Anda di halaman 1dari 39

UNIVERSITAS ESA UNGGUL

LAPORAN RESIDENSI
UNIT REKAM MEDIS DAN INSTALASI GAWAT DARURAT
RUMAH SAKIT KARYA MEDIKA BANTAR GEBANG

Oleh:
STEFANRY
NIM. 20190309019

PROGRAM SARJANA PASCA


PROGRAM STUDI MAGISTER ADMINISTRASI RUMAH SAKIT
FAKULTAS ILMU−ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ESA UNGGUL
JAKARTA, 2021
UNIVERSITAS ESA UNGGUL

LAPORAN RESIDENSI
UNIT REKAM MEDIS DAN INSTALASI GAWAT DARURAT

RUMAH SAKIT KARYA MEDIKA BANTAR GEBANG

Laporan ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk


menyelesaikan mata kuliah Residensi
Program Pasca Sarjana Fakultas Ilmu−ilmu Kesehatan
Program Studi Magister Administrasi Rumah Sakit

Oleh:
STEFANRY
NIM. 20190309019

PROGRAM PASCA SARJANA


PROGRAM STUDI MAGISTER ADMINISTRASI RUMAH SAKIT
FAKULTAS ILMU−ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ESA UNGGUL
JAKARTA, 2021
PERNYATAAN PERSETUJUAN

Laporan magang ini telah disetujui oleh pembimbing materi


dan pembimbing lapangan program magang mahasiswa
Pascasarjana Peminatan Magister Administrasi Rumah Sakit
Fakultas Ilmu−ilmu Kesehatan
Universitas Esa Unggul

Bekasi, Februari 2021


Pembimbing Residensi

(Tanda Tangan)

M Reza Hilmy, SKM, MARS, Ph.D


NIDN 0327027203

Pembimbing Lapangan
Rumah Sakit Karya Medika Bantar Gebang

(Tanda Tangan dan Cap Institusi)

dr. Medardus Iman Prasetyo, MARS


PERNYATAAN PERSETUJUAN

Laporan Kegiatan Residensi ini telah disetujui ole pembimbing lapangan


Program Pascasarjana
Program Studi Magister Administrasi Rumah Sakit
Fakultas Ilmu−ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul

Jakarta, Februari 2021


Pembimbing Lapangan
Rumah Sakit Karya Medika Bantar Gebang

(Tanda Tangan dan Cap Institusi)

dr. Medardus Iman Prasetyo, MARS


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas perkenanNya, kami dapat
menyelesaikan tugas residensi di Rumah Sakit Karya Medika Bantar Gebang khususnya pada
unit rekam medik dan instalasi gawat darurat di Rumah Sakit Karya Medika Bantar Gebang.
Dalam menyelesaikan tugas ini, penulis juga mendapatkan banyak bantuan. oleh karenanya,
penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. M Reza Hilmy, SKM, MARS, Ph.D sebagai Pembimbing Akademik
2. dr. Medardus Iman Prasetyo, MARS sebagai Direktur Rumah Sakit Karya Medika Bantar
Gebang dan juga sebagai pembimbing lapangan yang telah mengizinkan penulis untuk dapat
melaksanakan tugas residensi sekaligus menyediakan waktu dan memberikan masukan
kepada penulis dalam pelaksanaan residensi ini
3. Ibu Aang Rahardja sebagai Owner RS Karya Medika Group yang sudah memberikan ijin
bagi penulis untuk dapat melaksanakan tugas residensi
4. Kepala dan jajaran Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Karya Medika Bantar Gebang
5. Kepala dan petugas Unit Rekam Medis Rumah Sakit Karya Medika Bantar Gebang
6. Rekan sejawat yang menolong penulis
7. Keluarga yang mendampingi penulis

Dalam penulisan tugas residensi ini tentu masih ada kekurangan dan keterbatasan yang penulis
alami. mohon adanya masukan dan saran yang dapat sangat membantu penulis. atas
perhatiannya, penulis ucapkan terima kasih.

Bekasi, Februari 2021


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Pembangunan dibidang kesehatan di Indonesia bertujuan untuk mencapai masyarakat
yang memiliki kemampuan untuk mewujudkan keadaan yang sehat, baik secara jasmani
maupun rohani. Berdasarkan hal tersebut baik pemerintah maupun swasta berlomba – lomba
dalam memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna.
Rumah Sakit merupakan salah satu sarana kesehatan dan tempat penyelenggaraan
upaya kesehatan serta suatu organisasi dengan sistem terbuka dan selalu berinteraksi dengan
lingkungannya untuk mencapai suatu keseimbangan yang dinamis dan mempunyai fungsi
utama melayani masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Setiap kegiatan untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatan yang optimal bagi masyarakat merupakan upaya
kesehatan. Upaya kesehatan diselenggarakan dengan pendekatan peningkatan kesehatan
(promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif), dan pemulihan
(rehabilitatif) yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan.
Semakin tinggi tingkat kecerdasan dan sosial ekonomi masyarakat, maka pengetahuan
mereka terhadap penyakit, biaya, administrasi maupun upaya penyembuhan semakin baik.
Masyarakat akan menuntut penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang berkualitas.
Pelayanan kesehatan yang baik dan berkualitas tidak terlepas dari peran tenaga medis dan
nonmedis (Undang – Undang RI Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit).
Rumah sakit memiliki fungsi utama untuk memberikan perawatan dan pengobatan
yang sempurna kepada pasien, dimana setiap pasien yang berkunjung baik itu pasien rawat
jalan, pasien rawat inap, maupun pasien gawat darurat akan mendapatkan pelayanan, agar
fungsi rumah sakit tersebut tercapai maka perlu adanya peningkatan mutu pelayanan
kesehatan, salah satu upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan adalah dengan
menggunakan pelayanan rekam medis. Untuk menunjang kesehatan di Rumah Sakit
berkewajiban untuk menyelenggarakan rekam medis. Penyelenggaraan rekam medis yang
baik di Rumah Sakit merupakan faktor penting penunjang tercapainya sistem pelayanan
kesehatan yang baik.
Dari pengertian diatas, rumah sakit melakukan beberapa jenis pelayanan diantaranya
pelayanan medik, pelayanan penunjang medik, pelayanan perawatan, pelayanan rehabilitasi,
pencegahan dan peningkatan Kesehatan, sebagai tempat pendidikan dan atau pelatihan
medik dan para medik, sebagai tempat penelitian dan pengembangan ilmu dan teknologi
bidang kesehatan serta untuk menghindari risiko dan gangguan kesehatan sebagaimana yang
dimaksud, sehingga perlu adanya penyelenggaraan kesehatan lingkungan rumah sakit sesuai
dengan persyaratan kesehatan.
Instalasi Gawat Darurat sebagai tolak ukur pelayanan di Rumah Sakit sangat
menentukan kriteria pemberian pelayanan kesehatan di rumah sakit. Peraturan Menteri
Kesehatan No 47 tahun 2018 tentang Pelayanan Kegawatdaruratan telah mengatur tentang
standar pelayanan di Instalasi Gawat Darurat sebagai upaya untuk meningkatkan management
Instalasi Gawat Darurat. Upaya tersebut diantaranya mengatur tentang Klasifikasi Instalasi
Gawat Darurat, Jenis Pelayanan, persyaratan SDM, ketentuan fisik bangunan, obat- obatan
serta persyaratan sarana dan prasarana sesuai dengan kelas rumah sakit. Dengan memenuhi
dan mengimplementasikan standar pelayanan tersebut diharapkan dapat meningkatkan
kepuasan masyarakat terhadap kepuasan masyarakat di IGD sebagai fasilitas penanganan
kasus kegawatdaruratan sehingga kecacatan dan atau kematian dapat dieliminasi.
Rekam medis tidak hanya sekedar kegiatan pencatatan, akan tetapi mempunyai
pengertian sebagai suatu sistem penyelenggaraan rekam medis yaitu mulai pencatatan selama
pasien mendapatkan pelayanan medik, dilanjutkan dengan penanganan berkas rekam medis
yang meliputi penyelenggaraan penyimpanan serta pengeluaran berkas dari tempat
penyimpanan untuk melayani permintaan/ peminjaman apabila dari pasien atau untuk
keperluan lainnya (Depkes RI, 2006)
Penulis mengambil residensi di Rumah Sakit Karya Medika Bantar Gebang karena
Rumah Sakit Karya Medika Bantar Gebang telah lulus akreditasi dari Komisi Akreditasi
Rumah Sakit dan penulis yakini bahwa penulis dapat memperkaya dan memperdalam ilmu
mengenai gambaran managemen administrasi rumah sakit.
1.2.Tujuan Residensi
1.2.1. Tujuan Umum
Untuk memahami pengelolaan Rumah Sakit dan menerapkan keterampilan
manajemen Rumah Sakit dengan mengetahui kesiapan sarana, prasarana fasilitas
pelayanan yang terdapat di Rumah Sakit Karya Medika Bantar Gebang.
1.2.2. Tujuan Khusus
a. Memahami ruang lingkup kegiatan manajemen di instalasi gawat darurat di Rumah
Sakit.
b. Memahami ruang lingkup kegiatan manajemen di unit pelayanan rekam medis di
Rumah Sakit.
c. Memberikan informasi tentang kondisi pelayanan instalasi gawat darurat di Rumah
Sakit Karya Medika Bantar Gebang saat ini.
d. Memberikan informasi tentang kondisi pelayanan di Unit Rekam Medis di Rumah
Sakit Karya Medika Bantar Gebang saat ini.
e. Memahami hubungan kerja antar berbagai unit kerja yang ada di rumah sakit.
f. Mempunyai pengalaman kerja di rumah sakit.
g. Memberikan alternatif pemecahan masalah yang ditemui dan saran perbaikan
kepada Direktur dan Manajemen Rumah Sakit Karya Medika Bantar Gebang untuk
meningkatkan efektifitas dan efisiensi pelayanan baik di Instalasi Gawat Darurat
Maupun di Unit Rekam Medis.
1.3.Manfaat
1.3.1. Bagi mahasiswa
a. Mendapatkan pengalaman nyata dan pengetahuan mengenai pelaksanaan
manajemen pelayanan baik di Instalasi Gawat Darurat Maupun di Unit Rekam
Medis.
b. Mendapat pengetahuan mengenai penerapan teori yang didapat selama kuliah di
Rumah Sakit.
c. Mampu mengidentifikasikan masalah-masalah secara lebih komprehensif,
berdasarkan kajian dengan metoda yang telah dipelajari, sekaligus mempunyai
kesempatan ikut serta dalam proses pemecahan masalahnya.
d. Menjadi referensi bagi mahasiswa Esa Unggul yang ingin melakukan
observasi/pengamatan

1.3.2. Bagi rumah sakit


a. Memberikan masukan kepada para management dan petugas gawat darurat
mengenai pentingnya pemenuhan standar sesuai dengan aturan perundang2an
dalam memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien.
b. Memberikan informasi kepada petugas tentang pentingnya kelengkapan dokumen
rekam medis guna menunjang mutu pelayanan di Rumah Sakit Karya Medika
Bantar Gebang.
c. Dapat memanfaatkan tenaga terdidik untuk kepentingan manajemen Rumah Sakit
d. Mempunyai sumber informasi tentang pendidikan di MARS UEU,sehingga terbuka
kemungkinan untuk melakukan kerjasama lebih lanjut dalam bidang manajerial
maupun teknis perumah sakitan.
BAB II
GAMBARAN UMUM
RUMAH SAKIT KARYA MEDIKA BANTAR GEBANG

2.1 Sejarah Rumah sakit

RS Karya Medika Bantar Gebang adalah RS ke tiga yang dimiliki oleh PT.
Adhifarma Adyajaya Medika (AAM) Bermula dari sebuah poliklinik 24 jam yang
memulai pelayanan pada masyarakat Bantar Gebang sejak tahun 1997, diatas lahan
seluas 498 m2 yang terletak di Jalan Raya Narogong Km. 11 Pangkalan I. A
Tingginya antusias masyarakan dan juga untuk menjawab kebutuhan masyarakat
agar terwujudnya pelayanan yang lebih komperhensif maka poliklinik tsb
dikembangkan menjadi sebuah Rumah Sakit. Dengan pengembangan lahan menjadi
1618 m² berdirilah bangunan Rumah Sakit 7 lantai.
Rumah Sakit Karya Medika Bantar Gebang berada di wilayah Kota
Bekasi, Propinsi Jawa Barat, tepatnya beralamat di Jalan Raya Narogong Km 11,
Pangkalan 1A Kelurahan Bantar Gebang Kecamatan Bantar Gebang, letaknya
sangat strategis dilewati kendaraan umum 1 X 24 jam, juga berada di wilayah
padat penduduk dan terdapat berbagai perusahaan/industri. Selain itu juga berada di
berbatasan dengan Kabupaten Bogor.
Rumah Sakit Karya Medikan Bantar Gebang resmi beroperasi berdasarkan
surat Ijin dari Kepala Dinas Kesehatan dengan Klasifikasi klas C , menempati area
seluas 1.618 M2 dengan luas bangunan 2,978 M2 RS. Karya medika Bantar
Gebangterdiri dari 7 lantai. Dalam perkembangannya setelah lebih dari 3 tahun
beroperasi ditetapkan sebagai Rumah Sakit Klas C sesuai dengan Ijin Operasional
Rumah Sakit yang dikeluarkan oleh Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan
Terpadu Satu Pintu ( DPMPTSP ) Kota Bekasi Nomor 445.1/04/DPMPTSP.PPJU
2.2 Visi dan Misi
2.a.1 Visi
Rumah Sakit Karya Medika Bantar Gebang menjadi Rumah Sakit pilihan dan
terpercaya di Masyarakat Bekasi
2.a.2 Misi
a. Memberikan pelayanan kesehatan secara professional dan bertanggung
jawab
b. Memberikan pelayanan dengan berorientasi pada keselamatan pasien
2.a.3 Tujuan
Meningkatkan derajat kesehatan secara menyeluruh kepada
masyarakat dengan mengutamakan pelayanan yang paripurna

2.3 Alamat dan Motto


Rumah Sakit Karya Medika, merupakan rumah sakit swasta yang terletak di
Jalan Raya Narogong KM 11 Pangkalan 1A Bantar Gebang, Bekasi. Adapun motto
dari RS Karya Medika Bantar Gebang yaitu Kami Ada Untuk Anda yang berarti
RS Karya Medika Bantar Gebang senantiasa siap untuk melayani kebutuhan
kesehatan masyarakat kapanpun dibutuhkan.
2.4 Struktur Organisasi Dan Ketenagaan
2.5 Data dan fasilitas Pelayanan di RS Karya Medika
Kondisi pelayanan kesehatan saat ini
a. IGD 24 Jam
b. Rawat Jalan:
1. Poliklinik Umum
2. Poliklinik Gigi dan Mulut
3. Spesialis Penyakit Dalam;
4. Spesialis Bedah;
5. Spesialis Anak
6. Spesialis Kebidanan dan Kandungan (Obsgyn);
7. Spesialis Orthopedi
8. Spesialis Kulit dan Kelamin
9. Spesialis Saraf
10. Spesialis Jiwa
11. Spesialis THT;
12. Spesialis Paru
13. Spesialis Radiologi; dan
14. Spesialis Anestesi;
c. Rawat Inap sebanyak 1OO tempat tidur terdiri dari:
1. VIP : 5 TT
2. Kelas 1 : 10 TT
3. Kelas 2 : 21 TT
4. Kelas 3 : 34 TT
5. Isolasi : 12 TT
6. ICU : 3 TT
7. HCU : 3 TT
8. TT bayi : 10 TT
9. PICU : 2 TT
Jumlah : 100 TT
d. Kamar Operasi
e. Kamar Bersalin / VK
f. Unit Penunjang:
1. Laboratorium PK & RT PCR
2. Radiologi
3. Rekam Medis
4. Instalasi Farmasi
g. Medical Check Up
h. Instalasi Gizi
i. Laundry dan CSSD
j. SIM RS
k. Ambulance

Ketenagaan Rumah Sakit Medika Bantar Gabang


= 2 Orang Dokter Umum dengan
Pendidikan S2

= 10 Orang
= 1 Orang

• Anak = 3 Orang
• Penyakit Dalam = 2 Orang
• Bedah Umum = 2 Orang
• Bedah Orthopedi = 1 Orang
• Syaraf = 1 Orang
• Kebidanan dan Kandungan = 2 Orang
• Kulit Kelamin = 1 Orang
• Jiwa = 1 Orang
• THT = 1 Orang
• Radiologi = 1 Orang
• Laboratorium = 1 Orang

• Perawatan dengan Pendidikan S2 = 1 Orang


• Perawatan dengan Pendidikan S1 Nar = 14 Orang
• Perawatan dengan Pendidikan DIII = 34 Orang
• Asisten Perawatan dengan Pendidikan DI = 4 Orang
• Bidan dengan Pendidikan DIII = 8 Orang
• Tenaga OK = 5 Orang

• Farmasi ; 3 Orang Apoteker dan 5 orang Asisten Apoteker


• Laboratorium : 3 Orang
• Radiologi : 3 Orang
• Rekam Medis ; 2 Orang

• HRD = 2 Orang
• EDP / IT = 1 Orang
• Kasir = 4 Orang
• Keuangan = 4 Orang
• Adm PT = 1 0rang
• Adm RI = 1 Orang
• IPSRS = 2 Orang
• Kesling = 1 Orang
• Logistik = 2 Orang
• Pendaftaran = 6 Orang
• Marketing = 15 Orang
• Driver = 2 Orang
•Pantry = 3 Orang
•Security = 4 Orang

Type Kamar RS Karya Medika Bantar Gebang


Kamar Perawatan
 1 Tempat Tidur Electric
 1 Led Tv
 Sofa Bed
 Lemari
 Kulkas
 Ac
 Paket Buah
 Paket Minuman ringan
 Paket Peralatan mandi
 Paket Mainan (Untuk Pasien Anak)
 Dispenser Dengan Air Aqua
 Shower Mandi Air Panas / Dingin.
 Type Kamar Perawatan Kelas I, Kelas 2 dan Kelas 3
Kelas 1 ( Satu Ruangan 2 (dua) Bed
 Peralatan Mandi, Paket Mainan Anak, Dispenser dengan Air Aqua, Shower
Mandi Air Panas / Dingin
Kelas 2 (Satu Ruangan 3 (Tiga) Bed
 Led Tv, Lemari, Kulkas, Ac, Shower Mandi Air Panas / Dingin
Kelas 3 (Satu Ruangan 5 (Lima) Bed
 Lcd TV, Lemari, Kulkas, AC, Shower Mandi Air Panas / Dingin
Kebidanan Dan Bayi
Pelayanan kebidanan dan Kandungan terdiri dari :
• General Gynercology ( Kebidanan Umum)
• General Obstetrics ( Kandungan Umum)
• Infertilias Wanita
• Endokrinologi Reproduksi (Kelainan Menstruasi, Mioma Uteri, Terapi Hormom
Menopouse)
• Foto Matenal (Kehamilan Berisiko Tinggi, Kehamilan Risiko Rendah)
• Histerektomi
• Obstetri dan Ginekologi USG (2D, 3D dan 4 D)
• Famili Planning (Keluarga Berencana)
• Konsultasi Pra Marital dan Pra Kehamilan
KAMAR BEDAH
Kamar bedah di RS Karya Medika Bantar Gebang dilengkapi dengan dua kamar operasi
~ One Day Care (ODC) atau rawat sehari.
Merupakan tindakan bedah yang singkat tanpa rawat inap.
Tindakan ini dilakukan pagi hari dan pulang sore hari.
Jenis tindakan :
▪ Cabut plate, kawat
▪ Operasi tumor kecil
▪ Operasi katarak
▪ Dll
FASILITAS LAINNYA
 Medical Check Up Paket Dasar, Biasa, Lengkap, Eksklusif
Fasilitas dan Keunggulan.
A. Ketenagaan
 Team Medical Chek Up langsung dari Rumah Sakit yang profesional
 Dokter penanggung jawab memiliki sertifikat hiperkes
 Team tenaga medis yang berpengalaman dan terlatih
B. Peralatan
 Peralatan laboratorium yang canggih dengan sistem komputerisasi hasilnya
akurat
 Mesin X-Ray yang baru sehingga yang dihasilkan akan terlihat jelas
 Mobil X-Ray baru dan berteknologi canggih di mana milik Karya Medika (tidak
KSO)
 Hasil pemeriksaan akurat 100% dan dapat dipertanggung jawabkan
C. Hasil Medical Check Up.
Tiap peserta MCU akan mendapatkan 1 map hasil dengan isi :
 Hasil Rontgen
 Hasil Laboratorium
 Resume hasil Medical Check Up berupa kesimpulan hasil pemeriksaan dan
anjurannya

2.6 Profil Instalasi Gawat Darurat


Dalam rangka menyelenggarakan pelayanan kegawatdaruratan guna mendukung tugas
pokok Rumah Sakit Karya Medika Bantar Gebang, maka Instalasi Gawat Darurat Rumah
Sakit Karya Medika Bantar Gebang mempunyai struktur sebagai berikut:

2.6.1 Kualifikasi Ketenagaan


No Jml
Nama Jabatan Pendidikan Sertifikasi
Kebutuhan
1 Kepala Instalasi IGD S1 kedokteran PPGD/BTCLS 1
ACLS/ATLS
2 Dokter jaga IGD S1 kedokteran PPGD/BTCLS 4
ACLS/ATLS
2 Koordinator DIII Kep/Skep Ners PPGD/BTCLS 1
keperawatan IGD ACLS/ATLS
3 Perawat DIII Kep/S1 Kep PPGD/BTCLS 3
penanggung jawab
4 Perawat pelaksana DIII Keperawatan PPGD/BTCLS 4

Total 13

2.6.2 Tata Hubungan Kerja

WADIR YANMED

FARMASI
RANA P

LABORATORIUM
RAJAL

RADIOLOGI
KAMAR BEDAH(IBS)

FISIOTERAPI

ICU IGD
Gizi

MELATI
ALKES

DAHLIA
LOG UMUM

ANGGREK
AMBULANCE

VK DOKTER
TEKHNISI

SECURITY

CLEANING SERVICE
2.7 Profil Unit Rekam Medis
2.7.1 Gambaran Umum
Unit Rekam medik berada di lantai 1 tepat disamping ruang pendaftaran. System
penyimpanan berkas rekam medik RS Karya Medika Bantar Gebang adalah
sentralisasi dimana berkas rekam medis seorang pasien dalam satu kesatuan baik
catatan kunjungan poliklinik maupun catatan selama pasien dirawat.

2.7.2 Struktur Organisasi Unit Rekam Medis


Kepala Unit Rekam Medik

Penanggung Jawab Pengolahan


Penanggung
Data danJawab
Pelaporan
Pengolahan dan Penyimpanan Berkas Rekam Medis Pasien

2.7.3 Kualifikasi Ketenagaan


Unit rekam medik berada dibawah kepala bidang pelayanan. Unit rekam medik
dipimpin oleh kepala instalasi dengan latar pendidikan minimal D3 rekam medis.
Instalasi rekam medis membawahi 3 urusan, yaitu sebagai berikut :
1. Pelayanan pasien rawat jalan
2. Pengelolaan berkas rekam medis
3. Pengolahan data dan pelaporan
Pelayanan rekam medik dilakukan oleh tenaga rekam medik dengan jumlah dan
memenuhi kualifikasi sesuai dengan pola ketenagaan yang telah ditetapkan. Setiap
karyawan baru di unit rekam medik mengikuti program orientasi karyawan baru
dan mendapat silabus materi orientasi di unit rekam medis. Setiap petugas di unit
rekam medik mengikuti program pendidikan dan pelatihan berkelanjutan yang
dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan staf.
Dibawah ini adalah kualifikasi tenaga dengan jumlah minimal untuk unit rekam
medik, yaitu sebagai berikut :
NO JABATAN KUALIFIKASI JUMLAH
1 Kepala Unit Rekam 1. Pendidikan minimal D3 Perekam Medis dan 1 orang
Medis Informasi Kesehatan
2. Masa Kerja minimal 2 tahun
3. Penilaian kompetensi dasar dan kompetensi
teknik baik
2 Penanggung Jawab 1. Pendidikan D3 Perekam Medis dan Informasi 1 orang
Pengolahan Data Kesehatan
dan Pelaporan 2. Pernah menjadi PJ urusan pelayanan pasien rawat
jalan dan rawat inap
3. Penilaian kompetensi dasar dan kompetensi
teknik baik
3 Penanggung Jawab 1 orang
Pengolahan dan 1. Pendidikan D3 Perekam Medis dan Informasi
Penyimpanan Kesehatan
Berkas Rekam Medis 2. Penilaian kompetensi dasar dan kompetensi
Pasien Rawat Jalan teknik baik
dan Rawat Inap
4 Pelaksana Unit 1. Pendidikan minimal SMA/ sederajat Sesuai
Rekam Medis 2. Penilaian kompetensi dasar dan kompetensi analisa
teknik baik ketenagaan
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1. Pengertian Rekam Medis


Rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang
identitas, anamnesis, pemeriksaan, diagnosis, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain
yang diberikan kepada seorang pasien selama dirawat di rumah sakit yang dilakukan di
unit-unit rawat jalan termasuk unit gawat darurat dan rawat inap. (Direktorat Jenderal
Pelayanan Medik, 1991).
Menurut Permenkes No.269/MENKES/PER/III/2008 rekam medis adalah berkas yang
berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan
dan pelayanan lain ynag telah diberikan kepada pasien (Ery Rustiyanto, 2009).
Rekam medis (DepKes RI, 97) adalah keterangan baik tertulis maupun terekam tentang
identitas pasien, diagnosis, dan tindakan medis yang diberikan kepada pasien baik rawat
jalan, rawat inap, maupun rawat darurat.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
269/Menkes/Per/III/2008, resume medis dibuat sebagai ringkasan pelayanan yang
diberikan oleh tenaga kesehatan, khususnya dokter, selama masa perawatan hingga pasien
keluar dari rumah sakit baik dalam keadaan hidup maupun meninggal. Resume medis dapat
menjadi bahan kajian untuk pengendalian mutu rekam medis. Suatu berkas rekam medis
mempunyai nilai administrasi, karena isinya menyangkut tindakan berdasarkan wewenang
dan tanggung jawab sebagai tenaga medis dan paramedis dalam mencapai tujuan pelayanan
kesehatan. Berkas rekam medis mempunyai nilai medis, karena catatan tersebut
dipergunakan sebagai dasar untuk merencanakan pengobatan/perawatan yang harus
diberikan kepada seorang pasien. Pada aspek hukum, isi rekam medis menyangkut masalah
adanya jaminan kepastian.

3.2. Tujuan Rekam Medis


Rekam medis bertujuan untuk menunjang tercapainya tertib administrasi dalam rangka
upaya peningkatan pelayanan kesehatan di rumah sakit. Tanpa adanya dukungan dari suatu
sistem pengelolaan rekam medis yang baik dan benar, mustahil tertib administrasi rumah
sakit akan berhasil sebagaimana yang diharapkan. Sedangkan tertib administrasi
merupakan salah satu faktor yang menentukan didalam upaya pelayanan kesehatan di
rumah sakit (Dirjen Yanmed, 1993).
Menurut Depkes RI, (1993) Dirjen Pelayanan Medis dalam buku Pedoman Pengolahan
rekam medis rumah sakit di Indonesia, kegunaannya dapat dilihat dari beberapa aspek yang
dikenal dengan sebutan ALFREDS (Administrative, Legal, Financial, Research, Education,
Dokumentation, and Service) yaitu :
a. Administrative (Aspek Administrasi)
Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai administrasi, karena isinya menyangkut
tindakan berdasarkan wewenang dan tanggung jawab tenaga medis dan paramedis
dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan.
b. Legal (Aspek Hukum)
Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai hukum,karena isinya menyangkut masalah
adanya jaminan kepastian hukum atas dasar keadilan dalam rangka usaha menegakkan
hukum serta penyediaan bahan tanda bukti untuk menegakkan hukum.
c. Financial (Aspek Keuangan)
Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai keuangan, karena isinya dapat dijadikan
sebagai bahan untuk menetapkan biaya pembayaran layanan pada fasilitas pelayanan
kesehatan. Tanpa adanya bukti catatan tindakan/pelayanan, maka pembayaran tidak
dapat dipertanggungjawabkan. Data/informasi yang ada dapat digunakan sebagai aspek
keuangan.
d. Research (Aspek Penelitian)
Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai penelitian, karena informasi yang
dikandungnya dapat digunakan sebagai bahan penelitian dan pengembangan ilmu
pengetahuan dibidang kesehatan.
e. Education (Aspek pendidikan)
Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai penelitian, karena isinya menyangkut
data/informasi tentang perkembangan kronologis dari kegiatan pelayanan rekam medis
yang diberikan kepada pasien. Informasi tersebut dapat dipergunakan sebagai
bahan/referensi pengajaran dibidang profesi si pemakai.
f. Documentation ( Aspek Dokumentasi)
Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai dokumentasi, karena isinya menyangkut
sumber ingatan yang harus didokumentasikan dan dipakai sebagai bahan
pertanggungjawaban laporan rumah sakit.
g. Service (Aspek Medis)
Suatu dokumen rekam medis mempunyai nilai medik, karena catatan tersebut
dipergunakan sebagai dasar untuk merencanakan pengobatan perawatan yang harus
diberikan kepada seorang pasien.
3.3. Kegunaan Rekam Medis
Menurut Dirjen Yanmed (1993), kegunaan rekam medis secara umum antara lain sebagai
berikut :
a. Sebagai alat komunikasi antara dokter dengan tenaga ahlinya yang ikut ambil bagian
didalam memberikan pelayanan pengobatan, perawatan kepada pasien.
b. Sebagai dasar untuk merencanakan pengobatan/perawatan yang harus diberikan kepada
seorang pasien.
c. Sebagai bukti tertulis untuk segala tindakan pelayanan, perkembangan penyakit, dan
pengobatan selama pasien berkunjung/dirawat di rumah sakit.
d. Sebagai bahan yang berguna untuk analisa, penelitian, dan evaluasi terhadap kualitas
pelayanan yang diberikan kepada pasien.
e. Melindungi kepentingan hukum bagi pasien, rumah sakit maupun dokter dan tenaga
kesehatan lainnya.
f. Menyediakan data khusus yang sangat berguna untuk penelitian dan pendidikan.
g. Sebagai dasar didalam perhitungan biaya pembayaran pelayanan medis pasien.
h. Menjadi sumber ingatan yang harus didokumentasikan, serta sebagai bahan pertanggung
jawaban dan laporan.

3.4. Nilai Guna Rekam Medis


Adapun nilai guna rekam medis bagi berbagai pihak antara lain
a. Bagi pasien yaitu: Menyediakan bukti asuhan keperawatan dan tindakan medis yang
diterima oleh pasien, menyediakan data bagi pasien jika pasien datang untuk kedua kali
dan seterusnya, penyediaan data yang dapat melindungi kepentingan hokum dalam
kasus-kasus kompensasi pekerja kecelakaan pribadi atau mal praktek.
b. Bagi fasilitas layanan kesehatan: Memiliki data yang dipakai untuk pekerja professional
kesehatan, sebagai alat bukti atas biaya pembayaran pelayanan medis pasien,
mengevaluasi penggunaan sumber daya.
c. Bagi pemberi pelayanan: Menyediakan informasi untuk membantu seluruh tenaga
professional dalam merawat pasien, membantu dokter dalam menyediakan data perawat
yang bersifat berkesinambungan pada berbagai tingkat pelayanan kesehatan,
menyediakan data-data untuk penelitian dan pendidikan. (Ery Rustiyanto, 2009)

3.5. Jenis dan Isi Rekam Medis


Menurut Permenkes RI no 296 tahun 2008 tentang rekam medis menyatakan bahwa
rekam medis harus dibuat secara tertulis, lengkap dan jelas secara elektronik. Rekam medis
yang dibuat secara lengkapdan jelas berguna bagi pasien untuk kepentingan riwayat
perkembangan penyakitnya dimasa sekarang maupun dimasa yang akan dating. Isi rekam
medis seorang pasien harus memuat diantaranya:
1. Identitas Pasien
2. Tanggal dan Waktu
3. Anamnesis (sekurang-kurangnya keluhan, riwayat penyakit).
4. Hasil Pemeriksaan Fisik dan penunjang medis.
5. Diagnosis
6. Rencana penatalaksanaan / TP (treatment planning)
7. Pengobatan dan atau tindakan
8. Persetujuan tindakan bila perlu
9. Catatan obsservasi klinis dan hasil pengobatan
10. Ringkasan pulang (discharge summary)
11. Nama dan tanda tangan dokter, dokter gigi atau tenaga kesehatan tertentu yang
memberikan pelayanan kesehatan.
12. Pelayanan lain yang telah diberikan oleh tenaga kesehatan tertentu dan
13. Untuk pasien kasus gigi dilengkapi dengan odontogram klinik

3.6. Pelayanan KegawatDaruratan


Pelayanan di Unit Gawat Darurat merupakan bagian pertama dari upaya
penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan yang dilaksanakan di sarana pelayanan
kesehatan. Berdasarkan hal tersebut di atas, diperlukan peraturan-peraturan tertulis
sehingga tata kelola klinis dapat dipahami dengan jelas oleh seluruh anggota unit dalam
memberikan pelayanan. Peraturan yang dimaksud adalah kebijakan pelayanan, panduan,
standar prosedur operasional, algoritme dan standing orders.
Instalasi Gawat Darurat di Rumah Sakit memiliki pengertian yaitu merupakan ujung
tombak atau etalase dari suatu rumah sakit dimana pasien-pasien yang dating dalam kondisi yang
terancam nyawanya atau dalam keadaan darurat memerlukan pertolongan yang cepat dan tepat.
(medistra,2010). Salah satu bagian di rumah sakit yang meneyediakan penanganan awal bagi
pasien yang menderita sakit dan cedara, yang dapat mengancam kelangsungan hidupnya.

3.7. Pelayanan IGD


Jenis pelayanan Emergency Yang Paling Sering Dilakukan :
1. Tindakan penyelamatan jiwa pada pasien henti napas dan henti jantung
2. Penanganan pasien sesak napas
3. Penanganan serangan jantung/payanh jantung
4. Penanganan pasien tidak sadar
5. Penanganan pasien kecelakaan
6. Penanganan pasien cedara misalnya: cedar tulang, cidera kepala, dll
7. Penanganan pasien dengan pendarahan
8. Penanganan kasus stroke
9. Penanganan pasien kejang dan kejang demam pada anak
10. Penanganan pasien dengan luka-luka
11. Penanganan pasien keracunan
12. Penanganan pasien dengan sakit perut hebat
13. Penanganan medis korban bencana/disaster

3.8. Pemeriksaan dan Penanganan IGD


Pada saat masuk IGD, perawat akan melakukan screening tahap awal atau yang
sering disebut dengan triage untuk menentukan arah pelayanan selanjutnya. perawat akan
mengantar pasien ke tempat pemeriksaan dan menanyakan tentang gejala/gangguan yang
diderita, memeriksa nadi, tekanan darah, suhu tubuh, dll. Petugas administrasi akan
menanyakan mengenai data identitas, nomer rekam medic, dan kartu asuransi(bila ada).
Pasien akan di periksa Dokter jaga. Pasien diberikan informasi yang sejelas-jelasnya agar
segera diketahui penyakit/gangguan yang dialami.
Penanganan emergency akan segera dilakukan Dokter jaga sedangkan penanganan
defenitif setelah diagnose ditegakkan. Bila pasien memerlukan perawatan lanjutan maka
akan ditempatkan pada ruang rawat umum atau ruang intensitas tergantung keadaan
pasien. Pasien/keluarganya akan diminta persetujuan perawatan untuk kamar perawatan
dan Dokter yang akan merawat. Pasien yang tidak memerlukan perawatan akan
dipulangkan setelah mendapatkan pengobatan. Penanganan emergency dilakukan secara
cepat, akurat dan komperhensif oleh tenaga medic dan perawat yang professional dengan
didukung peralatan mutahir dan dapat diandalkan. Penyakit/gangguan yang tidak
membahayakan nyawa atau tidak memerlukan penanganan segera, dapat ditangani di IGD
namun paisen emergency tetap didahulukan.
3.9. Area Pelayanan IGD
IGD harus menetapkan area – area pelayanannya paling tidak meliputi : :
1. Ruang perawatan UGD
Adalah salah satu unit terdepan dari bagian pelayanan rumah sakit yang memberikan
pelayanan pada pasien gawat darurat/emergency dan false emergency bekerja sama
dengan unit terkait lainnya.
2. Ruang Triase
Adalah ruang pemilahan pasien sesuai keadaan dan kedaruratan pasien.
3. Ruang Konsultasi
Adalah ruang konsultasi bagi pasien yang ingin mengkonsultasikan tentang penyakit
atau hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan.
4. Ruang Obat (Medication Room)
Adalah ruangan yang digunakan untuk menyimpan obat – obatan yang ada di UGD
(diluar obat pasien) termasuk obat – obatan yang harus disimpan di almari kulkas obat.
5. Ruang Perawat
Adalah ruangan yang digunakan oleh petugas UGD sehari – hari untuk menjalankan
tugas administrasi (pencatatan dan pelaporan).
6. Ruang Observasi
Adalah ruangan untuk pengawasan pasien kurang dari 6 jam.
7. Ruang Tindakan Resusitasi
Adalah ruangan tindakan untuk mengembalikan fungsi pernafasan dan fungsi jantung
yang terganggu guna melangsungkan hidup pasien.
8. Ruang Tindakan Bedah
Adalah ruangan untuk melakukan tindakan
9. Ruang VK darurat
Adalah ruang tindakan untuk bersalin jika sudah fase aktif

3.10. Kebijakan Pelayanan UGD


Berdasarkan peraturan perundang – undangan maka stiap rumah sakit harus
mempertimbangkan peraturan – peraturan seperti :
1. Ada dokter terlatih sebagai kepala Instalasi / Unit Gawat Darurat yang
bertanggungjawab atas pelayanan di Instalasi / Unit Gawat Darurat.
2. Ada Perawat/Bidan sebagai penganggungjawab pelayanan keperawatan gawat
darurat.
3. Semua tenaga dokter dan keperawatan mampu melakukan teknik pertolongan hidup
dasar (Basic Life Support).
4. Semua pasien yang masuk harus melalui Triase, triase harus dilakukan oleh dokter
atau perawat senior yang berijazah / berpengalaman. Triase sangat penting untuk
penilaian kegawat daruratan pasien dan pemberian pertolongan / terapi sesuai
dengan derajat kegawatdaruratan yang dihadapi.
5. Petugas triase juga bertanggungjawab dalam organisasi dan pengawasan
penerimaan pasien dan daerah ruang tunggu.
6. Pasien dan keluarga berhak mendapatkan informasi tentang hasil asuhan dan
pengobatan termasuk kejadian yang tidak diharapkan
a. Penanganan dan pemberian produk darah harus berdasarkan atas permintaan
dokter dan persetujuan dari pasien, dilakukan secara aman dan meminimalkan
risiko tranfusi dan harus dicatat dalam rekam medik
b. Pemberian obat-obatan harus berdasarkan permintaan dokter, diberikan kepada
pasien secara terprogram dan harus dicatat dalam rekam medik pasien
7. Ada ketentuan tertulis tentang manajemen informasi medis (prosedur) rekam medik.
8. Penolakan pelayanan dan pengobatan dengan memberitahukan hak pasien untuk
menolak atau tidak melanjutkan pengobatan dan memberitahukan konsekuensi,
tanggung jawab berkaitan dengan keputusan tersebut dan tersedianya alternative
pelayanan atau pengobatan
9. Rumah Sakit yang hanya dapat memberi pelayanan terbatas pada pasien gawat
darurat harus dapat mengatur untuk rujukan ke rumah sakit lainnya. Pasien yang
akan dirujuk harus dilakukan stabilisasi terlebih dahulu sebelum dirujuk (merujuk
berdasarkan atas kondisi kesehatan dan kebutuhan akan pelayanan berkelanjutan,
rujukan menunjuk siapa yang bertanggung jawab selama proses rujukan, kerjasama
yang resmi ataupun tidak resmi dibuat dengan rumah sakit penerima, proses rujukan
didokumentasikan di dalam rekam medic )
10. Pasien yang dipulangkan harus mendapat petunjuk dan penerangan yang jelas
mengenai penyakit dan pengobatan selanjutnya.
11. Rekam Medik harus disediakan untuk setiap kunjungan.
12. Ada sistem komunikasi untuk menjamin kelancaran hubungan antara unit gawat
darurat dengan unit lain di dalam dan di luar rumah sakit terkait.RS dan sarana
kesehatan lainnya.
a. Perintah lisan dan yang melalui telepon ataupun hasil pemeriksaan dituliskan secara
lengkap oleh penerima perintah atau hasil pemeriksaan
b. Perintah lisan dan yang melalui telepon atau hasil pemeriksaan dibacakan kembali
oleh penerima perintah adtau hasil pemeriksaan tersebut
c. Perintah atau hasil pemeriksaan dikonfirmasi oleh pemberi perintah atau hasil
pemeriksaan tersebut
13. Ada upaya secara terus menerus menilai kemampuan dan hasil pelayanan instalasi /
unit gawat darurat seperti ada data dan informasi mengenai Jumlah kunjungan,
kecepatan pelayanan (respon time), pola penyakit kecelakaan (10 terbanyak)
14. Instalasi / Unit Gawat Darurat harus menyelenggarakan evaluasi terhadap pelayanan
kasus gawat darurat sedikitnya satun kali dalam setahun.
15. Instalasi / Unit Gawat Darurat harus menyelenggarakan evaluasi terhadap kasus-
kasus tertentu sedikitnya satu kali dalam setahun.
BAB IV
IDENTIFIKASI MASALAH, PRIORITAS MASALAH
DAN ANALISIS MASALAH

4.1. Identifikasi Masalah Unit Gawat Darurat


Dari hasil analisis situasi dan wawancara dengan kepala instalasi dan staf di Instalasi
gawat darurat Karya Medika Bantar Gebang didapatkan beberapa daftar masalah yang ada
di IGD antara lain :
1. Pasien sering mengeluhkan untuk lama menunggu untuk dipindahkan ke rawat inap
2. Ketidakpatuhan petugas terhadap pemakaian APD di saat – saat tertentu
3. Waktu tunggu layanan PONEK yang belum maksimal
4. Ketidaksesuaian jumlah stock BHP ugd yang sering berubah pada saat stock opname

Untuk menentukan prioritas masalah menggunakan metode kriteria matriks ITR


(Importancy, Technical feasibility, resources availability). Masalah yang dipilih sebagai
prioritas adalah yang memiliki nilai IxTxR tertinggi.
Keterangan :
- I = importancy (pentingnya masalah)
- T = technical feasibility (kelayakan teknis)
- R = resources availability (sumber daya yang tersedia)
Komponen pengukuran Importancy (I) terdiri dari :
- P = prevalence (besarnya masalah)
- S = severity (akibat yang ditimbulkan masalah)
- RI = rate of increase (kenaikan besarnya masalah)
- DU = degree of unmet need (derajat keinginan masyarakat yang tidak terpenuhi)
- SB = social benefit (keuntungan sosial karena selesainya masalah)
- PB = public concern (kepedulian masyarakat)
- PC = political climate (suasana atau iklim politik)
Setiap komponen pengukuran diberikan nilai 1-5, dimana untuk komponen I (Importancy),
keterangan nilainya adalah :
1 : tidak
2 : sedang
3 : cukup menjadi masalah
4 : masalah serius
5 : sangat menjadi masalah
Untuk komponen T (technical feasibility), keterangan nilainya adalah :
1 : tidak layak
2 : sedang
3 : cukup layak
4 : baik
5 : sangat layak
Untuk komponen R (Resources availability), keterangan nilainya adalah :
1 : tidak ada
2 : sedang
3 : cukup
4 : baik
5 : sangat ada
I Nilai
No Masalah T R Prioritas
P Sv R (IxTxR)
Pasien sering mengeluhkan
1 untuk lama menunggu untuk 3 2 3 2 2 72 IV
dipindahkan ke rawat inap
Ketidakpatuhan petugas
2 terhadap pemakaian APD di 3 4 3 1 3 108 III
saat – saat tertentu
3 Waktu tunggu layanan
PONEK yang belum 3 4 4 2 2 192 I
maksimal
4 Ketidaksesuaian jumlah stock
3 3 3 3 2 162 II
BHP ugd yang sering berubah
pada saat stock opname

Dari hasil matriks ITR didapatkan prioritas masalah berdasarkan skor ITR tertinggi adalah
Waktu tunggu layanan PONEK yang belum maksimal. Setelah itu, dicari penyebab masalah
dengan analisis diagram fish bone.
Diagaram fishbone atau Cause-and-Effect Diagram adalah salah satu langkah
identifikasi sebab potensial dari satu prioritas masalah yang dilakukan secara brainstorming
dari berbagai aspek yang mencakup Man, Money, Material, Method, Machine, dan
Organitation and Management. Analisis Fishbone masalah Waktu tunggu layanan PONEK
yang belum maksimal adalah sebagai berikut:

MAN METHODE MATERIAL

SPO penanganan
kegawatdaruratan ponek
belum tersosialisasikan
dengan baik

Tidak tersedianya bidan


Belum tersedianya
standby di PONEK IGD
peralatan PONEK Waktu tunggu
sendiri secara lengkap layanan
PONEK yang
belum
maksimal
Belum adanya jadwal diklat atau Kurangnya supervisi dari
pelatihan2 bagi staf dalam atasan langsung mengenai
penanganan ponek pembuatan, monitoring dan
evaluasi program PONEK

MONEY
ORGANISASI & Manajemen

Analisa SWOT
Strength (Kekuatan) Weakness (Kelemahan)
1. Beberapa staf sudah mendapatkan pelatihan 3. Ruang PONEK bergabung dengan ruang
PONEK tindakan
2. Kepercayaan masyarakat terhadap RS cukup 4. Beberapa peralatan masih mobile
tinggi dipindahkan dari VK
5. Belum adanya diklat rutin mengenai pelatihan
PONEK
Opportunity (Peluang) Threat (Ancaman)
6. Dalam radius kurang lebih 15 km tidak 8. Saat IGD sedang ramai dan pasien PONEK
terdapat lagi rumah sakit kecuali 1 rs tipe D datang lebih dari 1 orang
milikpemerintah
7. Daerah sekitar rumah sakit banyak praktik
bidan swasta yang memiliki potensi merujuk
sangat besar untuk kasus kegawatdaruratan
obstetrik
4.2 Analisis Masalah Unit Rekam Medik
Dari hasil analisis situasi dan wawancara dengan kepala unit dan staf di Unit Rekam
Medik RS. Karya Medika Bantar Gebang didapatkan beberapa daftar masalah yang ada di
unit tersebut yaitu :
1. Distribusi berkas rekam medis pasien rawat jalan yang masih membutuhkan waktu
lama
2. Pengembalian berkas rekam medis pasien rawat inap sangat sering melebihi 2 x 24 jam
3. Laporan kelengkapan pengisian berkam rekam medis yang sudah lama tidak tersaji
4. Kesulitan dalam pencarian berkas rekam medis yang belum kembali

Untuk menentukan prioritas masalah menggunakan metode kriteria matriks ITR


(Importancy, Technical feasibility, resources availability). Masalah yang dipilih sebagai
prioritas adalah yang memiliki nilai IxTxR tertinggi.
Keterangan :
- I = importancy (pentingnya masalah)
- T = technical feasibility (kelayakan teknis)
- R = resources availability (sumber daya yang tersedia)
Komponen pengukuran Importancy (I) terdiri dari :
- P = prevalence (besarnya masalah)
- S = severity (akibat yang ditimbulkan masalah)
- RI = rate of increase (kenaikan besarnya masalah)
- DU = degree of unmet need (derajat keinginan masyarakat yang tidak terpenuhi)
- SB = social benefit (keuntungan sosial karena selesainya masalah)
- PB = public concern (kepedulian masyarakat)
- PC = political climate (suasana atau iklim politik)
Setiap komponen pengukuran diberikan nilai 1-5, dimana untuk komponen I (Importancy),
keterangan nilainya adalah :
1 : tidak
2 : sedang
3 : cukup menjadi masalah
4 : masalah serius
5 : sangat menjadi masalah
Untuk komponen T (technical feasibility), keterangan nilainya adalah :
1 : tidak layak
2 : sedang
3 : cukup layak
4 : baik
5 : sangat layak
Untuk komponen R (Resources availability), keterangan nilainya adalah :
1 : tidak ada
2 : sedang
3 : cukup
4 : baik
5 : sangat ada

I Nilai
No Masalah T R Prioritas
P Sv R (IxTxR)
Distribusi berkas rekam medis
1 pasien rawat jalan yang masih 4 4 3 2 2 192 II
membutuhkan waktu lama
Pengembalian berkas rekam
medis pasien rawat inap
2 3 4 3 2 2 144 III
sangat sering melebihi 2 x 24
jam
3 Laporan kelengkapan
pengisian berkam rekam
3 4 4 2 1 96 IV
medis yang sudah lama tidak
tersaji
4 Kesulitan dalam pencarian
berkas rekam medis yang 4 5 4 2 2 320 I
belum kembali
Dari hasil matriks ITR didapatkan prioritas masalah berdasarkan skor ITR tertinggi adalah
Kesulitan dalam pencarian berkas rekam medis yang belum kembali. Setelah itu, dicari
penyebab masalah dengan analisis diagram fish bone.
Diagaram fishbone atau Cause-and-Effect Diagram adalah salah satu langkah
identifikasi sebab potensial dari satu prioritas masalah yang dilakukan secara brainstorming
dari berbagai aspek yang mencakup Man, Money, Material, Method, Machine, dan
Organitation and Management. Analisis Fishbone masalah Kesulitan dalam pencarian
berkas rekam medis yang belum kembali adalah sebagai berikut:

MAN METHODE MATERIAL

Pencatatan berkas keluar


dan masuk belum dapat
tersaji dengan baik

Kurangnya sosialisasi dan


pengetahuan mengenai SPO peminjaman Belum adanya pintu akses
pelacakan berkas rekam medik berkas tidak berjalan terbatas untuk yang masuk Kesulitan dalam
baik ke dalam ruang RM pencarian berkas
rekam medis yang
belum kembali
Sistem informasi rumah sakit
belum sepenuhnya
melibatkan IT sehingga
pencatatan dengan cara
manual

Kurangnya monitoring dan


evaluasi dari atasan langsung

MONEY
ORGANISASI & Manajemen

Analisa SWOT
Strength (Kekuatan) Weakness (Kelemahan)
1. Adanya Permenkes 269/menkes/per/III/2008 1. Penyimpanan rekam medis berada di 3
yang mengatur pelaksanaan rekam medis. tempat yang berbeda
2. Adanya Pedoman dan Kebijakan dalam 2. Personil RM tiap shift hanya 1 orang
melakukan kegiatan. 3. Kinerja yang dihasilkan belum maksimal.
3. Memiliki Komitmen bersama dalam 4. Ruang Kerja yang terlalu padat.
mewujudkan profesi rekam medis yang 5. Belum menerapkan rekam medis secara
profesional. elektronik.
4. Sudah melakukan promosi tentang
pentingnya rekam medis.
Opportunity (Peluang) Threat (Ancaman)
1. Jalinan Kerjasama atau kemitraan antar 1. Masyarakat sangat kritis terhadap waktu
profesi terjalin dengan baik. tunggu
2. Merencanakan dan pengembangan rekam 2. Masyarakat memilih Rumah Sakit yang
medis secara elektronik. memiliki akreditasi untuk menjamin kualitas
pelayanan.
BAB V

ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH

5.1. Analisa Pemecahan Masalah dengan Siklus PDCA


Dalam upaya pemencahan masalah digunakan metode siklus Deming atau sering disebut
siklus PDCA (Plan, Do, Check, Action). Saat ini, siklus PDCA telah dimodifikasi menjadi
PDSA (Plan, Do, Study, Action). Siklus tersebut merupakan empat langkah interaktif
dalam pengendalian kualitas.

5.2. PDCA Prioritas Masalah Instalasi Gawat Darurat

Alternatif pemecahan masalah dengan menggunakan PDCA :


Plan
1. Membuat pertemuan dengan Wadir Pelayanan, Kepala Bidang Pelayanan Medis, Kepala
Bidang Keperawatan dan Kepala Instalasi Gawat Darurat untuk membahas mengenai
rencana tindak lanjut dalam penyusunan kebijakan dan kelengkapan untuk PONEK
2. Berkoordinasikan dalam pembuatan jadwal petugas PONEK yang melibatkan bidan
untuk standby
3. Melakukan review mengenai program – program PONEK.
Do
1. Mengadakan rapat koordinasi rutin dengan kepala instalasi dan staf
2. Membuat daftar susunan kebutuhan perencanaan SDM dan Alkes yang dibutuhkan
3. Melakukan koordinasi dengan bagian diklat untuk pembuatan jadwal pelatihan bagi staf
PONEK dan IGD
4. Melakukan simulasi berkala terkait kebijakan pelayanan PONEK
Study
1. Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap keberlangsungan pelayanan PONEK
2. Melakukan audit pada setiap pasien masuk PONEK

Action
1. Mengadakan pertemuan evaluasi berkala dengan kepala dan staf IGD
2. Memasukan tenaga bidan menjadi bagian staf IGD untuk PONEK
3. Membuat analisa pengajuan terhadapa kebutuhan alkes PONEK
.
5.3. PDCA Prioritas Masalah Unit Rekam Medik

Alternatif pemecahan masalah dengan menggunakan PDCA


Plan
1. Mempercepat proses pengembangan sistem informasi rumah sakit berbasis sistem atau
online
2. Mengadakan rapat berkala dengan unit – unit pelayanan mengenai pengembalian berkas
rekam medik
3. Merencanakan supervisi dilakukan harian di unit – unit pelayanan
Do
1. Berkoordinasi dengan kepala rekam medik dan unit – unit pelayanan terkait untuk
kebijakan pendistribusian dan pengembalikan berkas rekam medik
2. Memanggil beberapa Vendor untuk mempresentasikan SIMRS online yang terintegrasi
sesuai kebutuhan.
3. Membuatkan audit monitoring evaluasi pada setiap kejadian berkas rekam medik yang
mengalami kesulitan pelacakan.
Study
1. Memonitoring proses pendistribusian dan pengembalian rekam medik.
2. Melakukan evaluasi dan supervisi pada setiap kegiatan yang telah direncanakan dan
dilakukan
Action
Melakukan sosialisasi berkala terhadap pendistribusian rekam medik dan pengembaliannya.
BAB VI

PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Rumah Sakit Karya Medika Bantar Gebang telah melakukan pelayanan kepada
para pasiennya dengan baik yang dibuktikan dengan telah terakreditasikannya rumah sakit
tersebut. Namun dalam perjalanan menuju yang lebih baik lagi maka diperlukan evaluasi –
evaluasi lebih mendalam dari setiap evaluasi yang dilakukan. Penulis mengucapkan
terimakasih atas kesempatan yang diberikan untuk melakukan observasi pada instalasi
gawat darurat dan unit rekam medik di rumah sakit karya medika bantar gebang. Sedikitnya
masalah masalah yang penulis temukan saat melakukan kegiatan residensi dilakukan
penilaian untuk mengetahui prioritasnya dan diberikan saran dalam rangka penyempurnaan
pelayanan. Untuk implementasi dilapangan dikembalikan lagi kepada managemen rumah
sakit karya medika bantar gebang untuk memproses hal tersebut menjadi sempurna
dikemudian hari
6.2 Saran
6.2.1 Bagian Instalasi Gawat Darurat
 Lebih melibatkan multidisiplin dalam kegiatan pengembangan pelayanan
 Lebih dalam lagi saat melakukan koordinasi evaluasi hingga sampai dengan
menghasilkan rencana tindak lanjut dengan konsep “SMART” goals sehingga
pemantauan dapat terlaksana dengan baik

6.2.2 Bagian Unit Rekam Medik

 Rekam Medik memerlukan penambahan staf sesuai dengan perhitungan


ketenagaan
 Mempercepat proses perubahan rekam medik manual ke sistem online
DAFTAR PUSTAKA

1. Undang-Undang RI Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit


2. Undang-Undang RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
3. Undang-Undang RI Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
4. Kepmenkes No.129 Tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit
5. Permenkes No. 269 Tahun 2008 tentang Rekam Medis
6. Permenkes No. 47 Tahun 2018 tentang Pelayanan Kegawatdaruratan
7. Ritonga ZA, Sari FM. Tinjauan Sistem Penyimpanan Berkas Rekam Medis di Rumah
Sakit Umum Pusat H Adam Malik Tahun 2019. Jurnal Ilmiah Perekam dan Informasi
Kesehatan Imelda, Sept 2019;4(2):637-647.

Anda mungkin juga menyukai