Anda di halaman 1dari 9

JPPUMA: Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Sosial Politik UMA, 5 (2) (2017): 85-93

JPPUMA: Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Sosial Politik UMA

Available online http://ojs.uma.ac.id/index.php/jppuma

Faktor Penyebab dan Sanksi Tindak Pidana Penipuan


Kepemilikan Kendaraan Bermotor Secara Melawan
Hukum

Cause and Sanction Factor of Fraud Ownership of Motor


Vehicle Ownership Against Law

Elvi Zahara Lubis*


Fakultas Hukum Universitas Medan Area, Indonesia

Abstrak
Salah satu bentuk kejahatan yang semakin memiliki modus operandi tertentu adalah kejahatan penipuan
kepemilikan kendaraan bermotor secara melawan hukum. Penipuan adalah kejahatan yang termasuk dalam
golongan yang ditujukan terhadap hak milik dan lain-lain hak yang timbul dari hak. Sebagaimana dirumuskan
Pasal 378 KUHP, penipuan berarti perbuatan dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain
secara melawan hukum dengan memakai nama palsu, martabat palsu, tipu muslihat atau kebohongan yang
dapat menyebabkan orang lain dengan mudah menyerahkan barang, uang atau kekayaannya. Faktor penyebab
terjadinya tindak pidana penipuan pemilikan kendaraan bermotor secara melawan hukum adalah disebabkan
oleh empat faktor yaitu faktor ekonomi, faktor keinginan, faktor kesempatan dan faktor lemahnya iman. Sanksi
terhadap pelaku tindak pidana penipuan pemilikan kendaraan bermotor dengan cara melawan hukum adalah
berupa ancaman pidana penjara kepada pelaku selama 4 tahun. Sanksi tersebut dapat diterapkan apabila kepada
pelaku telah terbukti melakukan tindak pidana penipuan pemilikan kendaraan bermotor dengan cara melawan
hukum.
Kata Kunci: Penipuan, Kendaraan, Melawan Hukum

Abstract
One form of crime that increasingly has a certain modus operandi is a crime of motor vehicle fraud unlawfully.
Fraud is a crime that belongs to a class devoted to property rights and other rights arising from rights. As
formulated in Article 378 of the Criminal Code, fraud means deeds with the intent to benefit themselves or others
unlawfully by using false names, false dignity, deceit or lies that may cause others to easily surrender their goods,
money or wealth. Factors causing the crime of motor vehicle ownership fraud unlawfully are caused by four factors
namely economic factor, desire factor, opportunity factor and the weak factor of faith. Sanctions against
perpetrators of criminal fraud of motor vehicle ownership by unlawful means in the form of criminal punishment of
imprisonment to perpetrators for 4 years. Such sanctions may be applied if the perpetrator has been proven to
commit a criminal act of fraudulent vehicle ownership in a manner which is against the law.
Keywords: Fraud, Vehicle, Against the Law

How to Cite: Lubis, E.Z., (2017). Faktor Penyebab dan Sanksi Tindak Pidana Penipuan Kepemilikan
Kendaraan Bermotor Secara Melawan Hukum. JPPUMA: Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Sosial Politik
UMA, 5 (2): 85-93
*Corresponding author: p-ISSN: 2549 1660
E-mail: elvizaharalubisuma@gmail.com e-ISSN: 2550-1305

85
Elvi Zahara Lubis, Faktor Penyebab dan Sanksi Tindak Pidana Penipuan Kepemilikan

PENDAHULUAN Peranan hukum tidak tertulis dalam


Hukum merupakan keseluruhan kehidupan masa sekarang memang sudah
peraturan tingkah laku yang berlaku sangat merosot. Hukum tidak tertulis
dalam suatu kehidupan bersama, yang tidak lagi merupakan sumber hukum yang
dapat dipaksakan dengan suatu sanksi. penting sejak sistem hukum semakin
Pelaksanaan hukum dapat berlangsung mendasarkan kepada hukum perundang-
secara normal dan damai, tetapi dapat undangan. Di samping itu hukum tidak
terjadi juga karena pelanggaran hukum tertulis sifatnya beraneka ragam dan oleh
maka hukum harus ditegakkan. karenanya juga kurang menjamin
Pembangunan dan pembinaan hukum di kepastian hukum.
Indonesia didasarkan atas Pancasila dan Harta kekayaan merupakan salah
Undang-Undang Dasar 1945, yang satu hal yang perlu dilindungi dalam
diarahkan agar dapat menciptakan kondisi hukum. Segala tindak kejahatan atau
yang lebih mantap, sehingga masyarakat percobaan kejahatan terhadap harta
dapat menikmati suasana tertib dan kekayaan perlu diadili dalam persidangan
adanya kepastian hukum yang berintikan demi terciptanya kepastian hukum dalam
keadilan. masyarakat. Kejahatan merupakan
Peraturan pokok hukum pidana yang fenomena yang ada di masyarakat, oleh
sampai sekarang masih berlaku di karena itu tidak dapat terlepas dari
Indonesia adalah Kitab Undang-undang kehidupan sehari-hari. Kejahatan adalah
Hukum Pidana, yang diberlakukan masalah manusia yang berupa kenyataan
berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 sosial, yang sebab musababnya kurang
Tahun 1946 junto Undang-Undang Nomor dipahami. Hal ini terjadi dimana saja dan
73 Tahun 1958 tentang pemberlakuan kapan saja dalam pergaulan hidup. Naik
KUHP untuk seluruh Indonesia. Dalam turunnya angka kejahatan tergantung
penerapan hukum pidana hakim terikat pada keadaan masyarakat, keadaan politik,
pada asas legalitas yang dicantumkan pada ekonomi, kebudayaan dan lain sebagainya.
Pasal 1 ayat (1) KUHP yang menyatakan: Berhadapan dengan suatu gejala yang luas
”Tiada suatu perbuatan dapat dipidana dan mendalam, yang bersarang sebagai
kecuali atas ketentuan aturan pidana penyakit dalam tubuh masyarakat,
dalam perundang-undangan yang telah sehingga membahayakan kehidupan
ada, sebelum perbuatan dilakukan.” setidak-tidaknya menimbulkan kerugian.
Perlindungan hukum akan dapat Kemajuan dalam kehidupan di
memberi rasa aman dan tentram dengan masyarakat modem yang dalam
adanya kepasatian hukum. Para ahli kemajemukan kepentingan nampaknya
hukum mengatakan bahwa ’perlindungan memudahkan kemungkinan timbulnya
hukum’ dengan ’kepastian hukum’ konflik kepentingan serta godaan hidup
merupakan dua hal yang tidak mewah di satu pihak dan di lain pihak
terpisahkan. Perlindungan hukum tidak tidak adanya keseimbangan antara
akan dapat dirasakan tanpa kepastian pendapatan dan pengeluaran, khususnya
hukum. Sebaliknya dengan tegaknya untuk biaya hidup dalam batas kelayakan
kepastian hukum maka perlindungan manusia. Hal tersebut memberikan
hukum akan dapat dinikmati masyarakat. peluang dan memicu warga masyarakat
Kepastian hukum yang dimaksud para ahli yang tidak teguh dalam ketaqwaan dan
hukum ini adalah penegakan hukum yang keimanannya, melakukan tindakan
dapat diterima oleh golongan terbesar melanggar norma hukum, norma agama
penduduk dan mayoritas dari penduduk. dan norma susila. (Arief, 2010: 287)
Dalam masyarakat sendiri, selain Di dalam realita kehidupan manusia
hukum tertulis juga mengenal hukum kejahatan merupakan suatu permasalahan
tidak tertulis. Hukum tidak tertulis ini yang tidak akan pernah ada habisnya.
hidup dan berkembang dalam masyarakat. Apalagi seperti keadaan sekarang di negara

86
JPPUMA: Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Sosial Politik UMA, 5 (2) (2017): 85-93

Indonesia ini yang mengalmi penurunan Dalam ketentuan Pasal 378 penipuan
Rupiah dibandingkan dengan Dollar terdiri dari unsur-unsur obyektif yang
Amerika yang berakibat semakin tingginya meliputi perbuatan (menggerakkan), yang
biaya ekonomi. Untuk mengatasinya, digerakkan (orang), perbuatan itu
banyak perusahaan-perusahaan yang ditujukan pada orang lain (menyerahkan
mengurangi jumlah karyawannya agar benda, memberi hutang, dan
perusahaan tersebut tetap berdiri. Dengan menghapuskan piutang), dan cara
adanya hal yang demikian maka secara menggerakkan dengan memakai nama
tidak langsung telah menambah jumlah palsu, memakai martabat palsu, memakai
pengangguran. Hal ini membuat tipu muslihat, dan memakai serangkaian
timbulnya niat seseorang untuk kebohongan. Selanjutnya adalah unsur-
melakukan kejahatan karena mereka unsur subyektif yang meliputi meksud
terhimpit oleh kebutuhan hidup sehingga untuk menguntungkan diri sendiri dan
mereka melakukan aksi kejahatan. orang lain dan maksud melawan hukum
Telah diketahui bersama bila jumlah (Farid, 2007: 224).
pengangguran bertambah besar dan sulit Penipuan adalah kejahatan yang
untuk memperoleh pekerjaan, sedangkan termasuk dalam golongan yang ditujukan
mereka harus tetap memenuhi kebutuhan terhadap hak milik dan lain-lain hak yang
mereka sehari-hari maka mereka timbul dari hak milik atau dalam bahasa
cenderung untuk melakukan suatu belanda disebut "misdrijven tegen de
kejahatan. Hal ini dapat diketahui melalui eigendom en de daaruit voortloeiende
pemberitaan di media cetak maupun zakelijk rechten". Sebagaimana
media elektronik mengenai meningkatnya dirumuskan Pasal 378 KUHP, penipuan
kejahatan yang terjadi akhir-akhir ini. berarti perbuatan dengan maksud untuk
(Arief, 2010: 56). Salah satu bentuk menguntungkan diri sendiri atau orang
kejahatan yang semakin memiliki modus lain secara melawan hukum dengan
operandi tertentu adalah kejahatan memakai nama palsu, martabat palsu, tipu
penipuan kepemilikan kendaraan muslihat atau kebohongan yang dapat
bermotor secara melawan hukum. menyebabkan orang lain dengan mudah
Tindak pidana penipuan merupakan menyerahkan barang, uang atau
salah satu kejahatan yang mempunyai kekayaannya.
obyek harta benda. Di dalam Kitab Penipuan memiliki 2 (dua)
Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) pengertian, yaitu: 1) Penipuan dalam arti
tindak pidana ini di atur dalam bab XXV luas, yaitu semua kejahatan yang yang
BUKU II dan terbentang dari Pasal 378 s/d dirumuskan dalam bab XXV KUHP, 2)
395 (Sianturi, 2011: 631). Dalam Pasal 378 Penipuan dalam arti sempit, yaitu bentuk
yang berbunyi: penipuan yang dirumuskan dalam Pasal
Barangsiapa dengan maksud untuk 378 (bentuk pokok) dan Pasal 379 (bentuk
menguntungkan diri sendiri atau khusus), atau biasa dengan sebutan
orang lain secara melawan hukum, oplichting.
dengan memakai nama palsu atau Ketentuan Pasal 378 ini merumuskan
martabat palsu, dengan tipu tentang pengertian penipuan (oplichting)
muslihat, ataupun rangkaian itu sendiri. Rumusan ini adalah bentuk
kebohongan, menggerakkan orang pokoknya, dan ada penipuan dalam arti
lain untuk menyerahkan barang sempit dalam bentuk khusus yang
sesuatu kepadanya, atau supaya meringankan. Karena adanya unsur
memberikan hutang maupun khusus yang bersifat meringankan
menghapus piutang, diancam karena sehingga diancam pidana sebagai
penipuan dengan pidana penjara penipuan ringan yakni dalam Pasal 379.
paling lama empat tahun (Farid, Sedangkan penipuan dalam arti sempit
2007: 224). tidak ada dalam bentuk diperberat.

87
Elvi Zahara Lubis, Faktor Penyebab dan Sanksi Tindak Pidana Penipuan Kepemilikan

Rumusan penipuan tersebut terdiri dari dari luar diri si pelaku itu sendiri yang
unsur-unsur objektif yang meliputi didasari oleh faktor rumah tangga dan
perbuatan (menggerakkan), yang lingkungan (Hamzah, 2008: 64).
digerakkan (orang), perbuatan itu Adapun faktor penyebab yang
ditujukan pada orang lain (menyerahkan mendominasi terjadinya tindak pidana
benda, memberi hutang, dan tindak pidana penipuan pemilikan
menghapuskan piutang), dan cara kendaraan bermotor secara melawan
melakukan perbuatan menggerakkan hukum yang dilakukan terhadap anak di
dengan memakai nama palsu, memakai bawah umur adalah faktor ekonomi, faktor
tipu muslihat, memakai martabat palsu, keinginan, faktor kesempatan dan faktor
dan memakai rangkaian kebohongan. lemahnya iman (Jauzy, 2004: 54).
Selanjutnya adalah unsur-­unsur subjektif Faktor ekonomi memegang
yang meliputi maksud untuk peranan penting untuk menentukan
menguntungkan diri sendiri atau orang arah hidupnya. Demikian juga
lain dan maksud melawan hukum. hubungan antara perekonomian
dengan kejahatan senantiasa mendapat
PEMBAHASAN banyak perhatian dan selalu menjadi
Ada berbagai-bagai faktor penyebab
objek penelitian para ahli. Kekayaan
terjadinya suatu tindak kejahatan,
dan kemiskinan menjadi bahaya besar
termasuk halnya tindak pidana penipuan
pemilikan kendaraan bermotor secara bagi jiwa orang, yang miskin sukar
melawan hukum. Sebagai kenyataannya memenuhi kebutuhan hidupnya dan
bahwa manusia dalam pergaulan hidupnya merasa rendah diri dan timbul hasrat
sering terdapat penyimpangan terhadap untuk melakukan kejahatan,
norma-norma, terutama norma hukum. sebaliknya juga orang kaya hidup
Di dalam pergaulan manusia mewah untuk segala hiburannya”
bersama, tindak pidana penipuan (Simanjuntak, 2005: 53).
pemilikan kendaraan bermotor secara Faktor ekonomi menjadi sebab
melawan hukum ini disebut sebagai terjadinya kejahatan khususnya pada
kejahatan atau pelanggaran. Dan kejahatan tindak pidana tindak pidana
kejahatan itu sendiri merupakan masalah penipuan pemilikan kendaraan bermotor
sosial yang berada di tengah-tengah secara melawan hukum umumnya
masyarakat, dimana si pelaku dan dilakukan karena ketidakpuasan atas gaji
korbannya adalah anggota masyarakat. dan upah yang diterima oleh pelaku.
Secara umum ada beberapa faktor Selain itu faktor ekonomi ini juga menjadi
yang menyebabkan terjadinya sebuah sebab terjadinya tindak pidana tindak
kejahatan termasuk halnya tindak pidana pidana penipuan pemilikan kendaraan
penipuan pemilikan kendaraan bermotor bermotor secara melawan hukum karena
secara melawan hukum. Pertama adalah kebutuhan ekonomi pelaku yang besar
faktor yang berasal atau terdapat dalam sehingga tidak mencukupi kebutuhan
diri si pelaku yang maksudnya bahwa yang hidupnya.
mempengaruhi seseorang untuk Pada beberapa kasus penipuan
melakukan sebuah kejahatan itu timbul secara umum faktor ekonomi ini terkait
dari dalam diri si pelaku itu sendiri yang dengan kemiskinan sehingga seringkali
didasari oleh faktor keturunan dan kemiskinan diidentifikasikan sebagai
kejiwaan (penyakit jiwa). Faktor yang penyebab terjadinya kejahatan. Faktor ini
kedua adalah faktor yang berasal atau sangat esensial dalam hal merujuk
terdapat di luar diri pribadi si pelaku. terjadinya ketimpangan-ketimpangan
Maksudnya adalah: bahwa yang sosial, khususnya ketimpangan dalam
mempengaruhi seseorang untuk pemenuhan kehidupan individu. Sehingga
melakukan sebuah kejahatan itu timbul

88
JPPUMA: Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Sosial Politik UMA, 5 (2) (2017): 85-93

kelompok miskin ini tidak dapat sebenarnya keseluruhan hasil produksi


menikmati kesejahteraan sosial yang semua anggota masyarakat bila dibagi rata
paling minimal sekalipun. Kelompok dapat membebaskan mereka dari belenggu
masyarakat miskin, adalah merupakan kemiskinan. Kemiskinan struktural bisa
bagian dari masyarakat rentan. terjadi baik di negara-negara maju
Kemiskinan lazimnya dilukiskan sebagai maupun di negara-negara berkembang.
kurangnya pendapatan untuk memenuhi Apabila dilihat dalam kerangka
kebutuhan hidup yang paling pokok, prespektif haik asasi manusia, kemiskinan
seperti pangan, pakaian dan perumahan. struktural akan berarti suatu proses yang
Kemiskinan adalah kondisi di mana dengan sengaja merenggut hak-hak dasar
terdapat kekurangan pendapatan manusia yang paling hakiki, yaitu hak
(insufficiency of income) dan/atau keadaan untuk menjaga dan memelihara
tidak tersedianya akses (lack of acces) eksistensinya sebagai manusia. Dilihat dari
barang-barang serta jasa-jasa kebutuhan sudut hukum persoalan kemiskinan
dasar tertentu bagi keluarga atau struktural sangat erat realitas hukum yang
perorangan yang membutuhkannya berlaku di tengah masyarakat. Struktural
(Djumhana, 1994: 312). Sebenarnya yang berarti pola hubungan yang menjadi
pengertian kemiskinan itu merupakan landasan dalam kehidupan sosial
gejala yang lebih rumit dan meliputi menentukan produk dari proses-proses
banyak aspek tidak hanya sekedar sosial yang terjadi dalam masyarakat. Dan
kekurangan pendapatan semata. Secara hukum justru lahir dari pola hubungan
konsepsional kemiskinan, terbagi dalam sosial tertentu. Oleh karena itu dalam
dua jenis, yaitu kemiskinan structural dan suatu masyarakat di mana tiada pola
kemiskinan alamiah. hubungan yang sejajar sulit kiranya
Kemiskinan alamiah adalah diharapkan terwujudnya hukum yang adil
kemiskinan yang timbul sebagai akibat bagi semua orang.
sumber-sumber daya yang langka Di sisi lain, dari kacamata hukum,
jumlahnya, dan/atau karena tingkat masalah kemiskinan struktural sebenarnya
perkembangan teknologi yang sangat sangat erat kaitannya dengan realitas
rendah. Dengan demikian maka hukum yang berlaku di masyarakat (law in
sebenarnya kemiskinan alamiah tidak ada action). Struktur yang berarti pola
hubungannya dengan mekanisme hubungan yang menjadi landasan dalam
struktural kelembagaan yang timpang. kehidupan sosial sangat menentukan
Sebab ternyata menurutnya dalam produk dari proses sosial yang terjadi
kemiskinan alamiah meskipun ada dalam masyarakat, dan hukum justru lahir
perbedaan kekayaan di antara penduduk dari pola-pola hubungan sosial tertentu.
tetapi perbedaan diperlunak oleh pranata- Dalam suatu masyarakat di mana
pranata tradisional mereka. Bahkan ketiadaan pola hubungan yang sejajar,
golongan miskin masih menguasai sarana- sulit kiranya diharapkan akan terwujud
sarana produksinya meskipun sarana hukum yang adil bagi semua orang.
produksi itu kurang mencukupi. Konsekuensi keadaan yang sedemikian
Kemiskinan struktural (kemiskinan adalah bahwa keadilan hukum hanya
buatan) lebih dekat berhubungan dengan mungkin terwujud seandainya terdapat
perubahan-perubahan ekonomi, teknologi, perubahan yang bersifat mendasar,
dan pembangunan itu sendiri. Kemiskinan dimana terkait hubungan-hubungan
struktural terjadi karena kelembagaan ekonomi masyarakat. Beberapa perkara
yang ada membuat anggota atau kelompok yang ditangani oleh Lembaga Bantuan
masyarakat tidak menguasai sarana Hukum (LBH) Jakarta misalnya baik
ekonomi, dan fasilitas-fasilitas secara perkara perburuhan, pertanahan,
merata. Karena itu sebagian anggota penggusuran dan sebagainya
masyarakat tetap miskin walaupun menunjukkan bahwa hukum yang berlaku

89
Elvi Zahara Lubis, Faktor Penyebab dan Sanksi Tindak Pidana Penipuan Kepemilikan

dan atau diterapkan belumlah merupakan Legalisasi dalam arti hukum dalam segala
jalur yang efektif untuk memenuhi aspirasi bentuknya.
golongan buruh dan lapisan bawah Kaitannya dengan problematika
masyarakat, bahkan tidak jarang hukum lanjutan dari kemiskinan struktural
justru difungsikan sebaliknya, menjadi alat dengan pandangan di atas adalah
yang efektif bagi tindakan-tindakan dan terwujudnya stratifikasi yang tajam yang
kebijaksanaan represif. Karena itu, hukum pada dasarnya juga merupakan masalah
yang adil yang berlaku bagi semua orang sosial utama, dimana akan terasa adanya
hanya mungkin dilahirkan dalam suatu perbedaan potensi sosial ekonomi yang
masyarakat dimana pola hubungan tentu akan berpengaruh dalam upaya-
kekuasaan antara berbagai kelompok upaya penegakan hukum yang netral
sosial itu sejajar (Sunggono, 1994: 88-89). sesuai dengan semangat netralitas tertib
Apabila dikaji Indonesia merupakan hukum, tidak memihak, dan benar-benar
salah satu negara yang dilanda arus di atas prinsip equality before law. Dalam
konstitusionalisme, secara terus-menerus, praktek banyak terlihat misalnya
yang dalam konsep pembangunan lebih seseorang yang mengalami kontak dengan
menekankan pembangunan di bidang hukum akan tetapi penyelesaian kasus
ekonomi membawa implikasi bahwa ternyata tidak dapat mengenyampingkan
pembangunan di bidang-bidang lain, betul adanya perbedaan potensi sosial
seperti bidang hukum, bidang politik, ekonomi di atas. Hal ini setidak-tidaknya
sosial, budaya hankam, dan sebagainya merupakan suatu kenyatan yang begitu
lebih merupakan tiang-tiang penyangga mempengaruhi. Kalau memang demikian
bagi pembangunan ekonomi yang layak tampaknya netralitas hukum belumlah
untuk mengangkat golongan bawah sampai menetes ke bawah, belum
masyarakat yang miskin secara struktural menyentuh betul dengan mereka yang
untuk kemudian mewujudkan sampai ke tergolong miskin secara struktural.
bawah semangat “equality before the law” Kedua adalah Faktor keinginan. Yang
dalam Pasal 27 Undang-Undang Dasar dimaksud dengan faktor keinginan adalah:
1945 di dalam peraturan perundang- suatu kemauan yang sangat kuat yang
undangan yang ada di bawahnya. mendorong si pelaku untuk melakukan
Sementara itu, di kalangan para sebuah kejahatan berupa tindak pidana
pendukung dan pembela melakukan penipuan pemilikan kendaraan
konstitusionalisme tumbuh satu asumsi bermotor secara melawan hukum.
yang kuat yang intinya bertumpu pada Misalnya seseorang yang membutuhkan
kepercayaan netralisme suatu tertib kendaraan bermotor untuk bersenang-
hukum. Asumsi semacam ini secara senang, atau keinginan yang kuat untuk
filosofis tampaknya merupakan suatu das memiliki kendaraan bermotor hanya saja
sollen tidak terlalu jauh dari tujuan-tujuan keinginan tersebut dihambat oleh faktor
dasar hukum sendiri yang bertumpu pada biaya sehingga ia melakukan tindak pidana
nilai keadilan. Setidak-tidaknya menurut melakukan penipuan pemilikan kendaraan
paham golongan ini harus terdapat tiga bermotor secara melawan hukum
kondisi untuk terimplementasikannya (Sunggono, 1994: 55).
konsep-konsep negara hukum, yaitu Ketiga adalah Faktor kesempatan.
pengakuan dan perlindungan hak asasi Adapun yang dimaksud dengan faktor
manusia yang mengandung persamaan kesempatan disini adalah: suatu keadaan
dalam bidang politik, hukum, ekonomi, yang memungkinkan (memberi peluang)
sosial, kultural dan pendidikan; Peradilan atau keadaan yang sangat mendukung
yang bebas dan tidak memihak, tidak untuk terjadinya sebuah kejahatan. Faktor
dipengaruhi oleh sesuatu kesempatan ini biasanya sangat menopang
kekuasaan/kekuatan lain apapun; dan untuk terjadinya tindak pidana melakukan
penipuan pemilikan kendaraan bermotor

90
JPPUMA: Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Sosial Politik UMA, 5 (2) (2017): 85-93

secara melawan hukum. Faktor ini terjadi dikenakan terhadap perbuatan atau pelaku
biasanya karena korban mudah untuk perbuatan pidana atau tindak pidana yang
ditipu atau juga faktor ini terjadi karena dapat menggangu atau membahayakan
pelaku memandang bahwa dirinya mampu kepentingan hukum. Sanksi pidana pada
melakukan penipuan terhadap korban dasarnya merupakan suatu penjamin
tertentu sehingga keinginan untuk untuk merehabilitasi perilaku dari pelaku
memiliki kendaraan bermotor secara kejahatan tersebut, namun tidak jarang
melawan hukum dapat terkabul. bahwa sanksi pidana diciptakan sebagai
Keempat adalah Faktor lemahnya suatu ancaman dari kebebasan manusia
iman. Faktor lemahnya iman di sini itu sendiri (Andrisman: 2009: 8).
merupakan faktor yang sangat mendasar Pidana adalah penderitaan atau
yang menyebabkan seseorang melakukan nestapa yang sengaja dibebankan kepada
sebuah kejahatan termasuk tindak pidana orang yang melakukan perbuatan yang
melakukan penipuan pemilikan kendaraan memenuhi unsur syarat-syarat tertentu1,
bermotor secara melawan hukum. sedangkan Roslan Saleh menegaskan
Jika keempat faktor itu telah bahwa pidana adalah reaksi atas delik, dan
terkumpul, maka perbuatan akan ini berwujud suatu nestapa yang dengan
terlaksana dengan mudah. Tapi apabila sengaja dilimpahkan Negara kepada
salah satu dari keempat faktor tersebut di pembuat delik (Chazawi, 2011: 81).
atas tidak terpenuhi maka kejahatan tidak Jenis-jenis Pidana sebagaimana telah
mungkin terjadi. Misalnya saja apabila diatur dalam Pasal 10 Kitab Undang-
hanya ada faktor keinginan dan faktor Undang Hukum Pidana (KUHP), 1) Pidana
lemahnya iman, sedangkan faktor Pokok: Pidana mati, Pidana penjara,
kesempatan tidak ada maka perbuatan itu Pidana kurungan, Pidana denda, Pidana
tidak akan terjadi. Demikian juga apabila tutupan; 2) Pidana Tambahan: Pencabutan
hanya ada faktor kesempatan, sedangkan hak-hak tertentu, Perampasan barang-
faktor keinginan tidak ada serta faktor barang tertentu, Pengumuman putusan
imannya ada maka perbuatan itu juga hakim.
tidak akan terjadi. Tetapi faktor yang Tujuan pemidanaan adalah
paling menentukan dalam hal ini adalah: mencegah dilakukannya kejahatan pada
faktor lemahnya iman. Jika lemahnya iman masa yang akan datang, tujuan
seseorang atau iman seseorang tidak ada, diadakannya pemidanaan diperlukan
maka perbuatan pasti akan terjadi tanpa untuk mengetahui sifat dasar hukum dari
ada yang dapat mencegahnya. pidana. bahwa dalam konteks yang
Dari penjelasan tersebut di atas, dikatakan Hugo De Groot “malim
maka dapat disimpulkan bahwa kunci pasisionis propter malum actionis” yaitu
yang paling utama yang dapat mencegah penderitaan jahat menimpa dikarenakan
terjadinya suatu tindak pidana adalah: oleh perbuatan jahat. Berdasarkan
iman. Jika iman telah ada niscaya pendapat tersebut, tampak adanya
perbuatan itu tidak akan terjadi. Apabila pertentangan mengenai tujuan
hal ini terjadi juga, maka hakim harus pemidanaan, yakni antara mereka yang
memutuskan dan menetapkan hukuman berpandangan pidana sebagai sarana
yang setimpal bagi si pelaku. pembalasan atau teori absolute dan
Sanksi Pidana adalah suatu hukuman mereka yang menyatakan bahwa pidana
sebab akibat, sebab adalah kasusnya dan mempunyai tujuan yang positif atau teori
akibat adalah hukumnya, orang yang tujuan, serta pandangan yang
terkena akibat akan memperoleh sanksi menggabungkan dua tujuan pemidanaan
baik masuk penjara ataupun terkena tersebut.
hukuman lain dari pihak berwajib. Sanksi Teori tujuan sebagai teleological
Pidana merupakan suatu jenis sanksi yang theories dan teori gabungan disebut
bersifat nestapa yang diancamkan atau sebagai pandangan integratif di dalam

91
Elvi Zahara Lubis, Faktor Penyebab dan Sanksi Tindak Pidana Penipuan Kepemilikan

tujuan pemidanaan yang beranggapan SIMPULAN


bahwa pemidanaan mempunyai tujuan Faktor penyebab terjadinya tindak
yang plural, yang merupakan gabungan pidana penipuan pemilikan kendaraan
dari pandangan utilitarian yang bermotor secara melawan hukum adalah
menyatakan bahwa tujuan pemidanaan disebabkan oleh empat faktor yaitu faktor
harus menimbulkan konsekuensi ekonomi, faktor keinginan, faktor
bermanfaat yang dapat dibuktikan, kesempatan dan faktor lemahnya iman.
keadilan tidak boleh melalui pembebanan Keempat faktor tersebut merupakan satu
penderitaan yang patut diterima untuk kesatuan yang menjelaskan apabila salah
tujuan penderitaan itu sendiri, misalnya satu dari keempat faktor tersebut di atas
bahwa penderitaan pidana tersebut tidak tidak terpenuhi maka kejahatan tidak
boleh melebihi ganjaran yang selayaknya mungkin terjadi. Faktor yang paling
diberikan pelaku tindak pidana. menentukan dalam hal ini adalah: faktor
Apabila ditelaah uraian di atas lemahnya iman. Jika lemahnya iman
dikaitkan dengan sanksi terhadap pelaku seseorang atau iman seseorang tidak ada,
tindak pidana penipuan pemilikan maka perbuatan pasti akan terjadi tanpa
kendaraan bermotor dengan cara melawan ada yang dapat mencegahnya. Sanksi
hukum maka ketentuan pasal yang terhadap pelaku tindak pidana penipuan
dilanggar adalah Pasal 378 KUHP. Pasal pemilikan kendaraan bermotor dengan
378 KUHP berbunyi: cara melawan hukum adalah berupa
Barang siapa dengan maksud untuk ancaman pidana penjara kepada pelaku
menguntungkan diri sendiri atau selama 4 tahun. Sanksi tersebut dapat
orang lain secara melawan hukum, diterapkan apabila kepada pelaku telah
dengan memakai nama palsu atau terbukti melakukan tindak pidana
martabat palsu, dengan tipu penipuan pemilikan kendaraan bermotor
muslihat, ataupun rangkaian dengan cara melawan hukum.
kebohongan, menggerakkan orang
lain untuk menyerahkan barang DAFTAR PUSTAKA
sesuatu kepadanya, atau supaya Andrisman, T., (2009), Asas-Asas dan Dasar
memberi hutang rnaupun Aturan Hukum Pidana Indonesia,
menghapuskan piutang diancam Bandar Lampung: Unila.
karena penipuan dengan pidana Arief, B.N., (2010), Bunga Rampai Kebijakan
penjara paling lama empat tahun. Hukum Pidana (Perkembangan Penyusunan
KUHP Baru), Jakarta: Kencana.
Berdasarkan ketentuan Pasal 378
Arifin, S., (2011), Metode Penulisan Karya
KUHP di atas dikaitkan dengan tindak
Ilmiah dan Penelitian Hukum, Medan:
pidana penipuan pemilikan kendaraan Medan Area University Press.
bermotor dengan cara melawan hukum Bassar, M.S., (2008), Tindak-Tindak Pidana
maka hukuman yang diancamkan kepada Tertentu Dalam KUHP, Bandung:
pelaku adalah pidana penjara paling lama Remaja Karya.
empat tahun. Chazawi, A., (2002), Pelajaran Hukum Pidana I
Apabila sanksi pidana yang diatur Bagian I, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
dalam Pasal 378 di atas dikaitkan dengan Chazawi. A., (2003), Kejahatan Terhadap Harta
putusan Putusan Pengadilan Negeri Binjai Benda. Malang: Bayumedia Publising.
Farid, Z.A., (2007), Hukum Pidana I, Jakarta:
Nomor: 167/Pid.B/2014/PN. BJ, maka dapat
Sinar Grafika.
dilihat majelis hakim menjatuhkan sanksi
Gunadi, I., dkk, (2011), Cepat dan Mudah
pidana kepada pelaku dengan tindak Memahami Hukum Pidana, Jakarta:
pidana penipuan pemilikan kendaraan Prestasi Pustaka.
bermotor dengan cara melawan hukum Hadikusuma, H., (1992), Bahasa Hukum
dengan pidana penjara selama 3 (tiga) Indonesia, Bandung: Alumni.
tahun. Hamzah, A., (2008), Hukum Pidana dan Acara
Pidana, Jakarta: Ghalia Indonesia.

92
JPPUMA: Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Sosial Politik UMA, 5 (2) (2017): 85-93

Indrawan, (t.t.), Kamus Bahasa Indonesia, Sianturi, S.R. (2011), Tindak Pidana di KUHP
Jombang: Lintas Media. Berikut Uraiannya, Jakarta: Gunung
Jauzy, I, (2004), Ketika Nafsu Berbicara, Mulia
Jakarta: Cendikia Sentra Muslim. Simanjuntak, N., (2005), Kriminologi,
Kancil, CST., dkk, (2009), Tindak Pidana Bandung: Tarsito.
Dalam Undang-Undang Nasional, Soesilo, R., (2011), Kitab Undang-Undang
Jakarta: Jala Permata Aksara. Hukum Pidana (KUHP) Serta
Kanter, E,Y., dan SR Sianturi, (2003), Asas-Asas Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal
Hukum Pidana di Indonesia, Jakarta: Demi Pasal, Bogor: Politeia.
Storia Grafika. Sunggono, B., (1994), Hukum Lingkungan dan
Kompasiana, “Pengertian Tindak Pidana”, Dinamika Kependudukan, Bandung:
http://hukum.kompasiana. com/2011/10/ Citra Aditya Bakti.
18/pengertian-tindak-pidana/. Syarifin, P., (2000), Hukum Pidana di
Lamintang, PAF., (2013), Dasar-Dasar Hukum Indonesia, Bandung: Pustaka Setia.
Pidana Indonesia, Bandung: Citra Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Aditya. Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang
Moeljatno, (2002), Asas-Asas Hukum Pidana, Hukum Acara Pidana
Jakarta: Rineka Cipta. UG Community, “Penipuan dan Pengamanan
Muhammad Djumhana, Hukum Ekonomi Komputer”. http://
Sosial Indonesia, Citra Aditya Bakti, community.gunadarma.ac.id/forums/dis
Bandung, 1994. play_topic/id_37255/PENIPUAN-DAN-
Mubarak, R, (2016), Disparitas Pemidanaan PENGAMANAN-KOMPUTER/ /.
Pelaku Tindak Pidana Kekerasan pada Wijayanti, A., (2011), Strategi Penulisan
Perempuan, Jurnal Pendidikan Ilmu-Ilmu Hukum, Bandung: Lubuk Agung.
Sosial, 8 (1) (2016): 34-47 Zebua, F.R.P., Iman J., dan Taufik S., (2008),
Pasaribu, O.L.H., Iman J., dan Elvi Z.L., (2008), Tanggungjawab Pelaku Tindak Pidana
Kajian Yuridis terhadap Putusan Bebas Korupsi dan Ahli Warisnya Dalam
Tindak Pidana Korupsi (Studi Kasus Pembayaran Uang Pengganti Kerugian
Pada Pengadilan Negeri Medan), Keuangan Negara Ditinjau Dari Aspek
Mercatoria, 1 (2): 130-140 Hukum Perdata (Studi Kasus Pada
Saleh, R., (2008), Sifat Melawan Hukum Dari Pengadilan Negeri Medan), Mercatoria, 1
Perbuatan Pidana, Jakarta: Aksara Baru. (2): 150-162

93