Anda di halaman 1dari 6

KELOMPOK 6

Farid Kusuma Putra W. (072310101035)


Alvinda Yuanita (092310101013)
Rosalind Prihandini (092310101031)
Tetty Pradika (092310101073)
Andriyani Dwi Wardani (092310101075)
Rizal Pamungkas (092310101079)

ANALGETETIKA, ANTIPIRETIKA, DAN NSA ID

ANALGETETIKA
Definisi
Obat analgetik adalah obat penghilang nyeri yang banyak digunakan untuk mengatasi sakit kepala,
demam, dan nyeri ringan tanpa menghilangkan kesadaran.

Jenis Obat Baru

Prototype Obat Dari Golongan

1. Analgetika Narkotik

Zat-zat ini memiliki daya menghalangi nyeri yang kuat sekali dengan tingkat kerja yang
terletak di Sistem Saraf Pusat. Umumnya mengurangi kesadaran (sifat meredakan dan
menidurkan) dan menimbulkan perasaan nyaman (euforia). Dapat mengakibatkan toleransi
dan kebiasaan (habituasi) serta ketergantungan psikis dan fisik (ketagihan adiksi) dengan
gejala-gejala abstinensia bila pengobatan dihentikan. Karena bahaya adiksi ini, maka
kebanyakan analgetika sentral seperti narkotika dimasukkan dalam Undang-Undang
Narkotika dan penggunaannya diawasi dengan ketat oleh Dirjen POM.

Secara kimiawi, obat-obat ini dapat dibagi dalam beberapa kelompok sebagai berikut:
1. Alkaloid candu alamiah dan sintesis morfin dan kodein, heroin, hidromorfon,
hidrokodon, dan dionin.
2. Pengganti-pengganti morfin yang terdiri dari :
• Petidin dan turunannya, fentanil dan sufentanil
• Metadon dan turunannya:dekstromoramida, bezitramida, piritramida, dan d-
ptopoksifen
• Fenantren dan turunannya levorfenol termasuk pula pentazosin.

2. Analgetika Perifer (non-narkotik)

Obat obat ini dinamakan juga analgetika perifer, karena tidak mempengaruhi Sistem Saraf
Pusat, tidak menurunkan kesadaran atau mengakibatkan ketagihan. Semua analgetika perifer
juga memiliki kerja antipiretik, yaitu menurunkan suhu badan pada keadaan demam, maka
disebut juga analgetik antipiretik. Khasiatnya berdasarkan rangsangannya terhadap pusat
pengatur kalor di hipotalamus, yang mengakibatkan vasodilatasi perifer (di kulit) dengan
bertambahnya pengeluaran kalor dan disertai keluarnya banyak keringat.

Penggolongan analgetika perifer secara kimiawi adalah sebagai berikut:


1. salisilat-salisilat, Na-salisilat, asetosal, salisilamida, dan benirilat
2. Derivat-derivat p-aminofenol:fenasetin dan parasetamol
3. Derivat-derivat pirozolon:antipirin,aminofenazon, dipiron, fenilbutazon danturunan-
turunannya
4. Derivat-derivat antranilat: glafenin, asam mefenamat, dan asam nifluminat.
Efek-efek samping yang biasanya muncul adalah gangguan-gangguan lambung-usus,
kerusakan darah, merusakan hati, dan ginjal dan juga reaksi-reaksi alergi kulit. Efek-efek
samping ini terutama terjadi pada penggunaan lama atau pada dosis besar, maka sebaiknya
janganlah menggunakan analgetika ini secara terus-menerus.

3. Analgetika-Antipiretik
Analgetik adalah obat yang mengurangi atau melenyapkan rasa nyeri tanpa menghilangkan
kesadaran. Sedangkan antipiretik adalah obat yang dapat menurunkan suhu tubuh yang tingi.
Jadi, analgetik-antipiretik dalah obat yang mengurangi rasa nyeri dan serentak menurunkan
suhu tubuh yang tinggi.

Sebagai mediator nyeri, antara lain adalah sebagai berikut:


a. Histamin
b. Serotonin
c. Plasmokinin (antara lain Bradikinin)
d. Prostaglandin
e. Ion Kalium

Analgetik diberikan kepada penderita untuk mengurangi rasa nyeri yang dapat
ditimbulkan oleh berbagai rangsang mekanis, kimia, dan fisis yang melampaui suatu
nilai ambang tertentu (nilai ambang nyeri). Rasa nyeri tersebut terjadi akibat terlepasnya
mediator-mediator nyeri (misalnya bradikinin, prostaglandin) dari jaringan yang rusak
yang kemudian merangsang reseptor nyeri di ujung saraf perifer ataupun ditempat lain.
Dari tempat-tempat ini selanjutnya rangsang nyeri diteruskan ke pusat nyeri di korteks
serebri oleh saraf sensoris melalui sumsum tulang belakang dan thalamus.

Peran Hipotalamus Sebagai Termostat

Penyebab rasa nyeri adalah rangsangan-rangsangan mekanis, fisik, atau kimiawi yang dapat
menimbulkan kerusakan-kerusakan pada jaringan dan melepaskan zat-zat tertentu yang disebut
mediator-mediator nyeri yang letaknya pada ujung-ujung saraf bebas di kulit, selaput lendir, atau
jaringan-jaringan (organ-organ) lain. Dari tempat ini rangsangan dialirkan melalui saraf-saraf
sensoris ke Sistem Saraf Pusat (SSP) melalui sumsum tulang belakang ke thalamus dan kemudian
ke pusat nyeri di dalam otak besar, dimana rangsangan dirasakan sebagai nyeri. Mediator-mediator
nyeri yang terpenting adalah histamine, serotonin, plasmakinin-plasmakinin, dan prostaglandin-
prostagladin, serta ion-ion kalium. Jadi peran hipotalamus adalah sebagai control pusat nyeri.

Indikasi dan Kontraindikasi

Efek Samping dan Gejala Toksik

Efek samping yang paling umum adalah gangguan lambung-usus, kerusakan darah, kerusakan hati
dan ginjal dan juga reaksi alergi kulit. Efek-efek samping ini terutama terjadi pada penggunaan
lama atau dalam dosis tinggi. Oleh karena itu penggunaan anal-getika secara kontinu tidak
dianjurkan.

ANTIPIRETIKA

Definisi
Obat analgetik adalah obat penghilang demam yang banyak digunakan untuk mengatasi demam
tanpa menghilangkan kesadaran.
Jenis Obat Baru

Prototype Obat dari Golongan


Jenis-Jenis Obat Demam (Antipiretika):

1. Salisilat

Salisilat, khususnya asetosal merupakan obat yang paling banyak digunakan sebagai
analgetik, antipiretik, dan antiinflamasi. Aspirin dosis terapi bekerja cepat dan efektif
sebagai antipiretika.

Farmakokinetika: Pemberian oral, sebagian salisilat akan diabsorpsi dengan cepat dalam
bentuk yang utuh di lambung, tetapi sebagian besar di usus bagian atas. Kadar tertinggi
dicapai kira-kira 2 jam setelah pemberian. Setelah diabsorpsi, salisilat akan menyebar di
seluruh jaringan tubuh dan cairan transeluler. Obat ini mudah menembus sawar darah otak
dan sawar urin. Biotransformasi salisilat terjadi di banyak jaringan terutama di mikosom dan
mitokondria hati. Salisilat akan diekskresi dalam bentuk metabolitnya melalui ginjal,
keringat dan empedu.

Asetosal/aspirin dapat menimbulkan perdarahan lambung, sindroma Reye (tidak boleh


diberikan pada anak usis kurang dari 12 tahun).

Dosis: Untuk dewasa 325 mg- 650 mg, diberikan secara oral tiap 3 atau 4 jam. Untuk anak
15-20 mg/kgBB diberikan tiap 4-6 jam dengan dosis total tidak melebihi 3,6 gr per hari.

2. Salisilamid

Salisilamid adalah amida asam salisilat yang memperlihatkan efek analgetik-antipiretika


mirip asetosal, walaupun badan salisilamid tidak diubah menjadi salisilat. Efek analgetika-
antipiretika salisilamid lebih lemah dari salisilat karena salisilamid dalam mukosa usus
mengalami metabolisme lintas pertama, sehingga salisilamid yang diberikan masuk sirkulasi
sebagai zat aktif.

Dosis: Untuk dewasa 3-4 kali 300-600 mg sehari. Untuk anak 65 mg/kgBB/hari diberikan 6
kali/hari.

3. Diflunisal
Diflunisal merupakan derivate difluorofenil dari asam salisilat, tetapi in vivo diubah menjadi
asam salisilat.

Farmakokinetika: Setelah pemberian oral, kadar puncak dicapai dalam 2-3 jam. 99% akan
terikat di albumin dan waktu paruh berkisar 8-12 jam.

Dosis: Dosis awal 500 mg disusul 250-500 mg sehari dengan dosis pemeliharaan tidak
melebihi 1,5 gram sehari

4. Para Amino Fenol

Derivat para amino fenol yaitu asetaminophen dan fenasetin. Mekanisme: menghambat
biosintesis PGE2 yang lemah.

Farmakokinetika: Diabsorpsi cepat dan sempurna melalui saluran cerna. Konsentrasi


tertinggi dalam plasma dicapai dalam waktu 0,5 jam dan masa paruh dalam plasma adalah
1-3 jam. Dalam plasma, asetaminofen 25% dan fenasetin 30% terikat dalam protein plasma.
Ekskresi melalui ginjal dan sebagian asetaminofen dalam bentuk terkonjugasi.

Peran Hipotalamus Sebagai Termostat


Hipotalamus merupakan pusat pengaturan suhu tubuh. Hipotalamus akan menjaga kestabilam suhu
tubuh dengan mengatur keseimbangan antara pengeluaran panas dengan produksi panas yang
berlebihan bila terjadi demam.

Indikasi dan kontraindikasi

Efek Samping dan Gejala

NSA ID

Definisi
NSAID (Non Steroidal Anti-inflammatory Drugs) adalah suatu golongan obat yang memiliki
khasiat analgesik (pereda nyeri), antipiretik (penurun panas), dan antiinflamasi (anti radang). Istilah
"non steroid" digunakan untuk membedakan jenis obat-obatan ini dengan steroid, yang juga
memiliki khasiat serupa. NSAID bukan tergolong obat-obatan jenis narkotika.

Jenis Obat Baru


Prototype dari Obat Golongan
NSAID dibagi lagi menjadi beberapa golongan, yaitu:

1. golongan salisilat (diantaranya aspirin/asam asetilsalisilat, metil salisilat, magnesium


salisilat, salisil salisilat, dan salisilamid),
2. golongan asam arilalkanoat (diantaranya diklofenak, indometasin, proglumetasin, dan
oksametasin),
3. golongan profen/asam 2-arilpropionat (diantaranya ibuprofen, alminoprofen, fenbufen,
indoprofen, naproxen, dan ketorolac),
4. golongan asam fenamat/asam N-arilantranilat (diantaranya asam mefenamat, asam
flufenamat, dan asam tolfenamat),
5. golongan turunan pirazolidin (diantaranya fenilbutazon, ampiron, metamizol, dan fenazon),
6. golongan oksikam (diantaranya piroksikam, dan meloksikam), golongan penghambat COX-
2 (celecoxib, lumiracoxib),
7. golongan sulfonanilida (nimesulide),
8. golongan lain (licofelone dan asam lemak omega 3).

Peran Hipotalamus Sebagai Termostat

Indikasi dan Kontraindikasi

Efek Samping dan Gejala Toksik


NSAID merupakan golongan obat yang relatif aman, namun ada 2 macam efek samping utama
yang ditimbulkannya, yaitu:
1. Efek samping pada saluran pencernaan (mual, muntah, diare, pendarahan lambung, dan
dispepsia)
2. Efek samping pada ginjal (penahanan garam dan cairan, dan hipertensi).
Efek samping ini tergantung pada dosis yang digunakan. Obat ini tidak disarankan untuk
digunakan oleh wanita hamil, terutama pada trimester ketiga. Namun parasetamol dianggap aman
digunakan oleh wanita hamil, namun harus diminum sesuai aturan karena dosis tinggi dapat
menyebabkan keracunan hati.