Anda di halaman 1dari 9

Kami gunakan cookies untuk memperbaiki penawaran kami bagi Anda.

Informasi lebih lanjut bisa


Anda baca dalam penjelasan perlindungan data kami.

Informasi lebih lanjut OK

Inhalt
Navigation
Weitere Inhalte
Metanavigation
Suche
Choose from 30 Languages

Albanian Shqip
Amharic አማርኛ
Arabic ‫العربية‬
Bengali বাংলা
Bosnian B/H/S
Bulgarian Български
Chinese (Simplified) 简
Chinese (Traditional) 繁

Croatian Hrvatski
Dari ‫دری‬
English English
French Français
German Deutsch
Greek Ελληνικά
Hausa Hausa
Hindi हिन्दी

Indonesian Indonesia
Kiswahili Kiswahili
Macedonian Македонски
Pashto ‫پښتو‬
Persian ‫فارسی‬
Polish Polski
Portuguese Português para África
Portuguese Português do Brasil

Romanian Română
Russian Русский
Serbian Српски/Srpski
Spanish Español
Turkish Türkçe
Ukrainian Українська
Urdu ‫اردو‬

DW.COM IN 30 LANGUAGES
DW AKADEMIE
TENTANG DW
DW.COM
Deutsche Welle

 BERANDA
o Indonesia
o Jerman
o Dunia
o Iptek
o Sosbud
o DWNESIA
o ECOFRONTLINES
 MEDIA CENTER
o Live TV
o Semua konten media
 BAHASA JERMAN
KURSUS B. JERMAN

o Kursus B. Jerman
o Deutsch Interaktiv
o Mission Europe
o Radio D
o Deutsch - warum nicht?
o Audiotrainer
DEUTSCH XXL

o Deutsch XXL
o Deutsch Aktuell
o Deutsch im Fokus
o Telenovela
o Bandtagebuch
o Landeskunde
COMMUNITY D

o Community D
o Das Porträt
o Podcasts & Newsletter
o Service
DEUTSCH UNTERRICHTEN

o Deutsch unterrichten
o DW im Unterricht
o Unterrichtsreihen
o Deutschlehrer-Info
 INDONESIA
 JERMAN
 DUNIA
 IPTEK
 SOSBUD
 DWNESIA
 ECOFRONTLINES
BERANDA / DWNESIA
Iklan

BLOG

Sakit Gigi di Jerman, Tambah


Pengalaman
Sakit gigi tidak nyaman, di manapun orang berada. Tapi di perantauan,
sakit gigi juga jadi pengalaman menarik. Oleh Angelica Chrestella.
    
Pada bulan Desember 2017 saya ke seorang dokter gigi di Indonesia untuk
menambal gigi geraham kiri. Dokter ini adalah dokter muda yang baru saja buka
praktek bersama dengan istirnya yang baru saja lulus sebagai dokter gigi. Saya
datang mungkin pas hari ke dua pembukaan klinik mereka. Dari analisa dokter
tersebut, gigi geraham kiri bawah saya punya dua lubang dan tidak bisa langsung di
tambal soalnya lubangnya lumayan besar.
Jadi saat itu, pak dokter hanya membersihkan gigi saya, lalu saya harus menjalani
perawatan gigi yang kurang lebih selama 5 hari sampai gigi tidak sakit lagi. Setelah
lima hari, pak dokter mulai menambal gigi saya. Tambalan baik-baik saja walaupun
kadang sering terasa berdenyut, kalau kena air dingin ngilu, dan saya masih tidak
berani mengunyah dengan gigi tersebut karena agak berdenyut. Saya kira itu fase
yang wajar. Ternyata saya salah besar.
Tanggal 6 Oktober 2018, waktu saya sudah berada di Jerman lagi, gigi tambalan
saya tiba-tiba terasa sangat sakit. Sakitnya parah sekali sampai-sampai hari itu saya
harus minum 4 tablet obat pereda nyeri dengan total dosis 1600mg. Saya masih
berpikir, "Ah besok juga sembuh, dibawa tidur saja." Ternyata besoknya juga tetap
masih sangat sakit. Sialnya saat itu adalah hari Minggu, di mana dokter di Jerman
pada tutup. Jadi saya harus menunggu sampai hari Senin agar bisa langsung ke
dokter gigi tanpa janji karena ini termasuk urusan mendesak.

Angelica Chrestella
Tanggal 8 Oktober 2018, saya pergi ke dokter gigi dekat rumah. Saya menceritakan
apa yang saya rasakan pada gigi saya. Pak dokter pun membersihkan gigi saya
terlebih dahulu dan di situlah semuanya terbongkar. Pada saat dibersihkan, gusi
saya terlihat banyak bintik-bintik hitam, alias kuman-kuman gigi. Gusi saya sudah
infeksi parah. Pak dokter pun memberikan antibiotik lokal yang di suntikkan di gusi
untuk membunuh para kuman bakteri penyebab infeksi
dan juga memberikan saya resep antibiotik yang harus di minum selama seminggu
dengan dosis dua tablet sehari.
Tanggal 10 Oktober 2018, saya merasa nyeri gigi saya tambah parah, lebih sakit dan
juga makin terdorong ke atas. Jadi pas saya menggigit, seperti naik sebelah, terasa
sakit, dan goyang. Akhirnya saya meminta suami untuk menelepon ke dokter untuk
menanyakan apakah itu reaksi normal atau saya saja yang berlebihan. Sebelumnya,
pak dokter berpesan sekalipun sakit sekali dan tidak bisa ditahan, jangan ke
emergency di rumah sakit soalnya nanti mereka akan langsung bunuh gigi saya.
Singkat cerita, pak dokter meminta saya untuk datang langsung ke klinik untuk di
periksa. Sekitar jam 11 siang, saya dan suami pun datang ke klinik. Sesampainya di
klinik, saya diberi penjelasan panjang yang intinya, kuman-kuman itu bereaksi
terhadap obat yang diberikan, makanya ada tekanan dari dalam gigi yang
mendorong keatas. Akibatnya gigi terasa goyang, sakit, dan agak mencuat keatas.
Tindakan yang dilakukan oleh dokter gigi saya pada saat itu adalah membuka
tambalan gigi saya yang masih utuh dan menutupnya dengan kapas. Tujuannya
untuk mengurangi tekanan dari kuman-kuman. Benar saja, setelah itu gigi saya
tidak sakit sama sekali. Saya masih melanjutkan antibiotik yang diberikan sehari
sebelumnya sampai abis. 
Teman-teman pasti tahu kan yang namanya antibiotik harus diminum semua sesuai
dosis, walaupun sudah tidak sakit lagi. Kenapa? Karena kalau cuma minum
setengah-setengah nanti kumannya bukan mati, tapi puyeng doang dan itu bisa
membuat kuman tersebut lebih kuat, karena kebal dengan antibiotik yang tidak
selesai itu.

Tanggal 17 Oktober 2018, saya kembali ke dokter untuk periksa lagi. Kali ini pak
dokter akan membuka tambalan gigi saya lebih besar lagi untuk memberikan obat.
Setelah di periksa, gigi saya mempunyai 3 lubang. Kok mendadak jadi tiga ya?
Padahal pas dulu di tambal cuma dua. Tujuan dari pemberian obat ini adalah untuk
membunuh akar gigi. Jadi setelah x-ray dilakukan, ketahuan serusak apa gigi
saya. Rupanya si gigi geraham tambalan saya ini sudah rusak parah sampai ke akar
dan sudah terlalu banyak bakteri yang menyerang akar jadinya akar gigi tersebut
harus dibuang, daripada merambat ke gigi lain. Sedih rasanya divonis harus
ompong.
Ternyata tidak sampai disitu, saya ternyata punya gigi impaksi di bagian geraham
kiri, selang satu gigi dari gigi geraham tambalan saya. X-ray gigi ini sangat saya
rekomendasikan, soalnya kalian bisa ngecek gigi kalian sampai ke akar-akarnya.
Untungnya pada saat itu gigi yang parah banget cuma gigi geraham tambalan dan
gigi bungsu impaksi. Namun sayangnya untuk penanganan lebih lanjut terhadap
dua gigi tersebut, pak dokter merujuk saya ke klinik yang lebih besar agar ditangani
langsung oleh dokter spesialis. Jadi, di Jerman jika harus ke dokter spesialis,
biasanya harus pakai surat rujukan dari Hausarzt atau dokter rumah terlebih
dahulu.
Tanggal 22 Oktober 2018, saya datang ke dokter spesialis untuk konsultasi dan
penjadwalan operasi. Di sana saya sempat bertanya tentang kemungkinan untuk gigi
tambalan saya ini dipertahankan. Dokter mengatakan bahwa kemungkinan untuk
dicabut dan tidak adalah 50-50. Beliau mengatakan, jika nanti pas hari H setelah
dicek giginya tidak bisa diselamatkan, maka gigi tersebut harus dicabut bersamaan
dengan gigi impaksi. Dokter juga menyarankan untuk
langsung mengeksekusi dua gigi tersebut pada hari yang sama. Jadi beliau meminta
saya untuk menkonsumsi penicilin dua hari sebelum hari operasi dan harus
dihabiskan. Sebelum operasi, saya harus sudah makan.
Tanggal 12 November 2018, hari operasi pun tiba. Proses pertama adalah anestesi
gusi. Rasanya luar biasa sakit, sampai-sampai saya menitikan air mata. Setelah di
anestesi, saya diberikan waktu untuk rehat beberapa menit untuk menunggu efek
dari anestesi tersebut. Setelah mulut terasa kebal, bu dokter pun memeriksa gigi
geraham saya yang infeksi, apakah bisa dirawat ataukah harus dicabut. Kabar baik
ternyata geraham saya masih bisa diselamatkan. Jadi yang akan dioperasi adalah
akar si gigi yang infeksi. Setelah di operasi, nanti gigi saya akan diisi dengan sesuatu
yang akan menyelamatkan gigi saya tersebut. Setelah diisi, nanti baru deh di poles. 
Lalu mulailah si dokter beraksi dan seperti yang dokter bilang, prosesnya sekitar 35
menit. Setelah selesai, saya langsung lanjut operasi gigi bungsu kiri atas dan bawah.
Semua proses yang saya jalankan ini gratis, mulai dari periksa gigi sampai dengan
operasi gigi. Biaya tersebut akan menjadi tanggungan asuransi karena termasuk
penanganan yang diperlukan untuk kesehatan.
Pasca operasi, jujur saya tidak merasa sakit seperti yang diceritakan kebanyakan
orang, hanya sakit seperti tercekit-cekit itu paling cuma beberapa jam, lalu sudah.
Mungkin karena saya minum pereda nyeri, tapi saya beneran merasa biasa aja, cuma
ya pipi saya membengkak hehe. Kalau dengar cerita orang, ada yang merasa sangat
sakit dan harus tiduran. Tapi saya tidak. Malah satu hari setelah operasi, saya harus
wawancara untuk izin tinggal saya. Setelah operasi, pipi juga harus dikompres untuk
membantu penyembuhan. Walaupun gigi saya tidak terasa sakit, saya tetap harus
diet produk makanan tertentu seperti alkohol, kopi, dan juga produk susu. Ternyata
masuk di hari ke dua, saya tidak kunjung merasakan sakit, jadi setelah lewat dari 24
jam pertama saya sudah bisa mengunyah. Masuk ke hari ke tiga pasca operasi saya
sudah bisa makan nasi.
Agustus 2019 (kurang lebih hampir satu tahun pasca tragedi yang menimpa gigi
saya), saya kembali lagi ke dokter gigi langganan saya. Ternyata drama panjang gigi
geraham saya ini masih belum usai. Gigi tersebut tiba-tiba sakit lagi. Kali ini
penyebabnya adalah karies gigi yang merambat pada gigi geraham saya tersebut.
Jadi setelah dibersihkan, pak dokter menyarankan saya untuk memakai Zahnkrone
atau mahkota gigi. Mahkota gigi ini befungsi untuk melindungi
gigi geraham saya yang sudah mati ini agar masih bisa bertahan dan tidak terinfeksi
lagi. Dokter memberikan tiga pilihan mahkota, ada yang berwarna perak, emas, dan
keramik sesuai warna gigi. Yang berwarna silver gratis karena akan dibayarkan oleh
asuransi. Saya memilih yang keramik sesuai warna gigi.
Ini termasuk jenis mahkota yang paling baik dan juga mahal. Mahkota ini akan
bertahan kurang lebih 20 tahun. Saya membayar hampir 500 Euro. Asuransi tidak
menangung semua karena mereka hanya menanggung mahkota standar yang
berwarna silver. Jika ingin menggunakan yang lain, sisa dari pembayaran akan
menjadi kewajiban kita.
Semoga ini bisa menjadi pelajaran untuk kita semua, bahwa merawat gigi adalah hal
yang wajib. Jika sudah rusak parah, biaya yang dikeluarkan akan jauh lebih mahal.
Oh ya, dokter gigi saya di Jerman mengatakan, kalau kita rajin ke dokter gigi enam
bulan sekali, maka kita akan mendapatkan bonus yang didokumentasikan pada
semacam buku kecil seperti bisa dilihat di foto. Pesan untuk teman-teman semua,
rajin-rajin lah membersihkan gigi dan jangan lupa untuk ke dokter gigi setiap enam
bulan sekali untuk memeriksakan gigi kita. (ml)
* Angelica Chrestella tinggal di Jerman sejak 2018. Ia rajin menulis berbagai
pengalaman baru hidupnya di Jerman melalui blog pribadinya. Selain menulis, ia
juga senang mengeksplor hal-hal baru mulai dari bermain alat musik, menanam,
memasak, dan juga mengelilingi dunia. 
** DWNesiaBlog menerima kiriman blog tentang pengalaman unik Anda ketika
berada di Jerman atau Eropa. Atau untuk orang Jerman, pengalaman unik di
Indonesia. Kirimkan tulisan Anda lewat mail ke: dwnesiablog@dw.com. Sertakan
1 foto profil dan dua atau lebih foto untuk ilustrasi. Foto-foto yang dikirim adalah
foto buatan sendiri.