Anda di halaman 1dari 2

“PT Palembang Sunat Pidana DENDA Eks Bupati Muara Enim Di Kasus Korupsi”

Detiknews, Jumat, 20 Agustus 2021

Nama : Dirga Putra Teratai (19/440904?SV/16256)


Siti Nur Azizah Salsabilah (19/447180/SV/16874)
Kelas : ASP - 52
Matkul : Audit Forensik

Muzakir Sai Sohar diketahui terlibat tindak pidana korupsi alih fungsi lahan
perkebunan PT Perkebunan PT Perkebunan Mitra Ogan (PMO) tahun 2014 yang
merugiakn negara hingga Rp5,8 Miliar. Muzakir ditetapkan sebagai tersangka bersama tiga
orang lainnya, yakni mantan Dirut PT PMI, Anjapri, mantan Kabag Akuntansi PT PMO,
Yan Satyananda, dan Abunawar Basyeban (almarhum) selaku konsultan. Kala itu, PT
PMO meminta terdakwa menerbitkan rekomendasi perubahan fungsi kawasan hutan
produksi konversi (HPK) menjadi kawasan hutan produksi terbatas (HPT) atau hutan
produksi tetap (HP) melalui penunjukan langsung. Perusahaan perkebunan tersebut
kemudian melakukan kerja sama dengan Abunawar Basyeban selaku konsultan hukum
dalam pengurusan perubahan tersebut dengan nilai kontrak mencapai Rp 5,8 miliar.
Namun, dalam pelaksanaannya, pengurusan itu dilakukan sendiri PT PMO dan bukan oleh
kantor hukum Abunawar seperti tertera pada kontrak. PT PMO tetap mentransfer dana ke
kantor hukum Abunawar sebesar Rp 5,8 miliar melalui rekening Abunawar sebanyak
empat tahap. Namun di hari yang sama uang tersebut ditarik kembali PT PMO sebesar Rp
5,6 miliar. Dana yang ditarik kembali itu dicairkan dan ditukarkan dalam pecahan dolar
menjadi USD 400 ribu, selanjutnya diserahkan secara empat tahap ke Muzakir Sai Sohar
guna melicinkan proses penerbitan surat rekomendasi. Dari situ, Muzakir Sai Sohar
akhirnya menerbitkan surat rekomendasi selaku Bupati Muara Enim kepada Menteri
Kehutanan RI sebagai kelengkapan persyaratan pengurusan perubahan fungsi kawasan
hutan di Kabupaten Muara Enim.
Atas pertimbangannya pengadilan tinggi Palembang menyunat denda Bupati
Muara Enim, Muzakir Sai Sohar dari Rp350 juta menjadi Rp200 juta karena telah terbukti
kasus korupsi menerima suap senilai Rp 2 M. Hukuman itu dijatuhkan oleh majelis tinggi
yang diketuai Ahmad Yunus dengan anggota majelis hakim R Sabarrudi Ilyas dan anggota
Bambang Guritno. Awalnya, Muzakir dihukum denda Rp 350 juta subsider 6 bulan
kurungan. Adapun pidana pokoknya tetap, yaitu 8 tahun penjara. Menjadi 8 tahun penjara
dengan denda Rp 200 juta. Selebihnya, hukuman yang dijatuhkan kepada Muzakir tetap.
Yaitu kewajiban membayar uang pengganti sebesar Rp 2.325.612.000 paling lama dalam
waktu satu bulan sesudah putusan memperoleh kekuatan hukum tetap
Opini :
dari kasus tersebut menjadikan bahan perbincangan dunia politik mengenai
penyelewengan kekuasaan yang tidak bisa menepati janjinya dan gagal menjadi seorang
pemimpin. Dan ada pula kerugian yang dialami negara, jika semua pemimpin di suatu negara tetap
masih saja seperti ini maka tidak akan menjadi negara yang maju.