yang menyerupai delirium seperti demensia. The NEECHAM Confusion Scale
sering di gunakan sebagai instrument pengkajian yang sifatnya cepat dan
sekaligus memonitor kondisi konfusi akut pada pasien lanjut usia. Selain itu,
The Nursing Delirium Screening Scale juga dapat digunakan untuk memonitor
gejala. Instrument tersebut terdiri dari 5 item pertanyaan sehingga menjadikan

12
instrument tersebut mudah digunakan dan akurat (Close & Long, 2012) dalam
(Yodang, 2018).

2. Pengkajian Psiko Sosio, Spiritual, dan Kultural


Perawat mekakukan pengkajian kemampuan fungsi sosial, kondisi mental/
emosional, hubungan interpersonal, kegiatan yang dilakukan oleh pasien, konflik
dalam keluarga yang dialami pasien jika ada, peran sistem budaya, spiritual dan
aspek religius, sumber keuangan, komunikasi, kepribadian, personality, adat
istiadat budaya/ pembuat keputusan, aspek religius/ kepercayaan, pertahanan
koping, sistem nilai, hubungan antar keluarga dan stres yang dihadapi oleh pasien.
a. Pengkajian Psikologis
Gangguan mood seperti depresi dan kecemasan merupakan gejala terkait
psikiatri yang paling sering terjadi pada pasien kanker stadium lanjut, akan
tetapi gangguan mood tersebut sering luput dari pengawasan sehingga tidak
terdiagnosis, oleh karena itu gangguan mood sering tidak diintervensi. Akan
tetapi saat ini berbagai instrument pengkajian telah dikembangkan sehingga
dapat meningkatkan tingkat akurasi dari skrining yang dilakukan terhadap
masalah depresi dan kecemasan (Yenurajalingam & Bruera, 2016) dalam
(Yodang, 2018).
Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan mengapa penting melakukan
identifikasi pada pasien depresi, yaitu:

1) Lebih dari 80% pasien depresi memberikan respon positif terhadap


pengobatan.
2) Depresi yang tidak tertangani dapat memicu pasien menarik diri dari
kehidupan sosial sehingga terjadi isolasi sosial.
3) Mencegah pasien dari ketidakmampuan pasien untuk menyelesaikan
urusan atau kegiatannya.
4) Derpresi yang tidak tertangani juga dapat mempengaruhi gejala yang
lainnya baik fisik maupun psikis.
5) Gejala yang dialami pasien dapat menjadi lebih buruk dibandingkan
dengan kondisi penyakit pasien itu sendiri (Rosser & Walsh, 2014) dalam
(Yodang, 2018).

13
The Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS) merupakan
instrument yang cukup singkat dan mudah digunakan untuk mengukur tingkat
distress psikologis pasien. Selain the HADS, Distress Termometer juga dapat
digunakan untuk menilai tingkat distress pasien. Distress thermometer
merupakan instrument yang menggunakan skala visual analog, sehingga
penggunaannya menjadi lebih mudah terutama pada pasien paliatif
(Zeppetella, 2012) dalam (Yodang, 2018).

Cara penggunaan distress termometer yaitu: Pasien diminta untuk


menentukan skor atau nilai yang tertera pada termometer tersebut yang mana
skor atau nilai tersebut meng gambarkan derajat distress yang dialami oleh
pasien.

b. Pengkajian Spiritual
Perawatan holistik tidak hanya melibatkan pengkajian akan kebutuhan
fisik, emosional dan sosial, akan tetapi juga mengenai kebutuhan spiritual dan
harapan-harapan yang ingin dicapai oleh pasien (Matzo & Sherman, 2010)
dalam (Yodang, 2018). Riwayat spiritual merupakan suatu riwayat mengenai
nilai dan kepercayaan yang dianut oleh seseorang yang secara tidak langsung
menggambarkan peran spiritualitas dan agama terhadap kehidupan pasien.
Sekalipun isu terkait spiritual bukanlah tanggung jawab seorang perawat untuk
mengatasi masalah terkait isu spiritual pasien namun perawat harus tahu dan

14
dapat melakukan pengkajian terkait spiritual pasien untuk mengidentifikasi
ketika pasien atau keluarga pasien mengalami distress spiritual.
Riwayat spiritual dan pengkajian spiritual harus dilakukan pada setiap
pasien baru dan dapat dilakukan secara berkala pada pasien kunjungan
berulang. Riwayat spiritual menggambarkan peran agama dan spiritualitas
terhadap kemampuan pasien untuk mengatasi penyakitnya. Pengkajian terkait
riwayat spiritual pasien dapat menggunakan metode FICA yang diperkenalkan
oleh Puchalski (1998 dalam Matzo & Sherman, 2010) dalam (Yodang, 2018).
1) F merujuk pada Faith yaitu keyakinan. Hal ini dapat di identifikasi melalui
pertanyaan "Apa keyakinan atau kepercayaan yang anda anut?" Disini
keyakinan dapat merujuk pada afiliasi terhadap agama.
2) I merujuk pada Influence yang bermakna pengaruh. Hal ini dapat
ditelusuri dengan mengajukan pertanyaan berupa "Bagaimana keyakinan
atau agama anda mempengaruhi keputusan anda terkait pengobatan anda?"
3) C merujuk pada Community yang bermakna komunitas atau sekumpulan
orang yang memiliki karakteristik yang hampir sama. Hal ini dapat dinilai
dengan mengajukan pertanyaan "Apakah anda merupakan bagian dari
suatu komunitas keagamaan atau spiritual?"
4) A merujuk pada Addressing spiritual concerns yang bermakna cara
mengatasi isu-isu spiritual yang dialami oleh pasien. Hal ini dapat
digambarkan dengan pertanyaan berupa "Apakah anda menginginkan
seseorang yang dapat membantu mengatasi masalah atau isu-isu terkait
spiritual yang anda hadapi?"

Keyakinan seseorang terhadap suatu agama kemungkinan dapat


mempengaruhi keputusan seseorang terhadap proses pengobatannya,
terkhusus bila penyakit menjadi semakin parah atau kritis seperti keputusan
terkait tindakan resusitasi jantung paru, atau tetap mempertahankan atau
bahkan melepaskan segala tindakan yang berfungsi untuk mempertahan atau
mem perpanjang masa hidup pasien.

c. Pengkajian Kultural

15
Untuk dapat mengembangkan kompetensi mengenai budaya maka perawat
membutuhkan dan harus dapat mendengarkan secara seksama serta
mengumpulkan berbagai informasi mengenai budaya. Latar belakang pasien
memungkinan untuk memberikan informasi awal mengenai nilai dan
kepercayaan yang dianutnya, namun semua hal tersebut hanya sebatas asumsi
sehingga seorang perawat dapat melakukan klarifikasi dan memvalidasi
dengan jalan mengajukan pertanyaan pada pasien mengenai nilai dan
kepercayaan yang dianut, kebutuhan, harapan dan impiannya (Matzo &
Sherman, 2010) dalam (Yodang, 2018). Pengetahuan mengenai budaya
kelompok yang dianut oleh seseorang dapat dijadikan sebagai langkah awal
atau acuan dalam melakukan pengkajian pada seseorang terkait nilai dan
kepercayaan yang dianutnya berdasarkan budaya yang dimiliki. Ada beberapa
hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pengkajian terkait budaya,
yaitu:

1) Mengidentifikasi tempat kelahiran pasien.


2) Menanyakan mengenai pengalaman migrasi pasien.
3) Determinasi mengenai tingkat identitas budaya atau etnis pasien.
4) Mengevaluasi tingkat akulturasi pasien terhadap budaya lokal tempat
pasien berdomisili.
5) Mengidentifikasi kemampuan pasien menggunakan jaringan informal dan
sumber-sumber untuk mendukung dalam kegiatan di komunitas.
6) Mengidentifikasi penentu dan pembuat keputusan, apakah pasien, keluarga
atau suatu unit sosial.
7) Menelusuri bahasa utama dan bahasa kedua yang digunakan oleh pasien
dan keluarga.
8) Gambaran pola komunikasi pasien baik verbal maupun non verbal.
9) Pertimbangkan isu gender dan power dalam suatu hubungan atau relasi
yang terjalin.
10) Mengevaluasi pandangan pasien mengenai harga diri.
11) Identifikasi pengaruh agama dan spiritualitas terhadap harapan dan
perilaku pasien dan keluarga.
12) Telusuri mengenai pandangan pasien tentang isu diskriminasi, rasis, atau
SARA.

16
13) Identifikasi mengenai tradisi masak-memasak dan perjamuan, serta makna
makanan
14) Gambaran tingkat pendidikan dan status sosial ekonomi pasien.
15) Kaji perilaku, nilai dan kepercayaan serta praktik keseharian yang
berhubungan dengan kesehatan, sakit, penderitaan dan kematian.
16) Kaji tentang nilai dan upaya pasien untuk menggunakan terapi
komplementer.

17) Diskusikan bagaimana pasien menjaga dan mempertahankan harapan-


harapannya.

B. Diagnosis Keperawatan
Menurut Muntamah (2020) diagnosis keperawatan yang sering muncul pada
perawatan paliatif adalah : gangguan body image (rambut rontok, luka bau), gangguan
hubungan seksual, gangguan pelaksanaan fungsi peran keluarga, gangguan
komunikasi, kurang pengetahuan, gangguan pola tidur, gangguan interaksi social,
koping keluarga tidak efektif, gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi, nyeri.

C. Intervensi Keperawatan
Menurut Muntamah (2020) berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan pada
intervensi keperawatan pada perawatan paliatif :
1. Strategi pencapaian tujuan dari asuhan keperawatan
2. Memberikan prioritas intervensi keperawatan dan sesuai dengan masalah
keperawatan : nyeri, intake nutrisi, dan lain-lain
3. Modifikasi tindakan dengan terapi komplementer (hipnoterapi, yoga, healing
touch dan lain-lain)
4. Melibatkan keluarga pasien
Sedangkan intervensi keperawatan pada aspek psiko sosio kultural dan spiritual
adalah :
1. Berikan informasi dengan tepat dan jujur
2. Lakukan komunikasi terapeutik, jadilah pendengar yang aktif
3. Tunjukkan rasa empati yang dalam
4. Support pasien, meskipun pasien akan melewati hari-hari terakhir, pastikan pasien
sangat berarti bagi keluarganya

17
5. Tetap menghargai pasien sesuai dengan perannya dalam keluarga
6. Selalu melibatkan pasien dalam proses keperawatan
7. Tingkatkan penerimaan lingkungan terhadap peubahan kondisi pasien
8. Lakukan pendampingan spiritual yang intensif

D. Implementasi Keperawatan
Menurut Muntamah (2020) dalam memberikan asuhan keperawatan paliatif pada
pasien terdapat hal-hal yang arus diperhatikan yaitu :
1. Memberikan asuhan keperawatan sesuai masalah keperawatan
2. Hak pasien adalah untuk menerima atau menolak tindakan keperawatan
3. Rasa empati, support, motivasi dari berbagai pihak khususnya perawat
4. Kolaborasi dengan tim perawatan paliatif

E. Evaluasi Keperawatan
Menurut Muntamah (2020) evaluasi keperawatan merupakan tahap akhir dari
proses asuhan keperawatan paliatif, namun bukan berarti asuhan keperawatan akan
berhenti pada tahapan ini, melainkan lebih menekankan pada tahapan mengevaluasi
perkembangan pasien dengan melakukan analisa perkembangan kondisi yang ada
pada pasien, melakukan reasesment dan replanning melihat perkembangan kondisi
yang ada pada pasien. Hal-hal yang harus menjadi perhatian perawat dalam
memberikan asuhan keperawatan paliatif adalah :
1. Asuhan keperawatan paliatif berarti asuhan intensif dan komprehensif
2. Selalu pelajari dan observasi hal yang baru dari pasien
3. Semua anggota tim sepakat untuk emndukung rencana tindakan yang telah
disusun
4. Melibatkan keluarga pasien
5. Gunakan bahasa yang mudah difahami
6. Beri kesempatan bertanya dan jawab dengan jujur
7. Jelaskan perkembangan, keadaan dan rencana tindak lanjut
8. Jangan memberikan janji kosong pada pasien
9. Melakukan konseling, pelatihan kepada pasien, keluarga dan care giver
10. Mempermudah kelancaran perawatan di rumah dalam pelaksanaan asuhan
11. Memperhatikan aspek religius pasien

18
12. Tunjukkan rasa empati, keseriusan serta sikap yang mendukung untuk siap
membantu
13. Pertimbangkan latar belakang pasien dan keluarga
14. Hindarkan memberi ramalan tentang waktu kematian
15. Bila pasien tidak ingin diberi tahu tentang kondisinya, tunggu dengan sabar
sampai menemukan waktu yang tepat untuk menyampaikan

2.3 Perawatan Paliatif Dalam Perspektif Sosial dan Budaya


Seiring dengan meningkatnya kasus penyakit kronis yang disertai dengan
penurunan kualitas hidup dalam berbagai kasus penyakit terutama pada stadium lanjut
atau terminal maka kebutuhan akan pelayan dalam tatanan sosial pun turut meningkat.
Bila melihat cacatan sejarah bahwa perawatan paliatif dan hospis hadir sebagai bentuk
respon terhadap ketidakmampuan tatanan layanan kesehatan dalam memenuhi kebutuhan
pasien menjelang akhir kehidupan beserta keluarganya dengan baik (Lloyd-Williams,
2003) dalam (Yodang, 2018). Mengingat akan kebutuhan tersebut maka perawatan
paliatif dinyatakan sebagai salah satu hak asasi manusia (Brennan, 2007 dalam Pesut,
Beswick, Robinson & Bottorff, 2012) dalam (Yodang, 2018). Lebih lanjut, perawatan
paliatif juga telah menjadi sebuah isu keadilan sosial dan semua anggota masyarakat
harus dapat mengakses jenis perawatan tersebut.
Latar belakang budaya yang dimiliki oleh pasien sangat mempengaruhi pasien
terhadap bagaimana ia memilih atau merujuk sesuatu dan menginginkan hal terkait
mendiskusikan berita buruk, membuat keputusan, serta bagaimana pengalamannya terkait
kematian (Lum & Arnold, 2012) dalam (Yodang, 2018) maupun penanganan dan
perawatan menjelang kematian (Clark & Philips, 2010) dalam (Yodang, 2018). Olehnya
itu, memahami latar belakang budaya pasien merupakan hal yang sangat dasar untuk
membangun rasa percaya dan hubungan yang bersifat supportif antara pasien, keluarga
dan profesional kesehatan. Selain itu memahami budaya juga sebagai dasar untuk
mengembangkan rencana perawatan kesehatan yang mencakup harapan yang terkait
budaya pasien, dan kepercayaan yang terkait kesehatan. Andrews and Boyle (1995, dalam
Matzo & Sherman, 2010) dalam (Yodang, 2018) menjelaskan bahwa kepercayaan yang
terkait dengan kesehatan dikelompokkan dalam 3 kategori yaitu:
A. Magico-religious, dalam perspektif ini seseorang berkeyakinan bahwa Tuhan atau
kekuatan supranatural mengontrol kesehatan dan sakit.

19
B. Biomedical, dalam perspektif ini seseorang meyakini bahwa sakit diakibatkan oleh
gangguan fisik dan proses biokimia dan hal tersebut dapat dimanipulasi di pelayanan
kesehatan.
C. Holistic, dalam pandangan ini bahwa kesehatan merupakan hasil keseimbangan atau
harmoni dari berbagai elemen alami, sehingga kondisi sakit terjadi sebagai suatu
kondisi ketidak harmonisan.

20
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Kasus
Ny E berusia 45 tahun, dirawat di rumah sakit karena mengalami tumor pada
mamae dekstra, dan harus diangkat tumor (mastektomi) dilakukan pemeriksaan patologi
anatomi (PA), keluarga menunggu hasil tersebut dengan cemas. Setelah satu minggu hasil
PA dinyatakan adenocarsinoma grade III. Pasien hanya diam saja, sering mengatakan
bahwa dia tidak akan hidup lama lagi. Dan selanjutnya pasien akan dilakukan kemoterapi
dengan 6 kur. Klien punya anak 2 masih sekolah SMA dan SMP, suami PNS.

3.2 Asuhan Keperawatan


A. Pengkajian Fisik
1. Identitas Klien
 Nama : Ny. E
 Umur : 45 Tahun
 Status Perkawinan : Menikah
 Agama : Islam
 Suku bangsa : Jawa
 Alamat : Jalan Malioboro
 No. Register : 00130602
 Diagnosa Medis : Adenocarsinoma Mammae Dextra Grade III
 Tanggal Pengkajian : 10 September 2021

2. Status Kesehatan Saat Ini


 Keluahan utama : Nyeri dan benjolan di payudara kanan
 Lamanya timbul keluhan : Sejak 7 bulan lalu
 Upaya yang dilakukan : Minum jamu tradisional
 Riwayat keluarga : (genogram)

3. Riwayat Kesehatan
 Riwayat masuk RS : Pasien mengatakan tidak pernah dirawat di RS

21
 Riwayat keluarga : Pasien mengatakan neneknya pernah menderita
kanker payudara
 Riwayat alergi : Pasien mengatakan tidak memiliki alergi
 Riwayat obat obatan : Pasien mengatakan tidak mengkonsumsi obat
 Riwayat merokok : Pasien mengatakan tidak merokok

4. Pola Kebiasaan
 Pola Tidur/Istirahat
Pasien mengatakan waktu tidur di rumah lamanya ± 7 jam, waktu tidur
di RS lamanya ± 5 jam. Pasien mengatakan tidak merasa nyenyak dan sering
terbangun saat tidur. Pasien mengatakan mudah tidur saat siang hari dan
mudah bangun jika nyeri muncul.
 Pola Eliminasi
Pasien mengatakan dirumah BAB 1 kali sehari dengan warna kuning
kecoklatan dan konsistensi lembek. Di rumah sakit pasien sudah BAB 1 kali.
dengan warna kuning kecoklatan dan konsistensi keras. Masalah BAB tidak
ada. Pasien mengatakan di rumah BAK 3-5 kali sehari dengan warna kuning
jernih, di rumah sakit 3-5 kali. Masalah BAK tidak ada
 Pola Makan dan Minum
Pasien mengatakan di rumah makan 3 kali sehari: nasi, sayur, lauk
pauk (ikan, tahu, tempe) pasien selalu menghabiskan porsi makannya dan
untuk minum air putih 5-8 gelas/hari yang dilakukan setelah makan dan
sewaktu-waktu. Pasien mengatakan di rumah sakit makan 3 kali sehari: nasi,
sayur, lauk pauk, buah, pasien hanya menghabiskan ½ porsi makannya dan
untuk minum air putih 3-6 gelas/hari yang dilakukan setelah makan dan
sewaktu-waktu
 Kebersihan Diri
Pasien mengatakan di rumah mandi 2-3 kali sehari, pemeliharaan gigi
2 kali sehari dan untuk pemeliharaan kuku di rumah 1 kali seminggu. Pasien
mengatakan di rumah sakit telah mandi 2 kali, selama di rumah sakit gosok
gigi 2 kali dan untuk pemeliharaan kuku di rumah sakit belum ada memotong
kuku.

5. Pemeriksaan Fisik
22
 Keadaan Umum : Compos mentis
 Tanda-Tanda Vital : TD : 130/80 mmHg N : 90 x/menit
RR : 19 x/menit S : 36,3 °C
 Pemeriksaan Kepala
Warna rambut hitam, distribusi rambut merata, tidak terdapat luka,
tumor, edema, ketombe, dan bau
 Pemeriksaan Integumen
Kulit terlihat bersih, badan klien teraba hangat, warna kulit pasien
sawo matang, turgor kulit baik kembali dalam <2 detik, kulit tampak lembab
kenyal dan elastis.
 Pemeriksaan Payudara
Payudara tidak simetris, warna payudara kanan kecoklatan dan aerola
kecoklatan, puting tidak menonjol, kelainan pada payudara terlihat benjolan
pada payudara kanan, aksila terdapat pembengkakan dan clavikula tidak
simetris antara kanan dan kiri karena terdapat penonjolan masa pada area dada
kanan.
 Pemeriksaan dada
Inspeksi: bentuk dada tidak simetris antara kanan dan kiri, tidak ada
kesulitan bernafas. Palpasi: tidak adanya tanda kesulitan bernafas, tidak ada
penggunaan otot bantu pernafasan. Perkusi: suara dada kanan dan kiri sonor
Auskultasi: suara nafas vesikuler, tidak ada suara nafas tambahan.
 Pemeriksaan Abdomen
Bentuk simetris, tidak ada nyeri tekan, apakah ada benjolan, tidak ada
tanda pembesaran hepar, tidak didapati asites, dan hasil perkusi didapat suara
timpani.
 Pemeriksaan Genetalia
Tidak ada benjolah, tidak ada nyeri tekan, tidak ada iritasi dan bau
pada genetalia.
 Pemeriksaan Anus dan Rektum
Tidak ada abses dan hemoroid, pada rectum tidak didapati lendir,
darah, atau nanah.
 Pemeriksaan muskuloskeletal (ekstremitas)

23
Kekuatan otot menurun, terdapat pembengkakan limfaderma pada
tangan kanan, tangan kanan agak nyeri saat digerakan untuk beraktivitas,
kekuatan otot
55 55
33 55
55 55
55 55

6. Pengkajian Nyeri
 P : Nyeri pada saat beraktivitas
 Q : Nyeri seperti terbakar
 R : Payudara kanan sampai ketiak kanan
 S : 6 (rentang 1 – 10)
 T : Hilang timbul

7. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan dilakukan pada tanggal 9 September 2021
 Patologi Anatomi (PA) : Adenocarsinoma grade III
 Pemeriksaan Laboratorium : Hematologi
Jenis H Nilai
Pemeriksa as Normal
an il
Leukosit 7. 5.000 -
8 10.000 µl
5
0
Eritrosit 3, 5 - 10
4 juta/µl
Hemoglob 1 12.0 -
in 3. 16.0 g/dl
0
Hematokri 4 37.0 -
t 0. 54.0 %
2
GDS 1 70 - 140
1 mg/dL
7
Albumin 4. 3.5 - 5.5
5 g/L

24
8. Penatalaksanaan Medis
 IVFD Futrolit:RL 1:1 20 Tpm
 Antibiotik (ceftriaxsone) 2x1 via IV
 Santagesik 3x1 ampul via IV

B. Pengkajian Psikososial

 Keluhan : Pasien tampak sedih, pasien hanya diam saja, ansietas.

 Mekanisme koping terhadap stress : Diam dan menangis

 Program pengobatan yang bertentangan dengan keyakinan : tidak ada

 Respon terhadap penyakit : pasien hanya diam dan terlihat bingung (depresi)

 Informasi yang dibutuhkan : informasi tentang penyakitnya, tindakan yang akan


dilakukan, pengobatan gejala (manajemen nyeri), efek samping pengobatan.

 Hal yang dipikirkan saat ini : Pasien sering mengatakan bahwa dia tidak akan
hidup lama lagi

 Harapan setelah menjalani perawatan : Pasien ingin cepat sembuh

 Dukungan keluarga : Suami dan anak bergantian datang ke RS. Keluarga selalu
memberikan semangat dan doa agar pasien dapat tegar dan ikhlas dengan
penyakitnya.

 Tingkat Ansietas : Pasien gelisah, bingung, menarik diri, ketakutan

 Status mental : Cacat fisik (terdapat benjolan pada payudara kanan), kontak mata
(menghindar ketika diajak berbicara), pakaian (rapi), perawatan diri (dibantu oleh
perawat atau keluarga)

 Tingkah laku : Pasien resah, agitasi (gelisah), sikap pasien menarik diri, ekspresi
wajah cemas

 Mood dan Afek : Pasien sedih, putus asa, dan lesu

25
 Proses berpikir : Pasien bingung

C. Pengkajian Spiritual
 Faith : agama islam
 Influence : pasien mengatakan bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya
 Community : pasien mengatakan aktif dalam kegiatan pengajian ibu-ibu malam
jumat.
 Addresing spiritual concerns : pasien mengatakan ingin lebih dekat dengan Allah
dan berserah diri kepada Allah

D. Pengkajian Kultural
 Pasien mengatakan berasal dari suku Jawa
 Pasien lahir dan besar di Yogyakarta
 Pasien masih menganut budaya lama, namun telah mengalami akulturasi sehingga
tidak ada tumpang tindih antara budaya lama denga budaya yang baru.
 Pasien mengatakan bahwa yang mengambil keputusan dalam keluarga adalah
suami
 Pasien masih menggunakan bahasa jawa dalam komunikasi serta bahasa Indonesia
sebagai bahasa persatuan.
 Pasien mengatakan pendidikan terakhirnya SMA
 Pola komunikasi antar anggota keluarga masyarakat baik
 Pasien merasa tidak percaya diri karena akan kehilangan salah satu anggota
tubuhnya
 Status ekonomi keluarga menengah ke bawah. Pasien pengguna BPJS Kesehatan.
Pekerjaan suami pasien PNS

Analisa data
N Tang Data Penyeb Masalah
O gal ab
dite
D muk
X an
D 10/0 DS: Infiltras Nyeri
. 4/20  Pasien mengatakan nyeri di i tumor kronis

26
0 21 payudara kanan sejak 7 bulan yang
0 lalu
7  P : pasien mengatakan nyeri saat
8 banyak beraktivitas
Q: nyeri seperti terbakar
R: nyeri terasa di area payudara
kanan sampai ke ketiak
S: skala nyeri 6
T: nyeri berlangsung hilang timbul
DO:
 Pasien tampak meringis
 Terdapat benjolan di area dada
(payudara) yang membesar dengan
konsistensi padat
 Pasien tampak gelisah
D 10/0 DS: Perubah Ganggu
. 4/20  Pasien mengatakan nyeri an an
0 21 DO: pigment integrita
1  Terlihat perubahan warna pada asi s kulit
2 areola kanan
9
D 10/0 DS: Krisis Ansietas
. 4/20  Pasien mengatakan cemas dengan situasio
0 21 keadaannya sekarang nal
0  Pasien mengatakan takut dengan
8 oprasi yang akan dihadapi
0 DO:
 Pasien tampak cemas
 Pasien tampak gelisah
 Pasien sulit tidur
 TTV : TD 140/80 mmHg, Nadi 90
x/m, RR 20 x/m, T 36,5 ℃
D 10/0 DS: Perubah Ganggu
. 4/20  Pasien mengatakan tidak nyaman an an citra
0 21 dengan perubahan kondisi struktur tubuh
0 tubuhnya /bentuk
8 DO: tubuh
3  Fungsi/struktur payudara berubah
 Respon non verbal pada perubahan
dan persepsi tubuh

E. Diagnosis Keperawatan
N Diagnosis Keperawatan Tan Tan Nama
o ggal ggal dan
dite terat tanda
D mu asi tangan
X kan

27
D Nyeri kronis berhubungan 10/0 Okta
. dengan Infiltrasi tumor 4/20
0 dibuktikan dengan pasien 21
0 mengatakan nyeri di
7 payudara kanan sejak 7
8 bulan yang lalu, P : pasien
mengatakan nyeri saat
banyak beraktivitas, Q:
nyeri seperti terbakar, R:
nyeri terasa di area
payudara kanan sampai ke
ketiak, S: s
kala nyeri 6, T: nyeri
berlangsung hilang timbul,
Pasien tampak meringis,
Terdapat benjolan di area
dada (payudara) yang
membesar dengan
konsistensi padat, Pasien
tampak gelisah

D Ansiietas berhubungan 10/0 nurma


. dengan krisis situasional 4/20
0 dibuktikan dengan pasien 21 la
0 mengatakan cemas dengan
8 keadaannya sekarang,
0 Pasien mengatakan takut
dengan oprasi yang akan
dihadapi, Pasien tampak
cemas, pasien tampak
gelisah, Pasien sulit tidur,
TTV : TD 140/80 mmHg,
Nadi 90 x/m, RR 20 x/m,
T 36,5 ℃
D Gangguan citra tubuh 10/0 Nabila
. berhubungan dengan 4/20
0 perubahan struktur/bentuk 21
0 tubuh dibuktikan dengan
8 Pasien mengatakan tidak
3 nyaman dengan perubahan
kondisi tubuhnya,
Fungsi/struktur payudara
berubah, Respon non
verbal pada perubahan dan
persepsi tubuh

D Gangguan integritas kulit 10/0 Nada


. berhubungan dengan 4/20
0 perubahan pigmentasi 21 N
1 pasien mengatakan nyeri,

28
2 Terlihat perubahan warna
9 pada areola kanan

F. Intervensi Keperawatan
N Rasional
o
Intervensi
. Kriteria
keperawata Tindakan
hasil
n
D
x
D Nyeri kronis Setelah Manajemen
. berhubunga dilakukan nyeri
0 n dengan tindakan Observasi 1. Untuk
0 infiltrasi keperawatan 1. Identifikasi lokasi, mengetahui
7 tumor selama 3 x karakteristik, durasi, tingkat nyeri
8 (D.0078) 24 jam frekuensi, kualitas, yang dirasakan
Ditandai diharapkan intensitas nyeri pasien
dengan: DS: tingkat nyeri
 Pasien menurun 2. Untuk
mengatakan dengan 2. Identifikasi skala mengetahui
nyeri di kriteria hasil nyeri tingkat nyeri
dada kanan : yang dirasakan
(payudara)  Keluahan nyeri pasien
sejak 4 menurun
bulan yang  Meringis Terapeutik
lalu  Pasien menurun 3. Fasilitasi istirahat 3. Untuk
mengatakan  Gelisah tidur memaksimalkan
nyeri saat menurun kualitas tidur
banyak  Sulit tidur pasien
beraktivitas menurun
 P: nyeri 4. Berikan teknik non 4. Untuk
akibat farmakologis untuk memberikan
benjolan di meredakan nyeri suatu cara yang
area dada Rasional: dapat
(payudara) memberikan suatu mengurangi
yang cara yang dapat nyeri pada
membesar mengurangi nyeri pasien
Q: nyeri pada pasien
seperti
terbaka R: Edukasi
nyeri terasa 5. Ajarkan teknik non
di area dada farmakologis untuk 5. Untuk
sampai ke mengurangi rasa memberikan
ketiak S: nyeri suatu cara yang
skala nyeri 6 dapat
T: nyeri mengurangi
berlangsung nyeri pada
hilang Kolaborasi pasien

29
timbul DO: 6. Kolaborasi
 Pasien pemberian analgesik 6. Untuk
terlihat mengurangi rasa
meringis  nyeri
Terdapat
benjolan di
area dada
(payudara)
yang
membesar
dengan
konsistensi
padat

G. Implementasi Keperawatan
D Hari, J Implementasi Keperawatan TTD
x tang a
gal m
D Rab 0 Tindakan May
. u 8  Mengidentifikasi lokasi, karakteristik, durasi,
0 03/0 . frekuensi, kualitas, intensitas nyeri a
0 4/20 0 Respon Pasien
7 19 0 DS:
8
Pasien mengatakan nyeri di dada kanan
(payudara)
P: nyeri akibat benjolan di area dada (payudara)
yang membesar
Q: nyeri seperti terbakar
R: nyeri terasa di area dada sampai ke ketiak
S: skala nyeri 6
T: nyeri berlangsung hilang timbul
DO: Pasien terlihat meringis
0
8
. Tindakan
0 Mengidentifikasi skala nyeri
5 Respon
Ds:
Pasien mengatakan merasa nyeri hingga
mengganggu aktivitas
Skala nyeri: 6
DO: pasien tampak meringis

30
Tindakan
 memasilitasi istirahat tidur
0 Respon
8 DS:
. Pasien mengatakan tidurnya tidak nyenyak dan
1 sering terbangun akibat nyeri yang tiba-tiba
0 timbul
DO:
Pasien tampak gelisah

Tindakan
 Menganjurkan teknik nonfarmakologis
untuk meredakan nyeri (mengajarkan
Teknik relaksasi )
DS:
Pasien mengatakan mengerti tentang Teknik
1 relaksasi yang diberikan
0 DO:
. Pasien tampak meringis tetapi sudah mulai
0 merasa nyaman
0

Tindakan
 Berkolaborasi analgesik, jika perlu
(pemberian cefotaxime/12 jam,
ranitidin/12 jam, keterolac/8 jam
melalui IV )
Respon
DS:
Pasien mengatakan nyerinya sedikit
berkurang
DO:
1 Pasien tampak lebih baik
0
.
3
0
D Kam 08.00 Tindakan Rant
. is,  Mengidentifikasi kelokasi, karakteristik,
0 4/4/2 durasi, frekuensi, kualitas, intensitas i
7 019 nyeri
8 DS:

Pasien mengatakan masih merasa nyeri di dada


kanan (payudara)
P: nyeri akibat benjolan di area dada (payudara)

31
yang membesar
Q: nyeri seperti terbakar
R: nyeri terasa di area dada sampai ke ketiak
S: skala nyeri 6
0
8 T: nyeri berlangsung hilang timbul
.
1
0 DO:
Wajah Pasien masih tampak meringis

0 Tindakan
8  Mengidentifikasi skala nyeri
. DS: skala nyeri 6
1 DO: Wajah Pasien tampak menahan
5 nyeri

Tindakan
 Memasilitasi istirahat tidur
DS:
Pasien mengatakan masih kesulitan tidur
karena nyeri masih hilang timbul
1 DO:
0 Pasien tampak lemas
. Tindakan
3  Ajarkan teknik non farmakologis untuk
0 mengurangi rasa nyeri (memberikan
penkes cara mengurangi cemas seperti
Teknik relaksasi nafas dalam dan berdoa)
DS:
Pasien mengatakan sudah paham tentang
DO:
Pasien tampak mengerti dan dapat mengulangi
penjelasan perawat dengan baik

Tindakan
 Berkolaborasi analgesik, jika perlu
1 (pemberian cefotaxime/12 jam, ranitidin/12
1 jam, keterolac/8 jam melalui IV )
. DS:
0 Pasien mengatakan nyerinya sedikit
0 berkurang
DO:
Pasien tampak lebih baik

32
D Jum 08.00 Tindakan Nada
. ’at  Mengidentifikasi lokasi, karakteristik, durasi,
0 5/4/2 frekuensi, kualitas, intensitas nyeri S
7 019 Respon Pasien
8 DS:

Pasien mengatakan nyeri di dada kiri


(payudara) sudah berkurang
P: nyeri akibat benjolan di area dada (payudara)
yang membesar
Q: nyeri seperti terbakar
R: nyeri terasa di area dada sampai ke ketiak
S: skala nyeri 5
0
8 T: nyeri berlangsung hilang timbul
. DO: pasien masih tampak meringis
1
0
Tindakan
Mengidentifikasi skala nyeri
Respon
Ds:
Pasien mengatakan masih merasa nyeri
pada payudara kanannya
Skala nyeri: 5
DO: pasien tampak meringis menahan
nyeri
0
8
. Tindakan
1  memasilitasi istirahat tidur
5 Respon
DS:
Pasien mengatakan tidurnya sedikit lebih
nyenyak dari hari sebelumnya
DO:
Pasien tampak lebih rileks

Tindakan
 Menganjurkan teknik nonfarmakologis
1 untuk meredakan nyeri ( berikan posisi semi
0 fowler )
. DS:
0 Pasien mengatakan sudah lebih nyaman
0 dengan posisi yang diberikan
DO:

33
Pasien tampak nyaman dengan posisinya

Tindakan
 Ajarkan teknik non farmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri (memberikan
Pendidikan kesehatan cara mengurangi
cemas seperti Teknik relaksasi nafas dalam
dan berdoa)
1 DS:
0 Pasien mengatakan merasa cemasnya
. berkurang karena sudah mengerti
1 tentang penkes yang diberikan beserta
5 Teknik relaksasi yang dianjurkan
DO:
Pasien tampak mengerti dan dapat
mempraktekan teknik relaksasi yang
diberikan.

Tindakan
 Berkolaborasi analgesik, jika perlu
(Pemberian kembali cefotaxime/12 jam,
ranitidin/12 jam, keterolac/8 jam melalui
IV )
Respon
DS:
Pasien mengatakan nyerinya sudah
berkurang
1 DO:
0 Pasien tampak rileks dan lebih baik dari
. sebelumnya
2
0

H. Evaluasi Keperawatan
N Hari, tanggal Evaluasi hasil (SOAP) TTD
o Jam
.
D
X
D Rabu, 3/4/2019 S: pasien mengatakan merasakan Najmi
. Jam 14.00 nyeri pada payudara kirinya
0
7 O:
8
P: nyeri akibat benjolan di area dada

34
(payudara) yang membesar
Q: nyeri seperti terbakar
R: nyeri terasa di area dada sampai ke
ketiak
S: skala nyeri 6
T: nyeri berlangsung hilang timbul
Pasien tampak meringis dan gelisah

A: masalah pasien belum teratasi


P: intervensi dilanjutkan
D Kamis, S: pasien mengatakan merasakan Kiana
. 4/4/2019 nyeri pada payudara kanannya,
0 Jam 14.00 pasien mengatakan sulit tidur
7 karena nyeri yang tiba-tiba hilang
8 timbul.
O:

P: nyeri akibat benjolan di area dada


(payudara) yang membesar
Q: nyeri seperti terbakar
R: nyeri terasa di area dada sampai ke
ketiak
S: skala nyeri 6
T: nyeri berlangsung hilang timbul
Pasien terlihat meringis menahan nyeri
dan tampak gelisah

A: masalah belum teratasi


P: intervensi di lanjutkan
D Jum’at, S: pasien mengatakan masih Okta
. 5/5/2019 merasa nyeri , pasien mengatakan
0 Jam 14.00 sedikit lebih nyaman
7 O:
8
P: nyeri akibat benjolan di area dada
(payudara) yang membesar
Q: nyeri seperti terbakar
R: nyeri terasa di area dada sampai ke

35
ketiak
S: skala nyeri 5
T: nyeri berlangsung hilang timbul
Pasien tampak lebih rileks, dan lebih
nyaman

A: masalah pasien sudah teratasi


sebagian
P: intervensi dilanjutkan

3.3 Skenario

PEMERAN:

Narator : Maya Dias Kencana Rukmi

Ny. E : Najmi Afifah

Anak Pasien : Nada Nadidah Faras Dita Putri

Perawat 1 : Nagita Nabila Cansa

Perawat 2 : Ranti Fauziyah

Dokter : Nada Sya’bany Al Humairo

Spiritual worker : Kiana Rani Nurwita

Radiologi : Nurmala Sepiani

Laboratorium worker : Oktaviyana Tri Handayani

ADEGAN 1

36
Pada 10 September 2021 pukul 08.00 perawat 1 melakukan pengkajian fisik pasien.

Perawat 1 : “Assalamualaikum, selamat pagi ibu. saya ners Nabila yang


sebelumnya telah melakukan kontrak waktu untuk melakukan
pengkajian kepada Ny. E, baik, sesuai dengan kontrak program yang
telah dibuat, saya akan melakukan pengkajian kepada Ny. E ya bu”

Ny. E : “Iya ners silahkan (mempersilahkan perawat melakukan pengkajian


dengan ekspresi wajah cemas)”

Perawat 1 : “Baik ibu, sebelumnya bisa sebutkan nama dan juga tanggal lahir ibu?
(sambil mengecek gelang identitas pasien)

Ny. E : “Nama saya E, tanggal lahir tanggal 20 Agustus tahun 1976”

Perawat 1 : “Baik bu (menandakan pernyataan pasien sesuai dengan identitas


pasien) sudah sesuai ya ibu, sebelum saya melakukan pengkajian,
apakah ada yang ingin ibu tanyakan terlebih dahulu?”

Ny. E : “Ners saya mau tanya, kenapa ya, nyeri di payudara saya tidak hilang-
hilang ya ners, rasanya kayak terbakar gitu, pada bagian payudara
sebelah kanan saya”

Perawat 1 : “Ibu merasa sakit pada payudara kanan ibu ya bu, mohon maaf
sebelumnya ya ibu, apakah saya sudah boleh melakukan pengkajian
kepada ibu?”

Ny. E : “Silahkan ners” (menjawab silahkan kepada perawat)

Perawat 1 : “Saya akan mengukur skala nyeri ibu terlebih dahulu ya ibu” (sambil
menunjukan template pengukuran skala nyeri) ”Jadi bu di sini saya
memiliki pengukuran skala nyeri yang ibu rasakan.

 Skala 0 berarti tidak ada nyeri sama sekali


 Skala 1-3 berarti nyeri ringan (masih bisa ditahan, tidak sampai
mengganggu aktifitas)
 Skala 4-6 berarti Nyeri Sedang (sudah mulai mengganggu aktifitas)

37
 Skala 7-10 berarti Nyeri Berat (sampai tidak bisa melakukan
aktifitas fisik secara mandiri).
“dari skala nyeri ini mana tingkatan nyeri yang ibu rasakan”

Ny. E : “Skala nyeri saya 6 ners, karena saya merasa nyeri dan nyeri yang
saya rasakan mengganggu aktivitas ners dan juga sangat tidak
nyaman”.

Perawat 1 : “Apakah ibu mengkonsumsi obat yang sudah diresepkan oleh dokter
secara teratur?”.

Ny. E : “Iya ners sudah teratur, tetapi masih terasa nyeri”.

Anak Pasien : “Benar ners sudah teratur, saya selalu memastikannya”.

Perawat 1 : “Apakah makanan dan minuman ibu yang diberikan oleh ahli gizi
selalu dihabiskan?”.

Anak Pasien : “Nafsu makan ibu saya berkurang ners, saat diberikan makanan tidak
pernah dihabiskan”

Perawat 1 : “Bisa diceritakan kenapa ibu tidak nafsu makan?”

Ny. E : “Karena rasa nyeri yang saya rasakan tidak hilang-hilang ners dan
juga saya tidak begitu suka makanan rumah sakit.”

Perawat 1 : “Baik ibu, saya mengerti dengan kondisi ibu sekarang, selanjutnya
kami akan menyediakan makanan yang ibu sukai ya bu”

Ny. E : “Baik ners”

Perawat 1 : “Sekarang saya akan mengkaji pola BAB dan BAK ibu ya bu.
Biasanya ibu berapa kali buang air besar bu?”

Ny. E : “Ketika di rumah saya BAB 1x sehari”

Perawat 1 : “1x ya bu, lalu bagaimana warna dan konsistensinya? keras atau
lembek bu?”

38
Ny. E : “warnanya kuning dan lembek “

Perawat 1 : “lalu setelah di rumah sakit bagaimana BAB nya bu?”

Ny. E : “saya sudah BAB 1x ners, warnanya kuning kecoklatan dan


konsistensinya keras”

Perawat 1 : “baik, lalu bagaimana dengan buang air kecilnya bu selama di rumah
dan di rumah sakit?”

Ny. E : “saat di rumah saya BAK 3-5 kali sehari warnanya kuning jernih, dan
di rumah sakit saya buang air kecil 3-5 kali sehari”

Perawat 1 : “baik, apa ibu merasa sakit ketika BAB atau BAK, atau mungkin ada
darah bu?”

Ny. E : “tidak sakit dan tidak ada darah Ners”

Perawat 1 : “baik ibu, lalu bagaimana pola tidur ibu, selama di rumah dan di
rumah sakit, apakah ibu tidurnya nyenyak?”

Ny. E : “Ketika di rumah saya tidur kurang lebih 7 jam perhari tetapi saat di
rumah sakit saya hanya tidur kurang lebih 5 jam ners, dan tidak
nyenyak”.

Perawat 1 : “ibu sering terbangun bu?”

Ny. E : “iyaa ners, karena tiba-tiba muncul nyerinya”.

Perawat 1 : “tiba-tiba nyeri gitu ya bu. Baik lalu bagaimana dengan kebersihan
diri ibu? Ibu berapa kali mandi dan gosok gigi bu?”

Ny. E : “saya di rumah mandi 2-3x sehari ners, gosok gigi 2x sehari”

Perawat 1 : “lalu saat di rumah sakit bagaimana bu?”

Ny. E : “di rumah sakit saya mandi 2x ners, gosok giginya 2x juga”

39
Perawat 1 : “baik. (memegang tangan pasien) ibu sering merawat kuku bu?”

Ny. E : “saya biasanya meotong kuku 1x seminggu tetapi di rumah sakit


belom dipotong kukunya ners”.

Perawat 1 : “baik bu. Nanti dipotong kukunya ya bu. Jangan sampai lupa”

Ny. E : “baik ners”

Perawat 1 :”Terima kasih banyak ibu sudah kooperatif dengan saya dalam
melakukan pengkajian ini. Nanti jam 12 siang akan datang Ners Ranti
yang akan melakukan pengkajian juga pada ibu. Saya kembali ke nurse
station dulu ya bu, jika ibu butuh bantuan sesuatu ibu bisa memencet
bel yang ada di samping tempat tidur ibu, saya pamit ya bu.
Wassalamu’alaikum”

Ny. E : “wa’alaikumussalam baik, terima kasih ners”

ADEGAN 2

Pada pukul 12.00 perawat 2 melakukan pengkajian spiritual dan kultural

Perawat 2 : “Assalamualaikum, selamat siang ibu. Saya ners Ranti yang akan
melakukan pengkajian lanjutan kepada Ny. E. Baik, sesuai dengan
kontrak program yang telah dibuat, saya akan melakukan pengkajian
kepada Ny. E ya bu, apa ibu bersedia.”

Ny. E : “bersedia, ners”

Perawat 2 : “ baik, ibu kalau boleh tau ibu lahir dimana bu?

Ny. E : “saya lahir di Yogyakarta ners”

Perawat 2 : “oh Yogyakarta, kalau begitu sukunya suku jawa, benar bu?”

Ny. E : “ benar, ners”

40
Perawat 2 : “baik, apa ibu masih menganut budaya lama selama sehari-hari bu?”

Ny. E : “saya masih menganut budaya lama, tapi saya masih bisa
mengimbangi dengan budaya sekarang ners”

Perawat 2 : “Jadi tidak mengalami tumpang tindih dengan budaya lama ya bu?”

Ny. E : “ iyaa benar sekali ners”

Perawat : “baik. Ibu biasanya kalau di rumah sering ikut kegiatan keagamaan
tidak bu?”

Ny. E : “saya aktif dalam kegiatan pengajian ners. Biasanya dilakukan di hari
Jum’at”

Perawat 2 : “begitu ya bu”

Ny. E : “ners, saya pasti bisa sembuh kan ners?”

Perawat 2 : “ibu percaya kan bu bahwa setiap penyakit ada obatnya?”

Ny. E : “ saya percaya ners”

Perawat 2 : “ kami di sini juga selalu mendoakan kesembuhan untuk ibu, jadi ibu
tenang saja ya bu” (memegang tangan pasien)

Ny. E : “terima kasih ners”

Perawat 2 : “Terima kasih banyak ibu sudah kooperatif dengan saya dalam
melakukan pengkajian ini. Saya Kembali ke nurse station dulu ya bu,
jika ibu butuh bantuan sesuatu ibu bisa memencet bel yang ada di
samping tempat tidur ibu, saya pamit ya bu. Wassalamu’alaikum”

Ny. E : “wa’alaikumussalam baik, terima kasih ners”.

ADEGAN 3

41
Perawat 2 : “Assalamualakum, selamat pagi. Perkenalkan saya ners Ranti yang
akan bertugas pagi ini. Apakah benar ini dengan keluarga dari pasien
yang bernama Ny. E?”

Anak pasien : “Wa’alaikum salam, iya saya anaknya. Ada apa ya ners?”

Perawat 2 : “Mba boleh ikut saya untuk bicara sebentar?”

Anak pasien : “Oh ... baik ners”

Perawat 2 : “Baik, mari ikut dengan saya mba”

Perawat dan ibu pasien pun pergi menuju Nurse Station.

ADEGAN 4

Perawat 2 : “Silahkan duduk Mba” (sambil menunjuk kearah kursi) “Sebelumnya


apakah Bapak ada mba?”

Anak pasien : “Ayah kerja di luar negeri ners dan baru akan pulang sekitar 2 hari,
jadinya untuk sementara saya yang jaga ibu di rumah sakit”

Perawat 2 : “Baik mba. Seperti yang sudah dokter sampaikan sebelumnya bahwa
ibu mba didiagnosis ca mamae grade 3 dan mengenai pengobatannya
sendiri Ny. E harus menjalani mastektomi yaitu mengangkat seluruh
payudara yang terkena kanker yang dimana tujuannya untuk mencegah
penyebaran sel kanker yang makin luas. Dan dokter sudah sampaikan
bahwa operasinya akan dijadwalkan setelah Ayah mba selaku suami
Ny. E mengisi informed concern. Sebelumnya apakah ada yang ingin
ditanyakan mba?”

Anak pasien : “berarti untuk menjalankan operasi harus menunggu ayah dulu ya
ners”

Perawat 2 : “benar mba, kita berdoa ya untuk kesembuhan Ny. E”

42
Anak pasien : “Iya ners, tolong sembuhkan ibu saya ya ners.”

Anak pasien pun kembali menuju ke ruangan dimana ibunya dirawat, dan ia
memberitahukan hal tersebut kepada ibunya. Semenjak pasien mengetahui akan
dilakukan operasi pengangkatan payudara, pasien sangat terpukul. Pasien diam saja dan
sering mengatakan bahwa dia tidak akan hidup lama lagi. Semangat hidupnya seakan
sudah hilang.

ADEGAN 5

Setelah beberapa saat perawat 1 dan perawat 2 pun datang ke ruangan pasien.

Perawat 1 : “Assalamualaikum”

Pasien : (tidak menjawab salam dan hanya terdiam)

Anak Pasien : “Waalaikumsalam ners”

Perawat 1 : “Selamat sore bu, saya Ners Nabila ingin mengantarkan makanan
untuk sore ini, apakah benar dengan Ny. E?”

Anak Pasien : “benar ners”

Pasien : “Saya tidak mau makan, buat apa makan, penyakit saya juga kan ga
sembuh-sembuh” (menepis makanan yang dipegang oleh perawat)

Perawat 1 : “Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, ibu harus percaya akan
hal itu. Ibu juga harus ingat bahwa orang di sekitar ibu itu sayang sama
ibu, dan menginginkan ibu sembuh. Keluarga ibu sudah berusaha untuk
kesembuhan ibu, sekarang tinggal ibu yang harus berjuang untuk
melawan penyakit ibu, ibu harus sembuh setidaknya untuk orang-
orang yang sayang sama ibu”

Pasien : (terdiam)

43
Perawat 2 : “Apa yang sedang ibu pikirkan? Mungkin ada yang ingin ibu
ceritakan?”

Pasien : “Saya merasa khawatir ners karena seminggu lagi saya akan operasi
pengangkatan payudara bagian kanan. Jujur saya takut dan cemas ners”

Perawat 2 : “memang apa yang ibu khawatirkan?”

Pasien : “sebagai seorang perempuan saya belum rela kehilangan salah satu
payudara saya ners. Namun di sisi lain saya juga ingin sembuh.”

Perawat 2 : “Saya bisa merasakan apa yang ibu rasakan, namun saya pikir inilah
jalan terbaik untuk kesembuhan ibu”

Pasien : “Iya ners, tapi tetap saja masih terasa takut. Soalnya ini pengalaman
pertama saya. Saya takut tidak bisa menahan rasa sakitnya ners.
Sepertinya hidup saya sudah tidak lama lagi ya ners?”

Perawat 2 : “jangan khawatir bu, nanti ketika dioperasi ibu akan dibius total agar
tidak merasa sakit. Dan kami sebagai tim medis akan melakukan hal
yan terbaik bagi kesembuhan ibu. Mohon maaf ibu, saya izin bertanya,
apakah ada pengobatan yang bertentangan dengan keyakinan ibu?”

Pasien : “tidak ada sih ners, atau saya tidak usah operasi saja ya ners, saya
pilih untuk pengobatan alternative lain untuk mengobati kankernya?
Saya sangat sedih ners, saya sudah putus asa dengan penyakit saya.”

Perawat 2 : “coba ibu pikirkan jika ibu menyerah dengan penyakit ibu, bagaimana
perasaan keluarga ibu nanti? Lalu apakah masih mungkin untuk
dilakukan pengobatan alternative?”

Pasien : “kata keluarga saya ini jalan yang terbaik karena kanker saya sudah
memasuki stadium III ners. Sehingga harus dilakukan pengangkatan
payudara.”

Perawat 2 : “Biasanya bila ibu merasa khawatir apa yang ibu lakukan?”

44
Pasien : “Biasanya saya memperbanyak dzikir dan berdoa kepada Allah SWT
ners”

Perawat 2 : “Iya itu sudah bagus bu, dengan berdoa semoga hati ibu bisa menjadi
tenang dan operasi ibu bisa berjalan dengan lancar”

Pasien : “Tapi saya juga takut nanti kalau setelah operasi, tidak bisa menahan
rasa sakitnya ners.”

Perawat 2 : “untuk itu, dokter pasti akan memberikan obat untuk menghilangkan
rasa sakit itu bu. Biasanya setelah pembiusan pasien merasa
tenggorokannya gatal dan ingin batuk. Untuk meminimalkan kontraksi
di daerah sekita jahitan. Ketika ibu batuk bisa diletakkan bantal di dada
ibu agar bekas luka tidak berkontraksi.”

Pasien : “ohhh jadi seperti itu ya ners”

Perawat 2 : “iya bu, melihat dari kondisi ibu sekarang. Nanti saya akan
memberikan aromaterapi agar ibu merasa rileks sebelum menjalani
operasi”

Pasien : “tapi apakah setelah operasi nanti, saya masih bisa menjalani
kehidupan saya seperti biasa ners?”

Perawat 2 : “pasti bisa bu, malah lebih baik. Sebelumnya ibu merasa selalu nyeri
dengan payudara kanan ibu. Dan setelah di operasi nyeri itu sudah
hilang. Ibu juga bisa menyiasati payudara ibu dengan pakaian-pakaian
yang longgar jadi tidak terlihat kalau payudara kanan ibu sudah
diangkat.”

Pasien : "Baik ners saya sudah mulai mengerti"

Perawat 1 : "jadi bagaimana perasaan ibu sekarang?"

Pasien : "saya sudah merasa mulai tenang ners setelah ngobrol-ngobrol sama
ners. Terima kasih ya ners"

45
Perawat 1 : “iya sama-sama bu., ini sudah kewajiban saya untuk memberi
dukungan kepada pasien-pasien.

Ny. E : Ners saya ada permintaan

Perawat 1 : Apa itu bu?

Ny. E : Apa boleh jika sebelum operasi didatangkan ustadzah untuk


mendoakan saya bersama-sama ners?

Perawat 1 : (tersenyum) boleh ibu, nanti akan kami datangkan ustadzahnya ya bu.

Pasien : “iya ners”

Perawat 1 : “kalau begitu saya permisi dulu ya bu, selamat beristirahat bu”

Pasien : “baik ners”

(perawat 1 dan perawat 2 kembali ke nurse station)

ADEGAN 6

Staff medis berdiskusi mengenai care plan pada pasien E tanggal lahir 20-08-1976.
Diskusi tanggal 11/09/2021 pukul 08:00 WIB

Dokter : “Selamat pagi, saya dokter …, saya ingin melihat catatan medis
pasien atas nama pasien E tanggal lahir 20 Agustus Tahun 1976”.

Radiologi : “Berdasarkan hasil pemeriksaan dok, pasien didiagnosis Ca.


Mammae grade III”.

Lab. worker : “Saya juga ingin lapor, dari hasil laboratorium, atas nama pasien E
pada tanggal 10 September 2021 tidak mengalami perubahan dok”.

Perawat 1 : “Berdasarkan hasil pengkajian keluhan pasien masih merasakan nyeri


dengan skala nyeri 6 dok”.

46
Perawat 2 : “Ini dok, berikut hasil pengkajiannya (menyerahkan hasil
dokumentasi pengkajian pasien) pasien mengatakan ingin dipanggilkan
ustadzah saja dok, untuk didoakan bersama”.

Perawat 1 : “Kami sudah melakukan juga kontrak waktu dengan spiritual worker
RS dan bersedia melakukan pendekatan spiritual pada pasien hari ini
pada jam 10:00 WIB”.

Dokter : “Baik terima kasih semua atas penjelasannya. Untuk pengobatan


pasien tidak ada tambahan dosis obat. Berikan sesuai dengan resep
yang tertera. Saya akan melakukan kunjungan setelah dilakukan
pendekatan spiritual untuk implementasi lanjutan pada pasien,
semuanya bisa kembali bekerja”

ADEGAN 7

Pada tanggal 11/09/2021 pukul 08:00 WIB perawat mengundang ustadzah untuk
melakukan doa bersama

Perawat 2 : Sesuai dengan keinginan ibu untuk didoakan bersama-sama, kami


telah bekerja sama dengan ustadzah …”

Ustadzah : “Perkenalkan saya ustadzah … yang akan membimbing doa untuk ibu
E hari ini, supaya ibu E diringankan sakitnya dan senantiasa didekatkan
rohaninya pada Allah SWT. Baik sama-sama kita mulai ya bu,
bismillahirahmanirahiim (membacakan alfatihah) Amin”

Semuanya : “Amin Ya Rabbal alamiin”

Ustadzah : “Selanjutnya kita berdoa fokus untuk kesembuhan pasien, mari kita
berdoa bersama-sama ya bu. Bismillahirohmanirrohim, Allahumma
Rabbannaasi Adzhibil Basa Wasy Fihu. Wa Antas Syaafi, Laa Syifaa-A
Illa Syifaauka, Syifaa-An Laa Yughaadiru Saqomaa. Ya Allah, Rabb
manusia, hilangkanlah kesusahan dan berilah dia kesembuhan, Engkau

47
Zat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali
kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit
lain” (HR Bukhari dan Muslim)

Ny. E dan ibu pasien : “aamiin ya robal alaamin”.

Setelah berdoa Bersama-sama, pasien sudah tidak takut untuk menjalani operasi.

48
BAB IV
PENUTUP

4.1 Simpulan
Perawatan paliatif menekankan manajemen psikologis, sosial, dan masalah
spiritual selain untuk mengontrol rasa sakit dan gejala fisik lainnya. Tujuan perawatan
paliatif adalah untuk meningkatkan kualitas kehidupan pasien dan keluarga, dan banyak
aspek dari jenis komprehensif ini, berfokus pada kenyamanan pendekatan perawatan
dapat diterapkan lebih awal dalam proses penyakit yang mengancam jiwa dalam
hubungannya dengan penyembuhan yang berfokus pada perlakuan.
Asuhan keperawatan paliatif merupakan suatu proses atau rangkaian kegiatan
praktek keperawatan yang langsung diberikan kepada pasien dengan menggunakan
pendekatan metodologi proses keperawatan berpedoman pada standart keperawatan,
dilandasi etika profesi dalam liungkup wewenang serta tanggung jawab perawat yang
mencakup wewenang serta tanggung jawab perawat pada seluruh proses kehidupan,
dengan menggunakan pendekatan holistik mencakup pelayanan biopsikososiospritual
yang komprehensif dan bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Sehat, sakit,
dan penyakit bukan hanya kondisi terkait biologis dan psikologis, namun juga terkait
dengan status social (Clarke, 2010). Dimensi social tersebut merupakan inti dari studi
sosiologi mengenai sehat dan sakit.

4.2 Saran
Sebagai calon perawat, hendaknya kita dapat mempelajari serta menerapkan
tentang bagaiman proses merawat pasien yang menderita penyakit terminal/ akhir. Karena
dengan disusunnya makalah ini, diharapkan dapat menjadi proses pembelajaran untuk
melakukan perawatan palliative care secara benar dan tepat sehingga tidak menimbulkan
dampak dan risiko bagi keluarga pasien maupun tenaga kesehatan.

49
DAFTAR PUSTAKA

Anita, A. (2016). Perawatan Paliatif dan Kualitas Hidup Penderita Kanker. Jurnal Kesehatan,
7(3), 508. https://doi.org/10.26630/jk.v7i3.237

Ariani, S. (2015). Stop! Kanker. Istana Media.

Hartati Nurwijaya et all. (2010). Cegah dan deteksi kanker serviks. Elex Media Komputindo.

Komite Penanggulangan Kanker Nasional. (2019). Panduan Penatalaksanaan Kanker


Payudara (Breast Cancer Treatment Guideline). Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia. http://kanker.kemkes.go.id/guidelines/PPKPayudara.pdf

Muntamah, U. (2020). Pedoman Perawatan Paliatif Pada Orang Dengan HIV/AIDS


(ODHA) di Rumah Sakit (M. Kavid, M. D. Saputro, W. Saputra, & O. D. Purnama
(eds.); Vol. 53, Issue 9). Yuma Pustaka.
http://repository.itspku.ac.id/226/1/PERAWATAN PALIATIF HIV AIDS Cetak.pdf

Poerin, N. O., Arisanti, N., Sudjud, R. W., & Setiawati, E. P. (2018). Gambaran Persepsi
Masyarakat tentang Keberadaan Pelayanan Paliatif di Kota Bandung. Jurnal Komunitas
& Darurat, 4, 133–139.

Sobri, F. B., Azhar, Y., Wibisana, I. G., & Rachman, A. (2017). Manajemen Terkini Kanker
Payudara (1st ed.). Media Aesculapius.

Yodang. (2018). Buku Ajar Keperawatan Paliatif (A. W. Arr & A. Maftuhin (eds.); 1st ed.).
CV. Trans Info Media.

50

Anda mungkin juga menyukai