Anda di halaman 1dari 3

Nama : Andistya Oktaning Listra

NIM : 0910210022

Tugas Perekonomian Indonesia Kelas AC

Kasus Money Laundering di Citibank yang Berimplikasi ke Stabilitas


Ekonomi dan Keuangan di Indonesia

Kasus buruknya kinerja perbankan kembali terjadi di Indonesia, salah satunya


adalah bank berkelas internasional yang sahamnya sebagian besar dimiliki oleh
Amerika Serikat seperti Citibank. Kasus ini terkuak semenjak adanya laporan dari
berbagai nasabah Citibank terkait penggelapan dana nasabah hingga miliaran rupiah
yang dilakukan Senior Relationship Manager Citibank yaitu Malinda Dee.
Diperkirakan dana nasabah yang digelapkan Malinda Dee hingga kini terhitung hingga
20 miliar rupiah belum termasuk aset – aset lain yang berdiri di dalam maupun luar
negeri. Beredarnya kasus ini tentu saja membuat kekhawatiran masyarakat terhadap
rapuhnya sistem keamanan dan pengawasan bank sentral terhadap kinerja perbankan
di Indonesia semenjak terungkapnya kasus Citibank dan kasus Bank Century yang
sempat kontroversial di masyarakat karena adanya keteribatan Menteri Keuangan (Sri
Mulyani), Gubernur Bank Indonesia (Boediono), dan juga Presiden Indonesia (SBY).
Namun seperti yang terjadi pada kasus Bank Century tahun lalu diselidiki adanya
kejanggalan sikap nasabah terhadap tuntutan hukum yang seharusnya diterima
Malinda Dee dan pegawainya yang terkait. Dalam hal ini, dicurigai tabungan nasabah
Citibank ada keterkaitannya dengan kasus money laundering (kasus pencucian uang).

Beredarnya kasus money laundering yang terjadi di perbankan merupakan


catatan buruk yang dapat menimbulkan ketidakstabilan ekonomi. Money laundering
adalah aktifitas pencucian uang secara umum merupakan suatu cara menyembunyikan
atau menyamarkan asal usul harta kekayaan yang diperoleh dari hasil tindak pidana
sehingga nampak seolah-olah harta kekayaan dari hasil tindak pidana tersebut sebagai
hasil kegiatan yang sah. Lebih rinci di dalam Pasal 1 angka 1 Undang-undang No. 15
tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan
UU No.25 Tahun 2003 (UU TPPU), pencucian uang didefinisikan sebagai perbuatan
menempatkan, mentransfer, membayarkan, membelanjakan, menghibahkan,
menyumbangkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, menukarkan, atau perbuatan
lainnya atas Harta Kekayaan yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak
pidana dengan maksud untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul Harta
Kekayaan sehingga seolah-olah menjadi harta kekayaan yang sah. UU TPPU telah
membatasi bahwa hanya harta kekayaan yang diperoleh dari 24 jenis tindak pidana
dan tindak pidana lainnya yang diancam dengan hukuman 4 tahun penjara atau lebih
sebagaimana disebutkan dalam Pasal 2 UU TPPU, yang dapat dijerat dengan sanksi
pidana pencucian uang sebagaimana diatur dalam pasal 3 dan Pasal 6 UU
TPPU.Modus kejahatan pencucian uang waktu ke waktu semakin kompleks dengan
menggunakan teknologi dan rekayasa keuangan.

Bila hal ini dibiarkan maka dapat merongrong sektor swasta yang sah karena
biasanya pencucian uang dilakukan dengan menggunakan perusahaan-perusahaan
(front companies) untuk mencampur uang haram dengan uang sah sehingga bisnis
yang sah kalah bersaing dengan perusahaan-perusahaan tersebut; merongrong
integritas pasar-pasar keuangan karena lembaga-lembaga keuangan (financial
institutions) yang mengandalkan dana hasil kejahatan dapat menghadapi bahaya
likuiditas; mengakibatkan hilangnya kendali pemerintah terhadap kebijakan
ekonominya karena para pencuci uang menanamkan kembali dana-dananya bukan di
negara-negara yang dapat memberikan rates of return yang lebih tinggi tetapi
diinvestasikan kembali di negara-negara dimana kegiatan mereka itu kecil
kemungkinannya untuk dapat dideteksi; dan dapat menimbulkan distorsi dan
ketidakstabilan ekonomi karena para pencuci uang tidak tertarik untuk memperoleh
keuntungan dari investasi-investasi mereka tetapi mereka lebih tertarik untuk
melindungi hasil kejahatan yang mereka lakukan dan dana yang mereka tempatkan
secara ekonomis tidak harus bermanfaat bagi negara yang menerima penempatan.
Adapun implikasinya bagi pemerintah yaitu meningkatnya kejahatan-kejahatan di
bidang keuangan (financial crimes) dan menimbulkan biaya sosial yang tinggi (social
cost) terutama untuk biaya dalam meningkatkan upaya penegakan hukumnya.
Sebagaimana telah diuraikan di atas, pelaku pencucian uang senantiasa terus
mencari setiap peluang agar harta kekayaan hasil kejahatannya dapat dicuci sehingga
nampak seolah-olah merupakan hasil kegiatan yang sah. Dalam hal bank umum
dianggap kurang aman, tidak menutup kemungkinan pencuci uang akan
memanfaatkan produk BPR. Demikian pula, dalam hal produk perbankan
konvensional dianggap kurang aman maka pencuci uang dapat mengalihkannya pada
produk perbankan dengan prinsip syariah. Dengan kata lain, tidak ada satu produkpun
baik di bank umum maupun BPR yang luput dari incaran pelaku pencuci uang.

Berkaitan dengan potensi meningkatnya kejahatan di bidang keuangan


tersebut, diperkenalkan prinsip-prinsip pengawasan bank yang efektif oleh Basel
Committee on Banking Supervision dalam Core Principles for Effective Banking
Supervision bahwa penerapan prinsip mengenal nasabah merupakan faktor yang
penting dalam melindungi kesehatan bank dan terhindar dari berbagai risiko. Dengan
penerapan prinsip tersebut maka bank dapat terhindar dari berbagai risiko yaitu risiko
operasional, resiko hukum, resiko terkonsentrasinya transaksi dan resiko reputasi
karena bank tidak lagi digunakan sebagai sarana dan sasaran oleh pelaku kejahatan
untuk mencuci uang hasil kejahatannya. Oleh karena itu, dengan penerapan prinsip
mengenal nasabah bagi bank, bukan hanya dapat mengendalikan risiko tetapi juga
berfungsi dalam upaya pencegahan pencucian uang yang pada gilirannya kejahatan di
bidang keuangan akan menurun. Dengan demikian, sebenarnya sasaran utama dalam
kegiatan pencegahan dan pemberantasan pencucian uang terutama agar angka
kriminalitas tindak pidana asal yang menghasilkan harta kekayaan dapat menurun, aset
hasil kejahatan dapat dikejar dan dikembalikan kepada negara atau pihak-pihak yang
dirugikan serta untuk memelihara stabilitas sistem keuangan.